0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
216 tayangan17 halaman

Karsinoma Nasofaring: Penyebab dan Gejala

Nasofaring merupakan ruangan berbentuk kubus di belakang rongga hidung yang berhubungan dengan rongga hidung, telinga, dan saraf otak. Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang sering tumbuh di fossa Rosenmuller. Penyebabnya antara lain infeksi virus Epstein-Barr, konsumsi ikan asin, dan merokok. Gejalanya bervariasi mulai dari benjolan leher hingga gangguan pendengaran. Diagnosanya meliputi biopsi dan p

Diunggah oleh

Davit nichol
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
216 tayangan17 halaman

Karsinoma Nasofaring: Penyebab dan Gejala

Nasofaring merupakan ruangan berbentuk kubus di belakang rongga hidung yang berhubungan dengan rongga hidung, telinga, dan saraf otak. Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang sering tumbuh di fossa Rosenmuller. Penyebabnya antara lain infeksi virus Epstein-Barr, konsumsi ikan asin, dan merokok. Gejalanya bervariasi mulai dari benjolan leher hingga gangguan pendengaran. Diagnosanya meliputi biopsi dan p

Diunggah oleh

Davit nichol
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

Anatomi dan Fisiologi

Nasofaring merupakan suatu ruangan yang berbentuk mirip kubus,


terletak dibelakang rongga hidung dengan dinding yang kaku di atasnya,
bagian belakang dan lateral yang secara anatomi termasuk bagian faring
sehingga akan membentuk suatu rongga. Diatas tepi bebas palatum molle
berhubungan dengan rongga hidung dan ruang telinga melalui koana dan
tuba eustachius. Atap nasofaring dibentuk oleh dasar tengkorak, tempat
keluar dan masuknya saraf otak dan pembuluh darah (Firdaus, 2011).

Anterior nasofaring akan berhubungan dengan rongga hidung


melalui koana dan tepi belakang septum nasi, sehingga sumbatan hidung
merupakan gangguan yang sering timbul. Ke arah posterior dinding
nasofaring melengkung ke supero-anterior dan terletak di bawah tulang
sfenoid, sedangkan bagian belakang nasofaring berbatasan dengan
ruang retrofaring, fasia pre-vertebralis dan otot-otot dinding faring. Pada
dinding lateral nasofaring terdapat orifisium tuba eustachius dimana
orifisium ini dibatasi superior dan posterior oleh torus tubarius, sehingga
penyebaran tumor ke lateral akan menyebabkan sumbatan orifisium tuba
eustachius dan akan mengganggu pendengaran. Ke arah postero-
superior dari torus tubarius terdapat fossa Rosenmuller yang merupakan
lokasi tersering karsinoma nasofaring. Pada atap nasofaring sering
terlihat lipatan-lipatan mukosa yang dibentuk oleh jaringan lunak sub
mukosa, dimana pada usia muda dinding postero-superior nasofaring
umumnya tidak rata. Hal ini disebabkan karena adanya jaringan adenoid
(Firdaus, 2011).

Nasofaring diperdarahi oleh cabang arteri karotis eksterna, yaitu


faringeal asenden dan desenden serta cabang faringeal arteri
sfenopalatina. Darah vena dari pembuluh darah balik faring pada
permukaan luar dinding muskuler menuju pleksus pterigoid dan vena
jugularis interna. Daerah nasofaring dipersarafi oleh saraf sensoris yang
terdiri dari nervus glossofaringeus ([Link]) dan cabang maksila dari saraf
trigeminus (N.V2) yang menuju ke anterior nasofaring (Firdaus, 2011).

Sistem limfatik daerah nasofaring terdiri dari pembuluh getah bening yang
saling menyilang dibagian tengah dan menuju ke kelenjar Rouviere yang
terletak pada bagian lateral ruang retrofaring, selanjutnya menuju ke kelenjar
limfa disepanjang vena jugularis dan kelenjar limfa yang terletak di permukaan
superfisial (Firdaus, 2011)

B. Pengertian
Nasopharing Carsinoma (NPC) adalah suatu tumor ganas yang tumbuh
didaerah nasofaring dengan predileksi yang paling sering adalah di fossa
Rossenmuller (Firdaus, 2011).
Karsinoma Nasofaring (KNF) adalah tumor ganas yang berasal dari sel
epitel yang melapisi nasofaring, tidak termasuk tumor kelenjar atau limfoma
(Farhat, 2009).

C. Etiologi/Penyebab
1. Virus Epstein Barr (EBV)
EBV merupakan faktor risiko mayor karsinoma nasofaring. Sebagian
besar infeksi EBV tidak menimbulkan gejala. EBV menginfeksi dan
menetap secara laten pada 90% populasi dunia. Di Hong Kong, 80% anak
terinfeksi pada umur 6 tahun, hampir 100% mengalami serokonversi pada
umur 10 tahun. Infeksi EBV primer biasanya subklinis.
2. Ikan asin
Paparan non-viral yang paling konsisten dan berhubungan kuat
dengan risiko karsinoma nasofaring adalah konsumsi ikan asin. Konsumsi
ikan asin meningkatkan risiko 1,7 sampai 7,5 kali lebih tinggi dibanding
yang tidak mengkonsumsi. Diet konsumsi ikan asin lebih dari tiga kali
sebulan meningkatkan risiko karsinoma nasofaring.
3. Tembakau
Sejak tahun 1950 sudah dinyatakan bahwa merokok menyebabkan
kanker. Merokok menyebabkan kematian sekitar 4 sampai 5 juta per
tahunnya dan diperkirakan menjadi 10 juta per tahunnya pada 2030. 1
Rokok mempunyai lebih dari 4000 bahan karsinogenik, termasuk
nitrosamin yang meningkatkan risiko terkena karsinoma nasofaring.
4. Asap lain
Beberapa peneliti menyatakan bahwa insiden karsinoma nasofaring
yang tinggi di Cina Selatan dan Afrika Utara disebabkan karena asap dari
pembakaran kayu bakar. Sembilan puluh tiga persen penderita karsinoma
nasofaring tinggal di rumah dengan ventilasi buruk dan mempunyai
riwayat terkena asap hasil bakaran kayu bakar. Pajanan asap hasil kayu
bakar lebih dari 10 tahun meningkatkan 6 kali lipat terkena karsinoma
nasofaring.
(Ariwibowo, 2013).

D. Klasifikasi
Penentuan stadium berdasarkan American Joint Committee on Cancer
(AJCC) dibagi menjadi 3 klasifikasi yaitu:
1. T menggambarkan tumor primer yang
telah menginvasi organ nasofaring atau jaringan disekitarnya. Kategori T
menentukan hubungan dari tumor primer dengan struktur yang
berdekatan. Penyebaran mukosa dari tumor ini memperlihatkan
penyebaran lebih luas ke arah basis cranii dari pada orofaring
2. N menggambarkan sejauh mana sel
keganasan telah menyebar ke kelenjar limfe terdekat. Kategori N pada
KNF memiliki kecendrungan menyebar ke nodus limfe dan sekitar 75-90%
kasus ditemukan penyebaran bilateral pada nodus limfe leher
3. M mengindikasikan apakah sel kanker
telah menyebar ke jaringan lain. kategori M, memperlihatkan tingginya
kejadian metastasis (5-41%). Organ paling sering terkena metastase
adalah tulang (20%), paru (13%) dan hati (9%).
Berdasarkan klasifikasi histopatologi menurut WHO, KNF dibagi menjadi
tipe 1 karsinoma sel skuamosa dengan keratinisasi, tipe 2 gambaran
histologinya karsinoma tidak berkeratin dengan sebagian sel berdiferensiasi
sedang dan sebagian lainnya dengan sel yang lebih ke arah diferensiasi baik,
tipe 3 karsinoma tanpa diferensiensi adalah sangat heterogen, sel ganas
membentuk sinsitial dengan batas sel tidak jelas. Jenis KNF yang banyak
dijumpai adalah tipe 2 dan tipe 3.
E. Manifestasi Klinik/Tanda dan Gejala
1. Benjolan di leher
2. Gangguan pendengaran, telinga berdenging, atau telinga terasa penuh.
3. Infeksi telinga
4. Keluar darah melalui hidung
5. Sakit kepala
6. Nyeri di bagian wajah
7. Susah untuk membuka mulut
8. Pandangan kabur atau pandangan ganda
9. Hidung tersumbat
10. Pembesaran kelenjar getah bening leher
11. Kelainan syaraf kranial
(American Cancer Society, 2015).

F. Patofisiologi
Infeksi virus Epstein-Barr dapat menyebabkan karsinoma nasofaring.
Hal ini dapat dibuktikan dengan dijumpai adanya keberadaan protein-protein
laten pada penderita karsinoma nasofaring. Pada penderita ini sel yang
terinfeksi oleh EBV akan menghasilkan protein tertentu yang berfungsi untuk
proses proliferasi dan mempertahankan kelangsungan virus di dalam sel host.
Protein laten ini dapat dipakai sebagai petanda (marker) dalam mendiagnosa
karsinoma nasofaring, yaitu EBNA-1 dan LMP-1, LMP- 2A dan LMP-2B. Hal ini
dibuktikan dengan ditemukannya pada 50% serum penderita karsinoma
nasofaring LMP-1 sedangkan EBNA-1 dijumpai di dalam serum semua pasien
karsinoma nasofaring. Selain itu, terhadap suku Indian asli bahwa EBV DNA di
dalam serum penderita karsinoma nasofaring dapat dipakai sebagai biomarker
pada karsinoma nasofaring primer. Hubungan antara karsinoma nasofaring
dan infeksi virus Epstein-Barr juga dinyatakan oleh berbagai peneliti dari
bagian yang berbeda di dunia ini. Pada pasien karsinoma nasofaring dijumpai
peninggian titer antibodi anti EBV (EBNA-1) di dalam serum plasma. EBNA-1
adalah protein nuklear yang berperan dalam mempertahankan genom virus.
Huang dalam penelitiannya, mengemukakan keberadaan EBV DNA dan EBNA
di dalam sel penderita karsinoma nasofaring. Terdapat 5 stadium pada
karsinoma nasofaring yaitu: 1. Stadium 0: sel-sel kanker masih berada dalam
batas nasopharing, biasa disebut nasopharynx in situ 2. Stadium 1: Sel kanker
menyebar di bagian nasopharing 3. Stadium 2: Sel kanker sudah menyebar
pada lebih dari nasopharing ke rongga hidung. Atau dapat pula sudah
menyebar di kelenjar getah bening pada salah satu sisi leher. 4. Stadium 3:
Kanker ini sudah menyerang pada kelenjar getah bening di semua sisi leher 5.
Stadium 4: kanker ini sudah menyebar di saraf dan tulang sekitar wajah.
Konsumsi ikan asin yang berlebih serta pemaparan zat-zat karsinogen dapat
mengaktifkan Virus Epstein Barr (EBV). Ini akan menyebabkan terjadinya
stimulasi pembelahan sel abnormal yang tidak terkontrol, sehingga terjadi
differensiasi dan proliferasi protein laten (EBNA-1). Hal inilah yang memicu
pertumbuhan sel kanker pada nasofaring, dalam hal ini terutama pada fossa
Rossenmuller.(Firdaus, 2011).
G. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut American Cancer Society (2015), pasien dengan NPC dapat
dilakukan pemeriksaan:
1. Biopsi Endoskopi
Indikasi dilakukan tindakan biopsi endoskopi ini adalah bila seorang
penderita memiliki tanda dan gejala karsinoma nasofaring namun dari
hasil pemeriksaan fisiknya tidak ditemukan adanya suatu kelainan.
2. Radiologi Konvensional
Pada foto tengkorak dengan potongan anteroposterior dan lateral
serta posisi Waters akan tampak jaringan lunak di daerah nasofaring.
Pada foto dasar tengkorak ditemukan destruksi atau erosi tulang di daerah
fossa serebri [Link] juga dilakukan pemeriksaan foto dada untuk
melihat adanya penyebaran sel tumor atau metastase di paru-paru.
3. Computed Tomography Scan (CT-Scan)
Merupakan suatu teknik pemeriksaan yang sampai saat ini paling
dipercayai untuk menetapkan diagnosa dan juga dapat menentukan
staging tumor dan juga perluasan tumor itu sendiri. Pada stadium dini,
terlihat asimetri dari resessus lateralis, torus tubarius dan dinding posterior
dari nasofaring. Dengan CT ini juga dapat menilai dasar tengkorak apakah
ada tanda-tanda litik dan lesi sklerotik.
4. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Sama halnya dengan pemeriksaan CT scan namun MRI dapat
menggambarkan struktur-struktur yang kecil tampak lebih baik dan lebih
jelas dibandingkan dengan gambaran CT seperti jaringan lunak di hidung
dan tenggorok
5. Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan darah ini tidak menunjang dalam penegakan diagnostik,
melainkan untuk membantu menggambarkan adanya penyebaran sel
tumor atau metastase ke organ yang lain Darah rutin dan kimia darah,
Epstein-Barr Virus (EBV) DNA Level
H. Komplikasi
Sel-sel kanker dapat ikut mengalir bersama getah bening atau darah,
mengenai organ tubuh yang letaknya jauh dari nasofaring. Yang sering adalah
tulang, hati dan paru. Hal ini merupakan hasil akhir dan prognosis yang buruk.
Dalam penelitian lain ditemukan bahwa karsinoma nasofaring dapat
mengadakan metastase jauh, ke paru-paru dan tulang, masing-masing 20 %,
sedangkan ke hati 10 %, otak 4 %, ginjal 0.4 %, dan tiroid 0.4 %. Komplikasi
lain yang biasa dialami adalah terjadinya pembesaran kelenjar getah bening
pada leher dan kelumpuhan saraf kranial (Firdaus, 2011).

I. Penatalaksanaan Medis
Menurut Farhat (2009) penatalaksanaan pasien dengan NPC adalah:
1. Radioterapi
Radioterapi adalah metode pengobatan penyakit maligna dengan
menggunakan sinar peng-ion, bertujuan untuk mematikan sel-sel tumor
sebanyak mungkin dan memelihara jaringan sehat di sekitar tumor agar
tidak menderita kerusakan terlalu berat. Karsinoma nasofaring bersifat
radioresponsif sehingga radioterapi tetap merupakan terapi terpenting.

2. Kemoterapi
Secara definisi kemoterapi adalah segolongan obat-obatan yang
dapat menghambat pertumbuhan kanker atau bahkan membunuh sel
kanker. Obat-obatan anti kanker dapat digunakan sebagian terapi tunggal
(active single agents), tetapi pada umumnya berupa kombinasi karena
dapat lebih meningkatkan potensi sitotoksik terhadap sel kanker.
3. Operatif
Pembedahan hanya sedikit berperan dalam penatalaksanaan KNF.
Terbatas pada diseksi leher radikal untuk mengontrol kelenjar yang
radioresisten dan metastase leher setelah radioterapi, pada pasien
tertentu pembedahan penyelamatan dilakukan pada kasus rekurensi di
nasofaring.

4. Imunoterapi
Dengan diketahuinya kemungkinan penyebab dari karsinoma
nasofaring adalah EBV, maka pada penderita karsinoma nasofaring dapat
diberikan terapi imunoterapi.) Salah satu contoh imutoerapi yaitu dengan
terapi sel T. Terapi T sel dalam keadaan ini diharapkan mempunyai tigkat
keberhasilan yang lebih besar.

J. Penatalaksanaan Keperawatan
Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d sekresi berlebihan
2. Nyeri akut b/d Agen injuri fisik (pembedahan).
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d
ketidakmampuan pemasukan nutrisi..
4. Risiko infeksi b/d tindakan infasive, imunitas tubuh menurun
5. Kurang pengetahuan tentang penyakit dan perawatannya b/d
misintepretasi informasi, ketidak familiernya sumber informasi.
6. Resiko Aspirasi b/d inefektif reflek menelan
7. Harga diri Rendah b/d perubahan perkembangan penyakit, pengobatan
penyakit.

No Diagnosa NOC NIC


1 Bersihan jalan nafas Setelah dilakukanAirway
tidak efektif b.d askep .... jam statusManagement/Manajemen jalan
sekresi berlebihan respirasi: terjadinafas
kepatenan jalan nafas Bebaskan jalan nafas.
dengan Kriteria : Posisikan klien untuk
Tidak ada panas memaksimalkan ventilasi
Cemas tidak ada Identifikasi apakah klien
Obstruksi tidak ada membutuhkan insertion
Respirasi dalam airway
batas normal 16- Jika perlu, lakukan terapi
20x/mnt fisik (dada)
Pengeluaran Auskultasi suara nafas,
sputum dari jalan catat daerah yang terjadi
nafas penurunan atau tidak
Paru bersih adanya ventilasi
Berikan bronkhodilator, jika
perlu
Atur pemberian O2, jika
perlu
Atur intake cairan agar
seimbang
Atur posisi untuk
mengurangi dyspnea
Monitor status pernafasan
dan oksigenasi

Airway Suctioning/Suction
jalan nafas
Keluarkan sekret dengan
dorongan batuk/suctioning
Lakukan suction pada
endotrakhel/nasotrakhel, jika
perlu

2 Nyeri akut b/d agenSetelah dilakukanManajemen nyeri :


injuri fisik askep .. jam klien Kaji tingkat nyeri secara
menunjukkan tingkat komprehensif termasuk
kenyamanan dan level lokasi, karakteristik, durasi,
nyeri: klien terkontrol dg frekuensi, kualitas dan faktor
KH: presipitasi.
Klien melaporkan Observasi reaksi nonverbal
nyeri berkurang dari ketidaknyamanan.
skala nyeri 2-3
Gunakan teknik komunikasi
Ekspresi wajah terapeutik untuk mengetahui
tenang, klien pengalaman nyeri klien
mampu istirahat dan sebelumnya.
tidur
Kontrol faktor lingkungan
V/S dbn (TD 120/80 yang mempengaruhi nyeri
mmHg, N: 60-100 seperti suhu ruangan,
x/mnt, RR: 16- pencahayaan, kebisingan.
20x/mnt)
Kurangi faktor presipitasi
nyeri.
Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologis/non
farmakologis)..
Ajarkan teknik non
farmakologis (relaksasi,
distraksi dll)
Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri.
Evaluasi tindakan
pengurang nyeri/kontrol
nyeri.
Kolaborasi dengan dokter
bila ada komplain tentang
pemberian analgetik tidak
berhasil.
Monitor penerimaan klien
tentang manajemen nyeri.

Administrasi analgetik :
Cek program pemberian
analogetik; jenis, dosis, dan
frekuensi.

Cek riwayat alergi..

Tentukan analgetik pilihan,


rute pemberian dan dosis
optimal.

Monitor TTV sebelum dan


sesudah pemberian
analgetik.

Berikan analgetik tepat


waktu terutama saat nyeri
muncul.

Evaluasi efektifitas
analgetik, tanda dan gejala
efek samping.

3 Ketidakseimbangan Setelah dilakukanManajemen Nutrisi


nutrisi kurang dariaskep . jam klien
kebutuhan tubuh b/dmenunjukan status kaji pola makan klien
intake nutisi innutrisi adekuat Kaji adanya alergi
adekuat, faktordibuktikan dengan BB makanan.
biologis stabil tidak terjadi mal Kaji makanan yang disukai
nutrisi, tingkat energi oleh klien.
adekuat, masukan Kolaborasi dg ahli gizi
nutrisi adekuat untuk penyediaan nutrisi
terpilih sesuai dengan
kebutuhan klien.
Anjurkan klien untuk
meningkatkan asupan
nutrisinya.
Yakinkan diet yang
dikonsumsi mengandung
cukup serat untuk
mencegah konstipasi.
Berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi dan
pentingnya bagi tubuh
klien.

Monitor Nutrisi

Monitor BB setiap hari jika


memungkinkan.

Monitor respon klien


terhadap situasi yang
mengharuskan klien makan.

Monitor lingkungan selama


makan.

Jadwalkan pengobatan dan


tindakan tidak bersamaan
dengan waktu klien makan.

Monitor adanya mual


muntah.

Monitor adanya gangguan


dalam proses
mastikasi/input makanan
misalnya perdarahan,
bengkak dsb.

Monitor intake nutrisi dan


kalori.

4 Risiko infeksi b/dSetelah dilakukanKontrol infeksi :


imunitas tubuh primeraskep jam tidak
menurun, prosedurterdapat faktor risiko Bersihkan lingkungan
invasive infeksi pada klien setelah dipakai pasien lain.
dibuktikan dengan
status imune klien Batasi pengunjung bila
adekuat: perlu.
bebas dari gejala Intruksikan kepada keluarga
infeksi untuk mencuci tangan saat
angka lekosit normal
(4-11.000) kontak dan sesudahnya.

Gunakan sabun anti miroba


untuk mencuci tangan.

Lakukan cuci tangan


sebelum dan sesudah
tindakan keperawatan.

Gunakan baju dan sarung


tangan sebagai alat
pelindung.

Pertahankan lingkungan
yang aseptik selama
pemasangan alat.

Lakukan perawatan luka


dan dresing infus setiap
hari.

Tingkatkan intake nutrisi dan


cairan

berikan antibiotik sesuai


program.

Proteksi terhadap infeksi

Monitor tanda dan gejala


infeksi sistemik dan lokal.

Monitor hitung granulosit


dan WBC.

Monitor kerentanan
terhadap infeksi.

Pertahankan teknik aseptik


untuk setiap tindakan.

Inspeksi kulit dan mebran


mukosa terhadap
kemerahan, panas,
drainase.

Inspeksi kondisi luka, insisi


bedah.

Ambil kultur jika perlu


Dorong istirahat yang cukup.

Monitor perubahan tingkat


energi.

Dorong peningkatan
mobilitas dan latihan.

Instruksikan klien untuk


minum antibiotik sesuai
program.

Ajarkan keluarga/klien
tentang tanda dan gejala
infeksi.

Laporkan kecurigaan infeksi.

Laporkan jika kultur positif.


5 Kurang pengetahuanSetelah dilakukanTeaching : Dissease Process
tentang penyakit danaskep ........ jam,
perawatan nya b/dpengetahuan klien Kaji tingkat pengetahuan
kurang terpapar dgmeningkat. Dg KH: klien dan keluarga tentang
informasi, Klien / keluarga proses penyakit
terbatasnya kognitif mampu menjelaskan
Jelaskan tentang
kembali penjelasan
patofisiologi penyakit, tanda
yang telah
dan gejala serta penyebab
dijelaskan
yang mungkin
Klien / keluarga
Sediakan informasi tentang
kooperatif saat
kondisi klien
dilakukan tindakan.
Siapkan keluarga atau
orang-orang yang berarti
dengan informasi tentang
perkembangan klien

Sediakan informasi tentang


diagnosa klien

Diskusikan perubahan gaya


hidup yang mungkin
diperlukan untuk mencegah
komplikasi di masa yang
akan datang dan atau
kontrol proses penyakit

Diskusikan tentang pilihan


tentang terapi atau
pengobatan

Jelaskan alasan
dilaksanakannya tindakan
atau terapi

Dorong klien untuk menggali


pilihan-pilihan atau
memperoleh alternatif
pilihan

Gambarkan komplikasi yang


mungkin terjadi

Anjurkan klien untuk


mencegah efek samping
dari penyakit

Gali sumber-sumber atau


dukungan yang ada

Anjurkan klien untuk


melaporkan tanda dan
gejala yang muncul pada
petugas kesehatan
kolaborasi dg tim yang lain.
6 Risiko aspirasi b/dSetelah dilakukan Aspiration precaution
inefektifnya reflekaskep . jam tidak
menelan terjadi aspirasi / Monitor tingkat kesadaran,
Aspiration tercontrol reflek batuk dan
Kriteria Hasil : kemampuan menelan
Dapat bernafas
dengan mudah dan Monitor status paru
frekuensi normal Pelihara jalan nafas
(16-20x/mnt).
Monitor v/s
Pasien mampu
menelan, Lakukan suction jika
mengunyah tanpa diperlukan
terjadi aspirasi, dan
mampu melakukan Cek nasogastrik sebelum
oral hygien, serta makan
posisi tegak selama Hindari makan kalau residu
M/M masih banyak
Menghindari factor Potong makanan kecil kecil
risiko
Haluskan obat sebelum
Jalan nafas paten, pemberian
mudah bernafas,
Naikkan kepala 30-45
tidak merasa
derajat pada saat dan
tercekik dan tidak
setelah makan
ada suara nafas
abnormal Jika pasien menunjukkan
gejala mual muntah,
posisikan klien miring.

Jika perlu suapi klien


perlahan dan berikan waktu
cukup untuk mengunyah /
menelan
7 Defisit self care b/dSetelah dilakukan Bantuan perawatan diri
kelemahan asuhan keperawatan
. jam klien mampu Monitor kemampuan pasien
Perawatan diri terhadap perawatan diri
Self care :Activity Daly
Living (ADL) dengan Monitor kebutuhan akan
indicator : personal hygiene,
Pasien dapat berpakaian, toileting dan
melakukan aktivitas makan
sehari-hari (makan, Beri bantuan sampai klien
berpakaian, mempunyai kemapuan
kebersihan, toileting, untuk merawat diri
ambulasi)
Bantu klien dalam
Kebersihan diri
memenuhi kebutuhannya.
pasien terpenuhi
Anjurkan klien untuk
melakukan aktivitas sehari-
hari sesuai kemampuannya

Pertahankan aktivitas
perawatan diri secara rutin

Evaluasi kemampuan klien


dalam memenuhi kebutuhan
sehari-hari.

Berikan reinforcement atas


usaha yang dilakukan dalam
melakukan perawatan diri
sehari hari.
8 Harga diri rendah b/dSetelah dilakukan Peningkatan harga diri
perubahan gayaaskep . jam klien
hidup menerima keadaan Monitor pernyataan pasien
dirinya Dg KH: tentang harga diri
Mengatakan
Anjurkan pasien utuk
penerimaan diri &
mengidentifikasi kekuatan
keterbatasan diri
Menjaga postur Anjurkan kontak mata jika
yang terbuka berkomunikasi dengan
Menjaga kontak orang lain
mata
Komunikasi terbuka Bantu pasien
Secara seimbang mengidentifikasi respon
dapat berpartisipasi positif dari orang lain.
dan mendengarkan Berikan pengalaman yang
dalam kelompok meningkatkan otonomi
Menerima kritik yang pasien.
konstruktif
Menggambarkan Fasilitasi lingkungan dan
kebanggaan aktivitas meningkatkan
terhadap diri harga diri.

Monitor frekuensi pasien


mengucapkan negatif pada
diri sendiri.

Yakinkan pasien percaya


diri dalam menyampaikan
pendapatnya

Anjurkan pasien untuk


tidak mengkritik negatif
terhadap dirinya

Sampaikan percaya diri


terhadap kemampuan
pasien mengatasi situasi

Bantu pasien menetapkan


tujuan yang realistik dalam
mencapai peningkatan
harga diri.

Bantu pasien menilai


kembali persepsi negatif
terhadap dirinya.

Anjurkan pasien untuk


meningkatkan tanggung
jawab terhadap dirinya.

Gali alasan pasien


mengkritik diri sendiri

Anjurkan pasien
mengevaluasi perilakunya.

DAFTAR PUSTAKA

American Cancer Society. 2015. Nasopharyngeal Cancer. Atlanta, Ga: American


Cancer Society.
Ariwibowo H. 2013. Faktor Risiko Karsinoma Nasofaring. Cermin Dunia Kedokteran.
;5(40):348-51.
Firdaus MA, Prijadi J. 2011. Kemoterapi Neoadjuvan pada Karsinoma Nasofaring.
Bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Fakultas Kedokteran
Universitas Andalas/RSUP Dr M Djamil Padang
Farhat. 2009. Vascular Endothelial Growth Factor pada Karsinoma Nasofaring.
Majalah Kedokteran Nusantara. 42(1):59-65.

NANDA International. 2017. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2016-


2017. Jakarta : EGC.

Santosa, Budi. 2013. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2013-2017. Jakarta:


Prima Medika

Anda mungkin juga menyukai