Karsinoma Nasofaring: Penyebab dan Gejala
Karsinoma Nasofaring: Penyebab dan Gejala
Sistem limfatik daerah nasofaring terdiri dari pembuluh getah bening yang
saling menyilang dibagian tengah dan menuju ke kelenjar Rouviere yang
terletak pada bagian lateral ruang retrofaring, selanjutnya menuju ke kelenjar
limfa disepanjang vena jugularis dan kelenjar limfa yang terletak di permukaan
superfisial (Firdaus, 2011)
B. Pengertian
Nasopharing Carsinoma (NPC) adalah suatu tumor ganas yang tumbuh
didaerah nasofaring dengan predileksi yang paling sering adalah di fossa
Rossenmuller (Firdaus, 2011).
Karsinoma Nasofaring (KNF) adalah tumor ganas yang berasal dari sel
epitel yang melapisi nasofaring, tidak termasuk tumor kelenjar atau limfoma
(Farhat, 2009).
C. Etiologi/Penyebab
1. Virus Epstein Barr (EBV)
EBV merupakan faktor risiko mayor karsinoma nasofaring. Sebagian
besar infeksi EBV tidak menimbulkan gejala. EBV menginfeksi dan
menetap secara laten pada 90% populasi dunia. Di Hong Kong, 80% anak
terinfeksi pada umur 6 tahun, hampir 100% mengalami serokonversi pada
umur 10 tahun. Infeksi EBV primer biasanya subklinis.
2. Ikan asin
Paparan non-viral yang paling konsisten dan berhubungan kuat
dengan risiko karsinoma nasofaring adalah konsumsi ikan asin. Konsumsi
ikan asin meningkatkan risiko 1,7 sampai 7,5 kali lebih tinggi dibanding
yang tidak mengkonsumsi. Diet konsumsi ikan asin lebih dari tiga kali
sebulan meningkatkan risiko karsinoma nasofaring.
3. Tembakau
Sejak tahun 1950 sudah dinyatakan bahwa merokok menyebabkan
kanker. Merokok menyebabkan kematian sekitar 4 sampai 5 juta per
tahunnya dan diperkirakan menjadi 10 juta per tahunnya pada 2030. 1
Rokok mempunyai lebih dari 4000 bahan karsinogenik, termasuk
nitrosamin yang meningkatkan risiko terkena karsinoma nasofaring.
4. Asap lain
Beberapa peneliti menyatakan bahwa insiden karsinoma nasofaring
yang tinggi di Cina Selatan dan Afrika Utara disebabkan karena asap dari
pembakaran kayu bakar. Sembilan puluh tiga persen penderita karsinoma
nasofaring tinggal di rumah dengan ventilasi buruk dan mempunyai
riwayat terkena asap hasil bakaran kayu bakar. Pajanan asap hasil kayu
bakar lebih dari 10 tahun meningkatkan 6 kali lipat terkena karsinoma
nasofaring.
(Ariwibowo, 2013).
D. Klasifikasi
Penentuan stadium berdasarkan American Joint Committee on Cancer
(AJCC) dibagi menjadi 3 klasifikasi yaitu:
1. T menggambarkan tumor primer yang
telah menginvasi organ nasofaring atau jaringan disekitarnya. Kategori T
menentukan hubungan dari tumor primer dengan struktur yang
berdekatan. Penyebaran mukosa dari tumor ini memperlihatkan
penyebaran lebih luas ke arah basis cranii dari pada orofaring
2. N menggambarkan sejauh mana sel
keganasan telah menyebar ke kelenjar limfe terdekat. Kategori N pada
KNF memiliki kecendrungan menyebar ke nodus limfe dan sekitar 75-90%
kasus ditemukan penyebaran bilateral pada nodus limfe leher
3. M mengindikasikan apakah sel kanker
telah menyebar ke jaringan lain. kategori M, memperlihatkan tingginya
kejadian metastasis (5-41%). Organ paling sering terkena metastase
adalah tulang (20%), paru (13%) dan hati (9%).
Berdasarkan klasifikasi histopatologi menurut WHO, KNF dibagi menjadi
tipe 1 karsinoma sel skuamosa dengan keratinisasi, tipe 2 gambaran
histologinya karsinoma tidak berkeratin dengan sebagian sel berdiferensiasi
sedang dan sebagian lainnya dengan sel yang lebih ke arah diferensiasi baik,
tipe 3 karsinoma tanpa diferensiensi adalah sangat heterogen, sel ganas
membentuk sinsitial dengan batas sel tidak jelas. Jenis KNF yang banyak
dijumpai adalah tipe 2 dan tipe 3.
E. Manifestasi Klinik/Tanda dan Gejala
1. Benjolan di leher
2. Gangguan pendengaran, telinga berdenging, atau telinga terasa penuh.
3. Infeksi telinga
4. Keluar darah melalui hidung
5. Sakit kepala
6. Nyeri di bagian wajah
7. Susah untuk membuka mulut
8. Pandangan kabur atau pandangan ganda
9. Hidung tersumbat
10. Pembesaran kelenjar getah bening leher
11. Kelainan syaraf kranial
(American Cancer Society, 2015).
F. Patofisiologi
Infeksi virus Epstein-Barr dapat menyebabkan karsinoma nasofaring.
Hal ini dapat dibuktikan dengan dijumpai adanya keberadaan protein-protein
laten pada penderita karsinoma nasofaring. Pada penderita ini sel yang
terinfeksi oleh EBV akan menghasilkan protein tertentu yang berfungsi untuk
proses proliferasi dan mempertahankan kelangsungan virus di dalam sel host.
Protein laten ini dapat dipakai sebagai petanda (marker) dalam mendiagnosa
karsinoma nasofaring, yaitu EBNA-1 dan LMP-1, LMP- 2A dan LMP-2B. Hal ini
dibuktikan dengan ditemukannya pada 50% serum penderita karsinoma
nasofaring LMP-1 sedangkan EBNA-1 dijumpai di dalam serum semua pasien
karsinoma nasofaring. Selain itu, terhadap suku Indian asli bahwa EBV DNA di
dalam serum penderita karsinoma nasofaring dapat dipakai sebagai biomarker
pada karsinoma nasofaring primer. Hubungan antara karsinoma nasofaring
dan infeksi virus Epstein-Barr juga dinyatakan oleh berbagai peneliti dari
bagian yang berbeda di dunia ini. Pada pasien karsinoma nasofaring dijumpai
peninggian titer antibodi anti EBV (EBNA-1) di dalam serum plasma. EBNA-1
adalah protein nuklear yang berperan dalam mempertahankan genom virus.
Huang dalam penelitiannya, mengemukakan keberadaan EBV DNA dan EBNA
di dalam sel penderita karsinoma nasofaring. Terdapat 5 stadium pada
karsinoma nasofaring yaitu: 1. Stadium 0: sel-sel kanker masih berada dalam
batas nasopharing, biasa disebut nasopharynx in situ 2. Stadium 1: Sel kanker
menyebar di bagian nasopharing 3. Stadium 2: Sel kanker sudah menyebar
pada lebih dari nasopharing ke rongga hidung. Atau dapat pula sudah
menyebar di kelenjar getah bening pada salah satu sisi leher. 4. Stadium 3:
Kanker ini sudah menyerang pada kelenjar getah bening di semua sisi leher 5.
Stadium 4: kanker ini sudah menyebar di saraf dan tulang sekitar wajah.
Konsumsi ikan asin yang berlebih serta pemaparan zat-zat karsinogen dapat
mengaktifkan Virus Epstein Barr (EBV). Ini akan menyebabkan terjadinya
stimulasi pembelahan sel abnormal yang tidak terkontrol, sehingga terjadi
differensiasi dan proliferasi protein laten (EBNA-1). Hal inilah yang memicu
pertumbuhan sel kanker pada nasofaring, dalam hal ini terutama pada fossa
Rossenmuller.(Firdaus, 2011).
G. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut American Cancer Society (2015), pasien dengan NPC dapat
dilakukan pemeriksaan:
1. Biopsi Endoskopi
Indikasi dilakukan tindakan biopsi endoskopi ini adalah bila seorang
penderita memiliki tanda dan gejala karsinoma nasofaring namun dari
hasil pemeriksaan fisiknya tidak ditemukan adanya suatu kelainan.
2. Radiologi Konvensional
Pada foto tengkorak dengan potongan anteroposterior dan lateral
serta posisi Waters akan tampak jaringan lunak di daerah nasofaring.
Pada foto dasar tengkorak ditemukan destruksi atau erosi tulang di daerah
fossa serebri [Link] juga dilakukan pemeriksaan foto dada untuk
melihat adanya penyebaran sel tumor atau metastase di paru-paru.
3. Computed Tomography Scan (CT-Scan)
Merupakan suatu teknik pemeriksaan yang sampai saat ini paling
dipercayai untuk menetapkan diagnosa dan juga dapat menentukan
staging tumor dan juga perluasan tumor itu sendiri. Pada stadium dini,
terlihat asimetri dari resessus lateralis, torus tubarius dan dinding posterior
dari nasofaring. Dengan CT ini juga dapat menilai dasar tengkorak apakah
ada tanda-tanda litik dan lesi sklerotik.
4. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Sama halnya dengan pemeriksaan CT scan namun MRI dapat
menggambarkan struktur-struktur yang kecil tampak lebih baik dan lebih
jelas dibandingkan dengan gambaran CT seperti jaringan lunak di hidung
dan tenggorok
5. Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan darah ini tidak menunjang dalam penegakan diagnostik,
melainkan untuk membantu menggambarkan adanya penyebaran sel
tumor atau metastase ke organ yang lain Darah rutin dan kimia darah,
Epstein-Barr Virus (EBV) DNA Level
H. Komplikasi
Sel-sel kanker dapat ikut mengalir bersama getah bening atau darah,
mengenai organ tubuh yang letaknya jauh dari nasofaring. Yang sering adalah
tulang, hati dan paru. Hal ini merupakan hasil akhir dan prognosis yang buruk.
Dalam penelitian lain ditemukan bahwa karsinoma nasofaring dapat
mengadakan metastase jauh, ke paru-paru dan tulang, masing-masing 20 %,
sedangkan ke hati 10 %, otak 4 %, ginjal 0.4 %, dan tiroid 0.4 %. Komplikasi
lain yang biasa dialami adalah terjadinya pembesaran kelenjar getah bening
pada leher dan kelumpuhan saraf kranial (Firdaus, 2011).
I. Penatalaksanaan Medis
Menurut Farhat (2009) penatalaksanaan pasien dengan NPC adalah:
1. Radioterapi
Radioterapi adalah metode pengobatan penyakit maligna dengan
menggunakan sinar peng-ion, bertujuan untuk mematikan sel-sel tumor
sebanyak mungkin dan memelihara jaringan sehat di sekitar tumor agar
tidak menderita kerusakan terlalu berat. Karsinoma nasofaring bersifat
radioresponsif sehingga radioterapi tetap merupakan terapi terpenting.
2. Kemoterapi
Secara definisi kemoterapi adalah segolongan obat-obatan yang
dapat menghambat pertumbuhan kanker atau bahkan membunuh sel
kanker. Obat-obatan anti kanker dapat digunakan sebagian terapi tunggal
(active single agents), tetapi pada umumnya berupa kombinasi karena
dapat lebih meningkatkan potensi sitotoksik terhadap sel kanker.
3. Operatif
Pembedahan hanya sedikit berperan dalam penatalaksanaan KNF.
Terbatas pada diseksi leher radikal untuk mengontrol kelenjar yang
radioresisten dan metastase leher setelah radioterapi, pada pasien
tertentu pembedahan penyelamatan dilakukan pada kasus rekurensi di
nasofaring.
4. Imunoterapi
Dengan diketahuinya kemungkinan penyebab dari karsinoma
nasofaring adalah EBV, maka pada penderita karsinoma nasofaring dapat
diberikan terapi imunoterapi.) Salah satu contoh imutoerapi yaitu dengan
terapi sel T. Terapi T sel dalam keadaan ini diharapkan mempunyai tigkat
keberhasilan yang lebih besar.
J. Penatalaksanaan Keperawatan
Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d sekresi berlebihan
2. Nyeri akut b/d Agen injuri fisik (pembedahan).
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d
ketidakmampuan pemasukan nutrisi..
4. Risiko infeksi b/d tindakan infasive, imunitas tubuh menurun
5. Kurang pengetahuan tentang penyakit dan perawatannya b/d
misintepretasi informasi, ketidak familiernya sumber informasi.
6. Resiko Aspirasi b/d inefektif reflek menelan
7. Harga diri Rendah b/d perubahan perkembangan penyakit, pengobatan
penyakit.
Airway Suctioning/Suction
jalan nafas
Keluarkan sekret dengan
dorongan batuk/suctioning
Lakukan suction pada
endotrakhel/nasotrakhel, jika
perlu
Administrasi analgetik :
Cek program pemberian
analogetik; jenis, dosis, dan
frekuensi.
Evaluasi efektifitas
analgetik, tanda dan gejala
efek samping.
Monitor Nutrisi
Pertahankan lingkungan
yang aseptik selama
pemasangan alat.
Monitor kerentanan
terhadap infeksi.
Dorong peningkatan
mobilitas dan latihan.
Ajarkan keluarga/klien
tentang tanda dan gejala
infeksi.
Jelaskan alasan
dilaksanakannya tindakan
atau terapi
Pertahankan aktivitas
perawatan diri secara rutin
Anjurkan pasien
mengevaluasi perilakunya.
DAFTAR PUSTAKA