0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
69 tayangan76 halaman

Modul Transistor: PNP dan NPN

Transistor adalah komponen elektronika aktif yang terbuat dari semikonduktor tipe P dan N. Terdiri dari basis, kolektor, dan emitor. Ada dua tipe transistor, yaitu PNP dan NPN, yang membedakan arah panah pada emitor. Transistor berfungsi sebagai penguat tegangan, arus, dan daya serta switch.

Diunggah oleh

Rani Triani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
69 tayangan76 halaman

Modul Transistor: PNP dan NPN

Transistor adalah komponen elektronika aktif yang terbuat dari semikonduktor tipe P dan N. Terdiri dari basis, kolektor, dan emitor. Ada dua tipe transistor, yaitu PNP dan NPN, yang membedakan arah panah pada emitor. Transistor berfungsi sebagai penguat tegangan, arus, dan daya serta switch.

Diunggah oleh

Rani Triani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Bahan Bacaan 6:

Transistor
Pada dasarnya transistor merupakan komponen electonika aktif yang terbuat dari
semikonduktor yang mampu manggantikan hampir semua kemampuan dari tabung
electron, seperti menyarahkan dan penguatan signals.
Ada beberapa maca transistor, seperti transistor bipolar, field effect transistor (FET)
dan sebagainya. Pada pembahasan ini kita bahas dulu tentang transistor bipolar.

6.1 Transistor bi-polar

Transistor bi-polar ini mempunyai dua kutub yang terbentuk atas material-material
penyusunnya, yaitu semikonduktor type P (positif) dan semikonduktor type N
(negatif). Pada kutub yang satu material semikonduktor bermuatan positif, dimana ini
dapat bergerak sebagai pengangkut muatan (type P). Terbentuknya ini adalah
karena adanya elektron yang terbebas akibat diberi atom akseptor. Sama sepeti
diode transistorpun terbuat dari bahan semiconductor tipe N maupun P.

Transistor bi-polar terdiri dari dua tipe, yaitu PNP dan NPN. Pada transistor PNP,
dua lapisan bahan semikonduktor (germanium atau silikon) tipe P (positif) mengapit
lapisan bahan semikonduktor tipe N (negatif). Satu lapisan semikonduktor tipe P itu
terhubung dengan satu elektroda dan berfungsi sebagai kolektor (C), sedangkan
satu lapisan lagi terhubung dengan satu elektroda dan berfungsi sebagai emitor
(E). Lapisan semikonduktor tipe N terhubung dengan satu elektroda yang lainnya
lagi dan berfungsi sebagai basis (B). Dengan demikian terdapat tiga elektroda
sambungan/kontak pada transistor, yaitu kolektor (collector), emitor (Emiiter) dan
basis Base).

Pada transistor NPN, dua lapisan bahan semikonduktor tipe N mengapit lapisan
bahan semikonduktor tipe P. Satu lapisan tipe N terhubung dengan satu elektroda
dan berfungsi sebagai kolektor (C, collector), sedangkan satu lapisan tipe N yang
lainnya terhubung dengan satu elektroda dan berfungsi sebagai emitor (E,
emitter). Lapisan semikonduktor tipe P terhubung dengan satu elektroda dan
berfungsi sebagai basis(B, Base).

Pada pengoperasian transistor PNP, kolektor diberi tegangan negatif terhadap


emitor, sedangkan pada transistor NPN kolektor diberi tegangan positif
terhadap emitor. Tegangan antara kolektor dengan emitor ini disebut Vce.
Basis transistor PNP diberi tegangan negatif terhadap emitor, sedangkan pada
transistor NPN basis diberi tegangan positif terhadap emitor. Tegangan antara
basis dengan emitor ini adalah tegangan maju, disebut VBE. Besarnya Vce bisa
variatif, tetapi tidak boleh melampaui tinggi Vceo yang telah ditetapkan oleh pabrik
pembuat transistor yang bersangkutan. Setiap tipe transistor mempunyai ketentuan
Vce maksimal yang bisa berbeda-beda Besar tegangan antara basis dengan emitor
(VBE) adalah tetap dan tidak bisa lebih besar dari nilai tetapnya, yaitu sekitar 0,2V
bagi transistor yang dibuat dari bahan germanium (transistor produksi lama) dan
sekitar 0,6V bagi transistor yang dibuat dari bahan silicon.

Transistor adalah komponen elektronika yang terbuat dari dari bahan semi
konduktor tipe N dan tipe P. Transistor memiliki 3 kaki yaitu: basis (B), kolektor
(C) dan emitor (E). Berdasarkan susunan semikonduktor yang membentuknya,
transistor dibedakan menjadi dua tipe, yaitu transistor tipe PNP dan transistor
tipe NPN. Untuk membedakan transistor PNP dan NPN dapat dari arah panah pada
kaki emitornya. Berikut perbedaan transistor PNP dan NPN.
Gambar 6.1 - Transistor NPN dan PNP

Transistor memiliki banyak fungsi, diantaranya:


1. Penguat Tegangan
2. Penguat Arus
3. Penguat Daya
4. Switch
5. Sensor Suhu
6. Regulator tegangan
7. Osilator / Pembangkit sinyal
8. Modulator Sinyal

Transistor memiliki beberapa sifat yang penting diketahui, seperti:


1. Transistor yang mempunyai fisik lebih besar biasanya mampu bekerja pada daya
yang lebih besar

2. Pada tipe-tipe transistor dikenal adanya persamaan karakteristik, jadi jika sulit
mendapatkan sebuah transistor cobalah mencari persamaannya

3. Urutan kaki transistor antara tipe satu dengan yang lain tidak selalu sema.

4. Untuk pemakaian dengan daya yang tinggi sebaiknya tambahkan pendingin


pada bodi transistor (heat sink).
5. Panas yang berlebih pada transistor dapat mengakibatkan kerusakan transistor.

6. Pada transistor dikenal istilah HFE (), yaitu menunjukkan besarnya penguatan
arus dari transistor tersebut

7. Tegangan antara basis (B) dan emitor (E) besarnya selalu tetap, yaitu berkisar
antara 0.7 Volt untuk jenis transistor dari bahan silicon dan 0,3 Volt untuk
transistor germanium.

Gambar 6.2 Bentuk-bentuk transistor

8. Agar dapat bekerja, sebuah transistor memerlukan bias sekitar 0.7 Volt untuk
jenis silicon dan 0,3 Volt untuk transistor germanium.. Pada transistor PNP
silicon, tegangan basis harus lebih negatif 0.7 Volt dari emitter dan pada
transistor NPN basis harus lebih positif 0.7 Volt terhadap basis.

6.2 Aplikasi Transistor Sebagai Penguat


Salah satu fungsi dari transistor yaitu sebagai amplifier. Penggunaan ini biasanya
paling banyak digunakan di rangkaian-rangkaian elektronika yang sifatnya masih
analog misalnya digunakan sebagai penguat arus, penguar tegangan, dan penguat
daya. Fungsi komponen semikonduktor ini dapat kita temui pada rangkaian Pre-Amp
Head , Pre-Amp Mic, Mixer, Echo, Tone Control, Amplifier dan lain-lain.
6.3 Karakteristik Transistor

Mengetahui karakteristik suatu komponen merupakan hal yang penting agar kita
dapat menggunakan komponen tersebut dengan baik, Gambar 6.3 merupakan
gambar karakteristik suatu transistor. Disamping itu, perancangan dan analisa
transistor sesuai dengan fungsinya juga akan berdasarkan karakteristik ini.

Gambar 6.3. Kurva karakteristik transistor

Dari karakteristik di atas, transistor dapat beroperasi di tiga daerah yaitu,


1. Daerah cut-ott
2. Daerah active
3. Daerah saturation

1. Daerah cut-off
Dioda Emiter diberi prategangan mundur (reverse bias). Akibatnya, tidak
terjadi pergerakan elektron, sehingga arus Basis, IB = 0. Demikian juga, arus
Kolektor, IC = 0, atau disebut ICEO (Arus Kolektor ke Emiter dengan harga
arus Basis adalah 0).
2. Daerah active
Dioda Emiter diberi prategangan maju (forward bias) dan dioda Kolektor
dalam kondisi prategangan mundur (reverse bis). Terjadi sifat-sifat yang liner
artara arus basis dengan arus colector, dimana:
IE = IC + IB (9.1)

IC
dc ,
IB

atau

IC = dc IB (9.2)

dan

atau

IC = dc IE (9.3)

3. Daerah Saturation
Diode yang bekerja di daerah ini, dioda Emiter diberi prategangan maju
(forward bias) dan dioda Kolektor juga diberi prategangan maju. Akibatnya,
arus Kolektor, IC, akan mencapai harga maksimum, hubungan antara IC dan
IB sudah tidak linier lagi (IC< IB. dc). Operasi transitor di daerah ini sering
digunakan untuk transistor switching, sebagai switch tertutup.

Daerah Breakdown
Dioda Kolektor diberi prategangan mundur (reverse bias) yang melebihi tegangan
Breakdown-nya, BVCEO (tegangan breakdown dimana tegangan Kolektor ke Emiter
saat Arus Basis adalah nol). Sehingga arus Kolektor, IC, melebihi spesifikasi yang
dibolehkan. Transistor dapat mengalami kerusakan.

6.4 Aplikasi sebagai amplifier


Bila diaplikasikan sebagai amplifier bila dilihat dari hubungan rangkaiannya, ada tiga
macam rangkaian, yaitu:

a) Penguat Common Base (CB)


Penguat Common Base adalah penguat yang kaki basis transistor di ground-kan,
input di masukkan ke emitor dan output diambil pada kaki kolektor. Penguat
Common Base mempunyai karakter sebagai penguat tegangan.

Gambar 6.4 - Rangkaian penguat common base

Sifat pada Penguat Common Base adalah :



Penguatan tegangan (AV) = 100

Penguatan arus = 1
Penguatan daya 100
Impedansi input = re 25
Impedansi output = sangat tinggi
b) Penguat Common Emitor (CE)
Penguat Common Emitor adalah penguat dimana kaki emitor transistor di ground-
kan, kemudian input di masukkan ke basis dan output diambil pada kaki kolektor.

Gambar 6,5 - Contoh rangkaian penguat common emitor

Sifat pada penguat Common Emitor:

Sinyal output berbeda phasa 180 derajat terhadap sinyal input.



Penguatan tegangan (AV) = 100

Penguatan arus = hfe 100


Penguatan daya 10.000
Impedansi input = hie
1
Impedansi output
125
c) Penguat Common Collector (CC)
Penguat Common Collector adalah penguat dimana kaki kolektor transistor di
ground-kan/dkebumikan, lalu input dimasukkan ke basis dan output diambil pada
kaki emitor dan penguat ini berkarakteristik sebagai penguat arus. Rangkaian ini
hampir sama dengan Common Emitor tetapi outputnya diambil dari Emitor. Input
dihubungkan ke Basis dan output dihubungkan ke Emitor. Karena mempunyai sifat
impedansi input dan penguat arus yang tinggi rangkaian ini sering digunakan
sebagai buffer amplifier.

Gambar 6.6 - Rangkaian penguat common collector

Sifat pada Penguat Common Collector:

Sinyal output dan sinyal input satu phasa


Penguatan tegangan (AV) = 1
Penguatan arus = hfe 100
Penguatan daya 100
Impedansi input = hfe .re
+
Impedansi output =

Contoh data transistor 2N39043
hie = 3,5 k
hfe = 120
hre = 1,3 x 10-4
hoe =8,5 S

6.3 Aplikasi Transistor Sebagai Switch

Transistor dapat diaplikasikan sebagai electronic switch, dimana hanya digunakan


untuk menghidupkan atau mematikan suatu peralatan listrik. Selain electronic
switch ini juga diaplikasikan dalam dunia digital yang hanya mengenal 0 dan 1 atau
0 volt dan 5 volt.

Electronic switch ini selain menggunakan transistor dapat juga menggunakan IC


(Integrated Circuit). Cara kerja transistor sebagai electronic switch atau disebut
juga sebagai switch solid state, yaitu suatu sebagai switch yang dapat digunakan
untuk mengendalikan perangkat elektronika dengan daya tinggi seperti motor,
solenoid, atau lampu, dan selain itu transistor juga digunakan sebagai switch untuk
elektronika digital dan sirkuit gerbang logika digital. Agar transistor dapat
diaplikasikan sebagai switch, transistor tersebut harus beroperasi di area jenuh
(saturation) dan area cut-off.

6.3.1 Aplikasi Transistor sebagai Switch Terbuka


Gambar 6.7 Analogi transistor sebagai switch terbuka.

Keterangan:
Input basis dan basis dibuat ground atau V = 0 volt
Tegangan basis ke emitor (VBE kurang dari 0,7 V, idealnya 0 V)
Arus yang lewat kolektor = 0 (Ic = 0 A)
Tegangan keluaran (Vout) = Vce = Vcc (tegangan sumber) atau logika 1

Gambar di atas merupakan skema rangkaian dari transistor sebagai switch terbuka.
Arus masuk dari kaki basis (Ib) pada transistor adalah nol dan arus keluaran pada
kaki kolektor (Ic) juga nol, dan tegangan output maksimum berada pada kaki
kolektor (Vce). Kondisi tersebut membuat arus tidak bisa mengalir ke komponen
transistor ini, atau transistor bekerja di daerah cut-out.

6.3.2 Aplikasi Transistor sebagai Switch Tertutup


Dalam kondisi ini arus di kaki basis akan dibuat maksimum agar IB.>IC,
sehingga menghasilkan arus maksimum pada kaki kolektor dan membuat tegangan
di kaki emitor mengecil atau minimum. Hal ini membuat arus yang maksimal
mengalir pada transistor ini, Pada kondisi ini disebut transistor beropersi pada
daerah saturation dan berfungsi sebagai switch tertutup.
Gambar 6.8 - Analogi transistor sebagai switch tertutup.

Keterangan:
Input basis dihubungkan ke VCC
Tegangan basis- emitor, VBE > 0,7 Volt
Transistor dalam kondisi full-on
Arus kolektor mengalir maksimal
Tegangan output, (VCE 0)
Transistor beroperasi sebagai switch tertutup atau closed switch

Ketika mengaplikasikan transistor bipolar untuk electronic switch, maka harus


dioperasikan di daerah cu-off atau saturation. Untuk daerah cutoff, VBE harus sekecil
mungkin, idealnya nol, dan untuk saturation input pada basis harus dapat membuat
VBE sedikit lebih besar dari VBE aktif (VBE>0,7V). dan iB,>IC.
Kesimpulan ketika transistor digunakan sebagai switch
Switch transistor bisa digunakan untuk switch dan dapat digunakan untuk
mengontrol lampu, relay, atau motor, dimana arus kecil pada basis dapat
mengontrol arus beban pada kolektor yang jauh lebih besar.
Jika menggunakan transistor sebagai switch maka harus benar-benar mengatur
transistor sampai benar cut-off atau saturation..
Untuk bekerja sebagai switch tertutup transistor harus dioperasikan di area jenuh
atau saturation.
Untuk bekerja sebagai switch terbuka transistor harus dioperasikan di area cut-
off.

Bila arus kecil perlu mengatur arus yang relative besar dengan transistor maka
konfigurasi darlington bisa digunakan

Gambar 6.9 Transistor Darlington : NPN (kiri) dan PNP (kanan

6.5 Menentukan Kaki Transistor


Untuk menentukan jenis transistor dan ketiga kakinya maka dapat
menggunakan dua cara, yang pertama dengan melihat pada datasheetnya.
Sedangkan yang kedua dengan melakukan pengukuran/ tes kondisi menggunakan
AVOmeter/ multitester. Perhatikan gambar berikut:

6.5.1 Menentukan Kaki Basis, Sekaligus Menentukan Jenis Transistor


Untuk menentukan kaki basis kita perlu mengetahui karakter kaki basis, yaitu
memiliki hubungan fordward bias pada basis ke kolektor dan basis ke emitor,
serta reverse bias dari kolektor ke basis dan emitor ke basis pada jenis transistor
NPN dan kondisi sebaliknya pada jenis PNP. Pada tahap ini kita memisalkan kaki-
kaki transistor tersebut dengan nama lain, sebagai contoh kaki 1, kaki 2, dan kaki 3.
Kemudian atur multitester ke Ohm meter x10 atau x100, kemudian kita mencari kaki
basis dengan cara sebagai berikut:

Hubungkan probe merah ke salah satu kaki, misal kaki 1 kemudian probe hitam
dihubungkan ke kedua kaki yang lain, apabila multitester memberikan nilai ukur
resistansi yang rendah (jarum bergerak lebar) pada keduanya maka kaki 1
adalah kaki basis untuk transistor PNP. Dan bila kaki 1 tadi dihubungkan probe
hitam dan probe merah ke kedua kaki yang lain, jarum tidak oleh bergerak.

Apabila, probe hitam ke salah satu kaki, misal kaki 1 kemudian probe hitam
dihubungkan ke kedua kaki yang lain, apabila multitester memberikan nilai ukur
resistansi yang rendah (jarum bergerak lebar) pada keduanya maka kaki 1
adalah kaki basis untuk transistor NPN. Dan bila kaki 1 tadi dihubungkan probe
merah dan probe merah ke kedua kaki yang lain, jarum tidak oleh bergerak.

Gambar 10. Pengetesan kaki basis pada sebuah transistor

6.5.2 Menentukan Kaki Kolektor dan Emitor


Untuk menentukan kolektor dan emiter pada suatu transistor NPN kita memerlukan
sebuah resistor dengan nilai 100k. Perhatikan gambar berikut:
Gambar 11 Menentukan kaki Emiter dan Kolektor

Resistor dengan nilai yang telah ditentukan dipasang antara kolektor dan basis,
dengan tujuan untuk mengalirkan arus dari sumber ke basis melalui resistor yang
akan manjadi trigger untuk basis. Ketika probe berwarna hitam (positif batere
multimeter) terhubung dengan kolektor dan probe berwarna merah (negative batere
multimeter) terhubung dengan emiter, kemudian jarum akan bergerak seperti pada
gambar di atas. Setelah kita melihat jarum pada multimeter bergerak, maka kolektor
dan emitter sudah bisa ditentukan, yaitu :
Probe hitam sebagai kolektor
Probe merah sebagai emitter

Apabila letak probe hitam dan probe merah dibalikkan maka jarum pada multimeter
tidak akan bergerak.

Contoh Soal 1
Gambar 12 - contoh soal 1.

Transistor pada gambar (12.a) mempunyai = 100 dan vBE = 0,7 V pada iC =1mA.
Rancanglah rangkaian sehingga arus 2 mA mengalir melalui collector dan tegangan
pada collector = +5 V
Jawab:
VC = 5 V CBJ (collector-base junction) reverse bias BJT pada mode aktif
VC = 5 V VRC = 15 5 = 10 V
IC = 2 mA RC = 5 k
IB = IC/ = 2/100 = 0.02 mA
IE = IC + IB = 2 + 0,02 = 2,02 mA
vBE = 0,7 V
VB = 0 V VE = -0,7 V
= 100
Harga RE diperoleh dari:

( ())
=

+
= = ,
,
Contoh soal 2
Transistor pada gambar 13 mempunyai berkisar antara 50 150.
Carilah harga RB yang menyebabkan transistor pada keadaan jenuh dengan faktor
overdrive lebih besar dari 10.

Gambar 13 Saol no 2
Jawab:
Transistor dalam keadaan jenuh, tegangan collector:
VC = VCEsat 0,2 V
Arus collector:
10 0,2
I Csat 9,8 mA
1
Untuk membuat transistor jenuh dengan yang paling rendah, diperlukan arus base
paling sedikit:

I Csat 9,8
I B ( EOS ) 0,196 mA
min 50

Untuk faktor overdrive = 10, arus base harus:


IB = 10 x 0,196 = 1,96 mA
50,7
Jadi RB yang diperlukan: = 2,2
1,96103

Contoh soal 4
Tentukan harga tegangan pada semua simpul dan arus pada semua cabang.
Asumsikan = 100
Jawab:
Gunakan teori Thvenin untuk menyederhanakan rangkaian pada base.

RB 2 50
VBB 15 15 5 V
RB1 RB 2 100 50

RBB RB1 // RB 2 100 // 50 33,3 k

VBB I B RBB VBE I E RE

IE
IB
1

VBB VBE
IE
RE RBB 1

5 0,7
IE 1,29 mA
3 33,3 101

1,29
IB 0,0128 mA
101

VB VBE I E RE

0,7 1,29 3 4,57 V

Asumsikan transistor bekerja pada mode aktif:


IC = IE = 0,99 x 1,29 = 1,28 mA
VC = +15 ICRC = 15 1,28 x 5 = 8,6 V
Jadi tegangan collector > 4,03 V dari tegangan base transistor bekerja pada
mode aktif.
Transistor datasheet

Bahan Bacaan 7:
Field Effect Transistor (FET)
Transistor kedua yang paling banyak digunakan dari berbagai jenis-jenis
transistor yang ada adalah transistor efek medan (FET). Transistor jenis ini sama
seperti transistor bipolar yang memiliki tiga kaki. Tiga kaki terminal yang dimiliki oleh
FET adalah Drain (D), Source (S), dan Gate (G). FET dikenal pula dengan istilah
transistor unipolar memiliki hanya satu buah kutub saja. Sedangkan cara kerja dari
FET ini adalah mengatur dan mengendalikan aliran elektron dari Source ke Drain
melalui tegangan yang diberikan pada Gate. Hal inilah yang membedakan antara
prinsip kerja FET dengan transistor bipolar pada penjelasan diatas.

Gambar Simbol FET

Field Effect Transistor (FET) merupakan suatu jenis transistor khusus. Tidak
seperti transistor biasa, yang akan menghantar bila diberi arus basis, transistor jenis
ini akan menghantar bila diberikan tegangan (jadi bukan arus). Kaki-kakinya diberi
nama Gate (G), Drain (D) dan Source (S). Kanal n dibuat dari bahan semikonduktor
tipe n dan kanal p dibuat dari semikonduktor tipe p. Ujung atas dinamakan Drain dan
ujung bawah dinamakan Source. Pada kedua sisi kiri dan kanan terdapat implant
semikonduktor yang berbeda tipe. Terminal kedua sisi implant ini terhubung satu
dengan lainnya secara internal dan dinamakan Gate. Field efect (efek medan listrik)
berasal dari prinsip kerja transistor ini yang berkenaan dengan lapisan deplesi
(depletion layer). Lapisan ini terbentuk antara semikonduktor tipe N dan tipe P,
karena bergabungnya elektron dan hole di sekitar daerah perbatasan. Sama seperti
medan listrik, lapisan deplesi ini bisa membesar atau mengecil tergantung dari
tegangan antara gate dengan source. Beberapa Kelebihan FET dibandingkan
dengan transistor biasa ialah antara lain penguatannya yang besar, serta desah
yang rendah. Karena harga FET yang lebih tinggi dari transistor, maka hanya
digunakan pada bagian-bagian yang memang memerlukan. Wujud fisik FET ada
berbagai macam yang mirip dengan transistor. FET dibagi kedua jenis yaitu JFET
dan MOSFET.

7.1 Junction Field Effect Transistor (JFET)

Gambar JFET Channel N dan P

Perhatikan channel N bahwa terdapat struktur PN junction antara Gate (G)


dengan Source (S), dan ada satu jalur arus yang melewati semikonduktor ekstrinsik
tipe N. Ingat bahwa semikonduktor ekstrinsik lebih mempunyai sifat mendekati
konduktor yang mempunyai sifat resistif.

JFET memanfaatkan adanya efek medan yang muncul pada PN junction


(sambungan-PN). Sebagaimana dijelaskan pada saat materi dioda, pemberian
tegangan pada pn junction akan mengakibatkan perubahan daerah deplesi (daerah
yang mempunyai sedikit muatan bebas). Pada saat bias forward (P lebih positif
daripada N), arus dapat dengan mudah melewati junction. Akan tetapi pada saat
bias reverse (P lebih negatif dari N), hampir tidak ada arus yang dapat melewati
junction, akibat semakin lebarnya daerah deplesi. Pada saat reverse bias, semakin
negatif tegangan yang diberikan antara P dengan N, semakin lebar pula daerah
deplesi. Perubahan daerah deplesi inilah yang dimanfaatkan pada JFET. Perhatikan
urutan gambar-gambar berikut:

N-JFET saat GS diberi tegangan forward


(VGS>0) Arus IDS mengalir maksimal
n-JFET saat GS diberi tegangan 0
(VGS=0) Arus IDS mengalir maksimal

n-JFET saat GS diberi tegangan reverse (VGS<0) Terjadi pelebaran daerah


depelesi di sekitar junction. Arus IDS terhambat, sehingga arus yang mengalir tidak
dapat maksimal (GAMBAR SALAHH)
Hubungan antara arus IDS dan tegangan VGS memenuhi suatu persamaan

IDS = arus dari Drain ke Sourve


VGS = tegangan antara Gate dan Source
IDSS = arus maksimum dari Drain ke Source (suatu konstanta)
VP = tegangan pinch-off, tegangan yang mengakibatkan arus IDS menjadi nol
(suatu konstanta)
(SAMA SEPERTI DI ATAS)

Contoh soal 1
Diketahui rangkaian JFET seperti gambar berikut dengan data IDSS = 10 mA dan
VP = -8 Volt, tentukan:
a) VGSQ
b) IDQ
c) VDSQ

Gambar XX Rangkaian untuk soal no XX


Jawab

a) VGSQ = - VGG = -2 Volt



= (1 ( ))2

2 2
= 10 (1 ( )) = 5,625
8

c) VDSQ = VDD [Link]


= 16 (5,625,10-3x.2.103)
= 4,75 Volt

Titik kerja JFET tersebut adalah:


VGSQ = - 2 Volt
IDQ = 5,625 mA
VDS = 4,75 Volt

Contoh soal 2

Gambar XX Rangkaian untuk soal no XX

Suatu rangkaian penguat JFET dengan self-bias seperti pada gambar di bawah.
Diketahui data JFET adalah sebagai berikut: IDSS = 8 mA dan VP= - 6 Volt.
Tentukan:
a) VGSQ
b) IDQ
c) VDSQ
Jawab:
a)

(0,22) VGS2 + (3,67) VGS + 16 = 0

dengan menggunakan rumus ABC dapat diperoleh


VGS1 = - 2,587 Volt
dan
VGS2 = - 13,9 Volt
Diantara dua harga VGS tersebut yang memenuhi syarat sebagai VGSQ adalah
VGS1 = -2,587 Volt karena terletak antara nilai 0 hingga Vp = - 6 Volt.

b)

c)
VDS = VDD - ID (RD + RS)
VDS = 20 - (2,587m) (3,3K + 1K) = 8,87 Volt
Contoh soal 3
Pada lembar data JFET type 2N 5457, tercantum arus bocor pada gate, besarnya
1 mA untuk tegangan VGS = -15 volt. Hitunglah nilai resistansi antara G dan S !

Jawab:
Karena arus bocor tersebut akhirnya melintasi pn-junction antara source dan gate,
maka resistansi yang dihasilkan, rgs, adalah,

rgs = - 15/- 10-3 = 15 k

Contoh soal 4
Satu n-channel JFET mempunyai gmo = 5000 S dan IDSS = 5 mA, dioperasikan
dengan bentuk rangkaian self-bias. Tentukan nilai tahanan RS serta nilai VGS untuk
mendapatkan bias titik-tengah!

Jawab:
Dari persamaan (6-5), maka nilai VGS-off adalah, (- 2x5x10-3/5000x10-6) = - 2 volt.
VGS = VGS-off / 4 = - 2/4 = - 0,5 volt
RS = - VGS/ID = - (-0,5/5x10-3) = 100

7.2 Metal Oxide Semiconductor Field Effect Transistor (MOSFET)


Struktur MOS membentuk suatu lapisan metal (konduktor), oksida (isolator),
dan semikonduktor, sebagaimana ditunjukkan gambar berikut:
Gambar XX Struktur dasar MOSFET

Suatu MOS ketika diberikan suatu tegangan antara metal dengan


semikonduktornya. Perhatikan adanya muatan yang mungkin terkumpul di bawah
lapisan oksida ketika pada metal terdapat muatan! Mengapa bisa terjadi? Apa
pembawa muatan mayoritas pada semikonduktor tipe p? hole Apa yang terkumpul
pada lapisan di bawah oksida pada gambar di atas? elektron Apakah terjadi
perubahan sifat semikonduktor di bawah lapisan oksida? Ya, ada. Lapisan di bawah
oksida menjadi semikonduktor tipe n, pembawa mayoritas sekarang adalah elektron.

7.3 Struktur MOSFET


Gambar XX N-MOSFET Depletion

Pada n-MOSFET depletion, sudah dibuatkan suatu lapisan tipe N (berlawanan


dengan tipe semikonduktornya) dibawah lapisan oksida. Sehingga terdapat suatu
jalur dengan type sama antara Drain dan Source. Jalur ini selanjutnya disebut
channel. Pemberian tegangan VGS nantinya akan dapat mempengaruhi keberadaan
channel ini, dari channel yang lebar menjadi channel yang sempit bahkan hilang.

Gambar XX Struktur n-MOSFET Enchancement

Pada n-MOSFET Enhancement, pembentukan channel akan terjadi saat VGS diberi
tegangan (terjadi penambahan chanel, to enhance)
[Link]
[Link]

7.4 Karakteristik MOSFET

Gambar Karakteristik iD vDS dari MOSFET

MOSFET bekerja seperti resistansi linier yang dikendalikan oleh vGS.. Untuk vGS V t,
resistansinya tidak terhingga, dan harganya menurun jika vGS melebihi Vt. Jadi, agar
MOSFET terkonduksi harus ada kanal induksi. Dengan bertambahnya vGS melebihi
Vt meningkatkan kemampuan kanal, oleh karena itu MOSFET jenis ini disebut
MOSFET enchancement-type. Arus yang meninggalkan source (is) sama dengan
arus yang memasuki drain (iD), jadi arus gate iG = 0

RUMUS-RUMUS UNTUK MOSFET BELUM


Contoh soal 1
Sebuah MOSFET mempunyai Lmin = 0,4m, tOX = 8 nm, n = 450 cm2/Vs dan Vt =
0,7V.
a. Carilah COX dan kn.
b. Untuk MOSFET dengan W/L = 8 m/0,8m, hitunglah harga VGS dan VDSmin yang
diperlukan agar transistor bekerja di daerah jenuh dengan arus dc ID = 100 A
c. Untuk MOSFET pada (b), carilah harga VGS yang diperlukan agar MOSFET
bekerja sebagai resistor 1000 untuk vDS yang sangat kecil

Jawab:
a.
OX 3,45 10 11
COX 9
4,32 10 3 F/m 2
tOX 8 10
4,32 fF/ m 2
k n' nCOX 450 (cm 2 / V.s) 4,32 (fF/ m 2 )
194 10-6 (F/V.s)
194 A/V 2

b. Untuk bekerja di daerah jenuh:


W
I D 12 k n'vGS Vt 2
L
100 12 194
8
VGS 0,7 2
0,8
VGS 0,7 0,32 V
VGS 1,02 V
VDS min VGS Vt 0,32 V

c. Untuk MOSFET di daerah trioda dengan vDS sangat kecil:


iD k n'
W
vGS Vt vDS
L
vDS
rDS
iD v DS kecil

W
1 k n' VGS Vt
L
1
1000
194 10 6 10VGS 0,7
VGS 0,7 0,52 V
VGS 1,22 V

Contoh soal 2
Rancanglah rangkaian seperti pada gambar di samping ini sehingga transistor
bekerja pada ID = 0,4 mA dan VD = +0,5 V. Transistor NMOS mempunyai Vt = 0,7 V,
nCOX = 100 A/V2, L = 1m dan W = 32 m. Abaikan pengaruh channel-length
modulation ( = 0)

Jawab:
VD = 0, 5 V > VG NMOS bekerja pada daerah jenuh.

I D 12 nCOX
W
VGS Vt 2
L
VGS Vt = VOV; ID = 0,4 mA = 400 A;
nCOX = 100 A/V2 dan W/L = 32/1

32 2
400 12 100 VOV
1
VOV = 0,5V
VGS = Vt + VOV = 0,7 + 0,5 = 1,2 V
VG = 0 VS = - 1,2 V

VS VSS
RS
ID
1,2 (2,5)
3,25 k
0,4

Untuk mendapatkan VD = +0,5 V


VDD VD
RD
ID
2,5 0,5
5 k
0,4
FET datasheet
Bahan Bacaan 8:
Silicon Controlled rectifier (SCR)
Silicon Controlled Rectifier (SCR) atau thyristor merupakan device
semikonduktor yang mempunyai perilakunya cenderung tetap on setelah diaktifkan
dan cenderung tetap off setelah dimatikan (bersifat histeresis) dan biasa digunakan
sebagai switch elektronik, protektor, dan lain sebagainya. Sebelum kita mengetahui
lebih dalam tentang pengertian dan prinsip kerja dasar dari Silicon controlled rectifier
(SCR), sebaiknya kita tahu terlebih dulu tentang definisi dari dioda Shockley. Karena
SCR itu sendiri memang device yang dikembangkan dari sebuah dioda Shockley,
yaitu dioda yang terdiri dari empat lapisan bahan semikonduktor, atau yang juga
biasa disebut sebagai dioda PNPN.

Perkembangan dioda shockley menjadi SCR sebenarnya dicapai hanya


dengan menambah suatu tambahan kecil yang tidak lebih dari sambungan kawat
ketiga yang diberi nama gate dari struktur PNPN yang telah ada. untuk lebih
jelasnya perhatikan gambar dibawah ini.

Gambar Perkembangan dioda shockley menjadi SCR

Berikut ini gambar simbol skematik dan diagram skematik dari SCR.

GambarXX Konstruksi SCR


Gambar XX Karakteristitk SCR

Jika sebuah gate dari SCR dibiarkan mengambang atau tidak terhubung
(terputus), maka SCR akan berperilaku sama persis seperti dioda shockley. Seperti
halnya dioda shockley, SCR juga akan aktif dan mengunci (latch) saat diberikan
tegangan breakover antara katoda dan anoda. Untuk mematikan kembali SCR dapat
dilakukan dengan cara mengurangi arus sampai salah satu dari transistor internal
tersebut jatuh dan berada dalam mode cutoff , dan perilaku SCR yang seperti ini
juga seperti dioda shockley. Lalu sekarang coba kita bahas tentang kawat atau
terminal gate yang menjadi perbedaan dari kedua perangkat ini. Kita tahu kalau
terminal gate SCR terhubung langsung ke basis transistor yang lebih rendah, itu
berarti terminal gate ini dapat digunakan sebagai alternatif untuk mengaktifkan SCR
(latch up). Dengan memberikan tegangan yang kecil antara gate dan katoda,
transistor yang bawah atau transistor yang lebih rendah akan dipaksa ON oleh arus
basis yang dihasilkan, hal ini akan menyebabkan arus basis transistor atas mengalir
dan transistor atas akan aktif dan menghantarkan arus basis untuk transistor yang
bawah (tidak dibutuhkan lagi pasokan tegangan dari terminal gate), sehingga kini
kedua transistor saling menjaga agar tetap aktif atau saling mengunci (latch). Arus
yang diperlukan gate untuk memulai latch up tentu saja jauh lebih rendah daripada
arus yang melalui SCR dari katoda ke anoda, sehingga SCR tidak perlu mencapai
penguatan.

Cara yang paling umum digunakan dan dianggap aman untuk mengaktifkan
SCR adalah dengan memberikan tegangan pada terminal gate, dan cara atau
metode seperti ini disebut dengan memicu (triggering). Bahkan dalam
penggunaannya SCR biasanya sengaja dibuat atau dipilih dengan tegangan
breakover yang jauh lebih besar melampaui tegangan terbesar yang diperkirakan
akan dialami oleh sumber listrik. Sehingga SCR hanya bisa diaktifkan dengan pulsa
tegangan yang diterapkan ke terminal gate, bukan dengan tegangan breakover.

Perlu dikatakan bahwa SCR terkadang bisa dimatikan secara langsung


dengan menjumper atau mengkorsletkan terminal gate dan katoda, yang disebut
dengan reverse triggering, dimana gate dengan tegangan negatif (mengacu pada
katoda), sehingga transistor yang lebih rendah atau dibawah dipaksa cutoff. Saya
mengatakan ini kadang-kadang karena cara ini mungkin akan melibatkan semua
arus kolektor dari transistor atas yang melewati basis transistor yang dibawah. Dan
arus ini mungkin sangat substansial sehingga membuat triggered shut off dari SCR
begitu sulit. Dan sebuah thyristor Gate-Turn-Off (GTO) yang merupakan variasi dari
SCR yang akan mampu mempermudah tugas ini. akan tetapi bahkan dengan
sebuah GTO sekalipun, arus gate yang dibutuhkan untuk mematikannya mungkin
sebanyak 20% dari arus anoda (beban). Simbol skematik dari GTO ditunjukkan oleh
gambar ilustrasi dibawah ini.
SCR dan GTO mempunyai skema yang sama yaitu dua transistor yang
terhubung secara positif-dengan mode feedback atau berbalikan. Satu-satunya
perbedaan dari rancangan konstruksi adalah untuk memberikan transistor NPN
sebuah yang lebih besar dari PNP. Hal ini memungkinkan arus gate yang lebih
kecil (forward atau reverse) untuk mengerahkan tingkat kontrol yang lebih besar
atas konduksi dari katoda ke anoda. Dalam keadaan terkunci (latch), transistor PNP
menjadi lebih tergantung pada NPN bukan sebaliknya. Thyristor Gate-Turn-Off juga
dikenal dengan nama Gate-controlled switch (GCS).

8.1 Pengetesan SCR


Pengetesan fungsi dasar SCR, atau mengidentifikasi terminal dapat
dilakukan dengan ohmmeter. Karena koneksi internal antara gate dan katoda adalah
PN junction tunggal, alat ukur harus menunjukkkan adanya sambungan atau koneksi
antara terminal-terminal ini saat probe merah dihubungkan ke gate dan probe hitam
pada katoda. Seperti gambar dibawah ini.

Gambar SCR
Dan SCR akan menunjukkan terminal terbuka atau tak terhingga (OL jika
pada display multimeter digital) saat pengukuran dilakukan pada sambungan-
sambungan yang lain. Perlu dipahami bahwa tes ini sangat kasar dan bukan
merupakan penilaian yang komprehensif dari SCR. Hal ini dilakukan untuk
memberikan indikasi tahanan SCR masih baik atau sudah rusak. Dan satu-
satunya cara untuk menguji SCR yang lebih mendalam adalah dengan arus beban.

Jika anda menggunakan multimeter yang mempunyai fungsi dioda cheknya,


indikasi tegangan antara sambungan atau persimpangan gate ke katoda mungkin
hasilnya tidak akan sesuai dengan persimpangan PN silikon pada umumnya (yang
biasanya sekitar 0,7 volt). Dalam beberapa kasus, hasil pengukuran tegangan akan
jauh lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh resistor internal yang terhubung antara
gate dan katoda yang dimasukkan kedalam beberapa SCR. Resistor ini
ditambahkan untuk mengurangi kerentanan SCR terhadap pemicu (trigger) palsu,
yang berasal dari lonjakan tegangan palsu, dari noise rangkaian, atau dari pelucutan
listrik statis. Dengan kata lain, adanya resistor yang terhubung di persimpangan
gate-katoda mengharuskan sinyal trigger yang kuat (arus yang besar) untuk
diterapkan pada gate SCR. Fitur ini ditemukan pada SCR yang lebih besar bukan
SCR yang kecil. Ingatlah bahwa SCR dengan resistor internal yang terhubung
antara gate dan katoda akan menunjukkan kontinuitas hubungan dalam dua arah
antara dua terminal.
Gambar Resistor internal pada kaki gate dan katoda SCR

SCR dengan nilai resistor internal yang kecil terkadang juga disebut sebagai SCR
gate sensitif, karena kemampuannya yang dipicu (triggered) oleh sinyal positif gate
yang sangat sedikit. Rangkaian tes untuk SCR berikut ini sangat baik untuk
digunakan sebagai alat uji SCR, selain itu juga sangat baik untuk mengetahui dan
memahami operasi dasar SCR. Sebuah sumber tegangan DC yang digunakan
sebagai daya dari rangkaian dan dua push button switch yang digunakan untuk
mengaktifkan dan mematikan SCR.

Gambar Rangkaian sederhana penguji SCR

Push button NO (tombol on) menghubungkan gate dengan anoda, sehingga


arus dari terminal negatif baterai akan melalui PN junction katoda-gate, kemudian
melalui switch, melalui resistor beban dan kembali ke baterai. Arus gate inilah yang
akan membuat SCR latch on, sehingga meskipun tombol on dilepas, beban akan
tetap mendapat daya listrik. Dengan menekan push button NC (tombol off), arus
yang melalui SCR akan terhenti, sehingga hal tersebut akan memaksa untuk
mematikan SCR (Turn off).

Jika SCR tidak bisa atau gagal untuk latch, mungkin masalahnya ada pada
beban rangkaian bukan pada SCR. Arus beban dengan jumlah minimum tertentu
diperlukan atau wajib dimiliki untuk menjaga agar SCR latch on. Tingkat atau level
arus minimum ini disebut holding current. Holding current biasanya berkisar antara
1 miliampere sampai 50 miliampere atau mungkin lebih untuk unit yang lebih besar.
Untuk pengujian sepenuhnya dapat dilakukan dengan menguji trigger
dengan tegangan breakover. Untuk menguji batas tegangan breakover dapat
dilakukan dengan cara meningkatkan suplai tegangan DC sampai SCR aktif dan
mengunci (latch) dengan sendirinya (tanpa perlu menekan tombol pushbutton). Saat
tes tegangan breakover ini perlu kehati-hatian karena mungkin memerlukan
tegangan yang sangat tinggi. Dalam bentuk sederhana, rangkaian tes SCR bisa
cukup sebagai rangkaian kontrol start/stop untuk motor DC, lampu, atau beban-
beban yang praktis lainnya.

Gambar Rangkaian kontrol start/stop motor DC

Contoh penggunaan SCR pada sirkuit DC adalah sebagai perangkat atau


device crowbar yang berfungsi untuk memproteksi bila terjadi tegangan lebih (over
voltage). Sirkuit crowbar terdiri dari sebuah SCR yang dihubungkan pararel dengan
output dari power supply DC. Rusaknya SCR dan power supply dapat dicegah
dengan pemasangan secara benar dan sebuah fuse atau resistansi seri yang besar
setelah SCR untuk membatasi arus hubung singkat dari rangkaian.
Gambar rangkaian power supply DC

Beberapa rangkaian atau perangkat sensor tegangan output akan terhubung


ke gate SCR. Sehingga ketika kondisi overvoltage terjadi, tegangan akan diterapkan
di antara gate dan katoda, yang kemudian memicu atau mentrigger SCR dan
memaksa fuse untuk memutus.

Meskipun fakta mengatakan bahwa SCR merupakan perangkat DC (arus


searah), namun sebagian besar aplikasi SCR adalah untuk mengontrol daya AC
(arus bolak-balik). Jika dibutuhkan arus rangkaian dalam dua arah, maka beberapa
atau lebih dari satu SCR dapat digunakan dalam sebuah rangkaian. Dengan begitu
SCR akan dapat menangani atau mengalirkan setiap arah arus dari kedua setengah
siklus gelombang AC.

[Link]

SCR Datasheet
8.2 Triode for Alternating Current (TRIAC)
TRIAC adalah salah satu thyristor yang memiliki karakteristik bidirectional.
Karakter bidirectional tersebut karena TRIAC dapat mengalirkan arus dalam 2 arah
dari Anoda ke Katoda atau sebaliknya dari Katoda ke Anoda. TRIAC dapat
mengalirkan arus listrik 2 arah (bidirectional) karena struktur TRIAC seperti 2 buah
SCR yang yang arahnya bolak-balik kemudian dijadikan satu dengan gate disatukan
seperti ditunjukan pada gambar struktur dan simbol TRIAC berikut:

Gambar Struktur Dan Simbol TRIAC

Gambar diatas menjelaskan bahwa TRIAC pada dasarnya merupakan gabungan


dari 2 buah SCR yang rangkai secara bolak balik dengan gate disatukan. TRIAC
bekerja mirip seperti SCR yang paralel bolak-balik, sehingga dapat melewatkan arus
dua arah. Kurva karakteristik dari TRIAC adalah seperti pada gambar berikut ini.
Gambar Kurva Karakteristik TRIAC

Kelebihan TRIAC diantaranya adalah :


Dapat mengalirkan arus listrik dalam 2 arah.
Dapat digunakan untuk mengendalikan tegangan listrik AC (Alternating
Current)
Dapat digunakan sebagai interface antara sistem kendali digital dengan
beban dengan tegangan kerja AC

Aplikasi TRIAC
TRIAC merupakan komponen elektronika yang dapat digunakan untuk
mengendalikan arus listrik dalam 2 arah, sehingga TRIAC dapat digunakan untuk
mengendalikan arus listrik AC (Alternating Current). Aplikasi TRIAC pada umumnya
digunakan untuk mngendalikan beban listrik AC seperti lampu listrik AC. Pada
rangkaian pengatur kecerahan lampu (dimmer) kita dapat menemukan TRIAC
sebagai komponen utama untuk mengendalikan cahaya lampu. Selain digunakan
sebagai komponen utama dalam rangkaian dimmer, TRIAC juga digunakan sebagai
komponen untuk mengalirkan arus pada suatu solid state relay. Berikut adalah
contoh aplikasi TRIAC dalam rangkaian dimmer lampu AC yang sederhana

Gambar XX Contoh aplikasi TRIAC dalam rangkaian dimmer lampu listrik AC

Dari gambar rangkaian dimmer lampu AC diatas TRIAC merupakan komponen yang
berfungsi untuk mengalirkan arus listrik AC untuk lampu dengan tegangan kerja AC.
Dalam aplikasinya TRIAC pada umumnya dikendalikan menggunakan DIAC sebagai
penyarah tegangan AC untuk triger pada gate TRIAC.
Bahan Bacaan 9:
Operasional Amplifier (Op-Amp)
Operasional amplifier yang lebih dikenal dengan nama Op-Amp, merupakan
komponen elektronik yang kegunaannya sangat banyak. Ukuran Op-Amp sangat
kecil yaitu sebesar kuku jari kita, memudahkan dalam perancangan-perancangan
piranti elektronik yang pada saat ini cenderung meminimalkan ukuran.

Isi dan sebuah Op-Amp tediri dan puluhan transistor, resistor dan kapasitor
yang dikemas dalam suatu rangkaian terpadu, sehingga Op-Amp dapat disebut juga
rangkaian terpadu (IC = Integrated Circuit). Dimana fungsinya adalah mewakili suatu
rangkian tertentu sehingga membentuk suatu rangkaian yang kompak.

Pada umumnya keunggulan IC ini tidak mudah terganggu oleh pengaruh


suhu ataupun kesalahan kecil karena bahan dan IC tersebut. Penguatan (gain) yang
besar mempunyai input yang besar pula sehingga output-nya benimpedansi rendah.
Di dalam prakteknya, Op-Amp tidak dapat digunakan tanpa adanya komponen lain
seperti resistor, kapasitor, dioda atau komponen lain. Untuk dapat memahami
penggunaaan Op-Amp ini diperlukan adanya suatu kemampuan menganalisa
rangkaian listrik. Semakin banyak kemampuan kita menganalisa rangkaian listrik,
semakin luas kita dapat menetapkan penggunaan Op-Amp.

9.1 Prinsip Kerja Operasional Amplifier


Op - Amp adalah suatu penguat gandengan langsung yang memperkuat
sinyal arus searah (DC) atau tegangan yang berubah-ubah terhadap satuan waktu.
Penguatan yang tinggi dilengkapi dengan umpan balik untuk mengendalikan
karakteristiknya secara menyeluruh. Simbol Op-Amp tampak pada Gambar berikut:
Gambar Simbol Operasional Amplifier

A adalah penguat tegangan tanpa beban, dimana harga ini adalah tegangan
yang kita dapatkan bila tidak ada beban yang dihubungkan pada keluaran.
Tegangan masuk (V1 dan V2) dan tegangan keluaran (Vo) dihitung terhadap jalur
tanah. Sumber tegangan (Vcc) yang diperlukan oleh Op-Amp ada dua macam, yaitu
sumber tegangan positif (+ Vcc) dan sumber tegangan negatif (- Vcc). Hal ini
ditujukan agar Op-Amp dapat memperkuat tegangan yang positif maupun negatif,
begitu juga pada bagian output-nya dimana tegangan dapat berharga positif maupun
negatif.

Semua jenis Op-Amp mempunyai tiga buah bagian, yaitu penguat diferensial
berimpedansi input tinggi, tingkat penguat sinyal dan output berimpedansi rendah.
Pada penguat diferensial berimpedansi input tinggi memiliki tingkat stabilitas yang
cukup tinggi (low drift), dan jangkauan band (band width) yang cukup lebar. Apablia
sebuah penguat diferensial yang mempunyai dua buah input yaitu input inverting (-)
dan input non inverting (+), maka penguat ini akan berfungsi membandingkan dua
sinyal yang dimasukkan ke dalam input input nya. Sinyal yang keluar dari tingkat
ini besarnya akan sebanding dengan perbedaan atau diferensial antara kedua sinyal
yang masuk tadi. Tetapi bila kedua sinyal itu nol, maka output-nya nol juga.

Polaritas kedua sinyal apabila sama maka output-nya akan sebanding


dengan selisih dari kedua sinyal tersebut. Sebaliknya jika kedua sinyal itu
berlawanan polaritasnya maka output-nya pun akan sebanding dengan jumlahnya.
Bila salah satu input-nya nol (tidak ada sinyal) maka output akan sebanding dengan
sinyal yang dimasukkan pada salah satu input-nya. Tingkat penguat berfungsi
memperkuat sinyal yang ke!uar dan penguat diferensial sebesar mungkin (kira-kira
100.000 kali).

Gambar Blok Diagram Op-Amp

9.2 Karakteristik Operasional Amplifier


Secara teoritis Op-Amp adalah penguat yang mempunyai sifat-sifat atau
karakteristik seperti penguat ideal. Tentunya apabila kita menyebutkan sebuah
penguat ideal, maka komponen mi harus mempunyai karakteristik sebagai berikut :
Faktor penguat Av (open loop gain) tidak terhingga artinya jika ada perubahan
sedikit saja pada bagian input-nya maka akan menghasilkan perubahan yang
sangat besar pada output-nya.
Bila input-nya sama dengan nol maka output-nya juga nol
Impedansi input tak terhingga artinya input-nya tidak akan menarik daya dan
tingkat sebelumnya, sehiigga yang diperlukan hanya perubahan tegangan saja.
Impedansi pada bagian output-nya sangat rendah atau nol, artinya
teganganoutput-nya akan tetap walaupun impedansi beban hampir nol.
Lebar band width tidak terhingga artinya penguat dan DC sama frekuensi
takterhingga tetap sama.
Rise time sama dengan nol, artinya waktu yang dibutuhkan untuk mencapai
harga puncak pada sinyal output akan sama dengan pada sinyal input.
Tidak peka terhadap perubahan tegangan sumber atau perubahan suhu (tidak
ada drift).
Mengingat bahwa bahan bahan yang dipergunakan untuk membuat IC Op
Amp kemampuannya terbatas, seperti halnya benda-benda lainnya yang terdapat di
alam ini, maka pada kenyataannya sebuah Op-Amp tidaklah tepat seperti panguat
yang ideal. Sebuah Op-Amp hanyalah sebuah penguat yang agak mendekati
penguat ideal karena pada umumnya :
Faktor penguat Av (open loop gain) walaupun cukup besar tetapi terbatas kira-
kira 100.000 kali.
Bila harga pada input-nya nol, maka output-nya belum tentu tepat nol tetapi
mungkin sedikit lebih atau kurang
Walaupun impedansi input-nya relatif cukup tinggi, tetapi terbatas hanya
beberapa ratus kilo Ohm saja. Sedangkan harga impedansi pada output-nya
yang relatif rendah juga terbatas berkisar hanya beberapa puluh sampai ratus
Ohm saja.
Rise time-nya tidak nol.
Kalaupun harga impedansi tegangan sumber atau temperatur cukup besar
kerjanya akan terpengaruh.

9.3 Aplikasi Operasional Amplifier


Karena sifat-sifatnya yang agak mendekati penguat ideal ditambah
bentuknya yang kompak berupa sebuah paket IC, maka Op-Amp banyak dipakai
dalam berbagai rangkaian. Jenis aplikasi dan Op-Amp di antaranya adalah penguat
AC, penjumlah dan pencampur audio, penguat diferensial dan instrumentasi, filter
aktif, komparator, integrator, diferensiator, pengubah bentuk gelombang dan
pembangkit gelombang (osilator). Namun aplikasi ini dibagi menjadi penguat linier
dan penguat non linier.

9.3.1 Rangkaian Penguat Linier


a) Penguat AC Mode Non Inverting
Penguat AC adalah sebuah rangkaian yang berfungsi untuk memperkuat
sinyal bolak balik misalnya sinyal audio. Penguat ini merupakan penguat tegangan
yang mendekati ideal karena impedansi masuknya tinggi, impedansi keluarnya
rendah, dan penguat tegangannya mantap. Untuk memperoleh suatu penguat
lingkaran tertutup maka tinggal mengatur harga-harga dan R1 dan R2, tampak pada
Gambar di bawah, agar penguat hanya bekerja pada daerah frekuensi tertentu maka
rangkaian umpan baliknya bisa berupa rangkaian resistor dan kapasitor.

Gambar Penguat AC Mode Non Inverting

b) Penguat AC Mode Inverting


Rangkaian pada Gambar di bawah adalah salah satu rangkaian Op-Amp
yang paling baynak digunakan. Rangkaian ini merupakan sebuah penguat yang
tertutupnya dan Vin, ke Vout ditentukan oleh harga R1 dan R2. Tegangan positif Vin
diterapkan melalui tahanan masuk R1 ke masukan negatif Op-Amp. Umpan balik
negatif dibuat oleh tahanan umpan balik R2. Tegangan antara masukan positif dan
negatif pada dasarnya sama dengan nol, karenanya terminal masukan negatifjuga
sama dengan nol. Potensial ground yang berada pada masukan negatif juga akan
berharga nol. Untuk alasan ini maka masukan negative dan Op-Amp dikatakan ada
pada ground.
Gambar Penguat AC Mode Inverting

Karena ujung dan R1 yang satu ada di Vin dan yang lain ada di nol volt, maka
penurunan tegangan melalui R1 adalah Vin dibagi R1. Seperti tampak pada Gambar
di atas R2 dihubungkan ke keluaran VOut, maka untuk memperoleh polaritas pada
ingatlah ujung kiri R2 memaksa ujung kanan R2 menjadi negatif. Karenanya Vout
akan negatif bila Vin-nya positif, dan sebaliknya Vout akan positif bila Vin-nya
negatif. Hal inilah yang dikatakan penguat membalik (inverting).

c) Penguat Penjumlah dan Pencampur Audio


Semua arus masuk mengalir melalui tahanan umpan balik Ro, artinya arus
yang mengalir pada Ri, tidak mempengaruhi arus yang mengalir pada Ri yang lain.
Secara lebih umum dikatakan bahwa arus masukan tidak saling mempengaruhi
karena masing-masing menghadapi potensial ground pada simpul penjumlah. Ini
mengakibatkan tegangan V1, V2 dan V3 tidak saling mempengaruhi. Ciri ini khusus
dikehendaki dalam suatu pembaur audio. Sebagai contoh misalnya V1, V2 dan V3
digantikan oleh mikrofon - mikrofon, maka tegangan AC dan tiap-tiap mikrofon akan
dijumlahkan atau dibaurkan pada setiap saat. Penjumlah pembalik tiga masukan
seperti tampak pada Gambar di bawah, sehingga tegangan masukan dapat dikalikan
dengan suatu tegangan tetap dan hasilnya dijumlahkan. Sama seperti pada
penjumlahan, tiap arus masukan ditentukan oleh tegangan masukan dan resistansi
masukannya. Demikian pula semua arus-arus dijumlahkan bersamasama dalam Ro
untuk rnembangkitkan suatu tegangan keluaran yang sama dengan Ro dikalikan
jumlah arusnya, atau gain untuk tiap masukan bisa disetel sendiri-sendiri dengan
memilih perbandingan yang dikehendaki antara Ro dan tiap tahanan Ri sebagai
tahanan masukannya.

Gambar Penguat Penjumlah dan Pencampur Audio

d) Penguat Diferensial
Penguat diferensial bisa mengukur maupun memperkuat isyarat isyarat
kecil yang terbenam dalam isyarat yang jauh lebih besar. Empat buah tahanan
presisi dan sebuah Op-Amp membentuk sebuah penguat diferensial seperti yang
tampak pada Gambar di bawah menunjukan terminal masukannya ada dua yaitu V1
dan V2, dimana V1 sebagai masukan negatif dan V2 sebagai masukan positif.
Tegangan keluaran dan penguat diferensator Vout sebanding dengan perbedaan
tegangan yang diterapkan ke masukan negatif dan masukan positifnya, sehingga
diferensial akan tergantung dan perbandingan tahanan-tahanannya.
Gambar XX Penguat Diferensial

e) Penguat Instrumentasi
Penguat instrumentasi adalah salah satu dari penguat penguat yang paling
bermanfaat, cermat dan serbaguna yang ada pada saat ini. Penguat dibuat dari
tiga buah Op-Amp dan tujuh buah tahanan, seperti yang tampak pada Gambar di
bawah. Untuk menyederhanakan analisa rangkaiannya, perlu diingat bahwa penguat
instrumentasi sesungguhnya dibuat dengan menghubungkan sebuah penguat ke
sebuah penguat diferensial dasar. Op-Amp A3 dan empat buah tahanan R yang
sama membentuk sebuah penguat diferensial dengan gain sebesar 1, yang harus
digandengkan hanyalah tahanan-tahanan R saja. Tahanan yang disiapkan dapat
berubah-ubah untuk menyeimbangkan setiap tegangan mode bersama. Hanya ada
satu tahanan aR yang digunakan untuk menyetel gain, dimana perbandingan antara
aR dengan R adalah a. V1 diterapkan ke masukan negatif dan V2 dimasukkan ke
masukan positif, sehingga Vout akan sebanding dengan perbedaan antara
tegangan-tegangan masukannya.
Gambar XX. Penguat Instrumentasi

9.3.2 Rangkaian Penguat Non-Linier


Penguat operasional non linier adalah sejenis rangkaian penguat yang
bentuk sinyalnya berbeda dengan bentuk sinyal masukannya.

a) Komparator
Kita sering membandingkan tegangan yang satu dengan yang lain untuk
melihat tegangan mana yang lebih besar. Kita hanya memerlukan jawaban ya atau
tidak saja, sebab sebuah pembanding (komparator) dapat menjawab pertanyaan
tersebut. Sebuah komparator adalah rangkaian dengan dua tegangan masuk tak
membalik dan membalik, dan satu tegangan keluaran. Bila tegangan tak membalik
lebih besar dan pada tegangan membalik, maka komparator menghasilkan tegangan
keluaran yang tinggi, begitu pula bila sebaliknya. Rangkaian dasar Op-Amp sebagai
komparator tampak pada Gambar di bawah, dimana Op-Amp dipasang tanpa
tahanan umpan balik. Bila masukan membalik dihubungkan dengan ground, maka
tegangan masukan akan kecil, sehingga sudah dapat membuat Op-Amp menjadi
penuh. Titik perpindahan atau titik ambang dan sebuah komparator ialah harga
tegangan masuk pada saat keluaran beralih keadaan misalnya dan rendah ke tinggi
atau sebaliknya. Pada titik perpindahan barharga nol, karena pada saat tegangan
masuk inilah keluaran berubah keadaan. Bila Vin lebih besar dan pada titik
perpindahan, maka keluarannya akan tinggi pula, tapi bila Vin lebih kecil dan pada
titik perpindahan maka keluarannya akan rendah. Rangkaian semacam ini sering
disebut sebagai detektor melintas nol (zero crossing detector).

Gambar XX Komparator

Komparator jenis lain adalah komparator window atau pembanding jendela,


digunakan untuk membandingkan tegangan yang masuk melebihi suatu batas
ambang tertentu dan mendeteksi kapan tegangan masuk ada diantara dua harga
batas. Ini disebut juga sebagai detektor berujung ganda. pada rangkaian ini
dipasang dua buah dioda yang berfungsi untuk menyeleksi tegangan mana yang
dapat masuk ke masukan Op-Amp. Bila tegangan masuk sama dengan nol, maka
salah satu dioda akan mati atau off. Karena masukkan tak membalik dijepit sebesar
satu tegangan, dioda yang yang dimasuki tegangan masukan tak membalik akan
berharga tinggi, sedangkan masukan membalik berharga rendah dan tegangan
kesalahannya negatif serta keluaran pembanding rendah.
b) Integrator
Integrator adalah sebuah rangkaian yang menyelenggarakan operasi
integrasi secara matematik, karena dapat menghasilkan tegangan keluaran yang
sebanding dengan integrasi masukkannya. Pemakaian yang umum ialah
menggunakan tegangan masuk tetap untuk menghasilkan tegangan keluar
berbentuk lereng. Sebuah lereng ialah tegangan yang mendaki atau menurun
secara linier. Misalkan jika kita menggerakkan 741C dengan undakan tegangan,
maka keluarannya dengan laju slew 0,5 volt/detik, berarti tegangan keluarannya
berubah sebesar 0,5 volt setiap satu mikrodetik.

Gambar XX Integrator

Pada Gambar di atas digambarkan sebuah integrator yang dibangun dengan sebuah
Op-Amp, sebuah tahanan dan sebuah kapasitor. Masukan yang lazim pada sebuah
integrator adalah pulsa persegi, dimana Vin diterapkan pada ujung kiri tahanan R,
karena adanya ground semu, arus masuk berharga tetap. Sehingga hampir semua
arus ini mengalir ke kapasitor, menyebabkan muatan pada kapasitor naik secara
linier. Karena adanya pembalik fasa pada Op-Amp, maka tegangan keluamya
berbentuk lereng negatif. Pada ujung perioda pulsa tegangan masuk kembali ke nol,
arus pengisian kapasitor.
c) Diferensiator
Diferensiator adalah rangkaian yang melakukan operasi secara matematik,
dan menghasilkan tegangan keluar yang sebanding dengan kemiringan tegangan
masuknya. Umumnya deferensiator digunakan untuk mendeteksi tepi mendahului
dan tepi ketinggalan dan sebuah pulsa persegi atau menghasilkan keluaran persegi
dan masukan lereng.

Gambar XX Differensiator

Gambar di atas menunjukkan sebuah rangkaian deferensiator OpAmp.


Perhatikanlah kemiripannya dengan integrator Op-Amp, di mana perbedaannya
terletak pada tahanan dan kapasitornya yang saling berpindah tempat. Bila
tegangan masuk berubah maka kapasitor diisi atau dikosongkan. Karena adanya
ground semu, arus kapasitor mengalir melalui tahanan umpan balik yang
menghasilkan tegangan yang setara dengan kemiringan dan tegangan masuk.
d) Pengubah Bentuk Gelombang
Op-Amp dapat digunakan juga untuk merubah bentuk gelombang, diantaranya
adalah merubah bentuk gelombang sinus menjadi gelombang persegi, gelombang
persegi menjadi gelombang segitiga dan gelombang segitigamenjadi gelombang
pulsa.

i. Gelombang Sinus Menjadi Gelombang Persegi


Gambar di bawah adalah gambar pengubah bentuk gelombang sinus
menjadi gelombang persegi, yang lebih dikenal sebagai pemicu schmitt. Pemicu ini
selalu menghasilkan gelombang persegi terlepas dan bentuk sinyal masuknya.
Dengan kata lain tegangan masukkan tidak harus berbentuk sinusoida. Selama
bentuk gelombangnya periodik dan mempunyai amplitude yang besar untuk
melewati titik perpindahan, maka akan didapatkan keluaran gelombang persegi dan
pemicu schmitt dengan frekuensi yang sama dengan sinyal masuknya.

Gambar XX Pengubah Gelombang Sinus Menjadi Gelombang Persegi

ii. Gelombang Persegi Menjadi Gelombang Segitiga


Gelombang persegi merupakan masukkan dan sebuah integrator, karena
tegangan masuknya mempunyai harga DC atau rata - rata sama dengan nol. Harga
ini yang menyebabkan tegangan ofset keluaran diabaikan. Seperti tampak pada
Gambar (i) lereng menurun selama setengah tegangan masuk yang positif dan naik
selama setengah siklus tegangan masuk negative dengan frekwensi sama dengan
frekuensi masuknya. Selama tegangan masuk berbentuk gelombang segitiga yang
melebihi tegangan acuan, maka keluarannya akan tinggi. Karena tegangan acuan
dapat diatur maka kita dapat mengubah lebar pulsa keluaran, yang artinya dengan
mengubah siklus kerja, maka kita dapat memperoleh frekwensi sinyal keluaran yang
sama dengan frekwensi sinyal masukan.

Gambar Gelombang Persegi Menjadi Gelombang Segitiga

e) Pembangkit Gelombang (Osilator)


Pembangkit gelombang yang disebut juga osilator dengan menggunankan
Op-Amp akan membangkitkan atau menciptakan sinyal keluaran meskipun tanpa
adanya sinyal masukan. Perhatikan Gambar (ii), bagaimana rangkaian ini dapat
menghasilkan gelombang keluaran tanpa adanya sinyal masukkan. Misalkan
keluarannya berada pada kejenuhan positif, maka kapasitor akan mengisi muatan
secara eksponensial ke arah positif jenuh. Ia tidak akan pernah mencapai keadaan
tersebut, karena tegangan yang melalui titik perpindahan atas, keluarannya selalu
beralih ke keadaan negatif jenuh.
Gambar Rangkaian Pembangkit Gelombang

Sekarang tegangan negatif diumpan balikkan, sehingga muatan kapasitor menjadi


turun. Bila tegangan kapasitor mencapai titik perpindahan bawah, maka keluarannya
beralih kembali ke keadaan positif jenuh. Ini disebabkan oleh karena adanya
pengisisan dan pengosongan kapasitor secara terus menerus, sehingga bentuk
gelombang yang dihasilkan akan berbentuk persegi. Rangkaian ini disebut osilator
relaksasi. Sekarang tegangan negatif diumpan balikkan, sehingga muatan kapasitor
menjadi turun. Bila tegangan kapasitor mencapai titik perpindahan bawah, maka
keluarannya beralih kembali ke keadaan positif jenuh. Ini disebabkan oleh karena
adanya pengisisan dan pengosongan kapasitor secara terus menerus, sehingga
bentuk gelombang yang dihasilkan akan berbentuk persegi. Rangkaian ini disebut
osilator relaksasi.
Contoh soal 1
Sebuah rangkaian op-amp pembalik seperti gambar di bawah memiliki nilai-nilai
yaitu: tahanan feed back = 330 k; tahanan input = 1 k; dan tegangan input = 17
mV. Hitung berapa perolehan tegangan (Av), tegangan output (Vout) dan tegangan
catu daya (Vcc) pada rangkaian berikut:

Jawab:
Diketahui:
o Rf = 330 k = 330.000
o Rin = 1 k = 1.000
o Vin = 17 mV = 0,017 V
Av = Rf Rin = 330.000 1.000 = 330
Vout = Av Vin = 330 0,017 V = 5,61 V

Apabila input yang diberikan adalah +17 mV, maka output yang dihasilkan adalah
5,61 V. Hal ini mengasumsikan bahwa tegangan catu daya (Vcc) yang digunakan
memungkinkan output bergerak mencapai nilai itu. Sebuah catu daya 6V terlalu
kecil untuk itu, oleh karenanya membutuhkan catu daya dengan rating tegangan
setidaknya 8V (atau sekitar 150% Vout), untuk menguatkan tegangan input
sebesar 17 mV.
Sehingga diperoleh Av = 330; Vout = 5,61 V; Vcc = 8 V.
Contoh soal 2
Rangkaian seperti gambar contoh soal 1.
Diketahui: Rin = 4k7; Rf = 220 k; dan Vin = 50 mV. Hitung Av, Vout dan Vcc.

Jawab:
Av = Rf Rin = 220.000 4.700 = 46,8
Vout = Av Vin = 46,8 0,050 V = 2,34 V
Vcc = 150% Vout = 150% 2,34 V = 3,51 V

maka didapatkan Av = 46,8; Vout = 2,34 V; Vcc = 3,51 V.

[Link]
Sistem%20Rangkaian%20Elektronika-Mengenal%20Rangkaian%20Filter%[Link]

Bahan Bacaan 10:


Mengenal Rangkaian Filter

Tubuh manusia dapat menghasilkan sinyal biolistrik yang dapat disadap


untuk dipergunakan untuk diagnostic. Dalam penyadapan tersebut tidak hanya
sinyal biolistrik tubuh yang ditangkap tapi juga terdapat noise yang juga ikut
tertangkap oleh perangkat. Agar mendapatkan sinyal asli yang diinginkan akan
sangat diperlukan peran tapis (filter) dalam pengolahan sinyal. Filter berfungsi untuk
menyeleksi sinyal yang dapat diloloskan ke proses selanjutnya. Proses penyeleksian
filter pada pembatasan frekuensi sinyal. Noise yang dimaksud mengganggu sinyal
biolistrik tubuh memiliki frekuensi yang mengganggu frekuensi dari sinyal biolistrik
yang diharapkan, sehingga dengan menggunakan filter pada frekuensi yang tepat,
noise tersebut dapat dihilangkan.

Filter dalam rangkaian elektronika dikenal terdapat dua kelompok, yakni filter pasif
dan filter aktif. Filter pasif merupakan filter yang hanya tersusun dari komponen pasif
yakni R (resistor, L (inductor) dan C (kapasitor). Sedangkan filter aktif menggunakan
komponen R,L dan C sebagai penyusunnya dengan tambahan komponen aktif yakni
op-amp atau transistor.

Filter baik pasif maupun aktif dikelompokkan berdasarkan fungsinya yakni:

1. Low-Pass Filter: filter yang hanya melewatkan sinyal listrik pada frekuensi
dibawah frekuensi cut-offnya.
2. High-Pass Filter: filter yang hanya melewatkan sinyal listrik pada frekuensi diatas
frekuensi cut-offnya.
3. Band-Pass Filter: filter yang merupakan gabungan low-pass filter dan high-pass
filter yang dihubungkan secara seri, sehingga filter ini hanya akan melewatkan
sinyal listrik yang berada diantara kedua frekuensi cut-offnya (diantara frekuensi
batas atas dan frekuensi batas bawah).
4. Band-Rejection Filter: filter yang merupakan gabungan low-pass filter dan high-
pass filter yang dihubungkan secara paralel, sehingga filter ini tidak akan
melewatkan sinyal listrik yang berada diantara kedua frekuensi cut-offnya
(diantara frekuensi batas atas dan frekuensi batas bawah).

10.1 Low Pass Filter


Low Pass Filter (LPF) merupakan filter yang digunakan untuk meloloskan
sinyal listrik dengan frekuensi yang lebih rendah dari frekuensi cut-off nya dan akan
melemahkan sinyal yang lebih tinggi dari frekuensi cut-off nya. Pada low pass filter
yang ideal, sinyal dengan frekuensi diatas frekuensi cut-off tidak akan dilewatkan
sama sekali (Vo = 0 volt). Pada perancangan low pass filter pasif digunakan
komponen RC dengan respon frekuensi diatur dari konfigurasi RC yang digunakan.

Gambar Low Pass Filter


Sedangkan untuk perancangan low pass filter aktif dengan op-amp sebagai berikut:

Gambar Low Pass Filter dengan op-amp


Dengan respon frekuensi seperti pada berikut:

Gambar

Untuk mengatur konfigurasi RC guna mendapat frekuensi cut off yang diinginkan
dapat menggunakan rumus berikut:
dengan tegangan output keluaran dapat dihitung dengan:

Penguatan ideal maksimum untuk output LPF adalah 1 ( G=0 dB) pada frekuensi
input dibawah frekuensi Cut-off (fc).

Karakteristik dasar low pass filter, yaitu:

Pada saat frekuensi sinyal input lebih rendah dari frekuensi cut-off (fc) (fin << fc)
maka penguatan tegangan / Gain (G) = 1 atau G=0dB.

Pada saat frekuensi sinyal input sama dengan frekuensi cut-off (fc) (fin = fc) maka
= 1/RC sehingga penguatan tegangan / Gain (G) menjadi -3 dB atau terjadi
pelemahan tegangan sebesar 3 dB (20 log 0.707).

Pada saat frekuensi sinyal input lebih tinggi dari frekuensi cut-off (fc) (fin >> fc)
maka besarnya penguatan tegangan (G) = 1/RC atau G = -20 log RC
Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa Filter Lolos Rendah (Low Pass Filter,
LPF) hanya meloloskan sinyal dengan frekuensi yang lebih rendah dari
frekuensi cut-off (fc) saja.

10.2 High Pass Filter (HPF)


High pass filter adalah jenis filter yang meloloskan frekuensi yang lebih tinggi
dari frekuensi cut-off dan akan memberi redaman besar pada frekuensi yang berada
dibawah frekuensi cut-off nya. Rangkaian filter lolos atas pasif juga dapat dirancang
dengan komponen R dan C.

Gambar high pass filter

Dengan grafik karakteristiknya sebagai berikut:


Gambar

High pass filter aktif dirancang dengan menambah op-amp seperti berikut:

Dalam perancangan frekuensi cut-off filter lolos atas dapat dilakukan dengan
mengatur konfigurasi komponen RC yang digunakan dengan menggunakan rumus
di bwah ini:
10.3 Band Pass Filter (BPF)
BPF merupakan filter yang berasal dari gabungan LPF dan HPF yang
tersusun seri, dimana BPF akan meloloskan frekuensi yang berada diatas frekuensi
cut-off batas bawah dan dibawah frekuensi cut off batas atas. Sehingga band pass
filter memiliki pita frekuensi dengan rentang antara (h) dan (l) yang disebut
bandwidth.

Band pass filter dapat disusun dengan konfigurasi R dan C, yakni sebagai berikut:

Gambar Band Pass Filter

Dengan rumusan perhitungan rentang frekuensi cut-off, yakni batas bawah:


dan batas atas:

sehingga besar bandwidth pass filter nya:

Berikut kurva karakteristik band pass filter :

Gambar Kurva Karakteristik Band Pass Filter

10.4 Band Rejection Filter (BRF)


Merupakan filtar yang berfungsi menahan frekuensi tertentu dan tetap akan
melewatkan frekuensi lainnya. Band stop filter juga disebut band reject filter dan
notch filter. Filter akan menahan frekuensi yang sesuai dengan frekuensi cut off
rangkaian dan meloloskan frekuensi di luar frekuensi cut off nya. Band stop filter
merupakan kebalikan dari band pass filter, dimana jika pada band pass filter HPF
dan LPF tersusun secara seri, maka pada band stop filter HPF dan LPF tersusun
secara parallel.

Gambar Band Stop Filter

LPF tersusun dari konfigurasi R1,R2 dan C2, HPF tersusun dari konfigurasi C1, C3
dan R3. Dengan menentukan nilai komponen untuk resistor R1, R2=2*R3 dan
kapasitor, C1, C3=0.5*C2, besar frekuensi cut off nya dapat diatur mengikuti rumus
sebagai berikut

Berikut grafik karakteristik Band Stop Filter:


Gambar Grafik Karakteristik Band Stop Filter

[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]

Anda mungkin juga menyukai