100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
508 tayangan31 halaman

Asuhan Keperawatan pada Diabetes Mellitus

Dokumen ini memberikan informasi tentang laporan pendahuluan asuhan keperawatan pada pasien diabetes mellitus. Diabetes mellitus adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan kenaikan kadar glukosa dalam darah. Dokumen ini menjelaskan konsep dasar, epidemiologi, penyebab, patofisiologi, dan klasifikasi diabetes mellitus.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
508 tayangan31 halaman

Asuhan Keperawatan pada Diabetes Mellitus

Dokumen ini memberikan informasi tentang laporan pendahuluan asuhan keperawatan pada pasien diabetes mellitus. Diabetes mellitus adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan kenaikan kadar glukosa dalam darah. Dokumen ini menjelaskan konsep dasar, epidemiologi, penyebab, patofisiologi, dan klasifikasi diabetes mellitus.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DIABETES MILLITEUS

Oleh ;

NI PUTU PEBRIANI WIDIASIH

1302105039

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2017
LAPORAN PENDAHULUAN
PASIEN DENGAN DIABETES MELLITUS

A. Konsep Dasar Penyakit


1. Definisi
Diabetes Milliteus mmepupakan suatu sindrom dengan terganggunya metabolism
karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan oleh kurangnya sekresi insulin atau
penurunan sensitivas jaringan terhadap insulin. (Guyton dan Hall, 2007)
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh
kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002)
Diabetes mellitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang
disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat
kekurangan insulin baik absolut maupun relatif. (Arjatmo, 2002).
Diabetes Melitus berasal dari kata diabetes yang berarti kencing dan melitus dalam
bahasa latin yang berarti madu. (Hartono, 1995)
Dari beberapa definisi diatas penulis menyimpulkan bahwa diabetes melitus
adalah suatu penyakit atau sindroma yang ditandai dengan kenaikan kadar
glukosa dalam darah atau hiperglikemia, yang disebabkan oleh ketidakseimbangan
antara suplai insulin dengan kebutuhan tubuh.
2. Epidemiologi
Diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang menyebabkan kurang lebih 12 juta
orang. Tujuh juta dari 12 juta penderita diabetes tersebut sudah terdiagnosis. Di Amerika
Serikat, kurang lebih 650.000 kasus diabetes baru didiagnosis setiap tahunnya. (Healthy
People 2000, 1990).
Diabetes terutama prevalen diantara kaum lanjut usia. Di antara individu yang berusia
lebih dari 65 tahun, 8,6% menderita diabetes tipe II. Angka ini mencakup 15% populasi
pada panti lansia. Di Amerika Serikat, orang Hispanik, Negro dan sebagian penduduk asli
Amerika memiliki angka insiden diabetes yang lebih tinggi daripada penduduk kulit
putih. Sebagian penduduk asli Amerika, seperti suku Pima, mempunyai angka diabetes
dewasa sebesar 20% hingga 50%. (Brunner dan Suddarth, 2002)
Di Amerika Serikat, diabetes merupakan penyebab utama kebutaan yang baru di antara
penduduk berusia 25 hingga 74 tahun dan juga menjadi penyebab utama amputasi di luar
trauma kecelakaan. 30% pasien yang mulai mendapatkan terapi dialysis setiap tahun
menderita penyakit diabetes. Diabetes berada di urutan ketiga sebagai penyebab utama
kematian akibat penyakit dan hal ini sebagian besar disebabkan oleh angka penyakit arteri
koroner yang tinggi pada para penderita diabetes. (Brunner dan Suddarth, 2002)
3. Penyebab atau Faktor Risiko
Beberapa faktor resiko dari diabetes mellitus adalah sebagai berikut :
1. Keturunan
Sekitar 50 % pasien diabetes tipe 2 mempunyai orangtua yang menderita diabetes,
dan lebih sepertiga pasien diabetes mempunyai saudara yang mengidap diabetes.
Sedangkan untuk diabetes tipe 1, sekitar 20 % terjadi pada penderita dengan riwayat
keluarga terkena diabetes dan 80 % terjadi pada penderita yang tidak memiliki
riwayat keluarga dengan diabetes. (WHO, 2002).
2. Ras atau Etnis
Beberapa ras tertentu, seperti suku indian di Amerika, Hispanik, dan orang Amerika
di Afrika, mempunyai resiko lebih besar terkena diabetes tipe [Link] diabetes
tipe 1 sering terjadi pada orang Finlandia dengan presentase mencapai 40 %.
(Brunner dan Suddarth, 2002)
3. Usia
Pada diabetes tipe 1, usia muda merupakan awal terjadinya penyakit tersebut,
sedangkan pada diabetes tipe 2 umur puncak berada pada usia diatas 45 tahun.
4. Obesitas
Lebih dari 8 diantara 10 penderita diabetes tipe 2 adalah mereka yang mengalami
kegemukan. Makin banyak jaringan lemak, jaringan tubuh dan otot akan makin
resisten terhadap kerja insulin, terutama bila lemak tubuh atau kelebihan berat badan
terkumpul didaerah sentral atau perut. Lemak ini akan memblokir kerja insulin
sehingga glukosa tidak dapat diangkut ke dalam sel dan menumpuk dalam peredaran
darah. (Guyton dan Hall, 2007)
5. Sindroma Metabolik
Menurut WHO dan National Cholesterol Education Program : Adult Treatment Panel
III, orang yang menderita sindroma metabolic adalah mereka yang punya kelainan
seperti : tekanan darah tinggi lebih dari 160/90mmHg, trigliseridaa darah lebih dari
150mg/dl, kolesterol HDL <40 mg/dl, obesitas sentral dengan BMI lebih dari 30,
lingkar pinggang melebihi 102 cm pada pria atau melebihi 88 cm pada wanita, atau
sudah terdapat mikroalbuminuria.
6. Kurang Gerak Badan
Olahraga atau aktivitas fisik membantu untuk mengontrol berat badan. Glukosa darah
dibakar menjadi energi, sel-sel tubuh menjadi lebih sensitive terhadap
[Link] darah lebih baik dan resiko terjadinya diabetes tipe 2 akan turun
sampai 50%.
7. Faktor Kehamilan
Diabetes pada ibu hamil dapat terjadi pada 2-5 % kehamilan. Biasanya diabetes akan
hilang setelah anak lahir. Ibu hamil dengan diabetes dapat melahirkan bayi besar
dengan berat badan lebih dari 4 kg. Apabila ini terjadi, sangat besar kemungkinan si
ibu akan mengidap diabetes tipe 2 kelak.
Beberapa faktor resiko dari diabetes mellitus adalah sebagai berikut :
1. DM tipe 2 merupakan tipe diabetes yang lebih umum, lebih banyak penderitanya
dibandingkan dengan DM tipe 1. Penderita DM tipe 2 mencapai 90-95% dari
keseluruhan populasi penderita DM. Umumnya berusia diatas 45 tahun. Faktor
genetik dan pengaruh lingkungan cukup besar dalam menyebabkan DM tipe 2, antara
lain obesitas, diet tinggi lemak dan rendah serat, serta kurang gerak badan.
2. Berbeda dengan DM tipe 1, pada penderita DM tipe 2, terutama yang berada pada
tahap awal, umumnya dapat dideteksi jumlah insulin yang cukup didalam darahnya.
Disamping kadar glukosa yang juga tinggi. DM tipe 2 bukan disebabkan oleh
kurangnya sekresi insulin, tetapi karena sel-sel sasaran insulin gagal atau tidak
mampu merespon insulin secara normal.
4. Patofisiologi
Diabetes milliteus merupakan suatu keadaan hiperglikemia yang bersifat kronik yang
dapat mempengaruhi metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Diabetes milliteus
disebabkan oleh sebuah ketidakseimbangan dan ketidakadaan persediaan insulin atau tak
sempurnanya respon selular terhadap insulin ditandai dengan tidak teraturnya
metabolisme.
Orang dengan metabolism yang normal mampu mempertahankan kadar glukosa darah
antara 80-140 mg/dl (euglikemia) dalam kondisi asupan makanan yang berbeda-beda
pada orang non diabetic kadar glukosa darah dapat meningkat antara 120-140 mg/dl
setelah makanan (post prandial) namun keadaan ini akan kembali normal dengan cepat.
Sedangkan kelebihan glukaosa darah diambil dari darah dan disimpan sebagai glikogen
dalam hati dan sel-sel otot (glikogenolisis). Kadar gula darah normal dipertahankan
selama keadaan puasa, karena glukosa dilepaskan dari cadangan-cadangan tubuh
(glikogenolisis) dan glukosa yang baru dibentuk dari trigliserida (glukoneogenesis).
Glukoneogenesis menyebabkan metabolism meningkat kemudian terjadi proses
pembentukan keton (ketogenesis) terjadinya peningkatan keton di dalam plasma aan
menyebabkan ketonuria (keton di dalam darah) dan kadar natrium serta PH serum
menurun yang menyebabkan asidosis (Prince 2000)
Resistensi sel terhadap insulin menyebabkan penggunaan glukosa oleh sel menjadi
menurun sehingga kadar glukosa darah dalam plasma tinggi (hiperglikemia). Jika
hiperglikemia parah dan melebihi ambang ginjal maka timbul glikosuria. Glikosuria ini
akan menyebabkan diuresis osmotic yang meningkatkan pengeluaran urine (poliuri) dan
timbul rasa haus (polidipsi) sehingga terjadi dehidrasi. Glukosuria menyebabkan
keseimbangan kalori negative sehingga menimbulkan rasa lapar (polifagi). Selain itu
juga polifagi juga disebabkan oleh starvasi (Kelaparan sel). Pada pasien DM penggunaan
glukosa oleh sel juga menurun mengakibatkan produksi metabolism energy menjadi
menurun sehingga tubuh menjadi lemah.
Hiperglikemia juga dapat mempengaruhi pembuluh darah kecil (arteri kecil) sehingga
suplai makanan dan oksigen ke perifer menjadi berkurang yang akan menyebabkna luka
tidak sembuh-sembuh. Karena supli makanan yangdan oksigen yang tidak adekuat
mengakibatkan terjadinya infeksi dan terjadinya ganggreng atau ulkus. Gangguan
pembuluh darh juga menyebabkan aliran ke retina menurun sehingga suplai makanan dan
oksigen berkurang, akibat pandanggan menjadi kabur.
Akibat perubahan mikrovaskular adalah perubahan pada struktur dan fungsi ginjal
sehingga nefropati. Diabetes juga mempengaruhi saraf-saraf perifer, sistem saraf otonom
dan sistem saraf pusat sehingga menagkibatkan neuropati (Prince, 2000)
5. Klasifikasi
Diabetes dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Diabetes mellitus tipe I (Insulin dependent)
DM tipe I umumnya timbul pada anak-anak dan dewasa muda. DM tipe I terjadi
karena destruksi sel-sel pembuat insulin melalui mekanisme imunologik sehingga
menyebabkan hilangnya hampir seluruh insulin endogen. Penderita DM tipe I
mengalami ketergantungan terhadap insulin eksogen untuk menurunkan kadar
glukosa plasma dan menghindari ketoasidosis (KAD) serta untuk mempertahankan
hidupnya . Pada penderita DM tipe I perawatan insulin adalah mutlak (Leslie, 1991).
b. Diabetes melitus tipe II (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus)
DM tipe II biasanya timbul pada usia lebih dari 40 tahun. Pada DM tipe II sel
pankreas tidak rusak tetapi terjadi resistensi terhadap kerja insulin. Produksi insulin
biasanya dapat untuk mencegah KAD, namun KAD dapat timbul bila ada stress berat
(Woodley dan Whelan, 1995).
c. DM tipe lain
Dapat disebabkan oleh efek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin,
penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat atau zat kimia, infeksi, sebab
imunologi dan sindrom genetika lain yang berkaitan dengan diabetes mellitus
(Katzung, 2002).
d. Diabetes Mellitus Gestasional
Diabetes yang timbul selama kehamilan, artinya kondisi diabetes atau intoleransi
glukosa yang didapati selama masa kehamilan, biasanya pada trimester kedua atau
ketiga. Diabetes mellitus gestasional berhubungan dengan meningkatnya komplikasi
perinatal (di sekitarwaktu melahirkan), dan sang ibu memiliki resiko untuk dapat
menderita penyakit diabetes mellitus yang lebih besar dalam jangka waktu 5 sampai
10 tahun setelah melahirkan (Woodley dan Wheland, 1995).
(Pathway Terlampir)

6. Manifestasi Klinis
Gejala diabetes dapat dikelompokkan menjadi dua,yaitu :
a. Gejala Akut
Pada permulaan gejala yang ditunjukkan meliputi tiga serba banyak yaitu:
- Banyak makan (polifagia)
- Banyak minum (polidipsi)
- Banyak kencing (poliuria)
Dalam fase ini biasanya penderita menunjukkan berat badan yang terus bertambah,
karena pada saat itu jumlah insulin masih mencukupi. Apabila keadaan ini tidak
segera diobati maka akan timbul keluhan lain yang disebabkan oleh kurangnya
insulin. Keluhan tersebut diantaranya:
- nafsu makan berkurang
- banyak minum
- banyak kencing
- berat badan turun dengan cepat
- mudah lelah
- bila tidak segera diobati,penderita akan merasa mual bahkan penderita akan jatuh
koma (koma diabetik).
b. Gejala Kronik
Gejala kronik akan timbul setelah beberapa bulan atau beberapa tahun setelah
penderita menderita diabetes. Gejala kronik yang sering dikeluhkan oleh penderita,
yaitu:
- Kesemutan
- Kulit terasa panas
- Terasa tebal dikulit
- Kram
- Lelah
- Mudah mengantuk
- Mata kabur
- Gatal disekitar kemaluan
- Gigi mudah goyah dan mudah lepas
- Kemampuan seksual menurun
- Bagi penderita yang sedang hamil akan mengalami keguguran atau kematian janin
dalam kandungan atau berat bayi lahir lebih dari 4 kg.
7. Pemeriksaan Fisik
Berdasarkan Sepalani (2013), anjuran pemerksaan fisik :
1. Proteksi
Proteksi merupkan mekanisme pertahanan tubuh terhadap perubahan lingkungan
seperti suhu, trauma, dan infeksi sehingga dapat mempengaruhi daya tahan tubuh
(alligood dan Tomay, 2006).
Pengkajian fisik daerah kulit meliputi inspeksi perubahan warna kulit, kulit tampak
kering, gatal, kerusakan kulit, lesi, dan ulkus, tanda-tanda infeksi demam, kemerahan,
edema, diaphoresis, riwayat luka sulit sembuh.
Pemeriksaaan laboratorium antara lain penurunan eritrosist, leukositosis, kultur pus
dan drainase luka.
2. Sensasi
Sensasi menunjukan kemampuan dalam berinteraksi dengan lingkungan melalui
beberapa fungsi seperti penglihatan, pendengaran, penciuman dan sentuhan. (alligood
dan Tomay, 2006)
Pengkajian fisik perubahan fungsi penglihatan (Retinopati, riwayat katarak) keluhan
kesemutan, mati rasa, nyeri pada kaki, nyeri pada malam hari.
Pemeriksaan dengan monofilament 10 g (Penurunan sensasi terhadap nyeri suhu dan
sentuhan). Pemeriksaan vibrasi dengan garputala (menurun), pemeriksaan refleks
lutut dan chiles (William dan Hopper, 2003)
3. Fungsi Neurologis
Mengkaji tingkat kesadaran, penurunan kesadaran disorientasi, sakit kepala,
kelemahan otot, gangguan penglihatan, kesemutan, mati rasa (Doengoes, 2010)
8. Pemeriksaan Diagnostik/ Penunjang
Tes-tes yang digunakan untuk pengukuran kadar glukosa adalah :
a. Kadar glukosa plasma. Penderita dikatakan DM bila kadar glukosa plasmanya lebih
dari 140 mg/dl yang ditunjukkan pada sedikitnya dua kali pemeriksaan.
b. Uji toleransi glukosa oral. Hasil yang normal menunjukkan kadar glukosa plasma
pada keadaan puasa kurang dari 115 mg/dl. Kadar glukosa plasma 2 jam sesudah
pemberiaan glukosa meningkat menjadi 200 mg/dl (Woodley dan Wheland, 1995).
c. Toleransi glukosa ditunjukkan oleh kurva glukosa darah sesudah pemberian sejumlah
glukosa untuk tes. Penyakit diabetes mellitus (DM tipe I) ditandai dengan penurunan
toleransi glukosa akibat berkurangnya sekresi insulin sebagai respon terhadap
pemberian glukosa (Harper dkk., 2003).
Pemeriksaan diagnostik pada pasien diabetes melitus tipe I maupun tipe II,
meliputi:
a. Glukosa darah : meningkat 200 1000 mg/dl atau lebih
b. Aseton plasma ( keton ) :Positif secara mencolok
c. Asam lemak bebas : kadar lipid dan kolesterol meningkat
d. Osmolalitas serum : Meningkat tetapi biasanya kurang dari 330 Mosm/l
e. Elektrolit
Natrium : Mungkin normal, meningkat atau menurun
Kalium : Normal
Fosfor : Lebih sering menurun
f. Hemoglobin Glikosilat : kadar meningkat 2-4 kali dari normal yang mencerminkan
kontrol diabetes melitus yang kurang selama 4 bulan terakhir.
g. Gas darah arteri : Biasanya menunjukkan pH rendahdan penurunan pada HCO2
( Asidosis Metabolik ) dengan kompensasi alkalosis respiratorik.
h. Trombosit darah : Hematokrit mungkin meningkat ( dehidrasi ) : Leukositosis,
hemokonsentrasi, merupakan respon terhadap stress atau infeksi.
i. Ureum / kreatinin : Mungkin meningkat atau normal ( dehidrasi / penurunan fungsi
ginjal ).
j. Amilase darah : Mungkin meningkat yang mengindikasikan adanya pankreatitis akut
sebagai penyebab dari DKA.
k. Insulin darah : Mungkin menurun / bahkan sampai tidak ada ( tipe I ) atau normal
sampai tinggi ( tipe II ), mengindikasikan infusiensi insulin, gangguan dalam
penggunaannya. Resistensi insulin dapat berkembang sekunder terhadap
pembentukkan antibodi ( autoantibodi ).
l. Pemeriksaan fungsi tiroid : Peningkatan aktivitas hormon tiroid dapat meningkatkan
glukosa darah dan kebutuhan akan insulin.
m. Urin : gula dan aseton positif, berat jenis dan osmolalitas mungkin meningkat.
n. Kultur dan sensitivitas : Kemungkinan adanya infeksi pada saluran kemih, infeksi
pernapasan dan infeksi pada luka.
9. Diagnosis / Kriteria Diagnosis
Diagnosis klinis diabetes melitus umumnya akan diperkirakan bila ada keluhan khas
gejala hiperglikemia berupa poliuria, polidipsia dan penurunan berat badan yang tidak
dapat dijelaskan sebabnya (Scobie, 2007; Soegondo dkk, 2004). Jika keluhan khas ada
maka sebaiknya dilakukan pemeriksaan glukosa darah. Pemeriksaan glukosa darah
sewaktu 11, 1 mmol/l (200 mg/dl) dan pemeriksaan kadar glukosa darah puasa (tidak
adanya asupan kalori yang masuk selama minimal 8 jam) 7,0 mmol/l (126 mg/dl) (Holt
and Kumar, 2010; Scobie, 2007; Soegondo dkk, 2004). Diperlukan pemeriksaan kembali
kadar glukosa darah melalui hasil tes toleransi glukosa oral. Diberikan 75 gram glukosa
yang dilarutkan dalam 250-350 ml air, setelah 2 jam baru diukur kadar glukosa darahnya
(Holt and Kumar, 2010). Bila didapatkan kadar glukosa darah setelah 2 jam pemberian
larutan glukosa 11,1 mmol/l (200 mg/dl), maka dapat dikatakan seseorang menderita
diabetes melitus (Holt and Kumar, 2010; Scobie, 2007; Soegondo dkk, 2004)

Untuk kelompok tanpa keluhan khas, hasil pemeriksaan kadar glukosa darah abnormal
tinggi (hiperglikemia) satu kali saja tidak cukup kuat untuk menegakkan diagnosis DM.
Diperlukan konfirmasi atau pemastian lebih lanjut dengan mendapatkan paling tidak satu
kali lagi kadar gula darah sewaktu yang abnormal tinggi (>200 mg/dL) pada hari lain,
kadar glukosa darah puasa yang abnormal tinggi (>126 mg/dL), atau dari hasil uji
toleransi glukosa oral didapatkan kadar glukosa darah paska pembebanan >200 mg/dL
(Depkes RI, 2005)
Kriteria diagnosis Diabetes Melitus menurut American Diabetes Association didasarkan
atas pemeriksaan kadar glukosa plasma baik pada keadaan puasa (Fasting Plasma
Glucose/FPG) atau setelah Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO). Puasa adalah keadaan
tanpa asupan makanan/kalori selama minimal 8 jam (Depkes RI, 2005).
10. Tindakan Penanganan
Pilar utama pengelolaan DMmeliputi perencaan makan, latihan jasmani, obat berkahsiat
hipoglikemia, Edukasi (Penyuluhan dan monitorin kadar gula darah) (Taufiq, 2012)
1. Perencaan Makan
Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal
karbohidrat, protein, dan lemak sesuai dengan kecukupan gizi baik sebagai berikut
60%- 70%, protein 10%-15%, dan lemak 20-25%
Untuk menentukan status gizi, dipakai Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa
Tubuh (IMT) dengan formula yaitu
BMI atau IMT = BB(Kg)
{TB (m)}2
Klasifikasi IMT
< 18,5 = berat badan kurang
18,5-22,9 = berat badab normal
>23,0= berat badan lebih
23- 24,9 = dengan berisiko
25,0-29,9 = obese I
>30,0 = Obese II
2. Latihan Jasmani
Aktivitas fisik didefinisikan sebagai gerakan otot rangka yang mengeluarkan energi
luar pada tingkat istirahat (misalnya berjalan, berkebun, naik tangga). (Scottish
Intercollegiate Guidelines Network, 2010)
Meningkatkan kesehatan aktivitas fisik adalah aktivitas fisik yang dilakukan pada
tingkat yang cukup untuk perbaikan kesehatan secara terukur. Hal ini biasanya setara
dengan tingkat intensitas sedang, secara umum dapat digambarkan sebagai kegiatan
yang sedikit menimbulkan denyut jantung, tingkat pernapasan dan suhu inti tetapi di
mana pasien masih mampu mengadakan interaksi.(Scottish Intercollegiate Guidelines
Network, 2010)
Latihan adalah bagian dari aktivitas fisik yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan
atau mempertahankan aspek kebugaran (misalnya aerobik, kekuatan, fleksibilitas,
keseimbangan). Hal ini sering diawasi (misalnya dalam kelas), sistematis dan teratur
(misalnya jogging, berenang, menghadiri kelas latihan).(Scottish Intercollegiate
Guidelines Network, 2010)
3. Pengelolahan Farmakologi
Obat-obat antidiabetik diindiksikan bilamana pasien dengan DM tipe 2 tidak dapat
mengontrol glukosa darah dalam batas normal dengan mengatur diet, latihan teratur
dan manajemen stress.
Bedasarkan cara kerjanya, obat hipoglikemik oral (OHO) dibagi menjadi 4 golongan,
yaitu :
1. Pemicu sekresi insulin : sulfonylurea dan glinid
2. Penambah sensitivitas terhadap insulin : Metformin, thiazolindindion
3. Penghambat glukoneogenesis : metformin
4. Penghamabat absorsi glukosa : Penghambat glukosidase alfa.
Apabila penggunan OHO tidak efektif menurunkan kadar gula darah di gunakan
insulin :(Bambang Tridjaja, 2009)
Awitan Lama kerja
Jenis insulin Puncak kerja
(jam) (jam)
(jam)
Kerja cepat (rapid
acting)
0,15 0,35 13 35
(aspart, glulisine,
dan lispro)
Kerja pendek
0,5 1 2-4 58
(regular/soluble)
Kerja menengah
12
Semilente 4 10 8 16
24
NPH 4 - 12 12 - 24
IZS lente type 34 6 - 15 18 - 24
Insulin basal
24
Glargine Tidak ada 24*
Detemir 12 6 - 12 20 - 24
Kerja panjang

Ultralente type 48 12 - 24
20 - 30

Insulin campuran

Cepat-menengah 0,5 1 - 12 16 - 24

Pendek-menengah 0,5 1 - 12 16 - 24

IZS= insulin zinc suspension; NPH= neutral protamine Hagedorn insulin.


* Lama kerja kemungkinan kurang dari 24 jam.

4. Penyuluhan
Penyuluhan diabetes adalah pendidikan dan pelatihan mengenai pengetahuan dan
keterampilan bagi psien DM. Informasi yang di[erlukan oleh penderita DM meliputi
pengetahuan dasar tentang DM, pemantauan mandiri,sebab sebab tinnginya kadar
glukasa darah, obat hipoglikemik oral, perencanan makanan, perawatan kaki,
kegiatan jasmani, tanda-tanda hipoglikemia, dan komplikasi.
5. Monitor Gula Darah
Pemantauan status metabolic penderita DM merupakan hal yan penting dan sebagi
bagian yang tak terpisahkan dari pengelolaaan DM.
Hasil pemantauann tersebut digunakan sebagai penyesuain diet, latihan aktivitas dan
obat-obatan untuk mencapai kadar glukosa darh senomal mungkin, terhindar dari
keaadn hipoglikemia
11. Komplikasi
Komplikasi kronik dari diabetes mellitus dapat menyerang semua sistem organ tubuh.
Kategori komplikasi kronik diabetes yang lazim digunakan adalah penyakit
makrovaskuler, mikrovaskuler, dan neurologis.
1. Komplikasi Makrovaskuler
Tiga jenis komplikasi makrovaskular yang umum berkembang pada penderita
diabetes adalah penyakit jantung koroner (Coronary Heart Disease = CAD), penyakit
pembuluh darah otak, dan penyakit pembuluh darah perifer (Peripheral Vascular
Disease = PVD). Walaupun komplikasi makrovaskular dapat juga terjadi pada DM
tipe 1, namun yang lebih sering merasakan komplikasi makrovaskular ini adalah
penderita DM tipe 2 yang umumnya menderita hipertensi, dislipidemia dan atau
kegemukan. Kombinasi dari penyakit-penyakit komplikasi makrovaskular dikenal
dengan berbagai nama, antara lain Syndrome X, Cardiac Dysmetabolic Syndrome,
Hyperinsulinemic Syndrome, atau Insulin Resistance Syndrome. Karena penyakit-
penyakit jantung sangat besar risikonya pada penderita diabetes, maka pencegahan
komplikasi terhadap jantung harus dilakukan sangat penting dilakukan, termasuk
pengendalian tekanan darah, kadar kolesterol dan lipid darah. Penderita diabetes
sebaiknya selalu menjaga tekanan darahnya tidak lebih dari 130/80 mm Hg. Untuk itu
penderita harus dengan sadar mengatur gaya hidupnya, termasuk mengupayakan berat
badan ideal, diet dengan gizi seimbang, berolah raga secara teratur, tidak merokok,
mengurangi stress dan lain sebagainya (Depkes RI, 2005).
2. Komplikasi Mikrovaskeler
Komplikasi mikrovaskular terutama terjadi pada penderita diabetes tipe 1.
Hiperglikemia yang persisten dan pembentukan protein yang terglikasi (termasuk
HbA1c) menyebabkan dinding pembuluh darah menjadi makin lemah dan rapuh dan
terjadi penyumbatan pada pembuluh-pembuluh darah kecil. Hal inilah yang
mendorong timbulnya komplikasi-komplikasi mikrovaskuler, antara lain
retinopati, nefropati, dan neuropati. Disamping karena kondisi hiperglikemia, ketiga
komplikasi ini juga dipengaruhi oleh faktor genetik. Oleh sebab itu dapat terjadi dua
orang yang memiliki kondisi hiperglikemia yang sama, berbeda risiko komplikasi
mikrovaskularnya. Namun demikian prediktor terkuat untuk perkembangan
komplikasi mikrovaskular tetap lama (durasi) dan tingkat keparahan diabetes (Depkes
RI, 2005).
Satu-satunya cara yang signifikan untuk mencegah atau memperlambat jalan
perkembangan komplikasi mikrovaskular adalah dengan pengendalian kadar gula
darah yang ketat. Pengendalian intensif dengan menggunakan suntikan insulin multi-
dosis atau dengan pompa insulin yang disertai dengan monitoring kadar gula darah
mandiri dapat menurunkan risiko timbulnya komplikasi mikrovaskular sampai 60%
(Depkes RI, 2005).

B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


A. Pengkajian
a. Identitas Pasien
- Nama
- Umur
- Alamat
- Pekerjaan
- No. Reg
- Tgl. MRS
- Tgl. Pengkajian
- Dx Medik
b. Identitas Penanggung Jawab
- Nama
- Umur
- Pendidikan
- Pekerjaan
- Hubungan dengan pasien
c. Riwayat Kesehatan
- Keluhan utama
- Riwayat penyakit sekarang
- Riwayat kehamilan dan kelahiran
- Riwayat kesehatan keluarga
d. Pemeriksaan fisik
- Keadaan umum pasien
- Kesadaran
- Pemeriksaan TTV
- Kepala dan leher
Kaji bentuk kepala, keadaan rambut, adakah pembesaran pada leher, telinga
kadang-kadang berdenging, adakah gangguan pendengaran, lidah sering terasa
tebal, ludah menjadi lebih kental, gigi mudah goyah, gusi mudah bengkak dan
berdarah, apakah penglihatan kabur / ganda, diplopia, lensa mata keruh.
- Sistem integumen
Turgor kulit menurun, adanya luka atau warna kehitaman bekas luka, kelembaban
dan shu kulit di daerah sekitar ulkus dan gangren, kemerahan pada kulit sekitar
luka, tekstur rambut dan kuku.
- Sistem pernafasan
Adakah sesak nafas, batuk, sputum, nyeri dada. Pada penderita DM mudah terjadi
infeksi.
- Sistem kardiovaskuler
Perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah atau berkurang, takikardi/bradikardi,
hipertensi/hipotensi, aritmia, kardiomegalis.
- Sistem gastrointestinal
Terdapat polifagi, polidipsi, mual, muntah, diare, konstipasi, dehidrase, perubahan
berat badan, peningkatan lingkar abdomen, obesitas.
- Sistem urinary
Poliuri, retensio urine, inkontinensia urine, rasa panas atau sakit saat berkemih.
- Sistem muskuloskeletal
Penyebaran lemak, penyebaran masa otot, perubahan tinggi badan, cepat lelah,
lemah dan nyeri, adanya gangren di ekstrimitas.
- Sistem neurologis
Terjadi penurunan sensoris, parasthesia, anastesia, letargi, mengantuk, reflek
lambat, kacau mental, disorientasi.
e. Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan Laboratorium
- Pemeriksaan diagnostic
f. Pola Kesehatan Fungsional Pola Gordon
1) Pemeliharaan dan persepsi terhadap kesehatan
- Apakah kondisi sekarang menyebabkan perubahan persepsi?
- Bagaimana pemeliharaan kesehatan klien setelah mengalami gangguan ini?
2) Nutrisi/ metabolic
- Bagaimana asupan nutrisi klien sejak terkena gangguan?
- Apakah klien mau memakan makanannya?
3) Pola eliminasi
- Bagaimana frekuensi klien buang air besar?
- Bagaimana frekuensi buang air kecil klien?
4) Pola aktivitas dan latihan
Kemampuan perawatan diri 0 1 2 3 4
Makan/minum
Mandi
Toileting
Berpakaian
Mobilisasi di tempat tidur
Berpindah
Ambulasi ROM
Keterangan :
0: mandiri, 1: alat bantu, 2: dibantu orang lain, 3: dibantu orang lain dan alat, 4:
tergantung total.
5) Pola tidur dan istirahat
- Klien kurang tidur, klien kurang istirahat karena faktor dan data yang
disebutkan atau didapatkan pada saat pemeriksaan
6) Pola kognitif-perseptual
- Bagaimana perasaan klien terhadap panca indranya?
- Apakah klien menggunakan alat bantu?
7) Pola persepsi diri/konsep diri
- Bagaimana perasaan klien tentang kondisinya saat ini?
8) Pola seksual dan reproduksi
- Apakah klien mengalami gangguan pada alat reproduksinya?
- Apakah klien mengalami gangguan saat melakukan hubungan seksual?(jika
sudah menikah)
9) Pola peran-hubungan
- Bagaimana hubungan klien dengan keluarga setelah terjadinya gangguan?
- Apakah peran klien masih bisa dilakukan
10) Pola manajemen koping stress
- Apakah klien merasa depresi dengan keadaannya saat ini?
11) Pola keyakinan-nilai
- Apakah klien selalu rajin sembahyang?
- Apakah hal tersebut dipengaruhi oleh gangguan ini?
B. ANALISIS DATA

Data Subyektif :
Pasien mengatakan banyak minum.
Pasien mengatakan sering kencing, sering makan.
Pasien mengatakan penglihatannya mulai kabur.
Pasien mengatakan sering kesemutan.
Pasien mengatakan konsentrasinya mulai terganggu.
Data Objektif :
Nafas bau aseton.
Poliuri, polipagi, polidipsi.
C. DIAGNOSA YANG MUNCUL
Beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin muncul adalah sebagai berikut.
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan factor
biologis ditandai dengan membran mukosa pucat
2. Nyeri akut berhubungan dengan Agen cedera fisik (diabetic Foot) ditandai dengan
melaporkan nyeri secara verbal dan focus menyempit
3. Risiko infeksi berhubungan dengan penyakti Diabetes Mellitus
4. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan faktor mekanik ditandai dengan
adanya gangrene
5. Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan factor yang memengaruhi
kebutuhan cairan
6. Risiko ketidakstabilan kadar gula darah berhubungan dengan kurang manajemen
diabetic
7. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tirah baring (diabetic foot) dan kelemahan
ditandai dengan menyatakan merasa letih dan lemas

D. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Tujuan dan
Diagnosa Intervensi Rasional
Kriteria hasil

Ketidakseimban Setelah diberikan NIC Label: Nutrition Menghindari pemberian


gan nutrisi askep selama 2x24 Management makanan yang dapat
kurang dari jam, Kaji adanya alergi menyebabkan alergi.
kebutuhan diharapkan status makanan. Memenuhi nutrisi sesuai
tubuh nutrisi klien Kolaborasi dengan ahli dengan kebutuhan klien.
berhubungan adekuat dengan gizi untuk menentukan Makanan yang diberikan
dengan factor kriteria hasil: jumlah kalori dan nutrisi sesuai dengan jumlah kalori
biologis yang dibutuhkan pasien. yang dibutuhkan klien.
ditandai dengan NOC Label : Berikan makanan yang Mengetahui perkembangan
membran Nutritional Status: terpilih (sudah nutrisi klien
mukosa pucat Food and Fluid dikonsultasikan dengan Memberikan keleluasaan
intake ahli gizi). keluarga untuk memberikan
Intake makanan Monitor jumlah nutrisi makan yang sesuai dengan
dan minuman dan kandungan kalori hasil konsultasi dengan ahli
terpenuhi Berikan informasi tentang gizi.
Label NOC: kebutuhan nutrisi. Glukosa dalam karbohidrat
Nutritional Berikan diet tinggi kalori, cukup efektif untuk
Status:Nutrition rendah lemak. pemenuhan energi,
intake sedangkan lemak sulit
Intake kalori yang NIC Label: Nutrition untuk
terpenuhi Monitoring diserap/dimetabolisme
Intake protein, BB pasien dalam batas sehingga akan membebani
karbohidrat ,lemak normal. hepar.
yang terpenuhi Monitor adanya Mengkaji adanya penurunan
Intake mineral penurunan berat badan. berat badan klien.
yang terpenuhi Monitor kadar albumin Mengetahui status
perkembangan nutrisi klien.
Kadar albumin
menunjukkan status nutrisi
klien.
Kerusakan Setelah diberikan NIC Label : Pressure ulcer Pakaian longgar dapat
integritas askep selama 2 x 24 prevention Wound care mengurangi tekanan
jaringan jam, diharapkan
Anjurkan pasien untuk Kulit yang bersih dan
berhubungan kerusakan integritas kering dapat mencegah
menggunakan pakaian
dengan faktor jaringan berkurang terjadinya infeksi
yang longgar
mekanik dengan kriteria hasil:
Jaga kulit agar tetap bersih Kemerahan dapat
ditandai dengan mengindikasikan
dan kering
adanya gangren NOC Label: Tissue peningkatan suhu.
Monitor kulit akan adanya
integrity : skin and Minyak dapat mengurangi
kemerahan
mucous membranes rasa nyeri pada daerah yang
Oleskan lotion atau
Temperatur kulit tertekan
minyak/baby oil pada
dalam rentang Mengetahui pergerakan dan
daerah yang tertekan
normal aktivitas pasien
Monitor aktivitas dan
Perfusi jaringan Mengetahui perkembangan
mobilisasi pasien
normal status nutrisi pasien
Monitor status nutrisi
Ketebalan dan Mengetahui lingkungan dan
pasien
tekstur jaringan peralatan yang membuat
Kaji lingkungan dan
normal pasien nyaman
peralatan yang
NOC Label : Mengetahui luka pasien
menyebabkan tekanan
Wound healing : secara umum
Observasi luka : lokasi,
primary and dimensi, kedalaman luka, Pasien dan keuarga mampu
secondary intention karakteristik,warna cairan, melakukan perawatan luka
Tidak ada tanda- granulasi, jaringan secara mandiri
tanda infeksi nekrotik, tanda-tanda Memenuhi nutrisi sesuai
Menunjukkan infeksi lokal, formasi dengan diet pasien
pemahaman dalam traktus Kerutan pada tempat tidur
proses perbaikan Ajarkan pada keluarga dapat menimbulkan
kulit dan tentang luka dan dekubitus.
mencegah perawatan luka
terjadinya cidera Berikan posisi yang
berulang mengurangi tekanan pada
Menunjukkan luka
terjadinya proses Hindari kerutan pada
penyembuhan luka tempat tidur
Risiko Setelah dilakukan Hyperglycemia
ketidakstabilan asuhan Management
- Monitor tingkat glukosa
kadar gula keperawatan 3x24 - Mencegah komplikasi yang
darah, sesuai kebutuhan
darah jam diharapkan berkelanjutan
- Identifikasi kemungkinan
- Menghindari penyebab
berhubungan gula darah klien
penyebab hiperglikemi
hiperglikemi
dengan kurang dalam keadaan - Antisipasi situasi yang
- Menghindari situasi
manajemen normal dengan dapat meningkatkan kadar
tersebut
diabetic criteria hasil: insulin - Mencegah terjadinya
NOC: Blood - Batasi aktivitas ketika
komplikasi serius pada
Glucose Level tingkat kadar gula darah >
pasien
- Gula darah dalam
250 mg/dl terutama jika
ambang normal
ada keton dalam urin
- Glukosa urine
- Ajari pasien dan yang - Agar klien dapat
dalam ambang
penting lainnya dalam melakuakan manajemen
normal
pencegahan gejala dan yang tepat dalam penangan
Keton urine
manajemen dari - Agar klien dapat tau kadar
dalam ambang
hiperglikemia gula darahnya
normal
- Anjurkan memonitoring - Agar klien memahami
sendiri kadar gula darah kondisinya saat ini
-Anjurkan pasien untuk - Menentukan intervensi
mengartikan kadar gula yang tepat untuk klien
darah
- Tinjau catatan gula darah
dengan pasien atau
keluarga
- Agar dapat diberikan
Hypoglycemia edukasi .
- Untuk meningkatkan kadar
Management
- Identifikasi pasien resiko gula darah
- Menghindari peristiwa yang
terhadap hipoglikemia
- Berikan karbohidrat dapat menjadi sumber
sederhana, sesuai masalah
- Menghindari terjadinya
kebutuhan
- Tinjau peristiwa komplikasi yang serius
hipoglikemia sebelumnya akibat hipoglikemia
untuk menentukan
penyebab kemungkinan
- Ajarkan pasien dan orang - Metabolisme karbohidrat

penting lainnya terhadap tergantung pada asupan

tanda dan gejala, faktor makanan klien

resiko dan treatment


hipoglikemia. - Mencegah terjadinya
- Anjurkan pasien untuk hipoglikemia pada pasien
mendapatkan karbohidrat dengan DM
sederhana setiap waktu. - Agar pasien mengetahui
- Anjurkan pengaruh diet informasi dan dapat
insulin/perantara oral dan memahami hipoglikemia
latihan.
- Kolaborasi dengan pasien
dan tim diabetes untuk
membuat perubahan pada
regimen insulin (injeksi)
sesuai kebutuhan
- Modifikasi sasaran gula
darah untuk mencegah
hipoglikemia pada
kekurangan gejala
hipoglikemia
Risiko infeksi Setelah diberikan NIC Label : Infection Kadar glukosa tinggi akan
asuhan keperawatan Control menjadi media terbaik bagi
selama 1 x 24 jam Pertahankan teknik pertumbuhan kuman.
diharapkan pasien aseptif Pasien mungkin masuk

tidak mengalami Cuci tangan setiap dengan infeksi yang

infeksi dengan sebelum dan sesudah biasanya telah mencetuskan

kriteria hasil: tindakan keperawatan keadaan infeksi nasokomial.


Menggunakan alat
NOC Label : Gunakan baju, sarung
pelindung yang lengkap
Knowledge : tangan sebagai alat
dapat meminimalisir
Infection pelindung
terjadinya infeksi.
management Tingkatkan intake nutrisi Makan dan minum yang
Klien bebas dari dan cairan cukup menurunkan
tanda dan gejala Monitor tanda dan gejala kemungkinan terjadinya
infeksi infeksi sistemik dan lokal infeksi.
Menunjukkan Inspeksi kulit dan Sirkulasi perifer bisa
kemampuan untuk membran mukosa terganggu yang

mencegah terhadap kemerahan, menempatkan pasien pada

timbulnya infeksi panas, drainase peningkatan resiko

NOC Label : Monitor adanya luka terjadinya iritasi kulit dan

Immun Status infeksi.


Mengetahui adanya
Jumlah leukosit
dalam batas
normal
Status imun,
gastrointestinal,
genitourinaria
dalam batas
normal
Risiko Setelah diberikan Label NIC: Fluid Mewaspadai adanya intake
kekurangan asuhan keperawatan Management dan output cairan yang tidak
volume cairan selama 1 x 24 jam Pertahankan pendataan seimbang.
berhubungan diharapkan Status hidrasi yang
mengenai intake dan
dengan factor kebutuhan cairan menurun dapat
output cairan yang akurat
yang pasien terpenuhi Monitor status hidrasi menimbulkan dehidrasi.
Mewaspadai adanya retensi
memengaruhi dengan kriteria hasil: klien secara tepat.
NOC Label : Fluid Monitor hasil cairan yang mungkin
kebutuhan
Balance laboratorium yang relevan dialami klien.
cairan Mengetahui keadaan umum
Turgor kulit klien mengenai adanya retensi
klien.
normal cairan
Membantu memenuhi
Monitor vital signs klien
Membran mukosa kebutuhan cairan klien.
secara tepat.
lembab. Berikan terapi intravena
intake dan output secara tepat.
cairan dalam 24 Berikan cairan secara

jam seimbang. tepat.

Label NOC:
Hydration
Klien melaporkan
rasa haus yang
dialami berkurang.
Nyeri akut Setelah dilakukan NIC :Pain Management - Untuk mengetahui seberapa
tindakan - Lakukan pengkajian
berhubungan berat nyeri yang dialami
keperawatan selama yang komperhensif dari
dengan Agen pasien.
1x24 jam pasien
nyeri termasuk - Pemahan pasien tentang
cedera fisik dapat mengontrol
nyeri dengan lokasi,karakteristik, nyeri yang terjadi akan
(diabetic Foot)
indikator: durasi, frekuensi, mengurangi ketegangan
ditandai
NOC: Pain Control kualitas, intensitas nyeri pasien dan memudahkan
dengan
- Dapat dan faktor pemicu pasien untuk diajak
melaporkan
menggunakan - Periksa dengan pasien
bekerjasama.
nyeri secara
faktor yang - Agar penggunaan obat
verbal dan metode non menyebabkan analgetik tidak terlalu
focus analgetik untuk peningkatan atau berlebihan
- Pemilihan teknik non
menyempit mengurangi nyeri keadaan yang
- Dapat farmakologi mengalihakan
memperburuk nyeri.
menggunakan - Ajarkan tentang metode rasa nyeri klien
- Menentukan keefektifan
analgetik sesuai farmakologi dari rasa
teknik pengaliahan atau
kebutuhan nyeri.
- Kolaborasi dengan management nyeri

Setelah dilakukan pasien dan orang penting


tindakan dan tenaga kesehatan
keperawatan selama lainnya untuk memilih
1 x24 jam pasien
dan
dapat mengetahui
tingkatan nyeri mengimplementasiakan
dengan indikator: non farmakologi (Tarik
NOC: Pain Level napas dalam)
- Anjurkan pasien untuk
- Frekuensi nyeri
mendiskusikan
berkurang
pengalaman nyerinya,
- Pernyataan nyeri
sesuai kebutuhan.
berkurang
Intoleransi Setelah dilakukan NIC : Energi Management - Menentukan intervensi
- Observasi adanya
aktivitas tindakan perencanaan aktivitas yang
pembatasan pasien
berhubungan keperawatan selama tepat untuk klien
dalam melakukan - Mengetahui penyebab
dengan tirah 3 x24 jam intoleransi
aktivitas kelelahan yang
baring (diabetic aktivitas pasien
- Kaji factor yang
mengakibatkan intoleransi
foot) dan dapat teratasi dengan
menyebabkan kelelahan
aktivitas
kelemahan indikator: - Monitor adanya
- Menentukan perncanaan
ditandai dengan kelemahan fisik dan
NOC : Activity intervensi dan pengaruh
menyatakan emosi secara berlebihan
Tolerance kelemahan fisik dengan
- Tingkatkan aktivitas
merasa letih dan
emosi yang berlebihan
bertahap sehingga pasien
lemas - Kemampuan - Mencegah terjadinya luka
memungkinkan untuk
bericara dan tekan serta kekakuan otot
merubah posisi, dan - Memastiakan agar klien
beraktivitas fisik
perawatan diri sedini dapat melalukan tahapan
mungkin. dari perubahan posisi
Setelah dilakukan - Pastikan klien
tindakan melakukan perubahan
keperawatan selama posisi perlahan-lahan
3 x24 jam tanda-
NIC: Vital Sign
tanda vital klien
Monitoring
dalm rentang normal
- Mengetahui keadaan umum
dengan indikator: - Memonitor tekanan
pasien
darah, suhu, dan nadi
NOC : Vital Sign
pasien
- Suhu tubuh
NIC:Self-Care Assistance
dalam rentang - Kaji kemampuan klien
- Untuk mengetahui tingkat
normal (37- untuk melakukan
kemampuan pasien
37,5C) perawatan diri sendiri - Untuk mengetahui tingkat
- Pernapasan - Monitor kebutuhan pasien
kemampuan dan kebutuhan
dalam rentang untuk personal hygiene
pasien
normal (12- termasuk makan, mandi, - Agar pasien tetap terjaga
20x/menit) berpakaian, dan toileting kebersihannya
- Nadi dalam - Libatkan keluarga dalam - Agar kemandirian pasien
rentang normal pemenuhan kebutuhan dapat dilatih
(60-100 x/menit) - Upaya peningkatan
perawatan pasien
- Tekanan Darah - Bantu pasien sampai kemandirian
dalam rentang pasien dapat melakukan
normal (100-140 perawatan diri sendiri
mmHg/ 60-90
mmHg)

Setelah di lakukan
asuhan keperawatan
selama 1x24 jam
pasien dapat
melakukan
perawatan diri
dengan criteria hasil:
NOC: Self-Care:
Activities of Daily
Living (ADL)
- Mampu makan
secara mandiri
- Mampu
berpakaian
dengan bantuan
orang lain atau
mandiri
- Mampu mandi
dengan bantuan
orang lain atau
mandiri
- Mampu
melalukan
kebersihan mulut
dengan baik

E. EVALUASI

Diagnoosa Evaluasi
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari S:
kebutuhan tubuh berhubungan dengan - Pasien mengatakan mual berkurang
factor biologis ditandai dengan membran O:
mukosa pucat Porsi makanan yang disajikam di habiskan
A: Masalah sebagian teratasi
P:
- Kaji pola makan klien
- Monitoring nilai laboratorium yang terkait
status nutrisi
- Berikan dukungna positif saat mampu
melksanaan mampu melaksanakan
program nutrisi dengan baik.
Kerusakan integritas jaringan berhubungan S:-
dengan faktor mekanik ditandai dengan O:
adanya gangren - Jaringan nekrotik tidak ada
- Tipe jaringan granulasi merah muda
terang
A: Maslah sebagian teratasi
P:
- Monitor integritas kulit, catat warna, dan
epitelisasi luka
- Monitor tanda-tanda infeksi
- Bersihkan luka dengan normal saline
- Kaji sirkulasi vaskuler kaki dengan
palpasi
- Anjurkan klien menjaga kebersihan kaki
Risiko ketidakstabilan kadar gula darah S:-
berhubungan dengan kurang manajemen O:
diabetic - Kadar Gula darah harian dalam rentang
normal puasa dibawah 126 mg/dl
sewaktu dibawah 149 mg/dl
A: masalah teratasi
P:
-Monitor kadar glukosa drah
-Monitor tanda dan gejala hiperglikemia dan
hipoglikemia
-Monitor intake dan output nutrisi
Risiko infeksi berhubungan dengan S:-
penyakti Diabetes Mellitus O:
- Tidak adanya gejala infeksi pada klien
- Tidak adanya peningkatan suhu
A: Masalah teratasi
P:
- Monitor adanya tanda-tanda infeksi
Risiko kekurangan volume cairan S:-
berhubungan dengankehilangan volume O:
cairan aktif (gejala poliuria dan dehidrasi) - Tidak adanya tanda-tanda dehidrasi
- Mukosa mulut tidak kering
- Tidak ada penurunan konsentrasi
A:Masalah teratasi
P:
- Monitor intake dan output cairan
- Monitor frekuensi BAB dan BAK
Nyeri akut berhubungan dengan Agen S:
cedera fisik (diabetic Foot) ditandai - Pasien melaporkan nyeri berkurang
dengan melaporkan nyeri secara verbal O:
dan focus menyempit Pada saat dibersihkan luka ditemukan:
- Ekspresi wajah meringis
- Nyeri berkurang skala 3 dari 5
A: Masalah sebagian teratasi
P:
- Kaji secara komprehensif nyeri, lokasi,
awal kejadian, durasi, frekuensi
- Ajarkan penggunaan teknik relaksasi dan
napas dalam
- Berikan medikasi analgesic
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan S:
tirah baring (diabetic foot) dan kelemahan O:
ditandai dengan menyatakan merasa letih - Pasien mampu duduk
- TTV dalam rentang normal
dan lemas
A: Masalah teratasi sebagian
P:
- Tingkatkan aktivitas bertahap sehingga
pasien memungkinkan untuk merubah
posisi, dan perawatan diri sedini
mungkin.
- Pastikan pasien melakukan perubahan
posisi perlahan-lahan
PATHWAY

Faktor Risiko

Diabetes milliteus GDS meningkat diatas


126 mg/dL
Tidak terkontrol dengan
Keturunan
Transpor glukosa Ras Dan Etnis
GDP meningkat diatas Usia
baik
ke sel menurun DM Tipe 2 50% 140 mg/dL
memiliki orang DM Tipe 2, Ras DM tipe1, 40% DM tipe 1,
DM Tipe 1 Risiko Ketidakstabilan
tua dengan DMkelainan indian amerika
neuropati terjadi pada pada usia
20% terjadi Kadar Glukosa Darah
Starvasi selular motorik, risiko lebih
sensorik, muda
pada keluarga orang Finlandia
dan autonomikbesar
dengan DM
polifagi
DM tipe 2,
Perubahan pada
Kekentalan darah di Diatas 45
kulit dan otot
Nutrisi tidak dapat luar sel meningkat tahun
masuk ke dalam sel
Perubahan distribusi Obesitas
tekanan telapak kaki Gangguan sirkulasi
darah
Ketidakseimbangan
kegemukan
Nutrisi Kurang
Defisiensi dari
insulin Ulkus diabetikum (Diabetik foot) Sulitnya darah Pengeluaran
Kebutuhan tubuh mediator kimia:
membawa
Penumpukan lemak
histamine,
nutrisi untuk
Kurangnya jumlah perbaikan sel serotonin,
Keruskan integritas bradikinin,
insulin yang yang rusak Retensi terhadap
Kulit interleukin dan
disekresikan sel
insuline
merangsang saraf
beta pankreas nyeri

Glikoneogenesis Lipolisis
Resistensi insulin Keton meningkat Memblokir kerja
insulineNyeri Akut

Jumlah insulin yang


Katabolisme
Insulin yang ada protein Asamacukup
disekresikan laktat Nafas Bau Glukosa
keton tidak
meningkat
tidak efektif untuk berlebihan terangkut dalam
tetapi kerja tidak
merangsang glukosa efektif sel dan menumpuk
masuk ke dalam sel dalam darah
Mual, tidak nafsu
kelelahan
makan
Peningkatan kadar glukosa Sindroma metabolik
darah di luar sel

Hiperglikemia Tekanan darah tinggi diatas 160/90 mmHg, trigliseridaa


darah lebih dari 150mg/dl, kolesterol HDL <40 mg/dl,
Glukosaria Deurisis osmotik
Suplai Oksigen ke
jaringa perifer
Poliuria
Keseimbangan menurun
kalori negatif
Nutrisi ke jaringan
Output Polidipsi menurun
Kelemahan
cairan
meningkat Daya tahan tubuh
menurun

Risiko
Luka tidak sembuh
kekurangan
volume cairan

Risiko infeksi

Intoleransi Aktivitas
DAFTAR PUSTAKA

Scottish Intercollegiate Guidelines Network. 2010. Management of diabetes: A national


clinical guideline. Quality Improvement Scotland: Scotlandia

Sepalani, widya. 2013. Analisis Praktik Residen Keperawatan Medikal Bedah Pada Klien dengan
Gangguan Sistem Endokrine di RSU Fatmawaati. Tesis-FIK Universitas Indonesia- Jakarta

Guyton & Hall. 2007. Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC

Bambang Tridjaja, dr SpA(K), MM(Paed), 2009. Konsesus Dasar Pengelolaan DM Tipe I,


UKK Endokrinologi Anak dan Remaja: Jakarta

Guyton & Hall.2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi [Link]: Penerbit Buku
Kedokteran EGC

North American Nursing Diagnosis Association (NANDA). 2012. Diagnosis Keperawatan


2012-2014. Jakarta : Penerbit Buku Kedoteran EGC.

Johnson, M, dkk .2008. Nursing Outcome Classification (NOC). Mosby: Philadelphia

McCloskey, dkk .2008. Nursing intervention Classification (NIC). Mosby: Philadelphia

Price, Sylvia A, Wilson, Lorraine M. 2000. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit
edisi 6 Volume 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Doenges, Marilyn E, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan


Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih bahasa I Made Kariasa, Ni Made
Sumarwati, Jakarta : EGC, 1999.

Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester,
Yasmin asih, Jakarta : EGC, 2002.

Carpenito, Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 alih bahasa YasminAsih,
Jakarta : EGC, 1997.
Brunner & Suddarth. (2001) Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Volume Kedua. Edisi
Kedelapan. Jakarta : EGC

Anda mungkin juga menyukai