Asuhan Keperawatan pada Diabetes Mellitus
Asuhan Keperawatan pada Diabetes Mellitus
Oleh ;
1302105039
6. Manifestasi Klinis
Gejala diabetes dapat dikelompokkan menjadi dua,yaitu :
a. Gejala Akut
Pada permulaan gejala yang ditunjukkan meliputi tiga serba banyak yaitu:
- Banyak makan (polifagia)
- Banyak minum (polidipsi)
- Banyak kencing (poliuria)
Dalam fase ini biasanya penderita menunjukkan berat badan yang terus bertambah,
karena pada saat itu jumlah insulin masih mencukupi. Apabila keadaan ini tidak
segera diobati maka akan timbul keluhan lain yang disebabkan oleh kurangnya
insulin. Keluhan tersebut diantaranya:
- nafsu makan berkurang
- banyak minum
- banyak kencing
- berat badan turun dengan cepat
- mudah lelah
- bila tidak segera diobati,penderita akan merasa mual bahkan penderita akan jatuh
koma (koma diabetik).
b. Gejala Kronik
Gejala kronik akan timbul setelah beberapa bulan atau beberapa tahun setelah
penderita menderita diabetes. Gejala kronik yang sering dikeluhkan oleh penderita,
yaitu:
- Kesemutan
- Kulit terasa panas
- Terasa tebal dikulit
- Kram
- Lelah
- Mudah mengantuk
- Mata kabur
- Gatal disekitar kemaluan
- Gigi mudah goyah dan mudah lepas
- Kemampuan seksual menurun
- Bagi penderita yang sedang hamil akan mengalami keguguran atau kematian janin
dalam kandungan atau berat bayi lahir lebih dari 4 kg.
7. Pemeriksaan Fisik
Berdasarkan Sepalani (2013), anjuran pemerksaan fisik :
1. Proteksi
Proteksi merupkan mekanisme pertahanan tubuh terhadap perubahan lingkungan
seperti suhu, trauma, dan infeksi sehingga dapat mempengaruhi daya tahan tubuh
(alligood dan Tomay, 2006).
Pengkajian fisik daerah kulit meliputi inspeksi perubahan warna kulit, kulit tampak
kering, gatal, kerusakan kulit, lesi, dan ulkus, tanda-tanda infeksi demam, kemerahan,
edema, diaphoresis, riwayat luka sulit sembuh.
Pemeriksaaan laboratorium antara lain penurunan eritrosist, leukositosis, kultur pus
dan drainase luka.
2. Sensasi
Sensasi menunjukan kemampuan dalam berinteraksi dengan lingkungan melalui
beberapa fungsi seperti penglihatan, pendengaran, penciuman dan sentuhan. (alligood
dan Tomay, 2006)
Pengkajian fisik perubahan fungsi penglihatan (Retinopati, riwayat katarak) keluhan
kesemutan, mati rasa, nyeri pada kaki, nyeri pada malam hari.
Pemeriksaan dengan monofilament 10 g (Penurunan sensasi terhadap nyeri suhu dan
sentuhan). Pemeriksaan vibrasi dengan garputala (menurun), pemeriksaan refleks
lutut dan chiles (William dan Hopper, 2003)
3. Fungsi Neurologis
Mengkaji tingkat kesadaran, penurunan kesadaran disorientasi, sakit kepala,
kelemahan otot, gangguan penglihatan, kesemutan, mati rasa (Doengoes, 2010)
8. Pemeriksaan Diagnostik/ Penunjang
Tes-tes yang digunakan untuk pengukuran kadar glukosa adalah :
a. Kadar glukosa plasma. Penderita dikatakan DM bila kadar glukosa plasmanya lebih
dari 140 mg/dl yang ditunjukkan pada sedikitnya dua kali pemeriksaan.
b. Uji toleransi glukosa oral. Hasil yang normal menunjukkan kadar glukosa plasma
pada keadaan puasa kurang dari 115 mg/dl. Kadar glukosa plasma 2 jam sesudah
pemberiaan glukosa meningkat menjadi 200 mg/dl (Woodley dan Wheland, 1995).
c. Toleransi glukosa ditunjukkan oleh kurva glukosa darah sesudah pemberian sejumlah
glukosa untuk tes. Penyakit diabetes mellitus (DM tipe I) ditandai dengan penurunan
toleransi glukosa akibat berkurangnya sekresi insulin sebagai respon terhadap
pemberian glukosa (Harper dkk., 2003).
Pemeriksaan diagnostik pada pasien diabetes melitus tipe I maupun tipe II,
meliputi:
a. Glukosa darah : meningkat 200 1000 mg/dl atau lebih
b. Aseton plasma ( keton ) :Positif secara mencolok
c. Asam lemak bebas : kadar lipid dan kolesterol meningkat
d. Osmolalitas serum : Meningkat tetapi biasanya kurang dari 330 Mosm/l
e. Elektrolit
Natrium : Mungkin normal, meningkat atau menurun
Kalium : Normal
Fosfor : Lebih sering menurun
f. Hemoglobin Glikosilat : kadar meningkat 2-4 kali dari normal yang mencerminkan
kontrol diabetes melitus yang kurang selama 4 bulan terakhir.
g. Gas darah arteri : Biasanya menunjukkan pH rendahdan penurunan pada HCO2
( Asidosis Metabolik ) dengan kompensasi alkalosis respiratorik.
h. Trombosit darah : Hematokrit mungkin meningkat ( dehidrasi ) : Leukositosis,
hemokonsentrasi, merupakan respon terhadap stress atau infeksi.
i. Ureum / kreatinin : Mungkin meningkat atau normal ( dehidrasi / penurunan fungsi
ginjal ).
j. Amilase darah : Mungkin meningkat yang mengindikasikan adanya pankreatitis akut
sebagai penyebab dari DKA.
k. Insulin darah : Mungkin menurun / bahkan sampai tidak ada ( tipe I ) atau normal
sampai tinggi ( tipe II ), mengindikasikan infusiensi insulin, gangguan dalam
penggunaannya. Resistensi insulin dapat berkembang sekunder terhadap
pembentukkan antibodi ( autoantibodi ).
l. Pemeriksaan fungsi tiroid : Peningkatan aktivitas hormon tiroid dapat meningkatkan
glukosa darah dan kebutuhan akan insulin.
m. Urin : gula dan aseton positif, berat jenis dan osmolalitas mungkin meningkat.
n. Kultur dan sensitivitas : Kemungkinan adanya infeksi pada saluran kemih, infeksi
pernapasan dan infeksi pada luka.
9. Diagnosis / Kriteria Diagnosis
Diagnosis klinis diabetes melitus umumnya akan diperkirakan bila ada keluhan khas
gejala hiperglikemia berupa poliuria, polidipsia dan penurunan berat badan yang tidak
dapat dijelaskan sebabnya (Scobie, 2007; Soegondo dkk, 2004). Jika keluhan khas ada
maka sebaiknya dilakukan pemeriksaan glukosa darah. Pemeriksaan glukosa darah
sewaktu 11, 1 mmol/l (200 mg/dl) dan pemeriksaan kadar glukosa darah puasa (tidak
adanya asupan kalori yang masuk selama minimal 8 jam) 7,0 mmol/l (126 mg/dl) (Holt
and Kumar, 2010; Scobie, 2007; Soegondo dkk, 2004). Diperlukan pemeriksaan kembali
kadar glukosa darah melalui hasil tes toleransi glukosa oral. Diberikan 75 gram glukosa
yang dilarutkan dalam 250-350 ml air, setelah 2 jam baru diukur kadar glukosa darahnya
(Holt and Kumar, 2010). Bila didapatkan kadar glukosa darah setelah 2 jam pemberian
larutan glukosa 11,1 mmol/l (200 mg/dl), maka dapat dikatakan seseorang menderita
diabetes melitus (Holt and Kumar, 2010; Scobie, 2007; Soegondo dkk, 2004)
Untuk kelompok tanpa keluhan khas, hasil pemeriksaan kadar glukosa darah abnormal
tinggi (hiperglikemia) satu kali saja tidak cukup kuat untuk menegakkan diagnosis DM.
Diperlukan konfirmasi atau pemastian lebih lanjut dengan mendapatkan paling tidak satu
kali lagi kadar gula darah sewaktu yang abnormal tinggi (>200 mg/dL) pada hari lain,
kadar glukosa darah puasa yang abnormal tinggi (>126 mg/dL), atau dari hasil uji
toleransi glukosa oral didapatkan kadar glukosa darah paska pembebanan >200 mg/dL
(Depkes RI, 2005)
Kriteria diagnosis Diabetes Melitus menurut American Diabetes Association didasarkan
atas pemeriksaan kadar glukosa plasma baik pada keadaan puasa (Fasting Plasma
Glucose/FPG) atau setelah Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO). Puasa adalah keadaan
tanpa asupan makanan/kalori selama minimal 8 jam (Depkes RI, 2005).
10. Tindakan Penanganan
Pilar utama pengelolaan DMmeliputi perencaan makan, latihan jasmani, obat berkahsiat
hipoglikemia, Edukasi (Penyuluhan dan monitorin kadar gula darah) (Taufiq, 2012)
1. Perencaan Makan
Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal
karbohidrat, protein, dan lemak sesuai dengan kecukupan gizi baik sebagai berikut
60%- 70%, protein 10%-15%, dan lemak 20-25%
Untuk menentukan status gizi, dipakai Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa
Tubuh (IMT) dengan formula yaitu
BMI atau IMT = BB(Kg)
{TB (m)}2
Klasifikasi IMT
< 18,5 = berat badan kurang
18,5-22,9 = berat badab normal
>23,0= berat badan lebih
23- 24,9 = dengan berisiko
25,0-29,9 = obese I
>30,0 = Obese II
2. Latihan Jasmani
Aktivitas fisik didefinisikan sebagai gerakan otot rangka yang mengeluarkan energi
luar pada tingkat istirahat (misalnya berjalan, berkebun, naik tangga). (Scottish
Intercollegiate Guidelines Network, 2010)
Meningkatkan kesehatan aktivitas fisik adalah aktivitas fisik yang dilakukan pada
tingkat yang cukup untuk perbaikan kesehatan secara terukur. Hal ini biasanya setara
dengan tingkat intensitas sedang, secara umum dapat digambarkan sebagai kegiatan
yang sedikit menimbulkan denyut jantung, tingkat pernapasan dan suhu inti tetapi di
mana pasien masih mampu mengadakan interaksi.(Scottish Intercollegiate Guidelines
Network, 2010)
Latihan adalah bagian dari aktivitas fisik yang dilakukan dengan tujuan meningkatkan
atau mempertahankan aspek kebugaran (misalnya aerobik, kekuatan, fleksibilitas,
keseimbangan). Hal ini sering diawasi (misalnya dalam kelas), sistematis dan teratur
(misalnya jogging, berenang, menghadiri kelas latihan).(Scottish Intercollegiate
Guidelines Network, 2010)
3. Pengelolahan Farmakologi
Obat-obat antidiabetik diindiksikan bilamana pasien dengan DM tipe 2 tidak dapat
mengontrol glukosa darah dalam batas normal dengan mengatur diet, latihan teratur
dan manajemen stress.
Bedasarkan cara kerjanya, obat hipoglikemik oral (OHO) dibagi menjadi 4 golongan,
yaitu :
1. Pemicu sekresi insulin : sulfonylurea dan glinid
2. Penambah sensitivitas terhadap insulin : Metformin, thiazolindindion
3. Penghambat glukoneogenesis : metformin
4. Penghamabat absorsi glukosa : Penghambat glukosidase alfa.
Apabila penggunan OHO tidak efektif menurunkan kadar gula darah di gunakan
insulin :(Bambang Tridjaja, 2009)
Awitan Lama kerja
Jenis insulin Puncak kerja
(jam) (jam)
(jam)
Kerja cepat (rapid
acting)
0,15 0,35 13 35
(aspart, glulisine,
dan lispro)
Kerja pendek
0,5 1 2-4 58
(regular/soluble)
Kerja menengah
12
Semilente 4 10 8 16
24
NPH 4 - 12 12 - 24
IZS lente type 34 6 - 15 18 - 24
Insulin basal
24
Glargine Tidak ada 24*
Detemir 12 6 - 12 20 - 24
Kerja panjang
Ultralente type 48 12 - 24
20 - 30
Insulin campuran
Cepat-menengah 0,5 1 - 12 16 - 24
Pendek-menengah 0,5 1 - 12 16 - 24
4. Penyuluhan
Penyuluhan diabetes adalah pendidikan dan pelatihan mengenai pengetahuan dan
keterampilan bagi psien DM. Informasi yang di[erlukan oleh penderita DM meliputi
pengetahuan dasar tentang DM, pemantauan mandiri,sebab sebab tinnginya kadar
glukasa darah, obat hipoglikemik oral, perencanan makanan, perawatan kaki,
kegiatan jasmani, tanda-tanda hipoglikemia, dan komplikasi.
5. Monitor Gula Darah
Pemantauan status metabolic penderita DM merupakan hal yan penting dan sebagi
bagian yang tak terpisahkan dari pengelolaaan DM.
Hasil pemantauann tersebut digunakan sebagai penyesuain diet, latihan aktivitas dan
obat-obatan untuk mencapai kadar glukosa darh senomal mungkin, terhindar dari
keaadn hipoglikemia
11. Komplikasi
Komplikasi kronik dari diabetes mellitus dapat menyerang semua sistem organ tubuh.
Kategori komplikasi kronik diabetes yang lazim digunakan adalah penyakit
makrovaskuler, mikrovaskuler, dan neurologis.
1. Komplikasi Makrovaskuler
Tiga jenis komplikasi makrovaskular yang umum berkembang pada penderita
diabetes adalah penyakit jantung koroner (Coronary Heart Disease = CAD), penyakit
pembuluh darah otak, dan penyakit pembuluh darah perifer (Peripheral Vascular
Disease = PVD). Walaupun komplikasi makrovaskular dapat juga terjadi pada DM
tipe 1, namun yang lebih sering merasakan komplikasi makrovaskular ini adalah
penderita DM tipe 2 yang umumnya menderita hipertensi, dislipidemia dan atau
kegemukan. Kombinasi dari penyakit-penyakit komplikasi makrovaskular dikenal
dengan berbagai nama, antara lain Syndrome X, Cardiac Dysmetabolic Syndrome,
Hyperinsulinemic Syndrome, atau Insulin Resistance Syndrome. Karena penyakit-
penyakit jantung sangat besar risikonya pada penderita diabetes, maka pencegahan
komplikasi terhadap jantung harus dilakukan sangat penting dilakukan, termasuk
pengendalian tekanan darah, kadar kolesterol dan lipid darah. Penderita diabetes
sebaiknya selalu menjaga tekanan darahnya tidak lebih dari 130/80 mm Hg. Untuk itu
penderita harus dengan sadar mengatur gaya hidupnya, termasuk mengupayakan berat
badan ideal, diet dengan gizi seimbang, berolah raga secara teratur, tidak merokok,
mengurangi stress dan lain sebagainya (Depkes RI, 2005).
2. Komplikasi Mikrovaskeler
Komplikasi mikrovaskular terutama terjadi pada penderita diabetes tipe 1.
Hiperglikemia yang persisten dan pembentukan protein yang terglikasi (termasuk
HbA1c) menyebabkan dinding pembuluh darah menjadi makin lemah dan rapuh dan
terjadi penyumbatan pada pembuluh-pembuluh darah kecil. Hal inilah yang
mendorong timbulnya komplikasi-komplikasi mikrovaskuler, antara lain
retinopati, nefropati, dan neuropati. Disamping karena kondisi hiperglikemia, ketiga
komplikasi ini juga dipengaruhi oleh faktor genetik. Oleh sebab itu dapat terjadi dua
orang yang memiliki kondisi hiperglikemia yang sama, berbeda risiko komplikasi
mikrovaskularnya. Namun demikian prediktor terkuat untuk perkembangan
komplikasi mikrovaskular tetap lama (durasi) dan tingkat keparahan diabetes (Depkes
RI, 2005).
Satu-satunya cara yang signifikan untuk mencegah atau memperlambat jalan
perkembangan komplikasi mikrovaskular adalah dengan pengendalian kadar gula
darah yang ketat. Pengendalian intensif dengan menggunakan suntikan insulin multi-
dosis atau dengan pompa insulin yang disertai dengan monitoring kadar gula darah
mandiri dapat menurunkan risiko timbulnya komplikasi mikrovaskular sampai 60%
(Depkes RI, 2005).
Data Subyektif :
Pasien mengatakan banyak minum.
Pasien mengatakan sering kencing, sering makan.
Pasien mengatakan penglihatannya mulai kabur.
Pasien mengatakan sering kesemutan.
Pasien mengatakan konsentrasinya mulai terganggu.
Data Objektif :
Nafas bau aseton.
Poliuri, polipagi, polidipsi.
C. DIAGNOSA YANG MUNCUL
Beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin muncul adalah sebagai berikut.
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan factor
biologis ditandai dengan membran mukosa pucat
2. Nyeri akut berhubungan dengan Agen cedera fisik (diabetic Foot) ditandai dengan
melaporkan nyeri secara verbal dan focus menyempit
3. Risiko infeksi berhubungan dengan penyakti Diabetes Mellitus
4. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan faktor mekanik ditandai dengan
adanya gangrene
5. Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan factor yang memengaruhi
kebutuhan cairan
6. Risiko ketidakstabilan kadar gula darah berhubungan dengan kurang manajemen
diabetic
7. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tirah baring (diabetic foot) dan kelemahan
ditandai dengan menyatakan merasa letih dan lemas
Tujuan dan
Diagnosa Intervensi Rasional
Kriteria hasil
Label NOC:
Hydration
Klien melaporkan
rasa haus yang
dialami berkurang.
Nyeri akut Setelah dilakukan NIC :Pain Management - Untuk mengetahui seberapa
tindakan - Lakukan pengkajian
berhubungan berat nyeri yang dialami
keperawatan selama yang komperhensif dari
dengan Agen pasien.
1x24 jam pasien
nyeri termasuk - Pemahan pasien tentang
cedera fisik dapat mengontrol
nyeri dengan lokasi,karakteristik, nyeri yang terjadi akan
(diabetic Foot)
indikator: durasi, frekuensi, mengurangi ketegangan
ditandai
NOC: Pain Control kualitas, intensitas nyeri pasien dan memudahkan
dengan
- Dapat dan faktor pemicu pasien untuk diajak
melaporkan
menggunakan - Periksa dengan pasien
bekerjasama.
nyeri secara
faktor yang - Agar penggunaan obat
verbal dan metode non menyebabkan analgetik tidak terlalu
focus analgetik untuk peningkatan atau berlebihan
- Pemilihan teknik non
menyempit mengurangi nyeri keadaan yang
- Dapat farmakologi mengalihakan
memperburuk nyeri.
menggunakan - Ajarkan tentang metode rasa nyeri klien
- Menentukan keefektifan
analgetik sesuai farmakologi dari rasa
teknik pengaliahan atau
kebutuhan nyeri.
- Kolaborasi dengan management nyeri
Setelah di lakukan
asuhan keperawatan
selama 1x24 jam
pasien dapat
melakukan
perawatan diri
dengan criteria hasil:
NOC: Self-Care:
Activities of Daily
Living (ADL)
- Mampu makan
secara mandiri
- Mampu
berpakaian
dengan bantuan
orang lain atau
mandiri
- Mampu mandi
dengan bantuan
orang lain atau
mandiri
- Mampu
melalukan
kebersihan mulut
dengan baik
E. EVALUASI
Diagnoosa Evaluasi
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari S:
kebutuhan tubuh berhubungan dengan - Pasien mengatakan mual berkurang
factor biologis ditandai dengan membran O:
mukosa pucat Porsi makanan yang disajikam di habiskan
A: Masalah sebagian teratasi
P:
- Kaji pola makan klien
- Monitoring nilai laboratorium yang terkait
status nutrisi
- Berikan dukungna positif saat mampu
melksanaan mampu melaksanakan
program nutrisi dengan baik.
Kerusakan integritas jaringan berhubungan S:-
dengan faktor mekanik ditandai dengan O:
adanya gangren - Jaringan nekrotik tidak ada
- Tipe jaringan granulasi merah muda
terang
A: Maslah sebagian teratasi
P:
- Monitor integritas kulit, catat warna, dan
epitelisasi luka
- Monitor tanda-tanda infeksi
- Bersihkan luka dengan normal saline
- Kaji sirkulasi vaskuler kaki dengan
palpasi
- Anjurkan klien menjaga kebersihan kaki
Risiko ketidakstabilan kadar gula darah S:-
berhubungan dengan kurang manajemen O:
diabetic - Kadar Gula darah harian dalam rentang
normal puasa dibawah 126 mg/dl
sewaktu dibawah 149 mg/dl
A: masalah teratasi
P:
-Monitor kadar glukosa drah
-Monitor tanda dan gejala hiperglikemia dan
hipoglikemia
-Monitor intake dan output nutrisi
Risiko infeksi berhubungan dengan S:-
penyakti Diabetes Mellitus O:
- Tidak adanya gejala infeksi pada klien
- Tidak adanya peningkatan suhu
A: Masalah teratasi
P:
- Monitor adanya tanda-tanda infeksi
Risiko kekurangan volume cairan S:-
berhubungan dengankehilangan volume O:
cairan aktif (gejala poliuria dan dehidrasi) - Tidak adanya tanda-tanda dehidrasi
- Mukosa mulut tidak kering
- Tidak ada penurunan konsentrasi
A:Masalah teratasi
P:
- Monitor intake dan output cairan
- Monitor frekuensi BAB dan BAK
Nyeri akut berhubungan dengan Agen S:
cedera fisik (diabetic Foot) ditandai - Pasien melaporkan nyeri berkurang
dengan melaporkan nyeri secara verbal O:
dan focus menyempit Pada saat dibersihkan luka ditemukan:
- Ekspresi wajah meringis
- Nyeri berkurang skala 3 dari 5
A: Masalah sebagian teratasi
P:
- Kaji secara komprehensif nyeri, lokasi,
awal kejadian, durasi, frekuensi
- Ajarkan penggunaan teknik relaksasi dan
napas dalam
- Berikan medikasi analgesic
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan S:
tirah baring (diabetic foot) dan kelemahan O:
ditandai dengan menyatakan merasa letih - Pasien mampu duduk
- TTV dalam rentang normal
dan lemas
A: Masalah teratasi sebagian
P:
- Tingkatkan aktivitas bertahap sehingga
pasien memungkinkan untuk merubah
posisi, dan perawatan diri sedini
mungkin.
- Pastikan pasien melakukan perubahan
posisi perlahan-lahan
PATHWAY
Faktor Risiko
Glikoneogenesis Lipolisis
Resistensi insulin Keton meningkat Memblokir kerja
insulineNyeri Akut
Risiko
Luka tidak sembuh
kekurangan
volume cairan
Risiko infeksi
Intoleransi Aktivitas
DAFTAR PUSTAKA
Sepalani, widya. 2013. Analisis Praktik Residen Keperawatan Medikal Bedah Pada Klien dengan
Gangguan Sistem Endokrine di RSU Fatmawaati. Tesis-FIK Universitas Indonesia- Jakarta
Guyton & Hall.2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi [Link]: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Price, Sylvia A, Wilson, Lorraine M. 2000. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit
edisi 6 Volume 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester,
Yasmin asih, Jakarta : EGC, 2002.
Carpenito, Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 alih bahasa YasminAsih,
Jakarta : EGC, 1997.
Brunner & Suddarth. (2001) Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Volume Kedua. Edisi
Kedelapan. Jakarta : EGC