Identifikasi Struktur dengan GPR
Identifikasi Struktur dengan GPR
WORKSHOP GEOFISIKA
Disusun Oleh:
SAHRURRONI
NIM 145090700111005
Asisten:
Risko Pratama Yuda
NIM 135090700111006
i
DAFTAR ISI
ii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1: Fisiografi regional jawa timur (Van Bemmelen, 1949) ............................. 3
Gambar 2.2: Skema penjalaran gelombang radar ........................................................... 7
Gambar 2.3: Sistem element GPR .................................................................................. 8
Gambar 2.4a: Wide angle reflection and refraction (WARR) atau ................................ 9
Gambar 2.4b: Wide angle reflection and refraction (WARR) ........................................ 9
Gambar 2.4c: Common mid point ................................................................................ 10
Gambar 2.4d: Radar tomografi ..................................................................................... 10
Gambar 3.2: Desain survey akuisisi metode GPR ........................................................ 11
Gambar 3.4: Diagram alir penelitian metode GPR ....................................................... 13
Gambar 3.5: Penampang pada visualizer 3D ................................................................ 15
Gambar 4.1a: Data kelompok 1-A ................................................................................ 16
Gambar 4.1b: Data kelompok 1-B ................................................................................ 16
Gambar 4.2a: Data kelompok 2-A ................................................................................ 18
Gambar 4.2b: Data kelompok 2-B ................................................................................ 18
Gambar 4.2c: Data setelah di overlay dengan google earth.......................................... 19
Gambar 4.3a: Data kelompok 3-A ................................................................................ 20
Gambar 4.3b: Data kelompok 3-B ................................................................................ 20
Gambar 4.3c: Data setelah di overlay dengan google earth.......................................... 21
Gambar 4.4a: Data kelompok 4-A ................................................................................ 22
Gambar 4.4b: Data kelompok 4-B ................................................................................ 22
Gambar 4.4c: Data kelompok 4-C ................................................................................ 23
iii
BAB I
PENDAHULUAN
pg. 1
1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan masalah yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui kontras batuan pada daerah Kasinan dan Songgoriti.
2. Untuk mengetahui mineralisasi batuan pada daerah Kasinan dan Songgoriti.
3. Untuk mengetahui cavity pada daerah Kasinan dan Songgoriti.
pg. 2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
pg. 3
Tatanan tektonik Pulau Jawa dapat dijelaskan dengan sistem active margin,
dimana pembagian dari selatan ke utara merupakan zona subduksi dan akresi selatan
Jawa, busur magmatic Jawa, serta belakang busur di Jawa Utara. System active
margin mengklasifikasikan cekungan Jawa Timur sebagai cekungan belakang busur.
Pola struktur yang dominan di Pulau Jawa menurut Pulunggono dan Martodjojo
(1994) adalah pola Meratus berarah timurlaut baratdaya yang terbentuk pada 80
sampai 53 juta tahun yang lalu (Kapur Akhir Eosen Awal). Pola Jawa umumnya
diwakili oleh sesar yang beranjak naik ke utara atau timurlaut.
b. Batuan Gunungapi
Formasi Mandalika (Tomm) terdiri dari lava andesit, basal, trakit,
dasit, dan breksi andesit. Lava andesit terdiri dari andesit piroksen, andesit
hornblenda. Lava Basal umumnya terdiri dari basal piroksen. Anggota Tufff
Formasi Mandalika (Tomt) terdiri dari tuff andesit, tuff riolit, tuff dasit, dan
breksi tuff yang berbatuapung. Umumnya tufff memperlihatkan struktur
perlapisan yang baik. Anggota tufff ini menjemari dengan Formasi Mandalika
dan berumur oligosen miosen.
pg. 4
Formasi Wuni (Tmw) terdiri dari breksi dan lava bersusunan andesit
basal, breksi tuff, breksi lahar dan tufff pasiran. Breksi berkomponen andesit
dan basal, mengandung kepingan kepingan kalsedon. Lava andesit basal
terdiri dari andesit piroksen sampai basal berwarna abu abu kehitaman pejal
dan porfiri. Satuan ini menindih secara takselaras dengan batuan berumur
oligosen akhir awal Miosen tengah dan menjemari dengan Formasi Nampol.
Endapan Gunungapi Buring (Qpvb) terdiri dari lava basal dan tuff pasiran.
Lava berwarna abu abu kehitaman berstruktur kasatmata hingga tak kasat
mata. Tuff pasiran berwarna putih coklat kelabu dan keruh, komponen felspar,
kaca, batuapung, mineral hitam dan pecahan batuan berbutir pasir lapili.
Endapan Tuff Gunungapi terdiri dari tuff kasar berbatuapung. Tuff berwarna
coklat muda, kemerahan, butir kasar (lapili) hingga halus. Van Bemmelen
(1937 dalam Suyanto, 1992) menyatakan bahwa endapan gunungapi ini
dihasilkan oleh kelompok gunungapi Kuarter Muda diantaranya G. Tengger,
G. Jembangan, G. Semeru, G. Butak dan G. Buring. Endapan Tuff ini
disetarakan dengan Tuff Malang (Santosa, 1989 dalam Suyanto, 1992).
pg. 5
Sedangkan Gunung Arjuna - welirang (Qvaw) berupa breksi gunung apai, lava, breksi
tufan dan tuf.
Pada umur Holosen kemudian diperkirakan terbentuk Gunung Panderman
yang berada di selatan Songgoriti. Hasil endapan aktifias Gunung Panderman (Qvp)
ini berupa breksi gunungapi, tuf breksi, lava dan tuf. Ketiga gunung api inilah yang
akan mempengaruhi potensi panas bumi di songgoriti - batu. struktur geologi yang
mempengaruhi daerah ini berupa sesar - sesar mendatar di bagian selatan dan
sebagian berupa sesar turun akibat dari letusan gunung api. Sesar - sesar inilah yang
membawa manisfestasi dari dalam keluar permukaan.
dengan tenaga energi tinggi yang dipancarkan dengan waktu yang sangat pendek.
Gelombang elektromagnetik ini di emisikan ke dalam tanah oleh transmitter melalui
antena yang nantinya akan menembus tanah. kemudian sinyal yang terpantul dari
tanah akan ditangkap oleh receiver. Waktu dari perjalanan gelombang radar ini akan
dianggap sebagai jarak obyek dan intensitas tenaga baliknya dapat di identifikasi
sebagai jenis obyek yang berada di dalam tanah Sifat dari obyek ini merupakan
sebagai salah satu faktor penentu intensitas tenaga pantulan dari citra radar. Sifat
obyek sendiri dipengaruhi oleh keadaan topografi yang menyebabkan perbedaan arah
pg. 6
terhadap sensor dan kekasaran permukaan yang menyebabkan perbedaan pantulan
pulsa radar.
Untuk menghasilkan pendeteksian yang baik, suatu sistem GPR harus memenuhi
empat persyaratan sebagai berikut, kopling radiasi yang efisien ke dalam tanah,
penetrasi gelombang elektromagnetik yang efisien, menghasilkan sinyal dengan
amplitudo yang besar dari objek yang dideteksi, bandwidth yang cukup untuk
menghasilkan resolusi yang baik.
pg. 7
2.3 Prinsip Kerja Metode GPR
GPR merupakan salah satu metode geofisika yang bersifat aktif, dimana
mengemisikan gelombang radar ke dalam bumi. GPR ini adalah teknik geofisika yang
bersifat non destruktif dan memiliki resolusi yang tinggi terhadap kontras dielektrik
material dan kedalaman yang sangat dangkal (maksimal 60 meter).
GPR ini terdiri dari transmitter dan receriver. Transmitter ini berguna untuk
mengemisikan gelombang radar. Sedangkan receiver adalah antenna yang terhubung
dengan LNA dan ADC yang nantinya akan menerima pantulan radar dari bawah
permukaan yang nantina akan ditampilkan di display sebagai tampilan outputnya.
pg. 8
common-mid point (CMP) sounding, dan transillumination atau radar tomography.
Pemilihan cara tersebut di atas tergantung kepada tujuan survei (Daniels, D.J.2004).
2.4.1 Radar reflection profiling
Cara ini dilakukan dengan membawa antenna radar bergerak bersamaan
diatas permukaan tanah di mana nantinya hasil tampilan pada radargram merupakan
kumpulan tiap titik pengamatan (Daniels, D.J.2004).
Gambar 2.4a: Wide angle reflection and refraction (WARR) atau common mid point
Cara Wide Angle Reflection and Refraction (WARR) Sounding ini dilakukan dengan
menaruh transmitter pada posisi yang tetap dan receiver dibawa pada area
penyelidikan. WARR sounding diterapkan pada kasus dimana bidang reflector relatif
datar atau memiliki kemiringan yang rendah, karena asumsi ini tidak selalu benar
pada kebanyakan kasus maka digunakan CMP sounding untuk mengatasi kelemahan
tersebut. Pada CMP sounding kedua antenna bergerak menjauhi satu sama lainnya
dengan titik tengah pada posisi yang tetap (Daniels, D.J, 2004).
pg. 9
Gambar 2.4c: Common mid point
pg. 10
BAB III
METODOLOGI
pg. 11
3.3 Peralatan
Peralatan Fungsi Gambar
Power Tank Power tank digunakan
sebagai sumber daya untuk
control unit dan probe.
pg. 12
Meteran Berfungsi untuk mengukur
dan menentukan panjang
line pada desain akuisisi.
pg. 13
3.5 Prosedur Penelitian
pg. 14
sampling impuls yang dipancarkan. Sumbu vertikal adalah jarak kedalaman atau
waktu tempuh sinyal impuls dari pemancar ke penerima.
pg. 15
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
pg. 16
Akuisisi data dilapangan menghasilkan data anomaly yang kemudian di olah
untuk menghasilkan model penampangnya untuk memudahkan interpretasi data.
Kedalaman pada 6 line horizontal berturut turut yaitu 16,28 meter, 16,87 meter,
18,54 meter, 17,00 meter, 16,10 meter, dan 14,10 meter. Sedangkan untuk line
vertikal yg memotong line horizontal diperoleh kedalaman maksimal yaitu 17,90 dan
16,40 meter. Nilai kedalaman yang diperoleh dari metode GPR dipengaruhi oleh
kondisi bawah permukaan yang bervariasi sehingga mengalami pelemahan (atenuasi
yang berbeda untuk setiap akuisisinya).
Interpretasi daerah hijau pada hasil pengolahan merupakan lapisan tanah (soil)
yang berasal dari pelapukan batuan - batuan yang berada pada daerah tersebut. Warna
kuning pada penampang diidentifikasi sebagai lapisan batuan kompak yang
mengandung mineral pada bawah permukaan. Jika ditinjau dari geologi regional dari
daerah songgoriti yang tersusun atas batuan breksi vulcano, breksi tufan, dan lava
gunung api, maka warna kuning pada penampang merupakan pengaruh dari mineral -
mineral yang terkandung didalam batuan penyusunnya. Mineral yang umumnya
berada pada batuan tufan atau breksi vulkanik adalah K-Feldspar dan Kuarsa. Namun
karena daerah songgoriti merupakan daerah hidrotermal sehigga batuan batuan di
daerah tersebut mengalami alterasi.
pg. 17
4.2 Data Hasil Kelompok 2
pg. 18
Interpretasi pada data hasil kelompok 2, warna hijau pada penampang
merupakan tanah (soil) hasil dari pelapukan batuan. Warna biru merupakan daerah
bawah permukaan yang memiliki pori atau rongga. Pori - pori ini bisa berisikan air
maupun udara. sedangkan warna kuning merupakan pengaruh dari keberadaan
mineral yang terkandung pada batuan dibawah permukaan. Hasil overlay data
penampang, terlihat beberapa daerah yang merupakan rongga atau pori saling
berhimpitan satu sama lain dari line yang berbeda. Kedalaman maksimal yang
diperoleh dari hasil pengolahan dengan menggunakan software visualizer dari line 1
hingga line 6 berturut - turut adalah 13,37 meter, 13,76 meter, 13,14 meter, 15,50
meter, 14,20 meter, dan 13, 40 meter. Perbedaan kedalaman yang diperoleh dari
setiap akusisi berbeda - beda tergantung dari besar atau kecilnya atenuasi yang
dialami oleh gelombang elektromagnetik.
pg. 19
4.3 Data Hasil Kelompok 3
pg. 20
Pada kelompok 3 akuisisi dilakukan dengan menggunakan area dan line.
Dominasi warna biru berada pada sisi kiri yang merupakan daerah rendahan jika
dibandingkan dengan sisi kanannya. Dapat diperkirakan bahwa terdapat aliran air
resapan dari sisi kanan ke sisi kiri akibat pengaruh dari topografi. Kedalaman yang
diperoleh pada area 1,2, dan 3 yaitu 7,4 meter, 10,4 meter, dan 11,4 meter. Sedangkan
kedalaman pada line yaitu 11,4 meter. Lokasi pengambilan data berada pada jalan
raya songgoriti yang didominasi pada penampang yaitu warna hijau yang
diinterpretasikan sebagai soil (tanah), warna biru merupakan daerah dengan pori atau
rongga serta warna kuning diinterpretasikan sebagai mineral yang terdapat pada
batuan yang menyusun bawah permukaan.
pg. 21
4.4 Data Hasil Kelompok 4
pg. 22
Gambar 4.4c: Data kelompok 4-C
pg. 23
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
pg. 24
DAFTAR PUSTAKA
Arisona. (2009). Migrasi Data Georadar dengan Metode Pergeseran Fasa. Jurnal
Aplikasi Fisika. Vol 5, No 1.
Annan, A. P. 2003. Ground Penentrating Radar Principles, Procedures &
Aplications. Canada. Sensors & Software Inc.
Budiono, K., Handoko, & Hermawan, U. 2010. Penafsiran Struktur Geologi Bawah
Permukaan di Kawasan Semburan Lumpur Sidoarjo, Berdasarkan Penampang
Ground Penetrating Radar (GPR). Jurnal Geologi Indonesia, vol. 5, pp. 187-
195.
Daniels, D.J.(Ed.). (2004). Ground Penetrating Radar (2nd Edition). London:
Institution of Electrical Engineering.
Davis, J.L. and Annan, A.P. 1989. Ground-Penetration Radar for High Resolution
Mapping of Soil and Rock Stratigraphy. Geophys. Prospect., 37:531- 551.
Heteren, V.S., Fitzgerald, D.M., McKinlay, P.A., and Buynevich, I.V. 1998. Radar
Facies of Paraglacial Barrier System. Coastal New England. USA.
pg. 25