100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
391 tayangan17 halaman

Faktor Mempengaruhi Distribusi Obat

Ringkasan dokumen tersebut adalah: (1) Dokumen tersebut membahas tentang proses distribusi obat dalam tubuh, termasuk definisi distribusi obat, faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan mekanisme distribusi obat. (2) Faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain pengikatan protein plasma, kelarutan obat dalam lipid, sifat keterikatan obat, aliran darah, dan kondisi penyakit pasien. (3

Diunggah oleh

firda fitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
391 tayangan17 halaman

Faktor Mempengaruhi Distribusi Obat

Ringkasan dokumen tersebut adalah: (1) Dokumen tersebut membahas tentang proses distribusi obat dalam tubuh, termasuk definisi distribusi obat, faktor-faktor yang mempengaruhinya, dan mekanisme distribusi obat. (2) Faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain pengikatan protein plasma, kelarutan obat dalam lipid, sifat keterikatan obat, aliran darah, dan kondisi penyakit pasien. (3

Diunggah oleh

firda fitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Dalam arti luas, farmakologi ialah ilmu mengenai pengaruh senyawa terhadap sel
hidup, lewat proses kimia khususnya lewat reseptor. Senyawa ini biasanya disebut obat dan
lebih menekankan pengetahuan yang mendasari manfaat dan risiko penggunaan obat.
Farmakologi mempunyai keterkaitan khusus dengan farmasi, yaitu ilmu mengenai cara
membuat, memformulasi, menyimpan, dan menyediakan obat. Farmakologi terutama
terfokus pada dua sub, yaitu farmakokinetik dan farmakodinamik.
Tanpa pengetahuan farmakologi yang baik, seorang farmasis dapat menjadi suatu
masalah untuk bagi pasien karena tidak ada obat yang aman secara murni. Hanya dengan
penggunaan yang cermat, obat akan bermanfaat tanpa efek samping tidak diinginkan yang
tidak mengganggu.
Farmakokinetika adalah segala proses yang dilakukan tubuh terhadap obat berupa
absorpsi, distribusi, metabolisme ( biotransformasi ), dan [Link] kita dapat
dianggap sebagai ruangan besar, yang terdiri dari beberapa kompartemen yang terpisah oleh
membran-membran sel. Sedangkan proses absorpsi, distribusi dan ekskresi obat dari dalam
tubuh pada hakekatnya berlangsung dengan mekanisme yang sama, karena proses ini
tergantung pada lintasan obat melalui lintasan tersebut.
Membran sel terdiri dari suatu lapisan lipoprotein ( lemak dan protein ) yang
mengandung banyak pori-pori kecil, terisi dengan air. Membran dapat ditembus dengan
mudah oleh zat-zat tertentu, dan sukar dilalui zat-zat yang lain, maka disebut semi
permeabel. Zat-zat lipofil ( suka lemak ) yang mudah laryt dalam lemak dan tanpa muatan
listrik umumnya lebih lancar melintasinya dibandingkan dengan zat-zat hidrofil dengan
muatan (ion).
Penelitian efek samping obat-obatan dan atau teknologi baru terhadap beberapa
penyakit berhubungan dengan perjalanan obat di dalam tubuh serta perlakuan tubuh
terhadapnya. Obat adalah benda yang dapat digunakan untuk merawat penyakit,
membebaskan gejala, memodifikasi proses kimia dalam tubuh.

1 FARMAKOLOGI | DISTRIBUSI OBAT DALAM TUBUH


Didalam tubuh obat mengalami berbagai macam proses hingga akhirnya obat
dikeluarkan lagi dari tubuh. Proses tersebut meliputi absorpsi, distribusi, metabolism
(biotransformasi), dan eliminasi. Dalam proses tersebut, bila berbagai macam obat diberikan
secara bersamaan dapat menimbulkan suatu interaksi. Selain itu, obat juga dapat berinteraksi
dengan zat makanan yang dikonsumsi bersamaan dengan obat.
Interaksi yang terjadi didalam tubuh dapat dibagi menjadi dua, yaitu interaksi
farmakodinamik dan interaksi farmakokinetik. Interaksi farmakodinamik adalah interaksi
antar obat (yang diberikan berasamaan) yang bekerja pada reseptor yang sama sehingga
menimbulkan efek sinergis atau antagonis. Interaksi farmakokinetik adalah interaksi antar 2
atau lebih obatyang diberikan bersamaan dan saling mempengaruhi dalam proses ADME
(absorpsi, distribusi, metabolisme, dan eliminasi) sehingga dapat meningkatkan atau
menurunkan salah satu kadar obat dalam darah.
Tubuh kita punya banyak enzim yang dapat berinteraksi dengan berbagai molekul,
termasuk obat yang berpotensi menjadi racun atau nutrient. Namun, setiap individu juga
memiliki gen berbeda dan produk proteinnya menentukan kemampuan individu merespons
obat. Obat yang masuk dalam tubuh - entah lewat cara oral, irup, suntik, atau serap lewat
pori- pori kulit - akan melalui beberapa tahap sebelum mencapai sasaran. Setelah diserap,
protein menjemput dan mengantarkan obat ke dalam suatu sel, misal sel hati. Di sini mereka
mengalami modifikasi oleh sejumlah enzim metabolik (pembongkar-penyusun); bisa
diaktifkan atau diurai. Pada manusia bentuk enzim itu berlainan akibat perbedaan
dari genetic. Bisa jadi seseorang punya enzim sangat aktif sedangkan milik orang lain
malah tidak terlalu aktif.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Dapat mengetahui definisi dari proses distribusi.
2. Dapat mengetahui Faktor faktor yang mempengaruhi proses distribusi.
3. Dapat mengetahui mekanisme dari proses distribusi.
1.3 TUJUAN
1. Mahasiswa dapat mengetahui definisi dari proses distribusi.
2. Mahasiswa dapat mengetahui Faktor faktor yang mempengaruhi proses distribusi.
3. Mahasiswa dapat mengetahui mekanisme dari proses distribusi.

2 FARMAKOLOGI | DISTRIBUSI OBAT DALAM TUBUH


BAB II
ISI & PEMBAHASAN

2.1. DEFINISI
Distribusi obat adalah proses-proses yang berhubungan dengan transfer senyawa
obat dari satu lokasi ke lokasi lain di dalam tubuh. Distribusi merupakan perjalanan obat ke
seluruh tubuh. Setelah senyawa obat memasuki sistem sirkulasi melalui absorpsi atau
injeksi, senyawa tersebut akan didistribusikan ke seluruh tubuh.
Setelah melalui proses absorpsi, obat akan di distribusikan keseluruh tubuh melalui
sirkulasi darah. Selain tergantung dari aliran darah, distribusi obat juga ditentukan oleh sifat
fisika kimianya. Obat yang mudah larut dalam lemak akan melintasi membran sel,
terdistribusi kedalam sel, sedangkan obat yang tidak larut dalam lemak akan sulit menembus
membran sel, sehingga distribusinya terbatas, terutama dicairan ekstra sel. Distribusi juga
dibatasi oleh ikatan obat pada protein plasma, hanya obat bebas yang dapat berdifusi dan
mencapai keseimbangan.
Derajat ikatan obat dengan protein plasma ditentukan oleh afinitas obat (
Kemampuan obat untuk mengikat reseptor) terhadap protein, kadar obat, dan kadar
proteinnya sedikit.

2.2. FAKTOR FAKTOR MEMPENGARUHI DISTRIBUSI


Proses distribusi ini dipengaruhi oleh :
1. Pengikatan protein plasma
2. Kelarutan obat dalam lipid (yaitu, apakah obat tersebut larut dalam jaringan lemak)
3. Sifat-keterikatan obat
4. Aliran darah ke dalam organ dan keadaan sirkulasi
5. Kondisi penyakit

Penjelasan dari faktor- faktor yang mempengaruhi proses distribusi, yaitu :


1. Protein plasma
Obat terikat dalam protein plasma dalam taraf yang bervariasi. Ikatan protein
pada obat akan mempengaruhi intensitas kerja, lama kerja dan eliminasi bahan obat

3 FARMAKOLOGI | DISTRIBUSI OBAT DALAM TUBUH


sebagai berikut : bagian obat yang terikat pada protein plasma tidak dapat berdifusi dan
pada umumnya tidak mengalami biotransformasi dan eliminasi. Jadi hanya obat obat
bentuk bebas saja yang akan mencapai tempat kerja dan berkhasiat.
2. Kelarutan Lipid
Kelarutan lipid merupakan taraf larutnya obat di dalam jaringan lemak tubuh.
Tubuh secara kimiawi tersusun dari sejumlah kompartemen cairan dan jaringan lemak.
Sebagian besar obat didistribusikan ke seluruh kompartemen cairan dalam tubuh, dan
kemudian akan diteruskan ke dalam jaringan lemak dalam taraf yang besar/kecil. Taraf
penyebaran obat ke seluruh tubuh disebut volume distribusi.
3. Karakteristik Pengikatan
Beberapa obat memiliki karakteristik pengikatan yang tidak lazim. Contoh:
tetrasiklin terikat dengan tulang dan gigi. Obat anti-malaria klorokuin dapat terikat
dengan retina orang dewasa/janin.
4. Aliran Darah ke Dalam Jaringan
Sebagian jaringan tubuh menerima pasokan darah yang lebih baik daripada
lainnya contoh: aliran darah ke dalam otak jauh lebih tinggi daripada aliran darah ke
tulang. Kondisi sirkulasi darah ini menentukan distribusi obat. Sirkulasi darah
diutamakan pada jantung, otak, dan paru-paru. Karena volume sirkulasi terbatas, obat
akan terdapat pada konsentrasi tinggi di dalam jaringan yang bisa dijangkaunya.
5. Kondisi Penyakit yang Diderita Pasien
Contohnya, gagal ginjal dan kegagalan fungsi hati akan mengganggu
kemampuan tubuh dalam mengeliminasi sebagian besar obat. Obat juga akan
menumpuk dalam tubuh jika pasien mengalami dehidrasi. Jika terjadi penumpukan obat,
efek sampingnya akan semakin berat. Keadaan lain yang dapat mempengaruhi distribusi
obat meliputi : gagal jantung, syok, penyakit tiroid, penyakit GI.
Karena proses distribusi obat sangat mempengaruhi transfer senyawa obat ke
lokasi-lokasi pengobatan yang diharapkan, berbagai cara ditempuh dalam pembuatan
obat dan jenis sediaannya untuk meningkatkan efektivitas ditribusi obat.
Ada beberapa hal yang diperhatikan saat merancang sediaan obat yang ada
hubungannya dengan distribusi obat. Misalnya pada penggunaan obat untuk ibu hamil.
Apabila melalui uji klinis terlihat bahwa senyawa obat dapat melintasi plasenta dan

4 FARMAKOLOGI | DISTRIBUSI OBAT DALAM TUBUH


senyawa tersebut berbahaya bagi janin, maka obat tidak boleh dikonsumsi oleh ibu
hamil. Membran otak juga adalah salah satu jaringan yang dihindari pada proses
ditribusi obat. Sedikit perubahan struktur pada senyawa obat dapat memodifikasi pola
distribusi sehingga obat tidak ditransfer melalui membran otak.

Faktor-faktor penting yang berhubungan dengan distribusi obat antara lain :

a. Perfusi darah melalui jaringan


Perfusi darah melalui jaringan dan organ bervariasi sangat luas. Perfusi
yang tinggi adalah pada daerah paru-paru, hati, ginjal, jantung, otak dan daerah
yang perfusinya rendah adalah lemak dan tulang. Sedangkan perfusi pada otot
dan kulit adalah sedang. Perubahan dalam aliran kecepatan darah (sakit jantung)
akan mengubah perfusi organ seperti hati, ginjal dan berpengaruh terhadap
kecepatan eliminasi obat.
a. Kadar gradien, pH dan ikatan zat dengan makromolekul
Penetrasi obat tergantung pada luasnya kadar gradient, bentuk yang dapat
berdifusi bebas, factor seperti pH gradient dan ikatan pada konstituen
intraseluler akan mempengaruhi akumulasi dalam jaringan.
b. Partisi ke dalam lemak
Obat yang larut dalam lipid dapat mencapai kosentrasi yang tinggi dalam
jaringan lemak. Obat akan disimpan oleh larutan fisis dalam lemak netral.
Jumlah lemak adalah 15% dari berat badan dan merupakan tempat penyimpanan
untuk obat. Lemak juga mempunyai peranan dalam membatasi efek senyawa
yang kelarutannya dalam lemak adalah tinggi dengan bekerja sebagai akseptor
obat selama fase redistribusi.
c. Transfer aktif
Pemasukan ke dalam jaringan dapat juga terjadi dengan proses transport
aktif. Metadon, propanolol dan amfetamin diangkut ke dalam jaringan paru-paru
oleh proses aktif. Hal ini merupakan mekanisme yang penting untuk pemasukan
obat tersebut yang besar dalam paru-paru.
d. Sawar

5 FARMAKOLOGI | DISTRIBUSI OBAT DALAM TUBUH


Distribusi obat ke susunan syaraf pusat dan janin harus menembus sawar
khusus yaitu sawar darah otak dan sawar uri. Sawar darah otak, penetrasi obat
dari peredaran darah ke dalam ruang ekstraseluler susunan saraf sentral dan
cairan cerebrospinal dibatasi atau ditentukan oleh keadaan permukaan absorbs.
e. Ikatan obat dengan protein plasma
Factor yang penting dalam distribusi obat adalah ikatannya dengan
protein plasma yang merupakan makromolekul. Banyak obat terikat dengan
protein di dalam plasma darah dan jaringan lain. Umumnya ikatannya
merupakan proses reversible dan akan berpengaruh terhadap ketersediaan obat.
Protein yang terdapat dalam plasma dan mengadakan ikatan dengan obat adalah
albumin.

2.3 DISTRIBUSI OBAT DALAM TUBUH

Setelah diabsorpsi obat akan didistribusi keseluruh tubuh melalui sirkulasi darah,
karena selain tergantung dari aliran darah, distribusi obat juga ditentukan oleh sifat
fisikokimianya.
Distribusi obat dapat dibedakan menjadi 2 fase berdasarkan penyebaran didalam
tubuh, yaitu :
a. Distribusi fase pertama terjadi segera setelah penyerapan, yaitu ke organ
yang perfusinya sangat baik, seperti jantung, hati, ginjal dan otak.
b. Distribusi fase kedua jauh lebih luas lagi, yaitu mencakup jaringan yang
perfusinya tidak sebaik organ pada fase pertama, misalnya pada otot, visera,
kulit dan jaringan lemak.

Distribusi obat dari sirkulasi ke Susunan Saraf Pusat sulit terjadi, karena obat
harus menembus Sawar Darah Otak, karena endotel kapiler otak tidak mempunyai celah
antar sel maupun vesikel pinositotik.

Apabila obat mencapai pembuluh darah, obat akan ditranspor lebih lanjut bersama
dalam aliran darah dalam sistem sirkulasi. Akibat landaian konsentrasi darah terhadap
jaringan, bahan obat mencoba untuk meninggalkan pembuluh darah dan terdistribusi dalam
organisme keseluruhan. Penetrasi dari pembuluh darah ke dalam jaringan dan dengan

6 FARMAKOLOGI | DISTRIBUSI OBAT DALAM TUBUH


demikian distribusinya, seperti halnya absorbsi, bergantung pada banyak peubah.
Khususnya ukuran molekul, ikatan pada protein plasma dan protein jaringan, kelarutan dan
sifat kimia. Selanjutnya bergantung pada pasokan darah dari organ dan jaringan masing-
masing, ketelapan membran dan perbedaan pH antara plasma dan jaringan.

1. Ruang Distribusi

Berdasarkan fungsinya, organisme dapat dibagi dalam ruang distribusi yang


berbeda (kompartemen). Ruang Intasel dan ruang ekstrasel, dalam ruang intrasel (sekitar
75%dari bobot badan) termasuk cairan intrasel dan komponen sel yang padat, ruang
ekstrasel (sekitar 22% dari bobot badan) dibagi lagi atas :

Air plasma : air plasma (sekitar 4% dari bobot badan) meliputi cairan
intravasal.

Ruang usus : ruang usus (sekitar 16-20% dari bobot badan) meliputi cairan
yang mudah berdifusi dalam intestinum serta cairan yang sukar berdifusi dalam
jaringan ikat tebal dari kulit, otot, persendian dan tulang.

Cairan transsel : cairan transsel (sekitar 1.5% dari bobot badan)

Angka-angka yang diberikan hanya berlaku untuk orang dewasa usia pertengahan.
Pada bayi misalnya, bagian cairan pada bobot badan pada hakekatnya lebih tinggi.

Bergantung pada sifat fisiko kimianya, berdasaran distribusi ke dalam berbagai


ruang distribusi, dibedakan 3 jenis bahan obat :

Obat yang hanya terdistribusi dalam plasma.

Obat yang terdistribusi dalam plasma dan ruang eksternal sisa.

Obat yang terdistribusi dalam ruang ekstrasel dan juga dalam ruang intrasel.

Distribusi bahan obat lain antara ruang plasma dan ruang usus dipengaruhi oeh
struktur kapiler dalam daerah atau organ masing-masing. Pertukaran mudah terjadi pada
tempat endotel kapiler dan membran basal menunjukkan ruang (misalnya hati, limpa).
Demikian juga yang baik dilewati ialah kapiler yang memiliki ruang endotel disekelilingi
membran. Sebaliknya, yang sukar ialah penetrasi dalam daerah kapiler dengan endotel

7 FARMAKOLOGI | DISTRIBUSI OBAT DALAM TUBUH


dan membran basal tanpa ruang dan selain itu penetrasinya sangat terbatas, apabila pada
kaliper terdapat sel-sel lain. Kapiler otak misalnya, dikelilingi rapat dengan sel-sel glia
dan dalam darah pleksus khorioidea, yaitu tempat terbentuknya cairan serebrospinalis,
kapiler ke ruang cairan dilapisi oleh selapis tunggal epitel. Akibatnya ialah pembatasan
permeasi. Ini disebut sawar darah otakdan sawar darah cairan otak. Bahan-bahan yang
larut dalam lemak dapat melewati sawar dengan baik, sebaliknya bahan-bahan yang tak
larut dalam lemak sukar melewatinya, sejauh tak terdapat mekanisme transpor aktif,
seperti misalnya pada asam amino.

Pada proses meradang, ketelapan naik seperti dalam jaringan-jaringan lain,


sehingga bahan yang dalam keadaan normal tidak dapat berdifusi melalui sawar darah
otak menembus ke dalam sistem saraf pusat.

Ruang intrasel dipisahkan oleh membran sel lipofil menjadi ruang usus dan ruang
plasma. Karena itu juga hanya zat yang lipofil dapat menembus sel dan organelnya,
dengan kekecualian bahan yang ditranspor secara aktif.

2. Ikatan Protein

Faktor penting lain untuk distribusi obat ialah ikatan pada protein terutama
protein plasma, protein jaringan dan sel darah merah. Sesuai dengan struktur kimia
protein dapat terlibat ikatan ion, ikatan jembatan hidrogen dan ikatan dipol-dipol serta
interaksi hidrofob. Kemungkinan terjadi ikatan yang berbeda-beda menjelaskan juga
mengapa senyawa yang amat beragam diikat pada protein.

Kecuali ikatan pada reseptor, ikatan pada protein relatif tidak khas untuk
senyawa-senyawa yang asing bagi tubuh, walaupun begitu ikatan ini terjadi terutama
pada tempat ikatan dengan afinitas tinggi yang jumlahnya relatif kecil. Pada albumin
serum manusia dapat dibuktikan dua tempat ikatan yang berbeda (tempat ikatan I dan II).
Beberapa bahan obat terikat selektif hanya pada satu dari kedua tempat ikatan (misalnya
natikoagulansia jenis dikumarol pada tempat ikatan I, benzodiazepin pada tempat ikatan
II) sedangkan yang lain terikat pada kedua tempat ikatan. Pada senyawa basa misalnya
propanolol, lidokain, disopiramid, petidin atau antidepresiva trisiklik, alfa glikoprotein
asam membantu juga pembentukan ikatan protein plasma.

8 FARMAKOLOGI | DISTRIBUSI OBAT DALAM TUBUH


Untuk senyawa tubuh sendiri seringkali terdapat protein transpor spesifik dari
fraksi globulin. Ikatan protein adalah bolak-balik. Ikatan tak bolak-balik (kovalen)
misalnya reaksi sitostatika yang mengalkilasi protein, tidak termasuk dalam ikatan
protein.

Makin besar afinitas bahan yang bersangkutan, pada protein, makin kuat ikatan
[Link] tetapan afinitas terhadap berbagai protein, misalnya terhadap protein
plasma dan protein jaringan, berbeda, maka kesetimbangan distribusi juga dipengaruhi :
kesetimbangan akan bergeser ke protein dengan tetapan afinitas yang lebih besar.
Selajutnya ikatan protein selain bergantung kepada sifat-sifat bahan berkhasiat, ia
bergantung juga kepada harga pH plasma serta bergantung kepada umur. Contohnya pada
keadaan asidosis, barbiturat yang terikat pada protein menurun. Pada bayi baru lahir,
ikatan protein lebih rendah daripada ikatan protein dewasa (dengan akibat meningkatnya
kepekaan bayi baru lahir).

Ikatan protein mempengaruhi intensitas kerja, lama kerja dan eliminasi bahan
obat sebagai berikut : bagian obat yang terikat pada protein plasma tidak dapat berdifusi
dan umumnya tidak mengalami biotransformasi dan eliminasi. Tanpa memperhatikan
kekecualian, ini berarti bahwa hanya bentuk bebas yang mencapai tempat kerja yang
sesungguhnya dan karena itu dapat berkhasiat. Dipihak lain bagian yang terikat
merupakan bentuk cadangan yang tidak aktif. Pada penurunan konsentrasi bentuk bebas
(misalnya akibat biotransformasi dan aliminasi), molekul obat dibebaskan dari cadangan
ini untuk mengatur kembali kesetimbangan. Apabila dalam darah tedapat beberapa obat
dalam waktu yang bersamaan, maka terdapat kemungkinan persaingan terhadap tempat
ikatan dan dengan demikian sebaliknya terjadi pengaruh terhadap intensitas kerja dan
lama kerja, terutama jika besarnya bagian yang terikat lebih dari sama dengan 80%.
Selanjutnya harus dipikirkan bahwa obat dapat juga mengusir senyawa tubuh sendiri,
misalnya bilirubin atau glikokortikoid dari ikatannya pada protein plasma dan
menyebabkan bagian yang tidak terikat meningkat.

9 FARMAKOLOGI | DISTRIBUSI OBAT DALAM TUBUH


MENURUT SUMBER LAINNYA :

Setelah obat masuk ke dalam sirkulasi darah (sesudah absorpsi), obat tersebut
akan dibawa ke seluruh tubuh oleh aliran darah dan kontak dengan jaringan-
jaringan tubuh di mana distribusi terjadi.

Cairan tubuh total berkisar antara 50-70% dari berat badan. Cairan tubuh dapat
dibagi menjadi :

1. Cairan ekstraseluler yang terdiri atas plasma darah (kira-kira 4,5% dari berat
badan), cairan interstisial(16%) dan limfe (1-2%).

2. Cairan intraseluler (30-40% dari berat badan) merupakan jumlah cairan dalam
seluruh sel-sel tubuh.
3. Cairan transeluler (2,5%) yang meliputi cairan serebrospinalis, intraokuler,
peritoneal, pleura, sinovial dan sekresi alat cerna.
Untuk dapat masuk ke dalam salah satu cairan tubuh ini suatu obat harus
melewati sel-sel epitel, atau dengan kata lain obat harus bisa masuk ke dalam sel-
sel.

Parameter yang menyatakan luasnya distribusi obat.


Vd = volume distribusi

Adalah volume cairan tubuh yang pada akhirnya obat terdistribusi

Vd = Jumlah obat dalam tubuh

Jumlah obat dalam darah

Volume distribusi merupakan parameter penting dalam farmakokinetik. Salah satu


kegunaannya ialah untuk menentukan dosis obat yang diperlukan untuk
memperoleh kadar obat dalam darah yang dikehendaki. Obat-obat dengan Vd kecil
akan menghasilkan kadar dalam darah yang lebih tinggi, sedangkan untuk obat
dengan Vd besar akan menghasilkan kadar dalam darah yang lebih rendah.

10 FARMAKOLOGI | DISTRIBUSI OBAT DALAM TUBUH


Sifat Vd
1. Vd obat bersifat individual
Walaupun obatnya sama, tetapi volume distribusi orang per orang tidak sama,
karena berat badan tidak sama (volume cairan tubuh tidak sama).

2. Vd obat pada umumnya bukan volume sebenarnya dari cairan atau ruangan yang
ditempati oleh obat. Obat tidak hanya terdapat di dalam darah, maka Vd obat bukan
merupakan volume sebenarnya dari cairan yang ditempati oleh obat.

Jika obat hanya terdistribusi dalam darah, maka Vd = volume darah ( volume
plasma)
Di dalam tubuh terdapat material hayati atau biologi yang dapat mengikat obat,
antara lain : protein.
Protein terdapat dalam jaringan dan plasma.
Protein plasma yang berperan penting dalam mengikat obat Albumin.

Albumin merupakan protein sederhana protein yang hanya terdiri asam amino

( Protein kompleks bukan hanya terdiri dari asam amino tapi juga senyawa-
senyawa lain selain asam amino, seperti: lipoprotein, glikoprotein, hemoglobin).

Albumin banyak terdapat di dalam plasma (albumin merupakan proporsi terbesar


dari protein plasma).

Perikatan obat bersifat reversible (dapat balik) dan tidak spesifik ( satu tempat
perikatan dapat dipakai oleh lebih dari satu jenis obat)
Berdasarkan sifat tersebut, maka menunjukkan bahwa obat yang telah terikat oleh
albumin dapat terdesak (pendesakkan =displacement) oleh obat lain yang terikat
pada tempat yang sama, tetapi memiliki afinitas yang lebih besar (afinitas =
kecenderungan obat untuk membentuk senyawa).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengikatan obat :

1. Tergantung pada kadar obat


2. Tergantung pada kadar protein

11 FARMAKOLOGI | DISTRIBUSI OBAT DALAM TUBUH


3. Tergantung pada afinitas obat terhadap protein.
4. Tergantung pada jumlah tempat pengikatan.

Albumin termasuk makromolekul maka satu molekul protein mengikat lebih


Obat termasuk mikromolekul dari satu molekul obat.

Pengikatan obat oleh protein plasma membantu :


1. Absorpsi obat terutama yang terionisasi kuat di dalam saluran cerna
2. Distribusi obat
3. Pengangkutan obat atau senyawa endogen yang tidak larut dalam air.
Protein dalam air berupa koloid tidak mengendap

Protein akan mengikat mengikat obat, sehingga walaupun obat tidak larut air, tetapi
obat akan terbawa oleh protein.

Ex : Hormon kortikosteroid didukung oleh protein, maka dapat berada dalam


darah. Kortikosteroid tidak larut air.

3.3 MEKANISME DISTRIBUSI


Obat setelah diabsorbsi akan tersebar melalui sirkulasi darah keseluruh badan.
Dalam peredarannya, kebanyakan obat-obat didistribusikan melalui membrane badan
dengan cara yang relative lebih mudah dan lebih cepat dibanding dengan eliminasi atau
pengeluaran obat.
Distribusi adalah proses suatu obat yang secara reversible meninggalkan aliran
darah dan masuk ke interstisium (cairan ekstrasel) dan/atau ke sel-sel jaringan.
Pengiriman obat dari plasma ke interstinum terutama tergantung pada aliran darah,
permeabilitas kapiler, derajat ikatan ion obat tersebut dengan protein plasma atau
jaringan dan hidrofobisitas dari obat tersebut.
Distribusi meliputi transport (pengangkutan) molekul obat di dalam tubuh.
Setiap kali obat disuntikan atau diabsorbsi ke dalam aliran darah, obat dibawa oleh
darah dan cairan jaringan ke tempat aksi obat (aksi farmakologi), tempat metabolisme,
dan tempat ekskresi. Kebanyakan obat masuk dan meninggal aliran darah ditingkat
kapiler, melewati celah antara sel yang membentuk dinding kapiler. Distribusi

12 FARMAKOLOGI | DISTRIBUSI OBAT DALAM TUBUH


bergantung besarnya kecukupan sirkulasi darah. Obat di distribusikan cepat kepada
organ yang menerima suplai darah dalam jumlah banyak seperti jantung, hati dan ginjal.
Distribusi ke organ dalam lainnya seperti lemak otot, dan kulit biasanya lebih lambat.
Sebuah faktor penting dalam distribusi obat adalah ikatan protein. Banyak obat
membentuk ikatan komplek dengan plasma.
Protein utama adalah albumin yang bertindak sebagai pembawa obat. Molekul
obat yang berikatan dengan protein plasma adalah farmakologi inaktif karena ukuran
kompleknya (ikatan albumin + obat) yang besar, mencegah obat meninggalkan aliran
darah melalui lubang kecil didinding kapiler dan mencapai tempat aksi, metabolisme,
dan ekskresi. Hanya bagian obat yang bebas atau tidak terikat yang dapat beraksi di
dalam tubuh sel. Sebagai obat yang bebas obat beraksi di dalam sel, terjadi penurunan
tingkat plasma obat karena beberapa ikatan obat terlepas.
Ikatan protein membolehkan bagian dari dosis obat untuk disimpan dan
dilepaskan jika dibutuhkan. Beberapa obat juga disimpan di jaringan otot, lemak, dan
jaringan tubuh lainnya dan dilepaskan sedikit-demi sedikit ketika tingkat plasma obat
menurun. Mekanisme penyimpanan ini memelihara tingkat obat rendah didalam darah
dan mengurangi resiko keracunan. Obat yang diikat kuat oleh plasma protein atau
disimpan dalam jumlah besar di jaringan tubuh memiliki aksi obat yang panjang.
Distribusi obat ke dalam Sistem Saraf Pusat (central nervous system) dibatasi
karena terdapat sawar darah otak (bloodbrain barrier), yang terdiri dari pembuluh
darah kapiler dengan dinding tebal, membatasi pergerakan molekul obat masuk ke
dalam jaringan otak. Sawar (penghalang) ini juga bertindak sebagai membran selektif
permeabel yang menjaga Sistem Saraf Pusat (SSP). Namun hal ini juga menyebabkan
terapi obat untuk gangguan sistem saraf sangat sulit diberikan karena harus melewati
sel dari dinding kapiler dan lebih jarang antara sel. Sebagai hasilnya, hanya obat yang
larut dalam lemak atau memiliki sistem transportasi yang dapat melewati sawar-darah
otak dan mencapai kosentrasi terapeutik di dalam jaringan otak.
Distribusi obat selama kehamilan dan menyususi juga unik. Selama kehamilan,
sebagian besar obat melewati plasenta dan dapat mempengaruhi bayi. Selama laktasi,
banyak obat masuk ke dalam air susu dan dapat mempengaruhi bayi.

13 FARMAKOLOGI | DISTRIBUSI OBAT DALAM TUBUH


Obat disampaikan ke reseptor melalui sistem sirkulasi dan mencapai target
reseptor yang dipengaruhi oleh aliran darah dan konsentrasi jumlah darah di reseptor
tersebut. Konsentrasi obat di suatu sel dipengaruhi oleh kemampuan obat berpenetrasi
ke dalam kapiler endotelium (tergantung ikatan obat dengan protein plasma) dan difusi
melalui membran sel. Distribusi obat di darah, organ dan sel tergantung dosis dan rute
pemberian, lipid solubilin obat, kemampuan berikatan dari protein plasma dan jumlah
aliran darah ke organ dan sel.
Senyawa yang terdapat pada sebuah sediaan obat, selain zat aktif yang
digunakan untuk pengobatan, juga ada senyawa-senyawa yang membantu
proses distribusi zat aktif. Oleh sebab itu tidak dianjurkan kepada pasien atau tenaga
medis merubah bentuk sediaan tanpa berkonsultasi dengan apoteker. Misalnya merubah
tablet menjadi puyer, apabila dalam bentuk puyer ketersediaan hayati obat tersebut
menjadi berkurang.

14 FARMAKOLOGI | DISTRIBUSI OBAT DALAM TUBUH


BAB III
KESIMPULAN

Dari hasil pembahasan yang diperoleh maka dapat disimpulkan :


1. Distribusi obat adalah proses-proses yang berhubungan dengan transfer senyawa obat
dari satu lokasi ke lokasi lain di dalam tubuh.
2. Setelah melalui proses absorpsi, obat akan di distribusikan keseluruh tubuh melalui
sirkulasi darah. Selain tergantung dari aliran darah, distribusi obat juga ditentukan oleh
sifat fisika kimianya.
3. Proses distribusi ini dipengaruhi oleh :
a. Pengikatan protein plasma
b. Kelarutan obat dalam lipid (yaitu, apakah obat tersebut larut dalam jaringan lemak)
c. Sifat-keterikatan obat
d. Aliran darah ke dalam organ dan keadaan sirkulasi
e. Kondisi penyakit
4. Faktor penting yang berhubungan dengan distribusi obat :
a. Perfusi darah melalui jaringan
b. Kadar gradien, pH dan ikatan zat dengan makromolekul
c. Partisi ke dalam lemak
d. Transfer aktif
e. Sawar
f. Ikatan obat dengan protein plasma
5. Mekanisme distribusi meliputi transport (pengangkutan) molekul obat di dalam tubuh.
Setiap kali obat disuntikan atau diabsorbsi ke dalam aliran darah, obat di bawa oleh darah
dan cairan jaringan ke tempat aksi obat (aksi farmakologi), tempat metabolisme, dan
tempat ekskresi. Kebanyakan obat masuk dan meninggal aliran darah di tingkat kapiler,
melewati celah antara sel yang membentuk dinding kapiler. Distribusi bergantung
besarnya kecukupan sirkulasi darah. Obat di distribusikan cepat kepada organ yang
menerima suplai darah dalam jumlah banyak seperti jantung, hati dan ginjal. Distribusi ke
organ dalam lainnya seperti lemak otot, dan kulit biasanya lebih lambat. Sebuah faktor

15 FARMAKOLOGI | DISTRIBUSI OBAT DALAM TUBUH


penting dalam distribusi obat adalah ikatan protein. Banyak obat membentuk ikatan
komplek dengan plasma.

16 FARMAKOLOGI | DISTRIBUSI OBAT DALAM TUBUH


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Farmakologi. BPK Penabur. Jakarta


Ernest Mutschler. Dinamika Obat edisi V. Penerbit ITB. 1999.

Ganiswara, G, Sulistia. Farmakologi dan Terapi edisi IV. Jakarta : Bagian Farmakologi Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 1995. hal : 2-12.

Mutschler, E., 1985, Dinamika Obat Farmakologi dan Toksikologi, 88-93, Penerbit ITB,
Bandung

Sulistia, dkk, 2007, Famakologi dan Terapi, 862-872, UI Press, Jakarta

17 FARMAKOLOGI | DISTRIBUSI OBAT DALAM TUBUH

Anda mungkin juga menyukai