0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan27 halaman

Alur Produksi Vaksin BCG di Bio Farma

Bab ini menjelaskan aliran bahan untuk produksi vaksin BCG kering di PT Bio Farma, mulai dari perencanaan dan pengadaan bahan baku, proses produksi, hingga penyimpanan produk jadi. Tahapan utama meliputi pemeriksaan kualitas bahan baku, penyimpanan bahan di gudang sesuai statusnya (karantina, lolos uji, ditolak), serta pengeluaran menggunakan sistem First In First Out.

Diunggah oleh

Nur Insani J
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan27 halaman

Alur Produksi Vaksin BCG di Bio Farma

Bab ini menjelaskan aliran bahan untuk produksi vaksin BCG kering di PT Bio Farma, mulai dari perencanaan dan pengadaan bahan baku, proses produksi, hingga penyimpanan produk jadi. Tahapan utama meliputi pemeriksaan kualitas bahan baku, penyimpanan bahan di gudang sesuai statusnya (karantina, lolos uji, ditolak), serta pengeluaran menggunakan sistem First In First Out.

Diunggah oleh

Nur Insani J
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB III

GAMBARAN KHUSUS

FLOW MATERIAL VAKSIN BCG KERING DI PT. BIO FARMA

(PERSERO)

III.1 Uraian Vaksin

Vaksin dari kata vaccinia, adalah bahan antigenik yang

digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu

penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi

oleh organisme alami. Vaksin dapat berupa galur virus atau bakteri

yang telah dilemahkan sehingga tidak menimbulkan penyakit. Vaksin

dapat juga berupa organisme mati atau hasil-hasil pemurniannya

(protein, peptida, partikel, serta serupa virus). Vaksin akan

mempersiapkan sistem kekebalan manusia atau hewan untuk

bertahan terhadap serangan patogen tertentu, terutama bakteri, virus,

atau toksin. Vaksin juga bisa membantu sistem kekebalan untuk

melawan sel-sel degeneratif (kanker) (8).

Jenis-jenis vaksin:

1. Vaksin yang dibuat dari bakteri secara utuh :

a. Bakteri yang hidup

Bakteri dari bibit (strain) tertentu dikembangbiakkan secara

murni, tetapi sudah tidak membahayakan (attenuated) kepada

orang yang divaksinasi. Attenuated vaksin adalah vaksin yang

disiapkan dari mikroorganisme atau virus hidup yang dibiakkan

42
43

di bawah kondisi yang tidak sesuai agar kehilangan

virulensinya tetapi tetap mempunyai kemampuan untuk

menginduksi kekebalan, contohnya vaksin BCG dan vaksin

Sampar.

b. Bakteri yang dimatikan

Bakteri dari bibit (strain) tertentu dikembangbiakkan secara

murni kemudian dimatikan, contohnya vaksin pertusis, kolera,

tifus, dan vaksin paratifus.

2. Vaksin yang dibuat dari virus.

a. Virus yang hidup

Virus dari bibit (strain) tertentu dikembangbiakkan secara

murni, tetapi tidak membahayakan orang yang divaksinasi,

vaksin polio, campak dan vaksin cacar.

b. Virus yang dimatikan, contohnya vaksin rabies

3. Vaksin yang dibuat dari produk mikroorganisme yaitu :

a. Produk dari bakteri, yaitu toksin (racun) yang dihasilkan oleh

bakteri dihilangkan sifat toksisitasnya (racunnya), sehingga

tidak membahayakan orang yang menerimanya.

b. Vaksin yang dibuat dari toksin yang dilemahkan ini disebut

toksoid, contoh, tetanus toksoid, difteri toksoid.

c. Vaksin yang dibuat dari produk dari virus, terdiri atas protein

yang terdapat pada kulit virus dan bersifat antigenik (HbsAg),

contohnya vaksin hepatitis B (9).


44

III.2 Uraian Vaksin BCG

Vaksin BCG merupakan suatu vaksin yang mengandung

kultur strain Mycobacterium bovis dan digunakan sebagai agen

imunisasi aktif terhadap tuberculosis (TBC) dan telah digunakan

sejak tahun 1921. Walaupun telah digunakan sejak lama, akan tetapi

efikasinya menunjukkan hasil yang bervariasi yaitu antara 0 - 80% di

seluruh dunia. Vaksin BCG secara signifikan mengurangi resiko

terjadinya active tuberculosis dan kematian. Efikasi dari vaksin

tergantung pada beberapa faktor termasuk diantaranya umur, cara

dan teknik vaksinasi, jalur vaksinasi, dan beberapa dipengaruhi oleh

faktor lingkungan.

Vaksin BCG sebaiknya digunakan pada bayi dan anak-anak

yang hasil uji tuberkulinnya negatif dan yang berada dalam

lingkungan orang dewasa dengan kondisi terinfeksi TBC dan tidak

menerima terapi atau menerima terapi tetapi resisten terhadap

isoniazid atau rifampin. Selain itu, vaksin BCG juga harus diberikan

kepada tenaga kesehatan yang bekerja di lingkungan dengan pasien

infeksi TBC tinggi. Sebelum dilakukan pemberian vaksin BCG (selain

bayi sampai dengan usia 3 bulan) setiap pasien harus terlebih dahulu

menjalani skin test. Vaksin BCG tidak diindikasikan untuk pasien

yang hasil uji tuberkulinnya positif atau telah menderita active

tuberculosis, karena pemberian vaksin BCG tidak memiliki efek untuk

pasien yang telah terinfeksi TBC (10).


45

III.3 Flow Material Vaksin BCG Kering

Flow material Vaksin BCG kering dimulai dari perencanaan dan

pengadaan bahan baku yang akan digunakan dalam proses produksi

hingga penyimpanan produk jadi. Secara umum, terbagi menjadi 3

tahap, yaitu sebelum proses produksi, proses produksi dan setelah

proses produksi.

III.3.1 Sebelum Proses Produksi

1. Perencanaan dan Pengadaan Bahan

Komponen terbesar dalam pembiayaan produksi pada

industri farmasi adalah biaya pengadaan barang, termasuk di

dalamnya adalah pengadaan bahan awal (starting material) yang

terdiri dari bahan baku serta bahan pengemas. Bagian yang

berperan dalam perencanaan dan pengadaan bahan-bahan yang

dibutuhkan untuk keperluan produksi yaitu PPIC departemen

berdasarkan forecast marketing dan mempertimbangkan

kapasitas produksi. Bagian PPIC bertugas menghubungkan

antara bagian produksi dengan bagian marketing. Pengadaan

dilakukan berdasarkan pemesanan dari bagian produksi dan

marketing, setelah itu bagian PPIC membuat nota pemesanan

bahan dimana pengadaan bahan ini harus terlebih dahulu

mendapat persetujuan dari manajer.

Salah satu faktor penting dalam perencanaan dan

pengadaan bahan yaitu pemilihan supplier. Oleh sebab itu PT Bio


46

Farma (Persero) memilki beberapa dasar pertimbangan dalam

pemilihan supplier, diantaranya sebagai berikut :

a. Kualitas bahan yang dipesan. Hal ini dapat diketahui dari

Certificate of Analysis (CoA) yang disertakan pada pembelian

dan sampel yang dikirim pada PT Bio Farma (Persero).

b. Kontinuitas atau kesanggupan supplier dalam menyuplai

barang secara berkelanjutan.

c. Delivery time (yaitu waktu dari supplier mengirim barang

sampai ke tempat tujuan)

d. Layanan purna jual, seperti adanya tanggapan atas keluhan

yang diajukan perusahaan.

e. Kemudahan dalam melakukan pembayaran.

2. Bahan baku

Dalam proses produksi suatu sediaan dari industri farmasi

pastinya dibutuhkan bahan baku. Bahan baku adalah bahan aktif,

bahan pembantu, bahan pengemas, serta seluruh komponen

yang digunakan untuk menghasilkan barang-barang atau produk

akhir. Pengelolaan raw material ini harus dilakukan dengan baik,

termasuk perencanaan organisasi dan kontrol, sehingga flow

material mulai dari pembelian/purchasing, inventory stock sampai

distribusi produk akhir, dapat efisien dan efektif. Bahan awal

berupa bahan baku dan bahan pengemas yang tersedia untuk


47

proses produksi harus selalu tersedia dan berkualitas dengan

persyaratan harus telah direlease oleh QA.

Pemeriksaan bahan baku dilakukan untuk menjamin mutu

bahan baku tersebut, agar bahan baku yang digunakan sesuai

dengan spesifikasi yang dipersyaratkan. Bahan baku yang baru

dikirim oleh supplier segera dilakukan pemeriksaan untuk

mengetahui apakah bahan baku tersebut memenuhi spesifikasi

yang telah dipersyaratkan sebagaimana tercantum dalam

Certificate of Analysis.

Pemeriksaan bahan baku vaksin (produk steril) meliputi :

a. Pelaksanaan on the spot sesuai spesifikasi.

b. Kesesuaian: label, nama suplier, kondisi wadah, organoleptik

(warna, bau, rasa).

c. Analisis: kualitatif, kuantitatif (kadar, potensi), kemurnian

bahan.

3. Penyimpanan Bahan

Gudang merupakan sarana pendukung dalam kegiatan

produksi di industri farmasi yang berfungsi untuk menyimpan

bahan baku, bahan kemas, dan obat jadi yang belum

didistribusikan. Selain untuk penyimpanan gudang juga berfungsi

untuk melindungi bahan dari pengaruh luar dan melindungi obat

dari kerusakan. Bahan - bahan untuk kerperluan industri disimpan

di gudang dengan tujuan untuk memudahkan alur proses


48

produksi. PT Bio Farma (Persero) memiliki gudang khusus untuk

menyimpan bahan aktif, gudang bahan kemas, dan produk jadi

yang terletak pada gudang yang berbeda.

Terdapat tiga area pada masing - masing gudang bahan

baku, bahan kemas dan produk jadi yaitu :

a. Quarantine area, yaitu area tempat penyimpanan dengan

status karantina dimana barang baru diterima dari supplier dan

dikarantina sambil menunggu hasil analisa dari bagian QC dan

direlease oleh QA. Barang dalam status ini diberi label

berwarna kuning.

b. Release area, yaitu area tempat penyimpanan dengan status

release adalah barang sudah dianalisa oleh QC dan diberi

label passed berwarna hijau.

c. Rejected area, yaitu area tempat peyimpanan dengan status

reject adalah barang yang sudah dianalisa oleh QC dan

hasilnya tidak memenuhi spesifikasi sehingga ditolak. Barang

dalam status ini diberi label rejected yang berwarna merah.

Sistem pengeluaran barang dari gudang mengikuti sistem

First In First Out (FIFO), dimana barang yang lebih dulu datang

akan lebih dulu dikeluarkan atau dipakai. Pada beberapa kasus

dipakai sistem First Expired First Out (FEFO), dimana barang

yang waktu kadaluarsanya paling dekat yang lebih dulu


49

dikeluarkan atau dipakai. Pemeriksaan ulang perlu dilakukan

untuk bahan-bahan yang disimpan lama.

Bagian PPIC harus selalu mengontrol jumlah persediaan

bahan yang ada di gudang. Jika terdapat bahan yang stoknya

tinggal sedikit maka PPIC mengajukan Request Order (RO) ke

bagian purchasing untuk membeli sejumlah bahan tersebut.

Bagian purchasing akan mempertimbangkan usulan tersebut,

melakukan survey pemilihan supplier dan akan mengeluarkan

Purchasing Order (PO) ke supplier tersebut jika menyetujui untuk

membeli bahan tersebut.

Gudang bahan kemas digunakan menyimpan bahan

pengemas primer, pengemas sekunder, dan bahan-bahan yang

berkaitan dengan proses pengemasan seperti brosur, label,

etiket, dan lain-lain. Termometer ruang dipasang di ruang dingin

dan sejuk agar suhu ruangan selalu dapat dipantau.

Barang-barang yang sudah selesai dikemas dan sudah

dinyatakan lulus oleh QC disimpan di gudang obat jadi dan siap

untuk didstribusikan. Gudang obat jadi merupakan tempat

penyimpanan produk yang siap dikirim ke distributor. Pengeluaran

barang dari gudang obat jadi berdasarkan permintaan dari

marketing.
50

4. Ruang produksi

Pembuatan produk steril memerlukan 3 kualitas ruangan yang

berbeda, yaitu:

a. Ruang ganti pakaian. Pakaian yang dipakai dari rumah tidak

boleh dibawa ke daerah bersih. Karyawan yang masuk ke

ruang ganti harus sudah memakai pakaian pelindung kerja

standar.

b. Ruang bersih. Ruang persiapan komponen dan pembuatan

larutan serta ruang untuk produk yang akan disterilisasi akhir.

c. Ruang steril. Ruangan ini digunakan untuk kegiatan steril.

Petugas yang akan masuk keruangan ini harus melalui ruang

penyangga udara atau dibawah aliran udara laminar.

Daerah pengolahan produk steril harus dipisahkan dari

daerah produksi lain serta dirancang dan dibangun secara

khusus. Ruangan harus bebas debu, dialiri udara yang melewati

saringan bakteri. Saringan tersebut harus diperiksa (diverifikasi)

pada saat pemasangan serta dilakukan pemeriksaan secara

berkala.

Daerah produksi untuk pembuatan sediaan steril secara

CPOB 2012 yaitu :

1) Kelas A

Zona untuk kegiatan yang berisiko tinggi, misalnya zona

pengisian, wadah tutup karet, ampul dan ampul terbuka,


51

penyambungan secara aseptik. Umumnya kondisi ini dicapai

dengan memasang unit aliran udara Laminar Air Flow (LAF) di

tempat kerja. Sistem udara laminar hendaklah mengalirkan

udara dengan kecepatan merata berkisar 0,36 0,54 m/detik

(nilai acuan) pada posisi kerja dalam ruang bersih terbuka.

Sistem LAF harus memberikan kecepatan udara yang

homogen sekitar 0,45 m/detik 20 % (nilai rujukan) pada

posisi kerja.

2) Kelas B

Untuk pembuatan dan pengisian secara aseptik, kelas ini

adalah lingkungan latar belakang untuk zona kelas A.

3) Kelas C dan D

Area bersih untuk melakukan tahap pembuatan produk

steril dengan tingkat risiko lebih rendah.

Tabel 1. Tabel Jumlah Partikulat di Udara untuk Masing-Masing Daerah (10)


Non-operasional Operasional
Jumlah maksimum partikel /m3 yang
Kelas diperbolehkan untuk kelas setara atau lebih tinggi
dari
0,5 m 5m 0,5 m 5m
A 3520 20 3520 20
B 3520 29 352.000 2900
C 352.000 2900 3.520.000 29.000
Tidak Tidak
D 3.520.000 29.000
ditetapkan ditetapkan

Suhu udara di ruang bersih dan ruang steril hendaknya

dipelihara pada 16o-25C dan kelembaban relatif pada 45%-55%.


52

Khusus pada ruangan produksi vaksin suhu di atur antara 2 o-8oC.

Menggunakan penyaring udara HEPA 99,997% free particulat

dengan pertukaran udara > 120 kali per jam.

Tekanan udara di dalam ruang pengolahan produk steril

harus lebih tinggi dibanding dengan ruangan sebelahnya (ruang

koridor) yang dibuktikan dengan perbedaan tekanan yang

ditunjukkan oleh alat magnehelic dan dicatat secara teratur.

Jalan masuk dan keluar bagi petugas ke dan dari ruang

steril hanya melalui ruang ganti pakaian kecuali dalam keadaan

darurat. Lokasi ruang ganti pakaian hendaklah langsung

berhubungan dengan daerah steril yang akan dilayani.

Ruang ganti pakaian hendaklah dilengkapi dengan ruang

penyangga udara yang terletak diantara ruang ganti pakaian dan

ruang steril dan dialiri udara tersaring dengan tekanan positif yang

lebih rendah daripada ruang steril tetapi lebih tinggi daripada

ruangan lain yang berhubungan langsung.

Ruang ganti pakaian hendaknya dilengkapi dengan

manometer atau alat lain yang tepat yang terus menerus

menunjuk perbedaan tekanan udara di ruang udara bersangkutan

dengan ruang bertetangga.

Ruang ganti pakaian dan ruang penyangga hendaklah

dibangun sedemikian rupa untuk dapat memisahkan penggantian

pakaian yang berbeda tingkat kebersihannya. Untuk itu ruang


53

ganti pakaian hendaknya terletak sebelum ruang penyangga

udara dan terdiri dari ruangan terpisah yang memisahkan daerah

ruangan kerja biasa dan daerah pakaian steril.

Pintu antara ruang steril dengan ruang penyangga

hendaklah dilengkapi dengan suatu sistem antara lain sistem

penguncian elektro yang tidak memungkinkan dua pintu dibuka

dalam waktu yang sama.

Lampu UV yang efektif (panjang gelombang 253,7 nm)

hendaklah dipasang dalam ruang ganti pakaian steril atau lemari

penyimpanan komponen pakaian steril.

Ruang ganti pakaian steril hendaklah dilengkapi dengan

bak pencuci tangan seperti di kamar operasi dan alat pengering

tangan otomatis.

5. Peralatan

Peralatan yang digunakan dalam industri mempunyai

rancang bangun yang tepat sehingga dapat menjamin keamanan,

mutu, dan keseragaman produk dari batch ke batch. Peralatan

yang bersentuhan dengan bahan awal, produk antara, atau

produk jadi tidak boleh menimbulkan reaksi yang mempengaruhi

identitas, mutu, atau kemurnian. Peralatan ditempatkan

sedemikian rupa untuk memperkecil kemungkinan terjadinya

pencemaran silang antar bahan di area yang sama.


54

Peralatan ditempatkan pada jarak yang cukup satu sama

lain untuk menghindari kesesakan serta memastikan tidak

terjadinya kekeliruan dan campur baur produk. Peralatan setelah

digunakan hendaklah dibersihkan baik bagian luar maupun

bagian dalam sesuai dengan prosedur, serta dijaga dan disimpan

dalam kondisi bersih dan diberi tanda. Pembersihan dengan cara

vakum / basah lebih dianjurkan. Udara bertekanan hendaklah

digunakan dengan hati - hati dan sedapat mungkin dihindari

karena risiko pencemaran produk. Validasi peralatan senantiasa

dilakukan secara teratur.

6. Air untuk Produksi / Water System

Air merupakan unsur penting dalam pembuatan bahan

obat maupun pembuatan obat itu sendiri. Air yang digunakan

dalam industri farmasi harus memenuhi persyaratan - persyaratan

tertentu sehingga dapat digunakan dalam proses produksi obat.

Pengolahan air untuk injeksi berasal dari purified water system,

yang selanjutnya dilakukan destilasi (penyulingan) dengan

terlebih dahulu melewati lampu UV untuk membunuh bakteri.

Sesuai dengan persyaratan CPOB 2012, proses destilasi

menggunakan enam kolom destilasi, artinya air yang digunakan

untuk produk-produk steril tersebut mengalami enam kali proses

destilasi. Dengan unit ini diperoleh air untuk injeksi yang

memenuhi pesyaratan Water For Injection (WFI). Selanjutnya WFI


55

yang dihasilkan kemudian disimpan dalam storage tank pada

suhu 70o-80C sebelum didistribusikan untuk produksi produk

steril.

III.3.2 Proses Produksi

1. Proses Produksi Vaksin BCG

Vaksin BCG mengandung Mycobacterium bovis hidup

yang sudah dilemahkan dari strain Paris No. 1173-P2. Benih

tersebut dibiakkan dalam medium kentang yang kemudian benih

ini dipindahkan ke dalam medium cair. Tahap selanjutnya yaitu

proses filtrasi menggunakan Birkhaug Apparatus sehingga

diperoleh massa biakan yang semi kering. Kemudian dilakukan

proses homogenisasi yang dilanjutkan dengan pengisian ampul.

Pada pembuatan vaksin BCG terdapat tahapan khusus yaitu

proses beku-kering. Setelah melalui proses ini, ampul tadi

dimasukkan dalam kemasan untuk dilakukan penyegelan hingga

diperoleh produk akhir (3).

Untuk menghasilkan vaksin BCG yang aman, bermutu,

dan berkualitas, dilakukan proses pengujian pada setiap tahap

pembuatan vaksin, meliputi uji kesterilan, uji keamanan dan

kestabilan, serta uji identifikasi. Setiap tahap dalam proses

pengujian dilakukan oleh QC dan QA.


56

Medium Cairan Penyaringan dengan


Kentang Souton Birkhaug Apparatus
Souton

Menimbang kultur
Bibit strain Paris In Process Control semi kering
1173 P2
- Uji Sterilitas
- Uji tembus Proses
cahaya homogenisasi
- Uji viabilitas &
stabilitas
Produk - Uji identitas Proses
jadi pengisian

Proses Pindahkan ampul ke Proses Freeze


penyegelan holder ampul drying

Gambar 1. Proses Pembuatan Vaksin BCG

2. Benih Virus

Produksi vaksin dimulai dengan sejumlah kecil virus

tertentu (atau disebut benih). Virus harus bebas dari bahan

pencemar, baik berupa virus yang serupa atau variasi dari jenis

virus yang sama. Selain itu, benih harus disimpan dalam kondisi

ideal, biasanya beku, yang mencegah virus menjadi lebih kuat

atau lebih lemah dari yang diinginkan. Benih disimpan dalam gelas

kecil atau wadah plastik. Jumlah yang kecil hanya 5 atau 10 cm 2,

mengandung ribuan hingga jutaan virus, nantinya dapat dibuat

menjadi ratusan liter vaksin. Freezer dipertahankan pada suhu

tertentu. Grafik di luar freezer akan mencatat secara terus

menerus suhu freezer. Sensor terhubung dengan alarm yang

dapat didengar atau alarm komputer yang akan menyala jika suhu

freezer berada di luar suhu yang seharusnya (4).


57

3. Pertumbuhan Virus

Setelah mencairkan dan memanaskan benih virus dalam

kondisi tertentu secara hati-hati (misalnya, pada suhu kamar atau

dalam bak air), sejumlah kecil sel virus ditempatkan ke dalam

pabrik sel, sebuah mesin kecil yang telah dilengkapi sebuah media

pertumbuhan yang tepat sehingga sel memungkinkan virus untuk

berkembang biak.

Setiap jenis virus tumbuh terbaik di media tertentu, namun

semua media umumnya mengandung protein yang berasal dari

mamalia, misalnya protein murni dari darah sapi. Media juga

mengandung protein lain dan senyawa organik yang mendorong

reproduksi sel virus. Penyediaan media yang benar, pada suhu

yang tepat, dan dengan jumlah waktu yang telah ditetapkan, virus

akan bertambah banyak.

Selain suhu, faktor-faktor lain harus dipantau adalah pH. pH

adalah ukuran keasaman atau kebasaan, diukur pada skala dari 0

sampai 14, dan virus harus disimpan pada pH yang tepat dalam

pabrik sel. Air tawar yang tidak asam atau basa (netral) memiliki

pH 7. Meskipun wadah di mana sel-sel tumbuh tidak terlalu besar

(mungkin ukuran pot 4-8 liter), terdapat sejumlah katup, tabung,

dan sensor yang terhubung dengannya. Sensor memantau pH dan

suhu, dan ada berbagai koneksi untuk menambahkan media atau

bahan kimia seperti oksigen untuk mempertahankan pH, tempat


58

untuk mengambil sampel untuk analisis mikroskopik, dan

pengaturan steril untuk menambahkan komponen ke pabrik sel

dan mengambil produk setengah jadi ketika siap.

Virus dari pabrik sel ini kemudian dipisahkan dari media,

dan ditempatkan dalam media kedua untuk penumbuhan

tambahan. Metode awal yang dipakai 40 atau 50 tahun yang lalu

yaitu menggunakan botol untuk menyimpan campuran, dan

pertumbuhan yang dihasilkan berupa satu lapis virus di

permukaan media. Peneliti kemudian menemukan bahwa jika

botol itu berubah posisi saat virus tumbuh, virus bisa tetap

dihasilkan karena lapisan virus tumbuh pada semua permukaan

dalam botol.

Sebuah penemuan penting pada sekitar tahun 1940 adalah

bahwa pertumbuhan sel sangat dirangsang oleh penambahan

enzim pada medium, yang paling umum digunakan yaitu tripsin.

Enzim adalah protein yang juga berfungsi sebagai katalis dalam

memberi makan dan pertumbuhan sel.

Dalam praktek saat ini, botol tidak digunakan sama sekali.

Virus yang sedang tumbuh disimpan dalam wadah yang lebih

besar namun mirip dengan pabrik sel, dan dicampur dengan

partikel mikroskopis sehingga virus dapat menempelkan diri.

Penggunaannya memberi virus daerah yang lebih besar untuk

menempelkan diri, dan akibatnya, pertumbuhan virus menjadi jauh


59

lebih besar. Seperti dalam pabrik sel, suhu dan pH dikontrol

secara ketat. Waktu yang dihabiskan virus untuk tumbuh

bervariasi sesuai dengan jenis virus yang diproduksi, dan hal itu

sebuah rahasia yang dijaga ketat oleh pabrik (4).

4. Pemisahan Virus

Ketika sudah tercapai jumlah virus yang cukup banyak,

virus dipisahkan dari partikel mikroskopis tersebut dalam satu atau

beberapa cara. Campuran ini kemudian dialirkan melalui sebuah

filter dengan bukaan yang cukup besar yang memungkinkan virus

untuk melewatinya, namun cukup kecil untuk mencegah partikel

mikroskopis dapat lewat. Campuran ini disentrifugasi beberapa kali

untuk memisahkan virus dari partikel mikroskopis dalam wadah

sehingga virus kemudian dapat dipisahkan. Alternatif lain yaitu

dengan mengaliri campuran partikel mikroskopis dengan media

lain sehingga mencuci partikel mikroskopis dari virus (4).

5. Pencampuran Produk

Produk harus dicampur pada kondisi lingkungan tertentu.

Hal terpenting dalam proses pencampuran ini adalah ketelitian

dalam proses pencampuran. Urutan pencampuran sangat

berdampak terhadap produk hasil yang diinginkan. Perhatian

khusus harus diberikan untuk mencapai dan menjaga

homogenitas larutan, dengan cara menjaga suhu larutan.


60

6. Pengisian

Pengisian larutan steril, dilakukan secara otomatis dengan mesin

pengisi dan penyegelan. Mesin pengisi harus didesain untuk dapat

memberikan ketepatan volume. Ketepatan volume dapat

dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kecepatan pengisian

dan keseragaman ukuran ampul. Hal lain yang perlu diperhatikan

adalah jangan sampai ujung jarum pengisi yang biasanya terbuat

dari stainless steel mengenai mulut ampul, karena dapat

menyebabkan terjadi serpihan kaca yang dapat masuk ke dalam

ampul yang sedang diisi. Selain itu, tekanan pada saat pengisian

juga perlu mendapat perhatian, karena ampul tidak didesain untuk

menahan tekanan tinggi.

7. Proses Freeze Drying

Setelah larutan dimasukkan ke dalam ampul, maka

dilakukan proses liofilisasi, yaitu proses pengeringan beku

sehingga sediaan tersebut berubah menjadi bentuk kering atau

serbuk dan siap untuk disegel. Vaksin BCG dibuat bentuk beku

kering karena berdasarkan berbagai pengujian dan penelitian,

ternyata viability (kemampuan bertahan hidup) dari Mycobacterium

bovis lebih bagus dalam keadaan kering dibanding dalam bentuk

cairnya. Selain itu, pada saat dalam keadaan beku, bakteri

tersebut tidak mati, melainkan dalam kondisi dorman atau tidur.


61

8. Penyegelan

Penyegelan ampul yang telah diisi, biasanya dilakukan

segera setelah diisi dengan menggunakan mesin filling and

sealing otomatis dalam satu rangkaian. Penyegelan ampul

dilakukan dengan melelehkan bagian gelas dari leher ampul

hingga membentuk segel penutup (tip-seal) atau segel tarik (pull-

seal). Penyegelan ampul dilakukan dengan menggunakan nyala

api gas oksigen (gas oxygen flame) temperatur tinggi. Penyegelan

harus dilakukan dengan hati-hati dan dijaga untuk mencegah

distorsi segel tersebut.

9. Pengemasan

Bagian pengemasan baik primer maupun sekunder di PT

Bio Farma (Persero) bertanggungjawab kepada manager

produksi. Bagian pengemasan bertugas untuk melakukan

pengemasan terhadap produk obat jadi yang telah selesai

diproduksi dan dinyatakan release untuk dikemas oleh QC. Proses

pengemasan bertujuan untuk melindungi produk dari pengaruh

luar seperti benturan fisik, debu, cahaya matahari, kelembaban,

memberikan informasi yang berkaitan dengan sediaaan seperti

nama obat, indikasi, aturan pemakaian, komposisi, tanggal

daluwarsa, serta tujuan estetika.

Bagian pengemasan di PT Bio Farma (Persero) dibagi

menjadi dua unit yaitu:


62

a. Pengemasan Primer

Pengemasan primer dilakukan di ruang produksi yang meliputi

filling sediaan liquida. Untuk menjamin mutu hasil

pengemasan, maka selalu dilakukan In Process Control (IPC).

IPC untuk pengemasan primer meliputi pemeriksaan isi setiap

kemasan (volume kontrol), dan uji kebocoran wadah.

b. Pengemasan Sekunder

Setelah dilakukan pengemasan primer maka dilakukan

pengemasan sekunder. Produk yang telah melewati

pengemas primer akan dimasukkan ke dalam dus/box lalu ke

dalam karton. Pengemasan sekunder dan tersier meliputi :

- Coding, yaitu pemberian nomor batch dan expired date

pada etiket dan dos

- Pemberian brosur/insert

- Memasukkan hasil pengemasan kedalam box dan master

box.

Supervisor IPC Pengemasan melakukan pemeriksaan

pengemasan sekunder secara manual dan diperiksa selama

proses pengemasan meliputi pemeriksaan penandaan (nomor

batch, expired date, nama obat,brosur), kebenaran jumlah atau isi

dus, leaflet atau brosur, dan estetika.

Setelah tahap pengemasan sekunder maka dilakukan final

inspection oleh bagian QC meliputi :


63

a. Penyiapan label

Kebenaran label, hasil cetakan/printing nomor batch,

manufacturing date dan expire date

b. Pelipatan insert

Kebenaran insert, insert cacat/rusak, kerapian lipatan

c. Printing dus dan master box

Kebenaran dus dan master box, kebenaran penandaan nomor

batch, manufacturing date dan expire date.

d. Pengepakan

Kebenaran isi, kebenaran dus dan master box, kebenaran

penandaan, kebenaran insert.

Setelah pengemasan selesai, selanjutnya dilakukan

penimbangan master box sesuai dengan bobot yang ditentukan.

Master box yang sudah ditimbang ditempatkan diruang karantina.

Setelah mendapat persetujuan dari bagian QA, maka master box

segera dipindahkan ke gudang obat jadi. Pada tiap jalur

pengemasan terdapat papan yang menunjukkan nama dan nomor

bets produk yang sedang dikemas. Jumlah produk yang diperoleh

dan sisa kemasan yang tidak terpakai didokumentasikan dalam

laporan harian kemas sekunder.

III.3.3 Setelah Proses Produksi

Produk jadi vaksin disimpan pada suhu 2-8C. Vaksin

memerlukan cold chain khusus dan harus dilindungi dari


64

kemungkinan putusnya aliran listrik. Bahan dan obat diangkut

dengan cara sedemikian rupa sehingga tidak merusak keutuhannya

dan kondisi penyimpanannya terjaga.

Pengiriman dan pengangkutan bahan atau obat dilaksanakan

hanya setelah ada permintaan pengiriman. Wadah luar yang akan

dikirim harus memberikan perlindungan yang cukup terhadap

seluruh pengaruh luar serta diberi label yang jelas dan tidak

terhapuskan. Semua catatan hendaknya mudah diakses dan

tersedia bila diminta.

Catatan pengiriman hendaknya disimpan yang menyatakan

minimal tanggal pengiriman, nama dan alamat pelanggan, uraian

tentang produk misalnya nama, bentuk dan kekuatan sediaan (bila

perlu), nomor bets dan jumlah serta kondisi pengangkutan dan

penyimpanan.

Semua penyerahan ke area penyimpanan, termasuk bahan

kembalian didokumentasikan dengan baik. Tiap bets bahan awal,

bahan pengemas, produk antara, produk ruahan dan produk jadi

yang disimpan di area gudang harus mempunyai kartu stok. Kartu

stok tersebut secara periodik di rekonsiliasi dan bila ditemukan

perbedaan harus dicatat dan diberikan alasan bila jumlah yang

disetujui untuk pemakaian berbeda dari jumlah pada saat

penerimaan atau pengiriman.


65

Untuk menunjang manajemen perusahaan di PT. Bio Farma

maka dibentuklah bagian gudang persediaan barang yang bertugas

mencatat, mengaplikasikan dan melaporkan seluruh transaksi

persediaan barang untuk keperluan perhitungan harga pokok

produksi dan pengawasan biaya.

III.4 Uraian Vaksin BCG Kering

1. Deskripsi

Vaksin BCG merupakan vaksin beku kering yang mengandung

Mycobacterium bovis hidup yang dilemahkan (Bacillus

Calmette Guerin), strain Paris.

2. Komposisi

Tiap ampul vaksin mengandung :

Bacillus Calmette Guerin hidup 1,5 mg

Pelarut mengandung :

Natrium klorida 0,9 %

3. Indikasi

Vaksin digunakan untuk pencegahan terhadap penyakit

tuberkulosa.

4. Cara Kerja Obat

Merangsang tubuh membentuk antibodi terhadap tuberkulosa.

5. Posologi

a) Vaksin yang telah dilarutkan diberikan secara intradermal,

sebanyak 0,05 mL untuk bayi dibawah usia 1 tahun. Kulit tidak


66

boleh dibersihkan dengan antiseptik. Vaksin dilarutkan dengan

menambahkan seluruh isi ampul pelarut kedalam ampul

vaksin. Seluruh pelet harus terlarut. Sebelum pemberian

suntikan, vaksin yang telah dilarutkan harus diamati secara

visual. Jika tampak benda asing maka vaksin harus dibuang.

b) Gunakan syringe dan jarum steril untuk setiap penyuntikan.

Vaksin BCG sensitif terhadap sinar ultraviolet, maka harus

dilindungi dari sinar matahari.

c) Jika setelah dilarutkan tidak segera digunakan maka disimpan

pada suhu antara +2C s/d +8C, selama maksimal 3 jam.

d) Vaksin hanya boleh dilarutkan dengan pelarut yang telah

disediakan oleh PT. Bio Farma. Jangan gunakan pelarut dari

jenis vaksin lain maupun produsen lain. Air untuk injeksi

juga tidak bisa digunakan. Menggunakan pelarut yang tidak

tepat dapat menyebabkan kerusakan pada vaksin dan reaksi

serius pada pasien.

e) Untuk proteksi maksimum vaksin BCG diberikan rutin kepada

semua bayi segera setelah lahir. Tidak ada bukti perihal

manfaat vaksinasi BCG yang diulang. Vaksin ini dapat

diberikan bersama vaksin DTP, Campak, Polio (OPV & IPV),

Hepatitis B, Haemophilus influenzae tipe b, yellow fever, pada

lokasi penyuntikan yang berbeda, dan suplemen vitamin A.

6. Efek Samping
67

Reaksi lokal yang timbul setelah imunisasi BCG adalah

wajar. Suatu pembengkakan kecil, merah, lembut biasanya timbul

pada daerah bekas suntikan, yang kemudian berubah menjadi

vesikel kecil, dan kemudian menjadi sebuah ulkus dalam waktu 2 -

4 minggu. Reaksi ini biasanya hilang dalam 2 5 bulan, dan

umumnya pada anak-anak akan meninggalkan bekas berupa

jaringan parut dengan diameter 2 10 mm.

Jarang sekali nodus dan ulkus tetap bertahan. Kadang-

kadang pembesaran kelenjar getah bening pada daerah ketiak

dapat timbul 2 4 bulan setelah imunisasi. Sangat jarang

sekali pembesaran kelenjar getah bening tersebut menjadi

supuratif. Suntikan yang kurang hati-hati dapat menimbulkan

abses dan jaringan parut.

7. Kontraindikasi

a) Defisiensi sistem kekebalan

b) Individu yang terinfeksi HIV asimtomatis maupun simtomatis

tidak boleh menerima vaksinasi BCG.

8. Interaksi Obat

Tidak ada interaksi obat.

9. Penyimpanan

a) Vaksin BCG beku kering harus disimpan pada suhu antara 2-

8C. Vaksin dan pelarut harus ditransportasikan bersamaan.


68

Pelarut tidak boleh dibekukan, tetapi disimpan pada

suhu kamar. Vaksin harus dilindungi dari cahaya.

b) Masa daluarsa 1 tahun.

c) Vaksin BCG yang sudah dilarutkan, sebaiknya digunakan

segera, paling lambat 3 jam setelah dilarutkan, apabila masih

bersisa maka harus dimusnahkan

10. Kemasan

a) Dus @10 ampul vaksin BCG + Dus @10 ampul pelarut (4 mL)

b) Dus @5 ampul vaksin BCG + 5 ampul pelarut (4 mL) (3)

Anda mungkin juga menyukai