BAB III
GAMBARAN KHUSUS
FLOW MATERIAL VAKSIN BCG KERING DI PT. BIO FARMA
(PERSERO)
III.1 Uraian Vaksin
Vaksin dari kata vaccinia, adalah bahan antigenik yang
digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu
penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi
oleh organisme alami. Vaksin dapat berupa galur virus atau bakteri
yang telah dilemahkan sehingga tidak menimbulkan penyakit. Vaksin
dapat juga berupa organisme mati atau hasil-hasil pemurniannya
(protein, peptida, partikel, serta serupa virus). Vaksin akan
mempersiapkan sistem kekebalan manusia atau hewan untuk
bertahan terhadap serangan patogen tertentu, terutama bakteri, virus,
atau toksin. Vaksin juga bisa membantu sistem kekebalan untuk
melawan sel-sel degeneratif (kanker) (8).
Jenis-jenis vaksin:
1. Vaksin yang dibuat dari bakteri secara utuh :
a. Bakteri yang hidup
Bakteri dari bibit (strain) tertentu dikembangbiakkan secara
murni, tetapi sudah tidak membahayakan (attenuated) kepada
orang yang divaksinasi. Attenuated vaksin adalah vaksin yang
disiapkan dari mikroorganisme atau virus hidup yang dibiakkan
42
43
di bawah kondisi yang tidak sesuai agar kehilangan
virulensinya tetapi tetap mempunyai kemampuan untuk
menginduksi kekebalan, contohnya vaksin BCG dan vaksin
Sampar.
b. Bakteri yang dimatikan
Bakteri dari bibit (strain) tertentu dikembangbiakkan secara
murni kemudian dimatikan, contohnya vaksin pertusis, kolera,
tifus, dan vaksin paratifus.
2. Vaksin yang dibuat dari virus.
a. Virus yang hidup
Virus dari bibit (strain) tertentu dikembangbiakkan secara
murni, tetapi tidak membahayakan orang yang divaksinasi,
vaksin polio, campak dan vaksin cacar.
b. Virus yang dimatikan, contohnya vaksin rabies
3. Vaksin yang dibuat dari produk mikroorganisme yaitu :
a. Produk dari bakteri, yaitu toksin (racun) yang dihasilkan oleh
bakteri dihilangkan sifat toksisitasnya (racunnya), sehingga
tidak membahayakan orang yang menerimanya.
b. Vaksin yang dibuat dari toksin yang dilemahkan ini disebut
toksoid, contoh, tetanus toksoid, difteri toksoid.
c. Vaksin yang dibuat dari produk dari virus, terdiri atas protein
yang terdapat pada kulit virus dan bersifat antigenik (HbsAg),
contohnya vaksin hepatitis B (9).
44
III.2 Uraian Vaksin BCG
Vaksin BCG merupakan suatu vaksin yang mengandung
kultur strain Mycobacterium bovis dan digunakan sebagai agen
imunisasi aktif terhadap tuberculosis (TBC) dan telah digunakan
sejak tahun 1921. Walaupun telah digunakan sejak lama, akan tetapi
efikasinya menunjukkan hasil yang bervariasi yaitu antara 0 - 80% di
seluruh dunia. Vaksin BCG secara signifikan mengurangi resiko
terjadinya active tuberculosis dan kematian. Efikasi dari vaksin
tergantung pada beberapa faktor termasuk diantaranya umur, cara
dan teknik vaksinasi, jalur vaksinasi, dan beberapa dipengaruhi oleh
faktor lingkungan.
Vaksin BCG sebaiknya digunakan pada bayi dan anak-anak
yang hasil uji tuberkulinnya negatif dan yang berada dalam
lingkungan orang dewasa dengan kondisi terinfeksi TBC dan tidak
menerima terapi atau menerima terapi tetapi resisten terhadap
isoniazid atau rifampin. Selain itu, vaksin BCG juga harus diberikan
kepada tenaga kesehatan yang bekerja di lingkungan dengan pasien
infeksi TBC tinggi. Sebelum dilakukan pemberian vaksin BCG (selain
bayi sampai dengan usia 3 bulan) setiap pasien harus terlebih dahulu
menjalani skin test. Vaksin BCG tidak diindikasikan untuk pasien
yang hasil uji tuberkulinnya positif atau telah menderita active
tuberculosis, karena pemberian vaksin BCG tidak memiliki efek untuk
pasien yang telah terinfeksi TBC (10).
45
III.3 Flow Material Vaksin BCG Kering
Flow material Vaksin BCG kering dimulai dari perencanaan dan
pengadaan bahan baku yang akan digunakan dalam proses produksi
hingga penyimpanan produk jadi. Secara umum, terbagi menjadi 3
tahap, yaitu sebelum proses produksi, proses produksi dan setelah
proses produksi.
III.3.1 Sebelum Proses Produksi
1. Perencanaan dan Pengadaan Bahan
Komponen terbesar dalam pembiayaan produksi pada
industri farmasi adalah biaya pengadaan barang, termasuk di
dalamnya adalah pengadaan bahan awal (starting material) yang
terdiri dari bahan baku serta bahan pengemas. Bagian yang
berperan dalam perencanaan dan pengadaan bahan-bahan yang
dibutuhkan untuk keperluan produksi yaitu PPIC departemen
berdasarkan forecast marketing dan mempertimbangkan
kapasitas produksi. Bagian PPIC bertugas menghubungkan
antara bagian produksi dengan bagian marketing. Pengadaan
dilakukan berdasarkan pemesanan dari bagian produksi dan
marketing, setelah itu bagian PPIC membuat nota pemesanan
bahan dimana pengadaan bahan ini harus terlebih dahulu
mendapat persetujuan dari manajer.
Salah satu faktor penting dalam perencanaan dan
pengadaan bahan yaitu pemilihan supplier. Oleh sebab itu PT Bio
46
Farma (Persero) memilki beberapa dasar pertimbangan dalam
pemilihan supplier, diantaranya sebagai berikut :
a. Kualitas bahan yang dipesan. Hal ini dapat diketahui dari
Certificate of Analysis (CoA) yang disertakan pada pembelian
dan sampel yang dikirim pada PT Bio Farma (Persero).
b. Kontinuitas atau kesanggupan supplier dalam menyuplai
barang secara berkelanjutan.
c. Delivery time (yaitu waktu dari supplier mengirim barang
sampai ke tempat tujuan)
d. Layanan purna jual, seperti adanya tanggapan atas keluhan
yang diajukan perusahaan.
e. Kemudahan dalam melakukan pembayaran.
2. Bahan baku
Dalam proses produksi suatu sediaan dari industri farmasi
pastinya dibutuhkan bahan baku. Bahan baku adalah bahan aktif,
bahan pembantu, bahan pengemas, serta seluruh komponen
yang digunakan untuk menghasilkan barang-barang atau produk
akhir. Pengelolaan raw material ini harus dilakukan dengan baik,
termasuk perencanaan organisasi dan kontrol, sehingga flow
material mulai dari pembelian/purchasing, inventory stock sampai
distribusi produk akhir, dapat efisien dan efektif. Bahan awal
berupa bahan baku dan bahan pengemas yang tersedia untuk
47
proses produksi harus selalu tersedia dan berkualitas dengan
persyaratan harus telah direlease oleh QA.
Pemeriksaan bahan baku dilakukan untuk menjamin mutu
bahan baku tersebut, agar bahan baku yang digunakan sesuai
dengan spesifikasi yang dipersyaratkan. Bahan baku yang baru
dikirim oleh supplier segera dilakukan pemeriksaan untuk
mengetahui apakah bahan baku tersebut memenuhi spesifikasi
yang telah dipersyaratkan sebagaimana tercantum dalam
Certificate of Analysis.
Pemeriksaan bahan baku vaksin (produk steril) meliputi :
a. Pelaksanaan on the spot sesuai spesifikasi.
b. Kesesuaian: label, nama suplier, kondisi wadah, organoleptik
(warna, bau, rasa).
c. Analisis: kualitatif, kuantitatif (kadar, potensi), kemurnian
bahan.
3. Penyimpanan Bahan
Gudang merupakan sarana pendukung dalam kegiatan
produksi di industri farmasi yang berfungsi untuk menyimpan
bahan baku, bahan kemas, dan obat jadi yang belum
didistribusikan. Selain untuk penyimpanan gudang juga berfungsi
untuk melindungi bahan dari pengaruh luar dan melindungi obat
dari kerusakan. Bahan - bahan untuk kerperluan industri disimpan
di gudang dengan tujuan untuk memudahkan alur proses
48
produksi. PT Bio Farma (Persero) memiliki gudang khusus untuk
menyimpan bahan aktif, gudang bahan kemas, dan produk jadi
yang terletak pada gudang yang berbeda.
Terdapat tiga area pada masing - masing gudang bahan
baku, bahan kemas dan produk jadi yaitu :
a. Quarantine area, yaitu area tempat penyimpanan dengan
status karantina dimana barang baru diterima dari supplier dan
dikarantina sambil menunggu hasil analisa dari bagian QC dan
direlease oleh QA. Barang dalam status ini diberi label
berwarna kuning.
b. Release area, yaitu area tempat penyimpanan dengan status
release adalah barang sudah dianalisa oleh QC dan diberi
label passed berwarna hijau.
c. Rejected area, yaitu area tempat peyimpanan dengan status
reject adalah barang yang sudah dianalisa oleh QC dan
hasilnya tidak memenuhi spesifikasi sehingga ditolak. Barang
dalam status ini diberi label rejected yang berwarna merah.
Sistem pengeluaran barang dari gudang mengikuti sistem
First In First Out (FIFO), dimana barang yang lebih dulu datang
akan lebih dulu dikeluarkan atau dipakai. Pada beberapa kasus
dipakai sistem First Expired First Out (FEFO), dimana barang
yang waktu kadaluarsanya paling dekat yang lebih dulu
49
dikeluarkan atau dipakai. Pemeriksaan ulang perlu dilakukan
untuk bahan-bahan yang disimpan lama.
Bagian PPIC harus selalu mengontrol jumlah persediaan
bahan yang ada di gudang. Jika terdapat bahan yang stoknya
tinggal sedikit maka PPIC mengajukan Request Order (RO) ke
bagian purchasing untuk membeli sejumlah bahan tersebut.
Bagian purchasing akan mempertimbangkan usulan tersebut,
melakukan survey pemilihan supplier dan akan mengeluarkan
Purchasing Order (PO) ke supplier tersebut jika menyetujui untuk
membeli bahan tersebut.
Gudang bahan kemas digunakan menyimpan bahan
pengemas primer, pengemas sekunder, dan bahan-bahan yang
berkaitan dengan proses pengemasan seperti brosur, label,
etiket, dan lain-lain. Termometer ruang dipasang di ruang dingin
dan sejuk agar suhu ruangan selalu dapat dipantau.
Barang-barang yang sudah selesai dikemas dan sudah
dinyatakan lulus oleh QC disimpan di gudang obat jadi dan siap
untuk didstribusikan. Gudang obat jadi merupakan tempat
penyimpanan produk yang siap dikirim ke distributor. Pengeluaran
barang dari gudang obat jadi berdasarkan permintaan dari
marketing.
50
4. Ruang produksi
Pembuatan produk steril memerlukan 3 kualitas ruangan yang
berbeda, yaitu:
a. Ruang ganti pakaian. Pakaian yang dipakai dari rumah tidak
boleh dibawa ke daerah bersih. Karyawan yang masuk ke
ruang ganti harus sudah memakai pakaian pelindung kerja
standar.
b. Ruang bersih. Ruang persiapan komponen dan pembuatan
larutan serta ruang untuk produk yang akan disterilisasi akhir.
c. Ruang steril. Ruangan ini digunakan untuk kegiatan steril.
Petugas yang akan masuk keruangan ini harus melalui ruang
penyangga udara atau dibawah aliran udara laminar.
Daerah pengolahan produk steril harus dipisahkan dari
daerah produksi lain serta dirancang dan dibangun secara
khusus. Ruangan harus bebas debu, dialiri udara yang melewati
saringan bakteri. Saringan tersebut harus diperiksa (diverifikasi)
pada saat pemasangan serta dilakukan pemeriksaan secara
berkala.
Daerah produksi untuk pembuatan sediaan steril secara
CPOB 2012 yaitu :
1) Kelas A
Zona untuk kegiatan yang berisiko tinggi, misalnya zona
pengisian, wadah tutup karet, ampul dan ampul terbuka,
51
penyambungan secara aseptik. Umumnya kondisi ini dicapai
dengan memasang unit aliran udara Laminar Air Flow (LAF) di
tempat kerja. Sistem udara laminar hendaklah mengalirkan
udara dengan kecepatan merata berkisar 0,36 0,54 m/detik
(nilai acuan) pada posisi kerja dalam ruang bersih terbuka.
Sistem LAF harus memberikan kecepatan udara yang
homogen sekitar 0,45 m/detik 20 % (nilai rujukan) pada
posisi kerja.
2) Kelas B
Untuk pembuatan dan pengisian secara aseptik, kelas ini
adalah lingkungan latar belakang untuk zona kelas A.
3) Kelas C dan D
Area bersih untuk melakukan tahap pembuatan produk
steril dengan tingkat risiko lebih rendah.
Tabel 1. Tabel Jumlah Partikulat di Udara untuk Masing-Masing Daerah (10)
Non-operasional Operasional
Jumlah maksimum partikel /m3 yang
Kelas diperbolehkan untuk kelas setara atau lebih tinggi
dari
0,5 m 5m 0,5 m 5m
A 3520 20 3520 20
B 3520 29 352.000 2900
C 352.000 2900 3.520.000 29.000
Tidak Tidak
D 3.520.000 29.000
ditetapkan ditetapkan
Suhu udara di ruang bersih dan ruang steril hendaknya
dipelihara pada 16o-25C dan kelembaban relatif pada 45%-55%.
52
Khusus pada ruangan produksi vaksin suhu di atur antara 2 o-8oC.
Menggunakan penyaring udara HEPA 99,997% free particulat
dengan pertukaran udara > 120 kali per jam.
Tekanan udara di dalam ruang pengolahan produk steril
harus lebih tinggi dibanding dengan ruangan sebelahnya (ruang
koridor) yang dibuktikan dengan perbedaan tekanan yang
ditunjukkan oleh alat magnehelic dan dicatat secara teratur.
Jalan masuk dan keluar bagi petugas ke dan dari ruang
steril hanya melalui ruang ganti pakaian kecuali dalam keadaan
darurat. Lokasi ruang ganti pakaian hendaklah langsung
berhubungan dengan daerah steril yang akan dilayani.
Ruang ganti pakaian hendaklah dilengkapi dengan ruang
penyangga udara yang terletak diantara ruang ganti pakaian dan
ruang steril dan dialiri udara tersaring dengan tekanan positif yang
lebih rendah daripada ruang steril tetapi lebih tinggi daripada
ruangan lain yang berhubungan langsung.
Ruang ganti pakaian hendaknya dilengkapi dengan
manometer atau alat lain yang tepat yang terus menerus
menunjuk perbedaan tekanan udara di ruang udara bersangkutan
dengan ruang bertetangga.
Ruang ganti pakaian dan ruang penyangga hendaklah
dibangun sedemikian rupa untuk dapat memisahkan penggantian
pakaian yang berbeda tingkat kebersihannya. Untuk itu ruang
53
ganti pakaian hendaknya terletak sebelum ruang penyangga
udara dan terdiri dari ruangan terpisah yang memisahkan daerah
ruangan kerja biasa dan daerah pakaian steril.
Pintu antara ruang steril dengan ruang penyangga
hendaklah dilengkapi dengan suatu sistem antara lain sistem
penguncian elektro yang tidak memungkinkan dua pintu dibuka
dalam waktu yang sama.
Lampu UV yang efektif (panjang gelombang 253,7 nm)
hendaklah dipasang dalam ruang ganti pakaian steril atau lemari
penyimpanan komponen pakaian steril.
Ruang ganti pakaian steril hendaklah dilengkapi dengan
bak pencuci tangan seperti di kamar operasi dan alat pengering
tangan otomatis.
5. Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam industri mempunyai
rancang bangun yang tepat sehingga dapat menjamin keamanan,
mutu, dan keseragaman produk dari batch ke batch. Peralatan
yang bersentuhan dengan bahan awal, produk antara, atau
produk jadi tidak boleh menimbulkan reaksi yang mempengaruhi
identitas, mutu, atau kemurnian. Peralatan ditempatkan
sedemikian rupa untuk memperkecil kemungkinan terjadinya
pencemaran silang antar bahan di area yang sama.
54
Peralatan ditempatkan pada jarak yang cukup satu sama
lain untuk menghindari kesesakan serta memastikan tidak
terjadinya kekeliruan dan campur baur produk. Peralatan setelah
digunakan hendaklah dibersihkan baik bagian luar maupun
bagian dalam sesuai dengan prosedur, serta dijaga dan disimpan
dalam kondisi bersih dan diberi tanda. Pembersihan dengan cara
vakum / basah lebih dianjurkan. Udara bertekanan hendaklah
digunakan dengan hati - hati dan sedapat mungkin dihindari
karena risiko pencemaran produk. Validasi peralatan senantiasa
dilakukan secara teratur.
6. Air untuk Produksi / Water System
Air merupakan unsur penting dalam pembuatan bahan
obat maupun pembuatan obat itu sendiri. Air yang digunakan
dalam industri farmasi harus memenuhi persyaratan - persyaratan
tertentu sehingga dapat digunakan dalam proses produksi obat.
Pengolahan air untuk injeksi berasal dari purified water system,
yang selanjutnya dilakukan destilasi (penyulingan) dengan
terlebih dahulu melewati lampu UV untuk membunuh bakteri.
Sesuai dengan persyaratan CPOB 2012, proses destilasi
menggunakan enam kolom destilasi, artinya air yang digunakan
untuk produk-produk steril tersebut mengalami enam kali proses
destilasi. Dengan unit ini diperoleh air untuk injeksi yang
memenuhi pesyaratan Water For Injection (WFI). Selanjutnya WFI
55
yang dihasilkan kemudian disimpan dalam storage tank pada
suhu 70o-80C sebelum didistribusikan untuk produksi produk
steril.
III.3.2 Proses Produksi
1. Proses Produksi Vaksin BCG
Vaksin BCG mengandung Mycobacterium bovis hidup
yang sudah dilemahkan dari strain Paris No. 1173-P2. Benih
tersebut dibiakkan dalam medium kentang yang kemudian benih
ini dipindahkan ke dalam medium cair. Tahap selanjutnya yaitu
proses filtrasi menggunakan Birkhaug Apparatus sehingga
diperoleh massa biakan yang semi kering. Kemudian dilakukan
proses homogenisasi yang dilanjutkan dengan pengisian ampul.
Pada pembuatan vaksin BCG terdapat tahapan khusus yaitu
proses beku-kering. Setelah melalui proses ini, ampul tadi
dimasukkan dalam kemasan untuk dilakukan penyegelan hingga
diperoleh produk akhir (3).
Untuk menghasilkan vaksin BCG yang aman, bermutu,
dan berkualitas, dilakukan proses pengujian pada setiap tahap
pembuatan vaksin, meliputi uji kesterilan, uji keamanan dan
kestabilan, serta uji identifikasi. Setiap tahap dalam proses
pengujian dilakukan oleh QC dan QA.
56
Medium Cairan Penyaringan dengan
Kentang Souton Birkhaug Apparatus
Souton
Menimbang kultur
Bibit strain Paris In Process Control semi kering
1173 P2
- Uji Sterilitas
- Uji tembus Proses
cahaya homogenisasi
- Uji viabilitas &
stabilitas
Produk - Uji identitas Proses
jadi pengisian
Proses Pindahkan ampul ke Proses Freeze
penyegelan holder ampul drying
Gambar 1. Proses Pembuatan Vaksin BCG
2. Benih Virus
Produksi vaksin dimulai dengan sejumlah kecil virus
tertentu (atau disebut benih). Virus harus bebas dari bahan
pencemar, baik berupa virus yang serupa atau variasi dari jenis
virus yang sama. Selain itu, benih harus disimpan dalam kondisi
ideal, biasanya beku, yang mencegah virus menjadi lebih kuat
atau lebih lemah dari yang diinginkan. Benih disimpan dalam gelas
kecil atau wadah plastik. Jumlah yang kecil hanya 5 atau 10 cm 2,
mengandung ribuan hingga jutaan virus, nantinya dapat dibuat
menjadi ratusan liter vaksin. Freezer dipertahankan pada suhu
tertentu. Grafik di luar freezer akan mencatat secara terus
menerus suhu freezer. Sensor terhubung dengan alarm yang
dapat didengar atau alarm komputer yang akan menyala jika suhu
freezer berada di luar suhu yang seharusnya (4).
57
3. Pertumbuhan Virus
Setelah mencairkan dan memanaskan benih virus dalam
kondisi tertentu secara hati-hati (misalnya, pada suhu kamar atau
dalam bak air), sejumlah kecil sel virus ditempatkan ke dalam
pabrik sel, sebuah mesin kecil yang telah dilengkapi sebuah media
pertumbuhan yang tepat sehingga sel memungkinkan virus untuk
berkembang biak.
Setiap jenis virus tumbuh terbaik di media tertentu, namun
semua media umumnya mengandung protein yang berasal dari
mamalia, misalnya protein murni dari darah sapi. Media juga
mengandung protein lain dan senyawa organik yang mendorong
reproduksi sel virus. Penyediaan media yang benar, pada suhu
yang tepat, dan dengan jumlah waktu yang telah ditetapkan, virus
akan bertambah banyak.
Selain suhu, faktor-faktor lain harus dipantau adalah pH. pH
adalah ukuran keasaman atau kebasaan, diukur pada skala dari 0
sampai 14, dan virus harus disimpan pada pH yang tepat dalam
pabrik sel. Air tawar yang tidak asam atau basa (netral) memiliki
pH 7. Meskipun wadah di mana sel-sel tumbuh tidak terlalu besar
(mungkin ukuran pot 4-8 liter), terdapat sejumlah katup, tabung,
dan sensor yang terhubung dengannya. Sensor memantau pH dan
suhu, dan ada berbagai koneksi untuk menambahkan media atau
bahan kimia seperti oksigen untuk mempertahankan pH, tempat
58
untuk mengambil sampel untuk analisis mikroskopik, dan
pengaturan steril untuk menambahkan komponen ke pabrik sel
dan mengambil produk setengah jadi ketika siap.
Virus dari pabrik sel ini kemudian dipisahkan dari media,
dan ditempatkan dalam media kedua untuk penumbuhan
tambahan. Metode awal yang dipakai 40 atau 50 tahun yang lalu
yaitu menggunakan botol untuk menyimpan campuran, dan
pertumbuhan yang dihasilkan berupa satu lapis virus di
permukaan media. Peneliti kemudian menemukan bahwa jika
botol itu berubah posisi saat virus tumbuh, virus bisa tetap
dihasilkan karena lapisan virus tumbuh pada semua permukaan
dalam botol.
Sebuah penemuan penting pada sekitar tahun 1940 adalah
bahwa pertumbuhan sel sangat dirangsang oleh penambahan
enzim pada medium, yang paling umum digunakan yaitu tripsin.
Enzim adalah protein yang juga berfungsi sebagai katalis dalam
memberi makan dan pertumbuhan sel.
Dalam praktek saat ini, botol tidak digunakan sama sekali.
Virus yang sedang tumbuh disimpan dalam wadah yang lebih
besar namun mirip dengan pabrik sel, dan dicampur dengan
partikel mikroskopis sehingga virus dapat menempelkan diri.
Penggunaannya memberi virus daerah yang lebih besar untuk
menempelkan diri, dan akibatnya, pertumbuhan virus menjadi jauh
59
lebih besar. Seperti dalam pabrik sel, suhu dan pH dikontrol
secara ketat. Waktu yang dihabiskan virus untuk tumbuh
bervariasi sesuai dengan jenis virus yang diproduksi, dan hal itu
sebuah rahasia yang dijaga ketat oleh pabrik (4).
4. Pemisahan Virus
Ketika sudah tercapai jumlah virus yang cukup banyak,
virus dipisahkan dari partikel mikroskopis tersebut dalam satu atau
beberapa cara. Campuran ini kemudian dialirkan melalui sebuah
filter dengan bukaan yang cukup besar yang memungkinkan virus
untuk melewatinya, namun cukup kecil untuk mencegah partikel
mikroskopis dapat lewat. Campuran ini disentrifugasi beberapa kali
untuk memisahkan virus dari partikel mikroskopis dalam wadah
sehingga virus kemudian dapat dipisahkan. Alternatif lain yaitu
dengan mengaliri campuran partikel mikroskopis dengan media
lain sehingga mencuci partikel mikroskopis dari virus (4).
5. Pencampuran Produk
Produk harus dicampur pada kondisi lingkungan tertentu.
Hal terpenting dalam proses pencampuran ini adalah ketelitian
dalam proses pencampuran. Urutan pencampuran sangat
berdampak terhadap produk hasil yang diinginkan. Perhatian
khusus harus diberikan untuk mencapai dan menjaga
homogenitas larutan, dengan cara menjaga suhu larutan.
60
6. Pengisian
Pengisian larutan steril, dilakukan secara otomatis dengan mesin
pengisi dan penyegelan. Mesin pengisi harus didesain untuk dapat
memberikan ketepatan volume. Ketepatan volume dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kecepatan pengisian
dan keseragaman ukuran ampul. Hal lain yang perlu diperhatikan
adalah jangan sampai ujung jarum pengisi yang biasanya terbuat
dari stainless steel mengenai mulut ampul, karena dapat
menyebabkan terjadi serpihan kaca yang dapat masuk ke dalam
ampul yang sedang diisi. Selain itu, tekanan pada saat pengisian
juga perlu mendapat perhatian, karena ampul tidak didesain untuk
menahan tekanan tinggi.
7. Proses Freeze Drying
Setelah larutan dimasukkan ke dalam ampul, maka
dilakukan proses liofilisasi, yaitu proses pengeringan beku
sehingga sediaan tersebut berubah menjadi bentuk kering atau
serbuk dan siap untuk disegel. Vaksin BCG dibuat bentuk beku
kering karena berdasarkan berbagai pengujian dan penelitian,
ternyata viability (kemampuan bertahan hidup) dari Mycobacterium
bovis lebih bagus dalam keadaan kering dibanding dalam bentuk
cairnya. Selain itu, pada saat dalam keadaan beku, bakteri
tersebut tidak mati, melainkan dalam kondisi dorman atau tidur.
61
8. Penyegelan
Penyegelan ampul yang telah diisi, biasanya dilakukan
segera setelah diisi dengan menggunakan mesin filling and
sealing otomatis dalam satu rangkaian. Penyegelan ampul
dilakukan dengan melelehkan bagian gelas dari leher ampul
hingga membentuk segel penutup (tip-seal) atau segel tarik (pull-
seal). Penyegelan ampul dilakukan dengan menggunakan nyala
api gas oksigen (gas oxygen flame) temperatur tinggi. Penyegelan
harus dilakukan dengan hati-hati dan dijaga untuk mencegah
distorsi segel tersebut.
9. Pengemasan
Bagian pengemasan baik primer maupun sekunder di PT
Bio Farma (Persero) bertanggungjawab kepada manager
produksi. Bagian pengemasan bertugas untuk melakukan
pengemasan terhadap produk obat jadi yang telah selesai
diproduksi dan dinyatakan release untuk dikemas oleh QC. Proses
pengemasan bertujuan untuk melindungi produk dari pengaruh
luar seperti benturan fisik, debu, cahaya matahari, kelembaban,
memberikan informasi yang berkaitan dengan sediaaan seperti
nama obat, indikasi, aturan pemakaian, komposisi, tanggal
daluwarsa, serta tujuan estetika.
Bagian pengemasan di PT Bio Farma (Persero) dibagi
menjadi dua unit yaitu:
62
a. Pengemasan Primer
Pengemasan primer dilakukan di ruang produksi yang meliputi
filling sediaan liquida. Untuk menjamin mutu hasil
pengemasan, maka selalu dilakukan In Process Control (IPC).
IPC untuk pengemasan primer meliputi pemeriksaan isi setiap
kemasan (volume kontrol), dan uji kebocoran wadah.
b. Pengemasan Sekunder
Setelah dilakukan pengemasan primer maka dilakukan
pengemasan sekunder. Produk yang telah melewati
pengemas primer akan dimasukkan ke dalam dus/box lalu ke
dalam karton. Pengemasan sekunder dan tersier meliputi :
- Coding, yaitu pemberian nomor batch dan expired date
pada etiket dan dos
- Pemberian brosur/insert
- Memasukkan hasil pengemasan kedalam box dan master
box.
Supervisor IPC Pengemasan melakukan pemeriksaan
pengemasan sekunder secara manual dan diperiksa selama
proses pengemasan meliputi pemeriksaan penandaan (nomor
batch, expired date, nama obat,brosur), kebenaran jumlah atau isi
dus, leaflet atau brosur, dan estetika.
Setelah tahap pengemasan sekunder maka dilakukan final
inspection oleh bagian QC meliputi :
63
a. Penyiapan label
Kebenaran label, hasil cetakan/printing nomor batch,
manufacturing date dan expire date
b. Pelipatan insert
Kebenaran insert, insert cacat/rusak, kerapian lipatan
c. Printing dus dan master box
Kebenaran dus dan master box, kebenaran penandaan nomor
batch, manufacturing date dan expire date.
d. Pengepakan
Kebenaran isi, kebenaran dus dan master box, kebenaran
penandaan, kebenaran insert.
Setelah pengemasan selesai, selanjutnya dilakukan
penimbangan master box sesuai dengan bobot yang ditentukan.
Master box yang sudah ditimbang ditempatkan diruang karantina.
Setelah mendapat persetujuan dari bagian QA, maka master box
segera dipindahkan ke gudang obat jadi. Pada tiap jalur
pengemasan terdapat papan yang menunjukkan nama dan nomor
bets produk yang sedang dikemas. Jumlah produk yang diperoleh
dan sisa kemasan yang tidak terpakai didokumentasikan dalam
laporan harian kemas sekunder.
III.3.3 Setelah Proses Produksi
Produk jadi vaksin disimpan pada suhu 2-8C. Vaksin
memerlukan cold chain khusus dan harus dilindungi dari
64
kemungkinan putusnya aliran listrik. Bahan dan obat diangkut
dengan cara sedemikian rupa sehingga tidak merusak keutuhannya
dan kondisi penyimpanannya terjaga.
Pengiriman dan pengangkutan bahan atau obat dilaksanakan
hanya setelah ada permintaan pengiriman. Wadah luar yang akan
dikirim harus memberikan perlindungan yang cukup terhadap
seluruh pengaruh luar serta diberi label yang jelas dan tidak
terhapuskan. Semua catatan hendaknya mudah diakses dan
tersedia bila diminta.
Catatan pengiriman hendaknya disimpan yang menyatakan
minimal tanggal pengiriman, nama dan alamat pelanggan, uraian
tentang produk misalnya nama, bentuk dan kekuatan sediaan (bila
perlu), nomor bets dan jumlah serta kondisi pengangkutan dan
penyimpanan.
Semua penyerahan ke area penyimpanan, termasuk bahan
kembalian didokumentasikan dengan baik. Tiap bets bahan awal,
bahan pengemas, produk antara, produk ruahan dan produk jadi
yang disimpan di area gudang harus mempunyai kartu stok. Kartu
stok tersebut secara periodik di rekonsiliasi dan bila ditemukan
perbedaan harus dicatat dan diberikan alasan bila jumlah yang
disetujui untuk pemakaian berbeda dari jumlah pada saat
penerimaan atau pengiriman.
65
Untuk menunjang manajemen perusahaan di PT. Bio Farma
maka dibentuklah bagian gudang persediaan barang yang bertugas
mencatat, mengaplikasikan dan melaporkan seluruh transaksi
persediaan barang untuk keperluan perhitungan harga pokok
produksi dan pengawasan biaya.
III.4 Uraian Vaksin BCG Kering
1. Deskripsi
Vaksin BCG merupakan vaksin beku kering yang mengandung
Mycobacterium bovis hidup yang dilemahkan (Bacillus
Calmette Guerin), strain Paris.
2. Komposisi
Tiap ampul vaksin mengandung :
Bacillus Calmette Guerin hidup 1,5 mg
Pelarut mengandung :
Natrium klorida 0,9 %
3. Indikasi
Vaksin digunakan untuk pencegahan terhadap penyakit
tuberkulosa.
4. Cara Kerja Obat
Merangsang tubuh membentuk antibodi terhadap tuberkulosa.
5. Posologi
a) Vaksin yang telah dilarutkan diberikan secara intradermal,
sebanyak 0,05 mL untuk bayi dibawah usia 1 tahun. Kulit tidak
66
boleh dibersihkan dengan antiseptik. Vaksin dilarutkan dengan
menambahkan seluruh isi ampul pelarut kedalam ampul
vaksin. Seluruh pelet harus terlarut. Sebelum pemberian
suntikan, vaksin yang telah dilarutkan harus diamati secara
visual. Jika tampak benda asing maka vaksin harus dibuang.
b) Gunakan syringe dan jarum steril untuk setiap penyuntikan.
Vaksin BCG sensitif terhadap sinar ultraviolet, maka harus
dilindungi dari sinar matahari.
c) Jika setelah dilarutkan tidak segera digunakan maka disimpan
pada suhu antara +2C s/d +8C, selama maksimal 3 jam.
d) Vaksin hanya boleh dilarutkan dengan pelarut yang telah
disediakan oleh PT. Bio Farma. Jangan gunakan pelarut dari
jenis vaksin lain maupun produsen lain. Air untuk injeksi
juga tidak bisa digunakan. Menggunakan pelarut yang tidak
tepat dapat menyebabkan kerusakan pada vaksin dan reaksi
serius pada pasien.
e) Untuk proteksi maksimum vaksin BCG diberikan rutin kepada
semua bayi segera setelah lahir. Tidak ada bukti perihal
manfaat vaksinasi BCG yang diulang. Vaksin ini dapat
diberikan bersama vaksin DTP, Campak, Polio (OPV & IPV),
Hepatitis B, Haemophilus influenzae tipe b, yellow fever, pada
lokasi penyuntikan yang berbeda, dan suplemen vitamin A.
6. Efek Samping
67
Reaksi lokal yang timbul setelah imunisasi BCG adalah
wajar. Suatu pembengkakan kecil, merah, lembut biasanya timbul
pada daerah bekas suntikan, yang kemudian berubah menjadi
vesikel kecil, dan kemudian menjadi sebuah ulkus dalam waktu 2 -
4 minggu. Reaksi ini biasanya hilang dalam 2 5 bulan, dan
umumnya pada anak-anak akan meninggalkan bekas berupa
jaringan parut dengan diameter 2 10 mm.
Jarang sekali nodus dan ulkus tetap bertahan. Kadang-
kadang pembesaran kelenjar getah bening pada daerah ketiak
dapat timbul 2 4 bulan setelah imunisasi. Sangat jarang
sekali pembesaran kelenjar getah bening tersebut menjadi
supuratif. Suntikan yang kurang hati-hati dapat menimbulkan
abses dan jaringan parut.
7. Kontraindikasi
a) Defisiensi sistem kekebalan
b) Individu yang terinfeksi HIV asimtomatis maupun simtomatis
tidak boleh menerima vaksinasi BCG.
8. Interaksi Obat
Tidak ada interaksi obat.
9. Penyimpanan
a) Vaksin BCG beku kering harus disimpan pada suhu antara 2-
8C. Vaksin dan pelarut harus ditransportasikan bersamaan.
68
Pelarut tidak boleh dibekukan, tetapi disimpan pada
suhu kamar. Vaksin harus dilindungi dari cahaya.
b) Masa daluarsa 1 tahun.
c) Vaksin BCG yang sudah dilarutkan, sebaiknya digunakan
segera, paling lambat 3 jam setelah dilarutkan, apabila masih
bersisa maka harus dimusnahkan
10. Kemasan
a) Dus @10 ampul vaksin BCG + Dus @10 ampul pelarut (4 mL)
b) Dus @5 ampul vaksin BCG + 5 ampul pelarut (4 mL) (3)