0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
71 tayangan69 halaman

Pendekatan RME dalam Pembelajaran Matematika

Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) adalah pendekatan pembelajaran matematika yang menggunakan masalah nyata sebagai titik tolak untuk membentuk konsep matematika. Prinsip utamanya adalah menggunakan masalah kontekstual, mengembangkan model, dan kontribusi siswa. Kelebihannya memotivasi siswa, tetapi kekurangannya sulit diterapkan pada kelas besar.

Diunggah oleh

Anastasia Inda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
71 tayangan69 halaman

Pendekatan RME dalam Pembelajaran Matematika

Pendekatan Realistic Mathematic Education (RME) adalah pendekatan pembelajaran matematika yang menggunakan masalah nyata sebagai titik tolak untuk membentuk konsep matematika. Prinsip utamanya adalah menggunakan masalah kontekstual, mengembangkan model, dan kontribusi siswa. Kelebihannya memotivasi siswa, tetapi kekurangannya sulit diterapkan pada kelas besar.

Diunggah oleh

Anastasia Inda
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pendekatan RME (Realistic Mathematic Education)

a. Pengertian

Pengertian pendekatan realistik menurut Sofyan, (2007: 28) sebuah pendekatan


pendidikan yang berusaha menempatkan pendidikan pada hakiki dasar pendidikan itu
sendiri.

Menurut Sudarman Benu, (2000: 405) pendekatan realistik adalah pendekatan yang
menggunakan masalah situasi dunia nyata atau suatu konsep sebagai titik tolak dalam
belajar matematika.

Matematika Realistik yang telah diterapkan dan dikembangkan di Belanda teorinya


mengacu pada matematika harus dikaitkan dengan realitas dan matematika
merupakan aktifitas manusia.

Dalam pembelajaran melalui pendekatan realistik, strategi- strategi informasi siswa


berkembang ketika mereka menyeleseikan masalah pada situasi- situsi biasa yang
telah diakrapiniya, dan keadaan itu yang dijadikannya titik awal pembelajaran
pendekatan realistik atau Realistic Mathematic Education(RME) juga diberi
pengertian cara mengajar dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menyelediki dan memahami konsep matematika melalui suatu masalah dalam situasi
yang nyata. (Megawati, 2003: 4). Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran bermakna
bagi siswa.

Realistic Mathematic Education(RME) adalah pendekatan pengajaran yang bertitik


tolak pada hal- hal yang real bagi siswa(Zulkardi). Teori ini menekankan ketrampilan
proses, berdiskusi dan berkolaborasi, berargumentasi dengan teman sekelas sehingga
mereka dapat menemukan sendiri(Student Invonting), sebagai kebalikan dari guru
memberi(Teaching Telling) dan pada akhirnya murid menggunakan matematika itu
untuk menyeleseikan masalah baik secara individual ataupun kelompok.

Pada pendekatan Realistik peran guru tidak lebih dari seorang fasilitator, moderator
atau evaluator. Sementara murid berfikir, mengkomunikasikan argumennya,
mengklasifikasikan jawaban mereka, serta melatih saling menghargai strategi atau
pendapat orang lain.

Menurut De Lange dan Van Den Heuvel Parhizen, RME ini adalah pembelajaran
yang mengacu pada konstruktifis sosial dan dikhususkan pada pendidikan
matematika.(Yuwono: 2001)

Dari beberapa pendapat diatas dapat dikatakan bahwa RME atau pendekatan Realistik
adalah pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah sehari- hari sebagai
sumber inspirasi dalam pembentukan konsep dan mengaplikasikan konsep- konsep
tersebut atau bisa dikatakan suatu pembelajaran matematika yang berdasarkan pada
hal- hal nyata atau real bagi siswa dan mengacu pada konstruktivis sosial.

b. Prinsip dan Karakteristik

Terdapat 5 prinsip utama dalam pembelajaran matematika realistik, yaitu:


1. Didominasi oleh masalah- masalah dalam konteks, melayani dua hal yaitu
sebagai sumber dan sebagai terapan konsep matematika.
2. Perhatian diberikan pada pengembangan modelsituasi skema dan simbol.
3. Sumbangan dari para siswa, sehingga siswa dapat membuat pembelajaran
menjadi konstruktif dan produktif.
4. Interaktif sebagai karakteristik diproses pembelajaran matematika.
5. Intertwinning(membuat jalinan) antar topik atau antar pokok bahasan.

Gravemeijer(dalam Fitri. 2007: 10) menyebutka tiga prinsip kunci dalam


pendekatan realistik, ketiga kunci tersebut adalah:

6. Penemuan kembali secara terbimbing/ matematika secara progresif(Gunded


Reinvention/ Progressive matematizing). Dalam menyeleseikan topik- topik
matematika, siswa harus diberi kesempatan untuk mengalami proses yang
sama, sebagai koknsep- konsep matematika dikemukakan. Siswa diberikan
masalah nyata yang memungkinkan adanya penyeleseian yang berbeda.
7. Didaktif yang bersifat fenomena(didaktial phenomology) topik matematika
yang akan diajarkan diupayakan berasal dari fenomenan sehari-hari.
8. Model yang dikembangkan sendiri(self developed models) dalam
memecahkan contextual problem, mahasiswa diberi kesempatan untuk
mengembangkan model mereka sendiri. Pengembangan model ini dapat
berperan dalam menjembatani pengetahuan informal dan pengetahuan formal
serta konkret dan abstrak.

Menurut Grafemeijer (dalam fitri, 2007: 13) ada 5 karakteristik pembelajaran


matematika realistik, yaitu sebagai berikut:

9. Menggunakan masalah kontekstual

Masalah konsektual berfungsi sebagai aplikasi dan sebagai titik tolak dari
mana matematika yang digunakan dapat muncul. Bagaimana masalah
matematika itu muncul(yang berhubungan dengan kehidupan sehari- hari).

10. Menggunakan model atau jembatan

Perhatian diarahkan kepada pengembangan model, skema, dan simbolisasi


dari pada hanya mentrasfer rumus. Dengan menggunakan media pembelajaran
siswa akan lebih faham dan mengerti tentang pembelajaran aritmatika sosial.

11. Menggunakan kontribusi siswa

Kontribusi yang besar pada saat proses belajar mengajar diharapkan dari
konstruksi murid sendiri yang mengarahkan mereka dari metode informal ke
arah metode yang lebih formal. Dalam kehidupan sehari- hari diharapkan
siswa dapat membedakan pengunaan aritmatika sosial terutama pada jual beli.
Contohnya: harga baju yang didiskon dengan harga baju yang tidak didiskon.

12. Interaktivitas
Negosiasi secara eksplisit, intervensi, dan evaluasi sesama murid dan guru
adalah faktor penting dalam proses belajar secara konstruktif dimana strategi
informal siswa digunakan sebagai jembatan untuk menncapai strategi formal.
Secara berkelompok siswa diminta untuk membuat pertanyaan kemudian
diminta mempresentasikan didepan kelas sedangkan kelompok yang lain
menanggapinya. Disini guru bertindak sebagai fasilitator.

13. Terintegrasi dengan topik pembelajaran lainnya(bersifat holistik)

Aritmatika sosial tidak hanya terdapat pada pembelajaran matematika saja,


tetapi juga terdapat pada pembelajaran yang lainnya, misalnya pada akutansi,
ekonomi, dan kehidupan sehari- hari.

c. Kelebihan dan Kekurangan

Beberapa keunggulan dari pembelajaran metematika realistik antara lain:

1. Pelajaran menjadi cukup menyenangkan bagi siswa dan suasana tegang tidak
tampak.
2. Materi dapat dipahami oleh sebagian besar siswa.
3. Alat peraga adalah benda yang berada di sekitar, sehingga mudah didapatkan.
4. Guru ditantang untuk mempelajari bahan.
5. Guru menjadi lebih kreatif membuat alat peraga.
6. Siswa mempunyai kecerdasan cukup tinggi tampak semakin pandai.

Beberapa kelemahan dari pembelajaran metematika realistik antara lain:

7. Sulit diterapkan dalam suatu kelas yang besar(40- 45 orang).


8. Dibutuhkan waktu yang lama untuk memahami materi pelajaran.
9. Siswa yang mempunyai kecerdasan sedang memerlukan waktu yang lebih
lama untuk mampu memahami materi pelajaran.
d. Langkah-Langkah

Berdasarkan prinsip dan karakteristik PMR serta dengan memperhatikan


pendapat yang telah dikemukakan di atas, maka dapatlah disusun suatu
langkah-langkah pembelajaran dengan pendekatan PMR yang digunakan
dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut:

1. Langkah 1: Memahami masalah kontekstual

yaitu guru memberikan masalah kontekstual dalam kehidupan sehari-hari


kepada siswa dan meminta siswa untuk memahami masalah tersebut,serta
memberi kesempatan kepada siswa untuk menanyakan masalah yang belum di
pahami. Karakteristik PMR yang muncul pada langkah ini adalah karakteristik
pertama yaitu menggunakan masalah kontekstual sebagai titik tolak dalam
pembelajaran, dan karakteristik keempat yaitu interaksi

2. Langkah 2: Menjelaskan masalah kontekstual


jika dalam memahami masalah siswa mengalami kesulitan, maka guru
menjelaskan situasi dan kondisi dari soal dengan cara memberikan petunjuk-
petunjuk atau berupa saran seperlunya, terbatas pada bagian-bagian tertentu
dari permasalahan yang belum dipahami

3. Langkah 3 : Menyelesaikan masalah

Siswa mendeskripsikan masalah kontekstual, melakukan interpretasi aspek


matematika yang ada pada masalah yang dimaksud, dan memikirkan strategi
pemecahan masalah. Selanjutnya siswa bekerja menyelesaikan masalah
dengan caranya sendiri berdasarkan pengetahuan awal yang dimilikinya,
sehingga dimungkinkan adanya perbedaan penyelesaian siswa yang satu
dengan yang lainnya. Guru mengamati, memotivasi, dan memberi bimbingan
terbatas, sehingga siswa dapat memperoleh penyelesaian masalah-masalah
tersebut. Karakteristik PMR yang muncul pada langkah ini yaitu karakteristik
kedua menggunakan model

4. Langkah 4 : Membandingkan jawaban

Guru meminta siswa membentuk kelompok secara berpasangan dengan teman


sebangkunya, bekerja sama mendiskusikan penyelesaian masalah-masalah
yang telah diselesaikan secara individu (negosiasi, membandingkan, dan
berdiskusi). Guru mengamati kegiatan yang dilakukan siswa, dan memberi
bantuan jika dibutuhkan. Dipilih kelompok berpasangan, dengan
pertimbangan efisiensi waktu. Karena di sekolah tempat pelaksanaan ujicoba,
menggunakan bangku panjang. Sehingga kelompok dengan jumlah anggota
yang lebih banyak, membutuhkan waktu yang lebih lama dalam
pembentukannya. Sedangkan kelompok berpasangan tidak membutuhkan
waktu, karena siswa telah duduk dalam tatanan kelompok berpasangan.
Setelah diskusi berpasangan dilakukan, guru menunjuk wakil-wakil kelompok
untuk menuliskan masing-masing ide penyelesaian dan alasan dari
jawabannya, kemudian guru sebagai fasilitator dan modarator mengarahkan
siswa berdiskusi, membimbing siswa mengambil kesimpulan sampai pada
rumusan konsep/prinsip berdasarkan matematika formal (idealisasi, abstraksi).
Karakteristik PMR yang muncul yaitu interaksi

5. Langkah 5: Menyimpulkan

Dari hasil diskusi kelas, guru mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan
suatu rumusan konsep/prinsip dari topik yang dipelajari. Karakteristik PMR
yang muncul pada langkah ini adalah adanya interaksi antar siswa dengan
guru.

Peningkatan Hasil Belajar Matematika siswa tentang pecahan dan urutannya


Melalui Pendekatan RME (Realistic Mathematics Education) Pada Siswa
Kelas IV

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dewasa ini yang masih terus dibicarakan dalam masalah mutu pendidikan adalah prestasi
belajar siswa dalam suatu bidang ilmu tertentu. Menyadari hal tersebut, maka pemerintah
bersama para ahli pendidikan, berusaha untuk lebih meningkatkan mutu pendidikan. Upaya
pembaharuan pendidikan telah banyak dilakukan oleh pemerintah, diantaranya melalui
seminar, lokakarya dan pelatihan-pelatihan dalam hal pemantapan materi pelajaran serta
metode pembelajaran untuk bidang studi tertentu misalnya IPA, Matematika dan lain-lain.
Sudah banyak usaha yang dilakukan oleh Indonesia untuk meningkatkan kualitas pendidikan
di Indonesia, khususnya pendidikan matematika di sekolah, namun belum menampakkan
hasil yang memuaskan, baik ditinjau dari proses pembelajarannya maupun dari hasil prestasi
belajar siswanya (Yuwono,2001 : 2).
Dari beberapa mata pelajaran yang di sajikan pada Sekolah Dasar, matematika adalah salah
satu mata pelajaran yang menjadi kebutuhan sistem dalam melatih penalarannya. Melalui
pengajaran matematika diharapkan akan menambah kemampuan, mengembangkan
ketrampilan dan aplikasinya. Selain itu, matematika merupakan sarana berpikir dalam
menentukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan matematika
merupakan metode berpikir logis sistematis dan konsisten. Oleh karena itu semua masalah
kehidupan yang membutuhkan pemecahan secara cermat dan teliti selalu harus berpaling
pada matematika.
Dalam pembelajaran matematika sering kali didapatkan bahwa siswa masih sukar menerima
dan mempelajari matematika bahkan banyak yang mengeluh bahwa pelajaran matematika
membosankan, tidak menarik dan susah untuk dipahami. Hal ini terbukti dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Djaali dalam Surdika (1998:2) yang menyimpulkan bahwa
prestasi belajar matematika di sekolah dasar relatif rendah jika dibandingkan dengan mata
pelajaran lain.
Berbicara masalah rendahnya prestasi belajar siswa, khususnya prestasi belajar matematika
dapat disebabkan oleh faktor yang berasal dari dalam diri siswa dan faktor yang berasal dari
luar diri siswa (Usman, 1993:10).
Dalam proses belajar mengajar di sekolah, model pembelajaran yang digunakan guru
merupakan salah satu faktor dari luar diri siswa yang dapat mempengaruhi prestasi belajar
siswa. Penggunaan pendekatan pembelajaran yang cenderung membuat siswa pasif dalam
proses belajar mengajar, dapat membuat siswa merasa bosan sehingga tidak tertarik lagi
untuk mengikuti pelajaran tersebut, terlebih lagi pelajaran matematika yang menurut Hudoyo
(1988:3) berkaitan dengan konsep-konsep abstrak, sehingga pemahamannya membutuhkan
daya nalar yang tinggi. Oleh karena itu, dibutuhkan ketekunan, keuletan, perhatian, dan
motivasi yang tinggi untuk memahami materi pelajaran matematika.
Permasalahan dalam proses belajar mengajar juga terjadi di SDN 011 Samarinda Utara
sebagaimana hasil wawancara peneliti dengan guru kelas IV SDN 011 Samarinda Utara
bahwa penguasaan siswa terhadap pelajaran matematika masih tergolong rendah, menurut
keterangan yang diperoleh dari guru tersebut rata-rata nilai matematika siswa kelas IV SDN
011 Samarinda Utara pada semester II tahun 2006 yaitu 5,7 dan nilai rata-rata tes awal yaitu
5,93 menunjukkan bahwa prestasi siswa matematika khususnya pada pokok bahasan
pengenalan pecahan masih tergolong rendah karena masih dibawah standar minimal 6,0
(Anonim, 2004:22).
Pada umumnya proses pembelajaran yang digunakan adalah dengan menggunakan model
pembelajaran konvensional yakni ceramah, tanya jawab, pemberian tugas dan
pembelajarannya didominasi oleh guru dan sedikit sekali melibatkan siswa. Sejalan dengan
itu Yuwono (2001:2) mengemukakan bahwa pengajaran matematika secra konvensional
mengakibatkan siswa bekerja secara prosedural dan memahami matematika tanpa penalaran,
selain itu interaksi antara siswa selama proses belajar mengajar sangat kurang.
Pada pembelajaran matematika di SDN 011 Samarinda Utara, guru kurang memberikan
peluang kepada siswa untuk mengkonstruksi sendiri konsep-konsep matematika, siswa hanya
menyalin apa yang dikerjakan oleh guru. Selain itu siswa tidak diberikan kesempatan untuk
mengemukakan ide dan mengkonstruksi sendri dalam menjawab soal latihan yang diberikan
oleh guru.
Masalah yang telah dikemukakan di atas, guru SDN 011 Samarinda Utara perlu melakukan
perbaikan proses pengajaran. Salah satunya dengan menerapkan pendekatan pembelajaran
yang menekankan pada keaktifan siswa untuk mengembangkan potensi secara maksimal
melalui penelitian tindakan kelas. Pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru
dalam mengajarkan matematika adalah pendekatan RME (Realistic Mathematic Education),
karena pendekatan pembelajaran ini dapat mendorong keaktifan, membangkitkan minat dan
kreativitas belajar siswa agar dapat meningkatkan hasil belajarnya.
Pendekatan RME adalah merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran matematika
yang landasan filosofinya sejalan dengan falsafah konstruktivis yang menyebutkan bahwa
pengetahuan itu adalah konstruksi dari seseorang yang sedang belajar (Marpaung, 2001:3).
Dalam hal ini pembelajaran dengan pendekatan RME siswa didorong untuk aktif bekerja
bahkan diharapkan untuk mengkonstruksi atau membangun sendiri konsep-konsep
matematika, dengan demikian RME berpotensi untuk meningkatkan prestasi belajar
matematika siswa SDN 011 Samarinda Utara.
Berdasarkan pemikiran tersebut, maka penulis mencoba melakukan penelitian tindakan kelas
yang berjudul: Peningkatan Hasil Belajar Matematika siswa tentang pecahan dan urutannya
Melalui Pendekatan RME (Realistic Mathematics Education) Pada Siswa Kelas IV SDN 011
Samarinda Utara .

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
Bagaimana meningkatkan hasil belajar matematika siswa tentang pecahan dan urutannya
melalui pendekatan RME (Realistic Mathematics Education) di kelas IV SDN 011 Samarinda
Utara?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah Untuk meningkatkan
hasil belajar matematika siswa tentang pecahan dan urutannya melalui pendekatan RME
(Realistic Mathematics Education) di kelas IV SDN 011 Samarinda Utara.
D. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat bermanfaat:
1. Bagi guru: dapat memperbaiki dan meningkatkan pembelajaran matematika di kelas
sehingga permasalahan yang dihadapi oleh siswa maupun oleh guru dapat diminimalkan.
2. Bagi siswa: dapat meningkatkan prestasi belajar matematikanya, khususnya pada pokok
bahasan pecahan.
3. Bagi sekolah: hasil penelitian ini akan memberikan sumbangan yang baik bagi sekolah
dalam rangka perbaikan pembelajaran.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pembelajaran Matematika
1. Pengertian Belajar
Slameto (1988: 2), mengemukakan definisi belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan
individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan
sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungannya.
Definisi lain dikemukakan oleh Winkel (1984: 136) bahwa belajar adalah suatu aktifitas
mental/psikis yang berlangsung dalam interaksi dengan lingkungan yang menghasilkan
pengetahuan-pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap serta perubahan itu bersifat relative
konstan dan berbekas.
Menurut Hamalik (2001: 27) belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui
pengalaman. Selanjutnya Usman (1993: 4) mengemukakan bahwa belajar dapat diartikan
sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi individu dengan
individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi
dengan lingkungannya. Pendapat lain dikemukakan oleh Sudjana (1991: 5) bahwa belajar
adalah suatu perubahan yang relatif permanen dalam suatu kecenderungan tingkah laku
sebagai hasil dari praktek atau latihan.
Belajar dianggap sebagai proses dan pengalaman dan latihan. Higgard dan Sanjaya (2007 :
53) mengatakan bahwa belajar adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur, baik
latihan di dalam laboratorium maupun di lingkungan alamiah. Belajar bukanlah sekedar
mengumpulkan pengetahuan. Sehingga menyebabkan munculnya perubahan perilaku.
Berdasarkan beberapa definisi belajar di atas maka dapat dirumuskan definisi belajar yaitu
proses perubahan tingkah laku yang dialami oleh individu dalam berinteraksi dengan
lingkungannya. Perubahan yang terjadi dapat berupa perubahan-perubahan dalam kebiasaan
(habit), kecakapan-kecakapan (skill), atau dalam ketiga aspek yakni pengetahuan (kognitif),
sikap (afektif) dan keterampilan dasar (Psikomotor).
2. Hasil Belajar Matematika
Amirin dan Samsu Irawan (2000 43), mengatakan hasil belajar adalah kemajuan yang
diperoleh seseorang dalam segala hal akibat dan belajar. Seseorang yang mempelajani suatu
melalui proses pembelajaran telah mernperoleh hasil dan apa yang telah dipelajarinya, hasil
maksimal yang diperoleh inilah yang dikatakan hasil belajar.
Sudjana (2001 : 82), menjelaskan hasil belajar adalah kemampuan kemampuan yang
dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajamya. Menurut Dimyati dan Mudjiono
(2002 : 95), hasil belajar merupakan hasil dan suatu intruksi tindak belajar dan tindak
mengajar.
Hasil belajar menentukan tercapai tidaknya tujuan pendidikan yang diaplikasikan dalam
bentuk penilaian dalam rangka memberikan pertimbangan apakah tujuan pendidikan tersebut
tercapai. Penilaian hasil belajar tersebut dilakukan terhadap proses belajar mengajar untuk
mengetahui tercapainya tidaknya tujuan pengajaran dalam hal penguasaan bahan pelajaran
oleh siswa, selain itu penilaian tersebut dilakukan untuk mengetahui keefektifan proses
belajar mengajar yang dilakukan oleh guru. Dengan kata lain rendahnya hasil belajar yang
dicapai siswa tidak hanya disebabkan oleh kurang berhasilnya guru mengajar.
Sujana (2001), mengatakan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa
setelah ia menerima pengalaman belajarnya.
Dalam sistem pendidikan rasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikulum maupun
tujuan intruksional, menggunakan kiasifikasi hasil belajar matematika dan Bloom (dalam
Sujana, 2001) secara garis besar menjadi tiga ranah yaitu:
1. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dan enam aspek,
yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sentesis, dan evaluasi.
2. Ranah efektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dan lima aspek yakni, penerimaan,
jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi dan internalisasi.
3. Ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan
bertindak yang terdiri dan enam aspek yakni, gerakan refleksi, ketepatan, gerakan
keterampilan kompleks dan gerakan ekspresif dan interpretatif.
Dimyanti dan Mujiono (2002), mengatakan hasil belajar merupakan hasil dari suatu intraksi
tindak belajar dan tindak mengajar.
Dari beberapa pendapat diatas maka hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat keberhasilan
yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti suatu pembelajaran matematika.
Matematika merupakan pelajaran yang memerlukan pemusatan pikiran untuk mengingat dan
mengenal kembali semua aturan-aturan yang ada dan harus dipenuhi untuk menguasai materi
yang dipelajari (Hamzah, 2002 : 60).
Selanjutnya Djaali mendefinisikan matematika bahwa matematika sebagai ilmu pengetahuan
tentang ruang dan bilangan, ia sering dilukiskan sebagai suatu kumpulan sistem matematika
yang mempunyai struktur tersendiri dan bersifat deduktif. Matematika berkenaan dengan ide-
ide, struktur dan hubungannya yang teratur menurut aturan yang logik (Anonim, 1991 : 59).
Belajar matematika merupakan belajar konsep dan struktur yang terdapat dalam bahan-bahan
yang sedang dipelajari, serta mencari hubungan diantara konsep dan struktur tersebut (Karso,
1994: 40).
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar matematika
merupakan suatu proses belajar mengajar yang melibatkan guru dan siswa, dimana perubahan
tingkah laku siswa diarahkan pada peningkatan kemampuan dalam mempelajari matematika,
sedangkan guru dalam mengajar harus pandai mencari pendekatan pembelajaran yang akan
membantu siswa alam kegiatan belajarnya.
Selanjutnya, dalam proses belajar mengajar matematika, pengajar seyogyanya memahami
teori-teori tentang belajar dan penguasaan materi pengajaran harus dipenuhi oleh seorang
pengajar sehingga belajar matematika bermakna bagi siswa. Proses belajar mengajar
matematika akan terlihat bila terjadi interaksi dua arah antara pengajar/guru dan peserta
didik/siswa.
3. Ketuntasan Belajar Matematika
Melalui belajar tuntas ini, siswa yang sudah menguasai materi pelajaran perlu diberikan
kegiatan pembelajaran pengayaan (enrichment), sedangkan kepada siswa yang belum
menguasai materi pelajaran perlu diberikan kegiatan.
Pembelajaran perbaikan (remedial). sehingga sebagian besar atau seluruh siswa dapat
mencapai ketuntasan belajar yang diharapkan (Muhtar dan Rusmini, 2003).
Pembelajaran remedial merupakan suatu bentuk pembelajaran yang bersifat mengobati,
menyembuhkan atau membetulkan pembelajaran dan membuatnya menjadi lebih baik dalam
mencapai tujuan pembelajaran yang optimal, terutama di peruntukkan bagi para siswa yang
mengalami kesulitan dalam belajar atau belum dapat mencapai ketuntasan belajar.
Pembelajaran pengayaan adalah pembelajaran yang bersifat memperluas. memperdalam dan
menunjang satuan pelajaran dan di peruntukkan btii siswa yang telah tuntas belajar. Melalui
pembelajaran remedial dan pengayaan mi, perhatian guru tidak hanya tertuju pada pemberian
bantuan dan bimbingan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar, tetapi juga ditujukan
kepada siswa yang memiliki kemampuan belajar yang lebih tinggi dan pada yang dituntut
oleh program standar, agar kelebihan yang mereka miliki tidak sia-sia (Muktar dan Rusmini,
2003).
Untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap tujuan pembelajaran dan suatu unit
pelajaran tertentu tersebut dapat di ukur melalui tes hasil belajar siswa.
Dan pendapat di atas dapat disimpulkan, ketuntasan belajar matematika adalah tingkat
penguasaan siswa terhadap tujuan pembelajaran.

B. Pendekatan RME (Realistic Mathematics Education)


1. Pengertian RME
RME diperkenalkan oleh Freudenthal di Belanda pada tahun 1973. RME sudah melalui
proses ujicoba dan penelitian lebih dari 25 tahun, implementasinya telah terbukti berhasil
merangsang penalaran an kegiatan berpikir siswa.
RME adalah suatu pendekatan dimana matematika dipandang sebagai suatu kegiatan manusia
(Freudental, 1973, Treffers, 1987, De moor, 1994 dalam Ahmad Fauzan 2001:1)
Kata realistik diambil dari salah satu diantara empat pendekatan dalam pendidikan
matematika. Menurut klasifikasi Treffers yaitu mekanistik, empirik, strukturalistik dan
realistik. (Marpaung, 2001:2 ). Mekanistik artinya cara mengerjakan suatu masalah secara
teratur, empirik artinya berdasarkan pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-
hari, strukturalistik artinya cara menyusun suatu konsep atau unsur-unsur dengan pola
tertentu dan realistik artinya bersifat nyata.
Pada pendidikan matematika dua komponen matematisi yaitu matematisi horizontal dan
matematisi vertikal. Perbedaan dari keempat pendekatan itu ditentukan sejauh mana mereka
memuat/menggunakan kedua komponen itu. Pendekatan strukturalistik lebih menekankan
struktur dalam suatu cabang matematika yaitu mempelajari matematika alam arah vertikal.
Pendekatan realistik selain mempelajari dalam arah vertikal juga mempelajari dalam arah
horizontal yaitu hubungan antara konsep-konsep dalam beberapa cabang matematika.
Pendekatan mekanistik tidak memuat kedua komponen matematisi itu, sedangkan pendekatan
empirik hanya memuat komponen horizontal saja.
Pembelajaran Matematika Realistik di sekolah dilaksanakan dengan menempatkan realitas
dan lingkungan siswa sebagai titik awal pembelajaran. Masalah-masalah yang nyata atau
yang telah dikuasai atau dapat dibayangkan dengan baik oleh siswa dan digunakan sebagai
sumber munculnya konsep atau pengertian-pengertian matematika yang semakin meningkat.
Jadi pembelajaran tidak mulai dari definisi, teorema atau sifat-sifat dan selanjutnya diikuti
dengan contoh-contoh, namun sifat, definisi, teorema itu diharapkan seolah-olah ditemukan
kembali oleh siswa (Soedjadi, 2001: 2).
Jelas bahwa dalam pembelajaran matematika realistik siswa ditantang untuk aktif bekerja
bahkan diharapkan agar dapat mengkonstruksi atau membangun sendiri pengetahuan yang
akan diperolehnya.
Menurut Gravermeijer (dalam Asikin, 2001: 4), menjelaskan bahwa ide utama dari RME
adalah siswa harus diberi kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika
dengan bimbingan orang dewasa. Usaha untuk membangun kembali ide dan konsep
matematika tersebut melalui penjelajahan berbagai situasi dan persoalan-persoalan realistik.
Realistik alam pengertian bahwa tidak hanya situasi yang ada di dunia nyata, tetapi juga
dengan masalah yang dapat mereka bayangkan (Heuvel, dalam Asikin, 2001: 4).
2. Ciri Pendekatan RME
Dalam pendidikan matematika dua komponen matematisi yaitu matematisi horizontal dan
matematisi vertikal. Matematisi horizontal menunjuk pada proses transformasi masalah yang
dinyatakan dalam bahasa sehari-hari kebahasa matematika. Sedangkan matematisi vertikal
adalah proses dalam matematika itu sendiri. Pendekatan realistik selain alam arah vertikal
juga mempelajari dalam arah horizontal sehingga pada pendekatan realistik langkah-langkah
memahami suatu masalah dengan melalui teranslasi timbal balik dari bentuk-bentuk
representasi enaktif, ikonok dan simbolik, serta pengertian dalam matematika (Marpaung,
2001: 3).
Menurut Yuwono (2001 : 3), pembelajaran yang berorientasikan pada RME dapat dicirikan
oleh: (a) Pemberian perhatian yang besar pada reinvention yakni siswa diharapkan dapat
membangun konsep dan struktur matematika bermula dari intuisi mereka masing-masing; (b).
Pengenalan konsep dan abstraksi melalui hal-hal yang konkrit atau dari sekitar siswa; (c).
Selama proses pematematikaan siswa mengkonstruksi gagasannya sendiri, tidak perlu sama
antara siswa yang satu engan siswa yang lainnya; (d). Hasil pemikiran siswa di konfrontir
dengan hasil pemikiran siswa yang lainnya.
Ciri lain dari RME yaitu (1) Matematika adalah kegiatan aktivitas manusia. (2) Belajar
matematika merupakan proses belajar melalui reinvention.. Dengan perkataan lain landasan
filosofis matematika dekat dengan filsafat konstruktivisme yang menyebutkan bahwa
pengetahuan itu adalah konstruksi dari seorang yang sedang belajar (Suparno, 1997: 5).
Ini berarti pendekatan RME dilandasi oleh pandangan bahwa siswa harus aktif tidak boleh
pasif . Siswa harus aktif mengkonstruksi pengetahuan mereka.
Guru berperan sebagai fasilitator artinya siswa harus didorong dan diberi keluasan untuk
mengekspresikan jalan pikirannya, menyelesaikan masalah menurut idenya sendiri,
mengkomunikasikannya pada saat belajar dari ide teman-temannya (Marpaung, 2001: 3).
Menurut Fauzan, (2001: 2), pembelajaran yang menggunakan pendekatan RME dicirikan
oleh beberapa hal antara lain:
1) Matematika dipandang sebagai kegiatan manusia sehari-hari, sehingga dapat memecahkan
masalah dalam kehidupan sehari-hari.(contextual problems) merupakan bagian yang esensial.
2) Belajar dengan matematika berarti bekerja dengan matematika.
3) Siswa diberi kesempatan untuk menemukan konsep-konsep matematika dibawa bimbingan
orang dewasa (guru).
4) Proses belajar mengajar berlangsung secara interaktif dan siswa menjadi fokus dari semua
aktifitas di kelas.
5) Aktivitas yang dilakukan meliputi; menemukan masalah-masalah kontekstual (looking for
problems), memecahkan masalah (solving problems) dan mengorganisir bahan belajar.
3. Tahapan RME (Realistic Mathematics Education)
Fauzi (2002:) mengemukakan langkah-langkah di dalam proses pembelajaran matematika
dengan pendekatan RME, sebagai berikut:
1) Langkah pertama: memahami masalah kontekstual, yaitu guru memberikan masalah
kontekstual dalam kehidupan sehari-hari dan meminta siswa untuk memahami masalah
tersebut.
2) Langkah kedua: menjelaskan masalah kontekstual, yaitu jika dalam memahami masalah
siswa mengalami kesulitan, maka guru menjelaskan situasi dan kondisi dari soal dengan cara
memberikan petunjuk-petunjuk atau berupa saran seperlunya, terbatas pada bagian-bagian
tertentu dari permasalahan yang belum dipahami.
3) Langkah ketiga: menyelesaikan masalah kontekstual, yaitu siswa secara individual
menyelesaikan masalah kontekstual dengan cara mereka sendiri. Cara pemecahan dan
jawaban masalah berbeda lebih diutamakan. Dengan menggunakan lembar kerja, siswa
mengerjakan soal. Guru memotivasi siswa untuk menyelesaikan masalah dengan cara mereka
sendiri.
4) Langkah keempat: membandingkan dan mendiskusikan jawaban, yaitu guru menyediakan
waktu dan kesempatan kepada siswa untuk membandingkan dan mendiskusikan jawaban
masalah secara berkelompok. Siswa dilatih untuk mengeluarkan ide-ide yang mereka miliki
dalam kaitannya dengan interaksi siswa dalam proses belajar untuk mengoptimalkan
pembelajaran.
5) Langkah kelima: menyimpulkan, yaitu guru memberi kesempatan kepada siswa untuk
menarik kesimpulan tentang suatu konsep atau prosedur.
Soedjadi (2001:3) menyatakan bahwa dalam pembelajaran matematika realistik juga
diperlukan upaya mengaktifkan siswa. Upaya itu dapat diwujudkan dengan cara (1)
mengoptimalkan keikutsertaan unsur-unsur proses belajar mengajar, dan (2) mengoptimalkan
keikutsertaan seluruh sense peserta didik. Salah satu kemungkinan adalah dengan memberi
kesempatan kepada siswa untuk dapat menemukan atau mengkonstruksi sendiri pengetahuan
yang akan dikuasainya. Salah satu upaya guru untuk merealisasikan pernyataan di atas adalah
menetapkan langkah-langkah pembelajaran yang sesuai dengan prinsip dan karakteristik
RME.
Berdasarkan prinsip dan karakteristik RME serta memperhatikan berbagai pendapat tentang
proses pembelajaran matematika dengan pendekatan RME di atas, maka disusun langkah-
langkah pembelajaran dengan pendekatan RME sebagai berikut:

Langkah 1. Memahami masalah kontekstual


Guru memberikan masalah kontekstual sesuai dengan materi pelajaran yang sedang dipelajari
siswa. Kemudian meminta siswa untuk memahami masalah yang diberikan tersebut. Jika
terdapat hal-hal yang kurang dipahami oleh siswa, guru memberikan petunjuk seperlunya
terhadap bagian-bagian yang belum dipahami siswa.
Karakteristik RME yang muncul pada langkah ini adalah karakteristik pertama yaitu
menggunakan masalah kontekstual sebagai titik tolak dalam pembelajaran, dan karakteristik
keempat yaitu interaksi.
Langkah 2. Menyelesaikan masalah kontekstual
Siswa mendeskripsikan masalah kontekstual, melakukan interpretasi aspek matematika yang
ada pada masalah yang dimaksud, dan memikirkan strategi pemecahan masalah. Selanjutnya
siswa bekerja menyelesaikan masalah dengan caranya sendiri berdasarkan pengetahuan awal
yang dimilikinya, sehingga dimungkinkan adanya perbedaan penyelesaian siswa yang satu
dengan yang lainnya. Guru mengamati, memotivasi, dan memberi bimbingan terbatas,
sehingga siswa dapat memperoleh penyelesaian masalah-masalah tersebut. Karakteristik
RME yang muncul pada langkah ini yaitu karakteristik kedua menggunakan model.
Langkah 3. Membandingkan dan mendiskusikan jawaban
Guru menyediakan waktu dan kesempatan pada siswa untuk membandingkan dan
mendiskusikan jawaban mereka secara berkelompok, selanjutnya membandingkan dan
mendiskusikan pada diskusi kelas. Pada tahap ini, dapat digunakan siswa untuk berani
mengemukakan pendapatnya meskipun pendapat tersebut berbeda dengan lainnya.
Karakteristik pembelajaran matematika realistik yang tergolong dalam langkah ini adalah
karakteristik ketiga yaitu menggunakan kontribusi siswa (students constribution) dan
karakteristik keempat yaitu terdapat interaksi (interactivity) antara siswa dengan siswa
lainnya.
Langkah 4. Menyimpulkan
Berdasarkan hasil diskusi kelas, guru memberi kesempatan pada siswa untuk menarik
kesimpulan suatu konsep atau prosedur yang terkait dengan masalah realistik yang
diselesaikan.
Karakteristik pembelajaran matematika realistik yang tergolong dalam langkah ini adalah
adanya interaksi (interactivity) antara siswa dengan guru (pembimbing).
4. Pembelajaran dengan Menerapkan Pendekatan RME
Pendekatan realistik selain mempelajari dalam arah vertikal juga mempelajari dalam arah
horizontal. Menurut De Lenge dalam Yuwono (2001: 3 4), dalam arah horizontal meliputi
pembuatan skema, merumuskan dan menggambarkan masalah dalam cara yang berbeda,
menemukan hubungan-hubungan dan keterkaitan, mengingat aspek-aspek yang serupa dalam
masalah yang berbeda, merumuskan masalah nyata dalam model matematika yang telah
dikenal. Sedangkan aktivitas yang merupakan pematematikaan vertikal mengharuskan dan
memperbaiki model, menggunakan model yang berbeda, memadukan dan
mengkombinasikan beberapa model, membuktikan keteraturan, merumuskan konsep
matematika yang baru dan perapatan.
Menurut De Lange (1998) dan Van den Heuvel Panhuizen (1998) dalam Yuwono (2001: 3)
mengungkapkan bahwa RME adalah pembelajaran matematika yang mengacu pada
konstruktivis sosial dan dikhususkan pada pendidikan matematika.
Dalam pandangan RME atau PMR (Pengajaran Matematika Realistik), pengembangan suatu
matematika dimulai oleh siswa secara mandiri berupa kegiatan eksplorasi sehingga
memberikan peluang pada siswa untuk berkreasi mengembangkan pemikirannya.
Pengembangan konsep berawal dari intuisi siswa dan menggunakan strateginya masing-
masing dalam memperoleh suatu konsep.
Guru diharapkan tidak tergesa-gesa untuk menyampaikan pemikirannya kepada siswa tentang
suatu hal yang dibahas. Bila ada suatu materi dirasa sulit, siswa dapat membentuk kelompok
kecil, sehingga terjadi negosiasi antara siswa dalam mendiskusikan materi yang sulit tersebut.
Jadi peranan guru hanya sebagai fasilitator atau pendamping yang akan meluruskan arah
pemikiran siswa, sekiranya jalan pemikiran siswa jauh melenceng dari pokok bahasan yang
dipelajari.
Dalam pembelajaran matematika realistik, bentuk dominasi guru perlu sekali dikurangi,
antara lain dengan menunjukkan kebenaran cara-cara yang digunakan siswa. Siswa yang
menggunakan cara sendiri dan benar perlu dihargai, mungkin dengan memberitahukannya
atau mendiskusikannya kepada seluruh kelas. Dengan memperhatikan fenomena yang ada di
dalam kelas akan terbentuk proses pembelajaran matematika yang tidak berorientasi kepada
guru tetapi beralih pada pembelajaran matematika yang berorientasi kepada siswa bahkan
berorientasi kepada masalah (Soedjadi, 2001: 3).
Menurut Marpaung (2001: 3 4) Pendekatan RME bertolak dari masalah-masalah yang
kontekstual, siswa aktif, guru berperan sebagai fasilitator, anak bebas mengeluarkan idenya,
siswa sharing ide-idenya artinya siswa bebas mengkomunikasikan ide-idenya satu sama lain,
guru membandingkan ide-ide itu dan membimbing mereka untuk mengambil keputusan
tentang ide mana yang lebih baik buat mereka.
Dalam mendesain suatu model pembelajaran berdasarkan pendekatan realistik, model
tersebut harus merepresentasikan karakteristik RME baik pada tujuan, materi, metode dan
evaluasi. (Asikin, 2001 : 5).Dalam pembelajaran melalui pendekatan realistik dapat juga
digunakan metode ceramah tetapi tidak digunakan secara terus menerus. Selain itu pula dapat
diselingi dengan metode pemecahan masalah, metode diskusi, belajar kelompok, belajar
individual cooperative learning, siswa menjelaskan kepada temannya, siswa yang membuat
siswa dan meminta temannya yang mengerjakan lalu rotasi (Marpaung, 2001: 10)
Dalam pembelajaran matematika realistik, kegiatan inti diawali dengan masalah kontekstual,
siswa aktif, siswa dapat mengeluarkan ide-idenya, siswa mendiskusikan dan membandingkan
jawabannya dengan temannya. Dimana guru memfasilitasi diskusi dengan teman
sebangkunya dan mengarahkan siswa untuk memilih suatu jawaban yang benar. Selanjutnya
guru dapat meminta beberapa siswa untuk mengungkapkan jawabannya. Melalui diskusi
kelas jawaban siswa dibahas/dibandingkan. Dan guru membantu menganalisa jawaban-
jawaban siswa. Jawaban siswa mungkin salah semua, mungkin benar semua atau sebagian
benar sebagian salah. Jika jawaban benar maka guru hanya menegaskan jawaban tersebut.
Jika jawaban salah guru secara tidak langsung memberitahu letak kesalahan siswa yaitu
dengan mengajukan pertanyaan kepada siswa yang menjawab soal atau siswa lainnya.
Selanjutnya siswa dapat memperbaiki jawabannya dari hasil diskusi, guru mengarahkan
siswa untuk menarik kesimpulan.
Adapun sintaks implementasi matematika realistik adalah:

Aktivitas Guru Aktivitas siswa


Guru memberikan siswa masalah kontekstual.
Guru merespon secara positif jawaban siswa. Siswa diberikan kesempatan untuk memikirkan
strategi siswa yang paling
Guru mengarahkan siswa pada beberapa masalah kontekstual dan selanjutnya meminta
siswa mengerjakan masalah dengan menggunakan pengalaman mereka.
Guru mengelilingi siswa sambil memberikan bantuan seperlunya
Guru mengenalkan istilah konsep.
Guru memberikan tugas dirumah yaitu mengerjakan soal atau membuat masalah cerita
beserta jawabannya yang sesuai dengan matematika formal. Siswa secara sendiri atau
kelompok kecil mengerjakan masalah dengan strategi-strategi informal.
Siswa secara sendiri-sendiri atau kelompok menyelesaikan masalah tersebut.
Beberapa siswa mengerjakan di papan tulis. Melalui diskusi kelas, jawaban siswa
dikonfrontasikan.
Siswa merumuskan bentuk matematika formal.
Siswa mengerjakan tugas rumah dan menyerahkannya kepada guru.
5. Kelebihan dan kesulitan implementasi RME
Sebagaimana setiap pendekatan, strategi maupun metode pembelajaran, di satu sisi memiliki
berbagai kelebihan, namun juga memiliki kesulitan. Demikian halnya dengan RME.
Kelebihan pembelajaran matematika realistic, Menurut Suwarsono (2001:5) terdapat
beberapa kekuatan atau kelebihan dari pembelajaran matematika realistik, yaitu:
1) Pembelajaran matematika realistik memberikan pengertian yang jelas kepada siswa
tentang keterkaitan matematika dengan kehidupan sehari-hari dan kegunaan pada umumnya
bagi manusia.
2) Pembelajaran matematika realistik memberikan pengertian yang jelas kepada siswa bahwa
matematika adalah suatu bidang kajian yang dikonstruksi dan dikembangkan sendiri oleh
siswa tidak hanya oleh mereka yang disebut pakar dalam bidang tersebut.
3) Pembelajaran matematika realistik memberikan pengertian yang jelas kepada siswa bahwa
cara penyelesaian suatu soal atau masalah tidak harus tunggal dan tidak harus sama antara
yang satu dengan orang yang lain. Setiap orang bisa menemukan atau menggunakan cara
sendiri, asalkan orang itu sungguh-sungguh dalam mengerjakan soal atau masalah tersebut.
Selanjutnya dengan membandingkan cara penyelesaian yang satu dengan cara penyelesaian
yang lain, akan bisa diperoleh cara penyelesaian yang paling tepat, sesuai dengan tujuan dari
proses penyelesaian masalah tersebut.
4) Pembelajaran matematika realistik memberikan pengertian yang jelas kepada siswa bahwa
dalam mempelajari matematika, proses pembelajaran merupakan sesuatu yang utama dan
orang harus menjalani proses itu dan berusaha untuk menemukan sendiri konsep-konsep
matematika dengan bantuan pihak lain yang sudah lebih tahu (misalnya guru). Tanpa
kemauan untuk menjalani sendiri proses tersebut, pembelajaran yang bermakna tidak akan
tercapai.
Kesulitan dalam implementasi pembelajaran matematika realistic, Adanya persyaratan-
persyaratan tertentu agar kelebihan RME dapat muncul justru menimbulkan kesulitan
tersendiri dalam menerapkannya. Kesulitan-kesulitan tersebut, yaitu:
1) Tidak mudah untuk merubah pandangan yang mendasar tentang berbagai hal, misalnya
mengenai siswa, guru dan peranan soal atau masalah kontekstual, sedang perubahan itu
merupakan syarat untuk dapat diterapkannya RME.
2) Pencarian soal-soal kontekstual yang memenuhi syarat-syarat yang dituntut dalam
pembelajaran matematika realistik tidak selalu mudah untuk setiap pokok bahasan
matematika yang dipelajari siswa, terlebih-lebih karena soal-soal tersebut harus bisa
diselesaikan dengan bermacam-macam cara.
3) Tidak mudah bagi guru untuk mendorong siswa agar bisa menemukan berbagai cara dalam
menyelesaikan soal atau memecahkan masalah.
4) Tidak mudah bagi guru untuk memberi bantuan kepada siswa agar dapat melakukan
penemuan kembali konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika yang dipelajari.
C. Pengertian Pecahan
Pecahan adalah bilangan yang menggambarkan bagian dari suatu keseluruhan, bagian dari
suatu daerah, bagian dari suatu benda, atau bagian dari suatu himpunan ([Link],
[Link], 1998: 260). Sejalan dengan pendapat tersebut, Sunardi dan Heryanto (1997:57)
pada pecahan a/b, a disebut pembilang dan b disebut penyebut pecahan tersebut, yang
masing-masing mempunyai nilai yang berbeda. Ruseffendi, E.T. dalam Muzuria (2004: 9)
a) Materi Pecahan di SD
Pecahan adalah bagian dari bilangan rasional yang dapat di tulis dalam bentuk dengan a dan b
bilangan bulat dan b tidak sama dengan nol. Secara simbolik pecahan dapat dinyatakan
sebagai salah satu : (1) pecahan biasa, (2) pecahan desimal,(3) pecahan persen, (4) pecahan
campuran.
b) Mengenal Konsep Pecahan
Kegiatan mengenal konsep pecahan akan lebih berarti denga di dahului dengan soal cerita
yang menggunakan obyek buah, misalnya apel, sawo, jeruk atau kue misal apem dll. Peraga
selanjutnya berupa bangun datar seperti persegi, lingkaran yang nantinya akan sangat
membantu dalam pemahaman konsep.
Pecahan dapat di peragakan dengan melipat kertas berbentuk lingkaran atau persegi sehingga
lipatannya tepat menutupi bagian yang lainya. Selanjutnya bagian yang di lipat di buka dan di
arsir sesuai bagian yang di kehendaki, sehingga di dapat gambar sebagai berikut :

Pecahan dibaca setengah atau satu per dua atau seperdua. 1 disebut pembilang yaitu
merupakan daerah pengambilan. 2 disebut penyebut yaitu merupakan 2 bagian yanga sama
dari keseluruhan.
Peragaan tersebut dapat dilanjutkan untuk pecahan dan sebagainya. Gambarnya sebagai
berikut :

Gb.1 = gb.2 = gb.3 =


Selain mengenalkan pecahan dengan melipat kertas, peragaan dapat pula di lakukan denga
pita atau tongkat yang di potong dengan pendekatan pengukuran panjang, yang dapat pula
mengenalkan letak pecahan pada garis bilangan.
c). Pecahan Senilai
Pecahan senilai di sebut juga pecah yang ekivalen. Untuk menentukannya dapat di lakukan
cara sebagai berikut :
Kita akan menunjukan bahwa dengan menggunakan 3 kertas persegi panjang. Ambil kertas
dan dilipat menjadi 2 bagian yang sama sehingga di dapat . Kemudian ambil lagi kertas
dilipat menjadi 2 bagian yang sama dan di lipat lagi menjadi 2 di dapat . Gambarnya sebagai
berikut :
kertas ke-1
di lipat menjadi 2 bagian yang sama besar
Daerah yang diarsir .
kertas ke-2
Daerah yang di arsir , dari lipatan yang pertama dilipat lagi menjadi 2 bagian yang sama
besar.

kertas ke-3
yang di arsir .dari lipatan yang ke-2 di lipat lagi menjadi 2 bagian yang sama besar.
Dari gambar jelas bahwa .
Perlu pula di tunjukan pada siswa bahwa pecahan senilai dapat pula di manfaatkan untuk
mempelajari :mengurutkan pecahan, penjumlahan dan pengurangan pecahan
d). Membandingkan dan Mengurutkan pecahan
Saat anak-anak belajar membandingkan dan mengurutkan pecahan mereka memerlukan
pengalaman-pengalaman sehingga menghasilkan temuan-temuan khusus. Contohnya sebagai
berikut :
Peragaan berikut menggunakan bangun geometri. Bangun geometri dapat di manfaatkan
untuk membandingkan dan mengurutkan pecahan biasa dan pecahan campuran. Bahan yang
digunakan harus mudah di warnai, di potong sehingga dapat jelas di amati.

Dari peragaan dapat di amati bahwa , dsb.


Tentukan tanda yang tepat ( <,>,= ) yang tepat untuk mengisi

Yang di arsir yang di arsir


Yang utuh sudah sama sehingga tinggal membandingkan yang tidak utuh. Dari gambar
terlihat bahwa sehingga
d) Mengubah bentuk pecahan satu ke bentuk pecahan yang lain.
Mengubah pecahan biasa ke benuk desimal.
Untuk mengubah pecahan biasa ke bentuk pecahan desimal di cari dulu pecahan yang senilai
yang penyebutnya berbasis sepuluh,seratus,seribu.
Contoh :
1. (dibaca nol koma lima)
2. (dibaca nol koma dua puluh lima )
Mengubah pecahan biasa menjadi persen atau sebaliknya
Persen artinya perseratus, sehingga pecahan yang penyebutnya seratus dapat diartikan
[Link] di lambangkan dengan %. Sehingga apabila penyebutnya belum perseratus di
ubah dulu ke dalam bentuk perseratus.
Contoh :

Sebaliknya untuk mengubah pecahan dari bentuk persen menjadi bentuk biasa, dapat di ubah
dari bentuk persen ke bentuk perseratus yang kemudian di sederhanakan.
Contoh :

Catatan : apabila siswa sudah mengenal FPB dapat diterpkan penggunaanya untuk
menyederhanakan pecahan.
Mengubah pecahan sederhana menjadi pecahan campuran atau sebaliknya.
Mengubah pecahan biasa ( yang pembilangnya lebih dari penyebutnya) menjadi pecahan
campuran dalakukan dengan cara peragaan dan hasil pembagian sehingga didapat hasil bagi
dan sisa.
Contoh :
Ubahlah pecahan ke dalam pecahan campuran.
Jawab.
Dengan peraga

Dengan hasil bagi


(14 : 5 di dapat 2 sisa 4, sehingga )
Secara umum dapat di tulis dengan a > b.
e) menjumlahkan pecahan
penjumlahan pecahan dengan penyebut sama
penjumlahan pecahan dengan penyebut yang tidak sama
penjumlahan dapat di lakukan dengan menyamakan terlebih terdahulu penyebutnya,
kemudian pembilang di kalikan dengan nilai yang di gunakan untuk menyamakan penyebut
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian Tindakan Kelas dengan model Kemmis dan Taggart merupakan model
yang tidak terlalu sulit untuk digunakan. Model ini terdiri atas empat komponen, yaitu:
pertama, sebelum melaksanakan tindakan, terlebih dahulu peneliti merencanakan secara
seksama jenis tindakan yang akan dilakukan. Kedua, setelah rencana disusun secara matang,
barulah tindakan itu dilakukan. Ketiga, bersamaan dengan dilaksanakan tindakan, peneliti
mengamati proses pelaksanaan tindakan itu sendiri dan akibat yang ditimbulkannya.
Keempat, berdasarkan hasil pengamatan tersebut, peneliti kemudian melakukan refleksi atas
tindakan yang telah dilakukan. Jika hasil refleksi menunjukkan perlunya dilakukan perbaikan
atas tindakan yang telah dilakukan, maka rencana tindakan perlu disempurnakan lagi agar
tindakan yang dilaksanakan berikutnya tidak sekedar mengulang apa yang telah diperbuat
sebelumnya. Demikian seterusnya sampai masalah yang diteliti dapat mengalami kemajuan.
Rancangan penelitian yang akan dilakukan menganut model Kemmis dan McTaggart
(Arikunto 2002:84) pelaksanaan penelitian tindakan kelas dalam dua siklus dapat
digambarkan dengan mengikuti alur sebagai berikut:

Keterangan
P: Perencanaan
T: Tindakan
O: Observasi
R: Refleksi

Secara rinci prosedur pelaksanaan rancangan penelitian tindakan kelas untuk setiap siklus
dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Perencanaan
Pada tahap perencanaan, peneliti merencanakan kegiatan yang akan dilakukan pada
Penelitian Tindakan Kelas (PTK), adapun kegiatan yang akan dilakukan dalam perencanaan
adalah sebagai berikut :
Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran
Membuat alat evaluasi
Membuat lembar observasi
2. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan tindakan kegiatan yang dilaksanakan adalah melakukan skenario
pembelajaran yang telah direncanakan, yang bertindak sebagai guru dalam penelitian ini
adalah peneliti sedangkan yang bertindak sebagai observator adalah guru matematika kelas
IV. pelaksanaan penelitian tindakan kelas dilaksanakan dalam tiga siklus. Setiap siklus
dilaksanakan dalam 2 pertemuan kemudian pertemuan terakhir pada masing masing siklus
diberikan tes hasil belajar. Waktu pertemuan 2 jam pelajaran 70 menit.
3. Observasi
Pada observasi, penelitian sebagai guru pengajar melakukan tindakan yaitu pembelajaran
Pengenalan pecahan sedangkan untuk mengobservasi tindakan yang sedang dilakukan oleh
teman guru dan aktivitas siswa di dalam kelas dilakukan oleh guru matematika. Dengan
menggunakan lembar observasi untuk mengobservasi hasil belajar siswa dengan
menggunakan [Link] melakukan analisis dokumen yang berupa hasil tes belajar yang
diberikan kepada siswa pada setiap putaran catatan lapangan digunakan untuk menganalisis
tindakan selama pembelajaran berlangsung. Sedangkan analisis dokumen digunakan untuk
mengetahui hasil belajar siswa dari tes yang diberikan untuk setiap putaran.
4. Refleksi
Pada tahap refleksi, peneliti dan guru mendiskusikan hasil tindakan yang telah dilaksanakan,
kemudian bila perlu merevisi tindakan sebelumnya untuk dilaksanakan pada tahap
berikutnya.

B. Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian Tindakan Kelas (PTK) akan dilaksanakan dalam semester II tahun pembelajaran
2010/2011 di SDN. No. 011 Samarinda Utara.
C. Subjek dan Objek
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV semester II SDN. No. 011 Samarinda Utara yang
berjumlah 32 siswa.
Objeknya adalah penggunaan Pendekatan RME (Realistic Mathematics Education) pada
materi pembelajaran pengenalan pecahan
D. Teknik Pengumpulan Data
Sesuai dengan tujuan penelitian, maka pengumpulan data di peroleh melalui :
1. Observasi dilakukan pada tahap perencanaan dan selama kegiatan pembelajaran setiap
siklus.
2. Tes dilaksanakan pada setiap siklus untuk melihat kemampuan pemecahan masalah siswa
pada materi yang telah di ajarkan.
3. Dokumentasi nilai yakni data nilai tes yang diberikan pada awal pembelajaran digunakan
sebagai perbandingan dengan tes hasil belajar pada akhir siklus I.
E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan secara deskreptif yaitu hanya mengumpulkan data yang
diperoleh melalui observasi dan tes hasil belajar di susun, dijelaskan, dan akhimya di analisis
dalam tiga tahapan yaitu:
1. Reduksi Data
Reduksi data merupakan suatu proses pemilihan, pemusatan dan perbaikan pada
penyederhanaan data. Pada tahap reduksi data observasi pengamatan terhadap proses
pembelajaran operasi hitung bilangan bulat.
2. Pengajian Data
Data yang diperoleh melalui observasi dan tes hasil belajar berbentuk table dan kalimat
sederhana setiap putaran. Sedangkan analisis data kuantitatif menggunakan rata-rata,
prosentase dan diagram
a. Rata rata
Rata rata digunakan untuk mengetahui peningkatn hasil belajar siswa dengan menggunakn
rata rata skor hasil belajar masing masing siklus. Adapun rumus mencari rata rata
adalah sebagai berikut.
(Sudjana 2005)
Keterangan :
: Nilai rata rata hasil belajar siswa pada setiap siklus
: Jumlah nilai seluruh siswa
n : Banyaknya siswa
Untuk mengetahui hasil belajar siswa dapat dilakukan dengan menganalisis data berupa nilai
tugas dan nilai tes pada setiap siklus (tes formatif) menggunakan rumus, nilai rata rata tugsa
setiap siklus dijumlahkan dengan dua kali nilai rata rata tes hasil belajar (nilai tes formatif)
NA =
Keterangan :
Na = Nilai Akhir Setiap Siklus (Depdiknas, 2005 : 29)
NT = Nilai Tugas
NH = Nilai Test Akhir Siklus
Modifikasi Depdiknas 2005 : 29
b. Presentase
Menentukan tingkat kemampuan siswa secara menyeluruh dengan menggunakan rumus.
M = ( Purwanto 2004 )
Keterangan :
M = Besarnya rata rata dalam persen
x = Jumlah siswa yang termasuk kategori mampu
N = Jumlah siswa secara keseluruhan
c. Diagram
Diagram digunakan untuk menggambarkan peningkatan hasil belajar siswa dalam materi
pembelajaran matematika pada operasi hitung bilangan bulat.
3. Kesimpulan
Data yang telah di analisis kemudian dibuat suatu kesimpulan.
G. Indikator Peningkatan
Peningkatan nilai rata rata akhir setiap siklus dari nilai ratarata siklus sebelumnya setelah
diterapkan penggunaan metode demonstrasi dapat dilihat pada kriteria hasil belajar berikut
ini.
Tabel. 2. Kriteria Hasil Belajar
Nilai Keterangan
85 < x 100 Baik Sekali
71 < 84 Baikx
56 < 70 Cukupx
41 < 55 Kurangx
< 40 Sangat Kurang
H. Indikator Keberhasilan
Indikator yang menyatakan bahwa pembelajaran ini dinyatakan berhasil yaitu jika
pembelajaran yang dilaksanakan sudah berjalan dengan baik sesuai dengan skenario
pembelajaran, hasil observasi dari pelaksanaan pembelajaran berkategori baik, dan rata-rata
nilai akhir dari setiap siklusnya terjadi peningkatan sehingga persentase skor rata-rata siswa
secara klasikal yang mencapai skor lebih dari atau sama dengan 60 adalah mencapai 85% hal
ini sesuai dengan Standar Ketuntasan Minimum (SKM) SDN 011 Samarinda Utara

DAFTAR PUSTAKA

Dimyati dan Mujiono 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
Dujana 2001. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung PT. Remaja Rosdakarya.

Djamarah dan Zain 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Gatot Muhsetyo, dkk. 2007. Pembelajaran Matematika SD. Universitas Terbuka
Higgisn dan Suydam 1999. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Jakarta : Rineka Cipta.

Nurhadi 2004. Psikologi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosda Karya


Nur Aksin, 2008. Gemar Matematika : Jakarta. Intan Pariwara.
Purwanto . 2004. Psikologi Pendidikan . Bandung : Remaja Rosda Karya.
Soejadi 2000. Belajar dan Pembelajaran . Jakarta : Rineka Karya.
Sujana 2001. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung Remaja Rusda Karya.

Soedjadi, 2001. Pemanfaatan Realitas dan Lingkungan alam Pembelajan Matematika.


(Makalah disampaikan pada Seminar Nasional tentang Realistic Matematic Education
Universitas Negeri Surabaya).

Sukayati, 2004. Contoh Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Widyaswara


PPPG Matematika. Yogyakart

PENGARUH PENDEKATAN RME (Realistic Mathematics Education)


TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA
SISWA KELAS II SD NEGERI PENARUBAN 1 PURBALINGGA
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Yogyakarta
Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh
Tika Rahayu
NIM. 06108248259
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
JURUSAN PENDIDIKAN PRA SEKOLAH DAN SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
OKTOBER 2010

MOTTO
Kebanggaan terbesar kita bukan karena tidak pernah gagal, tetapi
kemauan kita untuk bangkit setiap kali kita gagal
(Ralph Waldo Emerson)
Jalan terdekat untuk meraih kemuliaan adalah dengan berusaha keras
menjadi apa yang anda inginkan dan sesuai dengan apa yang anda
pikirkan
(Socrates)
Rahasia hidup yang sukses adlah dengan mengetahui jalan hidup dan
menjalaninya dengan sunguh sungguh
( Henry Ford)

PERSEMBAHAN
Karya ini kupersembahkan sebagai rasa sayang dan cinta untuk :
Bapak Mukhlis dan ibu Suwarti tercinta, terima kasih atas doa dan nasehat
yang selalu kalian berikan, pengorbanan yang tiada lekang, rangkaian tasbih
dalam doa-doa yang tidak pernah putus, semoga tetesan butir-butir keringat
terwujud sebagai keberhasilan dan kebahagianku.
Suamiku tercinta Fuad Fauzan, yang telah banyak memberiku semangat untuk
tetap berjuang dan tidak mudah putus asa.
Buah hatiku tersayang Rafi Willyan Pippo Fauzan, yang selalu memberikan
semangat buat bunda.
Sahabat-sahabatku PGSD S6A yang selallu mengisi hari-hariku.
Semua teman-temanku yang telah memberiku motivasi dan telah memberi
kenangan terindah selama di bangku kuliah.
Almamater tercinta
Pembaca yang budiman

TERHADAP PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA


SISWA KELAS II SD NEGERI PENARUBAN I PURBALINGGA

Oleh:
Tika Rahayu
06108248259

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendekatan RME (Realistic
Mathematic Education) terhadap peningkatan prestasi belajar matematika siswa kelas
II SD Negeri Penaruban I Purbalingga.
Jenis penelitian ini adalah penelitian Quasi eksperimental dengan subyek
penelitian siswa kelas II SD Negeri Penaruban 1 Purbalingga sebanyak 40 siswa yang
dibagi menjadi dua kelompok yang sama besar, dimana 20 siswa berada pada
kelompok kontrol dan 20 siswa berada pada kelompok eksperimen. Instrumen yang
digunakan dalam penelitian ini adalah tes prestasi evaluasi hasil belajar siswa dan
lembar observasi kegiatan pembelajaran dikelas. Analisis data yang digunakan teknik
dengan sampel terpisah (Independent Sample).
Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, diperoleh hasil terdapat
perbedaan pengaruh yang signifikan pendekatan RME (Realistic Mathematics
Educations) terhadap peningkatan prestasi belajar matematika siswa kelas II SD
Negeri Penaruban I Purbalingga. Hal itu ditunjukkan adanya perbedaan yang
signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yaitu diperoleh nilai t
hitung 3,968 lebih besar dari nilai t tabel 2, 021 pada taraf signifikan 5%. Hasil akhir
nilai rata-rata prestasi belajar matematika pertemuan 3 pada kelompok eksperimen
sebesar 82,5 dan nilai rata-rata kelompok kontrol sebesar 68,5. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa nilai rata-rata kelompok eksperimen lebih tinggi dari nilai ratarata
kelompok kontrol.
Kata kunci: Pendekatan RME (Realistic Mathematics Education), Prestasi Belajar
Matematika, Mata Pelajaran Matematika

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah- Nya sehingga skripsi ini dapat penulis selesaikan.
Skripsi ini berjudul Pengaruh Pendekatan RME (Realistic Mathematics
Education) Terhadap Peningkatan Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas II SD
Negeri Penaruban 1 Purbalingga. Penelitian eksperimen yang dikenakan Siswa
Kelas II SD Negeri Penaruban 1 Purbalingga, disusun dalam rangka memenuhi salah
satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan pada program studi
Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri
Yogyakarta.
Dalam proses penyelesaian skripsi ini penulis mendapat dukungan dan bantuan
dari berbagai pihak. Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Achmad Dardiri, M. Hum. Selaku dekan Fakultas Ilmu
Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta yang telah memberi ijin dalam
penelitian ini.
2. Bapak A.M Yusuf, M. Pd selaku Ketua Jurusan Pendidikan Prasekolah dan
Sekolah Dasar (PPSD), Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta
yang telah memberi petunjuk dan nasihat dalam penyusunan skripsi ini.
3. Bapak Anwar Senen, M. Pd selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan Prasekolah dan
Sekolah Dasar (PPSD), Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta
yang telah memberikan dorongan dan nasihat dalam penyusunan skripsi ini.

4. Ibu Dra. MD Niron, M. Pd selaku dosen pembimbing yang telah berkenan


memberikan petunjuk, bimbingan dan dorongan dengan penuh keikhlasan dan
kesabaran dalam penyusunan skripsi ini.
5. Bapak dan ibu dosen PGSD yang telah memberikan ilmu dan pengalaman selama
di bangku perkuliahan sebagai bekal di masa sekarang dan yang akan datang.
6. Panitia Penguji Ujian Sarjana Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar,
yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti ujian sarjana
dan mempertahankan skripsi ini.
7. Kepala Sekolah Dasar Negeri Penaruban 1 Purbalingga yang telah mengijinkan
dan membantu peneliti untuk terlaksananya penelitian di sekolah dasar ini.
8. Bapak dan ibu guru Sekolah Dasar Negeri Penaruban 1 Purbalingga yang telah
memberi dukungan, semangat, membantu penulis dalam penelitian, dan berbagai
pandangan kritis dalam pengembangan penulisan skripsi ini.
9. Semua siswa kelas II SD Negeri Penaruban 1 Purbalingga yang telah membantu
peneliti dalam mepraktekan penggunaan pendekatan RME dalam mata pelajaran
matematika sehingga dalam proses belajar mengajar dapat berhasilan dan
berjalan lancaran dalam penelitian ini.
10. Semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu baik secara langsung
maupun tidak langsung telah ikut ambil bagian dalam penulisan skripsi ini.
Semoga kasih, dukungan dan bantuan yang telah anda berikan menjadi
pengalaman indah dan berharga bagi penulis dan semoga amal baik yang telah
mereka berikan senantiasa mendapat ridlo dari Allah SWT. Amin.

Sebesar apapun kemampuan yang penulis curahkan tidak akan bisa menutupi
kekurangan dan keterbatasan dari skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat lebih
bermanfaat bagi pembaca umumnya dan bagi penulis khususnya. Amin.
Yogyakarta, 5 Oktober 2010
Penulis

DAFTAR ISI
Halaman Judul... i
Halaman Persetujuan .... ii
Halaman Pernyataan ..... iii
Halaman Pengesahan.... iv
Halaman Motto .. v
Halaman Persembahan .. vi
Abstrak . vii
Kata Pengantar. viii
Daftar Isi .. ix
Daftar Tabel . xiv
Daftar Lampiran . xv

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang masalah 1
B. Identifikasi masalah .. 7
C. Batasan Masalah ... 7
D. Rumusan masalah .. 8
E. Tujuan penelitian ....... 8
F. Manfaat penelitian .. 8
G. Variabel Penelitian ...... 9

BAB II KAJIAN PUSTAKA


A. Deskripsi Teori ......... 10
1. Pengertian RME... 10
2. Prestasi Belajar..... . 15
a. Pengertian Prestasi Belajar. 15
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar.. 18
3. Konsep Dasar Belajar.... 19
a. Pengertian Belajar. ... 19
b. Ciri-ciri Perilaku Belajar19
c. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Belajar 21
4. Pembelajaran Matematiaka SD... .. 22
a. Pengertian Matematika SD. 22
b. Karakteristik Matematika SD. 23
c. Karakteristik Anak Usia SD. . 25
d. Teori belajar Matematika SD. 26
B. Penelitian yang Relevan ..... .28
C. Kerangka Berpikir.... 29
D. Hipotesis ...31

BAB III METODE PENELITIAN


A. Pendekatan Penelitian ..... 32
B. Desain dan Paradigma Penelitan..... 32
1. Dasain Penelitian.... 32

2. Paradigma Penelitian...... 34
C. Variabel Penelitian.... 34
D. Tempat dan Waktu Penelitian.. .... 35
E. Populasi dan Sampel ... 35
F. Metode Penelitian 36
G. Teknik Pengumpulan Data... 39
H. Teknik Analisis Data... 40

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Deskripsi Data Hasil Penelitian .. 44
B. Penyajian Data. .... 45
C. Pembahasan . 65
D. Keterbatasan Penelitian ....... 69

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan .. 70
B. Saran ... 70
DAFTAR PUSTAKA.... 71
LAMPIRAN... 73

DAFTAR TABEL
1. Tabel 1. Desain Penelitian... 33
2. Tebel 2. Uji Normalitas Hasil Pembelajaran Awal...... 48
3. Tabel 3. Uji Kesamaan Dua Varian Pembelajaran Awal 49
4. Tabel 4. Hasil Uji Normalitas Data Prestasi Belajar Matematika 55
5. Tabel 5. Hasil Uji Perbedaan Pertemuan 2.. 56
6. Tabel 6. Hasil Uji Normalitas Data Prestasi Belajar Matematika... 62
7. Tabel 7. Hasil Uji Perbedaan Pertemuan 3.. 64

DAFTAR LAMPIRAN
1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Kontrol ... 74
2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelompok Eksperimen .... 79
3. Kisi-kisi Lembar Observasi Guru ...... 83
4. Kunci Jawaban Soal Tes Penelitian .................................................................... 84
5. Hasil kondisi awal penbelajaran.. 86
6. Analisis data kondisi awal pembelajaran.. 87
7. Hasil pembelajaran peretemuan 2. 89
8. Analisis data paertemua 2.90
9. Hasil Prestasi Belajar pada Pertemuan..... 93
10. Analisis data pertemuan 3..... 94
11. Tabel Chi Kuadrat 98
12. Tabel Distribusi t...99
13. Surat Perijinan Penelitian ..100

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peningkatan penguasaan, pemanfaatan, dan pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi merupakan salah satu tujuan utama bangsa
Indonesia agar menjadi negara yang lebih maju. Tuntutan untuk meningkatkan
mutu pendidikan begitu gencar dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat.
Untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah dan masyarakat telah melakukan
berbagai upaya pada berbagai jenjang persekolahan sesuai dengan kurikulum
yang diberlakukan secara nasional yang memuat berbagai mata pelajaran.
Dalam upaya untuk mewujudkan tujuan nasional dan untuk
mengermbangkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia serta
mencerdaskan kehidupan bangsa tersebut, Pemerintah mengupayakan dan
menyelengarakan suatu sistem pendidikan yang terpadu, merata, setara,
dengan berbasis mutu lokal, regional, dan internasional. Tujuannya tidak lain
guna meningkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia, mengejar
ketertinggalan disegala aspek kehidupan dan menyesuaikan dengan perubahan
global serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Sadiman, 1986).
Disekolah dasar pada umumnya mengandalkan guru sebagai satusatunya
sumber belajar yang merupakan penekanan tugas guru sepenuhnya
untuk memegang kontrol dan kendali pada kegiatan belajar mengajar.
Walaupun harus diakui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara
1
2
perlahan-lahan telah menggeser peran guru. Para ahli memberikan pandangan
tentang profil pendidikan tahun 2000 sebagai berikut:
1. Peran guru sebagai penyebar informasi semakin kecil tetapi lebih banyak
berfungsi sebagai pembimbing, pembina dan pendorong.
2. Siswa adalah individu-individu yang komplek yang berarti mereka
mempunyai perbedaan cara belajar yang berbeda pula.
3. Proses belajar mengajar lebih ditekankan pada belajar dari pada mengajar.
Oleh karena itu, guru sangat dituntut untuk dapat selalu mengikuti
perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan terutama
dalam kegiatan belajar mengajar dikelas agar menghasilkan kualitas belajar
yang tinggi.
Upaya pembaharuan pendidikan telah banyak dilakukan pemerintah,
diataranya melalui seminar, lokakarya, dan pelatihan-pelatihan dalam hal
pemantapan materi pelajaran serta metode pembelajaran untuk bidang studi
tertentu. Misalnya IPA, Matematika dan lain-lain. Sudah banyak usaha yang
dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kualitas pendidikan
di Indonesia, khususnya pendidikan matematika disekolah, namun belum
menampakan hasil yang memuaskan baik ditinjau dari proses
pembelajarannya maupun dari hasil prestasi belajar siswanya (Yuwono,
2001:2)
Beberapa mata pelajaran yang disajikan disekolah dasar seperti
matematika adalah salah satu mata pelajaran yang menjadi kebutuhan dalam
melatih penalaran. Melalui pembelajaran matematika diharapkan akan
3
menambah kemampuan, dan mengembangkan keterampilan berhitung siswa.
Selain itu, matematika merupakan sarana berpikir dalam menentukan dan
mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan matematika
merupakan metode berpikir logis, sistematis dan konsisten. Oleh karena itu
semua masalah kehidupan yang membutuhkan pemecahan secara cermat dan
tetili selalu berarah pada matematika.
Dalam pembelajaran matematika sering kali didapatkan bahwa siswa
masih sulit menerima dan mempelajari matematika bahkan banyak yang
mengeluh bahwa pelajaran matematika membosankan, tidak menarik dan
susah untuk dipahami. Hal ini sesuai dengan hasil penelitan yang dilakukan
oleh (Djali dalam Surdika 1998 :2 ) yang menyimpulkan bahwa prestasi
belajar matematika disekolah dasar relatif rendah jika dibandingkan dengan
mata pelajaran lain.
Berbicara mengenai masalah rendahnya prestasi belajar siswa,
khususnya prestasi belajar matematika dapat disebabkan oleh faktor yang
berasal dari dalam diri siswa dan faktor yang berasal dari luar diri siswa
(Usman,1993:10). Faktor dari dalam siswa ialah kecerdasan, kedisplinan,
motivasi dan sebagainya sedangkan faktor dari luar siswa meliputi
lingkungan, guru, metode mengajar serta pendekatan pembelajaran.
Dalam proses belajar mengajar disekolah, model pembelajaran yang
digunakan guru merupakan salah satu faktor dari luar diri siswa yang dapat
mempengaruhi prestasi belajar siswa. Penggunaan pendekatan pembelajaran
yang cenderung membuat siswa pasif dalam proses belajar mengajar dapat
4
membuat siswa merasa bosan sehingga tidak tertarik untuk mengikuti
pelajaran tersebut. Menurut (Hudoyo, 1988 :3) pelajaran matematika sangat
berkaitan dengan konsep-konsep abstrak, sehingga pemahamannya
membutuhkan daya nalar yang tinggi. Oleh karena itu dibutuhkan ketekunan,
keuletan, perhatian dan motivasi yang tinggi untuk memahami materi
pelajaran matematika.
Pada umumnya proses pembelajaran matematika disekolah
menggunakan model pembelajaran konvensional yakni ceramah, tanya jawab,
pemberian tugas dan pembelajarannya didominasi oleh guru dan sedikit sekali
melibatkan siswa. Menurut (Yuwono, 2001:2) bahwa pembelajaran
matematika secara konvensional mengakibatkan siswa bekerja secara
prosedural dan memahami matematika tanpa penalaran, selain itu interaksi
antara siswa dengan guru selama proses belajar mengajar sangat kurang.
Pada pembelajaran matematika di SD Negeri Penaruban 1 Purbalingga,
dalam kegiatan pembelajarannya guru kurang memberikan peluang kepada
siswa untuk mengkontruksi sendiri konsep-konsep matematika, siswa hanya
menyalin apa yang dikerjakan oleh guru. Selain itu siswa tidak diberikan
kesempatan untuk mengemukakan ide dan mengkonstruksi sendiri dalam
menjawab soal latihan yang diberikan oleh [Link] observasi yang
telah dilakukan pada siswa kelas II SD Negeri Penaruban 1 Purbalingga
menunjukan bahwa siswa kelas II masih mengalami kesulitan dalm belajar
matematika dan prestasi belajarnya masih rendah. Selain itu penbelajaran yang
berlangsung di kelas cenderung terpusat pada guru dengan menggunakan
5
metode ceramah yang kurang melibatkan partisipasi siswa dalam mengikuti
proses pembelajaran. Hal ini terlihat pada saat proses pembelajaran yang
berlangsung, guru menjadi sumber informasi penuh serta siswa hanya
mendengar dan mencatat. Adapun karakteristik siswa kelas II cenderung
sering bermain sendiri atau kurang memperhatikan pelajaran yang
disampaikan selain itu mereka juga memiliki rasa ingin tahu yang besar dan
tertarik pada lingkungan sekitar.
Karakteristik siswa dapat digolongkan berdasarkan umur, menurut teori
belajar Peaget siswa sekolah dasar terletak pada tahapan operasional konkret
yaitu antara umur 7-12 tahun. Pada tahap ini dijelaskan bahwa anak
mengembangkan konsep dengan menggunakan benda konkret atau nyata.
Selain itu anak SD memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan lebih senang
bermain. Sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran dibutuhkan pendekatan
pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan siswa serta
mengembangkan potensi siswa secara maksimal.
Berdasarkan kondisi diatas maka, guru SD Negeri Penaruban 1
Purbalingga diharapkan melakukan perbaikan dalam proses belajar mengajar.
Salah satunya dengan menerapkan pendekatan pembelajaran yang
menekankan pada keaktifan siswa untuk mengembangkan potensi secara
maksimal. Pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru dalam
pembelajaran matematika adalah pendekatan RME (Realistic Mathematics
Education), karena pendekatan pembelajaran ini dapat mendorong keaktifan,
membangkitkan minat dan kreatifitas belajar siswa.
6
Pendekatan RME merupakan salah satu pendekatan dalam
pembelajaran matematika yang landasan filosofinya sejalan dengan falsafah
konstruktifis yang menyebutkan bahwa pengetahuan ini adalah konstruksi dari
seseorang yang sedang belajar (Marpaung, 2001:3). Dalam hal ini
pembelajaran dengan pendekatan RME diharapkan mampu mendorong siswa
untuk aktif bekerja bahkan mampu mengkonstruksi atau membangun sendiri
konsep-konsep matematika, dengan demikian RME berpotensi untuk
meningkatkan motivasi serta prestasi belajar matematika siswa kelas II
SD Negeri Penaruban 1 Purbalingga.
Menurut Kadir (2005) melalui pendekatan RME kita dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa, karena dengan menggunakan pendekatan
ini, siswa akan dilatih untuk mengontruksikan pengalamannya/pengetahuan
dan yang terpenting adalah menekankan konteks nyata yang dikenal murid
untuk mengontruksikan pengetahuan matematika oleh murid itu sendiri
dengan pelajaran yang akan dipelajari. Dengan menggunakan pendekatan
semacam ini siswa akan lebih cepat memahami apa yang sedang dipelajari,
dan pelajaran yang diperoleh akan lebih melekat dalam ingatan siswa. Dalam
pengajarannya guru memberikan contoh-contoh yang sesuai dengan kondisi
lingkungan siswa sehingga siswa mudah menyerap pelajaran yang
disampaikan.
7
B. Identifikasi Masalah
Bertolak dari latar belakang permasalahan maka muncul beberapa
permasalahan yang dapat diidentifikasi sebagai berikut :
1. Perstasi belajar matematika siswa masih rendah.
2. Dalam pembelajaran matematika guru masih mendominasi pembelajaran,
siswa hanya duduk, mencatat dan mendengarkan apa yang disampaikan
oleh guru.
3. Penggunaan metode konvensional dalam pembelajaran matematika
membuat siswa pasif dan cepat merasa bosan (ceramah kurang bervariasi).
4. Pendekatan penbelajaran dengan materi yang lebih berorientasi pada buku
teks dan kurang memperhatikan pada lingkungan siswa.
C. Batasan Masalah
Oleh adanya keterbatasan yang ada pada peneliti dan agar penelitian ini
lebih terarah, maka penelitian ini dibatasi pada
1. Prestasi belajar matematika siswa yang masih rendah.
2. Pendekatan penbelajaran dengan materi yang lebih berorientasi pada buku
teks dan kurang memperhatikan pada lingkungan siswa.
8
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, identifikasi dan batasan masalah
yang sudah dikemukakan oleh peneliti, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah: Apakah ada perbedaan pengaruh peningkatan prestasi
belajar matematika siswa kelompok eksperimen (pembelajaran dengan
menggunakan pendekatan RME) dengan kelompok kontrol (pembelajaran
yang tidak menggunakan pendekatan RME) ?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian diatas maka tujuan penelitian ini adalah apakah
dengan menerapkan pendekatan RME dalam proses belajar mengajar
matematika, dapat berpengaruh meningkatkan prestasi belajar matematika
siswa kelas II SD Negeri Penaruban 1 Purbalingga.
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memiliki manfaat sebagai bgerikut :
1. Bagi guru kelas : penelitian ini dapat memperbaiki dan meningkatkan
pembelajaran matematika dikelas, sehingga permasalahan yang dihadapi
oleh siswa maupun guru dapat diminimalkan.
2. Bagi peneliti : penelitian ini adalah bagian dari pengabdian yang dapat
dijadikan refleksi untuk terus mencari dan mengembangkan inovasi dalam
hal pembelajaran menuju hasil yang lebih baik.
3. Bagi pemerintah : penelitian ini dapat memberikan masukan kepada para
pengambil kebijakan dan perancang kurikulum untuk meningkatkan
kualitas proses belajar mengajar serta kualitas pendidikan kita.
9
G. Definisi Operasional Variabel
Untuk memperjelas dalam penelitian ini, maka definisi operasional
variabelnya adalah sebagai berikut:
1. Pendekatan RME (Realistic Mathematics Education) merupakan suatu
pendekatan pembelajaran yang menempatkan realitas lingkungan siswa
sebagai titik awal pembelajaran, karena dengan menggunakan pendekatan
itu siswa akan dilatih untuk mengontruksikan pengalaman/pengetahuannya
dan mengaitkan konteks nyata yang dikenal siswa untuk mengontruksikan
pengetahuan matematika oleh siswa itu sendiri dengan pelajaran yang akan
dipelajari. Dengan menggunakan pendekatan semacam ini siswa akan
lebih cepat memahami apa yang sedang dipelajari, dan pelajaran yang
diperoleh akan lebih melekat dalam ingatan siswa.
2. Prestasi belajar merupakan suatu hasil kemampuan yang dimiliki
seseorang sebagai proses belajar ataupun merupakan penguasaan
pengetahuan, keterampilan yang dikembangkan pada mata pelajaran yang
biasanya ditunjukkan dengan nilai tes atau nilai yang diberikan guru.
3. Peningkatan prestasi belajar adalah merupakan suatu hasil belajar siswa
berupa nilai/angka yang lebih tinggi dari pada nilai sebelumnya.
.
10
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Deskripsi Teori
1. Pengertian RME (Realistic Mathematics Education)
Pendidikan matematika realistik merupakan suatu pendekatan
pembelajaran matematika yang lebih menekankan realitas dan lingkungan
sebagai titik awal dari pembelajaran, menekankan keterampilan proses of
doing mathematics, berdiskusi dan berkolaborasi, beragumentasi dengan
teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan sendiri dan akhirnya
menggunakan matematika untuk menyelesaikan masalah baik secara
individu maupun kelompok.
Pendidikan Matematika Realistik pertama kali dikembangkan di
Belanda pada tahun 1970-an. Gagasan itu pada awalnya merupakan reaksi
penolakan kalangan pendidik matematika dan matematikawan Belanda
terhadap gerakan Matematika Modern yang melanda sebagian besar dunia
saat itu (Gravameijer, (Soedjadji, 2001).
Mulai tahun 1990-an Pembelajaran Matematika Realistik merupakan
pendekatan dalam pendidikan matematika di adaptasi di beberapa sekolah di
Amerika Serikat. Pendekatan ini muncul dengan nama kurikulum
Mathematics in Contex (Romberg, dalam Dimyati, 1998). Sedangkan untuk
Indonesia sendiri Pembelajaran Matematika Realistik ini diperkenalkan pada
10
11
tahun 2001 di beberapa Perguruan Tinggi secara kolaboratif melalui Proyek
Pendidikan Matematika Realistik di tingkat SD.
RME (Realistic Mathematics Education) merupakan model
pembelajaran yang menempatkan realitas dan lingkungan siswa sebagai titik
awal pembelajaran. Masalah yang nyata atau yang telah dikuasai dapat
dibayangkan dengan baik oleh siswa dan digunakan sebagai sumber
munculnya konsep atau pengertian matematika yang semakin meningkat
(Soedjadi, 2001: 2). Menurut Freudenthal (Ahmad Faozi, 2003), aktivitas
pokok yang dilakukan dalam Realistic Mathematics Education meliputi:
menemukan masalah-masalah/soal-soal kontekstual (looking for problems),
memecahkan masalah (solving problems), dan mengorganisir bahan ajar
(organizing a subject matter). Hal ini dapat berupa realitas-realitas yang
perlu diorganisir secara matematis dan juga ide-ide matematika yang perlu
diorganisir dalam konteks yang lebih luas. Kegiatan pengorganisasian seperti
ini disebut matematisasi.
Dalam Realistic Mathematics Education, siswa belajar
mematematikasasi masalah-masalah kontekstual. Dengan kata lain, siswa
mengidentifikasi bahwa soal kontekstual harus ditransfer ke dalam soal
bentuk matematika untuk lebih dipahami lebih lanjut, melalui penskemaan,
perumusan dan pemvisualisasian. Hal tersebut merupakan proses
matematisasi horizontal. Sedangkan matematisasi vertikal, siswa
menyelesaikan bentuk matematika dari soal kontekstual dengan
12
menggunakan konsep, operasi dan prosedur matematika yang berlaku dan
dipahami siswa (Dian Armanto, 2001).
RME (Realistic Mathemtics Education) pada dasarnya merupakan
pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami siswa untuk
memperlancar proses pembelajaran matematika sehingga dapat mencapai
pendidikan matematika secara lebih baik dari pada masa yang lalu. Yang
dimaksud dengan realita yaitu hal-hal yang nyata atau kongkret yang dapat
diamati atau dipahami peserta didik, sedangkan yang dimaksud dengan
lingkungan adalah lingkungan tempat peserta didik berada baik lingkungan
sekolah, keluarga, maupun masyarakat yang dapat dipahami peserta didik.
Lingkungan dalam hal ini disebut juga kehidupan sehari-hari.
Dalam pandangan RME (Realistic Mathematics Education),
pembelajaran matematika lebih memusatkan kegiatan belajar pada siswa dan
lingkungan serta bahan ajar yang disusun sedemikian rupa sehingga siswa
lebih aktif mengkonstruksi pengetahuan untuk dirinya sendiri. Peran guru
lebih banyak sebagai motivator terjadinya proses pembelajaran, bukan
sebagai pengajar atau penyampai ilmu. Ini berarti materi matematika yang
disajikan kepada siswa harus berupa suatu proses bukan sebagai barang
jadi. RME atau PMRI bertolak dari masalah-masalah yang kontekstual,
siswa aktif, guru berperan sebagai fasilitator, anak bebas mengeluarkan
idenya, siswa berbagi ide-idenya, artinya mereka bebas mengkomunikasikan
ide-idenya satu sama lain. Guru membantu mereka membandingkan ide-ide
13
itu dan membimbing mereka untuk mengambil keputusan tentang ide mana
yang lebih baik buat mereka (Hartadji Nursyafii dan Manar, 2001: 19).
Pembelajaran ini menekankan akan pentingnya konteks yang dikenal
murid dan proses konstruksi pengetahuan matematika oleh murid sendiri.
Masalah konteks nyata merupakan bagian inti dan dijadikan starting point
dalam pembelajaran matematika. Konstruksi pengetahuan matematika oleh
siswa dengan memperhatikan konteks itu berlangsung dalam proses yang
oleh Freudenthal dinamakan reinvensi terbimbing (guided reinvention).
Pendidikan Matematika realistik merupakan pendekatan yang
orientasinya menuju kepada penalaran siswa yang bersifat realistik sesuai
dengan tuntutan Kurikulum berbasis kompetensi yang ditujukan kepada
pengembangan pola pikir praktis, logis, kritis dan jujur dengan berorientasi
pada penalaran matematika dalam menyelesaikan masalah. Ada empat pilar
dasar yang perlu diberdayakan agar siswa nantinya mampu berbuat untuk
memperkaya pengalaman belajarnya (learning to do) dengan meningkatkan
interaksi dengan lingkungan fisik, sosial maupun budaya, sehingga mampu
membangun pemahaman dan pengetahuan terhadap dunia sekitarnya
(learning to know). Dengan demikian siswa dapat membangun pengetahuan
dan kepercayaan dirinya (learning to be). Kesempatan untuk berinteraksi
dengan individu ataupun kelompok yang bervariasi (learning to together).
Pembelajaran matematika selama ini terlalu dipengaruhi pandangan
bahwa matematika adalah alat yang siap pakai. Pandangan ini mendorong
14
guru bersikap cenderung memberi tahu konsep/sifat/teorema dan cara
menggunakannya. Dengan kata lain bahwa pembelajaran matematika
terfokus kepada guru. Pandangan yang lain (berasal dari Freudenthal yang
digunakan dalam PMRI) adalah matematika sebagai kegiatan manusia yang
lebih menekankan aktivitas siswa untuk mencari, menemukan dan
membangun sendiri pengetahuan yang dia perlukan.
Pembelajaran matematika realistik memiliki 5 karakteristik
(Gravemeijer, 1994) diantaranya :
a) Penggunaan konteks: Proses pembelajaran diawali dengan keterlibatan
siswa dalam pemecahan masalah konstektual.
b) Instrument vertikal: Konsep atau ide matematika direkonstruksikan oleh
siswa melalui model-model, yang bergerak dari produser informal ke
bentuk formal.
c) Konstribusi siswa: Siswa aktif mengkonstruksi sendiri bahan
matematika berdasarkan fasilitas dengan lingkungan belajar yang
disediakan guru, secara aktif menyelesaikan soal dengan cara masingmasing.
d) Kegiatan interaktif: Kegiatan belajar yang memungkinkan terjadi
komunikasi dan negosiasi antar siswa.
e) Keterkaitan topik: Pembelajaran suatu bahan matematika terkait dengan
berbagai topik matematika secara terintegrasi.
15
Dalam pembelajaran realistik konstektual ada dua prinsip yang
diutarakan yaitu pertama prisip utama dan kedua prinsip pembelajaran.
Dalam prinsip utama dirinci sebagai berikut: a) matematika sebagai aktifitas
manusia, b) materi matematika tidak dapat diajarkan tetapi dibelajarkan,
c) belajar dimulai dengan soal kehidupan sehari-hari yang meliputi nyata
bagi siswa, diketahui siswa dan mendukung konsep matematika. Sedangkan
yang kedua prinsip pembelajarannya adalah a) belajar secara maju dan
penemuan terbimbing, c) fenomena terbimbing dan d) pemodelan.
Pada prinsipnya dalam pembelajaran matematika realistik seorang
siswa didorong untuk memahami sesuatu. Sesuatu itu dapat berupa fakta
atau relasi matematika yang masih baru bagi siswa misalnya pola, sifat-sifat,
atau rumus tertentu. Fakta atau relasi matematika tersebut telah ada atau
telah ditemukan sebelumnya namun belum pernah diajarkan secara
langsung, baik oleh guru yang bersangkutan maupun orang lain. Metode
penemuan umumnya membutuhkan waktu yang lama dibandingkan dengan
metode ekspositori, karena kegiatan ini mengembangkan konsep maupun
keterampilan dengan pemecahan masalah.
2. Prestasi Belajar
a. Pengertian Prestasi Belajar
Pengertian prestasi belajar menurut teori kognitif adalah suatu
proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan informasi,
emosi, dan faktor-faktor lain.(Suryabrata 1988:11). Belajar merupakan
16
aktifitas yang melibatkan proses berfikir yang sangat komplek. Proses
belajar antara lain mencakup pengaturan stimulus yang diterima dan
menyesuaikannya dengan struktur yang sudah terbentuk di dalam
pikiran seseorang berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya.
Model belajar menurut teori kognitif mengatakan bahwa tingkah
laku seseorang ditentukan oleh presepsi serta pemahamannya tentang
situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Belajar merupakan
perubahan presepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat
sebagai tingkah laku yang nampak ( Asri. B, 2003: 18 ).
Menurut piaget, proses belajar seseorang akan mengikuti beberapa
tahapan-tahapan perkembangan sesuai dengan umurnya yang bersifat
hierakis artinya, harus dilalui berdasarkan urutan tertentu dan tidak dapat
belajar sesuatu yang berada diluar tahap kognitifnya. Untuk itu para
pendidik harus memahami tahap-tahap perkembangan kognitif para
muridnya agar dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran
sesuai dengan tahap-tahap tersebut. Pembelajaran yang dirancang dan
dilaksanakan tidak sesuai dengan kemampuan dan karakteristik siswa
tidak akan ada manfaatnya dan maknanya bagi siswa dan dapat
menurunkan prestasi belajar siswa. ( Asri Budiningsih, 2003: 24 ).
Prestasi menurut Siti Poniti ( 1995 ) adalah hasil yang dicapai
seseorang dalam melaksanakan kegiatan belajar. Edi Purwanto ( 1988 )
17
menyatakan bahwa prestasi adalah kecakapan atau hasil konkrit yang
dicapai pada saat periode tertentu.
Berdasarkan pendapat diatas yang dimaksud dengan prestasi dalam
pengertian ini adalah hasil yang telah dicapai siswa setelah
melaksanakan kegiatan belajar. Sedangkan menurut taksonomi Bloom
dalam ranah kognitif membagi pengertian prestasi belajar menjadi enam
jenjang yang kompleksitasnya bertingkat yaitu mulai dari pengetahuan,
pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi. Sedangkan ranah
afektif membagi pengertian prestasi belajar menjadi lima jenjang yaitu
menerima, merespon, menghargai, mengorganisasikan, dan bertindak
konsisten. Klasifikasi ranah afektif didasarkan pada asumsi bahwa
perilaku tingkat yang lebih rendah merupakan prasyarat bagi perilaku
tingkat yang lebih tinggi. Untuk ranah psikomotor yang dikembangkan
oleh Simpson membagi prestasi belajar menjadi lima, mulai dari
tingkatan lebih rendah, yaitu presepsi, persiapan, respon pembimbing,
mekanis, dan respon terpola.
Dengan demikian yang dimaksud dengan prestasi belajar dalam
mata pelajaran matematika di penelitian ini adalah hasil yang dicapai
oleh siswa baik dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor setelah
menempuh serangkaian evaluasi, penilaian selama proses belajar, dan
soal tertulis yang dapat dinyatakan dengan angka atau simbol maupun
kalimat selama mengikuti proses pembelajaran dalam kelas.
18
b. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Menurut Rumini(1995) ada beberapa faktor yang mempengaruhi
prestasi belajar faktor tersebut dikelompokkan menjadi 2 yaitu, faktor
psikis dan faktor fisik. Yang termasuk faktor psikis antara lain ialah :
kognitif, afektif, psikomotor, kepribadian, sedangkan yang termasuk
faktor fisik antara lain kondisi : indera, anggota badan, tubuh, kelenjar,
syaraf, dan organ organ dalam tubuh.
Faktor psikis dan fisik ini, keadaannya ada yang ditentukan oleh
faktor keturunan maupun lingkungan. Individu dengan faktor fisik
kurang baik, misalnya anggota badan lelah, sakit gigi, anggota badan
ada yang kurang beres, tentu tidak dapat konsentrasi dalam belajar, dan
sukar menelaah materi pelajaranya. Individu yang mempunyai gangguan
dalam salah faktor psikis misalnya tingkat kecerdasan terlalu rendah
tentu sukar menelaah materi pelajaran walupun materi pelajaran tersebut
sangat sederhana, sukar mengingat, daya fantasi lemah, juga dibutuhkan
proses belajar yang disesuaikan dengan kelemahannya, bila ingin
peningkatan dalam prestasi belajaranya.
Faktor dari luar individu lingkungan alam yang panas, gersang atau
lembab dan berbau menyebabkan orang enggan belajar, atau kalau
belajar mereka sukar menangkap informasi yang diberikan, tetapi alam
yang sejuk membantu orang lebih giat belajar.
19
3. Konsep Dasar Belajar
a. Pengertian Belajar
Belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai
hasil interaksi individu dengan lingkungannya dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya. (Santrock dan Yussen dalam Sugiarto)
mendefinisikan belajar sebagai perubahan yang relatife permanen karena
adanya pengalaman. Definisi belajar dalam 2 pengertian. Pertama,
belajar sebagai proses memperoleh pengetahuan dan kedua, belajar
sebagai perubahan kemampua bereaksi yang relatif langgeng sebagai
hasil latihan yang diperkuat. Dari berbagai definisi tersebut dapat
disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses memperoleh
pengetahuan dan pengalaman dalam wujud perubahan tingkah laku dan
kemampuan bereaksi yang relatif permanen atau menetap karena
adanya interaksi individu dengan lingkungannya.
b. Ciri-ciri Perilaku Belajar
Menurut Hamalik (2001:27) adapun tingkah laku yang
dikategorikan sebagai perilaku belajar memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Perubahan tingkah laku terjadi secara sadar
Suatu perilaku digolongkan sebagai aktivitas belajar apabila pelaku
menyadari terjadinya perubahan tersebut atau sekurang-kurangnya
merasakan adanya suatu perubahan dalam dirinya misalnya
menyadari pengetahuannya bertambah.
20
2) Perubahan bersifat kontinu dan fungsional
Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang
berlangsung secara berkesinambungan dan tidak statis. Satu
perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya
dan selanjutnya akan berguna bagi kehidupan atau bagi proses
belajar berikutnya.
3) Perubahan bersifat positif dan aktif
Perubahan tingkah laku merupakan hasil dari proses belajar apabila
perubahan-perubahan itu bersifat positif dan aktif. Dikatakan positif
apabila perilaku senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh
sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya.
4) Perubahan bersifat permanen
Perubahan yang terjadi karena belajar bersifat menetap atau
permanen.
5) Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah
Perubahan tingkah laku dalam belajar mensyaratkan adanya tujuan
yang akan dicapai oleh pelaku belajar dan terarah kepada perubahan
tingkah laku yang benar-benar disadari.
6) Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku
Perubahan yang diperoleh seseorang setelah melalui proses belajar
meliputi peruabahan keseluruhan tingkah laku.
21
c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Terdapat dua faktor yang mempengaruhi belajar yaitu faktor
internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang ada
dalam diri individu yang sedang belajar, sedang faktor eksternal adalah
faktor yang ada diluar individu. Faktor internal meliputi: faktor
jasmaniah dan faktor psikologis meliputi intelegensi, perhatian, minat,
bakat, motif, kematangan, dan kelelahan. Faktor ekstern yang
berpengaruh dalam belajar meliputi faktor keluarga, faktor sekolah, dan
faktor masyarakat. Faktor keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi
keluarga, pengertian orangtua, dan latar belakang kebudayaan. Faktor
mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi antar siswa,
disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran,
keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah. Faktor masyarakat
dapat berupa kegiatan siswa dalam masyarakat, teman bergaul, bentuk
kehidupan dalam masyarakat, dan media masa (Irwanto, 1984:105).
Muhibbinsyah (1997 dalam Sugihartono) membagi faktor-faktor
yang mempengaruhi belajar menjadi 3 macam, yaitu : 1) factor internal,
yang meliputi keadaan jasmani dan rohani siswa, 2) factor eksternal,
yang merupakan kondisi lingkunga di sekitar siswa, dan 3) factor
pendekatan belajar, yang merupakan jenis upaya belajar siswa yang
meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan
kegiatan mempelajari materi-materi pelajaran.
22
4. Pembelajaran Matematika SD
a. Pengertian Matematika SD
Matematika adalah terjemahan dari Mathematics. Namun arti atau
definisi yang tepat dari matematik tidak dapat diterapkan secara eksak
(pasti) dan singkat. Definisi dari matematika makin lama makin sukar
unutk dibuat, karena cabang-cabang matematika makin lama makin
bertambah dan makin bercampur satu sama lainnya.
James dan James (1976) dalam T. Wakiman (2001) dalam kamus
matematikanya mengatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang
logika mengenai bentuk, susunan, besaran dan konsep-konsep yang
saling berhubungan satu sama lainnya dengan jumlah yang banyaknya
terbagi ke dalam tiga bidang, yaitu aljabar, analisis dan geometri.
Johnson dan Rising (1972) dalam T. Wakiman (2001) dalam
bukunya mengatakan bahwa matematika adalah pola berfikir, pola
mengorganisasikan pembuktian yang logik, matematika itu adalah
bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat,
jelas dan akurat, representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa
bahasa simbol mengenai ide (gagasan) dari pada mengenai bunyi.
Matematika adalah pengetahuan struktur yang terorganisasikan sifatsifat
atau teori-teori itu dibuat secara deduktif berdasarkan kepada
unsur-unsur yang didefinisikan atau tidak didefinisikan, aksiomaaksioma,
sifat-sifat, atau teori-teori yang telah dibuktikan kebenarannya.
23
Matematika adalah ilmu tentang pola, keteraturan pola atau ide, dan
matematika itu adalah suatu seni, keindahannya terdapat pada
keterurutan dan keharmonisannya. Jadi menurut Johnson dan Rising,
jelas bahwa matematika adalah ilmu deduktif.
Menurut (Kline: 1973 dalam T. Wakiman: 2001) dalam bukunya
mengatakan pula, bahwa matematika itu bukanlah pengetahuan
menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya
matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami
dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam.
b. Karakteristik Matematika Siswa SD
Pembelajaran suatu pelajaran akan bermakna bagi siswa apabila
guru mengetahui tentang obyek yang akan diajarkan sehingga dapat
mengajarkan materi tersebut dengan penuh dinamika dan inovasi dalam
proses pembelajaran. Demikian hanya dengan pembelajaran matematika
di Sekolah Dasar, guru SD perlu memahami bagaimana karakeristik
matematika. Tidak mudah untuk mendefinisikan tentang matematika,
akan tetapi mereka semua sepakat bahwa sasaran dalam pembelajaran
matematika tidaklah konkret (Ruseffenddi, 1989:22).
Istilah matematika berasal dari bahasa Yunani, mathein atau
manthenein yang berarti mempelajari. Kata matematika diduga erat
hubungannya dengan kata Sansekerta, Medha, atau Widya yang artinya
24
kepandaian, ketahuan atau intelegensia. Berikut ini beberapa definisi
tentang matematika:
1) Matematika itu terorganisasikan dari unsur-unsur yang tidak
didefinisikan, definisi-defisi, aksioma-aksioma, dan dalil-dalil yang
dibuktikan kebenarannya, sehingga matematika disebut ilmu
deduktif.
2) Matematika merupakan pola berpikir, pola mengorganisasikan
pembuktian logik, pengetahuan struktur yang terorganisasi memuat :
sifat-sifat, teori-teori, dibuat secara deduktif berdasarkan unsur yang
tidak didefinisikan, oksioma, sifat atau teori yang telah dibuktikan
kebenarannya.
3) Matematika merupakan telaah tentang pola dan hubungan, suatu
jalan atau pola berpikir, suatu seni, suatu bahasa dan suatu alat.
4) Matematika bukan pengetahuan tersendiri yang dapat sempurna
karena dirinya sendiri, tetapi beradanya karena untuk membantu
manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial,
ekonomi, dan lain. (Ruseffendi, 1989: 23)
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa matematika
merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari struktur yang
abstrak dan pola hubungan yang ada didalamnya. Ini berarti bahwa
belajar matematika pada hakekatnya adalah belajar konsep, struktur
konsep, dan mencari hubungan antar konsep dan strukturnya. Ciri
25
khas matematika yang deduktif aksiomatis ini harus diketahui oleh
guru sehingga mereka dapat membelajarkan matematika dengan
tepat, mulai dari konsep-konsep sederhan sampai komplek. (Sri
Subarinah, 2005:1-2 )
Problematika pelajaran matematika SD senantiasa manarik
diperbincangkan mengingat kegunaannya yang penting untuk
mengembangkan pola pikir dan prasyarat ilmu-ilmu eksak yang
lainnya, tetapi masih dirasakan sulit untuk diajarkan secara mudah
oleh guru dan sulit diterima sepenuhnya oleh siswa SD. Kegunaan
matematika bagi siswa SD adalah sesuatu yang jelas yang tidak
perlu dipersoalkan lagi, terlebih pada pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Hal ini penting untuk segera dipecahkan
dalam masalah pembelajaran matematika SD adalah bagaimanakah
mengajarkan matematika sehingga guru dan siswa senang dalam
proses belajar mengajar.
c. Karakteristik Anak Usia Sekolah Dasar
Masa usia sekolah dasar sekitar (6-12 tahun) ini merupakan
tahapan perkembangan penting dan bahkan fundamentl bagi kesuksesan
perkembangan selanjutnya. Karena itu, guru tidaklah mungkin
mengabaikan kehadiran dan kepentingan mereka. Ia akan selalu dituntut
untuk memahami betul karakteristik anak, arti belajar dan tujuan
kegiatan belajar bagi mereka disekolah dasar. Karakteristik anak usia
26
sekolah dasar secara umum sebagaimana dikemukakan( Bassett, Jacka,
dan Logan 1983) berikut ini:
1) Mereka secara alamiah memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan
tertarik akan dunia sekitar yang mengelilingi dunia mereka sendiri.
2) Mereka senang bermain dan lebih suka bergembira atau riang.
3) Mereka suka mengatur dirinya untuk menengani berbagai hal,
mengeksplorasi suatu situasi dan mencobakan usaha-usaha baru.
4) Mereka biasanya tergetar perasaannya dan terdorong untuk
berprestasi sebagai mana mereka tidak suka mengalami ketidak
puasan dan menolak kegagalan-kegagalan.
5) Mereka belajar secara efektif ketika mereka merasa puas dengan
situasi yang terjadi.
6) Mereka belajar dengan cara bekerja, mengobserfasi, berinisiatif dan
mengajar anak-anak lainnya.(Mulyani Sumantri, 1998: 14).
d. Teori Belajar Matematika SD
Teori belajar yang berkembang dalam dunia matematika (terutama
SD ) didasarkan berdasarkan temuan-temuan ahli tentang pentingnya
memahami tingkat berpikir siswa. Pada dasarnya suatu materi pelajaran
matematika di SD itu dapat dimengerti dengan baik, apabila siswa yang
belajar sudah siap menerimannya. Oleh karenannya kita perlu
mengetahui tahapan-tahapan berpikir siswa SD berdasarkan teori-teori
berikut:
27
1) Teori Belajar Jean Peaget
Perkembangan mental setiap pribadi melewati 4 tahapan yaitu :
sensor motor, praoperasioanal, operasioanal konkret, dan operasional
formal.
a) Tahap sensormotorik ( 0-2 tahun )
Anak mengembangkan konsep melalui interaksi dengan dunia
fisik sejak usia dini, dasar-dasar pertumbuhan mental dan belajar
matematika mulai berkembang.
b) Tahap praoperasional ( 2-7 tahun )
1. Anak sudah mulai menggunakan bahasa untuk menyatakan
ide, tetapi ide tersebut masih sangat tergantung pada
persepsi.
2. Anak mulai menggunakan simbol, dia belajar membedakan
antar istilah dan obyek yang diwakili oleh obyek tersebut.
3. Anak sudah mulai mengenal ide tentang kekekalan atau
konserfasi yang sederhana.
c) Tahap operasional konkret ( 7-12 tahun )
1. Anak mengembangkan konsep dengan menggunakan bendabenda
konkret.
2. Bahasa merupakan alat yang sangat penting untuk
menyatakan dan mengingat konsep-konsep.
28
3. Anak sudah mulai berpikir logis. Hal itu sebagai akibat
kegiatan manipulasi benda-benda konkret.
4. Konsep kekekala sudah dapat diterima dengan baik.
Dasarnya : pengamatan dan penggunaan pikiran yang logis.
d) Tahap operasional formal (12 tahun dewasa )
1 Sudah mampu berpikir secara abstrak
2 Dapat menyusun hipotesis dari hal-hal yang abstrak menjadi
dunia real.
3 Tidak terlalu bergantung pada benda-benda konkret.
( T. Wakiman, 2001: 5-7)
Pada teori Peaget diatas, siswa SD masuk dalam tahapan
operasional konkret sehingga dalam pembelajaran harus
menggunakan benda-benda yang nyata sehingga
pembelajaran akan lebih bermakna dan terserap secara
maksimal.
B. Penelitian yang Relevan
Ahmad Faozi (2003) dalam penelitiannya tentang Implementasi
Pendidikan Matematika Realistik Indonesia dalam Pembelajaran Matematika
Statistika di SLTP Negeri 2 Sleman, menyimpulkan bahwa (PMR)
Pendidikan Matematika Realistik merupakan pendekatan pembelajaran
matematika yang memandang 3 hal yaitu, bagaimana memandang
matematika, siswa belajar matematika dan guru yang mengajar matematika.
29
Matematika dipandang sebagai kegiata / aktivatas siswa, belajar matematika
merupakan aktivitas menemukan kembali konsep matematika. Siswa
mengontruksi sendiri pengetahuan yang berasal dari seperangkat ragam
pengalaman. Jadi siswa tidak dipandang sebagai penerima pasif metematika
dan guru membimbing dan memfasilitasi siswa.
Hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Kadir (2005) menyimpulkan
bahwa melalui penerapan pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik
(PMR), hasil belajar matematika siswa kelas V SD Negeri 3 Poasia Kota
Kendari dapat ditingkakan. Dan hasil penelitiannya juga tergambar adanya
peningkatan minat dan motivasi belajar siswa setelah siswa di ajar dengan
menggunakan pendekan RME.
C. Kerangka Berpikir
Dalam proses belajar mengajar tujuan pembelajaran merupakan salah satu
komponen yang penting. Tujuan yang ingin dicapai dalam proses tersebut
meliputi aspek-aspek kognitif, afektif, psikomotor. Untuk mencapai tujuan yang
diinginkan dalam suatu proses belajar mengajar yang efektif dan efesien, maka
seorang guru biasanya akan memilih metode dan media dan pendekatan
pembelajaran yang secara nalar diperkirakan tepat untuk menyampaikan suatu
topik yang sedang dibahas.
Mengingat matematika merupakan suatu mata pelajaran yang lebih
banyak berhubungan dengan pengamatan maupun pengalaman langsung maka
30
sangat dibutuhkan adanya metode atau pendekatan yang sesuai dengan
karakteristik matematika tersebut.
Untuk itu pendekatan matematika realistik pantas direkomendasikan
dalam pengajaran matematika. Hal ini disebabkan karena pendekatan
matematika realistik merupakan pendekatan pembelajaran yang mengarahkan
siswanya untuk secara langsung mengalami pengalamannya sendiri. Pendekatan
matematika realistik melibatkan siswa atau menggunakan alam sekitar dan
benda-benda nyata sehingga mereka dapat berdiskusi dan berkolaborasi,
beragumentasi dengan teman sekelas sehingga mereka dapat menemukan
sendiri dan akhirnya menggunakan matematika untuk menyelesaikan masalah
baik secara individu maupun kelompok.
Selama ini matematika masih dianggap sebagai salah satu mata pelajaran
yang sukar sehingga ketertarikan atau minat siswa untuk belajar matematika
masih rendah. Dengan menggunakan pendekatan matematika realistik yang
mengaitkan pelajaran matematika dengan lingkungan sekitar siswa dan dengan
menggunakan benda-benda yang nyata adalah salah satu solusi untuk
meningkatkan prestasi dan minat siswa belajar matematika siswa kelas II SD
Negeri Penaruban 1 Purbalingga.
Untuk itu, dengan menggunakan pendekatan matematika realistik
diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa dalam mata
pelajaran matematika sehingga prestasi belajar matematika siswa dapat
meningkat.
31
D. Hipotesis
Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir diatas maka dirumuskan
hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut: Ada perbedaan yang signifikan
peningkatan prestasi belajar matematika siswa antara kelompok eksperimen
(pembelajaran menggunakan pendekatan RME) dengan kelompok kontrol
(pembelajaran yang tidak menggunakan pendekatan RME).
32
BAB III
METODE PENELITAN
A. Pendekatan Penelitian
Ditijau dari caranya, ada dua macam pendekatan penelitian. Yang
pertama pendekatan penelitian tindakan (action research), dan yang kedua
pendekatan penelitian eksperimen. Suharsimi (2002: 2-3). Penelitian ini
termasuk dalam penelitian Quasi eksperimental adalah merupakan
penelitian eksperimen yang memiliki perlakuan (treatment), pengukuranpengukuran
dampak ( outcome measures), dan unit-unit eksperimen
(expermental unit) namun tidak menggunakan pengambilan data secara
acak (random assigment) dalam penentuan kelompok untuk
menyimpulkan adanya perubahan akibat perlakuan.
B. Desain dan Paradigma Penelitian
1. Desain Penelitian
Desain penelitian mempunyai dua pengertian, yaitu secara luas dan
sempit. Secara luas, desain penelitian merupakan semua proses yang
diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Dalam hal ini
komponen desain dapat mencangkup semua struktur penelitian yang
diawali sejak menemukan ide, menentukan tujuan, kemudian
merencanakan proses penelitian yang didalamnya mencangkup
merumuskan masalah, menentukan tujuan penelitian, mencari sumber
32
33
informasi dan melakukan kajian dari berbagai pustaka, menentukan
metode yang digunakan, analisis data dan mengetes hipotesis untuk
menetapkan hasil penelitian, dan sebagainya. Atri desain penelitian secara
luas didukung oleh pendapat beberapa akhli (Babbie,1983), (Gay, 1983),
dan (Nazir, 1988) dalam Sukardi (2003: 183).
Sedangkan desain penelitian secara sempit dapat diartikan sebagai
penggambaran secara jelas tentang hubungan antarvariabel, pengumpulan
data, dan analisis data, sehingga dengan adanya desain yang baik peneliti
maupun orang lain yang berkepentingan mempunyai gambaran tentang
bagaimana keterkaitan antar variable yang ada dalam konteks penelitian
dan apa yang hendak dilakukan oleh seorang peneliti dalam melaksanakan
penelitian. (Sukardi,2003: 184).
Adapun desain dalam penelitian eksperimen adalah sebagai
berikut :
Tabel 1. Desain penelitian
Kelompok Variabel Bebas Pasca uji
EK
X
_-
OO
Keterangan :
E : Eksperimen
K : Kontrol
O : Tes
X : Perlakuan
34
2. Paradigma Penelitian
Sugiyono (2008:66) menyatakan bahwa paradigma penelitian dapat
diartikan sebagai pola pikir yang menunjukan hubungan antara variabel
yang akan diteliti yang sekaligus mencerminkan jenis dan jumlah rumusan
masalah yang perlu dijawab dalam penelitian, teori yang digunakan untuk
merumuskan hipotesis, dan teknik analisis statistik yang akan digunakan.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan jenis paradigma ganda dengan
dua variabel independen yaitu dalam paradigma ini terdapat dua variabel
independen dan satu dependen. Apabila digambarkan dalam bentuk
paradigma maka akan tampak hubungan sebagai berikut:
Keterangan:
X1 = Model pembelajaran dengan pendekatan RME
X2 = Model pembelajaran konvensional
Y = Prestasi belajar siswa.
C. Variable Penelitian
Variabel penelitian merupakan segala sesuatu yang berbentuk apa saja
yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga memperoleh informasi
tentang hal tersebut atau suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek
atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang diterapkan oleh peneliti
X1
X2
Y
35
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya Sugiono (2008: 60-61).
Adapun variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Variable bebas (Variable Independent) adalah merupakan variabel yang
mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan. Dalam penelitian ini
yang menjadi variabel bebasnya adalah Pendekatan Matematika
Realistik.
2. Variable terikat ( Variable Dependent) merupakan variabel yang
dipengaruhi atau yang menjadi akibat. Dalam penelitian ini yang menjadi
variabel terikatnya adalah prestasi belajar siswa.
D. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Penaruban I Purbalingga.
Lokasi SD tersebut berada di pinggir jalan raya sehingga relatif mudah
dijangkau kendaraan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2010.
E. Populasi dan Sampel
Menurut Sugiyono (2008: 117) populasi adalah wilayah generalisasi
yang terdiri atas: obyek/ subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik
tertentu yang diterapkan oleh peneliti yang ditetapkan olah peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya, sedangkan sampel bagian dari
jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.
Penelitian ini mengambil seluruh populasi menjadi sampel penelitian
sehingga semua populasi menjadi subyek dalam penelitian ini. Populasi
penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas II, dan jumlahnya sebanyak
40 siswa. Kelompok eksperimen adalah kelompok siswa yang mendapat
36
perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan RME, sedangkan untuk kelompok kontrol adalah kelompok yang
mendapat perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran konvensional
atau ceramah.
F. Metode Penelitian
Metode penelitian yang dipilih dalam penelitian ini adalah metode
eksperimen. Alasan pemilihan metode ini adalah sebagaiman pendapat yang
dikemukakan oleh Jalaludin Rakhmat (1993: 32) yaitu untuk meneliti
hubungan sebab akibat dengan manipulasi satu atau lebih kelompok
eksperimen dan kemudian membandingkan hasil penelitian eksperimen itu
dengan kelompok kontrol yang tidak mengalami manipulasi/tindakan.
Menurut (Yatin Riyanto, 1996:28-40 dalam Nurul Zuriyah, 2005: 57-
58), penelitian eksperimen merupkan penelitian yang sistematis, logis dan
teliti didalam melakukan kontrol terhadap kondisi. Dalam melakukan
eksperimen peneliti memanipulasi suatu stimulant, treatment atau kondisikondisi
eksperimental, kemudian mengobservasi pengaruh yang diakibatkan
oleh adanya perlakuan atau manipulasi tersebut.
Dalam penelitian eksperiment, kontrol yang cermat terhadap
kemungkinan masuknya pengaruh faktor lain sangat diperlukan, agar
mendapatkan faktor-faktor yang benar-benar murni dari faktor-faktor yang
dimanipulasi tadi.
Adapun tujuan penelitian eksperimen adalah sebagai berikut :
1) Menguji hipotesis yang diajukan dalam penelitian
37
2) Memprediksi kejadian atau peristiwa di dalam latar eksperimen.
3) Menarik generalisasi hubungan antar variabel.
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan desain Intrac-
Group Comparison yaitu suatu desain yang terdapat satu kelompok yang
digunakan untuk penelitian, tetapi dibagi dua, yaitu setenggah untuk
kelompok eksperimen (yang diberi perlakuan) dan setengah untuk kelompok
kontrol (yang tidak diberi perlakuan). Sugiyono, (2008: 111).
Studi eksperimen dalam kelompok ini dilakukan terhadap dua
kelompok peserta didik, pada dua kelompok ini diberi perlakuan yang berbeda
dan pemberian materi pelajaran yang sama. Untuk kelompok eksperimen
digunakan pendekatan matematika realistik dalam penyampaian materi,
sedangkan kelompok kontrol menggunakan model pembelajaran konvensional
atau ceramah. Adapun pengukur prestasi belajar matematika antar dua
kelompok adalah sama yaitu dengan menggunakan evaluasi hasil belajar
pengukur prestasi belajar matematika siswa kelas II SD Negeri Penaruban 1
Purbalingga.
a. Pelaksanaan Eksperimen Quasi
Dalam penelitian ini penentuan waktu untuk kelas eksperimen dan
kelas kontrol dilakukan undian. Kemudian karakteristik siswa dipadankan
pada masing-masing kelompok. Dengan demikian maka sebelum
treatment dilakukan subyek mempunyai titik awal yang sama sehingga
apabila terjadi perbedaan pada prestasi belajar matematika siswa hal ini
akbat adanya perlakuan.
38
1) Treatment / Tindakan
Dalam pelaksanaan treatment / tindakan peneliti melibatkan tiga
unsur pokok yaitu : guru, peserta didik / siswa dan peneliti sendiri.
Guru adalah sebagai pelaku manipulasi dalam kegiatan belajar
mengajar dengan mendapatkan arahan dari peneliti. Manipulasi yang
dimaksud adalah dalam hal ini memberikan perlakuan dengan pola
pembelajaran dengan menggunakan pendekatan RME pada kelompok
eksperiment dan pola pembelajaran tradisional pada kelompok kontrol.
Anak sebagai unsur yang menjadi sasaran manipulator. Sedangkan
peneliti merupakan unsur pengamat, dimana peneliti mengamati
secara langsung kegiatan belajar mengajar. Dengan terlibatnya unsurunsur
tersebut diatas maka unsur yang mendukung metode eksperimen
telah terpenuhi.
Setelah kedua kelompok dianggap sepadan, maka tahap
selanjutnya antara kelompok eksperiment dan kelompok kontrol
mendapatkan perlakuan. Tahap ini dibagi menjadi 2 yaitu :
a) Persiapan
Tahap ini bertujuan untuk mempersiapkan peralatan serta segala
sesuatu yang berkaitan dengan pelaksanaan eksperimen secara
teknis seperti persiapan ruangan, persiapan media yang di gunakan
serta persiapan pemberian evaluasi belajar pada setiap akhir
pembelajaran.
39
b) Pelaksanaan
Pada tahap ini bertujuan untuk mengambil dan mengumpulkan
data, oleh karena itu setelah semua persiapan selesai dilakukan
maka tindakan dimulai dengan kelompok eksperiment
mendapatkan pola pembelajaran dengan pendekatan realistik dan
dibantu dengan media, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan
pola pembelajaran tradisional. Pelaksanaan treatment/tindakan
dilaksanakan dengan pengajaran dan tatap muka.
c) Post Eksperiment
Langkah ketiga ini merupakan pengukuran terhadap perlakuan
(treatment) yang diberikan evaluasi pembelajaran. Pemberian
evaluasi pada akhir pembelajaran digunakan untuk menentuntukan
akibat pemberian perlakuan / teratmen / pendekatan. Dan
kemudian data hasil terakhir masing-masing kelompok diolah dan
dianalisis sehingga dapat diketahui manakah diantara perlakuan
yang memberikan perbedaan yang lebih besar terhadap prestasi
belajar matematika siswa.
G. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian adalah sebagai alat
pengumpulan data antara lain: tes, angket, wawancara, dokumentasi dan
sebagainya. Sehubung dengan adanya metode tersebut maka dalam penelitian
ini dipilih beberapa metode, antara lain tes dan observasi. Berikut ini akan
diuraikan masing-masing metode yang digunakan dalam penelitian ini.
40
Metode tes prestasi digunakan untuk mengukur penguasaan dan kemampuan
para siswa, metode obsevasi digunakan untuk melihat data pola pembelajaran
guru dengan menggunakan pendekatan matematika realistik.
1. Metode tes prestasi
Tes prestasi pada umumnya mengukur penguasaan dan kemampuan para
peserta didik selama waktu tertentu selama menerima proses belajar
mengajar dalam kelas.
2. Metode Observasi
Observasi adalah instrument lain yang sering dijumpai dalam
penelitian. Dalam penelitian kuantitatif observasi lebih sering digunakan
sebagai alat pelengkap instrument lain. Dalam observasi ini peneliti lebih
banyak menggunakan salah satu dari panca indranya yaitu indra
penglihatan. Instrument observasi akan lebih efektif jika informasi yang
hendak diambil berupa kondisi atau fakta alami, tingkah laku dan hasil
kerja responden dalam situasi alami (Sukardi, 2003:78-79).
H. Teknik Analisis Data
Hipotesis dalam setiap penelitian perlu diuji. Tujuan dari uji hipotesis
adalah untuk membuktikan kebenaran dari hipotesis yang telah dirumuskan.
belajar matematika siswa antara kelompok ekspermen (pembelajaran
menggunakan pendekatan RME) dengan kelompok kontrol (pembelajaran
yang tidak menggunakan pendektan RME).
Untuk menguji hipotesis diatas menggunakan analisis uji t. Analisis ini
digunakan karena peneliti ingin mengetahui ada tidaknya perbedaan prestasi
41
belajar matematika antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Untuk menganalisis digunakan rumus uji t sebagai berikut Suharsmi Arikunto
(2002:238) :
=

(
) + (
) 1

+1


Keterangan:
= skor rerata kelompok eksperimen
= skor rerata kelompok kontrol

= jumlah kuadrat skor kelompok eksperimen

= jumlah kuadrat skor kelompok kontrol

= kuadrat jumlah skor kelompok eksperimen

= kuadrat jumlah skor kelompok kontrol
n1 = banyaknya skor yang dimiliki subyek kelompok eksperimen
n2 = banyaknya skor yang dimiliki subyek kelompok kontrol
Kriteria penerimaan atau penolakan hipotesis adalah sebagai berikut :
apabila dalam perhitungan diperoleh harga t lebih besar atau sama dengan t
tabel, maka dapat dikatakan bahwa hipotesis yang diajukan atau hipotesis
alternatif (Ha) diterima dan hipotesis nihil (Ho) ditolak. Sebaliknya jika t
hitung lebih kecil dari harga t tabel, maka hipotesis yang digunakan atau
hipotesis alternatif (Ha) ditolak dan hipotesis nihil (Ho) diterima. Taraf
signifikansi untuk menerima atau menolak hipotesis adalah 5%.
Selanjutnya akan dibahas mengenai persyaratan analisis. Suatu analisis
statistik hanya akan berlaku apabila memenuhi asumsi-asumsi
42
atau landasan-landasan teori yang melandasinya. Asumsi untuk uji t untuk
eksperimen, seperti dikatakan oleh Soetrisno Hadi (1990:478) bahwa kedua
kelompok tersebut yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diambil
dari populasi yang sama sehingga akan sama pula variansinya. Sedangkan
Isparyadi (1989:53) menyebutkan 2 macam yang perlu diperhatikan dalam
menggunakan analisis uji t yang uji homogenitas dan uji normalitas.
Memperhatikan konsep di depan, maka berikut dikemukakan
pengkajian persyaratan analisis data dengan uji t.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas ini untuk memeriksa apakah populasi yang diselidiki
berdistribusi normal atau tidak. Tes statistik untuk menguji normalitas ini
adalah uji Chi Kuadrat dengan rumus yang dikutip dari Sutrisno Hadi
(1987:317) sebagai berikut :
=




Keterangan :
fo = Frekuensi yang diperoleh atau yang diobservasi dari sampel.
fh = Frekuensi yang diharapkan dari sampel
X2 = Chi Kuadrat
Hasil perhitungan kemudian dikonsultasikan dengan table nilai Chi
Kuadrat, jika X2 diobservasi lebih kecil dari pada X2 tabel, berarti Ho yang
menyatakan bahwa populasi yang diselidiki tersebut tidak menyimpang
dari distribusi normal, diterima. Bila mana X2 observasi adalah nilai chi
kuadrat yang diperoleh dari hasil perhitungan dan X2 adalah nilai chi
43
kuadrat yang diperoleh dari tabel. Taraf signifikansi yang dikehendaki
sebesar 5% dengan db (derajat kebebasan) = N Jumlah Self h.
b. Uji Homogenitas Varians
Uji homogenitas ini untuk mengetahui apakah sampel yang diambil
dari populasi memiliki signifikansi atau sama lain. Tes statistik untuk
menguji homogenitas ini adalah uji F, yakni dengan membandingkan
varians terbesar dengan varians terkecil. Rumus yang digunakan menurut
Sugiyono (2008:276) yaitu :
F=
Varien terbesar
Varians terkecil
Dari hasil perhitungan kemudian dikonsultasikan dengan tabel nilai
F jika Fo lebih kecil dari Ft, berarti Ho yang menyatakan bahwa antara
kelompok tidak menunjukan perbedaan varians yang sama, diterima.
Dalam Fo adalah nilai F yang diperoleh dari hasil perhitungan dan Ft
merupakan nilai F yang diperoleh dari tabel. Taraf signifikansi yang
dikehendaki adalah 5% dengan db = N 1.
44
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. DESKRIPSI DATA HASIL PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 1 Penaruban, kecamatan
Kaligondang, kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Letak sekolah cukup
strategis karena terletak di tepi jalan kota Purbalingga, dengan luas 5000 m,
terdiri dari 20 ruangan yaitu 10 ruang kelas, 1 ruang kepala sekolah, 1 ruang
guru, 1 ruang UKS, 1 mushola, 1 ruang perpustakaan, 1 ruang gudang, dan 4
kamar mandi. Siswa SD Negeri 1 Penaruban secara keseluruhan berjumlah 270
siswa, sedangkan guru di SD Negeri 1 Penaruban berjumlah 14 guru. Subyek
dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas II sebanyak 40 siswa. Yang
terdiri dari 18 iswa laki-laki, dan 22 siswa perempuan.
Dalam penelitian ini, subyek penelitiannya adalah seluruh siswa kelas II
SD Negeri Penaruban 1 Purbalingga. Kelas II SD Negeri Penaruban 1
Purbalingga ini berada disebelah utara kelas I dan bersebalahan dengan kelas III.
Ruangan kelas ini sudah tertata rapi, meja dan kursi yang digunakan siswa dalam
kegiatan pembelajaran pun sangat rapi. Lantai dan ruangan kelas selalu dijaga
kebersihannya sehingga nyaman untuk dilaksanakannya kegiatan pembelajaran.
Meja guru berada didepan berdekatan dengan papan tulis. Di ruang kelas ini juga
terdapat lemari yang digunakan untuk menyimpan buku-buku pelajaran yang
digunakan oleh siswa kelas II. Jumlah siswa kelas II SD Negeri Penaruban 1
44
45
Purbalingga pada tahun ajaran 2009/2010 adalah 40 siswa yang terdiri dari 18
siswa laki-laki dan 22 siswa perempuan.
B. PENYAJIAN DATA
Fokus penelitian ini adalah pengaruh pendekatan pembelajaran RME
terhadap peningkatan prestasi belajar matematika siswa kelas II SD Negeri
Penaruban 1 Purbalingga. Dalam pelaksanaan penelitian ini menggunakan
penelitian eksperimen. Pelaksanaan penelitian eksperimen dalam pembelajaran
matematika siswa kelas II SD Negeri Penaruban 1 Purbalingga ini dilaksanakan
dalam dua kelompok. Pertama, kelompok eksperimen yang di beri tindakan atau
pendekatan RME dalam proses pembelajaran matematika. Kedua adalah
kelompok kontrol, kelompok yang tidak mendapatkan perlakuan selama proses
pembelajaran. Dari 40 siswa dibagi menjadi dua kelompok yang sama besar,
dimana 20 siswa berada pada kelompok kontrol dan 20 siswa sebagai kelmpok
eksperimen yang mendapat perlakuan atau tindakan pendekatan pembelajaran
RME.
Penentuan atau pembagian kelompok dilakukan dengan cara random,
dimana pengambilan anggota dilakukan secara acak tampa memperhatikan strata
yang ada dalam populasi. Cara demikian disebabkan karena anggota populasi
dianggap sama atau homogen. Penentuannya adalah dengan cara membagi siswa
menjadi dua kelompok yang jumlahnya sama besar yaitu dari 40 jumlah siswa
kelas II SD Negeri Penaruban 1 Purbalingga dibagi dua sama besar dengan
46
menggunakan nomor absen. No absen siswa 1-20 menjadi kelompok kontrol,
sedangkan no absen siswa 21-40 menjadi kelompok eksperimen.
Dalam penelitian ini proses pembelajaran dilaksankan dalam tiga kali
pertemuan, hal ini dikarenakan dalam silabus mata pelajaran matematika materi
perkalian dan pembagian bilangkan dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan.
Dalam penelitian diperoleh beberapa data. Data-data tersebut meliputi data
kondisi awal pembelajaran atau pertemuan 1, data proses pembelajaran
kelompok kontrol dan kelompok eksperimen pertemuan 2 dan 3 dan data
peningkatan pembelajaran matematika pada kelompok kontrol dan kelompok
eksperimen pertemuan 3. Adapun masing-masing datanya adalah sebagai berikut:
1. Kondisi Awal Pembelajaran (Pertemuan 1)
Pelaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas II SD Negeri Penaruban 1
Purbalingga secara keseluruhan masih konvensional atau menggunakan metode
ceramah. Pelakasanaan pembelajaran di ikuti oleh seluh siswa kelas II SD Negeri
Penaruban 1 Purbalingga yang berjumlah 40 siswa. Proses pembelajaran
matematika menggunakan metode ceramah lebih didominasi oleh guru. Suasana
pembelajaran matematika terlihat biasa-biasa saja. Sebagian siwa terlihat pasif
dalam merespon pembelajaran yang diberikan oleh guru, bahkan banyak siswa
yang melakukan aktifitas yang tidak berkaitan dengan proses pembelajaran
matematika.
Pada pelaksanaan pembelajaran awal diikuti oleh seluruh siswa kelas II SD
Negeri Penaruban 1 Purbalingga yang berjumlah 40 siswa. Pembelajaran ini
47
berlangsung seperti biasanya. Pada awalnya siswa terlihat memperhatikan materi
yang sedang disampaikan oleh guru, tapi tidak lama kemudian siswa merasa
bosan. Banyak siswa yang berbicara dengan teman sebangkunya, ada juga yang
bermain sendiri dan berlari-larian didalam kelas. Guru menegor siswa yang tidak
mau mengikuti pelajaran, tapi siswa tidak memperdulikannya dan guru tetap
melanjutkan menyampaikan materi pelajaran dengan ceramah. Ada juga siswa
yang memperhatikan tapi itu pun hanya sedikit sehingga suasana kelas menjadi
sangat ramai.
Adapun gambaran kondisi awal prestasi belajar matematika dalam materi
perkalian dan pembagian bilangan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
48
2. Analisis Data Prestasi Kondisi Awal Pembelajaran
Analisis data kondisi awal penelitian dimaksudkan untuk mengetahui
kemampuan awal dan persamaan dari kemampuan awal siswa dari kedua
kelompok, yaitu dari kelompok kelompok kontrol dan kelompok kelompok
eksperimen. Analisis data dilakukan dengan persamaan kemampuan awal dengan
uji t. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan bantuan komputer program
SPSS versi 16.0 for windows. Hasil Perhitungan dapat dilihat pada tabel berikut
ini.
a. Hasil Uji Normalitas Data Hasil Prestasi Belajar
Perhitungan uji normalitas data dilakukan dengan bantuan komputer
program SPSS versi 16.0 for windows. Hasil uji normalitas data prestasi
belajar matematika dari kedua kelompok dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2. uji normalitas awal pembelajaran
Sumber Variasi Eksperimen Kontrol
ChiHitung 5,600 4,800
df 7 7
Chi Tabel 14,067 14,067
Kesimpulan Normal Normal
Berdasarkan hasil analisis diperoleh Chi hitung untuk kelompok
eksperimen sebesar 5,600 dan kelompok kontrol sebesar 4,800. Kedua nilai
49
tersebut lebih kecil dari Chi tabel pada taraf signifikan 5% yang berarti
bahwa kedua data tersebut berdistribusi normal.
b. Uji Kesamaan Dua Varian (Homogenitas)
Tebel 3. Uji Kesamaan Dua Varian Prestasi Awal
Kelompok Rata-rata t hitung t tabel
Eksperimen 59.25
0,66 2,021
Kontrol 59.00
Dari perhitungan diperoleh nilai rata-rata pada kelompok eksperimen
yaitu 59,25 dan mean pada kelompok kontrol yaitu 59,00. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa tidak adanya perbedaan rata-rata nilai pretes dari kedua
kelompok. Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa kemampuan awal siswa
setara.
Selain itu, berdasarkan uji t yang telah dilakukan diperoleh nilai t hitung
sebesar 0,66. Selanjutnya nilai tersebut dikonsultasikan dengan nilai t tabel
pada taraf signifikan 5% dengan df = 38 diperoleh nilai t tabel = 2,021. Nilai t
hitung < t tabel, hal ini menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan prestasi
belajar dari kedua kelompok atau dapat dikatakan bahwa kedua kelompok
memiliki kesetaraan dalam kemampuan awal.
50
3. Pelaksanaan Pembelajaran Matematika (Pertemuan 2)
a. Kelompok Kontrol
1) Perencanaan Pembelajaran
Tahap pertama dalam penelitian ini adalah perencanaan. Peneliti
dan guru hanya menyiapkan sekenario pembelajaran atau RPP. Guru
mengajar tanpa menggunakan pendekatan RME pembelajaran dan guru
hanya mengajar dengan metode ceramah saja. Setelah peneliti melihat
hasil pengamatan, pembelajaran yang dilaksanakan dalam kelas kontrol
sangat didominasi oleh guru, siswa hanya mendengar penjelasan dari
guru dan selanjutnya mencatatat hal-hal yang disuruh guru. Keadaan ini
mengakibatkan kurangnya partisipasi dan motivasi belajar matematika
siswa dalam mata pelajaran matematika, sehingga hasil belajar atau
evaluasi siswa pada mata pelajaran matematika rendah.
2) Pelaksanaan Pembelajaran
Proses pembelajaran matematika dengan menggunakan metode
ceramah ini lebih didominasi oleh guru. Suasana pembelajaran terlihat
biasa-biasa saja. Sebagian siswa terlihat pasif dalam merespon
pembelajaran yang diberikan guru bahkan banyak siswa yang
melakukan aktivitas yang tidak berkaitan dengan proses pembelajaran
yang sedang dilakukan.
Dengan melihat hal tersebut, dapat dipastikan bahwa
penggunaan metode ceramah dalam pembelajaran matematika belum
51
dapat meningkatkan partisipasi dan motivasi belajar metematika siswa
dan juga kurang dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran
sehingga hasil belajar siswa kurang.
3) Evaluasi Pembelajaran
Dalam mengejakan tes atau evaluasi, siswa mengasah
kemampuan individual mereka, menguji pemahaman materi yang
diperoleh selama mengikuti proses pembelajaran. Dengan berbekal
pemahaman dan pengetahuan yang mereka dapat selama proses
pembelajaran, siswa mengerjakan tugas yang diberikan guru dengan
tertib. Dalam tahap evaluasi ini, guru dan peneliti melakukan evaluasi
terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan, hal ini dilakukan
untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan siswa tentang materi yang
telah disampaikan oleh guru.
b. Kelompok Eksperimen
1) Perencanaan Pembajaran
Pada tahap pertama dalam penelitian ini adalah perencanaan.
Setelah peneliti datang ke sekolah dan mengetahui kondisi sekolah dan
proses pembelajaran matematika siswa kelas II SD Negeri Penaruban 1,
peneliti bekerjasama dengan guru kelas II untuk mengatasi
permasalahan yang ada. Penyebab permasalahan dalam pelajaran
matematika adalah kurang berminatnya siswa dalam mengikuti pelajaran
yang diberikan oleh guru dan hasil belajar yang rendah. Setelah peneliti
52
bersama dengan guru merencanakan pelaksanaan pemecahan masalah
dalam kegiatan meningkatkan prestasi belajar matematika. Dengan
melihat kondisi siswa dan permasalahan yang ada dikelas, peneliti
bersama dengan guru memutuskan untuk menggunakan pendekatan
RME yang diyakini mampu meningkatkan prestasi belajar matematika
siswa kelas II SD Negeri Penaruban 1 Purbalingga.
Selanjutnya peneliti dan guru membuat sekenario pembelajaran,
serta menyiapkan media-media yang diperlukan dalam pembelajaran.
Setelah semua persiapan selesai guru melaksanakan pembelajaran sesuai
dengan sekenario yang telah dibuat. Guru melaksanakan pembelajaran
dengan menggunakan pendekatan RME serta ditambahkan media dan
permainan yang dapat menambah partisipasi dan motivasi belajar
matematika siswa. Selain motivasi siswa dapat meninggkat hasil belajar
para siswa juga dapat meningkat, hal ini disebabkan karena pendekatan
RME yang mengajarkan matematika secara nyata dengan menambahkan
permasalahan-permasalahan yang sering mereka alami di lingkungan
sekitarnya.
2) Pelaksanaan Pembelajaran
Pada tahap selanjutnya dalam penelitian ini adalah pelaksanaan
pembelajaran dan pengamatan atau observasi. Pelaksanaan pembelajaran
dilakukan guru kelas. Pada saat pembelajaran matematika dengan
menggunakan pendekatan RME, peneliti melakukan pengamatan pada
53
saat pelaksanaan pembelajaran berlangsung. Dalam proses pembelajaran
terlihat jelas keaktifan dan motivasi belajar matematika siswa semakin
meningkat.
Pada kelas eksperimen ini, selain menggunakan pendekatan RME
dalam proses pembelajaran guru juga menggunakan metode kooperatif
(kelompok) dalam proses pembelajaran. Dalam kegianatan kelompok,
siswa bekerjasama memperoleh nilai yang terbaik untuk kelompoknya.
Hal ini bertujuan untuk berkerjasama satu sama alain serta untuk
membantu dan mendoronga temannya agar berhasil dan semangat dalam
belajar. Kerja sama dalam satu kelompok dapat berjalan sesuai yang
diharapkan, siswa yang mengalami kesulitan tidak malu untuk bertanya
dengan temannya dan siswa akan salaing membantu dalam proses
pembelajaran.
Pada saat diadakan kuis, tiap-tiap kelompok saling berebut
menjawab pertanyaan. Tidak ada siswa yang pasif selama pembelajaran
berlangsung. Siswa terlihat semangat mengikuti pelajaran matematika
yang berlangsung.
Harapan untuk membuat seluruh siswa semakin berpartisipasi aktif
dalam proses pembelajaran telah tercapai. Tidak ada lagi siswa yang
hanya berdian diri dalam kelas dan merasa jenuh dalam mengikuti
proses pembelajaran. Hal tersebut mengakibatkan prestasi belajar
54
matematika siswa dapat meningkat dan dengan demikian, keberhasilan
dalam proses mengajar dapat dikatakan tercapai.
3) Evaluasi Pembelajaran
Keberhasilan pembelajaran dapat dilihat hasil tes atau evaluasi
belajar matematika yang diberikan guru. Dalam mengerjakan tes, siswa
mengasah kemampuan individu mereka, menguji pemahaman materi
yang didapatkan waktu proses kegiatan belajar. Dengan bekal
pemahaman yang dimiliki, siswa tidak akan mengalami kesulitan dalam
mengerjakan evaluasi yang diberikan guru. Dalam tahap evaluasi ini,
guru dan peniliti melakukan evaluai terhadap proses pembelajaran yang
telah dilakukan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar
pengaruh pendekatan pembelajaran RME terhadap peningkatan prestasi
belajar matematika siswa kelas II SD Negeri Penaruban 1 Purbalingga.
4. Analisis Data Prestasi Belajar Matematika pada Pertemuan 2
a. Uji Normalitas
Perhitungan uji normalitas data dilakukan dengan bantuan komputer
program SPSS versi 16.0 for windows. Hasil uji normalitas data prestasi
belajar matematika dari kedua kelompok dapat dilihat pada tabel berikut:
55
Tabel 4. Hasil Uji Normalitas Data Prestasi Belajar Matematika
Sumber Variasi Eksperimen Kontrol
ChiHitung 8,000 7,200
df 6 7
Chi Tabel 12,592 14,067
Kesimpulan Normal Normal
Berdasarkan hasil analisis diperoleh Chi hitung untuk kelompok
eksperimen sebesar 8,000 dan kelompok kontrol sebesar 7,200. Kedua nilai
tersebut lebih kecil dari Chi tabel pada taraf signifikan 5% yang berarti
bahwa kedua data tersebut berdistribusi normal.
b. Uji Homogenitas
Hasil analisis uji homogenitas data hasil prestasi belajar matematika
antara kelompok eksperimen dan kontrol dilakukan dengan bantuan
komputer program SPSS versi 16.0 for windows. Berdasarkan perhitungan
yang telah dilakukan diperoleh nilai signifikan sebesar 0,233. Selanjutnya
nilai tersebut dikonsultasikan dengan nilai alpha yang telah ditentukan yaitu
0,05. Nilai 0,233 lebih besar dari 0,05, sehingga data tersebut homogen.
56
c. Hasil Analisis Uji Perbedaan Prestasi Belajar Matematika Pertemuan 2
Tabel 5. Hasil Uji Perbedaan Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Kelompok Rata-rata t hitung t tabel
Eksperimen 74,25
3,384 2,021
Kontrol 63,75
Dari perhitungan diperoleh nilai rata-rata pada kelompok eksperimen
yaitu 74,25 dan pada kelompok kontrol yaitu 63,75. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa lebih tingginya hasil belajar kelompok eksperimen
(penbelajaran menggunakan pendekatan RME) dibandingkan dengan
kelompok kontrol (pembelajaran yang tidak menggunakan pendekatan
RME).
Selain itu, berdasarkan uji t yang telah dilakukan diperoleh nilai t hitung
sebesar 3,384. Selanjutnya nilai tersebut dikonsultasikan dengan nilai t tabel
pada taraf signifikan 5% dengan df = 38 diperoleh nilai t tabel = 2,021. Nilai t
hitung > t tabel, hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan prestasi
belajar dari kedua kelompok atau dapat dikatakan bahwa prestasi belajar
matematika pada kelompok eksperimen lebih besar dibandingkan dengan
kelompok kontrol.
57
5. Peningkatan Prestasi Belajar Matematika (Pertemuan 3)
a. Kelompok Kontrol
1) Perencanaan Pembelajaran
Pelaksanaan pada penelitian kelompok kontrol pertemuan kedua,
sama halnya pembelajaran yang biasa dilaksanakan sehari-hari. Peneliti
dan guru hanya menyiapkan sekenario pembelajaran atau RPP. Guru
mengajar tanpa menggunakan pendekatan RME pembelajaran dan guru
hanya mengajar dengan metode ceramah saja. Setelah peneliti melihat
hasil pengamatan, pembelajaran yang dilaksanakan dalam kelas kontrol
sangat didominasi oleh guru, siswa hanya mendengar penjelasan dari
guru dan selanjutnya mencatatat hal-hal yang disuruh guru.
Pembelajaran yang terlalu didominasi oleh guru mengakkibatkan siswa
cenderung pasif dan bosan terhadap pelajaran yang disampaikan oleh
guru. Banyak siswa yang mengantuk pada saat guru menjelaskan materi
yang disampaikan.
Keadaan ini mengakibatkan kurangnya partisipasi dan motivasi
belajar matematika siswa dalam mata pelajaran matematika, sehingga
hasil belajar atau evaluasi siswa pada mata pelajaran matematika rendah.
58
2) Pelaksanaan Pembelajaran
Proses pembelajaran matematika dengan menggunakan metode
ceramah ini lebih didominasi oleh guru. Suasana pembelajaran terlihat
biasa-biasa saja. Sebagian siswa terlihat pasif dalam merespon
pembelajaran yang diberikan guru bahkan banyak siswa yang
melakukan aktivitas yang tidak berkaitan dengan proses pembelajaran
yang sedang dilakukan.
Dengan melihat hal tersebut, dapat dipastikan bahwa
penggunaan metode ceramah dalam pembelajaran matematika belum
dapat meningkatkan partisipasi dan motivasi belajar metematika siswa
dan juga kurang dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran
sehingga hasil belajar siswa kurang.
3) Evaluasi Pembelajaran
Pada kegiata akhir pembelajaran diadakan tes evaluasi hasil
belajar, hal ini bertujuan untuk mengukur tingkat pemahaman materi
yang telah dipelajari. Dalam mengejakan tes atau evaluasi, siswa
mengasah kemampuan individual mereka, menguji pemahaman materi
yang diperoleh selama mengikuti proses pembelajaran. Dengan berbekal
pemahaman dan pengetahuan yang mereka dapat selama proses
pembelajaran, siswa mengerjakan tugas yang diberikan guru dengan
tertib.
59
b. Kelompok Eksperimen
1) Perencanaan Pembelajaran
Tahap pertama dalam pertemuan 3 pembelajaran kelas eksperimen
ini adalah perencanaan. Peneliti merancang pembelajaran yang akan
dilaksanakan pada pertemuan ke 3, adapun hasilnya sebagai berikut:
a) Peneliti dan guru menyamakan persepsi dan diskusi untuk
merumuskan tindakan yang akan dilakukan pada pertemuan kedua.
b) Peneliti bersama dengan guru sepakat untuk menciptakan suasana
pembelajaran yang santau, menyenangkan namun terkendali.
c) Guru menjelaskan ulang materi pelajaran matematika dengan
menggunakan pendekatan RME.
d) Peneliti dan guru membuat sekenario pembelajaran dan perangkat
pembelajaran serta menyiapkan media [Link] dari RPP,
materi ajar matematika, soal tes/aevaluasi siswa.
Pada tahap kedua dalam penelitian ini adalah pelaksanaan
pendekatan RME dalam proses pembelajaran matematika dalam kelas.
Dalam proses pembelajaran pada pertemuan kedua kelas eksperimen
dibuat berbeda pada pertemuan kesatu. Pada pertemuan kesatu siswa
dibuat kelompok dengan permainan kuis edukation, yang masingmasing
kelompok berebut pertanyaan untuk memperoleh nilai. Pada
pertemuan kedua dibuat berbeda, siswa tetap dibuat menjadi kelompok
yang anggotanya berdeda dengan kelompok pada pertemuan kesatu.
60
Setiap kelompok berdiskusi untuk membuat soal yang kemudian
dikerjakan oleh kelompok lain dan dicocokan secara bersama-sama.
Dalam kegiatan ini, suasana kelas begitu semarak. Tidak terlihat
didominasi oleh salah satu siswa. Siswa berebut menjaawab pertanyaan
yang telah diberikan dengan mengangkat tangan bahkan sampai ada
yang berdiri, antara siswa yang satu dengan siswa lain saling berebut
dan tidak ada yang mau kalah, sehingga guru harus lebih cermat dan
teliti lagi untuk menentukan siapa yang lebih cepat mengangkat tangan
terlebih dahulu. Meskipun jawaban siswa tidak semuanya benar, tapi
guru dan peneliti sangat menghargai siswa yang sudah berani menjawab
pertanyaan. Setelah itu siswa mengerjakan tes/evaluasi yang telah
dibagikan guru. Waktu yang digunakan siswa untuk mengerjakan soal
adalah 30 menit.
2) Pelaksanaan Pembelajaran
Pada tahap selanjutnya adalah pelaksanaan pembelajaran dan
pengamatan. Pelaksanaan pembelajaran dilakukan oleh guru kelas dan
pengamatan atau observasi dilaksanakan bersamaan dengan
berlangsungnya pembelajaran matematika pada pertemuan kedua.
Pengamatan dilakukan terhadap guru dan siswa, baik sebelum, saat,
maupun sesudah pelaksanaan pendekatan pembelajaran dalam
pembelajaran matematika di kelas oleh peneliti. Pengamatan ini
61
mengungkapkan hal-hal yang menarik selama proses kegiatan
pembelajaran matematika dengan menggunakan pendekatan RME.
Pada saat kuis edukatif, tiap-tiap siswa kelompok saling berebut
menjawab soal pertanyaan yang diberikan oleh kelompok lain. Jiwa
kompetitif semakin nampak, tidak ada siswa yang pasif selama
pembelajaran berlangsung. Siswa terlihat sangat menikmati
pembelajaran matematika yang diberikan guru.
3) Evaluasi Pembelajaran
Keberhasilan pembelajaran dapat dilihat hasil tes atau evaluasi
belajar matematika yang diberikan guru. Dalam mengerjakan tes, siswa
mengasah kemampuan individu mereka, menguji pemahaman materi
yang didapatkan waktu proses kegiatan belajar. Dengan bekal
pemahaman yang dimiliki, siswa tidak akan mengalami kesulitan dalam
mengerjakan evaluasi yang diberikan guru. Pada kegiatan akhir
pembelajaran diadakan tes evaluai pembelajaran untuk mengukur
tingkat pemahaman materi matematika yang telah dipelajari dan untuk
mengetahui apakah ada peningkatan prestasi belajar matematika siswa
setelah mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan
pendekatan RME pada pertemuan 3.
62
6. Analisis Data Prestasi Belajar Matematika pada Pertemuan 3
a. Uji Normalitas
Perhitungan uji normalitas data dilakukan dengan bantuan komputer
program SPSS versi 16.0 for windows. Hasil uji normalitas data prestasi
belajar matematika dari kedua kelompok dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 6. Hasil Uji Normalitas Data Prestasi Belajar Matematika
Sumber Variasi Eksperimen Kontrol
ChiHitung 9,400 10,600
df 6 8
ChiTabel 12,592 15,507
Kesimpulan Normal Normal
Berdasarkan hasil analisis diperoleh Chi hitung untuk kelompok
eksperimen sebesar 9,400 dan kelompok kontrol sebesar 10,600. Kedua nilai
tersebut lebih kecil dari Chi tabel pada taraf signifikan 5% yang berarti bahwa
kedua data tersebut berdistribusi normal. Hasil analisis selengkapnya dapat
dilihat dalam lampiran 10, hlm 97.
b. Uji Homogenitas
Uji homogenitas varian dimaksudkan untuk mengetahui apakah sampel
yang diambil dari populasi mempunyai kesamaan varian atau tidak
menunjukkan perbedaan satu sama lain. Tes statistik yang digunakan adalah
uji F, yakni dengan membandingkan varian terbesar dan varians terkecil.
63
Untuk mengetahui kesetaraan antara varian kelompok eksperimen dan varian
kelompok kontrol, dilakukan dengan uji kesamaan dua varian. Hasil analisis
uji homogenitas data hasil prestasi belajar matematika antara kelompok
eksperimen dan kontrol dilakukan dengan bantuan komputer program SPSS
versi 16.0 for windows. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan
diperoleh nilai signifikan sebesar 0,981. Selanjutnya nilai tersebut
dikonsultasikan dengan nilai alpha yang telah ditentukan yaitu 0,05. Nilai
0,981 lebih besar dari 0,05, sehingga data tersebut homogen. Hasil analisis
selengkapnya dapat dilihat dalam lampiran 10, hlm 98.
[Link] Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini berbunyi Ada perbedaan yang signifikan
peningkatan prestasi belajar matematika siswa antara kelompok eksperimen
(pembelajaran menggunakan pendekatan RME) dengan kelompok kontrol
(pembelajaran yang tidak menggunakan pendekatan RME) siswa kelas II SD
Negeri Penaruban 1 Purbalingga. Dari hipotesis alternatif (Ha) tersebut, maka
hipotesis nihilnya (Ho) berbunyi tidak ada perbedaan yang signifikan antara
peningkatan prestasi belajar matematika siswa pada kelompok eksperimen
(pembelajaran menggunakan pendekatan RME) dengan kelompok kontrol
(pembelajaran yang tidak menggunakan pendekatan RME) siswa kelas II SD
Negeri Penaruban 1 Purbalingga. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini
menggunakan independent sample t test, setelah dilakukan perhitungan
64
menggunakan bantuan komputer program SPSS versi 16.0 for windows
diperoleh hasil perhitungan seperti pada tabel berikut:
Tabel 7. Hasil Uji Perbedaan Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol
Kelompok Rata-rata t hitung t tabel
Eksperimen 82.5
3,968 2,021
Kontrol 68.5
Berdasarkan tabel tersebut, diperoleh t hitung sebesar 3,968 lebih besar dari t
tabel sebesar 2,021 dengan df = 38. Hal itu menunjukkan bahwa t berada pada
daerah penolakan Ho, sehingga hipotesis nihil ditolak dan hipotesis alternatif
diterima.
65
C. PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan
peningkatan prestasi belajar matematika siswa antara kelompok eksperimen
(pembelajaran menggunakan pendekatan RME) dengan kelompok kontrol
(pembelajaran yang tidak menggunakan pendekatan RME) siswa kelas II SD
Negeri Penaruban 1 Purbalingga, hal itu ditunjukkan dengan hasil perhitungan
yang telah dilakukan diperoleh t hitung sebesar 3,968 yang kemudian
dikonsultasikan dengan t tabel sebesar 2, 021. Hasil tersebut menunjukkan bahwa t
hitung 3,968 lebih besar dari nilai t tabel 2, 021. Hasil akhir nilai rata-rata prestasi
belajar matematika pertemuan 3 pada kelompok eksperimen sebesar 82,5 dan
pada kelompok kontrol sebesar 68,5. Berdasarkan hasil tersebut menunjukkan
bahwa nilai rata-rata pada kelompok eksperimen lebih tinggi dari pada nilai ratarata
kelompok kontrol.
RME (Realistic Mathematics Education) merupakan model pembelajaran
yang menempatkan realitas dan lingkungan siswa sebagai titik awal
pembelajaran. Masalah yang nyata atau yang telah dikuasai dapat dibayangkan
dengan baik oleh siswa dan digunakan sebagai sumber munculnya konsep atau
pengertian matematika yang semakin meningkat (Soedjadi, 2001: 2). Menurut
Freudenthal (Ahmad Faozi, 2003), aktivitas pokok yang dilakukan dalam
Realistic Mathematics Education meliputi: menemukan masalah-masalah/soalsoal
kontekstual (looking for problems), memecahkan masalah (solving
problems), dan mengorganisir bahan ajar (organizing a subject matter). Hal ini
66
dapat berupa realitas-realitas yang perlu diorganisir secara matematis dan juga
ide-ide matematika yang perlu diorganisir dalam konteks yang lebih luas.
Kegiatan pengorganisasian seperti ini disebut matematisasi.
RME (Realistic Mathemtics Education) pada dasarnya merupakan
pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami siswa untuk memperlancar
proses pembelajaran matematika sehingga dapat mencapai pendidikan
matematika secara lebih baik dari pada masa yang lalu, yang dimaksud dengan
realita yaitu hal-hal yang nyata atau kongkret yang dapat diamati atau dipahami
peserta didik, sedangkan yang dimaksud dengan lingkungan adalah lingkungan
tempat peserta didik berada baik lingkungan sekolah, keluarga, maupun
masyarakat yang dapat dipahami peserta didik. Lingkungan dalam hal ini
disebut juga kehidupan sehari-hari.
Pemberian pelajaran matematika mengenai perkalian dan pembagian
bilangan pada siswa dengan menggunakan pendekatan RME (Realistic
Mathematics Education) ternyata mampu memberikan pemahaman siswa tentang
matematika, hal ini dibuktikan dengan lebih tingginya prestasi antara kelompok
eksperimen dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hasil tes menunjukan
penguasaan atau pemahaman materi matematika pada kedua kelompok
menunjukkan peningkatan yang berarti, namun peningkatan pada kelompok
eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan prestasi belajar
matematika pada kelompok kontrol.
67
Terdapat dua faktor yang mempengaruhi belajar yaitu faktor internal dan
faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang ada dalam diri individu yang
sedang belajar, sedang faktor eksternal adalah faktor yang ada diluar individu.
Faktor internal meliputi: faktor jasmaniah dan faktor psikologis meliputi
intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kelelahan. Faktor
eksternal yang berpengaruh dalam belajar meliputi faktor keluarga, faktor
sekolah, dan faktor masyarakat. Faktor keluarga, suasana rumah, keadaan
ekonomi keluarga, pengertian orangtua, dan latar belakang kebudayaan. Faktor
mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi antar siswa, disiplin
sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode
belajar, dan tugas rumah. Faktor masyarakat dapat berupa kegiatan siswa dalam
masyarakat, teman bergaul, bentuk kehidupan dalam masyarakat, dan media
masa (Irwanto, 1984:105).
Menurut Rumini (1995) ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi
belajar faktor tersebut dikelompokkan menjadi 2 yaitu, faktor psikis dan faktor
fisik. Yang termasuk faktor psikis antara lain ialah : kognitif, afektif, psikomotor,
kepribadian, sedangkan yang termasuk faktor fisik antara lain kondisi : indera,
anggota badan, tubuh, kelenjar, syaraf, dan organ organ dalam tubuh.
Faktor psikis dan fisik ini, keadaannya ada yang ditentukan oleh faktor
keturunan maupun lingkungan. Individu yang mempunyai gangguan dalam salah
faktor psikis misalnya tingkat kecerdasan terlalu rendah tentu sukar menelaah
materi pelajaran walupun materi pelajaran tersebut sangat sederhana, sukar
68
mengingat, daya fantasi lemah, juga dibutuhkan proses belajar yang disesuaikan
dengan kelemahannya, bila ingin peningkatan dalam prestasi belajaranya. Faktor
dari luar individu lingkungan alam yang panas, gersang atau lembab dan berbau
menyebabkan orang enggan belajar, atau kalau belajar mereka sukar menangkap
informasi yang diberikan, tetapi alam yang sejuk membantu orang lebih giat
belajar.
Hasil penelitian ini didukung penelitian sebelumnya oleh Kadir (2005)
menyimpulkan bahwa melalui penerapan pendekatan Pembelajaran Matematika
Realistik (PMR), hasil belajar matematika siswa kelas V SD Negeri 3 Poasia
Kota Kendari dapat ditingkakan. Dan hasil penelitiannya juga tergambar adanya
peningkatan minat dan motivasi belajar siswa setelah siswa di ajar dengan
menggunakan pendekan RME.
Dengan demikian dari hasil test terbukti bahwa pemberian pelajaran
matematika pada siswa kelas II SD Negeri Penaruban 1 Purbalingga yang
pembelajarannya dengan menggunakan pendekatan RME lebih meningkatkan
penguaasaan dan pemahaman materi, serta prestasi belajarnya meningkat.
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan RME akan lebih efektif dan
efisien untuk pembelajaran pada siswa kelas II SD. Pembelajaran menggunakan
pendekatan RME dapat peningkatan sikap, keaktifan dan antusias siswa dalam
mengikuti pembelajaran matematika di kelas serta kegiatan pmbelajaran terasa
lebih menyenangkan dan komunikatif. Pembelajaran yang menggunakan
69
pendekatan RME juga akan menarik perhatian sehingga memotivasi belajar
siswa.
Para guru pengelola pendidikan (pembelajaran) bahwa pendekatan RME
pada pembelajaran matematika di SD sangat membantu para siswa untuk
mengantarkan kepada tujuan pembelajaran serta penilaian. Karena dengan
menggunakan pendekatan RME siswa belajar langsung dari lingkungan sekitar
sehingga siswa tidak cepat bosan, serta mudah cara menjelaskannya sehingga
bagi guru mampu meningkatkan kompetensi mengajar dan dapat meningkatkan
kualitas pengajaran. Proses pembelajaran terasa dinamis, kreatif, mengesankan
dan lebih hidup. Tugas guru menjelaskan, membuat siswa lebih aktif dan kreatif
sehingga dapat meningkatkan kemampuan siswa.
D. KETERBATASAN PENELITIAN
Keterbatasan yang dirasakan dalam penelitian ini yaitu pada
pelaksanaanya peneliti hanya menerapkan pendekatan RME pada mata pelajaran
matematika materi perkalian dan pembagian bilangan saja, padahal pendekatan
RME juga dapat digunakan pada materi pelajaran matematika yang lainnya
70
70
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data yang telah dibahas pada bab IV, maka
dapat ditarik kesimpulan bahwa ada perbedaan yang signifikan peningkatan
prestasi belajar matematika siswa antara kelompok eksperimen (pembelajaran
menggunakan pendekatan RME) dengan kelompok kontrol (pembelajaran yang
tidak menggunakan pendekatan RME) siswa kelas II SD Negeri Penaruban 1
Purbalingga. Hal itu ditunjukkan oleh nilai t hitung 3,968 lebih besar dari nilai t
tabel 2, 021 pada taraf signifikansi 5%. Hasil akhir nilai rata-rata prestasi belajar
matematika pertemuan 3 pada kelompok eksperimen sebesar 82,5 dan pada
kelompok kontrol sebesar 68,5. Hasil akhir tersebut menunjukkan bahwa nilai
rata-rata kelompok eksperimen lebih tinggi dari pada nilai rata-rata kelompok
kontrol.
B. SARAN
Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian, maka saran yang dapat
diberikan adalah penerapan pendekatan RME dalam mata pelajaran matematika
merupakan salah satu cara untuk meningkatkan dan memperbaiki pelaksanaan
pembelajaran, karena pendekatan RME dapat membuat siswa aktif dan senang
sehingga menjadikan pembelajaran lebih hidup dan menyenangkan. Pendekatan
RME hendaknya diguanakan oleh guru agar dapat meningkatkan prestasi dan
motivasi belajar matematika siswa.
71
DAFTAR PUSTAKA
Daitin Tarigan. (2006). Pembelajaran Matematika Realistik. Jakarta: Direktorat
Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Dian Armanto. (2001). Pendidikan Matematika Realistik. Jakarta: Bumi Aksara.
Dimyati. (1998). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar Matematika.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Faozi Ahmad. 2003. Implementasi Pendidikan Matematika Realistik Indonesia
(PMRI) dalam Pembelajaran Matematika Statistika di SLTP Negeri 2
Sleman. Skripsi. FMIPA UNY.
Hartadji NursyafiI dan Manar. (2001). Strategi Belajar Mengajar Matematika.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Herman Hudoyo.(1990). Mengajar Belajar Matematika. Surabaya: Usaha
Nasional.
Isparyadi. (1989). Statistika Pendidikan. Jakarta: Depdikbud.
Irwanto. (1984). Psikologi Umum. Jakarta: Unika Atmaja.
Mohammad Usman. (1995). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
M Sardiman. (1986). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja
Gravindo Persada.
Mulyani Sumantri. (1998). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Direktorat Jendral
Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Nurul Zuriah. (2006). Metodelogi Penelitian Sosial dan Pendidikan Teori-
Aplikasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Oemar Hamalik. (2001). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Pitadjeng. (2006). Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan. Jakarta:
Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
71
72
Rahmat Jalaludin. (1993). Metodelogi Penelitian Komunikasi. Bandung: PT
Remaja Rosda Karya.
Riwidikdo Handoko. (2009). Statistik Untuk Penelitian Kesehatan Dengan
Aplikasi Progam R dad SPSS. Yogyakarta: Pustaka Rihana.
Soedjadji. (2001). Pendekatan Pembelajaran Matematika. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
_____. (2001). Pembelajaran Matematika Berjiwa RME. Yogyakarta: Universitas
Sanata Dharma.
Soetrisno Hadi. (1990). Metodologi Research II. Yogyakarta: Andi Offset.
Sri Rumini. (1995). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: (UPP) UNY.
Sri Subarinah. (2006). Inovasi Pembelajaran Matematika SD. Jakarta: Direktorat
Jendral Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional.
Sudarsono. (1988). Analisis Data I. Jakarta: Depdikbud.
Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kualitatif,
Kuantitatif, dan R&D. Bandung: CV. Alvabet.
Suharsimi Arikunto. (2002). Prosedur Penelitian. Jakarta: Bina Aksara.
_____. (2005). Dasar- Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Sumardi Suryabrata. (1988). Proses Belajar Mengajar di Perguruan Tinggi.
Jakarta: Rajawali.
Sukardi. (2003). Metodologi Penelitian Pendidikan kompetensi dan praktiknya.
Jakarta: Bumi Aksara.
T Ruseffendi. (1992). Pendidikan Matematika 3. Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan.
T. Wakiman. (2001). Alat Peraga Pendidikan Matematika 1. Yogyakarta: FIP
UNY.
73
74
Lampiran 1
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Kelompok Kontrol
Satuan Pendidikan : Sekolah Dasar
Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/ Semester : II/2
Tahun ajaran :2009/ 2010
I. Standar Kompetensi
Melakukan perkalian dan pembagian bilangan sampai dua angka
II. Konpetensi Dasar
1. Melakukan perkalian bilangan yang hasilnya bilangan dua angka
2. Melakukan pembagian bilangan yang hasilnya bilangan dua angka
III. Indikator
1. Mengerjakan perkalian bilangan yang hasilnya bilangan dua angka
2. Mengerjakan pembagian yang hasilnya bilangan dua angka
3. Mengerjakan soal hitung campuran
IV. Tujuan Pembelajaran
1. Siswa dapat mengerjakan perkalian yang hasilnya bilangan dua angka
2. Siswa dapat mengerjakan pembagian yang hasilnya bilangan dua
angka
3. Siswa dapat mengerjakan soal hitung campuran
74
75
V. Materi Ajar
Perkalian dan pembagian bilangan
VI. Metode Pembelajaran
1. Ceramah
2. Tanya jawab, dan
3. Pemberian tugas
VII. Langkah-langkah Pembelajaran
Pertemuan pertama
A. Kegiatan awal
Mengkondisikan siswa
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
Apersepsi
B. Kegiatan Inti
Guru menuliskan pokok bahasan di papan tulis
Guru menjelaskan perkalian dua bilangan
Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
tentang hal yang belum jelas
Guru memberikan soal evaluasi
Siswa mengerjakan soal evaluasi
Guru bersama-sama dengan siswa mencocokkan soal evaluasi
76
C. Kegiatan Akhir
Guru bersama-sama dengan siswa menyimpulkan hasil
pembelajaran
Penguatan
Guru menutup pelajaran
Pertemuan kedua
A. Kegiatan Awal
Mengkondisikan siswa
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
Apersepsi
B. Kegiatan Inti
Guru menuliskan pokok bahasan di papan tulis
Guru menjelaskan pembagian dua bilangan
Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
tentang hal yang belum jelas
Guru memberikan soal evaluasi
Siswa mengerjakan soal evaluasi
Guru bersama-sama dengan siswa mencocokkan soal evaluasi
C. Kegiatan Akhir
Guru bersama-sama dengan siswa menyimpulkan hasil
pembelajaran
Penguatan
Guru menutup pelajaran
77
Pertemuan ketiga
A. Kegiatan Awal
Mengkondisikan siswa
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
Apersepsi
B. Kegiatan Inti
Guru menuliskan pokok bahasan di papan tulis
Guru menjelaskan soal hitung campuran
Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya
tentang hal yang belum jelas
Guru memberikan soal evaluasi
Siswa mengerjakan soal evaluasi
Guru bersama-sama dengan siswa mencocokkan soal evaluasi
C. Kegiatan Akhir
Guru bersama-sama dengan siswa menyimpulkan hasil
pembelajaran
Penguatan
Guru menutup pelajaran
VIII. Sumber Belajar
1. Buku Sekolah Elektronik Senang Matematika untuk MI/SD kelas II
2. Silabus kelas II
78
IX. Penilaian
1. Prosedur : proses, post tes
2. Jenis tes : tertulis
3. Bentuk tes : esay
4. Pedoman penskoran :
Setiap butir soal diberi skor 1
Nilai akhir = skor perolehan X 100
Skor maksimal
79
Lampiran 2
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Kelompok Eksperimen
Satuan Pendidikan : Sekolah Dasar
Tema : Keluarga
Kelas/ Semester : II/2
Tahun ajaran :2009/ 2010
I. Standar Kompetensi
A. Bahasa Indonesia
Memahami teks pendek dan dogeng yang dilisankan
B. Ilmu Pengetahuan Alam
Mengenal anggota tubuh dan kegunaannya, serta cara perawatannya
C. Matematika
Melakukan perkalian dan pembagian sampai dua bilangan
II. Kompetensi Dasar
A. Bahasa Indonesia
Menyampaikan pesan pendek yang didengarkan kepada orang lain
B. Ilmu Pengetahuan Alam
Mengenal bagian-bagian tubuh dan kegunaannya serta cara perawatanya
79
80
C. Matematika
Melakukan perkalian yang hasilnya bilangan dua angka
III. Indikator
A. Bahasa Indonesia
1. Menikmati kegiatan membaca.
2. Memilih bacaan yang disenangi.
B. Ilmu Pengetahuan Alam
1. Menyebutkan bagian-bagian tubuh dan cara perawatannya
C. Matematika
1. Mengerjakan perkalian bilangan yang hasilnya bilangan dua angka
IV. Tujuan Pembelajaran
A. Bahasa Indonesia
1. Siswa dapat menikmati kegiatan membaca
2. Siswa dapat memilih bacaan yang disenangi
B. Ilmu Pengetahuan Alam
1. Siswa dapat menyebutkan bagian-bagian tubuh dan cara
perawatannya.
C. Matematika
1. Siswa dapat mengerjakan perkalian yang hasilnya bilangan dua angka.
V. Materi ajar
Perkalian bilangan
81
VI. Metode Pembelajaran
Ceramah berfariasi
Demontrasi
Kelompok
Tanya jawab, dan
Pemberian tugas
VII. Langkah-langkah pembelajaran
A. Kegiatan Awal
Mengisi daftar kelas, berdoa, dan menyiapkan materi.
Memotivasi siswa untuk mengeluarkan pendapat.
Apersepsi
B. Kegiatan Inti
Guru menuliskan materi yang akan dipelajari dipapan tulis
Guru menjelaskan materi perkalian bilangan
Guru menyuruh 5 siswa untuk maju kedepan kelas sebagai contoh dari
materi perkalian yang sedang diajarkan.
Guru menyuruh siswa untuk mengeluarkan kelereng yang telah
dibawanya.
Guru memberi contoh dengan menggunakan kelereng yang telah
dibawa siswa.
Guru memberikan permainan edukatif berupa puzel bilangan.
82
Guru membagi siswa menjadi 5 kelompok, tiap kelompok berisi 4
siswa
Setiap kelompok diberi amplop yang berisi potongan puzel bilangan.
Siswa berlomba-lomba menyusun pazel bilangan yang ditempelkan
kepapan tulis.
Siswa yang paling cepat menyusun pazel mendapatkan reward agar
lebih bersemangat.
Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang
hal yang belum dipahami.
Guru membagikan soal evaluasi kepada siswa.
C. Kegiatan Akhir
Guru mengajukan pertanyaan materi yang diajarkan.
Siswa mengumpulkan tugas sesuai materi yang diajarkan.
Guru dan siswa menyimpulkan materi yang diajarkan.
VIII. Alat dan Sumber Belajar
Alat
Puzel bilangan
Kelereng
Lingkungan sekitar
83
Sumber belajar
Silabus kelas II
Buku Sekolah Elektronik Senang Matematika untuk MI/SD kelas II
Buku paket Bahasa Indonesia untuk kelas II.
Buku Sekolah Elektronik Ilmu Pengetahuan Alam untuk MI/SD
kelas II
IX. Penialian
1. Prosedur : proses, post tes
2. Jenis tes : tertulis
3. Bentuk tes : esay
4. Pedoman penskoran
Setiap butir soal diberi skor 1
Nilai akhir = skor perolehan X 100
Skor maksimal
84
Lampiran 3
LEMBAR OBSERVASI GURU
No Aspek yang diamati Indikator
Jawaban
Keterangan
Ya Tidak
1 Penyampaian materi
pembelajaran matematika
Guru menyampaikan
indikator hasil belajar
Guru menyampaikan
materi Matematika
dengan menggunakan
pendekatan RME
Guru memotivasi
siswa untuk
berpartisipasi aktif
dalam pembelajaran
Guru memberikan
kesempatan kepada
siswa untuk bertanya
2 Pembimbingan siswa
dalam kegiatan
pembelajaran
Guru menyampaikan
petunjuk dalam
informasi penting
dalam materi
pembelajaran yang
disampaikan
Guru memantau
perilaku siswa dalam
pembelajaran.
3 Pelaksanaan pembelajaran
matematika dengan
pendekatan RME
Guru membimbing
siswa untuk aktif dan
bebas mengeluarkan
ide-idenya.
Guru mengarahkan
siswanya untuk
bertanya sesuai
dengan materi yang
disampaikan
Guru memberikan
pertanyaan secara
garis besar dikemas
dengan permainan
atau kuis edukatif
Guru mengevaluasi
hasil belajar siswa
85
Lampiran 4
SOAL TES EVALUASI
Mata Pelajaran :
Kelas/Semester :
Hari/tanggal :
Isilah titik-titik dibawah ini dengan jawaban yang tepat !
1. Penulisan kalimat pembagian untuk pengurangan dari 45-9-9-9-9-9 = 0
adalah : .
2. Penulisan kalimat perkalian penjumlahan berulang dari 5+5+5+5+5
adalahx .
3. Bentuk pengurangan berulang dari pembegian 36:6 = 6 adalah.
4. Bentuk penjumlahan berulang dari perkalian 8 x 5 = 40 adalah.
5. Hasil dari 9 x 4 : 3 =
6. Hasil dari 45 : 5 x 4 = .
7. Hasil dari 35 :7 x 8 = .
8. Intan membeli 5 bunmgkus permen. Tiap bungkus berisi 6 permen. Permen
Intan semuanya adalah
9. Danang mempunyai 15 kelereng. Kelereng itu diberikan pada 3 orang
temannya, maka tiap orang temannya [Link]
10. Ibu membeli 4 pak buku. Tiap pak berisi 10 buku. Berapa jumlah semua buku
yang Ibu beli
85
86
Kunci Jawaban
1. 45 : 9 = 5
2. 5 x 5 = 25
3. 36-6-6-6-6-6-6 = 0
4. 5+5+5+5+5+5+5+5 = 40
5. 12
6. 36
7. 40
8. 30
9. 5
10. 40
87
Lampiran 5
Tabel Kondisi Awal (Pertemuan 1) Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas II
Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperiment.
No.
Kode Siswa
kelompok
Kontrol
Nilai
Kode siswa
Kelompok
Eksperimen
Nilai
1 926 55 946 40
2 927 50 947 75
3 928 45 948 45
4 929 60 949 60
5 930 65 950 55
6 931 75 951 65
7 932 45 952 55
8 933 50 953 45
9 934 80 954 70
10 935 45 955 65
11 936 75 956 70
12 937 55 957 80
13 938 50 958 55
14 939 50 959 45
15 940 60 960 60
16 941 55 961 65
17 942 90 962 55
18 943 65 963 65
19 944 50 964 45
20 945 60 965 70
JUMLAH 1180 1185
Nilai Rata-rata 59 59,25
87
88
Lampiran 6
UJI NORMALITAS PADA KONDISI AWAL PEMBELAJARAN
NPar Tests
Chi-Square
Frequencies
Eksperimen
Observed N Expected N Residual
40 1 2.5 -1.5
45 4 2.5 1.5
55 4 2.5 1.5
60 2 2.5 -.5
65 4 2.5 1.5
70 3 2.5 .5
75 1 2.5 -1.5
80 1 2.5 -1.5
Total 20
Kontrol
Observed N Expected N Residual
45 3 2.5 .5
50 5 2.5 2.5
55 3 2.5 .5
60 3 2.5 .5
65 2 2.5 -.5
75 2 2.5 -.5
80 1 2.5 -1.5
90 1 2.5 -1.5
Total 20
88
89
Test Statistics
Eksperimen Kontrol
Chi-Square 5.600a 4.800a
df 7 7
Asymp. Sig. .587 .684
a. 8 cells (100,0%) have expected
frequencies less than 5. The minimum
expected cell frequency is 2,5.
UJI t
t-Test
Group Statistics
Pendekatan RME N Mean Std. Deviation Std. Error Mean
Hasil Prestasi
Belajar
Kelas Eksperimen 20 59.2500 11.27118 2.52031
Kelas Kontrol 20 59.0000 12.62829 2.82377
Independent Samples Test
Levene's Test
for Equality of
Variances t-test for Equality of Means
F Sig. t df
Sig. (2-
tailed)
Mean
Differenc
e
Std. Error
Differenc
e
95% Confidence
Interval of the
Difference
Lower Upper
Hasil Prestasi
Belajar
Equal variances
assumed
.072 .790 .066 38 .948 .25000 3.78493 -7.41218 7.91218
Equal variances
not assumed
.066 37.519 .948 .25000 3.78493 -7.41541 7.91541
90
Lampiran 7
Tabel Hasil Prestasi Belajar Kelompok Kontrol dan Kolompok Eksperimen
Pertemuan 2 Siswa Kelas II SD Negeri Penaruban 1 Purbalingga
No. NIS Kelompok
Kontrol Nilai
NIS
Kelompok
Eksperimen
Nilai
1 926 55 946 70
2 927 55 947 75
3 928 50 948 60
4 929 60 949 75
5 930 70 950 75
6 931 70 951 85
7 932 55 952 65
8 933 55 953 70
9 934 80 954 90
10 935 50 955 65
11 936 75 956 85
12 937 60 957 75
13 938 70 958 70
14 939 55 959 75
15 940 65 960 65
16 941 60 961 70
17 942 95 962 90
18 943 70 963 80
19 944 60 964 75
20 945 65 965 70
JUMLAH 1275 1485
Nilai Rata-rata 63,75 74,25
90
91
Lampiran 8
UJI NORMALITAS PADA PERTEMUAN 2
NPar Tests
Chi-Square
Frequencies
Eksperimen
Observed N Expected N Residual
60 1 2.9 -1.9
65 3 2.9 .1
70 5 2.9 2.1
75 6 2.9 3.1
80 1 2.9 -1.9
85 2 2.9 -.9
90 2 2.9 -.9
Total 20
Kontrol
Observed N Expected N Residual
50 2 2.5 -.5
55 5 2.5 2.5
60 4 2.5 1.5
65 2 2.5 -.5
70 4 2.5 1.5
75 1 2.5 -1.5
80 1 2.5 -1.5
95 1 2.5 -1.5
Total 20
91
92
Test Statistics
Eksperimen Kontrol
Chi-Square 8.000a 7.200b
df 6 7
Asymp. Sig. .238 .408
a. 7 cells (100,0%) have expected
frequencies less than 5. The minimum
expected cell frequency is 2,9.
b. 8 cells (100,0%) have expected
frequencies less than 5. The minimum
expected cell frequency is 2,5.
UJI t
t-Test
Group Statistics
Pendekatan RME N Mean Std. Deviation Std. Error Mean
Hasil Prestasi
Belajar
Menggunakan Pendekatan
RME
20 74.2500 8.31533 1.85936
Tidak Menggunakan
Pendekatan RME
20 63.7500 11.10654 2.48350
Independent Samples Test
Levene's Test
for Equality of
Variances t-test for Equality of Means
F Sig. t df
Sig. (2-
tailed)
Mean
Differenc
e
Std. Error
Differenc
e
95% Confidence
Interval of the
Difference
Lower Upper
Hasil Prestasi
Belajar
Equal variances
assumed
1.468 .233 3.384 38 .002 10.50000 3.10242 4.21948 16.78052
93
Independent Samples Test
Levene's Test
for Equality of
Variances t-test for Equality of Means
F Sig. t df
Sig. (2-
tailed)
Mean
Differenc
e
Std. Error
Differenc
e
95% Confidence
Interval of the
Difference
Lower Upper
Hasil Prestasi
Belajar
Equal variances
assumed
1.468 .233 3.384 38 .002 10.50000 3.10242 4.21948 16.78052
Equal variances
not assumed
3.384 35.208 .002 10.50000 3.10242 4.20308 16.79692
94
Lampiran 9
Tabel Hasil Prestasi Belajar Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen
pada Pertemuan 3 Siswa Kelas II SD Negeri Penaruban 1 Purbalingga.
No.
Kode Siswa
kelompok
Kontrol
Nilai
Kode siswa
Kelompok
Eksperimen
Nilai
1 926 60 946 75
2 927 55 947 80
3 928 50 948 80
4 929 65 949 90
5 930 75 950 80
6 931 80 951 100
7 932 65 952 65
8 933 60 953 80
9 934 90 954 100
10 935 60 955 75
11 936 75 956 100
12 937 70 957 65
13 938 80 958 80
14 939 65 959 80
15 940 60 960 70
16 941 65 961 75
17 942 95 962 100
18 943 70 963 80
19 944 65 964 85
20 945 65 965 90
JUMLAH 1370 1650
Nilai Rata-rata 68,5 82,5
94
95
Lampiran 10
UJI NORMALI PADA PERTEMUAN 3
NPar Tests
Chi-Square
Frequencies
Eksperimen
Observed N Expected N Residual
65 2 2.9 -.9
70 1 2.9 -1.9
75 3 2.9 .1
80 7 2.9 4.1
85 1 2.9 -1.9
90 2 2.9 -.9
100 4 2.9 1.1
Total 20
Kontrol
Observed N Expected N Residual
50 1 2.2 -1.2
55 1 2.2 -1.2
60 4 2.2 1.8
65 6 2.2 3.8
70 2 2.2 -.2
75 2 2.2 -.2
80 2 2.2 -.2
90 1 2.2 -1.2
95 1 2.2 -1.2
Total 20
95
96
Test Statistics
Eksperimen Kontrol
Chi-Square 9.400a 10.600b
df 6 8
Asymp. Sig. .152 .225
a. 7 cells (100,0%) have expected
frequencies less than 5. The minimum
expected cell frequency is 2,9.
b. 9 cells (100,0%) have expected
frequencies less than 5. The minimum
expected cell frequency is 2,2.
UJI t
t-Test
Group Statistics
Pendekatan RME N Mean Std. Deviation Std. Error Mean
Hasil Prestasi
Belajar
Menggunakan Pendekatan
RME
20 82.5000 11.06203 2.47354
Tidak Menggunakan
Pendekatan RME
20 68.5000 11.25073 2.51574
Independent Samples Test
Levene's Test
for Equality of
Variances t-test for Equality of Means
F Sig. t df
Sig. (2-
tailed)
Mean
Difference
Std. Error
Differenc
e
95% Confidence
Interval of the
Difference
Lower Upper
Hasil Prestasi
Belajar
Equal variances
assumed
.001 .981 3.968 38 .000 14.00000 3.52808 6.85777 21.14223
97
Independent Samples Test
Levene's Test
for Equality of
Variances t-test for Equality of Means
F Sig. t df
Sig. (2-
tailed)
Mean
Difference
Std. Error
Differenc
e
95% Confidence
Interval of the
Difference
Lower Upper
Hasil Prestasi
Belajar
Equal variances
assumed
.001 .981 3.968 38 .000 14.00000 3.52808 6.85777 21.14223
Equal variances
not assumed
3.968 37.989 .000 14.00000 3.52808 6.85770 21.14230
98
Lampiran 11
Tabel Chi Kuadrat
99
Lampiran 12
Tabel Distribusi t
100
Lampiran 13
Surat Ijin Penelitian

Anda mungkin juga menyukai