BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
B. RUMUSAN MASALAH
C. TUJUAN
1
BAB I
PEMBAHASAN
A. SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOTERAPI BARAT
Pada zaman Yunani Kuno(600 SM-600M) muncul Aristoteles sebagai "bapak" dari ilmu
Kedokteran modern --> menggunakan metode observasi, pengontrolan dan penyimpulan rasional
dari suatu gejala, rekreasi, istirahat, berpantang makan, pemijatan dan latihan fisik. Pada abad-
abad pertengahan (600-1500M), pengaruh Hippocrates tenggelam lagi ketika kekuatan-kekuatan
berpengaruh lagi. Pada abad ke-18, perhatian terhadap cara merawat penderita sakit jiwa
meningkat.
Penderita diperlakukan lebih manusiawi, tempat penampungan orang sakit berubah
menjadi Rumah Sakit (penanganan lebih baik), pada tahun 1780, Philippe Pinel di Perancis
memperkenalkan pendekatan sikap ramah di RS (merupakan pendekatan baru). Pada awal abad
ke-19, muncul latihan penguasaan diri sebagai teknik perubahan perilaku, teknik ini berawal dari
teknik hukuman untuk mengubah dan merekonstruksi seseorang agar kembali seperti keadaan
sebelumnya, salah seorang psikiater bernama Benyamin Rush menggunakan teknik tersebut
untuk merawat penderita penyakit "mania". padahal ia adalah pelopor perubahan pendekatan
dengan dasar kemanusiaan pada penderita sakit jiwa.
Dorothea Lyde sebagai tokok pembaru lain memprotes perlakuan-perlakuan keras dan
kejam terhadap penderita sakit jiwa dan menurutnya, mereka juga mempunyai kebutuhan akan
kebebasan fisik. pengaruh pendekatan kemanusiaan, diantaranya muncul teknik hipnotis atau
sugesti untuk mengubah dorongan2 psikis pada penderita neurotik seperti histeria.
Gerakan psikoterapi di Eropa mencuat sekitar paro kedua abad ke 18M yang dipelopori
oleh seorang psikiater, Dr. Frank Anthon Mesmer. Dalam praktik terapinya, Dr. Mesmer
menggunakan sebuah batangan besi magnet yang diusapkan ke bagian pinggir badan pasien dan
setelah itu, ia menggunakan jari-jarinya. Pada 1841 teori mesmerism dikembangkan oleh Dr.
Braid, salah seorang dokter di Manchester, ketika ia menggunakan metode hipnotis sebagai salah
satu sarana terapi penyakit jiwa tanpa menggunakan batangan-batangan besi magnet, seperti
memusatkan perhatian pasien kepada benda yang berkilau dalam jangka waktu yang lama.
2
Pada abad ke-19, teknik hipnotis juga dipakai oleh Jean Martin Charcot (1825-1893) dan
Hippolyte Bernheim (1840-1919) yang orientasinya lebih jelas, bahwa gangguan-gangguan
kejiwaaan psikologis (yang terdapat di alam bawah sadar. Dr. Charcot yang menegaskan bahwa
hipnotis adalah salah satu bentuk pensugestian. Melalui Dr. Charcot, ilmuan berkebangsaan
Prancis, semakin kuatlah metode hipnotis dalam menangani penyakit jiwa.
Pemahaman tersebut kemudian melahirkan Sigmund Freud (1856-1939) yang melakukan
revolusi dalam dunia psikoterapi psikoanalisis sebagai teknik psikoterapi, pengaruh Freud begitu
lama sampai tahun 60-an dan banyak pusat-pusat yang mempelajari taknik tersebut,
permasalahan yang dihadapi klien adalah konflik yang ditekan atau yang ditahan (repressed ) di
dalam alam tidak sadar untuk mencapai kesembuhan, hal-hal yang ditekan atau ditahan dalam
alam tidak sadar dikeluarkan (uncovering, unlocking prosess) untuk diketahui dan kemudian
dianalisis dan interprestasi, pada tahun 60-an Psikoanalisis mulai memudar. pada tahun 60-an,
berkembang psikologi klinis dan psikologi konseling sebagai reaksi dari perubahan-perubahan
yang terjadi di masyarakat setelah perang dunia kedua. Freud bersama-sama dengan pengikut
mazhab Charcot Prancis mulai memberikan terapi berbagai penyakit saraf melalui hipnotis.
Namun, cara tersebut mengalami banyak hambatan. Di antaranya:
Sulit menghipnotis setiap pasien sebab di antara mereka ada yang menolak dan melawan
Kalaupun pasien dapat tertidur melalui hipnotis tetapi tidak mesti mengalami
kesembuhan
Hal ini semakin mendapatkan penguatan ketika Freud berkunjung ke Universitas Nancy
di Prancis. Saat itu Universitas Nancy berusaha menerapi penyakit jiwa dengan metode hipnotis
dan mengklaim, sebagaimana gagasan Freud, bahwa setiap pasien dapat disembuhkan melalui
penyugestian (hipnotis). Ketika Freud bergabung dengan beberapa dokter di Universitas tersebut,
mereka menolak klain tersebut, sehingga Freud kembali ke Wina dan sibuk bekerja sama dengan
dokter sejawatnya yaitu Josef Breuer.
Pada suatu saat datang seorang pasien perempuan menemui Josef Breuer, kemudian Josef
Breuer menerapi perempuan tersebut melalui metode hipnotis seperti yang biasa di lakukan
pasies-pasien lainnya. Ketika itu perempuan tersebut mengidap penyakit histeria. Josef
berasumsi bahwa wanita itu, di bawah kekuatan hipnotis, akan menangkap kembali memori yang
3
terlupakannya manakala sadar. Maka, Josef mengikuti alur perkataan pasien untuk
menghilangkan trauma masa lalu yang dialaminya.
Dari pengalaman diketahui secara jelas bahwa psikoanalisis adalah sebuah metode terapi
jiwa yang tujuan utamanya adalah menghilangkan kekuatan, motif, pikiran, kecenderungan, dan
keinginan yang ada dalam jiwa pasien, yang terpendam dan telah lewat sehingga tampak pada
alur kehidupannya yang bersifat perasaan, kemudian menyatu di muaranya dan sumbernya.
Terapi dalam psikoanalisis terkadang dilakukan melalui percakapan panjang antara
pasien dengan psikiater. Si pasien menceritakan berbagai pengalaman masa lalunya kepada
psikiater dan menjelaskan pula berbagai kecenderungannya. Psikiater berusaha untuk
merangsang memori masa kanak-kanak si pasien dan mengarahkannya untuk mengingat suatu
momen tertentu pada masa kanak-kanak tersebut.
Terapi dengan psikoanalisis mencakup penarikan materi yang terpasung kepada emosi.
Hal itu karena hubungan seorang pasien dengan psikiater di tengah-tengah proses terapi
membantu ego untuk menekan hal yang menyebabkan penarikan tersebut, yaitu kegalauan, dan
mengenyahkannya. Pada kenyataannya psikoanalisis Freud berpijak pada tiga hal. Pertama,
medengarkan perkataan pasien. Terkadang timbul perkataan spontan dari si pasien yang
menggambarkan jiwanya dan menampakkan secara jelas kekompleksan jiwanya; kedua, isyarat,
kode dan rumus. Keadaan yang demikianlah yang biasa dilihat oleh psikiater. Psikiater
mendengarkan setiap isyarat yang timbul darinya, sebab isyarat tersebut terkadang menunjukkan
batin si pasien; ketiga, penafsiran atas mimpi. Menurut Freud, mimpi adalah petunjuk khusus dan
kuat terhadap keberadaan jiwa pasien. Gambaran-gambaran yang terlihat oleh si pasien pada saat
tidur merupakan rumus keinginan batinnya. Akal manusia bersandar pada rumus-rumus tersebut
dalam rangka mengungkap kerahasiaan.
Konsep psikoterapi Jung menyebutkan bahwa asas kegiatan manusia adalah kesenangan
terhadap kehidupan secara umum, dan gangguan saraf timbul pertama kalinya dari
ketidakmampuan si pasien untuk mengejawantahkan kesenangan tersebut dan ketidak
mampuannya untuk menyelaraskan perilakunya dengan berbagai tuntutan kehidupan.
4
Pandangan Jung dalam masalah jiwa jauh berbeda dengan pandangan Freud. Unsur jiwa
yang paling dangkal (bagian luar), menurut Jung, adalah persona yang dianggap sebagai
pengontrol setiap kepribadian individu.
Persona ini terbentuk dari keadaan sosial. Ia merupakan cara individu dalam
mengungkapkan diri dengan dunia luar. Fungsi persona adalah penyesuaian diri dengan
lingkungan. Kemudian, muncullah
Ego (Aku). Ego tidak lebih dangkal dari persona. Ego adalah bagian dari kesadaran.
Berbagai pengalaman kepribadian masa lalau memantul kepadanya. Sedangkan unsur jiwa yang
paling dalam adalah ketidaksadaran kolektif yang mencakup sebagian bentuk internal. Imago
ysng menyertai jiwa kewanitaan disebut animus sedangkan imago yang menyertai jiwa
kelelakian disebut anima.
Adapun Alfred Adler, seorang dokter kebangsaan Austria, pada mulanya sejalan dengan
pemikiran Sigmund Freud, sebagaimana yang pernah terjadi pada Carl Gustav Jung. Namun,
akhirnya Adler bercerai dengan Freud. Adler menyatakan pandangannya yang menyatakan
bahwa faktor pendorong utama perilaku seseorang bukan motif seks semata, sebagaimana
dikatakan Freud. Menurut Adler, motif perilaku tersebut adalah kecenderungan pada kekuasaan
dan kekuatan. Kecenderungan ini menemukan lahan pengaplikasiannya dalam tiga bidang, yaitu
sosial, seksual dan ekonomi.
Psikoterapi Adler bertujuan untuk menyingkapkan cara hidup seorang pasien pada masa
kanak-kanak dan berusaha menyeimbangkannya. Teori psikoterapi Adler terfokus pada satu
motif dalam jiwa, yaitu perasaan rendah diri. Tendensi psikoterapi tersebut menjadi karakteristik
utama teori psikologi kepribadian Adler. Keterfokusan pada satu motif inilah yang menyebabkan
kedangkalan teori psikoanalisis Adler.
Pada tahun 60-an, berkembang psikologi klinis dan psikologi konseling sebagai reaksi
dari perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat setelah perang dunia kedua. muncul Carl
Rogers--> konseling tidak langsung (nondirective conseling) dan pendekatan terpusat pada klien
(clien centeres approach ) yang kemudian menjadi person centered apporoach. pada saat hampir
bersamaa, muncul terapi perubahan perilaku (behavioral therapy, behavior modivitation), teknik
yang bpserlawanan dengan psikoanalisis. dan pada akhir tahun 50-an dan awal tahun 1960 mulai
5
banyak mendapat sambutan, masalah perilaku dipahami sebagai gejala yang muncul dan dapat
bisa diubah (malalui berbagai dasar teori belajar) dan kemudian mempengaruhi keseluruhan
kepribadian pribadi yang bersangkutan.
Data perkembangan psikoterapi
Metode dan teknik psikoterapi yang besar dan dikenal di dunia antara lain
1. Psikoanalisis.
2. Rogerian
3. Behavioristik.
4. Kognitif da.
5. Humanistik.
B. SEJARAH PERKEMBANGAN PSIKOTERAPI MENURUT ISLAM
Sebuah analisa menurut Carl Gustav Jung tentang psikoterapi, bahwa metode ini telah
melampaui asal-usul medisnya dan tidak lagi merupakan suatu metode perawatan orang sakit.
Psikoterapi kini juga digunakan untuk orang sehat atau pada mereka yang mempunyai hak atas
kesehatan psikis yang penderitaannya menyiksa kita semua. Menurut pendapat Jung ini,
bangunan psikoterapi selain digunakan untuk fungsi kuratif (penyembuhan), juga
berfungsi preventif (pencegahan), dan konstruktif (pemeliharan dan pengembangan jiwa yang
sehat).
Sedangkan keberadaan metode psikoterapi itu sendiri sangat berguna untuk:
Membantu penderita dalam memahami dirinya, mengetahui sumber-sumber
psikopatologi dan kesulitan penyesuaian diri, memberi perspektif masa depan yang lebih
cerah.
Membantu penderita mendiagnosis bentuk-bentuk psikopatologi, dan
Membantu penderita menentukan langkah-langkah praktis dan pelaksanaan
pengobatannya.
Namun diakui atau tidak, banyak orang yang sebenarnya telah mengidap penyakit jiwa,
namun tak sadar akan sakitnya. Bahkan ia tidak mengerti dan memahami bagaimana seharusnya
ia berbuat untuk menghilangkan penyakitnya. Karena itulah dibutuhkan pengetahuan tentang
psikoterapi.
Setelah mempelajari teks-teks al-Qur`an, Muhammad Abdul al-Aziz Al-Khalidi,
membagi obat (syifa`) dengan dua bagian: Pertama, obat hissi, yaitu obat yang dapat
6
menyembuhkan penyakit fisik. Seperti berobat dengan air, madu, atau buah-buahan yang telah
disebutkan dalam Al-Qur`an. Kedua, obat maknawi. Yaitu obat yang dapat menyembuhkan
penyakit ruh dan kalbu manusia, seperti doa-doa dan isi kandungan dalam al-Qur`an.
Pembagian kategori ini didasarkan atas asumsi bahwa dalam diri manusia terdapat dua
substansi yang bergabung menjadi satu. Yaitu jasmani dan ruhani. Masing-masing substansi
memiliki Sunnah (hukum) tersendiri, yang berbeda satu dengan lainnya.
Kelainan (penyakit) yang terjadi pada aspek jasmani, harus ditempuh melalui Sunnah
pengobatan hissi, bukan dengan Sunnah pengobatan maknawi seperti berdoa. Tanpa menempuh
Sunnah ini, maka kelainan yang ada tak akan sembuh.
Permasalahannya menjadi lain, jika yang mendapat kelainan itu berupa kepribadian
(tingkah laku) manusia (personality disorder), seperti paranoid, schizoid, eksploisif, histerik,
maupun anti sosial. Dan kepribadian merupakan produk fitrah nafsani (jasmani-ruhani). Dengan
aspek ruhani sebagai esensinya, dan aspek jasmani menjadi alat aktualisasi.
Karena kedudukan seperti ini, maka kelainan kepribadian manusia tak akan dapat
disembuhkan dengan Sunnah pengobatan hissi, tapi harus dengan maknawi. Demikian juga,
kelainan jasmani sering disebabkan oleh kelainan ruhani, dan cara pengobatannya pun harus
dengan Sunnah pengobatan maknawi pula.
Begitu detailnya dan ilmiahnya al-Quran menerangkan hal tersebut, tetapi seorang
psikolog Austria yaitu Sigmund Freud (1856) justeru mengklaim bahwa dirinya adalah pencetus
metode pengobatan psikoterapi yang berasal dari teori psikoanalisa yang ditemukannya.
Namun dokter sekaligus ilmuan Muslim yang bernama Abu Bakar Muhammad Zakaria
ar-Razi (864-925) atau yang dikenal sebagai ar Razi adalah dokter yang pertama kali
memfungsikan pengetahuan jiwa untuk pengobatan medis. Menurut ar-Razi, tugas seorang
dokter di samping mengetahui kesehatan jasmani (ath-thibb al-jismani), ia dituntut pula
mengetahui kesehatan jiwa (ath-thibb ar-ruhani). Hal ini untuk menjaga keseimbangan jiwa
dalam melakukan aktivitas-aktivitasnya, supaya tidak terjadi keadaan minus atau berlebihan.
Berkat konsep ini, ar Razi menyusun dua buku terkenal, yaitu ath-Thibb al-Manshariyyah
(Kesehatan al-Manshur), yang menjelaskan pengobatan jasmani, dan ath-Thibb ar-Rahani
(kesehatan mental) yang menerangkan pengobatan jiwa.
Pada bidang Psikoterapi, selain ar Razi juga ada Ibnu Sina yang dikenal sebagai dokter
pertama yang menerapkan ilmu-ilmu psikologi untuk mengatasi gangguan kejiwaan atau mental
seseorang. Saat itu, Ibnu Sina menerapkan ilmu nafs atau kejiwaan pada dunia Islam yang
selanjutnya disebut Psikologi Islam yang digunakan mulai Abad ke-8 M hingga Abad ke-15 M.
Pada Abad ke-20/21, ilmu nafs dari Ibnu Sina berhubungan erat dengan psikologi, psikiatri dan
neurosciences.
7
Ar Razi yang lahir pada pertengahan abad kesembilan di kota kuno Rayy, kini di
pinggiran kota Teheran. Ia disebut tabib dan ahli kejiwaan terbesar dalam dunia Islam dan pada
Abad Pertengahan. Demi faedah para tabib lainnya, sang pemikir ilmiah ini mencatat metode,
kondisi, alat, dan hasil eksperimennya. Dan, ia menganjurkan semua dokter untuk terus
mengikuti perkembangan terkini dalam bidang mereka.
Selain itu, ia mengelola rumah-rumah sakit di Rayy dan di Bagdad, dan pendekatannya
dalam merawat orang-orang yang sakit mental membuatnya diakui sebagai bapak psikologi dan
psikoterapi. Selain ilmu medis, Al-Razi sempat juga menulis buku-buku tentang kimia,
astronomi, matematika, filsafat, dan teologi.
Diskursus penemuan ar Razi bahwa bentuk-bentuk psikoterapi dalam Islam dapat
menyembuhkan semua aspek psikopatologi, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi.
Sedangkan psikoterapi hati itu ada lima macam :
Membaca Al-Quran sambil mencoba memahami artinya;
Melakukan shalat malam;
Bergaul dengan orang yang baik atau salih;
puasa
zikir malam hari yang lama
8
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
9
DAFTAR PUSTAKA
Zakiah Darajat, (1989), Puasa Meningkatkan Kesihatan Mental, Jakarta,
72 Yahya Jaya, (1992), Peranan Taubat dan Maaf Dalam Kesihatan Mental, Jakarta,
10