0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
92 tayangan5 halaman

Prosedur Resusitasi Jantung Paru RSKBJ

Dokumen tersebut memberikan pedoman tentang resusitasi jantung paru yang meliputi pengertian, tujuan, kebijakan, dan prosedur resusitasi jantung paru yang meliputi penilaian respon korban, pembukaan jalan nafas, pemberian bantuan pernafasan, hingga pemeriksaan denyut nadi dan sirkulasi.

Diunggah oleh

Jordan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
92 tayangan5 halaman

Prosedur Resusitasi Jantung Paru RSKBJ

Dokumen tersebut memberikan pedoman tentang resusitasi jantung paru yang meliputi pengertian, tujuan, kebijakan, dan prosedur resusitasi jantung paru yang meliputi penilaian respon korban, pembukaan jalan nafas, pemberian bantuan pernafasan, hingga pemeriksaan denyut nadi dan sirkulasi.

Diunggah oleh

Jordan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd

RESUSITASI JANTUNG PARU

No. Dokumen No. Revisi Halaman


SPO/ -PP/RSKBJ/III/2017 1 dari 5
RUMAH SAKIT
KASIH BUNDA JAYA

Ditetapkan di Nanga Pinoh


SPO Rumah Sakit Kasih Bunda Jaya
Tanggal terbit
(STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL)
Maret 2017
dr. Hendera Tanujaya Tan, Sp. OG
Direktur

1. Resusitasi jantung paru suatu sistem/metode untuk mengatasi


henti jantung dan/atau henti nafas.
2. Henti jantung adalah berhentinya kontraksi jantung yang ditandai
PENGERTIAN tak terabanya denyut jantung, denyut nadi dan/atau denyut arteri
karotis.
3. Henti nafas adalah berhentinya gerakan pernafasan dan ditandai
dengan tak terasanya hembusan nafas dari kedua lubang hidung.

Agar nyawa penderita henti jantung dan/atau henti paru segera bisa
TUJUAN
diselamatkan dan tidak memberikan gejala sisa.
Semua pelayanan resusitasi yang diberikan kepada pasien harus
dilakukan dengan prosedur yang seragam yang ditetapkan oleh
KEBIJAKAN Rumah Sakit (Sesuai Dengan Sk Direktur Rumah Sakit Kasih Bunda
Jaya Nomor: /KEP/RSKBJ/lll/2017 Tentang Kebijakan
Penyelenggaraan Pelayanan Rumah Sakit Kasih Bunda Jaya

1. Periksa respon:
a. Petugas IGD Rumah Sakit Kasih Bunda Jaya segera
memeriksa ada tidaknya cedera dan tentukan ada
respon atau tidak.
b. Tepuk atau guncangkan secara halus, panggil atau
tanya.
c. Bila diduga ada trauma kepala atau leher, pasien tak
boleh digerakkan kecuali bila benar-benar diperlukan.
PROSEDUR
2. Aktifkan sistem pelayanan emergensi yang ada:
Bila terjadi di luar Rumah Sakit Kasih Bunda Jaya :
a. panggil bantuan,
b. sebutkan jenis bantuan yang diperlukan,
c. lokasi korban,
d. nomor telpon yang digunakan,
e. apa yang terjadi,
f. jumlah orang yang memerlukan pertolongan
g. kondisi korban, dan informasi lainnya.
RESUSITASI JANTUNG PARU

No. Dokumen No. Revisi Halaman


SPO/ -PP/RSKBJ/III/2017 - 2 dari 5
RUMAH SAKIT
KASIH BUNDA JAYA

3. AIRWAY (Jalan nafas):


Bila korban tak memberikan respon:
a. Petugas IGD Rumah Sakit Kasih Bunda Jaya harus
menentukan apakah korban tersebut bernafas secara
adekuat.
b. Letakkan korban pada posisi terlentang dan jalan nafas
terbuka.
c. Posisi korban:
i. Tempatkan korban pada posisi terlentang, pada
tempat yang keras dan datar.
ii. Bila korban telungkup, balikkan korban dalam
satu kesatuan sehingga kepala, bahu dan badan
bergerak serentak hingga tak ada yang terputar.
Kepala dan leher harus berada pada satu
bidang, lengan berada di samping badan.
d. Posisi petugas/penolong:
Penolong harus berada pada sisi korban sehingga
memungkinkan melakukan bantuan nafas dan kompresi
dada.
Buka jalan nafas:
i) Bila korban tak berrespon/tak sadar lakukan
PROSEDUR
manuver head tilt-chin lift untuk membuka
jalan nafas, dengan syarat pasien tak ada bukti
trauma kepala atau leher.
ii) Bila dicurigai adanya trauma leher lakukan
manuver jaw-thrust.
iii) Bila ada benda asing yang terlihat atau
muntahan, segera keluarkan dari dalam mulut
dengan jari tangan yang memakai sarung
tangan. Benda yang keras dapat dikeluarkan
dengan jari telunjuk, sementara tangan yang
lain tetap mempertahankan lidah dan rahang.

4) Manuver head tilt-chin lift:


a) Letakkan satu tangan pada dahi korban, tekan dengan
telapak tangan hingga kepala menjungkit ke belakang.
Letakkan jari-jari tangan yang sebelah lagi di bawah tulang
rahang bawah dekat dagu. Angkat rahang dan dagu ke
depan.
RESUSITASI JANTUNG PARU

No. Dokumen No. Revisi Halaman


SPO/ -PP/RSKBJ/III/2017 - 3 dari 5
RUMAH SAKIT
KASIH BUNDA JAYA

a. Jangan menekan bagian lunak di bawah dagu dan


jangan menggunakan ibu jari untuk mengangkat dagu.
Buka mulut sehingga memungkinkan pernafasan
spontan dan memungkinkan bantuan nafas dari mulut
ke mulut. Bila gigi korban goyah atau ada gigi palsu,
maka gigi tsb harus lepaskan

5). Manuver jaw-thrust:


Letakkan tangan penolong pada masing-masing sisi kepala
korban, letakkan siku penolong pada bidang dimana korban
berbaring. Raih sudut rahang bawah korban dan angkat
dengan ke dua tangan. Bila bibir korban terkatup, regangkan
atau buka dengan ibu jari ke dua tangan.

6). BREATHING (Pernafasan):


a) Periksa ada tidaknya nafas:
i. Tempatkan telinga penolong dekat mulut dan hidung
korban sambil tetap membuka jalan nafas. Sambil
memperhatikan dada korban lakukan:
PROSEDUR
1. Look: lihat ada tidaknya pergerakan
dada;
2. Listen: dengar ada tidaknya hembusan
nafas;
3. Feel: rasakan adanya hembusan
ii. Prosedur pemeriksaan ini tak boleh lebih dari 10 detik

b) Tentukan ada/tidaknya dan adekuat/tidaknya pernafasan.

i) Bila korban tak berespon/tak sadar dengan nafas normal,


tak ada cedera tulang belakang, posisikan penderita pada
posisi mantap, jaga jalan nafas terbuka
ii) Bila korban tak berespon dan tak bernafas, lakukan
bantuan nafas 2 kali. Bila tak dapat dilakukan pemberian
bantuan nafas awal, atur ulang posisi kepala dan ulang
lagi usaha ventilasi.
iii) Bila tetap tak berhasil memberikan ventilasi hingga dada
mengembang, tenaga terlatih harus melakukan manuver
untuk mengatasi sumbatan jalan karena benda asing
(Heimlich manuver atau abdominal thrust/back thrust)
RESUSITASI JANTUNG PARU

No. Dokumen No. Revisi Halaman


SPO/ -PP/RSKBJ/III/2017 - 4 dari 5
RUMAH SAKIT
KASIH BUNDA JAYA

iv) Pastikan dada korban turun naik pada tiap bantuan nafas
yang diberikan.
v) Periksa ada tidaknya tanda-tanda sirkulasi.

7) CIRCULATION (Sirkulasi)
a) Periksa ada tidaknya tanda-tanda sirkulasi;
i) Setelah pemberian bantuan nafas awal, periksa adanya
pernafasan normal, batuk atau gerakan dari korban
sebagai respon terhadap bantuan nafas yang diberikan.
Sekaligus periksa ada tidaknya nadi karotis jangan lebih
dari 10 detik.
ii) Periksa denyut nadi arteri karotis adalah dengan
mempertahankan posisi kepala (head tilt) dengan satu
tangan. Raba trakhea dengan 2 atau 3 jari tangan yang
lain, geser jari-jari tersebut ke lateral sisi penolong hingga
celah antara trakhea dan otot.
iii) Gunakan tekanan yang lembut saja sehingga tidak
menekan arterinya. Bila denyut arteri karotis tak teraba
lakukan kompresi dada.
PROSEDUR
b) Kompresi dada:
i) Jari penolong mencari arkus kosta bagian bawah.
ii) Ditelusuri ke atas hingga teraba bagian terbawah sternum.
iii) Taruh salah satu pangkal tangan pada bagian separuh
bawah sternum, dan taruh tangan yang satu lagi di atas
punggungn tangan yang pertama, sehingga tangan dalam
keadaan paralel. Pastikan sumbu pangkal tangan tepat
pada sumbu sternum
iv) Jari-jari tangan dapat dibiarkan terbuka atau saling
mengunci satu sama lain tetapi jangan menekan dada
v) Usahakan mendapatkan posisi yang tepat di sternum
dengan cara meletakkan pangkal tangan penolong
diantara ke dua papilla mammae
vi) Lakukan kompresi yang efektif dengan memperhatikan
hal-hal sebagai berikut:
(1) Posisi siku tidak menekuk, posisi lengan tegak lurus
dengan dada korban.
(2) Tekan di tengah sternum.
(3) Lepaskan tekanan hingga dada kembali ke posisi
normal agar darah masuk ke dada dan jantung, posisi
tangan tetap menempel di sternum.
RESUSITASI JANTUNG PARU

No. Dokumen No. Revisi Halaman


SPO/ -PP/RSKBJ/III/2017 - 5 dari 5
RUMAH SAKIT
KASIH BUNDA JAYA

(4) Lakukan 30 kali kompresi dada, pastikan dada kembali


ke posisi semula diantara dua kompresi. Buka lagi jalan
nafas dan berikan lagi 2 kali bantuan nafas, masing-
masing 1 detik. Bila sudah dilakukan intubasi kompresi
dada dan ventilasi dapat dilakukan kontinyu dan tidak
perlu sinkron.

9) REASSESSMENT:
b) Evaluasi ulang korban, bila tetap tak ada tanda-tanda sirkulasi
ulangi RJP dengan dimulai dari kompresi dada. Bila tanda-
tada sirkulasi sudah tampak, periksa pernafasan.
c) Bila ada nafas, tempatkan dalam posisi mantap dan awasi
nafas dan sirkulasi.
d) Bila tak ada nafas tapi ada tanda-tnda sirkulasi, berikan
bantuan nafas 10-12 kali/menit dan awasi adanya tanda-tanda
PROSEDUR sirkulasi tiap menit.
e) Bila tak ada tanda sirkulasi teruskan kompresi dada dan
ventilasi dengan rasio 30 kompresi 2 ventilasi.
h) Berhenti dan periksa tanda-tanda sirkulasi dan adanya
pernafasan spontan tiap menit.
i) Jangan berhenti RJP kecuali karena keadaan khusus.
j) Bila didapatkan adanya pernafasan yang adekuat dan adanya
tanda-tanda sirkulasi, pertahankan jalan nafas tetap terbuka
dan posisikan dalam posisi mantap; dengan cara:
i) Satu lutut difleksikan.
ii) Satu lengan yang sepihak diletakkan dibawah pantat,
lengan yang lain difleksikan didepan dada.
iii) Pelan pelan diguligkan kearah yang sepihak dengan lutut
yang fleksi.
iv) Kepala di ekstensikan, lengan yang fleksi didepan dada
diletakkan mengganjal rahang bewah (agar tidak terguling
ke depan )

1. Unit Rawat Inap


2. Unit Rawat Jalan
3. Unit Gawat Darurat
UNIT TERKAIT
4. HCU/PICU
5. Unit Kamar Bedah

Anda mungkin juga menyukai