PEMERINTAH KABUPATEN POSO
DINAS KESEHATAN
PUSKESMAS TANGKURA
Alamat : Jln. Trans Poso Napu [Link] [Link] Pesisisr Selatan [Link]
KERANGKA ACUAN PENCEGAHAN
DAN
PENGENDALIAN RABIES
[Link] Belakang
Kesehatan memang bukan segalanya tapi tanpa kesehatan semua
hal akan terasa tidak ada artinya , itu adalah kata-kata yang mungkin
memang benar . oleh sebab itu kita dituntut dan wajib menjaga kesehatan
kita yang begi menurut beberapa orang dianggap hal yang sepele, dan juga
kebanyakan terlalu sibuk sehingga melupakan tentang kesehatan itu. Di
Dunia ini ada banyak sekali penyakit yang mulai dari penyakit yang sangat
berbahaya sampai merenggut nyawa dan membahayakan orang-orang
disekitar kita , dan ada juga penyakit yang tidak begitu berbahaya dan juga
tidak menular kepada orang lain disekitar kita , diantara sekian banyak
penyakit itu ada yang namanya penyakit RABIES yang juga termasuk
penyakit menular. Rabies merupakan penyakit hewan menular yang
disebabkan oleh virus dan dapat menular pada orang. Karena itu, rabies
dikategorikan sebagai penyakit zoonotik. Agen penyebab penyakit ini
memiliki daya tarik kuat untuk menginfeksi jaringan saraf yang
menyebabkan terjadinya peradangan pada otak atau ensefalitis, sehingga
berakibat fatal bagi hewan ataupun manusia yang tertular. Pencegahan
mengenai rabies dapat dilakukan dengan pertama-tama melakukan
vaksinasi secara berkala pada anjing atau hewan-hewan lain yang biasa
terkena penyakit rabies dan juga selalu melakukan pertolongan-pertolongan
pertama saat tergigit anjing atau terkena liurnya secara cepat dan benar.
[Link] Rabies
1).Rabies adalah penyakit menular yang bersifat akut menyerang
susunan syaraf pusat yang dapat menulari semua hewan berdarah panas
dan manusia, yang disebabkan oleh virus rabies.
2).Hewan Penular Rabies, yang selanjutnya disebut HPR adalah hewan
yang dapat berperan sebagai penyebar virus rabies, mencakup: anjing,
kucing, kera dan hewan sebangsanya.
3).Etioloagi Penyakit Rabies adalah virus rabies yang termasuk
familyRhabdovirus. Bentuknya menyerupai peluru yang berukuran 180 nm
dengan panjang 75 nm, dan pada permukaannya terlihat struktur seperti
paku dengan panjang 9 nm. Virus ini tersusun dari Protein, lemak, RNA
dan karbohidrat. Virus rabies tidak dapat bertahan lama di luar jaringan
hidup. Virus mudah mati oleh sinar matahari dan sinar ultraviolet. Dengan
pemanasan 60 derajat Selsius selama 5 menit, virus rabies akan mati. Virus
ini tahan terhadap suhu dingin, bahkan dapat bertaha beberapa bulan
pada suhu -40 Celsius.
Pada suhu kamar, virus dapat bertahan hidup selama beberapa
minggu pada larutan gliserin pekat. Bila konsentrasi gliserinnya hanya
10%. Maka virus akan cepat mati. Virus tidak akan bertahan hidup lama
pada pelarut lemak seperti air sabun, detergen, kloroform, atau eter.
Semua hewan yang mati akibat dugaan rabies harus diperiksa di
laboratorium. Diagnosis rabies dipastikan jika pada pemeriksaan histologist
sel galgion hewan yang mati dengan dugaan rabies ditemukan Negri
bodies. Negri bodies adalah benda eksofil yang banyak dijumpai di dalam
sitoplasma saraf, berbentuk bulat yang mudah diwarnai dengan eosin,
fuchsin, Giemsa.
Pemeriksaan Mikroskopik cairan serebrospinal dapat dilakukan
untuk menemukan virus rabies . Uji hewan coba menggunakan bayi hewan
(suckling animal) misalnya Hamster, tikus atau kelinci atau kelinci
dinokulasi intraktranial dengan suspense otak atau kelenjar lidah
submaksiler hewan yang diduga rabies, akan menunjukkan gejala rabies
misalnya terjadinya konvulsi.
Untuk membantu menegakkan diagnosis rabies pada manusia
maupun pada hewan dilakukan pemeriksaan serologi dan uji fluoresensi.
Pemeriksaan darah penderita menunjukkan gambaran eosinofilla dan
hiperglikemia, sedangkan pada pemeriksaan cairan serebsorpinal jumlah
protein dan sel meningkat.
[Link] Pencegahan Dan Pengendalian Rabies
1).Umum
Terselenggaranya pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Rabies yang
bermutu dan Berkesinambungan di Puskesmas dan diwilayah kerja
2).Khusus
a).Mampu mengetahui apa yang dimaksud Penyakit menular
b).Mampu mengetahui apa yang dimaksud penyakit Rabies
c).Mampu mengetahui etilogi dan epidemiologi dari penyakit Rabies
d).Mampu mengetahui penularan dan tanda-tanda dari penyakit Rabies
tersebut
e).Manmpu menjelaskan pengobatan dan tata laksana kasus pada rabies
[Link] Nilai
Budaya kerja puskesmas Tangkura adalah :
[Link] : Terwujudnya masyarakat kecamatan poso pesisir selatan sehat dan
mandiri
[Link] :
[Link] kemandirian masyarakat untuk hidup sehat
[Link] pelayanan kesehatan yang bermutu dan merata
[Link] pelayanan kesehatan yang terjangkau oleh seluruh lapisan
masyarakat
[Link] : Melayani dengan kasih
[Link]
[Link] program Rabies
[Link] masyarakat yang ada di wilayah kerja puskesmas Tangkura
[Link],Output,Kuantitatif Yang Diharapkan
Dengan mengacu kepada KAK seluruh kegiatan program Pencegahan dan
Pengendalian Rabies dapat diselenggarakan secara efektif dan efisisen di
Puskesmas Tangkura.
[Link],Out Come,Kuantitatif Yang Diharapkan
Dengan diselenggarakannyaa program Pencegahan dan Pengendalian
Rabies secara efektif dan efisisen diharapkan dapat meningkatkan kinerja
serta dapat terus bersinergi dengan program-program lain di Puskesmas
Tangkura yang pada akhirnya dapat meningkatkan pengetahuan
masyarakat dan mengurangi angka kesakitan dan kematian yang
disebapkan oleh virus Rabies
[Link] Pelaksanaan Kegiatan
Semua Desa di wilayah kerja Puskesmas Tangkura
[Link] Kegiatan
[Link] KAK
[Link] jadwal kegiatan
[Link] kegiatan
[Link] dan pelaporan
[Link] Kegiatan
No Nama Kegiatan Volume Kegiatan Keterangan
1.
2.
3.
4.
[Link] Lingkup Pelaksanaan Kegiatan Pencegahan Dan Pengendalian
Rabies
1).Pencegahan Rabies
Pencegahan Primer
a). Tidak memberikan izin untuk memasukkan atau menurunkan anjing,
kucing, kera dan hewan sebangsanya di daerah bebas rabies.
b). Memusnahkan anjing, kucing, kera atau hewan sebangsanya yang
masuk tanpa izin ke daerah bebas rabies.
c). Dilarang melakukan vaksinasi atau memasukkan vaksin rabies kedaerah
daerah bebas rabies.
d). Melaksanakan vaksinasi terhadap setiap anjing, kucing dan kera, 70%
populasi yang ada dalam jarak minimum 10 km disekitar lokasi kasus.
e). Pemberian tanda bukti atau pening terhadap setiap kera, anjing, kucing
yang telah divaksinasi.
f). Mengurangi jumlah populasi anjing liar atan anjing tak bertuan dengan
jalan pembunuhan dan pencegahan perkembangbiakan.
g). Anjing peliharaan, tidak boleh dibiarkan lepas berkeliaran, harus
didaftarkan ke Kantor Kepala Desa/Kelurahan atau Petugas Dinas
Peternakan setempat.
h). Anjing harus diikat dengan rantai yang panjangnya tidak boleh lebih
dari 2 meter. Anjing yang hendak dibawa keluar halaman harus diikat
dengan rantai tidak lebih dari 2 meter dan moncongnya harus
menggunakan berangus (beronsong).
i). Menangkap dan melaksanakan observasi hewan tersangka menderita
rabies, selama 10 sampai 14 hari, terhadap hewan yang mati selama
observasi atau yang dibunuh, maka harus diambil spesimen untuk
dikirimkan ke laboratorium terdekat untuk diagnosa.
j).Mengawasi dengan ketat lalu lintas anjing, kucing, kera dan hewan
sebangsanya yang bertempat sehalaman dengan hewan tersangka rabies.
k).Membakar dan menanam bangkai hewan yang mati karena rabies
sekurang-kurangnya 1 meter.
Pencegahan Sekunder
Pertolongan pertama yang dapat dilakukan untuk meminimalkan
resiko tertularnya rabies adalah mencuci luka gigitan dengan sabun atau
dengan deterjen selama 5-10 menit dibawah air mengalir/diguyur.
Kemudian luka diberi alkohol 70% atau Yodium tincture. Setelah itu pergi
secepatnya ke Puskesmas atau Dokter yang terdekat untuk mendapatkan
pengobatan sementara sambil menunggu hasil dari rumah observasi hewan.
Resiko yang dihadapi oleh orang yang mengidap rabies sangat besar. Oleh
karena itu, setiap orang digigit oleh hewan tersangka rabies atau digigit oleh
anjing di daerah endemic rabies harus sedini mungkin mendapat
pertolongan setelah terjadinya gigitan sampai dapat dibuktikan bahwa tidak
benar adanya infeksi rabies.
Pencegahan Tersier
Tujuan dari tiga tahapan pencegahan adalah membatasi atau
menghalangi perkembangan ketidakmampuan, kondisi, atau gangguan
sehingga tidak berkembang ke tahap lanjut yang membutuhkan perawatan
intensif yang mencakup pembatasan terhadap ketidakmampuan dengan
menyediakan rehabilitasi. Apabila hewan yang dimaksud ternyata
menderita rabies berdasarkan pemeriksaan klinis atau laboratorium dari
Dinas Perternakan, maka orang yang digigit atau dijilat tersebut harus
segera mendapatkan pengobatan khusus (Pasteur Treatment) di Unit
Kesehatan yang mempunyai fasilitas pengobatan Anti Rabies dengan
lengkap.
2).Pengendalian Rabies
Aturan Perundangan
Upaya pencegahan dan pengendalian rabies telah dilakukan sejak
lama, di Indonesia dilaksanakan melalui kegiatan terpadu secara lintas
sektoral antara lain dengan adanya Surat Keputusan Bersama 3 Menteri
yaitu Menteri Kesehatan, Menteri Pertanian, dan Menteri Dalam Negeri No:
279A/MenKes/SK/VIII/1978; No: 522/Kpts/Um/8/78; dan No:
143/tahun1978.
Penerapan aturan perundangan ini perlu ditegakkan, agar pelaksanaan di
lapangan lebih efektif dan secara tegas memberikan otoritas kepada
pelaksana untuk melakukan kewajibannya sesuai dengan aturan
perundangan yang ada,baik tingkat nasional,tingkat kawasaan,maupun
tingkat lokal.
Surveilans
Pelaksanaan surveilans untuk rabies merupakan dasar dari semua
program dalam rangka pengendalian penyakit ini. Data epidemiologi harus
dikumpulkan sebaik mungkin,dianalisis,dipetakan,dan bila mungkin segera
didistribusikan secepat mungkin. Informasi ini juga penting untuk dasar
perencanaan,pengorganisasian,dan pelaksanaan program pengendalian.
Vaksinasi Rabies
Untuk mencegah terjadinya penularan rabies, maka anjing, kucing, atau
kera dapat diberi vaksin inaktif atau yang dilemahkan (attenuated). Untuk
memperoleh kualitas vaksin yang efektif dan efisien, ada beberapa
persyaratan yang harus dipenui, baik vaksin yang digunakan bagi hewan
maupun bagi manusia, yakni :
a) Vaksin harus dijamin aman dalam pemakaian.
b) Vaksin harus memiliki potensi daya lindung yang tinggi.
c) Vaksin harus mampu memberikan perlindungan kekebalan yang lama.
d) Vaksin arus mudah dalam cara aplikasinya.
e) Vaksin harus stabil dan menghasilkan waktu kadaluwarsa yang lama.
f) Vaksin harus selalu tersedia dan mudah didapat sewaktu-waktu
dibutuhkan.
3).Metode Kegiatan
Jenis pelayanan pasien rabies di puskesmas meliputi :
a). Identifikasi Luka
Luka risiko rendah,adalah jilatan pada luka kecil di kulit badan
dan anggota gerak atau Jilatan pada luka lecet akibat [Link] Risiko
Tinggi, adalah jilatan pada mukosa (selaput lender) utuh; jilatan pada luka
leher, muka dan luka, luka gigitan pada leher, muka dan kepala; luka
gigitan pada jari tangan dan kaki; luka gigitan pada daerah genitalia dan
luka gigitan yang dalam, lebar, atau banyak.
b).Tata Laksana Luka
Pencucian luka: Karena virus rabies masih akan menetap pada
luka gigitan selama 2 minggu sebelum kemudian bergerak ke ujung saraf
posterior, maka pencucian sangat penting untuk mencegah infeksi.
Pencucian dilakukan dengan air mengalir, memakai sabun/detergen selama
15 [Link] antiseptic : Setelah dicuci, luka diberi antiseptic seperti
alcohol 70%, povidon iodine, obat merah, dan [Link]
penunjang : Dilakukan jahit situasi pada luka yang dalam dan lebar untuk
menghentikan pendarahan. Sebelum dijahit harus diberikan suntikan SAR
terlebih dahulu.
c).Pemberian VAR (Vaksin Anti-Rabies), Atau VAR Dan SAR (Serum Anti-
Rabies)
Pada luka resiko rendah: Var diberikan pada semua kasus
penderita gigitan HPR yang belum pernah mendapatkan VAR. Sejumlah 0,5
mL VAR disuntikkan IM pada region deltoideusanak kanan dan kiri.
Sedangkan pada bayi disuntikkan dipangkal paha. Penyuntikan diberikan
4X (hari ke-0 2x pada pangkal lengan kanan kiri, hari ke-7 1x,dan hari ke-
21 1x);sedangkan pada penderita yang sudah pernah mendapat VAR
lengkap sebelum tiga bulan tidak perlu diberi VAR, bila sudah berusia 3
bulan sampai satu tahun maka perlu diberikan VAR 1x,dan bila sudah
berusia lebih dari satu yahun maka perlu diberikan VAR lengkap karena
dianggap sebagai penderita baru.
Pada Luka Risiko Tinggi: Perlu diberikan VAR dn SAR. VAR disuntikkan
sebagaimana pada luka risiko rendah ditambah dengan 1x pada hari ke-90.
SAR disuntikkan disekitar luka guigitan dan sisanya secara IM dengan
dosis 0,1 mL/kgBB pada hari ke-0, bersamaan dengan pemberian VAR.
d).Perawatan Kasus
Penderita yang menunjukkan gejala rabies harus dirawat di rumah
sakit di ruang isolasi. Ruangan sebaiknya gelap dan tenang. Pengobatan
dan perawatan ditujukan untuk mempertahankan hidup penderita. Petugas
kesehatan (dokter dan perawat)yang menangani seharusnya memakai alat
perlindungan diri dari kemungkinan tertular seperti: kacamata plastik,
sarung tangan karet, masker, dan jas laboratorium lengan panjang. Apabila
diperlukan, vaksinasi pencegahan dapat diberikan untuk petugas
kesehatan dengan VAR 2x (hari ke-0 dan hari ke-28) dengan dosis dan cara
pemberian yang sama dengan pemberian VAR pada luka. Ulangan dapat
diberikan 1 tahun setelah pemberian 1 dan setiap 3 tahun.
e).Diagnosa Lapangan
Untuk memperoleh tingkat akurasi yang tinggi, cara yang paling
tepat adalah dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut ;
- Anjing yang menggigit harus ditangkap dan diobservasi.
- Riwayat penggigitan, ada tidaknya provokasi.
- Jumlah penderita gigitan.
Penahanan dan observasi klinis selama 10 - 15 hari dilakukan
terhadap anjing, kucing yang walaupun tampak sehat dan diketahui telah
menggigit orang (sedangkan anjing atau kucing yang tidak ada pemiliknya
dapat langsung dibunuh dan diperiksa otaknya).
Berdasarkan pengalaman di lapangan, anjing menggigit lebih dari
satu orang tanpa didahului oleh adanya provokasi dan anjing tersebut mati
dalam masaobservasi yang kemudian specimen otaknya diperiksa
dilaboratorium hasilnya adalah positif rabies,selanjutnya indikasi
kecenderungan rabies di lapangan tanpa adanya tindakan provokasi dapat
ditentukan sebagai berikut :
- Hewan menggigit 1 orang tanpa provokasi kemungkinan (positif)
rabies 25 %.
- Hewan menggigit 2 orang tanpa provokasi kemungkinan (positif)
rabies 50 %.
- Hewan menggigit 3 orang tanpa provokasi kemungkinan (positif)
rabies 75 %.
- Hewan menggigit 4 orang tanpa provokasi kemungkinan (positif)
rabies 100 %.
f).Diagnosa Laboratorium
Diagnosa rabies secara laboratorium didasarkan atas :
a. Penemuan badan negri (negri body).
b. Penemuan antigen.
c. Penemuan virus (isolasi).
Antigen, badan negri dan virus banyak ditemukan pada sel saraf
(neuron)sedangkan kelenjar ludah dapat mengandung antigen dan virus
tetapi badan negri tidak selalu dapat ditemukan pada kelenjar ludah anjing.
Adanya kontaminasi pada specimen dapat mengganggu pemeriksaan dan
khususnya untuk isolasi virus pengiriman harus dilakukan sedemikian
rupa sehingga kelestarian hidup virus dalam specimen tetap terjamin
sampai ke laboratorium.23 Bahan pemeriksaan dapat berupa seluruh
kepala, otak, hippocampus, cortex cerbri dancerebellum, preparat pada gelas
objek dan kelenjar ludah. Bila negri body tidak ditemukan, supensi otak
(hippocampus) atau kelenjar ludah sub maksilerdiinokulasikan intrakranial
pada hewan coba (suckling animals), misalnya hamster, tikus atau kelinci.
Cara diagnosis rabies secara laboratoris dapat dilakukan dengan :
a).Mikroskopis untuk melihat dan menemukan badan negri,yakni
pewarnaan cepatSellers,FAT (Fluorescence Antibody Technique)
dan histopatologik.
b).Antigen-antibody reaksi dengan uji virus nertralisasi, gel
agar presipitasi atau reaksi peningkatan komplemen dan FAT Isolasi virus
secara biologis pada mencit atau in vitro pada biakan jaringan diikuti
identifikasi isolat dengan cara pewarnaan FAT atau uji virus netralisasi.
4).Langkah kegiatan
[Link] Pasien
[Link] Luka
[Link] Perawatan Luka
3. Diagnosa Laboratorium
[Link] VAR (Vaksin Anti-Rabies), Atau VAR Dan SAR (Serum Anti-
Rabies)
[Link] dan Peralatan
1.)Media : Flipchart, leaflet
2.)Peralatan : Register pasien,Alat instrumen perwatan luka,VAR (Vaksin
Anti- Rabies)
[Link] Masalah
1). Sejarah Penyakit Rabies
2). Pengertian Penyakit Rabies
3). Penyebap Virus Rabies
4). Tanda-tanda Rabies Pada Hewan Dan Manusia
5). Penanganan Penyakit Rabies
6). Pengobatan Penyakit Rabies
7). Pencegahan Penyakit Rabies