PENANGANAN RABIES
NO. DOKUMEN [Link] HALAMAN
SPO/RABIES/ /2/2017
00 1/3
PEMERINTAH KOTA
SUKABUMI
DINAS KESEHATAN
UPT RSUD AL-MULK
Kepala UPT RSUD AL-MULK
Tanggal Terbit Dinas Kesehatan kota Sukabumi
PROSEDUR TETAP 28 Februari 2017
[Link] Budi Isnaeni
NIP 19700210 200604 2 007
Penanganan pertama pada pasien dengan dugaan gigitan
Pengertian
binatang terduga rabies
Petugas dapat melakukan pengelolaan penyakit meliputi
1. Anamnesa (subjective)
2. Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang sederhana
Tujuan (objektif)
3. Penegakan diagnose (assessment)
4. Penatalaksanaan Komprehensif
Keputusan KEPALA UPT RSUD Al Mulk Kota sukabumi
Kebijakan Nomor : KEP/ / /2017 tentang Kebijakan Pelayanan Rabies
Center
ALAT
1. Cairan desinfektan
Alat dan Bahan
2. Serum Anti Rabies (SAR)
3. Vaksin anti Rabies (VAR)
Anamnesa
Keluhan
a. Stadium Prodormal
Gejala awal berupa demam, malaise, mual dan nyeri di
tenggorokan selama beberapa hari
b. Stadium sensoris
Penderita merasa nyeri , merasa panas disertai kesemutan
pada tempat bekas luka kemudian disusul dengan gejala
cemas , dan reaksi yang berlebihan terhadap rangsang
sensorik
c. Stadium ekstasi
Tonus otot dan aktivitas simpatis menjadi meninggi dan
Prosedur gejala hyperhidrosis,hipersalivasi,hiperlakrimasi dan pupil
dilatasi. Hal yang sangat khas pada stadium ini adalah
munculnya macam-macam phobia seperti hydrophobia.
Kontraksi otot faring dan otot pernafasan dapat
ditimbulkan oleh rangsangan sensoris misalnya dengan
meniupkan udara kemuka pasien . pada stadium ini dapat
menjadi apneu, sianosis,konvulsan dan takhikardi tindak
tanduk pasien rasional kadang maniacal disertai dengan
responsive. Gejala eksitasi terus berlangsung sampai
penderita meninggal.
d. Stadium paralisis
Sebagaian besar penderita rabies meninggal dalam
stadium sebelumnya , namun kadang ditemukan pasien
yang tidak menunjukan gejala eksitasi melainkan paresis
otot yang terjadi secara progresif karena karena gangguan
pada medulla spinalis
Pada umumnya rabies pada manusia mempunyai masa
inkubasi 3-8 minggu. Gejala-gejala jarang timbul sebelum 2
minggu . mengetahui port de entry virus tersebut
secepatnya pada tubuh pasien merupakan kunci untuk
meningkatkan pengobatan pasca gigitan (post exposure
therapy) saat pemeriksaan . luka gigitan mungkin sudah
sembuh bahkan mungkin telah dilupakan , tetapi pasien
sekarang mengeluh tentang perasaan (sensasi) yang lain
ditempat bekas gigitan tersebut, seperti tertusuk
Anamnesa penderita terdapat riwata tergigit, tercakar atau
kontak dengan anjing,kucing atau binatang lainnya yang :
a. Positif rabies
b. Mati dalam waktu 10 hari sejak menggigit bukan
dibunuh
c. Tak dservasi setelah menggigit (dibunuh, lari,dan
sebaginya)
d. Tersangka rabies (hewan berubah sifat , mals makan ,
dan lain-lain)
Masa inkubasi rabies 3-4 bulan (95%) bervariasi antara
7 hari-7 tahun. Lamanya masa inkubasi dipengaruhi
oleh dalam dan besarnya luka gigitan, dan lokasi luka
gigitan ( jauh dekatnya ke system saraf pusat, derajat
pathogenesis virus dan persyarafan daerah luka
gigitan). Luka pada kepala inkubasi 25 -48 hari , dan
pada ekstermitas 46-78 hari
1. Melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
sederhana (objective)
Pemeriksaan fisik
a. Pada saat pemeriksaan , luka gigitan mungkin sudah
sembuh bahkan mungkin sudah dilupakan
b. Pada pemeriksaan dapat ditemukan gatal dan
paresthesia pada luka bekas gigitan yang sudah
sembuh(50%) mioedema ( menetap selama perjalanan
penyakit)
c. Pada stadium lanjut dapat berakibat koma dan
kematian
d. Tanda patognomosis
Encephalitis rabies :agitas,kesadaran fluktuatif, demam
tinggi yang persisten, nyeri pada faring terkadang
seperti rasa tercekik (inspiratoris spasme)
hipersalivasi, kejang, hydrophobia, dan aerofobia.
Pemeriksaan penunjang
Hasil pemeriksaan laboratorium kurang bermakna
2. Penegakan diagnose (assessment)
Diagnosis klinis
Diagnosis klinis ditegakkan dengan riwayat (+) dan
hewan yang menggigit mati dalam 1 minggu
Gejala fase awal tidak khas :
gejala flu, ,malaise,anoreksia ,kadang ditemukan
paresthesia pada daerah gigitan , gatal-gatal, rasa
terbakar(panas), berdenyut
Gejala lanjutan :
agitasi, kesadaran fluktuatif, demam tinggi yang persisten,
nyeri pada faring terkadang seperti rasa tercekik
(inspiratory spasme ), hipersaliva, kejang,hidrofobia dan
aerofobia.
Diagnosis Banding
a. Tetanus
b. Ensefalitis
c. Intoksikasi obat-obatan
d. Japanese encephalitis
e. Herpes Simplex
f. Encephalitius post vaksinasi
Komplikasi
a. Gangguan hipotalamus : diabetes insipidus , disfungsi
otonomik yang menyebabkan hipertensi,
hipotensi,hipo/hiper termia,aritmia dan henti jantung.
b. Kejang dapat local atau generalisata, sering bersamaan
dengan aritmia dan dspneu.
3. Penatalaksanaan komprehensif
4. Penatalaksanaan
A. Isolasi pasien penting segera setelah diagnosis
ditegakkan untuk menghindari rangsangan
rangsangan yang bisa menimbulkan spasme otot
ataupun untuk mencegah penularan.
B. Fase awal; luka gigitan harus segera dicuci dengan air
sabun ( detergen) 5-10 menit kemudian dibilas dengan
air bersih , dilakukan debridement dan diberikan
desinfektan seperti alcohol 40-70%, tinktura yodii atau
larutan ephita , jika terkena selaput lendir seperti mata
, hidung dan mulut , maka cucilah kawasan tersebut
dengan air lebih lama ; pencegahan dilakukan dengan
pembersihan luka dan vaksinasi.
C. Fase lanjut ; tidak ada terapi untuk untuk penderita
rabies yang sudah menunjukan gejala rabies ,
penanganan hanya berupa tindakan suportif dalam
penanganan gagal jantung dan gagal nafas.
D. Pemberian Serum Anti Rabies (SAR) bila serum
heterolog ( berasal dari serum kuda) dosis 40 IU/kg BB
disuntikkan secara IM. Skin test perlu dilakukan
terlebih dahulu , bila serum homolog (berasal dari
serum manusia) dengan dosis 20 IU/kgBB, dengan cara
yang sama.
E. Pemberian serum dapat dikombinasikan dengan Vaksin
anti rabies pada kunjungan pertama
F. Pemberian Vaksin Anti Rabies dalam waktu 10 hari
infeksi yang dikenal sebagai post exposure
prophylaksis atau PEPVAR secara IM pada otot
deltoid atau anterolateral paha dengan dosisi 0,5 ml
pada hari 0,3,7,14 ,28(regimen essen atau rekomendasi
WHO) atau pemberian VAR 0,5 ml pada hari 0,7,21 9
rekomendasi WHO)
G. Pada orang yang sudah mendapat vaksin rabies dalam
kurun waktu 5 tahun terakhir , bila digigit binatang
tersangka rabies, vaksin cukup diberikan 2 dosis pada
hari 0 dan 3, namun bila gigitan berat vaksin diberikan
lengkap.
H. Pada luka gigitan yang parah , gigitan di daerah leher ke
atas, pada jari tangan dan genetalia diberikan SAR 20
IU/kg BB dosis tunggal . Cara pemberian SAR adalah
setengah dosis infiltrasi pada sekitar luka dan setengah
dosis IM pada tempat yang berlainan dengan suntikan
SAR, diberikan pada hari yang sama dengan dosis
pertama SAR
I. Konseling dan Edukasi
a. Keluarga ikut membantu dalam hal penderita rabies
yang sudah menunjukan gejala rabies untuk segera
dibawa untuk penanganan segera ke fasilitas
kesehatan ,pada pasien yang digigit hewan
tersangka rabies , keluarga harus menyarankan
pasien untuk vaksinasi
Laporkan kasusu rabies ke dinas kesehatan setempat
Kriteria rujukan
a. Penderita rabies yang suadh menunjukan gejala
rabies
b. Dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan
sekunder yang memiliki dokter spesialis
neurolog
Petugas Perawat
Unit Terkait Rabies Center, Instalasi Gawat Darurat