Inherent moisture disebut juga bed moisture atau in-situ
moistureadalah moisture yang terkandung dalam batubara (dalam molekul
batubara) di lapisan bawah tanah.
Untuk mensimulasi kondisi bawah tanah, yang mempunyai kelembaban relatif
100%, sulit untuk dilakukan, sehingga untuk mengetahui kandungan inherent
moisture yang tepat sulit dilakukan. Sebagai pendekatan dibuatlah suatu tes
dengan kondisi simulasi yang dapat dilakukan di laboratorium. Kondisi tersebut
yaitu kelembaban relatif 96-97% dan suhu 30oC.
Oleh karena adanya perbedaan kondisi tersebut, maka perbedaan antara hasil
analisis dengan inherent moisture yang sebenarnya selalu ada, terutama
pada lower rank coal (batubara derajat rendah)yang kandungan moisturenya
tinggi.
Moisture holding capacity (ISO, BS dan AS) atau equilibrium moisture (ASTM)
adalah analisis untuk menentukan kandungan moisture tersebut. Hasil
pemeriksaan analisis ini, dari laboratorium ke laboratorium diharapkan konstan,
karena contoh sebelum dianalisis dikondisikan terhadap kondisi
standar (suhu 30oC;kelembaban 96-97%). Kondisi contoh
yang dianalisis sangat menentukan hasil analisis, oleh karena itu contoh harus
sesegar mungkin (tidak boleh teroksidasi).
Antara metode standar ASTM dengan metode standar lainnya (ISO, BS, dan
AS) ada perbedaan pada ukuran partikel contoh yang dipergunakan untuk
analisis. ASTM menggunakan partikel berukuran 1.18mm, sedangkan metode
standar lainnya menggunakan partikel berukuran -0.212mm.
Pada dasarnya air yang terdapat di dalam batubara maupun yang terurai dari batubara apabila
dipanaskan sampai kondisi tertentu, terbagi dalam bentuk-bentuk yang menggambarkan ikatan
serta asal mula air tersebut di dalam batubara.
Ada dua bentuk/wujud moisture pada batubara yakni air yang terdapat di dalam batubara dalam
bentuk H2O dan air hasil penguraian zat organik yang ada dalam batubara karena adanya
oksidasi terhadap batubara tersebut.
Air yang terdapat dalam batubara dalam bentuk H2O dibagi dalam 3 bentuk yakni.
1. Inherent moisture ialah air yang secara fisik terikat di dalam rongga-rongga kapiler serta pori2
batubara yang relatif kecil, serta mempunyai tekan uap air yang lebih kecil jika dibandingkan
dengan tekanan uap air yang terdapat pada permukaan batubara.
2. Adherent moisture ialah air yang terdapat permukaan batubaraatau di dalam pori2 batubara
yang relatif besar. Air dalam bentuk ini mudah menguap pada suhu ruangan.
3. Air kristal ialah air yang terikat secara kimia pada mineral-mineral dalam batubara. Bentuk ini
menguap pada suhu yang cukup tinggi, tergantung dari jenis mineral yang mengikatnya,
penguapan pada umumnya mulai terjadi pada suhu diatas 450 derajat celcius. Beberapa badan
standarisasi international membuat metode untuk penetapan air kristal ini, namun jarang orang
mempergunakannya, amerika menetapkan bahwa air kristal yang terdapat di dalam batubara
ialah 8% dari kadar abu batubara, sedangkan negara-negara eropa menetapkan sebesar 9% dari
kadar abu batubara.
PENGERTIAN MOISTURE PADA BATUBARA
Moisture pada batubara bukanlah seluruh air yang terdapat dalam pori-pori batubara baik besar
maupun kecil dan yang terbentuk dari penguraian batubara selama pemanasan.
Moisture batubara ialah air yang menguap dari batubara apabila dipanaskan sampai pada suhu
105 110 derajat celcius.
Berdasarkan pengertian diatas, serta melihat kembali kepada bentuk2 air yang terdapat di dalam
batubara, maka hanya air dalam bentuk inherent dan bentuk adherent sajalah yang dapat
dikategorikan sebagai moisture batubara, sedangkan 2 bentuk lainnya, yaitu air kristal mineral
dan air hasil penguaraian zat organik karena oksidasi, tidak termasuk sebagai air batubara.
ISTILAH YANG DIPAKAI
Berdasarkan bentuk-bentuk air yang dianggap sebagai air batubara, kemudian muncullah
bermacam istilah yang dipergunakan, istilah-istilah tersebut antara lain :
Kondisi 1 : Inherent moisture (moisture holding capacity : bed moisture, equilibrium moisture)
dan Adherent moisture (surface moisture, free moisture).
Kondisi 2 : Total moisture terdiri dari 2 yakni Free moisture (air dry loss, extraneous moisture)
dan Residual moisture.
Kondisi 3 : Free moisture dan moisture (air dried moisture, moisture in the analysis sample)
selain istilah-istilah tersebut masih banyak istilah lainnya yang dipergunakan orang, seperti
natural moisture, internal moisture, critical moisture, chemically combined moisture, as received
moisture dan lain sebagainya.
PEMBAHASAN ISTILAH
Kondisi 1
1. Inherent moisture
Inherent moisture ialah moisture yang dianggap terdapat di dalam rongga-rongga kapiler dan
pori-pori batubara yang relatif kecil, pada kedalaman aslinya yang secara teori dinyatakan bahwa
kondisi tersebut ialah kondisi dengan tingkat kelembapan 100% serta suhu 30 derajat celcius.
Karena sulitnya mengsimulasi kondisi batubara di kedalaman aslinya, maka badan-badan
standarisasi menetapkan kondisi pendekatan untuk dipergunakan pada metode standar pengujian
di laboratorium.
Standar internasional, British, Australia dan Amerika menetapkan bahwa kondisi pendekatan
tersebut ialah kondisi dengan tingkat kelembapan 96 97 % dengan suhu 30 derajat celcius.
sedangkan standar jepang menetapkan kondisi tersebut pada tingkat kelembapan 67 % dengan
suhu 30 derajat celcius. sehingga hasil yang diperoleh dengan standar jepang selalu lebih kecil
dibandingkan dengan hasil yang didapat dengan standar lainnya.
Banyaknya jumlah inherent moisture dalam suatu batubara dapat dipergunakan sebagai tolok
ukur tinggi rendahnya tingkat rank batubara tersebut. Semakin tinggi nilai inherent moisture
suatu batubara, semakin rendah tingkat rank batubara tersebut.
Bed moisture ialah istilah lain inherent moisture yang banyak dipakai, sedangkan moisture
holding capacity (MHC) ialah istilah yang dipakai oleh international standard (ISO), British
Standard (BS) dan Australia Standard (AS), sedangkan American Standard (ASTM)
mempergunakan istilah Equipment moisture, Moisture Holding Capacity dan equilibrium
moisture ialah istilah yang dipergunakan untuk nama pengujian.
2. Adherent moisture
Adherent moisture ialah moisture yang dianggap terdapat pada permukaan batubara dan pori-
pori batubara yang relatif besar.
Surface moisture ialah istilah yang dipergunakan oleh international standard (ISO),BS,AS
sedangkan ASTM mempergunakan istilah free moisture.
Nilai adherent moisture diperoleh dari pengurangan nilai total moisture oleh nilai inherent
moisture (Adherent moisture = total moisture inherent moisture).
Keberadaan adherent moisture pada batubara dimungkinkan terjadi dalam beberapa situasi,
antara lain :
Bercampurnya air tanah dengan batubara pada waktu penambangan maupun pada kondisi
asalnya di dalam tanah.
Taburan air hujan pada tumpukan batubara
sisa-sisa air yang tertinggal pada permukaan batubara setelah proses pencucian.
Air yang disemprotkan untuk mengurangi debu pada tumpukan batubara.
Keberadaan adherent moisture ini dapat dikurangi jumlahnya dengan proses penirisan (drainage),
centrifuge, pengeringan di udara terbuka, pengeringan dengan pemanasan.
Oleh karena sebagian besar moisture ini terdapat pada permukaan batubara, maka semakin luas
permukaan suatu batubara, semakin besar pula jumlah surface moisture-nya, ini berarti bahwa
semakin halus suatu batubara, semakin besar pula surface moisture-nya.
Pada batubara yang halus, keberadaan surface moisture-nya sangat kuat, karena adanya ikatan
antara moisture pada permukaan partikel-partikelnya, yang disebut dengan bridging sehingga
sulit sekali untuk dikurangi, dan apabila mencapai jumlah yang cukup besar terlebih lagi kalau
mengandung mineral cukup besar pula, maka akan menimbulkan masalah yang serius pada
penanganan batubara tersebut (coal handling), oleh karena itulah pada waktu pembelian batubara
selalu diperiksa jumlah partikel halusnya.
Kondisi 2
[Link] Moisture ialah seluruh jumlah air yang terdapat pada batubara dalam bentuk inherent dan
adherent pada kondisi saat batubara tersebut diambil contohnya (as sampled) atau pada pada
kondisi saat batubara tersebut diterima (as received).
Nilai total moisture diperoleh dari hasil perhitungan niali free moisture dengan nilai residual
moisture dengan rumus.
% TM = % FM + % RM x (1 % FM/100)
Nilai-nilai free moisture dan residual moisture diperoleh dari hasil analisis penetapan total
moisture metode dua tahap (two state determination).
a. Free Moisture (FM) ialah jumlah air yang menguap apabila contoh batubara yang baru
diterima atau yang baru diambil, dikeringkan dalam ruangan terbuka pada kondisi tertentu
sampai didapat berat konstannya.
Berat konstan ialah berat penimbangan terakhir apabila pada dua penimbangan terakhir dicapai
perbedaan berat < 0,1%/jam.
Free moisture istilah yang dipakai ISO, BS dan AS sedangkan ASTM mempergunakan istilah air
dry loss (ADL) . Pada ASTM dikenal juga istilah free moisture akan tetapi istilah tersebut
mempunyai pengertian yang berbeda dengan istilah free moisture yang dipergunakan oleh ISO,
BS, AS.
b. Residual Moisture ialah jumlah air yang menguap dari contoh batubara yang sudah kering
(setelah free moisturenya menguap) apabila dipanaskan kembali pada suhu 105 110 derajat
celcius, proses pengerjaan untuk mendapatkan nilai residual moisture merupakan tahap kedua
dari penetapan total moisture (metode dua tahap).
Kondisi 3
1. Free Moisture (informatif) ialah istilah yang dipergunakan untuk mengambarkan persen
jumlah air yang menguap dari contoh batubara yang dikeringkan pada kondisi ruangan (suhu dan
kelembapan ruangan) yang kadang2 dibantu dengan hembusan kipas angin. Pengeringan tidak
perlu dilakukan sampai dicapai berat konstan. Pengeringan justru harus mengikuti ketentuan
yang ditetapkan oleh metode standar. Hal ini dilakukan agar pengeringan tidak terlalu berlebihan
karena akan terjadi oksidasi terhadap batubara tersebut sehingga mengurangi nilai calorific
value.
Air dry loss ialah istilah yang dipergunakan dalam ASTM . Nilai free moisture ini sifatnya hanya
informatif dan nilainya dari satu laboratorium ke laboratorium lainnya tidak selalu harus sama.
2. Air dried moisture, ISO, BS dan AS mempergunakan ukuran partikel -212 um, sedangkan
ASTM mempergunakan partkel ukuran -250 um. Air dried moisture ialah air yang menguap dari
contoh yang halus apabila dipanaskan pada suhu 105 110 derajat celcius dan penetapannya
merupakan bagian dari analisis proximate, istilah lain yang banyak dipergunakan ialah moisture
in the analysis sample atau moisture saja. Nilai moisture ini hanya dipergunakan untuk
menghitung hasil-hasil analisis lainnya, yang ada hubungannya dengan moisture ke dalam basis
yang diinginkan. Hal ini perlu dilakukan apabila kita akan memperbandingkan dua hasil analisis
dari contoh yang sama atau diperlukan juga untuk pengklasifikasian batubara tersebut.
Pengeringan Batubara
Salah satu metode yang digunakan dalam peningkatan kualitas (upgrading) dari batubara adalah dengan
menggunakan metode pengeringan. Pengeringan batubara (coal drying) bertujuan untuk menghilangkan atau
menurunkan kadar air yang terkandung pada batubara, sehingga dengan berkurangnya moisture content ini mampu
meningkatkan nilai kalor dari batubara. Penggunaan batubara yang telah dikeringkan juga dapat meningkatkan
efisiensi proses operasi, menurunkan biaya perawatan utilitas peralatan, serta mengurangi resiko terjadinya bahaya
kebakaran spontan.
Secara konvensional pengeringan batubara dilakukan dengan cara memanaskan batubara atau mengkontakkan
media kering yang telah dipanaskan dengan batubara sehingga mampu menguapkan kandungan air yang terdapat
dalam batubara. Namun kekurangan dari pengeringan konvensional ini adalah adanya kandungan oksigen dalam
ruang pengeringan atau pada media kering yang dikontakkan dengan batubara. Kehadiran oksigen mampu
mengakibatkan terjadinya nyala api (self ignition) apabila pengeringan dilakukan pada suhu yang tinggi. Self
ignition ini mengakibatkan batubara terbakar atau teroksidasi, mengurangi kandungan volatile content serta karbon
pada batubara sehingga dapat menurunkan nilai kalor dari batubara. Maka dari itu perlu adanya pertimbangan lebih
lanjut dalam pemilihan metode pengeringan batubara agar mampu menurunkan kadar air batubara secara maksimal
tanpa mengurangi nilai kalor pada batubara. Beberapa metode yang dikembangkan saat ini salah satunya adalah
dengan menggunakan gas Nitrogen sebagai media pengering.