BLOK ILMU KEDOKTERAN TROPIS
REFERAT
PES
Kelompok 4
Fatma Nashriati 1413010036
Andika Nurwijaya 1413010039
Pembimbing :
dr. Maria Ulfa
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2017
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ............................................................................................................ i
Kata Pengantar ....................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................. 1
B. Tujuan .......................................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 4
A. Definisi ......................................................................................................... 4
B. Epidemiologi ................................................................................................ 4
C. Etiologi ......................................................................................................... 5
D. Patofisiologi ................................................................................................. 6
E. Klasifikasi .................................................................................................. 10
F. Tatalaksana................................................................................................. 11
G. Pencegahan ................................................................................................. 12
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 16
A. Kesimpulan ................................................................................................ 16
B. Saran ........................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 18
ii
Kata Pengantar
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ilmiah tentang penyakit pes.
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah
ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang penyakit pes
dapat memberikan ilmu dan manfaat terhadap pembaca.
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit pes merupakan penyakit yang menular dan dapat
mengakibatkan kematian. Tikus merupakan reservoir dan pinjal merupakan
vector penularnya, sehingga penularan ke manusia dapat terjadi melalui gigitan
pinjal atau kontak langsung dengan tikus yang terinfeksi bakteri Yersinia pestis
(Jawetz dkk, 2005:409).
Pemerintah Indonesia maupun dunia sudah menetapkan penyakit pes
menjadi salah satu penyakit karatina dan tercatat dalam Internasional Health
Regulation. Penyakit ini juga termasuk dalam Public Health Emergency of
International Concern (PHEIC) atau Kedaruratan Kesehatan yang
Meresahkan Dunia. Public Health Emergency of International Concern
(PHEIC) adalah KLB yang dapat merupakan ancaman kesehatan bagi negara
lain dan kemungkinan membutuhkan koordinasi internasional dalam
penanggulangannya (Sub Direktorat Zoonosis, 2008).
Indikator Kejadian Luar Biasa (KLB) pes yaitu apabila terjadi
peningkatan empat kali lipat pemerikasaan spesimen secara serokonversi,
Flea Indek (FI) umum lebih besar atau sama dengan 2 dan Flea Indek (FI)
khusus lebih besar atau sama dengan 1, ditemukan bakteri Yersenia pestis
dari pinjal, tikus, tanah, sarang tikus, bahan organik lain, dan manusia hidup
maupun mati. Untuk mengendalikan KLB pes ini, maka perlu dilakukan
survailens pada daerah epizootic pes (Sub Direktorat Zoonosis, 2008).
1
Kegiatan survailens merupakan salah satu program pemberantasan
penyakit pes yang dapat dilakukan yaitu surveilans terhadap tikus dan pinjal.
Kegiatan surveilans terhadap tikus dan pinjal meliputi :
1. Daerah fokus, merupakan daerah yang diamati sepanjang tahun yaitu
satu bulan sekali selama lima hari berturut-turut.
2. Daerah terancam, merupakan daerah yang diamati secara periodik,
yaitu empat kali dalam satu tahun dengan kurun waktu tiga bulan
sekali selama lima hari berturut-turut
3. Daerah bekas fokus, merupakan daerah yang diamati selama satu
tahun sekali atau dua tahun sekali selama lima hari berturut-turut (Sub
Direktorat Zoonosis, 2008:8)
Kegiatan surveilans pada daerah epizootic pes bertujuan untuk
mengendalikan penyakit pes, yaitu untuk mempertahankan kasusnya agar
selalu nol, mencegah penularan dari daerah fokus ke daerah sekitar,
memantau agar tidak terjadi relaps, dan mencegah masuknya pes dari luar
negeri (Sub Direktorat Zoonosis, 2008:9).
Di Indonesia sendiri terdapat empat propinsi yang menjadi daerah
pengawasan pes, yaitu di Ciwidey Kabupaten Bandung (Jawa Barat),
Cangkringan Kabupaten Sleman (Yogyakarta), di Kecamatan Tutur, Tosari,
Puspo, dan Pasrepan Kabupaten Pasuruan (Jawa Timur), dan di Kabupaten
Boyolali di Kecamatan Selo dan Cepogo, (Jawa Tengah) (Sub Direktorat
Zoonosis, 2008). Kecamatan Cepogo adalah salah satu daerah pengamatan
pes yang jumlah tangkapan tikusnya masih sedikit. Jumlah tikus dan pinjal
2
yang didapat pada tahun 2012 di Kecamatan Cepogo pada bulan maret
sebanyak 17 tikus dengan 51 pinjal, pada bulan april sebanyak 40 tikus
dengan 79 pinjal, dan pada bulan juni tertangkap 20 tikus dengan 57 pinjal
(Dinkes Boyolali, 2009).
Sedikitnya jumlah tikus yang didapat dengan jumlah pinjal yang
banyak menjadikan kewaspadaan terulangnya Kejadian Luar Biasa (KLB),
maka perlu dilakukan pengendalian agar angka kejadian pes selalu nol dan
tidak terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) pes. Pencegahan KLB pes dilakukan
dengan memasang live trap setiap lima hari berturut-turut dalam satu bulan
sesuai ketentuan pedoman penanggulangan pes pada daerah fokus. Dalam
survailens ini partisipasi warga sangat dibutuhkan, dengan partisipasi ini
masyarakat diharapkan mampu berperan aktif dalam kegiatan survailens.
B. Tujuan
1. Mengetahui terjadinya penularan penyakit pes terutama di Indonesia.
2. Mengetahui etiologi dan patofisiologi terjadinya penyakit pes.
3. Mampu menatalaksana penyakit pes.
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Penyakit Pes atau disebut juga Plague atau Black Death adalah suatu
infeksi berat yang disebabkan oleh bakteri Yersinia Pestis. Bakteri ini
menginfeksi hewan pengerat seperti tikus. Bakteri ini disebarkan oleh kutu
tikus atau pinjal yang disebut Xenopsilla Cheopis. Penyakit pes ditularkan ke
manusia oleh gigitan kutu tikus yang terinfeksi. Tingkat kematian penyakit pes
sebanyak 50-60 % jika tidak diobati(Africa, 2014). Gejala awal penyakit pes
yaitu demam, menggigil, nyeri otot, mual, sakit tenggorokan, sakit kepala serta
limfadenitis (Sucipto, 2011).
Tikus merupakan bintang yang termasuk jenis rodent. Rodent adalah
sekelompok hewan mengerat yang mempunyai peranan penting sebagai
sumber, reservoir dan penular dalam penyebaran penyakit menular pada
manusia maupun hewan-hewan domestik. Pengendalian rodent diperkirakan
dapat menurunkan kejadian penyakit infeksi yang ditularkan oleh rodent
(Santoso, 2009). Tikus merupakan reservoir dan pinjal merupakan vector
penularnya, sehingga penularan ke manusia dapat terjadi melalui gigitan pinjal
atau kontak langsung dengan tikus yang terinfeksi bakteri Yersinia pestis
(Jawetz, 2005)
B. Epidemiologi
Penyakit pes terjadi antara tahun 2010 dan 2015, terdapat 39 kasus pes
pada manusia dilaporkan terjadi di Amerika Serikat serta mengakibatkan 5
4
kematian. Setengah dari kasus pes pada manusia melibatkan individu berusia
12-45 tahun, meskipun pes dapat mempengaruhi seseorang dari segala umur.
Pria memiliki resiko yang lebih tinggi terkena pes dibanding perempuan.
Keadaan ini di sebabkan karena aktivitas pria lebih banyak diluar dan beresiko
terpapar vektor penyakit pes. Di Indonesia sendiri terdapat empat propinsi yang
menjadi daerah pengawasan pes, yaitu di Ciwidey Kabupaten Bandung (Jawa
Barat), Cangkringan Kabupaten Sleman (Yogyakarta), di Kecamatan Tutur,
Tosari, Puspo, dan Pasrepan Kabupaten Pasuruan (Jawa Timur), dan di
Kabupaten Boyolali di Kecamatan Selo dan Cepogo, (Jawa Tengah)
(Rahmawati, 2012)
C. Etiologi
Pes disebabkan oleh bakteri genus Yersinia serta mencakup 15
spesies dengan tiga patogen pada manusia yaitu yersinia pestis, yersinia
enterocolitica, dan yersinia pseudotuberculosis. Bakteri tersebut umumnya
diisolasi dari hewan pengerat dan kutu parasit. Bakteri pes adalah
mikroorganisme gram-negatif, berbentuk batang atau coccobaccilus, non spora
dan immobile, fermentasi non laktosa, urease dan indol negatif, dan termasuk
dalam kelas Gammaproteobacteria dan famili Enteroacteriaceae. Suhu
optimum untuk pertumbuhan bakteri pes lebih dari 48 jam di MacConkey atau
agar darah adalah 28 C (Santana et al., 2016). Toksonomi spesies yersinia
yaitu :
5
Kingdom : Eubacteria
Filum : Proteobacteria
Kelas : Gammaproteobacteria
Ordo : Enterobacteriales
Famili : Enterobacteriaceae
Genus : Yersinia
Spesies : pestis, enterocolitica, pseudotuberculosis, frederiksenii,
kristensenii, ruckeri, mollaretii, bercovieri, rohdei, aldovae,
intermedia(Wildlife, n.d, 2012)
Gambar 2.1. Bakteri yersinia enterocolitica (CDC, 2016)
D. Patofisiologi
Yersinia pestis ditransmisikan melalui pinjal yang terinfeksi. Manusia
yang terkena pes mampu menularkan secara langsung ke manusia yang lain.
Bila di suatu daerah akan terjadi wabah pes, biasanya didahului oleh wabah
pada binatang (epizootie) yaitu pada tikus. Yersinia pestis menggunakan tubuh
pinjal sebagai hospes. Tikus terinfeksi oleh Y. pestis melalui gigitan pinjal
(Xenopsylla cheopis). Sebelum kondisi tubuh tikus menjadi parah, tikus masih
dapat berinteraksi dengan tikus-tikus lain, sehingga memungkinkan terjadi
penularan antar tikus. Akibat kejadian penularan antar tikus, maka pada waktu
6
yang bersamaan akan muncul banyak sekali tikus yang menderita pes
(epizootie). Kondisi tikus yang terinfeksi Y. Pestis menjadi lebih parah maka
tikus-tikus ini akan mencari tempat sunyi dan biasanya mendekati lingkungan
manusia dengan masuk ke rumah-rumah. Bila tikus mati, pinjal akan kelaparan
dan keluar dari tubuh tikus. Pinjal yang lapar akan menjadi sangat agresif
untuk mendapatkan pakan berupa darah, sehingga akan menyerang apa saja
yang ditemui terutama darah manusia.
Xenopsylla cheopis
Manusia setelah kontak langsung dan terinfeksi tikus pembawa
penyakit pes, maka akan nampak gejala sakit setelah 2-6 hari sesuai masa
inkubasi bakteri untuk berkembangbiak dalam tubuh manusia. Penyakit pes
jenis baru mempunyai masa inkubasi yang lebih cepat sekitar 2-4 hari saja.
1. Masa Pra Kesakitan Sebelum Manusia Sakit ( pre patogenesis )
Pada tahap ini agen penyakitnya yersinia pestis, sedangkan inang
atau penjamu (host) adalah manusia. Tahap ini telah terjadi
interaksi antara penjamu (manusia) dengan agen atau bibit penyakit
(bakteri yersinia pestis), tetapi interaksi ini terjadi di luar tubuh
manusia, dalam arti bibit penyakit berada di luar tubuh manusia
7
dan belum masuk ke dalam tubuh setelah berinteraksi dengan
hewan yang terjangkit (interaksi penyebab, penjamu dan
lingkungan terhadap stimulus).
2. Masa Kesakitan ( Patogenesis )
a. Masa inkubasi penyakit pes berkisar 1-3 sampai 6 hari dimulai
dari kontak dengan bibit penyakit sehingga dapat terjadi proses
penularan dalam masa ini.
b. Kesakitan Dini timbul papula (benjolan kecil pada kulit, Pustula
(benjolan permukaan kulit bernanah), Karbunkel (bisul, bisul
besar, radan pd folikel rambut & sekitarnya mjd satu/ tdk
menunjukkan reaksi jar setempat), Penyebaran daerah kulit
menjadi petekie (bintik merak akibat perdarahan intra dermel/
submukosa, vaskulitis (radang pembuluh darah) & perdarahan
krn trombositopenia (jml trombosit < normal)
c. Kesakitan Dini Yang Mulai Nampak
Berdasar Aspek klinis, dibedakan beberapa type :
1) Type bubonik terdapat panas (> 41), bubo (pembesaran,
radang suparatif kelenjar limfe) daerah inguinal (lipat paha)/
femoral (kaitan femur)/ aksila (ketiak)/servical (leher) serta
takikardi (denyut jantung cepat > 100/mnt
8
2) Type pneumonik (Radang Paru) terdapat lemah Badan, sakit
Kepala
a) Vomitus (muntah)
3) Type Septikemik
a) Pucat
b) Lemah
d. Kesakitan Lanjut
1) Type 1. Bubonik
a) Konvulsi ( kejang)sampai koma
b) Konstipasi/ diare
c) Koaglasi (proses pembekuan)intra vascular
2) Type 2. Pneumonik
a) Febris (demam) & frustasi
b) Batuk, Sesak nafas
c) Muntah desertai sputum produktif & cair
d) Ganguan Kesadaran
3) Type 3. Septikemik
a) Delirium (keadaan eksitasi mental & motoris pada
kesadaran menurun) atau stupor (kesadaran menurun)
sampai koma.
b) Gejala febris (demam)
c) Kenaikan suhu badan terjadi ringan
3. Tahap Akhir Penyakit Pes Pada Manusia
9
a. Type 1. Bubonik
1) Kegagalan faal jantung
2) Kematian
b. Type 2. Peneumonik : Meninggal pada hari ke 4 dan 5
c. Type 3. Septikemik : meninggal hari pertama
Jika kita melihat secara umum dari penyakit pes ini jika telah terinfeksi
namun tidak secepatnya dilakukan pengobatan maka akibatnya akan fatal /
berakhir dengan kematian. Kematian ini dapat terjadi pada saat gejala klinik
tidak jelas, klinik berat + komplikasi. Penyakit ini dapat sembuh jika ditangani
sejak dini baik mulai dari gejala klinik tampak atau tidak tampak, dengan
pemakaian obat yang teraturseperti pemberian Streptomycyn dosis tinggi
terbukti lebih efektif mengobati plague. Penicilin tidak efektif untuk penyakit
plague. Diazepam diberikan untuk mengurangi rasa lelah. Heparin biasanya
diberikan apabila terdapat gejala pembekuan [Link] didiagnosa
sembuh namun, tidak menutup kemungkinam orang tadi menjadi carier yang
dapat menularkan kepada orang lain.
E. Klasifikasi
1. Bubonic plague: Masa inkubasi 2-7 hari. Gejalanya kelenjar getah bening
yang dekat dengan tempat gigitan binatang/kutu yang terinfeksi akan
membengkak berisi cairan (disebut Bubo). Terasa sakit apabila ditekan.
Pembengkakan akan terjadi. Gejalanya mirip flu, demam, pusing,
menggigil, lemah, benjolan lunak berisi cairan di tonsil/adenoid (amandel),
limpa dan thymus. Bubonic plague jarang menular pada orang lain
10
2. Septicemic plague: Gejalanya demam, menggigil, pusing, lemah, sakit pada
perut, shock, pendarahan di bawah kulit atau organ2 tubuh lainnya,
pembekuan darah pada saluran darah, tekanan darah rendah, mual, muntah,
organ tubuh tidak bekerja dg baik. Tidak terdapat benjolan pada penderita.
Septicemic plague jarang menular pada orang lain. Septicemic plague dapat
juga disebabkan Bubonic plague dan Pneumonic plague yang tidak diobati
dengan benar.
3. Pneumonic plague: Masa inkubasi 1-3 hari. Gejalanya pneumonia (radang
paru-paru), napas pendek, sesak napas, batuk, sakit pada dada. Ini adalah
penyakit plague yang paling berbahaya dibandingkan jenis lainnya.
Pneumonic plague menular lewat udara, bisa juga merupakan infeksi
sekunder akibat Bubonic plague dan Septicemic plague yang tidak diobati
dengan benar(Santana et al., 2016)
F. Tatalaksana
Pengobatan pes diberikan streptomisin dosis 15 mg / kg (dosis
maksimum satu gram), pada interval 12 jam, dengan rute intramuskular (IM)
selama 10 hari. Alternatif lain - bila streptomisin tidak tersedia menggunakan
gentamisin, dengan dosis 5 mg / kg / hari, atau 2 mg / kg sebagai dosis awal
yang diikuti 1,7 mg / kg setiap 8 jam, dengan rute IM atau intravena (IV) ,
selama 10 hari. Analisis retrospektif terhadap 50 kasus wabah yang
didiagnosis di New Mexico (AS), antara tahun 1985 dan 1999, menunjukkan
bahwa gentamisin yang diberikan sendiri atau dikombinasikan dengan
doksisiklin setidaknya sama efektifnya dengan streptomisin. Ke 36 pasien yang
11
diobati dengan gentamisin bertahan tanpa komplikasi . Uji coba klinis acak
terhadap 65 pasien dengan wabah, yang dilakukan di Tanzania, menunjukkan
bahwa 94% subyek yang diobati dengan gentamisin memiliki tingkat
tanggapan klinis yang tinggi dan tingkat efek samping yang rendah yang
rendah. Gentamycin umumnya dianggap lebih aman untuk diberikan pada
wanita hamil dan anak-anak, dibandingkan dengan streptomisin(Santana et al.,
2016)
G. Pencegahan
Pencegahan penyakit pes yaitu :
1. Health promotion(Upaya promosi Kesehatan)
a. Menghindari kemunculan dari/ adanya faktor resiko masa pra kesakitan.
b. Penyuluan penduduk untuk meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan
lingkungan
c. Perbaikan rumah penduduk supaya tidak mudah menjadi sarang
tikusPengendlian terhadap tikus dan pinjal
2. Pengendalian terhadap tikus
a. mengatur waktu tanam
b. perbaikan sanitasi lingkungan
c. menggunakan rodentisida
d. alat perekat
e. Insektisida
3. Pengendalian terhadap pejamu
12
a. Meningkatkan kekebalan.
b. Hygene individu
c. Gizi
4. Pengendalian terhadap lingkungan
a. Perbaikan sanitasi lingkungan
b. bersihkan semak semak
c. perbaiki bangunan rumah sehingga tidak menjadi sarang tikus
5. Specific protection(Upaya proteksi Kesehatan )
Upaya Proteksi Kesehatan Bertujuan untuk mengurangi / menurunkan
pengaruh penyebab serendah mungkin misalnya : Vaksinasi penduduk
daerah endemik, petugas laboratorium dan perawat kesehatan dan
Pengendalian sumber-sumber pencemaran, Sanitasi Lingkungandan hygene
perorangan, diberikan pengobatan pada petugas kesehatan untuk mencegah
adanya penularan.
a. Early diagnosis and promt treatment(Upaya diagnosis dini &
tindakan segera)
1) Ditujukan pada penderita/ dianggap menderia (suspect)/ terancam
akan menderita
2) Penemuan Kasus segera lapor kepada Dinas Kesehatan setempat
dalam waktu 24 jam sejak diketahui
3) Mencari semua orang yang telah berhubungan dengan penderita
penyakit menular (contact person) untuk diawasi agar bila
penyakitnya timbul dapat segera diberikan pengobatan.
13
4) Meningkatkan keteraturan pengobatan terhadap penderita.
5) Pemberian pengobatan yang tepat pada setiap permulaan kasus
b. Disability limitation(Upaya pemberantasan akibat buruk)
Mencegah meluasnya penyakit/ timbulnya wabah & proses penyakit
lebih lanjut.
1) Isolasi bagi yang diduga terbukti menderita sampai yang
bersangkutan dinyatakan sembuh/ Isolasi setelah 2 4 hari
mendapat antibiotika
2) Pengobatan dengan antibiotik
3) Streptomisin 30 mg/ kg BB/ hari secara intramuscular 2 4 x
[Link] anakanak 20 30 mg/ kg BB / hari
4) Tetrasiklin diberikan pada hari ke 4 selama 10 14 hari, Dosis
loading 15 mg/ kg BB/ hari dlm 4 x pemberian sampai hari
pengobatan 10 14
5) Kloramfenikol dosis 50 75 mg/ kg BB/hari intravena 4 x
pemberian selama 10 hari
6) Trimetoprim sulfametoksazol
7) Sulfadiazin 12 g/ hari selama 4 7 hari dosis awal 4 gdilanjutkan 2
g tiap jam sampai tercapai suhu badan normal, diteruskan 500 mg
tiap 4 jam sampaihari 710.
8) Penggunaan Sulfadiazuin disertai pemberian Sodium Bikarbonat
c. Rehabilitation(Upaya pemulihan Kesehatan) / (rehabilitasi)
14
Usaha untuk mencegah terjadinya akibat samping daripenyembuhan
penyakit & pengembalian fungsi fisik, psikologik dan sosial.
1) Pemberian makanan yang cukup gizi
2) Sesuai dengan Type (Depkes, 2008)
15
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pes merupakan golongan zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Yersinia
pestis (Y. pestis) dan ditularkan oleh kutu tikus (flea), Xenopsylla cheopis.
Bakteri yersinia pestis berbentuk batang pendek, gemuk dengan ujung
membulat dengan badan mencembung, berukuran 1,5 5,7 dan
bersifat Gram positif. Pes dapat menginfeksi tikus maupun manusia. Pes di
golongkan menjadi 3 yaitu bubonic plague, septisemic plague dan
peneumonic plague. Perjalanan penyakit pes diawali masa prepatogenesis
yaitu saat host dan agen berinteraksi namun agen masih diluar host,
kemudian masuk ke masa patogenesis yaitu masa inkubasi selama 1-3 hari
dilanjutkan masa kesakitan dini, kemudian masa kesakitan lanjut dan tahap
akhir patogenesis pes. Penyakit pes dapat diobati menggunakan antibiotik
streptomisin. Pencegahan penyakit pes dapat dilakukan dengan melakukan
promosi kesehatan terhadap masyarakat untuk meningkatkan kebersihan
lingkungan, melakukan upaya promosi kesehatan dengan melakukan
vaksinasi, melakukan diagnosis dini dan upaya pemberantasan akibat
buruk serta rehabilitasi kesehatan dengan meningkatan imunitas tubuh
host.
B. Saran
Sebaiknya makalah ini disusun secara sistematis dan menyeluruh
mengenai penyakit pes.
16
17
DAFTAR PUSTAKA
Africa, D. of H. of S. (2014) National plague control guidelines for South Africa.
132.
Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali,. (2012). Laporan Kasus Pencegahan
Penyakit Bersumber Dari Binatang, Boyolali: DKK
Jawetz, Melnick, dan Adelberg`s. (2005). Mikrobiologi Kedokteran, Jakarta:
Salemba Medika
Rahmawati, E. . (2012) Jurnal Kesehatan Masyarakat. 8 (1), 9498.
Santana, L.A., Santos, S.S., Luiz, J., Gazineo, D., et al. (2016) Sci Forschen
Plague: A New Old Disease. 17.
Sub Direktorat Zoonosis. (2008). Pedoman Penanggulangan Pes Di Indonesia,
Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Abbott, R.C., and Rocke, T.E., 2012, Plague: U.S. Geological Survey Circular
1372, 79 p., plus appendix. (Also available at
[Link]
18