0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
40 tayangan21 halaman

Penyakit Pes: Epidemiologi dan Penanganan

Makalah ini membahas tentang penyakit pes (plague) yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang menginfeksi tikus dan disebarkan oleh kutu tikus. Penyakit ini dapat menular ke manusia melalui gigitan kutu tikus atau kontak langsung dengan tikus terinfeksi dan gejalanya berupa demam, menggigil, dan nyeri otot. Di Indonesia, empat propinsi yakni Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan

Diunggah oleh

Andika Nurwijaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
40 tayangan21 halaman

Penyakit Pes: Epidemiologi dan Penanganan

Makalah ini membahas tentang penyakit pes (plague) yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang menginfeksi tikus dan disebarkan oleh kutu tikus. Penyakit ini dapat menular ke manusia melalui gigitan kutu tikus atau kontak langsung dengan tikus terinfeksi dan gejalanya berupa demam, menggigil, dan nyeri otot. Di Indonesia, empat propinsi yakni Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan

Diunggah oleh

Andika Nurwijaya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BLOK ILMU KEDOKTERAN TROPIS

REFERAT

PES

Kelompok 4
Fatma Nashriati 1413010036
Andika Nurwijaya 1413010039

Pembimbing :

dr. Maria Ulfa

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2017
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ............................................................................................................ i


Kata Pengantar ....................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................. 1
B. Tujuan .......................................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................. 4
A. Definisi ......................................................................................................... 4
B. Epidemiologi ................................................................................................ 4
C. Etiologi ......................................................................................................... 5
D. Patofisiologi ................................................................................................. 6
E. Klasifikasi .................................................................................................. 10
F. Tatalaksana................................................................................................. 11
G. Pencegahan ................................................................................................. 12
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 16
A. Kesimpulan ................................................................................................ 16
B. Saran ........................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 18

ii
Kata Pengantar

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha

Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah

melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat

menyelesaikan makalah ilmiah tentang penyakit pes.

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan

bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah

ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang

telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada

kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena

itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca

agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang penyakit pes

dapat memberikan ilmu dan manfaat terhadap pembaca.

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Penyakit pes merupakan penyakit yang menular dan dapat

mengakibatkan kematian. Tikus merupakan reservoir dan pinjal merupakan

vector penularnya, sehingga penularan ke manusia dapat terjadi melalui gigitan

pinjal atau kontak langsung dengan tikus yang terinfeksi bakteri Yersinia pestis

(Jawetz dkk, 2005:409).

Pemerintah Indonesia maupun dunia sudah menetapkan penyakit pes

menjadi salah satu penyakit karatina dan tercatat dalam Internasional Health

Regulation. Penyakit ini juga termasuk dalam Public Health Emergency of

International Concern (PHEIC) atau Kedaruratan Kesehatan yang

Meresahkan Dunia. Public Health Emergency of International Concern

(PHEIC) adalah KLB yang dapat merupakan ancaman kesehatan bagi negara

lain dan kemungkinan membutuhkan koordinasi internasional dalam

penanggulangannya (Sub Direktorat Zoonosis, 2008).

Indikator Kejadian Luar Biasa (KLB) pes yaitu apabila terjadi

peningkatan empat kali lipat pemerikasaan spesimen secara serokonversi,

Flea Indek (FI) umum lebih besar atau sama dengan 2 dan Flea Indek (FI)

khusus lebih besar atau sama dengan 1, ditemukan bakteri Yersenia pestis

dari pinjal, tikus, tanah, sarang tikus, bahan organik lain, dan manusia hidup

maupun mati. Untuk mengendalikan KLB pes ini, maka perlu dilakukan

survailens pada daerah epizootic pes (Sub Direktorat Zoonosis, 2008).

1
Kegiatan survailens merupakan salah satu program pemberantasan

penyakit pes yang dapat dilakukan yaitu surveilans terhadap tikus dan pinjal.

Kegiatan surveilans terhadap tikus dan pinjal meliputi :

1. Daerah fokus, merupakan daerah yang diamati sepanjang tahun yaitu

satu bulan sekali selama lima hari berturut-turut.

2. Daerah terancam, merupakan daerah yang diamati secara periodik,

yaitu empat kali dalam satu tahun dengan kurun waktu tiga bulan

sekali selama lima hari berturut-turut

3. Daerah bekas fokus, merupakan daerah yang diamati selama satu

tahun sekali atau dua tahun sekali selama lima hari berturut-turut (Sub

Direktorat Zoonosis, 2008:8)

Kegiatan surveilans pada daerah epizootic pes bertujuan untuk

mengendalikan penyakit pes, yaitu untuk mempertahankan kasusnya agar

selalu nol, mencegah penularan dari daerah fokus ke daerah sekitar,

memantau agar tidak terjadi relaps, dan mencegah masuknya pes dari luar

negeri (Sub Direktorat Zoonosis, 2008:9).

Di Indonesia sendiri terdapat empat propinsi yang menjadi daerah

pengawasan pes, yaitu di Ciwidey Kabupaten Bandung (Jawa Barat),

Cangkringan Kabupaten Sleman (Yogyakarta), di Kecamatan Tutur, Tosari,

Puspo, dan Pasrepan Kabupaten Pasuruan (Jawa Timur), dan di Kabupaten

Boyolali di Kecamatan Selo dan Cepogo, (Jawa Tengah) (Sub Direktorat

Zoonosis, 2008). Kecamatan Cepogo adalah salah satu daerah pengamatan

pes yang jumlah tangkapan tikusnya masih sedikit. Jumlah tikus dan pinjal

2
yang didapat pada tahun 2012 di Kecamatan Cepogo pada bulan maret

sebanyak 17 tikus dengan 51 pinjal, pada bulan april sebanyak 40 tikus

dengan 79 pinjal, dan pada bulan juni tertangkap 20 tikus dengan 57 pinjal

(Dinkes Boyolali, 2009).

Sedikitnya jumlah tikus yang didapat dengan jumlah pinjal yang

banyak menjadikan kewaspadaan terulangnya Kejadian Luar Biasa (KLB),

maka perlu dilakukan pengendalian agar angka kejadian pes selalu nol dan

tidak terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) pes. Pencegahan KLB pes dilakukan

dengan memasang live trap setiap lima hari berturut-turut dalam satu bulan

sesuai ketentuan pedoman penanggulangan pes pada daerah fokus. Dalam

survailens ini partisipasi warga sangat dibutuhkan, dengan partisipasi ini

masyarakat diharapkan mampu berperan aktif dalam kegiatan survailens.

B. Tujuan

1. Mengetahui terjadinya penularan penyakit pes terutama di Indonesia.

2. Mengetahui etiologi dan patofisiologi terjadinya penyakit pes.

3. Mampu menatalaksana penyakit pes.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Penyakit Pes atau disebut juga Plague atau Black Death adalah suatu

infeksi berat yang disebabkan oleh bakteri Yersinia Pestis. Bakteri ini

menginfeksi hewan pengerat seperti tikus. Bakteri ini disebarkan oleh kutu

tikus atau pinjal yang disebut Xenopsilla Cheopis. Penyakit pes ditularkan ke

manusia oleh gigitan kutu tikus yang terinfeksi. Tingkat kematian penyakit pes

sebanyak 50-60 % jika tidak diobati(Africa, 2014). Gejala awal penyakit pes

yaitu demam, menggigil, nyeri otot, mual, sakit tenggorokan, sakit kepala serta

limfadenitis (Sucipto, 2011).

Tikus merupakan bintang yang termasuk jenis rodent. Rodent adalah

sekelompok hewan mengerat yang mempunyai peranan penting sebagai

sumber, reservoir dan penular dalam penyebaran penyakit menular pada

manusia maupun hewan-hewan domestik. Pengendalian rodent diperkirakan

dapat menurunkan kejadian penyakit infeksi yang ditularkan oleh rodent

(Santoso, 2009). Tikus merupakan reservoir dan pinjal merupakan vector

penularnya, sehingga penularan ke manusia dapat terjadi melalui gigitan pinjal

atau kontak langsung dengan tikus yang terinfeksi bakteri Yersinia pestis

(Jawetz, 2005)

B. Epidemiologi

Penyakit pes terjadi antara tahun 2010 dan 2015, terdapat 39 kasus pes

pada manusia dilaporkan terjadi di Amerika Serikat serta mengakibatkan 5

4
kematian. Setengah dari kasus pes pada manusia melibatkan individu berusia

12-45 tahun, meskipun pes dapat mempengaruhi seseorang dari segala umur.

Pria memiliki resiko yang lebih tinggi terkena pes dibanding perempuan.

Keadaan ini di sebabkan karena aktivitas pria lebih banyak diluar dan beresiko

terpapar vektor penyakit pes. Di Indonesia sendiri terdapat empat propinsi yang

menjadi daerah pengawasan pes, yaitu di Ciwidey Kabupaten Bandung (Jawa

Barat), Cangkringan Kabupaten Sleman (Yogyakarta), di Kecamatan Tutur,

Tosari, Puspo, dan Pasrepan Kabupaten Pasuruan (Jawa Timur), dan di

Kabupaten Boyolali di Kecamatan Selo dan Cepogo, (Jawa Tengah)

(Rahmawati, 2012)

C. Etiologi

Pes disebabkan oleh bakteri genus Yersinia serta mencakup 15

spesies dengan tiga patogen pada manusia yaitu yersinia pestis, yersinia

enterocolitica, dan yersinia pseudotuberculosis. Bakteri tersebut umumnya

diisolasi dari hewan pengerat dan kutu parasit. Bakteri pes adalah

mikroorganisme gram-negatif, berbentuk batang atau coccobaccilus, non spora

dan immobile, fermentasi non laktosa, urease dan indol negatif, dan termasuk

dalam kelas Gammaproteobacteria dan famili Enteroacteriaceae. Suhu

optimum untuk pertumbuhan bakteri pes lebih dari 48 jam di MacConkey atau

agar darah adalah 28 C (Santana et al., 2016). Toksonomi spesies yersinia

yaitu :

5
Kingdom : Eubacteria

Filum : Proteobacteria

Kelas : Gammaproteobacteria

Ordo : Enterobacteriales

Famili : Enterobacteriaceae

Genus : Yersinia

Spesies : pestis, enterocolitica, pseudotuberculosis, frederiksenii,

kristensenii, ruckeri, mollaretii, bercovieri, rohdei, aldovae,

intermedia(Wildlife, n.d, 2012)

Gambar 2.1. Bakteri yersinia enterocolitica (CDC, 2016)

D. Patofisiologi

Yersinia pestis ditransmisikan melalui pinjal yang terinfeksi. Manusia

yang terkena pes mampu menularkan secara langsung ke manusia yang lain.

Bila di suatu daerah akan terjadi wabah pes, biasanya didahului oleh wabah

pada binatang (epizootie) yaitu pada tikus. Yersinia pestis menggunakan tubuh

pinjal sebagai hospes. Tikus terinfeksi oleh Y. pestis melalui gigitan pinjal

(Xenopsylla cheopis). Sebelum kondisi tubuh tikus menjadi parah, tikus masih

dapat berinteraksi dengan tikus-tikus lain, sehingga memungkinkan terjadi

penularan antar tikus. Akibat kejadian penularan antar tikus, maka pada waktu

6
yang bersamaan akan muncul banyak sekali tikus yang menderita pes

(epizootie). Kondisi tikus yang terinfeksi Y. Pestis menjadi lebih parah maka

tikus-tikus ini akan mencari tempat sunyi dan biasanya mendekati lingkungan

manusia dengan masuk ke rumah-rumah. Bila tikus mati, pinjal akan kelaparan

dan keluar dari tubuh tikus. Pinjal yang lapar akan menjadi sangat agresif

untuk mendapatkan pakan berupa darah, sehingga akan menyerang apa saja

yang ditemui terutama darah manusia.

Xenopsylla cheopis

Manusia setelah kontak langsung dan terinfeksi tikus pembawa

penyakit pes, maka akan nampak gejala sakit setelah 2-6 hari sesuai masa

inkubasi bakteri untuk berkembangbiak dalam tubuh manusia. Penyakit pes

jenis baru mempunyai masa inkubasi yang lebih cepat sekitar 2-4 hari saja.

1. Masa Pra Kesakitan Sebelum Manusia Sakit ( pre patogenesis )

Pada tahap ini agen penyakitnya yersinia pestis, sedangkan inang

atau penjamu (host) adalah manusia. Tahap ini telah terjadi

interaksi antara penjamu (manusia) dengan agen atau bibit penyakit

(bakteri yersinia pestis), tetapi interaksi ini terjadi di luar tubuh

manusia, dalam arti bibit penyakit berada di luar tubuh manusia

7
dan belum masuk ke dalam tubuh setelah berinteraksi dengan

hewan yang terjangkit (interaksi penyebab, penjamu dan

lingkungan terhadap stimulus).

2. Masa Kesakitan ( Patogenesis )

a. Masa inkubasi penyakit pes berkisar 1-3 sampai 6 hari dimulai

dari kontak dengan bibit penyakit sehingga dapat terjadi proses

penularan dalam masa ini.

b. Kesakitan Dini timbul papula (benjolan kecil pada kulit, Pustula

(benjolan permukaan kulit bernanah), Karbunkel (bisul, bisul

besar, radan pd folikel rambut & sekitarnya mjd satu/ tdk

menunjukkan reaksi jar setempat), Penyebaran daerah kulit

menjadi petekie (bintik merak akibat perdarahan intra dermel/

submukosa, vaskulitis (radang pembuluh darah) & perdarahan

krn trombositopenia (jml trombosit < normal)

c. Kesakitan Dini Yang Mulai Nampak

Berdasar Aspek klinis, dibedakan beberapa type :

1) Type bubonik terdapat panas (> 41), bubo (pembesaran,

radang suparatif kelenjar limfe) daerah inguinal (lipat paha)/

femoral (kaitan femur)/ aksila (ketiak)/servical (leher) serta

takikardi (denyut jantung cepat > 100/mnt

8
2) Type pneumonik (Radang Paru) terdapat lemah Badan, sakit

Kepala

a) Vomitus (muntah)

3) Type Septikemik

a) Pucat

b) Lemah

d. Kesakitan Lanjut

1) Type 1. Bubonik

a) Konvulsi ( kejang)sampai koma

b) Konstipasi/ diare

c) Koaglasi (proses pembekuan)intra vascular

2) Type 2. Pneumonik

a) Febris (demam) & frustasi

b) Batuk, Sesak nafas

c) Muntah desertai sputum produktif & cair

d) Ganguan Kesadaran

3) Type 3. Septikemik

a) Delirium (keadaan eksitasi mental & motoris pada

kesadaran menurun) atau stupor (kesadaran menurun)

sampai koma.

b) Gejala febris (demam)

c) Kenaikan suhu badan terjadi ringan

3. Tahap Akhir Penyakit Pes Pada Manusia

9
a. Type 1. Bubonik

1) Kegagalan faal jantung

2) Kematian

b. Type 2. Peneumonik : Meninggal pada hari ke 4 dan 5

c. Type 3. Septikemik : meninggal hari pertama

Jika kita melihat secara umum dari penyakit pes ini jika telah terinfeksi

namun tidak secepatnya dilakukan pengobatan maka akibatnya akan fatal /

berakhir dengan kematian. Kematian ini dapat terjadi pada saat gejala klinik

tidak jelas, klinik berat + komplikasi. Penyakit ini dapat sembuh jika ditangani

sejak dini baik mulai dari gejala klinik tampak atau tidak tampak, dengan

pemakaian obat yang teraturseperti pemberian Streptomycyn dosis tinggi

terbukti lebih efektif mengobati plague. Penicilin tidak efektif untuk penyakit

plague. Diazepam diberikan untuk mengurangi rasa lelah. Heparin biasanya

diberikan apabila terdapat gejala pembekuan [Link] didiagnosa

sembuh namun, tidak menutup kemungkinam orang tadi menjadi carier yang

dapat menularkan kepada orang lain.

E. Klasifikasi

1. Bubonic plague: Masa inkubasi 2-7 hari. Gejalanya kelenjar getah bening

yang dekat dengan tempat gigitan binatang/kutu yang terinfeksi akan

membengkak berisi cairan (disebut Bubo). Terasa sakit apabila ditekan.

Pembengkakan akan terjadi. Gejalanya mirip flu, demam, pusing,

menggigil, lemah, benjolan lunak berisi cairan di tonsil/adenoid (amandel),

limpa dan thymus. Bubonic plague jarang menular pada orang lain

10
2. Septicemic plague: Gejalanya demam, menggigil, pusing, lemah, sakit pada

perut, shock, pendarahan di bawah kulit atau organ2 tubuh lainnya,

pembekuan darah pada saluran darah, tekanan darah rendah, mual, muntah,

organ tubuh tidak bekerja dg baik. Tidak terdapat benjolan pada penderita.

Septicemic plague jarang menular pada orang lain. Septicemic plague dapat

juga disebabkan Bubonic plague dan Pneumonic plague yang tidak diobati

dengan benar.

3. Pneumonic plague: Masa inkubasi 1-3 hari. Gejalanya pneumonia (radang

paru-paru), napas pendek, sesak napas, batuk, sakit pada dada. Ini adalah

penyakit plague yang paling berbahaya dibandingkan jenis lainnya.

Pneumonic plague menular lewat udara, bisa juga merupakan infeksi

sekunder akibat Bubonic plague dan Septicemic plague yang tidak diobati

dengan benar(Santana et al., 2016)

F. Tatalaksana

Pengobatan pes diberikan streptomisin dosis 15 mg / kg (dosis

maksimum satu gram), pada interval 12 jam, dengan rute intramuskular (IM)

selama 10 hari. Alternatif lain - bila streptomisin tidak tersedia menggunakan

gentamisin, dengan dosis 5 mg / kg / hari, atau 2 mg / kg sebagai dosis awal

yang diikuti 1,7 mg / kg setiap 8 jam, dengan rute IM atau intravena (IV) ,

selama 10 hari. Analisis retrospektif terhadap 50 kasus wabah yang

didiagnosis di New Mexico (AS), antara tahun 1985 dan 1999, menunjukkan

bahwa gentamisin yang diberikan sendiri atau dikombinasikan dengan

doksisiklin setidaknya sama efektifnya dengan streptomisin. Ke 36 pasien yang

11
diobati dengan gentamisin bertahan tanpa komplikasi . Uji coba klinis acak

terhadap 65 pasien dengan wabah, yang dilakukan di Tanzania, menunjukkan

bahwa 94% subyek yang diobati dengan gentamisin memiliki tingkat

tanggapan klinis yang tinggi dan tingkat efek samping yang rendah yang

rendah. Gentamycin umumnya dianggap lebih aman untuk diberikan pada

wanita hamil dan anak-anak, dibandingkan dengan streptomisin(Santana et al.,

2016)

G. Pencegahan

Pencegahan penyakit pes yaitu :

1. Health promotion(Upaya promosi Kesehatan)

a. Menghindari kemunculan dari/ adanya faktor resiko masa pra kesakitan.

b. Penyuluan penduduk untuk meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan

lingkungan

c. Perbaikan rumah penduduk supaya tidak mudah menjadi sarang

tikusPengendlian terhadap tikus dan pinjal

2. Pengendalian terhadap tikus

a. mengatur waktu tanam

b. perbaikan sanitasi lingkungan

c. menggunakan rodentisida

d. alat perekat

e. Insektisida

3. Pengendalian terhadap pejamu

12
a. Meningkatkan kekebalan.

b. Hygene individu

c. Gizi

4. Pengendalian terhadap lingkungan

a. Perbaikan sanitasi lingkungan

b. bersihkan semak semak

c. perbaiki bangunan rumah sehingga tidak menjadi sarang tikus

5. Specific protection(Upaya proteksi Kesehatan )

Upaya Proteksi Kesehatan Bertujuan untuk mengurangi / menurunkan

pengaruh penyebab serendah mungkin misalnya : Vaksinasi penduduk

daerah endemik, petugas laboratorium dan perawat kesehatan dan

Pengendalian sumber-sumber pencemaran, Sanitasi Lingkungandan hygene

perorangan, diberikan pengobatan pada petugas kesehatan untuk mencegah

adanya penularan.

a. Early diagnosis and promt treatment(Upaya diagnosis dini &

tindakan segera)

1) Ditujukan pada penderita/ dianggap menderia (suspect)/ terancam

akan menderita

2) Penemuan Kasus segera lapor kepada Dinas Kesehatan setempat

dalam waktu 24 jam sejak diketahui

3) Mencari semua orang yang telah berhubungan dengan penderita

penyakit menular (contact person) untuk diawasi agar bila

penyakitnya timbul dapat segera diberikan pengobatan.

13
4) Meningkatkan keteraturan pengobatan terhadap penderita.

5) Pemberian pengobatan yang tepat pada setiap permulaan kasus

b. Disability limitation(Upaya pemberantasan akibat buruk)

Mencegah meluasnya penyakit/ timbulnya wabah & proses penyakit

lebih lanjut.

1) Isolasi bagi yang diduga terbukti menderita sampai yang

bersangkutan dinyatakan sembuh/ Isolasi setelah 2 4 hari

mendapat antibiotika

2) Pengobatan dengan antibiotik

3) Streptomisin 30 mg/ kg BB/ hari secara intramuscular 2 4 x

[Link] anakanak 20 30 mg/ kg BB / hari

4) Tetrasiklin diberikan pada hari ke 4 selama 10 14 hari, Dosis

loading 15 mg/ kg BB/ hari dlm 4 x pemberian sampai hari

pengobatan 10 14

5) Kloramfenikol dosis 50 75 mg/ kg BB/hari intravena 4 x

pemberian selama 10 hari

6) Trimetoprim sulfametoksazol

7) Sulfadiazin 12 g/ hari selama 4 7 hari dosis awal 4 gdilanjutkan 2

g tiap jam sampai tercapai suhu badan normal, diteruskan 500 mg

tiap 4 jam sampaihari 710.

8) Penggunaan Sulfadiazuin disertai pemberian Sodium Bikarbonat

c. Rehabilitation(Upaya pemulihan Kesehatan) / (rehabilitasi)

14
Usaha untuk mencegah terjadinya akibat samping daripenyembuhan

penyakit & pengembalian fungsi fisik, psikologik dan sosial.

1) Pemberian makanan yang cukup gizi

2) Sesuai dengan Type (Depkes, 2008)

15
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Pes merupakan golongan zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Yersinia

pestis (Y. pestis) dan ditularkan oleh kutu tikus (flea), Xenopsylla cheopis.

Bakteri yersinia pestis berbentuk batang pendek, gemuk dengan ujung

membulat dengan badan mencembung, berukuran 1,5 5,7 dan

bersifat Gram positif. Pes dapat menginfeksi tikus maupun manusia. Pes di

golongkan menjadi 3 yaitu bubonic plague, septisemic plague dan

peneumonic plague. Perjalanan penyakit pes diawali masa prepatogenesis

yaitu saat host dan agen berinteraksi namun agen masih diluar host,

kemudian masuk ke masa patogenesis yaitu masa inkubasi selama 1-3 hari

dilanjutkan masa kesakitan dini, kemudian masa kesakitan lanjut dan tahap

akhir patogenesis pes. Penyakit pes dapat diobati menggunakan antibiotik

streptomisin. Pencegahan penyakit pes dapat dilakukan dengan melakukan

promosi kesehatan terhadap masyarakat untuk meningkatkan kebersihan

lingkungan, melakukan upaya promosi kesehatan dengan melakukan

vaksinasi, melakukan diagnosis dini dan upaya pemberantasan akibat

buruk serta rehabilitasi kesehatan dengan meningkatan imunitas tubuh

host.

B. Saran

Sebaiknya makalah ini disusun secara sistematis dan menyeluruh

mengenai penyakit pes.

16
17
DAFTAR PUSTAKA

Africa, D. of H. of S. (2014) National plague control guidelines for South Africa.


132.
Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali,. (2012). Laporan Kasus Pencegahan
Penyakit Bersumber Dari Binatang, Boyolali: DKK
Jawetz, Melnick, dan Adelberg`s. (2005). Mikrobiologi Kedokteran, Jakarta:
Salemba Medika
Rahmawati, E. . (2012) Jurnal Kesehatan Masyarakat. 8 (1), 9498.
Santana, L.A., Santos, S.S., Luiz, J., Gazineo, D., et al. (2016) Sci Forschen
Plague: A New Old Disease. 17.
Sub Direktorat Zoonosis. (2008). Pedoman Penanggulangan Pes Di Indonesia,
Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Abbott, R.C., and Rocke, T.E., 2012, Plague: U.S. Geological Survey Circular
1372, 79 p., plus appendix. (Also available at
[Link]

18

Anda mungkin juga menyukai