ANATOMI FISIOLOGI RHD
Seseorang yang mengalami demam rematik apabila tidak ditangani secara adekuat, Maka
sangat mungkin sekali mengalami serangan penyakit jantung rematik. Infeksi oleh kuman
Streptococcus Beta Hemolyticus group A yang menyebabkan seseorang mengalami demam
rematik dimana diawali terjadinya peradangan pada saluran tenggorokan, dikarenakan
penatalaksanaan dan pengobatannya yang kurah terarah menyebabkan racun/toxin dari kuman ini
menyebar melalui sirkulasi darah dan mengakibatkan peradangan katup jantung. Akibatnya
daun-daun katup mengalami perlengketan sehingga menyempit, atau menebal dan mengkerut
sehingga kalau menutup tidak sempurna lagi dan terjadi kebocoran.
A. DEFINISI
Menurut WHO, Penyakit Jantung Rematik (PJR) adalah cacat jantung akibat
karditis rematik.
Menurut Afif. A (2008), Penyakit Jantung Rematik (PJR) adalah
penyakit jantung sebagai akibat adanya gejala sisa (sekuele) dari Demam
Rematik (DR), yang ditandai dengan terjadinya cacat katup jantung.
Menurut Sunoto Pratanu, (2000).Penyakit jantung rematik (RHD) adalah suatu
proses peradangan yang mengenai jaringan-jaringan penyokong tubuh, terutama
persendian, jantung dan pembuluh darah oleh organisme streptococcus hemolitic-
grup A
Seseorang yang mengalami demam rematik apabila tidak ditangani secara adekuat,
maka sangat mungkin sekali mengalami serangan penyakit jantung rematik. Infeksi oleh
kuman Streptococcus Beta Hemolyticus group A yang menyebabkan seseorang
mengalami demam rematik dimana diawali terjadinya peradangan pada saluran
tenggorokan, dikarenakan penatalaksanaan dan pengobatannya yang kurang terarah
menyebabkan racun/toxin dari kuman ini menyebar melalui sirkulasi darah dan
mengakibatkan peradangan katup jantung. Akibatnya daun-daun katup mengalami
perlengketan sehingga menyempit, atau menebal dan mengkerut sehingga kalau menutup
tidak sempurna lagi dan terjadi kebocoran.
B. MANIFESTASI KLINIS
Penderita umumnya mengalami :
1. Sesak nafas yang disebabkan jantungnya sudah mengalami gangguan.
2. Nyeri sendi yang berpindah- pindah.
3. Bercak kemerahan di kulit yang berbatas.
4. Gerakan tangan yang tak beraturan dan tak terkendali (korea).
5. Benjolan kecil-kecil dibawah kulit.
6. Selain itu tanda yang juga turut menyertainya adalah nyeri perut, kehilangan berat
badan, cepat lelah dan demam.
C. ETIOLOGI
Penyebab terjadinya penyakit jantung reumatik diperkirakan adalah reaksi
autoimun (kekebalan tubuh) yang disebabkan oleh demam reumatik. Infeksi
streptococcus hemolitikus grup A pada tenggorok selalu mendahului terjadinya demam
reumatik baik demam reumatik serangan pertama maupun demam reumatik serangan
ulang. Telah diketahui bahwa dalam hal terjadi demam rematik terdapat beberapa
predisposisi antara lain :
Faktor-faktor pada individu :
1. Faktor genetik
Adanya antigen limfosit manusia ( HLA ) yang tinggi. HLA terhadap demam
rematik menunjkan hubungan dengan aloantigen sel B spesifik dikenal dengan antibodi
monoklonal dengan status reumatikus.
2. Jenis kelamin
Demam reumatik sering didapatkan pada anak wanita dibandingkan dengan anak
laki-laki. Tetapi data yang lebih besar menunjukkan tidak ada perbedaan jenis kelamin,
meskipun manifestasi tertentu mungkin lebih sering ditemukan pada satu jenis kelamin.
3. Golongan etnik dan ras
Data di Amerika Utara menunjukkan bahwa serangan pertama maupun ulang
demam reumatik lebih sering didapatkan pada orang kulit hitam dibanding dengan orang
kulit putih. Tetapi data ini harus dinilai hati-hati, sebab mungkin berbagai faktor
lingkungan yang berbeda pada kedua golongan tersebut ikut berperan atau bahkan
merupakan sebab yang sebenarnya.
4. Umur
Umur agaknya merupakan faktor predisposisi terpenting pada timbulnya demam
reumatik / penyakit jantung reumatik. Penyakit ini paling sering mengenai anak umur
antara 5-15 tahun dengan puncak sekitar umur 8 tahun. Tidak biasa ditemukan pada anak
antara umur 3-5 tahun dan sangat jarang sebelum anak berumur 3 tahun atau setelah 20
tahun. Distribusi umur ini dikatakan sesuai dengan insidens infeksi streptococcus pada
anak usia sekolah. Tetapi Markowitz menemukan bahwa penderita infeksi streptococcus
adalah mereka yang berumur 2-6 tahun.
5. Keadaan gizi dan lain-lain
Keadaan gizi serta adanya penyakit-penyakit lain belum dapat ditentukan apakah
merupakan faktor predisposisi untuk timbulnya demam reumatik.
6. Reaksi autoimun
Dari penelitian ditemukan adanya kesamaan antara polisakarida bagian dinding
sel streptokokus beta hemolitikus group A dengan glikoprotein dalam katub mungkin ini
mendukung terjadinya miokarditis dan valvulitis pada reumatik fever.
7. Serangan demam rematik sebelumnya.
Serangan ulang demam rematik sesudah adanya reinfeksi dengan Streptococcus
beta-hemolyticus grup A adalah sering pada anak yang sebelumnya pernah mendapat
demam rematik.
Faktor-faktor lingkungan :
1. Keadaan sosial ekonomi yang buruk
Mungkin ini merupakan faktor lingkungan yang terpenting sebagai predisposisi
untuk terjadinya demam reumatik. Insidens demam reumatik di negara-negara yang
sudah maju, jelas menurun sebelum era antibiotik termasuk dalam keadaan sosial
ekonomi yang buruk sanitasi lingkungan yang buruk, rumah-rumah dengan penghuni
padat, rendahnya pendidikan sehingga pengertian untuk segera mengobati anak yang
menderita sakit sangat kurang; pendapatan yang rendah sehingga biaya untuk perawatan
kesehatan kurang dan lain-lain. Semua hal ini merupakan faktor-faktor yang
memudahkan timbulnya demam reumatik.
2. Iklim dan geografi
Demam reumatik merupakan penyakit kosmopolit. Penyakit terbanyak didapatkan
didaerah yang beriklim sedang, tetapi data akhir-akhir ini menunjukkan bahwa daerah
tropis pun mempunyai insidens yang tinggi, lebih tinggi dari yang diduga semula.
Didaerah yang letaknya agak tinggi agaknya insidens demam reumatik lebih tinggi
daripada didataran rendah.
3. Cuaca
Perubahan cuaca yang mendadak sering mengakibatkan insidens infeksi saluran
nafas bagian atas meningkat, sehingga insidens demam reumatik juga meningkat.
D. PATOFISIOLOGI
Menurut hipotesa Kaplan dkk (1960) dan Zabriskie (1966), demam rematik terjadi karena
terdapatnya proses autoimun atau antigenic similarity antara jaringan tubuh manusia dan antigen
somatic streptococcus. Apabila tubuh terinfeksi oleh Streptococcus beta-hemolyticus grup A
maka terhadap antigen asing ini segera terbentuk reaksi imunologik yaitu antibody. Karena sifat
antigen ini sama maka antibody tersebut akan menyerang juga komponen jaringan tubuh dalam
hal ini sarcolemma myocardial dengan akibat terdapatnya antibody terhadap jaringan jantung
dalam serum penderia demam rematik dan jaringan myocard yang rusak. Salah satu toxin yang
mungkin berperanan dalam kejadian demam rematik ialah stretolysin titer 0, suatu produk
extraseluler Streptococcus beta-hemolyticus grup A yang dikenal bersifat toxik terhadap jaringan
myocard. Beberapa di antara berbagai antigen somatic streptococcal menetap untuk waktu
singkat dan yang lain lagi untuk waktu yang cukup lama. Serum imunologlobulin akan
meningkat pada penderita sesudah mendapat radang streptococcal terutama Ig G dan A.
E. PENATALAKSANAAN
Apabila diagnosa penyakit jantung rematik sudah ditegakkan dan masih adanya
infeksi oleh kuman Streptococcus tersebut, maka hal utama yang terlintas dari Tim
Dokter adalah pemberian antibiotika dan anti radang. Misalnya pemberian obat
antibiotika penicillin secara oral atau benzathine penicillin G. Pada penderita yang allergi
terhadap kedua obat tersebut, alternatif lain adalah pemberian erythromycin atau
golongan cephalosporin. Sedangkan antiradang yang biasanya diberikan adalah Cortisone
and Aspirin.
Penderita dianjurkan untuk tirah baring dirumah sakit, selain itu Tim Medis akan
terpikir tentang penanganan kemungkinan terjadinya komplikasi seperti gagal jantung,
endokarditis bakteri atau trombo-emboli. Pasien akan diberikan diet bergizi tinggi yang
mengandung cukup vitamin.
Penderita Penyakit Jantung Rematik (PJR) tanpa gejala tidak memerlukan terapi.
Penderita dengan gejala gagal jantung yang ringan memerlukan terapi medik untuk
mengatasi keluhannya. Penderita yang simtomatis memerlukan terapi surgikal atau
intervensi invasif. Tetapi terapi surgikal dan intervensi ini masih terbatas tersedia serta
memerlukan biaya yang relatif mahal dan memerlukan follow up jangka panjang.
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan adalah sebagai berikut :
1) Pemeriksaan [Link] pemeriksaan laboratorium darah didapatkan
peningkatan ASTO, peningkatan laju endap darah (LED),terjadi leukositosis, dan
dapat terjadi penurunan hemoglobin.
2) [Link] pemeriksaan foto thoraks menunjukan terjadinya pembesaran pada
jantung.
3) Pemeriksaan Echokardiogram. Menunjukan pembesaran pada jantung dan terdapat
lesi.
4) Pemeriksaan ElektrokardiogramMenunjukan interval P-R memanjang.
G. PENCEGAHAN
Jika kita lihat diatas bahwa penyakit jantung rematik sangat mungkin
terjadidengan adanya kejadian awal yaitu demam rematik (DR). Pencegahan yang
terbaik adalah bagaimana upaya kita jangan sampai mengalami demam rematik (DR)
(terseranginfeksi kuman Streptococcus beta hemolyticus).
Ada beberapa faktor yang dapat mendukung seseorang terserang kuman
tersebut,diantaranya faktor lingkungan seperti kondisi kehidupan yang jelek, kondisi
tinggalyang berdesakan dan akses kesehatan yang kurang merupakan determinan
yangsignifikan dalam distribusi penyakit ini. Variasi cuaca juga mempunyai peran
yang besar dalam terjadinya infeksi streptokokkus untuk terjadi DR.
Seseorang yang terinfeksi kuman Streptococcus beta hemolyticus dan
mengalamidemam rematik, harus diberikan therapy yang maksimal dengan antibiotiknya.
Hal iniuntuk menghindarkan kemungkinan serangan kedua kalinya atau bahkan
menyebabkanPenyakit Jantung Rematik.
H. KOMPLIKASI
Komplikasi yang sering terjadi pada Penyakit Jantung Reumatik (PJR)
diantaranya adalah gagal jantung, pankarditis (infeksi dan peradangan di seluruh bagian jantung),
pneumonitis reumatik (infeksi paru), emboli atau sumbatan pada paru, kelainan katup jantung,
dan infark (kematian sel jantung).
1. Dekompensasi Cordis
Peristiwa dekompensasi cordis pada bayi dan anak menggambarkan terdapatnya
sindroma klinik akibat myocardium tidak mampu memenuhi keperluan metabolic termasuk
pertumbuhan. Keadaan ini timbul karena kerja otot jantung yang berlebihan, biasanya karena
kelainan struktur jantung, kelainan otot jantung sendiri seperti proses inflamasi atau gabungan
kedua faktor tersebut.
Pada umumnya payah jantung pada anak diobati secara klasik yaitu dengan digitalis dan obat-
obat diuretika. Tujuan pengobatan ialah menghilangkan gejala (simptomatik) dan yang paling
penting mengobati penyakit primer.
2 Pericarditis
Peradangan pada pericard visceralis dan parietalis yang bervariasi dari reaksi
radang yang ringan sampai tertimbunnnya cairan dalam cavum pericard.
I. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Data fokus:
- Peningkatan suhu tubuh tidak terlalu tinggi kurang dari 39 derajat celcius namun tidak
terpola
- Adanya riwayat infeksi saluran nafas.
- Tekanan darah menurun, denyut nadi meningkat, dada berdebar-debar..
- Nyeri abdomen, Mual, anoreksia dan penurunan hemoglobin
- Arthralgia, gangguan fungsi sendi
- Kelemahan otot
- Akral dingin
- Mungkin adanya sesak.
- Manifestasi khusus:
carditis:
takikardia terutama saat tidu ( sleeping pulse )
kardiomegali
suara bising katup ( suara sistolik )
perubahan suara jantung
perubahan ECG (PR memanjang)
Precordial pain
Precardial friction rub
Lab : leukositosis, LED meningkat, peningkatan ASTO,.
Polyarthritis
Nyeri dan nyeri tekan disekitar sendi Menyebar pada sendi lutut, siku, bahu, lengan (
gangguan fungsi sendi )
Nodul subcutaneous:
Timbul benjolan dibawah kulit, teraba lunak dan bergerak bebas,
Muncul sesaat, pada umumnya langsung diserap.
Terdapat pada permukaan ekstensor persendian
Khorea:
Pergerakan ireguler pada ekstremitas, involunter dan cepat.
Emosi labil
Kelemahan otot
Eritema marginatum:
bercak kemerahan umum pada batang tubuh dan telapak tangan.
Bercak merah dapat berpindah lokasi tidak permanen
eritema bersifat non pruritu
J. DIAGNOSA
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan adanya gangguan pada penutupan
pada katup mitral ( stenosis katup ).
2. Perfusi jaringan perifer tidak efektif berhubungan dengan penurunan metabolisme
terutama perifer akibat vasokonstriksi pembuluh darah.
3. Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada membran sinovial.
NO DIAGNOSA NOC NIC
KEPERAWATAN
1. Penurunan curah Setelah dilakukan tindakan Perawatan Jantung :
jantung keperawatan selama 3x24
berhubungan jam, diharapkan status 1. Evaluasi nyeri dada
dengan adanya sirkulasi dapat memenuhu 2. Intruksikan px akan
gangguan pada kriteria hasil:
pentingnya melapor segera
penutupan pada
katup mitral ( NO INDIKATOR skala jika merasakan
1. TD,Nadi,Suhu,Pernafasa 5
stenosis katup ). 2. Urine Output 5 ketidaknyamanan dada
3. Edema Perifer 5
4. Ansietas 5 3. Monitor EKG
5. Kelelahan 5
6. Saturasi Oksigen 5 4. Monitor irama jantung
Keterangan : 5. Auskultasi suara jantung
1. Berat 6. Monitor terapi Oksigen
2. Cukup besar 7. Monitor hasil laboratorium
3. Sedang 8. Sediakan makan sedikit2
4. Ringan tapi sering
5. Tidak 9. Hindari sitasi yang
memicu emosional
10. Beri dukungan spiritual
2. Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan 1. Lakukan pengkajian nyeri
berhubungan keperawatan selama 3x24 2. Berikan informasi tentang
dengan jam, diharapkan kontrol
nyeri
peradangan pada nyeri dapat memenuhu
membran sinovial kriteria hasil: (penyebab,antisipasi,bera
pa lama nyeri akan
NO INDIKATOR skala
1. Mampu mengontrol 5 dirasakan)
nyeri
2. Melaporkan nyeri yang 5 3. Kurangi factor-faktor
terkontrol(sudah
berkurang apa belum) yang menyebabkan nyeri
3. Mampu mengenali 5
penyebab nyeri 4. Ajarkan managemen
4. Mampu menggunakan 5
tindakan pengurangan nyeri (ex : nafas dalam)
nyeri (ex:nafas dalam)
Keterangan : 5. Gunakan tindakan
1. Tidak pernah pengontrol nyeri sebelum
menunjukkan nyeri bertambah berat
2. Jarang menunjukkan 6. Anjurkan istirahat dan
[Link]-kadang tidur untuk mengurangi
menunjukkan rasa nyeri
4. Sering menunjukkan 7. Kolaborasi dengan tim
5. Konsisten menunjukkan medis lain
3. Perfusi jaringan Setelah dilakukan tindakan 1. Lakukan penilaian
perifer tidak keperawatan selama 3x24 sirkulasi perifer
efektif jam, diharapkan perfusi (mengecek nadi perifer,
berhubungan jaringan perifer dapat odem , warna kulit,suhu)
dengan penurunan memenuhu kriteria hasil: 2. Inspeksi kulit
metabolisme 3. Monitor nyeri
NO INDIKATOR skala
terutama perifer 4. Rom pasif/aktif (utama
1. CRT kurang dari 2dtk 5
akibat 2. Suhu kulit ujung kaki 5 ekstremitas bawah)
vasokonstriksi dan tangan 5. Lindungi ekstremitas dari
3. Kekuatan denyut nadi 5
pembuluh darah. 4. Tekanan darah 5 trauma
5. Edema perifer 5 6. Kolaborasi dengan tim
6. Muka pucat 5
7. Nekrosis 5 medis lain
Keterangan :
1. Berat
2. Cukup berat
[Link]
4. Ringan
5. Tidak
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
[Link] RHD
[Link]
[Link]
[Link]
keperawatan_9041.html