Morfologi dan Morfem dalam Bahasa Jepang
Morfologi dan Morfem dalam Bahasa Jepang
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Morfologi
bahasa pada fungsi dan arti kata, serta mengidentifikasikan satuan-satuan dasar
doktrin keterkaitan tataran pada suatu fokus analisis yang dinyatakan oleh Katamba
(1993: 3-16). Dengan demikian analisis morfologis yang dikaitkan dengan aspek-
aspek linguistik lain seperti fonologi, sintaksis dan semantik akan memungkinkan
structure"
Istilah morfologi dalam bahasa Jepang dikenal dengan sebutan keitairon dan
morfem disebut keitaiso. Morfem ( keitaiso ) merupakan satuan bahasa terkecil yang
memiliki makna dan tidak dapat dipecahkan lagi ke dalam satuan makna yang lebih
to naru (morfologi adalah satu bidang ilmu yang meneliti pembentukan kata).
Karena itu tentu saja selalu terkait dengan kata dan terutama sekali dengan morfem).
Batasan dan ruang lingkup morfologi dalam bahasa Jepang yaitu kata (tango),
Salah satu objek yang dipelajari dalam morfologi yaitu morfem. Menurut
Akmajian dkk (1984:58) dalam Badulu dan Herman (2005:7) menyatakan bahwa
morfem adalah satuan terkecil dari pembentukan kata dalam suatu bahasa yang tidak
dapat diuraikan lebih lanjut ke dalam bagian-bagian yang bermakna atau yang dapat
dikenal.
Sutedi (2003:41) bahwa morfem ( keitaisou) adalah satuan bahasa terkecil yang
memiliki makna dan tidak bisa dipisahkan lagi dalam satuan makna yang lebih kecil
lagi dan juga menegaskan akan morfem bahasa Jepang dengan mengatakan bahwa
salah satu keistimewaan morfem bahasa Jepang, yaitu lebih banyak morfem
satuan bahasa terkecil yang masih mempunyai makna. Satuan bahasa terkecil disini
proses fonemis).
adalah satuan bahasa terkecil yang maknanya relatif stabil dan maknanya tidak dapat
dibagi atas bagian bernakna yang lebih kecil. Dalam bahasa Jepang juga demikian.
Misalnya kata daigaku (universitas) yang terdiri dari dua satuan yaitu dai
dan gaku. Kedua satuan tersebut tidak dapat dipecahkan lagi menjadi satuan yang
lebih kecil yang mengandung makna dan arti. Satuan terkecil dari dai yang secara
leksikal bermaknabesar dan kata gaku yang secara leksikal bermakna belajar atau
ilmu yang masing-masing merupakan satu morfem, sehingga kata daigaku terdiri
Klasifikasi Morfem
1. Morfem Bebas, yang terdiri dari kata penuh dan kata fungsi.
2. Morfem Terikat, yang terdiri atas afiks (pengimubahan) dan pangkal terkat,
Pada contoh (1) diatas terdapat kata hako (kotak) yang merupakan kata
yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai arti. Sedangkan pada contoh (2) terdapat
kata haribako (kotak jarum) yang merupakan kata yang berasal dari penggabungan
kata hari (jarum) yang merupakan morfem bebas yang juga dapat berdiri sendiri
serta mempunyai arti sendiri, dan kata hako (kotak). Kata hako
yang mengalir keluar dari dan setelah mulut terbuka sampai tertutup lagi. Tetapi pada
bagian (bako) harus ada morfem lain sebelumnya, dan itu dimunculkan
pengucapannya dapat berdiri sendiri, dan tidak dapat dikacaukan, morfem terbagi
atas 2 bentuk bahagian yang besar yaitu : (1) Morfem bebas Jiyuukeitai,
: morfem yang pengucapannya dapat berdiri sendiri. Dan (2) Morfem terikat
Hal ini juga dikemukakan oleh Koizumi (1993:93) yang membagi morfem
tunggal(berdiri sendiri).
cara mengikatnya dengan morfem lain tanpa dapat dilafalkan secara tunggal
(berdiri sendiri).
dua yaitu :
1. Akar kata (gokan, ) : morfem yang memiliki arti yang terpisah (satu per
morfem bebas dan morfem terikat, morfem bahasa Jepang juga dibagi menjadi dua,
yaitu morfem isi dan morfem fungsi. Morfem isi (naiyoukeitaiso,) adalah
morfem yang menunjukkan makna aslinya, seperti nomina, adverbia dan akar kata
dari verba atau adjektiva, kopula dan morfem pengekpresi kala (jiseikeitiso,
).
Dari kedua tipe diatas, selanjutnya dapat dibagi jenisnya menurut konsfigurasi
bahasa Jepang :
[]
Pada bagian (a) pada kata yama () yang berarti gunung merupakan
penjelasan mengenai morfem bebas. Morfem ini dapat berdiri sendiri dan memiliki
arti sendiri. Pada bagian (b) pada kata shiro dari shiroi yaitu
merupakan morfem bebas karena dapat digunakan berdiri sendiri, Pada kata shiro
kerja bantu kata sambung /te/ dan /ta/ dan tidak pernah muncul
pengucapan yang pemisahannya hanya dengan kata /kai/, serta tidak ada
pada bagian akar kata, dan /kai/ ini merupakan morfem terikat. Pada kata
/te/ dan /ta/ adalah elemen yang ditambahkan pada bentuk kata
Pada bagian (d) morfem bebas dari kata dan disebut kata majemuk yang
mengikat morfem bebas yang setara. Masing-masing morfem bebas itu berdiri sendiri
dan memiliki arti tersendiri bergabung dan membentuk kata dan arti yang baru. Pada
majemuk kebanyakan dibentuk akibat dari penggabungan dari dua atau lebih dari
huruf kanji. Huruf kanji juga dapat dikatakan satu morfem bebas yang berdiri sendiri
mengubah makna dan atau kategori kata yang dilekatinya. Misalnya, morfem [,
su- (telanjang)] dilekatkan pada kata benda (nomina) [, ashi (kaki)] menjadi [
infleksional tidak membuat suatu kata baru yang berbeda, seperti yang dilakukan oleh
Konsep morfem tidak dikenal oleh para tata bahasawan tradisional, yang
selalu ada dalam tata bahasa tradisional adalah satuan lingual yang disebut kata. Apa
yang disebut kata ini, adalah satuan bebas terkecil (a minimal free form).
mengenai kata. Banyak ahli linguistik meneliti mengenai kata dan didefenisikan
kata adalah satuan atau bentuk bebas dalam tuturan yang dapat berdiri sendiri, artinya
tidak membutuhkan bentuk lain yang digabungkan dengannya, dan dapat dipisahkan
dari bentuk - bentuk bebas lainnya di depannya dan dibelakangnya dalam tuturan.
Selain itu Keraf (1984:53) menyatakan adanya perubahan pemakaian kata makna
untuk pengertian dari kata dan menggantinya dengan ide. Dia mengatakan bahwa
kesatuan-kesatuan yang terkecil yang diperoleh sesudah sebuah kalimat dibagi atas
satuan fonologik dan satuan gramatik. Sebagai satuan fonologik, kata terdiri dari satu
atau beberapa suku, dan suku itu terdiri dari satu atau beberapa fonem. Misalnya kata
belajar terdiri dari tiga suku yaitu be, la, dan jar. Suku /be/ terdiri dan dua fonem,
suku /la/ terdiri dari dua fonem. Dan jar terdiri dari tiga fonem. Jadi kata belajar
terdiri dari tujuh fonem yaitu / b,e,l,a,j,a,r /. Jadi yang dimaksud dengan kata adalah
satuan bebas yang paling kecil atau dengan kata lain setiap satuan bebas merupakan
kata.
Kata dalam bahasa Jepang disebut dengan go atau tango. Iwabuchi Tadasu
dengan istilah go. Dia menyebutkan bahwa tsuki, hashira, omoshiroi, rippada, sono,
kecil akan menjadi hana-ga-saku, bagian-bagian kalimat ini tidak dapat dibagi
menjadi bagian-bagian yang lebih kecil lagi. Kalaupun dibagi-bagi lagi akan menjadi
mempunyai arti apapun. Go memiliki arti tertentu, diucapkan sekaligus, dan memiliki
arti tertentu. Di dalam sebuah kalimat go secara langsung dapat membentuk sebuah
kalimat (bunsestsu).
(1994:7) Pengelompokan kelas kata sebuah bahasa pada umumnya dibedakan atas
berdasarkan distribusi kata secara sintaksis dan frasal. Dalam hal ini kata-kata
tersebut masih berada dalam keadaan sebagai morfem bebas atau kata yang
berdasarkan distribusinya secara sintaksis dan frasal sebagai berikut : father, man,
boy, sick, good, and, or, because, go, sing dan sebagainya. Kedua yaitu klasifikasi
fuzokugo. Jiritsugo yaitu kata (go) yang dapat berdiri sendiri dan dapat menunjukkan
arti tertentu. Yang termasuk ke dalam jiritsugo yaitu kelas kata verba (doushi),
(go) yang tidak dapat berdiri sendiri dan tidak memiliki arti tertentu. Yang termasuk
kedalam fuzokugo yaitu partikel (joushi), dan kopula (jodoushi). Perbedaan antara
jiritsugo dengan fuzokugo yaitu jiritsugo dengan sendirinya dapat membentuk sebuah
kalimat (bunsetsu) walaupun tanpa dibantu tango yang lainnya, sedangkan fuzokugo
jiritsugo.
Berdasarkan asal usulnya, kata dalam bahasa Jepang terdiri dari wago,
kango, dan gairaigo. Selain itu terdapat juga konshugo yang merupakan kata-kata yang
terdiri dari gabungan beberapa kata dari asal yang berbeda. Secara
harfiah, wago adalah kosakata asli Jepang yang telah ada sebelum masuknya pengaruh
bahasa China ke dalam bahasa Jepang, namun dikatakan juga bahwa ada beberapa
kata wago yang merupakan kosakata yang diserap dari bahasa China. Kango adalah
kosakata yang digunakan dalam bahasa Jepang yang berasal dari China.
Walaupun kango memiliki kesamaan dengan gairaigo sebagai kosakata yang diserap
dari bahasa asing, namun karena wago yang diserap dari bahasa China memiliki
menurut Sudjianto dan Ahmad Dahidi, (2004:104) adalah kata-kata yang berasal dari
bahasa asing (gaikokugo) yang lalu dipakai sebagai bahasa nasional (kokugo).
yaitu tanjungo dan gouseigo. Tanjungo adalah kata yang terdiri dari morfem yang
berbentuk kata tunggal, sehingga secara struktural tidak dapat diuraikan lagi,
contohnya yama, inu dan lain-lain. Sedangkan gouseigo adalah kata yang terdiri dari
contohnya yamamichi (jalan setapak di pegunungan) yang terdiri dari yama (gunung)
dan michi (jalan). Gouseigo itu sendiri dibagi lagi menjadi dua macam yaitu :
unsur mengandung arti dan dapat berdiri sendiri sehingga secara struktural
2. Haseigo, adalah kata yang terdiri dari dua unsur yaitu unsur dasar dan unsur
infiks. Unsur yang menjadi kata dasar dapat berdiri sendiri dan mempunyai arti,
sedangkan unsur infiks bila berdiri sendiri tidak memiliki arti. Karena itu unsur
Pengklasifikasian atau pembagian kelas kata dalam bahasa Jepang disebut hinshi
bunrui ( ). Hinshi berarti jenis kata (word class, atau part of speech),
secara gramatikal Menurut Situmorang (2007:8) pembagian kelas kata bahasa Jepang
1. Verba (doushi, ) yaitu kata yang bermakna gerakan, dapat berdiri sendiri,
sebuah kalimat.
keadaan suatu benda, mengalami perubahan bentuk, dapat berdiri sendiri dan
keadaan suatu benda, mengalami perubahan bentuk, dapat berdiri sendiri dan
dapat berdiri sendiri dan menjadi subjek atau objek dalam kalimat.
perubahan bentuk, dapat berdiri sendiri , tidak menjadi subjek, tidak menjadi
menerangkan fukushi.
perubahan bentuk, dapat berdiri sendiri, tidak menjadi subjek, objek, predikat
perubahan bentuk sama seperti doushi, tidak dapat berdiri sendiri, ada yang
mempunyai arti sendiri dan ada yang menambah makna pada kata lain.
tidak dapat berdiri sendiri, tidak menjadi subjek, predikat, objek dan keterangan
dan ada juga yang berfungsi memberikan arti pada kata lain.
perubahan bentuk, dan dapat berdiri sendiri sebagai kalimat, tidak menjadi
keterangan, tidak menjadi subjek, predikat, dan tidak pula menjadi penyambung
kata atau kalimat. Serta berfungsi untuk mengutarakan rasa terkejut, kaget,
Istilah kata (go, ) atau (tango, ) dalam bahasa Jepang terdiri dari
dan lain lain. Dengan lain kata dasar adalah kata yang mempunyai satu arti dan dapat
Kata turunan yaitu kata kata yang sudah mengalami perubahan bentuk,
penambahan imbuhan dan proses perubahan ucap. Kata turunan ini dalam bahasa
Kata majemuk yaitu kata kata yang mengalami proses pembentukan kata
majemuk, dalam bahasa jepang kata majemuk ini jumlahnya sangat banyak dan
Kata benda majemuk yaitu kata benda yang terbentuk dari gabungan dua
buah unsur kata yang membentuk satu kata benda majemuk. Kata majemuk ini
Kata kerja majemuk atau verba majemuk ini sangat bervariasi , merupakan
gabungan dua buah unsur yang membentuk verba majemuk , secara garis besar verba
a. V + V b. N + V c. A + V d. AdvV e. Imbuhan V
Kata sifat atau adjektiva dalam bahasa Jepang terbagi menjadi dua golongan
yaitu : kata sifat I atau adjektiva-I (i-keiyoushi) yang berakhiran /-i/ seperti
atararashii, takai dan lain lain, dan kata sifat golongan II atau adjektiva-na (na-
keiyoushi) yang berakhira /na/ atau /da/, seperti kirei da, shizuka da da lain lain.
supaya jangkauan pembicaraan tidak terbatas dan tidak hanya bersifat deskriptif
tradisional. Untuk itu perlu suatu model teoretis yang lebih mutakhir (seperti
Perhatian para linguis terhadap teori morfologi generatif mulai berkat ajakan
morfologi terutama proses pembentukan kata yang ditinjau dari teori transformasi.
Dardjowijojo (1988:32) mencatat bahwa orang yang pertama kali menaruh minat
yang serius terhadap morfologi generatif adalah Morris Halle dalam papernya yang
Linguists di Bologna tahun 1972. Tahun berikutnya karya tersebut diterbitkan dengan
dampak yang sangat kuat dan diikuti oleh ahli-ahli lain seperti Siegel pada tahun
1974, Botha pada tahun 1974, Boas pada tahun 1974, Lipka pada tahun 1975 dalam
bentuk artikel dan oleh Aronoff pada tahun 1976, serta Scalise pada tahun 1984
dipelopori oleh Halle yang berpijak pada asumsi bahwa yang menjadi dasar dari
tahun 1973 adalah bahwa secara normal penutur bahasa di samping memiliki
pengetahuan tentang kata juga paham tentang komposisi dan struktur kata tersebut.
Dengan kata lain penutur asli dari suatu bahasa mempunyai kemampuan untuk
mengenal kata-kata dalam bahasanya, bagaimana kata itu terbentuk dan sekaligus
bisa membedakan bahwa suatu kata tidak ada dalam bahasanya. Misalnya, penutur
bahwa look dan careful adalah bahasa Inggris sedangkan lihat dan hati-hati bukan
bahasa Inggris. Ini segera bisa menunjukkan bahwa careful dibentuk dari
dipahami penutur suatu bahasa. Menurut model teoretis Halle morfologi terdiri dari
atas:
disingkat KPK
4. Dictionary atau kamus. Ini ditambahkan oleh Halle dua tahun kemudian
sebagai tempat menyimpan morfem yang telah lolos dari KPK dan Saringan.
Dalam komponen DM bisa diketemukan dua macam anggota yakni akar kata
dan berbagai macam afiks baik yang bersifat infleksional maupun derivasional yang
relevan.
tersebut diatur. Dalam kaitan ini tugas KPK membentuk kata dari morfem-morfem
yang berasal dari DM. KPK bersama-sama dengan DM menentukan kata yang bena-
benar kata atau bentuk potensial dalam bahasa yakni satuan lingual yang belum ada
dalam realitas tetapi mungkin akan ada karena memenuhi persyaratan. Dengan kata
lain KPK bisa menghasilkan bentuk-bentuk yang memang merupakan kata serta
bentuk-bentuk lain yang sebenarnya memenuhi segala persyaratan untuk menjadi kata
sehingga kata-kata yang aktual saja boleh lewat saringan. Terdapat tiga jenis
semantik, misalnya kata recital dalam bahasa Inggris yang tidak merujuk pada apa
saja yang di "recite", tetapi hanya merujuk pada suatu pertunjukan konser oleh
seorang pemain tunggal dan transmission hanya merujuk pada proses pemindahan
gigi pada mobil, (2) ideosinkrasi fonologis yang berujud ketidaklaziman fonologis
dan (3) ideosinkrasi leksikal yakni keanehan yang menyangkut fakta dalam bahasa di
mana suatu bentuk yang seharusnya ada tetapi nyatanya tidak terdapat dalam bahasa
bersangkutan seperti misalnya bahasa Inggris mengenal kata arrival tetapi tidak
sedangkan bentuk yang tidak berterima tertahan di saringan, Walaupun Halle tidak
menganggap kamus sebagai komponen morfologi namun dari uraiannya nampak jelas
kamus ini merupakan unit yang sama penting dengan ketiga komponen sebelumnya.
Model Teori Morfologi Generatif Morris Halle dalam Badulu & Herman (2005 :31)
Model diatas terdiri atas empat komponen, yaitu : (1) Daftar Morfem (DM),
(2) Kaidah Pembentukan Kata (KPK), (3) Filter, dan (4) Kamus. Cara Kerja model
Halle dapat digambarkan sebagai berikut yang dikutip oleh scalise (1984:31) dalam
1. friend
2. boy
hood
3. recite [+penyim-
al pangan]
4. ignore X [-LI]
ation
5. mountain
al
1) Kata friend masuk kamus sebagaimana adanya, yaitu melewati KPK dan filter
tanpa mengalami perubahan. Kata itu harus dicantumkan dalam DM, karena
2) Kata boyhood tidak terdapat dalam DM ; yang ditemukan adalah boy dan
hood. Kedua unsur ini digabungkan oleh KPK ; dan hasilnya, yaitu boyhood,
masuk ke dalam kamus tanpa memperoleh sesuatu ciri idiosingkretis; kata itu
bersifat regular dari segi sintaksis dan semantis. Perubahan ciri [-abstrak] dari
pangkal boy menjadi [+abstrak] dalam output dilakukan oleh KPK, menurut
Halle.
3) Kata recital dibentuk secara regular oleh KPK, seperti boyhood, sebelum kata
4) Kata ignoration dibentuk oleh KPK, tetapi diblokir oleh filter, yang
memberinya ciri [-LI]; kata ini dipandang sebagai suatu kata yang mungkin
dirangkaikan dengan verba menurut kaidah, bukan dengan nomina. Kata ini
sebagai berikut:
Kelompok yang kedua dipelopori oleh Aronoff yang memakai kata dan bukan
(1988:33).Untuk kepentingan ilmu itu sendiri (dalam hal ini linguistik pada umumnya
dan morfologi pada khususnya) berbagai konsep dan model teoretis muthakhir
tersebut perlu diujicobakan atau diaplikasikan pada studi kasus dalam berbagai
bahasa sehingga keunggulan dan kelemahan teori tersebut bisa diidentifikasi serta
Aronoff pada tahun 1976 dalam tulisannya yang berjudul Word Formation
dalam pembentukan kata didasarkan pada kata bukan morfem. Penolakan konsep
Halle tentang morfem sebagai dasar pembentukan kata didasarkan pada dengan
argumentasi bahwa morfem tidak memiliki makna tetap, dan dalam hal tertentu
menurunkan kata yang bermakna dari dasar yang bermakna. Oleh karena itu hanya
kata yang dapat dijadikan unit dasar dalam pembentukan kata. Meskipun demikian
istilah 'kata' sebagai dasar ini harus diartikan sebagai leksem sehingga teori Aronoff
morphology.
Sebuah kata baru dibentuk dengan menerapkan kaidah beraturan pada kata
tunggal yang telah ada. Kata baru dan kata yang sudah ada merupakan anggota dari
katagori leksikal utama. Hipotesis yang dikemukakan Aronoff tersebut bertitik tolak
dari sejumlah syarat seperti: (1) sesuai dengan namanya, kata dasarnya haruslah kata
(bukan yang lebih kecil dari kata), (2) kata dasar tersebut haruslah kata-kata yang
benar-benar ada dan kata yang potensial tidak dapat menjadi dasar KPK, (3) KPK
hanya berlaku untuk kata tunggal dalam arti bahwa kata dasar ini bukan berwujud
frase ataupun bentuk terikat, (4) Input dan output dari KPK haruslah menjadi anggota
katagori leksikal yang utama. Dengan demikian kata dalam konteks ini merupakan
dalam bahasa. Walaupun demikian Aronoff (1976:43) memiliki mekanisme lain yang
disebut blocking yang mencegah munculnya suatu kata karena sudah ada kata lain
yang mewakilinya.
kata lain melalui KPK. Tetapi kenyataannya cukup banyak contoh dalam bahasa
(Inggris) pada penambahan afiks mensyaratkan adanya perubahan ujud kata dasar
(seperti nominate dan evacuate + -ee menjadi nominee dan evacuee setelah melalui
proses pemenggalan ate) yang perlu ditampung melalui suatu aturan. Dalam kaitan
dinamakan Adjustment Rules yang menangani alternasi akibat faktor-faktor lain yang
termasuk dalam komponen leksikal. Kaidah penyesuaian ini terdiri atas (1) aturan
pemenggalan (truncation rule) dengan cara menghilangkan sebuah morfem yang ada
dalam kata dasar ditambah afiks dan (2) aturan alomorfi (allomorphic rules) dengan
menyesuaikan bentuk morfem atau kelas morfem dalam lingkungan di mana morfem
tersebut berada.
Model Aronoff tersebut di atas yang dikutip oleh Scallise (1984:68) dalam
Komponen Leksikal
Kamus
KPK
Kaidah
Penyesuaian
Output
Baik Halle maupun Aronoff tidak menangani masalah pembentukan kata yang terdiri
dari dua kata atau lebih (compounding). Di samping itu mengenai isi dan kodrat dari
elemen yang ada dalam DM, baik Halle maupun Aronoff mengabaikan bentuk dasar
yang statusnya bukanlah kata (seperti kata prakatagorial juang, temu dan anjur dalam
bahasa Indonesia) maupun afiks dan akan memiliki status sebagai kata hanya setelah
Inggris ini bertumpu pada perpaduan konsep dan model teoretis Halle di tahun 1973
Menurut Halle dalam Scalise (1984:43) studi morfologi generatif terdiri dari
empat komponen yang terpisah yaitu (1) daftar morfem (list of morphemes) (2)
kaidah pembentukan kata (word formation rules) (3) saringan (filter) dan (4) kamus
(dictionary). Komponen pertama adalah DM yang terdiri dari dua macam anggota
yaitu morfem dan bermacam-macam afiks, baik yang derivasional maupun yang
infleksional. Butir leksikal dalam DM tidak cukup diberikan dalam bentuk urutan
yang relevan. Contohnya dalam bahasa Inggris ditemukan morfem write yang harus
dijelaskan sebagai kata verbal, tidak berasal dari bahasa Latin dan konjugasinya
Berdasarkan uraian di atas dapat dilihat bahwa kata-kata yang telah dibentuk
dengan kaidah Struktur Asal (SA), proses asimilasi dan Struktur Lahir (SL). Selain
itu kata-kata yang potensial ada yang diberi idiosinkresi baik idiosinkresi fonologi,
leksikal maupun semantik. Kata-kata tersebut dibentuk dan (akan) dipakai oleh
masyarakat pemakai bahasa sebagai alat komunikasi. Jadi bentuk bunyi apapun yang
digunakan manusia sebagai pengguna bahasa itulah kenyataan bahasa. Hal lain yang
menunjukkan perbedaan antara morfologi generatif dan struktural dapat dilihat pada
Berdasarkan uraian di atas, teori struktural tidak digunakan pada penelitian ini
pembentukan kata pada saat ini. Hal ini sesuai dengan tujuan morfologi yang
dikatakan oleh Katamba bahwa salah satu tujuan morfologi tidak hanya memahami
dan membentuk kata yang ada (real) dalam bahasa mereka tetapi juga membentuk
kata-kata potensial yang belum digunakan pada saat mereka berujar. Berdasarkan
temuan data dalam penelitian ini, proses pembentukan katanya dibatasi hanya dengan
dua fonem atau lebih serta pemberian tanda-tandanya, disebut morfofonologi atau
atau perubahan fonem sebagai akibat dari adanya proses morfologi, baik proses
fonem terjadi oleh pengaruh lingkungan yang dimasuki oleh tiap morfem. Menurut
lingkungannya ini, yaitu yang menyangkut hubungan antara morfem dan fonem,
yang biasa terjadi dan yang pada umumnya ditujukan untuk memperlancar
pengucapan dikarenakan : (1) asimilasi, (2) disimilasi, (3) elipsis, (4) metatesis, dan
(5) sandi.
lagi atas asimilasi progresif dan asimilasi regresif. Asimilasi progresif ini terjadi jika
bahasa Turki /gitti/ ia pergi berasal dari /git/ + /di/. Bunyi /t/ mempengaruhi bunyi
/d/ sehingga bunyi itu cenderung menyerupakan diri dan terjadi asimilasi bunyi total.
Sedangkan asimilasi regresif terjadi bila bunyi yang mengalami perubahan dan
akan menjauhi persamaan dengan fonem sekitarnya. Dengan kata lain terjadi kelainan
bunyi demi kepentingan kelancaran ucapan. Misalnya, pada kata belajar. Proses ber
+ ajar belajar menunjukkan kelainan itu. Hal ini terjadi karena bunyi /r/ yang
Elipsis yaitu perubahan morfofonemik yang terjadi bila dua bunyi yang sama
dalam proses pembentukan kata, salah satu bunyi itu tanggal atau hilang. Misalnya,
pada kata bekerja. Proses ber + kerja bekerja. Terjadi penghilangan bunyi /r/ demi
kelancaran pengucapan.
sinkronis jarang terjasi dalam suatu bahasa. Dalam bahasa Indonesia terdapat kata
sintesis dua fonem vocal atau lebih menjadi satu fonem vocal. Misalnya, pada kata
bhineka diturunkan dari bhina + ika bhineka. Bunyi vokal /a/ bertemu /i/ dan
yang secara normal menjadi kata yang beraturan. Pembentukan kata-kata secara
produktif tersebut menggunakan satu atau beberapa proses morfologis. OGrady dan
morfem yang ada. Derivasi adalah suatu proses, pembentukan suatu kata baru dari
suatu pangkal, biasanya melalui penambahan suatu afiks. Derivasi juga merupakan
suatu proses pembentukan kata yang menghasilkan leksem baru (menghasilkan kata-
kata yang berbeda dari paradigma yang berbeda), dalam pembentukan derivasi
yang mencakup penggabungan dua kata (dengan atau tanpa afiks) untuk
kata dalam bahasa Jepang, dan hal ini tergantung bentuk katanya, ada juga yang dapat
dilihat dengan memegang strukturnya, dan ada juga yang tidak terlalu rumit yaitu
dapat dengan menebak susunannya saja. Penentuan struktur secara sintaksis lebih
mudah bagi bahasa yang memiliki banyak perubahan bentuk kata, tetapi bagi bahasa
yang miskin akan perubahan kata, maka harus dilihat dari awal sampai akhir urutan
pembentukan kata. Jadi pembentukan kata tergantung juga sifat dari sebuah bahasa.
dapat dikatakan juga dengan proses morfemis. Proses morfermis adalah cara
yang lain. Proses pembentukan kata dalam bahasa Jepang disebut dengan istilah
gokeisei. Proses pembentukan kata pada umumnya terbagi menjadi tiga bagian yaitu
proses yang paling umum dalam bahasa. Proses afiksasi terjadi apabila sebuah
morfem terikat dibubuhkan atau dilekatkan pada sebuah morfem bebas secara urutan
lurus. Berdasarkan posisi morfem terikat terhadap morfem bebas tersebut, proses
afiksasi dapat dibedakan atas (1) pembubuhan depan (awalan atau prefiks), (2)
pembubuhan tengah (sisipan atau infiks), (3) pembubuhan akhir (akhiran atau infiks),
morfemis atau pengimbuhan afiks (afiksasi) yang terpenting adalah afiksasi, yaitu
pengimbuhan afiks yang terbagi atas : prefiks, sufiks, infiks, dan konfiks. Prefiks yaitu
pengimbuhan yang diletakkan di sebelah kiri kata dalam proses yang disebut dengan
afiksasi, misalnya pengimbuhan kata { men--} yang ada dalam kata : mendapat,
mencuri, mencuci, mengubah dan sebagainya. Contoh lain adalah pengimbuhan kata
jepang yang disebut setsuji yang memegang peranan penting. Setsuji menurut Matsuka
Takahashi dan Takubo Yukinori (1995: 62) yaitu adalah suatu unsur yang menyusun
kata (kata jadian), yang merupakan tambahan pada kata dasar (jadian kata dasar) yang
di belakang kata dasar disebut setsubigo". Sedangkan menurut Tokieda Seiki (1955:
583) pengertian Setsuji adalah kata yang tidak digunakan sebagai kata tunggal yang
berdiri sendiri, biasanya digabungkan dengan kata lain dan dilafalkan dalam satu
Setsuji adalah salah satu unsur susunan kata. Biasanya ditambahkan pada kata
lain (kata dasar/goki), tidak berdiri sendiri serta unsur yang membentuk satu kata
dengan diucapkan pada sambungannya. Tambahan lagi menurut Iori dkk (2000:
396) Setsuji adalah kata atau bagian yang membentuk inti kata yang melekat pada kata
dasar (goki) dan merupakan bentuk yang menyatakan arti secara tata bahasa dan lain-
Afiksasi (setsuji) terbagi atas prefiks (settouji), sufiks (setsubiji) dan infiks
(secchuuji). Namun dalam bahasa Jepang afiksasi yang paling dominan adalah prefiks
(settouji) dan sufiks (setsubiji). Dalam bahasa Jepang prefiks disebut dengan settouji
(). Prefiks yaitu pengimbuhan yang diletakkan atau yang dimbuhkan di depan
keluarga), dan lain-lain. Dalam bahasa Jepang sufiks disebut dengan setsubiji (
kata dalam proses yang disebut dengan sufiksasi, misal pemberian akhiran /-an/ pada
kata : tuntutan, makanan, minuman dan sebagainya Contoh dalam bahasa Jepang
di dalam kata itu, misalnya (patuk - pelatuk, tali- temali, gigi - gerigi). Koizumi
(1993:95) menyatakan bahwa dalam bahasa Jepang infiks disebut dengan (secchuuji).
Infiks dalam bahasa Jepang secara umum kurang terlihat. Namu terlihat pada infiks /-
sebagian di sebelah kiri dan sebagian yang lain di sebelah kanan kata, misal
konfiks.
Menurut Sugimoto dan Masashi (1994:35), jika dilihat dari segi jenis kata,
2) Setsuji yang berasal dari bahasa Cina (Kango), yaitu : FU: (Fumei =
3) Setsuji yang berasal dari bahasa Asing (Gairaigo), yaitu : MAN () : (Eigyo-
= satu kilogram)
mi ().
= belum menikah) .
)dai ()sai ()
ka () in ()shi ()
muki ()you ()
kaum wanita)
7) Afiks (sufiks) yang menyatakan sedang, waktu / masa, yaitu : chuu ()ji
()dai ()
)gimi ()ppoi ( )
= kekanak-kanakan)
)ryou ()dai ()
tinggi).
11) Afiks (sufiks) yang lain, yang termasuk di dalamnya antara lain : teki ()
seperti
seperti wanita).
Seperti telah dijelaskan di atas bahwa dalam proses pembentukan kata, setsuji
memegang peranan penting. Tetapi suatu kata juga dapat dibentuk dengan cara
menggabungkan beberapa morfem bebas. Hasil dari pembentukan kata dalam bahasa
disebut dengan kata kajian (haseigo). Proses pembentukannya bisa dalam formula :
settouji + morfem atau morfem + setsubiji. Awalan (O-, GO-, SU-, MA-, KA-,
SUQ-) dapat digolongkan ke dalam settouji, sedangkan akhiran (sa, mi, teki, suru)
Fungsi settouji O- dan GO- yaitu sebagai penghalus dan digunakan hanya
untuk orang lain. Fungsi settouji SU- untuk menyatakan arti (asli/polos) sehingga
pada kosakata (sude = tangan kosong) yang berasal dari kata (te = tangan) berubah
(kemurnian atau ketulusan), settouji KA- untuk menyatakan arti (sangat), dan KO-
yang menyatakan arti (agak/sedikit). Contoh kata yang merupakan hasil dari
takasa (ketinggian)
amami (manisnya)
undousuru (berolahraga)
keizaiteki (ekonomis)
Akhiran -SA dan -MI digunakan untuk mengubah adjektiva menjadi nomina,
tetapi tidak semua adjektiva bisa diikuti oleh (-SA) dan (-MI). Begitu pula dengan -
SURU merupakan verba istimewa dalam bahasa Jepang, karena bisa berfungsi
sebagai verba transitif dan juga sebagai verba intransitif. Tidak semua nomina bisa
diikuti oeh -SURU, melainkan terbatas pada nomina yang menyatakan arti suatu
perbuatan atau nomina verba saja. Akhiran -TEKI digunakan untuk mengubah
nomina menjadi adjektiva atau adverbia. Misalnya kata keizaiteki yang berasal dari
Seperti dalam bahasa Indonesia, bahasa jepang juga memiliki kata ulang yang
merupakan hasil reduplikasi dari fonem , suku kata. Stem, akar kata , kata majemuk
dll. Reduplikasi adalah perulangan morfem dasar baik secara utuh atau sebagiannya
bahasa Jepang yaitu kata majemuk yang berasal dari pengulangan kata tunggal yang
sama yang berfungsi untuk memperkuat arti, bentuk jamak pengulangan aksi dan
akaaka (merah). Sedangkan dalam kamus linguistik reduplikasi yaitu proses dari
hasil pengulangan satuan bahasa sebagai alat fonologis dan gramatikal, misalnya :
ieie (rumah-rumah).
bentuk satuan gramatikal, baik seluruhnya maupun sebagian, baik disertai variasi
fonem maupun tidak. Tambahan lagi menurut Chaer (2003:182), mengatakan bahwa
secara umum, reduplikasi merupakan proses morfermis yang mengulang kata dasar,
bahasa Jepang reduplikasi selain disebut dengan istilah juufuku juga disebut dengan
jougo dan choujo. Jougo adalah kata yang dibentuk dengan mengulang satuan atau
unit morfem yang berupa kata atau satu bagian dari kata tersebut.
1) Kanzen Jougo (
rumah).
2) Bubun Jougo
menghirup).
3) Onkoutai Jougo
(wakawakashii = kemuda-mudaan).
proses ulangan. Koizumi (1993:108) juga membagi kata ulang (juufuku) yang berasal
1. Gitaigo ()
bendanya atau bunyi bahasa yang timbul dengan melihat keadaan bendanya.
2. Giongo ()
Komposisi yang disebut juga dengan istilah kata majemuk dalam bahasa
Jepang disebut dengan fukugo. Kata majemuk (fukugo) yaitu penggabungan dua buah
Jepang adalah merupakan penggabungan beberapa morfem yang terbagi atas berbagai
variasi. Defenisi yang lain dari kata majemuk (fukugougo atau disebut juga
gouseigo) yaitu kata yang terbentuk sebagai hasil penggabungan beberapa morfem
yoku)
nikui)
+ mono)
(kirei + suki)
jiro)
gure)
+ oki)
(tachi + yomi)
+ gao)
(ashi + koshi)
(suki + kirai)
terbentuk dari penggabungan beberapa buah morfem isi. Beberpa contohnya yang
niku)
(uri + kiru)
dan toujigo. Karikomi merupakan akronim yang berupa suku kata (silabis) dari
a) Contoh Karikomi/Shouryaku :
b) Contoh Toujigo
dengan jenis perubahan verba, tetapi tidak ada perubahan ke dalam bentuk bentuk
perintah (meireikei). Ini hal yang wajar karena adjektiva (keiyoushi) dalam bahasa
Jepang, yaitu kata yang berfungsi untuk menunjukkan keadaan, keinginan, sifat, atau
perasaan, maupun permintaan yang diakhiri dengan huruf /i/ dan /na/ atau /da/.
Dimana dalam bentuk meireikei merupakan sebagai bentuk perintah atau menyuruh
yaitu fonem /i/ (), sedangkan pada na-keiyoushi yang disebut juga keiyoushi-da,
(bunsetsu) walaupun tanpa bantuan kelas kata lain. Setiap kata yang termasuk i-
keiyoushi selalu diakhiri silabel /i/ ( ) dalam bentuk kamusnya, dapat menjadi
predikat, dan dapat menjadi kata keterangan yang menerangkan kata lain dalam suatu
kalimat. Kelas kata ini mempunyai potensi untuk menjadi sebuah kalimat.
leksikalnya benci, dan kirei yang makna leksikalnya cantik atau bersih atau indah,
berakhiran silabel /i/ (). Tetapi kata-kata tersebut termasuk dalam na-keiyoushi
karena dalam bentuk kamusnya berakhiran silabel /na/ () yaitu yuumei-na, kirai-na,
dan kirei-na.
Dalam bahasa Jepang perubahan bentuk kata yaitu terjadi pada kelas kata
(katsuyou). Dalam penelitian ini akan dibahas perubahan bentuk kata atau konjugasi
1. Mizenkei ()
atau belum dilakukan atau belum terjadi sampai sekarang. Bentuk ini diikuti fonem
/u/. Misalnya pada bentuk i-keiyoushi pada kata mijikai miijikarou. Pada bentuk
2. Renyoukei ()
karena bentuk ini pun dapat diikuti yougen. Bentuk ini diikuti ta, aru, tau naru.
Misalnya pada bentuk i-keiyoushi pada kata chiisai chisaku naru, chisakatta. Pada
bentuk na-keiyoushi pada kata kirai na kirai datta, kirai de aru, kirai ni naru.
3. Shuushikei ()
sewaktu mengakhiri ujaran. Pada bentuk i-keiyoushi akan tetap berakhiran /i/ (),
sedangkan pada bentuk na-keiyoushi akan berakhiran /da/ (). Misalnya pada bentuk
i-keiyoushi pada kata mazui mazui. Pada bentuk na-keiyoushi pada kata yuumei na
yuumei da.
Rentaikei yaitu bentuk yang diikuti taigen seperti kata toki. Bentuk dasar
ataupun bentuk kamus pada adjektiva (keiyoushi) nya diikuti kata toki. Misalnya
pada bentuk i-keiyoushi pada kata takai takai toki. Pada bentuk na-keiyoushi pada
5. Kateikei ()
diikuti oleh ba. Pada bentuk i-keiyoushi akan menggunakan bentuk kereba
pada bentuk i-keiyoushi pada kata muzukashii muzukashiikereba. Pada bentuk na-
6. Meireikei ()
perintah. Dalam adjektiva tidak banyak mengalami perubahan bentuk dan biasanya
tetap ada dalam bentuk asalnya atau bentuk kamusnya. Seperti telah disampaikan
diatas bahwa adjektiva sendiri sudah merupakan suatu kelas kata yang menyatakan
keadaan atau keinginan seseorang. Namun kelas kata lain seperti dalam kelas kata
atau mengungkapkan perasaan (psikis), perasaan yang dimiliki manusia, keadaan, dan
kesan penilaian terhadap sifat sesuatu yang berkaitan dengan orang, benda atau suatu
hal, serta keadaan makhluk hidup dan manusia. Menurut Kitahara dalam Sudjianto
dan Ahmad Dahidi (2004:154). Adjektiva (keiyoushi) adalah kelas kata yang
menyatakan sifat atau keadaan sesuatu, dan keiyoushi dengan sendirinya dapat
merupakan salah satu jenis kata. Kesan dan pertimbangan terhadap semua yang tidak
bersifat watak dan keadaan suatu peristiwa, keadaan seseorang, dan lain-lain.
Menunjukkan perasaan emosi, rasa, dan lain-lain yang dimiliki oleh seseorang
dengan bahasa yang mengaplikasikan kata sifat dan termasuk pada kata yang dapat
menjadi predikat.
Menurut Situmorang (2007:28) jika dilihat dari huruf kanjinya, kata Keiyoushi
= yang dibaca Kei yang berarti bentuk, rupa, corak atau potongan.
= yang dibaca You yang berarti lukisan, perumpamaan, kiasan atau ibarat.
3) Adjektiva dapat diberikan kata keterangan untuk mengingkari sesuatu hal dengan
kata ingkar tidak yang biasanya dipakai untuk bentuk negatif /-nai/. Kata
keterangan yang mengikuti adjektiva dalam bentuk ingkar yang memiliki arti
sakit
dengan akhiran /i/ () dan /na/ (). Adjektiva (keiyoushi) dalam bahasa Jepang ada
dua macam golongan yaitu adjektiva I yang berakhiran huruf-i atau /i/ () disebut
Adjektiva (keiyoushi) bahasa Jepang merupakan kelas kata yang dapat berdiri
sendiri dan memiliki makna sendiri. Adjektiva (keiyoushi) bahasa Jepang merupakan
kelas kata yang dapat mengalami perubahan bentuk (katsuyoukei) yang disebut
merupakan kelas kata yang sangat fleksibel dalam pembentukan kata adjektiva itu
sendiri.
(keiyoushi) dalam bahasa Jepang hampir sama dengan perubahan verba, hanya saja
dalam keiyoushi tidak ada perubahan dalam bentuk meireikei (perintah). Hal ini di
karenakan makna adjektiva (keiyoushi) dalam bahasa Jepang merupakan kata yang
berfungsi untuk menunjukkan keadaan, sifat, atau perasaan yang diakhiri dengan
dan penempatan posisi dalam kalimat pada tata bahasanya yang kebanyakan sama
nomina (meishi).
Menurut Arakawa (1989:39), bahwa fungsi utama kata sifat atau adjektiva
(keiyoushi) dalam bahasa Jepang adalah sebagai atributif dan predikatif. Oleh karena
fungsinya sebagai atributif maupun predikatif dalam kalimat maka pelekatan dan
penggunaannya pun memiliki aturan tertentu dalam tata bahasa Jepang. Pemakaian
kata sifat bahasa Jepang diletakkan di depan kata benda (Hukum MD). Bahasa Jepang
yang juga menggunakan Hukum MD, seperti Bahasa Inggris. Jadi hal ini kebalikan
indah)
Berikut beberapa fungsi serta penggunaan kata sifat dalam bahasa Jepang :
Dalam hal ini, kata sifat berfungsi untuk menerangkan sifat/keadaan dari kata
benda. Untuk kata adjektiva-i (i-keiyoushi), langsung digabungkan dengan kata benda
yang dimaksud tanpa mengalami prubahan bentuk kamusnya atau perubahan bentuk
Adjektiva-I + nomina
Adjektiva-na () + nomina
Jika akan menggunakan dua atau lebih kata sifat dalam sebuah frase yang
menerangkan kata benda, maka bentuk yang digunakan adalah bentuk asli (tidak
mengalami konjugasi).
2. Fungsi Predikatif
digunakan sebagai predikat, berfungsi seperti kata kerja. Pada fungsi predikatif,
menjelaskan kata kerja, kata sifat dan kata keterangan. Untuk adjektiva-i (i-
Adjektiva + verba
Adjektiva + verba
Kitahara (1995:82) bahwa adjektiva-i (i-keiyoushi) sering disebut juga keiyoushi yaitu
kelas kata yang menyatakan sifat atau keadaan sesuatu, dengan sendirinya menjadi
Setiap kata yang termasuk i-keiyoushi selalu diakhiri /i/ (). Dalam bentuk
kamusnya, adjektiva-i (i-keiyoushi) dapat menjadi predikat, dan juga dapat menjadi
kata keterangan yang menerangkan kata lain dalam sebuah kalimat. Adjektiva-i (i-
keiyoushi) selalu diakhiri hiragana /i/ () seperti /ii/, /ai/, /oi/, /ui/. Akhiran /i/ ()
Ini adalah okurigana yaitu bagian yang akan berubah-ubah pada saat terjadi konjugasi
(mimpi), kirai (benci), dan kirei (cantik, indah, bersih). Contohnya pada kata kirei na
diakhiri biasanya ditulis dengan kanji jadi dapat dilihat bahwa itu bukan
, maka dapat diketahui bahwa itu tidak mungkin merupakan adjektiva-i. Ini
1. Ciri-ciri i-keiyoushi
2. Jenis-jenis i-keiyoushi
secara objektif. Misalnya : takai (tinggi; mahal), nagai (panjang), hayai (cepat),
kelas kata sifat golongan II. Iwabuchi (1989:96) menyatakan bahwa na-keiyoushi
sering disebut juga keiyoudoushi (yang termasuk jenis jiritsugo) yaitu kelas kata yang
sedangkan artinya mirip dengan adjektiva (keiyoushi), maka kelas kata ini diberi
nama keiyoudoushi.
dulu sebelum bendanya. Lalu, /na/ dapat dianggap seperti "yang" pada bahasa
Indonesia: yang berfungsi menghubungkan benda dan sifatnya. Hanya saja, dalam
tanpa ada perubahan arti, pada bahasa Jepang adjektiva-na selalu membutuhkan /na/
bahwa "suatu nomina" bersifat "suatu adjektiva" dengan menggunakan partikel topik
keadaan benda. Namun, karena tidak mungkin "suatu adjektiva" menjadi "suatu
seseorang mungkin saja bersifat pendiam, tapi mengatakan bahwa sifat pendiam
sendirinya dapat membentuk sebuah kalimat (bunsetsu), dapat berubah bentuk dan
mungkin).
2. Jenis-jenis na-keiyoushi
zannen da (menyesal), yukai da (senang), fushig ida (aneh), suki da (suka), kirai
terdahulu yang telah ditulis dan diteliti oleh para peneliti linguistik umum maupun
peneliti dan pembelajar ilmu bahasa Jepang yang memiliki relevansi dalam kajian
Hirai Masao (1989), Shimizu (2000), Kitahara (1995), Hamzon Situmorang (2007),
Sutedi Dedi (2003), Sudjianto dan Ahmad Dahidi (2004), dan Adriana Hasibuan
Para peneliti di atas banyak menuangkan ide, pendapat maupun teori yang
menjadi acuan dalam penelitian ini. Peneliti mengambil beberapa penelitian terdahulu
yang menjadi acuan dasar munculnya suatu masalah fenomena kebahasaan yang
Jepang yang diteliti khususnya bagi para pembelajar bahasa Jepang dari Indonesia.
bahasan baru mengenai pembentukan kata dan perubahan bentuk kata pada adjektiva
bahasa Jepang.
Penelitian ini menjelaskan proses morfologis kelas kata verba (doushi) dalam
bahasa Jepang. Peneliti menguraikan proses morfologis kelas kata verba mulai dari
2. Afiks (suffiks) Bahasa Jepang yang Menyatakan Orang oleh Renariah (2005)
3. Afiksasi Bahasa Bali :Sebuah kajian morfologi Generatif oleh I Wayan Simpen
(2008)
morfologi generatif.
4. Analisis Makna Kata Chiisai, Komakai dan Kuwashii dalam Kalimat Bahasa
Penelitian ini membahas secara spesifik salah satu jenis adjektiva-i (i-
keiyoushi) yaitu kata chisaii, komakai, dan kuwashii yang memiliki kesamaan makna
pada penggunaannya dalam kalimat. Setelah itu peneliti meninjau kajian makna dari