0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
143 tayangan12 halaman

Pemahaman Patent Ductus Arteriosus

Dokumen tersebut membahas tentang Patent Ductus Arteriosus (PDA), yaitu kegagalan penutupan pembuluh darah (duktus arteriosus) yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonalis pada bayi. PDA dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti prematuritas, hipoksia, atau faktor genetik. Gejalanya bervariasi mulai dari tanpa gejala hingga sesak nafas tergantung ukuran PDA. Pemeriksaan diagnostik
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
143 tayangan12 halaman

Pemahaman Patent Ductus Arteriosus

Dokumen tersebut membahas tentang Patent Ductus Arteriosus (PDA), yaitu kegagalan penutupan pembuluh darah (duktus arteriosus) yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonalis pada bayi. PDA dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti prematuritas, hipoksia, atau faktor genetik. Gejalanya bervariasi mulai dari tanpa gejala hingga sesak nafas tergantung ukuran PDA. Pemeriksaan diagnostik
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah duktus arteriosus yang tetap terbuka.
Duktus arteriosus adalah suatu pembuluh darah yang menghubungkan aorta
(pembuluh arteri besar yang mengangkut darah ke seluruh tubuh) dengan arteri
pulmonalis (arteri yang membawa darah ke paru-paru), yang merupakan bagian dari
peredaran darah yang normal pada [Link] ductus arteriosus paten kecil sering
tidak menyebabkan gejala. Bayi dengan patent ductus arteriosus kemungkinan besar
kesulitan mengalami kenaikan berat badan. Sedangkan anak-anak dengan ductus
arteriosus paten kemungkinan tidak seaktif anak normal.
Patent Ductus Arteriosus (PDA) adalah penyakit jantung bawaan yang
disebabkan karena kegagalan dari penutupan Ductus Arteriosus (DA) pada saat dan
beberapa saat setelah kelahiran. PDA ini terjadi pada kurang lebih 1 dari 2000
kelahiran hidup. Atau mencapai 5-10% dari seluruh penyakit jantung bawaan. Bahkan
jika diestimasikan, penderita PDA yang tanpa komplikasi mencapai 1 dari 500
kelahiran hidup (Schneider & Moore 2006).
Komplikasi yang sering terjadi pada PDA adalah gagal jantung, disfungsi
renal, Necrotizing Enterocolitis, perdarahan intra ventrikular, gangguan nutrisi dan
perkembangan, dan juga merupakan faktor risiko berkembangnya penyakit paru
kronis. Gejala dan tanda yang timbul akibat komplikasi PDA tergantung dari besarnya
(diameter) ukuran lubang dan status kardiovaskular pada pasien. Pasien dengan PDA
dapat ditemukan tanpa gejala (tidak tampak secara klinis tetapi dapat terdiagnosis
secara tidak sengaja dengan echocardiography (ECHO) yang dilakukan saat
pemeriksaan lain yang berukuran kecil, sedang atau besar.

B. TUJUAN
1. Tujuan Instruksional Umum
Makalah ini disusun agar mahasiswa dapat mengetahui tentang Patent Ductus
Arteriosus.
2. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah disampaikannya materi tentang Patent Ductus Arteriosus diharapkan
mahasiswa dapat :
a. Mengetahui definisi patent ductus arteriosus.
b. Mengetahui etiologi dari patent ductus arteriosus.
c. Mengetahui manifestasi klinis dari patent ductus arteriosus.
d. Mengetahui patofisiologi dari patent ductus arteriosus.
e. Mengetahui pemeriksaan diagnostik dari patent ductus arteriosus.
f. Mengetahui penatalaksanaan dari patent ductus arteriosus.
g. Mengetahui asuhan keperawatan dari patent ductus arteriosus.
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. DEFINISI
Paten duktus arteriosus adalah kegagalan penutupan duktus arteriosus
(pembuluh arteri yang menghubungkan aorta dengan arteri pulmonalis) pada bayi
berusia beberapa minggu pertama (Wong, 2009).
Patent Duktus Arteriosus (PDA) adalah penyakit jantung bawaan yang
asianotik yang dimana tetap terbukanya duktus arterious setelah lahir, yang
menyebabkan dialirkannya darah secara langsung dari aorta (tekanan lebih tinggi ) ke
dalam arteri pulmoner (tekanan lebih rendah) (Schumacher, 2011).
Duktus anteriosus paten adalah terbukanya duktus anteriosus yang secara
fungsional menetap beberapa saat setelah lahir. Penutupan fungsional duktus,
normalnya terjadi segera setelah lahir. Akan tetapi, pada bayi yang lahir prematur ada
juga duktus yang baru menutup setelah enam minggu. Pada bayi prematur, duktus
paten biasanya mempunyai susunan anatomi yang normal dan keterbukaan
merupakan akibat dari hipoksia dan imaturitas. Duktus yang tetap terbuka setelah bayi
cukup bulan berusia beberapa minggu jarang menutup secara spontan.

B. ETIOLOGI
Prematuritas dianggap sebagai penyebab terbesar timbulnya duktus arteriosus
paten. Pada bayi prematur, gejala cenderung timbul sangat awal, terutama bila disertai
dengan sindrom distres pernapasan. Duktus arteriosus paten juga lebih sering terdapat
pada anak yang lahir di tempat yang tinggi atau di daerah pegunungan. Hal ini terjadi
karena adanya hipoksia, dan hipoksia ini menyebabkan duktus gagal menutup
(Wahab, 2009).
Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui secara
pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan
angka kejadian penyakit jantung bawaan :
1. Faktor Prenatal :
a. Ibu menderita penyakit infeksi : Rubella.
b. Ibu alkoholisme.
c. Umur ibu lebih dari 40 tahun.
d. Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang memerlukan insulin.
e. Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu.
2. Faktor Genetik :
a. Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung bawaan.
b. Ayah / Ibu menderita penyakit jantung bawaan.
c. Kelainan kromosom seperti Sindrom Down.
d. Lahir dengan kelainan bawaan yang lain. (Pusat Kesehatan Jantung dan
Pembuluh Darah Nasional Harapan Kita, 2001).

C. MANIFESTASI KLINIS
1. Patent Duktus Arteriosus kecil
Patent duktus arteriosus kecil dengan diameter 1,5-2,5 mm biasanya tidak
memberi gejala. Tekanan darah dan tekanan nadi dalam batas normal. Jantung
tidak membesar. Kadang teraba getaran bising di sela iga II kiri sternum. Pada
auskultasi terdengar bising kontinu, machinery murmur yang khas untuk Patent
Duktus Arteriosus, di daerah subklavikula kiri. Bila telah terjadi hipertensi
pulmonal, bunyi jantung kedua mengeras dan bising diastolik melemah atau
menghilang (Cassidy, 2009).
2. Patent Duktus Arteriosus sedang
Patent Duktus Arteriosus sedang dengan diameter 2,5-3,5 mm biasanya timbul
sampai usia dua sampai lima bulan tetapi biasanya keluhan tidak berat. Pasien
mengalami kesulitan makan, seringkali menderita infeksi saluran nafas, namun
biasanya berat badannya masih dalam batas normal. Anak lebih mudah lelah tetapi
masih dapat mengikuti permainan (Kumar, 2008).
3. Patent Duktus Arteriosus besar
Patent Duktus Arteriosus besar dengan diameter >3,5-4,0 mm menunjukkan gejala
yang berat sejak minggu-minggu pertama kehidupannya. Ia sulit makan dan
minum, sehingga berat badannya tidak bertambah. Pasien akan tampak sesak
nafas (dispnea) atau pernafasan cepat (takipnea) dan banyak berkeringat bila
minum (Kumar, 2008).

D. PATOFISIOLOGI
Duktus arteriosus berfungsi sebagai penghubung antara arteria pulmonalis dan
aorta ketika bayi masih berada dalam uterus. Dalam sirkulasi fetal, keadaan ini
memungkinkan darah diejeksikan oleh jantung kanan (yang berisi darah teroksigenasi
dari ibu) untuk melintas dari arteria pulmonalis ke dalam aorta dengan memintas
(membypass) paru-paru, disamping paru-paru itu sendiri belum dapat melakukan
oksigenasi pada darah tersebut. Pada saat dilahirkan, duktus arteriosus akan menutup.
Oleh karena suatu hal pembuluh darah ini tidak menutup secara sempurna. Bila tidak
menutup maka disebut paten duktus arteriosus (PDA). Konsekuensi hemodinamika
pada PDA bergantung pada ukuran duktus dan tahanan vaskular pulmonalis. Darah
yang mengandung oksigen memintas dari aorta yang bertekanan tinggi melewati
duktus menuju ke dalam arteri pulmonalis yang bertekanan rendah sehingga terjadi
pirau kiri ke kanan. Adanya aliran yang berlebih melalui arteri pulmonalis,
memungkinkan terjadinya hipertensi pulmonal. Hipertensi pulmonal ini menyebabkan
ventrikel kanan bekerja lebih berat dan akhirnya mengalami tidak saja dilatasi, tapi
juga hipertrofi ventrikel kanan sehingga menyebabkan pembesaran jantung bagian
kanan. Sementara itu aliran darah aorta cenderung berkurang, sehingga mengalami
penurunan aliran darah keseluruh tubuh.

E. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Radiologi
Pada simpel PDA gambaran radiografi tergantung pada ukuran defeknya. Jika
defeknya kecil biasanya jantung tidak tampak membesar. Jika defeknya besar
kedua atrium kiri dan ventrikel kiri juga tampak membesar (Sondheimer, 2007).
2. Elektrokardiografi
Pada gambaran EKG bisa terlihat normal atau mungkin juga terlihat manifestasi
dari hipertrofi dari ventrikel kiri. Hal tersebut tergantung pada besar defeknya.
Pada pasien dengan hipertensi pulmonal yang di sebabkan peningkatan aliran
darah paru, hipertrofi pada kedua ventrikel data tergambarkan melalui EKG atau
dapat juga terjadi hipertrofi ventrikel kanan saja (Sondheimer, 2007).
3. Ekokardiografi
Pada pemeriksaan ekokardiografi dapat melihat visualisasi secara langsung dari
duktus tersebut dan dapat mengkonfirmasi secara langsung drajat dari defek
tersebut. Pada bayi kurang bulan dengan suspek PDA dapat dilihat dari
ekokardiografi untuk mengkonfirmasi diagnosis. Mendeteksi jika sudah terjadi
shunt dari kiri ke kanan(Sondheimer, 2007).
4. Kateterisasi dan Angio Kardiografi
Pemeriksaan kateterisasi jantung hanya dilakukan bila terdapat hipertensi
pulmonal pulmonal, yaitu dimana secara Doppler ekokardiografi tidak terlihat
aliran diastolik. Pada kateterisasi didapat kenaikan saturasi oksigen di arteri
pulmonalis. Bila tekanan di arteri pulmonalis meninggi perlu di ulang
pengukurannya dengan menutup PDA dengan kateter balon. Angiografi ventrikel
kiri dilakukan untuk mengevaluasi fungsinya dan juga melihat kemungkinan
adanya defek septum ventrikel atau kelainan lain yang tidak terdeteksi dengan
pemeriksaan ekokardiografi (Sondheimer, 2007).

F. PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan Medis
Tujuan penatalaksanaan patent duktus arteriosus yang tidak terkomplikasi
adalah untuk menghentikan shunt dari kiri ke kanan. Pada penderita dengan
duktus yang kecil,penutupan ini di tujukan untuk mencegah endokarditis,
sedangkan pada duktus sedang dan besar untuk menangani gagal jantung
kongestif dan mencegah terjadinya penyakit vaskular pulmonal. Penatalaksanaan
ini di bagi atas terapi medikamentosa dan tindakan bedah.
1) Medikamentosa
Terapi medikamentosa diberikan terutama pada duktus ukuran kecil,
dengan tujuan terjadinya kontriksi otot duktus sehingga duktus menutup. Jenis
obat yang sering di berikan adalah:
a. Indometasin
Merupakan inhibitor sintesis prostaglandin yang terbukti efektif
mempercepat penutupan duktus arteriosus. Tingkat efektifitasnya terbatas
pada bayi kurang bulan dan menurun seiiring menigkatnya usia paska
kelahiran. Efeknya terbatas pada 34 minggu kehidupan.
b. Ibuprofen
Merupakan inhibitor non selektif dari siklooksigenase yang berefek pada
penutupan duktus arteriosus. Studi klinik membuktikan bahwa ibuprofen
memiliki efek yang sama dengan indometasin pada pengobatan duktus
arteriosus pada bayi kurang bulan(Gomella et al, 2004).
Pada penelitian Rahayuningsih dianjurkan untuk memberikan indometasin
pada bayi prematur dengan berat badan lahir kurang dari 1500, sebelum
gejala gejala tersebut timbul dan dikenal sebagai terapi
[Link] indometasin intravena dengan dosis 0,2 mg/kg BB
sebagai dosis awal, yang kemudian dilanjutkan dengan dosis kedua dan
ketiga sebanyak 0,1 mg/kg BB yang diberikan dengan interval 12-24 jam
menunjukkan hasil yang bermakna (kelompok yang mendapat indometasin
mengalami penutupan sebanyak 79% dibandingkan plasebo sebanyak
35%).Beberapa peneliti mengemukakan bahwa dengan pemberian
indometasin pada 12 jam pertama kehidupan dapat menurunkan kejadian
PDA, sedangkan peneliti lain memberikannya pada usia 2-8 [Link]
efek dari indometasin terhadap penutupan duktus arteriosus cukup bagus,
ternyata tidak semua bayi PDA yang mendapat terapi indometasin menutup
secara permanen. Sekitar 30% duktus yang telah menutup dengan
pemberian indometasin dapat terbuka kembali.
2) Tindakan bedah
Tindakan terbaik untuk menutup duktus adalah dengan melakukan
operasi. Pada penderita dengan PDA kecil, dilakukan tindakan bedah adalah
untuk mencegah endarteritis atau komplikasi lambat lain. Pada penderita
dengan PDA sedang sampai besar, penutupan di selesaikan untuk menangani
gagal jantung kongestif atau mencegah terjadinya penyakit vaskuler pulmonal.
Bila diagnosis PDA ditegakkan, penangan bedah jangan terlalu ditunda
sesudah terapi medik gagal jantung kongestif telah dilakukan dengan cukup
(Bernstein, 2008). Karena angka kematian kasus dengan penanganan bedah
sangat kecil kurang dari 1% dan risiko tanpa pembedahan lebih besar,
pengikatan dan pemotongan duktus terindikasi pada penderita yang tidak
bergejala. Hipertensi pulmonal bukan merupakan kontraindikasi untuk operasi
pada setiap umur jika dapat dilakukan pada kateterisasi jantung bahwa aliran
shuntmasih dominan dari kiri ke kanan dan bahwa tidak ada penyakit vaskuler
pulmonal yang berat (Bernstein, 2008).
Ada beberapa teknik operasi yang dipakai untuk menutup duktus,
seperti penutupan dengan mengunkan teknik cincin dan metode ADO
(Amplatzer Duct Occluder). ADO berupa coil yang terdiri dari beberapa
ukuran yang seseuai dengan ukuran duktus dan dimasukkan ke dalam duktus
dengan bantuan kateterisasi jantung melalui arteri femoralis sampai ke aorta
(Wahab, 2006).
Sesudah penutupan, gejala gejala gagal jantung yang jelas atau yang
baru dengan cepat menghilang. Biasanya ada perbaikan segera pada
perkembangan fisik bayi yang telah gagal tumbuh. Nadi dan tekanan darah
kembali normal dan bising seperti mesin (machinery like) menghilang. Bising
sistolik fungsional pada daerah pulmonal kadang kadang dapat menetap,
bising ini mungkin menggambarkan turbulen pada arteria pulmonalis yang
tetap dilatasi. Tanda tanda roentgenografi pembesaran jantung sirkulasi
pulmonal berlebih akan menghilang selama beberapa bulan dan
elektrokardiogram menjadi normal.
2. Penatalaksanaan Keperawatan
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PENDERITA PATENT DUCTUS ARTERIOSUS

A. Pengkajian
1. Identitas klien
Data diri klien meliputi : nama, umur, pekerjaan, pendidikan, alamat, diagnosa
medis, dan lain lain.
PDA sering ditemukan pada neonatus, tapi secara fungsional menutup pada 24
jam pertama setelah kelahiran. Sedangkan secara anatomic menutup dalam 4
minggu pertama. PDA ( Patent Ductus Arteriosus) lebih sering insidens pada bayi
perempuan 2 x lebih banyak dari bayi laki-laki. Sedangkan pada bayi prematur
diperkirakan sebesar 15 %. PDA juga bisa diturunkan secara genetik dari orang
tua yang menderita jantung bawaan atau juga bisa karena kelainan kromosom.
2. Keluhan Utama
Pasien dengan PDA biasanya merasa lelah, sesak napas
3. Riwayat penyakit sekarang
Pada pasien PDA, biasanya akan diawali dengan tanda-tanda respiratory
distress, dispnea, tacipnea, hipertropi ventrikel kiri, retraksi dada dan hiposekmia
4. Riwayat penyakit terdahulu
Perlu ditanyakan apakah pasien lahir prematur atau ibu menderita infeksi dari
rubella.
5. Riwayat penyakit keluarga
Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita penyakit PDA
karena PDA juga bisa diturunkan secara genetik dari orang tua yang menderita
penyakit jantung bawaan atau juga bisa karena kelainan kromosom
6. Riwayat Psikososial
Meliputi tugas perasaan anak terhadap penyakitnya, bagaimana perilaku anak
terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya, perkembangan anak, koping
yang digunakan, kebiasaan anak, respon keluarga terhadap penyakit anak, koping
keluarga dan penyesuaian keluarga terhadap stress.
7. Activity Daily Life (ADL)
a. Nutrisi
Kebutuhan ASI/ cairan/ susu pada bayi pada hari pertama bayi lagi
banyak tidur terjadi penurunan berat badan 10% BBVL kembali 7 10 kg.
b. Eliminasi
Mekonium
c. Istirahat Tidur
Lebih banyak tidur.
d. Aktifitas
Kurang aktif dalam bergerak.
e. Personal Hygiene
Untuk kebersihan diri dalam batas normal
8. Pemeriksaan fisik, meliputi
a. Pernafasan B1 (Breath)
Nafas cepat, sesak nafas, bunyi tambahan (marchinery murmur), adanya otot
bantu nafas saat inspirasi, retraksi
b. Kardiovaskuler B2 (Blood)
Jantung membesar, hipertropi ventrikel kiri, peningkatan tekanan darah
sistolik, edema tungkai, clubbing finger, sianosis.
c. Persyarafan B3 (Brain)
Otot muka tegang, gelisah, menangis, penurunan kesadaran.
d. Perkemihan B4 (Bladder)
Produksi urin menurun (oliguria)
e. Pencernaan B5 (Bowel)
Nafsu makan menurun (anoreksia), porsi makan tidak habis
f. Muskuloskeletal/integument B6 (Bone)
Kemampuan pergerakan sendi terbatas, kelelahan

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan kongestif paru
2. Penurunan curah jantung
3. Intoleran aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen
4. Risiko keterlambatan perkembangan berhubungan dengan ketidakadekuatan
oksigen dan nutrien pada jaringan
5. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
penurunan metabolisme
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Patent Duktus Arteriosus (PDA) adalah penyakit jantung bawaan yang
asianotik yang dimana tetap terbukanya duktus arterious setelah lahir, yang
menyebabkan dialirkannya darah secara langsung dari aorta (tekanan lebih tinggi )
ke dalam arteri pulmoner (tekanan lebih rendah).
Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui secara
pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada
peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan yaitu faktor prenatal dan
faktor genetik.
Pada bayi prematur sering di samarkan oleh masalah-masalah lain dengan
premature (misalnya sindrome gawat nafas) pemberian endome-thacin (inhibitor
prostaglandin) untuk mempermudah penutupan duktus.
B. SARAN
Kami selaku penulis menyarankan kepada para pembaca baik individu, serta
teman-teman, agar kiranya dapat memperhatikan mengalirnya darah dari aorta
yang bertekanan tinggi ke arteri pulmonal yang bertekanan rendah. Terimakasih
semoga bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria, Howard Butcher, dkk. 2013. Nursing Interventions Classification


(NIC), 6th Edition. Indonesia : Elsievier Inc

Herdman,T [Link] International Inc. Diagnosis Keperawatan:


Definisi & Kasifikasi 2015-2017, Ed. [Link] : Buku Kedokteran EGC

Moorhead, Sue, Marion Johnson, dkk. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC),
5th [Link]: Elsievier Inc

Wahab, A.S. 2006. Kardiologi anak: penyakit jantung kongenital yang tidak
sianotik. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Anda mungkin juga menyukai