Pengobatan Atorvastatin pada PJK
Pengobatan Atorvastatin pada PJK
Disusun Oleh :
Kadek dwipa Dyatmika
16710036
Pembimbing :
i
LEMBAR PENGESAHAN
LAPSUS
SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSU. DR WAHIDIN SUDIRO HUSODO KOTA MOJOKERTO
JUDUL
Disusun Oleh :
Mengetahui
Dokter pembimbing
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas karuniaNya saya
dapat menyelesaikan tugas lapsus. Tugas Lapsus ini disusun untuk memenuhi
tugas kepaniteraan klinik di SMF Ilmu Penyakit dalam dengan judul
Saya mengucapkan terima kasih kepada dr. Dhani Tri Wahyu Nugroho,
[Link] selaku dosen pembimbing serta teman-teman yang turut membantu dalam
penyusunan lapsus ini hingga selesai.
Saya menyadari lapsus ini masih banyak kekurangan, sehingga kritik dan
saran yang membangun sangat saya harapkan demi kesempurnaan laporan kasus
ini. Semoga bermanfaat bagi pembaca.
Penulis
iii
DAFTAR ISI
iv
BAB I
LAPORAN KASUS
1.2 Anamnesis
1
5. Riwayat Pengobatan
Konsumsi obat pegel linu dari toko
TB :167 cm
BB : 58 kg
Keadaan Gizi :IMT= 21,48
2. Kepala Leher
A/I/C/D : -/-/-/+
Trakea : Tidak didapatkan deviasi
JVP : Normal (5+2 cm H20)
KGB : Tidak didapatkan pembesaran KGB
3. Thorax
Paru
Inspeksi :Bentuk dada simetris tidak ada nafas yang tertinggal, tidak
adaretraksiICS
Palpasi :Fremitus suara dan fremitus raba simetris kanan dan kiri
Perkusi :Sonor,
Auskultasi : Vesikuler (+/+) Ronki Basah Halus (-/-)
Jantung
Inspeksi : Ictus cordis (+)
Palpasi : Heave (-), Thrill (-)
2
Perkusi : Batas Kanan Bawah ICS V Parasternal Line Dextra
Batas Kiri Bawah ICS IVMidclavikula sinistra
Auskultasi :S1/S2tunggal-ireguler, murmur (-)
Abdomen
Inspeksi :Datar
Auskultasi :Bising Usus Normal
Perkusi :Timpani
Palpasi :Abdomen Supel, nyeri tekan (+), Hepar-Lientidak didapatkan
pembesaran
Ekstremitas : Akral Hangat, Oedem tungkai (-), Sianosis perifer (-),
CRT < 2 detik
1.5 Elektrokardiogram
24 oktober 2017
3
Interpretasi EKG :
Rate : 1500 / 18 kotak kecil = 83 x/menit
Irama : Aritmia
Axis : Normal
Hipertrofi : Tidak terdapat hipertrofi
Infark : InfarkInferior (ST elevasi II, III, aVF), infark lateral (V5-V6) dan (ST Depresi
VI, V2, V3)
Lain-Lain : PVC
1.6 Radiologi
Tanggal 24 oktober 2017
Kesan : soft tissue dalam batas normal, bone dalam batas normal, tidak ada deviasi
trakea, jantung dalam batas normal, pulmo dalam batas normal
1.7 Diagnosis
Diagnosis primer : STEMI anterior dan OMI inferior
Diagnosis Sekunder :-
Diagnosis komplikasi :
4
1.8 Diagnosa Penyakit Jantung
Diagnosa Etiologi : Penyakit jantung koroner
Diagnosa Anatomi : STEMI anterior dan OMI inferior
Diagnosa Fisiologi : kompensata ?
Nonmedikametosa
Edukasi pasien dan keluarga tentang penyakit, penanganan, serta komplikasi
dari penyakit yang diderita oleh pasien.
Medikamentosa
Tirah baring
Oksigen 3 lpm
Infus Nacl 0,9% 500cc life line
Loading aspilet 2x80mg , CPG 1x 75mg
Nitrogliserin pump 10 mikro/menit
Lovenox (iv)
Pro iccu
Kateter urin
5
EKG datang di ICCU
24 oktober 2017 (15.00)
Rate : 60x/menit
Irama :sinus
Axis :normal
Hipertrofik: -
Infark :infark inferior (ST Elevasi II, III, AVF), infark anterior (ST Elevasi V1, V2, V3,V4 )
Lain-lain:-
Rate Follow
1.12 :63x/menit
Up Pasien
Irama :sinus
25Axis
oktober 2017
:normal
Hipertrofik: -
Infark : :infark inferior (ST Elevasi II, III, AVF), infark anterior (ST Elevasi V1, V2, V3,V4 )
Lain-lain:ventrikuler couplet
6
25 oktober 2017
S O A P
Nyeri dada (+), GCS : 456 STEMI Anterior Tirah baring
Keringat dingin Keadaan umum : lemah OMI inferior O2 nasal 3 Lpm
(+), mual (+), Kesadaran : Compos Mentis Inf Nacl 0,9% 20 tpm LL
muntah (-) Vital Sign Lovenox 2x0,6
T: 35.8oC
badan terasa Ranitidin 2x1 amp
N:72 x/menit, kuat
lemas NTG pump 10mcg
TD: 150/88 mmHg
RR: 20x/m Clopidogrel 0-0-75mg
K/L A- /I- /C- /D- Syr sucralfat 3xC1
Cor :S1,S2 tunggal, irreguler Alprazolam 0-0-0,5mg
Pulmo vesikuler +/+ Atrovastastin 0-0-40mg
Ronki Basah Halus Basal -/- Asiplet 100mg-0-0
Wheezing -/- Coralan 2x5
Abdomen
-supel, H/L tidak ada
Planning Diagnosa
pembesaran
Ekg Basal
-BU (+) normal, nyeri tekan (-)
Extremitas
Akral hangat, oedem tungkai (-)
Rate :50-65x/menit
Irama : Aritmia
Axis :LAD
Hipertrofik: -
Infark : infark inferior (II,III,AVF elevasi), ST Depresi (V1-V3), T inversi (II,III,AFV dan V4-V6)
Lain-lain: ventrikel ekstrasisitol trigemini
7
EKG 4 Jam setelah NTG ditingkatkan menjadi 40mcg
Rate :50-65x/menit
Irama : Aritmia
Axis :LAD
Hipertrofik: -
Infark : infark inferior (II,III,AVF elevasi), ST Depresi (V1-V3), T inversi (II,III,AFV dan V4-V6)
Lain-lain: ventrikel ekstrasisitol trigemini
8
26 oktober 2017
S O A P
Nyeri dada GCS : 456 SKA STEMI Tirah baring
berkurang, Keadaan umum : lemah inferior O2 nasal 3 Lpm
pusing (+), Kesadaran : Compos Mentis Aritmia Inf Nacl 0,9% 20 tpm LL
sesak (-), Vital Sign DM Tipe 2 Syringe pump Dopamin 3-
pasien tidak bisa T: 36.1oC
7gamma Stop
tidur N:78 x/menit
Inj Enoxaparin 2x0,4cc SC
TD: 100/60 mmHg
RR: 18x/m Inj MgSo4 20% 1 gr /iv
K/L A- /I- /C- /D- pelan
Cor :S1,S2 tunggal, irreguler Asetosal 1 x 100mg
Pulmo vesikuler +/+ CPG 1x75 mg
Ronki Basah Halus Basal --/- Rosuvastatin 10 mg 0 0 2
Wheezing -/- tab
Abdomen Amiodaron 200mg 1-0-1
-supel, H/L tidak ada
pembesaran
Diet DM KV
-BU (+) normal, nyeri tekan (-)
Extremitas
Akral hangat, oedem tungkai (-)
UP=1700cc/24jam
Rate :75-107x/menit
Irama :aritmia
Axis :LAD
Hipertrofik: -
Infark : Infark Inferior (ST Elevasi II, III, AVF) dan T inversi (II,III,AVF dan V5-V6 )
Lain-lain:PVC dan SVC 9
27 oktober 2017
S O A P
Pasien tidak ada GCS : 456 SKA STEMI Tirah baring
keluhan Keadaan umum : baik inferior O2 nasal 3 Lpm (bila sesak)
Kesadaran : Compos Mentis Inf Nacl 0,9 % 20 tpm LL
aritmia
Vital Sign Inj Enoxaparin 2x0,4cc SC
T: 36.6oC, DM Tipe 2
Asetosal 1 x 100mg
N:75 x/menit,
CPG 1x75 mg
TD: 120/70 mmHg
RR: 20x/m Rosuvastatin 10 mg 0 0 2 tab
K/L A- /I- /C- /D- Amiodaron 200mg 1-0-1
Cor :S1,S2 tunggal, ireguler Diet DM KV
Pulmo vesikuler +/+
Ronki Basah Halus Basal --/-
Wheezing -/-
Abdomen
-supel, H/L tidak ada
pembesaran
-BU (+) normal, nyeri tekan (-)
Extremitas
Akral hangat, oedem tungkai (-)
10
merah
EKG Basal
Rate : 75-88x/menit
Irama : aritmia
Axis : LAD
Hipertrofik: -
Infark : Infark inferior (ST Elevasi II, III, AVF) T inversi (II, III, AVF dan V5 -V6)
Lain-lain: PVC
28 oktober 2017
S O A P
11
Tidak ada GCS : 456 SKA STEMI inferior Tirah baring
keluhan Keadaan umum : baik Bradikardi simptomatis O2 nasal 3 Lpm (bila sesak)
Kesadaran : Compos Mentis Aritmia Inf Nacl 0,9 % 20 tpm LL
Vital Sign DM Tipe 2 Inj Enoxaparin 2x0,4cc SC
T: 36.6oC Asetosal 1 x 100mg
N:66 x/menit CPG 1x75 mg
TD: 110/70 mmHg Rosuvastatin 10 mg 0 0
RR: 20x/m 2 tab
K/L A- /I- /C- /D- Amiodaron 200mg 1-0-1
Cor :S1,S2 tunggal, irreguler Diet DM KV
Pulmo vesikuler +/+
Ronki Basah Halus Basal --/-
Wheezing -/- Planning Diagnosa
Abdomen Ekg Basal
-supel, H/L tidak ada
pembesaran
-BU (+) normal, nyeri tekan (-)
Extremitas
Akral hangat, oedem tungkai (-)
CRT< 2 detik
Ekg basal
12
29 oktober 2017
S O A P
Tidak ada GCS : 456 SKA STEMI inferior Tirah baring
keluhan Keadaan umum : baik DM Tipe 2 O2 nasal 3 Lpm (bila sesak)
Kesadaran : Compos Mentis Hiponatremi Inf Nacl 0,9 % 20 tpm
Vital Sign Inj Enoxaparin 2x0,4cc SC
T: 36oC Asetosal 1 x 100mg
N:76 x/menit CPG 1x75 mg
TD: 120/70 mmHg Rosuvastatin 10 mg 0 0
RR: 22/m 2 tab
K/L A- /I- /C- /D- Amiodaron 200mg 1-0-1
Cor :S1,S2 tunggal, reguler Glyceril Trinitrat 1 0 -0
Pulmo vesikuler +/+ Diet DM KV
Ronki Basah Halus Basal --/-
Wheezing -/-
Abdomen Planning Diagnosa
-supel, H/L tidak ada pembesaran H/I cek SE sore
-BU (+) normal, nyeri tekan (-) Ekg basal
Extremitas
Akral hangat, oedem tungkai (-)
CRT < 2 detik
EKG basal
EKG basal
14
S O A P
Tidak GCS : 456 SKA STEMI inferior Tirah baring
ada Keadaan umum : baik DM Tipe 2 Inf Nacl 0,9 % 20 tpm LL
keluhan Kesadaran : Compos Mentis KSR 3 x 1
Vital Sign Asetosal 1 x 100mg
T: 36oC CPG 1x75 mg
N:70 x/menit Rosuvastatin 10 mg 0 0 2 tab
TD: 120/80 mmHg Amiodaron 200 mg 1 0 - 1
RR: 18x/m Glyceril Trinitrat 1 0 0
K/L A- /I- /C- /D- Diet DM KV
Cor :S1,S2 tunggal, reguler
Pulmo vesikuler +/+ KRS
Ronki Basah Halus Basal --/- Asetosal 1 x 100mg
Wheezing -/- CPG 1x75 mg
Abdomen Rosuvastatin 10 mg 0 0 2 tab
-supel, H/L tidak ada Amiodaron 200 mg 1 0 - 1
pembesaran Glyceril Trinitrat 1 0 0
-BU (+) normal, nyeri tekan (-) Glibenclamid 5 mg 1- 0 0
Extremitas Metformin 3 x 500 mg
Akral hangat, oedem tungkai (-)
CRT< 2 detik Planning
Up=1300 cc/24 jam warna Post MRS 1 minggu, kontrol poli
merah jantung
Ekokardiografi
EKG basal
15
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
16
2. Arteri Left Anterior Descending (LAD)
Arteri LAD berjalan di parit interventrikular depan sampai ke apeks jantung,
men-suplai: bagian depan septum melalui cabang-cabang septal dan bagian
depan ventricular kiri melalui cabang-cabang diagonal, sebahagian besar
ventrikel kiri dan juga berkas Atrio-ventrikular. Cabang-cabang diagonal
keluar dari arteri LAD dan berjalan menyamping mensuplai dinding antero
lateral ventrikel kiri; cabang diagonal bisa lebih dari satu (Kaligis, 2012).
17
(sirkulasidominan kanan). Cabang PDA men-suplai dinding bawah
ventricular kiri dan bagian bawah septum (Kaligis, 2012).
5. Vena koroner
Sebagian besar darah vena disalurkan melalui pembuluh vena yang berjalan
berdampingan dengan arteri koroner. Vena kardiak bermuara di sinus
koronarius yaitu suatu vena besar yang berakhir di atrium kanan. Sebagian
kecil darah dari sirkulasi koroner datang langsung dari otot jantung melalui
vena-vena kecil dan disalurkan langsung ke dalam ke empat ruang jantung
(Kaligis, 2012).
7. Sinus Koronarius
Berjalan ke kanan di dalam parit atrioventrikular. Berakhir di dinding
belakang atrium kanan, diantara pangkal vena cava inferior dan celah
atrioventrikular dan menerima darah vena kardiak sedang dan kecil (Kaligis,
2012).
8. Vena Kardiak Sedang dan Kecil (Middle Cardiac Vein dan Small Cardiac
Vein/Vena Cordis Parva)
Vena kardiak sedang berjalan didalam parit interventrikular belakang dan
vena kardiak kecil berjalan di parit atrioventrikular berdampingan dengan
RCA (Kaligis, 2012).
18
Pendarahan otot jantung berasal dari aorta melalui dua pembuluh koroner
utama, yaitu arteri koroner kanan dan arteri koroner kiri. Kedua arteri ini keluar
dari aorta. Arteri koroner kiri berjalan dibelakang arteri pulmonal sebagai arteri
koroner kiri utama. Arteri ini kemudian bercabang menjadi arteri desendens
anterior kiri dan arteri sirkumfleks kiri. Arteri desendens anterior kiri berjalan
pada sulkus interventrikuler hingga ke apeks jantung. Arteri sirkumfleks kiri
berjalan pada sulkus arterio-ventrikuler dan mengelilingi permukaan posterior
jantung. Arteri koroner kanan berjalan di dalam sulkus atrio-ventrikuler ke
kanan bawah. Cabang pertama adalah arteri atrium anterior kanan untuk
mendarahi nodus sino-atrial, dan cabang lain adalah arteri koroner desenden
posterior yang akan mendarahi nodus atrio-ventrikuler (Oemar, 1996). Anatomi
pembuluh darah jantung dapat dilihat pada Gambar 1 dan gambar 2.
19
Gambar 2. Anatomi Arteri Koroner Jantung
C. Patofisiologi
20
yang menyebabkan vasokonstriksi sehingga memperberat gangguan aliran darah
coroner. Berkurangnya aliran darah coroner menyebabkan iskemia miokard.
Pasokan oksigen yang berhenti selama kurang lebih 20 menit menyebabkan
miokardium mengalami nekrosis (infark miokard).
Infark miokard tidak selalu disebabkan oleh oklusi total pembuluh darah
coroner. Obstruksi subtotal yang disertai vasokonstriksi pembuluh darah dinamis
juga dapat menyebabkan terjadinya iskemia dan nekrosis jaringan otot jantung
(miokard). Akibat dari iskemia, selain nekrosis, adalah gangguan kontraktilitas
miokardium sehingga karena proses hibernating dan stunning (setelah iskemia
hilang), disritmia dan remodeling ventrikel (perubahan bentuk, ukuran, dan
fungsi ventrikel). Sebagian pasien Sindroma Koroner Akut tidak mengalami
koyak plak seperti diterangkan di atas. Mereka mengalami Sindroma Koroner
Akut karena obstruksi dinamis akibat spasme lokal dari arteri koronaria
epikardial (Angina Prinzmetal). Penyempitan arteri koronaria, tanpa spasme
maupun thrombus dapat diakibatkan oleh progresi plak atau restenosis setelah
dilakukan IKP (Intervensi Koroner Perkutan). Beberapa faktor ekstrinsik, seperti
demam, anemia, tirotoksikosis, hipotensi, takikardia, dapat menjadi pencetus
terjadinya Sindroma Koroner Akut yang telah memiliki plak aterosklerosis
(PERKI, 2015).
21
Gambar 3. Proses Terjadinya Sindroma Koroner Akut
D. Faktor Resiko
1. Non Modifiable
a. Umur
Umumnya orang yang meninggal oleh karena penyakit jantung coroner
adalah orang yang berumur lebih dari 65 tahun. Pada peningkatan umur,
wanita yang mengalami serangan jantung lebih besar memiliki
kemungkinan untuk meninggal dibandingkan pria.
2. Modifiable
22
a. Merokok
b. Hipertensi
c. Dislipidemia
d. Hipertrigliserida
e. Inaktivitas Fisik
f. Obesitas
g. Diabetes Mellitus
h. Alkohol
i. Stres (Kepribadian tipe A)
j. Diet dan Nutrisi
E. Manifestasi Klinis
2. Angina Atipikal
a. Nyeri yang menjalar hampir sama dengan angina tipikal.
b. Rasa gangguan pencernaan (indigestion).
c. Sesak nafas yang tidak dapat diterangkan.
d. Rasa lemah mendadak yang sulit diuraikan.
23
e. Sering dijumpai pada usia muda (25-40 tahun) atau usia lanjut (>75
tahun), wanita, diabetes mellitus, gagal ginjal kronis, atau
demensia.
F. Diagnosis
iskemia miokard dapat berupa nyeri dada yang tipikal (angina tipikal) atau
menit atau persisten (>20menit). Keluhan angina tipikal sering disertai keluhan
sinkop .Presentasi angina tipikal yang sering dijumpai antara lain nyeri di daerah
yang tidak dapat diterangkan, atau rasa lemah mendadak yang sulit diuraikan
(PERKI, 2015).
banding. Regurgitasi katup mitral akut, suara jantung tiga (S3), ronkhi basah
24
Pada pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) dapat dijumpai perubahan
berupa deprsi ST segmen atau inverse T, elevasi segmen ST, dimana pada awal
dapat dijumpai Left Bundle Branch Block (LBBB) baru yang juga merupakan
penanda adanya kerusakan miokard ialah enzim CK (Creatinin Kinase) dan CK-
MB. Enzi mini meningkat setelah 4 jam serangan. Selan enzim tersebut, juga
dapat dinilai Troponin T dan I yang biasanya menningkat 3-12 jam setelah
infark (31)
adanya angina pada waktu istirahat/aktivitas ringan serta pada EKG dapat
0,1 mV pada dua lead yang berdampungan serta enzim jantung yang tidak
dada khas infark pada saat istirahat selama > 20 menit, gambaran depresi
segmen ST 0,05 mV atau inverse gelombang T> 0,1mV pada dua lead
berdampingan dengan prominent R atau rasio R/S > 1 dan peningkatan enzim
dada khas infark yang terjadi pada saat istirahat selama > 20 menit, elevasi
segmen ST baru pada J point pada 2 lead yang berdampingan dengan cut point
0,1mV pada semua lead selain V2-V3 dimana pada lead V2-V3 cut point ialah
0,2mV pada pria atay 0,15MV pada wanita dan peningkatan serial dari enzim
jantung. (31).
G. Terapi
25
Langkah awal penanganan Sindroma Koroner Akut yaitu Morfin, Oksigen,
Nitrat, Aspirin (disingkat MONA), yang tidak harus diberikan semua atau
bersamaan
arteri < 95% atau yang mengalami distress respirasi (Kelas I-C)
3. Suplemen Oksigen dapat diberikan pada semua pasien SKA dalam 6 jam
4. Aspirin 160-320mg diberikan segera pada semua pasien yang tidak diketahui
(Kelas I-C)
(Kelas I-B)
yang masih berlangsing saat tiba diruang gawat darurat (Kelas I-C). jika
nyeri dada tidak hilang dengan satu kali pemberian, dapat diulang setiap 5
26
menit sampai maksimal 3 kali. Nitrogliserin intravena diberikan pada pasien
yang tidak responsive dengan terapi tiga dosis NTG sublingual (Kelas I-C).
dalam keadaan tidak tersedia NTG, isosorbid dinitrat ((ISDN) dapat dipakai
sebagai pengganti
7. Morfin sulfat 1-5mg intravena dapat diulang setiap 10-30 menit, bagi pasien
yang tidak responsuf dengan terapi tida dosis NTG sublingual (Kelas IIa-B).
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Tabel 3.1 Teori dan anamnesa
27
abdomen, sesak nafas, mengeluhkan sesak (+), pusing
sinkop (+), mules(+), mual (+)
Regurgitasi katup
mitral
Suara jantung tiga (S3)
Ronkhi basah halus
Hipotensi < 100/70
Pemeriksaan Fisik + Takipnea >24/min
Tekanan Darah tinggi >
140/90
Tachycardia >
100x/min
Takipnea >24/min
LBBB
baru/persangkaan baru
28
Takipneu + RR : 26 x/menit
Hipertensi - Tensi : 110/70 mmHg
Ronki Basah Halus Basal Paru - -
Cardiomegali - -
Edema Tungkai - Tidak didapatkan
JVP meningkat - JVP (5+2 cm) Normal
Hepatomegali / Splenomegali
- Tidak didapatkan
/ Asites
Pada pasien tidak menunjukkan gagal jantung
29
darah sistolik <90mmhg dan tanda hipoperfusi
jaringan
Berdasarkan stratifikasi risiko kelas Killip yang merupakan indikator klinis gagal jantung
sebagai komplikasi infark miokard akut ditujukkan untuk memperkirakan tingkat mortalitas
dalam 30 hari dimana pada pasien masuk dalam kelas killip 1 dengan mortalitas 6 %.
Pada gambaran EKG ditemukan di beberapa lead yang tidak ada gelombang p dengan
QRS yang melebar hal ini disebabkan karena irama yang pacemakernya adalah ventrikel.
Ini terjadi karena pacemaker di atrial (SA node, AV node, atrium) tidak bekerja sehingga
diambil alih oleh ventrikel. Gelombang ventrikel tiba-tiba lebih kuat dari SA Node dalam
memproduksi listrik. Menunjang diagnosis aritmia pada irama ventrikel (PVC).
3. Radiologi
30
3.5 Analisis Terapi
02 nasal 3 Lpm
Oksigen harus diberikan segera bagi mereka dengan saturasi O2arteri < 95% atau
yang mengalami distres respirasi. Oksigen dapat diberikan pada semua pasien SKA
dalam 6 jam pertama, tanpa mempertimbangkan saturasi 02 arteri.
Rosuvastatin 10 mg 1x 2 tab
Sebagai stabilisasi plak dan untuk menurunkan kadar LDL. Dengan sasaran terapi
untuk mencapai kadar kolesterol LDL <100 mg/dl. Menurunkan kadar kolesterol
LDL sampai <70 mg/dl mungkin untuk dicapai.
31
Ranitidin 1x 25 mg (iv)
Menetralkan asam lambung sehingga dapat digunakan untuk mengatasi nyeri ulu
hati, mual kembung dan gejala magh. Sebagai antasida, antireflux dan antiulserasi.
Diit DM KV
Pada pasien ini memndapatkan 1900 kkal
Untuk penderita DM dengan penyakit [Link] arginin, serat, asam folat, B6
dan B12.
3.6 Prognosis
Ad vitam : Dubia ad bonam
Ad Sanactionam : Dubia ad bonam
Ad Fungsionam : Dubia ad malam
3.7 Pencegahan
1. Kendalikan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, dan terutama merokok dengan
ketat.
2. Terapi antiplatelet denga aspirin dosis rendah (75-100mg) diidikasikan tanpa henti
3. DAPT (aspirin dengan dengan penghambat reseptor ADP) diindikasikan hingga 12
bulan setelah STEMI
4. Pengobatan oral dengan penyekat beta diindikasikan untuk pasien-pasien dengan gagal
ginjal atau disfungsi ventrikel kiri.
5. Profil lipid puasa harus didapatan pada setiap pasien STEMI sesegera mungkin sejak
datang
6. Statin dosis tinggi perlu diberikan atau dilanjutkan segera setelah pasien masuk rumah
sakit bila tidak ada kontraindikasi atau riwayat intoleransi, tanpa memandang nilai
kolesterol inisial
7. ACE-I diindikasikan sejak 24 jam untuk pasien STEMI dengan gagal ginjal, disfungsi
sistolik ventrikel kiri, diabetes , atau infark anterior. Sebagai alternatif dari ACE-I, ARB
dapat digunakan.
8. Antagonis aldosteron diindikasikan bila fraksi ejeksi 40 % atau terdapat gagal ginjal
atau diabetes, bila tidak ada gagal ginjal atau hiperkalemia.
32
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Sindrom koroner akut merupakan suatu kondisi iskemik miokard akut atau
infark miokard yang biasanya disebabkan oleh berkurangnya aliran darah arteri
koroner secara tiba-tiba. Berbagai faktor risiko yang menyebabkan sindrom koroner
akut adalah faktor risiko yang tidak dapat di modifikasi (Umur, jenis kelamin,
keturunan) dan yang dapat dimodifikasi (Hipertensi, merokok, dislipidemia,
diabetes melitus, obesitas dan lain-lain). Sindrom koroner akut di klasifikasikan
menjadi UAP, NSTEMI dan STEMI dengan anamnesa didapatkan keluhan nyeri
dada yang tipikal dan atipikal serta gambaran EKG dan marka jantung yang khas
pada masing-masing SKA. Penatalaksanaan pada SKA harus dilakukan sesegera
mungkin untuk mencegah terjadinya penyumbatan total pada pembuluh darah
aterosklerosis. Terapi pada SKA dapat berupa terapi farmakologis dan terapi
33
reperfusi (IKP primer dan Fibrinolisis).Pencegahan terjadinya berulang SKA adalah
dengan modifikasi gaya hidup, menghindari faktor pencetus exercise(olahraga
berat/aktivitas berat), emotional(emosi), eating(makanan tinggi lemak), exsposur to
cold (udara dingin), dan Early morning (sering terjadi serangan dini hari).
34
DAFTAR PUSTAKA
Tumade, dkk. 2016. Prevalensi sindrom koroner akut di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou
Manado periode 1 Januari 2014 31 Desember 2014. Jurnal e-Clinic (eCl),
Volume 4, Nomor 1, Januari-Juni 2016. Hal 223-230.
Yuliani, dkk. 2014. Hubungan Berbagai Faktor Risiko Terhadap Kejadian Penyakit
JantungKoroner Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2. Jurnal Kesehatan
Andalas. Vol 3 No 1. Hal 37-40.
35