Skor Risiko VBAC Menurut Flamm
Skor Risiko VBAC Menurut Flamm
(VBAC)
Referat
Universitas Andalas
Oleh :
Rizka Arsil
Peserta PPDS Obstetri dan Ginekologi
Pembimbing :
i
B. Pada persalinan ...................................................................... 32
C. Perawatan intrapartum ............................................................ 33
1. Ketika masuk ................................................................. 33
2. Pemantauan ibu............................................................. 34
3. Pemantauan janin .......................................................... 34
4. Kemajuan persalinan ..................................................... 34
5. Kala II persalinan ........................................................... 35
D. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan pada trial of labor
(partus percobaan).................................................................. 35
E. Kontraindikasi VBAC ............................................................... 36
F. Pengawasan partus percobaan .............................................. 37
G. Konseling Antenatal ................................................................ 37
BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... 42
A. Kesimpulan ............................................................................. 42
B. Saran ...................................................................................... 42
Daftar Pustaka
ii
DAFTAR TABEL
iii
DAFTAR ALGORITMA
iv
BAB I
PENDAHULUAN
1
Salah satu komplikasi dari percobaan VBAC yaitu terjadinya
ruptura uteri. Beberapa penelitian telah melaporkan adanya percobaan
VBAC yang gagal dan berakhir dengan ruptura uteri. Sebagian orang
khawatir terjadinya ruptura uteri saat percobaan VBAC, yang
mengakibatkan turunnya jumlah VBAC dinegara maju dan meningginya
angka bedah [Link] 2008Pada tahun 1999, sebuah pedoman dari
American College of Obstetricians dan Gynecologists (ACOG) dengan
jelas menyatakan bahwa pasien yang menjalani percobaan VBAC
memerlukan kehadiran dari dokter kandungan, ahli anestesi, dan staf
lainnya yang mampu melaksanakan suatu kelahiran cesarea darurat pada
percobaan VBAC yang [Link] 2008
Terdapat aturan lain yang mengatur tentang indikasi melakukan
sectio cesareaean setelah persalinan dengan sectio cesareaean, Hellman
dan Pritchard (1971) menulis pada edisi 14 Williams Obstetrics bahwa
"banyak institusi kesehatan yang melaporkan bahwa sekitar 30-40%
kelahiran pervaginam setelah bedah cesarea sebelumnya tanpa
kesulitan. "Pada tahun 1978, Merrill dan Gibbs melaporkan bahwa
persalinan melalui pervaginam relatif aman, seperti yang dilakukan di
University of Texas di San Antonio pada 83% wanita dengan
kelahirancesarea sebelumnya. Dengan demikian, terjadi peningkatan
kembali proses persalinan melalui pervaginam terutama karena tingkat
kelahiran cesarea primer terus [Link] itu, lebih banyak
bukti telah diperoleh bahwa ruptura uteri jarang terjadi pada persalinan
pervaginam setelah sectio cesareaean. Dalam upaya untuk mengatasi
tingkat kelahiran secara sectio cesareaean yang meningkat, American
College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) pada tahun 1988
merekomendasikan bahwa kebanyakan wanita dengan satu kelahiran
cesarea sebelumnya dengan insisi uterus melintang rendah, harus diberi
konseling untuk mencoba kelahiran melalui vagina pada kehamilan
berikutnya. Dengan demikian, frekuensi persalinanpervaginam setelah
2
bedah cesarea sering disebut sebagai VBAC meningkat secara signifikan.
Cunningham 2010
3
BAB II
VAGINAL BIRTH AFTERCESAREA SECTION
4
Konferensi itu juga menyebutkan bahwa sebuah percobaan VBAC
cukup aman. Dikatakan juga bahwa untuk mensukseskan program VBAC
perlu melibatkan peran pemerintah, perusahaan asuransi swasta serta
peran dari rumah sakit. OBrien 2003
A. Frekuensi
Persalinan pervaginam pada wanita dengan riwayat seksio
cesarea merupakan cara yang paling praktis dalam menurunkan rasio
persalinan secara seksio cesarea. Lebih dari 20.000 persalinan telah
diteliti dengan presentasi antara 60-80% berhasil dengan persalinan
secara [Link] 2003
Persalinan pervaginam jelas lebih menguntungkan
dibandingkan dengan seksio cesarea. Persalinan pervaginam dapat
menurunkan morbiditas ibu dan bayi, hemat biaya, memberikan
kemudahan untuk melakukan laktasi, serta memulihkan kesehatan ibu
lebih cepat. Sedangkan persalinan perabdominal akan membutuhkan
lebih banyak biaya serta menimbulkan morbiditas ibu dan bayi lebih
[Link] 2003
Meskipun upaya percobaan persalinan pervaginam setelah
riwayat cesarea sebelumnya secara praktik dapat diterima, namun
tingkat percobaan VBAC mengalami penurunan dalam 10 tahun
terakhir. Dari 1998-2002, tingkat kelahiran cesarea meningkat,
sementara tingkat VBAC menurun dari 28% menjadi 13%. Dengan
asumsi tingkat keberhasilan dari VBAC sebanyak 70% dari
keseluruhan persalinan, ini berkorelasi dengan penurunan sebesar
40% menjadi 20% dalam jumlah pasien dengan kelahiran cesarea
sebelumnya yang memilih untuk menjalani [Link] 2011Penelitian
lain menyebutkan adanya angka VBAC yang berhasil dari 3.4 per 100
wanita pada tahun 1980 menjadi 28.3 per 100 wanita pada tahun
1996. Namun, dengan adanya berbagai kontroversi dari VBAC
mengakibatkan angka VBAC menurun menjadi 16.4 per 100 wanita
pada tahun 2001. OBrien 2003
5
B. Faktor-faktor yang mempengaruhi VBAC
Awal tahun 1989, karena terdapatnya peningkatan jumlah
wanita yang melahirkan pervaginam, semakin banyak laporan yang
mengenai peningkatan angka kejadian ruptura uteri. Morbiditas dan
mortalitas perinatal mengakibatkan beberapa ahli menyarankan
bahwa VBAC mungkin lebih berisiko (Flamm, 1997; Leveno , 1999;
Scott, 1991).
Pada tahun 1998 dan 1999, American College of Obstetricians
and Gynecologists (ACOG) mengelurkan pernyataan terbaru untuk
mendukung VBAC, akan tetapi memerlukan tindakan yang hati-hati
dalam melaksanakan VBAC. Selanjutnya, terdapat presentase wanita
yang lebih sedikit untuk melakukan VBAC, dan ada peningkatan yang
sesuai pada tingkat kelahiran cesarea secara keseluruhan. Pada
tahun 2007, tingkat VBAC di AS turun ke tingkat 8.5% (Hamilton dan
rekan, 2009). Cunningham 2010
Adapun skoring menurut Flamm dan Geiger yang ditentukan
untuk memprediksi persalinan pada wanita dengan bekas seksio
cesarea adalah seperti tertera pada tabel dibawah ini:Flamm 1997
6
No Karakteristik Skor
1 Usia < 40 tahun 2
2 Riwayat persalinan pervaginam
- sebelum dan sesudah seksio cesarea 4
- persalinan pervaginam sesudah seksio cesarea 2
- persalinan pervaginam sebelum seksio cesarea 1
- tidak ada 0
3 Alasan lain seksio cesarea terdahulu 1
4 Pendataran dan penipisan serviks saat tiba di Rumah
Sakit dalam keadaan inpartu:
- 75 % 2
- 25 75 % 1
- < 25 % 0
5 Dilatasi serviks 4 cm 1
7
Weinstein dkk juga telah membuat suatu sistem skoring yang
bertujuan untuk memprediksi keberhasilan persalinan pervaginam pada
bekas seksio cesarea, adapun sistem skoring yang digunakan adalah
FAKTOR TIDAK YA
Bishop Score 4 0 4
Riwayat persalinan pervaginam sebelum seksio 0 2
cesarea
Indikasi seksio cesarea yang lalu
Malpresentasi, Preeklampsi/Eklampsi, Kembar 0 6
HAP, PRM, Persalinan Prematur 0 5
Fetal Distres, CPD, Prolapsus tali pusat 0 4
Makrosemia, IUGR 0 3
8
1. Karakteristik Maternal
9
karena beberapa faktor lain yang masih harus [Link]
2011
10
insisi ke fundal,dapat menjadi kandidatVBAC yang baik. Hal
ini berbeda dengan insisi rahim secara klasik atau berbentuk-
T, yang dianggap kontraindikasi untuk [Link] 2010
1. Klasik histerotomi
11
retrospektif yang besar, tingkat rupturauteri yang
dilaporkan sebesar 0.3-1%. Tingkat ruptura uteri sebesar
0.5-1% (1 dari 200 - 1 dari 100) biasanya didapat pada
pasien tanpa resiko tambahan lainnya. Caughey 2011
4. Berat lahir
12
1.0% untuk <4000 gram, 1.6% untuk> 4000 gram, dan 2.4%
untuk> 4250 gram. Demikian pula, Elkousy dan rekan (2003)
melaporkan bahwa bagi para wanita yang mencoba VBAC
yang tidak memiliki riwayat persalinan pervaginam
sebelumnya, risiko terjadinya ruptura uteri sebanyak dua kali
lipat jika berat lahir> 4000 gram. Akhirnya, para wanita yang
mencoba persalinan pervaginam dengan janin prematur
memiliki tingkat ruptura uteri yang lebih rendah(Durnwald dan
asosiasi, 2006; Quiones dan rekan, 2005).Cunningham 2010
Berat janin lebih dari 4000 gram berhubungan dengan 4
kali risiko untuk seksio cesarea. Angka keberhasilan VBAC
untuk janin dengan berat lebih dari 4000 gram adalah 58-73%,
sedangkan untuk janin dengan berat lebih dari 4500 gram
adalah 43%.
13
kali dibandingkan dengan pasien yang hanya 1 kali seksio
cesarea sebelumnya.
Beberapa studi telah meneliti indikasi untuk kelahiran
cesarea sebelumnya sebagai prediktor hasil dalam VBAC.
Dalam semua studi, CPD memiliki tingkat keberhasilan VBAC
terendah (60-65%), fetal distres memiliki tingkat keberhasilan
kedua terendah VBAC (69-73%). Indikasi Nonrecurrent,
seperti kelahiran sungsang, herpes, dan plasenta previa,
dikaitkan dengan tingkat keberhasilan tertinggi (77-89%).
Partus tidak maju, CPD, atau distosia sebagai indikasi yang
terkait dengan proporsi yang lebih tinggi pada pasien untuk
tidak melakukan [Link] meta analisis dari literatur yang
ada sebelum tahun 1990, Rosen et al menunjukkan bahwa
wanita dengan riwayat persalinan cesarea sebelumnya atas
indikasi CPD, mempunyai kemungkinan VBAC yang besar
untuk [Link] 2010
Risiko ruptura uteri akan meningkat dengan jumlah
kelahiran cesarea sebelumnya. Miller dan rekan (1994)
mempelajari 12.707 wanita yang menjalani percobaan VBAC.
Mereka melaporkan tingkat terjadinya ruptura uteri sebanyak
0.6%pada satu kelahiran cesarea dan 1.8% untuk wanita
dengan dua kelahiran cesarea sebelumnya. Demikian pula,
Macones dan rekan (2005) melaporkan peningkatan dua kali
lipat risiko terjadinya ruptura uteri di kalangan perempuan
mencoba persalinan melalui vagina setelah dua kelahiran
cesarea sebelumnya, yaitu risiko sebanyak 1.8%
dibandingkan dengan mereka dengan satu kali riwayat
persalinan cesarea sebelumnya yaitu 0.9%. Sebaliknya,
analisis dari database Jaringan MFMU oleh Landon dan rekan
kerja (2006) tidak menegaskan hal ini. Sebaliknya, mereka
melaporkan perbedaan yang tidak signifikan terjadinya ruptura
14
uteri pada 975 wanita dengan beberapa kelahiran cesarea
sebelumnya dibandingkan dengan 16.915 wanita dengan satu
kali riwayat operasi cesarea sebelumnya masing-masing
sebanyak 0.9% dan 0.7%.Cunningham 2010
15
bahwa pasien dengan persalinan pervaginam sebelumnya
memiliki risiko sebesar 0.2% untuk terjadinya ruptura uteri
dibandingkan dengan pasien tanpa riwayat persalinan
pervaginam sebelumnya, yaitu sebesar 1.1%. Rasio odds
yang disesuaikan mengendalikan faktor pembaur adalah 6.2.
Tidak ada penelitian yang membandingkan tingkat ruptura
uteri pada pasien dengan VBAC sebelumnya dengan mereka
yang melahirkan melalui vagina sebelum kelahiran cesarea
sebelumnya [Link] 2011
Setiap persalinan melalui vagina sebelumnya, baik
sebelum atau setelah melahirkan cesarea, secara signifikan
meningkatkan prognosis untuk melakukan persalinan melalui
vagina selanjutnya baik secara spontan atau diinduksi
(Grinstead dan Grobman, 2004; Hendler dan rekan kerja,
2004; Mercer dan rekan, 2008). Adanya riwayat persalinan
melalui vagina juga menurunkan resiko ruptura uteri
berikutnya dan morbiditas lainnya (Cahill dan rekan kerja,
2006; Zelop dan rekan, 2000). Memang, faktor prognosis yang
paling menguntungkan adalah adanya riwayat persalinan
melaui vagina sebelumnya. American College of Obstetricians
and Gynecologists (ACOG) 2004, telah menetapkan bahwa
bagi wanita dengan dua kelahiran cesarea secara low
transverse, hanya bagi mereka yang pernah melahirkan
melalui vagina sebelumnya harus dipertimbangkan untuk
Cunningham 2010
menjadi calon untuk percobaan VBAC.
16
keberhasilan dalam persalinan berikutnya. Misalnya, pasien
dengan dilatasi serviks sebanyak 5 cm atau kurang pada saat
persalinan mereka memiliki kemungkinan 67% VBAC yang
sukses dibandingkan dengan pasien dengan dilatasi serviks
sebesar 6-9 cm, yaitu sebanyak 73%. Tingkat keberhasilan
yang jauh lebih rendah bagi pasien dengan partus tidak maju
pada kala dua, hanya sekitar 13% dari pasien dengan dilatasi
serviks yang lengkap saat persalinan memiliki VBAC sukses.
Dalam studi yang sama, pasien dengan riwayat persalinan
cesarea sebelumnya pada kala satu dari persalinan memiliki
kemungkinan yang lebih kecil untuk keberhasilan VBAC
dibanding dengan mereka yang telah memasuki kala dua
persalinan. Namun, dalam studi ini, terdapat sekitar 66%
VBAC yang berhasil dari pasien yang menjalani persalinan
secara cesarea sebelumnya. Caughey 2011
Serviks yang sudah berdilatasi atau mendatar pada
saat persalinan berhubungan dengan keberhasilan persalinan
pervaginam. Flamm et al menunjukkan bahwa pasien dengan
dilatasi serviks lebih atau sama dengan 4 cm mempunyai
angka keberhasilan VBAC kurang lebih 86 %.
8. Usia Gestasi
17
persalinan. Namun, dalam studi terbaru, untuk berat lahir dan
induksi / augmentasi tenaga kerja, usia kehamilan yang lebih
dari 41 minggu masih dikaitkan dengan gagalnya percobaan
VBAC. Caughey 2011
9. Jarak Kehamilan
18
ruptur uteri pada wanita dengan interval kehamilan kurang dari
6bulan dibandingkan dengan jarak persalinan 6 bulan atau
lebih. Namun, interval persalinan 6 sampai18 bulan, tidak
meningkatkan risiko ruptur uteri atau morbiditas ibu.
Cunningham2010
19
gestasional dan DM pregestational serta interaksi antara DM dan
berat lahir bayi yang lebih besar. Caughey 2011
D. Induksi persalinan
1. Oksitosin
Induksi atau augmentasi persalinan yang menggunakan
oksitosin dapat dilihat dalam peningkatan risiko terjadinya ruptura
uteri pada wanita dengan percobaan VBAC. Dalam studi MFMU,
dilaporkan oleh Landon dan rekan (2004), kejadian ruptura uteri
lebih sering terjadi pada wanita-wanita diinduksi dengan oksitosin
sendiri. Sebanyak 1.1% angka kejadian ruptura uteri yang terjadi
dibandingkan dengan persalinan spontan yaitu sebanyak 0.4%. Di
antara perempuan dalam percobaan ini yang belum pernah
melahirkan melalui vagina sebelumnya, risiko ruptura uteri terkait
dengan induksi oksitosin adalah 1.8%, risiko meningkat empat kali
lipat dibandingkan dengan persalinan secara spontan (Grobman
dan rekan kerja, 2007a). Pengamatan ini mirip dengan Zelop dan
rekan (1999), yang melaporkan tingkat ruptura uteri sebanyak
2.3% dengan induksi persalinan dibandingkan dengan 1% dari
20
wanita dengan augmentasi, atau sebanyak 0.4% dengan
persalinan spontan. Cunningham 2010
Cahill dan rekan (2008) menemukan dengan
ditingkatkannya dosis oksitoksin yang dipakai sebagai infus, dapat
meningkatkan risiko ruptura uteri. Pada dosis infus maksimal
sebesar 21-30 mU/menit, risiko ruptura uteri sebanyak empat kali
lipat lebih besar dari pada wanita yang tidak diberi oksitosin.
Goetzl dan rekan (2001) juga menyebutkan temuan-temuan
serupa. Mereka menyimpulkan bahwa perbedaan dalam dosis
atau pola penggunaan oksitosin berhubungan dengan ruptura
uteri tidak cukup substantif untuk mengembangkan protokol
induksi yang lebih [Link] 2010
2. Prostaglandin
Penggunaannya pada wanita dengan VBAC kurang jelas,
terdapat penelitian yang telah diterbitkan, namun penggunaannya
harus secara hati-hati dalam [Link] 2010
Wing dan rekan (1998) menjelaskan studi banding
menggunakan prostaglandin E1 (misoprostol) dibandingkan
dengan oksitosin untuk induksi persalinan pada wanita dengan
riwayat persalinan bedah cesarea sebelumnya. Mereka
mengakhiri percobaan persalinan mereka setelah dua dari 17
perempuan pertama yang menggunakan misoprostol menjadi
ruptura uteri. Ada beberapa studi yang dievaluasi bahwa
prostaglandin lainnya untuk induksi persalinan. Secara umum,
mereka juga menunjukkan peningkatan terjadinya risiko ruptura
uteri. Ravasia dan rekan (2000) membandingkan kejadian ruptura
uteri pada 172 perempuan yang diberi gel prostaglandin E 2
dengan 1544 wanita persalinan spontan. Tingkat terjadinyaruptura
uteri secara signifikan lebih besar pada wanita diberikan
prostaglandin gel, yaitu sebanyak 2.9%dibandingkan dengan 0.9%
21
pada persalinan spontan. Lydon-Rochelle dan rekan (2001)
melakukan penelitian berbasis populasi retrospektif, mereka
menemukan bahwa induksi persalinan dengan prostaglandin
untuk VBAC meningkatkan risiko ruptura uteri lebih dari 15 kali
lipat dibandingkan dengan persalinan secara sectio cesarea
ulangan. Dasar dari sebagian besar hasil studi akhir-akhir ini,
bahwa American College of Obstetricians and Gynecologists
(2002, 2004) sangat berhati-hati dalam menggunakan analog
prostaglandin untuk pematangan serviks atau induksi persalinan
pada wanita dengan percobaan [Link] 2010
Hal yang juga penting untuk diperhatikan, walaupun dalam
studi selanjutnya telah diulang-ulang dalam beberapa tahun,
namun hasilnya masih kurang memuaskan. Sebagai contoh,
dalam studi jaringan MFMU sebelumnya, Landon dan rekan
(2004) melaporkan tingkat ruptura uteri sebesar 1.4% ketika
prostaglandin apapun digunakan dalam kombinasi dengan
oksitosin. Tetapi dalam 227 orang subkelompok wanita yang
menjalani persalinan, di antaranya diinduksi dengan prostaglandin
saja, tidak terdapat kejadian ruptura uteri. Macones dan rekan
kerja (2005) juga melaporkan penemuan serupa. Mereka
menemukan bahwa prostaglandin intravaginal saja, termasuk
misoprostol, tidak dikaitkan dengan peningkatan risiko ruptura
uteri. Yang penting, mereka menemukan bahwa penggunaan
prostaglandin yang diikuti dengan oksitosin dikaitkan dengan risiko
peningkatan tiga kali lipat risiko ruptura uteri dibandingkan dengan
persalinan spontan. Kayani dan Alfirevic (2005) melaporkan 2
kejadian terjadinya ruptura uteri dari 52 wanita dengan
menggunakan sekuensial [Link] 2010
Dalam sebuah laporan yang menarik, Buhimschi dan rekan
(2005) menemukan bahwa pemberian prostaglandin pada saat
persalinan, mengakibatkan terjadinya ruptura dibagian lokasi
22
bekas luka lama mereka. Sebaliknya, perempuan diberi oksitosin
lebih cenderung terjadi ruptura di bagian yang lebih jauh dari
bekas luka lama. Mereka menghipotesiskan bahwa prostaglandin
dapat menimbulkan modifikasi biokimia di bekas luka segmen
bawah rahim yang mempengaruhi untuk ruptura selama
[Link] 2010
23
induksi persalinan berbeda dengan kehamilan dengan persalinan
spontan (McDonagh et al 2005).Oladipo 2008
Ada suatu bukti yang menunjukkan terjadinya peningkatan
induksi sebanyak dua kali lipat dalam dekade terakhir (Zhang et al
1999.). Terdapat sekitar 20% persalinan dengan induksi dari semua
persalinan di Inggris pada tahun 2000 (Thomas 2001). Hal ini berlaku
umum bahwa induksi dan augmentasi pada persalinan 'unscarred'
dirahim adalah aman. Oladipo 2008
Terjadi peningkatan jumlah bedah cesarea di Inggris, yaitu dari
9% dari semua kelahiran pada tahun 1980 menjadi 21% pada tahun
2001 (NHS 2001).Oladipo 2008
VBAC secara luas didukung oleh dokter
kandungan, secara global.
Tingkat keberhasilan VBAC bervariasi antara 60-80%, kejadian
bedah cesarea ulangan pada wanita yang menjalani VBAC berkisar
antara 10-40% (Weinstein et al. 1996). Cowan et al. (1994) mengutip
terdapat sekitar 81% kasus VBAC yang berhasil. Dalam studi mereka,
69% dari seluruh pasien yang telah induksi syntocinon dan 70% dari
mereka dengan augmentasi syntocinon, berhasil dengan percobaan
VBAC. Diperkirakan bahwa hampir 60% dari semua wanita yang telah
memiliki riwayat persalinan cesarea sebelumnya mempunyai
kemungkinan untuk VBAC untuk kehamilan berikutnya (Lydon-
Rochelle et al 2001.).Oladipo 2008
Namun terdapat kekhawatiran tentang risiko komplikasi yang
terjadi padaVBAC seperti terjadinya ruptura uteri. Ruptura uteri karena
VBAC cukup jarang, namun sangat mengancam jiwa. Risiko ruptura
uteri pada VBAC secara teori dianggap lebih tinggi pada pasien
dengan induksi atau augmentasi. Oladipo 2008
1. Resiko
a. Risiko ruptur uteri 22-74 / 10000.
24
b. Risiko transfusi darah atau endometritis sebesar 1%.
c. Kematian ibu karena ruptur uteri pada VBAC < 1 / 100000
kasus di Negara maju.
d. 2-3 / 10000 risiko kematian perinatal yang berhubungan
dengan persalinan.
e. 8 / 10000 risiko terjadinya ensefalopati hipoksik iskemik pada
bayi baru lahir.
2. Keuntungan
a. Risiko masalah pernafasan pada bayi setelah lahir berkurang;
Pada VBAC risiko sebesar 2-3% sedangkan pada Elective
Repeat Caesarean Section (ERCS) sebesar 3-4%.
b. Risiko komplikasi anestesi sangat rendah.
c. Risiko komplikasi serius pada kehamilan berikutnya rendah.
F. Ruptura Uteri
25
vertikal. Risiko ruptura uteri adalah 4-9% dengan sayatan klasik atau
"T"; sehingga VBAC merupakan kontraindikasi dalam situasi ini.
Shimonovitz et al. menemukan risiko ruptura uteri setelah VBAC ke 0,
1, 2, dan 3 sebanyak 1.6%, 0.3%, 0.2%, dan 0.35%, masing-masing,
menunjukkan bahwa risiko ruptura uteri menurun setelah VBAC. Marie
2005
26
ahli berpendapat bahwa faktor-faktor ini harus dipertimbangkan,
karena keputusan untuk mencoba VBAC sangat sedikit,akibat risiko
absolutnya. Salah satu penelitian terbesar dan paling komprehensif
yang dirancang untuk memeriksa risiko yang terkait dengan VBAC
yang dilakukan oleh Mother Fetal Medicine Unit (MFMU) yang
dilaporkan oleh Landon dan rekan (2004). Dalam penelitian prospektif
yang dilakukan di 19 pusat kesehatan akademik, didapatkan hasil
hampir 18.000 wanita yang mencoba VBAC, dibanding dengan 15.000
perempuan yang menjalani persalinan cesarea setelah cesarea
sebelumnya. Walaupun risiko ruptura uteri lebih tinggi di antara
perempuan dengan percobaan persalinan melalui vagina, risiko
absolut yang terjadi sangat kecil, hanya 7 per 1000 persalinan.
Sebaliknya, tidak terdapat kejadian ruptura uteri pada kelompok
dengan proses persalinan secara sectio cesarea. Dari catatan, tingkat
kelahiran mati dan angka kejadian iskemik ensefalopati hipoksia
secara signifikan lebih besar dalam kelahiran melalui vagina (Chauhan
dan rekan, 2003; Mozurkewich dan Hutton, 2000). Cunningham 2010
27
6. Perdarahan pervaginam
28
menjalani sectio cesareas elektif berulang (Landon dan
kolaborator, 2004; Mozurkewich dan Hutton, 2000). Dalam studi
kohort retrospektif lebih dari 300.000 wanita di Kanada dengan
kelahiran cesarea sebelumnya, Wen dan rekan(2005)
menemukan peningkatan angka kematian, meskipun secara
statistik tidak signifikan antara ibu dengan pilihan kelahiran secara
sectio cesarea ulangan. Secara khusus, tingkat kematian ibu
yang menjalani pilihan persalinan secara sectio cesarea ulangan
sebesar 5.6 per 100.000 dibandingkan dengan 1.6 per 100.000
untuk mereka yang memilih melakukan kelahiran melalui vagina.
Wall 2005; Cunningham 2010
29
(2007) menemukan lima kali lipat lebih tinggi tingkat kejadian
korioamnionitis dan dua kali lipat lebih tinggi angka kejadian
perdarahan di antara wanita dengan percobaan VBAC yang gagal
dibandingkan dengan mereka yang memiliki keberhasilan.
Akhirnya, setelah melalui proses analisa, Rossi dan D'Addario
(2008) juga melaporkan terjadinya peningkatan insiden komplikasi
ibu secara keseluruhan ketika wanita dengan VBAC yang gagal
dibandingkan dengan yang sukses menjalani [Link] 2010
30
1000. Dengan demikian, kontroversi besar terjadi pada
pengelolaan wanita dengan kelahiran cesarea sebelumnya, yaitu:
Apakah 1 per 1000 risiko memiliki janin yang sehat mati atau
cacat akibat proses kelahiran melalui vagina dapat diterima.
Cunningham 2010
31
BAB III
PENATALAKSANANAN
32
7. Insisi pada seksio cesarea ulangan sedapat mungkin pada daerah
segmen bawah rahim kecuali tidak memungkinkan misalnya :
a. Perlengketan segmen bawah rahim
b. Segmen bawah rahim belum terbentuk
c. Gawat janin
d. Plasenta previa
e. Akan dilakukan sterilisasi.
8. Indikasi untuk seksio cesarea ulangan dengan sterilisasi
a. Anak sudah cukup
b. Penyembuhan luka operasi yang pertama tidak baik
c. Ada indikasi absolut
d. Seksio cesarea ulangan kedua atau lebih (tidak mutlak).
9. Indikasi untuk melakukan seksio cesarea dengan histerektomi
a. Atonia uteri
b. Plasenta akreta
c. Ruptura uteri
10. Penyulit-penyulit pada seksio cesarea ulangan :
a. Perlengketan peritoneum
b. Perdarahan karena atonia uteri
c. Febris puerperalis
d. Wound dehiscene (luka terbuka)
1. Ketika masuk
33
c. Perawatan intrapartum terus-menerus dianjurkan untuk
memungkinkan identifikasi cepat dan manajemen jika terjadi
ruptur uterus :
Satu per satu perawatan kebidanan harus diberikan jika
memungkinkan
d. Kanula intravena dengan ukuran yang cukup besar dipasang
untuk melakukan resusitasi cepat (16 gauge atau lebih besar)
pada awal persalinan
e. Darah diambil untuk persiapan
2. Pemantauan ibu
3. Pemantauan janin
4. Kemajuan persalinan
34
i. Membahas kemajuan persalinan dengan dokter kandungan
jika tidak sesuai
ii. Tampilan grafis dari kemajuan dengan partogram dengan
garis peringatan dan tindakan sangat membantu dalam
memahami kemajuan persalinan
5. Kala II persalinan
35
3. Partus spontan.
Jika telah pernah partus pervaginam, maka kemungkinan
persalinan pervaginam lebih besar.
4. Tipe insisi.
Seksio cesarea klasik / korporal lebih mudah mengalami ruptura
uteri, sehingga perlu dilakukan seksio primer.
5. Umur kehamilan yang lalu.
Jika umur kehamilan < 26 minggu pada seksio cesarea yang lalu,
berarti segmen bawah rahim belum terbentuk dengan sempurna.
Insisi yang dilakukan adalah transversal pada korpus uteri maka
risiko pada pasien ini lebih besar.
6. Penyembuhan luka.
Penyembuhan luka yang tidak baik pada seksio cesarea yang lalu
atau perluasan insisi ke korpus uteri merupakan kontra indikasi
untuk partus percobaan.
36
F. Pengawasan partus percobaanSaifuddin AB 2006
1. Penggunaan oksitosin atau prostaglandin pada induksi partus atau
augmentasi tidak meningkatkan bahaya pada bekas seksio
cesarea.
2. Penggunaan anestesi regional pada bekas seksio cesarea masih
diperdebatkan karena ditakutkan menutupi gejala-gejala ruptura
uteri, ternyata tidak meningkatkan bahayanya.
3. Eksplorasi uterus setelah persalinan pervaginam pada bekas
seksio cesarea tidak perlu dilakukan kecuali ada perdarahan atau
tanda-tanda ruptura ueteri yang lain.
37
serviks saat masuk < 4 cm, seksio cesarea sebelumnya < 2 tahun,
usia tua, ras di luar kulit putih, tubuh pendek.
Persalinan Bekas
Seksio cesarea
Tipe
Seksio cesarea
SBR Korporal
Letak dan
Presentasi
Kriteria + kontraindikasi +
Partus percobaan
Maju Gagal
38
Riwayat 1x seksio
Kehamilan cesarea transversal
Pada Bekas pada segmen bawah
Seksio tanpa komplikasi
Cesarea
TIDAK YA
Seksio Cesarea
ulang berencana / Kehamilan aterm
TIDAK tanpa komplikasi
Elective Repeat
Caesarean Section
(ERCS) YA
Kontraindikasi
YA Persalinan Vaginal
TIDAK
Konseling Antenatal
Persalinan Vaginal
pada Bekas Seksio
Pemantauan dan Cesarea / Vaginal
Tindakan Intrapartum Birth After
Caesarean Sction
(VBAC)
Konseling Induksi
dan Augmentasi
39
Pada tabel berikut dapat dilihat American College of Obstetricians
and Gynecologists (ACOG) mengeluarkan rekomendasi terbaru yang
dibandingkan dengan rekomendasi sebelumnya :
40
Tabel 7Perbandingan rekomendasi yang terbaru dengan
sebelumnya pada VBAC yang dikeluarkan oleh
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG)
Sumber : [Link]/.../[Link]
41
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Persalinan pervaginam setelah seksio cesarea, dianjurkan kepada
wanita yang sudah memenuhi syarat.
2. Kandidat VBAC harus diseleksi ketat agar tidak terjadi komplikasi.
3. Apabila diputuskan VBAC harus dilakukan close monitoring serta
ada tim yang siap melaksanakan emergensi seksio cesarea.
B. Saran
Perlu konseling kepada wanita hamil dengan riwayat seksio cesarea
mengenai keuntungan dan kerugian VBAC, agar menurunkan angka
seksio cesarea ulangan.
42
DAFTAR PUSTAKA
Wall, Eric. Trial of Labor After Cesarean (TOLAC), Formerly Trial of Labor
Versus Elective Repeat Cesarean Section for the Woman With a
Previous Cesarean Section. American Academy of Family
Physicians. July, 2005