Nama : Nadila Pitriani
NIM : 06101381520030
Prog. Studi : Pendidikan Kimia 2015
Kelas : Palembang
Dari 65 model pembelajaran yang ada, saya memilih no. 6 yaitu problem solving
6. Problem Solving
Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin, belum dikenal
cara penyelesaiannya. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara
penyelesaian (menemukan pola, aturan, .atau algoritma). Sintaknya adalah: sajikan
permasalahan yang memenuhi kriteria di atas, siswa berkelompok atau individual
mengidentifikasi pola atau aturan yang disajikan, siswa mengidentifkasi,
mengeksplorasi,menginvestigasi, menduga, dan akhirnya menemukan solusi.
MENGKAJI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING
A. Pengertian model pembelajaran problem solving
Metode Problem Solving menurut Suprijono (2012:46) ialah pola yang digunakan
sebagai pedoman dela merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial. Sedangkan,
Arends (Suprijono, 2012:46) menyatakan model pembelajaran mengacu pada pendekatan
yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam
kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pengelolaan kelas.
Metode Pembelajaran Problem Solving merupakan metode dalam kegiatan
pembelajaran dengan melatih siswa menghadapi berbagai masalah, baik masalah pribadi
maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara [Link]. Orientasi
pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan
masalah. (Hamdani, 2011:84).
Hidayati (2008), berpendapat bahwa metode Problem Solving (pemecahan masalah)
didasarkan pada kesadaran terhadap kenyataan, bahwa mengajar bukanlah sekedar berpidato
dan mengkomunikasikan ilmu pengetahuan kepada siswa. Tetapi, mengajar adalah untuk
meneliti dengan seksama, mencari, menyelidiki, memikirkan, mengalisis, dan sampai
menemukan.
Crow dan Crow (Hamdani, 2011:84) menyatakan metode pemecahan masalah
Problem Solving adalah suatu cara menyajikan pelajaran dengan mendorong siswa untuk
mencari dan memecahkan suatu masalah atau persoalan dalam rangka pencapaian tujuan
pengajaran.
Berdasarkan pendapat pakar-pakar tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Problem
Solving merupakan suatu pembelajaran yang mengajarkan kepada siswa untuk menghadapi
masalah secara langsung sehingga siswa akan berpikir mencari penyebab terjadinya
permasalahan dan mulai dari mencari data-data pendukung merumuskan hipotesis
penyelesaian sampai menarik kesimpulan penyelesaian.
Metode Problem Solving adalah cara mengajar yang dilakukan dengan cara melatih
para murid menghadapi berbagai masalah untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama
sama (Alipandie, 1984:105). Sedangkan menurut Purwanto (1999:17) Problem Solving
adalah suatu proses dengan menggunakan strategi, cara, atau teknik tertentu untuk
menghadapi situasi baru, agar keadaan tersebut dapat dilalui sesuai keinginan yang
[Link] itu Zoler (Sutaji, 2002:17) menyatakan bahwa pengajaran dimulai dengan
pertanyaan pertanyaan yang mengarahkan kepada konsep, prinsip, dan hukum, kemudian
dilanjutkan dengan kegiatan memecahkan masalah disebut sebagai pengajaran yang
menerapkan metode pemecahan masalah. Dengan demikian problem solving adalah suatu
metode pembelajaran yang mengaktifkan siswa dan dapat melatih siswa untuk menghadapi
berbagai masalah dan dapat mencari pemecahan masalah atau solusi dari permasalahan itu.
B. Manfaat dan Tujuan dari Metode Problrm solving
Manfaat dari penggunaan metode problem solving pada proses belajar mengajar untuk
mengembangkan pembelajaran yang lebih menarik. metode problem solving memberikan
beberapa manfaat antara lain :
a) Mengembangkan sikap keterampilan siswa dalam memecahkan permasalahan, serta dalam
mengambil kepuutusan secara objektif dan mandiri
b) Mengembangkan kemampuan berpikir para siswa, anggapan yang menyatakan bahwa
kemampuan berpikir akan lahir bila pengetahuan makin bertambah
c) Melalui inkuiri atau problem solving kemampuan berpikir tadi diproses dalam situasi atau
keadaan yang bener bener dihayati, diminati siswa serta dalam berbagai macam ragam
altenatif
d) Membina pengembangan sikap perasaan (ingin tahu lebih jauh) dan cara berpikir objektif
mandiri, krisis analisis baik secara individual maupun kelompok.
Tujuan dari pembelajaran problem solving adalah sebagai berikut.
1) Siswa menjadi terampil menyeleksi informasi yang relevan kemudian menganalisisnya dan
akhirnya meneliti kembali hasilnya.
2) Kepuasan intelektual akan timbul dari dalam sebagai hadiah intrinsik bagi siswa.
3) Potensi intelektual siswa meningkat.
4) Siswa belajar bagaimana melakukan penemuan dengan melalui proses melakukan
penemuan
C. Langkah-langkah model pembelajaran problem solving
Metode problem solving atau metode pemecahan masalah bukan hanya sekedar
metode mengajar. Ia juga merupakan suatu metode berpikir sebab dalam problem solving
dapat digunakan metode-metode lain yang dimulai dengan mencari data sampai pada
penarikan kesimpulan. Langkah-langkah penggunaan metode ini sebagai berikut:
1. Adanya masalah yang jelas untuk dipecahkan. Masalah ini harus tumbuh dari siswa
sesuai dengan taraf kemampuannya.
2. Mencari data atau keterangan yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang
muncul. Misalnya dengan jalan membaca buku-buku, meneliti, bertanya, dan
berdiskusi.
3. Menetapkan jawaban sementara dari masalah tersebut. Dugaan jawaban tentu saja
didasarkan pada data yang telah diperoleh pada langkah kedua di atas.
4. Menguji kebenaran jawaban sementara tersebut sehingga batul-betul yakin bahwa
jawaban tersebut betul-betul cocok.
5. Menarik kesimpulan. Artinya siswa harus sampai pada kesimpulan terakhir tentang
jawaban dari masalah tadi. (Bahri, 2006: 91-92)
D. Kelebihan dan kelemahan pembelajaran problem solving
Kelebihan pembelajaran problem solving antara lain sebagai berikut.
1. Mendidik siswa untuk berpikir secara sistematis.
2. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
3. Berpikir dan bertindak kreatif.
4. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
5. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
6. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
7. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang
dihadapi dengan tepat.
8. Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan,khususnya dunia kerja
9. Mampu mencari berbagai jalan keluar dari suatu kesulitan yang dihadapi.
10. Belajar menganalisis suatu masalah dari berbagai aspek.
11. Mendidik siswa percaya diri sendiri.
Kelemahan pembelajaran problem solving antara lain sebagai berikut.
a) Memerlukan cukup banyak waktu.
b) Melibatkan lebih banyak orang.
c) Tidak semua materi pelajaran mengandung masalah.
d) Memerlukan perencanaan yang teratur dan matang.
e) Tidak efektif jika terdapat beberapa siswa yang pasif
E. Pelaksanaan Metode Problem Solving.
Dalam proses Problem Solving terdapat beberapa tahap yang harus disiapkan mulai dari
mempersiapkan masalah sampai cara memecahkan masalah atau solusi dari masalah tersebut.
Gick (dalam Rofik, 2009:14) mengemukakan dua hal penting dari teori pemrosesan informasi
dalam Problem Solving , yaitu:
1) memunculkan wakil masalah (generation of a problem representation),
2) proses solusi (a solution proses).
Sedangkan Wiconsin memilih proses Problem Solving menjadi empat tahap, yaitu:
1) pengajuan masalah (problem possing),
2) pendekatan masalah (problem approach),
3) solusi masalah (problem solution), dan
4) komunikasi (communication). (Rofik, 2009:14)
Menurut Wankat dan Oreovocz (1995) mengemukakan tahap-tahap strategi operasional
dalam pemecahan masalah sebagai berikut.
1. Saya mampu/ bisa (I can): tahap membangkitkan motivasi dan membangun/menumbuhkan
keyakinan diri siswa.
2. Mendefinisikan (Define): membuat daftar hal yang diketahui dan tidak diketahui,
menggunakan gambar grafis untuk memperjelas permasalahan.
3. Mengeksplorasi (Explore): merangsang siswa untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan
membimbing untuk menganalisis dimensi-dimensi permasalahan yang dihadapi.
4. Merencanakan (Plan): mengembangkan cara berpikir logis siswa untuk menganalisis masalah
dan menggunakan flochart untuk mengambarkan permasalahan yang dihadapi.
5. Mengerjakan (Do it): membimbing siswa secara sistematis untuk memperkiraan jawaban
yang mungkin untuk memecahkan masalah.
6. Mengoreksi kembali (Check): membimbing siswa untuk mengecek kembali jawaban yang
dibuat, mungkin ada beberapa kesalahan yang dilakukan.
7. Generalisasi (Generalize): membimbing siswa untuk mengajukan pertanyaan.(Wena,
2009:57)
Selain mengetahui proses Problem Solving perlu pula diketahui bagaimana cara
mengembangkan keterampilan problem solving yakni:
(1) membuat mereka senang belajar,
(2) membuat mereka belajar terbaik,
(3) belajar terarah sendiri,
(4) mengembangkan keterampilan kelompok,
(5) melatih siswa untuk menghadapi masalah dan mencari solusi.
Dalam pembelajaran problem solving harus disiapkan permasalahan yang akan diberikan
pada siswa untuk dipecahkan. Cara untuk mempersiapkan permasalahan yang efektif menurut
Alipandie (1984:106) yaitu:
1) problema yang diajukan hendaknya benar-benar sesuai dengan tingkat perkembangan dan
kemampuan murid,
2) para murid hendaknya terlebih dahulu diberikan penjelasan tentang maksud dan tujuan serta
cara-cara memecahkan masalah yang dimaksud,
3) masalah-masalah yang harus dipecahkan hendaknya bersifat aktuil dan erat hubungannya
dengan kehidupan masyarakat, sehingga menimbulkan motivasi dan minat belajar para
murid,
4) disamping bimbingan guru secara continue hendaknya tersedia sarana pembelajaran yang
memadai serta waktu yang cukup untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi.
Dalam pemecahan masalah maka guru harus mempersiapkan permasalahan yang
hendak dipecahkan sesuai dengan kemampuan siswa, yaitu guru harus selektif apakah
permasalahan yang diajukan dapat diselesaikan oleh siswa atau tidak. Sebelum siswa diberi
permasalahan hendaknya guru memberi penjelasan tentang tujuan dari penyelesaian masalah
serta cara-cara atau langkah yang harus dikerjakan untuk memecahkan masalah tersebut.
Masalah-masalah yang diajukan oleh guru harus sesuai dengan dengan kehidupan nyata
sehingga siswa akan mudah dalam memecahkan masalah tersebut. Selain itu guru harus
menyiapkan sarana dan waktu yang cukup untuk berpikir dan berdiskusi dalam pemecahan
masalah tersebut.
Dengan metode problem solving diharapkan siswa dapat memecahkan masalah-
masalah dalam berbagai mata pelajaran. Metode ini juga dapat melatih siswa untuk bisa
memecahkan masalah yang erat dengan kehidupannya. Karena kemampuan untuk
memecahkan permasalahan sangat diperlukan setiap individu.
Dalam proses pemecahan masalah guru harus membantu siswa untuk memecahkan
masalah. Cara yang paling efektif yakni bila guru memberikan contoh kepada anak cara
memecahkan suatu masalah, cara yang lebih baik ialah memberikan instruksi kepada siswa
verbal untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah itu, sedangkan cara yang terbaik
adalah memecahkan masalah itu langkah demi langkah dengan menggunakan aturan tertentu,
tanpa merumuskan aturan itu maksudnya siswa dibantu dan dibimbing untuk menemukan
sendiri pemecahan dari masalahnya.
Dalam proses pemecahan masalah siswa harus memiliki kondisi belajar dalam diri
pelajar dan kondisi dalam situasi belajar. Kondisi dalam diri pelajar merupakan
kemampuannya untuk mengingat kembali aturan-aturan yang telah dipelajari sebelumnya
yang berkenaan dengan pemecahan masalah itu. Sedangkan kondisi dalam situasi belajar
merupakan bimbingan oleh anak itu sendiri kepada dirinya dalam hal belajar untuk
mendorong anak untuk mengingat kembali aturan yang diperlukan.
F. Sintak Pembelajaran Problem Solving .
Sintak pembelajaran langsung terdiri dari 6 tahap, yaitu sebagai berikut.
1. Merumuskan masalah
Kemampuan yang diperlukan adalah : mengetahui dan merumuskan masalah secara
jelas.
2. Menelaah masalah
Kemampuan yang diperlukan adalah : menggunakan pengetahuan untuk memperinci,
menganalisis masalah dari berbagai sudut.
3. Merumuskan hipotesis
Kemampuan yang diperlukan adalah : berimajinasi dan menghayati ruang lingkup,
sebab akibat dan alternatif penyelesaian.
4. Mengumpulkan dan mengelompokkan data sebagai bahan pembuktian hipotesis.
Kemampuan yang diperlukan adalah : kecakapan mencari dan menyusun data.
Menyajikan data dalam bentuk diagram, gambar atau tabel.
5. Pembuktian hipotesis
Kemampuan yang diperlukan adalah : kecakapan menelaah dan membahas data,
kecakapan menghubung-hubungkan dan menghitung, serta keterampilan mengambil
keputusan dan kesimpulan.
[Link] Pilihan Penyelesaian.
Kemampuan yang diperlukan adalah : kecakapan membuat alternatif penyelesaian,
kecakapan menilai pilihan dengan memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada setiap
pilihan. Dewey (Gulo, 2002:115)
G. Pendekatan Problem Solving Dalam Pembelajaran IPS
Pada dasarnya berfikir itu kebanyakan melibatkan pemecahan masalah. Masalah itu
merupakan sesuatu hal yang mengandung keragu-raguan, ketidak-pastian, atau kesulitan yang
harus dipecahkan, dikuasai, dan dijinakkan. Salah satu contoh masalah dalam IPS seperti :
Masalah pertambahan penduduk alami di indonesia yang sangat tinggi,masalah hubungan
indonesia dengan negara tetangga,masalah pencemaran air,udara dan tanah. Dapat di katakan
bahwa masalah atau problem adalah suatu keadaan yang tidak sesuai dengan keadaan yang di
harapkan. Dalam proses pembelajaran, siswa dihadapkan pada permasalahan, terutama
masalah yang benar-benar terjadi di masyarakat, mengenai diri siswa,masalah-masalah aktual
yang sangat menarik untuk dibicarakan.
Keadaan seperti itu akan menyeret siswa kepada proses berpikir tentang bagaimana
cara pemecahannya. Jadi yang ditekankan dalam problem solving adalah terpecahkannya
suatu masalah secara rasional, logis, dan benar. Pembelajaran pemecahan masalah di padang
penting agar siswa memiliki ketrampilan dalam menghadapi dan mengatasai masalah.
Menurut Sudjanan (1993:104-107) terdapat empat alasan pentingnya pembelajaran
pemecahan masalah bagi siswa yaitu :
Masalah merupakan bagian dari kehidupan manusia secara alamiah.
b. Tingkat keberhasilan seseorang dalam kehidupannya sangat erat kaitannya dengan
kemampuan dan keberhasilan memecahkan permasalahan yang di hadapinya.
c. Masalah dan pemecahannya bersifat berangtai,artinya setelah masalah satu teratasi maka akan
muncul masalah lainnya.
d. Masalah tidak tunggal melainkan terdiri dari bagian-bagian masalah di dalamnya.
Menurut Retman (1970) bahwa kegiatan pembelajaran sangat penting mengemukakan
masalah yang di hadapi dalam kehidupan sehari-hari karena dengan permasalahan tersebut
siswa akan dimotivasi untuk menggunakan pikirannya secara kreatif dan belajar intensif.
Melalui kegiatan pembelajaran permasalahan ini,siswa di hadapkan pada permasalahan yang
harus di pecahkan baik secara individual maupun secara kelompok. Kegiatan pembelajaran
pemecahan masalah secara kelompok siswa di latih kemampuannya secara komprehensif dan
integratif dalam berfikir,bersikap, bertindak dan bekerja sama.
Sumber data:
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]#ixzz2Qcy1wRVc
[Link]
[Link]
[Link]