Panduan Lengkap Rhinitis Akut dan Alergi
Panduan Lengkap Rhinitis Akut dan Alergi
RHINITIS AKUT
A. Pengertian
Rhinitis adalah suatu inflamasi ( peradangan ) pada membran mukosa di hidung. (Dipiro, 2005
). Rhinitis adalah peradangan selaput lendir hidung. ( Dorland, 2002 ). Rhinitis adalah istilah
untuk peradangan mukosa. Menurut sifatnya dapat dibedakan menjadi dua :
a. Rhinitis akut (coryza, commond cold) merupakan peradangan membran mukosa hidung
dan sinus-sinus aksesoris yang disebabkan oleh suatu virus dan bakteri. Penyakit ini dapat
mengenai hampir setiap orang pada suatu waktu dan sering kali terjadi pada musim dingin
dengan insidensi tertinggi pada awal musim hujan dan musim semi.
b. Rhinitis kronis adalah suatu peradangan kronis pada membran mukosa yang disebabkan
oleh infeksi yang berulang, karena alergi, atau karena rinitis vasomotor.
B. Etiologi
Rhinitis alergi adalah penyakit peradangan yang diawali oleh dua tahap sensitisasi yang diikuti
oleh reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari dua fase yaitu :
- Immediate Phase Allergic Reaction, Berlangsung sejak kontak dengan allergen hingga 1
jam setelahnya
- Late Phase Allergic Reaction, Reaksi yang berlangsung pada dua hingga empat jam dengan
puncak 6-8 jam setelah pemaparan dan dapat berlangsung hingga 24 jam.
- Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya debu rumah,
tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur
- Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu, telur,
coklat, ikan dan udang
- Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin atau
sengatan lebah
- Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan mukosa,
misalnya bahan kosmetik atau perhiasan
Dengan masuknya allergen ke dalam tubuh, reaksi alergi dibagi menjadi tiga tahap besar :
- Respon Primer, terjadi eliminasi dan pemakanan antigen, reaksi non spesifik
- Respon Sekunder, reaksi yang terjadi spesifik, yang membangkitkan system humoral,
system selular saja atau bisa membangkitkan kedua system terebut, jika antigen berhasil
dihilangkan maka berhenti pada tahap ini, jika antigen masih ada, karena defek dari ketiga
mekanisme system tersebut maka berlanjut ke respon tersier
- Respon Tersier , Reaksi imunologik yang tidak meguntungkan
C. Manifestasi Klinis
Bersin berulang-ulang, terutama setelah bangun tidur pada pagi hari (umumnya bersin lebih
dari 6 kali).
1. Hidung tersumbat.
2. Hidung meler. Cairan yang keluar dari hidung meler yang disebabkan alergi biasanya
bening dan encer, tetapi dapat menjadi kental dan putih keruh atau kekuning-kuningan jika
berkembang menjadi infeksi hidung atau infeksi sinus.
3. Hidung gatal dan juga sering disertai gatal pada mata, telinga dan tenggorok.
4. Badan menjadi lemah dan tak bersemangat.
D. Patofisiologi
Tepung sari yang dihirup, spora jamur, dan antigen hewan di endapkan pada mukosa
hidung. Alergen yang larut dalam air berdifusi ke dalam epitel, dan pada individu individu
yang kecenderungan atopik secara genetik, memulai produksi imunoglobulin lokal (Ig ) E.
Pelepasan mediator sel mast yang baru, dan selanjutnya, penarikan neutrofil, eosinofil, basofil,
serta limfosit bertanggung jawab atas terjadinya reaksi awal dan reaksi fase lambat terhadap
alergen hirupan. Reaksi ini menghasilkan mukus, edema, radang, gatal, dan vasodilatasi.
Peradangan yang lambat dapat turut serta menyebabkan hiperresponsivitas hidung terhadap
rangsangan nonspesifik suatu pengaruh persiapan. (Behrman, 2000).
Hindari kontak & eliminasi, Keduanya merupakan terapi paling ideal. Hindari kontak
dengan alergen penyebab, sedangkan eliminasi untuk alergen ingestan (alergi makanan).
- Antihistamin
Antihistamin yang sering digunakan adalah antihistamin oral. Antihistamin oral dibagi
menjadi dua yaitu generasi pertama (nonselektif) dikenal juga sebagai antihistamin sedatif
serta generasi kedua (selektif) dikenal juga sebagai antihistamin nonsedatif. Efek sedative
antihistamin sangat cocok digunakan untuk pasien yang mengalami gangguan tidur karena
rhinitis alergi yang dideritanya. Selain itu efek samping yang biasa ditimbulkan oleh obat
golongan antihistamin adalah efek antikolinergik seperti mulut kering, susah buang air
kecil dan konstipasi. Penggunaan obat ini perlu diperhatikan untuk pasien yang mengalami
kenaikan tekanan intraokuler, hipertiroidisme, dan penyakit kardiovaskular.
Antihistamin sangat efektif bila digunakan 1 sampai 2 jam sebelum terpapar allergen.
Penggunaan antihistamin harus selalu diperhatikan terutama mengenai efek sampingnya.
Antihistamin generasi kedua memang memberikan efek sedative yang sangat kecil namun
secara ekonomi lebih mahal.
- Dekongestan
Dekongestan topical dan sistemik merupakan simpatomimetik agen yang beraksi pada
reseptor adrenergic pada mukosa nasal, memproduksi vasokonstriksi. Topikal dekongestan
biasanya digunakan melalui sediaan tetes atau spray. Penggunaan dekongestan jenis ini
hanya sedikit atau sama sekali tidak diabsorbsi secara sistemik (Dipiro, 2005). Penggunaan
obat ini dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan rhinitis medikamentosa
(rhinitis karena penggunaan obat-obatan). Selain itu efek samping yang dapat ditimbulkan
topical dekongestan antara lain rasa terbakar, bersin, dan kering pada mukosa hidung.
Untuk itu penggunaan obat ini memerlukan konseling bagi pasien.
Sistemik dekongestan onsetnya tidak secepat dekongestan topical. Namun durasinya
biasanya bisa lebih panjang. Agen yang biasa digunakan adalah pseudoefedrin.
Pseudoefedrin dapat menyebabkan stimulasi sistem saraf pusat walaupun digunakan pada
dosis terapinya (Dipiro, 2005). Obat ini harus hati-hati digunakan untuk pasien-pasien
tertentu seperti penderita hipertensi. Saat ini telah ada produk kombinasi antara
antihistamin dan dekongestan. Kombinasi ini rasional karena mekanismenya berbeda.
- Nasal Steroid
Merupakan obat pilihan untuk rhinitis tipe perennial, dan dapat digunakan untuk rhinitis
seasonal. Nasal steroid diketahui memiliki efek samping yang sedikit. Obat yang biasa
digunakan lainnya antara lain sodium kromolin, dan ipatropium bromida.
- Operatif : Konkotomi merupakan tindakan memotong konka nasi inferior yang mengalami
hipertrofi berat. Lakukan setelah kita gagal mengecilkan konka nasi inferior menggunakan
kauterisasi yang memakai AgNO3 25% atau triklor asetat.
- Imunoterapi : Jenisnya desensitasi, hiposensitasi & netralisasi. Desensitasi dan
hiposensitasi membentuk blocking antibody. Keduanya untuk alergi inhalan yang
gejalanya berat, berlangsung lama dan hasil pengobatan lain belum memuaskan.
Netralisasi tidak membentuk blocking antibody dan untuk alergi ingestan
E. Macam-Macam Rinitis alergi
Berdasarkan waktunya, Rhinitis Alergi dapat di golongkan menjadi:
1. Biasanya terjadi pada musim semi. Umumnya disebabkan kontak dengan allergen dari luar
rumah, seperti benang sari dari tumbuhan yang menggunakan angin untuk Rinitis alergi
musiman (Hay Fever) penyerbukannya, debu dan polusi udara atau asap. Hidung, langit-
langit mulut, tenggorokan bagian belakang dan mata terasa gatal, baik secara tiba-tiba
maupun secara berangsur-angsur. Biasanya akan diikuti Bisa juga diberikan obat semprot
hidung natrium kromolin; efeknya terbatas pada hidung dan tenggorokan bagian belakang.
Jika pemberianantihistamin dan kromolin tidak dapat mengendalikan gejala-gejala, maka
diberikan obat semprot kortikosteroid. Jika obat semprot kortikosteroid masih juga tidak
mampu meringankan gejala, maka diberikan kortikosteroid per-oral selama kurang dari 10
hari.
2. Rinitis alergi yang terjadi terus menerus (perennial)
Disebabkan bukan karena musim tertentu ( serangan yang terjadi sepanjang masa
(tahunan)) diakibatkan karena kontak dengan allergen yang sering berada di rumah
misalnya kutu debu rumah, bulu binatang peliharaan serta bau-bauan yang menyegat.
- Gejala
Hidung, langit-langit mulut, tenggorokan bagian belakang dan mata terasa gatal, baik
secara tiba-tiba maupun secara berangsur-angsur. Biasanya akan diikuti dengan mata
berair, bersin-bersin dan hidung meler. Beberapa penderita mengeluh sakit kepala,
batuk dan mengi (bengek); menjadi mudah tersinggung dan deperesi; kehilangan nafsu
makan dan mengalami gangguan tidur. Jarang terjadi konjungtivitis. Lapisan hidung
membengkak dan berwarna merah kebiruan, menyebabkan hidung meler dan hidung
tersumbat. Hidung tersumbat bisa menyebabkan terjadinya penyumbatan tuba
eustakius di telinga, sehingga terjadi gangguan pendengaran, terutama pada anak-anak.
Bisa timbul komplikasi berupasinusitis (infeksi sinus) dan polip hidung.
- Pengobatan
Pengobatan awal untuk rinitis alergika musiman adalah antihistamin. Pemberian
antihistamin kadang disertai dengan dekongestan (misalnyapseudoefedrin atau
fenilpropanolaminn) untuk melegakan hidung tersumbat. Pemakaian dekongestan
pada penderita tekanan darah tinggi harus diawasi secara ketat. Bisa juga diberikan
obat semprot hidung natrium kromolin; efeknya terbatas pada hidung dan tenggorokan
bagian belakang. Jika pemberianantihistamin dan kromolin tidak dapat
mengendalikan gejala-gejala, maka diberikan obat semprot kortikosteroid; tidak
dianjurkan untuk memberikan kortikosteroid per-oral (melalui mulut). Obat tetes atau
obat semprot hidung yang mengandung dekongestan dan bisa diperoleh tanpa resep
dokter, sebaiknya digunakan tidak terlalu lama karena bisa memperburuk atau
memperpanjang peradangan hidung. Kadang perlu dilakukan pembedahan untuk
membuang polip atau pengobatan terhadap infeksi sinus. Seseorang dapat mengalami
rhinitis kombinasi antara dua jenis tersebut. Masih ada satu lagi jenis rhinitis alergi,
yaitu : Rhinitis alergi occupational adalah Rhinitis yang terkait dengan pekerjaan.
Paparan allergen didapat di tempat bekerja. Biasanya dialami oleh orang yang bekerja
dekat dengan binatang. (Sheikh, 2008)
3. Rhinitis Non Alergi
Rhinitis non allergi disebabkan oleh : infeksi saluran napas (rhinitis viral dan rhinitis
bakterial, masuknya benda asing kedalam hidung, deformitas struktural, neoplasma, dan
massa, penggunaan kronik dekongestan nasal, penggunaan kontrasepsi oral, kokain dan
anti hipertensif.
- Manifestasi klinis
Hidung tersumbat, bergantian kiri dan kana, tergantung pada posisi pasien. Terdapat
rinorea yang mukus atau serosa, kadang agak banyak. Jarang disertai bersin, dan tidak
disertai gatal di mata. Gejala memburuk pada pagi hari waktu bangun tidur karena
perubahan suhu yang ekstrim, udara lembab, juga karena asap rokok dan sebagainya.
Berdasarkan gejala yang menonjol, dibedakan atas golongan obstruksi dan rinorea.
Pemeriksaan rinoskopi anterior menunjukkan gambaran klasik berupa edema mukosa
hidung, konka berwarna merah gelap atau merah tua, dapat pula pucat. Permukaannya
dapat licin atau berbenjol. Pada rongga hidung terdapat sekret mukoid, biasanya
sedikit. Namun pada golgongan rinorea, sekret yang ditemukan biasanya serosa dan
dalam jumlah banyak. ( kapita)
- Patofisiologi
Rangsangan saraf parasimpatis akan menyebabkan terlepasnya asetilkolin, sehingga
terjadi dilatasi pembuluh darah dalm konka serta meningkatkan permiabilitas kapiler
dan sekresi kelenjar, sedangkan rangsangan sraaf simpatis mengakibatkan sebaliknya.(
kapita)
- Pemeriksaan penunjang
Dilakukan pemeriksaaan untuk menyingkirkan kemungkinan rinitis alergi. Kadang
ditemukan juga eosinofil pada sekret kulit tetapi jumlahnya sedikit. Tes kulit biasnya
negatif.
- Penatalaksanaan
Di cari faktor yang mempengaruhi keseimbangan vasomotor dan disingkirkan
kemungkinana rhinitis alergi. Terapi bervariasi, tergantung faktor penyebab dan gejala
yang menonjol. Secara umum terbagi atas :
- Pengobatan simtomatis, dengan obat dekongestan oral dan kortikosteroid topical
Operasi, dengan bedah beku, elektrokauter, atau konkotomi konka inferior Neurektomi
nervus vidianus sebagai saraf otonom mukosa hidung, jika cara-cara di atas tidak
berhasil. Operasinya tidak mudah dan komplikasinya cukup berat. (kapita )
A. Pengkajian
1. Identitas
a. Nama
b. Jenis kelamin
c. Umur
d. Bangsa
e. Keluhan utama
Bersin-bersin, hidung mengeluarkan sekret, hidung tersumbat, dan hidung gatal
f. Riwayat peyakit dahulu
Pernahkan pasien menderita penyakit THT sebelumnya.
g. Riwayat keluarga
Apakah keluarga adanya yang menderita penyakit yang di alami pasien
h. Pemeriksaan fisik
Inspeksi : permukaan hidung terdapat sekret mucoid
Palpasi : nyeri, karena adanya inflamasi
i. Pemeriksaan penunjang
- Pemeriksaan nasoendoskopi
- Pemeriksaan sitologi hidung
- Hitung eosinofil pada darah tepi
- Uji kulit allergen penyebab
B. Diagnosa
a. Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi /adanya secret yang
mengental
b. Gangguan pola tidur berhubungan dengan penyumbatan pada hidung
c. Nyeri Akut
d. Defisiensi Pengetahuan
C. Intervensi
Behrman, dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol.1 Edisi 15. Jakarta: EGC
Behrman, dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol.2 Edisi 18. Jakarta: EGC
Dorland, WA. Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta: EGC
universitas indonesia