0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan16 halaman

Panduan Lengkap Rhinitis Akut dan Alergi

Dokumen ini membahas tentang rhinitis akut, yang merupakan peradangan membran mukosa hidung dan sinus-sinus aksesoris yang disebabkan oleh virus dan bakteri. Dokumen ini menjelaskan pengertian, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, diagnosis dan pengobatan rhinitis akut serta membedakan rhinitis akut dengan rhinitis kronis.

Diunggah oleh

Stevi Montjai
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan16 halaman

Panduan Lengkap Rhinitis Akut dan Alergi

Dokumen ini membahas tentang rhinitis akut, yang merupakan peradangan membran mukosa hidung dan sinus-sinus aksesoris yang disebabkan oleh virus dan bakteri. Dokumen ini menjelaskan pengertian, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, diagnosis dan pengobatan rhinitis akut serta membedakan rhinitis akut dengan rhinitis kronis.

Diunggah oleh

Stevi Montjai
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

RHINITIS AKUT

A. Pengertian
Rhinitis adalah suatu inflamasi ( peradangan ) pada membran mukosa di hidung. (Dipiro, 2005
). Rhinitis adalah peradangan selaput lendir hidung. ( Dorland, 2002 ). Rhinitis adalah istilah
untuk peradangan mukosa. Menurut sifatnya dapat dibedakan menjadi dua :
a. Rhinitis akut (coryza, commond cold) merupakan peradangan membran mukosa hidung
dan sinus-sinus aksesoris yang disebabkan oleh suatu virus dan bakteri. Penyakit ini dapat
mengenai hampir setiap orang pada suatu waktu dan sering kali terjadi pada musim dingin
dengan insidensi tertinggi pada awal musim hujan dan musim semi.
b. Rhinitis kronis adalah suatu peradangan kronis pada membran mukosa yang disebabkan
oleh infeksi yang berulang, karena alergi, atau karena rinitis vasomotor.
B. Etiologi
Rhinitis alergi adalah penyakit peradangan yang diawali oleh dua tahap sensitisasi yang diikuti
oleh reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari dua fase yaitu :
- Immediate Phase Allergic Reaction, Berlangsung sejak kontak dengan allergen hingga 1
jam setelahnya
- Late Phase Allergic Reaction, Reaksi yang berlangsung pada dua hingga empat jam dengan
puncak 6-8 jam setelah pemaparan dan dapat berlangsung hingga 24 jam.

Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas :

- Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya debu rumah,
tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur
- Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu, telur,
coklat, ikan dan udang
- Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin atau
sengatan lebah
- Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan mukosa,
misalnya bahan kosmetik atau perhiasan

Dengan masuknya allergen ke dalam tubuh, reaksi alergi dibagi menjadi tiga tahap besar :
- Respon Primer, terjadi eliminasi dan pemakanan antigen, reaksi non spesifik
- Respon Sekunder, reaksi yang terjadi spesifik, yang membangkitkan system humoral,
system selular saja atau bisa membangkitkan kedua system terebut, jika antigen berhasil
dihilangkan maka berhenti pada tahap ini, jika antigen masih ada, karena defek dari ketiga
mekanisme system tersebut maka berlanjut ke respon tersier
- Respon Tersier , Reaksi imunologik yang tidak meguntungkan
C. Manifestasi Klinis
Bersin berulang-ulang, terutama setelah bangun tidur pada pagi hari (umumnya bersin lebih
dari 6 kali).
1. Hidung tersumbat.
2. Hidung meler. Cairan yang keluar dari hidung meler yang disebabkan alergi biasanya
bening dan encer, tetapi dapat menjadi kental dan putih keruh atau kekuning-kuningan jika
berkembang menjadi infeksi hidung atau infeksi sinus.
3. Hidung gatal dan juga sering disertai gatal pada mata, telinga dan tenggorok.
4. Badan menjadi lemah dan tak bersemangat.
D. Patofisiologi
Tepung sari yang dihirup, spora jamur, dan antigen hewan di endapkan pada mukosa
hidung. Alergen yang larut dalam air berdifusi ke dalam epitel, dan pada individu individu
yang kecenderungan atopik secara genetik, memulai produksi imunoglobulin lokal (Ig ) E.
Pelepasan mediator sel mast yang baru, dan selanjutnya, penarikan neutrofil, eosinofil, basofil,
serta limfosit bertanggung jawab atas terjadinya reaksi awal dan reaksi fase lambat terhadap
alergen hirupan. Reaksi ini menghasilkan mukus, edema, radang, gatal, dan vasodilatasi.
Peradangan yang lambat dapat turut serta menyebabkan hiperresponsivitas hidung terhadap
rangsangan nonspesifik suatu pengaruh persiapan. (Behrman, 2000).
Hindari kontak & eliminasi, Keduanya merupakan terapi paling ideal. Hindari kontak
dengan alergen penyebab, sedangkan eliminasi untuk alergen ingestan (alergi makanan).
- Antihistamin
Antihistamin yang sering digunakan adalah antihistamin oral. Antihistamin oral dibagi
menjadi dua yaitu generasi pertama (nonselektif) dikenal juga sebagai antihistamin sedatif
serta generasi kedua (selektif) dikenal juga sebagai antihistamin nonsedatif. Efek sedative
antihistamin sangat cocok digunakan untuk pasien yang mengalami gangguan tidur karena
rhinitis alergi yang dideritanya. Selain itu efek samping yang biasa ditimbulkan oleh obat
golongan antihistamin adalah efek antikolinergik seperti mulut kering, susah buang air
kecil dan konstipasi. Penggunaan obat ini perlu diperhatikan untuk pasien yang mengalami
kenaikan tekanan intraokuler, hipertiroidisme, dan penyakit kardiovaskular.
Antihistamin sangat efektif bila digunakan 1 sampai 2 jam sebelum terpapar allergen.
Penggunaan antihistamin harus selalu diperhatikan terutama mengenai efek sampingnya.
Antihistamin generasi kedua memang memberikan efek sedative yang sangat kecil namun
secara ekonomi lebih mahal.
- Dekongestan
Dekongestan topical dan sistemik merupakan simpatomimetik agen yang beraksi pada
reseptor adrenergic pada mukosa nasal, memproduksi vasokonstriksi. Topikal dekongestan
biasanya digunakan melalui sediaan tetes atau spray. Penggunaan dekongestan jenis ini
hanya sedikit atau sama sekali tidak diabsorbsi secara sistemik (Dipiro, 2005). Penggunaan
obat ini dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan rhinitis medikamentosa
(rhinitis karena penggunaan obat-obatan). Selain itu efek samping yang dapat ditimbulkan
topical dekongestan antara lain rasa terbakar, bersin, dan kering pada mukosa hidung.
Untuk itu penggunaan obat ini memerlukan konseling bagi pasien.
Sistemik dekongestan onsetnya tidak secepat dekongestan topical. Namun durasinya
biasanya bisa lebih panjang. Agen yang biasa digunakan adalah pseudoefedrin.
Pseudoefedrin dapat menyebabkan stimulasi sistem saraf pusat walaupun digunakan pada
dosis terapinya (Dipiro, 2005). Obat ini harus hati-hati digunakan untuk pasien-pasien
tertentu seperti penderita hipertensi. Saat ini telah ada produk kombinasi antara
antihistamin dan dekongestan. Kombinasi ini rasional karena mekanismenya berbeda.
- Nasal Steroid
Merupakan obat pilihan untuk rhinitis tipe perennial, dan dapat digunakan untuk rhinitis
seasonal. Nasal steroid diketahui memiliki efek samping yang sedikit. Obat yang biasa
digunakan lainnya antara lain sodium kromolin, dan ipatropium bromida.
- Operatif : Konkotomi merupakan tindakan memotong konka nasi inferior yang mengalami
hipertrofi berat. Lakukan setelah kita gagal mengecilkan konka nasi inferior menggunakan
kauterisasi yang memakai AgNO3 25% atau triklor asetat.
- Imunoterapi : Jenisnya desensitasi, hiposensitasi & netralisasi. Desensitasi dan
hiposensitasi membentuk blocking antibody. Keduanya untuk alergi inhalan yang
gejalanya berat, berlangsung lama dan hasil pengobatan lain belum memuaskan.
Netralisasi tidak membentuk blocking antibody dan untuk alergi ingestan
E. Macam-Macam Rinitis alergi
Berdasarkan waktunya, Rhinitis Alergi dapat di golongkan menjadi:
1. Biasanya terjadi pada musim semi. Umumnya disebabkan kontak dengan allergen dari luar
rumah, seperti benang sari dari tumbuhan yang menggunakan angin untuk Rinitis alergi
musiman (Hay Fever) penyerbukannya, debu dan polusi udara atau asap. Hidung, langit-
langit mulut, tenggorokan bagian belakang dan mata terasa gatal, baik secara tiba-tiba
maupun secara berangsur-angsur. Biasanya akan diikuti Bisa juga diberikan obat semprot
hidung natrium kromolin; efeknya terbatas pada hidung dan tenggorokan bagian belakang.
Jika pemberianantihistamin dan kromolin tidak dapat mengendalikan gejala-gejala, maka
diberikan obat semprot kortikosteroid. Jika obat semprot kortikosteroid masih juga tidak
mampu meringankan gejala, maka diberikan kortikosteroid per-oral selama kurang dari 10
hari.
2. Rinitis alergi yang terjadi terus menerus (perennial)
Disebabkan bukan karena musim tertentu ( serangan yang terjadi sepanjang masa
(tahunan)) diakibatkan karena kontak dengan allergen yang sering berada di rumah
misalnya kutu debu rumah, bulu binatang peliharaan serta bau-bauan yang menyegat.
- Gejala
Hidung, langit-langit mulut, tenggorokan bagian belakang dan mata terasa gatal, baik
secara tiba-tiba maupun secara berangsur-angsur. Biasanya akan diikuti dengan mata
berair, bersin-bersin dan hidung meler. Beberapa penderita mengeluh sakit kepala,
batuk dan mengi (bengek); menjadi mudah tersinggung dan deperesi; kehilangan nafsu
makan dan mengalami gangguan tidur. Jarang terjadi konjungtivitis. Lapisan hidung
membengkak dan berwarna merah kebiruan, menyebabkan hidung meler dan hidung
tersumbat. Hidung tersumbat bisa menyebabkan terjadinya penyumbatan tuba
eustakius di telinga, sehingga terjadi gangguan pendengaran, terutama pada anak-anak.
Bisa timbul komplikasi berupasinusitis (infeksi sinus) dan polip hidung.
- Pengobatan
Pengobatan awal untuk rinitis alergika musiman adalah antihistamin. Pemberian
antihistamin kadang disertai dengan dekongestan (misalnyapseudoefedrin atau
fenilpropanolaminn) untuk melegakan hidung tersumbat. Pemakaian dekongestan
pada penderita tekanan darah tinggi harus diawasi secara ketat. Bisa juga diberikan
obat semprot hidung natrium kromolin; efeknya terbatas pada hidung dan tenggorokan
bagian belakang. Jika pemberianantihistamin dan kromolin tidak dapat
mengendalikan gejala-gejala, maka diberikan obat semprot kortikosteroid; tidak
dianjurkan untuk memberikan kortikosteroid per-oral (melalui mulut). Obat tetes atau
obat semprot hidung yang mengandung dekongestan dan bisa diperoleh tanpa resep
dokter, sebaiknya digunakan tidak terlalu lama karena bisa memperburuk atau
memperpanjang peradangan hidung. Kadang perlu dilakukan pembedahan untuk
membuang polip atau pengobatan terhadap infeksi sinus. Seseorang dapat mengalami
rhinitis kombinasi antara dua jenis tersebut. Masih ada satu lagi jenis rhinitis alergi,
yaitu : Rhinitis alergi occupational adalah Rhinitis yang terkait dengan pekerjaan.
Paparan allergen didapat di tempat bekerja. Biasanya dialami oleh orang yang bekerja
dekat dengan binatang. (Sheikh, 2008)
3. Rhinitis Non Alergi
Rhinitis non allergi disebabkan oleh : infeksi saluran napas (rhinitis viral dan rhinitis
bakterial, masuknya benda asing kedalam hidung, deformitas struktural, neoplasma, dan
massa, penggunaan kronik dekongestan nasal, penggunaan kontrasepsi oral, kokain dan
anti hipertensif.
- Manifestasi klinis
Hidung tersumbat, bergantian kiri dan kana, tergantung pada posisi pasien. Terdapat
rinorea yang mukus atau serosa, kadang agak banyak. Jarang disertai bersin, dan tidak
disertai gatal di mata. Gejala memburuk pada pagi hari waktu bangun tidur karena
perubahan suhu yang ekstrim, udara lembab, juga karena asap rokok dan sebagainya.
Berdasarkan gejala yang menonjol, dibedakan atas golongan obstruksi dan rinorea.
Pemeriksaan rinoskopi anterior menunjukkan gambaran klasik berupa edema mukosa
hidung, konka berwarna merah gelap atau merah tua, dapat pula pucat. Permukaannya
dapat licin atau berbenjol. Pada rongga hidung terdapat sekret mukoid, biasanya
sedikit. Namun pada golgongan rinorea, sekret yang ditemukan biasanya serosa dan
dalam jumlah banyak. ( kapita)
- Patofisiologi
Rangsangan saraf parasimpatis akan menyebabkan terlepasnya asetilkolin, sehingga
terjadi dilatasi pembuluh darah dalm konka serta meningkatkan permiabilitas kapiler
dan sekresi kelenjar, sedangkan rangsangan sraaf simpatis mengakibatkan sebaliknya.(
kapita)
- Pemeriksaan penunjang
Dilakukan pemeriksaaan untuk menyingkirkan kemungkinan rinitis alergi. Kadang
ditemukan juga eosinofil pada sekret kulit tetapi jumlahnya sedikit. Tes kulit biasnya
negatif.
- Penatalaksanaan
Di cari faktor yang mempengaruhi keseimbangan vasomotor dan disingkirkan
kemungkinana rhinitis alergi. Terapi bervariasi, tergantung faktor penyebab dan gejala
yang menonjol. Secara umum terbagi atas :
- Pengobatan simtomatis, dengan obat dekongestan oral dan kortikosteroid topical
Operasi, dengan bedah beku, elektrokauter, atau konkotomi konka inferior Neurektomi
nervus vidianus sebagai saraf otonom mukosa hidung, jika cara-cara di atas tidak
berhasil. Operasinya tidak mudah dan komplikasinya cukup berat. (kapita )

Macam-macam Rinitis Non-Alergi


1. Rinitis Medikamentosa
a. Pengertian
Rhinitis medikamentosa adalah suatu kelainan hidung berupa gangguan respon
normal vasomotor sebagai akibat pemakaian vasokonstriktor topical (obat tetes
hidung atau obat semprot hidung) dalam waktu lama dan berlebihan, sehingga
menyebabkan sumbatan hidung yang [Link] dikatakan hal ini disebabkan
oleh pemakaian obat yang berlebihan(Drug Abuse).
b. Gejala dan Tanda
Penderita mengeluh hidungnya tersumbat terus menerus dan berair. Pada
pemeriksaan konka dengan secret hidung yang berlebihan. Apabila diuji dengan
adrenalin, adema konka tidak berkurang.
c. Terapi
1) Hentikan pemakaian obat tetes dan sempror hidung.
2) Untuk mengatasi sunbatan berulang, beri kortikosteroit secara penurunan
bertahab dengan menurunkan dosis 5 mg setiap hari.(misalnya hari 1: 40 mg,
hari 2: 35 mg dan seterusnya).
3) Obat dekongestan oral (biasanya mengandung pseudoefredin).
2. Rhinitis Atrofi
a. Pengertian
Rhinitis Atrofi adalah satu penyakit infeksi hidung kronik dengan tanda adanya
atrofi progesif tulang dan mukosa konka. Secara klinis, mukosa hidung
menghasilkan secret kental dan cepat mongering, sehingga terbentuk krusta berbau
busuk. Sering mengenai masyarakat dengan tingkat social ekonomi lemah dan
lingkungan buruk. Lebih sering mengenai wanita, terutama pada usia pubertas.
b. Etiologi
Belum jelas, beberapa hal yang dianggap sebagai penyebabnya seperti infeksi oleh
kuman spesifik, yaitu spesies Klebsiella, yang seringKlebsiella ozanae, kemudian
stafilokok, sreptokok, Pseudomonas aeruginosa, defisiensi Fe, defisiensi vitamin
A, sinusitis kronik, kelainan hormonal, dan penyakit kolagen. Mungkin
berhubungan dengan trauma atau terapi radiasi.
c. Manifestasi klinis
Keluhan subyektif yang sering ditemukan pada pasien biasanya nafas berbau
(sementara pasien sendiri menderita anosmia), ingus kental hijau, krusta hijau,
gangguan penciuman, sakit kepala, dan hidung tersumbat. Pada pemeriksaan THT
ditemukan rongga hidung sangat lapang, konka inferior dan media hipotrofi atau
atrofi secret purulen hijau dan krusta berwarna hijau.
d. Pemeriksaan penunjang
Dapat dilakukan transiluminasi, fotosinus para nasal, pemeriksaan mikro
organisme uji resistensi kuman, pemeriksaan darah tepi, pemeriksaan Fe serum,
dan serologi darah. Dari pemeriksaan histo patologi terlihat mukosa hidung
menjadi tipis, silia hilang, metaplasia thoraks menjadi epitel kubik atau gepeng
berlapis, kelenjar degenerasi dan atrofi, jumlahnya berkurang dan bentuknya
mengecil.
e. Penatalaksanaan
Belum adanya yang baku. Penatalaksanaan ditunjukkan untuk menghilangkan
etiologi, selain gejalanya dapat dilakukan secara konservatif atau operatif. Secara
konservatif dapat diberikan :
1) Antibiotic presprektum luas atau sesuaiuji resistensi kuman sampai gejala
hilang.
2) Obat cuci hidung agar bersih dari krusta dan bau busuk hilang dengan larutan
betadine satu sendok makan dalam 100 cc air hangat
3) Vitamin A 3 x 50.000 unit selama 2 minggu
4) Preparat Fe
f. Komplikasi
1) Polip hidung
Rinitis alergi dapat menyebabkan atau menimbulkan kekambuhan polip
hidung.
2) Otitis media
Rinitis alergi dapat menyebabkan otitis media yang sering residif dan terutama
kita temukan pada pasien anak-anak.
3) Sinusitis kronik
Otitis media dan sinusitis kronik bukanlah akibat langsung dari rinitis alergi
melainkan adanya sumbatan pada hidung sehingga menghambat drainase.
g. Discharge planning
1) Instruksikan pasien yang allergik untuk menghindari allergen atau iritan spt
(debu, asap tembakau, asap, bau, tepung, sprei)
2) Sejukkan membran mukosa dengan menggunakan sprey nasal salin.
3) Melunakkan sekresi yang mengering dan menghiangkan iritan.
4) Ajarkan tekhnik penggunaan obat-obatan spt sprei dan serosol.
5) Anjurkan menghembuskan hidung sebelum pemberian obat apapun thd hidung
F. Penatalaksanaan
Pengobatan Rinitis Vasomotor bervariasi, tergantung kepada faktor penyebab dan gejala
yang menonjol. Secara garis besar, pengobatan dibagi dalam:
1. Menghindari penyebab / pencetus ( Avoidance therapy )
2. Pengobatan konservatif ( Farmakoterapi ) :
Dekongestan atau obat simpatomimetik digunakan untuk mengurangi keluhan
hidung tersumbat. Contohnya: Pseudoephedrine dan Phenylpropanolamine (oral)
serta Phenylephrine dan Oxymetazoline (semprot hidung )
Anti histamin : paling baik untuk golongan rinore.
Kortikosteroid topikal mengurangi keluhan hidung tersumbat, rinore dan bersin-
bersin dengan menekan respon inflamasi lokal yang disebabkan oleh mediator
vasoaktif. Biasanya digunakan paling sedikit selama 1 atau 2 minggu sebelum
dicapai hasil yang memuaskan. Contoh steroid topikal : Budesonide, Fluticasone,
Flunisolide atau Beclomethasone
Anti kolinergik juga efektif pada pasien dengan rinore sebagai keluhan
[Link] : Ipratropium bromide ( nasal spray )
3. Terapi operatif ( dilakukan bila pengobatan konservatif gagal ) : Kauterisasi konka
yang hipertrofi dengan larutan AgNO3 25% atau triklorasetat pekat ( chemical cautery
) maupun secara elektrik (electrical cautery). Diatermi submukosa konka inferior
(submucosal diathermy of the inferior turbinate )
4. Bedah beku konka inferior ( cryosurgery )
5. Reseksi konka parsial atau total (partial or total turbinate resection)
6. Turbinektomi dengan laser ( laser turbinectomy )
7. Neurektomi n. vidianus ( vidian neurectomy )
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Identitas
a. Nama
b. Jenis kelamin
c. Umur
d. Bangsa
e. Keluhan utama
Bersin-bersin, hidung mengeluarkan sekret, hidung tersumbat, dan hidung gatal
f. Riwayat peyakit dahulu
Pernahkan pasien menderita penyakit THT sebelumnya.
g. Riwayat keluarga
Apakah keluarga adanya yang menderita penyakit yang di alami pasien
h. Pemeriksaan fisik
Inspeksi : permukaan hidung terdapat sekret mucoid
Palpasi : nyeri, karena adanya inflamasi
i. Pemeriksaan penunjang
- Pemeriksaan nasoendoskopi
- Pemeriksaan sitologi hidung
- Hitung eosinofil pada darah tepi
- Uji kulit allergen penyebab
B. Diagnosa
a. Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi /adanya secret yang
mengental
b. Gangguan pola tidur berhubungan dengan penyumbatan pada hidung
c. Nyeri Akut
d. Defisiensi Pengetahuan
C. Intervensi

NO Diagnosa Keperawatan Perencanaan Keperawatan Rasional


Tujuan Intervensi
1. Bersihan Jalan Nafas NOC: NIC:
tidak efektif Respiratory status : a. Pastikan
berhubungan dengan: Ventilation kebutuhan oral /
Obstruksi jalan nafas : Respiratory status : tracheal
perdarahan pada hidung Airway patency suctioning.
Aspiration Control b. Berikan
Setelah dilakukan O2 l/mnt,
tindakan keperawatan metode
selama c. Anjurkan pasien
..pasien untuk istirahat
menunjukkan dan napas dalam
keefektifan jalan nafas d. Posisikan pasien
dibuktikan dengan untuk
kriteria hasil : memaksimalkan
a. Mendemonstrasikan ventilasi
batuk efektif dan e. Lakukan
suara nafas yang fisioterapi dada
bersih, tidak ada jika perlu
sianosis dan f. Keluarkan sekret
dyspneu (mampu dengan batuk
mengeluarkan atau suction
sputum, bernafas g. Auskultasi suara
dengan mudah, nafas, catat
tidak ada pursed adanya suara
lips) tambahan
b. Menunjukkan jalan h. Berikan
nafas yang paten bronkodilator :
(klien tidak merasa i. Monitor status
tercekik, irama hemodinamik
nafas, frekuensi j. Berikan
pernafasan dalam antibiotik
rentang normal, k. Atur intake untuk
tidak ada suara cairan
nafas abnormal) mengoptimalkan
c. Mampu keseimbangan.
mengidentifikasikan
dan mencegah l. Monitor respirasi
faktor yang dan status O2
penyebab. m. Pertahankan
d. Saturasi O2 dalam hidrasi yang
batas normal adekuat untuk
Foto thorak dalam mengencerkan
batas normal sekret
n. Jelaskan pada
pasien dan
keluarga tentang
penggunaan
peralatan : O2,
Suction, Inhalasi.
2 Nyeri akut NOC : NIC :
berhubungan dengan: Pain Level, a. Lakukan
Agen injuri (biologi, pain control, comfort pengkajian nyeri
kimia, fisik, level secara
psikologis), kerusakan Setelah dilakukan komprehensif
jaringan tinfakan keperawatan termasuk lokasi,
selama . Pasien tidak karakteristik,
mengalami nyeri, durasi, frekuensi,
dengan kriteria hasil: kualitas dan
a. Mampu mengontrol faktor presipitasi
nyeri (tahu b. Observasi reaksi
penyebab nyeri, nonverbal dari
mampu ketidak
menggunakan nyamanan
tehnik c. Bantu pasien dan
nonfarmakologi keluarga untuk
untuk mengurangi mencari dan
nyeri, mencari menemukan
bantuan) dukungan
b. Melaporkan bahwa d. Kontrol
nyeri berkurang lingkungan yang
dengan dapat
menggunakan mempengaruhi
manajemen nyeri nyeri seperti suhu
c. Mampu mengenali ruangan,
nyeri (skala, pencahayaan dan
kebisingan
intensitas, frekuensi e. Kurangi faktor
dan tanda nyeri) presipitasi nyeri
d. Menyatakan rasa f. Kaji tipe dan
nyaman setelah sumber nyeri
nyeri berkurang untuk
e. Tanda vital dalam menentukan
rentang normal intervensi
f. Tidak mengalami g. Ajarkan tentang
gangguan tidur teknik non
farmakologi:
napas dala,
relaksasi,
distraksi,
kompres hangat/
dingin
h. Berikan analgetik
untuk
mengurangi
nyeri: ...
i. Tingkatkan
istirahat
j. Berikan
informasi tentang
nyeri seperti
penyebab nyeri,
berapa lama nyeri
akan berkurang
dan antisipasi
ketidaknyamanan
dari prosedur
k. Monitor vital
sign sebelum dan
sesudah
pemberian
analgesik
pertama kali
3
4 Defisiensi Pengetahuan NOC NIC :
: - knowledge : deases Teaching : disease
process process
Ketiadaan atau - knowledge : health
defisiensi informasi behavior - berikan penilaian
kognitif yang berkaitan tentang tingkat
dengan topic tertentu Kriteria Hasil : pengetahuan
pasien tentang
Batasan - pasien dan keluarga proses penyakit
Karakteristik: menyatkan yang spedifik
pemahaman tentang - jelaskan
- perilaku hiperbola penyakit, kondisi, patofisiologi dan
- ketidakakuratan prognosis dan penyakit dan
mengikuti perintah program pengobatan bagaiaman hal ini
- ketidakakuratan - pasien dan keluarga berhubungan
melakukan tes mampu dengan anatomi
- perilaku tidak tepat melaksanakan fisiologi, dengan
- pengungkapan prosedur yang cara yang tepat
masalah dijelaskan secara - gambarkan tanda
benar dan gejala yang
factor yang - pasien dan keluarga biasa muncul pada
berhubungan mampu menjelaskan penyakit, dengan
kembali apa yang cara yang tepat
- keterbatasan kognitif dijelaskan - gambarkan proses
- salah interpretasi perawat/tim penyakit dengan
informasi kesehatan ;ainnya cara yang tepat
- kurang pajanan
- identifikasi
- kurang minat dalam
kemungkinan
belajar
penyebab dengan
- kurang dapat
cara yang tepat
mengingat
- sediakan informasi
- tidak familier dengan
pada pasien tetang
sumber informasi
kondisi dengan
cara yang tepat
- hindari jaminan
yang kososng
- sediakan keluarga
informasi tentang
kemajuan pasien
dengan cara yang
tepat
- diskusikan
perubahan gaya
hidup yang
mungkin
diperlukan untuk
mencegah
komplikasi dimasa
yang akan dating
dan aatau proses
pengontrolan
penyakit
- diskusikan
pemilihan terapi
atau penanganan
- dukung pasien
untuk
mengeksplorasi
atau mendapatkan
second opinion
dengan cara yang
tepat atau
diindikasikan
- rujuk pasien pada
grup atau agensi di
komunitas local
dengan cara tepat
- instruksikan pasien
mengenai tanda
dan gejala untuk
melaporkan pada
pemberi perawatan
kesehatan dengan
cara yang tepat
DAFTAR PUSTAKA

Behrman, dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol.1 Edisi 15. Jakarta: EGC

Behrman, dkk. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol.2 Edisi 18. Jakarta: EGC

Dorland, WA. Newman. 2002. Kamus Kedokteran Dorland Edisi 29. Jakarta: EGC

Smeltzer, suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC

Soepardi, efiaty arsyad. 1997. Telinga-Hidung-Tenggorok. Jakarta : fakultas kedokteran

universitas indonesia

Anda mungkin juga menyukai