BAB II
TINJAUAN UMUM
2.1. Profil Perusahaan
PT. Senamas Energindo Mineral (SEM) merupakan salah satu perusahaan
swasta yang bergerak di bidang pertambangan batubara. PT. SEM mulai
melakukan kegiatan operasi penambangan batubara sejak Tahun 2011 dengan
berdasarkan kepada Surat Keputusan Bupati Barito Timur No. 516 Tahun 2005
Tentang Persetujuan Peningkatan Izin Usaha Operasi Produksi Pertambangan.
Total luas area ijin konsesi yang diberikan sebesar 2.000 Ha dengan luas area
yang dikerjakan sampai saat ini sebesar 420 Ha. PT. SEM merencanakan untuk
melakukan kegiatan penambangan selama 5 tahun dengan sasaran produksi
2.000.000 ton batubara per tahun. Total pekerja yang ada saat ini adalah 600
karyawan yang terdiri dari karyawan tetap dan karyawan kontrak.
Sumber : Departemen Engineering PT. Senamas Energindo Mineral
Gambar 2.1
Peta IUP Operasi Produksi PT. Senamas Energindo Mineral
2.2. Lokasi dan Kesampaian Daerah
5
Lokasi penambangan batubara PT. Senamas Energindo Mineral secara
administratif berada di Desa Jewetan, Kecamatan Karusen Janang, Kabupaten
Barito Timur, Provinsi Kalimantan Timur, dengan batas WIUP :
Sebelah Utara : Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah.
Sebelah Timur : Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan.
Sebelah Selatan : Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan.
Sebelah Barat : Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah.
Sedangkan secara astronomis, terletak pada 115 08 30 115 11 00
BT dan 01 5733,9 2 01 00 LS. Wilayah operasi penambangan dikelola
sendiri oleh PT. SEM terdiri atas 4 Pit, yaitu :
- Pit 1
- Pit 2
- Pit 3
- Pit 5
Perjalanan menuju lokasi penambangan batubara PT. SEM dapat ditempuh
dengan 2 rute dengan perincian sebagai berikut :
1. Melalui rute Banjarmasin :
a. Yogyakarta Jakarta Banjarmasin, Rute ini dapat dijangkau dengan
menggunakan pesawat terbang dengan waktu tempuh 2,50 jam.
b. Banjarmasin Tamiang Layang, Rute ini dapat dijangkau dengan
menggunakan kendaraan roda empat melalui jalan beraspal cukup baik dengan
waktu tempuh 5,00 jam.
c. Tamiang Layang Jawetan/Lokasi Izin Usaha Pertambangan, rute ini
dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan roda empat melalui jalan
beraspal baik dan jalan tanah dengan kondisi kurang terawat, dibutuhkan waktu
tempuh 0,50 jam.
2. Melalui rute Palangkaraya :
a. Yogyakarta Jakarta Palangkaraya, Rute ini dapat dijangkau dengan
menggunakan pesawat terbang dengan waktu tempuh 2,00 jam.
b. Palangkaraya Ampah, Rute ini dapat dijangkau dengan menggunakan
kendaraan roda empat melalui jalan beraspal cukup baik dengan waktu tempuh
4,00 jam.
c. Ampah Jawetan/Lokasi Izin Usaha Pertambangan, rute ini dapat
dijangkau dengan menggunakan kendaraan roda empat melalui jalan beraspal baik
6
dan jalan tanah dengan kondisi kurang terawat, dibutuhkan waktu tempuh
1,00 jam.
Keadaan geografis PT. SEM dapat dilihat pada Gambar 2.2 di bawah ini:
Lokasi
Sumber : Departemen Engineering PT. Senamas Energindo Mineral
Gambar 2.2
Peta Kesampaian Daerah PT. Senamas Energindo Mineral
2.2. Keadaan Geologi
7
Keadaan geologi daerah penelitian di PT. SEM berdasarkan sejarah
geologi, morfologi, stratigrafi, dan struktur geologi adalah:
2.2.1. Keadaan Morfologi di Pit 5 Blok 1 dan Daerah Sekitarnya
Daerah penelitian terbagi menjadi dua satuan geomorfologi yaitu :
a. Satuan geomorfologi perbukitan yang landai dan datar, terletak disebelah
barat dan selatan daerah penelitian yang umumnya didominasi oleh Formasi
Dahor. Pola aliran sungai yang berkembang adalah pola aliran paralel dengan
bentuk umumnya cenderung sejajar.
b. Satuan geomorfologi perbukitan terjal dan bergelombang, terletak
disebelah utara daerah penelitian yang umumnya didominasi oleh Formasi
Warukin dan Formasi Montalat. Pola aliran sungai yang berkembang adalah pola
aliran dendritik dengan bentuk umum tidak beraturan.
2.2.2. Stratigrafi
Daerah penelitian termasuk dala Cekungan Barito, dimana Cekungan
Barito sendiri memiliki luasan sebesar 70.000 km2. Urutan stratigrafi daerah
penelitian dari lapisan tua ke lapisan muda adalah sebagai berikut :
a. Formasi Montalat (Tomm) yang terdiri dari batupasir kuarsa putih dengan
struktur silang siur, sebagian gampingan, berisisipan batulanau/serpih, dan
batubara. Formasi ini menjemari dengan Formasi Berai.
b. Formasi Berai (Tomb) tersusun oleh batu gamping yang berlapis dengan
batulempung, napal, dan batubara, sebagian tersilikakan dan mengandung limonit
yang diendapkan dilaut dangkal.
c. Formasi Warukin (Tmw) tersusun oleh batupasir kasar-sedang sebagian
konglomeratan, bersisipan batulanau/serpih dan batubara. Formasi ini diendapkan
selaras di atas Formasi Berai dan Formasi Montalat, pada lingkungan transisi.
d. Formasi Dahor (Tqd) tersusun oleh batupasir kurang padat sampai lepas,
bersisipan lanau, serpih, dan lignit yang terendapkan dilingkungan peralihan.
e. Endapan permukaan (Qa) yang terdiri dari lumpur kelabu hitam, lempung
bersisipan limonit dan gambut, pasir, kerikil, kerakal dan bongkah batuan-batuan
yang lebih tua dan merupakan hasil endapan sungan dan dataran banjir.
Stratigrafi daerah penelitian dari lapisan tua ke lapisan dapat dilihat pada Gambar
2.3 di bawah ini:
8
Sumber : Departemen Engineering PT. Senamas Energindo Mineral
Gambar 2.3
Stratigafi Daerah Penelitian
Daerah Penelitian didominasi oleh perselingan batulempung, batulanau,
batupasir, dan batubara. Batulempung umumnya berwarna abu-abu hingga abu tua
kehitaman, dengan kekerasan lunak hingga sedang. Batulanau umumnya berwarna
putih kecoklatan hingga kemerahan, ukuran butirnya halus hingga sedang dan bisa
diremas dengan tangan hingga agak keras. Batubara berwarna hitam, kilap kusam,
gores garis coklat, brittle-concoidal.
2.2.3. Struktur Geologi
Daerah penelitian dipengaruhi struktur lipatan dan sesar. Struktur lipatan
berupa antiklin dan sinklin berarah relatih ke utara dan selatan dengan
kemiringan lapisan 10 sampai 15.
9
Sumber : Departemen Engineering PT. Senamas Energindo Mineral
Gambar 2.4
Peta Geologi Daerah Penelitian
2.3. Iklim dan Curah Hujan
Seperti halnya daerah lain di Indonesia, Jewetan dan sekitarnya beriklim
tropis yang dipengaruhi oleh dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.
Musim hujan terjadi pada bulan November sampai dengan bulan Juli, sedangkan
musim kemarau terjadi pada bulan Juli sampai dengan Oktober. Jewetan termasuk
dalam daerah berhujan tropis dengan ciri ciri intensitas curah hujan yang sangat
bervariasi dari rendah hingga hujan intensitas tinggi dengan waktu yang dapat
sangat singkat, tetapi dapat pula dengan waktu yang panjang. Rata rata
temperature sepanjang tahun berkisar antara 200C sampai 340C. Pergerakan
temperatur harian 30C 40C dengan kelembaban relatif 65 97%.
10
Daerah Jewetan memiki iklim dengan curah hujan yang relatif tinggi. Data
curah hujan rata rata daerah Jewetan dan sekitarnya untuk tahun 2002 2016
dapat dilihat pada Gambar 2.4 dengan nilai rata-rata 174,94 mm/bulan, nilai
maksimum 300,17 mm/bulan pada bulan Desember dan nilai minimum 155,67
mm/bulan pada bulan Oktober. Data curah hujan yang lebih detail dapat dilihat
pada Lampiran B.
Gambar 2.5
Grafik Curah Hujan Bulanan PT. Senamas Energindo Mineral Tahun 2002-2016
2.4. Cadangan dan Kualitas Batubara
Kualitas Batubara PT. SEM merupakan batubara kalori rendah dengan
kenampakan berwarna hitam kusam dengan bobot isi 1,3 gr/cm 3. Jumlah
Cadangan batubara yang diperkirakan sebesar 20 juta ton.
Sampel batubara diuji dan dianalisa di Laboratorium PT. Surveyor Carbon
Consulting Indonesia Banjarbaru mengacu pada standar ASTM (American
Society for Testing Material) dan ISO (International Standart Procedure) yaitu uji
proximate yang meliputi analisa Total Moisture, Ash Content, Volatile Matter,
Fixed Carbon, Total Sulphur, dan Calorific Value), selain itu untuk beberapa
keperluan pemasaran ada beberapa analisa tambahan yaitu Full Analysis yang
meliputi Ultimate CHNO, Ash analysis, Ash Fusion Temperature, Trace
Element, dan Hardgrove Grindability Index. Hasil analisi yang menunjukkan
kualitas batubara di tambang PT. SEM terlihat pada Tabel 2.1 sebagai berikut :
11
Tabel 2.1
Hasil Uji Kualitas Batubara PT. Senamas Energindo Mineral
Sumber : Hasil Pengujian PT ......
2.5. Tahapan Kegiatan Penambangan
Kegiatan penambangan yang dilakukan PT. SEM menggunakan sistem
tambang terbuka dengan metode konvensional menggunakan alat mekanis. Pada
metode ini penggalian dan pemuatan material galian dilakukan dengan alat gali-
muat Backhoe, sedangkan pengangkutan material galian dilakukan dengan
menggunakan alat angkut Dumptruck. Kombinasi kedua alat ini pekerjaannya
dibantu oleh alat bantu yaitu bulldozer dan grader. Batubara hasil penambangan
dari pit diangkut menuju stockpile atau menuju ke crusher dipelabuhan,
sedangkan material overburden diangkut menuju lokasi disposal area. Operasi
penambangan berlangsung 24 jam sehari yang terdiri dari 2 shift operasional.
Adapun urutan kegiatan penambangan di PT. SEM meliputi tahap-tahap sebagai
berikut :
12
2.5.1. Pemodelan Geologi dan Perancangan Tambang
Data hasil pengeboran nantinya akan dijadikan acuan dalam pemodelan
dan perancangan bentuk pit, block-block penambangan, dan rancangan biaya yang
diperlukan. Rancangan tersebut akan menjadi acuan untuk kegiatan operasi
produksi dilapangan.
2.5.2. Penggalian dan Pemindahan Lapisan Tanah Penutup (Overburden)
Material overburden yang dipindahkan adalah jenis batulempung dan
batupasir, yang memiliki karakteristik bervariasi, mulai dari material yang lunak
hingga keras. Penggalian material overburden dilakukan oleh Backhoe Komatsu
PC-400LC dengan kapasitas bucket 2,6 m, Backhoe Komatsu PC-800SE dengan
kapasitas bucket 4,3 m, dan Backhoe Volvo EC-700BLC dengan kapasitas bucket
4,6 m yang kemudian dimuat ke Articulated Dumptruck Volvo A40F yang
berkapasitas 39 ton (Gambar 2.6). Material tersebut diangkut dari Front Loading 1
ke Disposal Area dengan jarak 1000 m, Front Loading 2 ke Disposal Area dengan
jarak 700 m, dan Front Loading 3 ke Disposal Area dengan jarak 780 m.
Gambar 2.6
Pemuatan Overburden pada Dumptruck oleh Backhoe
2.5.3. Penimbunan Lapisan Tanah Penutup (Overburden)
Penimbunan yang dilakukan oleh PT. SEM adalah outpit dump
(penimbunan diluar lokasi pit). Metode penimbunan yang digunakan adalah
penimbunan ke arah bawah (crest dump) (Gambar 2.7) yang dilakukan pada area
yang memiliki elevasi lebih tinggi dan luas.
13
Gambar 2.7
Penimbunan Overburden oleh Dumptruck
2.5.4. Penggalian dan Pemuatan Batubara
Kegiatan penggalian batubara di PT. SEM dilakukan dengan cara langsung
menggunakan Backhoe. Alat angkut yang digunakan adalah Articulated Dumptruck
Volvo A40F yang berkapasitas 39 ton dan alat muat menggunakan Backhoe
Komatsu PC-400LC dengan kapasitas bucket 2,6 m dan Backhoe Komatsu PC-
800SE dengan kapasitas bucket 4,3 m.
Gambar 2.8
Penggalian dan Pemuatan Batubara
2.5.5. Pengangkutan Batubara
14
Pengangkutan batubara dari stockyard ke pelabuhan dilakukan
menggunakan Dumptruck Hino FM 260. Jarak dari stockyard ke pelabuhan sekitar
42 km dengan waktu tempuh 1,5 jam. Jalan yang dilalui adalah jalan hauling
khusus untuk alat angkut.
2.5.6. Pengolahan dan Pengapalan Batubara
Batubara yang telah tiba dipelabuhan selanjutnya diangkut menuju
crusher di unit pengolahan (Coal Processing Plant / CPP) untuk direduksi
ukurannya agar sesuai dengan permintaan pasar,. Hasil dari crusher tersebut akan
dibawa ke stockpile melalui belt conveyor. PT. SEM memiliki stockpile dengan
luas 100 Ha.
Untuk pengangkutan dari stockpille ke kapal tongkang dilakukan
menggunaka alat mekanis Backhoe dan ada juga yang memakai belt conveyor.
15
16
17