0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
331 tayangan11 halaman

Pengertian dan Klasifikasi Protista

Protista adalah kelompok makhluk hidup eukariotik yang tidak termasuk kedalam kingdom hewan, tumbuhan, atau jamur. Kebanyakan protista bersifat uniseluler dan meliputi protozoa, alga, dan organisme lainnya. Protista memiliki ciri khas seperti flagella, silia, mampu bergerak, dan dapat hidup secara autotrof atau heterotrof.

Diunggah oleh

Septia Ummu ZamYas
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
331 tayangan11 halaman

Pengertian dan Klasifikasi Protista

Protista adalah kelompok makhluk hidup eukariotik yang tidak termasuk kedalam kingdom hewan, tumbuhan, atau jamur. Kebanyakan protista bersifat uniseluler dan meliputi protozoa, alga, dan organisme lainnya. Protista memiliki ciri khas seperti flagella, silia, mampu bergerak, dan dapat hidup secara autotrof atau heterotrof.

Diunggah oleh

Septia Ummu ZamYas
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROTISTA

A. PENGERTIAN PROTISTA

Protista adalah kelompok makhluk hidup eukariotik (memiliki dinding sel) yang
tidak termasuk kedalam kingdom animalia (hewan), plantae (tumbuhan), dan Fungi
(Jamur). Kebanyakan anggota protista adalah organisme uniseluser (hanya memiliki
satu sel) dan ada beberapa organisme multiseluler (memiliki banyak sel). Secara
bahasa protista berasal dari bahasa Yunani, yaitu protos yang
artinya pertama dan zoa yang berarti hewan, artinya protista merupakan
kelompok makhluk hidup eukariot yang pertama (yang paling sederhana).

Sistem klasifikasi yang menempatkan protista sebagai kingdom tersendiri adalah


Sistem klasifikasi 3, 4, 5, dan 6 kingdom. Sedangkan pada sistem klasifikasi
makhluk hidup 7 kingdom, protista tidak dimasukkan lagi. Untuk lebih memahami
tentang Klasifikasi makhluk hidup silahkan anda kunjungi postingan kami berikut
ini :

B. CIRI DAN STRUKTUR PROTISTA

Seperti yang telah kami bahas pada poin pengertian, bahwa kebanyakan protista
merupakan organisme uniseluler.

Sebagian besar protista memiliki alat tubuh tambahan seperti flagella dan silia,
yaitu sejenis bulu yang berfungsi untuk bergerak.
Kelompok ini bisa dengan mudah ditemukan pada habitat perairan.

Protista dapat bersifat autotrof (mampu menghasilkan makanan sendiri) maupun


heterotrof (tidak mampu menghasilkan makanan sendiri).

Berdasarkan sistem respirasinya, kingdom protista dapat dibagi menjadi dua


kelompok, yaitu yang bersifat aerob (membutuhkan oksigen) dan anaerob
(hidup ada lingkungan yang tidak ada oksigen).

C. KLASIFIKASI PROTISTA
1. Protista Mirip Hewan (Protozoa)

Sesuai dengan namanya, Protozoa merupakan makhluk hidup eukariotik


uniseluler yang mampu berkembangbiak dan bergerak (seperti hewan). Protozoa
merupakan organisme kosmopolit yang artinya dapat hidup dan ditemukan di
banyak tempat seperti udara, air, tanah, dll. Protozoa dapat berkembang biak
secara aseksual dan seksual.

Secara seksual, dilakukan dengan cara konjugasi yaitu dengan melekatnya


2 organisme dan melakukan pertukaran inti.

Secara aseksual, dilakukan dengan cara membelah diri.

Berdasarkan alat geraknya, protista mirip hewan dibagi lagi menjadi 4 kelompok :

a. Filum Rhizopoda (Sarcodina)

Pergerakan Rhizopoda dilakukan dengan menggunakan kaki semu


(pseudopodia). Rhizopoda tidak memiliki bentuk tetap karena selalu
berubah-ubah sesuai dengan pergerakannya. Selain berfungsi untuk
bergerak, kaki semu juga berfungsi untuk menangkap makanannya. Setelah
makanan tersebut dicerna, zat sisa hasil pencernaan akan memadat dan
menepi pada ujung tubuh kemudian keluar dari [Link] tidak dapat
menghasilkan makanan sendiri, maka rhizopoda termasuk organisme
heterotrof. Rhizopoda berkembangbiak dengan membelah diri secara
langsung (pembelahan biner). Contoh anggota filum rhizopoda
adalah Amoeba.
b. Filum Ciliata (Ciliophora/Infusiora)

Sesuai dengan namanya, Ciliata bergerak dengan menggunakan silia (bulu


getar). Selain berfungsi sebagai alat gerak, silia yang terdapat di seluruh
bagian tubuhnya berfungsi menggerakan makanan agar dapat masuk melalui
mulutnya. Karena tidak dapat menghasilkan makanan sendiri, maka Ciliata
termasuk organisme heterotrof. Ciliata biasanya memiliki dua inti sel yang
disebut makronukleus (berukuran lebih besar) dan mikronukleus (berukuran
lebih kecil). Reproduksi aseksual dilakukan dengan membelah diri, dan
seksual dilakukan dengan konjugasi (saling menempelkan tubuh dan
bertukar inti). Contoh anggota filum ini adalah paramecium sp.

c. c. Filum Flagellata (Mastigophora)

Flagella berasal dari bahasa latin yang artinya cambuk. Mastifophora berasal
dari bahasa Yunani yaitu mastig) yang artinya cambuk, dan phora yang
berarti gerakan. Sebagian besar flagellata memiliki dua cambuk di bagian
belakang tubuhnya, sehingga saat bergerak terlihat seperti didorong dari
belakang. Flagellata dapat ditemukan di laut, air, tawar, hidup bersimbiosis
dengan makhluk lain, ataupun hidup secara parasit.

d. Sporozoa (Apicomplexa)

Sporozoa (Sporo = biji, zoa = hewan) merupakan organisme uniseluler yang


tidak memiliki alat gerak. Organisme ini bergerak dengan melakukan
kontraksi seluruh sel. Seluruh Sporozoa hidup secara parasit, dan makanan
diserap langsung dari inangnya. Reproduksi sporozoa dapat berlangsung
secara seksual maupun aseksual. Secara seksual terjadi dengan pertemuan
mikrogamet dan makrogamet dalam tubuh inang. Sedangkan aseksual
dilakukan dengan pembelahan sel. Contoh sporozoa adalah plasmodium
vivax, malaria, dan ovale yang merupakan penyebab penyakit malaria pada
manusia.

2. Protista Mirip Tumbuhan (Alga)

Protista mirip tumbuhan yang uniseluler sering disebut fitoplankton, sedangkan


protista mirip tumbuhan multiseluler sering disebut alga. Sama seperti namanya,
protista mirip tumbuhan, baik alga maupun fitoplankton mampu melakukan
fotosintesis. Fitoplankton memiliki peranan penting dalam memberikan oksigen
ke atmosfer melalui proses fotosintesis yang dilakukan. Protista Mirip
Tumbuhan dibagi kedalam 7 Filum, yaitu :

a. Euglenophyta

Filum Euglenophyta merupakan organisme uniseluler yang flagella (bulu


cambuk), Bintik mata yang dapat menangkap cahaya (disebut stigma), dan
kloroplas. Beberapa anggota filum Euglenophyta dapat hidup secara autotrof
(menghasilkan makanan sendiri) maupun heteretrof (memburu makanan).
Ketika cahaya cukup, maka mereka akan hidup secara autotrof, sedangkan
ketika cahaya melemah, mereka akan hidup secara heterotrof. Biasanya
ditemukan di perairan dan berkembangbiak dengan cara membelah diri.
Euglenophyta merupakan salah satu protista yang mirip tumbuhan (mampu
berfotosintesis) dan juga mirip hewan (dapat melakukan pergerakan aktif).

b. Chrysophyta (Alga Emas)

Filum Chrysophyta merupakan organisme yang anggotanya memiliki variasi


bentuk dan struktur. Alga biasanya berwarna cokelat-keemasan. Habitatnya
banyak di air tawar dan tanah lembab, juga dapat ditemuka di lautan. Pigmen
warna yang dominan terdapat pada tubuh Chrysophyta adalah karoten dan
fikosantin sehingga tubuhnya berwarna cokelat-keemasan. Namun juga
dapat memiliki klorofil yang memberikan warna hijau.

c. Pyrrophyta/Dinoflagellata (Ganggang Api)

Penamaannya ganggang api muncul karena beberapa ciri anggota protista


mirip tumbuhan kelompok ini, contohnya mereka tampak bersinar ketika
malam hari. Beberapa pyrrophyta jumlahnya akan meningkat pesat pada
waktu tertentu, misalnya ketika air hangat dan kaya nutrisi sehingga
membuat lautan tampak berwarna merah kecoktlatan (red tide). Ketika
muncul red tide, kondisi air akan miskin oksigen, juga kadang-kadang
menjadi beracun sehingga ketika fenomena ini terjadi banyak makhluk hidup
lain yang mati. Sebenarnya warna ganggang api dapat beranekaragam, hijau,
kuning, cokelat dan lainnya, warna ini tergantung kepada pigmen yang lebih
dominan dalam menyusun tubuhnya. Biasanya ganggang api memiliki
pigmen klorofil a dan c, santofil, dinosatin dan fikobilin. Spesies
dinoglagellata biasanya merupakan organisme uniseluler namun ada juga
yang multiseluler. Ganggang api ini memiliki dua flagellata yang dapat
membuat gerakan memutar sehingga sering juga disebut dinoflagellata (dino
= pusaran air). Ganggang api umumnya merupakan organisme fotoautotrof,
tetapi ada juga spesies yang hidup sebagai parasit.

d. Phaeophyta (ganggang cokelat)

Phaeophyta adalah kelompok protista mirip tumbuhan yang memiliki


pigmen dominan berupa karoten, yaitu fukosantin, sehingga memberikan
warna cokelat pada tubuhnya. Penamaan ganggang ini sesuai dengan ciri-
cirinya, phaeophyta berasal dari phaeios bahasa Yunani yang artinya
cokelat. Selain fukosatin, ganggang cokelat juga memiliki pigmen klorofil a,
c, dan santofil. Anggota dari Phaeophyta yang telah dikenali lebih dari 1000
spesies. Hampir semua ganggang cokelat hidup di pinggir pantai, mereka
kebanyakan merupakan organisme multiseluler yang berbentuk seperti
benang. Struktur phaeophyta sangat mirip dengan tumbuhan seutuhnya
karena memiliki akar, batang dan daun. Reproduksinya secara aseksual
dengan membelah diri menghasilkan zoospora atau secara fragmentasi.
Sedangkan secara seksual dengan menghasilkan gamet jantan dan betina.

e. Bacillariophyta (Diatom)

Filum ini merupaka filum yang memiliki anggota paling banyak


dibandingkan kelompok lain pada protista mirip tumbuhan. Spesiesnya yang
telah dikenali berjumlah sekitar 10.000. Secara umum Bacillariophyta
merupakan organisme uniseluler yang tidak begerak dan hidup sebagai
plankton. Diatom dapat berbentuk seperti benang, bulat, atau segitiga.
Diatom memiliki struktur tubuh yang sangat khas, yaitu bagian tubuhnya
terdiri atas kotak (hipoteka) dan tutup (epiteka), nah antara kotak dan tutup
tersebut terdapat celah yang disebut rafe. Dinding selnya mengandung pektin
dan silikat, apabila organisme ini mati, maka cangkang tersebut akan
membentuk tanah diatom yang memiliki harga jual lumayan karena dapat
dimanfaatkan untuk berbagai hal. Reproduksi diatom dapat terjadi secara
seksual maupun aseksual. Diatom juga sering di masukkan kedalam
kelompok Chrysophyta (Alga Keemasan), namun disini saya
memisahkannya agar informasi yang didapat tentang diatom lebih banyak.
f. Rhodophyta (Alga Merah)
Rhodophyta merupakan filum yang memiliki pigmen dominan fikobilin
yaitu fikoeitrin sehingga memberikan warna merah ada tubuhnya, namun
rhodophyta juga memiliki pigmen fikosianin yang memberikan warna biru
(tidak dominan). Anggota filum ini yang telah dikenali berkisar sekitar 4000
spesies yang umumnya merupakan organisme multiseluler. Kebanyakan
rhodophyta hidup di laut, dan sebagian kecil dapat ditemukan di air tawar.
Reproduksinya dapat berlangsung secara aseksual dan seksual. Secara
aseksual rhodophyta dengan membentuk tetraspora. Sedangkan secara
seksual langsung dengan gamet jantan dan betina.

g. Chlorophyta (Alga Hijau)


Sesuai dengan namanya, Chlorophyta memiliki tubuh berwarna kehijauan.
Pigmen dominan penyusun tubuhny adalah klorofil, selain itu mereka juga
memiliki sedikit karotin (pigmen kuning). Dalam tubuh alga hijau klorofil
berkumpul dalam suatu tempat yang disebut kloroplas. Bentuk kloroplas
pada masing - masing anggotanya bervariasi, ada yang berbentuk bulat,
bentuk spiral, seperti bintang, dll. Chlorophyta merupakan organisme
uniseluler yang dapat berkoloni membentuk organisme multiseller
sederhana. Mereka sering ditemukan hidup pada habitat yang berair. Karena
memiliki klorofil, alga hijau merupakan makhluk hidup autotrof yang
menghasilkan makanan melalui proses fotosintesis. Reproduksi dapat terjadi
secara aseksual (melalui pembelahan biner) maupun secara seksual (melalui
Konjugasi).

3. Protista Mirip Jamur


Kelompok protista dibawah ini dikatakan mirip jamur karena memiliki ciri,
struktur tubuh, dan cara reproduksi mirip jamur. Perbedaannya dengan jamur
terletak pada sifatnya. Jamur (Fungi) memiliki zigot yang tidak dapat bergerak
(imotil) sedangkan protista mirip jamur memiliki zigot yang dapat bergerak
(motil). Berikut adalah 3 kelompok protista mirip jamur :

a. Myxomycota (Jamur lendir)


Myxomycota disebut juga jamur lendir plasmodial. Semua anggota
Myxoycota bersifat heterotrof karena tidak bisa melakukan fotosintesis
sehingga tidak mampu menghasilkan makanan sendiri. Biasanya jamur
lendri plasmodium memiliki pigmen warna yang terang, dapat berwarna
kuning atau oranye. Plasmodium dapat tumbuh hingga diameternya
mencapai satuan sentimeter (cm), namun demikian mereka merupakan
organisme uniseluler, ukurang tubuhnya besar karena kelompok ini dapat
memiliki banyak nukleus. Habitat myxomycota dapat ditemukan di hutan
basah, kayu lapuk, dan tanah lembab. Dalam siklus hidupnya terdapat
kumpulan sel amoeboid yang disebut plasmodium. Sl amoeboid merupakan
sel-sel yang dapat hidup bebas yang dihasilkan oleh jamur lendir.

Plasmodium dapat memakan bakteri, hama, spora dan komponen organik


lainnya. Setelah makanan dimakan, maka akan dicerna dengan mekanisme
fagositosis. Ketika makanan kurang, maka sel sel ini akan bergabung
membentuk sesuatu seperti lendir. Kemudian massa yang seperti lendir ini
akan mencari lingkungan baru yang lebih mendukung kebutuhannya.
Pergerakan massa tersebut dilakukan dengan kontraksi dari masing-masing
sel yang bergabung tadi. Ketika habitatnya kering dan tidak dapat
memberikan makanan, maka plasmodium akan berhenti tumbuh dan
berkembang, serta akan berdiferensiasi menjadi suatu tahapan siklus hidup
yang berfungsi untuk reproduksi seksual.

b. Acrasiomycota
Acrasiomycota merupakan jamur lendiri seluler. Berbeda dengan
myxomycota yang merupakan jamur lendir plasmodium. Perbedaan dasar
keduanya adalah Acrasiomycota merupakan organisme haploid (hanya
memiliki satu set kromosom), hanya zigotnya saja yang bersifat diploid
(memiliki dua set kromosom). Sedangkan Myxomycota menjalani hidupnya
lebih dominan sebagai organisme diploid. Selain itu Acrasiomycota atau
jamur lendir seluler memiliki tubuh yang berfungsi untuk menghasilkan
spora saat reproduksi aseksual. Acrasiomycota tidak memiliki siklus hidup
berflagel.

c. Oomycota (Jamur air)


Sebenarnya nama jamur air untuk Oomycota kurang tepat, karena itu
merupakan salah satu spesies fillum ini. Oomycota berasal dari kata Oo
yang artinya telur dan Mycota yang artinya jamur. Sebagian besar
oomycota hidup sebagai pengurai dan berperan penting di habitat perairan.
Beberapa anggotanya juga hidup sebagai parasit. Reproduksi Oomycota
dapat terjadi secara aseksual maupun seksual. Secara Aseksual mereka akan
membentuk zoospora yang apabila jatuh pada lingkungan yang sesuai akan
menjadi organisme baru. Sedangkan secara seksual dengan pertemuan gamet
jantan dan gamet betina.
KINGDOM PROTISTA

A. Pengertian

Kata protista beraal dari bahasa yunani yaitu protos yang berarti pertama.
Dinamakan demikian karena menurut para ahli, protista adalah organisme eukariotik
pertama yang terbentuk dari evolusi organisme prokariota. Pada sistem klasifikasi dua
kingdom, anggota protista dikelompokkan sebagian dalam dunia tumbuhan dan lainnya
ke dalam dunia hewan. Namun, tubuh protista yang amat sederhana, hanya tersusun atas
satu sel (uniseluler), maka kelompok ini dikhususkan ke dalam kingdom tersendiri.
Meskipun terdapat protista yang makroskopis (multiseluler), susunan tubuhnya masih
sangat sederhana dibandingkan organisasi seluler pada organisme multiseluler sejati
(hewan dan tumbuhan).

B. Ciri-Ciri Kingdom Protista


1. Umumnya uniseluler

Kelompok protista memiliki tubuh yang tersusun atas stu sel. Adapun protista
multiseluler merupakan bentuk koloni dari sel sel protista, belum membentuk suatu
jaringan seperti yang ditemukan pada kelompok algae makroskopis. sel- sel protista
melakukan semua fungsi fisiologis kehidupan organisme: bernapas, makan, sampai
bereproduksi. sementara protsta multiseluler melakukan kerjasama untuk menjalankan
fungsi fungsi tersebut tanpa harus membagi tugas, seperti pada organisme multiseluler
sejati.

2. Tipe sel: eukaryotik

Sel eukariotik ialah sel yang telah memiliki inti sejati. Hal ini ditandai dengan
adanya membran inti yang memisahkan materi genetik dengan sitoplasma. Selain itu,
protista juga memiliki organel organel bermembran seperti mitokondria, kloroplas
(algae), retikulum endoplasma, atau badan golgi dan vakuola. Protista merupakan
oganisme eukaryiotik yang paling tertua. Fosil protista ditemukan telah hidup sejak 2,1
milyar tahun yang lalu. Para ahli evolusi meyakini bahwa protista merupakan bentuk
evolusi dari organisme prokariotik dan meyakini bahwa protista adalah nenek moyang
organisme eukariotik lainnya.
3. Habitat: perairan, lembab, atau dalam organisme lain

Kelompok protista pada umumnya dapat ditemukan pada perairan tawar atau asin,
atau daerah lembab. Namun ada juga protista yang hidup dalam organisme lain sebagai
parasit atau simbiosis.

4. Cara Makan

Berdasarkan cara memperoleh sumber makanannya, protista dikelompokkan


menjadi:

a. Fotoautotrof adalah kelompok protista fotosintetik yang mampu membuat


makannya dari senyawa anorganik dengan bantuan cahaya. Oleh karena itu,
organisme ini disebut protista mirip tumbuhan (alga).

b. Heterotrof adalah protista yang mendapatkan makannya dari organisme lain dengan
cara memangsa atau mengadakan simbiosis atau parasitisme. Kelompok ini adalah
protista mirip hewan (protozoa).

c. Saprofit adalah protista yang memiliki peranan sebagai pengurai (dekomposer)


karena dapat mencerna sisa organisme dengan enzim yang dikeluarkan
kelingkungan. Kemudian sari sari makannya akan diabsorp ke dalam tubuh.
Kelompok protista ini disebut mirip jamur.

5. Reproduksi Seksual & Aseksual

a. Seksual, reproduksi secara seksual dilakukan dengan cara konjugasi atau singami.
pada umumnya reproduksi seksual dilakukan ketika protista berada dalam
lingkungan yang berbahaya.

b. Aseksual, merupakan reproduksi yang paling umum dilakukan oleh kelompok


protista. Jenis reproduksi yang sering dilakukan ialah dengan membelah diri atau
melalui pembelahan mitosis untuk menghasilkan individu baru.

C. Klasifikasi Kingdom Protista

1. Protista Mirip Hewan: Protozoa

Kelompok protozoa adalah kelompok protista yang memiliki sifat seperti hewan
yakni heterotrof dan dapat bergerak. Filum protozoa digolongkan ke dalam empat kelas
berdasarkan alat gerak yang dimilikinya, yaitu:
a. Rhizopoda, yaitu protozoa yang bergerak menggunkan kaki menyerupai akar atau
disebut juga pseudopodia. Organisme golongan ini memiliki bentuk yang amorf,
berkembangbiak dengan membelah diri, dan mendapat makanannya dengan
memangsa bakteri atau parasit bagi organisme lain. Contoh: Amoeba sp.

b. Flagellata, yaitu kelompok protozoa yang bergerak dengan flagel atau bulu cambuk.
Hidup di dalam lingkungan perairan atau di dalam tubuh organisme lain sebagai
parasit. Contoh: Trypanosoma sp.

c. Ciliata atau rambut getar adalah penonjolan halus sitoplasma sel yang didukung oleh
mikrofilamen (sitoskleton). Golongan protozoa ini hidup diperairan air tawar atau
asin. Contoh: Paramecium sp. dan Stentor sp.

d. Sporozoa ialah satu satunya golongan protozoa yang tidak memiliki alat gerak.
Dinamakan demikian karena bentuknya menyerupai bola dan berkembangbiak
dengan spora. Pada umumnya kelompok ini hidup di dalam organisme lain sebagai
parasit. Contoh, Plasmodium sp.

2. Protista Mirip Tumbuhan: Algae (Ganggang)

Adalah golongan protista fotosintestik. Tubuhnya tersusun atas satu sel atau
berkoloni membentuk tubuh multiseuler. Berbeda dengan protoza, algae memiliki
klorofil seperti pada tumbuhan, dan para ahli meyakini bahwa algae adalah nenek
moyang tumbuhan. Algae multiseluler tidak memiliki jaringan, tubuhnya berbentuk
lembaran yang disebut talus (sebelumnya kelompok ini dimasukkan ke dalam kingdom
tumbuhan thalophyta, tumbuhan berbentuk lembaran). Kelompok ini dibedakan menjadi
empat kelas berdasarkan pigmen dominan yang dimilikinya:

a. Chlorophyta adalah kelompok alga hijau. Algae ini tersusun atas satu sel atau
banyak sel. Ditemukan pada perairan air tawar (unisel) dan air laut (multisel).
Spesies uniseuler umumnya memiliki alat gerak. Berkemangbiak dengan membelah
diri, fragmentasi, atau konjugasi. Contoh: Euglena sp. (uniseluler) dan Ulna sp.
(multiseluler).

b. Chrysophyta atau alga emas adalah kelompok alga yang memiliki pigmen karoten
(kuning orange). Selain itu, memiliki pigmen klorofil untuk fotosintesis. Seperti
alga hijau, kelompok ini ada yang tersusun atas satu sel dan ada yang banyak sel.
Ditemukan di air tawar dan laut. Contoh, Diatome (unisel) dan Vaucheria sp.
(multiseluler).

c. Phaeophyta memiliki pigmen fikoxantin (cokelat) sehingga disebut alga coklat.


Alga ini merupakan alga multiseluler dan makroskopik dan sering ditemukan di
perairan air laut. Tubuhnya dilapisi oleh gelatin untuk melindungi dari terpaan
ombak. Reproduksi secara seksual atau aseksual (spora). Banyak dimanfaatkan
dalam industri makanan dan cat karena memiliki zat algin. Contoh. Sargassum sp.

d. Rhodophyta atau ganggang merah memiliki pigmen fikoeritin (merah), dan klorofil.
Alga ini merupakan alga yang sering disebut sebagai rumput laut. Banyak
dimanfaatkan sebagai bahan makanan (agar agar) atau pembuatan kosmetik.
Contoh: Polysiphonia sp.

3. Protista Mirip Jamur: Myxomycota [Jamur Lendir] & Oomycota [Jamur air]

Jamur lendir dan jamur air adalah bukan jamur sejati. Mereka merupakan protista
yang pada masa hidupnya memiliki bentuk seperti jamur sejati yang membentuk
sporangia atau membentu filamen yang menyerupai hifa. Jamur lendir berwarna kuning
sementara jamur air berwarna putih. Dinding sel spesies ini tersusun atas selulosa
sementara jamur sejati dilindungi dinding sel dari zat kitin. Keduanya berperan sebagai
pengurai dalam ekosistem.

Common questions

Didukung oleh AI

Chloroplasts in protist-like algae, such as in Chlorophyta, are similar in function to those in higher plants, enabling photosynthesis by capturing light energy to produce glucose and oxygen. Protists can also contain additional pigments which differentiate them from plants, such as carotenoids in Chrysophyta and phycoerythrin in Rhodophyta, allowing them to adapt to specific light conditions in their habitats. This cellular adaptation is crucial for their ecological role as primary producers in various ecosystems .

Protists thrive in diverse habitats such as aquatic environments, soil, and within other organisms. This diversity enhances their role in ecosystems, allowing them to perform various ecological functions: as primary producers in aquatic food chains (algae), decomposers of organic matter (fungus-like protists), and mutualists or pathogens in symbiotic relationships. Their presence is crucial for nutrient cycling, oxygen production, and as a food source for higher organisms, supporting biodiversity and ecosystem stability .

Protists are distinguished from other eukaryotic organisms by their simple cellular structure, usually being unicellular, and not classified under the kingdoms Animalia, Plantae, or Fungi. They were historically classified as a separate kingdom due to their eukaryotic nature and unique characteristics such as being autotrophic or heterotrophic. In biological systems, protists are categorized into several groups based on similarities to animals (protozoa), plants (algae), or fungi. For instance, protozoa are often categorized by their movement apparatus such as flagella or cilia .

Photosynthetic protists, like algae, rely on sunlight to convert inorganic substances into energy-rich compounds, contributing significantly to oxygen production and serving as primary producers. Non-photosynthetic protists, like protozoa, obtain energy through consuming organic material or living symbiotically or parasitically with other organisms. These strategies affect their interactions by determining their ecological roles—either contributory, symbiotic, or competitive within their environments—highlighting their adaptive versatility across different ecosystems .

Protozoa employ various movement strategies such as pseudopodia in Rhizopoda, cilia in Ciliata, and flagella in Flagellata. These adaptations enable them to actively hunt for food and avoid predation, allowing them to inhabit diverse environments from aquatic to terrestrial ecosystems. Their ability to adapt quickly to environmental changes through sexual reproduction (conjugation) enhances their survival rate and propagates genetic diversity in new and changing habitats .

Protists resembling fungi, such as Myxomycota and Oomycota, differ from true fungi in several ways. They have cell walls made of cellulose rather than chitin, can have motile life stages (e.g., Myxomycota have motile amoeboid cells), and participate actively in decomposing organic material. This positions them as crucial decomposers in ecosystems, breaking down dead organic matter and recycling nutrients, with Myxomycota typically found in moist environments and Oomycota often acting as pathogens .

Protist-like algae primarily include Chlorophyta, Chrysophyta, Phaeophyta, and Rhodophyta, characterized by their ability to perform photosynthesis. This autotrophic mechanism allows them to produce oxygen and serve as a primary food source in aquatic ecosystems. Chlorophyta are green algae rich in chlorophyll, Chrysophyta are golden algae utilizing carotenes, Phaeophyta are brown algae that dominate marine coastlines, and Rhodophyta are red algae found in deep water. Their presence is crucial for balancing oxygen levels and serving as a food base .

Protists reproduce both sexually and asexually. Asexual reproduction often involves binary fission or mitosis, while sexual reproduction can occur through processes like conjugation or syngamy, especially when environmental conditions become unfavorable, such as increased predation or nutrient deficiency, triggering a need for genetic variation and resilience .

Dinoflagellates can cause "red tides" when environmental conditions favor their rapid proliferation, often induced by warm waters and nutrient-rich conditions. Such events reduce oxygen levels in the water and can release toxins, leading to massive die-offs of marine life and causing economic and ecological disruptions, such as fishery declines and altered marine ecosystems. The phenomena are influenced by climatic variations and nutrient runoffs from agriculture or urban areas .

From an evolutionary perspective, protists are considered the earliest and simplest form of eukaryotic life. They represent a vital evolutionary link between prokaryotes and higher eukaryotic kingdoms like Animalia, Plantae, and Fungi. This is evidenced by their simple eukaryotic cell structure, indicating they are a diverse and polyphyletic group arising from common eukaryotic ancestors, and provide crucial insights into the evolution and diversification of more complex eukaryotes .

Anda mungkin juga menyukai