KEBAKARAN
Pengertian (Definisi) Api dan Kebakaran
Pengertian (Definisi) Api ialah suatu reaksi kimia (oksidasi) cepat yang terbentuk dari 3
(tiga) unsur yaitu panas, oksigen dan bahan mudah terbakar yang menghasilkan panas dan
cahaya.
Ilustrasi 3 (tiga) unsur api dapat dilihat sebagaimana pada gambar segitiga api berikut.
Sedangkan pengertian (definisi) Kebakaran ialah nyala api baik kecil maupun besar pada
tempat, situasi dan waktu yang tidak dikehendaki yang bersifat merugikan dan pada
umumnya sulit untuk dikendalikan.
Kebakaran juga termasuk dalam salah satu kategori kondisi/situasi darurat di lingkungan
Perusahaan baik dari luar maupun dalam lokasi tempat kerja.
Kebakaran Menurut NFPA (National Fire Protection Association) Amerika
Kebakaran diklasifikan (dikelompokkan) berdasarkan sumber penyebab api yang
muncul dalam kejadian kebakaran. Klasifikasi (kelas) kebakaran secara umum
merujuk pada klasifikasiInternasional yaitu klasifikasi (kelas) kebakaran menurut
NFPA (National Fire Protection Association) Amerika.
Sumber terakhir sampai dengan artikel ini disusun, NFPA membagi klasifikasi (kelas)
kebakaran menjadi 6 (enam) kelas yaitu : Kebakaran Kelas A, Kebakaran Kelas B,
Kebakaran Kelas C, Kebakaran Kelas D, Kebakaran Kelas E dan Kebakaran Kelas K.
Klasifikasi (kelas) kebakaran berguna untuk menentukan media pemadam efektif untuk
memadamkan api/kebakaran menurut sumber api/kebakaran tersebut, serta berguna untuk
menentukan tingkat keamanan jenis suatu media pemadam sebagai media pemadam suatu
kelas kebakaran berdasarkan sumber api/kebakarannya.
Klasifikasi (kelas) kebakaran berdasarkan NFPA berikut dengan media pemadam
efektifnya antara lain :
Kelas Kebakaran Pemadam
Kertas, Kain, Plastik,
Kayu
Padat Air, Uap Air, Pasir, Busa, CO2, Serbuk Kimia
NonLogam Kering, Cairan Kimia
Metana, Amoniak, Solar
Gas/Uap/Cairan CO2, Serbuk Kimia Kering, Busa
Arus Pendek
CO2, Serbuk Kimia Kering, Uap Air
Listrik
Aluminium, Tembaga,
Besi, Baja
Serbuk Kimia sodium Klorida, Grafit
Logam
Bahan-Bahan Radioaktif <Belum Diketahui Secara Spesifik>
Radioaktif
Lemak dan Minyak
Masakan
Bahan Makanan Cairan Kimia, CO2
Bahaya dan Kerugian Kebakaran
Kebakaran ialah nyala api baik kecil maupun besar pada tempat, situasi dan waktu yang tidak
diinginkan dan umumnya bersifat merugikan dan sulit dikendalikan.
Kejadian kebakaran baik itu kebakran kecil ataupun kebakaran besar terdapat beberapa
bahaya di dalamnya yang patut kita ketahui untuk keselamatan.
Di antara bahaya-bahaya kebakaran tersebut antara lain ialah :
1. Api (jilatan api yang dapat membakar kulit/tubuh).
2. Suhu panas (dapat menyebabkan hipertermia).
3. Asap (dapat menyebabkan sesak nafas dan mengganggu pengelihatan).
4. Gas-gas beracun (dapat menimbulkan penyakit dan gangguan kesehatan lainnya).
5. Runtuhan bangunan (dapat menimpa korban yang terjebak di dalamnya sewaktu-
waktu).
6. Ledakan (bahan mudah meledak di sekitar area kebakaran dapat melukai apa saja di
dekatnya).
7. Dsj.
Di samping bahaya kebakaran di atas, kebakaran juga dapat menimbulkan kerugian yang
diantaranya ialah sebagai berikut :
1. Manusia (korban jiwa pada kejadian kebakaran).
2. Material (nilai bangunan dan aset yang rusak disebabkan kejadian kebakaran).
3. Lingkungan (flora dan fauna yang musnah karena kejadian kebakaran, efek termal
kebakaran serta peningkatan gas CO2 dan polusi).
4. Ekonomi (kerugian finansial akibat tidak mampu berjalannya bisnis dampak dari
kejadian kebakaran).
5. Sosial (PHK massal dikarenakan kebangkrutan bisnis dampak dari kejadian
kebakaran).
Tahap Terjadinya Kebakaran
Kejadian kebakaran pada umumnya menimbulkan banyak kerugian baik itu korban jiwa
maupun kerugian harta benda. Hal tersebut dikarenakan pada umumnya kebakaran sulit untuk
dikendalikan (dipadamkan). Untuk menghindari kerugian yang dimaksud, maka perlu kita
kenali sifat-sifat terjadinya (tahap-tahap) kebakaran tersebut.
Tahap-tahap kebakaran tersebut antara lain :
1. Tahap Kebakaran Muncul
o Reaksi 3 (tiga) unsur api (panas, oksigen dan bahan mudah terbakar).
o Dapat padam dengan sendirinya apabila api tidak dapat mencapai tahap
kebakaran selanjutnya.
o Menentukan tindakan pemadaman atau untuk menyelamatkan diri.
2. Tahap Kebakaran Tumbuh
o Api membakar bahan mudah terbakar sehingga panas meningkat.
o Dapat terjadi flashover (ikut menyalanya bahan mudah terbakar lain di sekitar
api karena panas tinggi).
o Berpotensi menimbulkan korban terjebak, terluka ataupun kematian bagi
petugas pemadam.
3. Tahap Kebakaran Puncak
o Semua bahan mudah terbakar menyala secara keseluruhan.
o Nyala api paling panas dan yang paling berbahaya bagi siapa saja yang
terperangkap di dalamnya.
4. Tahap Kebakaran Reda (Padam)
o Tahap kebakaran yang memakan waktu paling lama di antara tahap-tahap
kebakaran lainnya.
o Penurunan kadar O2 (oksigen) atau bahan mudah terbakar secara signifikan
yang menyebabkan padamnya api (kebakaran).
o Terdapatnya bahan mudah terbakar yang belum menyala berpotensi
menimbulkan nyala api baru secara.
o Berpotensi menimbulkan backdraft (ledakan yang terjadi akibat masuknya
pasokan oksigen secara tiba-tiba dari kebakaran ruang tertutup yang dibuka
mendadak saat kebakaran berlangsung).
Gambar di bawah mengilustrasikan tahap-tahap kebakaran dari muncul api sampai
kebakaran reda (padam):
Faktor Penyebab Kebakaran dan Upaya Pencegahan Kebakaran
Kebakaran ialah nyala api baik kecil maupun besar pada tempat, situasi dan waktu yang tidak
diinginkan dan umumnya bersifat merugikan dan sulit dikendalikan.
Faktor-faktor penyebab terjadinya kebakaran diantaranya ialah :
1. Faktor terjadinya kebakaran karena alam :
o Petir (misal : sambaran petir pada bahan mudah terbakar).
o Gempa bumi (misal: gempa bumi yang mengakibatkan terputusnya jalur gas
bahan bakar)
o Gunung meletus (dikarenakan lava pijar yang panas membakar tumbuhan
kering disekitarnya).
o Panas matahari (misal : panas matahari yang memantul dari kaca cembung ke
dedaunan kering di sekitarnya).
o Dsj.
2. Faktor terjadinya kebakaran karena manusia :
o Disengaja (pembalakan liar, balas dendam, dsj).
o Kelalaian (lupa mematikan tungku pembakaran saat akan meninggalkan
rumah, dsj).
o Kurang pengertian (membuang rokok sembarangan, merokok di dekat tempat
pengisian bahan bakar, dsj).
3. Fartor penyebab kebakaran karena binatang : tikus, kucing dan binatang peliharaaan
lainnya yang berpotensi menimbulkan kebakaran akibat terdapat sumber api di sekitar
rumah tanpa pengawasan, dsj.
Oleh karena sifat kebakaran dimana mengakibatkan banyak kerugian, maka untuk mencegah
terjadinya kebakaran dapat diupayakan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Mengadakan penyuluhan mengenai bahaya kebakaran dari pemerintah kepada
masyarakat.
2. Pengawasan bersama terhadap segala potensi-potensi kebakaran secara bersama-sama
saling mengingatkan.
3. Menyediakan sarana pemadam kebakaran aktif maupun pasif di area yang berpotensi
tinggi terjadi kebakaran.
Cara (Metode) Memadamkan Api / Kebakaran
Untuk dapat memadamkan api (kebakaran) terdapat beberapa metode/cara berdasarkan teori
terbentuknya api (segitiga api) yaitu diantaranya ialah dengan metode pendinginan, isolasi,
dilusi, pemisahan bahan mudah terbakar dan pemutusan rantai reaksi api.
Metode prinsip pemadaman api/kebakaran
1. Pendinginan
o Menghilangkan unsur panas.
o Menggunakan media bahan dasar air.
2. Isolasi
o Menutup permukaan benda yang terbakar untuk menghalangi unsur O2
menyalakan api.
o Menggunakan media serbuk ataupun busa.
3. Dilusi
o Meniupkan gas inert untuk menghalangi unsur O2 menyalakan api.
o Menggunakan media gas CO2.
4. Pemisahan Bahan Mudah Terbakar
o Memisahkan bahan mudah terbakar dari unsur api.
o Memindahkan bahan-bahan mudah terbakar jauh dari jangkauan api.
5. Pemutusan Rantai Reaksi
o Memutus rantai reaksi api dengan menggunakan bahan tertentu untuk
mengikat radikal bebas pemicu rantai reaksi api.
Sarana Proteksi Kebakaran Aktif dan Pasif
Dalam menyediakan sarana proteksi kebakaran di suatu tempat, maka dikenal 2 (dua) istilah
yaitu sarana kebakaran aktif dan sarana kebakaran pasif. Berikut penjelasannya :
Sarana Proteksi Kebakaran Aktif
Sarana proteksi kebakaran aktif berupa alat ataupun instalasi yang disiapkan untuk
mendeteksi dan atau memadamkan kebakaran. Di antara sarana proteksi kebakaran aktif
antara lain :
1. Detektor Asap, Api maupun Panas.
2. Alarm kebakaran otomatis maupun manual.
3. Tabung Pemadam / APAR (Alat Pemadam Api Ringan).
4. Sistem Hidran.
5. Sistem Springkler.
Sarana Proteksi Kebakaran Pasif
Sarana proteksi kebakaran pasif berupa alat, sarana atau metode/cara mengendalikan asap,
panas maupun gas berbahaya apabila terjadi kebakaran. Di antara sarana proteksi kebakaran
pasif antara lain :
1. Sistem Kompartementasi (Pemisahan Bangunan Resiko Kebakaran Tinggi).
2. Sarana Evakuasi dan Alat Bantu Evakuasi.
3. Sarana dan Sistem Pengendali Asap dan Api (Fire Damper, Smoke Damper, Fire
Stopping, dsj).
4. Fire Retardant (Sarana Pelambat Api).
Dasar-Dasar Perancangan Sarana Evakuasi Darurat
Sarana Evakuasi adalah sarana dalam bentuk konstruksi dari bagian bangunan yang
dirancang aman sementara (minimal 1 jam) untuk jalan menyelamatkan diri bila terjadi
kebakaran bagi seluruh penghuni di dalamnya tanpa dibantu orang lain.
Ketentuan Umum Perancangan Sarana Evakuasi Darurat
Setiap tempat kerja harus tersedia jalan selain pintu masuk-keluar utama untuk
menyelamatkan diri apabila terjadi kebakaran. Pintu tersebut harus membuka keluar dan tidak
diperkenankan untuk dikunci. Petunjuk arah evakuasi harus terlihat jelas dalam keadaan
gelap.
Ketentuan Teknis
1. Laju Alir : 40 orang/menit.
2. Durasi Evakuasi :
o Hunian Resiko Bahaya Kebakaran Ringan : 2 menit.
o Hunian Resiko Bahaya Kebakaran Sedang : 2.5 menit.
o Hunian Resiko Bahaya Kebakaran Berat : 3 menit.
3. Lebar Pintu Minimal : 21 inch
Contoh Perhitungan
Berapakah jumlah unit pintu darurat untuk mengevakuasi orang sebanyak 350 orang dalam
waktu 2.5 menit?
Jawaban : Jumlah orang dibagi 40 orang/menit dikalikan 2.5 menit = 350/40 x 2.5 = 3.5 == 4
unit pintu darurat.
Klasifikasi resiko bahaya kebakaran jenis hunian terdapat pada Keputusan Menteri Tenaga
Kerja No 186 Tahun 1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran Kebakaran di Tempat
Kerja.
Untuk menjamin keamanan minimal 1 (satu) jam saat terjadi kebakaran, maka konstruksi
dirancang tahan api dan dilengkapi sarana pengendalian asap dengan tekanan udara positif
(pressurized fan).
Dasar-Dasar Perancangan Sistem Instalasi Hidran
Hidran ialah istalasi pemadam kebakaran yang dipasang secara permanen berupa jaringan
perpipaan berisi air bertekanan terus menerus yang siap untuk memadamkan kebakaran.
Komponen Utama Sistem Instalasi Hidran
1. Persediaan Air Yang Cukup (Tangki Air).
2. Sistem Pompa Yang Handal. Umumnya terdiri dari :
o Pompa Utama (Pompa yang bertugas mengisi/menjaga persediaan air pada
jaringan pipa hidran saat terjadi kebakaran secara otomatis).
o Pompa Jokey (Pompa yang menjaga tekanan pada jaringan pipa hidran secara
terus menerus secara otomatis).
o Pompa Cadangan/Diesel (Pompa yang bertugas mengisi persediaan air dan
menjaga tekanan pada jaringan pipa hidran yang menyala secara otomatis pada
saat jaringan listrik dimatikan/mati sehingga pompa utama dan pompa jockey
tidak dapat berkerja).
3. Siamese Connection (Sambungan untuk mengisi air pada jaringan pipa hidran dari
mobil pemadam kebakaran).
4. Jaringan Pipa Yang Memadai.
5. Pilar Hidran Yang Mencukupi.
6. Kotak (Box) Hidran, Selang Hidran, Nozzle Hidran dan Tuas Pembuka Keran Hidran
Yang Mencukupi.
Klasifikasi Sistem Instalasi Hidran
Klasifikasi Sistem Instalasi Hidran
Kriteria
Kelas I (Satu) Kelas II (Dua) Kelas III (Tiga)
Debit Air Minimum 500 galon/menit 500 galon/menit 500 galon/menit
Tekanan Nozzle Terjauh 4.5-7.0 kg/cm2 4.5-7.0 kg/cm2 4.5-7.0 kg/cm2
Ukuran Selang 1.5 inch 2.5 inch 1.5 inch dan 2.5 inch
Persediaan Air 45 menit 60 menit 90 menit
Pilih Sistem Instalasi Hidran Kelas III untuk menjamin keamanan.
Penempatan Titik Pilar dan Kotak (Box) Hidran
Tingkat
Penempatan
Resiko
Luas 1000-2000 m2 = 2 titik, dan tambahan 1 titik setiap penambahan luas
Resiko Ringan
1000 m2.
Luas 800-1600 m2 = 2 titik, dan tambahan 1 titik tiap penambahan luas
Resiko Sedang
800m2.
Luas 600-1200 m2 = 2 titik, dan tambahan 1 titik setiap penambahan luas
Resiko Berat
600 m2.
Klasifikasi resiko bahaya kebakaran jenis hunian terdapat pada Keputusan Menteri Tenaga
Kerja No 186 Tahun 1999 tentang Unit Penanggulangan Kebakaran Kebakaran di Tempat
Kerja.
Untuk menjamin kesesuaian terhadap ketentuan dan persyaratan teknis sistem instalasi
hidran, maka setiap perencanaan/perancangan dan pemasangan sistem instalasi hidran
dikendalikan secara administratif melalui ijin, pemeriksaan, pengujian dan pengesahan
melalui Dinas Tenaga Kerja, Dinas Pemadam Kebakaran dan Instansi Terkait setempat.
Selamat merencanakan.
APAR (Alat Pemadam Api Ringan)
Pengertian (Definisi) APAR (Alat Pemadam Api Ringan) ialah alat yang ringan serta
mudah dilayani untuk satu orang gunamemadamkan api/kebakaran pada mula terjadi
kebakaran (definisi berdasarkan Permenakertrans RI No 4/MEN/1980 tentang Syarat-syarat
Pemasangan dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan).
Tata cara (Prosedur) penggunaan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) / Tabung
Pemadam Kebakaran :
1. Tarik/Lepas Pin pengunci tuas APAR / Tabung Pemadam.
2. Arahkan selang ke titik pusat api.
3. Tekan tuas untuk mengeluarkan isi APAR / Tabung Pemadam.
4. Sapukan secara merata sampai api padam.
Hal yang perlu diketahui dalam penggunaan APAR :
1. Perhatikan arah angin (usahakan badan/muka menghadap searah dengan arah angin)
supaya media pemadam benar-benar efektif menuju ke pusat api dan jilatan api tidak
mengenai tubuh petugas pemadam.
2. Perhatikan sumber kebakaran dan gunakan jenis APAR yang sesuai dengan klasifikasi
sumber kebakaran.
Jenis-Jenis APAR (Alat Pemadam Api Ringan) / Tabung Pemadam Kebakaran
Jenis-jenis Tabung Pemadam Kebakaran / APAR (Alat Pemadam Api Ringan)
dikelompokkan antara lain menurut Kelas Kebakaran, Media Pemadam, Konstruksi,
Peletakan (Penempatan) serta menurut Kapasitasnya.
Berikut jenis-jenis APAR (Alat Pemadam Api Ringan) / Tabung Pemadam
Kategori Jenis APAR
1. APAR A (Kebakaran Padat Non-Logam).
2. APAR B (Kebakaran Gas/Uap/Cairan Mudah Terbakar).
Kelas 3. APAR C (Kebakaran Listrik).
Kebakaran 4. APAR D (Kebakaran Logam).
5. APAR K (Kebakaran Bahan Masakan).
6. APAR Kombinasi (ABC;AB;BC;BK).
1. APAR Air.
2. APAR Uap Air.
3. APAR Busa.
Media
4. APAR Serbuk Kimia Kering.
Pemadam 5. APAR Cairan Kimia.
6. APAR Gas CO2.
7. APAR Halon (sekarang dilarang karena efek rumah kaca)
Kategori Jenis APAR
Konstruksi
1. APAR Gantung.
Penempatan 2. APAR Troli (Roda Dorong) untuk APAR kapasitas besar.
1. APAR 0.6 kg s.d. APAR 90 kg (di atas 16 kg disebut Alat Pemadam
Kapasitas Api Beroda).
Syarat Penempatan dan Pemasangan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) / Tabung
Pemadam Kebakaran
Penempatan Tabung Pemadam / APAR (Alat Pemadam Api Ringan) diatur dalam
Permenakertrans RI No 4/MEN/1980 tentang Syarat-syarat Pemasangan dan Pemeliharaan
Alat Pemadam Api Ringan.
Persyaratan tersebut antara lain :
1. Mudah dilihat, diakses dan diambil serta dilengkapi dengan tanda pemasangan APAR
/ Tabung Pemadam.
2. Tinggi pemberian tanda pemasangan ialah 125 cm dari dasar lantai tepat di atas satu
atau kelompok APAR bersangkutan (jarak minimal APAR / Tabung Pemadam
dengan laintai minimal 15 cm).
3. Jarak penempatan APAR / Tabung Pemadam satu dengan lainnya ialah 15 meter atau
ditentukan lain oleh pegawai pengawas K3 atau Ahli K3.
4. Semua Tabung Pemadam / APAR sebaiknya berwarna merah.
Syarat Tanda Pemasangan APAR / Tabung Pemadam :
1. Segitiga sama sisi dengan warna dasar merah.
2. Ukuran tiap sisi 35 cm.
3. Tinggi huruf 3 cm berwarna putih.
4. Tinggi Tanda Panah 7.5 cm berwarna putih.
Syarat Pemasangan Tanda APAR / Tabung Pemadam pada kolom (tiang) bangunan :