0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
57 tayangan5 halaman

Sistem Sprinkler: Efektivitas dan Komponen

Sistem sprinkler merupakan sistem pemadaman kebakaran otomatis yang paling efektif. Ia bekerja dengan memanfaatkan teori kompartemen kebakaran dan mendeteksi panas di langit-langit ruangan untuk memadamkan api secara cepat, mencegah penyebarannya. Meskipun efektif, sistem ini perlu dirancang dan diinstal dengan benar agar berfungsi optimal dalam mengendalikan kebakaran.

Diunggah oleh

Darmawan Bgus
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
57 tayangan5 halaman

Sistem Sprinkler: Efektivitas dan Komponen

Sistem sprinkler merupakan sistem pemadaman kebakaran otomatis yang paling efektif. Ia bekerja dengan memanfaatkan teori kompartemen kebakaran dan mendeteksi panas di langit-langit ruangan untuk memadamkan api secara cepat, mencegah penyebarannya. Meskipun efektif, sistem ini perlu dirancang dan diinstal dengan benar agar berfungsi optimal dalam mengendalikan kebakaran.

Diunggah oleh

Darmawan Bgus
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Sistem Splinker

Posted by Muhammad Taufan

Sistem Pada Splinker :

1. Wet Riser System : Seluruh instalasi pipa sprinkler berisikan air bertekanan dengan tekanan
air selalu dijaga pada tekanan yang relatif tetap
2. Dry Riser System : Seluruh instalasi pipa sprinkler tidak berisikan air bertekanan, peralatan
penyedia air akan mengalirkan air secara otomatis jika instalasi fire alarm
memerintahkannya.

- Pada umumnya gedung bertingkat menggunakan sistim Wet Riser.


- Pada sistem dilengkapi Fire Brigade Connection yang diletakkan diluar bangunan.

PERALATAN UTAMA DAN FUNGSI

1. Pompa kebakaran terdiri dari Electric Pump, Diesel Pump & Jockey Pump.

Apabila tekanan didalam pipa menurun, maka secara otomatis Jockey pump akan bekerja
untuk menstabilkan tekanan air didalam pipa.
Jika tekanan terus menurun (misal glass bulb pada kepala sprinkler pecah) maka pompa
kebakaran utama akan bekerja dan otomatis pompa jockey berhenti.
Apabila pompa kebakaran utama gagal bekerja setelah 10 detik, kemudian pompa cadangan
Diesel secara otomatis akan bekerja.
Jika kedua pompa tersebut gagal bekerja, alarm akan segera berbunyi dengan nada yang
berbeda dengan bunyi alarm sistim, untuk memberi tahukan kepada operator akan adanya
gangguan.
Sistim bekerja pompa Fire Hydrant adalah Start otomatis dan Mati secara Manual.
Pada saat pompa kebakaran utama bekerja, wet alarm valve akan terbuka dan segera
membunyikan alarm gong. Aliran didalam pipa cabang akan memberi indikasi pada flow
switch yang terpasang pada setiap cabang & dikirim ke panel fire alarm untuk
membunyikan alarm pada lantai bersangkutan.

2. Pressure Switch : Alat kontrak yang bekerja akibat perubahan tekanan.

3. Manometer : Alat untuk membaca tekanan

4. Time delay relay : Alat relay yang bekerja berdasarkan seting waktu yang sudah ditentukan.

5. Safety valve : Alat pelepas tekanan lebih


6. Pressure Reducing Valve : Alat pembatas tekanan

7. Kepala Sprinkler (Head Sprinkler) : Alat pemancar air yang bekerja setelah pecahnya bulb akibat
panas yang ditimbulkan oleh kebakaran. Ukuran kepala sprinker 15 mm, kepadatan pancaran 5
mm/mnt, area kerja maks. 144 m2, laju aliran 725 lt/mnt dan setiap katup kendali jumlah maks.
adalah 1.000 buah kepala sprinkler.

Hingga saat ini Sprinkler masih diperlukan pada bangunan gedung, karena sistem sprinkler otomatik
telah terbukti paling efektif dalam memadamkan kebakaran. Namun sangat disayangkan jika masih
banyak stakeholders (pemilik, bahkan konsultan dan instansi berwenang) menganggap bahwa
sprinkler tidak efektif dan memakan biaya besar, sehingga menggantinya dengan sistem lain.

Sistem sprinkler otomatik adalah adalah kombinasi dari deteksi panas dan pemadaman, ia bekerja
secara otomatik penuh tanpa bantuan orang atau sistem lain. Sehingga system ini merupakan sistem
penanggulangan/ pemadaman kebakaran yang paling efektif dibandingkan dengan sistem hidran dan
lainnya. Sebuah studi di Australia & New Zealand memberikan angka keberhasilan mencapai 99%
(Marryat, 1988).

Studi lain di USA (NFPA, 2001) menyimpulkan bahwa sprinkler mampu membatasi kebakaran pada
area of origin pada tingkat 90% dibanding tanpa sprinkler yang hanya 70%. Semua building code di
dunia mempersyaratkan proteksi sprinkler di bangunan tinggi, bahkan sekarang di USA sudah mulai
digalakkan sprinkler untuk residensial tunggal dengan ketinggian satu sampai dua tingkat.

Fenomena kebakaran adalah sedemikian sehingga bila dalam waktu 5 menit kebakaran tidak dapat
dikendalikan atau dipadamkan pada area of origin, maka kemungkinan besar kebakaran akan
menyebar ke seluruh lantai dan bangunan. Sementara itu waktu tanggap sprinkler adalah waktu
yang diperlukan untuk mengendalikan atau memadamkan kebakaran secara otomatik. Banyak
kejadian dilaporkan bahwa ketika petugas pemadam tiba di tempat, api telah padam oleh sprinkler
(NFPA Journal).

Sistem deteksi dan alarm tidak berfungsi sebagai alat pengendali/ pemadam, namun lebih berfungsi
sebagai pemberi peringatan pada penghuni bangunan agar segera menyelamatkan diri. Sedangkan
regu pemadam yang menggunakan APAR (fire extinguisher) dan hidran belum dapat menggantikan
sprinkler karena masih dipengaruhi oleh faktor manusia (terutama waktu tanggap dan human
error).

Komponen biaya paling besar dari sistem sprinkler adalah pompa kebakaran dan panelnya,
pemipaan berikut katupnya, serta sering digunakannya katup kontrol tekanan (PRV) dalam
rancangan secara indiskriminatif. Penggunaan PRV ini dapat dihindari dengan sistem zona, di mana
tekanan kerja setiap zona adalah maksimum 175 psi (12 bar), yaitu sama dengan tekanan kerja
maksimum kepala sprinkler.

Justru PRV dipersyaratkan digunakan di sistem hidran bila tekanan pada kotak hidran bangunan
melebihi 6,9 bar (SNI 03-1745-2000). Selain itu, sistem sprinkler otomatik boleh dikombinasikan
dengan sistem pipa tegak atau slang (hidran) dengan menggunakan hanya satu set pompa kebakaran
untuk keduanya sprinkler dan hidran (SNI 03-1745-2000).

Bila bangunan telah diproteksi oleh sprinkler, maka persyaratan lain seperti ketahanan api,
kompartemen, dan sistem deteksi serta alarm menjadi lebih ringan (NFPA 101). Misalnya untuk
kelas hunian apartemen, ketahanan api dinding apartemen boleh 1 jam atau bahkan 4 jam. Serta
deteksi boleh hanya memakai detektor asap (kecuali untuk ruang tertentu yang karena fungsinya
harus menggunakan detektor panas). Dengan demikian sesungguhnya sistem sprinkler tidak
memakan biaya besar dari total nilai proyek keseluruhan.

Konsep fire safety di bangunan menurut pendekatan sistemik (NFPA 550) terbagi menjadi 2 bagian
utama yaitu (a) Pencegahan penyalaan, dan (b) Pengelolaan pengaruh kuat (impact) kebakaran.
Pencegahan termasuk pengendalian sumber panas-energi, pengendalian interaksi sumber-bahan
bakar, dan pengendalian bahan bakar. Atau dengan kata lain berarti fire safety housekeeping, dan
sistem proteksi pasif atau kompartemenisasi.

Kota-kota besar di USA seperti Los Angeles dan New York, yang sebelumnya hanya mengandalkan
sistem proteksi pasif atau kompartemenisasi dan sistem deteksi dan alarm serta sistem hidran,
sekarang mempersyaratkan proteksi dengan menggunakan sprinkler. Di Singapore memang sprinkler
merupakan opsi untuk bangunan hunian apartemen, akan tetapi komponen utama sistemnya tetap
dipasang (pompa kombinasi dengan pompa hidran, dan pipa tegak serta pipa cabang utama),
kecuali pipa cabang akhir dan kepala sprinkler yang merupakan opsi dan masih ada persyaratan
lainnya yang harus dipenuhi.

Prinsip kerja sprinkler memanfaatkan teori kebakaran kompartemen (SFPE Handbook of Fire
Protection Engineering, 3rd Edition, 2002). Kebakaran di lantai akan membuat asap dan udara
ruangan terikutkan mengapung ke atas yang dinamakan plume. Bila plume membentur langit-langit,
maka terjadi aliran udara panas secara radial pada atau dekat dengan langit-langit. Aliran udara
panas ini dinamakan ceiling jet dan terjadi pada ketebalan maksimum 30 cm dari langit-langit.

Bila ceiling jet mengenai kepala sprinkler maka terjadi perpindahan kalor secara konvektif dari
ceiling jet ke elemen sensor panas sprinkler (fusible link atau glass bulb) yang menyebabkan
temperaturnya akan naik dari sebelumnya sama dengan temperatur ruangan. Elemen sensor panas
ini mempunyai temperatur kerja nominal yang bermacam-macam dari 57C s/d 343C, dapat diplih
tergantung dari rancangan bahaya kebakaran huniannya.

Kepala sprinkler akan beroperasi bila temperatur elemen sensor panasnya telah naik mencapai
temperatur kerja nominalnya. Untuk hunian apartemen, umumnya digunakan temperatur nominal
57C atau 68C. Prinsip operasi sprinkler ini sama persis dengan prinsip operasi detektor panas lain
seperti yang digunakan dalam sistem deteksi dan alarm. Oleh karena itu, bila bangunan telah
diproteksi oleh sprinkler maka tidak perlu lagi dilengkapi dengan detektor panas dan hanya perlu
dilengkapi dengan detektor asap.

Bila kebakaran terus terjadi, maka di dalam ruangan/ kompartemen akan terbentuk 2 lapisan yaitu,
(a) lapisan asap di atas, dan (b) lapisan relatif bebas asap di bawahnya. Temperatur dan ketebalan
lapisan asap akan naik dan terus bertambah selama terjadi kebakaran. Sedangkan temperatur
lapisan bebas asap di bawahnya relatif sama dengan temperatur ruangan.

Pada saat sprinkler beroperasi, temperatur ruangan (bukan temperatur nyala api) relatif tidak
berubah atau kenaikannya tidak besar, kecuali terjadi kegagalan sistem sprinkler sehingga
kebakaran tidak padam dan lapisan asap akan terus turun ke lantai. Hal ini dapat diprediksikan
dengan program simulasi kebakaran di kompartemen (Program CFAST dan ASET).

Meskipun persentase kegagalan sprinkler adalah sangat kecil dibanding keberhasilannya, sprinkler
dapat gagal terutama karena sebab-sebab berikut, pertama, kesalahan rancangan, sistem sprinkler
haras dirancang sesuai dengan tingkat resiko bahaya kebakaran bangunan. Misalnya bangunan
dengan hunian apartemen di atas dan paserba di podium, mempunyai risiko bahaya yang berbeda,
dengan demikian rancangan densitasnya pun berbeda.

Kedua, kesalahan instalasi, pengawasan pelaksanaan di lapangan kuang, misalnya posisi kepala
sprinkler terhadap langit-langit dan rintangan (kolom dan balok struktur) tidak memenuhi
persyaratan instalasi sehingga sangat mengurangi kinerja sprinkler. Ketiga, tidak adanya program
inspeksi, tes dan pemeliharaan berkala yang sesuai standar (NFPA 25), mengakibatkan sistem tidak
beroperasi saat diperlukan bila terjadi kebakaran.

Dan keempat, ciri-ciri bangunan seperti arsitektur terbuka sehingga lantai terbuka ke udara luar,
dan kompartemen yang tidak mempunyai ketahanan api (dari bahan mudah terbakar kayu dan lain-
lain). Ciri-ciri tersebut mempengaruhi kinerja sistem sprinkler.
Pak Imam, saya coba menjawab pertanyaan bapak secara detail, agar bapak bisa
memperoleh asal perhitungannya, dimana dalam perencanaan splinker sebagai
berikut:

S = Perencanaanpenempatankepalasprinkler padapipacabang.
D = jarakantaraderetankepalasprinkler.
NilaiS danD :
1. Untukbahayakebakaranringan, maksimum4,6 m
2. Untukbahayakebakaransedang, maksimum4,0 ma
3. Untukbahayakebakaranberat, maksimum3,7 ma

Perencanaan sprinkler
1. Arah pancaran ke bawah, karena kepala sprinkler di letakkan pada atap ruangan.
2. Kepekaan terhadap suhu, warna cairan dalam tabung gelas berwarna Jingga pada
suhu 53oC.
3. Sprinkler yang dipakai ukuran dengan kapasitas(Q) = 80 liter/ menit.
4. Kepadatan pancaran = 2,25 mm/ menit.
5. Jarak maksimum antar titik sprinkler 4,6 meter.
6. Jarak maksimum sprinkler dari dinding tembok 1,7 meter.
7. Daerah yg dilindungi adalah semua ruangan kecuali kamar mandi, toilet dan tangga
yang diperkirakan tidak mempunyai potensi terjadinya kebakaran.
8. Sprinkler overlap bagian

Contoh perhitungan sprinkler :

1. luas lantai yang direncanakan adalah 555 m2(luas total) 41 m2(luas toilet)= 514
m2
2. Satu buah sprinkler mampu mencakup area sebesar 4,6 m x 4,6 m
3. Direncanakan antara satu sprinkler dengan sprinkler yang lain terjadi overlapping
sebesar area jangkauan, sehingga tidak ada titik yang tidak terkena pancaran air.

Maka area jangkauan sprinkler dapat dihitung sebagai berikut :


X = 4,6 m (1/4 x 4,6 m)
= 4,6 m 1,15 m
= 3,45 m
Maka, L = 3,45 m x 3,45 m
= 11,9 m2
Jadi Jumlah Sprinkler yang dibutuhkan :
= 514 m2 /11,9 m2
= 37,64 atau 38 buah Sprinkler

dan sebagai tambahan untuk Volume kebutuhanair sprinkler per gedung :


V=QxT
Dimana, V = Volume kebutuhanair (m3)
Q = Kapasitasair (dm3/menit)
Q = Q tiapsprinkler x Jumlahsprinkler yang pecah
= 80 dm3/menitx 12 sprinkler (1 zonaaktif)
= 960 dm3/menit
T = Waktuoperasisistem= 30 menit
V(kebutuhanair) = Q x T x 2 gedung
= 960 dm3/menitx 30 menitx 2 gedung
= 57600 dm3
= 57,6 m3

terima kasih

HYDRANT UNTUK KOTA SAMA DENGAN PERHITUNGAN HYDRANT


LUAR

Anonymous said...

Salam kenal Pak Taufan,


saya mau bertanya tentang perhitungan tekanan springkler atau hydrant bangunan
bertingkat,apakah pada setiap lantai H loses nya sama atau berbeda..?
karna setau saya nilai H loses dipengaruhi kumulasi seluruh kerugian berapa lantai
yang akan dihutung trims...

Rumus perhitungan diameter pipa sprinkler :


1-2 buah sprinkler = 25 mm
3 buah sprinkler = 32 mm
4-5 buah sprinkler = 40 mm
5-10 buah sprinkler = 50 mm
11-30 buah sprinkler = 65 mm
31-60 buah sprinkler = 80 mm
61-100 atau lebih = 100 mm

untuk selengkapnya bisa anda lihat di [Link]


diamater-pipa-sprinkler/

Dadan Hadiansyah said...

Pak Admin, sekedar menambahkan, basic hitungan hidraulic sprinkler itu Q = K x


akar P. di urut dari remote sprinkler dan seterusnya. jumlah kepala sprinkler yang
pecah di hitung dengan melihat ke grapic tingkat bahaya, luas area dibagi dengan
density dan seterusnya tidak serta merta ditentukan 12 buah, tapi melewati
perhitungan terlebih dahulu.

Anda mungkin juga menyukai