PROGRAM KERJA - TIM DOTS
RUMAH SAKIT UMUM BHAKTI YUDHA
TAHUN 2017
I. PENDAHULUAN
Diperkirakan saat ini jumlah pasien TB di Indonesia sekitar 5,8% dari
total jumlah pasien TB didunia dan setiap tahun terdapat 539.000 kasus baru.
Insiden kasus TB BTA positif sekitar 107 per 100,000 penduduk dengan
kematian 100,000 per tahun. Hasil riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun
2007 menyatakan penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor 2
setelah penyakit stroke, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Berdasarkan
data statistik rumah sakit tahun 2007, TB menempati urutan pertama dalam
proporsi penyakit menular (27,8%), dan menempati urutan ke-14 sebagai
penyakit terbanyak di rawat inap, sedangkan tahun 2008 menempati urutan
ke-7 sebagai penyakit terbanyak rawat jalan.
Secara Regional prevalensi TB BTA positif di Indonesia
dikelompokkan dalam 3 wilayah, yaitu:
1) Wilayah Sumatera : 160 per 100.000 penduduk
2) Wilayah Jawa dan Bali : 110 per 100.000 penduduk
3) Wilayah Indonesia Timur : 210 per 100.000 penduduk
Khusus wilayah DIY dan Bali angka prevalensi TB adalah 68 per 100.000
penduduk. Mengacu pada hasil survei prevalensi tahun 2004, diperkirakan
terjadi penurunan insiden TB BTA positif secara Nasional 3-4% setiap
tahunnya. Pada tahun 1993, WHO telah menyatakan bahwa TB merupakan
keadaan darurat dan pada tahun 1995 merekomendasikan strategi DOTS
sebagai salah satu langkah yang paling efektif dan efisien dalam
penanggulangan TB.
Program Kerja TIM DOTS RSUBY Th. 2017 1
Intervensi dengan strategi DOTS kedalam pelayanan kesehatan dasar
(Puskesmas) telah dilakukan sejak tahun 1995. Khusus untuk institusi
pelayanan rumah sakit dan Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM)/ Balai
Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) intervensi baru dilakukan sejak
tahun 2000. Hasil survey prevalensi TB tahun 2004 menunjukkan bahwa pola
pencarian pengobatan pasien TB ke rumah sakit ternyata cukup tinggi, yaitu
sekitar 60% pasien TB ketika pertama kali sakit mencari pengobatan ke
rumah sakit, sedangkan sisanya ke Puskesmas dan Praktisi Swasta.
Pelaksanaan DOTS di rumah sakit mempunyai daya ungkit dalam
penemuan kasus (case detection rate, CDR), angka keberhasilan pengobatan
(cure rate), dan angka keberhasilan rujukan (success referral rate).
Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen, yaitu :
1. Adanya komitmen politisi dari pengambil keputusan,
2. Diagnosis dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung,
3. Pengobatan dengan panduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) jangka
pendek disertai pengawasan langsung,
4. Kesinambungan persediaan OAT jangka pendek untuk pasien,
5. Pencatatan dan Pelaporan yang baku untuk memudahkan pemantauan
dan evaluasi program.
Untuk menanggulangi masalah TB, strategi DOTS harus diekspansi
dan diakselerasi pada seluruh unit pelayanan kesehatan dan berbagai institusi
terkait termasuk rumah sakit pemerintah dan swasta, dengan
mengikutsertakan secara aktif semua pihak dalam kemitraan yang bersinergi
untuk penanggulangan TB.
Pada saat ini penanggulangan TB dengan strategi DOTS di Rumah
Sakit baru berkisar 20% dengan kualitas yang bervariasi. Ekspansi strategi
DOTS di RS masih merupakan tantangan besar bagi keberhasilan Indonesia
dalam mengendalikan tuberkulosis. Hasil monitoring dan evaluasi yang
Program Kerja TIM DOTS RSUBY Th. 2017 2
dilakukan oleh Tim TB External Monitoring Mission tahun 2005
menunjukkan bahwa angka penemuan kasus TB di RS cukup tinggi, tetapi
angka keberhasilan pengobatan rendah dengan angka putus berobat yang
masih tinggi. Kondisi tersebut berpotensi untuk menciptakan masalah besar
yaitu peningkatan kemungkinan terjadi resistensi terhadap obat anti
tuberkulosis (MDR-TB).
Untuk mengetahui keberhasilan rumah sakit dalam melaksanakan
strategi DOTS, pada bulan Juli 2009 telah dilakukan asesmen terhadap rumah
sakit tingkat provinsi di seluruh Indonesia (jumlah 18 rumah sakit). Data hasil
asesmen menunjukkan bahwa hanya 17% rumah sakit yang telah melakukan
strategi DOTS dengan hasil optimal, 44% rumah sakit sedang dan 39% rumah
sakit kurang.
Data hasil asesmen juga menunjukkan adanya hubungan yang erat
antara komitmen direktur rumah sakit terhadap keberhasilan penyelenggaraan
DOTS di RS. Sementara dari sejumlah 59% rumah sakit yang telah memiliki
Tim DOTS, hanya 28% tim DOTS yang dibentuk bekerja optimal. Sementara
72% rumah sakit yang telah memiliki sumber daya manusia yang terlatih
DOTS (dokter umum, dokter spesialis, paramedik, petugas laboratorium
maupun farmasi), namun tidak dimanfaatkan secara baik oleh pihak
manajemen rumah sakit, hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal antara
lain: strategi DOTS belum menjadi komitmen manajemen di rumah sakit
disebabkan oleh sosialisasi yang kurang optimal. Hal ini tercermin hanya
17% RS yang melaksanakan strategi DOTS secara optimal.
Kementerian kesehatan RI bersama para direktur rumah sakit,
Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) menyusun Pedoman
Manajerial Pelayanan Tuberkulosis Dengan Strategi DOTS Di Rumah Sakit.
Pedoman ini digunakan sebagai acuan dalam akreditasi pelayanan medis di
rumah sakit.
Program Kerja TIM DOTS RSUBY Th. 2017 3
II. LATAR BELAKANG
Menurut WHO dari 50 milyar penduduk dunia yang diterapi TB ada
sebesar 3 milyar dan terdapat 1 juta pasien TB koinfeksi dengan HIV yang
mendapat terapi antiretroviral dan hampir 1 milyar penduduk yang diterapi
dengan TB Multi resisten obat (MDR-TB) . Strategi dari visi WHO adalah
mendukung penuh semua kegiatan serta menyokong semua kontribusi yang
aktif dalam kegiatan pengendalian TB dan mendorong penurunan prevalensi
TB agar mencapai bebas TB pada tahun 2050.
Untuk mencapai stop TB 2015/MDGs, dan dimana akhir akhir ini
banyak bermunculan TB, TB resisten obat jamur dan bakteri resisten, serta
dalam menghadapi akreditasi di era globalisasi dan tuntutan dari pihak
asuransi jaminan kesehatan mendorong agar RS memberi pelayanan sebaik-
baiknya dengan biaya yang seefektif mungkin, fasilitas dan tenaga kesehatan
yang etis serta profesional. Masalah TB di Indonesia khususnya wilayah DKI
dan Jabotabek yaitu terhadap ancaman HIV dan multiresisten obat (MDR)
dimana Indonesia menduduki peringkat ke 8 dari 27 negara yang prioritas
tinggi untuk kasus TBMDR. Serta sesuai dengan program WHO Stop TB
2015 dimana salah satu dengan menekankan terhadap perluasan program
DOTS dengan pelacakan kasus TB-HIV, MDR-TB yaitu dengan
mengimplementasikan kegiatan kolaborasi TB-HIV agar bebas TB sebelum
tahun 2050 seperti yang dicanangkan WHO.
Menurut Situasi Global TB 2012 diperkirakan terdapat 1,1 milyar
penderita TB-HIV dan 450.000 kasus TB dengan multi resisten obat. Angka
kesakitan TB menurun secara lambat 2,2 % /thn 2010 -2011. Angka kematian
TB 2011 1,4 milyar (no 2 setelah HIV) termasuk diantaranya 430,000 dengan
HIV+, diantaranya Milyar adalah wanita. Angka kematian TB 41 % dalam
kurun waktu 1990-2011 dan saat ini sedang dalam fase penurunan sampai
2015. Beban permasalahan TB di Indonesia yang juga disertai beban
permasalahan TB MDR Merupakan masalah yang cukup sulit dan menjadi
Program Kerja TIM DOTS RSUBY Th. 2017 4
suatu tantangan mengingat dampak yang ditimbulkan, yaitu berupa
peningkatan pembiayaan kesehatan secara nyata, kemungkinan kesembuhan
TB MDR lebih kecil dibanding TB yang tidak resisten obat, peningkatan
angka berpengaruh pada sektor ekonomi dampak kematian, penurunan
produktivitas SDM, Epidemi TB MDR yang tinggi berpengaruh pada sektor
ekonomi dan pariwisata ( lihat tabel 1 dan 2).
III. TUJUAN
3.1 Tujuan umum
Didalam Pedoman Manajerial Pelayanan Tuberkulosis Dengan Strategi
DOTS Di Rumah Sakit disusun dengan tujuan agar dapat meningkatkan
mutu pelayanan tuberkulosis di rumah sakit.
3.2 Tujuan khusus
1. Sebagai pedoman manajerial dalam program penanggulangan TB
Di Rumah Sakit dengan strategi DOTS.
2. Sebagai indikator mutu penerapan standar pelayanan rumah sakit
(SPRS) dalam program penanggulangan TB melalui akreditasi.
3. Sebagai salah satu alat ukur kinerja rumah sakit dalam
penanggulangan TB melalui indikator Standar Pelayanan Minimal
Rumah Sakit (SPM-RS).
IV. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN
a. Kegiatan Pokok
Pelaksanaan penyelenggaraan pelayanan Poliklinik DOTS di Rumah
Sakit Umum Bhakti Yudha.
Program Kerja TIM DOTS RSUBY Th. 2017 5
b. Rincian Kegiatan
1. Pemenuhan fasilitas (sarana dan prasarana pada strategi DOTS )
serta poli DOTS, dalam pelaksanaan strategi DOTS di Rumah Sakit
Umum Bhakti Yudha
2. Pelatihan DOTS untuk TIM DOTS serta para dokter dan perawat
secara kontinu, baik terkait pelayanan, program pengobatan serta
pencatatan pelaporan
3. Sosialisasi Program Kerja
4. Penyediaan Obat TB
5. Pelaksanaan pencatatan dan pelaporan secara kontinu
6. Pelaksanaan sistem rujukan
7. Pelaksanaan sistem jejaring, baik internal maupun eksternal terkait
program DOTS termasuk koordinasi dengan Wasor
8. Pelaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi
9. KIE ( Komunikasi Informasi Edukasi )
10. Penyediaan APD
11. Menerapkan Skrining TB di rawat jalan, rawat inap dan IGD
12. Memberikan usulan/masukan terkait PPI TB
13. Membuat brosur/leaflet tentang TB ( koordinasi dengan Promkes )
V. CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN
1. Rapat rutin anggota TIM DOTS
2. Rapat koordinasi/pertemuan sistem jejaring ( internal maupun eksternal )
terkait strategi DOTS dengan unit terkait
3. Pelatihan ( inhouse/ekshouse training ) dan sosialisasi terkait DOTS
4. Melaksanakan sistem rujukan
VI. SASARAN
1. 60% anggota TIM DOTS terlatih
2. 70% pelayanan TB DOTS dikelola dan dimonitoring dengan baik
(melalui pencatatan pelaporan kasus TB) bekerjasama dengan Dinas
Kesehatan Kota Depok
Program Kerja TIM DOTS RSUBY Th. 2017 6
VII. JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN
NO JENIS KEGIATAN PELAKSANA PENANGGUNG TEMPAT WAKTU BIAYA
JAWAB
Pemenuhan fasilitas
pada pelaksanaan
TB DOTS
Koordinator
1. - Poli Dots TIM DOTS RSBY Terlampir -
poli DOTS
- Tempat
Pembuanagan
Sputum BTA
Pelatihan TB DOTS TIM DOTS Rp
Terlampir
2. (inhouse /ekshouse Dokter TIM DOTS 2.500.000
RSBY
training) Perawat
Sosialisasi Program Ketua TIM Ketua TIM RSBY Terlampir -
3.
Kerja DOTS DOTS
RSBY Terlampir -
4. Penyediaan obat TB Inst. Farmasi Inst. Farmasi
Pelaksanaan Penca- Dokter TIM DOTS RSBY Terlampir Rp
5. 1.000.000
tatan Pelaporan Perawat
Pelaksanaan Sistem RSBY Terlampir -
6. Dokter TIM DOTS
Rujukan
Pelaksanaan sistem RSBY Rp
Terlampir
7. jejaring / koordinasi TIM DOTS TIM DOTS 1.000.000
dengan wasor
TIM DOTS RSBY Terlampir Rp
8. Pelaksanaan PPI TIM DOTS 2.500.000
dan PPI
Dokter dan RSBY Terlampir Rp
9. Pelaksanaan KIE TIM DOTS 2.500.000
Perawat
RSBY Rp
10. Penyediaan APD TIM DOTS TIM DOTS Terlampir 1.000.000
Menerapkan RSBY
Skrining TB di -
11. Dokter TIM DOTS Terlampir
rawat jalan, rawat
inap dan IGD
Program Kerja TIM DOTS RSUBY Th. 2017 7
NO JENIS KEGIATAN PELAKSANA PENANGGUNG TEMPAT WAKTU BIAYA
JAWAB
Memberikan RSBY
-
12. usulan/masukan Tim DOTS TIM DOTS Terlampir
terkait PPI TB
Membuat brosur /
TIM DOTS
leaflet tentang TB -
13. dan TIM DOTS RSBY Terlampir
(Koordinasi dengan
PROMKES
promkes)
VIII. EVALUASI PELAKSANAAN KEGIATAN DAN PELAPORAN
Evaluasi kegiatan dilaksanakan setiap triwulan dengan melihat
hasil pelaporan yang dibuat dalam form TB-01, TB-02, TB-03, TB-04, TB-
05, TB-06, TB-09, TB-10 dan Hasil evaluasi tersebut dilaporkan ke Rekam
Medis, Dinas Kesehatan Kota Depok dan Direktur RSU. Bhakti Yudha
IX. PENCATATAN, PELAPORAN DAN EVALUASI KEGIATAN
TIM DOTS RSU. Bhakti Yudha membuat pencatatan, pelaporan
melalui Koordinator Poli DOTS serta mengevaluasinya terhadap
pelaksanaan kegiatan setiap bulan secara berkelanjutan. Laporan tersebut
akan direkap menjadi laporan triwulan sebagai laporan pelaksanaan TB
DOTS di RSU. Bhakti Yudha.
Depok, 15 Agustus 2017
Mengetahui TIM DOTS RSUBY,
RSU. BHAKTI YUDHA,
Drg. SJAHRUL AMRI, MHA Dr. SYAFRIZAL, Sp.P
Direktur RS Ketua
Program Kerja TIM DOTS RSUBY Th. 2017 8
PROGRAM KERJA
TIM DOTS
(Directly Observed Treatment Short - Course)
TAHUN 2017
RSU. BHAKTI YUDHA DEPOK
Program Kerja TIM DOTS RSUBY Th. 2017 9
2017
PROGRAM KERJA
TIM DOTS
(Directly Observed Treatment Short -
Course)
Program Kerja TIM DOTS RSUBY Th. 2017 10