Metode Well Logging dalam Geofisika
Metode Well Logging dalam Geofisika
I. Wireline Log
Pekerjaan wireline logging biasanya dilakukan setelah operasi pemboran selesai yaitu untuk
mengukur parameter petrofisika pada setiap kedalaman secara tepat dan berkesinambungan
dari formasi yang telah ditembus lubang pemboran. Fungsi lainnya adalah :
Untuk mengetahui dan membedakan litologi bawah permukaan
Untuk korelasi dengan sumur pemboran lainnya
Mengetahui keberadaan dan jenis hidrokarbon
Mengetahui kualitas dan ketebalan batuan reservoir
Secara kuantitatif dapat mengetahui besarnya nilai porositas dan saturasi
formasi.
Saat pemboran akan terjadi infiltrasi lumpur yang merembes ke dalam formasi (perbedaan
tekanan) akibatnya akan terbentuk tiga zona yang mempunyai karakteristik yang berbeda
dalam sifat petrofisiknya akibat pengaruh lumpur pemboran (Harsono, 1997; gambar 1), yaitu :
formasi dan untuk mengetahui berapa besar saturasi hidrokarbon (S hr) pada batuan reservoir
yang tersisa akibat proses filtrasi lumpur pada formasi dengan menggunakan rumus :
Shr 1 Sxo .................................................................... 1
Dengan asumsi bahwa apabila suatu reservoir telah terinfiltasi oleh lumpur pemboran maka
hidrokarbon telah tergantikan oleh lumpur pemboran sehingga hidrokarbon yang tersisa pada
zona ini berjumlah (1 - Sxo). Rumus Archie untuk mencari Sxo adalah:
F Rmf .............................................................. 2
Sxo
Rxo
0,62
F = Untuk batupasir tak terkonsolidasi
2,15
petrofisik yang bisa dikaji secara kualitatif pada zona ini adalah Rt (resistivitas formasi
sebenarnya), Rw (resistivitas air) dan Sw (saturasi air) yang semuanya akan mempengaruhi
perhitungan banyaknya hidrokarbon yang terdapat pada formasi/reservoir tersebut.
Log sinar gamma akan turun kekiri bila menemui lapisan yang permeable dan mampu
memisahkan dengan baik antara lapisan shale dengan lapisan permeable. Untuk menentukan
prosentasi serpih digunakan kurva log GR dengan menggunakan rumus:
GR log - GR min
ISH = GR max- GR min
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembacaan log GR adalah kondisi lubang bor dan kondisi
lumpur pemboran. Kesalahan pembacaan terjadi bila kondisi lubang yang buruk (runtuh)
mengakibatkan jarak antara tool dengan formasi cukup jauh dan diapit oleh lumpur pemboran
yang tebal atau unsur radioktif yang terdapat di dalam lumpur (potassium) ikut terbaca.
Log Gamma Ray juga digunakan dalam korelasi pada sumur yang berselubung, korelasi dari
sumur ke sumur sangat baik karena sejumlah tanda-tanda perubahan litologi hanya akan
terlihat dengan jelas pada jenis log ini. Gabungan perekaman CCL (Casing Collar Locator)
memungkinkan alat perforasi diposisikan dengan tepat di depan formasi yang akan dibuka.
Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa kegunaan dari log GR adalah sebagai berikut:
a. interpretasi lapisan serpih (Vsh)
b. sebagai indikator kandungan serpih
c. evaluasi bijih mineral radioaktif seperti potassium dan uranium
d. evaluasi mineral non-radioaktif teramsuk batubara
e. korelasi log pada sumur berselubung
f. korelasi antar sumur, terutama sumur-sumur tua yang sudah lama tidak digunakan
g. digunakan dalam kegiatan pencarian/penjejakan unsur radioaktif.
ada pada alat ukur di dalam lubang bor melewati daerah dengan sifat listrik yang kecil, sifat
listrik kecil ini berasosiasi dengan shale yang tidak mempunyai kandungan garam air, kurva
yang muncul adalah kurva yang rata. Sedangkan bila alat ukur ini melewati daerah lapisan
dengan kandungan air garam yang tinggi maka akan terjadi defleksi kurva, hal ini terjadi
karena arus listrik kembali ada, tetapi kadang pengukuran ini tidak terlalu efektif dan
mendekati kebenaran sesungguhnya, maka harus di korelasikan interpretasinya dengan log-log
yang lain.
Log SP juga tidak sepenuhnya memperkirakan ketebalan suatu lapisan yang permeabel karena
sifat kurva yang ditunjukkan oleh Log SP akan bergerak tidak signifikan, perubahan defleksi
kurvanya tidak tajam sehingga akan sulit ditentukan dimana letak perbatasan lapisan yang
porous dengan lapisan yang kedap. Pada kurva log SP akan terjadi garis shale yang lurus tetapi
untuk formasi yang permeabel akan terjadi defleksi ke kanan atau ke kiri dari kurva, hal ini
terjadi karena adanya perbedaan kadar garam yang terdapat pada lapisan yang porous itu.
3. Log Resistivity
Prinsip kerja dari log resistivity adalah mengukur kemampuan formasi untuk menghantarkan
arus listrik, semakin besar arus listrik yang dapat dialirkan, tahanan jenis batuan semakin kecil
dan sebaliknya. Daya hantar listrik merupakan fungsi dari batuan dan jenis fluida yang mengisi
ruang pori dalam batuan, karena matrik batuan dianggap tidak menghantarkan arus listrik,
maka log tahanan jenis sangat membantu dalam menentukan porositas, kejenuhan air formasi
dan jenis fluida dalam formasi. Untuk formasi yang mengandung minyak atau gas akan
mempunyai tahanan jenis lebih besar dibandingkan air (kecuali air tawar).
Alat ini dirancang khusus untuk mengukur resistivity adalah terdiri dari 2 kelompok yaitu
laterolog dan induksi log. Yang umum dikenal sebagai LLd, LLs, Ild, Ilm dan SFL. Secara garis
besar log resistivitas dapat digunakan untuk:
interpretasi pintas deteksi hidrokarbon
penentuan kejenuhan air (Sw)
penentuan resistivity air Rw di tempat asal
Resistivitas formasi sebenarnya tergantung dari jenis kandungan fluidanya, arus listrik dapat
mengalir dalam formasi akibat adanya air, sedangkan minyak dan gas tidak mengalirkan arus
sehingga parameter terbatas pada air yang dikandung oleh formasi dan diukur dengan
peralatan yang khusus pula.
Resistivitas formasi tergantung dari:
Alat induksi dikenal sebagai alat konduktivitas karena parameter yang diukur adalah
konduktivitas yang dikonversikan dengan resistivitas.
Alat konduktivitas maupun alat resistivitas adalah alat yang akan digunakan untuk mengukur
serta menentukan jenis fluida yang ada di dalam formasi. Jika formasi mengandung air, maka
alat ini akan memberikan respon yang ditunjukkan pada kurva resistivity yang bergerak ke
arah kiri yaitu ke arah dengan nilai resistivitas yang kecil karena mempunyai
konduktivitas yang tinggi, sedangkan jika alat ukur ini bertemu dengan formasi yang
mengandung gas dan minyak akan terjadi defleksi kurva dengan arah ke kanan yaitu nilai
resistivitas yang tinggi dan nilai konduktivitas yang kecil. Besar arah defleksi ini juga
tergantung kedalaman pengukuran yang akan dilakukan.
4. Log Porosity
Ada 3 cara pengukuran porositas yang dilakukan yaitu sonik, densitas dan neutron. Dari
pengukuran nilai masing-masing karakter log ini sering timbul istilah porositas sonik, porositas
densiti dan porositas neutron tetapi semua itu adalah pendekatan belaka yang tidak bisa
langsung diperoleh kebenaran yang mutlak.
Tabel 1. Distribusi normal waktu transit yang terjadi pada beberapa macam
batuan. (Log Analysis Short Course, 2002)
Litologi Tma(s/ft)
Batupasir 55.5
Gamping 47.5
Dolomit 43.5
Garam 67
Selubung baja 57
Minyak 240
Fresh mud 189
Gas 666
Air 189
Alat yang dipakai untuk pengukuran porositas neutron adalah C ompensated Neutron Tool
(CNT) yang merupakan kombinasi antara LDT dan Gamma-Ray, karena ketiga alat ini
merupakan alat logging dengan kecepatan yang sama, sehingga kombinasi neutron-densitas
akan memberikan evaluasi litologi yang pintas dan indikator yang ampuh. Dengan mengetahui
sedikit banyaknya atom hidrogen dalam formasi, akan menunjukan jumlah kandungan dalam
formasi (air atau hidrokarbon), maka akan dapat dihitung porositas batuan (Schlumberger,
1972).
Log neutron merupakan indikator terbaik untuk litologi dan trend fasies pengendapannya dan
sangat berguna mencari formasi yang poros. Log porositas neutron (NPHI) sering digunakan
untuk membaca porositas, tetapi harus hati-hati karena log ini tidak bisa membedakan antara
atom hidrogen bebas dengan atom hidrogen yang secara kimia terikat pada mineral batuan,
sehingga tanggapan neutron pada formasi lempung yang banyak mengandung atom hidrogen di
dalam susunan molekulnya seolah-olah mempunyai porositas tinggi.
Respon alat ini terutama adalah pencerminan banyaknya atom hidrogen yang ada dalam
formasi. Atom hidrogen yang ada dalam minyak maupun dalam air adalah sama, maka neutron
tidak akan dengan jelas membedakan keduanya. Alat ini juga tidak bisa membedakan antara
hidrogen yang ada dalam formasi yang bersifat bebas maupun hidrogen yang terikat secara
kimia dalam serpih, sehingga efek dari kurva akan ditunjukkan bahwa porositas lempung akan
tinggi dari pada yang lain.
Minyak dan air mengandung jumlah hidrogen persatuan volume yang hampir sama, tetapi sangat
sedikit pada gas. Pengaruh ini menyebabkan porositas neutron akan turun dengan tajam,
sehingga akan memberikan indikator gas yang bagus, tetapi alat ini harus juga dikombinasikan
dengan log porositas yang lain agar akurasinya bagus.
Gas mempunyai konsentrasi hidrogen yang rendah, bervariasi dengan suhu dan tekanan,
sehingga bila ditemukan gas dalam lapisan yang cukup dekat dengan pancaran energi neutron
akan memberikan bacaan porositas yang lebih rendah.
Interpretasi dengan log porositas neutron perlu kehati-hatian yang lebih, karena banyak sekali
dipengaruhi oleh bebrapa faktor dari luar yang potensial. Pengaruh lubang bor, litologi,
salinitas lumpur, bobot lumpur, serpih, jenis hidrokarbon dan faktor internal sangat
mempengaruhi kualitas dari log ini.
Menurut teori fisika nuklir, bila sinar gamma dengan tenaga yang sangat tinggi bertabrakan
dengan suatu atom akan terjadi 3 jenis interaksi;
Densitas yang diukur oleh alat LDT merupakan akibat hamburan Compton ini sebenarnya adalah
densitas electron. Untuk mencari densitas formasi digunakan konsep avogadro sebagai
berikut:
( N .Z ) 2 Ne
Ne b densitas elektron didefinisikan sebagai e
A N
2Z
Maka : e b
A
Dimana : A = Berat atom N = Bilangan avogadro
Ketika sedang mengukur tingkat densitas dari formasi, tidak hanya matrik yang diukur, tetapi
juga kadar fluida yang ada didalamnya. Karena densitas dari fluida formasi adalah berbeda
dari densitas batuan, maka densitas dari formasi yang berpori tidak sama dengan pambacaan
densitas dari batuan yang sama tanpa ruang pori. Sehingga jika alat ukur ini digunakan maka
alat ini akan mengukur densitas dari formasi, nilai yang diukur adalah tergantung pada densitas
batuan, jumlah ruang pori matrik dan densitas dari fluida pengisi ruang pori. Hal ini juga
mencerminkan porositas yang ada, karena porositas dinyatakan dengan banyaknya fluida yang
mengisi ruang pori. Sebelum menentukan porositas, harus diketahui dulu densitas litologi dan
densitas fluida yang terkandung dalam formasi.
Rumus Densitas a
Mineral e
kimia Formasi (terbaca pada log)
Kuarsa SiO2 2.654 2.65 2.648
Kalsit CaCO3 2.71 2.708 2.71
Dolomit MgCO3 2.87 2.863 2.876
Anhidrit CaSO4 2.96 2.957 2.977
Silvit KCl 1.984 1.916 1.863
Halit NaCl 2.165 2.074 2.032
Air tawar H2O 1 1.11 1
Air Garam 200 kppm 1.146 1.237 1.135
Minyak n(CH2) 0.85 0.97 0.85
Batubara C 1.2 1.272 1.173
Pada mineral yang umum dalam formasi, hubungan densitas ini cukup ekivalen sehingga densitas
yang terbaca (apparent density a) mirip dengan densitas sebenarnya. Aplikasi log
lithodensitas antara lain :
1. Identifikasi batuan secara kualitatif
2. Evaluasi tambahan mengenai mineral lempung
3. Identifikasi mineral berat dalam formasi
4. Deteksi rekahan dengan bantuan lumpur barit.
Secara praktis di dalam interpretasi lebih sering digunakan istilah volumetric photolistrik
absorption indeks/U yang merupakan perkalian Pe dan densitas elektron :
U = P e . e
Log densitas adalah kurva yang menunjukan besarnya densitas batuan yang ditembus oleh mata
bor. Kegunaan dari log ini adalah:
Mengetahui porositas batuan dangan mengukur densitas dari elektron yang ada pada
formasi.
Identifikasi mineral evaporit.
Mendeteksi zona gas.
Menentukan densitas hidrokarbon.
Harga bulk density biasanya kecil di formasi yang mengandung gas, terutama bila invasinya tak
terlalu dalam, maka rendahnya harga densitas dari formasi akan menaikkan harga porositas
dari log densitas.
Factor yang mempengaruhi bulk density (b) pada kurva yaitu :
1. Batuan sangat kompak, dimana porositasnya mendekati harga nol sehingga persatuan
volume seluruhnya/hampir seluruhnya terdiri dari matrik batuan. Dengan demikian
batuan mempunyai densitas paling besar, dimana porositasnya sama dengan nol, dan ini
disebut densitas matrik (ma ). Setiap jenis batuan mempunyai harga densitas matrik
yang berbeda seperti tertera pada Tabel 2.3.
Adanya mineral dalam suatu formasi berpengaruh penting pada log listrik, sedangkan komposisi
clay mineral merupakan satu dari beberapa faktor dalam menentukan karakteristik log listrik.
Asumsi dasar dan masalah dalam interpretasi log yaitu :
Kerangka butiran pasir :
Membentuk porositas dan permeabilitas
Komposisi utama kuarsa, dengan feldspar 10 20 %
Umumnya kandungan densitas mineral rendah (2.63 2.65)
Melalui data batuinti (core) dapat ditentukan fasies sedimen dan lingkungan pengendapan
suatu tubuh batuan. Core layaknya seperti suatu singkapan yang memperlihatkan bagaimana
kondisi geologi bawah permukaan sebenarnya, meskipun hanya diperoleh dalam dimensi yang
sangat terbatas, banyak hal yang dapat diidentifikasi dari suatu data core.
Cara pengambilan data ini yaitu dengan menggunakan mata bor yang berlubang. Conto batuan
yang diambil disimpan dalam suatu pipa (core barrel) dengan harapan sampai di permukaan
masih seperti kondisi aslinya. Keuntungan data conventional core adalah batuan tidak
terganggu atau hancur sehingga dapat diketahui litologi terutama struktur sedimen dan sifat
fisik lainnya seperti porositas, permeabilitas dan kekuatan batuan ( rock strenght) dengan
pengukuran langsung.
Analisis core merupakan acuan untuk mengidentifikasi litologi melalui deskripsi atau pemerian
batuan reservoir untuk mengoptimalkan kontribusi data batuan. Langkah awal dalam analisa
deskripsi adalah mengenali obyek analisis secara kualitatif mulai dari tampak luar sampai unsur
pembentuknya. Pengenalan analisa obyek sangat penting karena menentukan jenis dan urutan
analisa lanjut yang perlu dilakukan agar analisanya bermanfaat.
Hal-hal yang perlu dideskripsi pada batuinti (core) yaitu : jenis batuan, warna, kekerasan,
besar butir, kebundaran, pemilahan, mineral/komponen ikutan, fluoresensi (pengamatan dengan
ultraviolet untuk melihat adanya indikasi hidrokarbon), dan Cut-fluoresensi (pemerian sifat
warna minyak yang larut dalam solvent di bawah sinar ultraviolet jika batuan ditetesi dengan
pelarut CCl4 (Carbon Tetra Chloride) atau Chloroform).
Jumlah minyak atau gas bumi yang terdapat di dalam suatu satuan volume merupakan fungsi
dari harga porositas dan kejenuhan hidrokarbonnya. Mengevaluasi produktivitas suatu
reservoir sangat penting untuk mengetahui bagaimana cairan yang terdapat didalamnya dapat
keluar melalui sistem pori-pori. Adapun tujuan utama pekerjaan evaluasi formasi adalah untuk
meramalkan kejenuhan serta volume hidrokarbon. Dalam mengevaluasi suatu formasi, dilakukan
dengan 2 macam evaluasi, yaitu evaluasi kualitatif dan evaluasi kuantitatif.
1. Evaluasi Kualitatif
Interpretasi data log secara kualitatif yaitu interpretasi yang didasarkan pada pengamatan
bentuk konfigurasi dari kurva log yang tersedia didukung dengan data dari mud logging yang
tersedia. Dengan interpretasi kualitatif ini diharapkan diperoleh keterangan mengenai
penafsiran jenis litologi, ketebalan, batas perlapisan batuan, serta jenis fluida sehingga dapat
diperkirakan zona-zona yang merupakan reservoir dan zona yang mengandung hidrokarbon
tanpa melakukan perhitungan.
Hubungan antara respon log terhadap litologi dapat dilihat pada gambar 2, setelah kita dapat
menafsirkan/menginterpretasikan litologi kemudian kita lakukan penentuan zona-zona yang
prospek yaitu yang diduga mengandung hidrokarbon. Zona ini porous ditunjukan oleh defleksi
kurva log SP baik positif (ke kanan) maupun negatif (ke kiri). Zona yang porous ini umumnya
merupakan batupasir dan batugamping. Pada log sinar gamma batupasir dan batugamping akan
ditunjukan oleh defleksi kurva ke arah kiri atau memiliki harga pembacaan sinar gamma yang
kecil yang menunjukan sedikitnya kandungan lempung atau serpih dalam batuan. Perbedaannya
adalah pada batugamping defleksi kurva log density akan menunjukan angka yang relatif lebih
tinggi dari batupasir dan pada log neutron defleksi kurva terhadap batugamping relatif akan
menunjukan angka yang lebih kecil dari batupasir. Di samping itu interpretasi pada data
master log juga sangat membantu untuk membedakan antara batupasir dan batugamping ini.
Untuk menentukan kandungan fluida dalam formasi, kita dapat menggunakan log resistivity
serta log densitas dan neutron. Sifat-sifat fisika yang dimiliki oleh air, minyak dan gas akan
memberikan efek berbeda terhadap pengukuran log. Fluida air memiliki berat jenis yang lebih
besar daripada minyak dan gas, konduktifitas air juga lebih besar daripada minyak dan gas,
sedang gas memiliki tahanan jenis yang lebih besar daripada minyak dan air sehingga dalam
kurva log tahanan jenis akan ditunjukan oleh defleksi yang semakin besar ke arah fluida gas
dan semakin kecil ke arah fluida air. Pada log densitas, gas secara relatif akan memperkecil
harga kurva neutron dan densitas di atas minyak.
Pada zona yang berisi hidrokarbon kedua kurva ini akan membentuk separasi positif, artinya
kurva log neutron berada di sebelah kanan kurva log densitas sedangkan pada zona yang berisi
air separassi bisa bersifat positif maupun negatif. Data-data yang tersedia pada master log
juga sangat mendukung penentuan kandungan fluida formasi.
Parameter-parameter yang dievaluasi secara kualitatif diantaranya adalah sebagai berikut :
b. Jenis Litologi
Jenis litologi zona reservoir dapat ditafsirkan berdasarkan kenampakan defleksi kurva log
tanpa melakukan perhitungan. Adapun kenampakan beberapa jenis litologi batuan reservoir
adalah sebagai berikut :
Defleksi kurva Log GR lebih rendah dari serpih dan lempung, karena batupasir
sedikit mengandung unsur radio aktif dibandingkan serpih
Defleksi kurva Log SP berkembang negatif dan positif terhadap shale base line
Defleksi kurva Log NPHI dan RHOB relatif lebih kecil dibandingkan serpih dan
lempung. Hal ini disebabkan karena batupasir mempunyai densitas batuan lebih
kecil dari serpih dan lempung sehingga Log Neutron akan kecil, sedangkan
batupasir mempunyai densitas batuan lebih besar dari serpih berarti porositas
densitas akan kecil
Defleksi kurva Log Sonik relatif kecil dari serpih dan lempung. Hal ini disebabkan
batupasir mempunyai porositas lebih kecil dari serpih sehingga kecepatan
gelombang suara semakin cepat dan waktu yang terukur semakin kecil
S P
1 . S h a le a ta u c la y ; b e n tu k k u rv a -k u rv a S P
lu ru s d a n m e ru p a k a n s h a le b a s e lin e .
2 . L a p is a n k o m p a k ; d e fle k s i S P a k a n
m e n u ru n a ta u m e n g e c il m e n d e w k a ti a ra h
s h a le b a s e lin e .
3 . L a p is a n b e rle m p u n g a ta u s h a ly ; d e fle k s i
S P m e n g e c il m e n d e k a ti s h a le b a s e lin e .
4 . L a p i s a n p e r m e a b e l ; d e f l e k s i S P
b e rk e m b a n g n e g a tif a ta u p o s itif te rg a n tu n g
je n is flu id a ,
A ir a s in ; d e fle k s i n e g a tif
A ir ta w a r d e fle k s i p o s itif
H id ro k a rb o n ; d e fle k s i n e g a tif
A ir p a y a u ; d e fle k s i m e n d e k a ti s h a le
b a s e lin e
G R
1 . la p is a n p e rm e a b e l b e r s ih ; n ila i G R sa n g at
re n d a h .
2 . la p is a n im p e rm e a b e l a ta u s h a ly ; n ila i G R
m a k s im u m .
3 . la p is a n s h a ly ; n ila in y a te r le ta k a n ta ra n ila i
G R m a k s im u m d a n G R m in im u m .
1 . S h a le ; h a rg a R t d a n R x o s a n g a t re n d a h , te rg a n tu n g
k e k o m p a k a n b a tu a n , s e m a k in k o m p a k h a rg a
re s is tiv ity s e m a k in tin g g i
1 2 . L a p is a n s h a lly ; m e n u ru n k a n h a rg a R t d a n R x o
3 . L a p is a n k o m p a k ; h a rg a R t d a n R x o s a n g a t tin g g i
k a re n a p o ro s ita s m e n d e k a ti h a rg a (0 ) n o l.
2 4 . L a p is a n p e rm e a b e l; h a rg a R t d a n R x o b is a tin g g i
te rg a n tu n g je n is flu id a n y a
K a n d u n g a n a i r a s i n ; h a r g a R t r e n d a h h a r g a
3 R x o le b ih tin g g i
K a n d u n g a n a i r t a w a r ; h a r g a R t r e l a t i f l e b i h
tin g g i a ta u le b ih re n d a h a ta u s a m a d e n g a n
h a rg a R x o te rg a n tu n g k e d a la m a n in v a s i a ir
filtra t, h a rg a R x o re la tif tin g g i.
4 K a n d u n g a n g a s ; h a r g a R t d a n R x o h a m p i r
s a m a d e n g a n m in y a k , n a m u n u m u m n y a h a rg a
R tgas le b ih tin g g i d a ri R t m in y a k .
5 . L a p is a n s h a ly + a ir; k u rv a R x o m e n g a la m i
p e n u ru n a n s e s u a i d e n g a n p e rs e n ta s i s h a le , te ta p i
p e n g a ru h a ir filtra t te ta p tin g g i s e la m a
p e rs e n ta s i s h a le tid a k b e g itu b e s a r, R t o le h k a re n a
5 su d a h re n d a h m a k a p e n g a ru h s h a le in i
tid a k k e lih a ta n
6 . L a p is a n s h a ly + h id ro k a rb o n ; h a rg a R t d a n R x o
6 m e n u ru n .
7 . L a p is a n k o m p a k + h id ro k a rb o n ; p e n g a ru h
k e k o m p a k a n b a tu a n tid a k b e g itu te rlih a t, k a re n a
7 h a rg a R t s u d a h re la tif tin g g i.
8 . L a p is a n k o m p a k + a ir ta w a r; k o n d is in y a s a m a
8 d e n g a n la p isa n k o m p a k m e n g a n d u n g
9 h id ro k a rb o n .
9 . L a p isa n K o m p a k + a ir a s in ; h a rg a R t d a n R x o
b e rta m b a h b e s a r,
Ciri-ciri pada log dalam menentukan jenis cairan pengisi formasi apakah air, minyak atau gas
adalah :
d. Mobilitas Hidrokarbon
Dapat ditentukan secara kualitatif dengan menggunakan overlay dari kurva Resistivity dangkal.
Dalam zona yang mengandung hidrokarbon yang dapat bergerak ( moveable hydrocarbon) akan
ditunjukkan adanya separasi antara kurva Resistivity dalam (mengukur Rt), kurva Resistivity
dangkal (mengukur Rxo). Dalam zona ini harga Resistivity formasi (Rt) lebih besar dari
Resistivity zona Terinvasi (Rxo) sehingga Rt Rxo. Dalam zona hidrokarbon yang tidak dapat
bergerak ditunjukkan oleh harga Rt yang hampir sama dengan harga Rxo.
Interpretasi kulitatif untuk mengetahui jenis litologi dan kandungan fluida dari wireline log
dapat dilihat pada gambar 2 sampai 4.
1 .7 B (g rm /c c ) 2 .7
FD C :
1 . B a tu a n s a n g a t k o m p a k ; m e m p u n y a i h a rg a
1 d e n s ita s p a lin g b e s a r.
2 . B a tu a n h o m o g e n d e n g a n p o ro s ita s te rte n tu
m engandung
A ir A ir; m e m ilik i e n s ita s y a n g le b ih re n d a h
d ib a n d in g b a tu a n y a n g s e lu ru h n y a te rd iri
2 M in y a k
d a r i m a trik s .
M in y a k ; d e n s ita s b a tu a n le b ih re n d a h
G as d a r ip a d a y a n g b e r is i a ir.
G a s ; d e n s ita s le b ih re n d a h la g i d ib a n d in g
y a n g m e n g a n d u n g m in y a k .
60 N (% ) 0
C N L :
1 . S h a le a ta u c la y ; k a re n a lito lo g i in i m e m ilik i
1
p o ro s ita s b e s a r d a n p e rm e a b ilita s n y a k e c il,
m a k a a d a n y a c la y a ta u s h a le d a la m b a tu a n
2 a k a n m e m p e rb e s a r h a rg a n e u tr o n .
2 . B a tu a n k o m p a k ; k a re n a p o ro s ita s b a tu a n
3 m e n d e k a ti n o l, m a k a b e rp e n g a ru h
m e n u r u n k a n h a rg a n e u tro n h in g g a h a rg a
m in im u m .
4 3 . K a n d u n g a n a ir; a k a n m e m p e rb e s a r n ila i
n e u tro n m e n d e k a ti n ila i y a n g s e b e n a rn y a .
4 . K a n d u n g a n h id ro k a rb o n ; m e n u ru n k a n h a rg a
n e u tro n
1 .7 B (g rm /c c ) 2 .7
60 N (% ) 0 FD C - C N L
1 . S h a le ; n ila i d e n s ita s d a n n e u tro n r e la tif b e s a r
( - ) a ta u d e fle k s i/s e p a ra s i b e rn ila i n e g a tif.
1 2. L a p isa n p e rm e a b e l m e n g a n d u n g
h id ro k a rb o n ; m e m p u n y a i n ila i d e n s ita s d a n
n e u tro n y a n g re la tif k e c il a ta u s e p a ra s i
( + ) p o s itif. U n tu k g a s s e p a ra s in y a le b ih b e s a r
2 d a rip a d a m in y a k .
3 . L a p isa n p e rm e a b e l m e n g a n d u n g a ir;
m e m p u n y a i s e p a ra s i p o s itif y a n g le b ih k e c il
( - ) d a r ip a d a h id ro k a rb o n , k a d a n g -k a d a n g ta n p a
3 s e p a ra s i a ta u s e p a ra s in y a n e g a tif te rg a n tu n g
d a ri je n is b a tu a n n y a .
4 4 . B a tu b a ra ; m e m ilik i n ila i n e u tro n y a n g
b e s a r, te ta p i d e n s ita s s a n g a t k e c il.
GR Density Resistivity
SP Neutron Por
0 150 1.7 2.7
0.6 0 0.2 2000
-80 120
Batuan Reservoir :
Coal
Gamma Ray --- Rendah
Density --- Rendah
Neutron --- Porous
Hydrocarbon Sonik --- Lambat
SP --- Ada depleksi
mea
(permeable)
Per
ble
Interpretasi Fluida
Berdasarkan
Log Resistivity :
S Hydrocarbon
G RT sangat tinggi = gas
P RT tinggi = minyak
R
Water RT rendah = Air
N
RT
bN
Permeable
Non
GR Density
SP Neutron Por
0 150 1.7 2.7
-80 120 0.6 0
Shale
batubara
Shale
Batupasir halus
Batupasir kasar
M
R
A
E
B
L
E
P
GR
Shale
SP
Limestone
N
b
Permeable
Shale
Non
2. Evaluasi Kuantitatif
Tf = Df ( BHT Ts ) + Ts .. 1
D
Tahanan jenis (Resistivity) adalah hambatan yang diberikan oleh suatu benda yang panjangnya
satu satuan panjang dan penampangnya satu satuan luas, satuan tahanan jenis adalah Ohm.m.
Dalam analisis log dikenal beberapa jenis resistivitas yaitu Resistivitas Air Formasi (R w),
Resistivitas Batuan (Ro) dan Resistivitas Formasi (Rt).
Ro F Rw .............................................................. ................... 2
Karena yang kita cari adalah minyak, maka kubus dalam percobaan pertama kemudian diisi
dengan air formasi dan minyak. Dengan penambahan minyak berarti Sw lebih kecil dari satu (Sw
< 1). Dalam penelitian ini harga Rt diambil dari harga resistivitas dalam (deep Resistivity).
Dalam hubungannya dengan daya hantar jenis konduktivitas Pengukuran menghasilkan R t yang
ternyata harganya lebih besar dari Ro serta berbanding lurus dengan R o. Dapat diformulakan
sebagai berikut :
Rt I Ro ................................................ .............. 3
a
F ................................................................................. 6
m
0.62
F ....................................................................................... 7
2.15
Perlu ditambahkan disini bahwa perlu dibuat suatu studi secara statistik pada daerah-daerah
baru mengenai hubungan faktor formasi dengan porositas, sehingga bisa didapatkan harga
yang efektif untuk daerah dengan litologi serta umur yang sama.
( Temp + 6,77 )
Rmf = Rtemp ( Tf + 6,77 ) . 9
a) Tentukan harga static Spontaneous Potensial (SP) dengan memakai metode cross plot
GR vs SP
b) Tentukan harga Resistivity of Mud Filtrate Equivalent (Rmfe).
Jika Rmf pada 75F < 0,1 pergunakan rumus :
( 146. Rmf 5 )
Rmfe =
( [Link] + 77 ) 10
Rmfe = 0,[Link] .. 11
Rmfe
Rwe = -ssp . 12
10 k
K= 60 + ([Link])
d) Tentukan Rw pada suhu 75F, jika Rwe < 0,12 pergunakan rumus :
( 77. Rmf + 5 )
Rw 75oC = ........................................................ 13
( [Link] )
Rw 75 oF x 81,77
Rw = Tf + 6,77 14
GR log GR min
Vsh = GR max GR min .. 15
Penentuan harga Rt
Porositas Total ( t)
Porositas total merupakan perbandingan antara ruang kosong (pori-pori, rekahan, gerohong)
total yang tidak diisi oleh benda padat yang ada di antara elemen-elemen mineral dari batuan,
dengan volume total batuan. Persamaan untuk menghitung porositas batuan adalah :
Vt Vs V p
t ............................................................................ 16
Vt Vt
Dimana : Vp = volume ruang kosong, biasanya terisi oleh fluida (air, minyak, gas)
VS = volume yang terisi oleh zat padat
Vt = volume total batuan.
Porositas primer (1), adalah ruang antar butir atau antar kristal. Ini terutama
tergantung pada bentuk dan ukuran zat padat dan cara penyortirannya. Biasanya
dijumpai pada batuan klastik.
Porositas gerowong yang diperoleh secara disolusi, dan porositas rekahan yang
diperoleh secara mekanik, akan membentuk porositas sekunder (2).
Porositas total menjadi :
t 1 2 ....................................................................................... 17
Porositas efektif merupakan perbandingan volume pori-pori yang saling berhubungan dengan
volume total batuan. Porositas Bersambungan (conn) adalah bagian dari ruang kosong yang saling
bersambungan di dalam batuan. Bisa jauh lebih kecil dibandingkan dengan porositas total, jika
pori-porinya tidak saling bersambungan (kasus dari batu apung, dimana 1 mendekati 50 % dan
conn adalah nol)
Vconn
t eff ................................................................................. 18
Vt
Penentuan harga porositas pada lapisan reservoir menggunakan gabungan harga porositas dari
dua kurva yang berbeda, yaitu: porositas densitas (D) yang merupakan hasil perhitungan yang
berasal dari kurva RHOB serta porositas neutron (N) yang dibaca dari kurva NPHI.
Kuva RHOB pada hakekatnya mengukur berat jenis matrik batuan reservoir (b) yang
dikalibrasi pada berat jenis matriks batugamping (ma = 2.71 gr/cc), atau berat jenis matriks
batupasir (ma =2.65 gr/cc) serta diukur pada lumpur pemboran yang digunakan dalam
pemboran (f), maka kurva ini baru bisa menunjukan harga porositas densitas (D) dengan
menggunakan rumus :
ma b
D ....................................................................... 19
ma f
Sedangkan kurva NPHI langsung menunjukan harga porositas neutron (N) dari batuan
reservoir dalam persen (%). Pendekatan harga porositas dilakukan melalui gabungan harga
porositas densitas neutron (DN) dengan menggunakan persamaan :
7D 2N
DN ............................................................... 20
9
Harga porositas yang didapat dikoreksi terhadap keberadaan hidrokarbon. Koreksi perlu
dilakukan karena keberadaan hidrokarbon dalam batuan mempengaruhi pembacan log densitas
dan neutron. Koreksi hidrokarbon menggunakan persamaan 2.6.
DN (1 0.10 S hr ) ..................................................... 21
Dimana = Porositas
Shr = Saturasi hidrokarbon sisa,
N2 + D2
N D = 2 . 22
Berbeda dengan porositas, permeabilitas sangat tergantung pada ukuran butiran batuan.
Sedimen butiran besar dengan pori-pori besar mempunyai permeabilitas tinggi, sedangkan
batuan berbutir halus dengan pori-pori kecil dan alur yang berliku-liku mempunyai
permeabilitas rendah
Permeabilitas dapat ditentukan berdasarkan beberapa metode, salah satunya adalah metoda
porositas () dan saturasi air sisa (Swirr). Saturasi air sisa (Swirr) adalah nilai saturasi air yang
tertinggal karena tegangan permukaan butiran, kontak butiran dan di dalam celah-celah yang
sangat kecil. Dalam formasi yang basah-air, selalu terdapat sejumlah air yang terikat oleh gaya
kapiler antar pori. Tidak ada hubungan yang pasti antara permeabilitas dan porositas. Rumus
hubungan kedua parameter itu umumnya adalah empiris, dijabarkan pada kondisi dan situasi
tertentu. Suatu hubungan empiris yang lebih umum diusulkan oleh Wylie dan Rose yang
melibatkan parameter air sisa. (Swirr).
C x
K ............................................................................. 23
( S wirr ) y
Beberapa ahli kemudian mencoba menjabarkan rumus Wylie dan Rose ini kedalam sesuatu yang
dapat diterapkan pada hasil rekaman log sumur, salah satunya adalah rumus Tixier
1 3
K 2
250 ...................................................................... 24
S wirr
Dimana
K = Permeabilitas (md)
Swirr = Saturasi air sisa, didapat dari hasil percobaan laboratorium
= Porositas
maka dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode rasio resistivitas. Untuk mencari R w
dengan metode ini pertama kali kita tentukan Water Bearing Zone (WBZ) pada tiap-tiap
formasi, lalu tentukan niali Rt dan Rxo, selanjutnya kita hitung nilai Rmf pada zona tersebut.
Dari persamaan Archie, di daerah berair Sw mencapai maksimum yaitu Sw = Sxo = 1, maka:
Rxo Rmf
Max ................................................... 25
Rt Rw
Sehingga :
Rt
Rw Rmf ......................................................... 26
Rxo
Dimana : Rw = Resistivitas air formasi (ohm.m)
Rt = Resistivitas formasi @ WBZ (kurva Resistivity dalam)
Rxo = Resistivitas formasi pada zona terinvasi @ WBZ (kurva Resistivity dangkal)
Rmf = Resistivitas mud filtrat pada suhu formasi (ohm.m)
Resistivitas mud filtrat pada suhu formasi didapatkan dari hasil konversi resistivitas mud
filtrat dari kepala log terhadap suhu formasi, dengan rumus sebagai berikut :
T 1 6.77
Rmf 2 Rmf 1 ...................................... 27
Tf 6.77
Dimana : T1 = Suhu pada Rmf1 ( F), dapat dilihat pada kepala log
Tf = Suhu formasi ( F)
Rmf1 = Resistivitas mud filtrat (ohm.m), dapat dilihat pada kepala log
Rmf2 = Resistivitas mud filtrat pada suhu formasi (ohm.m)
Tf ST GTxDf
BHT ST
Tf ST xDf ..................................... 28
TD
Dimana : Tf = Suhu Formasi ( 0F)
ST = Suhu permukaan ( 0F), dapat dilihat pada kepala log
GT = Gradien temperatur ( 0F/m)
TD = Total kedalaman (meter), dapat dilihat pada kepala log
Df = Kedalaman formasi (meter), dilihat pada kedalaman kurva
BHT = Temperatur pada dasar sumur ( 0F), dapat dilihat pada kepala log
Peta kontur struktur atau peta struktur berkontur merupakan peta yang menggambarkan
posisi dan konfigurasi dari suatu lapisan terhadap datum tertentu. Datum yang dipakai dalam
pembuatan peta kontur struktur adalah muka air laut, dimana tiap-tiap sumur digantung pada
kedalaman yang sama. Dengan demikian, peta ini akan memperlihatkan penyebaran lapisan atau
fasies batuan secara lateral dan/atau vertikal yang dikontrol oleh struktur sesar atau lipatan.
Peta Stratigrafi
Peta stratigrafi adalah peta yang memperlihatkan perlapisan batuan berserta perubahannya
secara lateral dan dinyatakan dalam nilai-nilai tertentu, misalnya ketebalan, nilai porositas dan
sebagainya
Peta Cadangan
Kegunaan peta cadangan diantaranya untuk menghitung cadangan reservoir minyak atau gas
secara volumetrik. Peta cadangan digambarkan dalam bentuk kontur "iso net hidrokarbon
(minyak atau gas) dan sekaligus pada peta tersebut dapat diketahui dan dihitung luas kawasan
penyebarannya. Kombinasi kedua faktor ketebalan dan luas diperoleh volume. Untuk membuat
peta cadangan diperlukan data berikut :
Peta horison, yaitu gabungan peta struktur kedalaman dengan peta isopach.
Kedalaman Water Contact yang harus diterakan pada peta horison.
Posisi kedalaman outer dan inner Water Contact yang harus digambarkan pada peta
horizon
Cara mendapatkan Inner Water Contact salah satunya dengan menggunakan metoda
penampang. Metoda ini dilakukan dengan membuat penampang-penampang struktural baik yang
melintang maupun yang membujur. Pada penampang tersebut harus digambarkan Top dan
Bottom dari lapisan reservoir yang akan dipetakan (Gambar 2.13). Prinsip cara tersebut adalah
untuk menentukan posisi perpotoangan bidang Water Contact dengan bottom lapisan reservoir.
Semua temuan titik inner Water Contact yang diperoleh dari pembuatan penampang tersebut
harus diproyeksikan kembali ke puncak ( top) lapisan reservoir. Posisi proyeksi tersbut
diletakkan pada peta horison yang tersedia. Dengan menghubungkan semua titik-titik inner
Water Contact, maka diperoleh garis kontur Water Contact.
Perhitungan Cadangan
Perkiraan besarnya cadangan secara volumetris menggunakan persamaan
Untuk minyak
(7758).Vb. .(1 Swi )
N .................................... 29
Boi
Untuk Gas
Bulk volume dapat dihitung dengan menggunakan dua rumus yaitu Piramid Terpancung dan
Trapezoid.
Piramid Terpancung
Vb
h
3
An An 1
An An 1 ......................................... 31
Trapezoid
h
Vb An An 1 ............................................................ 32
2
Dimana h = tinggi interval, m
An = luas kontur ke n, m3
An+1 = luas kontur ke n+1, m3
Rumus Piramid Terpancung digunakan apabila perbandingan antara 2 luas yang berurutan lebih
kecil dari 0,5 ( An 1 An 0,5 ), sedangkan rumus Trapezoid digunakan apabila perbandinagn
antara 2 luas yang berurutan lebih besar dari 0,5 ( An 1 An 0,5 ).
Untuk mengetahui unit Recovery dari reservoir digunakan persamaan Recovery Factor (RF).
Untuk minyak
(1 Swi Sga)( Boi )
RF % ................................................ 33
(1 Swi )( Boa)
Dimana
Swi : Saturasi air awal, fraksi
Swa : Saturasi air sisa, fraksi
Boi : Faktor volume formasi minyak pada saat permulaan, reservoir
barrels/stock tank barrels
Boa : Faktor volume formasi minyak pada keadaan sisa, reservoir
barrels/stock tank barrels
Untuk gas
100( Bgi Bga)
RF % ....................................................... 34
Bgi
dj
Uninvaded Zone
Transition Zone
Keterangan :
Flushed Zone
dh diameter lubang bor Open Hole
dj diameter zona terinvasi
rj radius zona terinvasi
hmc tebal mud cake
Rm resistivity limpur pemboran Rxo Rt
Rmc
Mud Cake
Gambar. Kondisi lubang bor dan simbol-simbol yang digunakan dalam interpretasi log