0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan32 halaman

Metode Well Logging dalam Geofisika

Dokumen tersebut membahas metode well logging untuk mengukur parameter petrofisika pada setiap kedalaman formasi yang ditembus lubang pemboran. Terdapat tiga jenis zona yang terbentuk akibat proses pemboran yaitu zona terinvasi, zona peralihan, dan zona tidak terinvasi. Beberapa jenis wireline logging yang dijelaskan meliputi gamma ray, resistivity, dan spontaneous potential untuk mengetahui litologi, kandungan fluida, dan kualitas reservoir.

Diunggah oleh

leokustians
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
32 tayangan32 halaman

Metode Well Logging dalam Geofisika

Dokumen tersebut membahas metode well logging untuk mengukur parameter petrofisika pada setiap kedalaman formasi yang ditembus lubang pemboran. Terdapat tiga jenis zona yang terbentuk akibat proses pemboran yaitu zona terinvasi, zona peralihan, dan zona tidak terinvasi. Beberapa jenis wireline logging yang dijelaskan meliputi gamma ray, resistivity, dan spontaneous potential untuk mengetahui litologi, kandungan fluida, dan kualitas reservoir.

Diunggah oleh

leokustians
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Geofisika Metode Well Logging

I. Wireline Log

Pekerjaan wireline logging biasanya dilakukan setelah operasi pemboran selesai yaitu untuk
mengukur parameter petrofisika pada setiap kedalaman secara tepat dan berkesinambungan
dari formasi yang telah ditembus lubang pemboran. Fungsi lainnya adalah :
Untuk mengetahui dan membedakan litologi bawah permukaan
Untuk korelasi dengan sumur pemboran lainnya
Mengetahui keberadaan dan jenis hidrokarbon
Mengetahui kualitas dan ketebalan batuan reservoir
Secara kuantitatif dapat mengetahui besarnya nilai porositas dan saturasi
formasi.

Gambar 1. Zona yang terbentuk akibat proses pemboran (Harsono, 1997)

Saat pemboran akan terjadi infiltrasi lumpur yang merembes ke dalam formasi (perbedaan
tekanan) akibatnya akan terbentuk tiga zona yang mempunyai karakteristik yang berbeda
dalam sifat petrofisiknya akibat pengaruh lumpur pemboran (Harsono, 1997; gambar 1), yaitu :

a. Zona Terinvasi (Invaded Zone atau Flushed Zone)


Zona ini terletak paling dekat dengan lubang bor dan terisi oleh air filtrasi lumpur yang
mendesak kandungan semula (gas, minyak, air asin atau tawar). Dalam zona ini terjadi infiltrasi
lumpur pemboran namun mungkin saja tidak semua kandungan fluida awal terdesak ke dalam
zona yang lebih dalam. Pada Zona ini sifat formasi atau reservoir yang bisa di analisis secara
kuantitatif adalah: Rxo (resistivitas formasi pada zona terinvasi), Rmf (resistivitas lumpur)
dan Sxo (saturasi lumpur).

Saturasi Zona Terinvasi (Sxo)


Harga kejenuhan pada zona terinvasi (Sxo) menggunakan Rumus Archie. Harga Sxo digunakan
untuk mengetahui sejauh mana telah terjadi masuknya lumpur pemboran ke dalam suatu

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 1


Geofisika Metode Well Logging

formasi dan untuk mengetahui berapa besar saturasi hidrokarbon (S hr) pada batuan reservoir
yang tersisa akibat proses filtrasi lumpur pada formasi dengan menggunakan rumus :
Shr 1 Sxo .................................................................... 1
Dengan asumsi bahwa apabila suatu reservoir telah terinfiltasi oleh lumpur pemboran maka
hidrokarbon telah tergantikan oleh lumpur pemboran sehingga hidrokarbon yang tersisa pada
zona ini berjumlah (1 - Sxo). Rumus Archie untuk mencari Sxo adalah:
F Rmf .............................................................. 2
Sxo
Rxo

Dimana Sxo = Saturasi formasi pada zona terinvasi


F = Faktor formasi, didapat dari persamaan 2.17
Rmf = Resistivitas mud filtrat pada suhu formasi (ohm.m),
Rxo = Resistivitas formasi pada zona terinvasi (ohm.m), dibaca pada kurva
Resistivity dangkal

Saturasi air (Sw)


Kejenuhan air adalah rasio dari volume pori yang terisi oleh air dengan volume porositas total
(Harsono, 1997). Jika air adalah satu-satunya fluida di dalam pori-pori maka S w bernilai sama
dengan 1. Jika terdapat sejumlah hidrokarbon maka S w < 1. Kejenuhan tidak mempunyai
dimensi, karena hanya berupa rasio, akan tetapi sering dikalikan 100 untuk dinyatakan dalam
persen. Tujuan mencari harga kejenuhan air (S w) adalah menentukan zona yang mengandung
hidokarbon. Rumus Archie untuk mencari Sw adalah :
F Rw
Sw .................................................................3
Rt

Dimana Sw = Saturasi formasi


F = Faktor formasi, didapat dari persamaan 2.17
Rw = Resistivitas air formasi (ohm.m) didapat dari persamaan 2.10
Rt = Resistivitas formasi (ohm.m), dibaca pada kurva Resistivity dalam
Penentuan harga Faktor Formasi (F)

F = 0,81 Untuk batupasir yang terkonsolidasi


2

0,62
F = Untuk batupasir tak terkonsolidasi
2,15

b. Zona Peralihan (Transition Zone)


Zona peralihan terletak di sebelah dalam zona terinvasi, sebagian isinya adalah kandungan
fluida awal dan filtrat lumpur pemboran yang masuk ke dalam zona ini. Tidak ada sifat
petrofisik yang bisa dikaji secara kualitatif pada zona ini.

c. Zona Tidak Terinvasi (Uninvaded Zone)


Zona ini terletak paling jauh dari lubang bor, serta seluruh pori batuan terisi oleh kandungan
semula, sehingga tidak ada infiltrasi lumpur pemboran. Oleh karena itu maka sifat petrofisik
yang ada pada zona ini merupakan sifat asal dari formasi atau reservoir tersebut. Sifat

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 2


Geofisika Metode Well Logging

petrofisik yang bisa dikaji secara kualitatif pada zona ini adalah Rt (resistivitas formasi
sebenarnya), Rw (resistivitas air) dan Sw (saturasi air) yang semuanya akan mempengaruhi
perhitungan banyaknya hidrokarbon yang terdapat pada formasi/reservoir tersebut.

Adapun jenis wireline logging yang yang ada diantaranya :


1. Log Gamma Ray (GR) / Sinar Gamma
2. Log Spontaneous Potensial (SP)
3. Log Resistivity
4. Log Densitas
5. Log Neutron
6. Log Sonik
7. Log Caliper
8. Master log

1. Log Gamma Ray (GR)


Log gamma ray adalah log yang menggunakan sinar gamma sebagai alat untuk mengukur tingkat
radiasi unsur radio aktif yang ada dalam setiap formasi yang dilaluinya. Prinsip terpenting dari
log ini adalah suatu perekaman tingkatan radiasi alami dari suatu lapisan, tingkatan radiasi itu
terjadi akibat adanya unsur-unsur radiaktif yang ada di dalam lapisan bumi, diantaranya unsur
unsur Uranium (U), Thorium (Th), dan Pottasium (K). Log radioaktif banyak sekali digunakan
pada aplikasi well logging. Radioaktif dari lapisan ini akan terus memancar sampai dengan waktu
paruh dari unsur itu habis sehingga dengan demikian alat ini hanya mengukur tingkat intensitas
yang terjadi dan diukur dengan alat ukur detektor Scintillation.
Pada batuan sedimen, unsur-unsur radioaktif terkonsentrasi dalam lapisan batulempung,
sehingga pada lapisan permeabel yang bersih, kurva gamma ray menunjukkan intensitas
radioaktif yang sangat rendah; misalnya batupasir, terkecuali lapisan tersebut mengandung
mineral-mineral tertentu yang bersifat radioaktif, atau pada lapisan yang berisi air asin yang
mengandung garam-garam potasium yang terlarutkan, sehingga harga gamma ray akan tinggi.
Mineral-mineral radioaktif yang terkandung di dalam serpih umumnya adalah kaolinit,
montmorilonit, chlorit, illite, biotite, glauconite, muscovite, dan orthoklas.

Log sinar gamma akan turun kekiri bila menemui lapisan yang permeable dan mampu
memisahkan dengan baik antara lapisan shale dengan lapisan permeable. Untuk menentukan
prosentasi serpih digunakan kurva log GR dengan menggunakan rumus:

GR log - GR min
ISH = GR max- GR min

V SH-CLAVIER = 1.7 - 3.38 (ISH + 0.7)21/2

Dimana : Vsh : volume shale dalam formasi (%)


GRlog : nilai titik pengamatan pada log (API unit)
GRmin : nilai minimm log (API unit)
GRmax : nilai maximum log (API unit)

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 3


Geofisika Metode Well Logging

Gambar 2. Respon Gamma Ray terhadap Litologi

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembacaan log GR adalah kondisi lubang bor dan kondisi
lumpur pemboran. Kesalahan pembacaan terjadi bila kondisi lubang yang buruk (runtuh)
mengakibatkan jarak antara tool dengan formasi cukup jauh dan diapit oleh lumpur pemboran
yang tebal atau unsur radioktif yang terdapat di dalam lumpur (potassium) ikut terbaca.

Log Gamma Ray juga digunakan dalam korelasi pada sumur yang berselubung, korelasi dari
sumur ke sumur sangat baik karena sejumlah tanda-tanda perubahan litologi hanya akan
terlihat dengan jelas pada jenis log ini. Gabungan perekaman CCL (Casing Collar Locator)
memungkinkan alat perforasi diposisikan dengan tepat di depan formasi yang akan dibuka.
Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa kegunaan dari log GR adalah sebagai berikut:
a. interpretasi lapisan serpih (Vsh)
b. sebagai indikator kandungan serpih
c. evaluasi bijih mineral radioaktif seperti potassium dan uranium
d. evaluasi mineral non-radioaktif teramsuk batubara
e. korelasi log pada sumur berselubung
f. korelasi antar sumur, terutama sumur-sumur tua yang sudah lama tidak digunakan
g. digunakan dalam kegiatan pencarian/penjejakan unsur radioaktif.

2. Log Spontaneus Potential (SP)


Log Spontaneus Potential (SP) adalah rekaman beda potensial yang terjadi diantara dua buah
elektroda, elektroda yang pertama terletak di permukaan dan tetap diam sedangkan eletroda
yang kedua bergerak di dalam sebuah lubang sumur. Log SP ini akan berfungsi dengan baik jika
lumpur pemborannya bersifar konduktor. Skala yang digunakan dalam log SP adalah millivolt,
tidak ada harga mutlak yang sama dengan nol karena hanya perubahan potensialnya saja yang
dicatat. Pembacaan Log SP secara garis besar di dasarkan pada shale base line yaitu batas
antara shale dengan lapisan permeabel . Shale base line ini terjadi karena arus listrik yang

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 4


Geofisika Metode Well Logging

ada pada alat ukur di dalam lubang bor melewati daerah dengan sifat listrik yang kecil, sifat
listrik kecil ini berasosiasi dengan shale yang tidak mempunyai kandungan garam air, kurva
yang muncul adalah kurva yang rata. Sedangkan bila alat ukur ini melewati daerah lapisan
dengan kandungan air garam yang tinggi maka akan terjadi defleksi kurva, hal ini terjadi
karena arus listrik kembali ada, tetapi kadang pengukuran ini tidak terlalu efektif dan
mendekati kebenaran sesungguhnya, maka harus di korelasikan interpretasinya dengan log-log
yang lain.
Log SP juga tidak sepenuhnya memperkirakan ketebalan suatu lapisan yang permeabel karena
sifat kurva yang ditunjukkan oleh Log SP akan bergerak tidak signifikan, perubahan defleksi
kurvanya tidak tajam sehingga akan sulit ditentukan dimana letak perbatasan lapisan yang
porous dengan lapisan yang kedap. Pada kurva log SP akan terjadi garis shale yang lurus tetapi
untuk formasi yang permeabel akan terjadi defleksi ke kanan atau ke kiri dari kurva, hal ini
terjadi karena adanya perbedaan kadar garam yang terdapat pada lapisan yang porous itu.

3. Log Resistivity
Prinsip kerja dari log resistivity adalah mengukur kemampuan formasi untuk menghantarkan
arus listrik, semakin besar arus listrik yang dapat dialirkan, tahanan jenis batuan semakin kecil
dan sebaliknya. Daya hantar listrik merupakan fungsi dari batuan dan jenis fluida yang mengisi
ruang pori dalam batuan, karena matrik batuan dianggap tidak menghantarkan arus listrik,
maka log tahanan jenis sangat membantu dalam menentukan porositas, kejenuhan air formasi
dan jenis fluida dalam formasi. Untuk formasi yang mengandung minyak atau gas akan
mempunyai tahanan jenis lebih besar dibandingkan air (kecuali air tawar).
Alat ini dirancang khusus untuk mengukur resistivity adalah terdiri dari 2 kelompok yaitu
laterolog dan induksi log. Yang umum dikenal sebagai LLd, LLs, Ild, Ilm dan SFL. Secara garis
besar log resistivitas dapat digunakan untuk:
interpretasi pintas deteksi hidrokarbon
penentuan kejenuhan air (Sw)
penentuan resistivity air Rw di tempat asal
Resistivitas formasi sebenarnya tergantung dari jenis kandungan fluidanya, arus listrik dapat
mengalir dalam formasi akibat adanya air, sedangkan minyak dan gas tidak mengalirkan arus
sehingga parameter terbatas pada air yang dikandung oleh formasi dan diukur dengan
peralatan yang khusus pula.
Resistivitas formasi tergantung dari:

resistivitas air formasi yang dikandungnya


jumlah air formasi yang ada
struktur geometri pori-pori
Resistivitasi diukur dengan prinsip:

pengiriman arus bolak-balik ke dalam formasi, seperti Laterolog


menginduksikan arus listrik ke formasi, seperti alat induksi.

Alat induksi dikenal sebagai alat konduktivitas karena parameter yang diukur adalah
konduktivitas yang dikonversikan dengan resistivitas.

Alat konduktivitas maupun alat resistivitas adalah alat yang akan digunakan untuk mengukur
serta menentukan jenis fluida yang ada di dalam formasi. Jika formasi mengandung air, maka

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 5


Geofisika Metode Well Logging

alat ini akan memberikan respon yang ditunjukkan pada kurva resistivity yang bergerak ke
arah kiri yaitu ke arah dengan nilai resistivitas yang kecil karena mempunyai
konduktivitas yang tinggi, sedangkan jika alat ukur ini bertemu dengan formasi yang
mengandung gas dan minyak akan terjadi defleksi kurva dengan arah ke kanan yaitu nilai
resistivitas yang tinggi dan nilai konduktivitas yang kecil. Besar arah defleksi ini juga
tergantung kedalaman pengukuran yang akan dilakukan.

Aplikasi dari log resistivitas adalah:


Interpretasi pintas : deteksi Hidrokarbon
Penentuan kejenuhan air (Sw)
Penentuan diameter rembesan (di)
Penentuan langsung resistivitas air formasi (Rw)

4. Log Porosity
Ada 3 cara pengukuran porositas yang dilakukan yaitu sonik, densitas dan neutron. Dari
pengukuran nilai masing-masing karakter log ini sering timbul istilah porositas sonik, porositas
densiti dan porositas neutron tetapi semua itu adalah pendekatan belaka yang tidak bisa
langsung diperoleh kebenaran yang mutlak.

4.1. Sonik log


Alat sonik secara teori digunakan dengan prinsip penghantaran bunyi tetapi secara praktisnya
diskalakan dengan menggunakan besaran waktu transit dengan satuan s/foot juga dikenal
sebagai satuan slowness. Interpretasi dari log sonik tidak bisa langsung, jadi harus
dikolaborasikan dengan log-log porositas yang lain sehingga akan ditemukan nilai yang
mendekati sebenarnya. Waktu tempuh gelombang akustik akan berbeda tergantung dari faktor
faktor:

a. Kepadatan, waktu transit akan berbanding lurus dengan adanya tingkat


kepadatan /densitas formasi.

b. Hidrokarbon sebenarnya tidak mempunyai pengaruh yang signifikan, tetapi dengan


adanya kandungan gas dalam formasi akan menunjukkan adanya perlambatan waktu
transit dari suara yang ada sehingga waktu tempuh menjadi sangat lama, kadang
sonik log bisa dijadikan indikasi keberadaan gas yang cukup bagus.

Tabel 1. Distribusi normal waktu transit yang terjadi pada beberapa macam
batuan. (Log Analysis Short Course, 2002)

Litologi Tma(s/ft)
Batupasir 55.5
Gamping 47.5
Dolomit 43.5
Garam 67
Selubung baja 57
Minyak 240
Fresh mud 189
Gas 666
Air 189

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 6


Geofisika Metode Well Logging

4.2 Log Neutron


Kurva ini dihasilkan oleh neutron tool yang mengukur konsentrasi kandungan atom hidrogen
dalam formasi dan secara tidak langsung dapat menafsirkan porositas batuan. Pada prinsipnya
sumber radioaktif akan memancarkan partikel-partikel neutron pada formasi sepanjang lubang
bor. Partikel-partikel tersebut kemudian bertabrakan dengan suatu massa hidrogen yang
terdapat dalam formasi sehingga partikel-partikel neutron yang diterima kembali oleh
detektor akan berkurang.
Jumlah partikel neutron yang diterima kembali oleh detektor relatif banyak, menunjukkan
energi neutron yang dipancarkan sebagian besar diterima kembali oleh detektor dikarenakan
formasi kurang mengandung unsur hidrogen, dalam hal ini unsur hidrogen dijumpai sebagai
senyawa air (H2O). Keadaan ini dapat ditafsirkan rendahnya porositas batuan. Begitu pula
sebaliknya, semakin sedikit jumlah partikel neutron yang diterima detektor menunjukkan
energi neutron yang dipancarkan sebagian besar diterima kembali oleh detektor. Keadaan ini
menunjukkan tingginya porositas batuan.

Alat yang dipakai untuk pengukuran porositas neutron adalah C ompensated Neutron Tool
(CNT) yang merupakan kombinasi antara LDT dan Gamma-Ray, karena ketiga alat ini
merupakan alat logging dengan kecepatan yang sama, sehingga kombinasi neutron-densitas
akan memberikan evaluasi litologi yang pintas dan indikator yang ampuh. Dengan mengetahui
sedikit banyaknya atom hidrogen dalam formasi, akan menunjukan jumlah kandungan dalam
formasi (air atau hidrokarbon), maka akan dapat dihitung porositas batuan (Schlumberger,
1972).
Log neutron merupakan indikator terbaik untuk litologi dan trend fasies pengendapannya dan
sangat berguna mencari formasi yang poros. Log porositas neutron (NPHI) sering digunakan
untuk membaca porositas, tetapi harus hati-hati karena log ini tidak bisa membedakan antara
atom hidrogen bebas dengan atom hidrogen yang secara kimia terikat pada mineral batuan,
sehingga tanggapan neutron pada formasi lempung yang banyak mengandung atom hidrogen di
dalam susunan molekulnya seolah-olah mempunyai porositas tinggi.
Respon alat ini terutama adalah pencerminan banyaknya atom hidrogen yang ada dalam
formasi. Atom hidrogen yang ada dalam minyak maupun dalam air adalah sama, maka neutron
tidak akan dengan jelas membedakan keduanya. Alat ini juga tidak bisa membedakan antara
hidrogen yang ada dalam formasi yang bersifat bebas maupun hidrogen yang terikat secara
kimia dalam serpih, sehingga efek dari kurva akan ditunjukkan bahwa porositas lempung akan
tinggi dari pada yang lain.
Minyak dan air mengandung jumlah hidrogen persatuan volume yang hampir sama, tetapi sangat
sedikit pada gas. Pengaruh ini menyebabkan porositas neutron akan turun dengan tajam,
sehingga akan memberikan indikator gas yang bagus, tetapi alat ini harus juga dikombinasikan
dengan log porositas yang lain agar akurasinya bagus.
Gas mempunyai konsentrasi hidrogen yang rendah, bervariasi dengan suhu dan tekanan,
sehingga bila ditemukan gas dalam lapisan yang cukup dekat dengan pancaran energi neutron
akan memberikan bacaan porositas yang lebih rendah.

Aplikasi dari log Neutron antara lain untuk :


1. Determinasi porositas dengan mengukur konsentrasi hidrogen
2. Melokalisir batas lapisan.
3. Korelasi lapisan porous.

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 7


Geofisika Metode Well Logging

Hubungan neutron porosity


4 2,5 h
Hn g h
16 2,5 h
N H n S hr H u 1 S hr
N H w S xo H u 1 S xo

dimana; Hn = hidrogen index


h = densitas hidrogen

dari persamaan tersebut diperoleh hubungan : h

Interpretasi dengan log porositas neutron perlu kehati-hatian yang lebih, karena banyak sekali
dipengaruhi oleh bebrapa faktor dari luar yang potensial. Pengaruh lubang bor, litologi,
salinitas lumpur, bobot lumpur, serpih, jenis hidrokarbon dan faktor internal sangat
mempengaruhi kualitas dari log ini.

4.2. Log Densitas


Log Litodensitas adalah mengukur sifat batuan lain yang disebut sebagai photoelectric
absorbtion indeks pe (PEF). Alat ini dirancang untuk dapat memberikan tanggapan terhadap
gejala fotolistrik dan hamburan Compton dengan memilih sumber radioaktif yang memproduksi
sinar gamma dengan tingkat energi antara 75 Kev dan 2 Mev.

Menurut teori fisika nuklir, bila sinar gamma dengan tenaga yang sangat tinggi bertabrakan
dengan suatu atom akan terjadi 3 jenis interaksi;

gejala fotolistrik, bila energi mula-mula E<100 ke V


hamburan compton, bila 75 keV<E<2 MeV
Produksi kembar, bila 1.2 MeV
Kurva fotolistrik merupakan kurva tambahan yang diperoleh dari jendela tenaga rendah.
Pengukuran dengan sistem jendela digunakan untuk menentukan jumlah sinar gamma yang akan
terkena penyerapan fotolistrik. Parameter Pe yang ditemukan merupakan karakteristik utama
dari matriks batuan. Pe tidak begitu tergantung pada porositas dan kadar cairan dalam
formasi. Satuan Pe dinyatakan dalam jumlah elektron per atom (Z) dari formasi :
3.6
Z
Pe =
10

Densitas yang diukur oleh alat LDT merupakan akibat hamburan Compton ini sebenarnya adalah
densitas electron. Untuk mencari densitas formasi digunakan konsep avogadro sebagai
berikut:
( N .Z ) 2 Ne
Ne b densitas elektron didefinisikan sebagai e
A N
2Z
Maka : e b
A
Dimana : A = Berat atom N = Bilangan avogadro

Z = Nomor atom b = Densitas Formasi

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 8


Geofisika Metode Well Logging

Ketika sedang mengukur tingkat densitas dari formasi, tidak hanya matrik yang diukur, tetapi
juga kadar fluida yang ada didalamnya. Karena densitas dari fluida formasi adalah berbeda
dari densitas batuan, maka densitas dari formasi yang berpori tidak sama dengan pambacaan
densitas dari batuan yang sama tanpa ruang pori. Sehingga jika alat ukur ini digunakan maka
alat ini akan mengukur densitas dari formasi, nilai yang diukur adalah tergantung pada densitas
batuan, jumlah ruang pori matrik dan densitas dari fluida pengisi ruang pori. Hal ini juga
mencerminkan porositas yang ada, karena porositas dinyatakan dengan banyaknya fluida yang
mengisi ruang pori. Sebelum menentukan porositas, harus diketahui dulu densitas litologi dan
densitas fluida yang terkandung dalam formasi.

Tabel 2. Hubungan antara apparent density dengan densitas sebenarnya


pada log LLD (Harsono, 1997)

Rumus Densitas a
Mineral e
kimia Formasi (terbaca pada log)
Kuarsa SiO2 2.654 2.65 2.648
Kalsit CaCO3 2.71 2.708 2.71
Dolomit MgCO3 2.87 2.863 2.876
Anhidrit CaSO4 2.96 2.957 2.977
Silvit KCl 1.984 1.916 1.863
Halit NaCl 2.165 2.074 2.032
Air tawar H2O 1 1.11 1
Air Garam 200 kppm 1.146 1.237 1.135
Minyak n(CH2) 0.85 0.97 0.85
Batubara C 1.2 1.272 1.173

Pada mineral yang umum dalam formasi, hubungan densitas ini cukup ekivalen sehingga densitas
yang terbaca (apparent density a) mirip dengan densitas sebenarnya. Aplikasi log
lithodensitas antara lain :
1. Identifikasi batuan secara kualitatif
2. Evaluasi tambahan mengenai mineral lempung
3. Identifikasi mineral berat dalam formasi
4. Deteksi rekahan dengan bantuan lumpur barit.
Secara praktis di dalam interpretasi lebih sering digunakan istilah volumetric photolistrik
absorption indeks/U yang merupakan perkalian Pe dan densitas elektron :

U = P e . e

Log densitas adalah kurva yang menunjukan besarnya densitas batuan yang ditembus oleh mata
bor. Kegunaan dari log ini adalah:
Mengetahui porositas batuan dangan mengukur densitas dari elektron yang ada pada
formasi.
Identifikasi mineral evaporit.
Mendeteksi zona gas.
Menentukan densitas hidrokarbon.

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 9


Geofisika Metode Well Logging

Harga bulk density biasanya kecil di formasi yang mengandung gas, terutama bila invasinya tak
terlalu dalam, maka rendahnya harga densitas dari formasi akan menaikkan harga porositas
dari log densitas.
Factor yang mempengaruhi bulk density (b) pada kurva yaitu :

1. Batuan sangat kompak, dimana porositasnya mendekati harga nol sehingga persatuan
volume seluruhnya/hampir seluruhnya terdiri dari matrik batuan. Dengan demikian
batuan mempunyai densitas paling besar, dimana porositasnya sama dengan nol, dan ini
disebut densitas matrik (ma ). Setiap jenis batuan mempunyai harga densitas matrik
yang berbeda seperti tertera pada Tabel 2.3.

Tabel 3. Densitas matriks pada beberapa batuan


ma ma
Batuan Batuan
(gr/cc) (gr/cc)
Sandstone 2.65 Dolomite 2.87
Limestone 2.71 Shale/clay 2.2-2.65

2. Batuan homogen dengan porositas tertentu

Tabel 4. Respon kurva densitas dan neutron terhadap batuan


Batuan Densitas Neutron
Batupasir rendah-sedang rendah-sedang
Lempung rendah-sedang besar
Batugamping rendah-sedang besar-sedang
Lignit dan Serpih Organik rendah sekali besar
Lanau rendah-sedang rendah-sedang

Tabel 5. Pengaruh fluida pada log densitas dan neutron


Fluida Densitas Neutron Separasi ND
Gas rendah sekali rendah sekali besar sekali
Minyak sedang sedang sedang
Air sedang sedang sedang-kecil

Tabel 6. Parameter logging dari respon wireline (Manual Geologi)


Total
Density Neutron PEF/U DT
Minerals Gamma
(kg/m3) (Fraksi) (BARNS/CM3) (MS/M)
(API unit)
Quartz 280 2645 -0.050 4.78 165.35
Calcite 15 2710 0.000 13.77 156.8
Dolomite 20 2878 0.005 9.00 142.7
Halite 5 2037 -0.018 9.63 219.8
Orthoclase 280 2541 -0.050 7.29 175.5
Albite 20 2594 -0.050 4.35 180.8
Anhydrite 5 2977 -0.007 14.95 14.95
Gypsum 5 2350 0.576 9.46 9.46
Pyrite 5 4987 -0.019 82.22 82.22
Siderite 5 3911 0.129 56.22 56.22

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 10


Geofisika Metode Well Logging

Muscovite 280 2801 0.165 6.79 6.79


Biotite 240 2991 0.225 27.53 27.53
Glauconite 150 2942 0.388 17.42 17.42
Illite 265 2776 0.300 11.73 11.73
Kaolinite 110 2636 0.451 4.50 4.50
Chlorite 70 2911 0.500 25.00 25.00
Smectite 100 2635 0.450 4.29 4.29

Adanya mineral dalam suatu formasi berpengaruh penting pada log listrik, sedangkan komposisi
clay mineral merupakan satu dari beberapa faktor dalam menentukan karakteristik log listrik.
Asumsi dasar dan masalah dalam interpretasi log yaitu :
Kerangka butiran pasir :
Membentuk porositas dan permeabilitas
Komposisi utama kuarsa, dengan feldspar 10 20 %
Umumnya kandungan densitas mineral rendah (2.63 2.65)

Pori yang terisi mineral :


Mengurangi porositas dan permeabilitas
Mempunyai komposisi utama clay dan semen karbonat
Kandungan densitas tinggi (2.67 atau lebih dari 3.0)
Banyak mengandung unsur Fe, K, U, Th, B, H

Gambar 3. Pengaruh adanya clay mineral terhadap respon alat logging

Interpretasi Batuinti (Conventional Core)


Batuinti (conventional core) merupakan data bawah permukaan yang paling mahal, karena
merupakan satu-satunya data yang langsung memperlihatkan bukti nyata dari kondisi bawah
permukaan. Perbedaannya dengan data-data lainnya, seperti halnya data log dan seismik,
batuinti tidaklah memberikan nilai-nilai atau rekaman data yang mencirikan sifat-sifat atau
karakter dari batuan, tapi langsung memperlihatkan bagaimana kondisi batuan itu sendiri.

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 11


Geofisika Metode Well Logging

Melalui data batuinti (core) dapat ditentukan fasies sedimen dan lingkungan pengendapan
suatu tubuh batuan. Core layaknya seperti suatu singkapan yang memperlihatkan bagaimana
kondisi geologi bawah permukaan sebenarnya, meskipun hanya diperoleh dalam dimensi yang
sangat terbatas, banyak hal yang dapat diidentifikasi dari suatu data core.

Cara pengambilan data ini yaitu dengan menggunakan mata bor yang berlubang. Conto batuan
yang diambil disimpan dalam suatu pipa (core barrel) dengan harapan sampai di permukaan
masih seperti kondisi aslinya. Keuntungan data conventional core adalah batuan tidak
terganggu atau hancur sehingga dapat diketahui litologi terutama struktur sedimen dan sifat
fisik lainnya seperti porositas, permeabilitas dan kekuatan batuan ( rock strenght) dengan
pengukuran langsung.

Analisis core merupakan acuan untuk mengidentifikasi litologi melalui deskripsi atau pemerian
batuan reservoir untuk mengoptimalkan kontribusi data batuan. Langkah awal dalam analisa
deskripsi adalah mengenali obyek analisis secara kualitatif mulai dari tampak luar sampai unsur
pembentuknya. Pengenalan analisa obyek sangat penting karena menentukan jenis dan urutan
analisa lanjut yang perlu dilakukan agar analisanya bermanfaat.
Hal-hal yang perlu dideskripsi pada batuinti (core) yaitu : jenis batuan, warna, kekerasan,
besar butir, kebundaran, pemilahan, mineral/komponen ikutan, fluoresensi (pengamatan dengan
ultraviolet untuk melihat adanya indikasi hidrokarbon), dan Cut-fluoresensi (pemerian sifat
warna minyak yang larut dalam solvent di bawah sinar ultraviolet jika batuan ditetesi dengan
pelarut CCl4 (Carbon Tetra Chloride) atau Chloroform).

Gambar 4. Hasil perkiraan sifat reservoir yang didapatkan dengan menggunakan


mineral sebagai dasar Evaluasi Formasi
II. Evaluasi Formasi

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 12


Geofisika Metode Well Logging

Jumlah minyak atau gas bumi yang terdapat di dalam suatu satuan volume merupakan fungsi
dari harga porositas dan kejenuhan hidrokarbonnya. Mengevaluasi produktivitas suatu
reservoir sangat penting untuk mengetahui bagaimana cairan yang terdapat didalamnya dapat
keluar melalui sistem pori-pori. Adapun tujuan utama pekerjaan evaluasi formasi adalah untuk
meramalkan kejenuhan serta volume hidrokarbon. Dalam mengevaluasi suatu formasi, dilakukan
dengan 2 macam evaluasi, yaitu evaluasi kualitatif dan evaluasi kuantitatif.

1. Evaluasi Kualitatif
Interpretasi data log secara kualitatif yaitu interpretasi yang didasarkan pada pengamatan
bentuk konfigurasi dari kurva log yang tersedia didukung dengan data dari mud logging yang
tersedia. Dengan interpretasi kualitatif ini diharapkan diperoleh keterangan mengenai
penafsiran jenis litologi, ketebalan, batas perlapisan batuan, serta jenis fluida sehingga dapat
diperkirakan zona-zona yang merupakan reservoir dan zona yang mengandung hidrokarbon
tanpa melakukan perhitungan.
Hubungan antara respon log terhadap litologi dapat dilihat pada gambar 2, setelah kita dapat
menafsirkan/menginterpretasikan litologi kemudian kita lakukan penentuan zona-zona yang
prospek yaitu yang diduga mengandung hidrokarbon. Zona ini porous ditunjukan oleh defleksi
kurva log SP baik positif (ke kanan) maupun negatif (ke kiri). Zona yang porous ini umumnya
merupakan batupasir dan batugamping. Pada log sinar gamma batupasir dan batugamping akan
ditunjukan oleh defleksi kurva ke arah kiri atau memiliki harga pembacaan sinar gamma yang
kecil yang menunjukan sedikitnya kandungan lempung atau serpih dalam batuan. Perbedaannya
adalah pada batugamping defleksi kurva log density akan menunjukan angka yang relatif lebih
tinggi dari batupasir dan pada log neutron defleksi kurva terhadap batugamping relatif akan
menunjukan angka yang lebih kecil dari batupasir. Di samping itu interpretasi pada data
master log juga sangat membantu untuk membedakan antara batupasir dan batugamping ini.
Untuk menentukan kandungan fluida dalam formasi, kita dapat menggunakan log resistivity
serta log densitas dan neutron. Sifat-sifat fisika yang dimiliki oleh air, minyak dan gas akan
memberikan efek berbeda terhadap pengukuran log. Fluida air memiliki berat jenis yang lebih
besar daripada minyak dan gas, konduktifitas air juga lebih besar daripada minyak dan gas,
sedang gas memiliki tahanan jenis yang lebih besar daripada minyak dan air sehingga dalam
kurva log tahanan jenis akan ditunjukan oleh defleksi yang semakin besar ke arah fluida gas
dan semakin kecil ke arah fluida air. Pada log densitas, gas secara relatif akan memperkecil
harga kurva neutron dan densitas di atas minyak.

Pada zona yang berisi hidrokarbon kedua kurva ini akan membentuk separasi positif, artinya
kurva log neutron berada di sebelah kanan kurva log densitas sedangkan pada zona yang berisi
air separassi bisa bersifat positif maupun negatif. Data-data yang tersedia pada master log
juga sangat mendukung penentuan kandungan fluida formasi.
Parameter-parameter yang dievaluasi secara kualitatif diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Zona Batuan Reservoir


Batuan reservoir yang sarang dapat dibedakan dengan zona batuan kedap dengan melihat
bentuk-bentuk kurva log. Adapun perbedaan kenampakan antara lapisan batuan kedap dengan
lapisan batuan sarang pada log adalah :

Zona Batuan Kedap dicirikan oleh :


Harga kurva GR tinggi

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 13


Geofisika Metode Well Logging

Tidak terbentuk kerak lumpur pemboran, diameter lubang bor kadang-kadang


membesar (tidak selalu)
Adanya separasi negatif pada microlog
Harga Resistivity pada zona Terinvasi (Rxo) hampir sama dengan harga Resistivity
formasi (Rt)
Harga N D

Zona Batuan Reservoir yang sarang dicirikan oleh :

Harga kurva GR rendah


Harga kurva SP menjauhi garis dasar serpih
Terbentuknya kerak lumpur pemboran
Adanya separasi positif dari microlog
Mempunyai harga porositas menengah sampai tinggi

b. Jenis Litologi
Jenis litologi zona reservoir dapat ditafsirkan berdasarkan kenampakan defleksi kurva log
tanpa melakukan perhitungan. Adapun kenampakan beberapa jenis litologi batuan reservoir
adalah sebagai berikut :

Batupasir pada log dicirikan oleh :

Defleksi kurva Log GR lebih rendah dari serpih dan lempung, karena batupasir
sedikit mengandung unsur radio aktif dibandingkan serpih
Defleksi kurva Log SP berkembang negatif dan positif terhadap shale base line
Defleksi kurva Log NPHI dan RHOB relatif lebih kecil dibandingkan serpih dan
lempung. Hal ini disebabkan karena batupasir mempunyai densitas batuan lebih
kecil dari serpih dan lempung sehingga Log Neutron akan kecil, sedangkan
batupasir mempunyai densitas batuan lebih besar dari serpih berarti porositas
densitas akan kecil
Defleksi kurva Log Sonik relatif kecil dari serpih dan lempung. Hal ini disebabkan
batupasir mempunyai porositas lebih kecil dari serpih sehingga kecepatan
gelombang suara semakin cepat dan waktu yang terukur semakin kecil

Batulempung atau Serpih dicirikan oleh :


Defleksi kurva Log GR relatif besar dibandingkan batupasir dan harga Log GR
terbesar yang disebut Shale Base Line
Defleksi kurva SP berupa garis lurus, karena shale tidak ada listrik sehingga SP
konstan atau rata
Defleksi kurva Log NPHI dan RHOB lebih besar dari batupasir
Defleksi kurva Log Sonik relatif lebih besar dibandingkan batupasir. Hal ini
dikarenakan lempung memiliki porositas lebih besar dari batupasir sehingga
kecepatan gelombang lambat dan waktu yang terukur makin besar

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 14


Geofisika Metode Well Logging

S P
1 . S h a le a ta u c la y ; b e n tu k k u rv a -k u rv a S P
lu ru s d a n m e ru p a k a n s h a le b a s e lin e .
2 . L a p is a n k o m p a k ; d e fle k s i S P a k a n
m e n u ru n a ta u m e n g e c il m e n d e w k a ti a ra h
s h a le b a s e lin e .
3 . L a p is a n b e rle m p u n g a ta u s h a ly ; d e fle k s i
S P m e n g e c il m e n d e k a ti s h a le b a s e lin e .
4 . L a p i s a n p e r m e a b e l ; d e f l e k s i S P
b e rk e m b a n g n e g a tif a ta u p o s itif te rg a n tu n g
je n is flu id a ,
A ir a s in ; d e fle k s i n e g a tif
A ir ta w a r d e fle k s i p o s itif
H id ro k a rb o n ; d e fle k s i n e g a tif
A ir p a y a u ; d e fle k s i m e n d e k a ti s h a le
b a s e lin e

G R
1 . la p is a n p e rm e a b e l b e r s ih ; n ila i G R sa n g at
re n d a h .
2 . la p is a n im p e rm e a b e l a ta u s h a ly ; n ila i G R
m a k s im u m .
3 . la p is a n s h a ly ; n ila in y a te r le ta k a n ta ra n ila i
G R m a k s im u m d a n G R m in im u m .

Gambar 2. Analisis kualitatif log SP dan gamma ray

1 . S h a le ; h a rg a R t d a n R x o s a n g a t re n d a h , te rg a n tu n g
k e k o m p a k a n b a tu a n , s e m a k in k o m p a k h a rg a
re s is tiv ity s e m a k in tin g g i
1 2 . L a p is a n s h a lly ; m e n u ru n k a n h a rg a R t d a n R x o
3 . L a p is a n k o m p a k ; h a rg a R t d a n R x o s a n g a t tin g g i
k a re n a p o ro s ita s m e n d e k a ti h a rg a (0 ) n o l.
2 4 . L a p is a n p e rm e a b e l; h a rg a R t d a n R x o b is a tin g g i
te rg a n tu n g je n is flu id a n y a
K a n d u n g a n a i r a s i n ; h a r g a R t r e n d a h h a r g a
3 R x o le b ih tin g g i
K a n d u n g a n a i r t a w a r ; h a r g a R t r e l a t i f l e b i h
tin g g i a ta u le b ih re n d a h a ta u s a m a d e n g a n
h a rg a R x o te rg a n tu n g k e d a la m a n in v a s i a ir
filtra t, h a rg a R x o re la tif tin g g i.
4 K a n d u n g a n g a s ; h a r g a R t d a n R x o h a m p i r
s a m a d e n g a n m in y a k , n a m u n u m u m n y a h a rg a
R tgas le b ih tin g g i d a ri R t m in y a k .
5 . L a p is a n s h a ly + a ir; k u rv a R x o m e n g a la m i
p e n u ru n a n s e s u a i d e n g a n p e rs e n ta s i s h a le , te ta p i
p e n g a ru h a ir filtra t te ta p tin g g i s e la m a
p e rs e n ta s i s h a le tid a k b e g itu b e s a r, R t o le h k a re n a
5 su d a h re n d a h m a k a p e n g a ru h s h a le in i
tid a k k e lih a ta n
6 . L a p is a n s h a ly + h id ro k a rb o n ; h a rg a R t d a n R x o
6 m e n u ru n .
7 . L a p is a n k o m p a k + h id ro k a rb o n ; p e n g a ru h
k e k o m p a k a n b a tu a n tid a k b e g itu te rlih a t, k a re n a
7 h a rg a R t s u d a h re la tif tin g g i.
8 . L a p is a n k o m p a k + a ir ta w a r; k o n d is in y a s a m a
8 d e n g a n la p isa n k o m p a k m e n g a n d u n g
9 h id ro k a rb o n .
9 . L a p isa n K o m p a k + a ir a s in ; h a rg a R t d a n R x o
b e rta m b a h b e s a r,

Gambar 3. Analisis kualitatif log Resistivity

Batugamping pada log dicirikan oleh :

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 15


Geofisika Metode Well Logging

Defleksi kurva Log GR relatif kecil dibandingkan batupasir. Hal ini


disebabkan lebih jarang dijumpai mineral lempung radioaktif dibandingkan
batupasir
Defleksi kurva Log Resistivity lebih besar dibandingkan batupasir dan
serpih. Hal ini disebabkan batugamping kurang menghasilkan listrik
Defleksi kurva RHOB lebih besar dari batupasir karena batugamping lebih
kompak
Defleksi kurva Log Sonik lebih besar dari batupasir karena batugamping
lebih kompak dan porositasnya lebih kecil dari batupasir

c. Jenis cairan pengisi formasi

Ciri-ciri pada log dalam menentukan jenis cairan pengisi formasi apakah air, minyak atau gas
adalah :

Gas, dicirikan oleh :

Pada batuan permeabel


Harga log densitas log neutron
Separasi positif dan lebar
Resistivity besar

Minyak, dicirikan oleh :

Pada batuan permeabel


Harga log densitas log neutron
Separasi positif dan sempit-sedang
Resistivity besar

Air, dicirikan oleh :


Pada batuan berpori
Harga log densitas log neutron
Separasi negatif dan sempit (berhimpit)
Resistivity kecil

d. Mobilitas Hidrokarbon

Dapat ditentukan secara kualitatif dengan menggunakan overlay dari kurva Resistivity dangkal.
Dalam zona yang mengandung hidrokarbon yang dapat bergerak ( moveable hydrocarbon) akan
ditunjukkan adanya separasi antara kurva Resistivity dalam (mengukur Rt), kurva Resistivity
dangkal (mengukur Rxo). Dalam zona ini harga Resistivity formasi (Rt) lebih besar dari
Resistivity zona Terinvasi (Rxo) sehingga Rt Rxo. Dalam zona hidrokarbon yang tidak dapat
bergerak ditunjukkan oleh harga Rt yang hampir sama dengan harga Rxo.

Interpretasi kulitatif untuk mengetahui jenis litologi dan kandungan fluida dari wireline log
dapat dilihat pada gambar 2 sampai 4.

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 16


Geofisika Metode Well Logging

1 .7 B (g rm /c c ) 2 .7
FD C :
1 . B a tu a n s a n g a t k o m p a k ; m e m p u n y a i h a rg a
1 d e n s ita s p a lin g b e s a r.
2 . B a tu a n h o m o g e n d e n g a n p o ro s ita s te rte n tu
m engandung
A ir A ir; m e m ilik i e n s ita s y a n g le b ih re n d a h
d ib a n d in g b a tu a n y a n g s e lu ru h n y a te rd iri
2 M in y a k
d a r i m a trik s .
M in y a k ; d e n s ita s b a tu a n le b ih re n d a h
G as d a r ip a d a y a n g b e r is i a ir.
G a s ; d e n s ita s le b ih re n d a h la g i d ib a n d in g
y a n g m e n g a n d u n g m in y a k .
60 N (% ) 0
C N L :
1 . S h a le a ta u c la y ; k a re n a lito lo g i in i m e m ilik i
1
p o ro s ita s b e s a r d a n p e rm e a b ilita s n y a k e c il,
m a k a a d a n y a c la y a ta u s h a le d a la m b a tu a n
2 a k a n m e m p e rb e s a r h a rg a n e u tr o n .
2 . B a tu a n k o m p a k ; k a re n a p o ro s ita s b a tu a n
3 m e n d e k a ti n o l, m a k a b e rp e n g a ru h
m e n u r u n k a n h a rg a n e u tro n h in g g a h a rg a
m in im u m .
4 3 . K a n d u n g a n a ir; a k a n m e m p e rb e s a r n ila i
n e u tro n m e n d e k a ti n ila i y a n g s e b e n a rn y a .
4 . K a n d u n g a n h id ro k a rb o n ; m e n u ru n k a n h a rg a
n e u tro n
1 .7 B (g rm /c c ) 2 .7
60 N (% ) 0 FD C - C N L
1 . S h a le ; n ila i d e n s ita s d a n n e u tro n r e la tif b e s a r
( - ) a ta u d e fle k s i/s e p a ra s i b e rn ila i n e g a tif.
1 2. L a p isa n p e rm e a b e l m e n g a n d u n g
h id ro k a rb o n ; m e m p u n y a i n ila i d e n s ita s d a n
n e u tro n y a n g re la tif k e c il a ta u s e p a ra s i
( + ) p o s itif. U n tu k g a s s e p a ra s in y a le b ih b e s a r
2 d a rip a d a m in y a k .
3 . L a p isa n p e rm e a b e l m e n g a n d u n g a ir;
m e m p u n y a i s e p a ra s i p o s itif y a n g le b ih k e c il
( - ) d a r ip a d a h id ro k a rb o n , k a d a n g -k a d a n g ta n p a
3 s e p a ra s i a ta u s e p a ra s in y a n e g a tif te rg a n tu n g
d a ri je n is b a tu a n n y a .
4 4 . B a tu b a ra ; m e m ilik i n ila i n e u tro n y a n g
b e s a r, te ta p i d e n s ita s s a n g a t k e c il.

Gambar 4. Analisis kualitatif log FDC dan CNL

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 17


Geofisika Metode Well Logging

GR Density Resistivity
SP Neutron Por
0 150 1.7 2.7
0.6 0 0.2 2000
-80 120

Batuan Reservoir :
Coal
Gamma Ray --- Rendah
Density --- Rendah
Neutron --- Porous
Hydrocarbon Sonik --- Lambat
SP --- Ada depleksi
mea

(permeable)
Per

ble

Interpretasi Fluida
Berdasarkan
Log Resistivity :
S Hydrocarbon
G RT sangat tinggi = gas
P RT tinggi = minyak
R
Water RT rendah = Air

N
RT
bN
Permeable
Non

Gambar 5. Interpretasi Kualitatif Fluida Isi Rservoir

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 18


Geofisika Metode Well Logging

GR Density
SP Neutron Por
0 150 1.7 2.7
-80 120 0.6 0

Shale
batubara
Shale

Batupasir halus

Batupasir kasar
M
R

A
E

B
L
E
P

GR
Shale
SP

Limestone
N
b
Permeable

Shale
Non

Gambar 6. Respon log terhadap batuan di bawah permukaan.

Tabel. Contoh Hasil Interpretasi Kualitatif

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 19


Geofisika Metode Well Logging

Kedalaman Analisa Kualitatif


(meter)
969.5-978.5 Log GR berkisar 38-42 API, adanya defleksi kurva SP, terdapat
separasi positif antara log density-neutron dengan harga log
berkisar dari 2.11-2.21 g/cm3 dan log neutron berkisar 0.3-0.42. Log
resistivity memiliki harga Rxo(MSFL)= 0.3-0.4 ohm-m, Rt(LLd)= 7-8
ohm-m. Hal ini menunjukan bahwa lapisan pada interval ini mempunyai
separasi positif dari kurva D-N dan adanya mud cake , yang
menunjukan lapisan permeable. serta harga resistivitas yang tinggi
menunjukan adanya fluida yang resistif.
1240-1255 Log GR berkisar 38-57 API, adanya defleksi kurva SP, terdapat
separasi positif antara log density-neutron dengan harga log
berkisar dari 2.16-2.23 g/cm3 dan log neutron berkisar 0.27-0.39.
Log resistivity memiliki harga Rxo(MSFL)= 0.4-1 ohm-m, Rt(LLd)= 8-
20 ohm-m. Hal ini menunjukan bahwa lapisan pada interval ini
mempunyai separasi positif dari kurva D-N dan adanya mud cake ,
yang menunjukan lapisan permeable. serta harga resistivitas yang
tinggi menunjukan adanya fluida yang resistif.
1393-1406 Log GR berkisar 39-45 API, adanya defleksi kurva SP, terdapat
separasi positif antara log density-neutron dengan harga log
berkisar dari 2.11-2.24 g/cm3 dan log neutron berkisar 0.27-0.36.
Log resistivity memiliki harga Rxo(MSFL)= 0.4-0.8 ohm-m, Rt(LLd)=
10-12 ohm-m. Hal ini menunjukan bahwa lapisan pada interval ini
mempunyai separasi positif dari kurva D-N dan adanya mud cake ,
yang menunjukan lapisan permeable. serta harga resistivitas yang
tinggi menunjukan adanya fluida yang resistif.
1523.5-1537 Log GR berkisar 40-55 API, adanya defleksi kurva SP, terdapat
separasi positif antara log density-neutron dengan harga log
berkisar dari 2.2-2.28 g/cm3 dan log neutron berkisar 0.27-0.36.
Log resistivity memiliki harga Rxo(MSFL)= 0.4-1.8 ohm-m, Rt(LLd)=
12-18 ohm-m. Hal ini menunjukan bahwa lapisan pada interval ini
mempunyai separasi positif dari kurva D-N dan adanya mud cake ,
yang menunjukan lapisan permeable. serta harga resistivitas yang
tinggi menunjukan adanya fluida yang resistif.
1906-1919 Log GR berkisar 44-70 API, adanya defleksi kurva SP, terdapat
separasi positif antara log density-neutron dengan harga log
berkisar dari 2.14-2.46 g/cm3 dan log neutron berkisar 0.15-0.25.
Log resistivity memiliki harga Rxo(MSFL)= 0.6-4 ohm-m, Rt(LLd)= 7-
20 ohm-m. Hal ini menunjukan bahwa lapisan pada interval ini
mempunyai separasi positif dari kurva D-N dan adanya mud cake ,
yang menunjukan lapisan permeable. serta harga resistivitas yang
tinggi menunjukan adanya fluida yang resistif.

2. Evaluasi Kuantitatif

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 20


Geofisika Metode Well Logging

Evaluasi kuantitatif dilakukan untuk mendapatkan parameter reservoir berupa harga


kejenuhan air atau water saturation (Sw) dan porositas, yaitu persentase rongga terhadap
volume, melalui perhitungan secara matematis.
Analisis log secara kuantitatif bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat fisik batuan secara
kuantitas. Analisis ini meliputi baik fisik batuan ataupun kuantitas berbagai jenis kandungan
yang ada di dalam batuan. Untuk mengevaluasi data log secara lebih tepat diperlukan koreksi
terhadap temperatur dan hidrokarbon. Parameter yang dihitung dalam analisis ini adalah :
Porositas ()
Permeabilitas (K)
Resistivity (R)
Saturasi zona terinvasi (Sxo)
Saturasi air (Sw)

2.1. Penentuan suhu Formasi

Rumus untuk menentukan suhu formasi :

Tf = Df ( BHT Ts ) + Ts .. 1
D

Dimana : Df = kedalaman formasi (feet)


D = kedalaman total (feet)
BHT = suhu pada dasar lubang bor (F)
Ts = suhu permukaan (F)

2.2. Resistivity (R)

Tahanan jenis (Resistivity) adalah hambatan yang diberikan oleh suatu benda yang panjangnya
satu satuan panjang dan penampangnya satu satuan luas, satuan tahanan jenis adalah Ohm.m.
Dalam analisis log dikenal beberapa jenis resistivitas yaitu Resistivitas Air Formasi (R w),
Resistivitas Batuan (Ro) dan Resistivitas Formasi (Rt).

Resistivitas Batuan (Ro)


Sebuah kubus diisi sejumlah butiran pasir yang tidak konduktif maka tahanan jenisnya menjadi R o
dalam satuan ohm. Hubungan antara resistivitas air formasi (R w) dengan resistivitas dari batuan
basah (Ro) adalah :

Ro F Rw .............................................................. ................... 2

Dimana Ro = Resistivitas batuan basah (ohm.m)


Rw = Resistivitas air formasi (ohm.m)
F = Faktor formasi (ohm.m)

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 21


Geofisika Metode Well Logging

Gambar 2.12 Resistivitas zat cair (Harsono, 1997)

Gambar. Model resistivitas kubus yang diisi materi

Resistivitas Formasi (Rt)

Karena yang kita cari adalah minyak, maka kubus dalam percobaan pertama kemudian diisi
dengan air formasi dan minyak. Dengan penambahan minyak berarti Sw lebih kecil dari satu (Sw
< 1). Dalam penelitian ini harga Rt diambil dari harga resistivitas dalam (deep Resistivity).
Dalam hubungannya dengan daya hantar jenis konduktivitas Pengukuran menghasilkan R t yang
ternyata harganya lebih besar dari Ro serta berbanding lurus dengan R o. Dapat diformulakan
sebagai berikut :
Rt I Ro ................................................ .............. 3

Dimana Rt = Resistivitas formasi sebenarnya (ohm.m)


I = Resistivity index
Ro = Resistivitas batuan (ohm.m)

Persamaan umum dari Formation Factor tersebut adalah :


R0
F ................................................................................................ 4
Rw
Harga faktor formasi ini tergantung pada :
o Jumlah air yang terdapat pada pori-pori dan jumlah air ini berhubungan dengan
porositasnya.
o Keadaan geometri batuan itu sendiri
o Keadaan sementasi daripada butiran-butiran batuan, biasanya dinyatakan dalam
persamaan :
F m .............................................................................................. 5

Dimana m = Faktor sementasi


= Porositas.
Apabila dikaji lebih lanjut, ternyata persoalan hubungan faktor formasi dengan porositas
memperlihatkan suatu hal yang lebih spesifik. Bentuk tersebut adalah :

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 22


Geofisika Metode Well Logging

a
F ................................................................................. 6
m

Dimana :a = Konstanta faktor sementasi


= Porositas
m = Faktor sementasi.

Pada prakteknya, yang dipakai dalam analisis petrofisika adalah :


o Untuk formasi batupasir menggunakan rumus Humble :

0.62
F ....................................................................................... 7
2.15

Rumus Archie digunakan pada formasi batugamping :


1
F 2 .................................................................................................... ..... 8

Perlu ditambahkan disini bahwa perlu dibuat suatu studi secara statistik pada daerah-daerah
baru mengenai hubungan faktor formasi dengan porositas, sehingga bisa didapatkan harga
yang efektif untuk daerah dengan litologi serta umur yang sama.

Penentuan Resistivity of Mud Filtrate (Rmf)

Rumus yang digunakan :

( Temp + 6,77 )
Rmf = Rtemp ( Tf + 6,77 ) . 9

Dimana : Rmf = Rmf pada suhu formasi


Rtemp = Rmf pada suhu pengukuran
Temp = suhu pada formasi
Tf = suhu pengukuran

Penentuan Resistivity of Formation Water (Rw)


Misalkan pada kubus dengan volume satu satuan (1 m 3) yang hanya berisi air formasi dialirkan
arus listrik. Bila arus listrik diketahui maka tahanan kubus tersebut dapat diukur. Karena
volumenya adalah 1 (satu) maka tahanan yang diukur adalah tahanan air formasi itu sendiri
yaitu Rw dalam satuan ohm.m.
Untuk mencari harga Rw dapat ditentukan berdasarkan metode SP, Rwa dan metode Rasio
Resistivitas, tetapi metode SP banyak kelemahannya karena kurva SP banyak dipengaruhi oleh
sejumlah faktor seperti :
o Ketebalan formasi dan Resistivity yang sebenarnya Rt (kurva Resistivity dalam)
o Resistivitas lumpur (Rxo) dan diameter dari daerah rembesan dan lain-lain.
Sedangkan metode Rwa biasanya menghasilkan nilai Rw yang terlalu besar.

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 23


Geofisika Metode Well Logging

a) Tentukan harga static Spontaneous Potensial (SP) dengan memakai metode cross plot
GR vs SP
b) Tentukan harga Resistivity of Mud Filtrate Equivalent (Rmfe).
Jika Rmf pada 75F < 0,1 pergunakan rumus :

( 146. Rmf 5 )
Rmfe =
( [Link] + 77 ) 10

jika Rmfe pada 75F > 0,1, pergunakan rumus :

Rmfe = 0,[Link] .. 11

c) Tentukan harga resistivity of formation water equivalent (Rwe) pergunakan rumus :

Rmfe
Rwe = -ssp . 12
10 k

K= 60 + ([Link])

d) Tentukan Rw pada suhu 75F, jika Rwe < 0,12 pergunakan rumus :

( 77. Rmf + 5 )
Rw 75oC = ........................................................ 13
( [Link] )

Jika Rwe > 0,12, pergunakan rumus :

Rw 75oC = - [ 0,58 10 ( 0,[Link] 0,24 ) ]


e) Tentukan harga Rw dengan rumus :

Rw 75 oF x 81,77
Rw = Tf + 6,77 14

Penentuan Vsh, menggunakan rumus :

GR log GR min
Vsh = GR max GR min .. 15

Dimana : GRlog = nilai titik pengamatan pada log (API unit)


GRmin = nilai minimum log (API unit)
GRmax = nilai maximum log (API unit)

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 24


Geofisika Metode Well Logging

Penentuan harga Rt

Harga Rt didapat dari pembacaan log

2.3 Penentuan Porositas


Porositas satu medium adalah bagian dari volume batuan yang tidak terisi oleh benda padat
(Harsono, 1997). Ada beberapa macam porositas :

Porositas Total ( t)

Porositas total merupakan perbandingan antara ruang kosong (pori-pori, rekahan, gerohong)
total yang tidak diisi oleh benda padat yang ada di antara elemen-elemen mineral dari batuan,
dengan volume total batuan. Persamaan untuk menghitung porositas batuan adalah :

Vt Vs V p
t ............................................................................ 16
Vt Vt

Dimana : Vp = volume ruang kosong, biasanya terisi oleh fluida (air, minyak, gas)
VS = volume yang terisi oleh zat padat
Vt = volume total batuan.

Adapun porositas total meliputi :

Porositas primer (1), adalah ruang antar butir atau antar kristal. Ini terutama
tergantung pada bentuk dan ukuran zat padat dan cara penyortirannya. Biasanya
dijumpai pada batuan klastik.
Porositas gerowong yang diperoleh secara disolusi, dan porositas rekahan yang
diperoleh secara mekanik, akan membentuk porositas sekunder (2).
Porositas total menjadi :

t 1 2 ....................................................................................... 17

Porositas efektif ( eff)

Porositas efektif merupakan perbandingan volume pori-pori yang saling berhubungan dengan
volume total batuan. Porositas Bersambungan (conn) adalah bagian dari ruang kosong yang saling
bersambungan di dalam batuan. Bisa jauh lebih kecil dibandingkan dengan porositas total, jika
pori-porinya tidak saling bersambungan (kasus dari batu apung, dimana 1 mendekati 50 % dan
conn adalah nol)
Vconn
t eff ................................................................................. 18
Vt

Penentuan harga porositas pada lapisan reservoir menggunakan gabungan harga porositas dari
dua kurva yang berbeda, yaitu: porositas densitas (D) yang merupakan hasil perhitungan yang
berasal dari kurva RHOB serta porositas neutron (N) yang dibaca dari kurva NPHI.

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 25


Geofisika Metode Well Logging

Kuva RHOB pada hakekatnya mengukur berat jenis matrik batuan reservoir (b) yang
dikalibrasi pada berat jenis matriks batugamping (ma = 2.71 gr/cc), atau berat jenis matriks
batupasir (ma =2.65 gr/cc) serta diukur pada lumpur pemboran yang digunakan dalam
pemboran (f), maka kurva ini baru bisa menunjukan harga porositas densitas (D) dengan
menggunakan rumus :
ma b
D ....................................................................... 19
ma f

Dimana: D : porositas densitas


ma : densitas matrik batuan yang digunakan sebagai pembanding, dapat dilihat
pada kepala log.
b : densitas bulk lapisan/batuan, dilihat langsung pada kurva RHOB.
f : densitas cairan lumpur pemboran/fluida, dilihat pada kepala log.

Sedangkan kurva NPHI langsung menunjukan harga porositas neutron (N) dari batuan
reservoir dalam persen (%). Pendekatan harga porositas dilakukan melalui gabungan harga
porositas densitas neutron (DN) dengan menggunakan persamaan :
7D 2N
DN ............................................................... 20
9
Harga porositas yang didapat dikoreksi terhadap keberadaan hidrokarbon. Koreksi perlu
dilakukan karena keberadaan hidrokarbon dalam batuan mempengaruhi pembacan log densitas
dan neutron. Koreksi hidrokarbon menggunakan persamaan 2.6.

DN (1 0.10 S hr ) ..................................................... 21

Dimana = Porositas
Shr = Saturasi hidrokarbon sisa,

harga porositas N didapat dengan menggunakan rumus :


N batupasir = batugamping + 4%

Harga porositas gabungan didapat dengan mempergunakan rumus :

N2 + D2
N D = 2 . 22

2.4 Permeabilitas (K)


Permeabilitas (K) adalah suatu pengukuran yang menyatakan tingkat kemudahan dari fluida
untuk mengalir di dalam formasi batuan. Satuannya adalah darcy. Satu darcy didefinisikan
sebagai permeabilitas dari fluida sebesar satu sentimeter kubik per detik dengan kekentalan
sebesar satu centipoise mengalir dalam tabung berpenampang sebesar satu sentimeter
persegi di bawah gradien tekanan satu atmosfer per sentimeter persegi. Dalam kenyataanya
satu darcy adalah terlalu besar, sehingga digunakan satuan yang lebih kecil yaitu milidarcy
(md).

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 26


Geofisika Metode Well Logging

Berbeda dengan porositas, permeabilitas sangat tergantung pada ukuran butiran batuan.
Sedimen butiran besar dengan pori-pori besar mempunyai permeabilitas tinggi, sedangkan
batuan berbutir halus dengan pori-pori kecil dan alur yang berliku-liku mempunyai
permeabilitas rendah

Permeabilitas dapat ditentukan berdasarkan beberapa metode, salah satunya adalah metoda
porositas () dan saturasi air sisa (Swirr). Saturasi air sisa (Swirr) adalah nilai saturasi air yang
tertinggal karena tegangan permukaan butiran, kontak butiran dan di dalam celah-celah yang
sangat kecil. Dalam formasi yang basah-air, selalu terdapat sejumlah air yang terikat oleh gaya
kapiler antar pori. Tidak ada hubungan yang pasti antara permeabilitas dan porositas. Rumus
hubungan kedua parameter itu umumnya adalah empiris, dijabarkan pada kondisi dan situasi
tertentu. Suatu hubungan empiris yang lebih umum diusulkan oleh Wylie dan Rose yang
melibatkan parameter air sisa. (Swirr).

C x
K ............................................................................. 23
( S wirr ) y

Beberapa ahli kemudian mencoba menjabarkan rumus Wylie dan Rose ini kedalam sesuatu yang
dapat diterapkan pada hasil rekaman log sumur, salah satunya adalah rumus Tixier
1 3
K 2
250 ...................................................................... 24
S wirr
Dimana
K = Permeabilitas (md)
Swirr = Saturasi air sisa, didapat dari hasil percobaan laboratorium
= Porositas

maka dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode rasio resistivitas. Untuk mencari R w
dengan metode ini pertama kali kita tentukan Water Bearing Zone (WBZ) pada tiap-tiap
formasi, lalu tentukan niali Rt dan Rxo, selanjutnya kita hitung nilai Rmf pada zona tersebut.

Dari persamaan Archie, di daerah berair Sw mencapai maksimum yaitu Sw = Sxo = 1, maka:

Rxo Rmf
Max ................................................... 25
Rt Rw
Sehingga :
Rt
Rw Rmf ......................................................... 26
Rxo
Dimana : Rw = Resistivitas air formasi (ohm.m)
Rt = Resistivitas formasi @ WBZ (kurva Resistivity dalam)
Rxo = Resistivitas formasi pada zona terinvasi @ WBZ (kurva Resistivity dangkal)
Rmf = Resistivitas mud filtrat pada suhu formasi (ohm.m)

Resistivitas mud filtrat pada suhu formasi didapatkan dari hasil konversi resistivitas mud
filtrat dari kepala log terhadap suhu formasi, dengan rumus sebagai berikut :

T 1 6.77
Rmf 2 Rmf 1 ...................................... 27
Tf 6.77

Dimana : T1 = Suhu pada Rmf1 ( F), dapat dilihat pada kepala log

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 27


Geofisika Metode Well Logging

Tf = Suhu formasi ( F)
Rmf1 = Resistivitas mud filtrat (ohm.m), dapat dilihat pada kepala log
Rmf2 = Resistivitas mud filtrat pada suhu formasi (ohm.m)

Sedangkan suhu formasi di cari dengan rumus :

Tf ST GTxDf

BHT ST
Tf ST xDf ..................................... 28
TD
Dimana : Tf = Suhu Formasi ( 0F)
ST = Suhu permukaan ( 0F), dapat dilihat pada kepala log
GT = Gradien temperatur ( 0F/m)
TD = Total kedalaman (meter), dapat dilihat pada kepala log
Df = Kedalaman formasi (meter), dilihat pada kedalaman kurva
BHT = Temperatur pada dasar sumur ( 0F), dapat dilihat pada kepala log

Peta Bawah Permukaan


Peta bawah permukaan adalah peta yang menggambarkan bentuk maupun kondisi geologi bawah
permukaan dan menjadi dasar dalam suatu kegiatan eksplorasi hidrokarbon, mulai dari awal
hingga pengembangan lapangannya. Peta bawah permukaan memiliki sifat kualitatif dan dinamis.
Kualitatif artinya peta menggambarkan suatu garis yang menghubungkan titik-titik yang
nilainya sama, baik berupa ketebalan, kedalam maupun persentase ketebalan. Dinamis berarti
kebenaran peta tidak dapat dinilai atas kebenaran metode, tetapi berdasarkan data yang ada
dan sewaktu-waktu dapat berubah seiring dengan diperolehnya data-data baru. Hal itu terjadi
karena peta bawah permukaan merupakan hasil interpretasi geologi atau geofisika yang
tergantung pada keterbatasan data, teknik pelaksanaan, imajinasi yang kreatif, kemampuan
visual tiga dimensi dan pengalaman. Adapun data yang dipakai antara lain data core, wireline
log, dan data seismik. Berikut ini adalah beberapa contoh peta bawah permukaan.

Peta Kontur Struktur

Peta kontur struktur atau peta struktur berkontur merupakan peta yang menggambarkan
posisi dan konfigurasi dari suatu lapisan terhadap datum tertentu. Datum yang dipakai dalam
pembuatan peta kontur struktur adalah muka air laut, dimana tiap-tiap sumur digantung pada
kedalaman yang sama. Dengan demikian, peta ini akan memperlihatkan penyebaran lapisan atau
fasies batuan secara lateral dan/atau vertikal yang dikontrol oleh struktur sesar atau lipatan.

Peta Stratigrafi
Peta stratigrafi adalah peta yang memperlihatkan perlapisan batuan berserta perubahannya
secara lateral dan dinyatakan dalam nilai-nilai tertentu, misalnya ketebalan, nilai porositas dan
sebagainya

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 28


Geofisika Metode Well Logging

Peta Cadangan
Kegunaan peta cadangan diantaranya untuk menghitung cadangan reservoir minyak atau gas
secara volumetrik. Peta cadangan digambarkan dalam bentuk kontur "iso net hidrokarbon
(minyak atau gas) dan sekaligus pada peta tersebut dapat diketahui dan dihitung luas kawasan
penyebarannya. Kombinasi kedua faktor ketebalan dan luas diperoleh volume. Untuk membuat
peta cadangan diperlukan data berikut :
Peta horison, yaitu gabungan peta struktur kedalaman dengan peta isopach.
Kedalaman Water Contact yang harus diterakan pada peta horison.
Posisi kedalaman outer dan inner Water Contact yang harus digambarkan pada peta
horizon
Cara mendapatkan Inner Water Contact salah satunya dengan menggunakan metoda
penampang. Metoda ini dilakukan dengan membuat penampang-penampang struktural baik yang
melintang maupun yang membujur. Pada penampang tersebut harus digambarkan Top dan
Bottom dari lapisan reservoir yang akan dipetakan (Gambar 2.13). Prinsip cara tersebut adalah
untuk menentukan posisi perpotoangan bidang Water Contact dengan bottom lapisan reservoir.
Semua temuan titik inner Water Contact yang diperoleh dari pembuatan penampang tersebut
harus diproyeksikan kembali ke puncak ( top) lapisan reservoir. Posisi proyeksi tersbut
diletakkan pada peta horison yang tersedia. Dengan menghubungkan semua titik-titik inner
Water Contact, maka diperoleh garis kontur Water Contact.

Perhitungan Cadangan
Perkiraan besarnya cadangan secara volumetris menggunakan persamaan

Untuk minyak
(7758).Vb. .(1 Swi )
N .................................... 29
Boi
Untuk Gas

( 43560).Vb. .(1 Swi )


G .................................. 30
Bgi

Dimana G = Cadangan minyak awal, STB


N = Cadangan gas awal, SCF
Vb = Volume bulk, M3
= Porositas efektif, fraksi
Sw i = Saturasi air awal, fraksi
43560 = cubic feet per acre-foot
7758 = barrels per acree-foot
Boi = Faktor volume formasi minyak pada saat permulaan, reservoir
barrels/stock tank barrels.
Bgi = Faktor volume formasi gas pada saat permulaan, standard cubic feet/
reservoir cubic-feet.

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 29


Geofisika Metode Well Logging

Gambar 2.13. Penampang melintang suatu struktur reservoir


(Jahsan Asril, 1995)

Bulk volume dapat dihitung dengan menggunakan dua rumus yaitu Piramid Terpancung dan
Trapezoid.

Piramid Terpancung

Vb
h
3

An An 1
An An 1 ......................................... 31

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 30


Geofisika Metode Well Logging

Trapezoid

h
Vb An An 1 ............................................................ 32
2
Dimana h = tinggi interval, m
An = luas kontur ke n, m3
An+1 = luas kontur ke n+1, m3
Rumus Piramid Terpancung digunakan apabila perbandingan antara 2 luas yang berurutan lebih
kecil dari 0,5 ( An 1 An 0,5 ), sedangkan rumus Trapezoid digunakan apabila perbandinagn
antara 2 luas yang berurutan lebih besar dari 0,5 ( An 1 An 0,5 ).
Untuk mengetahui unit Recovery dari reservoir digunakan persamaan Recovery Factor (RF).

Untuk minyak
(1 Swi Sga)( Boi )
RF % ................................................ 33
(1 Swi )( Boa)

Dimana
Swi : Saturasi air awal, fraksi
Swa : Saturasi air sisa, fraksi
Boi : Faktor volume formasi minyak pada saat permulaan, reservoir
barrels/stock tank barrels
Boa : Faktor volume formasi minyak pada keadaan sisa, reservoir
barrels/stock tank barrels

Untuk gas
100( Bgi Bga)
RF % ....................................................... 34
Bgi

Bgi : Faktor volume formasi gas pada saat permulaan, standard


cubic feet/ reservoir cubic-feet
Bga : Faktor volume formasi gas pada keadaan sisa, standard cubic
feet/ r

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 31


Geofisika Metode Well Logging

dj

Uninvaded Zone
Transition Zone
Keterangan :

Flushed Zone
dh diameter lubang bor Open Hole
dj diameter zona terinvasi
rj radius zona terinvasi
hmc tebal mud cake
Rm resistivity limpur pemboran Rxo Rt
Rmc
Mud Cake

Rmf resistivity filtrat lumpur


Rt resistivity zona tak terinvasi dh
Rmf Rw
Rw resistivity air formasi hmc
Rxo resisitivity zona terinvasi Sxo Sw
Sw saturasi air zona tak terinvasi
Sxo saturasi air zona terinvasi rj

Gambar. Kondisi lubang bor dan simbol-simbol yang digunakan dalam interpretasi log

Laboratorium Geofisika Fakultas Teknik Geologi Unpad 32

Anda mungkin juga menyukai