100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
69 tayangan12 halaman

Praktikum Kreping Serat Kapas dan CMC

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil pengujian kreping dengan variasi konsentrasi CMC 10% dan 20%. Teori dasar mencakup struktur dan sifat serat kapas serta proses pembuatan kreping yang melibatkan penggelembungan serat akibat pengaruh larutan NaOH sehingga menimbulkan kerutan pada kain.

Diunggah oleh

Nadia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
69 tayangan12 halaman

Praktikum Kreping Serat Kapas dan CMC

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil pengujian kreping dengan variasi konsentrasi CMC 10% dan 20%. Teori dasar mencakup struktur dan sifat serat kapas serta proses pembuatan kreping yang melibatkan penggelembungan serat akibat pengaruh larutan NaOH sehingga menimbulkan kerutan pada kain.

Diunggah oleh

Nadia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

I.

MAKSUD DAN TUJUAN


Maksud dari praktikum ini adalah untuk melakukan praktikum kreping pada contoh uji
dengan variasi CMC dengan tujuan untuk mengetahui perbedaan hasil pengujian dengan
penggunaan CMC 10% dan 20%.

II. DASAR TEORI


2.1 Serat Kapas

Kapas adalah serat halus yang menyelubungi biji beberapa jenis Gossypium (biasa
disebut "pohon"/tanaman kapas), tumbuhan 'semak' yang berasal dari daerah tropika dan
subtropika. Serat kapas menjadi bahan penting dalam industri tekstil. Serat itu dapat dipintal
menjadi benang dan ditenun menjadi kain. Produk tekstil dari serat kapas biasa disebut
sebagai katun (benang maupun kainnya).

2.1.1 Strukrur Serat Kapas


Serat kapas tersusun atas selulosa yang komposisi murninya telah lama diketahui
sebagai zat yang terdiri dari unit-unit anhidro-beta-glukosa dengan rumus empiris
(C6H10O5)n dengan n adalah derajat polimerisasi yang tergantung dari besarnya molekul.

Selulosa dengan rumus empiris (C6H10O5)n merupakan suatu rantai polimer linier yang
tersusun dari kondensat molekul-molekul glukosa yang dihubungkan oleh jembatan oksigen
pada posisi atom karbon nomor satu dan empat. Stuktur rantai-rantai molekul selulosa
disusun dan diikat satu dengan yang lainnya melalui ikatan Van der Waals. Struktur kimia
dari selulosa dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Setiap satuan glukosa mengandung tiga gugus hidroksil (-OH). Gugus hidroksil pada
atom karbon nomor lima merupakan alkohol primer (-CH2OH), sedangkan pada posisi 2 dan
3 merupakan alkohol sekunder (HCOH). Kedua jenis alkohol tersebut mempunyai tingkat
kereaktifan yang berbeda. Gugus hidroksil alkohol primer lebih reaktif daripada gugus
hidroksil alkohol sekunder. Gugus hidroksil merupakan gugus fungsional yang sangat
menentukan sifat kimia serat kapas, sehingga serat selulosa dinotasikan sebagai sel-OH
dalam penulisan mekanisme reaksi. Susunan Fisika Serat Kapas
Komposisi fisika serat kapas terdiri dari bagian amorf dan kristalin, dimana bagian amorf
mempunyai daya serap yang lebih besar dari pada bagian kristalin, tetapi kekuatannya lebih
kecil. Pada bagian kristalin memiliki susunan molekul yang teratur dan sejajar satu sama lain.
Sedangkan pada bagian amorf, susunan molekulnya tersusun secara tidak pararel dan tidak
teratur. Bagian kristalin dan amorf pada serat kapas disajikan pada Gambar 2.3 dibawah ini :

Gugus-gugus hidroksil yang dimilki oleh serat selulosa mampu menarik gugus
hidroksil dari molekul lainnya, selain itu juga mampu menarik gugus hidroksil dalam molekul
air. Sehingga serat yang memiliki banyak gugus hidroksil akan lebih mudah menyerap air.
Maka akan dengan mudahnya molekul-molekul air terserap kedalam serat dan hal tersebut
akan menyebabkan serat mudah dicelup.

2.1.2 Bagian-bagian Serat Kapas


1. Badan
Merupakan bagian utama serat kapas yang mempunyai diameter sama,
berdinding tebal, dan mempunyai lumen.

Penampang melintang :
2. Ujung

Ujung serat merupakan bagian yang lurus dan mengecil, dengan sedikit
konvolusi d an juga memiliki lumen.

3. Kutikula

Kutikula merupakan lapisan terluar yang mengandung lilin, pektin, dan protein,
yang tahan air, dan melindungi bagian dalam serat.

4. Dinding primer

Merupakan dinding sela yang asli yang mengandung selulosa, pektin, protein,
dan zat yang mengandung lilin. Selulosa ini berbentuk benang-benang yang sangat
halus ataau fibril yang susunannya membentuk spiral dengan sudut 65-70o
mengelilingi sumbu serat.

5. Lapisan antara

Merupakan lapisan pertama dari dinding sekunder dan strukturnya sedikit berbeda
dengan dinding primer maupun sekunder.

6. Dinding sekunder

Merupakan lapisan-lapisan selulosa yaitu fibril-fibril yang membentuk spiral


dengan sudut 20-30o mengelilingi sumbu serat.

7. Lumen

Merupakan ruang kosong di dalam serat yang bentuk dan ukurannya berbeda
untuk tiap serat. Lumen berisi zat-zat pada sisa protoplasma yang sudah kering
dengan komposisi terbesarnya adalah nitrogen.

2.1.3 Sifat Kimia Kapas


1. Pengaruh asam

Serat kapas tahan terhadap asam lemah, sedangkan asam kuat akan mengurangi
kekuatan serat kapas karena dapat memutuskan rantai molekul selulosa (hidroselulosa).

2. Pengaruh alkali

Alkali kuat pada suhu didih air dan pengaruh adanya oksigen dalam udara akan
menyebabkan terbentuknya oksiselulosa. Alkali pada kondisi tertentu akan
mengelembungkan serat kapas.
3. Pengaruh oksidator

Oksidator dapat menyebabkan terjadinya oksiselulosa yang mengakibatkan


penurunan kekuatan serat. Derajat kerusakan serat bergantung pada konsentrasi, pH
dan suhu pengerjaan.

4. Pengaruh mikroorganisma

Dalam keadaan lembab dan hangat, serat kapas mudah terserang jamur dan bakteri.
Tetapi pada kondisi kering, serat kapas mempunyai ketahanan yang cukup baik terhadap
jamur dan mikroorganisma.

2.1.4 Sifat Fisika

a. Warna
Warna kapas tidak betul-betul putih, biasanya sedikit cream. Warna kapas akan
semakin tua setelah penyimpanannya selama 2-5 tahun. Ada pula kapas-kapas yang
berwarna lebih tua, dengan warna-warna dari caramel,khaki sampai beige. Karena
pengaruh cuaca yang lama debu, kotoran akan menyebabkan warna keabu-abuan.

b. Kekuatan

Kekuatan serat kapas terutama dipengaruhi oleh kadar selulosa dalam serat,
panjang rantai dan orientasinya. Kekuatan serat kaps per bundel rata-rata adalah 96.700
pound per inci2 dengan minimum 70.000 dan maksimum 116.000 pound per inci2.
Kekuatan serat pada umumnya menurun pada waktu basah tetapi sebaliknya kekuatan
kapas dalam keadaan basah makin tinggi. Hal ini dijelaskan bahwa apabila gaya
diberikan pada serat kapas kering, distribusi tegangan dalam serat tidak merata karena
bentuk serat kapas yang terpuntir dan tak [Link] keadaan basah serat kapas
menggelembung berbentuk silinder, diikutin dengan kenaikan derajat orientasi, sehingga
distribusi tegangan lebih rata dan kekuatan seratnya naik.

c. Mulur

Mulur saat putus serat kapas termasuk tinggi diantara serat-serat selulosa alam, kira-
kira dua kali mulur rami. Diantara serat-serat alam hanya sutera dan wol yang
mempunyai mulur lebih tinggi dari kapas. Mulur serat kapas berkisar antara 4 13 %
bergantung pada jenisnya dengan mulur rata-rata 7%.

d. Keliatan ( toughness )
Keliatan adalah ukuran yang menunjukkan kemampuan suatu benda untuk
menerima kerja, dan merupakan sifat yang penting untuk serat-serat tekstil terutama
yang dipergunakan sebagai tekstil untuk keperluan industri.

Diantara serat-serat selulosa alam, keliatan serat kapas relatif tinggi tetapi dibanding
dengan serat-serat selulosa yang diregenerasi. Sutera dan wol keliatannya lebih tinggi.

e. Kekakuan ( stiffness )

Kekakuan didefenisikan sebagai daya tahan terdahap perubahan bentuk dan untuk
tekstil biasanya dinyatakan sebagai perbandingan antara kekuatan saat putus dengan
mulur saat putus. Kekuatan dipengaruhi oleh berat molekul, kekakuan rantai selulosa,
derajat kristalinitas dan terutama derajat orientasi rantai selulosa.

f. Moisture Regain

Serat kapas mempunyai afinitas yang besar terhadap air, dan air mempunyai
pengaruh yang nyata pada sifat-sifat serat. Serat kapas yang sangat kering bersifat kasar,
rapuh dan kekuatannya rendah. Moisture regain yang didapatkan dengan cara
menghilangkan lembab ( desorpsi ) sedikit lebih tinggi dari yang didapatkan dengan cara
penyerapan lembab. Moisture regain serat kapas pada kondisi standard berkisar antara 7
8,5 %.

2.2 Kreping

Penyempurnaan krep adalah pengerjaan (fisika atau kimia) yang membuat kain tidak
rata. Benang dengan puntiran tinggi memiliki kecendrungan yang besar untuk terbuka
kembali (puntirannya) jika dibebaskan dari penahan-penahannya. Jika benang yang dipuntir
dipertahankan dalam keadaan terpuntir dan dibasahi maka akan terjadi penggelembungan
serat-seratnya dan benang tersebut cendrung membuka puntirannya. Dengan demikian
bahan krep dapat diperoleh dengan cara membasahi kain yang diproses dimana energi
torsionalnya tetap laten (diam).

Pada kain, penggelembungan serat menghasilkan kontraksi pada lebarnya, tetapi


karena benang-benang pakannya tertahan pada pinggir kain, maka benang-benang tersebut
tidak dapat membuka, akibatnya energi tersebuit digunakan untuk membuat gulungan-
gulungan atau jalinan-jalinan atau keriput-keriput. Tetapi karena tennan melibatkan benang
pakan dan lusi, maka kekusutan-kekusutan tersebut tidak terjadi sempurna, hanya pada
sebagian yang mengkerut dan menghasilkan gangguan pada permukaan kain, yang
memberikan kesan/efek kerut-kerut atau keriput-keriput yang disebut krep (crepe).
Penyempurnaan krep merupakan proses penyempurnaan yang pertama, prosesnya
dilakukan betul-betul baik dan sempurna sebelum kain dikerjakan dalam bentuk untaian
dalam pengelantangan dan pencelupan.
Motif krep didapatkan oleh suatu proses berdasarkan pengaruh larutan NaOH yang
menyebabkan serat kapas berkerut. Hal ini bisa di peroleh dengan memadukan proses
pemerseran tanpa tegangan dengan pencapan, yaitu pemerseran dengan pengaruh NaOH
untuk mendapatkan mengkeret, sedangkan pencapan untuk mendapatkan motif tertentu.

Ada dua cara untuk mendapatkan motif krep tersebut yaitu :

1. Pencapan langsung dengan pasta NaOH


2. Pencapan dengan zat perintang (resist) dengan motif tertentu kemudian di padding
dengan NaOH.
Kain kapasnya umumnya dicap dengan pola bergaris yang kira-kira hampir 50% dari
permukaan kain tertutup, larutan kental dari kostik soda terdiri dari NaOH 28-30oBe.
Didalam pencapan langsung, kain kapas yang terkena NaOH akan menggembung dan
mengkeret, sadangkan bagian yang tidak dicap akan ikut terkerutkan secara teratur pada
permukaan kain. adapun pencapan dengan resist,kain kapas yang tidak terkena cap dengan
pengaruh NaOH akan menggembung dan mengkeret sehingga yang terkena cap (resist)
akan terkerutkan. Mengkeret atau konstruksi lebih besar akan lebih mempertegas efek
gelombang (motif krep). tapi dalam pegangannya dan sifat-sifat elastis dan mulurnya
berbeda dengan kain biasa. Krep yang rata dihasilkan dengan relaksasi yang lambat dan
teratur terhadap putaran/puntiran dari benang-benangnya. Proses kreping yang belum
sempurna akan menjadi rusak dalam pengelantangan dan pencelupan.
Efek gelombang didapatkan oleh suatu proses berdasarkan pengaruh larutan natrium
hidroksida yang menyebabkan serat kapas akan mengkeret. Hal ini dapat diperoleh dengan
memadukan proses pemerseran dengan pencapan, yaitu pemerseran dengan pengaruh
NaOH untuk mendapatkan sifat mengkeret, sedangkan prinsip pencapan dilakukan untuk
memperoleh motif setempat (tidak rata). Metode ini akan menghasilkan efek pola yang
disebut efek Crepon. Kain biasanya dicap dengan pola tertentu dengan menggunakan pasta
cap dari larutan NaOH 28o-30oBe dan pengental yang sesuai (tahan alkali kuat pekat). Pada
perendaman dalam air, bagian yang dicap akan menggelembung sehingga bagian yang
tidak dicap akan mengkerut karena tertarik yang diharapkan menimbulkan efek gelombang.
Efek kreping juga dapat dibuat dengan mengerjakan kain yang mengandung lebih
dari satu macam serat, misalnya :

1. Kain kapas dengan sutera


2. Kain kapas dengan rayon asetat.
Mereka bisa dikerjakan dengan larutan kostik soda yang bisa menyebabkan mengkeret kain
kapasnya, tapi bukan sutera atau rayon asetatnya.

Kain dengan lusi kapas dan pakan wol dapat juga dimerserisasi tanpa tegangan
memberikan efek krep. Kainnya harus segera dicuci dengan air dingin untuk menghindari
penyerangan alkali terhadap wol. Konsentrasi larutan NaOH 15o atau 28oBe. Penggunaan
konsentrasi sekitar 20oBe akan lebih merusak wolnya.

Proses kreping dalam beberapa hal ditentukan oleh jenis bahan, tapi pada umumnya
efek kerutan-kerutan didapat dengan cara dari dingin ke panas yang diikuti dengan
pengeringan tanpa tegangan. bila menginginkan efek kerutan timbul yang agak besar (large
pin head effect), kreping bisa dimulai pada suhu yang lebih tinggi dan efek yang tersusun
didapat pada suhu 100oC. kecepatan kreping yang berbeda memberikan efek krep yang
berlainan. Untuk krep yang rata (flat crepe) permukaannya tidak begitu banyak bedanya
dengan kain biasa,

2.2.1 Pengaruh pencapan NaOH Pada Serat Kapas

kain lainnya kusut, sehingga menimbulkan efek berkerut pada permukaan kain.
Pengaruh NaOH pada serat kapas akan mengakibatkan penggelembungan [Link]
kosentrasi NaOH cukup kuat maka bagian kristalin akan menggelembung dan terjadi
perubahan kisi-kisi yang [Link] ini terjadi karena pelepasan ikatan
hidrogen internal dalam serat yang efeknya sangat besar terutama pada keadaan alkali
[Link] terjadi penyusunan kembali orientasi molekulnya yang lebih teratur.

Selulosa yang menggelembung ii tidak mengalami degradasi ,tetapi daya serap dan
kereaktifannya menjadi lebih besar daripada semula. Reaksinya adalah sebagai berikut :

Selulosa-OH + NaOH Selulosa-Ona + H2O

Dengan adanya proses pengggelmbungan serat maka bentuk kristalin dari selulosa dan
molekul-molekulnya relatif berpindah tempat satu sama [Link] banyak gugus OH
yang lebih mudah untuk dapat akses,maka absorpsi serat terhadap air atau zat warna
bertambah.

Pengaruh dari pencapan pasta soda kostik adalah :

Bahan menjadi mengkeret pada bagian motif yag di cap.


Kekuatan tarik bertambah.
Absorpsi bahan terhadap air dan zat warna bertambah.
Mulur sebelum putus bertambah

Penggelembungan setempat melalui teknik pencapan merupakan prinsip dari pembuatan


krep dengan menggunakan zat [Link] perendaman dalam air serat pada bagian yang
mengandung soda kostik akan menggelembung dan mengkeret, serta menyebabkan bagian
kain lainnya kusut,,sehingga menimbulkan efek berkerut pada permukaan kain.
CMC adalah ester polimer selulosa yang larut dalam air dibuat dengan mereaksikan Natrium
Monoklorasetat dengan selulosa basa (Fardiaz, 1987). Menurut Winarno (1991), Natrium
karboxymethyl selulosa merupakan turunan selulosa yang digunakan secara luas oleh
industri makanan adalah garam Na karboxyl methyl selulosa murni kemudian ditambahkan
Na kloroasetat untuk mendapatkan tekstur yang baik. Selain itu juga digunakan untuk
mencegah terjadinya retrogradasi dan sineresis pada bahan makanan. Adapun reaksi
pembuatan CMC adalah sebagai berikut:

ROH + NaOH R-Ona + HOH

R-ONa + Cl CH2COONa RCH2COONa + NaCl


2.3 Carboxy Methyl Cellulose (CMC)

Carboxy Methyl Cellulose (CMC) merupakan turunan selulosa yang mudah larut dalam
air. Oleh karena itu CMC mudah dihidrolisis menjadi gulagula sederhana oleh enzim
selulase dan selanjutnya difermentasi menjadi etanol oleh bakteri (Masfufatun, 2010).

Molekul CMC merupakan turunan [Link] glukosidanya mengandung 3 gugus


alkohol, dimana fungsi alkohol primernya [Link] subsitusinya bervariasi dari
0,68 hingga 0,85 yang akan membedakan kelarutan dan visositasnya.

CMC banyak digunakan dalam industri tekstil karena mudah dihilangkan dari bahan
dengan proses penghilangan [Link] sifat CMC terutama terletak pada
pembentukan film dan tidak berpengaruh oleh kelembaban udara yang rendah.

III. Alat dan Bahan


3.1 Alat
Screen putih
Rakel
Gelas ukur 100 ml
Kertas HVS
Gunting
Neraca analitik
Kain kapas
3.2 Bahan
CMC
NaOH
Air
Zat warna reaktif panas
CH3COOH
NaCl
Na2CO3
IV. Resep
4.1 Resep Krepping
NaOH : 300 g/kg
CMC : 10% dan 20%
Jarak Motif : 0,5 cm
Waktu : 20 menit

Pencucian
CH3COOH : 5%

4.2 Resep Pencelupan

Zat Warna Reaktif : 1% owf

Teepol : 1 ml/l

`NaCl : 20 g/l

Na2CO3 : 10 g/l

Vlot : 1 :20

Suhu : 60oC

Waktu : 30 menit

4.3 Resep Pencucian


Teepol : 1 ml/l

Na2CO3 : 2 g/l

Vlot : 1 :20

Suhu : 60oC

Waktu : 30 menit

4.3.1 Resep Pencelupan Kreping


Pencelupan dilakukan secara bersamaan dengan contoh uji kelompok yang lalin.
Berat total kain kapas = 75,58 gr
Vlot = 75,58 x 20 = 1511,6 ml
Zar Warna Reaktif = x 75,58 = 0,75 gr
Teepol = x 1511,6 = 1,51 ml
NaCl = x 1511,6 = 30,23 gr
Na2CO3 = x 1511,6 = 15,11 gr
Kebutuhan Air = 1511,6 - 0,75 1,51 30,23 15,11 = 1463,98 ml

4.3.2 Resep Pencucian


Berat total kain kapas = 75,58 gr
Vlot = 75,58 x 30 = 2267,4 ml
Teepol = x 2267,4 = 2,26 ml
NaCl = x 2267,4 = 45,35 gr
Na2CO3 = x 2267,4 = 22,67 gr
Kebutuhan Air = 2267,4 2,26 45,35 22,67 = 2197,11 ml

V. Fungsi Zat
NaOH : menghasilkan efek mengkeret kain.
Pembasah : menurunkan tegangan permukaan.
CH3COOH 5% : menetralkan kain yang sebelumnya telah diberi NaOH.
Zat Reaktif Panas : memberikan warna secara merata pada bahan dan untuk
mengetahui hasil penyempurnaan kreping yang telah dicelup dengan zat warna
reaktif.
NaCl : menambah penyerapan zat warna reaktif bahan.
Na2CO3 : Memfikasasi zat warna dan meningkatkan kelarutan zat
warna pada proses pencelupan.

VI. Cara Kerja


1. Persiapan alat dan bahan yang dibutuhkan selama praktikum.
2. Pembuatan motif pada kertas HVS.
3. Pembuatan pasta kreping
Timbang masing-masing dua NaOH sebanyak 15 gr (300 g/kg) dan CMC
masing-masing 5 gr (10%) dan 10 gr (20%) dalam wadah yang berbeda-
beda .
Campurkan masing-masing NaOH dan masing-masing CMC dengan air 50
ml
4. Bahan di cap dengan pasta tersebut, dan diamkan selama 20 menit.
5. Bahan dibilas dengan air panas sampai kandungan NaOH yang ditandai dengan
pegangan menjadi tidak licin.
6. Dinetralkan dengan CH3COOH 5% .
7. Kain dicuci dengan air dingi.
8. Kain diangin-angin sampai kering.
9. Persiapan resep alat dan bahan untuk pencelupan.
10. Lakukan pencelupan dengan za warna reaktif.
11. Bahan yang sudah di celup dilakukan pencucian.
12. Bahan diangi-angin sampai kering.
13. Evaluasi.

Diagram Alir :

Pembuatan pasta Pencapan pasta Bahan didiamkan Bahan dicuci air


kreping pada bahan Selama 20 menit panas

Evaluasi Bahan di Bahan dicelup Kain dinetralkan


keringkan Asam 5%

Skema proses pencelupan

VII. Hasil Pengujian

VIII. Pembahasan
Dari hasil pengujian didapatkan kain dengan menggunakan CMC 20% lebih mengekeret
dan memiliki daya serap warna yang lebih besar dibandingkan memakai resep CMC
10%.Hal itu dilihat dari hasil ketuaan warna bahan. Bahan menggunakan CMC 20% memiliki
warna yang lebih tua saat dicelup dengan zat warna [Link] itu juga dilihat dari besar
kecilnya kerutan pada bahan . Pada bagian yang mengkeret CMC 20% lebih mengkeret dan
warnanhya lebih tua dibandingkan warna dan pengkeretan pada bahan yang menggunakan
CMC 10% . Contoh uji yang memakai CMC 10% hampir tidak terlihat (terlihat namun hanya
sedikit).Dari hasil evaluasi dapat dilihat bahwa besar kecilnya CMC sangat berpengaruh .
CMC sebagai pengental dan olehkarena itu CMC dapat mengikat ,merekatkan antara
contoh uji dengan [Link] diamati kontak antara kain dan NaOH dipengaruhi oleh
kosentrasi CMC. Bisa saja CMC 10% terlalu encer jika dibandingkan dengan 20% sehingga
daya rekat CMC 10% untuk merekatkan NaOH pada serat kurang kuat .Beda halnya dengan
penggunaan CMC 20% yang daya rekatnya tinggi dan stabil dan maksimal.

Pada kedua contoh uji terlihat pengkeretan atau gelombang yang tidak rata .Karena NaOH
adalah berfungsi untuk menggelembungkan serat dan karena dalam praktikum krep
menggunakan prinsip pembasahan yang sementara atau hanya sebatas menempelkan
pasta NaOH. Maka proses pengglembunganpun hanya terjadi pada bagian motifnya
saja ,hal itu yang melatarbelakangi terjadinya penarikan atau pengkeretan pada bagian yang
tidak dikenai motif,sehingga pada bagian yang tidak dikenakan motif terlihat bergelombang
dan mengkerut kearah [Link] hanya itu, pengkeretan contoh uji yang di lakukan
pengujian kreping tidak terlepas dari pengalihan ke eksoterm,dimana contoh uji yang
awalnya berada dalam kondisi suhu ruangan tiba-tiba dikenai NaOH dalam suasana panas
(eksoterm) sehingga hal itu juga yang melatar belakangi pengkeretan terhadap bahan
contoh uji.

Untuk warna yang lebih gelap dibagian yang di lakukan proses kreping ,hal itu terjadi karena
serat terjadi penggelembungan NaOH (terjadi dekonvolusi) sehingga daya serap kain yang
dikena pengujian kreping meningkat dibandingkan bagian kain yang tidak dilakukan kreping
atau bagian yang tidak terkena/kontak dengan NaOH.

IX. Kesimpulan

Contoh uji yang memakai resep CMC 20% hasilnya lebih baik dibandingkan contoh
uji yang hanya memakai CMC 10%.

X. Daftar Pustaka
1. [Link] [Link],[Link] Tekstil. Istitut Teknologi Tekstil,Bandung : 1973.
2. Soeparman,dkk, Teknologi Penyempurnaan Tekstil , Institut Teknologi Tekstil,
Bandung,1977.
3. [Link],[Link] [Link] Tinggi Teknologi
Tekstil,Bandung,1998.

Anda mungkin juga menyukai