PROTEIN REKOMBINAN
Ekspresi Rekombinan Protein
Kemampuan untuk mengekspresikan protein rekombinan dalam jumlah besar adalah
salah satu manfaat yang dapat diperoleh dari kloning cDNA. Banyak sekali kegunaan praktis
dari protein rekombinan. Salah satunya adalah sebagai sumber reagen (misalnya enzim
restriksi) yang tidak akan habis dan merupakan sumber yang tidak ternilai untuk hormon
dangrowth factors (misalnya insulin manusia dan eritropoietin) yang sulit diperoleh dari
sumber alaminya. Ketersediaan protein rekombinan dalam jumlah besar juga sangat membantu
dalam studi biofisik dan analisis struktur dan fungsi protein.
Translasi in vitro (in vitro translation) protein rekombinan
Ada banyak metode dan hospes (pejamu) untuk mengekspresikan protein rekombinan,
dan hanya beberapa akan dibahas berikut ini. Cara yang paling sederhana untuk
mengekspresikan protein rekombinan adalah dengan in vitro translation menggunakan lisat
retikulosit (reticulocyte lysates). Dengan cara ini, mRNA (biasanya ditranskripsikan secara in
vitro dari cDNA yang diklon dalam plasmid) diterjemahkan (translasi) menggunakan ribosom
yang ada dalam lisat retikulosit. Walaupun proteinnya tidak berjumlah banyak, protein tersebut
dapat dilabel dengan asam amino radioaktif (misalnya 35S-metionin). Protein yang
ditranslasikan secara in vitro dapat digunakan sebagai substrat untuk enzim-enzim, reaksi
katalisis, imunopresipitasi, uji interaksi DNA-protein, dan lain-lain.
Ekspresi protein rekombinan dalam E. coli
E. coli adalah salah satu hospes pertama yang digunakan dan akan tetap menjadi sumber
yang penting untuk mengekspresikan protein rekombinan. E. coli paling baik digunakan untuk
ekspresi protein intraseluler yang relative kecil dan tidak memerlukan modifikasi
pascatranslasi (posttraslational modification) yang terlalu banyak untuk dapat berfungsi.
Protein diekspresikan dengan bantuan vektor plasmid untuk ekspresi, yang banyak diantaranya
dapat diinduksi dengan pemberian reagen seperti IPTG (yang akan melepas represi promotor)
untuk mengasilkan ekspresi dalam jumlah tinggi sebelum kemudian dipurifikasi. Melekatkan
protein tertentu pada molekul lain misalnya galaktosidase kadang-kadang dapat lebih
menstabilkan protein, yang jika tidak dilekatkan mungkin akan terdegradasi dalam E. coli. Hal
umum lain yang juga dapat dilakukan adalh dengan menambahkan label/marka (tag) yang telah
dipurifikasi kepada protein yang diekspresikan untuk memudahkan menemukan/mengisolasi
protein setelah diekspresikan. Marka yang banyak digunakan adalah glutation-Stransferase
(GST) yang dapat diisolasi menggunakan kolom glutation atau marka histidin untuk isolasi
menggunakan kolom nikel. Salah satu keuntungan sistem ekspresi pada E. coli adalah mudah
untuk melakukan manipulasi DNA rekombinan (mirip seperti kloning plasmid) dan proses
seleksi dan ekspresi yang cepat. . Kerugiannya adalah ketidakmampuan untuk melakukan
prosesing kompleks seperti glikosilasi, dan bahwa beberapa protein bersifat labil (atau toksik)
pada hospes. Selain itu, protein yang besar biasanya tidak diproduksi atau tidak terlipat
(folding) dengan efisien.
Ekspresi protein rekombinan dengan bantuan baculovirus.
Ekspresi yang dibantu oleh baculovirus dalam sel serangga adalah satu cara lain yang
umum digunakan untuk ekspresi protein rekombinan. Dengan cara mentransfer plasmid yang
mengandung cDNA yang dikehendaki, terjadi rekombinasi dengan DNA baculovirus dalam
sel Sf9 sehingga sekuens DNA yang menyandi protein mantel virus (coat protein) utama,
polyhedrin, diganti dengan protein yang dikehendaki. Dengan cara ini akan dihasilkan ekspresi
protein rekombinan dalam jumlah tinggi. Sel Sf9 dapat melakukan glikosilasi (walaupun secara
struktural berbeda dengan sel mamalia), dan dapat mengekspresikan lebih dari satu
proteinbersama-sama sekaligus (misalnya imunoglubulin). Protein rekombinan biasanya akan
terlokalisasi seperti pada sel normal (misalnya reseptor pada membran, ranscription factors
pada nukleus), walaupun tingkat ekspresi yang tinggi akhirnya dapat mengganggu pola ini.
Tingkat ekspresi yang tinggi akan memudahkan purifikasi, kecuali jika terjadi agregasi.
Namun, untuk melakukan seleksi dan rekombinasi sejumlah besar protein mutan pada sistem
ini masih agak sulit. Ekspresi pada galur sel mamalia. Banyak protein memerlukan ekspresi
memggunakan sistem sel mamalia. Walaupun sistem ini sangat jarang dapat menproduksi
protein seefisien E. coli atau Baculovirus, salah satu kelebihannya adalah mampu memproses
polipeptida kompleks menggunakan mesin intraseluler yang sesuai. Selain segi prosesing
peptida, folding, atau glikosilasi yang dapat dilakukan dengan tepat, untuk mengekspresi
protein tertentu seringkali diperlukan kondisi yang hanya dapat dicapai dengan menggunakan
sel homolog atau jaringan khusus (tissue specific). Sebagai contoh, untuk mempelajari
beberapa reseptor atau transcription factors maka perlu dilakukan ekspresi protein tersebut
pada sel yang mengandung cofaktor atau target yang sesuai. Untuk mammalian cell lines,
ekspresi cDNA biasanya diatur dengan promotor yang kuat dari suatu virus. Sebagai alternatif,
telah dikembangkan vektor ekspresis yang dapat diinduksi yang memungkinkan untuk
melakukan seleksi klonal yang kemudian diikuti dengan induksi promotor dengan cara
menambahkan (atau menghilang) reagen tertentu (misalnya tetrasiklin) yang dapat memodulasi
aktivitas promotor. Protein yang mengandung leader sequence dapat disekresikan ke dalam
media. Hal ini mengakibatkan pengenceran konsentrasi protein, namun kontaminan media
ekstraseluler akan jauh lebih sedikit daripada intraseluler sehingga isolasi dan purifikasi protein
yang bersangkutan akan lebih mudah.
Ekspresi menggunakan vektor adenovirus
Banyak virus digunakan untuk ekspresi pada sel mamalia, memanfaatkan sifat tropisme
alami virus dan kemampuan virus untuk menginduksi perubahan mesin sintesis intraseluler
sehingga menghasilkan tingkat ekspresi yang tinggi. Vektor adenovirus sangat menarik karena
telah menginfeksi berbagai macam sel mamalia dan karena genom adenovirus telah dapat
diubah menghasilkan virus yang tidak mapu-replikasi dan dapat membawa sekuens manusia.
Adenovirus telah bnayak digunakan untuk mengekspresikan protein rekombinan pada sel dan
jaringan yang sulit ditransfek. Penggunaan adenovirus sebagai vektor untuk terapi gen juga
menjadikan sistem ini sangat menarik untuk ekspresi gen. Dengan menghilangkan gen-gen
kunci adenovirus, virus yang dusah dimodifikasi ini dapat berfungsi sebagai pembawa gen
mamalia. Memasukkan vektor virus yang mengandung gen yang dikehendaki ke dalam sel 293
yang mengekspresikan E1a memungkinkan untuk mengemas dan memanen virus serta virus
tidak ber-replikasi pada sel lain. Vektor adenovirus telah digunakan untuk mengekspresikan
gennormal pada organ yang defektif (misalnya ekspresi CFTR pada penderita cystic fibrosis),
untuk mengekspresikan gen yang toksik pada tumor (misalnya timidin kinase pada tumor otak),
dan untuk mentarget gen cell-cycle arrest pada sel vaskuler yang sedang berproliferasi.
Keterbatasan adenovirus antara lain ketidakmampuannya untuk menerima DNA asing >10
kb,jangka waktu ekspresinya relatif pendek in vivo (beberapa minggu sampai bulan),toksik
terhadap sel, dan menginduksi respon imun. Beberapa sistem pembawa virus lain sedang
dikembangkan termasuk Adenoassociated virus, Herpes dan retrovirus (yang berintegrasi ke
dalam genom hospes). Vaksin virus juga digunakan untuk mengekspresikan protein
rekombinan dalam cell lines, misalnya sel HeLa, sebagai mekanisme yang efisien untuk
ekspresi gen pada galur sel mamalia.
Sistem lain untuk ekspresi protein rekombinan
Banyak sistem lain yang digunakan tapi tidak akan dibahas di sini, antara lain produksi
dalam susu binatang, Drosophila, ragi dan tanaman
SKEMA
Sistem Ekspresi Protein
Kemampuan untuk mengekspresikan proteinrekombinan dalam jumlah besar adalah salah satu
manfaat yang dapat diperoleh dari kloning cDNA. Banyak sekali kegunaan praktis dari protein
rekombinan. Salah satunya adalah sebagai sumber reagen (misalnya enzim restriksi) yang tidak
akan habis dan merupakan sumber yang tidak ternilai untuk hormon dan growth factors
(misalnya insulin manusia dan eritropoietin) yang sulit diperoleh dari sumber alaminya.
Ketersediaan protein rekombinan dalam jumlah besar juga sangat membantu dalam studi
biofisik dan analisis struktur dan fungsi protein.
Translasi in vitro (in vitro translation) protein rekombinan
Ada banyak metode dan hospes
(pejamu) untuk mengekspresikan
protein rekombinan, dan hanya
beberapa akan dibahas berikut ini. Cara
yang paling sederhana untuk
mengekspresikan protein rekombinan
adalah dengan in vitro
translationmenggunakan lisat
retikulosit (reticulocyte lysates).
Dengan cara ini, mRNA (biasanya ditranskripsikan secara in vitro dari cDNA yang diklon
dalam plasmid) diterjemahkan (translasi) menggunakan ribosom yang ada dalam lisat
retikulosit. Walaupun proteinnya tidak berjumlah banyak, protein tersebut dapat dilabel dengan
asam amino radioaktif (misalnya 35S-metionin). Protein yang ditranslasikan secara in vitro
dapat digunakan sebagai substrat untuk enzim-enzim, reaksi katalisis, imunopresipitasi, uji
interaksi DNA-protein, dan lain-lain.
Ekspresi protein rekombinan dalam E. Coli
E. coli adalah salah satu hospes pertama yang digunakan dan akan tetap menjadi sumber
yang penting untuk mengekspresikan protein rekombinan. E. coli paling baik digunakan untuk
ekspresi protein intraseluler yang
relatif kecil dan tidak
memerlukan modifikasi
pascatranslasi (posttraslational
modification) yang terlalu banyak
untuk dapat berfungsi. Protein
diekspresikan dengan bantuan
vektor plasmid untuk ekspresi,
yang banyak diantaranya dapat
diinduksi dengan pemberian
reagen seperti IPTG (yang akan
melepas represi promotor) untuk
mengasilkan ekspresi dalam
jumlah tinggi sebelum kemudian dipurifikasi. Melekatkan protein tertentu pada molekul lain
misalnya galaktosidase kadang-kadang dapat lebih menstabilkan protein, yang jika tidak
dilekatkan mungkin akan terdegradasi dalam E. coli.
Hal umum lain yang juga dapat dilakukan adalah dengan menambahkan label/marka
(tag) yang telah dipurifikasi kepada protein yang diekspresikan untuk
memudahkanmenemukan/mengisolasi protein setelah [Link] yang banyak
digunakan adalah glutation-Stransferase (GST) yang dapat diisolasi menggunakan kolom
glutation atau marka histidin untuk isolasi menggunakan kolom nikel. Salah satu keuntungan
sistem ekspresi pada E. coli adalah mudah untuk melakukan manipulasi DNA rekombinan
(mirip sepertikloning plasmid) dan proses seleksi dan ekspresi yang cepat. Kerugiannya adalah
ketidakmampuan untuk melakukan prosesing kompleks seperti glikosilasi, dan bahwa
beberapa protein bersifat labil (atau toksik) pada hospes. Selain itu, protein yang besar biasanya
tidak diproduksi atau tidak terlipat (folding) dengan efisien.
Ekspresi protein rekombinan dengan bantuan Saccharomyces cerivisiae
Sistem genetik yang sangat berkembang, penggunaannya mudah, berkurangnya waktu dan
biaya membuat S. Cerevisiae menjadi organisme yang menarik untuk diekspresikan dan
memproduksi protein rekombinan. Ragi mampu membawa plasmid yang dirancang khusus dan
kemampuan ini berfungsi dalam sistem ekspresi protein rekombinan. Plasmid terdiri dari situs
restriksi yang dapat digunakan untuk memasukkan urutan gen yang diinginkan. Transformasi
dari ragi dengan plasmid menghasilkan protein yang diinginkan dan dapat ditingkatkan.
Ekspresi protein rekombinan dengan bantuan baculovirus
Ekspresi yang dibantu oleh baculovirusdalam sel serangga adalah satu cara lain yang
umumdigunakan untuk ekspresi protein rekombinan. Dengancara mentransfer plasmid yang
mengandung cDNA yangdikehendaki, terjadi rekombinasi dengan DNA baculovirusdalam sel
Sf9 sehingga sekuens DNA yang menyandiprotein mantel virus (coat protein) utama,
polyhedrin,diganti dengan protein yang dikehendaki. Dengan caraini akan dihasilkan ekspresi
protein rekombinan dalamjumlah tinggi. Sel Sf9 dapat melakukan glikosilasi(walaupun secara
struktural berbeda dengan sel mamalia),dan dapat mengekspresikan lebih dari satu
proteinbersama-sama sekaligus (misalnya imunoglubulin).Protein rekombinan biasanya akan
terlokalisasi sepertipada sel normal (misalnya reseptor pada membran,transcription factors
pada nukleus), walaupun tingkatekspresi yang tinggi akhirnya dapat mengganggu pola
[Link] ekspresi yang tinggi akan memudahkan purifikasi,kecuali jika terjadi agregasi.
Namun, untuk melakukanseleksi dan rekombinasi sejumlah besar protein mutanpada sistem ini
masih agak sulit.
Ekspresi pada galur sel mamalia
Banyak protein memerlukan ekspresi memggunakan sistem sel mamalia. Walaupun
sistem ini sangat jarang dapat menproduksi protein seefisien E. coli atau Baculovirus, salah
satu kelebihannya adalah mampu
memproses polipeptida kompleks
menggunakan mesin intraseluler yang
sesuai. Selain segi prosesing peptida,
folding, atau glikosilasi yang dapat
dilakukan dengan tepat, untuk
mengekspresi protein tertentu seringkali
diperlukan kondisi yang hanya dapat
dicapai dengan menggunakan sel
homolog atau jaringan khusus (tissue
specific). Sebagai contoh, untuk mempelajari beberapa reseptor atau transcription factors maka
perlu dilakukan ekspresi protein tersebut pada sel yang mengandung cofaktor atau target yang
sesuai.
Untuk mammalian cell lines, ekspresi cDNA biasanya diatur dengan promotor yang
kuat dari suatu virus. Sebagai alternatif, telah dikembangkan vektor ekspresis yang dapat
diinduksi yang memungkinkan untuk melakukan seleksi klonal yang kemudian diikuti dengan
induksi promotor dengan cara menambahkan (atau menghilang) reagen tertentu (misalnya
tetrasiklin) yang dapat memodulasi aktivitas promotor. Protein yang mengandung leader
sequence dapat disekresikan ke dalam media. Hal ini mengakibatkan pengenceran konsentrasi
protein, namun kontaminan media ekstraseluler
akan jauh lebih sedikit daripada intraseluler
sehingga isolasi dan purifikasi protein yang
bersangkutan akan lebih mudah.
Ekspresi menggunakan vektor adenovirus
Banyak virus digunakan untuk ekspresi pada
sel mamalia, memanfaatkan sifat tropisme
alami virus dan kemampuan virus untuk
menginduksi perubahan mesin sintesis intraseluler sehingga menghasilkan tingkat ekspresi
yang tinggi. Vektor adenovirus sangat menarik karena telah menginfeksi berbagai macam sel
mamalia dan karena genom adenovirus telah dapat diubah menghasilkan virus yang tidak
mapu-replikasi dan dapat membawa sekuens manusia. Adenovirus telah banyak digunakan
untuk mengekspresikan protein rekombinan pada sel dan jaringan yang sulit ditransfer.
Penggunaan adenovirus sebagai vektor untuk terapi gen juga menjadikan sistem ini
sangat menarik untuk ekspresi gen. Dengan menghilangkan gen-gen kunci adenovirus, virus
yang susah dimodifikasi ini dapat berfungsi sebagai pembawa gen mamalia. Memasukkan
vektor virus yang mengandung gen yang dikehendaki ke dalam sel 293 yang mengekspresikan
E1a memungkinkan untuk mengemas dan memanen virus serta virus tidak ber-replikasi pada
sel lain. Vektor adenovirus telah digunakan untuk mengekspresikan gen normal pada organ
yang defektif (misalnya ekspresi CFTR pada penderita cystic fibrosis), untuk mengekspresikan
gen yang toksik pada tumor (misalnya timidin kinase pada tumor otak), dan untuk mentarget
gen cell-cycle arrest pada sel vaskuler yang sedang berproliferasi. Keterbatasan adenovirus
antara lain ketidakmampuannya untuk menerima DNA asing >10 kb, jangka waktu ekspresinya
relatif pendek in vivo (beberapa minggu sampai bulan), toksik terhadap sel, dan menginduksi
respon imun. Beberapa sistem pembawa virus lain sedang dikembangkan termasuk
Adenoassociated virus, Herpes dan retrovirus (yang berintegrasi ke dalam genom hospes).
Vaksin virus juga digunakan untuk mengekspresikan protein rekombinan dalam cell lines,
misalnya sel HeLa, sebagai mekanisme yang efisien untuk ekspresi gen pada galur sel mamalia.
Sistem lain untuk ekspresi protein rekombinan
Banyak sistem lain yang digunakan tapi tidak akan dibahas di sini, antara lain produksi dalam
susu binatang, Drosophila, ragi dan tanaman.
PILIHAN HOST UNTUK AMPLIFIKASI PROTEIN
Sistem host tersedia dalam beberapa bentuk termasuk fag, bakteri, ragi, tumbuhan,
jamur berserabut, serangga atau sel mamalia yang tumbuh dalam kultur dan hewan transgenik.
Pilihan terakhir dari host akan bergantung pada persyaratan yang spesifik dan aplikasi untuk
protein rekombinan. Pemilihan host tidak hanya mempengaruhi amplifikasi dan isolasi dari
protein, tetapi juga cara dimana produk kemudian dapat dimurnikan. Dalam rangka untuk
memutuskan host mana yang paling cocok dalam jumlah dan tingkat kemurnian produk serta
integritas biologis dan potensi toksisitas sebaiknya dipertimbangkan. Sebagai contoh, system
ekspresi bakteri tidak cocok jika modifikasi pasca-translasi diperlukan untuk menghasilkan
produk rekombinan yang dapat berfungsi penuh.
Lokasi produk dalam host akan mempengaruhi pilihan metode untuk isolasi dan
pemurnian dari produk. Sebagai contoh, sebuah host bakteri dapat mensekresikan protein ke
dalam media pertumbuhan, mentransportnya ke dalam ruang periplasmik atau menyimpannya
sebagai badan inklusi yang tidak dapat larut dalam sitoplasma.
INSULIN
Terapi Diabetes baik tipe I maupun tipe II menggunakan hormon insulin
diperkenalkan sudah sejak tahun beberapa tahun yang lalu. Dimulai dari pemurnian
pertama kali insulin dari pankreas babi dan sapi pada tahun 1922. Permintaan
protein terapi ini yang terus meningkat menuntut untuk ditemukannya suatau
teknologi yang dapat menghasilkan hormon insulin secara cepat dengan skala yang
besar tanpa harus membunuh ratusan bahkan ribuan hewan ternak untuk diambil
pankreasnya.
Pada tahun 1982 gen insulin manusia berhasil diisolasi dan dikembangkan di dalam
Eschercia coli untuk kemudian diekspresikan menjadi protein yang disebut hormon
insulin melalui teknologi DNA rekombinan.
Teknik DNA rekombinan dilakukan dengan menyisipkan gen insulin manusia ke
dalam vektor DNA, sel bakteri [Link], untuk memproduksi insulin yang secara
kimia identik dengan insulin manusia yang diproduksi secara alami dalam tubuh
orang yang normal.
Struktur insulin
Secara kimia, insulin
meruipakan protein kecil yang
sederhana. Mengandung 51
asam amino, 30 diantaranya
terdapat satu rantai polipeptida
(rantai B) dan 21 lainnya
sebagai rantai ke dua Rantai A).
Kode genetik insulin.
Kode genetik untuk insulin ditemukan dalam DNA pada bagian puncak lengan kromosom
pendek pada kromosom nomor 11. Struktur DNA insulin mengandung 153 basa nitrogen (63
di rantai A dan 90 rantai B).
Proses Pembuatan Insulin
Proses pembuatan insulin dengan teknik DNA recombinan adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi dan mengisolasi gen penghasil insulin dari sel pancreas manusia:
a. Mula-mula mRNA yang telah disalin dari gen penghasil insulin diekstrak dari sel
[Link] enzim transcriptase ditambahkan pada mRNA bersamaan dengan
nukleotida penyusun DNA.
b. Enzim ini menggunakan mRNA sebagai cetekan untuk membentuk DNA berantai
tunggal.
c. DNA ini kemudian dilepaskan dari mRNA.
d. Enzim DNA polymirase digunakan untuk melengkapi DNA rantai tunggal menjadi
ranati ganda,disebut DNA komplementer (c- DNA), yang merupakan gen penghasil
insulin.
2. Melepaskan salinan gen penghasil insulin tersebut dengan cara memotong kromosom
secara khusus menggunakan enzim retrikasi.
3. Mengekstrak plasmid dari sel bakteri, kemudian membuka plasmid dari sel bakteri dengan
menngunakan enzim retrikasi lain. Sementara itu, di dalam serangkain tabung reaksi atau
cawan petri, gen penghasil insulin manusia (dalam bentuk c- DNA disiapkan untuk
dipasangkan pada plasmid yang terbuka tersebut.
4. Memasang gen penghasil insulin kedalam cincin plasmid. Mula-mula ikatan yang terjadi
masih lemah, kemudian enzim DNA ligase memperkuat ikatan ini sehingga dihasilkan
molekul DNA recombinan/plasmid recombinan yang bagus.
5. Memasukkan plasmid recombinan kedalam bakteri [Link] dalam sel bakteri ini plasmid
mengadakan replikasi
6. Mengultur bakteri [Link] yang akan berkembang biak dengan cepat menghasilkkan
klonklon bakteri yang mengandung plasmid recombinan penghasil [Link]
rekayasa genetika dapat dihasilkan [Link] yang merupakan penghasil insulin dalam jumlah
banyak dan dalam waktu yang singkat.
\
[Link] menjadi mikroorganisme yang paling dipilih untuk memproduksi protein
rekombinan dalam skala besar. Sebagai vektor untuk DNA insulin, plasmid [Link]
diambil dari sel bakteri [Link]. Rantai melingkar plasmid dibuka menggunakan
enzim tertentu, kemudian sequens DNA yang mengkodekan insulin manusia
disisipkan ke dalam plasmid tersebut. Dengan enzim DNA ligase, maka rantai
DNA insulin akan tersambung dengan DNA plasmid. Di dalam tubuh [Link],
sewaktu bakteri itu berkembang biak, gen insulin bereplikasi bersama dengan
plasmid.
Untuk dapat menghasilkan insulin, gen insulin perlu terikat dengan enzim B-
galaktosidase enzim yang mengontrol transkripsi gen. Hal ini sangat krusial
dimana kodon dari gen insulin ini harus kompatibel dengan enzim B-galaktosidase.
Setelah terbentuk protein proinsulin, protein kemudian dipurifikasi dari tubuh
bakteri. Bakteri diinaktif kan dengan cara heat sterilization, proinsulin dipanen.
Proinsulin diambil lalu dengan cara memotongnya secara enzymatik akan
dihasilkan human insulin, rantai A dan rantai B secara terpisah. Kedua rantai
dicampur dan dihubungkan kembali
dalam reaksi yang membentuk
jembatan silang disulfida,
menghasilkan Humulin murni (insulin
manusia sintetis).
Proses selanjutnya adalah sentrifugasi dan penghilangan sel2 yang tidak
diperlukan. Pemurnian dilakukan dengan cara liquid chromatography dan
crystallization.
Selain menggunakan bakteri sebagai host, dapat juga digunakan host berupa ragi
(yeast).