0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan19 halaman

Teknik Mixing dalam Pengolahan Air

Dokumen tersebut membahas tentang proses mixing dalam pengolahan air minum. Terdapat dua jenis mixing yaitu rapid mixing untuk meratakan koagulan dan memisahkan koloid, serta slow mixing untuk mempercepat proses flokulasi. Dokumen juga menjelaskan prinsip kerja jar test untuk menentukan koagulan dan dosis kimia yang optimal.

Diunggah oleh

khairinasm
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan19 halaman

Teknik Mixing dalam Pengolahan Air

Dokumen tersebut membahas tentang proses mixing dalam pengolahan air minum. Terdapat dua jenis mixing yaitu rapid mixing untuk meratakan koagulan dan memisahkan koloid, serta slow mixing untuk mempercepat proses flokulasi. Dokumen juga menjelaskan prinsip kerja jar test untuk menentukan koagulan dan dosis kimia yang optimal.

Diunggah oleh

khairinasm
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PRAKTIKUM PFK TL 3101

MODUL MIXING

Oleh

SITTI MAULUDY KHAIRINA

NIM : 15315078

Asisten Praktikum : TIA WIDYA PUTERI

Tanggal Praktikum : 22 September 2017

Tanggal Laporan : 29 September 2017

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2017
I. TEORI DASAR
Air bersih (sanitation water) adalah air yang dapat dipergunakan untuk berbagai
keperluan pada sektor rumah tangga seperti untuk mandi, mencuci dan kakus.
Persyaratan air bersih antara lain adalah jernih, tidak bewarna, tidak berasa, tidak
berbau, tidak beracun, pH netral dan bebas mikroorganisme. Pengertian ini harus
dibedakan dengan pengertian air minum, yakni air yang memenuhi syarat-syarat
kesehatan sehingga dapat langsung diminum. Pada umumnya masyarakat
mendapatkan air minum dengan cara memasak air bersih. Beberapa sumber air
mentah yang lazim digunakan/diolah masyarakat menjadi air bersih antara lain : Air
permukaan seperti air sumur dangkal, air sungai, air danau, air rawa; Air tanah
seperti air mata air, air sumur dalam dan lain-lain; Air hujan. Tidak semua sumber
air tersebut dapat langsung dipergunakan untuk itu perlu dilakukan pengolahan,
terutama pada daerah perkotaan.

Berbagai teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya telah
dicoba dan dikembangkan selama ini. Teknik-teknik pengolahan air buangan yang
telah dikembangkan tersebut secara umum terbagi menjadi 3 metode pengolahan : -
pengolahan secara fisika 12 Vol.13 No.2. Agustus 2012 Jurnal Momentum ISSN :
1693-752X - pengolahan secara kimia - pengolahan secara biologi Untuk suatu jenis
air buangan tertentu , ketiga metode pengolahan tersebut dapat diaplikasikan secara
sendiri-sendiri atau secara kombinasi.

Rapid dan Slow Mixing pada Instalasi Pengolahan Air Minum


Kalau memanfaatkan air baku dari sungai, danau atau waduk, IPAM di PDAM (dan
di mana saja), hampir dapat dipastikan (99%) dilengkapi dengan unit mixing. Unit
yang dapat dibedakan menjadi dua jenis ini, yaitu rapid mixing dan slow mixing,
menjadi harga mati bagi proses klarifikasi, filtrasi, dan desinfeksi (khususnya
klorinasi).
Air sungai, danau, dan waduk, juga badan air permukaan lainnya, diperkaya oleh
material tanah hasil erosi, khususnya lempung (koloid), dissolusi mineral, dan
busukan zat organik. Karena material ini tidak layak masuk ke dalam tubuh manusia
(ada yang berbahaya) maka harus dihilangkan dulu dengan cara pengolahan yang
melibatkan unit mixing. Apalagi kalau badan air tersebut terkontaminasi oleh
limbah industri dan domestik, penerapan proses kimia tak bisa ditawar-tawar lagi.

Di antara tiga jenis material dalam air seperti disebut di atas, yang menjadi fokus
utama di PDAM tak lain daripada koloid (colloidal). Koloid adalah partikel
berukuran mikron (1 200 milimikron) yang mayoritas bermuatan negatif sehingga
stabil dan tidak bisa mengendap. Berdasarkan kesukaannya pada air, koloid dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu hidrofilik dan hidrofobik. Koloid hidrofilik (suka air)
adalah koloid yang berdaya afinitas (ikat) tinggi terhadap air sedangkan koloid
hidrofobik (takut air) rendah daya afinitasnya terhadap air. Sifat hidrofilik
menyebabkan ikatan koloid dengan air menjadi kuat sehingga koloid lebih stabil
dan sulit dipisahkan dari air. Kestabilan koloid hidrofilik ini disebabkan oleh
fenomena hidrasi, yaitu molekul air tertarik oleh permukaan koloid sehingga
menghalangi terjadinya kontak antarkoloid.

Rapid Mixing
Pengadukan cepat (rapid, flash, quick, fast mixing) adalah unit yang digunakan
untuk meratakan koagulan secara singkat ke seluruh bagian air agar dihasilkan
destabilisasi koloid sehingga terjadi proses koagulasi. Fenomena pengadukan ini
dapat terjadi di banyak tempat dan alat, misalnya di terjunan air, pusaran air,
loncatan hidrolis, aliran dalam pipa, belokan pipa, di dalam pompa, venturi flumes,
dan alat-alat pengaduk seperti paddle, turbine, popeller. Secara mikroelektrokimia,
mixing menyebabkan reaksi antara muatan negatif koloid dan muatan positif
koagulan yang menghasilkan destabilisasi. Kejadian inilah yang akhirnya berujung
pada kait-mengait antara koloid dan koagulan kemudian tumbuh menjadi mikroflok
lalu makroflok yang terus membesar, berat, dan padat.

Literatur yang lain menyatakan bahwa koagulasi adalah pemberian kation


(bermuatan positif) ke dalam air baku yang kaya koloid (permukaannya bermuatan
negatif) sehingga terjadi tarik-menarik yang akhirnya dapat menghilangkan
kestabilan koloid. Di sini terjadi perubahan koloid yang stabil menjadi koloid yang
tidak stabil (labil) lalu disertai proses pelekatan (penggumpalan, aglomerasi). Taraf
pelekatan ini pun bergantung pada intensitas pengadukan yang diukur dengan
parameter gradien kecepatan (velocity gradient) dan lamanya pengadukan. Korelasi
dua hal tersebut telah dirumuskan dalam formula kinetika oleh Camp & Stein dan
masih diterapkan sampai sekarang untuk mendesain unit mixing.

Dari persamaan di atas dapat diketahui bahwa gradien kecepatan bergantung pada
daya atau energi dissipasi atau energi yang dimasukkan (power input) ke dalam air,
kekentalan (viskositas) air, dan volumenya. Adapun nilai gradien kecepatan
koagulasi antara 250 1.500 per detik sedangkan pada flokulasi 10 100 per detik.
Nilai ini memang berbeda-beda dari satu buku ke buku lainnya, tetapi rentang
nilainya ada yang sama (beririsan). Satu lagi parameternya yang penting, yaitu nilai
[Link] dengan kisaran 30.000 60.000 (tanpa satuan) dan waktu detensinya (detention
time, td) = 60 120 detik. Karena air yang diolah sudah ditetapkan debitnya, maka
waktu detensinya dapat dihitung, yaitu V/Q. Apabila rasio daya dissipasi terhadap
volume airnya besar, maka gradien kecepatannya pun membesar sehingga sifat
aliran fluidanya menjadi makin turbulen. Makin besar nilai G, makin besar pula
adukan yang terjadi.

Bagaimana praktiknya di lapangan? Patut diakui bahwa kalkulasi di atas kertas,


walaupun sangat teliti secara teoretis, kerapkali tidak sesuai dengan kejadian di
lapangan, bahkan sering berbeda dengan fenomena di laboratorium (skala lab). Ini
disebabkan oleh banyak hal yang terus berubah kondisinya sehingga berpengaruh
pada koagulasi. Hal-hal ini, selain faktor intensitas pengadukan dan tingkat
turbulensinya, ialah:
a. Derajat keasaman air (pH) dan alkalinitas. Koagulasi akan berlangsung dengan
baik apabila berada pada rentang pH optimum untuk koagulan masing-masing.
b. Tingkat kekeruhan air baku. Makin keruh air bakunya, makin banyak kebutuhan
koagulannya.
c. Dosis dan karakteristik koagulan. Dosis berkaitan dengan taraf kekeruhan air baku
dan karakteristik koagulan yang digunakan.
d. Mode pengadukan. Telah disebut di atas, intensitas pengadukan yang tepat dan
cepat akan meratakan sebaran koagulan ke seluruh bagian air.
e. Temperatur air. Koagulasi berlangsung relatif lambat pada temperatur rendah.

Namun demikian, pendekatan teoretis yang meskipun berbeda hasilnya dengan


praktik di lapangan masih dapat dijadikan acuan dalam mendesain unit mixer. Ini
jauh lebih baik daripada tidak ada acuan sama sekali. Selain itu, peran operator pun
ikut menentukan optimalisasi operasi mixing, termasuk kemampuannya dalam
menganalisis perubahan kondisi air baku di lapangan dan menginterpretasikan data
hasil jar test-nya di laboratorium kemudian melakukan cek dan atur ulang (resetting)
katup dan alat-alat mekanisnya.

Jar Test
Jar test ialah miniatur unit mixing, sekaligus unit sedimentasi atau klarifikasi Jar
Test yang berguna untuk menentukan kondisi operasi optimum pada sistem
pengolahan air bersih atau air limbah yaitu menentukan koagulan yang tepat dan
koagulan pembantu, dan jika dibutuhkan dosis kimia yang dibutuhkan untuk
koagulasi pada air tertentu. Prinsip dari Jar Test adalah proses koagulasi, flokulasi,
dan sedimentasi. Selama proses berlangsung dilakukan penyesuaian pH, jenis dan
dosis koagulan, serta kecepatan pengadukan.

Prinsipnya, zat kimia yang dapat digunakan sebagai koagulan (dalam jar test dan
praktik di lapangan) adalah semua yang kationnya bervalensi dua atau lebih dan
kuat sifat elektrolitnya seperti Fe (ferrum, besi) dan Al (aluminum). Yang umum
dan sudah dijual luas ialah aluminum dan derivatnya: aluminum sulfat (tawas
(Al2(SO4)3.18H2O) dan Polyaluminum Chloride (PAC). Dari jenis besi antara lain
fero sulfat (Fe(SO4)) dan feri klorida (FeCl3). Apabila koagulan, misalnya alum dan
derivatnya, dimasukkan ke dalam air, maka akan terjadi disosiasi dan hidrolisis,
kemudian polimerisasi.

Yang berperan dalam destabilisasi koloid pada reaksi di atas adalah kation Al3+. Di
dalam campuran air dan koagulan (mixed liquor), molekul Al(OH)3 yang wujudnya
padat atau presipitat dapat berfungsi sebagai inti flok (nucleus), sedangkan ion
kompleksnya, Al(H2O)4(OH)2)4+ berfungsi sebagai tali atau rumbai yang
menghubungkan partikel satu dengan yang lainnya. Pada tabel 1 diberikan
fenomena koagulasi dan tahap-tahapnya sampai tercapai flok yang berat (flokulasi
peri dan ortokinetik). Adapun gambar 2 berisi urutan fenomena koagulasi flokulasi
dengan polimer yang digambarkan seperti benang (tali) berjumbai (rumbai) yang
siap menangkap partikel koloid. Partikel yang labil terus bergabung membentuk
flok yang lebih besar dan begitu seterusnya.

Sesuai dengan namanya, di unit ini terjadi pengadukan dengan intensitas rendah atau
lambat dengan gradasi menurun. Unit ini pun sering disebut flokulator dan fungsinya
untuk meningkatkan jumlah kontak antarpartikel yang sudah dikoagulasi dengan cara
pengadukan (agitation) yang gradien kecepatannya makin lambat dan waktunya lebih
lama dibandingkan dengan rapid mixing. Selama agitasi ini mikroflok berkembang
menjadi makroflok yang berat sehingga mudah mengendap. Kerapkali terjadi, karena
pertumbuhan floknya begitu cepat, endapannya sudah menumpuk di bagian akhir
flokulator sebelum masuk ke unit sedimentasi (klarifikasi). Tentu saja endapan di
flokulator ini tidak diharapkan karena fungsinya hanya sebagai penumbuh flok. Oleh
sebab itu, unit flokulator hendaklah dilengkapi dengan pipa penguras (drain pipe) agar
mudah dibersihkan.

Seperti pada rapid mixing, ada beberapa cara yang dapat diterapkan untuk dijadikan mode
flokulator, yaitu cara hidrolis dan mekanis. Kekecualiannya adalah pada cara pneumatis,
sebab tidak bisa (sulit sekali) diterapkan lantaran agitasinya sangat tinggi sehingga gradien
kecepatannya pun tinggi yang menyulitkan pertumbuhan flok. Dua cara di atas, yaitu
hidrolis dan mekanis, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga
pilihan yang tepat bergantung pada sejumlah pertimbangan seperti kualitas air baku, debit
yang diolah, energi potensial (berkaitan dengan aliran secara gravitasi), tenaga operator,
biaya investasi, operasi dan perawatannya. Bisa juga didasarkan pada pertimbangan
penyediaan sarana penelitian untuk perkembangan ilmu dan teknologi pengolahan air.
Untuk poin terakhir ini, barangkali peran PDAM perlu lebih ditingkatkan sehingga
memiliki laboratorium lapangan tentang pengolahan air.

Apapun jenis atau tipenya, flokulasi selalu dipengaruhi oleh kriteria desain yang diadopsi.
Begitu juga, pada satu jenis flokulator dapat saja dibuat beberapa macam modus operasi.
Misalnya, pada tipe hidrolis, modusnya bisa bermacam-macam, seperti helikal, naik-
turun, berkelok, flokufiltrasi, dll. Meskipun demikian, umumnya ada dua mekanisme
utama dalam flokulasi, yaitu perikinetik dan ortokinetik. Perikinetik terjadi karena
gerakan random termis (thermal) molekul air yang efektif terjadi pada partikel berukuran
1 s.d 2 mikron. Ortokinetik dipengaruhi oleh gradien kecepatan, gerak air atau energi
dissipasi yang diberikan ke dalam air. Mekanisme kedua adalah fenomena utama dalam
pengolahan air. Selain itu, gerakan zigzag dan kecepatan yang variatif menyebabkan
tabrakan atau benturan antarpartikel atau flok sehingga bisa juga menyebabkan
penggumpalan (agregasi flok) seperti terjadi pada sludge blanket atau upflow solid contact
clarifier.

Mekanisme benturan antarpartikel ini dijelaskan oleh teori Smoluchowski (1916) yang
modelnya dapat dianalisis dengan diferensial-integral yang menghasilkan simpulan
bahwa jumlah tabrakan bergantung pada jumlah partikel, gradien kecepatan, dan diameter
partikel. Hubungan serupa, yakni masih berkaitan dengan jumlah partikel dan gradien
kecepatannya, dinyatakan oleh Camp & Stein dengan formula seperti yang ditulis pada
artikel sebelumnya. Selanjutnya Camp mengemukakan bahwa konsentrasi dan ukuran
flok dipengaruhi oleh gradien kecepatan dan waktu. Gradien kecepatan yang tinggi dapat
merusak flok yang telah terbentuk menjadi mikroflok atau bahkan menjadi partikel koloid
lagi.

Dalam flokulasi jumlah partikel yang berbenturan atau tabrakan merupakan langkah awal
pembentukan flok dan merupakan fungsi dari gradien kecepatan dan waktu detensi.

Dalam bahasan selanjutnya diberikan beberapa jenis flokulator yang banyak dibuat di
PDAM dan ada juga yang baru dalam skala pilot atau bahkan skala laboratorium di
perguruan tinggi. Buku Theory and Practice of Water and Wastewater Treatment karya
Ronald Droste (1997) menguraikan dengan cukup lengkap beberapa flokulator yang sudah
diterapkan, minimal dalam skala pilot. Beberapa di antaranya diberikan di bawah ini.

Paddle flocculator. Jenis ini biasanya untuk instalasi berkapasitas sangat besar dengan
kualitas air permukaan yang fluktuatif. Setiap ruangnya berisi paddle yang jumlahnya
bervariasi, bergantung pada nilai G yang diinginkan terjadi di dalam pengolahannya. Unit
ini ada yang paddle-nya searah dengan aliran air dan ada juga yang tegak lurus terhadap
arah aliran air. Kedalaman ruang atau kompartemennya juga ada yang sama atau datar dan
ada yang makin dalam atau menurun dengan kemiringan tertentu. Biaya investasi, operasi,
dan perawatannya sangat mahal, sarat dengan teknologi sehingga hanya cocok untuk kota
besar.

Pipe flocculator. Ini termasuk jenis yang jarang diterapkan di PDAM atau malah belum
ada yang menerapkannya. Pipa yang dijadikan flokulator ini dapat dibentuk dengan pola
apa saja, apalagi kalau yang digunakan adalah pipa yang elastis, misalnya berbahan
HDPE. Jenis yang "menantang" untuk diterapkan di PDAM adalah flokulator pilin
(Helical Flocculator, MAM edisi Desember 2006). Malah bentuknya, seperti ditulis dalam
MAM edisi tersebut, dapat memperindah instalasi agar tidak kaku dan "menjemukan".
Unit yang dalam skala laboratorium sudah dijadikan objek penelitian di perguruan tinggi
ini menghasilkan kinerja yang memuaskan.
Berikutnya adalah Upflow Solid Contact Clarifier. Di dalam unit ini terjadi tiga macam
proses operasi, yaitu rapid mixing, slow mixing, dan klarifikasi. Pada bagian klarifikasi
timbul lapisan lumpur (sludge blanket) sehingga dapat menghalangi dan menangkap
mikroflok. Kesulitan unit ini adalah pada proses penumbuhan lapisan lumpur dan
menjaganya agar tetap stabil ketika dibersihkan. Yang masih tergolong flokulator hidrolis
adalah Alabama Flocculator. Kali pertama unit ini dibuat di Alabama dan sukses
diterapkan di Amerika Latin. Pebble Bed Flocculator. Ini termasuk yang unik dalam
pengolahan air. Flokulasi terjadi di dalam rongga antarbutir kerikil, mirip dengan filtrasi.
Hanya saja, media butirnya jauh lebih besar daripada media filter, bahkan lebih besar
daripada roughing filter. Mekanisme alirannya mengikuti formula yang biasa diterapkan
dalam desain dan operasi filter konvensional, khususnya rapid sand filter.

Ada satu lagi yang termasuk hidrolis yaitu Surface Contact Flocculator. Bermula dari
India, unit ini lebih diarahkan untuk mengolah air berdebit kecil. Kesulitan operasi pada
pebble bed flocculator berupa sumbatan (clogging), tidak terjadi pada unit ini. Terdiri atas
pelat dan sekat yang dipasang zigzag atau selang-seling untuk mendapatkan proses
pengadukan, model flokulator ini menunggu untuk diteliti dalam skala laboratorium
maupun pilot. Yang terakhir adalah Baffled Channel. Jenis ini adalah flokulator yang
relatif banyak di PDAM, baik yang aliran airnya turun-naik maupun yang berkelok.

II. MAKSUD DAN TUJUAN


1. Menentukan tujuan pengadukan (mixing)
2. Menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi pengadukan (mixing)
3. Menentukan dosis koagulan optimum

III. DATA HASIL PENGAMATAN


Dari praktikum, diperoleh data kekeruhan sebesar 222 NTU dan pH sebesar 6.41.

Lalu, dilakukan perhitungan dan diperoleh efisiensi dari setiap dosis koagulan yang dapat
dilihat pada table berikut.
Tabel 3.1 Pengukuran Efisiensi Koagulan pada Setiap Sampel

IV. HASIL ANALISIS


Saat praktikum, semula dipersiapkan terlebih dahulu sampel air sebanyak 500
ml ke lima buah beaker glass. Lalu, dilakukan pula pencatatan pH dan kekeruhan awal
untuk nantinya dibandingkan dengan keadaan akhir. Setelah itu, dilakukan
penambahan koagulan berupa tawas, Aluminium Sulfat (Al2(SO4)3), ke masing-
masing beaker glass dengan dosis yang bervariasi. Saat koagulan dimasukkan ke dalam
air, maka akan terjadi disosiasi dan hidrolisis, kemudian polimerisasi. Prinsipnya, zat
kimia yang dapat digunakan sebagai koagulan (dalam jar test dan praktik di lapangan)
adalah semua yang kationnya bervalensi dua atau lebih dan kuat sifat elektrolitnya
seperti Fe (ferrum, besi).
Pada percobaan ini dosis koagulan yang dibubuhi adalah 1 mL, 1,5 mL, 2 mL,
2,5 mL,3 mL, dan 3,5 mL ke untuk lima beaker glass tersebut. Setelah selesai, lima
beaker glass itu pun ditaruh ke dalam alat jar test. Jar Test digunakan untuk mengetahui
proses koagulasi - flokulasi dalam sistem pengolahan air limbah dan menentukan dosis
zat kimia yang tepat untuk mengolah air limbah tersebut sehingga dapat dikatakan
layak dalam pengolahannya atau memenuhi baku mutu yang berlaku dalam pengolahan
air limbah
Pengadukan menggunakan jar test bertujuan untuk mempercepat kontak antara
kandungan suspensi (koloid) dalam air dengan koagulan yang ditambahkan. Kontak
tersebut diharapkan akan membentuk flok yang akan mengendap akibat gaya beratnya
sendiri, proses ini dikenal dengan flokulasi. Karenanya stabilitas suspensi yang
menyebabkan tumbukan antara partikel tersuspensi yang terjadi akan menghasilkan
sedimentasi. Reaksi untuk menghasilkan flok tersebut adalah :
Al2 SO4 3 14 2 3CaC 3 2 2 Al 3 3CaSO4 14 2 6CO2

Semula, jar test dioperasikan pada kecepatan pengaduk 100 rpm selama 60
detik, proses ini biasa disebut mixing/pengadukan cepat. Tujuan dari pengadukan cepat
ini yaitu menghasilkan dispersi yang seragam dari partikel-partikel koloid dan untuk
meningkatkan kesempatan partikel untuk kontak dan bertumbukan satu sama lain. Lain
halnya dengan pengadukan lambat, di mana prosesnya dilakukan selama 10 menit dan
dilakukan tepat setelah pengadukan cepat selesai. Pengadukan lambat ini berujuan
untuk menggumpalkan partikel-partikel terkoagulasi berukuran mikro menjadi
partikel-partikel flok yang lebih besar. Flok-flok ini kemudian akan beragregasi dengan
partikel-partikel tersuspensi lainnya. Dengan dilakukannya pengadukan lambat, jarak
antar partikel pun akan semakin pendek sehingga gaya tarik menarik antar partikel
menjadi lebih besar dan dominan dibanding gaya tolaknya, yang menghasilkan kontak
dan tumbukan antar partikel yang lebih banyak dan lebih sering. Kontak inilah yang
kemudian menggumpalkan partikel-partikel padat terlarut terkoagulasi berukuran
mikro menjadi partikel flok yang lebih besar. Ketika pertumbuhan flok sudah cukup
maksimal massa dan ukurannya, flok-flok ini akan mengendap ke dasar reservoir
sehingga terbentuk dua lapisan yaitu lapisan air jernih pada bagian atas reservoir dan
lapisan endapan flok yang menyerupai lumpur pada dasar gelas. Namun jika
pengadukan terlalu lambat, pengikatan akan berlangsung tidak tepat sasaran sehingga
flok yang terbentuk juga sedikit dan akibatnya proses penjernihan tidak maksimal.
Demikian halnya jika pengadukan berlangsung terlalu cepat, maka kemungkinan flok
yang terbentuk akan terurai kembali.
Setelah proses pengadukan selesai, beaker glass pun didiamkan selama 10 menit
sehingga terjadi sedimentasi. Selanjutnya, diukut pH dan kekeruhan air setiap sampel
beaker glass . Tujuan dari pengamatan indikator kekeruhan tersebut adalah untuk Commented [astri1]:

mengetahui rentang koagulan pada dosis koagulan yang berbeda-beda sehingga dapat
diturunkan menjadi grafik hubungan antara dosis koagulan dengan tingkat kekeruhan
air sampel.
Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan pHmeter, yaitu
kondisi air yang jangan sampai bergejolak karena dapat mengganggu pengendapan dan
pembentukan flok. Juga, perlu diperiksa tingkat kekeruhan sampel air. Jangan
mengambil sampel air terlalu dasar karena flok-flok yang terbentuk akan terhisap
sedangkan apabila dipermukaan maka materi tersuspensi yang mengambang akan
terhisap ke pipet.
Pada akhir praktikum, diketahui nilai pH mengalami penurunan dari pH awal.
Hal ini tentunya terjadi karena koagulan tawas bersifat asam dengan rentang 4.5-8.0.
Diketahui pula nilai kekeruhan yang terukur setelah dilakukan pengadukan pun
menurun karena zat-zat suspensi yang menyebabkan air keruh telah terendapkan dan
terpisah dari sampel air sehingga air menjadi lebih jernih dibandingkan dengan
sebelum diaduk. Pada saat pengukuran kekeruhan menggunakan turbidimeter,
permukaan luar kuvet turbidimeter harus dibersihkan agar pembacaan kekeruhan dapat
terukur secara akurat. Setelah mendapatkan nilai tingkat kekeruhan pada masing-
masing variasi data diubuat grafik hubungan efisiensi (%) dan dosis koagulan sehingga
akan didapatkan dosis optimum koagulan yang perlu ditambahkan ke dalam sampel air
untuk menjernihkan sampel air tersebut.

i ii iii
iv v vi
Gambar 4.1 Sampel air pada saat pengadukan lambat dengan dosis koagulan i-vi
adalah 10 mg, 20 mg, 30 mg, 40 mg, 50 mg, dan 60 mg

Setelah melalui pengadukan lambat, sampel air yang diberi koagulan 60 mg lebih cepat
terjadinya pembentukan flok dan flok yang terbentuk terlihat lebih besar/kasar. Hal itu
dikarenakan koagulan dan suspensi yang ada di dalam sampel ini lebih banyak yang
berikatan/bereaksi dibandingkan pada sampel air lainnya yang diberi konsentrasi
koagulan yang lebih sedikit.

i ii iii

iv v vi
Gambar 4.2 Sampel air tepat setelah pengadukan (mixing) dengan dosis koagulan i-
vi adalah 10 mg, 20 mg, 30 mg, 40 mg, 50 mg, dan 60 mg

Seiring dengan bertambahnya dosis koagulan, dapat diperhatikan bahwa sampel air
semakin jernih, dari sampel yang sedikit tawas sampai sampel yang paling banyak
tawas. Namun pada sampel air yang diberi koagulan 40 mg terlihat lebih jernih
dibandingkan dengan sampel air yang diberi koagulan 50 mg. Hal ini terjadi karena
kesalahan praktikan saat menambahkan koagulan ke dalam sampel air. Koagulan yang
ditambahkan lebih banyak dari yang seharusnya yaitu 40 mg sehingga suspensi yang
berikatan dengan koagulan lebih banyak dan air menjadi lebih jernih.

i ii iii

iv v vi
Gambar 4.3 Sampel air setelah pengadukan dan ditunggu 10 menit dengan dosis
koagulan i-vi adalah 10 mg, 20 mg, 30 mg, 40 mg, 50 mg, dan 60 mg
Setelah didiamkan selama 10 menit, dapat diperhatikan bahwa mulai terjadi
sedimentasi. Sampel air dengan koagulan 10 mg masih sangat keruh dan sampel air
semakin jernih dengan semakin banyaknya koagulan yang ditambahkan ke dalam
sampel air. Sampel air yang sudah didiamkan selama 10 menit pun terlihat lebih jernih
daripada yang tidak didiamkan karena terjadi pengendapan zat-zat tersuspensi yang
bereaksi membentuk flok selama pengadukan yang semakin besar massanya sehingga
lambat laun akan turun ke dasar gelas .

Gambar 4.4 Grafik Penentuan Dosis Optimum Koagulan

Dari data yang kita peroleh, kita dapat menentukan dosis optimum setelah membuat
grafik hubungan efisiensi (%) dengan dosis koagulan yang ditambahkan ke dalam
sampel air. Dapat disimpulkan, dosis optimum koagulan tawas untuk sampel air yang
digunakan adalah 60 ml karena menghasilkan nilai efisiensi paling besar dan juga
diperkuat dengan koefisien determinan R2 = 0,999 yang menunjukan efisiensi dan dosis
koagulan memiliki hubungan satu sama lain. Adapun yang dimaksud dosis optimum
adalah dosis terbaik suatu koagulan untuk membentuk flok-flok sehingga tingkat
kekeruhan suatu air baku memenuhi standar peraturan pengolahan air.

Tabel 4.2 Parameter Fisik Kualitas Air


(Sumber : Permenkes Nomor 492/Menkes/PER/IV/2010)

Namun dapat diketahui dari data yang diperoleh nilai kekeruhan sampel air setelah
melalui mixing yang didapat semuanya melebihi ambang batas yang ditetapkan dalam
Permenkes Nomor 492/Menkes/PER/IV/2010 yaitu 5 NTU untuk air minum dan 25
NTU untuk air bersih sehingga sudah jelas sampel air ini tidak bisa digunakan untuk
konsumsi biasa ataupun kebutuhan air sehari hari, sehingga perlu dilakukan
pengolahan air lanjutan. Sementara itu pH sampel air yang dihasilkan sudah berada di
bawah batas baku persyaratan kualitas ar minum (pH = 6,5 - 8,5) dan air bersih (pH =
6,5 - 9,5) yang diizinkan, sehingga sudah tidak perlu melalui pengolahan untuk pH.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses mixing adalah daya yang digunakan,
metode pengadukan, kecepatan pengadukan, dan waktu pengendapan. Daya yang
digunakan dalam proses pengadukan akan berpengaruh pada proses pengadukan.
Apabila dayanya besar, maka proses mixing dapat berlangsung lebih cepat, sehingga
tentu saja bisa berlangsung lebih efisien pula. Selanjutnya adalah kecepatan
pengadukan, semakin lambat kecepatan pengadukan maka semakin banyak inti-inti
flok yang saling bersentuhan, sehingga semakin besar pula flok yang terbentuk, Namun
jika pengadukan terlalu lambat, pengikatan akan berlangsung tidak tepat sasaran
sehingga flok yang terbentuk juga sedikit dan akibatnya proses penjernihan tidak
maksimal. Kemudian adalah waktu pengendapan, semakin optimum waktu
pengendapan maka jumlah flok yang terbentuk dan diendapkan akan semakin
optimum.

Pengaruh bentuk flok terhadap unit sedimentasi dan unit pengolahan lumpur dari
suatu pengolahan air bersih adalah semakin besar ukuran flok maka semakin banyak
flok-flok yang mengendap, semakin banyak flok-flok yang pengendap maka semakin
banyak jumlah flok yang berbentuk lumpur yang dapat dikeringkan secara
sentrifugal/pressure. Semakin banyak lumpur yang dikeringkan semakin banyak
lumpur yang bisa dimanfaatkan kembali sebagai sanitary landfill dengan kata lain
efisiensi semakin tinggi.

Pada saat percobaan dapat terjadi kesalahan-kesalahan praktikan sehingga


menyebabkan data menjadi kurang valid seperti pada saat pengukuran pH
menggunakan pHmeter dilakukan dengan cepat sehingga nilai yang terukur tidak
akurat, pengambilan air sampel yang kurang hati-hati sehingga menyebabkan partikel
padat ikut terambil ke dalam kuvet dan meningkatkan nilai kekeruhan, botol kuvet
tidak bersih sehingga ada bercak yang di dinding luarnya yang kemudian terhitung
sebagai absorban dan meningkatkan pembacaan nilai kekeruhan sehingga data tidak
akurat. Kemudian kesalahan dapet terjadi juga pada saat pemberian tawas yang
berlebihan ataupun kurang dari dosis yang harusnya ditambahkan sehingga terjadi
reaksi koagulan dan suspense dalam sampel yang tidak diinginkan.

Dalam proses pengolahan di bidang Teknik Lingkungan proses mixing dilakukan pada
instalasi pengolahan air minum ataupun air limbah. Proses ini sangat penting karena
menyangkut pada perataan konsentrasi kandungan dalam air olahan dan percepatan
kontak antar zat yang dimaksudkan untuk membentuk reaksi kimia maupun biokimia,
sehingga air yang sudah diolah pun dapat dikatakan layak dalam pengolahannya atau
memenuhi baku mutu yang berlaku.
V. KESIMPULAN
1. Mixing yang dilakukan pada proses pengolahan air ditujukan untuk
memisahkan partikel-partikel tersuspensi penyebab kekeruhan dari dalam
air untuk memeroleh air yang jenih yang sesuai dengan baku mutunya.
2. Terdapat beberapa factor yang memengaruhi proses mixing, di antaranya
kecepatan pengadukan, daya, metode pengadukan, waktu pengadukan,
pH, gradient kecepatan, suhu, komposisi kimia sampel air, dan
konsentrasi koagulan.
3. Dosis koagulan optimum yang diperlukan untuk menjernihkan sampel air
pada praktikum Kamis (22/09/2017) adalah sebanyak 60 mg. Namun,
bisa jadi lebih dari 60 mg tetapi kita tidak bisa menentukan Karena kita
tidak melakukan percobaan penambahan koagulan lebih dari 60 mg.

VI. DAFTAR PUSTAKA

Hendricks, David W. 2006. Water Treatment Unit Process: Physical and


Chemical. CRC Press. Florida.
Coulson & Richardson.1983. Chemical Engineering, vol. 6. 1st edition,
pergamon press, Great Britain.
Mc. Cabe,W.L. 1993 Unit Operation of Chemical Engineering,3rd edition,
McGraw Hill Book Co., New York.
AWWA. 2012. Operational Control of Coagulation and Filtration Processes
3rd Edition. American Water Works Association.
LEMBAR PENGUMPULAN

PRAKTIKUM PFK TL 3101

MODUL MIXING

Oleh

SITTI MAULUDY KHAIRINA

NIM : 15315078

Asisten Praktikum : TIA WIDYA PUTERI

Tanggal Praktikum : 22 September 2017

Tanggal Laporan : 29 September 2017

PESERTA ASISTEN PENERIMA LAPORAN

(Sitti Mauludy Khairina) (Tia Widya Puteri)

Anda mungkin juga menyukai