0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
634 tayangan20 halaman

Efisiensi Operasi Size Reduction

Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka mengenai operasi size reduction. Terdapat penjelasan mengenai klasifikasi alat size reduction berdasarkan ukuran produk, operasi size reduction meliputi penggerusan dan faktor yang mempengaruhinya, jenis alat penggerusan, serta hukum-hukum energi penggerusan seperti Hukum Rittinger dan Kick. Tujuan percobaan adalah untuk mengukur energi yang dibutuhkan dalam proses size reduction den

Diunggah oleh

elsa astanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
634 tayangan20 halaman

Efisiensi Operasi Size Reduction

Bab ini membahas tentang tinjauan pustaka mengenai operasi size reduction. Terdapat penjelasan mengenai klasifikasi alat size reduction berdasarkan ukuran produk, operasi size reduction meliputi penggerusan dan faktor yang mempengaruhinya, jenis alat penggerusan, serta hukum-hukum energi penggerusan seperti Hukum Rittinger dan Kick. Tujuan percobaan adalah untuk mengukur energi yang dibutuhkan dalam proses size reduction den

Diunggah oleh

elsa astanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Size reduction adalah satu operasi untuk memperkecil ukuran suatu partikel
dengan memperhalus bentuk produk atau sekedar menjadikannya lebih kecil
sesuai ukuran yang diinginkan. Operasi size reduction bisa dilakukan dengan cara
penumbukan atau penggilingan. Pengoperasian unit size reduction senantiasa
dibutuhkan pada industri kimia dan mineral untuk menyesuaikan bahan dengan
spesifikasi alat atau menyesuaikan spesifikasi produk yang akan dipasarkan.
Ditinjau dari sisi yang lain, pengoperasian unit size reduction dalam industri kimia
dan mineral sering mengakibatkan biaya tinggi karena operasi yang kurang efisien.
Hal ini disebabkan adanya sifat fisis dari beban yang beranekaragam. Faktor lain
yang mengakibatkan size reduction tidak efisien adalah kebutuhan energi untuk
membentuk permukaan baru. Berdasarkan uraian ini, perlu dilakukan percobaan
untuk mengetahui kondisi operasi optimal suatu operasi size reduction.

1.2. Rumusan Masalah


Size reduction dipandang tidak efisien dari beberapa segi, salah satunya
adalah jumlah energi yang dibutuhkan untuk mendapatkan ukuran partikel sesuai
keinginan. Dalam percobaan ini dilakukan pengukuran dan perhitungan besarnya
jumlah energi yang dibutuhkan dalam proses size reduction dengan menerapkan
beberapa persamaan yang sudah ada.

1.3. Tujuan Percobaan


1. Mampu melakukan pengukuran partikel dengan metode sieving.
2. Mampu mengukur daya (energi) yang terpakai pada size reduction dengan
kapasitas yang berbeda-beda.
3. Mampu menghitung reduction ratio untuk bahan yang berbeda-beda.
4. Mampu menerapkan Hukum Kick dan Rittinger dan menghitung indeks kerja.
5. Mampu menghitung power transmission factor (energi penggerusan).
6. Mampu membuat laporan praktikum secara tertulis.
7. Mengkaji Hukum Kick dan Rittinger dengan cara membandingkan energi
yang dibutuhkan untuk operasi size reduction secara teoritis dan percobaan.

1
1.4. Manfaat Percobaan
1. Memahami dan mengetahui cara menghitung besarnya reduction ratio, daya,
dan energi penggerusan dengan ukuran partikel yang berbeda-beda.
2. Mampu menerapkan Hukum Kick dan Rittinger dan menghitung indeks kerja
dalam percobaan.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Unit operasi size reduction adalah satu operasi untuk memperkecil ukuran suatu
partikel dengan memperhalus bentuk produk atau sekedar menjadikannya lebih kecil
sesuai ukuran yang diinginkan. Operasi size reduction bisa dilakukan dengan cara
penumbukan atau penggilingan (Agrawal, 2007). Unit operasi size reduction biasanya
digunakan untuk menyesuaikan ukuran bahan baku agar sesuai dengan alat proses atau
menyesuaikan produk sesuai kebutuhan pasar.

2.1. Klasifikasi Alat Size Reduction Berdasarkan Ukuran Produk


a. Crusher
Alat size reduction yang memecahkan bongkahan padatan yang besar menjadi
bongkahanbongkahan yang lebih kecil, dimana ukurannya sampai batas
beberapa inch.
Primary crusher
Mampu beroperasi untuk segala ukuran feed. Produk yang dihasilkan
mempunyai ukuran 610 inch.
Secondary crusher
Mampu beroperasi dengan ukuran feed, seperti di produk primary crusher
dengan ukuran /4 inch.
b. Grinder
Alat ini beroperasi untuk memecah bongkahan yang dihasilkan crusher,
sehingga bongkahan ini menjadi [Link] intermediate grinder, produk
yang dihasilkan 40 mesh. Ultrafine grinder hanya dapat menerima ukuran
feed lebih kecil /4 mesh.
c. Cutter
Alat ini mempunyai cara kerja yang berbeda dengan size reduction sebelumnya.
Pada cutter ini, cara kerjanya dengan memotong. Alat ini dipakai untuk produk
ulet dan tidak bisa diperkecil dengan cara sebelumnya. Ukuran produk 2-10
mesh.
Operasi size reduction sering digunakan pada indusriindustri yang
memerlukan bahan baku dalam ukuran tertentu dan produk dalam ukuran tertentu,
misalnya industri semen, batu bara, pertambangan, pupuk, keramik, dll. Pemilihan
jenis alat yang digunakan biasanya berdasarkan ukuran feed pada produk, sifat
bahan, kekerasan bahan, dan kapasitasnya.

3
Energi yang dibutuhkan untuk operasi size reduction sangat bergantung
dari ukuran partikel yang [Link] kecil partikel, maka makin besar
energi yang dibutuhkan.

2.2. Operasi Size Reduction


2.2.1. Operasi Penggerusan
Penggerusan atau Comminution adalah istilah yang umum
digunakan pada operasi size reduction yang biasanya menggunakan
crusher atau grinder atau alat-alat penggerus lainnya. Alat penggerusan
dikatakan ideal bila memenuhi syarat syarat berikut :
a. Mempunyai kapasitas operasi yang besar
b. Membutuhkan Power input yang kecil per satuan produk
c. Produk yang dihasilkan seragam atau mampu memenuhi distribusi
ukuran yang diinginkan

Operasi alat penggerusan yang ideal sangatlah sulit didapat karana


satuan produk yang dihasilkan tidak akan pernah seragam dengan variasi
ukuran umpan masuk. Produk selalu terdiri atas campuran partikel dengan
rentang antara ukuran terbesar yang diinginkan hingga yang paling kecil
([Link],1993).

2.2.2. Faktor faktor yang Mempengaruhi Operasi Size Reduction


Berdasarkan Sifat Alami Material
Penentuanan jenis mesin dalam operasi penggerusan didasarkan pada
faktor sifat alami material yang ditangani. Antara lain :
a. Hardness : Mempengaruhi kebutuhan tenaga pemakaian mesin. Sifat
hardness suatu material disusun berdasarkan skala Mohr.
b. Structure : Struktur material granular lebih mudah daripada material
berwujud serat.
c. Moisture Content : Kandungan air dalam material sebesar 5-50% akan
menyebabkan terjadinya cake dan menghambat aliran material.
d. Crushing Strength : Power yang dibutuhkan suatu alat akan sebanding
dengan crushing strength suatu material.
e. Friability : Material yang rapuh akan mudah pecah sebelum
penggerusan dan akan mempengaruhi distribusi ukuran produk.
f. Stickiness : Material yang lengket akan menyumbat pesawat operasi.

4
g. Soapiness : Pengukuran berdasarkan koefisien gesekan permukaan
material. Koefisien gesekan yang kecil akan mengakibatkan operasi
penggerusan sulit dioperasikan
h. Explosive Material : Material tidak boleh banyak mengandung inert
atmosphere
i. Materials yielding dusts that are harmful to the health : Material yang
membahayakan kesahatan harus dioperasikan di tempat yang aman
lingkungan

2.2.3. Alat-Alat Penggerusan


Klasifikasi alat alat penggerusan diberikan berdasarkan tipe-tipe mesin
yang baik dalam pengoperasian tiap stage ukuran produk. Ada tiga step
dalam pengoperasian size reduction :
a. Coarse size reduction : umpan sebesar 2 96 inch atau lebih.
b. Intermediate size reduction : umpan sebesar 1 3 inch.
c. Fine Size Reduction : umpan sebesar 0,25 sampai 0,5 inch.

(Brown, 1979)
Tabel 2.1 Tipe Alat Penggerus Berdasarkan Klasifikasi Operasi
Coarse Crushers Intermediate Crushers Fine Crushers
Stag Jaw Crushers Disc Crushers Buhrstone Mill
Dodge Jaw Crushers Edge Runner Mill Roller Mill
Gyratory Crushers Hammer Mill NEI Pendulum Mill
Other Coarse Single Roll Griffin Mill
Ring Roller Mill
Pin Mill
(Lopucko)
Symons Disc Ball Mill
Tube Mill
Hardinge Mill
Babcock Mill

2.3. Hukum-hukum Energi Penggerusan


Energi yang dibutuhkan untuk operasi size reduction sangat bergantung dari
ukuran partikel yang [Link] kecil partikel, maka makin besar energi
yang dibutuhkan.
2.4.1. Hukum Rittinger

5
Rittinger beranggapan bahwa besarnya energi yang diperlukan untuk
size reduction berbanding lurus dengan luas permukaan baru yang
dihasilkan. Luas permukaan spesifik yang dihasilkan akan sebanding
dengan ukuran partikel, sehingga dirumuskan persamaan dalam bentuk :
1 1
= ( )

E : Energi penggerusan
K : Konstanta Rittinger
Di : Diameter rata-rata umpan
di : Diameter rata-rata produk
2.4.2. Hukum Kick
Kick beranggapan bahwa energi yang dibutuhkan untuk pemecahan
partikel zat padat adalah berbanding lurus dengan ratio dari feed dengan
produk. Secara matematis dinyatakan dengan:

= . log

E : Tenaga yang dibutuhkan untuk memecahkan partikel zat padat atau
feed
k : konstanta Kick
Di : diameter rata-rata feed
di : diameter rata-rata produk
Memecah partikel kubus berukuran lebih dari 1/2 inch adalah sama
besarnya dengan energi yang dibutuhkan untuk memecah partikel 1/2
inch menjadi 1/4 inch.

2.4. Pengertian Diameter


a. Trade Aritmathic Average Diameter (TAAD)
TAAD didefinisikan sebagai diameter ratarata berdasarkan jumlah
()
=

11 + 22 + +
=
1 + 2 + +


=1

/
= = = =
2

=1 2
=

=1
3

6
dimana,
Di : diameter partikel
Ni : jumlah partikel dengan diameter Di
Mi : massa total partikel dengan diameter Di
m : massa partikel dengan diameter Di
Vi : volume total partikel dengan diameter Di
C : konstanta yang harganya tergantung dari titik partikel, sehingga:
D3 adalah volume partikel untuk bola = a/b, kubus = 1
V : volume partikel dengan diameter Di
b. Mean Surface Diameter
Didefinisikan sebagai diameter rata rata berdasarkan luas permukaan jumlah
partikel x luas

= 2 ()
=1

= 1112 + 1222 + + 2 = ()2


1112 + 1222 + + 2
()2 =
(1 + 2 + + )
2

=
=1 =1

2
( 2 )

=
=1 = ( )
=1


=1
=

=1
2
= = 3

= ()3
=1

3 3
3
= () 3
=1 =1

=1
=

=1
3

dimana, B : konstanta yang harganya tergantung bentuk partikel, untuk bola B


= 2 dan untuk kubus B = 6.
c. Mean Volume Diameter
Didefinisikan sebagai diameter ratarata berdasarkan volume
Jumlah total = Ni. Vi = Ni . Ci. Di3 .n

7
= ()3 =1

3 3
3
= () 3
=1 =1

=1
=

=1
3

8
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1. Rancangan Pecobaan


3.1.1. Rancangan Praktikum
Untuk mencapai tujuan, praktikum dilakukan melalui 3 tahapan seperti
yang tersaji dalam gambar 3.1.

Gambar 3.1 Diagram blok langkah kerja


3.1.2. Penetapan Variabel
a. Variabel Tetap
Waktu pengayakan : 5 menit sampai konstan
b. Variabel Berubah
Ukuran dimensi umpan (cm) : 3x3x3; 4x4x4; 5x5x5
Berat umpan (gram) : 300; 400; 500; 600

3.2. Bahan dan Alat yang Digunakan


3.2.1. Alat yang Digunakan
Hammer mill
Alat sieving
Alat pengukur arus
Stopwatch
3.2.2. Bahan yang digunakan
Batu bata

9
3.3. Gambar Rangkaian Alat

Gambar 3.2 Alat Hammer Mill-Crusher Gambar 3.3 Alat Sieving

3.4. Prosedur Percobaan


1. Menyiapkan batu bata.
2. Melakukan pengukuran partikel bahan sebelum dimasukkan ke dalam
hammer mill.
3. Tentukan bukaan tutup feeder sesuai dengan kapasitas yang diinginkan,
usahakan jangan terlalu lebar supaya bahan yang masuk tidak terlalu besar.
4. Masukkan bahan ke dalam pesawat dalam jumlah tertentu sesuai variabel.
5. Ukur ampere atau daya yang terpakai dengan menggunakan ampere meter
pada waktu pesawat jalan sesuai variabel.
6. Kumpulkan hasil dan jumlah tertentu untuk diukur ukuran partikelnya.
7. Pengukuran dilakukan dengan standard sieving

10
BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Percobaan
Tabel 4.1.1 Reduction Ratio dan Grindability
Berat Diameter Waktu Diameter Reduction Grindability
(kg) Umpan (jam) Partikel Ratio (R) (Q)
Di (mm) di (mm) (kg/jam)
0.3 30 0.00389 0.08784 341.530 77.14286
40 0.00389 0.08725 458.453 77.14286
50 0.00444 0.08056 620.655 67.5
0.4 30 0.00444 0.08930 335.946 90
40 0.00444 0.0 8426 474.721 90
50 0.00556 0.07220 9000.000 72
0.5 30 0.00556 0.08912 336.625 90
40 0.00556 0.07526 531.491 90
50 0.00611 0.04594 1088.376 81.81818
0.6 30 0.00500 0.08750 342.857 120
40 0.00611 0.08642 462.856 98.18182
50 0.00667 0.08560 584.112 90

Tabel 4.2.1 Konstanta Kick dan Rittinger


Diameter
Energi Konstanta Konstanta
Berat (kg) Umpan
Penggerusan Kick Rittinger
(mm)
30 7776.36
0.3 40 8111.64 5762.477 1338.374
50 9267.48
30 8883.17
0.4 40 9283.80 8048.8 966.7919
50 11388.44
30 11315.57
0.5 40 11641.46 2507.965 116.0906
50 12570.11
0 10318.01
0.6 30 12738.37 15638.29 13554.2
40 13902.78

11
IV.2 Pembahasan
IV.2.1 Hubungan antara Energi Penggerusan dan Reduction Ratio
Reduction Ratio adalah perbandingan antara lubang ayakan/diameter umpan
dengan lubang ayakan/diameter produk. Sedangkan energi penggerusan adalah energi
yang dibutuhkan untuk membentuk patahan yang tersebar ke seluruh partikel yang
digerus pada bahan. Hubungan antara energi penggerusan dan reduction ratio dapat
dilihat pada Gambar 4.2.1:
16000.00

14000.00
Energi Penggerusan (J)

12000.00

10000.00

8000.00

6000.00

4000.00

2000.00

0.00
3x3x3 cm 4x4x4 cm 5x5x5 cm
Reduction Ratio
300 gr 400 gr 500 gr 600 gr

Gambar 4.2.1 Hubungan antara Reduction Ratio dengan Energi Penggerusan

Pada gambar 4.2.1 terlihat bahwa semakin besar reduction ratio maka energi
penggerusan akan semakin besar pula. Semakin besar diameter umpan untuk
masingmasing kapasitas feed akan berpengaruh pada semakin besarnya pula nilai
reduction ratio. Pernyataan ini sesuai dengan rumus:
()
=
()
Sedangkan besarnya energi penggerusan dipengaruhi oleh waktu penggerusan
Hammer Mill untuk mereduksi ukuran feed sesuai dengan persamaan:
= cos
dimana,
V : tegangan (volt)
I : arus listrik (ampere
T : waktu (jam) (Mc. Cabe, W.L. 1985)

Semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mereduksi ukuran feed maka
semakin besar pula energi penggerusan. Hal ini dikarenakan waktu yang dibutuhkan
semakin meningkat seiring dengan diameter umpan yang semakin besar dan juga

12
kapasitas yang semakin bertambah. Sedangkan diameter umpaan berbanding lurus
dengan besarnya nilai reduction ratio. Sehingga untuk menggerus dengan diameter
semakin besar dan kapasitas semakin besar dibutuhkan energi yang besar juga (Elisa,
2014).

IV.2.2 Hubungan Antara Energi Penggerusan Dengan Konstanta Kick


Kick beranggapan bahwa energi yang dibutuhkan untuk pemecahan partikel zat
padat adalah berbanding lurus dengan rasio umpan dengan produk (Esila,2014). Secara
matematis dinyatakan dengan :

= log

Hubungan antara energi penggerusan vs log Di/di untuk variabel berat umpan
300, 400, 500, dan 600 gram dapat dilihat pada gambar di bawah ini
10000.00
9000.00
Energi Penggerusan (J)

8000.00
7000.00 y = 5762.5x - 6957.6
6000.00 R = 0.913
5000.00
4000.00
3000.00
2000.00
1000.00
0.00
2.5 2.55 2.6 2.65 2.7 2.75 2.8 2.85
log (Di/di)

Gambar 4.2.2 Hubungan Antara Energi Penggerusan Dengan Konstanta Kick pada
Variabel 300 gram
12000.00
Energi Penggerusan (J)

10000.00
y = 8048.8x - 11727
8000.00 R = 0.8832

6000.00

4000.00

2000.00

0.00
2.5 2.55 2.6 2.65 2.7 2.75 2.8 2.85 2.9
log (Di/di)

Gambar 4.2.3 Hubungan Antara Energi Penggerusan Dengan Konstanta Kick pada
Variabel 400 gram

13
12800.00
12600.00 y = 2508x + 4912.5

Energi Penggerusan (J)


12400.00 R = 0.9796
12200.00
12000.00
11800.00
11600.00
11400.00
11200.00
11000.00
2 2.2 2.4 2.6 2.8 3 3.2
log (Di/di)

Gambar 4.2.4 Hubungan Antara Energi Penggerusan Dengan Konstanta Kick pada
Variabel 500 gram

16000.00
Energi Penggerusan (J)

14000.00
12000.00 y = 15638x - 29211
10000.00 R = 0.984
8000.00
6000.00
4000.00
2000.00
0.00
2.5 2.55 2.6 2.65 2.7 2.75 2.8
log (Di/di)

Gambar 4.2.5 Hubungan Antara Energi Penggerusan Dengan Konstanta Kick pada
Variabel 600 gram
Dari keempat grafik hubungan energi penggerusan dengan konstanta Kick diatas
melalui hubungan garis linear yaitu:

= log

Analog y = mx

Y = E dan x =

dimana,
E : energi penggerusan
K : konstanta Kick
Di : diameter umpan
di : diameter partikel
m : gradien garis

Dari persamaan tersebut diketahui bahwa konstanta Kick berbanding lurus


dengan energi penggerusan. Sedangkan energi penggerusan dipengaruhi oleh variable

14
waktu dimana semakin berat partikel umpan yang masuk maka waktu yang dibutuhkan
untuk penggerusan semakin lama yang mengakibatkan energi penggerusan semakin
tinggi. Hal ini sesuai dengan persamaan
= cos
dimana,
V : tegangan (volt)
I : arus listrik (ampere
T : waktu (jam) (Mc. Cabe, W.L. 1985)

Pada hasil percobaan, konstanta Kick terbesar terdapat pada variabel 600 gram
yaitu sebesar 15638. Sedangkan untuk variabel 300 gram, 400 gram, dan 500 gram
secara berturut-turut adalah 5762.477, 8048.8, dan 2507.965. Konstanta Kick dari
variabel berat umpan 300, 400, 500 dan 600 gram seharusnya berurutan dari kecil ke
besar. Namun pada praktikum kali ini Konstanta Kick di berbagai variabel
menunjukkan fenomena yang bervariasi. Hal ini dikarenakan peristiwa kehilangan
massa (loss mass) pada tahap sieving yang kurang dapat dijaga kestabilannya. Sehingga
massa produk sebelum dan sesudah sieving mengalami perubahan yang cukup
signifikan sehingga menyebabkan variasi dari Konstanta Kick pada setiap variabel
praktikum. Berdasarkan grafik hubungan antara konstanta Kick terhadap energi
penggerusan, didapatkan bahwa semakin kecil ukuran partikel (diameter produk) yang
diinginkan maka nilai energi penggerusan akan cenderung semakin besar. Hal ini
terjadi karena untuk mendapatkan ukuran partikel yang lebih kecil diperlukan energi
yang semakin besar pula karena energi yang diperlukan untuk size reduction
berbanding terbalik dengan diameter partikel yang diinginkan dan berbanding lurus
dengan konstanta Kick.

IV.2.3 Hubungan antara Konstanta Rittinger vs Energi Penggerusan


Rittinger beranggapan bahwa besarnya energi yang diperlukan untuk size
reduction berbanding lurus dengan luas permukaan baru yang dihasilkan. Luas
permukaan spesifik yang dihasilkan akan sebanding dengan ukuran partikel, sehingga
dirumuskan persamaan dalam bentuk:
1 1
= ( )

Dimana, E : Energi Penggerusan


K : Konstanta Rittinger
Di : Diameter Rata-rata Partikel

15
Di : Diameter Rata-Rata Feed
Hubungan antara Energi Penggerusan vs (1/di 1/Di) pada masing-masing variabel,
dapat dilihat pada gambar grafik berikut ini :
9400.00
y = 1338.4x - 7309.7
9200.00
R = 0.9799
Energi Penggerusan
9000.00
8800.00
8600.00
8400.00
8200.00
8000.00
7800.00
7600.00
11.2 11.4 11.6 11.8 12 12.2 12.4 12.6
(1/di)-(1/Di)

Gambar 4.2.6 Hubungan Energi Penggerusan vs (1/di 1/Di) Variabel Umpan 300
Gram
12000.00
10000.00
y = 966.79x - 2019.9
8000.00 R = 0.9905
Axis Title

6000.00
4000.00
2000.00
0.00
11 12 13 14 15
(1/di)-(1/Di

Gambar 4.2.7 Hubungan Energi Penggerusan vs (1/di 1/Di) Variabel Umpan 400
Gram

12800.00
12600.00 y = 116.09x + 10055
Energi Penggerusan

12400.00 R = 0.9956
12200.00
12000.00
11800.00
11600.00
11400.00
11200.00
0 5 10 15 20 25
(1/di)-(1/Di

Gambar 4.2.8 Hubungan Energi Penggerusan vs (1/di 1/Di) Variabel Umpan 500
Gram

16
16000.00
14000.00

Energi Penggerusan
12000.00
y = 13554x - 144023
10000.00
R = 0.9849
8000.00
6000.00
4000.00
2000.00
0.00
11.35 11.4 11.45 11.5 11.55 11.6 11.65 11.7
(1/di)-(1/Di

Gambar 4.2.9 Hubungan Energi Penggerusan vs (1/di 1/Di) Variabel Umpan 600
Gram
Konstanta Rittinger terbesar didapat pada variabel 600 gram yaitu 13554.
Sedangkan untuk 300, 400, dan 500 gram berturut turut yaitu 1384, 966,8, dan 116.
Pada gambar diatas, terlihat bahwa hubungan konstanta Rittinger terhadap energi
penggerusan sangat bervariasi terhadap berbagai macam ukuran diameter produk.
Berdasarkan teori yang ada, sesuai dengan hukum Rittinger bahwa energi yang
dibutuhkan berbanding lurus dengan luasan baru partikel, artinya semakin besar luasan
baru partikel (diameter partikel kecil) maka semakin besar energi penggerusannya.
Sedangkan, konstanta Rittinger berbanding lurus dengan energi penggerusan, sehingga
jika energi penggerusan semakin besar maka nilai konstanta Rittinger akan semakin
besar pula.

IV.2.4 Prinsip Kerja Hammer Mill


Mesin hammer mill berfungsi merubah ukuran suatu bahan baku produksi
menjadi butiran-butiran tepung yang sangat halus. Adapun prinsip kerjanya, yaitu :
bahan baku yang dimasukkan ke dalam mesin selanjutnya akan dibawa oleh sebuah
pelat ke bagian penghancuran. Setelah bahan baku dihancurkan, lantas kemudian bahan
pun akan dipotong dengan kecepatan yang sangat tinggi sehingga menjadi tepung.
Proses ini juga menimbulkan tekanan udara di dalam akan mengalir keluar. Dengan
kata lain bahan baku yang berupa tepung akan terbang keluar melewati saringan. Bahan
yang masih berukuran besar akan diproses kembali hingga berbentuk tepung halus.
Adapun cara kerja mesin hammer mill ini sebenarnya tidak terlalu rumit. Secara umum,
mesin ini berbentuk sebuah tabung besi yang memiliki poros di bagian vertikal atau
horizontal. Rotor berputar di bagian dalam mesin yang akan menggerakkan mesin
penepung. Bahan baku yang telah diproses oleh mesin akan keluar sesuai besar ukuran
yang telah dipilih melalui saringan atau plat penyaring. Mesin hammer mill ini juga
bisa digunakan sebagai mesin stone crusher sekunder dan tersier. Karena prinsip

17
kerjanya yang menggunakan aliran udara untuk memisahkan partikel kecil dan besar,
maka mesin ini diklaim jauh lebih murah dan lebih hemat energi (Zulkarnain, dkk.
2014).

18
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
1. Semakin besar diameter umpan maka reduction ratio dan energi penggerusan
akan semakin besar.
2. Semakin besar kapasitas umpan maka harga konstanta Kick akan semakin
besar, karena energi yang dibutuhkan untuk penggerusan semakin besar.
3. Semakin besar kapasitas umpan maka harga konstanta Rittinger akan
semakin besar, karena energi yang dibutuhkan untuk penggerusan semakin
besar pula.
4. Semakin besar berat umpan maka kapasitas kerja alat semakin besar, semakin
lama waktu operasi maka kapasitas kerja alat semakin besar.
5.2. Saran
1. Sebaiknya amperemeter harus segera diganti karena sudah tidak akurat lagi.
2. Pastikan bahwa umpan yang digunakan harus dalam keadaan kering dan
ukuran yang seragam, hal ini dapat dimulai dengan membeli batubata yang
seragam.
3. Alat ayakkan sieving harus diganti karena banyak lubang mesh yang bolong
sehingga terjadi mass loss.
4. Sebaiknya gunakan perlengkapan safety yang lengkap seperti kacamata agar
debu tidak masuk ke mata.
5. Alat ayakan untuk metode sieving sebaiknya diganti dengan alat yang lebih
modern untuk menghemat kerja manusia

19
DAFTAR PUSTAKA

Agrawal, S.S. 2007. Agrawal Principal Delhi Institute of Pharmaceutical Scienci and
Research Sector-3. Pushp Vihar New Delhi. India.
Brown, G.G. 1979. Unit Operation. Modern Asia Edition. Mc Graw Hill Book. [Link].
Tokyo. Japan.
Coulson, J.M et al. 2002. Chemical Engineering Particle Technology and Separation
Process 5th edition. Butterworth and Heinemann Oxford. England.
Elisa, 2014., Grinding and Sizing, diakses dari [Link] pada 4
September 2016
Mc. Cabe, W.L. 1985. Unit Operation of Chemical Engineering. Tioon Well Finishing
Co. Ltd. Singapura.
Perry, R.H. 1978. Chemical Engineers Handbook. Mc Graw [Link]. Tokyo.
Japan.
Zulkarnain, Rifki. dkk., 2004, Perancangan Mesin Hammer Mill Penghancur Bongkol
Jagung Dengan Kapasitas 100kg/Jam Sebagai Pakan Ternak, Program Studi
Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Muria Kudus, Kudus.

20

Anda mungkin juga menyukai