Efisiensi Operasi Size Reduction
Efisiensi Operasi Size Reduction
PENDAHULUAN
1
1.4. Manfaat Percobaan
1. Memahami dan mengetahui cara menghitung besarnya reduction ratio, daya,
dan energi penggerusan dengan ukuran partikel yang berbeda-beda.
2. Mampu menerapkan Hukum Kick dan Rittinger dan menghitung indeks kerja
dalam percobaan.
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Unit operasi size reduction adalah satu operasi untuk memperkecil ukuran suatu
partikel dengan memperhalus bentuk produk atau sekedar menjadikannya lebih kecil
sesuai ukuran yang diinginkan. Operasi size reduction bisa dilakukan dengan cara
penumbukan atau penggilingan (Agrawal, 2007). Unit operasi size reduction biasanya
digunakan untuk menyesuaikan ukuran bahan baku agar sesuai dengan alat proses atau
menyesuaikan produk sesuai kebutuhan pasar.
3
Energi yang dibutuhkan untuk operasi size reduction sangat bergantung
dari ukuran partikel yang [Link] kecil partikel, maka makin besar
energi yang dibutuhkan.
4
g. Soapiness : Pengukuran berdasarkan koefisien gesekan permukaan
material. Koefisien gesekan yang kecil akan mengakibatkan operasi
penggerusan sulit dioperasikan
h. Explosive Material : Material tidak boleh banyak mengandung inert
atmosphere
i. Materials yielding dusts that are harmful to the health : Material yang
membahayakan kesahatan harus dioperasikan di tempat yang aman
lingkungan
(Brown, 1979)
Tabel 2.1 Tipe Alat Penggerus Berdasarkan Klasifikasi Operasi
Coarse Crushers Intermediate Crushers Fine Crushers
Stag Jaw Crushers Disc Crushers Buhrstone Mill
Dodge Jaw Crushers Edge Runner Mill Roller Mill
Gyratory Crushers Hammer Mill NEI Pendulum Mill
Other Coarse Single Roll Griffin Mill
Ring Roller Mill
Pin Mill
(Lopucko)
Symons Disc Ball Mill
Tube Mill
Hardinge Mill
Babcock Mill
5
Rittinger beranggapan bahwa besarnya energi yang diperlukan untuk
size reduction berbanding lurus dengan luas permukaan baru yang
dihasilkan. Luas permukaan spesifik yang dihasilkan akan sebanding
dengan ukuran partikel, sehingga dirumuskan persamaan dalam bentuk :
1 1
= ( )
E : Energi penggerusan
K : Konstanta Rittinger
Di : Diameter rata-rata umpan
di : Diameter rata-rata produk
2.4.2. Hukum Kick
Kick beranggapan bahwa energi yang dibutuhkan untuk pemecahan
partikel zat padat adalah berbanding lurus dengan ratio dari feed dengan
produk. Secara matematis dinyatakan dengan:
= . log
E : Tenaga yang dibutuhkan untuk memecahkan partikel zat padat atau
feed
k : konstanta Kick
Di : diameter rata-rata feed
di : diameter rata-rata produk
Memecah partikel kubus berukuran lebih dari 1/2 inch adalah sama
besarnya dengan energi yang dibutuhkan untuk memecah partikel 1/2
inch menjadi 1/4 inch.
/
= = = =
2
=1 2
=
=1
3
6
dimana,
Di : diameter partikel
Ni : jumlah partikel dengan diameter Di
Mi : massa total partikel dengan diameter Di
m : massa partikel dengan diameter Di
Vi : volume total partikel dengan diameter Di
C : konstanta yang harganya tergantung dari titik partikel, sehingga:
D3 adalah volume partikel untuk bola = a/b, kubus = 1
V : volume partikel dengan diameter Di
b. Mean Surface Diameter
Didefinisikan sebagai diameter rata rata berdasarkan luas permukaan jumlah
partikel x luas
= 2 ()
=1
2
( 2 )
=
=1 = ( )
=1
=1
=
=1
2
= = 3
= ()3
=1
3 3
3
= () 3
=1 =1
=1
=
=1
3
7
= ()3 =1
3 3
3
= () 3
=1 =1
=1
=
=1
3
8
BAB III
METODE PRAKTIKUM
9
3.3. Gambar Rangkaian Alat
10
BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Percobaan
Tabel 4.1.1 Reduction Ratio dan Grindability
Berat Diameter Waktu Diameter Reduction Grindability
(kg) Umpan (jam) Partikel Ratio (R) (Q)
Di (mm) di (mm) (kg/jam)
0.3 30 0.00389 0.08784 341.530 77.14286
40 0.00389 0.08725 458.453 77.14286
50 0.00444 0.08056 620.655 67.5
0.4 30 0.00444 0.08930 335.946 90
40 0.00444 0.0 8426 474.721 90
50 0.00556 0.07220 9000.000 72
0.5 30 0.00556 0.08912 336.625 90
40 0.00556 0.07526 531.491 90
50 0.00611 0.04594 1088.376 81.81818
0.6 30 0.00500 0.08750 342.857 120
40 0.00611 0.08642 462.856 98.18182
50 0.00667 0.08560 584.112 90
11
IV.2 Pembahasan
IV.2.1 Hubungan antara Energi Penggerusan dan Reduction Ratio
Reduction Ratio adalah perbandingan antara lubang ayakan/diameter umpan
dengan lubang ayakan/diameter produk. Sedangkan energi penggerusan adalah energi
yang dibutuhkan untuk membentuk patahan yang tersebar ke seluruh partikel yang
digerus pada bahan. Hubungan antara energi penggerusan dan reduction ratio dapat
dilihat pada Gambar 4.2.1:
16000.00
14000.00
Energi Penggerusan (J)
12000.00
10000.00
8000.00
6000.00
4000.00
2000.00
0.00
3x3x3 cm 4x4x4 cm 5x5x5 cm
Reduction Ratio
300 gr 400 gr 500 gr 600 gr
Pada gambar 4.2.1 terlihat bahwa semakin besar reduction ratio maka energi
penggerusan akan semakin besar pula. Semakin besar diameter umpan untuk
masingmasing kapasitas feed akan berpengaruh pada semakin besarnya pula nilai
reduction ratio. Pernyataan ini sesuai dengan rumus:
()
=
()
Sedangkan besarnya energi penggerusan dipengaruhi oleh waktu penggerusan
Hammer Mill untuk mereduksi ukuran feed sesuai dengan persamaan:
= cos
dimana,
V : tegangan (volt)
I : arus listrik (ampere
T : waktu (jam) (Mc. Cabe, W.L. 1985)
Semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mereduksi ukuran feed maka
semakin besar pula energi penggerusan. Hal ini dikarenakan waktu yang dibutuhkan
semakin meningkat seiring dengan diameter umpan yang semakin besar dan juga
12
kapasitas yang semakin bertambah. Sedangkan diameter umpaan berbanding lurus
dengan besarnya nilai reduction ratio. Sehingga untuk menggerus dengan diameter
semakin besar dan kapasitas semakin besar dibutuhkan energi yang besar juga (Elisa,
2014).
8000.00
7000.00 y = 5762.5x - 6957.6
6000.00 R = 0.913
5000.00
4000.00
3000.00
2000.00
1000.00
0.00
2.5 2.55 2.6 2.65 2.7 2.75 2.8 2.85
log (Di/di)
Gambar 4.2.2 Hubungan Antara Energi Penggerusan Dengan Konstanta Kick pada
Variabel 300 gram
12000.00
Energi Penggerusan (J)
10000.00
y = 8048.8x - 11727
8000.00 R = 0.8832
6000.00
4000.00
2000.00
0.00
2.5 2.55 2.6 2.65 2.7 2.75 2.8 2.85 2.9
log (Di/di)
Gambar 4.2.3 Hubungan Antara Energi Penggerusan Dengan Konstanta Kick pada
Variabel 400 gram
13
12800.00
12600.00 y = 2508x + 4912.5
Gambar 4.2.4 Hubungan Antara Energi Penggerusan Dengan Konstanta Kick pada
Variabel 500 gram
16000.00
Energi Penggerusan (J)
14000.00
12000.00 y = 15638x - 29211
10000.00 R = 0.984
8000.00
6000.00
4000.00
2000.00
0.00
2.5 2.55 2.6 2.65 2.7 2.75 2.8
log (Di/di)
Gambar 4.2.5 Hubungan Antara Energi Penggerusan Dengan Konstanta Kick pada
Variabel 600 gram
Dari keempat grafik hubungan energi penggerusan dengan konstanta Kick diatas
melalui hubungan garis linear yaitu:
= log
Analog y = mx
Y = E dan x =
dimana,
E : energi penggerusan
K : konstanta Kick
Di : diameter umpan
di : diameter partikel
m : gradien garis
14
waktu dimana semakin berat partikel umpan yang masuk maka waktu yang dibutuhkan
untuk penggerusan semakin lama yang mengakibatkan energi penggerusan semakin
tinggi. Hal ini sesuai dengan persamaan
= cos
dimana,
V : tegangan (volt)
I : arus listrik (ampere
T : waktu (jam) (Mc. Cabe, W.L. 1985)
Pada hasil percobaan, konstanta Kick terbesar terdapat pada variabel 600 gram
yaitu sebesar 15638. Sedangkan untuk variabel 300 gram, 400 gram, dan 500 gram
secara berturut-turut adalah 5762.477, 8048.8, dan 2507.965. Konstanta Kick dari
variabel berat umpan 300, 400, 500 dan 600 gram seharusnya berurutan dari kecil ke
besar. Namun pada praktikum kali ini Konstanta Kick di berbagai variabel
menunjukkan fenomena yang bervariasi. Hal ini dikarenakan peristiwa kehilangan
massa (loss mass) pada tahap sieving yang kurang dapat dijaga kestabilannya. Sehingga
massa produk sebelum dan sesudah sieving mengalami perubahan yang cukup
signifikan sehingga menyebabkan variasi dari Konstanta Kick pada setiap variabel
praktikum. Berdasarkan grafik hubungan antara konstanta Kick terhadap energi
penggerusan, didapatkan bahwa semakin kecil ukuran partikel (diameter produk) yang
diinginkan maka nilai energi penggerusan akan cenderung semakin besar. Hal ini
terjadi karena untuk mendapatkan ukuran partikel yang lebih kecil diperlukan energi
yang semakin besar pula karena energi yang diperlukan untuk size reduction
berbanding terbalik dengan diameter partikel yang diinginkan dan berbanding lurus
dengan konstanta Kick.
15
Di : Diameter Rata-Rata Feed
Hubungan antara Energi Penggerusan vs (1/di 1/Di) pada masing-masing variabel,
dapat dilihat pada gambar grafik berikut ini :
9400.00
y = 1338.4x - 7309.7
9200.00
R = 0.9799
Energi Penggerusan
9000.00
8800.00
8600.00
8400.00
8200.00
8000.00
7800.00
7600.00
11.2 11.4 11.6 11.8 12 12.2 12.4 12.6
(1/di)-(1/Di)
Gambar 4.2.6 Hubungan Energi Penggerusan vs (1/di 1/Di) Variabel Umpan 300
Gram
12000.00
10000.00
y = 966.79x - 2019.9
8000.00 R = 0.9905
Axis Title
6000.00
4000.00
2000.00
0.00
11 12 13 14 15
(1/di)-(1/Di
Gambar 4.2.7 Hubungan Energi Penggerusan vs (1/di 1/Di) Variabel Umpan 400
Gram
12800.00
12600.00 y = 116.09x + 10055
Energi Penggerusan
12400.00 R = 0.9956
12200.00
12000.00
11800.00
11600.00
11400.00
11200.00
0 5 10 15 20 25
(1/di)-(1/Di
Gambar 4.2.8 Hubungan Energi Penggerusan vs (1/di 1/Di) Variabel Umpan 500
Gram
16
16000.00
14000.00
Energi Penggerusan
12000.00
y = 13554x - 144023
10000.00
R = 0.9849
8000.00
6000.00
4000.00
2000.00
0.00
11.35 11.4 11.45 11.5 11.55 11.6 11.65 11.7
(1/di)-(1/Di
Gambar 4.2.9 Hubungan Energi Penggerusan vs (1/di 1/Di) Variabel Umpan 600
Gram
Konstanta Rittinger terbesar didapat pada variabel 600 gram yaitu 13554.
Sedangkan untuk 300, 400, dan 500 gram berturut turut yaitu 1384, 966,8, dan 116.
Pada gambar diatas, terlihat bahwa hubungan konstanta Rittinger terhadap energi
penggerusan sangat bervariasi terhadap berbagai macam ukuran diameter produk.
Berdasarkan teori yang ada, sesuai dengan hukum Rittinger bahwa energi yang
dibutuhkan berbanding lurus dengan luasan baru partikel, artinya semakin besar luasan
baru partikel (diameter partikel kecil) maka semakin besar energi penggerusannya.
Sedangkan, konstanta Rittinger berbanding lurus dengan energi penggerusan, sehingga
jika energi penggerusan semakin besar maka nilai konstanta Rittinger akan semakin
besar pula.
17
kerjanya yang menggunakan aliran udara untuk memisahkan partikel kecil dan besar,
maka mesin ini diklaim jauh lebih murah dan lebih hemat energi (Zulkarnain, dkk.
2014).
18
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
1. Semakin besar diameter umpan maka reduction ratio dan energi penggerusan
akan semakin besar.
2. Semakin besar kapasitas umpan maka harga konstanta Kick akan semakin
besar, karena energi yang dibutuhkan untuk penggerusan semakin besar.
3. Semakin besar kapasitas umpan maka harga konstanta Rittinger akan
semakin besar, karena energi yang dibutuhkan untuk penggerusan semakin
besar pula.
4. Semakin besar berat umpan maka kapasitas kerja alat semakin besar, semakin
lama waktu operasi maka kapasitas kerja alat semakin besar.
5.2. Saran
1. Sebaiknya amperemeter harus segera diganti karena sudah tidak akurat lagi.
2. Pastikan bahwa umpan yang digunakan harus dalam keadaan kering dan
ukuran yang seragam, hal ini dapat dimulai dengan membeli batubata yang
seragam.
3. Alat ayakkan sieving harus diganti karena banyak lubang mesh yang bolong
sehingga terjadi mass loss.
4. Sebaiknya gunakan perlengkapan safety yang lengkap seperti kacamata agar
debu tidak masuk ke mata.
5. Alat ayakan untuk metode sieving sebaiknya diganti dengan alat yang lebih
modern untuk menghemat kerja manusia
19
DAFTAR PUSTAKA
Agrawal, S.S. 2007. Agrawal Principal Delhi Institute of Pharmaceutical Scienci and
Research Sector-3. Pushp Vihar New Delhi. India.
Brown, G.G. 1979. Unit Operation. Modern Asia Edition. Mc Graw Hill Book. [Link].
Tokyo. Japan.
Coulson, J.M et al. 2002. Chemical Engineering Particle Technology and Separation
Process 5th edition. Butterworth and Heinemann Oxford. England.
Elisa, 2014., Grinding and Sizing, diakses dari [Link] pada 4
September 2016
Mc. Cabe, W.L. 1985. Unit Operation of Chemical Engineering. Tioon Well Finishing
Co. Ltd. Singapura.
Perry, R.H. 1978. Chemical Engineers Handbook. Mc Graw [Link]. Tokyo.
Japan.
Zulkarnain, Rifki. dkk., 2004, Perancangan Mesin Hammer Mill Penghancur Bongkol
Jagung Dengan Kapasitas 100kg/Jam Sebagai Pakan Ternak, Program Studi
Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Muria Kudus, Kudus.
20