100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
61 tayangan34 halaman

Strategi Revaluasi Aset Tetap untuk Pajak

Revaluasi aset tetap merupakan penilaian kembali nilai aset tetap perusahaan agar nilai aset tetap dalam laporan keuangan mencerminkan nilai pasar. Tujuannya antara lain memperoleh laporan keuangan yang lebih akurat dan mengurangi beban pajak penghasilan perusahaan. Revaluasi dilakukan oleh penilai berdasarkan nilai pasar aset dan berakibat pada kenaikan atau penurunan nilai aset serta penyusutan yang ter

Diunggah oleh

suciatiiiiiiii
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
61 tayangan34 halaman

Strategi Revaluasi Aset Tetap untuk Pajak

Revaluasi aset tetap merupakan penilaian kembali nilai aset tetap perusahaan agar nilai aset tetap dalam laporan keuangan mencerminkan nilai pasar. Tujuannya antara lain memperoleh laporan keuangan yang lebih akurat dan mengurangi beban pajak penghasilan perusahaan. Revaluasi dilakukan oleh penilai berdasarkan nilai pasar aset dan berakibat pada kenaikan atau penurunan nilai aset serta penyusutan yang ter

Diunggah oleh

suciatiiiiiiii
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Secara garis besar tax planning diartikan sebagai suatu kegiatan yang

melakukan pengorganisasian usaha wajib pajak atau kelompok wajib pajak dengan
sedemikian rupa sehingga kewajiban pajaknya, baik pajak atas penghasilanya
maupun pajak lainnya, berada pada posisi yang seminimalnya namun dalam
konteks dimungkinkan oleh ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan
serta komersil.
Salah satu bentuk atau metode yang digunakan dalam melakukan kegiatan
penghematan pajak yang merupakan tujuan dari tax planning itu sendiri adalah
metode revaluasi aktiva tetap. Aktiva tetap merupakan unsur yang berpengaruh
penting terhadap laporan keuangan suatu kegiatan usaha. Dalam suatu usaha
aktiva tetap merupakan suatu bentuk investasi yang sifatnya jangka panjang. Sifat
dari aktiva tetap tersebut mengakibatkan nilai dari aktiva tetap tersebut harus dapat
menggambarkan nilai sesungguhnya, untuk dapat mencapai hal tersebut
memerlukan dasar yang tepat untuk melakukan penilaiannya.
Revaluasi didefinisikan sebagai suatu proses penilaian kembaliterhadap
aktiva tetap yang dilakukan dengan anggapan bahwa nilai aktivatetap tidak lagi
mencerminkan nilai yang sebenarnya. Revaluasi aktiva akan berakibat terhadap
turun atau naiknya nilai aktiva yang di revaluasi oleh lembaga penilai. Bagi
pemerintah itu sendiri Penilaian kembali aktiva tetap dapat digunakan
sebagai wadah bagi pemerintah atau Direktorat Jenderal Pajak
untuk memaksimalkan atau meningkatkan penerimaan negara yangdiperoleh dari
Pajak Penghasilan Badan sedangkan bagi wajib pajak itusendiri penilaian kembali
aktiva dapat digunakan sebagai salah satu strategi dalam melakukan perencanaan
perpajakannya dengan tujuan untuk meminimalkan pembayaran pajak
penghasilannya.
Adapun fungsi penilaian kembali aktiva tetap bagi perusahaan dapat
diuraikan sebagai berikut:
a. Perhitungan harga pokok akan menghasilkan nilai yang mendekati harga pokok
yang wajar.
b. Meningkatkan struktur sendiri.
c. Pembayaran pph atas selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap sebesar 10% yang
bersifat final apakah cukup menarik bagi perusahaan untuk melakukan revaluasi.
Revaluasi aktiva tetap dalam akuntansi pada umumnya tidak diperkenankan,
kecuali ditentukan berdasarkan peraturan pemerintah, Dimana Menteri Keuangan
diberi kewenangan untuk menetapkan peraturan tentang revalusai aktiva tetap yang
sebagaimana diatur dalam keputusan Menteri Keuangan No. 468/KMK03/2002
pertanggal 28 November 2002, serta tata cara dan prosedur pelaksanaannya yang
dikeluarkan oleh dirjen pajak dalam keputusan dirjen pajak Kep-519/PJ/2002 tanggal
2 Desember 2002.

Revaluasi Aset Tetap (Penilaian Kembali Aset Tetap)

REVALUASI ASET TETAP

Revaluasi adalah penilaian kembali aset tetap perusahaan, yang diakibatkan adanya kenaikan nilai
aset tetap tersebut di pasaran atau karena rendahnya nilai aset tetap dalam laporan keuangan
perusahaan yang disebabkan oleh devaluasi atau sebab lain, sehingga nilai aset tetap dalam laporan
keuangan tidak lagi mencerminkan nilai yang wajar.

Tujuan penilaian kembali :

Tujuan penilaian kembali aset tetap perusahaan dimaksudkan agar perusahaan dapat melakukan
perhitungan penghasilan dan biaya lebih wajar sehingga mencerminkan kemampuan dan nilai
perusahaan yang sebenarnya.

Manfaat :

(1) Neraca menunjukan posisi kekayaan yang wajar.

(2) Kenaikan niali aset tetap, mempunyai konsekuensi naiknya beban penyusutan aset tetap yang
dibebankan ke dalam laba rugi, atau dibebankan ke harga pokok produksi.

Kendala

Kendala yang dihadapi untuk melakukan revaluasi ini :

Kegiatan revaluasi ini tergolong kegiatan yang tidak mudah untuk dilaksanakan dan memerlukan
biaya yang besar untuk membayar jasa penilai.
Aset Tetap yang Dapat Dinilai Kembali

Aset tetap perusahaan yang dapat dinilai kembali adalah aset tetap berwujud yang terletak atau
yang berada di Indonesia yang dimiliki dan dipergunakan untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan yang merupakan ojek pajak.

Nilai Pasar atau Nilai Wajar

Penilaian kembali aset tetap perusahaan harus dilakukan berdasarkan nilai pasar atau nilai wajar
aset tetap tersebut yang berlaku pada saat penilaian kembali yang ditetapkan oleh perusahaan jasa
atau ahli penilai yang diakui/ memperoleh izin pemerintah.

Salah satu perbedaan pokok antara PSAK No. 16 (2007) tersebut dibandingkan dengan PSAK No. 16
(1994) adalah dalam hal pengukuran setelah pengakuan awal. Pada PSAK No.16 (2007) disebutkan
bahwa suatu entitas harus memilih model biaya (cost model) atau model revaluasi sebagai kebijakan
akuntansi suatu entitas dan menerapkan kebijakan tersebut terhadap seluruh aset tetap dalam
kelompok yang sama. Apabila entitas menggunakan model biaya maka setelah diakui sebagai aset,
suatu aset tetap dicatat sebesar biaya perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutan dan
akumulasi rugi penurunan nilai aset. Model biaya ini sama perlakuannya dengan standar akuntansi
yang sudah ada sebelumnya.

Sedangkan pada model revaluasian, setelah diakui sebagai suatu aset, suatu aset tetap yang nilai
wajarnya dapat diukur secara andal harus dicatat pada jumlah revaluasian, yaitu nilai wajar pada
tanggal revaluasi, dikurangi dengan akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai yang
terjadi setelah tanggal revaluasi. Revaluasi harus dilakukan dengan keteraturan yang cukup regular
untuk memastikan bahwa jumlah tercatat tidak berbeda secara material dari jumlah yang ditentukan
dengan menggunakan nilai wajar pada tanggal neraca.

Sedangkan dalam PSAK No.16 (1994) suatu entitas hanya diperkenankan menggunakan model biaya
dan tidak diperkenankan menggunakan model revaluasian. Karena itu tidak ada uraian lebih lanjut
mengenai revaluasi aset tetap. Namun demikian dalam PSAK 1994 terdapat pengecualian yaitu
suatu entitas diperkenankan melakuan revaluasi atas aktiva tetap sepanjang revaluasi tersebut
dilakukan dengan mengikuti peraturan pemerintah. Dalam hal ini peraturan pemerintah yang
relevan adalah peraturan dibidang perpajakan. Kewajiban tersebut diantaranya adalah pengenaan
pajak penghasilan final atas kenaikan aktiva tetap sebagai hasil revaluasi dan pencatatan atas hasil
revaluasi yang dilakukan. Pengecualian ini dilakukan untuk mengakomodasi mekanisme pencatatan
apabila suatu entitas melakukan revaluasi untuk tujuan perpajakan. Keputusan Menteri Keuangan
No.486/KMK/.03/2002 mewajibkan bahwa atas kenaikan hasil revaluasi aset tetap dicatat dalam
akun selisih lebih penilaian kembali aktiva tetap perusahaan. Oleh karena itu salah satu
pertimbangan penting dalam melakukan revaluasi aset tetap berdasarkan PSAK 16 (1994) adalah
bagaimana dampak perpajakannya.
Dengan mengadopsi model revaluasian sesuai PSAK 16 (2007) maka revaluasi aset tetap dalam
rangka penyajian laporan keuangan tidak lagi harus mengikuti ketentuan perpajakan. Suatu entitas
yang memilih model revaluasian mempunyai pilihan untuk melaporkan atau tidak atas hasil revaluasi
untuk tujuan perpajakan. Apabila entitas bermaksud tidak melaporkan hasil revaluasian tersebut
untuk tujuan perpajakan maka akan terjadi beda temporer antara laporan keuangan dengan laporan
fiskalnya sehingga pengaruh pajak tangguhan atas revaluasi tersebut perlu dihitung.

Beberapa paragraf dalam PSAK 16 (2007) menjelaskan mengenai nilai wajar aset tetap pada saat
revaluasian. Nilai wajar tanah dan bangunan biasanya ditentukan melalui penilaian yang dilakukan
oleh penilai yang memiliki kualifikasi professional berdasarkan bukti pasar. Jika tidak ada nilai wajar
karena sifat dari aset tetap yang khusus dan jarang diperjual-belikan, kecuali sebagai bagian dari
bisnis yang berkelanjutan, entitas dapat menggunakan pendekatan penghasilan atau biaya
pengganti yang telah disusutkan. Belum ada pedoman yang lebih lanjut mengenai bagaimana suatu
entitas atau profesi penilai dalam menentukan nilai wajar. Bahkan dalam kasus penentuan nilai
wajar pabrik dan peralatan PSAK cenderung menyerahkan kepada profesi penilai. Sehingga
dikhawatirkan akan mengurangi reliabilitas laporan keuangan.

PSAK 16 (2007) menyebutkan bahwa frekuensi revaluasi tergantung kepada perubahan nilai wajar
dari suatu aset tetap yang direvaluasi. Jika terjadi perbedaan nilai wajar secara material dari jumlah
yang tercatat maka revaluasi selanjutnya perlu dilakukan. Beberapa aset tetap yang mengalami
perubahan nilai wajar signifikan dan fluktuatif perlu dilakukan revaluasi setiap tahun. Sedangkan
untuk perubahan nilai wajar yang tidak signifikan tidak perlu dilakukan revaluasi setiap tahun.
Namun demikian, aset tersebut mungkin perlu direvaluasi setiap tiga atau lima tahun sekali.

Pengelompokan aset tetap merupakan hal yang penting dan harus diperhatikan oleh entitas pada
saat melakukan revaluasi aset tetap. PSAK 16 (2007) menyebutkan bahwa jika suatu aset tetap
direvaluasi, maka seluruh aset tetap dalam kelompok yang sama harus direvaluasi.

Definisi suatu kelompok aset tetap menurut PSAK 16 (2007) adalah pengelompokan aset yang
memiliki sifat dan kegunaan yang serupa dalam operasi normal entitas. Contoh dari kelompok aset
yang terpisah adalah: tanah, tanah dan bangunan, mesin, kapal, pesawat udara, kendaraan
bermotor, perabotan, dan peralatan kantor. Oleh karena itu system informasi akuntansi suatu
entitas perlu didisain sedemikian rupa sehingga mampu membuat kelompok-kelompok aset tetap
sesuai dengan PSAK ini.

Aset-aset dalam suatu kelompok aset tetap harus direvaluasi secara bersamaan bertujuan untuk
menghindari revaluasi aset secara selektif dan bercampurnya biaya perolehan dan nilai lainya pada
saat yang berbeda-beda. Namun, suatu kelompok aset dapat direvaluasi secara bergantian (rolling
basis) sepanjang revaluasi dari kelompok aset tersebut dapat diselesaikan secara lengkap dalam
waktu yang singkat dan sepanjang revaluasi dimutakhirkan.

Pada saat dilakukan revaluasi, apabila jumlah tercatat aset meningkat maka kenaikan tersebut
langsung dikreditkan ke ekuitas pada bagian surplus revaluasi. Namun apabila sebelumnya pernah
diakui penurunan nilai aset akibat revaluasi dalam laporan laba rugi, maka terhadap kenaikan aset
tersebut harus diakui terlebih dahulu dalam laporan laba rugi sebesar nilai penurunan yang diakui
sebelumnya. Sisa nilai setelah sebagian diakui dalam laporan laba rugi tersebut dicatat sebagai
kenaikan yang langsung dikreditkan ke ekuitas. Pengaruh pajak tangguhan perlu dihitung dan
disesuaikan dengan bagian yang diakui dalam laporan laba rugi tersebut.

Pada saat dilakukan revaluasi, apabila jumlah tercatat aset turun maka penurunan tersebut diakui
dalam laporan laba rugi. Namun apabila sebelumnya terhadap aset tersebut penah dilakukan
revaluasi dan dicatat sebagai kenaikan yang langsung dikreditkan ke ekuitas maka terhadap
penurunan nilai akibat revaluasi tersebut langsung didebitkan ke ekuitas pada bagian surplus
revaluasi dengan catatan jumlah maksimal yang dapat didebet adalah sebesar saldo surplus
revaluasi. Sisa nilai penurunan dibebankan ke laporan laba rugi.

Dampak atas pajak penghasilan, jika ada, terhadap kenaikan atau penurunan nilai aset akibat hasil
revaluasi harus diperhitungkan dan dicatat sesuai dengan pencatat kenaikan atau penurunan
revaluasi. Pajak tangguhan diperhitungkan dan dibebankan ke ekuitas atau laporan laba rugi
mengikuti mekanisme pengakuan hasil revaluasi.

Pada saat aset tetap direvaluasi, akumulasi penyusutan pada tanggal revaluasi dapat diperlakukan
dengan salah satu cara yaitu:

1. disajikan kembali secara proporsional sehingga dengan perubahan dalam jumlah tercatat bruto
dari aset sehingga jumlah tercatat aset setelah revaluasi sama dengan jumlah revaluasian. Metode
ini sering digunakan apabila aset direvaluasi dengan cara memberikan indeks untuk menentukan
biaya pengganti yang telah disusutkan.

2. dieliminasi terhadap jumlah tercatat bruto dari aset dan jumlah tercatat neto setelah dieliminasi
disajikan kembali sebesar jumlah revaluasian dari aset tersebut. Metode ini sering digunakan untuk
bangunan.

Jumlah penyesuaian yang timbul dari penyajian kembali atau eliminasi akumulasi penyusutan
tersebut membentuk bagian kenaikan atau penurunan nilai aset seperti yang dijelaskan dalam
mekanisme pencatatan hasil revaluasi di ekuitas seperti yang dijelaskan dalam paragraf sebelumnya.

Pemindahan surplus revaluasi aset tetap ke laba ditahan yang telah disajikan dalam ekuitas dapat
dilakukan pada saat aset tetap tersebut dihentikan penggunaannya atau pada saat pelepasan.
Namun, sebagian surplus revaluasi dipindahkan ke saldo laba sejalan dengan penggunaan aset oleh
entitas. Pemidahan tersebut dilakukan sebesar selisih jumlah penyusutan antara jumlah penyusutan
berdasarkan nilai revaluasian dengan jumlah penyusutan berdasarkan biaya perolehan aset
tersebut. Namun pemindahan surplus revaluasi tersebut dilakukan langsung ke saldo laba, tidak
melalui laporan laba rugi.

PENGAKUAN

Biaya perolehan aset tetap harus diakui sebagai aset jika dan hanya jika :

a)Besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan berkenaan dengan aset tersebut akan
mengalir ke entitas; dan

b)Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal.

Suku cadang utama, peralatan pemeliharaan, penggantian dan inspeksi dapat diakui sebagai aset
tetap.

Jika kriteria pengakuan terpenuhi, biaya tersebut diakui dan jumlah tercatat komponen yang diganti
atau inspeksi terdahulu dihentikan pengakuannya.

PENGUKURAN

Suatu aset tetap yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai aset tetap pada awalnya harus
diukur sebesar biaya perolehan.

Biaya perolehan aset tetap terdiri dari:

a) Harga perolehan, termasuk bea impor dan pajak pembelian yang tidak boleh dikreditkan setelah
dikurangi diskon pembelian dan potongan lain;

b) biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset ke lokasi dan kondisi
yang diinginkan agar aset siap digunakan sesuai dengan keinginan dan maksud manajemen

c) Estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan restorasi lokasi aset.
Kewajiban atas biaya tersebut timbul

ketika aset tersebut diperoleh, atau

karena entitas menggunakan aset tersebut selama periode tertentu untuk tujuan selain untuk
menghasilkan persediaan.

PENGUKURAN SETELAH PENGAKUAN AWAL


MODEL REVALUASI

Nilai wajar pada saat revaluasi minus penyusutan dan rugi penurunan nilai kumulatif setelah
revaluasi,

Revaluasi harus dilakukan secara teratur untuk meyakinkan jumlah tercatat tidak berbeda secara
material dari nilai wajar,

Jika suatu aset tetap direvaluasi, maka seluruh aset tetap dalam kelompok yang sama harus
direvaluasi,

Kenaikan nilai akibat revaluasi diakui sebagai ekuitas dalam pos surplus revaluasi,

Namun, jika sebelumnya telah terjadi penurunan nilai, maka kenaikan nilai berikutnya diakui dalam
laporan laba rugi sampai sebesar penurunan nilai yang diakui sebelumnya,

Penurunan nilai akibat revaluasi diakui sebagai rugi dalam laporan laba rugi,

PENYUSUTAN KUMULATIF dan PENURUNAN NILAI

Model biaya: biaya perolehan minus penyusutan kumulatif dan penurunan nilai kumulatif

Model revaluasi: nilai wajar minus penyusutan kumulatif dan rugi penurunan nilai kumulatif

Perhatikan metoda biaya ataupun revaluasi.

Kedua-duanya memperlakukan penyusutan dan rugi penurunan nilai aset setelah tanggal revaluasi
sebagai pengurang.

CONTOH : MODEL REVALUASI, KENAIKAN NILAI

Pada awal tahun buku 1 Januari 2011 PT Jambia, Tbk. merevaluasi aset tetapnya dalam kelompok
mesin. Biaya perolehan awal Rp50 juta dengan penyusutan kumulatif Rp30 juta. Jadi, jumlah tercatat
adalah Rp20 juta. Nilai wajar Rp36 juta intinya naik Rp16 juta. Sisa umur manfaat 4 tahun. Nilai
residu Rp 0. Metoda penyusutan: garis lurus. Buatlah jurnal revaluasi. Demi kepraktisan, abaikanlah
pajak tangguhan.

Jurnal:

Depresiasi kumulatif Rp 30.000.000

Mesin Rp 14.000.000

Surplus revaluasi Rp 16.000.000

Melanjutkan contoh di atas,


hitunglah penyusutan tahun 2011, dan

buatlah jurnal pada akhir tahun 2011 untuk mencatat penyusutan.

Jawab

Penyusutan 2011 dari nilai baru = 36 juta/4 = 9 juta

Penyusutan 2011 dari nilai lama =20 juta/4 = 5 juta

Selisih penyusutan = 4 juta

31 Des beban penyusutan mesin 9.000.000

akumulasi penyusutan mesin 9.000.000

31 Des surplus revaluasi 4.000.000

laba ditahan 4.000.000

(mencatat selisih penyusutan baru lama)

Jurnal yang terakhir di atas mungkin dilakukan, tidak ada petunjuk yang mewajibkan. Jika jurnal
tersebut dibuat, maka saldo surplus revaluasi pada akhir tahun umur manfaat aset tetap terkait
menjadi nol. Opsi lain yang dapat dilakukan adalah tidak menjurnal setiap tahun, tetapi pada akhir
umur manfaat dibuat jurnal sebagai berikut :

31 Des surplus revaluasi 16.000.000

laba ditahan 16.000.000

Jurnal seperti ini tidak diwajibkan.

PENURUNAN NILAI DALAM MODEL REVALUASI

Penurunan nilai setelah diakuinya kenaikan nilai diperlakukan sebagai pengurangan surplus revaluasi
yang telah terbentuk. Penurunan berikutnya diakui sebagai beban.

Contoh penurunan nilai setelah diakuinya kenaikan nilai

Saldo mesin PT Jambia, Tbk. per 31-12-2012 Rp36 juta; penyusutan kumulatif Rp9 juta. Nilai buku
Rp27 juta. Kenaikan nilai setahun silam Rp16 juta, tampak di surplus revaluasi (kredit) yang tidak
ditransfer ke laba ditahan. Nilai wajar aset tetap sekarang Rp8 juta intinya turun Rp19 juta.
Hitunglah penurunan nilai dan buatlah jurnal revaluasi. Demi kepraktisan, abaikanlah pajak
tangguhan.
Jawab :

Nilai wajar 8.000.000

Jumlah tercatat (36.000.000-9.000.000) (27.000.000)

Penurunan nilai 19.000.000

Diakui sebagai pengurangan surplus revaluasi (16.000.000)

Beban (rugi) penurunan nilai diakui dalam L/R 3.000.000

Jurnal :

31 Des Akumulasi penyusutan mesin 9.000.000

Surplus Revaluasi 16.000.000

Rugi penurunan nilai mesin 3.000.000

Mesin 28.000.000

MODEL BIAYA

Biaya perolehan minus penyusutan dan rugi penurunan nilai kumulatif. Model biaya hanya
mengizinkan penurunan nilai tetapi tidak kenaikan nilai.

Penurunan nilai dicatat dengan jurnal sebagai berikut.

Rugi penurunan nilai xxx

Penurunan nilai kumulatif xxx

Rugi penurunan nilai dilaporkan dalam profit or loss.

Ketika mengakui penurunan nilai, tidak perlu melibatkan aset/kewajiban pajak tangguhan.

Aset/kewajiban pajak tangguhan diperhitungkan dalam perhitungan profit or loss.

Contoh Penurunan nilai dalam model biaya:

Saldo mesin PT Jambia, Tbk. per 31-12-2012 Rp 36.000.000 ; penyusutan kumulatif Rp 19.000.000
Nilai wajar aset tetap 12.000.000. Hitunglah penurunan nilai dan buatlah jurnal revaluasi.
Biaya perolehan mula-mula 36.000.000

(-) penyusutan kumulatif (19.000.000)

Jumlah tercatat 17.000.000

(-) Nilai wajar (12.000.000)

Penurunan nilai 5.000.000

Jurnal:

Penyusutan mesin kumulatif 19.000.000

Kerugian penurunan nilai 5.000.000

Mesin 24.000.000

PEMBALIKAN PENURUNAN NILAI DALAM MODEL BIAYA

Pembalikan penurunan nilai diakui sebagai penghasilan sampai sebesar penurunan nilai yang pernah
terjadi. Kelebihan setelah itu tidak boleh diakui baik sebagai penghasilan maupun sebagai surplus
revaluasi.

Contoh : Penurunan nilai dalam model biaya

Saldo mesin PT Jambia, Tbk. per 31-12-2012 Rp12 juta; penyusutan kumulatif Rp4 juta. Tahun lalu
terdapat penurunan nilai Rp5 juta. Nilai wajar sekarang Rp14 juta. Hitunglah pembalikan penurunan
nilai dan buatlah jurnal revaluasi.

Biaya perolehan mula-mula 12.000.000

(-) Penyusutan kumulatif (4.000.000)

Jumlah tercatat 8.000.000

Nilai wajar (14.000.000)

Kenaikan nilai 6.000.000

Pembalikan maksimum (5.000.000)

Sisanya tidak diakui di manapun 1.000.000

Jurnal:
Penyusutan mesin kumulatif 4.000.000

Mesin 1.000.000

Keuntungan pembalikan PN 5.000.000

Revaluasi Aset Tetap Menurut


PSAK 16
REVALUASI ASET TETAP 1

REVALUASI ASET TETAP

Revaluasi Aset adalah penilaian kembali aset tetap perusahaan, yang diakibatkan
adanya kenaikan nilai aset tetap tersebut di pasaran atau karena rendahnya nilai
aset tetap dalam laporan keuangan perusahaan yang disebabkan oleh devaluasi atau
sebab lain, sehingga nilai aset tetap dalam laporan keuangan tidak lagi .
Berdasarkan PSAK 16 yang baru, perusahaan dapat memilih model biaya atau
model revaluasi sebagai dasar menilai aset setelah dimiliki. Aturan ini konsisten
dengan peraturan dalam IAS.

Revaluasi aset tetap menurut ketentuan PSAK 16 tahun 1994 :


diperkenankan. Standar menyebutkan revaluasi aktiva tetap tidak diperkenankan
karena penilaian dengan menggunakan harga perolehan, namun penyimpangan dari
ketentuan ini mungkin dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah. Ketentuan
pemerintah tentang perpajakan membolehkan entitas melakukan penilaian,
sehingga revaluasi aset diperkenankan mengikuti revaluasi aset menurut ketentuan
perpajakan. Berdasarkan ketentuan PSAK 16 tahun 1994, entitas melakukan
penilaian kembali asetnya sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Biasanya revaluasi
aset dilakukan pada saat akan go publik, menambah modal dengan menerbitkan
tambahan saham, restrukturisasi, akuisisi atau dalam rangka kuasi reorganisasi.
Salah satu tujuan revaluasi adalah agar nilai aset perusahaan menunjukkan kondisi
yang sebenarnya, sehingga entitas dapat menjual sahamnya dengan harga yang
lebih tinggi, atau memiliki nilai yang tinggi pada saat diakuisisi pihak lain.

Revaluasi Aset Tetap menurut ketentuan PSAK 16 revisi 2007 :


Revaluasi merupakan salah satu metode penilaian aset tetap. Jika suatu entitas
memilih menggunakan metode revaluasi maka metode ini harus diterapkan secara
konsisten oleh perusahaan. Perusahaan tidak boleh hanya menggunakan metode
revaluasi sesekali untuk tujuan seperti yang disebutkan di atas, tetapi revaluasi
harus dilakukan secara reguler. Penerapan metode revaluasi dilakukan untuk aset
tetap dalam kelompok yang sama. Tidak ada penjelasan rinci pengertian kelompok
yang sama, namun secara implisit dapat dikatakan jika suatu entitas memiliki aset
tetap yang disajikan dalam satu kelompok, maka model penilaian yang digunakan
harus sama. Sebagai contoh jika induk menggunakan metode revaluasi maka
konsekuensinya anak perusahaan untuk kelompok aset tanah harus menggunakan
metode revaluasi. Namun untuk peralatan, apakah dianggap satu kelompok atau
dapat menggunakan sub kelompok misal kendaraan, mesin, peralatan kantor, tidak
ada pedoman yang mengaturnya. Pada saat melakukan revaluasi, selisih antara
nilai tercatat aset dan nilai hasil revaluasi akan dibukukan sebagai surplus
revaluasi.

Revaluasi tidak diakui dalam laporan laba rugi tahun berjalan tetapi merupakan
komponen dalam laba rugi komprehensif yang merupakan bagian dari ekuitas. Jika
sebelum revaluasi entitas telah melakukan penurunan nilai maka, akan dilakukan
pembalikan penurunan nilai sebelum diakui sebagai surplus revaluasi. Jika
revaluasi menghasilkan nilai yang lebih kecil dari nilai aset tercatat maka
penurunan nilai ini, pertama akan mengurangi surplus revaluasi (jika ada), setelah
tidak ada lagi baru akan mengurangi saldo laba. Dengan pencatatan seperti itu,
maka entitas akan mengakui penurunan nilai (impairment), ketika revaluasi
menghasilkan nilai aset lebih kecil dari nilai terbawa (carrying value) dengan
menggunakan metode biaya. Surplus revaluasi yang telah disajikan ke saldo laba
pada saat aset tersebut dihentikan pengakuan atau disusutkan. Surplus revaluasi
akan dipindahkan ke saldo laba selama sisa masa manfaat aset tersebut, jika aset
tersebut dihentikan pengakuan pemindahannya dilakukan sekaligus dari sisa
surplus revaluasi yang masih ada. Pemindahan dilakukan langsung dengan
mendebit surplus revaluasi dan kredit saldo laba tanpa melalui laporan laba rugi.

Revaluasi harus dilakukan dengan keteraturan yang cukup reguler sehingga nilai
tercatat aset tidak berbeda secara signifikan dengan nilai wajarnya. Standar tidak
menyebutkan berapa tahun sekali, revaluasi dilakukan tergantung perkembangan
nilai wajar aset tetap. Jika harga tidak berubah signifikan mungkin revaluasi dapat
dilakukan tiga atau lima tahun sekali, namun jika harga signifkan berubah
revaluasi mungkin dilakukan setiap tahun. Nilai wajar adalah nilai di mana suatu
aset dapat dipertukarkan atau suatu kewajiban diselesaikan antara pihak yang
memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arms length
transaction).
Berdasarkan konsep nilai wajar, harga pasar aktif merupakan nilai wajar yang ideal
dan memiliki keandalan yang tinggi, karena mudah diverifikasi. Namun jika tidak
ada harga pasar aktif, dapat digunakan nilai pasar terkini, harga pasar dari aset
serupa, menggunakan pendekatan nilai kini arus kas di masa depan atau dengan
metode nilai opsi. Khusus untuk menentukan nilai wajar dalam model revaluasi
aset tetap, standar secara eksplisit menyebutkan bahwa nilai tanah, bangunan
dilakukan oleh penilai independen yang profesional berdasarkan bukti pasar.
Sedangkan nilai wajar pabrik dan peralatan menggunakan nilai pasar yang
ditentukan oleh penilai. Nama penilai harus diungkapkan dalam catatan atas
laporan keuangan. Apabila revaluasi dilakukan, akumulasi penyusutan dapat
diberlakukan dengan dengan dua cara yatu metode eliminasi dan proporsional.
Pertama dengan cara eliminasi, akumulasi penyusutan ditutup sehingga diperoleh
nilai buku aset, nilai ini kemudian ditambah atau dikurangi sehingga nilainya
menjadi nilai hasil revaluasi aset yang terbaru. Kedua dengan cara proporsional,
dengan metode ini, nilai aset dan akumulasi penyusutan akan dinaikkan nilainya
sebesar rasio revaluasi (rasio nilai hasil revaluasi dengan nilai buku).

Pajak atas revaluasi menurut PSAK 16 dipertanggungjawabkan mengikuti


ketentuan dalam PSAK 46 tentang pajak penghasilan. Atas selisih revaluasi tidak
diakui dalam laba rugi tahun berjalan tetapi diakui dalam laba komprehensif, maka
konsekuensi pajaknya akan dimasukkan dalam komponen laba komprehensif. Jika
pajak atas revaluasi ini tidak dikenakan menurut peraturan perpajakan maka
konsekuensi pajaknya akan diakui sebagai aset atau liabiltas pajak tangguhan.
Sebagai contoh atas keuntungan revaluasi tanah akan diakui debit beban pajak
tangguhan atas surplus revaluasi dan kredit liabilitas pajak tangguhan.

Tarif Revaluasi Aset khusus tahun 2015 dan 2016 itu sebagai berikut:
3% (tiga persen), bagi Wajib Pajak yang telah memperoleh penetapan penilaian
kembali aktiva tetap oleh kantor jasa penilai publik atau ahli penilai, dan melunasi
Pajak Penghasilan sampai dengan tanggal 31 Desember 2015;
4% (empat persen), bagi Wajib Pajak yang telah memperoleh penetapan penilaian
kembali aktiva tetap oleh kantor jasa penilai publik atau ahli penilai, dan melunasi
Pajak Penghasilan dimaksud dalam jangka waktu sejak tanggal 1 Januari 2016
sampai dengan tanggal 30 Juni 2016;
6% (enam persen), bagi Wajib Pajak yang telah memperoleh penetapan penilaian
kembali aktiva tetap oleh kantor jasa penilai publik atau ahli penilai, dan melunasi
Pajak Penghasilan dimaksud dalam jangka waktu sejak tanggal 1 Juli 2016 sampai
dengan tanggal 31 Desember 2016
Keuntungan bagi Wajib Pajak yang melakukan revaluasi berdasarkan Peraturan
Men

teri Keuangan nomor 191/PMK.010/2015 ini adalah :

1. Diskon tarif PPh menjadi lebih kecil yaitu, 3%, 4% atau 6% saja;
2. Sisi aktiva Neraca perusahaan akan naik sebesar nilai lebih dan dicatat dalam
akun Selisih Lebih Penilaian Kembali Aktiva Tetap Wajib Pajak Tanggal . .
Akun ini disusutkan sesuai masa manfaat aktiva Tetap. Artinya, tahun-tahun
setelah revaluasi penghasilan neto fiskal akan tergerus oleh penyusutan selish lebih
revaluasi.
3. Sisi ekuitas Neraca akan muncul saham baru baik berupa saham bonus atau
saham baru tanpa penyetoran. Saham baru ini bukan objek PPh sesuai Pasal 2
hurup b Peraturan Pemerintah nomor 94 tahun 2010. Secara umum, penambahan
saham tanpa setoran, apapun namanya, dianggap dividen. Bisa dicek bagian
penjelasan Pasal 4 (1) huruf g UU PPh.

Keuntungan Revaluasi Aset untuk kepentingan komersial, yaitu:

1. Mencerminkan nilai yang sesungguhnya (nilai wajarnya), sehingga dapat lebih


baik dalam pengambilan keputusan bagi perusahaan maupun investor dalam
melakukan investasi.
2. Bagi perusahaan yang ingin atau yang sudah go publik, revaluasi berguna untuk
menyusun nilai asetnya ke harga yang realistis
3. Meningkatkan kepercayaan kreditur , sebagai dampak membaiknya beberapa
rasio keuangan perusahaan, khususnya yang ditunjukkan oleh
debt to assets ratio dan debt to equity ratio.
4. Penilaian kembali aktiva tetap ini juga dapat dilakukan oleh perusahaan yang
ingin merger. Sebab dengan melakukan penilaian kembali aktiva tetap pada masing
masing perusahaan yang ingin melakukan merger, maka akan dapat diketahui
nilai aktiva sesungguhnya (nilai wajarnya) untuk perusahaan bentukan baru
(setelah merger).

Kerugian Revaluasi Aset Tetap bagi Perusahaan :

Dalam hal revaluasi aset tetap, sebenarnya perusahaan tidak mendapatkan aliran
kas masuk, perusahaan hanya melakukan window dressing untuk pelaporan
keuangan nya. Sedangkan bila terdapat selisih lebih atas revaluasi, perusahaan
akan dikenai PPh final sebesar 10% dan harus dibayar pada tahun tersebut (tidak
boleh dicicil dalam 5 tahun misalnya) dan tidak menghasilkan hutang pajak
tangguhan yang bisa dibalik di tahun berikutnya bila nilai aset turun. Bayangkan
apabila perusahaan memutuskan memakai model revaluasi dan setiap tahun harga
asetnya meningkat, maka setiap tahun perusahaan harus membayar pajak final.
Padahal kenaikan harga aset tersebut tidak membawa aliran kas masuk ke dalam
perusahaan apalagi untuk menilai nilai wajar aset yang tidak memiliki nilai pasar,
perusahaan membutuhkan jasa penilai (assessor) sehingga akan makin menambah
biaya yang keluar untuk menilai asset aset tersebut. Maka hal ini hanya akan
menjadi pemborosan saja bagi perusahaan.

1. Devinisi Revaluasi

Revaluasi adalah penilaian kembali asset tetap perusahaan, yang diakibatkan adanya kenaikan nilai
asset tetap tersebut di pasaran atau karena rendahnya nilai asset tetap dalam laporan keuangan
perusahaan yang disebabkan oleh devaluasi atau sebab lain, sehingga nilai asset tetap dalam laporan
keuangan tidak lagi mencerminkan nilai yang wajar. Apabila model revaluasi dipilih oleh entitas,
maka nilai asset setelah pengukuran awal dinilai berdasarkan nilai wajar dikurangi dengan akumulasi
amortisasi dan akumulasi rugi penurunan nilai.

Penentuan nilai wajar asset tak berwujud hanya dapat ditentukan dengan mengacu pada pasar aktif
asset tak berwujud. Tidak diperbolehkan menggunakan model penilaian atau teknik yang lain. Dalam
hal ini, yang dimaksud dengan pasar aktif adalah pasar tempat asset diperdagangkan adalah
homogeny, pembeli dan penjual yang berkeinginan dapat ditemukan setiap saat, dan harga tersedia
untuk publik. Oleh karena ketentuan tersebut, model revaluasi tidak dapat diterapkan untuk
sebagian besar asset tak berwujud.

Salah satu perbedaan pokok antara PSAK No. 16 (2007) tersebut dibandingkan dengan PSAK No. 16
(1994) adalah dalam hal pengukuran setelah pengakuan awal. Pada PSAK No. 16 (2007) disebutkan
bahwa suatu entitas harus memilih model biaya (cost model) atau model revaluasi sebagai kebijakan
akuntansi suatum entitas dan menerapkan kebijakan tersebut terhadap seluruh asset tetap dalam
kelompok yang sama. Apabila entitas menggunakan model biaya maka setelah diakui sebagai asset,
suatu asset tetap dicatat sebesar biaya perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutan dan
akumulasi rugi penurunan nilai asset. Sedangkan pada model revaluasian, setelah diakui sebagai
suatu asset, suatu asset tetap yang nilai wajarnya dapat diukur secara andal harus dicatat pada
jumlah revaluasian, yaitu nilai wajar pada tanggal revaluasi, dikurangi dengan akumulasi penyusutan
dan akumulasi rugi penurunan nilai yang terjadi setelah tanggal revaluasi. Revaluasi harus dilakukan
dengan keteraturan yang cukup regular untuk memastikan bahwa jumlah tercatat tidak berbeda
secara material dari jumlah yang ditentukan dengan menggunakan nilai wajar pada tanggal neraca.

Sedangkan dalam PSAK No.16 (1994) suatu entitas hanya diperkenankan menggunakan model
revaluasian. Dalam PSAK No.6 (1994) terdapat pengecualian yaitu suatu entitas diperkenankan
melakukan revaluasi atas aktiva tetap sepanjang revaluasi tersebut dilakukan dengan mengikuti
peraturanpemerintah. Dalam hal ini peraturan pemerintah yang relevan adalah peraturan dibidang
perpajakan. Kewajiban tersebut diantaranya adalah pengenaan pajak penghasilan final atas kenaikan
aktiva tetap sebagai hasil revaluasi dan pencatatan atas hasil revaluasi yang dilakukan. Pengecualian
ini dilakukan untuk mengakomodasi mekanisme pencatatan apabila suatu entitas melakukan
revaluasi untuk tujuan perpajakan.

Standart Akuntansi Keuangan-Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) yang berlaku di
Indonesia untuk perusahaan-perusahaan tanpa akuntanbilitas publik, tidak memperkenankan
penilaian kembali atau revaluasi aset tetap karena SAK ETAP (butir 15-15) menganut penilaian aset
berdasarkan biaya perolehan atau harga pertukaran. Penyimpangan dari ketentuan ini mungkin
dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah. Dalam hal ini laporan keuangan harus menjelaskan
mengenai penyimpangan tersebut terhadap gambaran keuangan entitas. Selisih antara nilai
revaluasi dengan nilai tercatat aset tetap diakui dalam entitas dengan nama Surplus Revaluasi Aset
Tetap.

Sementara itu, International Financial Reporting Standards (IFRS) mengizinkan perusahaan-


perusahaan untuk melakukan penilaian kembali (revaluasi) aktiva tetap menjadi sebesar nilai wajar
aktiva tetap pada tanggal pelapor.

Menurut IFRS, perusahaan yang memilih untuk menggunakan kerangka revaluasi harus mengikuti
prosedur revaluasi. Apabila perusahaan akan melaksanakan revaluasi, maka hal itu harus diterapkan
pada semua aset yang bersangkutan. Aset-aset yang berdasar pengalaman terbukti mengalami
perubahan harga yang cepat harus direvaluasi secara tahunan, akan tetapi untuk aset-aset yang
tidak demikian, revaluasi bisa dilakukan lebih jarang.

Berikut ini adalah contoh tahapan pokok dalam suatu revaluasi, beserta jurnal yang bersangkutan
dengan ravluasi dibawah ini.

Sebagai contoh akuntansi revaluasi aset, misalkan PT. Permata Hijau akan melaksanakan revaluasi
atas aset tetapnya yang bernilai buku Rp 100.000.000,00, dengan umur 5 tahun, tanpa nilai residu.
Dengan asumsi perusahaan tersebut menerapkan metode depresiasi garis lurus, maka pada akhir
tahun 1, perusahaan membuat jurnal sebagai berikut :

Des. 31 Beban Depresiasi Rp 20.000.000

Akumulasi Depresiasi Aset Tetap Rp 20.000.000

(untuk mencatat beban depresiasi tahun 1)

Setelah jurnal diatas, aset tetap PT. Permata Hijau memiliki nilai buku sebesar Rp 80.000.000 (Rp
100.000.000 - Rp 20.000.000). Pada akhir tahun 1, perusahaan jasa penilai independen (appraisers)
menetapkan bahwa nilai wajar aset tersebut adalah Rp 85.000.000. untuk melaporkan aset sebesar
nilai wajarnya, maka PT. Permata Hijau harus mengeliminasi akun Akumulasi Depresiasi aset tetap,
menurunkan Aset Tetap menjadi sebesar nilai wajarnya, dan mencatat Surplus Revaluasi Rp
5.000.000. Jurnal untuk mencatat revaluasi adalah sebagai berikut :

Des. 31 Akumulasi Depresiasi Aset Tetap Rp 20.000.000

Aset Tetap Rp 15.000.000

Surplus Revaluasi Rp 5.000.000

(untuk mencatat beban depresiasi tahun 1)

Dengan demikian, PT. Permata Hijau melakukan proses dalam dua tahap. Pertama, PT. Permata
Hijau mencatat depresiasi yang dihitung atas dasar biaya perolehannya ( Rp 100.000.000). Hal ini
akan mengakibatkan perusahaan melaporkan beban depresiasi dalam laporan laba-rugi sebesar

Rp 20.000.000. Hal ini dilakukan dengan mengeliminasi akun Akumulasi Depresiasi, menyesuaikan
nilai buku aset tetap menjadi nilai sebesar nilai wajarnya, dan mendebet atau menkredit akun
surplus revaluasi. Dalam contoh di atas, surplus (Rp 85.000.000) dengan nilai buku aset sebelum
direvaluasi (Rp 80.000.000). Surplus revaluasi adalah salah satu contoh pos yang dilaporkan sebagai
laba komprehensif lain-lain. Selanjutnya pada akhir tahun 1, PT. Permata Hijau akan melaporkan
dalam neraca sebagai berikut :

Aset tetap (Rp 100.000.000 Rp 15.000.000). ..Rp 85.000.000

Akumulasi Depresiasi - Aset [Link] 0


Rp 85.000.000

Surplus Revaluasi (ekuitas)...Rp 5.000.000

Seperti telah ditunjukkan diatas, Rp 85.000.000 merupakan dasar yang baru bagi aset yang
direvaluasi. PT. Permata Hijau melaporkan beban depresiasi sebesar Rp 20.000.000 dalam laporan
laba-rugi dan Rp 5.000.000 dalam laba komprehensif lain. Dengan asumsi tidak ada perubahan
taksiran umur, maka depresiasi pada tahun ke 2 akan menjadi Rp 21.250.000 ( Rp 85.000.000 : 4).

2. Model Revaluasi

Menurut Standart Akuntansi (SAK 2009) memperlihatkan model revaluasi seperti yang akan
dijelaskan dibawah ini;

1) Setelah diakui sebagai aset, suatu aset tetap yang nilai wajarnya dapat diukur secara andal
harus dicatat pada jumlah revaluasinya, yaitu nilai wajar pada tanggal revaluasi dikurangi akumulasi
penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai yang terjadi setelah tanggal revaluasi. Revaluasi
harus dilakukan dengan keteraturan yang cukup regular untuk memastikan bahwa jumlah tercatat
tidak berbeda secara material dari jumlah yang ditentukan dengan menggunakan nilai wajar pada
tanggal neraca.

2) Nilai wajar tanah dan bangunan biasanya ditentukan melalui penilaian yang dilakukan oleh
penilai yang memiliki kualifikasi professional berdasarkan bukti pasar. Nilai wajar pabrik dan
peralatan biasanya menggunakan nilai pasar yang ditentukan oleh penilai.

3) Jika tidak ada pasar yang dapat dijadikan dasar penentuan nilai wajar karena sifat dari aset
tetap yang khusus dan jarang diperjual-belikan, kecuali sebagai bagian dari bisnis yang
berkelanjutan, entitas mungkin perlu mengestimasi nilai wajar menggunakan pendekatan
penghasilan atau biaya pengganti yang telah disesuaikan (depreciation replacement cost approatch).

4) Frekuensi revaluasi tergantung perubahan nilai wajar dari suatu aset tetap yang direvaluasi.
Jika nilai wajar dari aset yang direvaluasi berbeda secara material dari jumlah tercatatnya, maka
revaluasi lanjutan perlu dilakukan. Beberapa aset tetap mengalami perubahan nilai wajar secara
signifikan dan fluktuatif, sehingga perlu direvaluasi secara tahunan. Revaluasi tahunan seperti itu
tidak perlu dilakukan apabila perubahan nilai wajar tidak signifikan. Namun demikian, aset tersebut
mungkin perlu direvaluasi setiap tiga atau lima tahun sekali.
5) Apabila suatu aset tetap direvaluasi, akumulasi penyusutan pada tanggal revaluasi
diperlakukan dengan salah satu cara berikut ini :

a. Disajikan kembali secara proporsional dengan perubahan dalam jumlah tercatat bruto dari aset
sehingga jumlah tercatat aset setelah revaluasi sama dengan jumlah revaluasian. Metode ini sering
dilakukan apabila aset direvaluasi dengan cara memberikan indeks untuk menentukan biaya
pengganti yang telah disesuaikan, atau

b. Dieliminasi terhadap jumlah tercatat bruto dari aset dan jumlah tercatat aset setelah eliminasi
disajikan kembali sebesar jumlah revaluasinya dari aset tersebut. Metode ini sering digunakan untuk
bangunan.

Jumlah penyesuaian yang timbul dari penyajian kembali atau eliminasi akumulasi penyusutan
membentuk bagian dari kenaikan atau penurunan dalam jumlah tercatat yang ditentukan.

6) Jika suatu aset tetap direvaluasi, maka seluruh aset tetap dalam kelompok yang sama harus
direvaluasi.

7) Suatu kelompok aset tetap adalah pengelompokan aset yang memiliki sifat dan kegunaan yang
serupa dalam operasi normal entitas. Berikut adalah contoh dari kelompok aset yang terpisah :

a. Tanah

b. Tanah dan bangunan

c. Mesin

d. Kapal

e. Pesawat udara

f. Kendaraan bermotor

g. Perabotan, dan

h. Peralatan kantor

8) Aset-aset dalam suatu kelompok aset tetap harus direvaluasi secara berkelanjutan untuk
menghindari revaluasi aset secara selektif dan bercampuran dengan harga perolehan dan nilai
lainnya pada saat yang berbeda-beda. Namun, suatu kelompok aset dapat direvaluasi secara
bergantian (rolling basis) sepanjang revaluasi dari kelompok aset tersebut dapat diselesaikan secara
lengkap dalam waktu yang singkat dan sepanjang revaluasi dimutakhirkan.
9) Jika jumlah tercatat aset meningkat akibat revaluasi, kenaikan tersebut langsung dikredit ke
ekuitas pada bagian surplus revaluasi. Namun, kenaikan tersebut harus diakui dalam laporan laba-
rugi hingga sebesar jumlah penurunan nilai aset akibat revaluasi yang pernah diakui sebelumnya
dalam laporan laba-rugi.

10) Jika jumlah tercatat aset turun akibat revaluasi, penurunan tersebut diakui dalam laporan laba-
rugi. Namun, penurunan nilai akibat revaluasi tersebut langsung didebit ke ekuitas pada bagian
surplus revaluasi selama penurunan tersebut tidak melebihi saldo kredit surplus revaluasi untuk
aset tersebut.

11) Surplus revaluasi aset tetap yang telah disajikan dalam ekuitas dapat dipindahkan langsung ke
saldo laba pada saat aset tersebut diberikan pengakuannya. Hal ini meliputi pemindahan sekaligus
surplus revaluasi pada saat penghentian atas pelepasan aset tersebut. Namun, sebagian surplus
revaluasi tersebut dapat dipindahkan sejalan dengan penggunaan aset oleh entitas. Dalam hal ini,
surplus revaluasi yang dipindahkan ke saldo laba adalah sebesar perbedaan antara jumlah
penyusutan berdasarkan nilai revaluasian aset dengan jumlah penyusutan berdasarkan biaya
perolehan aset tersebut. Pemindahan surplus revaluasi ke saldo laba tidak dilakukan melalui laporan
laba-rugi.

12) Dampak atas pajak penghasilan, jika ada yang dihasilkan dari revaluasi aset tetap diakui dan
diungkapkan sesuai dengan PSAK No. 46 tentang Akuntansi Pajak Penghasilan

13) Jika entitas mengubah kebijakan akuntansi dari model biaya ke model revaluasi dalam
pengukuran aset tetap, maka perubahan tersebut berlaku prospektif.

14) Jika dalam suatu entitas terdapat aset tetap yang tersdia untuk dijual, maka perlakuan akuntansi
untuk aset tersebut adalah sebagai berikut:

a. Diakui pada saat dilakukan penghentian operasi.

b. Diukur sebesar nilai yang lebih rendah dari jumlah tercatatnya dibandingkan nilai wajar setelah
dikurangi dengan biaya-biaya penjualan aset tersebut.

c. Disajikan sebagai aset tersedia untuk dijual, jika jumlah tercatatnya akan dipulihkan melalui
transaksi penjualan dari penggunaan lebih lanjut, dan penghentian operasi dan pelepasan aset (aset
tidak lancar).
Perbedaan Revaluasi Aset Tetap Menurut Akuntansi dan
Perpajakan
A. Pendahuluan

Menyambung artikel tentang kajian PMK Nomor


191/PMK.010/2015 yang tertuang dalam Kajian PMK
No 169 dan 191 Tahun 2015, maka artikel ini akan
memaparkan perbedaan revaluasi aset tetap
berdasarkan peraturan perpajakan, dalam hal ini PMK
No 191 dan peraturan akuntansi, dalam hal ini PSAK No
16 dan 25. Ruang lingkup pembahasan difokuskan
bukan kepada teorinya, karena pasal-pasal atau aturan
spesifik dari peraturan ini dapat dipelajari langsung
dalam PMK/ PSAK terkait. Fokusnya lebih kepada
aplikasi dan point-point penting perbedaan sampai
kepada dampaknya masing-masing terhadap pelaporan
perpajakan dan akuntansi. Sampai penghujung tahun
2015 ini, perbedaan ini juga banyak diperdebatkan oleh
banyak pihak terkait pengakuan, pengukuran dan
penyajian revaluasi di laporan keuangan dan laporan
perpajakan.

Meninjau perkembangan saat ini, tidak


ada adjustment resmi terhadap kedua aturan ini
sehingga perlakuan revaluasi aset tetap menurut
perpajakan dan komersial pasti tetap mengandung
beberapa perbedaan yang substansial. Di satu sisi, PMK
No 191 mengakomodasi target penerimaan pajak tahun
2015 dan untuk lebih mendorong roda perekonomian
nasional secara masif, sedangkan di sisi lain, PSAK 16
memberikan pilihan measurement model after
recognition (pengukuran setelah pengakuan), dimana
salah satunya adalah model revaluasi dengan latar
belakang untuk memberikan informasi pelaporan
keuangan yang lebih relevan dan useful bagi decision-
making. Artinya, sudah terdapat 2 (dua) aturan yang
berbeda dengan latar belakang yang berbeda pula. PMK
No 191 merupakan pengembangan dari PMK Nomor
79/PMK.03/2008 dan dikeluarkan oleh Kementerian
Keuangan Republik Indonesia, sedangkan PSAK 16
adalah standar akuntansi keuangan resmi di Indonesia
yang menggunakan IAS 16 - Property, Plant and
Equipment sebagai acuan utama dan dikeluarkan oleh
DSAK (Dewan Standar Akuntansi Keuangan) Ikatan
Akuntan Indonesia.

B. Pembahasan

Dari 2 (dua) standar tersebut, paling tidak terdapat


8 (delapan) perbedaan signifikan sebagai berikut:
Mulai dari perbedaan No. 1, revaluasi perpajakan
mengizinkan revaluasi secara cherry picking, sedangkan
komersial melarang revaluasi secara selektif. Secara
komersial, revaluasi harus dilakukan minimal 'per
kelompok aset. Definisi kelompok aset adalah aset yang
memiliki naturedan kegunaan yang serupa, misalnya
tanah, peralatan pabrik, kendaraan dan seterusnya.
Misalnya terdapat 8 tanah dalam klasifikasi aset tanah
dalam sebuah perusahaan, maka secara fiskal, diizinkan
hanya merevaluasi 3 tanah saja, sedangkan komersial
harus seluruhnya. Apakah kedua hal ini harus
disamakan? Tidak perlu dan tidak bisa. Jadi,
kesimpulannya aset apa saja yang akan direvaluasi
dapat berbeda sehingga menimbulkan nilai aset dan
depresiasi yang berbeda juga antara fiskal dan
komersial.
Perbedaan No. 2, secara fiskal mengharuskan periode
revaluasi ulang, yaitu 5 tahunan, sedangkan komersial
lebih diserahkan kepadajudgement terkait materialitas.
Jika hasil nilai wajar berbeda secara material, maka
baru direvaluasi ulang, jika tidak, maka tidak perlu.
Berapa tingkat materialitasnya? Lihat definisi
materialitas saja di PSAK No. 1 dan tentukan secara
internal. Namun, jika anda bekerja di multinational
company atau publicly listed entities, maka coba cari
tahu matriks materialitas atau guidance materialitas
lain. Tentunya, hal ini akan berbeda-beda di setiap
perusahaan dengan banyak faktor yang
mempengaruhinya. Jadi, sekali lagi nilai revaluasi di
suatu tahun dapat berbeda antara komersial dan fiskal
yang juga berdampak kepada pengukuran nilai aset
tetap dan depresiasinya.

Perbedaan No. 3 cukup jelas menurut tabel di atas.


Langsung kepada perbedaan No. 4, maka setelah
direvaluasi, masa manfaat menurut fiskal akan kembali
lagi ke mas manfaat penuh sesuai dengan kelompok aset
tetapnya (sesuai dengan Kelompok Aset Tetap -
Perpajakan), sedangkan akuntansi berlaku prospektif,
jadi didepresiasi berdasarkan sisa umur manfaatnya
saja. Jadi, akan ada perbedaan nilai depresiasi 'per
bulan dan 'per tahun serta akan menghasilkan
konsekuensi pajak tangguhan (deferred tax).
Perbedaan No. 5 dan 6 juga cukup jelas menurut
tabel di atas. Namun khusus untuk No. 6 memang
terlihat ketentuan fiskal agak out-scope, dimana sudah
mengatur tentang nama akun penyajian laporan
keuangan, padahal surplus ini dalam neraca komersial.
Selain itu, pengaturannya harus
memasukkan term "aktiva", padahal menurut komersial
sudah konsisten menggunakan term sesuai IFRS, yaitu
"aset". Pertanyaan yang mungkin timbul adalah apakah
tidak ada yang dinamakan neraca fiskal? Hal ini pernah
saya singgung secara singkat diKajian PMK No. 169 dan
191 Tahun 2015, jadi memang objek pengenaan pajak
pada umumnya untuk perusahaan berada pada
komponen laporan laba-rugi, namun dalam kasus
rekonsiliasi fiskal, terdapat metodebalance sheet
approach untuk menilai perbedaan temporer antara
komersial dan fiskal (diatur dalam PSAK No. 46)
sehingga ada juga yang dinamakan neraca fiskal.
Namun, tentu neraca ini tidak dilaporkan secara resmi
dimanapun karena dari sisi perpajakan sendiri juga kita
selalu melaporkan neraca versi komersial. Dan tentu
juga kita tidak dapat memaksakan agar neraca fiskal ini
"balance" karena angkanya tidak selalu terbentuk atas
jurnal akuntansi yang normal, apalagi laba-rugi fiskal
juga sudah merupakan hasil koreksi sesuai ketentuan
perpajakan. Mengenai perbedaan No. 7 tentang defisit
revaluasi juga sudah cukup jelas.
Perbedaan yang sangat menarik adalah point No. 8
tentang kapitalisasi selisih lebih penilaian kembali aset
tetap (surplus revaluasi) menjadi saham bonus. Secara
sederhana, saham bonus dapat diartikan sebagai
tambahan pencatatan atas modal tanpa penyetoran
baru. Hal ini merupakan objek pajak menurut UU PPh
No. 36 tahun 2008 pasal 4, namun tarifnya berbeda-
beda tergantung penerima saham bonus tersebut,
dimana untuk OP dikenakan PPh 4(2) final sebesar 10%
dan untuk Badan dikenakan PPh 23 sebesar 15%
(dengan catatan berlaku untuk WP dalam negeri, hal ini
juga sedikit dibahas dalam Kajian PMK No. 169 dan 191
tahun 2015). Khusus untuk PMK ini, kapitalisasi yang
berasal dari surplus tersebut dianggap bukan sebagai
objek pajak, jadi pengenaan PPh nya dibebaskan. Tentu
jika kita berbicara surplus revaluasi, exposure 10% atau
15% bisa jadi sangat besar sehingga insentif ini sangat
"menggiurkan".

Setelah dibahas 'per point perbedaan di atas,


masalah real akan dihadapi oleh perusahaan akibat
perbedaan substansial tersebut diantaranya adalah
sebagai berikut:
Depreciable amount antara komersial dan fiskal
berbeda, jika secara fiskal tidak direvaluasi, namun
secara komersial direvaluasi. Hal ini akan menimbulkan
beda tetap (permanent difference) dalam rekonsiliasi
fiskal dan perusahaan harusmaintain sistem pencatatan
aset terpisah menjadi 2 (dua)
Estimasi masa manfaat antara komersial dan fiskal
berbeda. Hal ini akan menimbulkan beda waktu
(temporary difference) dalam rekonsiliasi fiskal dengan
catatan tidak ada perbedaandepreciable amount.
Dengan kata lain, ada unsur pajak tangguhan
Klasifikasi komponen ekuitas akan berbeda, dimana
komersial mengakui dan menyesuaikan OCI secara
kontinyu, sedangkan fiskal dapat diklasifikasikan
sebagai saham bonus. Dampaknya, jika dinotarikan
secara legal, maka posisi ekuitas komersial akan berbeda
dengan dokumentasi legal dan berujung kepada
ketidaksesuaian dengan standar akuntansi
Tidak semua aset yang direvaluasi secara fiskal
akan dipertahankan perusahaan dalam waktu 10
(sepuluh) tahun ke depan dengan mempertimbangkan
dinamika dunia bisnis danstrategic action plan masing-
masing perusahaan. Namun, jika dijual akan dikenakan
tambahan PPh final dengan tarif PPh tertinggi, yaitu
25% untuk Badan dan 30% untuk OP
Solusi yang dapat dikembangkan atau alternatif yang
dapat dipertimbangkan terhadap masalah di atas
adalah:
Pertimbangkan untuk menyusutkan minimal 'per
kelompok aset agar tidak ada perbedaan jenis aset yang
direvaluasi antara komersial dan fiskal. Jangan semata-
mata memilih semua aset spesifik yang kira-kira
memiliki hasil surplus. Jika memang terjadi defisit
revaluasi, namun masih tolerable, maka lebih baik tetap
direvaluasi semua aset dalam kelompok terkait untuk
menghilangkan risiko point 1 di atas
Review estimasi masa manfaat secara akuntansi.
Hal ini merupakan bagian dari estimasi akuntansi yang
diatur dalam PSAK No. 25 (2009). Jika memungkinkan,
maka estimasi masa manfaat akan sama dengan masa
manfaat awal fiskal sehingga tidak ada perbedaan
penyusutan setiap bulan dan tahunnya. Misalkan suatu
aset memiliki masa manfaat awal 8 tahun dan sudah
disusutkan selama 3 tahun, baik secara komersial
maupun fiskal. Setelah itu, aset direvaluasi, maka secara
fiskal akan kembali menjadi 8 tahun, sedangkan
akuntansi karena berlaku prospektif, maka akan
disusutkan selama 5 tahun saja. Saat itu,
direview apakah masa manfaat yang tepat masih tersisa
8 tahun lagi sehingga secara akuntansi seharusnya dari
awal ditetapkan 11 tahun (3 tahun yang sudah
disusutkan + 5 tahun sisa umur + 3 tahun estimasi
tambahan baru). Jika berhasil, maka akan
menghilangkan risiko point 2 di atas
Tidak ada "jembatan tengah" untuk risiko point 3.
Satu-satunya cara adalah jangan sampai dikapitalisasi
menjadi saham bonus, apalagi dinotarikan secara legal
karena hal ini malah akan menimbulkan
ketidaksesuaian signifikan dengan standar akuntansi
dan dapat menimbulkan risiko salah saji material. Jadi,
perusahaan "stop" pada optimalisasi manfaat
penambahan ekuitas saja yang akan berdampak pada
membaiknya DER dan insentif tarif pajak atas revaluasi,
jangan dilanjutkan ke saham bonus
Perusahaan harus mengkaji apakah terdapat aset
yang memenuhi PSAK 58 (lihat slide di PSAK 58 - Aset
Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual). Jika
memenuhi, maka lakukan reklasifikasi aset terkait ke
dalam current assets, bukan sebagai aset tetap lagi
karena manfaat ekonominya akan dipulihkan melalui
penjualan dibandingkan pemakaian berlanjut, artinya
sudah tidak memenuhi ketentuan aset tetap dan tidak
perlu direvaluasi secara komersial dan fiskal sehingga
menghilangkan risiko point 4 di atas
Berikut akan disajikan perlakuan akuntansi dalam
bentuk ilustrasi kasus, termasuk dengan journal
entriesnya. Untuk fiskal, tinggal pembaca sesuaikan
dengan perbedaan-perbedaan di atas. Ilustrasi ini juga
tidak melanjutkan dampaknya sampai ke pajak
tangguhan karena hal tersebut akan dibahas pada
tulisan saya yang lain.
[Link]

Jadi, cara mengutilisasi advantage dari PMK No. 191


adalah dengan melakukan revaluasi secara perpajakan
dan mengkapitalisasikan hasil surplus revaluasinya
menjadi saham bonus. Hal ini akan "menghemat" pajak,
pertama sebesar 7% (asumsi perusahaan mengajukan
permohonan s.d tanggal 31 Desember 2015 dan
dikenakan tarif 3%), lalu mendapatkan ekuitas untuk
memperbaiki DER, kemudian mendapatkan tambahan
saham tanpa penyetoran kembali yang seharusnya
dikenakan pajak minimal 10%. Selain itu, surplus
tersebut juga adalah komponen OCI menurut komersial
sehingga tidak termasuk dalam perhitungan laba tahun
yang bersangkutan, artinya tidak
ada exposure penambahan 25% PPh Badan atas surplus
yang bersangkutan. Memang kelemahannya adalah
peningkatan beban depresiasi di tahun-tahun
berikutnya, tapi efeknya sama dengan "mencicil"
sehingga untuk kasus ini disimpulkanbenefit akan lebih
besar dibandingkan future depreciation cost.

Permasalahan untuk mendapatkan


semua advantage di paragraf di atas timbul karena
terdapat perbedaan dengan standar akuntansi yang
berlaku, dalam hal ini yang terkait adalah PSAK No. 16,
25, 46 dan 58, namun yang terutama adalah PSAK No.
16 (2011) yang mengacu kepada IAS 16 - Property, Plant
and Equipments. Perbedaan tersebut membuat
perusahaan secara tidak langsung akan "menabrak"
ketentuan komersial jika dipaksakan mendapatkan
semua advantage tersebut. Jadi, tergantung
keputusan strategic perusahaan ingin mengambil "jalan
tengah" seperti apa. Saya sudah menyajikan paling
tidak things to be considered sebagai solusi alternatif di
bagian pembahasan di atas. Salam

Common questions

Didukung oleh AI

Ketidakpastian dan risiko dalam penentuan nilai wajar aset tetap termasuk ketergantungan pada penilai profesional yang kualifikasinya harus tepat berdasarkan bukti pasar . Jika nilai wajar tidak dapat ditentukan karena aset jarang diperdagangkan secara individu, entitas mungkin menggunakan pendekatan alternatif seperti penghasilan atau biaya pengganti yang disusutkan, yang bisa mengurangi reliabilitas laporan keuangan . Ketidakpastian ini memberikan risiko bahwa laporan keuangan mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan nilai aset di pasar, mempengaruhi keputusan manajerial dan pengguna laporan .

Penurunan nilai setelah revaluasi diakui sebagai pengurangan surplus revaluasi yang telah terbentuk jika surplus tersebut ada. Selanjutnya, jika penurunan melebihi surplus, sisanya diakui sebagai beban dalam laporan laba rugi . Sebagai contoh, jika nilai aset sebelumnya mengalami kenaikan yang tercatat sebagai surplus senilai Rp16 juta dan aset menurun senilai Rp19 juta, maka penurunan sebesar Rp16 juta dicatat sebagai pengurangan surplus, dan Rp3 juta sisanya diakui sebagai rugi di laporan laba rugi .

Frekuensi revaluasi aset tetap penting untuk memastikan bahwa nilai tercatat tidak berbeda secara material dari nilai wajar. Revaluasi reguler diperlukan agar laporan keuangan mencerminkan nilai wajar terkini, menghindari informasi yang menyesatkan bagi pengguna laporan keuangan . Entitas harus mengelola revaluasi dengan melakukan evaluasi perubahan nilai wajar aset dan melakukan revaluasi ketika perubahan tersebut material. Bagi aset dengan nilai yang fluktuatif, revaluasi bisa dilakukan setiap tahun, sedangkan yang tidak, lebih jarang, tergantung pada perubahan signifikan nilai wajarnya .

Implikasi pajak terhadap model revaluasi aset tetap adalah bahwa jika entitas memilih untuk tidak melaporkan hasil revaluasi dalam konteks perpajakan, maka akan muncul beda temporer antara laporan keuangan dengan laporan fiskalnya, yang memerlukan perhitungan pajak tangguhan . Dengan memilih model revaluasi, entitas tidak diharuskan mengikuti ketentuan perpajakan untuk revaluasi, memberikan kebebasan lebih dalam pelaporan keuangan, namun tetap memerlukan penghitungan dan penyesuaian pengaruh pajak tangguhan .

Setelah revaluasi pada model revaluasi, penyusutan dihitung berdasarkan nilai tercatat baru yang merupakan nilai wajar pada tanggal revaluasi. Sebagai contoh, jika aset dengan nilai tercatat asli Rp20 juta meningkat nilainya menjadi Rp36 juta, maka penyusutan tahunan dihitung sebagai Rp36 juta dibagi sisa umur manfaat (misalnya 4 tahun), menjadi Rp9 juta . Jika ada kenaikan nilai sebelumnya, selisih penyusutan baru dibanding sebelumnya diakui dalam surplus revaluasi di ekuitas atau dalam laporan laba rugi tergantung apakah terjadi penurunan nilai sebelumnya .

Kendala utama dalam melakukan revaluasi aset tetap adalah prosesnya yang tidak mudah terlaksana dan memerlukan biaya besar untuk membayar jasa penilai . Pengaruhnya terhadap keputusan entitas adalah bahwa biaya tinggi dan kompleksitas proses dapat menyebabkan entitas mempertimbangkan secara cermat sebelum memutuskan untuk menerapkan revaluasi. Entitas harus mempertimbangkan antara manfaat yang didapat dari penyajian aset dengan nilai wajar dalam laporan keuangan dengan biaya dan usaha yang diperlukan untuk melakukan revaluasi.

Pengelompokan aset tetap dalam PSAK No. 16 (2007) memerlukan bahwa jika suatu aset direvaluasi, maka semua aset dalam kelompok yang sama juga harus direvaluasi . Kelompok aset didefinisikan sebagai aset yang memiliki sifat dan kegunaan serupa dalam operasi normal entitas. Contohnya adalah tanah, bangunan, mesin, dan peralatan kantor . Hal ini penting untuk mencegah revaluasi selektif yang bisa menyebabkan pembauran antara aset yang dicatat berdasarkan biaya perolehan dengan yang dicatat berdasarkan nilai wajar, menjaga konsistensi dan reliabilitas laporan keuangan .

Penyesuaian pajak tangguhan penting dalam konteks revaluasi aset tetap karena beda antara nilai buku di laporan keuangan dan nilai pajak dapat mempengaruhi beban pajak masa depan . Pajak tangguhan dihitung berdasarkan beda temporer ini, dan dicatat sebagai kewajiban atau aset pajak tangguhan dalam neraca . Hal ini memastikan bahwa entitas mengakui konsekuensi pajak masa depan dari revaluasi pada periode yang sama di mana perbedaan tersebut timbul, menjaga keseimbangan antara laporan fiskal dan keuangan .

PSAK No. 16 (2007) membedakan pengukuran aset tetap setelah pengakuan awal dengan memberikan pilihan kepada entitas untuk menggunakan model biaya atau model revaluasi. Dengan model biaya, aset tetap dicatat sebesar biaya perolehan dikurangi akumulasi penyusutan dan penurunan nilai . Dalam model revaluasi, aset yang nilai wajarnya dapat diukur harus dicatat pada jumlah revaluasian, yaitu nilai wajar aset pada tanggal revaluasi, dikurangi akumulasi penyusutan dan rugi penurunan nilai setelah revaluasi . Revaluasi ini dilakukan secara reguler untuk mencerminkan nilai wajar yang berlaku.

Perbedaan utama dalam pendekatan pengukuran aset tetap adalah bahwa PSAK No. 16 (1994) hanya mengizinkan model biaya dan tidak mengizinkan model revaluasi, sementara PSAK No. 16 (2007) memberikan pilihan antara model biaya dan model revaluasi . Selain itu, dalam PSAK 1994, revaluasi diizinkan jika mengikuti peraturan pemerintah terkait perpajakan, sedangkan PSAK 2007 tidak mengharuskan mengikuti ketentuan perpajakan untuk revaluasi .

Anda mungkin juga menyukai