1.
Risk Based Audit adalah metodologi pemeriksaan yang dipergunakan untuk memberikan
jaminan bahwa risiko telah dikelola di dalam batasan risiko yang telah ditetapkan
manajemen pada tingkatan korporasi. Perbedaan audit berbasis risiko dengan audit
tradisional adalah pada metodologi yang digunakan dimana auditor mengurangi perhatian
pada pengujian transaksi individual dan lebih berfokus pada pengujian atas sistem dan
proses bagaimana manajemen mengatasi hambatan pencapaian tujuan, serta berusaha
untuk membantu manajemen mengatasi (mengalihkan) hambatan yang dikarenakan faktor
risiko dalam pengambilan keputusan.
2. Model COSO menunjukkan hubungan antara risiko organisasi dengan perencanaan audit.
Model COSO yang menggambarkan pendekatan pengendalian internal dari perspektif
tujuan organisasi, risiko yang dihadapi dalam mencapai tujuan organisasi dan selanjutnya
pengendalian yang diperlukan untuk menekan risiko. Manajemen bertanggung jawab
untuk menentukan tujuan organisasi yang hendak dicapai serta berupaya untuk
mencapainya secara optimal dengan menggunakan sumber daya yang tersedia.
3. Menurut Auditor Internal (IIA), definisi pengendalian adalah setiap tindakan yang
diambil manajemen untuk meningkatkan kemungkinan tercapainya tujuan dan sasaran
yang ditetapkan. Pengendalian dapat membantu manajemen, sesuai filosofi manajemen,
yaitu :
a. Pengendalian sebagai sebuah sarana (tools) untuk mencapai tujuan dan sasaran
perusahaan.
b. Pengendalian dipandang sebagai alat ukur untuk menentukan apakah standar yang
telah ditetapkan telah tercapai
4. Risiko bawaan (inherent risk) adalah kerentanan asersi terhadap salah saji yang
material, dengan mengasumsikan bahwa tidak ada prosedur pengendalian internal yang
berhubungan.
Risiko pengendalian (control risk) adalah risiko salah saji material yang bisa terjadi
pada suatu asersi tidak dapat dicegah atau dideteksi secara tepat waktu oleh struktur,
kebijakan atau prosedur pengendalian interen suatu entitas.
Risiko deteksi (detection risk) adalah risiko bahwa auditor tidak dapat mendeteksi salah
saji material yang terdapat dalam suatu asersi. DR dapat terjadi karena auditor
memutuskan tidak memeriksa 100% saldo atau transaksi atau karena ketidakpastian
lainnya.
5. Elemen-Elemen sistem pengendalian:
a. Sarana pengendalian meliputi orang, peraturan, anggaran, jadwal, dan analisis
komponen-komponen lainnya yang bila digabungkan akan membentuk sistem
pengendalian.
b. Bentuk sistem pengendalian:
1) Sistem tertutup (Closed System): tidak berinteraksi dengan lingkungan sejak
pemakaian komputer secara luas, dan sistem ini sering digunakan.
2) Sistem terbuka (Open System): memiliki interaksi dengan lingkungan.
3) Sistem umpan balik: Sistem lingkaran tertutup (closed-loop system) yang lebih
umum, misalnya sistem pemesanan ulang persediaan.
Standar-standar pengendalian internal:
a. Standar-Standar Umum:
Pengendalian Keyakinan yang wajar
Perilaku yang mendukung
Integritas dan kompetensi
Tujuan pengendalian
Pengawasan pengendalian
b. Standar-Standar Rinci :
Dokumentasi
Pencatatan transaksi dan kejadian dengan layak dan tepat waktu
Otorisasi dan pelaksanaan transaksi dan kejadian
Pembagian tugas
Pengawasan
Akses dan akuntabilitas ke sumber daya / catatan
6. Studi awal mencakup :
Penelaahan : kertas kerja tahun sebelumnya
Temuan-temuan audit
Bagan organisasi
Dokumen-dokumen lain yang dapat membantu pemahaman
Beberapa hal yang perlu diperhatikan apabila audit yang dilakukan adalah audit
berulang (repeat audit) adalah mempelajari permanent file yang berisi laporan audit
terdahulu, informasi lainnya yang relevan dengan penugasan berikutnya.
Auditor perlu menelaah literature-literatur yang terkait agar pengetahuan audit
dapat selalu ter-update dengan memakai referensi dari situs dari IIA yaitu
[Link] atau jurnal Internal Auditor yaitu jurnal profesi yang diterbitkan IIA.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan studi awal:
1. Pendokumentasian
Dokumentasi berupa kuestioner penting untuk bahan
wawancara/diskusi
2. Daftar pengingat
Catatan yang berisi langkah-langkah yang harus dilakukan auditor
mulai perencanaan, pekerjaan lapangan sampai penyelesaian agar
auditor tidak bingung pada saat akan memeriksa.
3. Daftar isi
Berisi daftar masalah yang harus ditangani auditor seiring dengan
kemajuan penugasan dan membuat acuan kertas kerja.
4. Pengurangan biaya
Manajemen mengharapkan hasil pemeriksaan dari audit internal
menghasilkan saran-saran yang menghasilkan pengurangan biaya
maupun peningkatan operasi. Pengurangan biaya secara langsung akan
mempengaruhi laba perusahaan.
5. Catatan kesan
Catatan yang berisi pengamatan dan kesan auditor selama audit misal
moral karyawan, kebiasaan kerja, organisasi dan penugasan staf,
supervisi, hubungan dengan organisasi lain, daerah kerja.
6. Kuesioner
Kuesioner ini berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan digunakan untuk
memenuhi tujuan audit, bertemu manajer klien pada pertemuan awal.
7. Audit merupakan alat yang menghubungkan survei pendahuluan dengan pekerjaan
lapangan. Dalam survei pendahuluan, auditor internal mengidentifikasi tujuan operasi,
risiko, kondisi-kondisi operasi, dan kontrol yang diterapkan. Dalam pekerjaan
lapangan mereka mengumpulkan bahan bukti tentang efektivitas sistem kontrol,
efisiensi operasi, pencapaian tujuan, dan dampak perusahaan.
Program audit sebaiknya mengikuti kreteria tertentu untuk mencapai tujuan
departemen audit internal. Misalnya :
Tujuan operasi yang diperiksa harus dinyatakan dengan jelas dan disetujui klien.
a) Program harus sesuai dengan penugasan audit kecuali bila ada alasan yang
mengharuskan sebaliknya.
b) Setiap langkah kerja yang diprogramkan harus memiliki alasan, yaitu tujuan
operasi dan kontrol yang akan diuji.
c) Langkah-langkah kerja harus mencakup instruksi-instruksi positif, tidak
dinyatakan dalam bentuk pertanyaan.
d) Jika dimungkan program audit harus menunjukan prioritas dan langkah-
langkah kerja yang lebih baik terutama bagian yang penting.
e) Program audit sebaiknya bersifat fleksible dan memungkinkan munculnya
inisiatif dan pertimbangan yang wajar untuk menyimpang dari prosedur ,
tetapi supervisor audit harus diinformasikan segera.
f) Informasi yang tidak perlu, harus dihindari untuk mencegah adanya salah
komunikasi antara auditor dengan klien.
g) Program audit harus memuat bukti persetujuan supervisor sebelum
dilakukan. Perubahan signifikan juga harus disetujui terlebih dahulu.
h) Jika manajemen klien meminta auditor melakukan pengujian tertentu, hal ini
harus tercakup dalam program audit jika dimungkinkan dalam anggaran
audit.
8. Manfaat dari program audit:
- Memberikan rencana sistematis untuk setiap tahap pekerjaan audit
- Menjadi dasar penugasan auditor
- Menjadi sarana pengawasan dan evaluasi kemajuan pekerjaan audit
- Memberi ringkasan catatan pekerjaan yang dilakukan
- Mengenal lebih dekat jenis-jenis pekerjaan audit
- Mengurangi waktu supervise
- Menjadi titik awal bagi peniai fungsi audit internal untuk evaluasi pekerjaan audit
Dan apabila auditor mengabaikan program audit tersebut maka auditor tidak
bisa memastikan kontrol-kontrol yang dibutuhkan tidak dapat diterapkan dalam
mengurangi resiko.
9. Pekerjaan lapangan merupakan proses untuk mendapatkan keyakinan secara
sistematis dengan mengumpulkan bahan bukti secara objektif mengenai operasi
entitas,mengevaluasinya, dan melihat apakah operasi tersebut memenuhi standar yang
dapat diterima dan mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dan menyediakan
informasi untuk pengambilan keputusan oleh manajemen.
Tujuan pekerjaan lapangan adalah untuk membantu pemberian keyakinan
dengan melaksanakan prosedur-prosedur audit yang ada di program audit, sesuai
tujuan audit yang ingin dicapai. Tujuan-tujuan audit terkait tujuan-tujuan operasi tetpi
memiliki sedikit perbedaan.
10. Pembuatan Strategi untuk melakukan pekerjaan lapangan :
1) Kebutuhan Pegawai : Penting untuk merencanakan jumlah dan kualifikasi staf
yang
akan melakukan audit.
2) Kebutuhan Sumber daya dari alam : termasuk didalamnya adalah keahlian di
bidang produksi, Ekonomi, kesehatan, pekerjaan social, psikologi, pendidikan,
dan analisi operasi, juga kebutuhan sumber dari luar dan kemitraan.
3) Pengorganisasian staf audit : sebuah rencana organisasi harus diidentifikasi
sebagai rencana berbentuk ramping (dengan lapisan supervisi yang terbatas)
atau gemuk (banyak lapisan supervisi) tergantung pada kompleksitas kerja dan
rentang kontrol yang dibutuhkan.
4) Wewenang dan Tanggung jawab : Berkaitan erat dengan bagian sebelumnya
dan mengidentifikasi berbagai aspek tanggung jawab seperti manajemen
personalia, fungsi-fungsi teknis, aspek administrasi dan hal-hal yang
berhubungan dengan fiskal.
5) Struktur pekrjaan lapangan : Aktifitas yang berurutan saling berhubungan
untuk meyakinkan bahwa terdapat susunan alur kerja.
6) Waktu pelaksanaan pekerjaan lapangan : Proses membuat struktur pekerjaan
lapangan munculkan waktu pelaksanaan pekerjaan lapangan.
7) Metode pekerjaan lapangan : beberapa pekerjaan lapangan mungkin
membutuhkan lebih dari satu metode dan perencanaannya harus lebih
melibatkan beberapa metode.
8) Metode pendokumentasian : selalu dibutuhkan kecermatan dalam proses
pendokumentasian.
9) Penyiapan Laporan : Struktur mikro laporan, atau metode penyajian setiap
temuan audit harus direncanakan. Tidak semua temuan akan menjadi bagian
dari temuan yang lengkap. Laporan harus dirancang dengan
mempertimbangkan pembaca dan pengguna.
10) Rencana Kontijensi : Rencana harus menyediakan kontijensi. Kontijensi harus
diantisipasi dan kerangaka harus disiapkan untuk beberapa situasi.
15. Pengujian Substantif : prosedur-prosedur audit yang di desain untuk menguji
kesalahan dalam menilai rupiah yang mempengaruhi langsung kebenaran dari saldo-
saldo dalam laporan keuangan. Ada 3 macam pengujian substantif yaitu Pengujian
substantif
16. Temuan audit : tanggapan auditor mengenai semua hal yang telah diperiksa oleh
auditor. Penyimpangan dari norma-norma atau kriteria yang dapat diterima.
Ada 2 temuan yaitu:
Temuan Major : sama sekali tidak wajar artinya sebuah entitas tersebut tidak
memenuhi hal-hal yang standar
Temuan Minor : menunjukkan hal yang tidak konsisten meskipun hanya sebatas
pelengkap atau pembantu namun tidak terpenuhi oleh klien
Hubungan Temuan Audit dengan Opini Audit :
Temuan adalah sebuah standar atau dasar yang digunakan auditor untuk
memberikan sebuah opini agar dapat meyakinkan dalam pengambilan keputusan
apakah opini yang dikeluarkan itu wajar atau tidak wajar sesuai dengan temuan baik
itu major maupun minor.
17. Kriteria : Standar, ukuran, atau ekspektasi yang digunakan dalam melakukan evaluasi
atau verifikasi, tujuan dan sasaran : standar-standar operasi, kualitas pencapaian.
Dampak : Risiko atau eksposur yang dihadapi organisasi dan/atau yang lainnya
karena kondisi tidak sama dengan kriteria (dampak perbedaan). Dalam menentukan
tingkat risiko atau eksposur, auditor internal harus mempertimbangkan dampak
observasi dan rekomendasi penugasan mereka terhadap laporan keuangan organisasi.
Siapa atau apa yang dirugikan dan seburuk apa.
18. Elemen-elemen temuan audit :
Kriteria (criteria) : tujuan dan sasaran serta kualitas pencapaian.
Kondisi (condition) : merupakan jantungnya temuan
Penyebab (cause) : memerlukan latihan pemecahan masalah (problem solving)
Dampak (effect) :
Temuan tentang keekonomisan dan efisensi : diukur dalam $ atau Rp.
Temuan tentang keefektivan : ketidakmampuan untuk menyelesiakan hasil
akhir.
Kesimpulan (conclusion) : harus didukung dengan fakta.
Rekomendasi (recommendation) : tindakan yang dapat mempertimbangkan oleh
manajemen untuk memperbaiki kondisi yang salah atau memperkuat sistem
pengendalian intern.
19. Kertas Kerja merupakan catatan-catatan yang dibuat dan data-data yang dikumpulkan
auditor pada saat melakukan atau melaksanakan tugas audit. Kertas kerja dibuat untuk
memberikan gambaran yang lengkap terhadap proses audit, langkah-langkah kerja
audit yang ditempuh, pengujian-pengujian yang dilakukan, informasi yang diperoleh
dan kesimpulan hasil audit.
20. Jenis Kertas Kerja :
1. program audit
2. working trial balance
3. ringkasan jurnal penyesuaian dan jurnal pengklasifikasian kembali
4. daftar pendukung
5. daftar utama
6. memorandum audit dan dokumen informasi pendukung
Bentuk kertas Kerja :
1. Sampul kertas kerja audit berisi nama objek audit, program / aktivitas yang diaudit
dan periode audit
2. Daftar isi kertas kerja
3. Daftar simbol audit (Tick Mark) beserta penjelasannya
4. Tembusan surat tugas
5. Program kerja audit
6. Kelompok kelompok kertas kerja seperti :
Kelompok I : Audit pendahuluan
Kelompok II : Review dan pengujian pengendalian manajemen
Kelompok III : Audit lanjutan
Kelompok IV : Laporan hasil audit