1.
Sistem Pencernaan pada Mamalia
Gambar 1 Saluran Pencernaan pada Manusia
(Mikrajuddin, 2007)
Sistem pencernaan mamalia terdiri atas mulut, faring, kerongkongan, lambung, usus,
dan anus (Nelistya, 2009). Mulut mamalia dilengkapi dengan bibir atas dan bawah. Di dalam
rongga mulut terdapat gigi. Bentuk gigi mamalia bermacam-macam sesuai fungsinya. Gigi seri
berbentuk seperti pahat, berfungsi untuk memotong. Pada binatang pengerat, gigi seri
digunakan untuk mengerat dan gigi tersebut akan terus tumbuh. Gigi taring berfungsi untuk
mengoyak makanan. Pada binatang pemakan daging, gigi taring ini besar dan runcing.
Sedangkan pada marmut, tidak terdapat gigi taring, melainkan diastema. Diastema adalah
celah di antara gigi seri dan gigi geraham depan. Gigi geraham berfungsi untuk mengunyah
dan menghaluskan makanan.
Gambar 2 Sistem Pencernaan pada Sapi
(Campbell, 2004)
Menurut Nelistya (2009), kerongkongan (esofagus) dapat dibedakan dari lambung dan
ukurannya bervariasi, tergantung pada panjang leher binatang itu. Lambung mamalia beragam
bentuknya, tergantung pada jenis makanannya. Ada yang berupa kantung atau bahkan terbagi-
bagi menjadi beberapa ruangan, seperti pada binatang memamah biak (ruminansia). Lambung
ruminansia terbagi menjadi empat ruangan, yaitu rumen, retikulum, omasum, dan abomasum.
Kelenjar pencernaan mamalia terdiri atas kelenjar ludah, hati, pankreas, dan kelenjar lain. Ada
tiga pasang kelenjar ludah. Masing- masing kelenjar ludah menghasilkan air ludah (saliva)
yang mengandung enzim pencernaan. Hati berwarna cokelat kemerah-merahan. Hati tersusun
dari 5 lobus gelambir dengan jantung empedu di bagian kanan. Pangkreas berfungsi sebagai
kelenjar pencernaan dan penghasil hormon insulin. Dari lambung, makanan masuk ke dalam
usus. Pada mamalia, usus halusnya panjang dan berliku-liku. Usus marmut terbagi menjadi
usus dua belas jari, usus halus, dan usus besar. Di antara usus halus dan usus besar terdapat
usus buntu. Usus buntu ini berupa kantung besar dan berwarna hijau keabu-abu. Fungsi usus
buntu sebagai temapat penyimpan makanan sementara. Panjang usus tergantung pada jenis
makanannya. Usus binatang pemakan tumbuhan (herbivora) lebih panjang daripada usus
binatang pemakan daging (karnivora). Sisa makanan kemudian dikeluarkan melalui anus
(Nelistya, 2009)
2. Prinsip Kerja Zat Penambah dan Pengurang Berat Badan
Prinsip kerja zat penambah berat badan dengan menstimulasi banyak protein yang
berfungsi untuk tubuh bertumbuh, memperbaiki diri, dan mengganti jaringannya. Zat/
suplemen penambah berat badan mengandung protein yang diperlukan dalam pembuatan lebih
dari 2.000 jenis enzim di dalam tubuh (Suprayogi, 2017). Zat/suplemen penambah berat badan
biasanya mengandung L-lysine yang dapat meningkatkan kadar PER (Protein Efficiency
Rating), yang merupakan kapasitas berat untuk mendapatkan asupan protein.
Prinsip kerja zat pengurang berat badan menurut Ghaida (2013) adalah berfungsi
sebagai astringen. Senyawa ini berfungsi mengendapkan mukosa protein yang ada di dalam
permukaan intestin (usus) untuk melapisi bagian dalam usus sehingga dapat mengurangi
penyerapan makanan, sehingga proses obesitas (kelebihan berat badan) dapat dihambat. Selain
berfungsi sebagai astringen, zat pengurang berat badan juga berfungsi sebagai pelicin atau
pelumas. Dengan adanya pelumas ini, makanan tidak diberi kesempatan untuk diadsorpsi
sehingga langsung dikeluarkan dari tubuh.
[Link] Zat pada Sistem Pencernaan Mencit
Pendedahan zat pada sistem pencernaaan mencit salah satunya adalah dengan oral
gavage, sebuah metode yang banyak dilakukan di kalangan ilmuan. Untuk mengurangi resiko
yang tidak baik dalam penggunaanya, penting untuk dianjurkan bahwa ketrampilan merupakan
hal yang harus dimiliki orang yang melakukan pendedahan secara oral gavage. Menurut Zhang
(2012) sebagai alternatif gavage, beberapa bahan bisa dimakan secara sukarela pada campuran
yang enak dan pemberian secara oral gavage dilakukan melalui saluran pencernaan, oleh
karena itu penting untuk membuat mencit agar tidak stress.
Daftar Pustaka
Campbell, Reece, Mitchell. 2004. BIOLOGI edisi 5. Jakarta: Erlangga
Mikrajuddin, Saktiyono, Lutfi. 2007. IPA Terpadu jilid 2A. Jakarta: Erlangga
Nelistya, Anne. 2009. Mengenal Tubuh Hewan. Bogor: Minat Baca
Suharmiati, Herti Maryani. 2003. Khasiat& Manfaat Jati Belanda si Pelangsing Tubuh
& Peluruh Kolesterol. Jakarta: Agromedia Pustaka
Suprayogi, Sidik. 2017. Makan Tinggi Protein Bisa Bikin Gemuk Engga ya?
[Link] diakses pada
Sabtu, 16 September 2017
Zhang, Lei. 2011. Voluntary Oral Administration Of Drugs In Mice. Published online
11 May 2011: Protocol Exchange