BAB III
LANDASAN TEORI
3.1 Perencanaan Talud Bronjong
Perencanaan talud pada embung memanjang menggunakan bronjong.
Bronjong adalah kawat yang dianyam dengan lubang segi enam, sebagai wadah
batu yang berfungsi untuk tanggul penahan longsor. Langkah perencanaan yang
dilakukan adalah, menguji stabilitas dari rencana urugan tanah dari bahaya
longsoran. Metode yang digunakan adalah metode irisan (method of Slice) yang
dikemukaan oleh Fellinius yang digunakan untuk analisis pada saat kolam
kosong.
3.1.1. Metode Fellinius
Analisis stabilitas lereng Fellinius menganggap bahwa gaya-gaya yang
bekerja pada isi kanan kiri dari sembarangan irisan mempunyai resultante nol
pada arah tegak lurus bidang longsor. Dengan anggapan bahwa keseimbangan
arah vertikal dan gaya-gaya yang bekerja dengan memperhatikan tekanan air pori.
Dari rencana urugan tanah dihitung faktor aman hitungan, kemudian
dibandingkan dengan faktor aman minimum, yaitu 2. Cara menghitung faktor
aman ditunjukkan dalam persamaan:
( )
= .................................................. (3-1)
Keterangan:
SF = faktor aman = 2
13
14
c = kohesi tanah (kN/m2)
= sudut geser dalam tanah
= panjang lengkung lingkaran pada irisan ke-i (m)
= berat irisan tanah ke-i (kN)
= tekanan air pori pada irisan ke-i (kN/m2)
= sudut yang dibentuk antara pusat irisan dengan garis horisontal
tegak lurus pusat irisan
F hitungan > 2, kesimpulan yang diperoleh adalah urugan tanah aman
terhadap bahaya longsoran.
3.2 Gaya yang Bekerja pada Bangunan
Gaya-gaya yang bekerja yang akan berdampak terhadap kestabilan
bangunan, antara lain tekanan air (Eh), berat bangunan (Wb), energi aktif (Ea),
dan energi pasif (Ep).
Dalam perencanaan bangunan apapun, untuk mengetahui aman atau
tidaknya suatu bangunan yang telah direncanakan, maka perlu pengecekkan
terhadap kestabilan. Yang perlu dilakukan dalam pengecekkan adalah,
memperhitungkan faktor-faktor penyebab ketidakstabilan bangunan. Dalam
perencanaan embung ini, terdapat empat penyebab runtuhnya bangunan, yaitu
guling, geser, piping, dan daya dukung tanah.
3.2.1 Gaya vertikal yang bekerja pada bangunan
Gaya vertikal yang bekerja pada bangunan terdiri dari Gaya berat
bangunan (Wb). Rumus ditunjukkan pada persamaan:
15
1. Gaya berat bangunan (Wb)
= volume bangunan x material ............................... (3-2)
Keterangan:
material pasangan batu pecah = 20 kN/m3
material pasangan batu belah = 2,2 ton/ m3
3.2.2 Gaya horizontal yang bekerja pada bangunan
Gaya horisontal yang bekerja pada bangunan terdiri dari gaya berat
tekanan air (Eh), energi aktif (Ea), dan energi pasif (Ep). Rumus ditunjukkan pada
persamaan:
1. Energi tekanan air (Eh)
Eh = 0,5 x h x x h ........................................................... (3-3)
Keterangan:
h = ketinggian muka air dari dasar (m)
2. Koefisien tanah aktif (ka)
= (45 ).............................................................. (3-4)
3. Koefisien tanah pasif (kp)
= (45 + ) ............................................................ (3-5)
16
3.3 Analisis Stabilitas Bangunan Air
3.3.1 Stabilitas terhadap guling
Agar bangunan aman terhadap guling, maka jumlah semua momen
penahan bekerja pada embung harus lebih besar dari jumlah momen guling yang
bekerja. Stabilitas terhadap guling adalah sebagai berikut:
> ............................................................................. (3-6)
Keterangan:
Mp = Momen penahan guling (kNm)
Mg = Momen penyebab guling (kNm)
SF = angka aman (1,5).
3.3.2 Stabilitas terhadap geser
Dalam pemeriksaan kestabilan terhadap geser, harus dihitung terlebih
dahulu gaya-gaya horisontal dan gaya-gaya vertikal yang bekerja pada bangunan.
Gaya-gaya tersebut antara lain: tekanan aktif sebagai gaya pendorong, sedangkan
tekanan pasif dan gaya berat bangunan itu sendiri sebagai gaya penahan. Setelah
gaya-gaya yang bekerja didapatkan, selanjutnya menghitung momen akibat gaya
yang bekerja. Pemeriksaan geser dilakukan saat ada aliran maupun tidak terdapat
aliran.
.
...................................................... (3-7)
Keterangan:
= Total berat sendiri , (Kg)
=Total Energi pasif, (kN)
17
= Total Energi aktif, (kN)
Eh = Tekanan air, (kN)
C = Kohesi (Kg/m2)
A = luas penampang alas (m2)
3.3.3 Stabilitas terhadap daya dukung tanah
1. Daya dukung tanah ijin dihitung dengan menggnakan rumus Terzaghi
= + + .................................... (3-8)
Keterangan:
= daya dukung ultimate (kN/m2)
c = kohesi, tegangan kohesi (kN/m2) Nc, Nq, N adalah faktor-faktor
daya dukung tidak berdimensi, ditunjukkan pada tabel 3.1.
g = berat volume tanah (kN/m3)
B = jarak telapak fondasi (m)
dan adalah faktor tak berdimensi, ditunjukkan pada tabel 3.2.
z = kedalaman pondasi di bawah permukaan (m)
Tabel 3.1. Nilai Nc, Nq, dan N
Keruntuhan geser umum Keruntuhan Geser lokal
() Nc Nq N Nc Nq N
0 5,7 1,0 0,0 5,7 1,0 0,0
5 7,3 1,6 0,5 6,7 1,4 0,2
10 9,6 2,7 1,2 8,0 1,9 0,5
15 12,9 4,4 2,5 9,7 2,7 0,9
20 17,7 7,4 5,0 11,8 3,9 1,7
25 25,1 12,7 9,7 14,8 5,6 3,2
30 37,2 22,5 19,7 19,0 8,3 5,7
34 52,6 36,5 35,0 23,7 11,7 9,0
35 57,8 41,4 42,4 25,2 12,6 10,1
40 95,7 81,3 100,4 34,9 20,5 18,8
45 172,3 173,3 297,5 51,2 35,1 37,7
48 258,3 287,9 780,1 66,8 50,5 60,4
50 347,6 415,1 1153,2 81,3 65,6 87,1
sumber: Hardiyatmo, 2007
Tabel 3.2. Bentuk telapak fondasi
Bentuk
Jalur/ strip 1,0 0,5
Bujur sangkar 1,3 0,4
Segi empat ( B x H) 1,09 + 0,21 B/L 0,4
18
Bentuk
Lingkaran (diameter = B) 1,3 0,3
sumber: Hardiyatmo, 2007
2. Besarnya daya dukung izin dapat dihitung menggunakan persamaan
= + + ................................................................... (3-9)
Keterangan:
= daya dukung tanah nominal, (kN/m2)
= daya dukung ultimate, (kN/m2)
SF = faktor keamanan (SF = 3)
= berat volume tanah, (kN/m3)
z = kedalaman pondasi di bawah permukaan, (m)
3. Tegangan yang bekerja akibat pondasi ( )
= + + ................................................. (3-10)
Keterangan:
Iy = momen inersia pada sumbu y (m4)
4. Momen inersia (I)
= ...................................................................... (3-11)
Kombinasi pembebanan yang bekerja pada bangunan, ditunjukkan pada
tabel 3.3.
Tabel 3.3. Kombinasi Pembebanan (PUBI 1982)
No Kombinasi pembebanan Kenaikan tegangan izin
1 M+H+K+T+Thn 0%
2 M+H+K+T+Thn+G 20%
3 M+H+K+T+Thb 20%
4 M+H+K+T+Thb+G 50%
5 M+H+K+T+Thb+Ss 30%
Keterangan:
M = beban mati
H = beban hidup
K = beban kejut
T = beban tanah
Thn = tekanan air normal
Thb = tekanan air banjir
19
G = beban gempa
Ss = pembebanan sementara selama pelaksanaan
3.3.4 Stabilitas terhadap erosi bawah tanah (piping)
Erosi bawah tanah (piping) sangat berbahaya, hal ini dapat mengakibatkan
keruntuhan bangunan akibat naikknya dasar galian atau rekahnya pangkal hilir
bangunan. Teori yang dapat digunakan untuk menghitung pengaman terhadap
rembesan adalah Teori angka rembesan Lane. Dalam teori ini angka rembesan
Lane, diandaikan bahwa bidang horizontal memiliki daya tahan terhadap aliran
(rembesan) tiga kali lebih lemah dibandingkan dengan bidang vertikal.
=
..................................................................... (3-12)
Keterangan:
CL : angka rembesan Lane, ditunjukkan pada tabel 3.4.
Lv : jumlah panjang vertikal (m)
Lh : jumlah panjang horizontal (m)
H : beda tinggi muka air (m)
Embung harus memenuhi syarat CL perhitungan pada saat terdapat
aliran ataupun tidak terdapat aliran, yaitu dengan harga lebih kecil daripada CL
dari tabel 3.4.
Tabel 3.4. Harga-harga minimum angka rembesan Lane (CL)
Pasir sangat halus atau lanau 8,5
Pasir halus 7,0
Pasir sedang 6,0
Pasir kasar 5,0
Kerikil halus 4,0
Kerikil sedang 3,5
Kerikil dasar termasuk berangka 3,0
Bongkah dengan sedikit berangkal dan kerikil 2,5
Lempung lunak 3,0
Lempung sedang 2,0
Lempung keras 1,8
Lempung sangat keras 1,6
sumber: Kimpraswil, KP-06, 2002