Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase
DAFTAR ISI
1
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
2
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
3
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
DAFTAR TABEL
4
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
Drainase
Gambar 4.1 Gambar Peta Wilayah Perencanaan dengan skala 1 : 8000 .............. 42
Grafik 5.1 Grafik Intensitas Curah Hujan Metode Ishiguro ............................... 54
5
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
DAFTAR LAMPIRAN
6
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
BAB I
PENDAHULUAN
7
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
8
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
9
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
Karakteristik air limbah perlu dikenal karena hal ini akan menentukan cara
pengolahan yang tepat sehingga tidak mencemari lingkungan hidup. Secara garis
besar karakteristik air limbah ini digolongkan sebagai berikut :
a. Karakteristik Fisik
Sebagian besar terdiri dari air dan sebagian kecil terdiri dari bahan-bahan padat
dan suspensi. Terutama air limbah rumah tangga, biasanya berwarna suram
seperti larutan sabun, sedikit berbau. Kadang-kadang mengandung sisa-sisa
kertas, berwarna bekas cucian beras dan sayur, bagian-bagian tinja, dan
sebagainya.
b. Karakteristik Kimiawi
Biasanya air limbah ini mengandung campuran zat-zat kimia anorganik yang
berasal dari air bersih serta bermacam-macam zat organik berasal dari
penguraian tinja, urine dan sampah-sampah lainnya. Oleh sebab itu pada
umumnya bersifat basa pada waktu masih baru dan cenderung ke asam apabila
sudah mulai membusuk.
Substansi organik dalam air limbah terdiri dari 2 gabungan, yakni :
Gabungan yang mengandung nitrogen, missalnya urea, protein, amine dan
asam
amino.
Gabungan yang tak mengandung nitrogen,, misalnya lemak, sabun dan
karbohidrat, termasuk selulosa.
c. Karakteristik Bakteriologis
Kandungan bakteri patogen serta organisme golongan coli terdapat juga dalam
air limbah tergantung darimana sumbernya namun keduanya tidak berperan
dalam proses pengolahan air limbah. Sesuai dengan zat-zat yang terkandung
didalam air limbah ini maka air limbah yang tidak diolah terlebih dahulu akan
menyebabkan berbagai gangguan kesehatan masyarakat dan lingkungan hidup
antara lain :
Menjadi transmisi atau media penyebaran berbagai penyakit, terutama
kolera,typhus abdominalis, disentri baciler.
Menjadi media berkembangbiaknya mikroorganisme patogen.
10
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
11
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
1. Dilution
Pada metode ini biasanya digunakan tracer berupa fluorescent dye
(pewarna berpendar). Tracer ini diteteskan di hulu aliran, kemudian
konsentrasinya diukur di hilir.
2. Timed gravimetric
Air dialirkan ke dalam suatu wadah penampung selama waktu
tertentu kemudian beratnya ditimbang. Variasi lain dari metode ini adalah
dengan menggunakan wadah (container) yang telah diketahui volumenya
kemudian dilakukan pengukuran waktu yang diperlukan untuk mengisi
penuh kontainer tersebut menggunakan stopwatch. Metode yang cukup
sederhana, namun kurang sesuai untuk aliran kontinyu.
3. Weir dan flume
Pada metode ini digunakan struktur hidrolik berupa weir atau flume.
Dua struktur hidrolik ini merupakan alat ukur primer, yaitu suatu ambang
(penahan) yang memiliki hubungan spesifik antara kedalaman terhadap
debit. Debit air yang mengalir dapat ditunjukkan dengan melihat kurva
korelasi atau perhitungan matematis berdasarkan ketinggian air yang
melewati weir atau flume.
4. Area velocity
Dengan mengetahui kecepatan aliran rata-rata pada suatu
penampang saluran, kemudian dikalikan dengan luas penampang aliran
maka akan diperoleh debit air limbah. Hal ini sesuai dengan persamaan
Q = A x V,
Q merupakan debit air limbah, A merupakan luas penampang aliran, dan V
merupakan kecepatan aliran.
5. Persamaan Manning
Pengukuran debit menggunakan persamaan Manning melibatkan
beberapa faktor, antara lain luas penampang aliran, kemiringan saluran, dan
kekasaran saluran. Kekasaran saluran dinyatakan dengan suatu koefisien
kekasaran, yaitu n (koefisien Manning), yang nilainya berbeda-beda untuk
tiap saluran.
12
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
2.6 Perlengkapan
a. Manhole
Berfungsi sebagai tempat memeriksa atau memperbaiki serta
membersihkan saluran dari kotoran yang terbawa aliran. Agar manhole dapat
berfungsi sesuai peruntukannya maka perlu diperhatikan :
- Lubang manhole harus cukup dimasuki petugas dan luas bagian dalamnya
harus memungkinkan keleluasan bergerak bagi petugas
13
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
Ventilasi Udara
Berfungsi untuk mengeluarkan gas terbentuk dalam pipa, untuk mengukur
tekanan udara dalam saluran.
Tikungan (bend)
Berfungsi untuk membelokkan arah aliran.
Terminal Clean Out
Berfungsi sebagai lubang tempat penyisihan alat pembersih kedalam
saluran dan sebagai pipa tempat penggelontoran saluran, yaitu dengan
memasukkan air dari ujung atas terminal clean out.
Bangunan Penggelontor
Bangunan ini berfungsi untuk mengumpulkan air serta dilengkapi dengan
peralatan untuk keperluan penggelontoran bekerjasama secara otomatis atau
manual.
14
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
Siphon
Bangunan yang berfungsi untuk memberikan daerah pada jalur pipa yang
berada di bawah tanah yang terhalang oleh sungai bawah tanah atau jalan
bawah tanah.
2.7 Penggelontoran
Bangunan penggelontor berfungsi untuk mencegah pengendapan kotoran
dalam saluran, mencegah pembusukkan kotoran dalam saluran, dan menjaga
kedalaman air pada saluran. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan pada bangunan
penggelontor ini adalah, air penggelontor harus bersih tidak mengandung lumpur,
pasir, dan tidak asam, basa atau asin, selain itu air penggelontor tidak boleh
mengotori saluran. Berdasarkan kontinuitasnya, penggelontoran dibagi menjadi
dua:
Sistem Kontinu
Penggelontoran dengan sistem kontinu, adalah sistem dimana
penggelontoran dilakukan secara terus menerus dengan debit konstan.
Dalam perencanaan dimensi saluran, tambahan debit air limbah dari
penggelontoran harus diperhitungkan. Dengan menggunakan sisten
kontinu, maka, kedalaman renang selalu tercapai, kecepatan aliran dapat
diatur, syarat pengaliran dapat terpenuhi, tidak memerlukan bangunan
penggelontor di sepanjang jalur pipa, tetapi cukup berupa bangunan pada
awal saluran atau dapat berupa terminal cleanout yang dihubungkan dengan
pipa transmisi air penggelontor. Selain itu, kelebihan dari penggunaan
sistem kontinu ini adalah kemungkinan saluran tersumbat sangat kecil, dan
dapat terjadi pengenceran air limbah, serta pengoperasiannya mudah.
Sedangkan kekurangannya yaitu debit penggelontoran yang konstan
memerlukan dimensi saluran lebih besar, terjadi penambahan beban hidrolis
pada BPAL.
Sistem Periodik
Dalam sistem periodik, penggelontoran dilakukan secara berkala pada
kondisi aliran minimum. Penggelontoran dilakukan minimal sekali dalam
15
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
16
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
BAB III
KRITERIA PERENCANAAN
17
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
Daerah yang cocok untuk penerapan sistem penyaluran secara terpisah (DPU,
1989) yaitu:
b. Daerah yang sudah mempunyai sistem jaringan saluran
konvensional atau dekat dengan daerah yang punya sistem ini.
c. Daerah yang mempunyai kepekaan lingkungan tinggi, misalnya
daerah perumahan mewah, pariwisata.
d. Lokasi pemukiman baru, dimana penduduknya memiliki
penghasilan cukup tinggi, dan mampu membayar biaya operasional
dan perawatan.
e. Di pusat kota yang terdapat gedung-gedung bertingkat yang apabila
tidak dibangun jaringan saluran, akan diperlukan lahan untuk
pemlimbah dan pengolahan sendiri.
e. Di pusat kota, dengan kepadatan penduduk lebih dari 300 jiwa/ha
dan umumnya penduduk menggunakan air tanah, serta lahan untuk
pembuatan sistem setempat sangat sulit dan permeabilitas tanah
buruk.
Adapun kelemahan sistem ini adalah memerlukan tempat luas untuk
jaringan masing-masing sistem saluran.
Jaringan perpipaan membawa air limbah ke suatu tempat berupa bangunan
pengolahan (BPAL). Sistem ini terdiri dari jaringan pipa persil, pipa servis, pipa
lateral, dan pipa induk yang melayani penduduk untuk suatu daerah pelayanan yang
cukup luas. Pada perencanaan ini pipa yang akan direncanakan adalah pipa servis.
Setiap jaringan pipa dilengkapi dengan lubang periksa manhole yang
ditempatkan pada lokasi-lokasi yang memungkinkan pengoperasian dan perawatan
(titik manhole dari elevasi tinggi menuju elevasi rendah). Jika ada kedalaman galian
melebihin dari 7 meter, akan digunakan pompa dan dialirkan kembali secara
gravitasi.
Syarat yang harus dipenuhi untuk penerapan sistem penyaluran konvensional,
yaitu:
a. Suplai air bersih yang tinggi karena diperlukan untuk menggelontor
(jika ada penggelontoran).
18
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
19
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
3.5 Qpeak/Qfull
Nilai Qpeak/Qfull harus dalam range 67-0.98 untuk memenuhi kriteria dan
standar dalam perencanaan sistem penyaluran air limbah.
3.7 Penggelontoran
20
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
BAB IV
GAMBARAN UMUM DAERAH PERENCANAAN
Kota Trisakti Bumi Damai adalah kota yang berkembang sehingga pada daerah
ini dapat direncanakan sistem penyaluran air limbah sesuai kriteria yang sudah
ditetapkan. Ketinggian daripada kota ini berkisar 730 m hingga 737 m. Kota
Trisakti Bumi Damai dihuni 67600 jiwa penduduk dengan luas wilayah pelayanan
sebesar 166.77 Ha.
Pada kota ini terdapat 4 badan air sebagai tempat pembuangan air limbah yang
sudah diolah. Terdapat 2 badan air di daerah Utara, yaitu Sungai A dan Waduk
Utara. Beberapa badan air lainnya ada di daerah selatan yaitu Waduk Selatan dan
Sungai B dibagian Barat.
21
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
domestik adalah penduduk yang menetap di Kota Trisakti Bumi Damai yang
menggunakan air untuk kebutuhan rumah tangga seperti memasak, mencuci,
dan aktivitas lainnya. Dengan adanya data jumlah penduduk yang ada,
perencana dapat menentukan debit air limbah yang akan dilayani. Data yang
didapatkan dari hasil survey sebagai berikut:
Konsumsi
Kepadatan
No Gambar Kode Keterangan Air Bersih
(jiwa/ha)
(L/hari)
22
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
Pada Kota Trisakti Bumi Damai ini menggunakan 2 IPAL karena tidak
memungkinkannya dengan hanya 1 IPAL karena topografinya yang memiliki
ketinggian yang cukup ekstrim. IPAL A berada pada bagian Selatan kota tersebut,
dan IPAL B berada di bagian Utara.
23
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
BAB V
PERHITUNGAN
Data jumlah penduduk (P) yang dilayani dapat didapatkan dari persamaan :
= () (/) (%)
Jumlah air limbah domestik dapat dihitung dengan asumsi 80% dari kebutuhan
air bersih. Debit dapat dihitung dengan persamaan :
= (80%)
24
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
( )
=
(//1000)
Debit RataRata ( qr )
Debit rata-rata didapatkan dari keseluruhan rata- rata Q air limbah domestik
yang dihasilkan penduduk domestik (High Income, Medium Income dan Low
Income).
=
1000
= 5 0.8
25
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
Fmd (faktor hari maksimum) : Faktor dimana pemakaian air dalam 1 hari dapat
melebihi pemakaian rata-rata biasanya. Dalam perencanaan ini digunakan fmd
sebesar 1,15 karena pada kota Trisakti Bumi Damai adalah kota sedang. Hari
maksimum pemakaian air sebanyak 1,15 kali dari pemakaian air biasanya.
=
Cr pada perencanaan sistem penyaluran air limbah ini sebesar 0,2.
= ( ) qinfiltrasi
1000
26
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
Qfull
Qpeak
Qfull =
Qpeak
Qfull
Keterangan : Qpeak = diperoleh dari tabel C2 (m3/detik)
Vfull (asumsi)
Diasumsikan antara 0,6 3 m/detik dengan pertimbangan slope.
4 x Qfull
D= x1000
3,14 x Vfull
Setelah mendapatkan diameter hitung, maka perencana memutuskan
memakai pembulatan hasil hitungan dengan melihat diameter pasaaran
yang ada.
1
=
4
H
S=
L
27
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
Slope pipa diusahakan sama denagn slope tanah. Karena untuk mempermudah
penanaman pipa.
Vfull = xR 3 xS 2
1 2 1
Qfull (hitung)
Qfull = A x Vfull
Qpeak/Qfull (hitung)
Qpeak
Qpeak/Qfull =
Qfull
d/D
Nilai d/D baru berdasarkan pemplotan grafik dari nilai Qpeak/Qfull
(hitung).
Vpeak/Vfull
Nilai Vpeak/Vfull diambil dari pembacaan grafik dari nilai d/D.
Vfull
Vpeak =
Vpeak
Vfull
28
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
dibawah 0,6 m/detik karena dalam pipa membawa padatan yang dikhawatirkan
dapat menyumbat pipa dan menambah biaya pengoperasian.
Elevasi tanah didapatkan dari hasil peta kontur yang sudah didapatkan.
Akhir pipa (DS) = Elevasi dasar saluran awal (Slope pipa x Panjang pipa)
.
Kedalaman akhir pipa dapat berubah dengan adanya perubahan diameter pipa
yang semakin membesar dapat dihitung dengan persamaan:
29
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
30
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
Penggelontoran dilakukan pada jalur yang tinggi renangnya kurang dari 10 cm.
Berikut adalah rumus-rumus yang digunakan untuk penggeontoran:
Qmin
Diambil dari tabel C2 adalah debit air limbah dari domestik dan non domestik
yang minimum. Dengan Q min tersebut dapat diketahui kapan dibutuhkan debit
air untuk penggelontoran.
Qfull
Diambil dari tabel C3
Q min / Q full
Dari pembagian Q min dengan Q full.
Dmin / Dfull
Ditentukan melalui grafik Design of Main Sewers dengan memplotkan nilai
Qmin / Qfull.
Diameter (m) dari tabel C3
Didapat dari diameter pasaran yang mendekati diameter perhitungan.
dmin (mm)
Dmin = D x (Dmin/Dfull)
Vmin / Vfull
Ditentukan melalui grafik Design of Main Sewers dengan memplotkan nilai
Dmin / Dfull.
Vfull dari tabel C3
Vmin
31
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
Berdasarkan hasil hitungan dari tabel C4.A jalur yang akan digelontorkan
adalah jalur awal yaitu jalur 1-3, 2-3, 7-8, 6-8, 9-10, 12-13, dan 17-18. (Lampiran
5)
Penggelontoran dilakukan pada jalur yang memiliki dmin dibawah 10 cm
dan/atau memiliki kecepatan alir dibawah 0,6 m/detik. Dengan menggunkan rumus
sebagai berikut:
Diameter
(Tabel C3)
dmin (mm)
(Tabel C4)
dg (mm)
nilai minimum untuk dg yaitu 0,1 dan selebihnya memenuhi diameter lain dan
disesuaikan.
dmin
Nilai d min didapatkan dengan persamaan :
2
min =
5
dg
2
=
5
Dmin/Dfull.
Amin / Afull
Berdasarkan grafik Design of Main Sewers dengan memplotkan nilai
Dmin/Dfull.
32
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
Afull (m/detik)
1
= 2
4
Amin (mm)
Ditentukan menggunakan rumus sebagai berikut :
= ( )
Dg / Dfull
Dari hasil pembagian Dg dengan D (Tabel D3)
Ag / Afull
Ditentukan melalui grafik Design of Main Sewers dengan memplotkan Dg/
Dfull.
Ag
= ( )
Kecepatan (Vw)
( min )
= min +
(1 )
Q gelontor
= ( )
33
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
Berikut volume yang = harus digelontorkan pada
beberapa jalur :
Jalur Pipa
(Nomor
Manhole) Q Gelontor
Dari Ke (m/detik)
IPAL 1
1 3 0.0083
2 3 0.0077
7 8 0.0095
6 8 0.0054
9 10 0.0134
12 13 0.0083
IPAL 2
17 18 0.0122
Tabel 5.3 Tabel Penggelontoran
34
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
BAB VI
PENUTUP
35
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
BAB I
PENDAHULUAN
Sistem drainase ini memiliki peran dan fungsinya masing masing. Sudah
seharusnya bahwa fungsi drainase ini tidak dialihfungsikan atau berfungsi ganda
sebagai saluran irigasi, yang kini marak terjadi. Alih fungsi ini tidak hanya
menimbulkan satu permasalahan saja, tetapi nantinya akan timbul kekacauan dalam
penanganan sistem drainase pula. Permasalahan permasalahan ini terjadi akibat
adanya peningkatan debit pada saluran drainase. Penyebab lainnya adalah karena
peningkatan jumlah penduduk, amblesnya tanah, penyempitan dan pendangkalan
saluran, serta sampah di saluran drainase.
Pertama perlu dipahami bahwa masalah banjir adalah bukan masalah parsial,
tetapi masalah yang terintegrasi. Begitu juga penanganannya harus dilakukan
secara terintegrasi. Masalah banjir erat sekali kaitannya dengan sistem drainase
yang kita terapkan, dimana dalam sistem drainase seluruh komponen masyarakat
pasti terlibat. Di dalam mendukung pelaksanaan pembangunan infrastruktur
drainase permukiman seperti yang diharapkan, diperlukan suatu pengawasan
pekerjaan dan Spek Teknis yang sudah ditentukan dalam rencana kerja syarat.
36
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
sehingga hasil produk pembangunan sesuai dengan perencanaan awal dan dapat
dimanfaatkan guna menunjang fasilitas infrastruktur kegiatan penyediaan prasarana
dan sarana Kota Triaskti Bumi Damai.
1.2 Tujuan
Tujuan dibuatnya laporan Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase
ini adalah :
Menentukan intensitas curah hujan dengan menggunakan berbagai
metode.
Membuat Rencana Jalur Pelayanan Drainase .
Menampung air hujan (sebagai air limpasan) ke dalam saluran dan
mengalirkannya ke badan air.
Mengantisipasi agar daerah perencanaan tidak terjadi genangan air dan
banjir.
Menghitung debit air hujan dengan bantuan Kurva Durasi Intensitas
Curah Hujan.
Membuat Dimensi Drainase yang optimum.
Menghitung kedalaman galian saluran.
37
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
BAB II
TIJAUAN PUSTAKA
Intensitas hujan adalah tinggi atau kedalaman air hujan persatuan waktu.
Sifat Umum hujan adalah makin singkta hujan berlangsung, intensutasnya
cenderung semakin tinggi dan makin besar periode ulangnya makin tinggi pula
intensitasnya. Intensitas hujan diperoleh dengan cara melakukan analisis data hujan
baik secara statistik maupun secara empiris.
Limpasan adalah apabila intensitas hujan yang jatuh di suatu DAS melebihi
kapasitas infiltrasi, setelah laju infiltrsi terpenuhi air akan mengisi cekungan-
cekungan pada permukaan tanah. Setelah cekungan-cekungan tersebut penuh,
selanjutnya air akan mengalir (melimpas) diatas permukaan tanah.
Beberapa variable yang ditinjau dalam analisis banjir adalah volume banjir,
debit puncak, tinggi genangan, lama genangan dan kecepatan aliran. Adapun
beberapa komponen-komponen Limpasan:
Limpasan terdiri dari air yang berasal dari tiga sumber :
1. Aliran permukaan
2. Aliran antara
3. Aliran air tanah
Aliran Permukaan (surface flow) adalah bagian dari air hujan yang mengalir
dalam bentuk lapisan tipis di atas permukaan tanah. Aliran permukaan disebut juga
aliran langsung (direct runoff).Aliran permukaan dapat terkonsentrasi menuju
sungai dalam waktu singkat,sehingga aliran permukaan merupakan penyebab
utama terjadinya banjir.
Aliran antara (interflow) adalah aliran dalam arah lateral yang terjadi di
bawah permukaan [Link] antara terdiri dari gerakan air dan lengas tanah
secara lateral menuju elevasi yang lebih rendah.
38
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
Aliran air tanah adalah aliran yang terjadi di bawah permukaan air tanah ke
elevasi yang lebih rendah yang akhirnya menuju sungai atau langsung ke laut.
Dalam analisis hidrologi aliran permukaan dan aliran antara dapat
dikelompokkan menjadi satu yang disebut aliran langsung,sedangkan aliran tanah
disebut aliran tak langsung. Beberapa tipe Sungai:
1. Sungai Perennial : sungai yang mempunyai aliran sepanjang
tahun,aliran sungai perennika adalah aliran dasar yang beraal datri aliran air
tanah,sungai tipe ini terjadi pada DAS yang sangat baik yang masih mempunyai
hutan lebat.
2. Sungai Ephemeral adalah sungai yang mempunyai debit hanya
apabila terjadi hujan yang melebihi laju [Link] air tanah selalu berada
di bawah dasar sungai,sehingga sungai tidak menerima aliran air tanah yang berarti
tidak mempunyai aliran dasar (base flow) contoh di : nusa tenggara
3. Sungai Intermitten : sungai yang mempunyai karakteristik campuran
antara kedua tipe di [Link] suatu periode tertentu bersifat sungai perennial dan
pada waktu tertentu bersifat sebgai sungai ephemal.
Air hujan yang jatuh diseluruh daerah tangkapan akan terkonsentrasi
(mengalir menuju) suatu titik kontrol. Waktu konsentrasi adalah waktu yang
diperlukan oleh partikel air untuk mengalir dari titik terjauh didalam daerah
tangkapan sampai titik yang ditinjau. Waktu monsentrasi tergantung pada
karakteristik daerah tangkapan,tataguna lahan,jarak lintasan air dari titik terjauh
sampai stasiun yang ditinjau.
Konsentrasi aliran di suatu DAS dapat dibedakan menjadi 3 tipe tanggapan
DAS. Tipe Pertama terjadi apabila durasi hujan efektif sama dengan waktu
[Link] air hujan yang jatuh di DAS telah terkonsentrasi di titik kontrol,
sehingga debit aliran mencapai maksimum. Pada saat itu hujan berhenti dan aliran
berikutnya di titik kontrol tidak lagi aliran dari seluruh DAS, sehingga debit aliran
berkurang secara berangsur-angsur sampai akhirnya kembali nol. Dan hidrograf
berbentuk segitiga. Tipe tanggapan DAS seperti ini diesebut aliran terkonsentrasi.
Tipe kedua terjadi apabila durasi hujan efektif lebih lama daripada waktu
konsentrasi. Pada keadaan ini aliran terkonsentrasi pada titik control,dan debit
39
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
Intensitas hujan adalah tinggi curah hujan dalam periode tertentu yang
dinyatakan dalam satuan mm/jam. Dalam studi ini, rumus empiris untuk
menghitung intensitas hujan dalam menentukan debit puncak dengan metode
Rasional Modifikasi, digunakan rumus Mononobe. Hal ini dikarenakan
menyesuaikan dengan kondisi luas wilayahnya. Langkah pertama dalam metode ini
adalah menentukan curah hujan maksimun pada masing masing-masing tahun
untuk kemudian dilakukan perhitungan hujan rancangan dengan metode Log-
Person Tipe III. Catchment Area atau daerah tangkapan air hujan adalah daerah
tempat hujan mengalir menuju ke saluran. Biasanya ditentukan berdasarkan
perkiraan dengan pedoman garis kontur. Pembagian Catchment Area didasarkan
pada arah aliran yang menuju ke saluran Conveyor ke Maindrain.
40
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
Sistem drainase mayor yaitu sistem saluran/badan air yang menampung dan
mengalirkan air dari suatu daerah tangkapan air hujan (Catchment Area). Pada
umumnya sistem drainase mayor ini disebut juga sebagai sistem saluran
pembuangan utama (major system) atau drainase primer. Sistem jaringan ini
menampung aliran yang berskala besar dan luas seperti saluran drainase primer,
kanal-kanal atau sungai-sungai. Perencanaan drainase makro ini umumnya
dipakai dengan periode ulang antara 5 sampai 10 tahun dan pengukuran
topografiyang detail mutlak diperlukan dalam perencanaan sistem drainase ini.
41
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
Pada umumnya drainase mikro ini direncanakan untuk hujan dengan masa
ulang 2, 5 atau 10 tahun tergantung pada tata guna lahan yang ada. Sistem drainase
untuk lingkungan permukiman lebih cenderung sebagai sistem drainase mikro.
c. Menurut konstruksi
42
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
d. Menurut fungsi
43
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
BAB III
KRITERIA PERENCANAAN
44
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
Metode Ishiguro
3.3.2 To
To tergantung pada jarak pengaliran di atas permukaan, kemiringan dan koefisien
pengaliran, dapat digunakan persamaan sebagai berikut :
a. to untuk Lo < 300 m
108 ()1/3
=
1/3
45
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
108 ()1/3
=
1/3
46
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
BAB IV
GAMBARAN UMUM DAERAH PERENCANAAN
Kota Trisakti Bumi Damai adalah kota yang berkembang dan pada hasil
survey lapangan didapatkan hasil bahwa kota Trisakti Bumi Damai dapat dibangun
saluran drainase. Ketinggian daripada kota ini berkisar 730 m hingga 737 m. Kota
Trisakti Bumi Damai dihuni 67600 jiwa penduduk dengan luas wilayah pelayanan
sebesar 166.77 Ha.
Pada kota ini terdapat 4 badan air sebagai tempat pembuangan air
hasil pengumpulan dari titik-titik pengumpul air limpasan. Terdapat 2 badan
air di daerah Utara, yaitu Sungai A dan Waduk Utara. Beberapa badan air
lainnya ada di daerah selatan yaitu Waduk Selatan dan Sungai B dibagian
Barat. Waduk Utara kota digunakan sebagai pariwisata dan tempat
berolahraga.
47
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
4.2 Kependudukan
Domestik dan Non Domestik
No Gambar Kode
1 A
2 B
3 C
Sarana Kota
RS (Rumah
Sakit)
S (Sekolah)
ST (Stasiun Bus)
K (Kantor)
M (Masjid)
Tabel 4.2 Tabel Non Domestik
48
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
Curah
Tahun Hujan
(mm/hari)
2001 156
2002 155
2003 175
2004 105
2005 50
2006 150
2007 80
2008 83
2009 46
2010 130
Tabel 4.3. Tabel Data Curah Hujan Kecamatan Gemuh
49
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
BAB V
PERHITUNGAN
( )2
=
1
Keterangan :
X = data curah hujan rata-rata
n = Jumlah data
(log log )
=
( 1)( 2)()3
11
( )
24 = +
Keterangan :
R24 = Periode ulang hujan untuk kala ulang 24 jam
Yn = besaran yang merupakan fungsi dari n (pada perencanaan
ini (0,4952)
Sn = besaran yang merupakan fungsi dari n (pada perencanaan
ini (0,9496)
Sr = Simpangan baku
Yt = Reduksi sebagai fungsi dari probabilitas
50
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
Log
Metode Gumbel
Pearson
SD PUH 2 47.17 49.04
SD PUH 5 69.95 62.06
SD PUH 10 102.27 98.07
SD PUH 25 147.71 160.48
Rata-rata SD 91.77 92.41
Tabel 5.1 Tabel Perbandingan SD 2 Metode Curah Hujan
Metode Talbot
Menentukan intensitas curah hujan digunakan persamaan :
a
Ixtx I I xtx I
2 2
Nx I I x I
2
b
Ixtx I I xtxN
2
Nx I I x I
2
=
( + )
( )2
=
1
51
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
Keterangan:
Metode Sherman
log a
log I x log t log Ix log t x t
2
n
log I x log t log Ix log t xN
Nx (log t ) log t x log t
2
( )2
=
1
Keterangan:
Metode Ishiguro
Persamaan yang dapat digunakan:
a
Ix t x I I2 2
x t x I
Nx I I x I
2
52
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
b
Ix t x I I 2
x t xN
Nx I I x I
2
=
+
( )2
=
1
Keterangan:
53
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
METODE ISHIGURO
Waktu Hujan PUH 2 Tahun PUH 5 Tahun PUH 10 tahun PUH 25 Tahun
(menit) ( mm/ menit ) ( mm/ menit ) ( mm/ menit ) ( mm/ menit )
1 297 311 315 319
5 169 212 233 254
10 128 172 195 220
15 108 150 173 200
20 95 135 159 186
25 86 124 147 174
30 80 116 139 165
35 74 109 131 158
40 70 104 125 152
45 66 99 120 146
50 63 95 116 141
55 61 91 112 137
59 59 89 109 134
Tabel 5.3 Periode Ulang Hujan Dengan Metode Ishiguro
300
Intensitas Hujan
250
PUH 2
200 PUH 5
150 PUH 10
100 PUH 25
50
0
0 20 40 60 80
Waktu w
54
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
Elevasi (Ho1)
Elevasi pada titik terjauh suatu Catchmen Area.
Elevasi (Ho2)
Elevasi titik pengumpul.
Panjang Pelayanan (Lo)
Panjang titik terjauh pada suatu Catchment Area.
Slope Catchment Area (So)
01 02
=
0
55
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
108 ()1/3
=
1/3
108 ()1/3
=
1/3
Keterangan :
n = Harga kekasaran muka tanah
Lo = Panjang limpasan pelayanan
So = Kemiringan medan limpasan (%)
Vd
Kecepatan aliran diasumsikan 0,6 3 m/detik dengan mempertimbangkan
slope daerah pelayanan terhadap titik pengumpul. Semakin besar slope daerah
limpasan terhadap titik pengumpul, maka semakin besar kecepatan (Vd) yang
diasumsikan.
Waktu Pengaliran ke Saluran (td)
= +
56
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
=
+
ISHIGURO a b
PUH 2 487.852 0.643
PUH 5 830.562 1.674
PUH 10 1108.566 2.517
PUH 25 1540.056 3.829
Tabel 5.5 Tabel Koefisien a dan b Metode ISHIGURO
1
=
360
Keterangan :
C = koefisien limpasan permukaan rata-rata
I = Intensitas hujan
A = luas (ha)
57
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
58
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
1 2 1
Debit Saluran =
3 2 (Q)
Debit perhitungan hasil design
Q=AxV
Saluran Panjang b H
Saluran Qlimpasan Qsaluran Cek
Dari Ke (m) m m (m3/detik) (m3/detik)
1 2 240 1 1.5 1.9796 1.9816 1.00
2 Waduk. S 192 1 1.8 3.6730 3.8081 1.04
3 4 352 1 1.3 1.3596 1.3910 1.02
4 Waduk. S 120 1 1.3 2.4671 3.0943 1.25
5 6 368 1 1.3 1.3193 1.4177 1.07
6 7 184 1 1.8 2.1570 2.2518 1.04
7 Waduk. S 120 1 1.8 2.4180 4.2724 1.77
8 9 240 1 1.8 2.0246 2.0847 1.03
9 10 200 1 1.8 3.0645 3.5575 1.16
10 Waduk. S 120 2 2.8 4.4722 4.7753 1.07
11 12 200 2.2 1.3 3.3503 4.5848 1.37
12 Sungai b 296 2.2 2.3 8.7461 8.9159 1.02
13 14 208 2 0.8 0.9969 1.3084 1.31
14 15 176 2 0.8 1.5725 2.1500 1.37
15 Waduk. S 120 2 2.6 3.9064 4.3220 1.11
17 18 240 1 1.3 0.5741 0.6799 1.18
18 19 520 1 1.3 1.6772 1.7282 1.03
19 Sungai a 136 2 1.8 3.6313 6.7487 1.86
Tabel 5.6 Tabel Dimensi Saluran
59
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
Kedalaman galian
60
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
BAB VI
PENUTUP
Dari hasil pembuatan perencanaan saluran drainase ini dapat disimpulkan bahwa :
61
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
DAFTAR PUSTAKA
Chow, Ven Te. (1959), Hidrolika Saluran Terbuka, terjemahan, 1997 : E.V. Nensi
Fair and Gayer. 1996. Water and Wastewater Engineering. Vol 1. New York
Kanjali Rusli, Agus Susanto. 2009. Perhitungan Debit pada Sistem Jaringan Pipa
Graw Hill.
Bandung.
62
Sistem Penyaluran Air Limbah dan Drainase || Septyn Anggun Lestari || 082001500054
Jakarta.
Kedokteran EGC.
63