PROSEDUR PENANGANAN
RHINITIS VASOMOTOR Ditetapkan Oleh
Kepala Puskesmas
No. Kode
Rangas
Terbitan :
SOP No. Revisi :
PEMERINTAH Tanggal Berlaku :
KABUPATEN PUSKESMAS
MAMUJU Muchlis, [Link], NS RANGAS
Halaman : NIP : 197011141994031007
Rhinitis vasomotor adalah suatu keadaan idiopatik yang didiagnosis tanpa
adanya infeksi, alergi, eosinofilia, perubahan hormonal, dan pajanan obat
(kontrasepsi oral, antihipertensi, B-bloker, aspirin, klorpromazin, dan obat
1. Pengertian topikal hidung dekongestan). Rhinitis ini digolongkan menjadi non-alergi
bila adanya alergi/allergen spesifik tidak dapat diidentifikasi dengan
pemeriksaanalergi yang sesuai (anamnesis, tes cukit kulit, kadar antibodi Ig
E spesifik serum).
2. Tujuan Sebagai acuan dalam penatalaksanaan rhinitis vasomotor di puskesmas
1. Undang-undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan.
2. Undang-undang nomor 29 tahun 2004 tentang praktik kedokteran
3. Kebijakan
3. Keputusan mentri kesehatan no. 128 tahun 2004 tentang kebijakan
dasar pusat kesehatan puskesmas
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 5 Tahun 2014
4. Referensi tentang panduan praktik klinis bagi dokter di fasilitas pelayanan kesehatan
primer
1. Lampu kepala
5. Sarana dan
2. Spekulum hidung
Prasarana
3. Tampon hidung
Anamnesis
hidung tersumbat, bergantian kiri dan kanan tergantung posisi tidur pasien.
Pada pagi hari saat bangun tidur, kondisi memburuk karena adanya
perubahan suhu yang ekstrem, udara yang lembab, dan karena adanya asap
rokok.
6. Prosedur / Gejala lain rhinitis vasomotor dapat berupa:
langkah langkah 1 Rinore yang bersifat serous atau mukus, kadang-kadang jumlahnya
agak banyak.
2 Bersin-bersin lebih jarang dibandingkan rhinitis alergika.
Faktor Predisposisi
1 Obat-obatan yang menekan dan menghambat kerja saraf simpatis
antara lain: ergotamine, chlorpromazine, obat anti hipertensi dan
obat vasokonstriktor topikal.
2 Faktor fisik seperti iritasi oleh asap rokok, udara dingin,
kelembaban udara yang tinggi, serta bau yang menyengat (misalnya
parfum) dan makanan yang pedas, panas, serta dingin (misalnya es
krim).
3 Faktor endokrin, seperti kehamilan, masa pubertas, pemakaian
kontrasepsi oral, dan hipotiroidisme.
4 Faktor psikis, seperti rasa cemas, tegang dan stress.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan rinoskopi anterior:
1 Tampak gambaran edema mukosa hidung, konka berwarna merah
gelap atau merah tua tetapi dapat pula pucat.
2 Permukaan konka licin atau tidak rata.
3 Pada rongga hidung terlihat adanya sekret mukoid, biasanya
jumlahnya tidak banyak. Akan tetapi pada golongan rinore tampak
sekret serosa yang jumlahnya sedikit lebih banyak dengan konka
licin atau berbenjol-benjol.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan
rhinitis alergi :
1 Kadar eosinofil
2 Tes cukit kulit (skin prick test)
3 Kadar IgE spesifik
Diagnosis Klinis
Berdasarkan gejala yang menonjol, kelainan ini dibedakan dalam 3
golongan, yaitu:
1 Golongan bersin (sneezer), gejala biasanya memberikan respon baik
dengan terapi antihistamin dan glukokortikoid topikal.
2 Golongan rinore (runners) dengan gejala rinore yang jumlahnya
banyak.
3 Golongan tersumbat (blockers) dengan gejala kongesti hidung dan
hambatan aliran udara pernafasan yang dominan dengan rinore
yang minimal.
Diagnosis Banding
1 Rhinitis alergika
2 Rhinitis medikamentosa
3 Rhinitis akut
Komplikasi
1 Rhinitis akut, jika terjadi infeksi sekunder
2 Sinusitis
Penatalaksanaan
1 Menghindari faktor pencetus.
2 Menghindari terlalu lama di tempat yang ber-AC
3 Menghindari minum-minuman dingin
4 Tatalaksana dengan terapi kortikosteroid topikal dapat diberikan,
misalnya budesonid, 1-2 x/hari dengan dosis 100-200 mcg/hari.
Dosis dapat ditingkatkan sampai 400 mcg/hari. Hasilnya akan
terlihat setelah pemakaian paling sedikit selama 2 minggu. Saat ini
terdapat kortikosteroid topikal baru dalam aqua seperti flutikason
propionate dengan pemakaian cukup 1 x/hari dengan dosis 200 mcg
selama 1-2 bulan.
5 Pada kasus dengan rinorea yang berat, dapat ditambahkan
antikolinergik topikal ipratropium bromide.
6 Kauterisasi konka yang hipertofi dapat menggunakan larutan
AgNO3 25% atau trikloroasetat pekat.
7 Tatalaksana dengan terapi oral dapat menggunakan preparat
simpatomimetik golongan agonis alfa sebagai dekongestan hidung
oral dengan atau tanpa kombinasi antihistamin. Dekongestan oral :
pseudoefedrin, fenilpropanol-amin, fenilefrin.
Konseling dan Edukasi
Memberitahu individu dan keluarga untuk:
Menghindari faktor pencetus.
Menghindari terlalu lama di tempat yang ber-AC dan mengurangi
minuman dingin.
Berhenti merokok.
Menghindari faktor psikis seperti rasa cemas, tegang dan stress.
Kriteria Rujukan
Jika diperlukan tindakan operatif
anamnesis pemeriksaan
pemeriksaan fisik
penunjang
7. Diagram Alur
penegakan
penatalaksanaan
diagnosis
1. Poli Umum
8. Unit terkait
2. Pustu/Poskesdes.