Sejarah dan Latar Belakang Rabies
Sejarah dan Latar Belakang Rabies
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Rabies adalah suatu penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang
dapat menyerang semua jenis binatang berdarah panas dan manusia. Penyakit
ini ditandai dengan disfungsi hebat susunan saraf pusat dan hampir selalu
berakhir dengan kematian. Rabies merupakan salah satu penyakit menular
tertua yang dikenal di Indonesia. Virus rabies termasuk dalam genus
Lyssavirus dan famili Rhabdoviridae.
Genus Lyssavirus sendiri terdiri dari 80 jenis virus dan virus rabies
merupakan prototipe dari genus ini. Sejarah penemuan rabies bermula 2000
tahun SM ketika Aristoteles menemukan bahwa anjing dapat menularkan
infeksi kepada anjing yang lain melalui gigitan. Ketika seorang anak laki-laki
berumur 9 tahun digigit oleh seekor anjing rabies pada tahun 1885, Louis
Pasteur mengobatinya dengan vaksin dari medulla spinalis anjing tersebut,
menjadikannya orang pertama yang mendapatkan imunitas, karena anak
tersebut tidak menderita rabies.
penyakit Rabies merupakan penyakit infeksi akut pada susunan saraf
pusat yang disebabkan oleh virus rabies. Penyakit anjing gila ini mempunyai
sifat zoonotik yaitu penyakit yang dapat ditularkan dari hewan pada manusia.
penyakit anjing gila atau rabies ini bisa menular kepada manusia melalui
gigitan.
Rabies berasal dari kata latin rabere yang berarti gila, di Indonesia
dikenal sebagai penyakit anjing gila. Rabies merupakan suatu penyakit hewan
menular akut yang bersifat zoonosis (dapat menular ke manusia). Secara resmi,
kasus rabies di Indonesia pertama kali dilaporkan oleh Esser tahun 1884 pada
seekor kerbau. Tahun 1889 oleh Penning dilaporkan terjadi pada seekor anjing,
dan kejadian pada manusia dilaporkan oleh Eilerts de Haan pada tahun 1894.
Semua kejadian kasus ini terjadi di Jawa Barat.
1
B. Rumusan Masalah
Bagaimanakah patofisologi terjadinya rabies dan asuhan keperawatan pada
pasien dengan rabies
C. Tujuan
Agar Mengetahui patofisologi terjadinya rabies dan asuhan keperawatan
pada pasien dengan rabies
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Rabies
Rabies (penyakit anjing gila) adalah penyakit hewan yang disebabkan
oleh virus, bersifat akut serta menyerang susunan saraf pusat. Hewan
berdarah panas dan manusia. Rabies bersifat zoonosis artinya penyakit
tersebut dapat menular dari hewan ke manusia dan menyebabkan kematian
pada manusia dengan CFR (Case Fatality Rate) 100%. Virus rabies
dikeluarkan bersama air liur hewan yang terinfeksi dan disebarkan melalui
luka gigitan atau jilatan.
Rabies merupakan salah satu penyakit zoonosis yang berupa penyakit
viral akut pada Susunan Saraf Pusat dengan gejala berupa kelumpuhan
progresif serta seringkali berakhir dengan kematian. Penyakit ini ditularkan
umumnya melalui gigitan hewan pembawa Rabies.
Rabies berasal dari kata latin rabere yang berarti gila, di Indonesia
dikenal sebagai penyakit anjing gila. Rabies merupakan suatu penyakit hewan
menular akut yang bersifat zoonosis (dapat menular ke manusia). Secara
resmi, kasus rabies di Indonesia pertama kali dilaporkan oleh Esser tahun
1884 pada seekor kerbau. Tahun 1889 oleh Penning dilaporkan terjadi pada
seekor anjing, dan kejadian pada manusia dilaporkan oleh Eilerts de Haan
pada tahun 1894.
B. Sejarah Rabies
Rabies telah dikenal sejak jaman Raja Hammurabi pada 2300 SM di
Babilonia. Di Inggris dikenal sejak tahun 1026. Di Indonesia, kasus Rabies
pada kerbau pernah ditemukan oleh Esser di Jawa Barat pada tahun 1884 ,
pada anjing tercatat oleh Penning pada tahun 1889 , dan pada manusia tercatat
oleh EV de Haan pada tahun 1894 . Pada kurun waktu 1945-1980 tercatat
terjadi Rabies di Sumatera Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur tahun 1953,
di Sulawesi Utara tahun 1956, di Sumatera Selatan tahun 1959, di Lampung
3
tahun 1969,di Aceh tahun 1970, di Jambi dan Yogjakarta tahun 1971, di DKI
Jaya dan Bengkulu tahun tahun 1972, di Kalimantan Timur tahun 1974, di
Riau tahun 1975, di Kalimantan Tengah tahun 1978, di Kalimantan Selatan
pada tahun 1983, di Pulau Flores NTT pada tahun 1977.
Menurut Kabag P2P Dinkes Banjar drg. Yasna Khairina, sepanjang
tahun 2005 dilaporkan terjadi 27 kasus gigitan anjing tersangka Rabies,
namun berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium hanya 8 diantaranya yang
positif Rabies sedangkan pada tahun 2006 tercatat 13 kasus gigitan anjing
tersangka Rabies dan hanya 2 diantaranya yang positif Rabies (
[Link], 2006).
Pada tahun 2000 di Palangkaraya dilaporkan terdapat tujuh belas
kematian karena Rabies dalan kurun waktu delapan bulan. Pada kurun waktu
antara tahun 2000 sampai 2003, di Ngada Flores tercatat limapuluh enam
kematian akibat Rabies dan seribu sembilanratus limabelas kasus gigitan
anjing. Pada awal tahun 2003 hingga 25 September 2003 di Ambon tercatat
duabelas kematian dan sekitar limaratus kasus gigitan anjing.
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Manggarai Barat, IG Ngurah
Harijaya dalam laporan tertulisnya yang di terima di Kupang, Rabu 6 februari
2008 menyebutkan bahwa dalam empat pekan terakhir terjadi 13 kasus
gigitan dan satu diantaranya meninggal dunia. Sementara jumlah kasus sejak
tahun 1977 mencapai lebih dari 8.300 dengan korban tewas terbanyak berasal
dari Kabupaten Ngada yakni 60 orang, Flores Timur 28 orang, Sikka 17
orang, Manggarai dan Manggarai Barat 17 orang, Ende 8 orang dan Lembata
2 orang. Pemerintah Propinsi NTT menyebutkan jumlah kasus Rabies dalam
10 tahun terakhir mencapai 620 kasus dengan jumlah korban tewas 132
orang. ([Link], 2008).
Di Jawa Barat pada tahun 2005 tidak terdapat penderita Rabies dari 427
kasus gigitan, 200 diantaranya mendapat VAR (Vaksin Anti Rabies), tetapi
terdapat 2 spesimen hewan positif Rabies dilaporkan dari Kabupaten Garut.
Pada tahun 2006 terdapat 2 orang meninggal akibat Rabies masing masing
dari Kabupaten Garut dan Kabupaten Tasikmalaya diantara 453 kasus gigitan
4
di Jawa Barat, 334 diantaranya mendapat VAR, terdapat pula 2 spesimen
hewan positif dari Kabupaten Tasikmalaya dan Garut. Tahun 2007 terdapat 1
orang meninggal akibat Rabies dari Kabupaten Ciamis diantara 528 kasus
gigitan di Jawa Barat, 331 diantaranya mendapat VAR, tidak ada laporan
hasil pemeriksaan specime hewan penular Rabies.
Kasus Rabies terjadi di Kampung Ka kelurahan Wali Kecamatan
Ruteng Kabupaten Manggarai pada Balita yang digigit anjing pada 13 Juni
2009 dan berakhir dengan kematian pada 17 September 2009. (Pos-
[Link] 17 September 2009). Di Bali pada kurun waktu akhir 2008
hingga 23 September 2009 terjadi kematian akibat Rabies sejumlah 11 orang.
Dengan kejadian Rabies yang makin marak di beberapa wilayah
Indonesia akhir akhir ini, penulis berusaha memberikan informasi secara
lengkap mengenai Rabies sehingga dapat lebih dimengerti dan diwaspadai
serta dapat diambil tindakan secara tepat apabila terjadi kasus Rabies.
C. Etiologi
Virus rabies merupakan virus RNA, termasuk dalam familia
Rhabdoviridae, genus Lyssa. Virus berbentuk peluru atau silindris dengan
salah satu ujungnya berbentuk kerucut dan pada potongan melintang
berbentuk bulat atau elip (lonjong).
Virus tersusun dari ribonukleokapsid dibagian tengah, memiliki
membran selubung (amplop) dibagian luarnya yang pada permukaannya
terdapat tonjoloan (spikes) yang jumlahnya lebih dari 500 buah. Pada
membran selubung (amplop) terdapat kandungan lemak yang tinggi. Virus
berukuran panjang 180 nm, diameter 75 nm, tonjolan berukuran 9 nm, dan
jarak antara spikes 4-5 nm.
Virus peka terhadap sinar ultraviolet, zat pelarut lemak, alkohol 70 %,
yodium, fenol dan klorofrom. Virus dapat bertahan hidup selama 1 tahun
dalam larutan gliserin 50 %. Pada suhu 600 C virus mati dalam waktu 1 jam
dan dalam penyimpanan kering beku (freezedried) atau pada suhu 40 C dapat
tahan selama bebarapa tahun
5
Gambar Struktur Virus Rabies
D. Masa Inkubasi
Masa inkubasi rabies pada anjing 10 15 hari, dan pada hewan lain 3-6
minggu kadang-kadang berlangsung sangat panjang 1-2 tahun. Masa inkubasi
pada manusia yang khas adalah 1-2 bulan tetapi bisa 1 minggu atau selama
beberapa tahun (mungkin 6 tahun atau lebih). Biasanya lebih cepat pada
anak-anak dari pada dewasa. Kasus rabies manusia dengan periode inkubasi
yang panjang (2 sampai 7 tahun) telah dilaporkan, tetapi jarang terjadi.
Masa inkubasi bisa tergantung pada umur pasien, latar belakang
genetik, status immun, strain virus yang terlibat, dan jarak yang harus
ditempuh virus dari titik pintu masuknya ke susunan saraf pusat. Masa
inkubasi tergantung dari lamanya pergerakan virus dari luka sampai ke otak,
pada gigitan dikaki masa inkubasi kirakira 60 hari, pada gigitan di tangan
masa inkubasi 40 hari, pada gigitan di kepala masa inkubasi kira-kira 30 hari.
E. Manifestasi Klinis
Gejala rabies biasanya mulai timbul dalam waktu 30-50 hari setelah
terinfeksi. Masa inkubasi virus hingga munculnya penyakit adalah 10-14 hari
pada anjing tetapi bisa mencapai 9 bulan pada manusia. Bila disebabkan oleh
gigitan anjing, luka yang memiliki risiko tinggi meliputi infeksi pada mukosa,
luka di atas daerah bahu (kepala, muka, leher), luka pada jari tangan atau
kaki, luka pada kelamin, luka yang lebar atau dalam, dan luka yang banyak.
6
Sedangkan luka dengan risiko rendah meliputi jilatan pada kulit yang luka,
garukan atau lecet, serta luka kecil di sekitar tangan, badan, dan kaki.
Gejala sakit yang akan dialami seseorang yang terinfeksi rabies
meliputi 4 stadium :
1. Stadium prodromal
Dalam stadium prodomal sakit yang timbul pada penderita tidak khas,
menyerupai infeksi virus pada umumnya yang meliputi demam, sulit
makan yang menuju taraf anoreksia, pusing dan pening (nausea), dan lain
sebagainya.
2. Stadium sensoris
Dalam stadium sensori penderita umumnya akan mengalami rasa nyeri
pada daerah luka gigitan, panas, gugup, kebingungan, keluar banyak air
liur (hipersalivasi), dilatasi pupil, hiperhidrosis, hiperlakrimasi.
3. Stadium eksitasi
Pada stadium eksitasi penderita menjadi gelisah, mudah kaget, kejang-
kejang setiap ada rangsangan dari luar sehingga terjadi ketakutan pada
udara (aerofobia), ketakutan pada cahaya (fotofobia), dan ketakutan air
(hidrofobia). Kejang-kejang terjadi akibat adanya gangguan daerah otak
yang mengatur proses menelan dan pernapasan. Hidrofobia yang terjadi
pada penderita rabies terutama karena adanya rasa sakit yang luar biasa di
kala berusaha menelan air.
4. Stadium paralitik
Pada stadium paralitik setelah melalui ketiga stadium sebelumnya,
penderita memasuki stadium paralitik ini menunjukkan tanda kelumpuhan
dari bagian atas tubuh ke bawah yang progresif.
Karena durasi penyebaran penyakit yang cukup cepat maka umumnya
keempat stadium di atas tidak dapat dibedakan dengan [Link]-gejala
yang tampak jelas pada penderita di antaranya adanya nyeri pada luka
bekas gigitan dan ketakutan pada air, udara, dan cahaya, serta suara yang
keras. Sedangkan pada hewan yang terinfeksi, gelaja yang tampak adalah
7
dari jinak menjadi ganas, hewan-hewan peliharaan menjadi liar dan lupa
jalan pulang, serta ekor dilengkungkan di bawah perut.
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Elektroensefalogram (EEG) : dipakai unutk membantu menetapkan jenis
dan fokus dari kejang.
2. Pemindaian CT: menggunakan kajian sinar X yang lebih sensitif dri
biasanya untuk mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan.
3. Magneti resonance imaging ( MRI ) : menghasilkan bayangan dengan
menggunakan lapangan magnetik dan gelombang radio, berguna untuk
memperlihatkan daerah daerah otak yang itdak jelas terlihat bila
menggunakan pemindaian CT
4. Pemindaian positron emission tomography ( PET ) : untuk mengevaluasi
kejang yang membandel dan membantu menetapkan lokasi lesi, perubahan
metabolik atau aliran darah dalam otak
5. Uji laboratorium
a. Pungsi lumbal : menganalisis cairan serebrovaskuler
b. Hitung darah lengkap : mengevaluasi trombosit dan hematokrit
c. Panel elektrolit
d. Skrining toksik dari serum dan urin
e. GDA
1) Glukosa Darah: Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang (N <
200 mq/dl)
2) BUN : Peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan
merupakan indikasi nepro toksik akibat dari pemberian obat.
3) Elektrolit : K, Na
4) Ketidakseimbangan elektrolit merupakan predisposisi kejang
5) Kalium ( N 3,80 5,00 meq/dl )
6) Natrium ( N 135 144 meq/dl
8
G. Penatalaksanaan
Prinsip penanganan rabies adalah dengan menghilangkan virus bebas
dari tubuh dengan pembersihan dan netralisasi, yang diikuti dengan
penginduksian sistem imun spesifik terhadap virus rabies pada orang yang
terpajan sebelum virusnya bereplikasi di susunan saraf pusat. Hal ini
membutuhkan vaksinasi aktif maupun pasif.
Pada vaksinasi pasif, imunoglobulin rabies dari orang yang telah
divaksinasi sebelumnya (Human Rabies Immune Globulin), diberikan kepada
pasien yang belum memiliki imunitas sama sekali. Sehingga dalam hal ini
vaksinasi pasif disebut pula serum anti rabies. Sedangkan vaksinasi aktif
rabies atau vaksin anti rabies terbagi atas:
1. Nerve Tissue derived Vaccines (NTV) yang diproduksi dari jaringan otak
hewan yang terinfeksi. NTV dapat menyebabkan reaksi neurologi berat
karena adanya jaringan bermyelin pada vaksin. Akan tetapi, NTV , masih
tetap banyak digunakan sebagai pencegahan rabies.
2. Human Diploid Cell Vaccine (HDCV) yang dikultur dalam fibroblast
manusia. Merupakan jenis vaksin rabies yang paling optimal saat ini. Di
Amerika Serikat, pencegahan setelah terkena gigitan adalah sebagai
berikut : 1 dosis Human Rabies Immune Globulin (HRIG) dan 5 dosis
vaksin anti rabies dalam periode 28 hari. HRIG harus diberikan segera
setelah tergigit/terpajan dalam 24 jam pertama. HRIG hendaknya tidak
diinjeksikan pada tempat yang sama dengan vaksin. Setelah itu, 5 dosis
vaksin anti rabies harus diberikan pada hari 0, 3, 7, 14, dan 28 dengan
dosis 1 ml tiap kali.
Sedangkan di Indonesia sendiri, penanganan penderita yang tergigit
anjing atau hewan tersangka dan positif rabies adalah sebagai berikut :
a. Luka gigitan
1) Dicuci dengan air sabun (detergen) 510 menit kemudian dibilas
dengan air bersih.
2) Alkohol 40-70 %
3) Berikan yodium atau senyawa amonium kuartener 0,1 %
9
4) Penyuntikan SAR secara infiltrasi di sekitar luka. Menunda
penjahitan luka, jika penjahitan diperlukan gunakan anti serum
lokal.
5) Dapat diberikan Toxoid Tetanus, antibiotik, anti inflamasi, dan
analgesik.
b. Menjilat kulit, garukan atau abrasi kulit, gigitan kecil (daerah
tertutup), lengan, badan, & tungkai. Beri VAR
1) Hari 0 : 2 x suntikan IM
2) Hari 7 : 1 x suntikan
3) Hari 21 : 1 x suntikan IM Imovax / Verorab 0,5 ml deltoid kiri dan
0,5 ml di kanan
c. Menjilat mukosa, luka gigitan besar/dalam, luka di kepala, leher, jari
tangan, dan kaki. Serum Anti Rabies (SAR)
1) dosis disuntikkan infiltrasi di sekitar luka
2) dosis sisa disuntikkan IM regio glutea.
3) Vaksin Anti Rabies (VAR)
4) sesuai poin 3 Imovag rabies
5) 20 IU/kgBB
6) Imovax atau Verorab
7) Hari 90 : 0,5 ml IM di deltoid kanan/kiri
d. Kasus gigitan ulang
1) < 1 tahun
2) > 1 tahun Berikan VAR hari 0
3) Beri SAR + VAR secara lengkap Imovax, Verorab
4) Imovax, Verorab, Imogan Rabies - 0,5 ml IM deltoid. Umur < 3
tahun 0,1 ml IC flexor lengan bawah
5) Umur > 3 tahun 0,25 ml IC flexor lengan bawah.
6) Sesuai poin 1,3,4
e. Bila ada reaksi penyuntikan : lokal, kemerahan, gatal, & bengkak Beri
antihistamin sistemik atau lokal. Jangan beri kortikosteroid.
10
f. Bila timbul efek samping pemberian VAR berupa meningoensefalitis,
berikan kortikosteroid dosis tinggi.
H. Komplikasi
Berbagai komplikasi dapat terjadi pada penderita rabies dan biasanya
timbul pada fase koma. Komplikasi Neurologik dapat berupa peningkatan
tekanan intra cranial: kelainan pada hypothalamus berupa diabetes insipidus,
sindrom abnormalitas hormone anti diuretic (SAHAD); disfungsi otonomik
yang menyebabkan hipertensi, hipotensi, hipertermia, hipotermia, aritmia dan
henti jantung. Kejang dapat local maupun generalisata, dan sering bersamaan
dengan aritmia dan gangguan respirasi.
Pada stadium pradromal sering terjadi komplikasi hiperventilasi dan
depresi pernapasan terjadi pada fase neurolgik. Hipotensi terjadi karena gagal
jantung kongestif, dehidrasi dan gangguan saraf otonomik.
Neurologi
Pituitary
11
- Diabetes insipidus Cairan, vasopressin
Pulmonal
- Atelektasis Ventilator
- Apnea Ventilator
Kardiovaskular
12
BAB III
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Status Pernafasan
a. Peningkatan tingkat pernapasan
b. Takikardi
c. Suhu umumnya meningkat (37,9 C)
d. Menggigil
2. Status Nutrisi
a. kesulitan dalam menelan makanan
b. berapa berat badan pasien
c. mual dan muntah
d. porsi makanan dihabiskan
e. status gizi
3. Status Neurosensori
a. Adanya tanda-tanda inflamasi
4. Keamanan
a. Kejang
b. Kelemahan
5. Integritas Ego
a. Klien merasa cemas
b. Klien kurang paham tentang penyakitnya
6. Pengkajian Fisik Neurologik :
a. Tanda tanda vital
b. Hasil pemeriksaan kepala
Fontanel : menonjol, rata, cekung
c. Reaksi pupil
Ukuran
13
Reaksi terhadap cahaya
Kesamaan respon
d. Tingkat kesadaran
Iritabilitas
e. Afek
Alam perasaan
Labilitas
f. Aktivitas kejang
Jenis
Lamanya
1. Fungsi sensoris
2. Refleks
Reflek patologi
B. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan pola nafas berhubungan dengan afiksia
2. Gangguan pola nutrisi berhubungan dengan penurunan refleks menelan
3. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolisme
4. Cemas (keluarga) berhubungan kurang terpajan informasi
5. Resiko cedera berhubungan dengan kejang dan kelemahan
14
6. Resiko infeksi berhubungan dengan luka terbuka
C. Rencana Keperawatan
15
hari.
f. Berikan obat-obatan antiemetik
sesuai program dokter.
16
dialami pasien.
5. Resiko cedera Setelah diberikan tindakan [Link] dan hindari faktor
berhubungan keperawatan, diharapkan pencetus
dengan kejang pasien tidak mengalami
dan kelemahan cedera,dengan kriteria hasil [Link] klien pada tempat
: tidur yang memakai pengaman di
[Link] tidak ada cedera ruang yang tenang dan nyaman.
akibat serangan kejang [Link] klien istirahat
[Link] tidur dengan tempat
tidur pengaman [Link] disamping tempat tidur
[Link] terjadi serangan tongue spatel dan gudel untuk
kejang ulang. mencegah lidah jatuh ke belakng
[Link] 36 37,5 C , Nadi apabila klien kejang.
60-80x/menit, Respirasi [Link] klien pada saat kejang
16-20 x/menit dengan :
[Link] composmentis - longgarakn pakaian
- posisi miring ke satu sisi
- jauhkan klien dari alat yang
dapat melukainya
- kencangkan pengaman tempat
tidur
- lakukan suction bila banyak
sekret
[Link] penyebab mulainya kejang,
proses berapa lama, adanya
sianosis dan inkontinesia, deviasi
dari mata dan gejala-hgejala
lainnya yang timbul.
g. sesudah kejang observasi TTV
setiap 15-30 menit dan obseervasi
keadaan klien sampai benar-benar
17
pulih dari kejang.
[Link] efek samping dan
keefektifan obat.
18
[Link] tangan sebelum memberi
asuhan keperawatan ke pasien.
e. Lakukan perawatan luka yang
steril.
D. Implementasi
Implementasi disesuaikan dengan intervensi
E. Evaluasi
Dx 1 : Gangguan pola nafas berhubungan dengan afiksia
19
Dx 6 : Resiko infeksi berhubungan dengan luka terbuka
a. Tidak ada tanda tanda infeksi seperti : kalor, dolor, tumor, dubor, dan
fungsionalasia.
20
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penyakit rabies disebabkan oleh virus rabies dan menular pada
manusia lewat gigitanatau cakaran hewan penderita rabies atau dapat pula
lewat luka yang terkena air liur hewan penderita [Link] patogenesis,
setelah virus rabies masuk lewat luka gigitan, selama dua mingguvirus tetap
tinggal pada tempat masuk dan dekatnya. Kemudian, virus akan bergerak
mencapaiujung-ujung serabut saraf posterios tanpa menunjukkan perubahan-
perubahan fungsinya.
Masa inkubasi virus ini bervariasi, berkisar antara dua minggu sampai
dua tahun. Tapi umumnya 3-8minggu, tergantung jarak tempuh virus sebelum
mencapai otak. Sesampainya di otak, virus akanmemperbanyak diri dan
menyebar luas dalam semua bagian neuron-neuron, terutamamempunyai
predileksi khusus terhadap sel-sel sistem limbik, hipotalamus dan batang
[Link] virus ini akan mencapai otak dan menyerang banyak bagian
penting otak yang menyebabkan kematian.
Setiap ada kasus gigitan hewan penular rabies harus ditanganidengan
cepat dan sesegera mungkin, untuk mengurangi atau mematikan virus rabies
yang masuk pada luka gigitan. Usaha yang paling efektif ialah mencuci luka
gigitan dengan air (sebaiknya air mengalir) dan sabun atau ditergent selama
10-15 menit, kemudian diberi antiseptik (alkohol 70 persen, betadine, obat
merah atau lainnya)
21
DAFTAR PUSTAKA
Arjatmo T. 2001. Keadaan Gawat Yang Mengancam Jiwa. Jakarta: Gaya Baru.
Suharso Darto. 1994. Pedoman Diagnosis dan Terapi. Surabaya: F.K. Airlangga.
22