LAPORAN RESMI
BENDING TEST
VAYA
ADENIA I.
(0515040084)
RISKA PURWA BASTARA (0515040087)
MAULIDA NUR HIDAYAH Y. (0515040093)
TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA
2016/2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan
1.1.1 Tujuan Instruksional Umum
Mahasiswa mampu melakukan pengujian DT (Destructive Test) uji
lengkung terhadap suatu material.
1.1.2 Tujuan Intruksional Khusus
1. Mahasiswa mampu menjelaskan macam-macam pengujian lengkung (bending
test).
2. Mahasiswa mampu menyiapkan spesimen dan mengujinya.
3. Mahasiswa mampu mengevaluasi kelulusan hasil pengujian berdasarkan
standart.
BAB II
DASAR TEORI
2.1 Dasar Teori
Uji lengkung (bending test) merupakan salah satu bentuk pengujian untuk
menentukan mutu suatu material secara visual. Selain itu uji bending digunakan
untuk mengukur kekuatan material akibat pembebanan dan kekenyalan hasil
sambungan las baik di weld metal maupun HAZ. Dalam pemberian beban dan
penentuan dimensi mandrel ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Kekuatan tarik (Tensile Strength).
2. Komposisi kimia dan struktur mikro terutama kandungan Mn dan C.
3. Tegangan luluh (Yield).
Berdasarkan posisi pengambilan spesimen, uji bending dibedakan menjadi
2 yaitu transversal bending dan longitudinal bending.
2.1.1 Transversal Bending
Pada transversal bending ini, pengambilan spesimen tegak lurus dengan
arah pengelasan. Berdasarkan arah pembebanan dan lokasi pengamatan, pengujian
transversal bending dibagi menjadi tiga :
1. Face bend (bending pada permukaan las)
Dikatakan face bend jika bending dilakukan sehingga permukaan las
mengalami tegangan tarik dan dasar las mengalami tegangan tekan, kondisi
tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.1. Pengamatan dilakukan pada permukaan
las yang mengalami tegangan tarik, apakah timbul retak atau tidak. Jika timbul
retak dimanakah letaknya, apakah di weld metal, HAZ atau di fussion line (garis
perbatasan WM dan HAZ).
Gambar 2.1 Face Bend pada permukaan las (Thoriq, 2000)
2. Root bend (bending pada akar las)
Dikatakan root bend jika bending dilakukan sehingga akar las mengalami
tegangan tarik dan dasar las mengalami tegangan tekan, perlakuan tersebut dapat
dilihat pada Gambar 2.2. Pengamatan dilakukan pada akar las yang mengalami
tegangan tarik, apakah timbul retak atau tidak. Jika timbul retak dimanakah
letaknya, apakah di weld metal, HAZ atau di fusion line (garis perbatasan WM
dan HAZ).
Gambar 2.2 Root Bend pada akar las (Thoriq, 2000)
2.1.2 Longitudinal Bending
Pada longitudinal bending ini, pengambilan spesimen searah dengan arah
pengelasan berdasarkan arah pembebanan dan lokasi pengamatan, pengujian
longitudinal bending dibagi menjadi dua:
1. Face bend (bending pada permukaan las)
Dikatakan face bend jika bending dilakukan sehingga permukaan las
mengalami tegangan tarik dan dasar las mengalami tegangan tekan. Longitudinal
face bend dapat dilihat pada Gambar 2.3. Pengamatan dilakukan pada permukaan
las yang mengalami tegangan tarik, apakah timbul retak atau tidak. Jika timbul
retak dimanakah letaknya, apakah di Weld metal, HAZ atau di fusion line (garis
perbatasan WM dan HAZ).
Gambar 2.3 Face Bend pada permukaan las (Thoriq, 2000)
2. Root bend (Bending pada akar las)
Dikatakan root bend jika bending dilakukan sehingga akar las mengalami
tegangan tarik dan dasar las mengalami tegangan tekan. Kondisi pada longitudinal
root bend dapat dilihat pada Gambar 2.4. Pengamatan dilakukan pada akar las
yang mengalami tegangan tarik, apakah timbul retak atau tidak. Jika timbul retak
dimanakah letaknya, apakah di weld metal, HAZ atau di fusion line (garis
perbatasan WM dan HAZ).
Gambar 2.4 Face Bend pada akar las (Thoriq, 2000)
Kriteria Kelulusan Uji Bending
Untuk dapat lulus dari uji bending, permukaan cembung spesimen uji
lengkung harus diperiksa secara visual untuk diskontinuitas permukaan. Terdapat
dua standart penerimaan yang dapat digunakan dalam pengujian bending, yaitu
sebagai berikut:
1. AWS (American Welding Society) D1.1/D1.1M:2010 sebagai berikut:
Keretakan maksimal 3 mm diukur dari segala arah pada permukaan.
Keretakan maksimal 10 mm dari jumlah semua keretakan terbesar antara 1-3
mm.
Keretakan sudut maksimal 6 mm, kecuali keretakan berasal dari beberapa jenis
retak, maka keretakan maksimal 3 mm.
2. ASME (American Society of Mechanical Engineers) section IX 2010 sebagai
berikut:
Cacat pada daerah weld dan HAZ ukurannya tidak melebihi 1/8 inchi ( 3,2
mm) yang diukur dari segala arah permukaan.
Pada daerah pelapisan ukuran cacat maksimal 1,6 mm.
Cacat pada sudut diabaikan kecuali akibat SI (Slag Inclusion) dan IF
(Incomplete Fusion) dan Internal Discontinuities.
BAB III
METODOLOGI
3.1 Peralatan dan Bahan
3.1.1 Peralatan
Peralatan-peralatan yang digunakan dalam pengujian ini adalah sebagai berikut:
1. Mesin Uji Bending.
2. Gerinda tangan.
3. Kacamata pelindung.
4. Spidol.
5. Kabel daya.
6. Sarung tangan pelindung.
7. Jangka sorong.
8. Penutup telinga.
9. Lup (kaca pembesar).
3.1.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam pengujian ini adalah sebagai berikut:
1. Spesimen uji bending SA 36 untuk face transversal bend (1 buah).
2. Spesimen uji bending SA 36 untuk root transversal bend (1 buah).
3. Batu gerinda kasar (1 buah).
4. Batu gerinda halus (1 buah).
3.2 Prosedur Keselamatan
Sebelum praktikum pengujian bahan dilaksanakan, mahasiswa harus
meyakinkan dahulu telah melengkapi diri dengan APD Mempersiapkan
(Alat Pelindungperalatan
Diri)
serta baha-bahan yang akan
sebagai berikut: digunakan
1. Pakaian dan celana bengkel.
2. Safety shoes.
3. Menggunakan masker. Kodifikasi
4. Sarung tangan. Spesimen Uji
3.3 Prosedur Kerja
Dalam prosedur kerja bending testPersiapan Permukaan
terdapat tujuh urutan pengujian benda
Spesimen Uji
kerja seperti yang terlihat pada Gambar 3.1.
Pengukuran Dimensi
Spesimen Uji
Penentuan Diameter
Mandrell
Pengujian Spesimen
Pada Mesin Bending
Gambar 3.1 Diagram Urutan Uji Bending
3.4 Langkah Kerja
Pada pelaksanaan percobaan bending test ini, terdapat beberapa prosedur
yang harus dilakukan. Prosedur tersebut adalah sebagai berikut:
1. Mempersiapkan peralatan serta bahan-bahan yang akan digunakan. Peralatan
serta bahan-bahan yang akan digunakan dapat dilihat pada Gambar 3.2 sebagai
berikut:
Gambar 3.2 Peratalan serta bahan yang akan digunakan dalam
Bending Test
2. Kodifikasi
Menandai tiap spesimen menggunakan spidol eperti pada Gambar 3.3
dengan kode sebagai berikut:
F untuk spesimen face bend.
R untuk spesimen root bend.
3. Menyiapkan spesimen Gambar 3.3 Kodifikasi spesimen
a. Menggerinda spesimen uji pada permukaan yang akan diamati pada daerah
weld metal, HAZ, dan sedikit base metal. Panjang luasan yang digerinda kurang
lebih 50 mm seperti yang terlihat pada Gambar 3.4.
(a) Luasan yang harus digerinda pada face transversal bend
Gambar 3.4 Spesimen uji transversal bending
b. Meng
gerinda sudut-sudut spesimen sepanjang luasan di atas sehingga menentukan
radius.
c. Dalam menggerinda, pertama kali gerinda dengan menggunakan batu gerinda
yang kasar terlebih dahulu, setelah itu baru digerinda dengan menggunakan
batu gerinda yang halus seperti yang terlihat pada Gambar 3.5.
(b) Gerinda Kasar (a) Gerinda Halus
Gambar 3.5 Proses Penggerindaan Spesimen Uji
d. Mengulangi langkah di atas untuk seluruh spesimen.
4. Pengukuran dimensi, seperti yang terlihat pada Gambar 3.6.
a. Mengambil spesimen lalu mengukur dimensinya menggunakan jangka sorong.
b. Mencatat kode spesimen dan data pengukurannya pada lembar kerja.
c. Mengulangi langkah di atas untuk seluruh spesimen.
Gambar 3.6 Pengukuran Dimensi Spesimen Uji
5. Penentuan diameter mandrell
Untuk menentukan diameter mandrell kita menggunakan standart ASME
II part A dan berdasarkan tabel spesimen tersebut berikut cara mennentukan
diameter mandrell.
Membuka ASME II part A, pada specification listed by material dengan
spesimen SA-36.
Setelah itu buka pada tabel 3 SA-36 tensile requirements, seperti pada Gambar
3.7 dibawah ini.
Gambar 3.7 Tabel 3 SA-36 Tensile RequirementsA
Berdasarkan gambar tabel di atas didapatkan elongations sebesar 20% -
23%. Selanjutnya menentukan diameter mandrel.
Setelah mendapatkan presentase elongations dari spesimen SA-36, maka
membuka tabel test jig dimensions yang dilengkapi dengan keterangan pada
gambar sketsa test jig dimensions pada ASME section IX 2010, seperti pada
Gambar 3.8 dibawah ini.
(a) Sketsa Test Jig Dimensions
38,10 mm
A
D 30,16 mm
19,05 mm
B
60,32 mm
(b) Sketsa Test Jig Dimensions
Gambar 3.8 Cara untuk menentukan diameter mandrell
Tebal material spesimen F (Face bend) memiliki tebal 10,5 mm dan
spesimen R (Root bend) memiliki tebal 10,3 mm. Sehingga berdasarkan table
diatas diameter mandrel 38,2 mm.
6. Pengujian pada mesin bending.
a. Mencatat data mesin pada lembar kerja.
b. Mengambil spesimen dan Meletakkannya pada tempatnya secara tepat.
c. Menyetting beban dan memberikan beban secara kontinyu sampai spesimen uji
bengkok seperti yang terlihat pada Gambar 3.9.
Gambar
d. Mengambil 3.9 Pengujian
spesimen Spesimen
dan mengamati Uji pada Mesin
permukaannya. BilaBending
terdapat cacat, ukur
dan catat pada lembar kerja bentuk, dimensi, tempat dan jenis cacat.
e. Ulangi langkah di atas untuk seluruh spesimen.
BAB IV
ANALISA & PEMBAHASAN
4.1 Analisa Data
Dari proses pengujian bending yang sudah dilakukan, ditemukan indikasi
cacat pada spesimen uji, dan hasil dari pengujian beserta ukurannya dapat dilihat
melalui sketsa pada Gambar 4.1 serta Tabel 4.1 sebagai berikut:
Spesimen face transversal bend Spesimen root transversal bend
Gambar 4.1 Hasil Pengujian Bending
Tabel 4.1 Hasil Pengujian
BENDING TEST
Date : 28 Nopember 2016
Material : Plat SA36
Welding Process / Position : SMAW / I G
Reference : ASME Section IX 2013
Angle of Bend : 180 mandrell : 38,10 mm
Result
Specimen Width Thick Size of
No Type of Remark
Stamp (mm) (mm) Discontinuty
Discontinuty
(mm)
1 FB 37 9,65 - - Accepted
2 RB 36 9.65 - - Rejected
4.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil pengujian yang dapat dilihat dari Gambar 4.1 dan Tabel
4.1, dapat dinyatakan bahwa:
a. Spesimen FB
Pengujiaan yang dilakukan dengan metode Face Bend pada permukaan
daerah Weld Metal tidak mengalami cacat. Maka spesimen tersebut dapat diterima
dengan kualitas pengelasan yang baik.
b. Spesimen RB
Pengujiaan yang dilakukan dengan metode Root Bend pada permukaan
daerah Weld Metal mengalami cacat. Maka spesimen tersebut tidak dapat
diterima.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari pengujian pengujian bending lasan yang telah kami lakukan,
kesimpulan yang dihasilkan antaranya:
1. Spesimen F (face transversal bend) tidak ditemukan cacat sehingga dapat
diterima setelah dianalisa dengan menggunakan acuan ASME IX.
2. Spesimen R (root transversal bend) ditemukan cacat sehingga tidak dapat
diterima setelah dianalisa dengan menggunakan acuan ASME IX.
Daftar Pustaka
ASME 2013 Section IX. Bending Test.
ASME II part A.
AWS, Article 1, Bending Test.
Budi Prasojo, ST. (2002). Buku Petunjuk Praktek. Surabaya: Jurusan Teknik
Permesinan Kapal PPNS.
W., Moh. Thoriq. (2000). Modul Praktek Uji Bahan. Surabaya: PPNS.