Manajemen Integrasi Proyek PMBOK
Manajemen Integrasi Proyek PMBOK
1
Kompetensi teknik;
Budaya mutu yang baik dalam keseluruhan organisasi;
Struktur organisasi yang cocok;
Kepedulian yang tepat akan kesehatan dan
keselamatan setiap orang yang berhubungan dengan proyek;
Komunikasi proyek yang baik;
Staf yang memiliki motivasi baik;
Pemecahan konflik dengan cepat dan adil (fair).
Lima elemen kritis suatu good plan yaitu : Tujuan Proyek dan Persyaratan
Utama yang Mendukung, Lingkup Proyek, Hasil Kerja (Deliverables) Utama, Kebutuhan
Sumber Daya, dan Jadwal Proyek dengan Tanggal Penyerahan Utama.
Manajemen proyek dikerjakan melalui aplikasi dan integrasi proses-proses
manajemen proyek yaitu initiating, planning, executing, monitoring and controlling,
dan closing. Kelima Grup Proses memiliki ketergantungan yang jelas dan biasanya
dilakukan dalam setiap proyek dan sangat berinteraksi satu sama lain. Pada diagram alir
proses terdapat gambaran ringkasan keseluruhan dari aliran dasar dan interaksi antara
Grup Proses dan pemangku kepentingan tertentu. Proses manajemen proyek terkait
dengan input tertentu dan output di mana hasil atau hasil dari satu proses menjadi
input untuk proses lain tetapi tidak harus dalam Kelompok Proses yang sama. Sifat
berulang manajemen proyek berarti bahwa proses dari setiap kelompok dapat
digunakan kembali sepanjang siklus hidup proyek.
2
Diagram interkasi antara proses-proses dalam manajemen proyek.
3
Dalam PMBOK Guide proses-proses manajemen proyek tersebut diorganisir
dalam sepuluh area pengetahuan sebagai berikut dan diilustrasikan dalam tabel:
1. Project Integration Management, menguraikan proses-proses dan
aktifitas-aktifitas yang mengintegrasikan berbagai elemen manajemen
proyek, diidentifikasi, didefinisikan, dikombinasikan, dipersatukan dan
dikoordinasikan dalam kelompok-kelompok proses manajemen proyek.
Terdiri dari proses-proses manajemen proyek: Develop Project Charter,
Develop Preliminary Project Scope Statement, Develop Project Management
Plan, Direct and Manage Project Execution, Monitor and Control Project
Work, Integrated Change Control, dan Close Project.
2. Project Scope Management, menguraikan proses proses yang terlibat
dalam memastikan bahwa project mencakup semua pekerjaan yang
dibutuhkan, dan hanya kerja yang dibutuhkan untuk menyelesaikan
proyek dengan sukses. Terdiri dari proses-proses manajemen proyek: Scope
Planning, Scope Definition, Create WBS, Scope Verification, dan Scope
Control.
3. Project Time Management, menguraikan proses-proses yang
memfokuskan pada penyelesaian proyek pada waktunya. Terdiri dari
proses-proses manajemen proyek: Activity Definition, Activity Sequencing,
Activity Resource Estimating, Activity Duration Estimating, Schedule
Development, dan Schedule Control.
4. Project Cost Management, menguraikan proses-proses yang terlibat
dalam proses planning, estimating, budgeting, dan controlling biaya,
sehingga proyek diselesaikan dalam anggaran yang disetujui. Terdiri dari
proses-proses manajemen proyek: Cost Estimating, Cost Budgeting, dan
Cost Control.
4
apa proyek dikerjakan. Terdiri dari proses-proses manajemen proyek:
Quality Planning, Perform Quality Assurance, dan Perform Quality Control.
6. Project Human Resource Management, menguraikan proses-proses yang
mengorganisir dan memanage tim proyek. Terdiri dari proses-proses
manajemen proyek: Human Resource Planning, Acquire Project Team,
Develop Project Team, dan Manage Project Team.
7. Project Communications Management, Terdiri dari proses-proses
manajemen proyek: Communications Planning, Information Distribution,
Performance Reporting.
8. Project Risk Management, menguraikan proses-proses yang fokus dengan
pelaksanaan manajemen resiko terhadap proyek. Terdiri dari proses-proses
manajemen proyek: Risk Management Planning, Risk Identification,
Qualitative Risk Analysis, Quantitative Risk Analysis, Risk Response
Planning, dan Risk Monitoring and Control.
9. Project Procurement Management, menguraikan proses-proses yang
membeli atau memperoleh produk, jasa atau hasil maupun proses-
proses manajemen kontrak. Terdiri dari proses-proses manajemen proyek:
Plan Purchases and Acquisitions, Plan Contracting, Request Seller
Responses, Select Sellers, Contract Administration, dan Contract Closure.
10. Project Stakeholder Management, menguraikan proses-proses mengenai
pengelolaan proyek dengan para pemangku kepentingan pada proyek
tersebut.
Secara ringkas hubungan sepuluh area pengetahuan tersebut dengan tahapan
proyek dapat dilihat dalam tabel berikut.
5
Monitoring
NO PMBOK Initiating Planning Executing
and Controlling
Closing
Menyusun rencana
Manajemen manajemen mutu proyek
5 Melakukan penjaminan Mengontrol kualitas
Mutu Proyek sesuai spesifikasi teknis
mutu proyek
yang telah ditetapkan
dalam kontrak
Melengkapkan tim
Manajemen proyek
6 Sumber Daya Merencanakan SDM yang
Mengembangkan tim
Manusia Proyek dibutuhkan
proyek
Mengatur tim proyek
Manajemen Menyusun rencana jalur Mengatur komunikasi Mengontrol komunikasi
7 Komunikasi komunikasi dan dalam proyek proyek
Proyek pelaporan
Perencanaan untuk Mengontrol risiko dalam
menangani risiko yang proyek
terjadi sepanjang proyek
Mengidentifikasi risiko
Manajemen Penilaian dan analisa
8 Risiko Proyek pengaruh besar kecilnya
risiko terhadap proyek
Membuat analisis risiko
kuantitatif
Perencanaan respon dan
kontrol risiko yang
mungkin terjadi
Merencanakan jenis Menjalankan Mengontrol procurement Menutup procurement
Manajemen pelelangan dan jenis procurement
9 Pengadaan kontrak untuk pengadaan
Proyek barang/jasa keperluan
proyek
6
1. Manajemen Integrasi Proyek (Project Integration Management)
Bertujuan untuk mengkoordinasi seluruh knowledge area pada manajemen proyek
melalui Proses proyek. Manajemen integrasi memastikan seluruh elemen bersama
menyelesaikan proyek dengan sukses pada waktu yang tepat.
Project Integration Management meliputi proses dan kegiatan untuk
mengidentifikasi, menjelaskan, menggabungkan, menyatukan serta mengkoordinasikan
berbagai proses dan kegiatan manajemen proyek dalam Project Management Process
Groups. Dalam konteks manajemen proyek, integrasi meliputi karakteristik unifikasi,
konsolidasi, komunikasi, dan integratif tindakan yang sangat penting untuk
pengendalian pelaksanaan proyek melalui penyelesaian, keberhasilan mengatur
harapan para stakeholder, dan memenuhi persyaratannya.
Input
1. Project Statement of Work (SOW), adalah deskripsi naratif suatu
produk/layanan pada proyek. Yang termasuk SOW adalah kebutuhan
bisnis, Deskripsi lingkup suatu produk, Rencana strategis
7
Unit lain dalam organisasi
Konsultan
Stakeholders, termasuk pelanggan atau sponsor
Asosiasi profesional dan teknisi
Grup industri
Para ahli
Project management office (PMO)
Outputs
1. Project charter, adalah dokumentasi dari kebutuhan bisnis, customer,
serta produk, layanan, dan hasil terbaru yang harus dipenuhi, seperti:
Inputs
1. Project charter
8
Struktur organisasi dan kulturnya
File proyek pada proyek masa lalu, serta informasi sejarah, dll
Outputs
2. Project Management Plan termasuk:
9
Konfigurasi management plan
bagaimana integritas dari performa dapat diukur
Kebutuhan dan teknis komunikasi para stakeholders
Key management reviews
Inputs
1. Project Management Plan, Berisi rencana dari tiap anak perusahaan dan
seluruh aspek dari sebuah proyek. Mencakup scope, requirements,
schedule, cost, dan stakeholder management.
10
3. Meetings, Pertemuan antara project manager, tim proyek, dan
stakeholder untuk membahas sesuatu. Biasanya berbentuk pertukaran
informasi, bertukar pikiran, atau pengambilan keputusan.
Outputs
1. Deliverables, Adalah sebuah komponen nyata yang dapat diperiksa,
sebuah hasil atau kapabilitas untuk melakukan sesuatu yang dihasilkan
untuk melengkapi sebuah proses.
Inputs
1. Schedule forecast: Membandingkan progress pekerjaan dengan
perencanaan. Dapat digunakan untuk apakah proyek masih dalam
batasan toleransi keterlambatan dan dapat mengantisipasi dengan
perubahan yang diperlukan.
11
2. Cost forecast: Didapatkan dari perbandingan jumlah yang sudah keluar
dengan cost keseluruhan. Untuk menentukan apakah masih didalam
batasan toleransi biaya.
3. Validated changes: Validasi diperlukan untuk memastikan bahwa kerja
dan perubahan sudah dilaksanakan.
4. Work performance information: adalah informasi performa kerja . Data
performa kerja dapat digunakan untuk proses pengambilan keputusan.
5. Enterprise enviromental factors: Termasuk dari standar pemerintahan,
Sistem otoritas organisasi, toleransi risiko dari stakeholder, sistem
informasi manajemen proyek.
6. Organizational process enviroment: Termasuk persyaratan komunikasi
organisasi, prosedur kontrol finansial, prosedur manajemen masalah dan
cacat, prosedur kontrol perubahan, prosedur kontrol risiko, dll
Outputs
1. Permintaan perubahan (Change request)
2. Work performance report adalah laporan dari performa pekerjaan suatu
proyek. Termasuk status report, memo, information notes, justification
dll
3. Project management plan updates: perubahan yang terjadi dalam proses
monitoring and controling dapat mempengaruhi banyak hal dalam suatu
proyek.
12
1.5. Perform Integrated Change Control
Inputs
1. Project Management Plan termasuk scope management plan, scope
baseline, change management plan
2. Work Performance Report
3. Change Requests
4. Enterprise Enviromental Factors
5. Organizational Process Assets yang dapat mempengaruhi proses
perubahan terintegrasi adalah: prosedur kontrol perubahan, prosedur
untuk menyetujui otoritas, proses pengukuran database, dokumen
proyek
Outputs
1. Permintaan perubahan yang disetujui
2. Daftar perubahan
Inputs
1. Project Management Plan sesuai dengan persetujuan apa yang
menandakan selesainya proyek
2. Accepted Deliverables seperti spesifikasi produk yang disetujui, struk
pengantaran dll
13
3. Organizational Process Assets termasuk informasi historis dari proyek
dan lesson learned
Outputs
1. Final product, service, or result transition adalah transisi produk akhir
dari proyek
2. Organizational process assets update adalah output dari penutupan
proyek yang termasuk arsip proyek, dokumen penutupan proyek dan
informasi historis.
14
5. Pengontrolan ruang lingkup merupakan proses monitoring status
pelaksanaan proyek dan produk yang dihasilkan dan melakukan pengelolaan
setiap perubahan yang terkait dengan rencana kerja
Inputs
1. Project Management Plan - terdiri dari Scope Baseline (terdiri dari project
scope statement dan detil WBS yang digunakan untuk mendefinisikan
kegiatan-kegiatan, estimasi durasi, dan manajemen waktu) serta
informasi lainnya yang berhubungan mengenai biaya, risiko, dan
keputusan komunikasi dari rencana manajamen proyek yang digunakan
untuk mengembangkan jadwal.
2. Project Charter berisi tentang ringkasan milestone schedule dan
persetujuan persyaratan proyek yang akan mempengaruhi manajemen
perihal jadwal proyek.
3. Enterprise Environmental Factors
4. Organizational Process Assets
15
Tools and Techniques
1. Expert Judgment ditunjukkan oleh informasi historis, memberikan
pengetahuan yang dalam dan berharga mengenai lingkungan dan
informasi dari proyek yang serupa. Mereka juga dapat memberikan saran
mengenai penggabungan cara dan metode untuk mencocokkan dari
perbedaan yang ditemukan untuk kegiatan yang dilakukan dan harus
digunakan dalam mengembangkan rencana pengelolaan jadwal.
2. Analytical Techniques
3. Meetings
Outputs
1. Schedule Management Plan sebagai contohnya rencana manajemen
jadwal dapat membantu dalam menentukan dibawah ini:
Model contoh pengembangan jadwal proyek metode jadwal dan alat
penjadwalan yang akan digunakan dalam pengembangan proyek
ditentukan.
Tingkat keakuratan rentang yang diterima digunakan dalam
menentukan estimasi durasi kegiatan yang realistis adalah ditentukan
dan mungkin termasuk kemungkinan yang ada.
Satuan ukuran (units of measure) setiap satuan yang digunakan
dalam pengukuran seperti staff hour, staff days atau mingguan untuk
satuan waktu atau meter, liter, ton, kilometer, serta kubik untuk
satuan jumlah/kuantitas didefinisikan untuk masing-masing sumber
daya.
Organizational procedures link memberikam kerangka kerja untuk
rencana manajemen jadwal, memungkinkan untuk konsistensi dengan
estimasi dan jadwal yang dihasilkan.
Project schedule model maintenance proses digunakan untuk
memperbarui status dan rekam progress dari jadwal proyek selama
pelaksanaan proyek.
Control thresholds
Rules of performance measurement
Reporting formats
Process description
16
3.2 Define Activities
Merupakan proses identifikasi dan dokumentasi tindakan khusus yang
harus dilakukan untuk menghasilkan deliverables proyek.
Inputs
1. Schedule Management Plan input utama dari rencana manajemen
jadwal adalah detil dari tingkat yang ditentukan untuk mengelola
pekerjaan.
2. Scope Baseline
3. Enterprise Environmental Factors
4. Organizational Process Assets
Outputs
1. Activity List merupakan daftar lengkap yang mencakup semua jadwal
kegiatan yang diperlukan pada proyek. Daftar kegiatan juga termasuk
17
deskripsi dari lingkup pekerjaan untuk setiap kegiatan secara cukup rinci
untuk memastikan bahwa anggota tim proyek memahami pekerjaan apa
saja yang harus diselesaikan. Setiap kegiatan harus memililiki nama yang
jelas untuk menunjukka jadwalnya, bahkan jika nama kegiatan
ditampilkan diluar konteks dari jadwal proyek.
2. Activity Attributes
3. Milestone List merupakan titik significant dari kegiatan proyek dimana
terdiri dari daftar identifikasi seluruh proyek yang menunjukkan
milestone adalah wajib seperti yang disyaratkan oleh kontrak atau
berdasrkan informasi historis. Milestones mirip dengan jadwal kegiatan
rutin, dengan struktur yang sama tetapi mereka memiliki durasi nol
karena merupakan momen dalam waktu.
Inputs
1. Schedule Management Plan mengidentifikasi metode penjadwalan dan
alat yang digunakan unutk proyek, dimana akan menunjukan bagaimana
kegiatan akan diurutkan.
2. Activity List berisikan seluruh jadwal kegiatan yang dibutuhkan proyek,
dimana akan diurutkan. Ketergantungan dan kendala untuk kegiatan ini
dapat mempengaruhi urutan dari kegiatan.
3. Activity Attributes menggambarkan urutan peristiwa yang diperlukan
atau dari pendahulunya atau penggantinya.
4. Milestone List tanggal penjadwalan untuk milestones yang spesifik,
dimana dapat mempengaruhi bagaimana kegiatan diurutkan.
5. Project Scope Statement berisi deskripsi project scope, yang terdiri dari
karakteristik produk yang dapat mempengaruhi pengurutan kegiatan,
seperti tata letak dari sesuatu yang akan dibangun.
18
6. Enterprise Environmental Factors
Standar pemerintah atau industry
Projecr Management Information System (PMIS)
Alat penjadwalan
Sistem autorisasi perusahaan kerja
19
2. Dependency Determination
Mandatory dependencies
Discretionary dependencies
External dependencies
Internal dependencies
Outputs
1. Project Schedule Network Diagrams, Hal ini dapat mencakup detil lengkap
proyek, atau memiliki satu atau lebih ringkasan kegiatan. Ringkasan dapat
disertai diagram dan menjelaskan pendekatan dasar yang digunakan
dalam mengurutkan kegiata. Setiap kegiatan yang tidak biasa diurutkan
dalam jaringan harus sepenuhnya dijelaskan dalam ringkasan.
2. Project Document Updates
Activity lists,
Activity attributes,
Milestones list,
Risk register.
Inputs
1. Schedule Management Plan
2. Activity List
3. Activity Attributes
4. Resource Calendars
5. Risk Register
6. Activity Cost Estimates
7. Enterprise Environmental Factors
20
8. Organizational Process Assets
21
sumber daya dapat dijelaskan untuk membantu mengoptimalkan
pemanfaatan sumber daya.
Outputs
1. Activity Resource Requirements
2. Resource Breakdown Structure
3. Project Document Updates
Activity list.
Activity attributes, dan
Resource calendars
Inputs
1. Schedule Management Plan
2. Activity List
3. Activity Attributes
4. Activity Resource Requirements
5. Resource Calendars
6. Risk Register
7. Resource Breakdown Structure
8. Enterprise Environmental Factors
9. Organizational Process Assets
22
Outputs
1. Activity Duration Estimates perkiraan durasi kegiatan merupakan
penilaian secara kuantitatif jumlah kemungkinan periode waktu yang
diperlukan untuk menyelesaikan suatu kegiatan. Perkiraan ini tidak
termasuk lags yang dijelaskan sebelumnya dan dapat termasuk beberapa
indikasi kemungkinan kisaran hasil.
2. Project Document Updates
Activity attributes, dan
Asumsi yang dibuat dalam pengembangan perkiraan durasi kegiatan,
seperti tingkat kemampuan dan ketersediaan, sebaik dasar dari
perkiraan durasi.
Inputs
1. Schedule Management Plan
2. Activity List
3. Activity Attributes
4. Project Schedule Network Diagrams
5. Activity Resource Requirements
6. Resource Calendars
7. Activity Duration Estimates
8. Project Scope Statement
9. Risk Register
10. Project Staff Assignments
11. Resource Breakdown Structure
12. Enterprise Environmental Factors
13. Organizational Process Assets
23
2. Critical Path Method (CPM)
3. Critical Chain Method (CCM)
4. Resource Optimization Techniques
Resource leveling,
Resource smoothing
5. Modelling Techniques
What-if scenario analysis
Simulation
6. Leads and Lags
7. Schedule Compression
Crashing digunakan untuk mempersingkat durasi jadwal untuk biaya
tambahan paling dengan menambahkan sumber daya. Contohnya
seperti menyetujui overtime, membawa sumber daya tambahan atau
membayar untuk mempercepat pengiriman ke kegiatan pada critical
path. Crashing ini hanya untuk kegiatan pada critical path dimana
sumber daya tambahan akan mempersingkat durasi aktivitas tersebut,
dan tidak selalu menghasilkan alternative yang layak dan dapat
menyebabkan peningkatan risiko dan atau biaya.
Fast tracking kegiatan atau tahapan biasanya dilakukan secara
berurutan secara parallel untuk setidaknya sebagian dari durasi
mereka. Contohnya adalah membuat pondasi bangunan sebelum
menyelesaikan semua gambar arsitektur. Fast tracking dapat
menyebabkan pengerjaan ulang dan peningkatan risiko. Metode ini
hanya bekerja jika kegiatan dapat menjadi tumpang tindih untuk
mempersingkat durasi proyek.
8. Scheduling Tool
Outputs
1. Schedule Baseline
2. Project Schedule
Bar charts
24
Milestone charts
Project schedule network diagrams
3. Schedule data
4. Project Calendars
5. Project Management Plan Updates
6. Project Document Updates
Activity resource requirements
Activity attributes
Calendars
Risk register
Inputs
1. Project Management Plan
2. Project Schedule
3. Work Performance Data
4. Project Calendars
5. Schedule Data
6. Organizational Process Assets
25
4. Modelling Techniques
5. Leads and Lags
6. Schedule Compression
7. Schedule Tool
Outputs
1. Work Performance Information perhitungan SV dan SPI untuk WBS,
khususnya paket pekerjaan dan control accounts, didokumentasikan dan
dikomunikasikan kepada stakeholders.
2. Schedule Forecasts
3. Change Requests
4. Project Management Plan Updates
Schedule Baseline
Schedule Management Plan
Cost Baseline
5. Project Documents Updates
Schedule Data
Project Schedule
Risk Register
6. Organizational Process Assets Updates
26
3. Pengendalian biaya merupakan proses monitoring dan pengendalian
penggunaan anggaran sehingga dapat dilakukan pengaturan pembiayaan
agar tetap sesuai dengan pagu anggaran yang telah disepakati.
6. Manajemen SDM
Manajemen SDM proyek mencakup proses yang mengatur tim proyek. Tim
proyek terdiri dari orang yang telah memiliki posisi dan kewajiban tertentu untuk
menyelesaikan proyek. Anggota tim proyek dapat memiliki berbagai kemampuan,
dapat diatur bekerja penuh waktu atau paruh waktu, dan dapat ditambahkan atau
dikurangi selama proyek berjalan. Meskipun peranan dan kewajiban yang spesifik
para anggota tim proyek telah ditentukan, partisipasi dari seluruh anggota tim
proyek dalam perencanaan dan pengambilan keputusan proyek akan sangat
bermanfaat. Partisipasi anggota tim proyek selama perencanaan akan meningkatkan
keahlian dan meningkatkan komitmen mereka terhadap proyek.
27
manajemen staf. Manfaat utama dari proses ini adalah dapat menyediakan
posisi apa saja yang ada dalam proyek beserta tanggung jawabnya, struktur
organisasi, dan perencanaan manajemen staf termasuk jadwal penggunaan
SDM.
28
Kegagalan untuk memperoleh SDM yang dibutuhkan untuk proyek
dapat berpengaruh terhadap penjadwalan proyek, pembiayaan
proyek, kepuasan konsumen, kualitas, dan risiko. Kekurangan SDM
dapat mengurangi kemungkinan kesuksesan proyek dan bahkan
dapat menyebabkan pembatalan proyek.
Apabila karena hambatan-hambatan tertentu tetap terjadi
kekurangan SDM, PM atau tim manajemen proyek mungkin
diperlukan untuk mengambil SDM alternatif, seperti SDM dengan
kompetensi yang lebih rendah asalkan tidak melanggar peraturan,
hukum, dan kriteria lainnya.
29
tim, mengelola konflik dengan cara yang tepat, dan mendorong penyelesaian
masalah yang kolaboratif.
Objektif dari proses pengembangan tim proyek adalah, tetapi tidak
terbatas pada:
Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anggota tim proyek
untuk meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan deliverable
proyek;
Meningkatkan perasaan kepercayaan dan persetujuan di antara
anggota tim proyek untuk meningkatkan moral anggota tim proyek,
meredakan konflik, dan meningkatkan kerja sama kelompok;
Menciptakan kultur tim proyek yang dinamis, kohesif, dan
kolaboratif untuk (1) meningkatkan produktivitas individu dan tim,
semangat kerja tim, dan kooperasi, dan (2) memungkinkan adanya
pembagian pengetahuan dan keahlian dari tim proyek.
30
dengan penekanan pada komunikasi, manajemen konflik, negosiasi, dan
kepemimpinan.
31
Beberapa pertimbangan yang diperlukan dalam proses komunikasi ini
adalah, tetapi tidak terbatas pada:
siapa yang membutuhkan informasi dan siapa yang memiliki otoritas
untuk mengakses informasi;
kapan mereka akan membutuhkan informasi;
di mana informasi tersebut harus disimpan;
dalam bentuk apa informasi disimpan;
bagaimana informasi dapat diketahui;
apakah pertimbangan zona waktu, keterbatasan bahasa, dan
perbedaan budaya perlu perlu dipertimbangkan dalam proses
komunikasi.
32
sender-receiver models
pemilihan media
gaya penulisan
teknik manajemen rapat
teknik presentasi
teknik fasilitasi
teknik mendengarkan
33
kemungkinan kejadian di proyek yang postif dan mengurangi kemungkinan kejadian
proyek yang negatif.
34
untuk mengantisipasi kemungkinan kejadian risiko proyek. Masukan, tools &
teknik, dan keluaran dari proses ini digambarkan dalam gambar berikut.
35
Melakukan analisis risiko kualitatif menilai prioritas dari risiko yang
telah diidentifikasi menggunakan probabilitas relatif atau kemungkinan
terjadinya risiko, akibat terhadap objektif proyek jika risiko terjadi. Proses ini
biasanya merupakan proses yang cepat dan murah yang berarti dapat
menyediakan prioritas untuk perencanaan respon risiko.
36
mungkin untuk melaksanakan analisis kuantitatif karena kekurangan data
untuk mengembangkan model yang sesuai sesuai kebutuhan.
37
Proses kontrol risiko mengaplikasikan beberapa teknik, seperti analisis
tren dan varians, yang membutuhkan penggunaan informasi performa
pekerjaan yang dibuat saat pelaksanaan proyek. Tujuan lain dari proses kontrol
risiko adalah untuk menentukan apakah:
asumsi yang digunakan di proyek masih valid;
analisis yang menilai risiko telah berubah atau sudah tidak terjadi;
kebijakan manajemen risiko dan prosedur yang ada telah dipatuhi;
dan
rencana kontingensi untuk biaya atau jadwal harus diperbaiki
sejalan dengan risiko yang ada.
Proses kontrol risiko dapat melibatkan pemilihan berbagai alternatif
strategi, melaksanakan rencana kontingensi, mengambil tindakan korektif, dan
memodifikasi rencana manajemen proyek.
38
dari proses ini adalah dapat menentukan apa yang harus diadakan, bagaimana
caranya, berapa banyak yang dibutuhkan, dan kapan melakukan pengadaan.
Masukan, tools & teknik, dan keluaran dari proses ini digambarkan dalam
gambar berikut.
39
Pada pengadaan barang/alat yang utama, keseluruhan proses dari
menunggu renspon dari para penjual dan mengevaluasi respon yang ada dapat
dilakukan berulang-ulang. Daftar kecil berisi para penjual yang memenuhi
kualifikasi dapat disediakan. Evaluasi yang lebih mendetail dapat dilakukan
berdasarkan dokumen persyaratan yang lebih spesifik dan komprehensif dari
para penjual.
40
Proses kontrol pengadaan mencakup aplikasi dari berbagai proses
manajemen yang sesuai dan penggabungan dari berbagai keluaran dari proses
manajemen ini. Penggabungan ini akan terjadi dalam berbagai tingkatan ketika
ada banyak penjual dan banyak produk, jasa, atau hasil yang dilibatkan.
41
10.1. Identifikasi Stakeholders
Identifikasi stakeholders adalah proses mengidentifikasi individu, grup,
atau organisasi yang dapat memengaruhi, dipengaruhi, atau merasa dirinya
dipengaruhi oleh keputusan, aktivitas, atau keluaran proyek. Proses identifikasi
stakeholders yang dilakukan di awal tahapan proyek, menganalisis tingkat
kepentingannya, ekpektasi individu, menjadi kritis di dalam proses ini.
Masukan, tools & teknik, dan keluaran dari proses ini digambarkan dalam
gambar berikut.
42
Proses ini juga mengidentifikasi bagaimana suatu proyek dapat
memengaruhi stakeholders, yang mengizinkan PM untuk mengembangkan
berbagai cara untuk melibatkan stakeholders secara efektif, untuk mengelola
ekspektasi stakeholders, dan untuk mencapai objektif proyek.
43
mengelola ekspektasi stakeholders melalui negosiasi dan komunikasi,
memastikan tujuan proyek tercapai;
memperhatikan beberapa isu yang belum menjadi masalah dan
mengantisipasi masalah akibat stakeholders yang mungkin terjadi ke
depannya;
mengklarifikasi dan menyelesaikan masalah yang telah diidentifikasi.
44