0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan18 halaman

Fisiografi dan Geologi Jawa Timur

Dokumen tersebut membahas tentang geologi regional di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jawa Tengah dibagi menjadi enam zona fisiografi sedangkan Jawa Timur enam lajur geologi. Kulon Progo terdiri dari batuan berumur Eosen hingga Kuarter yang tersusun dari Formasi Nanggulan, Formasi Andesit Tua, Formasi Jonggrangan, Formasi Sentolo dan Endapan Alluvial. Batuan di daerah ini juga memiliki dua arah struktur ut

Diunggah oleh

Kanta
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan18 halaman

Fisiografi dan Geologi Jawa Timur

Dokumen tersebut membahas tentang geologi regional di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jawa Tengah dibagi menjadi enam zona fisiografi sedangkan Jawa Timur enam lajur geologi. Kulon Progo terdiri dari batuan berumur Eosen hingga Kuarter yang tersusun dari Formasi Nanggulan, Formasi Andesit Tua, Formasi Jonggrangan, Formasi Sentolo dan Endapan Alluvial. Batuan di daerah ini juga memiliki dua arah struktur ut

Diunggah oleh

Kanta
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN
I. GELOGI REGIONAL
a. Fisiografi Regional
Pembahasan tatanan geologi secara regional di Indonesia, tidak terlepas dari pembagian
jalur-jalur fisiografi yang dibuat oleh Van Bemmelen (1949).

Gambar 2.1 Peta Fisiografi Jawa Tengah (Van Bemmelen, 1949)

Van Bemmelen, (1949) membagi Jawa Tengah menjadi enam zona fisiografi, yaitu:
Gunung Api Kuarter, Dataran Alluvial Utara Jawa, Antiklinorium Serayu Utara, Kubah dan
Punggungan pada Zona Depresi Tengah, Antiklinorium Serayu Selatan dan Pegunungan Selatan.
Sedangkan fisiografi Jawa Timur dapat dibagi menjadi enam lajur, yaitu : (1) Lajur Karimun Jawa-
Bawean, (2) Lajur Gunungapi Alkali, (3) Lajur Rembang, (4) Lajur Kendeng, (5) Lajur Gunungapi
Tengah dan (6) Lajur Pegunungan Selatan yang umumnya merupakan blok yang miring ke arah
selatan dan ditutupi oleh batugamping yang disebut Pegunungan Seribu (van Bemmelen, 1949).

Lajur Rembang dan Lajur Kendeng merupakan pegunungan lipatan yang berarah relatif
barat-timur, menempati bagian utara Jawa Timur (van Bemmelen, 1949). Lajur Rembang
umumnya disusun oleh batuan sedimen yang didominasi oleh batugamping lingkungan laut
dangkal dan endapan klastik lingkungan laut dan sedikit batuan volkanik klastik yang hadir sebagai
sisipan. Lajur Kendeng disusun oleh endapan piroklastik yang berumur Oligo-Miosen dan sangat
tebal.
Lajur Pegunungan Selatan menempati bagian paling selatan pulau Jawa dan umumnya
merupakan blok yang miring kearah selatan dan ditutupi oleh batugamping yang disebut
Pegunungan Seribu (van Bemmelen, 1949). Lajur ini disusun oleh batuan sedimen tertua yang
tersingkap di Jawa bagian Timur, terdiri dari batupasir kuarsa dan konglomerat yang berumur
Eosen Tengah, batuan volkanik dan plutonik Oligo-Miosen atau disebut juga sebagai Old Andesite
(van Bemmelen, 1949).

Lajur Karimun Jawa-Bawean dan Lajur Gunungapi Alkali menempati lepas pantai laut Jawa
dimana Lajur Gunungapi Alkali terletak di sebelah selatan Lajur Karimun Jawa-Bawean dan
memanjang dari arah barat ke timur. Lajur Karimun Jawa-Bawean disusun oleh batugamping
Oligo-Miosen sedangkan Lajur Gunungapi Alkali disusun oleh batuan gunungapi Plistosen dengan
komposisi alkali (Gafoer dan Ratman,1999).

Daerah Yogyakarta terutama bagian baratdaya - selatan dan timur merupakan dataran
yang tertutup endapan alluvial dan batuan volkanik yang berasal dari gunung Merapi muda.
Sedangkan ke arah barat yaitu di daerah Kulon Progo dataran tersebut berubah secara bertahap
menjadi morfologi perbukitan. Sebagian besar bagian barat (Pegunungan Kulon Progo) memiliki
relief tinggi. Dataran tinggi Jonggrangan yang merupakan tempat tertinggi di daerah ini dengan
ketinggian mencapai 750 m di atas permukaan air laut. Perbukitan tersebut terkikis oleh sejumlah
sungai yang membentuk serangkaian lembah

b. Stratigrafi Regional
Pegunungan Kulon Progo tersusun atas batuan yang berumur Eosen sampai Miosen (van
Bemmelen, 1949). Urutan stratigrafi batuan dari tua ke muda adalah Formasi Nanggulan, Formasi
Andesit Tua, Formasi Jonggrangan, Formasi Sentolo dan Endapan Alluvial. Beberapa peneliti lain
menamakan Formasi Andesit Tua sebagai Formasi Kebo Butak (Rahardjo dkk, 1977) atau Formasi
Kulon Progo dengan Anggota Ijo (Suroso dkk., 1986) dan Kompleks volkanik Progo dengan Formasi
Kaligesing/Formasi Dukuh (Pringgoprawiro dan Riyanto, 1988).

Formasi Nanggulan

Formasi Nanggulan merupakan formasi tertua yang tersingkap di Kulon Progo.


Martin,(1916) menamakan sebagai Nanggulan beds (diambil dari Purnamaningsih dan
Pringgoprawiro, 1981). Hartono, (1969) mengatakan sebagai Globigerina marl untuk lapisan
teratas Formasi Nanggulan yang kemudian dijadikan satu satuan stratigrafi yaitu Anggota Seputih
oleh Purnamaningsih dan Pringgoprawiro, (1981). Bagian bawah dari formasi ini tersusun oleh
batupasir kemudian di atasnya diendapkan perselingan batupasir dan batulempung menyerpih
yang mengandung lignit.

Pada bagian tengah formasi terdiri dari perselingan napal pasiran dengan batupasir serta
batulempung yang mengandung Nummulites Jogjakartae. Di atasnya diendapkan napal dan
batugamping yang berselingan dengan batupasir dan serpih yang mengandung Camerina dan
Dyscocyclina Van Bemmelen (1949) memasukkan semua fasies volkanik yang berumur Oligosen-
Miosen di sepanjang pulau Jawa bagian selatan kedalam Formasi Andesit Tua. Suroso dkk, (1986)
menyebutkan bahwa Formasi Andesit Tua yang tersingkap di daerah Kulon Progo berdasarkan
penampakan di lapangan mempunyai karakteristik fisik yang dapat dibedakan di tempat lainnya
yaitu Formasi Kulon Progo untuk breksi volkanik yang berasosiasi dengan tuf lapili dan tuf dan
Anggota Ijo untuk lava andesit piroksen dan andesit hornblenda serta (van Bemmelen, 1949).

Pada bagian atas formasi terdiri dari napal dan batupasir gampingan yang disebut sebagai
Anggota Seputih (Pringgoprawiro dan Riyanto, 1988). Berdasarkan analisis foraminifera plangton
umur Formasi Nanggulan adalah Eosen Tengah sampai Oligosen Awal (Hartono, 1969). Formasi
ini berada pada daerah dengan morfologi perbukitan bergelombang dan tersebar merata di
daerah Nanggulan, Sermo, Gandul dan Kokap sebagai jendela singkapan di dalam Formasi Andesit
Tua (van Bemmelen, 1949).

Formasi Kebo Butak

Formasi Kebo Butak diendapkan secara tidak selaras di atas Formasi Nanggulan. Formasi
ini oleh van Bemmelen (1949) dibagi atas breksi andesit, tuf, lapili, aglomerat dan sisipan aliran
lava andesit yang lebih dikenal dengan Formasi Andesit Tua. Sejumlah terobosan dasit, andesit
porfir dan diorit porfir juga termasuk dalam formasi ini (Rahardjo dkk., 1977). asosiasinya dengan
breksi volkanik. Formasi Giripurwo untuk perselingan breksi volkanik dan batupasir volkanik yang
menunjukkan mekanisme turbidit. Berdasarkan kandungan foraminifera plangton pada sisipan
lempungnya, Formasi Giripurwo berumur Miosen Awal (N6-N8).

Berdasarkan fasies pengendapannya Formasi Andesit Tua dapat dibedakan menjadi


Kompleks Volkanik Progo atau Formasi Kaligesing dan Formasi Dukuh. Kompleks Volkanik Progo
atau Formasi Kaligesing merupakan fasies darat dengan litologi berupa breksi volkanik dan
perselingan lava dan breksi. Formasi Dukuh diendapkan sebagai kipas laut dalam yang terdiri atas
perselingan batupasir, batugamping, batulempung dan breksi volkanik (Pringgoprawiro dan
Riyanto, 1988). Hubungan antara Kompleks Volkanik Progo dan Formasi Dukuh adalah saling
menjemari dimana berdasarkan kandungan foraminifera plangtonik berumur Oligosen Akhir-
Miosen Awal (N3-N5).

Di kompleks Pegunungan Kulonprogo dapat dijumpai beberapa pusat erupsi yang terdiri
atas perselingan lava dan breksi andesit (Soeria-Atmadja dkk., 1994). Pada bagian tengahnya
terdapat leher-leher volkanik, kubah lava dan breksi piroklastik dimana bagian tepinya terdiri dari
breksi laharik. Batuannya berkomposisi antara basaltik sampai andesit. Berdasarkan penentuan
umur absolut batuan dengan menggunakan metoda K-Ar oleh Soeria Atmadja, dkk. (1994)
didapatkan bahwa batuan volkanik di daerah Kulon Progo berkisar antara 29.63 2.26 sampai
22.64 1.13 juta tahun yang lalu (Oligosen Akhir Miosen Awal).

Formasi Jonggrangan

Formasi Jonggrangan diendapkan secara tidak selaras di atas Formasi Kebo Butak dan
mempunyai hubungan yang menjemari dengan bagian bawah Formasi Sentolo (Rahardjo dkk.,
1977). Formasi Jonggrangan terdiri atas konglomeratan, napal tufaan, batupasir gampingan
dengan sisipan lignit yang ke arah atas berubah menjadi batugamping berlapis dan batugamping
koral. Formasi ini dianggap berumur Miosen Bawah.

Formasi Sentolo

Formasi ini pada bagian bawahnya terdapat konglomerat alas yang ditutupi oleh napal
tufaan dengan sisipan tuff ke arah atas berangsur berubah menjadi batugamping berlapis yang
kaya foraminifera. Pringgoprawiro, (1969) telah menentukan umur dari Formasi Sentolo yang
sebelumnya dianggap berumur Miosen Akhir menjadi Pliosen berdasarkan fosil foraminifera
plangton. Rahardjo dkk., (1977) mengatakan umur Formasi Sentolo adalah Miosen Tengah-
Pliosen berdasarkan fosil foraminifera plangton.

Endapan Alluvial

Di atas Formasi Sentolo diendapkan secara tidak selaras endapan alluvial dan endapan
volkanik Kuarter yaitu endapan hasil letusan gunung Merapi yang terdiri dari tuf, tuf lapilli, breksi,
aglomerat dan lava andesit. Endapan alluvial terdiri dari material lepas yang berukuran kerakal,
pasir, lanau dan lempung di sepanjang sungai dan dataran pantai selatan.
Gambar II.1 Kesebandingan Stratigrafi daerah Kulon Progo menurut

beberapa peneliti terdahulu.

c. Struktur Geologi
Di daerah nanggulan berkembang dua pola arah struktur yang berkembang, yakni berarah
utara-selatan dan berarah barat-timur. Arah struktur utara-selatan berkembang pada batuan
Paleogen seperti ditunjukan oleh arah sumbu antiklin Nanggulan. Sementara arah struktur yang
barat-timur terdapat pada batuan neogen yang membentk struktur homoklin dengan kmiringan
lapisan ke selatan. (Prasetyadi C, 2007)

Kulonprogo yang merupakan salah satu daerah kabupaten yang ada di kota Yogyakarta,
merupakan salah satu studio alam terbaik bagi mahasiswa bidang ilmu kebumian untuk belajar
dan mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah didapat di bangku kuliah. Secara umum daerah
Kulonprogo khususnya daerah nanggulan masuk kedalam daerah perbukitan menoreh.
Perbukitan menoreh merupakan kumpulan bukit-bukit yang terbentuk dari sisa dari suatu
pegunungan berapi aktif yang ada jutaan tahun yang lalu.

Pada daerah ini pula batuan dimulai dari umur eosen sampai dengan pengendapan
merapi resent sekarang tersendapkan. pada umur eosen dimana di interpretasikan bahwa daerah
tersebut dahulunya merupakan daerah transisi yang kemudian mengalami kenaikan air laut
sampai menjadi daerah neritik. Hal tersebut dibuktikan dengan terendakannya formasi sentolo
dan jonggrangan yang terdiri dari batuan karbonat klastik dan batugamping terumbu yang khas
di endapkan pada lingkungan laut dangkal. Selanjutnya pada perkembangan sampai pada saat
sekarang daerah kulonprogo kebali menjadi lingkungan darat sampai ke lingungan vulkanik yang
sampai sekarang masih aktif.

Dari semua penjelasan diatas, terdapat banyak cerita menarik yang diharapkan bisa didapatkan
pada daerah kulonprogo khusunya pada daerah telitian penulis yaitu daerah nanggulan. Dan
selain itu penulis juga mengharapkan bisa mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkan selama
mengikuti perkuliahan sehingga bisa bermanfaat bagi penulis sendiri atau bahkan pada
masyarakat pada umumnya. Oleh karena kekompleksan dan keunikan dari daerah nanggulan
sehingga penulis memilih daerah ini sebagai daerah penilitan penulis.

II. RUMUSAN MASALAH


Sebelum melakukan penilitian pada daerah yang di inginkan, penulis berusaha membuat
suatu ruang lingkup penilitan yang diwujudkan dalam rumusan masalah. Dari rumusan masalah
ini diharapkan penulis bisa lebih memfokuskan penilitian ini untuk dapat mencari jawaban-
jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang telah dimunculkan. Rumusan masalah ini juga sebagai
batasan dari penelitian yang dilakukan supaya kegiatan dilapangan labih terkoordinasi dan efisien.
Adapun pertanyaan-pertanyaan tersebut ialah sebagai berikut :

1. Bagaimanakah susunan Statigrafi daerah telitian


2. Bagaimana Struktur Geologi yang berkembang
3. Bagaimana pembagian bentuk lahan berdasarkan Aspek Geomorfologi
4. Bagaimana umur daerah telitian berdasarkan Aspek Paleontologi
5. Bagaimana sejarah perkembangan dari daerah Nanggulan ditinjau dari aspek geologi nya
III. MAKSUD DAN TUJUAN PENELITIAN
Maksud dari kuliah lapangan ini adalah untuk mempelajari teknik-teknik pemetaan
geologi pada lintasan permukaan dengan mengaplikasikan ilmu yang telah didapatpada saat
kuliah dan tujuan dari kuliah lapangan ini adalah untuk memberikan informasigeologi daerah
telitian, mengenai geomorfologi, struktur geologi, stratigrafi dan potensi geologi, serta sejarah
geologi dan hubungan kendali geologi terhadap potensi daerah secara rinci.

IV. MANFAAT PENELITIAN


Dari hasil kuliah lapangan (pemetaan geologi) sangat bermanfaat bagi :

1. Bagi Keilmuan
Sebagai suatu kesempatan bagi para mahasiswa untuk bisa mengaplikasikan ilmu yang
telah didapatkannya dibangku kuliah
Sebagai waktu yang baik untuk melakukan tahapan-tahaan penilitan yang cermat dan
baik, serta mengaplikasikan metoda-metoda pekerjaan lapangan untuk bisa
menghasilkan suatu peta geologi, peta geomorfologi, dan informasi lainnya, dari data
yang lengkap, jelas, dan berkualitas.

2. Bagi Institusi
Menambah koleksi Perpustakaan UPN Veteran Yogyakarta, khususnya Jurusan Teknik
Geologi.
Mengenalkan kampus UPN Veteran Yogyakarta, khususnya Jurusan Teknik Geologi
kepada masyarakat.

3. Bagi Masyarakat
Mengenalkan ilmu geologi
Menyampaikan kondisi geologi daerah penelitian untuk mengurangi resiko geologi.

4. Bagi Pemerintah
Memberikan informasi kondisi geologi pada daerah telitian dan meminimalisir bencana
geologi.
V. LETAK DAN PENCAPAIAN LOKASI PENELITIAN
Lokasi penelitian terletak di daerah Kabupaten Kulonprogo, Kecamatan Nanggulan dan
sekitarnya, Provinsi DIY. Berdasarkan koordinat GPS di sekitar koordinat X: 409000-412000, dan
Y: 914500-914900, untuk pencapaian lokasi dari Yogyakarta menuju lokasi sekitar 45 menit
menggunakan sepeda motor dengan kecepatan 50km/jam, jarak yang di tempuh lebih kurang 50
km, yang kira-kira mengarah ke barat laut. Daerah telitian juga bisa diakses menggunakan
kendaraan bermobil.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

ALUR PIKIR PENELITIAN

Alur pikir penelitian geologi (Gambar 1)

KAJIAN
PUSTAKA

KONSEP DAN MENENTUKAN LINTASAN


MENGINTERPRETASI
DAERAH TELITIAN
GEOMORFOLOGI

LITOLOGI
PENGUMPULAN DATA STRUKTUR GEOLOGI
KE LAPANGAN
PENGAMBILAN SAMPEL
PENGAMBILAN FOTO

PEMROSESAN DAN PE PETROGRAFI


MILAHAN JENIS DATA

PALEONTOLOGI

PENYAJIAN STRUKTUR GEOLOGI


DATA
SEDIMENTOLOGI

P E M ANF AAT AN MO DE L
ANALISIS DATA GEOMORFOLOGI, LITOLOGI,
STRATIGRAFI, LINGKUNGAN
PENGENDAPAN, STRUKTUR
GEOLOGI

HASIL
PETA GEOMORFOLOGI, PETA GEOLOGI DAN
PENAMPANG GEOLOGI, PENAMPANG STRATIGRAFI,
FOTO, SKETSA, LAPORAN YANG MENYERTAI PETA-
PETA TERSEBUT, LAMPIRAN DATA DAN ANALISIS
LABORATORIUM (LAPORAN RESMI)
Alur pikir kajian geomorfologi (Gambar 2)

KAJIAN PUSTAKA

INTERPRETASI
PETA TOPOGRAFI

POLA PUNGGUNGAN
POLA BUKIT
POLA PENGALIRAN

KERJA LAPANGAN

KELERENGAN
BENTUK LEMBAH
JENIS EROSI GERAKAN MASSA
MATA AIR DEBIT SUNGAI
BEDROCK STREAM/ALLUVIAL STREAM

DATA GEOMORFOLOGI

- POLA PUNGGUNGAN - KETINGGIAN


- POLA BUKIT - RELIEF
- JARAK ANTAR BUKIT - KELERENGAN
- BENTUK LEMBAH - JENIS EROSI
KLASIFIKASI BENTUKLAHAN
SATUAN (Verstappen - Zuidam)
BENTUKLAHAN MORFOLOGI :
N
- MORFOGRAFI

HUBUNGAN GEOMORFOLOGI DAN - MORFOMETRI


GEOLOGI DAERAH TELITIAN
- MORFOGENESA :
(LITOLOGI, STRATIGRAFI TERBATAS, - MORFOSTRUKTUR AKTIF
STRUKTUR GEOLOGI)
DAN PASIF
Alur pikir kajian stratigrafi.(Gambar 3)

KAJIAN PUSTAKA

KERJA LAPANGAN

MODEL
LINTASAN TERPILIH
ANALISA PROFIL SINGKAPAN LINGKUNGAN
PENGENDAPAN
LABORATORIUM
LINTASAN
STRATIGRAFI MEKANISME
BEBERAPA STRUKTUR SEDIMEN
LINTASAN
PETROGRAFI
PALEONTOLOGI

PENAMPANG
STRATIGRAFI
DAERAH
PENELITIAN
DISEBANDINGKAN

STRATIGRAFI
STRATIGRAFI DENGAN
DAERAH
PENELITIAN PENELITI
TERDAHULU
Alur pikir kajian struktur geologi.(Gambar 4)

KAJIAN PUSTAKA

KERJA LAPANGAN
STRATIGRAFI GEOMORFOLO
DAERAH KEDUDUKAN LAPISAN GI DAERAH
PENELITIAN KENAMPAKAN PUNGGUNGAN PENELITIAN
PERUBAHAN ALIRAN

DATA STRUKTUR
GEOLOGI ANALISIS
STRUKTUR
STRUKTUR GARIS &
BIDANG
KEKAR, SESAR,
LIPATAN
REKONSTRUKSI

ANALISIS DATA

KEKAR,SESAR, LIPAT-
AN, REKONSTRUKSI STRUKTUR
PENAMPANG GEOLOGI
GEOLOGI REGIONAL

STRUKTUR GEOLOGI
DAERAH PENELITIAN
DAN SEKITARNYA

Van Bemmelen, (1949) membagi Jawa Tengah menjadi enam zona fisiografi, yaitu:
Gunung Api Kuarter, Dataran Alluvial Utara Jawa, Antiklinorium Serayu Utara, Kubah dan
Punggungan pada Zona Depresi Tengah, Antiklinorium Serayu Selatan dan Pegunungan Selatan.
Sedangkan fisiografi Jawa Timur dapat dibagi menjadi enam lajur, yaitu : (1) Lajur Karimun Jawa-
Bawean, (2) Lajur Gunungapi Alkali, (3) Lajur Rembang, (4) Lajur Kendeng, (5) Lajur Gunungapi
Tengah dan (6) Lajur Pegunungan Selatan yang umumnya merupakan blok yang miring ke arah
selatan dan ditutupi oleh batugamping yang disebut Pegunungan Seribu (van Bemmelen, 1949).

Lajur Rembang dan Lajur Kendeng merupakan pegunungan lipatan yang berarah relatif
barat-timur, menempati bagian utara Jawa Timur (van Bemmelen, 1949). Lajur Rembang
umumnya disusun oleh batuan sedimen yang didominasi oleh batugamping lingkungan laut
dangkal dan endapan klastik lingkungan laut dan sedikit batuan volkanik klastik yang hadir sebagai
sisipan. Lajur Kendeng disusun oleh endapan piroklastik yang berumur Oligo-Miosen dan sangat
tebal.

Lajur Pegunungan Selatan menempati bagian paling selatan pulau Jawa dan umumnya
merupakan blok yang miring kearah selatan dan ditutupi oleh batugamping yang disebut
Pegunungan Seribu (van Bemmelen, 1949). Lajur ini disusun oleh batuan sedimen tertua yang
tersingkap di Jawa bagian Timur, terdiri dari batupasir kuarsa dan konglomerat yang berumur
Eosen Tengah, batuan volkanik dan plutonik Oligo-Miosen atau disebut juga sebagai Old Andesite
(van Bemmelen, 1949).

Lajur Karimun Jawa-Bawean dan Lajur Gunungapi Alkali menempati lepas pantai laut Jawa
dimana Lajur Gunungapi Alkali terletak di sebelah selatan Lajur Karimun Jawa-Bawean dan
memanjang dari arah barat ke timur. Lajur Karimun Jawa-Bawean disusun oleh batugamping
Oligo-Miosen sedangkan Lajur Gunungapi Alkali disusun oleh batuan gunungapi Plistosen dengan
komposisi alkali (Gafoer dan Ratman,1999).

Daerah Yogyakarta terutama bagian baratdaya - selatan dan timur merupakan dataran
yang tertutup endapan alluvial dan batuan volkanik yang berasal dari gunung Merapi muda.
Sedangkan ke arah barat yaitu di daerah Kulon Progo dataran tersebut berubah secara bertahap
menjadi morfologi perbukitan. Sebagian besar bagian barat (Pegunungan Kulon Progo) memiliki
relief tinggi. Dataran tinggi Jonggrangan yang merupakan tempat tertinggi di daerah ini dengan
ketinggian mencapai 750 m di atas permukaan air laut. Perbukitan tersebut terkikis oleh sejumlah
sungai yang membentuk serangkaian lembah
BAB III

METODE PENELITIAN

Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menganalisa dan
menginterpretasikan data-data lapangan.

Tahapan-tahapan penelitian :

Pra mapping
1. Studi pustaka : sejarah geologi, mencari peta, regional daerah.
2. Mempelajari metode-metode yang akan digunakan.
3. Mempelajari klasifikasi yang ada.
4. Interpretasi dari peta topografi
5. Survei awal /observasi
6. Rencana lintasan
7. Persiapan checklist
8. Perijinan dan persiapan perlengkapan

Mapping
1. Pengenalan daerah
2. Lintasan pengamatan
3. Penelitian lapangan

Pasca Lapangan
Analisa Laboratorium dan Studio
a. Analisa Petrografi
b. Analisa Paleontologi
c. Analisa Sedimentologi
d. Analisa Data Struktur Geologi
BAB IV

JADWAL PENELITIAN

Waktu yang diperlukan dalam melakukan penelitian ini mulai dari taham persiapan
hingga waktu presentasi pertanggung jawaban direncanakan selama 5 bulan.

Mei Juni Juli Agustus

Wakt
u
Minggu 1

Minggu 2

Minggu 3

Minggu 4

Minggu 1

Minggu 2

Minggu 3

Minggu 4

Minggu 1

Minggu 2

Minggu 3

Minggu 4

Minggu 1

Minggu 2

Minggu 3

Minggu 4
Kegia
tan
Penga
daan
Peta

Penga
daan
Propo
sal

Checki
ng
Lapan
gan

Pengu
rusan
Surat
Izin
Peneli
tian
Lapan
gan

Analis
a Lab.
Dan
Studio

Pengo
lahan
Data

Konsul
tasi

Penyu
sunan
Lapor
an

Prese
ntasi
DAFTAR PUSTAKA

Harjanto Agus, 2008, MAGMATISME DAN MINERALISASI DI DAERAH KULON PROGO DAN
SEKITARNYA JAWA TENGAH, Ph.D Theses

Surono, B. Toha, I. Sudarsono, dan S. Wiryosuyono, 1992, Peta Geologi Lembar Surakarta-
Giritontro, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.

Prasetyadi Carolus, 2007, EVOLUSI TEKTONIK PALEOGEN JAWA BAGIAN TIMUR, Ph.D Theses
LEMBAR PENGESAHAN

Tugas Akhir dengan Judul :

GEOLOGI DAERAH NANGGULAN dan SEKITARNYA, KECAMATAN NANGGULAN,


KABUPATEN KULONPROGO, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Disusun Oleh :

Dimas Kanta Kurniawan


NIM: H1F014052

Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan


memperoleh gelar Sarjana Teknik
Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknik
Universitas Jenderal Soedirman

Diterima dan disetujui

Pada tanggal : ......................

Pembimbing I Mengetahui
Dekan

Rachmad Setijadi, [Link].,[Link]. Nastain, S.T.M.T


NIP. 19680130 200501 1 002 NIP. 19730912 200003 1 001

Anda mungkin juga menyukai