KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
STRATIGRAFI DAERAH SOPAI KECAMATAN SOPAI KABUPATEN
TORAJA UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN
LAPORAN
OLEH :
IMAM NOOR SETIADI
D611 15 305
GOWA
2017
KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI
STRATIGRAFI DAERAH SOPAI KECAMATAN SOPAI KABUPATEN
TORAJA UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN
LAPORAN
Diajukan sebagai salah satu syarat lulus mata kuliah Prinsip Stratigrafi pada
Program Studi Teknik Geologi, Departemen Teknik Geologi
Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin.
OLEH :
IMAM NOOR SETIADI
D611 15 305
GOWA
2017
FIELDTRIP PRINSIP STRATIGRAFI
LEMBAR PENGESAHAN
Disetujui Oleh :
Pembimbing 1 Praktikan
Dr. Ir. M. Fauzi Arifin, [Link] Imam Noor Setiadi
NIP. 19581203 198601 1 001 NIM. D611 15 305
Pembimbing 2
Dr. Ir. Hj. Ratna Husain, MT
NIP. 19590202 198601 2 001
Pembimbing 3
[Link] Asri Jaya HS, ST., MT
NIP. 19690924 1 99802 1 001
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Esa, berkat rahmat dan karunia-
Nya sehingga laporan Fieldtrip Prinsip Stratigrafi dapat selesai tepat dengan
waktunya. Ucapan terima kasih tak lupa pula penulis haturkan kepada :
1. Dr. Ir. M. Fauzi Arifin, [Link]. Selaku kepala laboratorium paleontologi dan
dosen mata kuliah Prinsip Stratigrafi.
2. Dr. Ir. Hj. Ratna Husain, MT. Selaku dosen mata kuliah Prinsip Stratigrafi
pada Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.
3. Dr. Eng Asri Jaya HS, ST., MT. Selaku dosen mata kuliah Prinsip Stratigrafi
pada Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.
4. Asisten dosen, selaku pembimbing dalam menyusun laporan fieldtrip ini dan
juga kepada pihak-pihak lainnya yang telah memberi bantuan baik berupa
materiil, maupun berupa motivasi dan lainnya.
Laporan ini berisikan informasi tentang kegiatan fieldtrip yang telah
dilakukan pada lokasi pengamatan di daerah Sopai, Toraja Utara, Sulawesi
Selatan. Penulis menyadari laporan kegiatan fieldtrip ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, sapaan berupa kritik dan saran penulis butuhkan
untuk kedepannya. Semoga laporan ini memberikan manfaat dan pengetahuan.
Gowa, 17 Mei 2017
Penulis
DAFTAR ISI
Daftar Halaman
HALAMAN JUDUL i
HALAMAN TUJUAN ii
HALAMAN PENGESAHAN iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI v
DAFTAR GAMBAR vii
DAFTAR FOTO viii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Maksud dan Tujuan
1.3 Batasan Masalah
1.4 Letak, Luas, dan Kesampaian Daerah
1.5 Manfaat Penelitian
1.6 Alat dan Bahan
1.7 Peneliti Terdahulu
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
3.2 Tahapan Penelitian
3.2.1 Tahap Persiapan
3.2.2 Tahap Pengumpulan Data
3.2.3 Tahap Pengolahan Data
3.2.4 Tahap Analisis Data
3.3 Penyusunan Laporan Penelitian
BAB IV GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
4.1 Geologi Regional
4.2 Geologi Daerah Penelitian
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Hasil Penelitian
5.2 Pembahasan
5.3 Sejarah Geologi
BAB VI PENUTUP
6.1 Kesimpulan
6.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
1. Peta Stasiun
2. Peta Geologi
3. Peta Geologi Regional
4. Deskripsi Stasiun
5. Sketsa Singkapan
6. Kolom MS
7. Profil Lintasan
8. Penampang Stratigrafi Terukur
9. Kolom Stratigrafi
10. Kolom Litologi
11. Deskripsi Fosil
12. Tugas Pendahuluan
13. Laporan Sementara
DAFTAR GAMBAR
Daftar Halaman
Gambar 1.1. Lokasi Penelitian yang Berjarak 350 km dari Kota Makassar
Gambar 2.1 Angular Unconformity
Gambar 2.2 Disconformity
Gambar 2.3 Paranconformity
Gambar 2.4 Nonconformity
Gambar 3.5 Bagan Tahapan Penelitian Geologi daerah Sopai, Kabupaten
Toraja Utara, Sulawesi Selatan
DAFTAR FOTO
Daftar Halaman
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Stratigrafi merupakan studi mengenai sejarah, komposisi dan umur relatif
serta distribusi perlapisan batuan dan interpretasi lapisan-lapisan batuan untuk
menjelaskan sejarah bumi. Dari hasil perbandingan atau korelasi antar lapisan
yang berbeda dapat dikembangkan lebih lanjut studi mengenai litologi
(litostratigrafi), kandungan fosil (biostratigrafi), dan umur relatif maupun
absolutnya (kronostratigrafi). stratigrafi kita pelajari untuk mengetahui luas
penyebaran lapisan batuan.
Pada hakekatnya ada hubungan tertentu antara kejadian dan aturan batuan
di alam, dalam kedudukan ruang dan waktu geologi. Stratigrafi membahas aturan,
hubungan, kejadian lapisan serta tubuh batuan di alam. Sandi stratigrafi
dimaksudkan untuk memberikan pengarahan kepada para ahli geologi yang
bekerja mempunyai persepsi yang sama dalam cara penggolongan stratigrafi.
Pengukuran stratigrafi merupakan salah satu pekerjaan yang biasa
dilakukan dalam pemetaan geologi lapangan. Adapun pekerjaan pengukuran
stratigrafi dimaksudkan untuk memperoleh gambaran yang terperinci dari
hubungan stratigrafi antar setiap perlapisan batuan / satuan batuan, ketebalan
setiap satuan stratigrafi, sejarah sedimentasi secara vertikal dan lingkungan
pengendapan dari setiap satuan batuan yang kemudian dibuatlah perhitungan dan
urutan kejadian litologi batuan tertua sampai termuda.
1.2 Maksud dan Tujuan
Adapun maksud diadakannya Fieldtrip Prinsip Stratigrafi adalah agar kita
dapat mengenal objek-objek dasar yang menjadi kajian Geologi seperti batuan
serta mengetahui urutan pembentukannya. Adapun tujuan Fieldtrip Prinsip
Stratigrafi adalah sebagai berikut :
1. Untuk menentukan jenis batuan serta struktur batuan yang ada dengan metode
measuring section daerah Sopai.
2. Untuk menentukan urutan kejadian pembentukan litologi pada daerah Sopai.
1.3 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah pada Fieldtrip Prinsip Stratigrafi adalah
pengamatan langsung dilapangan secara megaskopis melalui pengambilan sampel
batuan yang ada pada setiap perlapisan batuan. Dari perlapisan inilah sehingga
dapaat diketahui perbedaan waktu pengendapan material sedimen yang
membentuk litologi tersebut yang di pertegas dengan pengambilan kedudukan
batuan pada daerah Sopai, Toraja Utara, Sulawesi Selatan.
1.4 Letak, Luas, dan Kesampaian Daerah
Kegiatan Fieldtrip Prinsip Stratigrafi ini dilaksanakan pada hari Minggu,
23 April 2017 dimulai pada pukul 09.00 WITA sampai Senin, 10 April 2016 yang
berakhir pada pukul 09.00 WITA bertempat di daerah Sopai dan sekitarnya,
kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Daerah penelitian yang bertempat di
daerah Sopai dapat dicapai dengan kendaraan roda dua dan roda empat dari
Kampus Fakultas Teknik Unhas Gowa menuju Daerah Sopai dan Sekitarnya
dengan jarak tempuh 350 km. Luas daerah penelitian melalui pengamatan
megaskopis pada setiap perlapisan berdimensi 80 m x 15 m.
SOPAI
MAKASSAR
Gambar 1.1. Lokasi Penelitian yang Berjarak 350 km dari Kota Makassar
1.5 Manfaat Penelitian
Berdasarkan penelitian yang dilakukan memberikan informasi tentang
proses urutan kejadian pengendapan batuan yang tertua sampai yang termuda.
Berdasarkan analisa stratigrafi urutan pembentukan batuan daerah Sopai
umumnya berselangseling antara batupasir dan batulempung. Dari pengamatan
tersebut akan memberikan manfaat kepada peneliti dalam menambah wawasan
ilmu pengetahuan.
1.6 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan demi kelancaran fieldtrip Prinsip
Stratigrafi daerah Sopai, Toraja Utara adalah sebagai berikut :
1. Roll Meter
2. Kamera
3. Palu Geologi
4. Kompas Geologi
5. Busur Derajat
6. Penggaris
7. Papan Clipboard
8. Karung 20 kg
9. Buku Lapangan
10. Hekter
11. Peta Lokasi
12. Kantong Sampel
13. Kertas A4 Secukupnya
14. Spidol Permanen
15. Pensil Warna
16. Pulpen
17. Penghapus
18. Double Tip
19. HCl 0.1 M
1.7 Peneliti Terdahulu
Sebelum pelaksanaan Fieldtrip Prinsip Stratigrafi yang dilakukan pada
daerah penelitian, terdapat beberapa ahli yang telah melakukan penelitian terlebih
dahulu pada daerah tersebut. Diantaranya :
1. Van Bemmelen, 1949, yang menulis tentang lengan selatan pulau Sulawesi.
2. Djuri dan Sujatmiko, 1974, meneliti geologi lembar Pangkajene dan bagian
barat Palopo Sulawesi Selatan dengan skala 1:250.000.
3. S. Sartono dan K.A.S Atadireja, 1981, meneliti geologi kuarter Sulawesi
Selatan dan Tenggara.
4. Cahyono, 2014, meneliti tentang penyelidikan batubara daerah palangi dan
sekitarnya kabupaten toraja utara provinsi Sulawesi Selatan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Penampang Stratigrafi Terukur
Stratigrafi adalah studi mengenai sejarah, komposisi dan umur relatif serta
distribusi perlapisan batuan dan interpretasi lapisan-lapisan batuan untuk
menjelaskan sejarah bumi. Dari hasil perbandingan atau korelasi antar lapisan
yang berbeda dapat dikembangkan lebih lanjut studi mengenai litologi
(litostratigrafi), kandungan fosil (biostratigrafi), dan umur relatif maupun
absolutnya (kronostratigrafi). stratigrafi kita pelajari untuk mengetahui luas
penyebaran lapisan batuan.
Penampang stratigrafi terukur (measured stratigraphic section) adalah
suatu penampang atau kolom yang menggambarkan kondisi stratigrafi suatu jalur,
yang secara sengaja telah dipilih dan telah diukur untuk mewakili daerah tempat
dilakukannya pengukuran tersebut. Jalur yang diukur tersebut dapat meliputi satu
formasi batuan atau lebih.
Sebaliknya pengukuran dapat pula dilakukan hanya pada sebagian dari
suatu formasi, sehingga hanya meliputi satu atau lebih satuan lithostratigrafi yang
lebih kecil dari formasi, misalnya anggota atau bahkan beberapa perlapisan saja.
2.2 Hukum-hukum Stratigrafi
1. Hukum Superposisi (Nicolas Steno,1669)
Dalam suatu urutan perlapisan batuan, maka lapisan batuan yang terletak di
bawah umurnya relatif lebih tua dibanding lapisan diatasnya selama lapisan
batuan tersebut belum mengalami deformasi.
2. Hukum Horizontalitas (Nicolas Steno,1669)
Pada awal proses sedimentasi, sebelum terkena gaya atau perubahan, sedimen
terendapkan secara horizontal
3. Original Continuity (Nicolas Steno,1669)
Batuan sedimen melampar dalam area yang luas di permukaan bumi.
4. Uniformitarianism (James Hutton, 1785)
Uniformitarianisme adalah peristiwa yang terjadi pada masa geologi lampau
dikontrol oleh hukum-hukum alam yang mengendalikan peristiwa pada masa
kini. Hukum ini lebih dikenal dengan semboyannya yaitu The Present is the
key to the past. Maksudnya adalah bahwa proses-proses geologi alam yang
terlihat sekarang ini dipergunakan sebagai dasar pembahasan proses geologi
masa lampau.
5. Faunal Succession (Abble Giraud-Soulavie, 1778)
Pada setiap lapisan yang berbeda umur geologinya akan ditemukan fosil yang
berbeda pula. Secara sederhana bisa juga dikatakan Fosil yang berada pada
lapisan bawah akan berbeda dengan fosil di lapisan atasnya. Fosil yang hidup
pada masa sebelumnya akan digantikan (terlindih) dengan fosil yang ada
sesudahnya, dengan kenampakan fisik yang berbeda (karena evolusi).
Perbedaan fosil ini bisa dijadikan sebagai pembatas satuan formasi dalam
lithostratigrafi atau dalam koreksi stratigrafi.
6. Strata Identified by Fossils (Smith, 1816)
Perlapisan batuan dapat dibedakan satu dengan yang lain dengan melihat
kandungan fosilnya yang khas
7. Facies Sedimenter (Selley, 1978)
Suatu kelompok litologi dengan ciri-ciri yang khas yang merupakan hasil dari
suatu lingkungan pengendapan yang tertentu. Aspek fisik, kimia atau biologi
suatu endapan dalam kesamaan waktu. Dua tubuh batuan yang diendapakan
pada waktu yang sama dikatakan berbeda fsies apabila kedua batuan tersebut
berbeda fisik, kimia atau biologi (S.S.I.)
8. Cross-Cutting Relationship (A.W.R Potter & H. Robinson)
Apabila terdapat penyebaran lap. Batuan (satuan lapisan batuan), dimana
salah satu dari lapisan tersebut memotong lapisan yang lain, maka satuan
batuan yang memotong umurnya relatif lebih muda dari pada satuan batuan
yang di potongnya.
9. Law of Inclusion
Inklusi terjadi bila magma bergerak keatas menembus kerak, menelan
fragmen2 besar disekitarnya yang tetap sebagai inklusi asing yang tidak
meleleh. Jadi jika ada fragmen batuan yang terinklusi dalam suatu perlapisan
batuan, maka perlapisan batuan itu terbentuk setelah fragmen batuan. Dengan
kata lain batuan/lapisan batuan yang mengandung fragmen inklusi, lebih
muda dari batuan/lapisan batuan yang menghasilkan fragmen tersebut.
2.3 Perhitungan Pada Penampang Stratigrafi Terukur
A. Menghitung Koreksi Dip
Perhitungan koreksi dip dilakukan setelah arah lintasan telah selesai. Dengan
memanfaatkan arah lintasan untuk membuat garis bayangan agar dapat
menentukan sudut bearing (sudut bearing adalah sudut terkecil yang dibentuk
antara garis strike dan garis bayangan), yang kemudian di lakukan
perhitungan koreksi dip per litologi berdasarkan rumus:
Tan (Dip Terkoreksi)-1 = Tan Dip x Sin Bearing
B. Menghitung Jarak Datar dan Beda Tinggi
Dalam pembuatan penampang profil linasan, diperlukan beberapa data yakni
jarak datar dan beda tinggi dari setiap stasiun. Data-data tersebut diperoleh
dengan menggunakan rumus:
Jarak Datar = Jarak Lapangan x cos slope
Beda Tinggi = Jarak lapangan x sin slope
C. Menghitung Ketebalan Lapisan
Perhitungan ketebalan lapisan dapat dilakukan dengan beberapa cara, namun
pada praktikum ini, kami menggunakan rumus:
Ketebalan = Panjang mistar x skala
2.4 Kolom Stratigrafi
Kolom stratigrafi pada hakekatnya adalah kolom yang menggambarkan
susunan berbagai jenis batuan serta hubungan antar batuan atau satuan batuan
mulai dari yang tertua hingga termuda menurut umur geologi, ketebalan setiap
satuan batuan, serta genesa pembentukan batuannya. Pada umumnya banyak cara
untuk menyajikan suatu kolom stratigrafi, namun demikian ada suatu standar
umum yang menjadi acuan bagi kalangan ahli geologi didalam menyajikan kolom
stratigrafi penampang kolom stratigrafi biasanya tersusun dari kolom-kolom
dengan atribut-atribut seperti : Umur, formasi, satuan batuan, ketebalan, besar
butir, simbol litologi, pemerian, fosil dianostik, dan lingkungan pengendapan.
Berdasarkan sandi stratigrafi Indonesia (1996), pembagian litostratigrafi
dimaksudkan untuk menggolongkan batuan di bumi secara bersistem menjadi
satuan bernama yang bersandi pada ciri-ciri litologi. Pada satuan litostratigrafi,
penentuan satuannya didasarkan atas ciri-ciri batuan yang dapat diamati langsung
di lapangan. Penentuan batas penyebarannya tidak tergantung atas batas waktu.
Ciriciri litologi di lapangan meliputi jenis batuan, kombinasi jenis
batuan, keseragaman gejala litologi batuan dan gejala lain pada tubuh batuan.
Apabila ciri fisik liologi tidak dapat digunakan maka digunakan ciri ciri lain
seperti dengan cara mekanik, geofisika, geokimia dan lain-lain. Satuan
litostratigrafi sesuai dengan hukum superposisi, dan keberadaan komponen fosil
dalam batuan termasuk salah satu komponen batuan.
A. Batas dan Penyebaran Satuan
Batas dan satuan litostratigrafi ialah sentuhan antara dua satuan yang
berlainan ciri litologi, yang dijadikan dasar pembeda kedua satuan tersebut. Batas
satuan ditempatkan pada bidang yang nyata, batasnya merupakan bidang yang
diperkirakan kedudukannya (batas arbitrer). Satuan-satuan yang berangsur
berubah atau menjari-jemari, peralihannya dapat dipisahkan sebagai satuan
tersendiri apabila memenuhi persyaratan sandi.
Penyebaran suatu satuan litostratigrafi semata-mata ditentukan oleh
kelanjutan ciri-ciri litologi yang menjadi ciri penentunya. Dari segi praktis,
penyebaran suatu satuan litostratigrafi dibatasi oleh batas cekungan pengendapan
atau aspek geologi lain. Batas-batas daerah hukum (geografi) tidak boleh
dipergunakan sebagai alasan berakhirnya penyebaran lateral (pelamparan) suatu
satuan. Batas satuan litostratigrafi tidak perlu berimpit dengan batas satuan
stratigrafi lainnya.
B. Tingkat-Tingkat Satuan Litostratigrafi
Urutan tingkatan satuan litostratigrafi resmi dari besar ke kecil yaitu
Kelompok Formasi Anggota. Dengan satuan dasar litostratigrafi yaitu formasi.
Kelompok adalah satuan litostratigrafi resmi setingkat lebih tinggi
daripada formasi dan karenanya terdiri dari dua formasi atau lebih yang
mempunyai keseragaman ciri litologi.
Formasi adalah satuan dasar litostratigrafi, harus mempunyai keseragaman
ciri fisik, mempunyai nilai stratigrafi dan dapat dipetakan pada skala 1 :
25.000 dengan ketebalan formasi berkisar kurang dari satu meter sampai
beberapa ribu meter. Harus diingat formasi adalah satuan dasar pembagian
litostratigrafi resmi dimana tidak selalu termasuk dalam suatu kelompok
dan tidak selalu terbagi menjadi beberapa anggota.
Anggota adalah bagian dari suatu formasi yang secara litologi berbeda
dengan ciri umum formasi, dan memiliki penyebaran lateral yang berarti,
anggota selalu merupakan bagian dari formasi dan penyebarannya tidak
boleh melebihi penyebaran formasi.
2.5 Keselarasan dan Ketidakselarasan
A. Keselarasan
Keselarasan adalah hubungan antara satu lapis batuan dengan lapis batuan
lainnya di atas atau di bawahnya yang kontinyu (menerus), tidak terdapat selang
waktu (rumpang waktu) pengendapan. Secara umum di lapangan ditunjukkan
dengan kedudukan lapisan (strike/dip) yang sama atau hampir sama, dan ditunjang
di laboratorium oleh umur yang kontinyu. Keselarasan terbagi menjadi tiga, yaitu:
1. Menjari (Interfingering)
Keselarasan yang terjadi akibat adanya waktu pengendapan yang sama
dari dua sumber litologi yang berbeda. Contohnya pengendapan awal dari
Batupasir hingga selesai, dilanjutkan pengendapan Batulempung hingga
terhenti. Pengendapan dua litologi tersebut berselang-seling atau biasa disebut
dengan menjari atau interfingering.
2. Membaji
Keselarasan yang terjadi akibat adanya susupan magma yang melewati
batuan secara horizontal. Biasanya terjadi kontak antara intrusi dengan batuan
yang dilewatinya.
3. Melensa
Keselarasan yang terbentuk karena adanya sisipan batuan lain, umumnya
sisipan batubara yang bentuknya seperti lensa cembung.
B. Ketidakselarasan
Ketidakselarasan yaitu kontak antara satu batuan dengan batuan lainnya
yang menunjukkan adanya suatu selang pengendapan yang hilang dalam urutan
dan sistem sedimentasi. Pengendapan yang hilang tersebut tidak terekam oleh
stratigrafi disebut hiatus. Bentuk ketidakselarasan pada umumnya disebabkan atas
dua hal, yaitu erosional dan non deposisional, sehingga menyebabkan ada urutan
pengendapan yang tidak terekam dalam urutan stratigrafi, ketidakselarasan ini
terjadi karena pengaruh sea level changes, tektonik, dan suplai sedimen yang
masuk ke suatu lingkungan sedimentasi.
Gejala-gejala ketidakselarasan yang biasa dijumpai yaitu adanya gap-gap berupa:
Gap paleontologi yaitu hilangnya suatu umur fosil tertentu dan ditemukan
umur fosil yang relatif jauh pada kontak antara dua batuan, misalnya Batupasir
berumur Kapur kontak dengan Batugamping berumur Miosen.
Gap stratigrafi yaitu hilang atau berubahnya suatu lapisan batuan secara
menyolok akibat terhentinya proses pengendapan. Sehingga menunjukkan
urutan lapisan batuan dengan sifat yang sangat berbeda jenis dan genesanya.
Jenis ketidakselarasan berdasarkan kedudukan lapisannya dan jenis kontak
antara batuannya yaitu:
Angular Unconformity
Angular Unconformity adalah tipe ketidakselarasan yang menunjukkan
batuan sedimen yang lebih mudah menumpang diatas bidang miring tererosi yang
merupakan batuan yang lebih tua dan telah mengalami pemiringan (tilted) atau
perlipatan. Angular unconformity dapat menunjukkan ukuran sepuluh hingga
seratus kilometer, jarang berupa hubungan individu batuan tetapi selalu dalam
satuan batuan. Struktur seperti submarine slide, cross bedding tidak termasuk tipe
ini.
Disconformity
Disconformity adalah perlapisan sejajar di atas dan di bawah bidang
ketidakselarasan, bidang kontaknya ditandai oleh kenampakan bidang erosi yang
nyata dan tidak rata. Disconformity lebih mudah dikenal karena adanya
permukaan erosi mungkin karena saluran (channel). Seperti halnya angular
unconformity dapat pula ditandai dengn fosil, zona soil (paleosols) yang mungkin
ditandai oleh gravel tertinggal (lag-gravel) pada bagian atas bidang
ketidakselarasan dan menunjukkan bongkah litologi yang sama dengan litologi
bagian bawahnya.
Gambar 2.1 Angular Unconformity Gambar 2.2 Disconformity
Paraconformity
Paraconformity ketidakselarasan sejajar, perlapisan batuan sejajar di atas
dan dibawah bidang ketidakselarasan. Tidak menunjukkan tanda erosi dan proses
fisika lainnya. Hanya bisa ditentukan dengan mengetahui perbedaan kandungan
fauna atau perubahan zonasi faunanya.
Nonconformity
Ketidakselarasan antara batuan sedimen dengan batuan beku atau
metamorf yang lebih tua dan telah tererosi sebelum batuan sedimen terendapkan
diatasnya.
Gambar 2.3 Paranconformity
Gambar 2.4 Nonconformity
2.6 Satuan Genetik
A. Retrogradation
Perkembangan pola pengendapan yang mundur mengisi tempat akomodasi
yang ada di atas pengendapan yang sudah ada sebelumnya dan terjadi
backstapping. Pola pengendapan mundur ini salah satunya disebabkan oleh
naiknya muka air atau garis pantai menuju ke arah darat identik dengan transgresi.
Hal ini terjadi dimana pasokan sedimen (supply sediment) lebih rendah
dibandingkan dengan tempat akomodasi (accommodation space).
B. Progradation
Perkembangan pola pengendapan yang maju mengisi tempat akomodasi
yang berada di depannya. Pola pengendapan maju ini salah satunya disebabkan
oleh turunnya muka air atau garis pantai menuju ke arah laut identik dengan
regresi. Hal ini terjadi dimana pasokan sedimen (supply sediment) lebih besar
dibandingkan dengan tempat akomodasi (accommodation space).
C. Agradation
Perkembangan pola yang tetap dimana volume pasokan sedimen (supply
sediment) seimbang dengan tempat akomodasi (accommodation space)
(keseimbangan antara sediment supply dan kenaikan muka air laut).
D. Finning Upward
Tekstur batuan dari beberapa lapisan yang mengalami perubahan besar
butir dimana diawali lapisan kasar klastika pada lapisan paling bawah dan
menghalus menuju atas. Perubahan ini menunjukkan penurunan kekuatan arus
transportasi pada saat pengendapan berlangsung (Boggs, 1987).
E. Coarsening Upward
Tekstur batuan dari beberapa lapisan yang mengalami perubahan besar
butir dimana diawali lapisan halus klastika pada lapisan paling bawah dan
mengkasar menuju atas. Perubahan ini menunjukan peningkatan kekuatan arus
transportasi pada saat pengendapan berlangsung (Boggs, 1987).
F. Thinning Upward
Suksesi menipis keatas yang menunjukkan adanya penurunan ketebalan
lapisan batuan sedimen kearah atas. Penipisan lapisan batuan ini menandakan
adanya perubahan energi yang berkurang pada lingkungan pengendapan.
G. Thickening Upward
Suksesi menebal keatas yang menunjukkan adanya peningkatan ketebalan
lapisan batuan sedimen kearah atas. Penebalan lapisan batuan ini menandakan
perubahan energi yang bertambah besar (dari fasies energi rendah menuju fasies
dengan energi tinggi).
Dalam istilah ini membahas mengenai hasil pengendapan yang mengalami
perubahan ketebalan akibat dari perbedaan kekuatan energi air laut.
1. Cu : Coarsening Upward = Mengkasar ke atas
2. Fu : Finning Upward = Menghalus ke atas
3. Tn : Thinning Upward = Menipis ke atas
4. Tc : Thickening Upward = Menebal ke atas
5. Ag : Agradasi = Kesamaan ukuran butir
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif eksploratif.
Penelitian deskriptif melakukan analisis hanya sampai pada taraf deskripsi yaitu
menganalisis dan menyajikan data berdasarkan sampel yang telah di dapatkan.
Sedangkan penelitian eksploratif yaitu penelitian yang dilakukan dengan
penjelajahan yang bertujuan untuk menemukan suatu gambaran dasar mengenai
topik bahasan, menggeneralisasi gagasan dan mengembangkan teori yang bersifat
tentatif, membuka kemungkinan akan diadakannya penelitian lanjutan terhadap
topik yang di bahas serta menentukan teknik dan arah yang akan digunakan dalam
penelitian selanjutnya. Dalam penelitian ini, peneliti belum memiliki gambaran
akan definisi atau konsep penelitian sehingga semua sumber dianggap penting
sebagai sumber informasi.
3.2 Tahapan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan empat tahapan yaitu tahapan persiapan,
tahapan pengumpulan data, tahapan pengolahan data, dan tahap analisis data,
dengan rincian sebagai berikut :
3.2.1 Tahap Persiapan
Tahapan ini meliputi persiapan penelitian, pembuatan proposal kegiatan,
dan pengurusan data administrasi. Persiapan penelitian meliputi kelengkapan alat
dan bahan yang digunakan dalam pengambilan dan pengolahan data serta Peta
topografi. Data administrasi meliputi pengurusan surat izin penelitian pada
masing-masing pihak yang berkaitan.
3.2.2 Tahap Pengumpulan Data
Tahap pengumpulan data lapangan dibagi dalam beberapa tahap yaitu :
Pengamatan secara langsung, pengambilan data lapangan dengan alat meliputi
penentuan lokasi penelitian dengan teknik resection dan intersection, pengambilan
sampel batuan, pengukuran strike dan dip perlapisan batuan yang ada, ,
perekaman data lapangan dengan kamera digital seperti singkapan pada setiap
stasiun, pencatatan data lapangan meliputi data singkapan, data litologi, data
geomorfologi, dan data struktur geologi jika ada.
3.2.3 Tahap Pengolahan Data
Tahap pengolahan data lapangan meliputi ; Data singkapan seperti
singkapan batuan, lokasi, dimensi, dan arah pengamatan. Data litologi meliputi
jenis batuan, sifat fisik dan kimia batuan seperti warna, tekstur, struktur, dan
komposisi mineral batuan. Data geomorfologi seperti jenis morfologi, tingkat
pelapukan, tata guna lahan, stadia daerah. Data struktur geologi meliputi data
kedudukan batuan.
3.2.4 Tahap Analisis Data
Pada tahap analisis data ini mulai dilakukan penarikan kesimpulan
terhadap data-data yang telah diolah dan diperoleh terhadap data singkapan, data
litologi, data geomorfologi, dan data struktur geologi.
3.3 Penyusunan Laporan Penelitian
Penulisan dan penyusunan laporan Fieldtrip Prinsip Stratigrafi berdasarkan
data-data yang telah diolah dan informasi yang didapatkan pada deskripsi stasiun,
peta stasiun, profil lintasan, deskripsi fosil, tabel measuring section, kolom
litologi, dan pemparan oleh dosen pembimbing pada beberapa stasiun dibuat
dalam bentuk tulisan ilmiah berupa laporan Fieldtrip Prinsip Stratigrafi.
Tahapan Persiapan
1. Persiapan Penelitian
2. Pembuatan Proposal Kegiatan
3. Pengurusan Data Administrasi
Tahapan Penelitian Lapangan
Pengambilan data lapangan meliputi :
1. Data Singkapan
2. Data Stasiun
3. Data Fosil
Tahapan Analisis Data
1. Analisis Data Singkapan
2. Analisis Data Stasiun
3. Analisis Data Fosil
Tahapan Penyusunan Laporan
1. Pembuatan Lampiran
2. Pembuatan Laporan
Laporan Fieldtrip Prinsip
Sratigrafi
Gambar 3.5 Bagan Tahapan Penelitian Geologi daerah Sopai,
Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan
BAB IV
GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
4.1 Geologi Regional
4.1.1 Geomorfologi Regional
Lembar Mamuju sebagian besar berupa pegunungan, hanya sebagian kecil
berupa pebukitan menggelombang dan dataran rendah. Topografi kras terdapat
sempit di sekitar Rantepao, di bagian tenggara Lembar Mamuju. Daerah
pegunungan Morfologi ini menempati hampir dua pertiga luas daerah yang
dipetakan yaitu di bagian tengah, utara, timurlaut dan selatan. Daerah ini
umumnya berlereng terjal dan curam, puncak bukitnya berkisar dari 800 sampai
3.000 m. Puncak tertinggi adalah Bulu Gandadiwata ( 3.074 m) dan Bulu Potali
( 3.008 m). Halaan tertentu tidak terdapat pada sebaran gunung tersebut,
akibatnya pola aliran berkembang tidak mengikuti aliran tertentu, melainkan
menyesuaikan dengan keadaan tanah bawahnya. Di banyak tempat terdapat air
terjun, yang menunjukkan ciri kemudaan daerah. Ciri lain berupa lembah yang
sempit dan curam. Di sekitar Barupu dan Panggala, terdapat suatu morfologi ,
yang berpola saliran memancar. Lereng bukit umumnya terjal dan membentuk
ngarai, dindingnya digali untuk pemakaman. Di daerah pegunungan terdapat
sedikit topografi krast dan dataran aluvium sempit, yaitu di sekitar Rantepao. Gua
alamiah pada batugamping di daerah ini digunakan penduduk setempat sebagai
lokasi pemakaman.
Daerah pebukitan meng-gelombang
Morfologi ini terdapat di bagian baratdaya Lembar, yaitu daerah antara
Teluk Lebani dan Teluk Mamuju. Tinggi pebukitan berkisar dan 500 sampai 600
mdpl atas muka laut. Daerah ini berpola aliran meranting.
Daerah dataran rendah
Dataran rendah menempati bagianbarat Lembar, yaitu sepanjang pantai
mulai dan Kaluku sampai Babana (daerah S. Budong-budong). Umumnya
berpolah aliran meranting (dendritik) dan beberapa sungal bermeander.
4.1.2 Stratigrafi Regional
Daerah Lembar Mamuju terbentuk oleh beraneka macam batuan seperti,
batuan sedimen, malihan, gunungapi dan terobosan. Umurnya berkisar dan
Mesozoikum sampai Kuarter.
Satuan tertua di Lembar ini adalah Batuan Malihan (TR w) yang terdiri
dari sekis, genes, filit dan batusabak. Satuan ini mungkin dapat disamakan dengan
Kompleks Wana di Lembar Pasangkayu yang diduga berumur lebih tua dan Kapur
dan tertindih takselaras oleh Formasi Latimojong (Kls). Formasi tersusun oleh
filit, kuarsit, batulempung malih dan pualam, berumur Kapur.
Satuan berikutnya adalah Formasi Toraja (Tet) terdiri dari batupasir
kuarsa, konglomerat kuarsa, kuarsit, serpih dan batulempung yang umumnya
berwarna merah atau ungu. Formasi ini mempunyai Anggota Rantepao (Tetr)
yang terdiri dari batugamping numulit berumur Eosen Tengah Eosen Akhir.
Formasi Toraja menindih takselaras Formasi Latimojong, dan tertindih takselaras
oleh Batuan Gunungapi Lamasi (Toml) yang terdiri dari batuan gunungapi,
sedimen gunungapi dan batugamping yang berumur Oligo-Miosen atau Oligosen
Akhir - Miosen Awal. Batuan gunungapi ini mempunyai Anggota Batugamping
(Tomc), tertindi selaras oleh Formasi Riu (Tmr) yang terdiri dari batugamping dan
napal. Formasi Riu berumur Miosen Awal - Miosen Tengah, tertindih takselaras
oleh Formasi Sekala (Tmps) dan Batuan Gunungapi Talaya (Tmtv). Formasi
Sekala terdiri dari grewake, batupasir hijau, napal dan batugamping bersisipan tuf
dan lava bersusunan andesit-basal; berumur Miosen Tengah - Pliosen;
berhubungan menjemari dengan Batuan Gunungapi Talaya. Batuan Gunungapi
Talaya terdiri dari breksi, lava dan tuf yang bersusunan andesit-basal dan
mempunyai Anggota Tuf Beropa (Tmb). Batuan Gununapi Talaya menjemari
dengan Batuan Gunungapi Adang (Tma) yang terutama bersusunan leusit basal.
Batuan Gunungapi Adang berhubungan menjemari dengan Formasi
Mamuju (Tmm) yang berumur Miosen Akhir. Formasi Mamuju terdiri atas napal,
batupasir gampingan, napal tufan dan batugamping pasiran bersisipan tuf Formasi
ini mempunyai Anggota Tapalang (Tmmt) yang terdiri dari batugamping koral,
batugamping biokiastika dan napal yang banyak mengandung moluska. Formasi
Lariang terdiri dari batupasir gampingan dan mikaan, batulempung, bersisipan
kalkarenit, konglomerat dan tuf; umumya Miosen Akhir-Pliosen Awal.
Di bagian tenggara Lembar, tersingkap Tuf Barupu (Qbt) yang terdiri dari
tuf, tuf lapili dan lava, yang umumnya bersusunan dasit, dan diduga berumur
Plistosen. Sedangkan di bagian baratlaut tersingkap Formasi Budong-budong (Qb)
yang terdiri dari konglomerat, batupasir, batulempung; dan batugamping koral
(Ql).
Endapan termuda di Lembar ini adalah endapan kipas aluvium (Qt) dan
aluvium (Qa) yang terdiri dari endapan-endapan sungai, pantai dan antar gunung.
4.1.3 Struktur Geologi Regional
Struktur utama di Lembar Mamuju adalah sesar normal dan sesar naik
yang mempunyai arah umum utara timurlaut-selatan baratdaya. Beberapa sesar
berarah hampir barat - timur dan utara baratlaut - selatan tenggara. Struktur lipatan
di Lembar ini berkembang cukup baik.
aerah Lembar termasuk dalam Mandala Geologi Sulawesi Barat (Sukamto,
1973a), terutama terdiri dari batuan malihan, batuan sedimen, batuan gunungapi
dan batuan terobosan bersifat granit.
Di daerah ini paling sedikit telah terjadi empat kali gejala tektonik.
Tektonik awal yang dapat diamati mungkin terjadi pada Kala Kapur Tengah yang
bersamaan dengan gejala tektonik di Daerah Sulawesi baratdaya (Leeuwen,
1981). Gejala ini mengakibatkan perlipatan, persesaran dan pemalihan regional
derajat rendah pada Satuan Batuan Malihan.
Pada Kapur Akhir terbentuk Formasi Latimojong dalam lingkungan laut
dalam, terutama terbentuk di bagian timur dan tengah Lembar. Tektonika
selanjutnya terjadi pada Paleosen, yang mengakibatkan satuan Batuan Malihan
terlipat dan termalih lagi serta Formasi Latimojong termailih regional derajat
rendah.
Pada Kala Eosen sampai Oligosen terjadi genang laut yang membentuk
sedimen laut Formasi Toraja dan Anggota Rantepao. Pada Kala Oligosen sampai
Miosen Awal terjadi lagi kegiatan tektonik yang disertai dengan kegiatan
gunungapi dalam bentuk busur kepulauan gunungapi, dan membentuk Batuan
Gunungapi Lamasi, yang di beberapa tempat terbentuk pula batugamping. Setelah
kegiatan gunungapinya terhenti, pengendapan batuan karbonat terus berlangsung
sampai awal Miosen Tengah sehingga terbentuk Formasi Riu.
Pada Kala Miosen Tengah bagian tengah sampai Awal Miosen Akhir
terjadi lagi kegiatan tektonik yang disertai dengan kegiatan gunungapi yang
menghasilkan Batuan Gunungapi Talaya, Tuf Beropa dan batuan sedimen
gunungapi Formasi Sekala. Batuan Gunungapi Talaya bersusunan andesit-basal
yang makin ke arah atas susunannya berubah menjadi leusit-basal, sehingga
terbentuk Batuan Gunungapi Adang. Di bagian barat, pada waktu yang bersamaan
terendapkan batuan karbonat Formasi Mamuju dan batugamping terumbu
Anggota Tapalang.
Pada Kala akhir Miosen Tengah, kegiatan gunungapi tersebut disertai
dengan terobosan batun granit yang menerobos semua satuan yang lebih tua.
Terobosan ini membawa larutan hidrotermal yang kaya akan bijih sulfida dan
membentuk endapan bijih sulfida terutama suffida tembaga, seperti di daerah
Sangkaropi, Penasuang dan Bilolo.
Terobosan ini disertai dengan pengangkatan dan penyesaran, sehingga
terbentuk sesar turun dan sesar naik yang berarah utara timurlaut - selatan
baratdaya. Pengangkatan yang terjadi di bagian barat Lembar mungkin
berlangsung sampai Miosen Akhir yang dilanjutkan dengan penurunan sehingga
terbentuk Formasi Lariang.
Kegiatan tektonik terakhir mungkin terjadi pada Kala Pliosen, sehingga
bagian timur Lembar terangkat, sedangkan pengangkatan di bagian barat Lembar
disusul oleh penurunan yang menghasilkan Formasi Budong-budong dan
Batugamping Koral.
4.2 Geologi Daerah Penelitian
Tet FORMASI TORAJA perselingan batupasir kuarsa, serpih dan batulanau, ber
sisipa konglomerat kuarsa, batulempung karbonat, batugamping, napal,
batupasir hijau, batupasir gampingan dan batubara, setempat dengan
lapisan tipis resin dalam batulempung.
Umumnya berlapis baik, dengan tebal lapisan berkisar dan beberapa cm
sampai lebih dari 1 m. Setempat berstruktur perarian sejajar, lapisan bersusun dan
silang-siur.
Satuan ini umumnya terlipat, setempat mempunyai kemiringan hampir
tegak. Secara keseluruhan, satuan ini mempunyai warna yang khas yaitu merah
kecoklatan sampai ungu, dan beberapa berwarna kelabu kehitaman. Batupasir
kuarsa, berwarna putih-kelabu muda, coklat kemerahan sampai ungu; berukuran
sedang sampai kasar; terpilah baik, butiran membundar tanggung sampai
membundar benar; terdiri dari 90% - 95% kuarsa dan sisanya adalah kepingan
mineral rutil dan zirkon; berperekat kuarsa halus.
Konglomerat kuarsa, berwarna putih kelabu; sangat pejal; ukuran butir
dari 5 mm sampai 3 cm, membundar tanggung sampai membundar baik, terpilah
baik, beberapa lapisan membentuk lapisan bersusun dengan tebal berkisar dan 2
cm sampai 15 cm. Komponen utamanya terdiri dari kuarsa dan sedikit batuan
sedimen malih, dengan perekat atau massa dasar pasir kuarsa.
Serpih, berwarna kelabu kecoklatan; pasiran; mudah hancur; berlapis baik
dengan tebal dan 2 cm sampai 1 m, setempat bersisipan batugamping kelabu yang
keras setebal 1 sampai 5 cm dan tak berfosil.
Batubara umumnya terdapat sebagai sisipan dalam batupasir kuarsa,
tebalnya 40 - 75 cm, tersingkap di utara Tamalea dan sebelah barat Galumpang.
Batulanau, berwarna kelabu muda sampai kelabu tua; mudah hancur; agak
gampingan; berlapis baik dengan tebal dari 2 cm sampai 15 cm; yang lapuk
berwarna merah kecoklatan. Batuan ini disisipi oleh lapisan tipis napal, berwarna
putih; cukup keras; tak berfosil. Umumnya terdapat pada bagian bawah formasi.
Batulempung karbonan, berwarna kelabu tua sampai coklat kemerahan;
agak lunak dan mengandung sedikit kerikil batuan sedimen malih yang
membundar tanggung. Batuan ini setempat disisipi lapisan tipis (2 cm) resin. Di
daerah sentuhan dengan tubuh granit, batuan ini menjadi sangat keras.
Batugamping bioklastika, berwarna putih kehijauan sampai kelabu; pejal;
berlapis baik dengan tebal 2 sampai 10 cm; terdapat sebagai sisipan; lapukannya
berwarna merah. Fosil yang ditemukan dalam batugamping bioklastika adalah
Pelatispira orbitoides PROVALE, Amphistegina sp., Fabiania sp., Discocyclina
sp., Asterocyclina sp., Nummulites sp., Globorotalia gulbrooki BOLLI dan
Operculina sp. Kumpulan fosil ini menunjukkan umur Eosen Tengah-Eosen
Akhir (Sudiyono, hubungan tertulis, 1985). Lingkungan pengendapannya adalah
laut dangkal sampai darat.
Formasi ini tersebar di sudut tenggara Lembar, yaitu di daerah Rantepao
dan di bagian tengah Lembar, yaitu di daerah S. Hau dan S. Karataun. Tebalnya
diperkirakan lebih dari 1.000 m. Formasi ini mempunyai Anggota Rantepao yang
berhubungan menjemari. Formasi Toraja diduga menindih takselaras Formasi
Latimojong dan tertindih takselaras oleh satuan batuan gunungapi Oligosen -
Miosen.
Satuan ini pertama kali dikenal sebagai Formasi Serpih Tembaga (de
Koning Knif, 1914). Nama Formasi Tonja dimunculkan oleh Djuri dan
Sudjatmiko (1974) yang dibagi atas dua bagian yaitu batuan sedimen (serpih,
batugamping, batupasir kuarsa, dan konglomerat kuarsa) dan batugamping. Dalam
laporan ini batugampingnya disebut Anggota Rantepao. Nama Formasi ini berasal
dari daerah Toraja yang merupakan lokasi tipenya.
Tetr ANGGOTA RANTEPAO, FORMASI TORAJA : batugamping numulit
dan batugamping terhablur ulang, sebagian tergerus. Batugamping numulit,
berwarna putih sampai coklat muda berlapis baik, setempat tergeruskan sehingga
fosil numulit tampak mengkilat dan menjadi terpipihkan searah bidang lapisan.
Batugamping terhablur ulang, berwarna putih kelabu sampai coklat terang;
sebagian berlapis; setempat berkepingan.
Selain Nummulit sp., batuan ini mengandung pula fosil Discocyclina sp.,
Pelatispira sp., Ascocyclina sp., Quinqueloculina sp., Asterocyclina sp., ekinoid,
koral dan ganggang yang menunjukkan umur Eosen dengan lingkungan
pengendapannya laut dangkal (Purnamaningsih, hubungan tertulis, 1985).
Batugamping numulit ini sebagian berupa lensa di dalam Formasi Toraja.
Anggota Rantepao dan Formasi Toraja tertindih takselaras oleh satuan batuan
gunungapi Oligosen-Miosen dan diduga menindih takselaras Formasi Latimojong.
Satuan ini tersingkap di bagian Tenggara Lembar, yaitu di daerah Rantepao, dan
sedikit di bagian tengah Lembar, yaitu di dekat Galumpang. Tebalnya 500 m.
Satuan ini pertama kali dikenal sebagai satuan Batugamping Formasi Toraja
(Djuri dan Sudjatmiko, 1974). Nama Anggota Rantepao adalah nama baru yang
diusulkan, lokasi tipenya terdapat di sekitar Rantepao.
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari kegiatan fieldtrip Prinsip Stratigrafi adalah
sebagai berikut :
1. Pada daerah penelitian yaitu daerah Sopai, Toraja Utara memiliki jenis
litologi yang berselang-seling pada umumnya antara batulempung dan
batupasir. Selain itu dijumpai batubara dan batulanau pada daerah ini dengan
kedudukan batuan N 136E/ 30 dan pada pengukuran kedua yaitu N 147E/
24. Struktur batuan pada daerah ini di dominasi oleh perlapisan yang
menyerpih dan laminasi serta adanya sphaeroidal weathering.
2. Urutan kejadian pada daerah penelitian dimulai pada pembentukan
batulempung yang kemudian terdapat perbedaan ukuran butir diatasnya yang
mengindikasikan perubahan litologi yaitu batulanau. Perselingan kedua
litologi ini terus berlangsung yang kemudian terdapat sisipan batubara yang
memiliki tebal 1 cm. Selanjutnya terjadi perselingan antara batulempung dan
batupasir pada umur relatif lebih muda pada daerah penelitian.
6.2 Saran
Sebaiknya dalam pelaksanaan fieldtrip Prinsip Stratigrafi waktu yang
diperlukan dalam pengerjaan laporan diperbanyak agar memberikan kemudahan
kepada mahasiswa untuk memahami hasil kerja dari kegiatan fieldtrip tersebut.
Serta diperlukan suatu diskusi tentang stratigrafi daerah penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Asisten Prinsip Stratigrafi. 2017. Penuntun Praktikum Prinsip Stratigrafi. Gowa :
Teknik Geologi UH.
Boggs, Sam Jr. 1987. Principles of Sedimentology and Stratigraphy. Amerika :
Merrill Publishing Company
Ikatan Ahli Geologi Indonesia. 1996. Sandi Stratigrafi Indonesia. Bidang Geologi
dan Sumber Daya Mineral. Jakarta. Indonesia.
Noor, D. 2009. Bab 3 Pengukuran Stratigrafi Prinsip Stratigrafi pdf. Diakses pada
Sabtu, 17 April 2017. Pukul 23.15 WITA.
Ratman, N. 1993. Geologi Lembar Mamuju, Sulawesi. Departemen Pertambangan
dan Energi.
Sudjatmiko, dkk. 1998. Geologi Lembar Majene dan Bagian Barat Lembar
Palopo, Sulawesi.