0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan39 halaman

Stratigrafi Daerah Sopai Toraja Utara

Laporan ini membahas hasil pengamatan stratigrafi di daerah Sopai, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Tujuannya adalah menentukan urutan pembentukan litologi dan jenis batuan di daerah tersebut. Penelitian dilakukan melalui pengukuran section, pengamatan megaskopis, dan pengambilan sampel batuan. Hasilnya memberikan informasi tentang proses pengendapan batuan dari yang tertua hingga termuda di daerah Sopai

Diunggah oleh

AfrisalArif
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan39 halaman

Stratigrafi Daerah Sopai Toraja Utara

Laporan ini membahas hasil pengamatan stratigrafi di daerah Sopai, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Tujuannya adalah menentukan urutan pembentukan litologi dan jenis batuan di daerah tersebut. Penelitian dilakukan melalui pengukuran section, pengamatan megaskopis, dan pengambilan sampel batuan. Hasilnya memberikan informasi tentang proses pengendapan batuan dari yang tertua hingga termuda di daerah Sopai

Diunggah oleh

AfrisalArif
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

STRATIGRAFI DAERAH SOPAI KECAMATAN SOPAI KABUPATEN


TORAJA UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN

LAPORAN

OLEH :
IMAM NOOR SETIADI
D611 15 305

GOWA
2017
KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

STRATIGRAFI DAERAH SOPAI KECAMATAN SOPAI KABUPATEN


TORAJA UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN

LAPORAN

Diajukan sebagai salah satu syarat lulus mata kuliah Prinsip Stratigrafi pada
Program Studi Teknik Geologi, Departemen Teknik Geologi
Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin.

OLEH :
IMAM NOOR SETIADI
D611 15 305

GOWA
2017
FIELDTRIP PRINSIP STRATIGRAFI

LEMBAR PENGESAHAN

Disetujui Oleh :

Pembimbing 1 Praktikan

Dr. Ir. M. Fauzi Arifin, [Link] Imam Noor Setiadi


NIP. 19581203 198601 1 001 NIM. D611 15 305

Pembimbing 2

Dr. Ir. Hj. Ratna Husain, MT


NIP. 19590202 198601 2 001

Pembimbing 3

[Link] Asri Jaya HS, ST., MT


NIP. 19690924 1 99802 1 001
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Yang Maha Esa, berkat rahmat dan karunia-

Nya sehingga laporan Fieldtrip Prinsip Stratigrafi dapat selesai tepat dengan

waktunya. Ucapan terima kasih tak lupa pula penulis haturkan kepada :

1. Dr. Ir. M. Fauzi Arifin, [Link]. Selaku kepala laboratorium paleontologi dan

dosen mata kuliah Prinsip Stratigrafi.

2. Dr. Ir. Hj. Ratna Husain, MT. Selaku dosen mata kuliah Prinsip Stratigrafi

pada Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.

3. Dr. Eng Asri Jaya HS, ST., MT. Selaku dosen mata kuliah Prinsip Stratigrafi

pada Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.

4. Asisten dosen, selaku pembimbing dalam menyusun laporan fieldtrip ini dan

juga kepada pihak-pihak lainnya yang telah memberi bantuan baik berupa

materiil, maupun berupa motivasi dan lainnya.

Laporan ini berisikan informasi tentang kegiatan fieldtrip yang telah

dilakukan pada lokasi pengamatan di daerah Sopai, Toraja Utara, Sulawesi

Selatan. Penulis menyadari laporan kegiatan fieldtrip ini masih jauh dari

kesempurnaan. Oleh karena itu, sapaan berupa kritik dan saran penulis butuhkan

untuk kedepannya. Semoga laporan ini memberikan manfaat dan pengetahuan.

Gowa, 17 Mei 2017

Penulis
DAFTAR ISI

Daftar Halaman

HALAMAN JUDUL i

HALAMAN TUJUAN ii

HALAMAN PENGESAHAN iii

KATA PENGANTAR iv

DAFTAR ISI v

DAFTAR GAMBAR vii

DAFTAR FOTO viii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.2 Maksud dan Tujuan
1.3 Batasan Masalah
1.4 Letak, Luas, dan Kesampaian Daerah
1.5 Manfaat Penelitian
1.6 Alat dan Bahan
1.7 Peneliti Terdahulu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian


3.2 Tahapan Penelitian
3.2.1 Tahap Persiapan
3.2.2 Tahap Pengumpulan Data
3.2.3 Tahap Pengolahan Data
3.2.4 Tahap Analisis Data
3.3 Penyusunan Laporan Penelitian
BAB IV GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

4.1 Geologi Regional


4.2 Geologi Daerah Penelitian

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian


5.2 Pembahasan
5.3 Sejarah Geologi

BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan
6.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

1. Peta Stasiun
2. Peta Geologi
3. Peta Geologi Regional
4. Deskripsi Stasiun
5. Sketsa Singkapan
6. Kolom MS
7. Profil Lintasan
8. Penampang Stratigrafi Terukur
9. Kolom Stratigrafi
10. Kolom Litologi
11. Deskripsi Fosil
12. Tugas Pendahuluan
13. Laporan Sementara
DAFTAR GAMBAR

Daftar Halaman

Gambar 1.1. Lokasi Penelitian yang Berjarak 350 km dari Kota Makassar

Gambar 2.1 Angular Unconformity

Gambar 2.2 Disconformity

Gambar 2.3 Paranconformity

Gambar 2.4 Nonconformity

Gambar 3.5 Bagan Tahapan Penelitian Geologi daerah Sopai, Kabupaten


Toraja Utara, Sulawesi Selatan
DAFTAR FOTO

Daftar Halaman
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Stratigrafi merupakan studi mengenai sejarah, komposisi dan umur relatif

serta distribusi perlapisan batuan dan interpretasi lapisan-lapisan batuan untuk

menjelaskan sejarah bumi. Dari hasil perbandingan atau korelasi antar lapisan

yang berbeda dapat dikembangkan lebih lanjut studi mengenai litologi

(litostratigrafi), kandungan fosil (biostratigrafi), dan umur relatif maupun

absolutnya (kronostratigrafi). stratigrafi kita pelajari untuk mengetahui luas

penyebaran lapisan batuan.

Pada hakekatnya ada hubungan tertentu antara kejadian dan aturan batuan

di alam, dalam kedudukan ruang dan waktu geologi. Stratigrafi membahas aturan,

hubungan, kejadian lapisan serta tubuh batuan di alam. Sandi stratigrafi

dimaksudkan untuk memberikan pengarahan kepada para ahli geologi yang

bekerja mempunyai persepsi yang sama dalam cara penggolongan stratigrafi.

Pengukuran stratigrafi merupakan salah satu pekerjaan yang biasa

dilakukan dalam pemetaan geologi lapangan. Adapun pekerjaan pengukuran

stratigrafi dimaksudkan untuk memperoleh gambaran yang terperinci dari

hubungan stratigrafi antar setiap perlapisan batuan / satuan batuan, ketebalan

setiap satuan stratigrafi, sejarah sedimentasi secara vertikal dan lingkungan

pengendapan dari setiap satuan batuan yang kemudian dibuatlah perhitungan dan

urutan kejadian litologi batuan tertua sampai termuda.


1.2 Maksud dan Tujuan

Adapun maksud diadakannya Fieldtrip Prinsip Stratigrafi adalah agar kita

dapat mengenal objek-objek dasar yang menjadi kajian Geologi seperti batuan

serta mengetahui urutan pembentukannya. Adapun tujuan Fieldtrip Prinsip

Stratigrafi adalah sebagai berikut :

1. Untuk menentukan jenis batuan serta struktur batuan yang ada dengan metode

measuring section daerah Sopai.

2. Untuk menentukan urutan kejadian pembentukan litologi pada daerah Sopai.

1.3 Batasan Masalah

Adapun batasan masalah pada Fieldtrip Prinsip Stratigrafi adalah

pengamatan langsung dilapangan secara megaskopis melalui pengambilan sampel

batuan yang ada pada setiap perlapisan batuan. Dari perlapisan inilah sehingga

dapaat diketahui perbedaan waktu pengendapan material sedimen yang

membentuk litologi tersebut yang di pertegas dengan pengambilan kedudukan

batuan pada daerah Sopai, Toraja Utara, Sulawesi Selatan.

1.4 Letak, Luas, dan Kesampaian Daerah

Kegiatan Fieldtrip Prinsip Stratigrafi ini dilaksanakan pada hari Minggu,

23 April 2017 dimulai pada pukul 09.00 WITA sampai Senin, 10 April 2016 yang

berakhir pada pukul 09.00 WITA bertempat di daerah Sopai dan sekitarnya,

kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Daerah penelitian yang bertempat di

daerah Sopai dapat dicapai dengan kendaraan roda dua dan roda empat dari

Kampus Fakultas Teknik Unhas Gowa menuju Daerah Sopai dan Sekitarnya
dengan jarak tempuh 350 km. Luas daerah penelitian melalui pengamatan

megaskopis pada setiap perlapisan berdimensi 80 m x 15 m.

SOPAI

MAKASSAR

Gambar 1.1. Lokasi Penelitian yang Berjarak 350 km dari Kota Makassar

1.5 Manfaat Penelitian

Berdasarkan penelitian yang dilakukan memberikan informasi tentang

proses urutan kejadian pengendapan batuan yang tertua sampai yang termuda.

Berdasarkan analisa stratigrafi urutan pembentukan batuan daerah Sopai

umumnya berselangseling antara batupasir dan batulempung. Dari pengamatan

tersebut akan memberikan manfaat kepada peneliti dalam menambah wawasan

ilmu pengetahuan.
1.6 Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan demi kelancaran fieldtrip Prinsip

Stratigrafi daerah Sopai, Toraja Utara adalah sebagai berikut :

1. Roll Meter

2. Kamera

3. Palu Geologi

4. Kompas Geologi

5. Busur Derajat

6. Penggaris

7. Papan Clipboard

8. Karung 20 kg

9. Buku Lapangan

10. Hekter

11. Peta Lokasi

12. Kantong Sampel

13. Kertas A4 Secukupnya

14. Spidol Permanen

15. Pensil Warna

16. Pulpen

17. Penghapus

18. Double Tip

19. HCl 0.1 M


1.7 Peneliti Terdahulu

Sebelum pelaksanaan Fieldtrip Prinsip Stratigrafi yang dilakukan pada

daerah penelitian, terdapat beberapa ahli yang telah melakukan penelitian terlebih

dahulu pada daerah tersebut. Diantaranya :

1. Van Bemmelen, 1949, yang menulis tentang lengan selatan pulau Sulawesi.

2. Djuri dan Sujatmiko, 1974, meneliti geologi lembar Pangkajene dan bagian

barat Palopo Sulawesi Selatan dengan skala 1:250.000.

3. S. Sartono dan K.A.S Atadireja, 1981, meneliti geologi kuarter Sulawesi

Selatan dan Tenggara.

4. Cahyono, 2014, meneliti tentang penyelidikan batubara daerah palangi dan

sekitarnya kabupaten toraja utara provinsi Sulawesi Selatan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Penampang Stratigrafi Terukur

Stratigrafi adalah studi mengenai sejarah, komposisi dan umur relatif serta

distribusi perlapisan batuan dan interpretasi lapisan-lapisan batuan untuk

menjelaskan sejarah bumi. Dari hasil perbandingan atau korelasi antar lapisan

yang berbeda dapat dikembangkan lebih lanjut studi mengenai litologi

(litostratigrafi), kandungan fosil (biostratigrafi), dan umur relatif maupun

absolutnya (kronostratigrafi). stratigrafi kita pelajari untuk mengetahui luas

penyebaran lapisan batuan.

Penampang stratigrafi terukur (measured stratigraphic section) adalah

suatu penampang atau kolom yang menggambarkan kondisi stratigrafi suatu jalur,

yang secara sengaja telah dipilih dan telah diukur untuk mewakili daerah tempat

dilakukannya pengukuran tersebut. Jalur yang diukur tersebut dapat meliputi satu

formasi batuan atau lebih.

Sebaliknya pengukuran dapat pula dilakukan hanya pada sebagian dari

suatu formasi, sehingga hanya meliputi satu atau lebih satuan lithostratigrafi yang

lebih kecil dari formasi, misalnya anggota atau bahkan beberapa perlapisan saja.

2.2 Hukum-hukum Stratigrafi

1. Hukum Superposisi (Nicolas Steno,1669)

Dalam suatu urutan perlapisan batuan, maka lapisan batuan yang terletak di

bawah umurnya relatif lebih tua dibanding lapisan diatasnya selama lapisan

batuan tersebut belum mengalami deformasi.


2. Hukum Horizontalitas (Nicolas Steno,1669)

Pada awal proses sedimentasi, sebelum terkena gaya atau perubahan, sedimen

terendapkan secara horizontal

3. Original Continuity (Nicolas Steno,1669)

Batuan sedimen melampar dalam area yang luas di permukaan bumi.

4. Uniformitarianism (James Hutton, 1785)

Uniformitarianisme adalah peristiwa yang terjadi pada masa geologi lampau

dikontrol oleh hukum-hukum alam yang mengendalikan peristiwa pada masa

kini. Hukum ini lebih dikenal dengan semboyannya yaitu The Present is the

key to the past. Maksudnya adalah bahwa proses-proses geologi alam yang

terlihat sekarang ini dipergunakan sebagai dasar pembahasan proses geologi

masa lampau.

5. Faunal Succession (Abble Giraud-Soulavie, 1778)

Pada setiap lapisan yang berbeda umur geologinya akan ditemukan fosil yang

berbeda pula. Secara sederhana bisa juga dikatakan Fosil yang berada pada

lapisan bawah akan berbeda dengan fosil di lapisan atasnya. Fosil yang hidup

pada masa sebelumnya akan digantikan (terlindih) dengan fosil yang ada

sesudahnya, dengan kenampakan fisik yang berbeda (karena evolusi).

Perbedaan fosil ini bisa dijadikan sebagai pembatas satuan formasi dalam

lithostratigrafi atau dalam koreksi stratigrafi.

6. Strata Identified by Fossils (Smith, 1816)

Perlapisan batuan dapat dibedakan satu dengan yang lain dengan melihat

kandungan fosilnya yang khas


7. Facies Sedimenter (Selley, 1978)

Suatu kelompok litologi dengan ciri-ciri yang khas yang merupakan hasil dari

suatu lingkungan pengendapan yang tertentu. Aspek fisik, kimia atau biologi

suatu endapan dalam kesamaan waktu. Dua tubuh batuan yang diendapakan

pada waktu yang sama dikatakan berbeda fsies apabila kedua batuan tersebut

berbeda fisik, kimia atau biologi (S.S.I.)

8. Cross-Cutting Relationship (A.W.R Potter & H. Robinson)

Apabila terdapat penyebaran lap. Batuan (satuan lapisan batuan), dimana

salah satu dari lapisan tersebut memotong lapisan yang lain, maka satuan

batuan yang memotong umurnya relatif lebih muda dari pada satuan batuan

yang di potongnya.

9. Law of Inclusion

Inklusi terjadi bila magma bergerak keatas menembus kerak, menelan

fragmen2 besar disekitarnya yang tetap sebagai inklusi asing yang tidak

meleleh. Jadi jika ada fragmen batuan yang terinklusi dalam suatu perlapisan

batuan, maka perlapisan batuan itu terbentuk setelah fragmen batuan. Dengan

kata lain batuan/lapisan batuan yang mengandung fragmen inklusi, lebih

muda dari batuan/lapisan batuan yang menghasilkan fragmen tersebut.

2.3 Perhitungan Pada Penampang Stratigrafi Terukur

A. Menghitung Koreksi Dip

Perhitungan koreksi dip dilakukan setelah arah lintasan telah selesai. Dengan

memanfaatkan arah lintasan untuk membuat garis bayangan agar dapat

menentukan sudut bearing (sudut bearing adalah sudut terkecil yang dibentuk
antara garis strike dan garis bayangan), yang kemudian di lakukan

perhitungan koreksi dip per litologi berdasarkan rumus:

Tan (Dip Terkoreksi)-1 = Tan Dip x Sin Bearing

B. Menghitung Jarak Datar dan Beda Tinggi

Dalam pembuatan penampang profil linasan, diperlukan beberapa data yakni

jarak datar dan beda tinggi dari setiap stasiun. Data-data tersebut diperoleh

dengan menggunakan rumus:

Jarak Datar = Jarak Lapangan x cos slope

Beda Tinggi = Jarak lapangan x sin slope

C. Menghitung Ketebalan Lapisan

Perhitungan ketebalan lapisan dapat dilakukan dengan beberapa cara, namun

pada praktikum ini, kami menggunakan rumus:

Ketebalan = Panjang mistar x skala

2.4 Kolom Stratigrafi

Kolom stratigrafi pada hakekatnya adalah kolom yang menggambarkan

susunan berbagai jenis batuan serta hubungan antar batuan atau satuan batuan

mulai dari yang tertua hingga termuda menurut umur geologi, ketebalan setiap

satuan batuan, serta genesa pembentukan batuannya. Pada umumnya banyak cara

untuk menyajikan suatu kolom stratigrafi, namun demikian ada suatu standar

umum yang menjadi acuan bagi kalangan ahli geologi didalam menyajikan kolom

stratigrafi penampang kolom stratigrafi biasanya tersusun dari kolom-kolom

dengan atribut-atribut seperti : Umur, formasi, satuan batuan, ketebalan, besar

butir, simbol litologi, pemerian, fosil dianostik, dan lingkungan pengendapan.


Berdasarkan sandi stratigrafi Indonesia (1996), pembagian litostratigrafi

dimaksudkan untuk menggolongkan batuan di bumi secara bersistem menjadi

satuan bernama yang bersandi pada ciri-ciri litologi. Pada satuan litostratigrafi,

penentuan satuannya didasarkan atas ciri-ciri batuan yang dapat diamati langsung

di lapangan. Penentuan batas penyebarannya tidak tergantung atas batas waktu.

Ciriciri litologi di lapangan meliputi jenis batuan, kombinasi jenis

batuan, keseragaman gejala litologi batuan dan gejala lain pada tubuh batuan.

Apabila ciri fisik liologi tidak dapat digunakan maka digunakan ciri ciri lain

seperti dengan cara mekanik, geofisika, geokimia dan lain-lain. Satuan

litostratigrafi sesuai dengan hukum superposisi, dan keberadaan komponen fosil

dalam batuan termasuk salah satu komponen batuan.

A. Batas dan Penyebaran Satuan

Batas dan satuan litostratigrafi ialah sentuhan antara dua satuan yang

berlainan ciri litologi, yang dijadikan dasar pembeda kedua satuan tersebut. Batas

satuan ditempatkan pada bidang yang nyata, batasnya merupakan bidang yang

diperkirakan kedudukannya (batas arbitrer). Satuan-satuan yang berangsur

berubah atau menjari-jemari, peralihannya dapat dipisahkan sebagai satuan

tersendiri apabila memenuhi persyaratan sandi.

Penyebaran suatu satuan litostratigrafi semata-mata ditentukan oleh

kelanjutan ciri-ciri litologi yang menjadi ciri penentunya. Dari segi praktis,

penyebaran suatu satuan litostratigrafi dibatasi oleh batas cekungan pengendapan

atau aspek geologi lain. Batas-batas daerah hukum (geografi) tidak boleh

dipergunakan sebagai alasan berakhirnya penyebaran lateral (pelamparan) suatu


satuan. Batas satuan litostratigrafi tidak perlu berimpit dengan batas satuan

stratigrafi lainnya.

B. Tingkat-Tingkat Satuan Litostratigrafi

Urutan tingkatan satuan litostratigrafi resmi dari besar ke kecil yaitu

Kelompok Formasi Anggota. Dengan satuan dasar litostratigrafi yaitu formasi.

Kelompok adalah satuan litostratigrafi resmi setingkat lebih tinggi

daripada formasi dan karenanya terdiri dari dua formasi atau lebih yang

mempunyai keseragaman ciri litologi.

Formasi adalah satuan dasar litostratigrafi, harus mempunyai keseragaman

ciri fisik, mempunyai nilai stratigrafi dan dapat dipetakan pada skala 1 :

25.000 dengan ketebalan formasi berkisar kurang dari satu meter sampai

beberapa ribu meter. Harus diingat formasi adalah satuan dasar pembagian

litostratigrafi resmi dimana tidak selalu termasuk dalam suatu kelompok

dan tidak selalu terbagi menjadi beberapa anggota.

Anggota adalah bagian dari suatu formasi yang secara litologi berbeda

dengan ciri umum formasi, dan memiliki penyebaran lateral yang berarti,

anggota selalu merupakan bagian dari formasi dan penyebarannya tidak

boleh melebihi penyebaran formasi.

2.5 Keselarasan dan Ketidakselarasan

A. Keselarasan

Keselarasan adalah hubungan antara satu lapis batuan dengan lapis batuan

lainnya di atas atau di bawahnya yang kontinyu (menerus), tidak terdapat selang

waktu (rumpang waktu) pengendapan. Secara umum di lapangan ditunjukkan


dengan kedudukan lapisan (strike/dip) yang sama atau hampir sama, dan ditunjang

di laboratorium oleh umur yang kontinyu. Keselarasan terbagi menjadi tiga, yaitu:

1. Menjari (Interfingering)

Keselarasan yang terjadi akibat adanya waktu pengendapan yang sama

dari dua sumber litologi yang berbeda. Contohnya pengendapan awal dari

Batupasir hingga selesai, dilanjutkan pengendapan Batulempung hingga

terhenti. Pengendapan dua litologi tersebut berselang-seling atau biasa disebut

dengan menjari atau interfingering.

2. Membaji

Keselarasan yang terjadi akibat adanya susupan magma yang melewati

batuan secara horizontal. Biasanya terjadi kontak antara intrusi dengan batuan

yang dilewatinya.

3. Melensa

Keselarasan yang terbentuk karena adanya sisipan batuan lain, umumnya

sisipan batubara yang bentuknya seperti lensa cembung.

B. Ketidakselarasan

Ketidakselarasan yaitu kontak antara satu batuan dengan batuan lainnya

yang menunjukkan adanya suatu selang pengendapan yang hilang dalam urutan

dan sistem sedimentasi. Pengendapan yang hilang tersebut tidak terekam oleh

stratigrafi disebut hiatus. Bentuk ketidakselarasan pada umumnya disebabkan atas

dua hal, yaitu erosional dan non deposisional, sehingga menyebabkan ada urutan

pengendapan yang tidak terekam dalam urutan stratigrafi, ketidakselarasan ini


terjadi karena pengaruh sea level changes, tektonik, dan suplai sedimen yang

masuk ke suatu lingkungan sedimentasi.

Gejala-gejala ketidakselarasan yang biasa dijumpai yaitu adanya gap-gap berupa:

Gap paleontologi yaitu hilangnya suatu umur fosil tertentu dan ditemukan

umur fosil yang relatif jauh pada kontak antara dua batuan, misalnya Batupasir

berumur Kapur kontak dengan Batugamping berumur Miosen.

Gap stratigrafi yaitu hilang atau berubahnya suatu lapisan batuan secara

menyolok akibat terhentinya proses pengendapan. Sehingga menunjukkan

urutan lapisan batuan dengan sifat yang sangat berbeda jenis dan genesanya.

Jenis ketidakselarasan berdasarkan kedudukan lapisannya dan jenis kontak

antara batuannya yaitu:

Angular Unconformity

Angular Unconformity adalah tipe ketidakselarasan yang menunjukkan

batuan sedimen yang lebih mudah menumpang diatas bidang miring tererosi yang

merupakan batuan yang lebih tua dan telah mengalami pemiringan (tilted) atau

perlipatan. Angular unconformity dapat menunjukkan ukuran sepuluh hingga

seratus kilometer, jarang berupa hubungan individu batuan tetapi selalu dalam

satuan batuan. Struktur seperti submarine slide, cross bedding tidak termasuk tipe

ini.

Disconformity

Disconformity adalah perlapisan sejajar di atas dan di bawah bidang

ketidakselarasan, bidang kontaknya ditandai oleh kenampakan bidang erosi yang

nyata dan tidak rata. Disconformity lebih mudah dikenal karena adanya
permukaan erosi mungkin karena saluran (channel). Seperti halnya angular

unconformity dapat pula ditandai dengn fosil, zona soil (paleosols) yang mungkin

ditandai oleh gravel tertinggal (lag-gravel) pada bagian atas bidang

ketidakselarasan dan menunjukkan bongkah litologi yang sama dengan litologi

bagian bawahnya.

Gambar 2.1 Angular Unconformity Gambar 2.2 Disconformity

Paraconformity

Paraconformity ketidakselarasan sejajar, perlapisan batuan sejajar di atas

dan dibawah bidang ketidakselarasan. Tidak menunjukkan tanda erosi dan proses

fisika lainnya. Hanya bisa ditentukan dengan mengetahui perbedaan kandungan

fauna atau perubahan zonasi faunanya.

Nonconformity

Ketidakselarasan antara batuan sedimen dengan batuan beku atau

metamorf yang lebih tua dan telah tererosi sebelum batuan sedimen terendapkan

diatasnya.
Gambar 2.3 Paranconformity

Gambar 2.4 Nonconformity

2.6 Satuan Genetik

A. Retrogradation

Perkembangan pola pengendapan yang mundur mengisi tempat akomodasi

yang ada di atas pengendapan yang sudah ada sebelumnya dan terjadi

backstapping. Pola pengendapan mundur ini salah satunya disebabkan oleh

naiknya muka air atau garis pantai menuju ke arah darat identik dengan transgresi.

Hal ini terjadi dimana pasokan sedimen (supply sediment) lebih rendah

dibandingkan dengan tempat akomodasi (accommodation space).

B. Progradation

Perkembangan pola pengendapan yang maju mengisi tempat akomodasi

yang berada di depannya. Pola pengendapan maju ini salah satunya disebabkan

oleh turunnya muka air atau garis pantai menuju ke arah laut identik dengan
regresi. Hal ini terjadi dimana pasokan sedimen (supply sediment) lebih besar

dibandingkan dengan tempat akomodasi (accommodation space).

C. Agradation

Perkembangan pola yang tetap dimana volume pasokan sedimen (supply

sediment) seimbang dengan tempat akomodasi (accommodation space)

(keseimbangan antara sediment supply dan kenaikan muka air laut).

D. Finning Upward

Tekstur batuan dari beberapa lapisan yang mengalami perubahan besar

butir dimana diawali lapisan kasar klastika pada lapisan paling bawah dan

menghalus menuju atas. Perubahan ini menunjukkan penurunan kekuatan arus

transportasi pada saat pengendapan berlangsung (Boggs, 1987).

E. Coarsening Upward

Tekstur batuan dari beberapa lapisan yang mengalami perubahan besar

butir dimana diawali lapisan halus klastika pada lapisan paling bawah dan

mengkasar menuju atas. Perubahan ini menunjukan peningkatan kekuatan arus

transportasi pada saat pengendapan berlangsung (Boggs, 1987).

F. Thinning Upward

Suksesi menipis keatas yang menunjukkan adanya penurunan ketebalan

lapisan batuan sedimen kearah atas. Penipisan lapisan batuan ini menandakan

adanya perubahan energi yang berkurang pada lingkungan pengendapan.

G. Thickening Upward

Suksesi menebal keatas yang menunjukkan adanya peningkatan ketebalan

lapisan batuan sedimen kearah atas. Penebalan lapisan batuan ini menandakan
perubahan energi yang bertambah besar (dari fasies energi rendah menuju fasies

dengan energi tinggi).

Dalam istilah ini membahas mengenai hasil pengendapan yang mengalami

perubahan ketebalan akibat dari perbedaan kekuatan energi air laut.

1. Cu : Coarsening Upward = Mengkasar ke atas

2. Fu : Finning Upward = Menghalus ke atas

3. Tn : Thinning Upward = Menipis ke atas

4. Tc : Thickening Upward = Menebal ke atas

5. Ag : Agradasi = Kesamaan ukuran butir


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif eksploratif.

Penelitian deskriptif melakukan analisis hanya sampai pada taraf deskripsi yaitu

menganalisis dan menyajikan data berdasarkan sampel yang telah di dapatkan.

Sedangkan penelitian eksploratif yaitu penelitian yang dilakukan dengan

penjelajahan yang bertujuan untuk menemukan suatu gambaran dasar mengenai

topik bahasan, menggeneralisasi gagasan dan mengembangkan teori yang bersifat

tentatif, membuka kemungkinan akan diadakannya penelitian lanjutan terhadap

topik yang di bahas serta menentukan teknik dan arah yang akan digunakan dalam

penelitian selanjutnya. Dalam penelitian ini, peneliti belum memiliki gambaran

akan definisi atau konsep penelitian sehingga semua sumber dianggap penting

sebagai sumber informasi.

3.2 Tahapan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan empat tahapan yaitu tahapan persiapan,

tahapan pengumpulan data, tahapan pengolahan data, dan tahap analisis data,

dengan rincian sebagai berikut :

3.2.1 Tahap Persiapan

Tahapan ini meliputi persiapan penelitian, pembuatan proposal kegiatan,

dan pengurusan data administrasi. Persiapan penelitian meliputi kelengkapan alat

dan bahan yang digunakan dalam pengambilan dan pengolahan data serta Peta
topografi. Data administrasi meliputi pengurusan surat izin penelitian pada

masing-masing pihak yang berkaitan.

3.2.2 Tahap Pengumpulan Data

Tahap pengumpulan data lapangan dibagi dalam beberapa tahap yaitu :

Pengamatan secara langsung, pengambilan data lapangan dengan alat meliputi

penentuan lokasi penelitian dengan teknik resection dan intersection, pengambilan

sampel batuan, pengukuran strike dan dip perlapisan batuan yang ada, ,

perekaman data lapangan dengan kamera digital seperti singkapan pada setiap

stasiun, pencatatan data lapangan meliputi data singkapan, data litologi, data

geomorfologi, dan data struktur geologi jika ada.

3.2.3 Tahap Pengolahan Data

Tahap pengolahan data lapangan meliputi ; Data singkapan seperti

singkapan batuan, lokasi, dimensi, dan arah pengamatan. Data litologi meliputi

jenis batuan, sifat fisik dan kimia batuan seperti warna, tekstur, struktur, dan

komposisi mineral batuan. Data geomorfologi seperti jenis morfologi, tingkat

pelapukan, tata guna lahan, stadia daerah. Data struktur geologi meliputi data

kedudukan batuan.

3.2.4 Tahap Analisis Data

Pada tahap analisis data ini mulai dilakukan penarikan kesimpulan

terhadap data-data yang telah diolah dan diperoleh terhadap data singkapan, data

litologi, data geomorfologi, dan data struktur geologi.


3.3 Penyusunan Laporan Penelitian

Penulisan dan penyusunan laporan Fieldtrip Prinsip Stratigrafi berdasarkan

data-data yang telah diolah dan informasi yang didapatkan pada deskripsi stasiun,

peta stasiun, profil lintasan, deskripsi fosil, tabel measuring section, kolom

litologi, dan pemparan oleh dosen pembimbing pada beberapa stasiun dibuat

dalam bentuk tulisan ilmiah berupa laporan Fieldtrip Prinsip Stratigrafi.

Tahapan Persiapan
1. Persiapan Penelitian
2. Pembuatan Proposal Kegiatan
3. Pengurusan Data Administrasi

Tahapan Penelitian Lapangan


Pengambilan data lapangan meliputi :
1. Data Singkapan
2. Data Stasiun
3. Data Fosil

Tahapan Analisis Data

1. Analisis Data Singkapan


2. Analisis Data Stasiun
3. Analisis Data Fosil

Tahapan Penyusunan Laporan

1. Pembuatan Lampiran
2. Pembuatan Laporan

Laporan Fieldtrip Prinsip


Sratigrafi

Gambar 3.5 Bagan Tahapan Penelitian Geologi daerah Sopai,


Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan
BAB IV
GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

4.1 Geologi Regional

4.1.1 Geomorfologi Regional

Lembar Mamuju sebagian besar berupa pegunungan, hanya sebagian kecil

berupa pebukitan menggelombang dan dataran rendah. Topografi kras terdapat

sempit di sekitar Rantepao, di bagian tenggara Lembar Mamuju. Daerah

pegunungan Morfologi ini menempati hampir dua pertiga luas daerah yang

dipetakan yaitu di bagian tengah, utara, timurlaut dan selatan. Daerah ini

umumnya berlereng terjal dan curam, puncak bukitnya berkisar dari 800 sampai

3.000 m. Puncak tertinggi adalah Bulu Gandadiwata ( 3.074 m) dan Bulu Potali

( 3.008 m). Halaan tertentu tidak terdapat pada sebaran gunung tersebut,

akibatnya pola aliran berkembang tidak mengikuti aliran tertentu, melainkan

menyesuaikan dengan keadaan tanah bawahnya. Di banyak tempat terdapat air

terjun, yang menunjukkan ciri kemudaan daerah. Ciri lain berupa lembah yang

sempit dan curam. Di sekitar Barupu dan Panggala, terdapat suatu morfologi ,

yang berpola saliran memancar. Lereng bukit umumnya terjal dan membentuk

ngarai, dindingnya digali untuk pemakaman. Di daerah pegunungan terdapat

sedikit topografi krast dan dataran aluvium sempit, yaitu di sekitar Rantepao. Gua

alamiah pada batugamping di daerah ini digunakan penduduk setempat sebagai

lokasi pemakaman.
Daerah pebukitan meng-gelombang

Morfologi ini terdapat di bagian baratdaya Lembar, yaitu daerah antara

Teluk Lebani dan Teluk Mamuju. Tinggi pebukitan berkisar dan 500 sampai 600

mdpl atas muka laut. Daerah ini berpola aliran meranting.

Daerah dataran rendah

Dataran rendah menempati bagianbarat Lembar, yaitu sepanjang pantai

mulai dan Kaluku sampai Babana (daerah S. Budong-budong). Umumnya

berpolah aliran meranting (dendritik) dan beberapa sungal bermeander.

4.1.2 Stratigrafi Regional

Daerah Lembar Mamuju terbentuk oleh beraneka macam batuan seperti,

batuan sedimen, malihan, gunungapi dan terobosan. Umurnya berkisar dan

Mesozoikum sampai Kuarter.

Satuan tertua di Lembar ini adalah Batuan Malihan (TR w) yang terdiri

dari sekis, genes, filit dan batusabak. Satuan ini mungkin dapat disamakan dengan

Kompleks Wana di Lembar Pasangkayu yang diduga berumur lebih tua dan Kapur

dan tertindih takselaras oleh Formasi Latimojong (Kls). Formasi tersusun oleh

filit, kuarsit, batulempung malih dan pualam, berumur Kapur.

Satuan berikutnya adalah Formasi Toraja (Tet) terdiri dari batupasir

kuarsa, konglomerat kuarsa, kuarsit, serpih dan batulempung yang umumnya

berwarna merah atau ungu. Formasi ini mempunyai Anggota Rantepao (Tetr)

yang terdiri dari batugamping numulit berumur Eosen Tengah Eosen Akhir.

Formasi Toraja menindih takselaras Formasi Latimojong, dan tertindih takselaras

oleh Batuan Gunungapi Lamasi (Toml) yang terdiri dari batuan gunungapi,
sedimen gunungapi dan batugamping yang berumur Oligo-Miosen atau Oligosen

Akhir - Miosen Awal. Batuan gunungapi ini mempunyai Anggota Batugamping

(Tomc), tertindi selaras oleh Formasi Riu (Tmr) yang terdiri dari batugamping dan

napal. Formasi Riu berumur Miosen Awal - Miosen Tengah, tertindih takselaras

oleh Formasi Sekala (Tmps) dan Batuan Gunungapi Talaya (Tmtv). Formasi

Sekala terdiri dari grewake, batupasir hijau, napal dan batugamping bersisipan tuf

dan lava bersusunan andesit-basal; berumur Miosen Tengah - Pliosen;

berhubungan menjemari dengan Batuan Gunungapi Talaya. Batuan Gunungapi

Talaya terdiri dari breksi, lava dan tuf yang bersusunan andesit-basal dan

mempunyai Anggota Tuf Beropa (Tmb). Batuan Gununapi Talaya menjemari

dengan Batuan Gunungapi Adang (Tma) yang terutama bersusunan leusit basal.

Batuan Gunungapi Adang berhubungan menjemari dengan Formasi

Mamuju (Tmm) yang berumur Miosen Akhir. Formasi Mamuju terdiri atas napal,

batupasir gampingan, napal tufan dan batugamping pasiran bersisipan tuf Formasi

ini mempunyai Anggota Tapalang (Tmmt) yang terdiri dari batugamping koral,

batugamping biokiastika dan napal yang banyak mengandung moluska. Formasi

Lariang terdiri dari batupasir gampingan dan mikaan, batulempung, bersisipan

kalkarenit, konglomerat dan tuf; umumya Miosen Akhir-Pliosen Awal.

Di bagian tenggara Lembar, tersingkap Tuf Barupu (Qbt) yang terdiri dari

tuf, tuf lapili dan lava, yang umumnya bersusunan dasit, dan diduga berumur

Plistosen. Sedangkan di bagian baratlaut tersingkap Formasi Budong-budong (Qb)

yang terdiri dari konglomerat, batupasir, batulempung; dan batugamping koral

(Ql).
Endapan termuda di Lembar ini adalah endapan kipas aluvium (Qt) dan

aluvium (Qa) yang terdiri dari endapan-endapan sungai, pantai dan antar gunung.

4.1.3 Struktur Geologi Regional

Struktur utama di Lembar Mamuju adalah sesar normal dan sesar naik

yang mempunyai arah umum utara timurlaut-selatan baratdaya. Beberapa sesar

berarah hampir barat - timur dan utara baratlaut - selatan tenggara. Struktur lipatan

di Lembar ini berkembang cukup baik.

aerah Lembar termasuk dalam Mandala Geologi Sulawesi Barat (Sukamto,

1973a), terutama terdiri dari batuan malihan, batuan sedimen, batuan gunungapi

dan batuan terobosan bersifat granit.

Di daerah ini paling sedikit telah terjadi empat kali gejala tektonik.

Tektonik awal yang dapat diamati mungkin terjadi pada Kala Kapur Tengah yang

bersamaan dengan gejala tektonik di Daerah Sulawesi baratdaya (Leeuwen,

1981). Gejala ini mengakibatkan perlipatan, persesaran dan pemalihan regional

derajat rendah pada Satuan Batuan Malihan.

Pada Kapur Akhir terbentuk Formasi Latimojong dalam lingkungan laut

dalam, terutama terbentuk di bagian timur dan tengah Lembar. Tektonika

selanjutnya terjadi pada Paleosen, yang mengakibatkan satuan Batuan Malihan

terlipat dan termalih lagi serta Formasi Latimojong termailih regional derajat

rendah.

Pada Kala Eosen sampai Oligosen terjadi genang laut yang membentuk

sedimen laut Formasi Toraja dan Anggota Rantepao. Pada Kala Oligosen sampai

Miosen Awal terjadi lagi kegiatan tektonik yang disertai dengan kegiatan
gunungapi dalam bentuk busur kepulauan gunungapi, dan membentuk Batuan

Gunungapi Lamasi, yang di beberapa tempat terbentuk pula batugamping. Setelah

kegiatan gunungapinya terhenti, pengendapan batuan karbonat terus berlangsung

sampai awal Miosen Tengah sehingga terbentuk Formasi Riu.

Pada Kala Miosen Tengah bagian tengah sampai Awal Miosen Akhir

terjadi lagi kegiatan tektonik yang disertai dengan kegiatan gunungapi yang

menghasilkan Batuan Gunungapi Talaya, Tuf Beropa dan batuan sedimen

gunungapi Formasi Sekala. Batuan Gunungapi Talaya bersusunan andesit-basal

yang makin ke arah atas susunannya berubah menjadi leusit-basal, sehingga

terbentuk Batuan Gunungapi Adang. Di bagian barat, pada waktu yang bersamaan

terendapkan batuan karbonat Formasi Mamuju dan batugamping terumbu

Anggota Tapalang.

Pada Kala akhir Miosen Tengah, kegiatan gunungapi tersebut disertai

dengan terobosan batun granit yang menerobos semua satuan yang lebih tua.

Terobosan ini membawa larutan hidrotermal yang kaya akan bijih sulfida dan

membentuk endapan bijih sulfida terutama suffida tembaga, seperti di daerah

Sangkaropi, Penasuang dan Bilolo.

Terobosan ini disertai dengan pengangkatan dan penyesaran, sehingga

terbentuk sesar turun dan sesar naik yang berarah utara timurlaut - selatan

baratdaya. Pengangkatan yang terjadi di bagian barat Lembar mungkin

berlangsung sampai Miosen Akhir yang dilanjutkan dengan penurunan sehingga

terbentuk Formasi Lariang.


Kegiatan tektonik terakhir mungkin terjadi pada Kala Pliosen, sehingga

bagian timur Lembar terangkat, sedangkan pengangkatan di bagian barat Lembar

disusul oleh penurunan yang menghasilkan Formasi Budong-budong dan

Batugamping Koral.

4.2 Geologi Daerah Penelitian

Tet FORMASI TORAJA perselingan batupasir kuarsa, serpih dan batulanau, ber

sisipa konglomerat kuarsa, batulempung karbonat, batugamping, napal,

batupasir hijau, batupasir gampingan dan batubara, setempat dengan

lapisan tipis resin dalam batulempung.

Umumnya berlapis baik, dengan tebal lapisan berkisar dan beberapa cm

sampai lebih dari 1 m. Setempat berstruktur perarian sejajar, lapisan bersusun dan

silang-siur.

Satuan ini umumnya terlipat, setempat mempunyai kemiringan hampir

tegak. Secara keseluruhan, satuan ini mempunyai warna yang khas yaitu merah

kecoklatan sampai ungu, dan beberapa berwarna kelabu kehitaman. Batupasir

kuarsa, berwarna putih-kelabu muda, coklat kemerahan sampai ungu; berukuran

sedang sampai kasar; terpilah baik, butiran membundar tanggung sampai

membundar benar; terdiri dari 90% - 95% kuarsa dan sisanya adalah kepingan

mineral rutil dan zirkon; berperekat kuarsa halus.

Konglomerat kuarsa, berwarna putih kelabu; sangat pejal; ukuran butir

dari 5 mm sampai 3 cm, membundar tanggung sampai membundar baik, terpilah

baik, beberapa lapisan membentuk lapisan bersusun dengan tebal berkisar dan 2
cm sampai 15 cm. Komponen utamanya terdiri dari kuarsa dan sedikit batuan

sedimen malih, dengan perekat atau massa dasar pasir kuarsa.

Serpih, berwarna kelabu kecoklatan; pasiran; mudah hancur; berlapis baik

dengan tebal dan 2 cm sampai 1 m, setempat bersisipan batugamping kelabu yang

keras setebal 1 sampai 5 cm dan tak berfosil.

Batubara umumnya terdapat sebagai sisipan dalam batupasir kuarsa,

tebalnya 40 - 75 cm, tersingkap di utara Tamalea dan sebelah barat Galumpang.

Batulanau, berwarna kelabu muda sampai kelabu tua; mudah hancur; agak

gampingan; berlapis baik dengan tebal dari 2 cm sampai 15 cm; yang lapuk

berwarna merah kecoklatan. Batuan ini disisipi oleh lapisan tipis napal, berwarna

putih; cukup keras; tak berfosil. Umumnya terdapat pada bagian bawah formasi.

Batulempung karbonan, berwarna kelabu tua sampai coklat kemerahan;

agak lunak dan mengandung sedikit kerikil batuan sedimen malih yang

membundar tanggung. Batuan ini setempat disisipi lapisan tipis (2 cm) resin. Di

daerah sentuhan dengan tubuh granit, batuan ini menjadi sangat keras.

Batugamping bioklastika, berwarna putih kehijauan sampai kelabu; pejal;

berlapis baik dengan tebal 2 sampai 10 cm; terdapat sebagai sisipan; lapukannya

berwarna merah. Fosil yang ditemukan dalam batugamping bioklastika adalah

Pelatispira orbitoides PROVALE, Amphistegina sp., Fabiania sp., Discocyclina

sp., Asterocyclina sp., Nummulites sp., Globorotalia gulbrooki BOLLI dan

Operculina sp. Kumpulan fosil ini menunjukkan umur Eosen Tengah-Eosen

Akhir (Sudiyono, hubungan tertulis, 1985). Lingkungan pengendapannya adalah

laut dangkal sampai darat.


Formasi ini tersebar di sudut tenggara Lembar, yaitu di daerah Rantepao

dan di bagian tengah Lembar, yaitu di daerah S. Hau dan S. Karataun. Tebalnya

diperkirakan lebih dari 1.000 m. Formasi ini mempunyai Anggota Rantepao yang

berhubungan menjemari. Formasi Toraja diduga menindih takselaras Formasi

Latimojong dan tertindih takselaras oleh satuan batuan gunungapi Oligosen -

Miosen.

Satuan ini pertama kali dikenal sebagai Formasi Serpih Tembaga (de

Koning Knif, 1914). Nama Formasi Tonja dimunculkan oleh Djuri dan

Sudjatmiko (1974) yang dibagi atas dua bagian yaitu batuan sedimen (serpih,

batugamping, batupasir kuarsa, dan konglomerat kuarsa) dan batugamping. Dalam

laporan ini batugampingnya disebut Anggota Rantepao. Nama Formasi ini berasal

dari daerah Toraja yang merupakan lokasi tipenya.

Tetr ANGGOTA RANTEPAO, FORMASI TORAJA : batugamping numulit

dan batugamping terhablur ulang, sebagian tergerus. Batugamping numulit,

berwarna putih sampai coklat muda berlapis baik, setempat tergeruskan sehingga

fosil numulit tampak mengkilat dan menjadi terpipihkan searah bidang lapisan.

Batugamping terhablur ulang, berwarna putih kelabu sampai coklat terang;

sebagian berlapis; setempat berkepingan.

Selain Nummulit sp., batuan ini mengandung pula fosil Discocyclina sp.,

Pelatispira sp., Ascocyclina sp., Quinqueloculina sp., Asterocyclina sp., ekinoid,

koral dan ganggang yang menunjukkan umur Eosen dengan lingkungan

pengendapannya laut dangkal (Purnamaningsih, hubungan tertulis, 1985).


Batugamping numulit ini sebagian berupa lensa di dalam Formasi Toraja.

Anggota Rantepao dan Formasi Toraja tertindih takselaras oleh satuan batuan

gunungapi Oligosen-Miosen dan diduga menindih takselaras Formasi Latimojong.

Satuan ini tersingkap di bagian Tenggara Lembar, yaitu di daerah Rantepao, dan

sedikit di bagian tengah Lembar, yaitu di dekat Galumpang. Tebalnya 500 m.

Satuan ini pertama kali dikenal sebagai satuan Batugamping Formasi Toraja

(Djuri dan Sudjatmiko, 1974). Nama Anggota Rantepao adalah nama baru yang

diusulkan, lokasi tipenya terdapat di sekitar Rantepao.


BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari kegiatan fieldtrip Prinsip Stratigrafi adalah

sebagai berikut :

1. Pada daerah penelitian yaitu daerah Sopai, Toraja Utara memiliki jenis

litologi yang berselang-seling pada umumnya antara batulempung dan

batupasir. Selain itu dijumpai batubara dan batulanau pada daerah ini dengan

kedudukan batuan N 136E/ 30 dan pada pengukuran kedua yaitu N 147E/

24. Struktur batuan pada daerah ini di dominasi oleh perlapisan yang

menyerpih dan laminasi serta adanya sphaeroidal weathering.

2. Urutan kejadian pada daerah penelitian dimulai pada pembentukan

batulempung yang kemudian terdapat perbedaan ukuran butir diatasnya yang

mengindikasikan perubahan litologi yaitu batulanau. Perselingan kedua

litologi ini terus berlangsung yang kemudian terdapat sisipan batubara yang

memiliki tebal 1 cm. Selanjutnya terjadi perselingan antara batulempung dan

batupasir pada umur relatif lebih muda pada daerah penelitian.

6.2 Saran

Sebaiknya dalam pelaksanaan fieldtrip Prinsip Stratigrafi waktu yang

diperlukan dalam pengerjaan laporan diperbanyak agar memberikan kemudahan

kepada mahasiswa untuk memahami hasil kerja dari kegiatan fieldtrip tersebut.

Serta diperlukan suatu diskusi tentang stratigrafi daerah penelitian.


DAFTAR PUSTAKA

Asisten Prinsip Stratigrafi. 2017. Penuntun Praktikum Prinsip Stratigrafi. Gowa :

Teknik Geologi UH.

Boggs, Sam Jr. 1987. Principles of Sedimentology and Stratigraphy. Amerika :

Merrill Publishing Company

Ikatan Ahli Geologi Indonesia. 1996. Sandi Stratigrafi Indonesia. Bidang Geologi

dan Sumber Daya Mineral. Jakarta. Indonesia.

Noor, D. 2009. Bab 3 Pengukuran Stratigrafi Prinsip Stratigrafi pdf. Diakses pada

Sabtu, 17 April 2017. Pukul 23.15 WITA.

Ratman, N. 1993. Geologi Lembar Mamuju, Sulawesi. Departemen Pertambangan

dan Energi.

Sudjatmiko, dkk. 1998. Geologi Lembar Majene dan Bagian Barat Lembar

Palopo, Sulawesi.

Anda mungkin juga menyukai