Manifestasi dan Diagnosis Apendisitis
Manifestasi dan Diagnosis Apendisitis
APPENDISITIS
PENDAHULUAN
Appendisitis adalah peradangan dari appendiks vermivormis dan merupakan kegawatdaruratan
bedah abdomen yang paling sering ditemukan.
ETIOLOGI
Apendisitis akut disebabkan oleh proses radang bakteria yang dicetuskan oleh beberapa faktor
pencetus. Ada beberapa faktor yang mempermudah terjadinya radang apendiks, diantaranya :
I. Faktor Obstruksi
Sekitar 60% obstruksi disebabkan oleh hiperplasia jaringan lymphoid submukosa, 35%
karena stasis fekal, 4% karena benda asing dan sebab lainnya 1% diantaranya sumbatan oleh
parasit dan cacing.
II. Faktor Bakteri
Infeksi enterogen merupakan faktor patogenesis primer pada apendisitis akut. Bakteri yang
ditemukan biasanya [Link], Bacteriodes fragililis, Splanchicus, Lacto-bacilus, Pseudomonas,
2
Bacteriodes splanicus.
III. Kecenderungan familiar
Hal ini dihubungkan dengan terdapatnya malformasi yang herediter
dari organ apendiks yang terlalu panjang, vaskularisasi yang tidak baik dan
letaknya yang memudahkan terjadi apendisitis.
IV. Faktor ras dan diet
Faktor ras berhubungan dengan kebiasaan dan pola makanan
sehari-hari.
PEMBAGIAN APPENDICITIS:
Appendicitis acuta tanpa perforasi (Simple Appendicitis Acuta).
Appendicitis acuta dengan perforasi:
- Lokal peritonitis.
- Abses.
- Pritonitis umum.
Appendicitis kronika.
PATOFISIOLOGI
Apendisitis akut merupakan peradangan akut pada apendiks yang disebabkan oleh bakteria
yang dicetuskan oleh beberapa faktor pencetus. Obstruksi pada lumen menyebabkan mukus yang
diproduksi mukosa mengalami bendungan. Makin lama mukus tersebut makin banyak, namun
elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan
intralumen. Tekanan di dalam sekum akan meningkat. Kombinasi tekanan tinggi di sekum dan
peningkatan flora kuman di kolon mengakibatkan sembelit, hal ini menjadi pencetus radang di
mukosa apendiks. Perkembangan dari apendisitis mukosa menjadi apendisitis komplit, yang
meliputi semua lapisan dinding apendiks tentu dipengaruhi oleh berbagai faktor pencetus setempat
yang menghambat pengosongan lumen apendiks atau mengganggu motilitas normal apendiks.
Tekanan yang meningkat tersebut akan menyebabkan apendiks mengalami hipoksia,
menghambat aliran limfe, terjadi ulserasi mukosa dan invasi bakteri. Infeksi menyebabkan
pembengkakan apendiks bertambah (edema) dan semakin iskemik karena terjadi thrombosis
pembuluh darah intramural (dinding apendiks). Pada saat inilah terjadi apendisitis akut fokal yang
ditandai oleh nyeri epigastrium. Gangren dan perforasi khas dapat terjadi dalam 24-36 jam, tapi
waktu tersebut dapat berbeda-beda setiap pasien karena ditentukan banyak faktor.
Bila sekresi mukus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan
menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan
3
timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri didaerah kanan
bawah. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut. Bila kemudian arteri terganggu akan
terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis
gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi.
Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna, tetapi akan membentuk
jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya. Perlengketan ini dapat
menimbulkan keluhan berulang diperut kanan bawah. Pada suatu ketika organ ini dapat meradang
akut lagi dan dinyatakan mengalami eksaserbasi akut.
GAMBARAN KLINIS
I. ANAMNESIS
Keluhan utama appendicitis:
Sakit perut : tahap awal terjadi hiperperistaltik untuk mengatasi obstruksi sehingga nyeri viseral
dirasakan diseluruh perut (epigastrium dan regio umbilikal). Tahap lanjut nyeri somatik dirasakan
dikuadran kanan bawah perut (Mc Burney). Anorexia, mual, muntah, demam, obstipasi, diare.
4
- tidak ditemukan gambaran spesifik
- kembung sering terlihat pada komplikasi perforasi.
- penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada masaa atau abses periapendikuler.
2. Palpasi
- nyeri yang terbatas pada regio iliaka kanan, bisa disertai nyeri tekan lepas.
- defans muscular menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietale.
- pada apendisitis retrosekal atau retroileal diperlukan palpasi dalam untuk menentukan
adanya rasa nyeri.
3. Perkusi
- terdapat nyeri ketok pekak hati (jika terjadi peritonitis pekak hati ini hilang karena bocoran
usus maka udara bocor).
4. Auskultasi
- sering normal
- peristaltic dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis generalisata akibat apendisitis
perforata pada keadaan lanjut
- bising usus tidak ada (karena peritonitis).
5. Rectal Toucher
- tonus musculus sfingter ani baik
- ampula kolaps
- nyeri tekan pada daerah jam 09.00-12.00
- terdapat massa yang menekan rectum (jika ada abses).
- pada apendisitis pelvika tanda perut sering meragukan maka kunci diagnosis adalah nyeri
terbatas sewaktu dilakukan colok dubur.
6. Uji Psoas
Dilakukan dengan rangsangan otot psoas lewat hiperekstensi sendi panggul kanan atau
fleksi aktif sendi panggul kanan, kemudian paha kanan ditahan. Bila apendiks yang
meradang menepel di m. poas mayor, tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri.
5
7. Uji Obturator
Digunakan untuk melihat apakah apendiks yang meradang kontak dengan m. obturator
internus yang merupakan dinding panggul kecil. Gerakan fleksi dan endorotasi sendi
panggul pada posisi terlentang akan menimbulkan nyeri pada apendisitis pelvika.
Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator merupakan pemeriksaan yang lebih ditujukan untuk
mengetahui letak apendiks
8. Skor Alvarado
Semua penderita dengan suspek Appendicitis acuta dibuat skor Alvarado dan
diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu: skor <6 dan >6. Selanjutnya dilakukan
Appendectomy, setelah operasi dilakukan pemeriksaan PA terhadap jaringan Appendix dan
hasilnya diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu: radang akut dan bukan radang akut.
Manifestasi Skor
Gejala Adanya migrasi nyeri 1
Anoreksia 1
Mual/muntah 1
Tanda Nyeri RLQ 2
Nyeri lepas 1
Febris 1
Laboratorium Leukositosis 2
Shift to the left 1
Total poin 10
6
Keterangan Alvarado score:
- Dinyatakan appendisitis akut bila skor > 7 poin
- Modified Alvarado score (kalan et al) tanpa observasi of Hematogram :
1-4 : dipertimbangkan appendicitis akut
5-6 : possible appendicitis tidak perlu operasi
7-9 : appendicitis akut perlu pembedahan
Penanganan berdasarkan skor Alvarado :
1-4 : observasi
5-6 : antibiotika
7-10 : operasi dini
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium
a. Pemeriksaan darah
- leukositosis pada kebanyakan kasus appendisitis akut terutama pada kasus dengan komplikasi.
- pada appendicular infiltrat, LED akan meningkat
b. Pemeriksaan urin untuk melihat adanya eritrosit, leukosit dan bakteri di dalam urin.
Pemeriksaan ini sangat membantu dalam menyingkirkan diagnosis banding seperti infeksi
saluran kemih atau batu ginjal yang mempunyai gejala klinis yang hampir sama dengan
appendicitis.
2. Radiologis
a. Foto polos abdomen
Pada appendicitis akut yang terjadi lambat dan telah terjadi komplikasi (misalnya peritonitis)
tampak:
- scoliosis ke kanan
- psoas shadow tak tampak
- bayangan gas usus kananbawah tak tampak
- garis retroperitoneal fat sisi kanan tubuh tak tampak
- 5% dari penderita menunjukkan fecalith radio-opak
- Appendicogramhasil positif bila : non filling partial filling mouse taicut off.
b. USG
Bila hasil pemeriksaan fisik meragukan, dapat dilakukan pemeriksaan USG. Dengan USG dapat
dipakai untuk menyingkirkan diagnosis banding.
7
[Link]
Yaitu suatu pemeriksaan X-Ray dengan memasukkan barium ke colon melalui anus.
Pemeriksaan ini dapat menunjukkan komplikasi-komplikasi dari appendicitis pada jaringan
sekitarnya dan juga untuk menyingkirkan diagnosis banding. Foto barium enema yang
dilakukan perlahan pada appendicitis akut memperlihatkan tidak adanya pengisian apendiks dan
efek massa pada tepi medial serta inferior dari seccum; pengisisan lengkap dari apendiks
menyingkirkan appendicitis.
DIAGNOSIS BANDING
Gastroenteritis : pada gastroenteritis terdapat mual, muntah dan diare yang mendahului rasa
sakit. Sakit perut lebih ringan dan tidak berbatas tegas. Hiperperistaltis sering ditemukan.
Panas dan leukositosis kurang menonjol dibandingkan apendisitis akut.
Demam dengue : demam dengue dapat dimulai dengan sakit perut mirip peritonitis, disini
didapatkan hasil tes positif untuk Rumpel Leede, trombositopenia, dan hematokrit yang
meningkat.
Limpadenitis mesenterika : limfadenitis mesenterika yang biasa didahului oleh enteritis atau
gastroenteritis ditandai dengan nyeri perut, terutama kanan disertai dengan perasaan mual,
nyeri tekan perut samar, terutama kanan.
Urolitiasis pielum/ureter kanan : adanya riwayat kolik dari pinggang ke perut menjalar ke
inguinal kanan merupakan gambaran yang khas.
PENATALAKSANAAN
Bila diagnosis klinis sudah jelas, tindakan paling tepat dan merupakan satu-satunya pilihan
yang baik adalah appendiktomi. Terapi selalu operatif karena lumen yang terobstruksi tidak akan
8
sembuh dengan antibiotika saja. Appendicitis akut tanpa ruptura diterapi dengan appendiktomi
segera setelah evaluasi medis selesai. Ruptura appendicitis dengtan peritonitis lokal atau flegmon
dioperasi setelah resusitasi awal untuk memperbaiki cairan serta elektrolit yang hilang. Ruptura
appendicitis dengan penyebaran pada peritonitis membutuhkan resusitasi cairan yang lebih luas,
tetapi pasien harus menjalani operasi secara normal dalam 4 jam untuk mencegah berlanjutnya
kontaminasi peritoneum.
Ruptura appendicitis dengan pembentukan abses periapendiks dapat diterapi secara akut
dengan operasi, tetapi berkaitan dengan morbiditas yang meningkat. Jika gejala sudah berlangsung
beberapa hari mereda berkaitan dengan massa kuadran kanan bawah, terapi awal nonoperatif
dengan resusitasi cairan, istirahat usus, dan dosis besar antibiotika yang tepat, mungkin dapat
dilakukan drainase abses dengan bimbingan USG. Jika tanda-tanda vital, leukositosis dan tanda-
tanda abdomen makin berkembang, drainase abses dapat diindikasikan, diikuti oleh terapi
konservatif. Disarankan appendiktomi dilakukan setelah 3 bulan.
Sebelum operasi
[Link]
Dalam 8-12 jam setelah timbulnya keluhan, tanda dan gejala apendisitis seringkali masih
belum jelas. Dalam keadaan ini observasi ketat perlu dilakukan. Pasien diminta melakukan tirah
baring dan dipuasakan. Laktasif tidak boleh diberikan bila dicurigai adanya apendisitis ataupun
bentuk peritonitis lainnya. Pemeriksaan abdomen dan rectal serta pemeriksaan darah (lekosit dan
hitung jenis) diulang secara periodic. Foto abdomen dan toraks tegak dilakukan untuk mencari
kemungkinan adanya penyulit lain. Pada kebanyakan kasus, diagnosis ditegakkan dengan lokalisasi
nyeri di daerah kanan bawah dalam 12 jam setelah timbulnya keluhan.
b. Antibiotik
Pada apendisitis tanpa komplikasi biasanya tidak perlu diberikan antibiotic, kecuali pada apendisitis
gangrenosa atau apendisitis perforate. Penundaan tindak bedah sambil memberikan antibiotic dapat
mengakibatkan abses atau perforasi.
9
c. Operasi
4. Pascaoperasi
Perlu dilakukan observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya pendarahan di dalam,
syok, hipertermia, atau gangguan pernafasan. Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar,
sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah. Baringkan pasien dalam posii Fowler. Pasien
dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjai gangguan. Selama itu pasien dipuasakan. Bila tindakan
operasi lebih besar, misalnya pada perforasi atau peritonitis umum, puasa diteruskan sampai fungsi
usus kembali normal.
Satu hari pascaoperasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selama 2x 30 menit.
Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk di luar kamar. Hari ke tujuh jahitan dapat dicabut.
KOMPLIKASI
Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah perforasi, baik berupa perforasi bebas
maupun perforasi pada appendiks yang telah mengalami pendindingan sehingga berupa massa yang
10
terdiri atas kumpulan appendiks, sekum, dan lekuk usus halus.
Massa appendiks terjadi bila appendicitis gangrenosa atau mikroperforasi ditutupi atau
dibungkus oleh omentum dan/lekuk usus halus. Pada massa periappendikuler yang pendinginannya
belum sempurna, dapat terjadi penyebaran pus ke seluruh rongga peritoneum jika perforasi diikuti
peritonitis purulenta generalisata. Oleh karena itu, massa periappendikuler yang masih bebas
disarankan segera dioperasi untuk mencegah penyakit tersebut. Pada anak selamanya dipersiapkan
untuk operasi dalam waktu 2-3 hari saja.
Pasien dewasa dengan massa periappendikuler yang terpancang dengan pendinginan
sempurna, dianjurkan untuk dirawat dahulu dan diberi antibiotika sambil diawasi suhu tubuh,
ukuran massa, serta luasnya peritonitis. Bila sudah tidak ada demam, massa periappendikular
hilang, dan leukosit normal. Penderita boleh pulang dan appendictomy efektif dapat dikerjakan 2-3
bulan kemudian agar pendarahan akibat perlengketan dapat ditekan sekecil mungkin.
Bila terjadi perforasi, akan terbentuk abses appendiks. Hal ini ditandai dengan kenaikan
suhu dan frekuensi nadi, bertambahnya nyeri, dan teraba pembengkakan massa, serta bertambahnya
angka leukosit.
Appendiktomy direncanakan pada infiltrat periappendikuler tanpa pus yang telah
ditenangkan. Sebelumnya pasien diberi antibiotika kombinasi yang aktif terhadap kuman aerob dan
anaerob. Baru setelah keadaan tenang yaitu sekitar 6-8 minggu kemudian dilakukan appendiktomy.
Pada anak kecil, wanita hamil, dan penderita usia lanjut, jika secara konservatif tidak membaik atau
berkembang menjadi abses, dianjurkan operasi secepatnya.
Kalau sudah terjadi abses, dianjurkan drainage saja dan appendiktomy dikerjakan setelah 6-
8 minggu kemudian. Jika ternyata tiak ada keluhan atau gejala apapun dan pemeriksaan jasmani dan
laboratorium tidak menunjukkan tanda radang atau abses dapat dipertimbangkan membatalkan
tindakan bedah
Adanya fekalit dalam lumen, umur (orang tua atau anak kecil) dan keterlambatan diagnosis
merupakan faktor yang berperan dalam terjadinya perforasi appendiks. Dilaporkan insiden perforasi
60% pada penderita diatas usia 60 tahun. Faktor yang mempengaruhi tingginya insiden perforasi
pada orangtua adalah gejalanya samar, keterlambatan berobat, adanya perubahan anatomi appendiks
berupa penyempitan lumen dan arteriosclerosis. Insiden tinggi pada anak disebabkan pleh dinding
appendiks yang masih tipis, anak kurang komunikatif, sehingga memperpanjang waktu diagnosis,
dan proses pendinginan kurang sempurna akibat perforasi yang berlangsung cepat dan omentum
anak belum berkembang.
Perbaiki keadaan umum dengan infus, pemberian antibiotik untuk kuman gram negatif dan
positif serta kuman anaerob dan pemasangan pipa nasogastric perlu dilakukan sebelum
pembedahan. Perlu dilakukan laparotomi dengan insisi yag panjang supaya dapat dilakukan
11
pencucian rongga peritoneum dari pus maupun pengeluaran fibrin yang adekuat secara mudah,
begitu pula pembersihan kantung nanah. Akhir-akhir ini mulai banyak dilaporkan pengelolaan
appendicitis perforasi secara laparoskopi appendiktomy. Keuntungannya lama rawat lebih pendek
dan secara kosmetik lebih baik. Karena ada kemungkinan terjadi infeksi luka operasi, perlu
dianjurkan pemasangan penyalir subfacia, kulit dibiarkan terbuka untuk kemudian dijahit bila sudah
dipastikan tidak ada infeksi.
APPENDICITIS REKURENS
Diagnosis appendicitis rekurens baru dapat dipikirkan jika ada riwayat serangan nyeri
berulang di perut kiri kanan bawah yang mendorong dilakukan appendictomy, dan hasil patologi
menunjukkan peradangan akut. Kelainan ini terjadi bila serangan appendicitis akut pertama kali
sembuh spontan. Namun, appendiks tidak pernah kembali ke bentuk aslinya karena terjadi fibrosis
dan jaringan parut. Resiko untuk terjadinya aserangan lagi sekitar 50%. Incidens appendicitis
rekurens adalah 10% dari spesimen appendictomi yang diperiksa secara patologik. Pada
appendicitis recurens biasanya dilakukan appendictomi karena sering penderita datang dalam
serangan akut.
APPENDICITIS KRONIK
Diagnosis appendicitis kronik baru dapat ditegakkan jika dipenuhi semua syarat ; riwayat
nyeri perut kanan bawah lebih dari dua minggu, radang kronik appendiks secara makroskopik dan
mikroskopik dan keluhan menghilang setelah appendictomi.
Kriteria mikroskopik appendicitis kronik adalah fibrosis menyeluruh dinding appendiks,
sumbatan parsial atau total lumen appendiks, adanya jaringan parut atau ulkus lama di mukosa, dan
infiltrasi sel inflamasi kronik. Insidens appendicitis kronik antara 1-5%.
MUKOKEL APPENDIKS
Mukokel appendiks adalah dilatasi kistik dari appendiks yang berisi musin akibat adanya
obstruksi kronik pangkal appendiks, yang biasanya berupa jaringan fibrosa. Jika isi lumen steril,
musin akan tertimbun tanpa terinfeksi. Walaupun jarang, mukokel dapat disebabkan oleh
kistadenoma yang dicuriai bisa menjadi ganas.
Penderita sering datang dengan keluhan ringan berupa rasa tidak enak di perut kanan
bawah. Kadang teraba massa memanjang di regio iliaka kanan. Suatu saat bila terjadi infeksi, akan
timbul tanda appendicitis akut. Pengobatan dengan appendiktomi.
12
PROGNOSIS
Dengan diagnosa yang akurat serta pembedahan tingkat mortalitas dan morbiditas penyakit
ini sangat kecil. Keterlambatan diagnosis akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas bila terjadi
komplikasi. Serangan berulang dapat terjadi bila appendiks tidak diangkat.
13
LAPORAN KASUS
I. IDENTITAS
Nama Pasien : Tn. APS
Umur : 60 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Hindu
Satus : Menikah
Pekerjaan : Tani
Alamat Rumah : Tindaki
No. Rekam Medis : 03.76.25
Tanggal MRS : 24/01/2016
14
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
Pasien tidak pernah mengalami sakit seperti ini sebelumnya. Tidak pernah mengalami trauma atau
operasi di daerah perut. Tidak ada riwayat penyakit maag, darah tinggi, alergi, asam urat, dan
kencing manis.
RIWAYAT KEBIASAAN
Pasien jarang berolahraga, jarang makan makanan berserat dan jarang minum air putih. Pasien
memiliki kebiasaan merokok minimal 2 bungkus sehari dan minum alkohol sejak SMA.
RIWAYAT PENGOBATAN
OS belum mengkonsumsi obat-obatan dan saat ini tidak mengkonsumsi obat-obatan tertentu.
PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Generalis
Keadaan Umum
- Kesadaran : Compos Mentis
- Kesan sakit : Tampak sakit sedang
- Pucat (-), ikterik (-), sianosis (-), sesak (-)
- Keadaan gizi : Baik
- Bentuk badan : Piknikus
Data Antopometri
- Berat badan : 55 kg
- Tinggi badan : 158 cm
Tanda Vital
- Frekuensi nadi : 90 x /m teratur, isi cukup
- Tekanan darah : 130/70 mmHg
- Frekuensi Napas : 24x/m, teratur
- Suhu tubuh : 37 0C
Kulit : kuning langsat, tidak pucat, tidak ikterik, tidak ada efloresensi yang bermakna,
tidak ada jaringan parut maupun hipo/hiperpigmentasi.
15
Kepala : normocephali, wajah simetris, ekspresif, tidak terdapat nyeri tekan sinus, tidak ada
deformitas.
Rambut : warna hitam, distribusi kurang merata, tipis, dan tidak mudah dicabut.
Mata : sklera ikterik -/-, konjungtiva anemis -/-, gerak bola mata normal ke segala arah,
refleks cahaya langsung dan tidak langsung +/+.
Telinga : normotia, sekret -/-, tidak ada nyeri tekan maupun nyeri tarik.
Hidung : deviasi septum (-), pernafasan cuping hidung (-), sekret -/-.
Bibir : simetris, tidak kering, tidak sianosis. Lidah normal, tidak hiperemis, tidak kotor.
Leher : tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening, massa (-), tidak teraba pembesaran
kelenjar tiroid.
Thorax : Inspeksi : bentuk dada normal, simetris, ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : gerak dada simetris saat bernafas, vocal fremitus simetris sama kuat,
teraba ictus cordis pada garis midsternalis ICS V, sudut angulus
subcostae >90.
Perkusi : hemithorax kanan dan kiri sonor, batas jantung dalam batas normal.
Auskultasi : suara nafas vesikuler, tidak ada ronkhi maupun wheezing, bunyi
jantung 1 dan 2 reguler, tidak terdapat murmur maupun gallop.
Abdomen : lihat status lokalis
Ekstremitas : akral hangat di keempat ekstremitas, tidak ada efloresensi bermakna, tidak ada
oedem, dan dapat bergerak aktif.
16
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
HEMATOLOGI
Hb : 12,5 g/dL
Ht : 38.5 %
Leukosit : 9,800 mm3
Trombosit : 291,000 /mm3
Eritrosit : 4,36 juta/mm3
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
- USG
E. RESUME
Laki-laki 60 tahun datang dengan keluhan sakit perut sebelah kanan bawah sejak 1 hari
sebelum masuk RS. 2 hari SMRS di sekitar uluhati dan pusat. Anoreksia (+), nausea (+), vomiting
(-), demam sumer-sumer (+), pusing(+). Pagi hari SMRS sakit perut terpusat pada perut kanan
bawah terutama saat berjalan dan batuk, nyeri berkurang saat posisi membungkuk. BAB (-) 3hari.
BAK (+) normal. Status generalis dalam batas normal.
Pada status lokalis regio abdomen
Inspeksi : Abdomen simetris, agak buncit, tidak terdapat jaringan parut, dan tidak ada
pelebaran vena.
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Palpasi : Nyeri tekan Mc. Burney (+), defans muskular (-), nyeri lepas (+) di
kuadran kanan bawah, Rovsing sign (+), Blumberg sign (+)
Perkusi : Nyeri ketok titik Mc. Burney (+)
Psoas sign (+), Obturator sign (+), Rectal toucher nyeri tekan (+) pada jam 11.
F. DIAGNOSIS BANDING
- Batu ureter kanan
- Limfadenitis mesenterika
G. DIAGNOSIS KERJA
- Appendisitis akut
17
H. PENATALAKSANAAN
Konservatif :
- Bed rest
- Puasa
- IVFD RL 1000ml/24 jam
- Cefotaxim 1gr/12jam/IV
- Ranitidin 1 amp/12jam/iv
Observasi TTV
Appendektomi cito
Persetujuan operasi
Instruksi post-operasi
- awasi tanda vital
- Bed rest total
- IVFD RL
- Antibiotik Cefotaxime 1g/12jam/IV
- Analgetik antrain 1 amp/8jam/IV
- ranitidin 1 amp/12jam/IV
- bila flatus (+)/ peristaltik(+) boleh minum dan diet lunak
I. KOMPLIKASI
- Sepsis
- Appendisistis perforata
- Appendisitis kronis
- Abses periappendikular
J. PROGNOSIS
- Ad vitam : ad bonam
- Ad sanationam : ad bonam
- Ad functionam : ad bonam
FOLLOW UP
25 Januari 2016
S: Luka bekas operasi masih terasa sakit
19
Nafsu makan meningkat, tapi minum dan makan bertahap
BAK lancar, BAB belum
O: TSS/CM
TD : 120/80 mmHg, N : 80x/m, S : 36 C, P : 20x/m
PF: tak ada kelainan
A: Hari ke-1 post appendictomy
P: IVFD RL
Cefotaxime 1gr/12jam/IV
Antrain 1 amp/8jam/IV
Ranitidin 1 amp/12jam/IV
26 Januari 2016
S: Luka bekas operasi nyeri berkurang
O: TSS/CM
TD : 130/80 mmHg, N : 76x/m, S : 36,5 C, P : 24x/m
PF: tak ada kelainan
A: Hari ke-2 post appendictomy
P: IVFD RL
Cefotaxime 1gr/12jam/IV
Antrain 1 amp/8jam/IV
Ranitidin 1 amp/12jam/IV
Ganti verban
27 Januari 2016
S: nyeri luka bekas operasi berkurang
O: TSS/CM
TD : 130/90 mmHg, N : 72x/m, S : 36,7 C, P : 22x/m
PF: tak ada kelainan
A: Hari ke-3 post appendictomy
P: aff infus
Cefixime 2 x 1
Ranitidin 2 x 1
Boleh pulang
20
PEMBAHASAN
1. DASAR DIAGNOSIS
Untuk menegakkan suatu diagnosis, maka langkah yang harus ditempuh yaitu anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Dalam kasus ini, berdasarkan anamnesis, pasien datang keluhan sakit perut kanan bawah serta sakit
perut dirasakan melilit dan terus menerus di sekitar uluhati dan pusat. Ini terjadi karena
hiperperistaltik untuk mengatasi obstruksi dan terjadi pada seluruh saluran cerna sehingga nyeri
viseral dirasakan pada seluruh perut. Tahap selanjutnya nyeri somatik di rasakan di kuadran kanan
bawah (titik Mc Burney). Obstipasi terjadi karena penderita takut untuk mengejan. Gejala lain
adalah demam yang tidak terlalu tinggi, antara 37,5-38,5 C yang menandakan belum terjadi
perforasi.
Pemeriksaan fisik yaitu pada inspeksi, penderita berjalan membungkuk sambil memegangi perutnya
yang sakit. Pada palpasi didapati nyeri yang terbatas pada regio iliaka kanan disertai nyeri tekan
lepas dan pemeriksaan colok dubur nyeri tekan (+) pada jam 11 yang menandakan adanya
appendicitis.
Pada pemeriksaan penunjang dilakukan pemeriksaan darah dimana leukositnya 9.800 mm3
(mendekati leukositosis) dan dilakukan pemeriksaan USG yang menunjukan adanya target sign
tanda-tanda appendicitis.
Skor Alvarado.
2. PENANGANAN KASUS
Tindakan yang dipilih pada pasien ini adalah appendiktomi Cito berdasarkan skor alvarado pada
pasien ini dengan nilai 9 dimana ditemukan Adanya migrasi nyeri(1), anoreksia(1),
mual/muntah(1), nyeri RLQ(2), nyeri lepas(1), febris(1), Leukositosis(2) yang menandakan
appendisitis akut yang perlu pembedahan segera.
3. PROGNOSIS
Prognosis pada pasien ini baik karena segera dilakukan pembedahan yang mengurangi
tingkat mortalitas dan morbiditas penyakit ini. Keterlambatan diagnosis akan meningkatkan
morbiditas dan mortalitas bila terjadi komplikasi. Serangan berulang dapat terjadi bila appendiks
tidak diangkat.
21
DAFTAR PUSTAKA
1. R Sjamsuhidajat. Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : penerbit buku
kedokteran EGC. 2005
2. Condon RE (et al). Appendicitis. Dalam : David [Link],Jr, ed. The Biological Basis of
modern Surgical Practice. 14th edition. USA : W.B. Sauders Company. 1991 : 884-897
3. Schwartz, Shires&Spencer. Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah. Edisi6. Cetakan pertama. Jakarta
: penerbit buku kedokteran EGC.2000
4. Lawrence WW. Appendix. Dalam : Gerard MD&Lawrence WW,ed. Current Surgical
Diagnosis&Treatment. 12th edition. USA:Lange Medical books/The Mcgraw-Hill companies,Inc.
648-653
5. Lally Kevin P (et al). Appendix. Dalam : Courtney M. Townsend, Jr (et al),ed. Sabiston textbook
of surgery The Biological Basis of Modern Surgical practice. 17th edition. USA : Elsevier Inc. 2004
: 1381-1397.
6. Jaffe BM & David HB. The appendix. Dalam : [Link] Brunicardi (et al),ed. Schwartzs
principles of surgery. 8th edition. USA : The McGraw-Hill Companies,Inc. 2005 : 1119-1135
22
23