0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
38 tayangan9 halaman

Uji COD untuk Pengukuran Kualitas Air

Laporan praktikum ini membahas uji Chemical Oxygen Demand (COD) untuk menentukan kadar bahan organik dalam air. Metode COD melibatkan oksidasi bahan organik menggunakan larutan kalium dikromat dan asam sulfat, diikuti dengan titrasi menggunakan larutan fero aluminium sulfat untuk mengukur jumlah oksigen yang digunakan. Hasil uji COD pada sampel air sumur menunjukkan kadar bahan organik sebesar 0,6 mg

Diunggah oleh

Khair Anuar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
38 tayangan9 halaman

Uji COD untuk Pengukuran Kualitas Air

Laporan praktikum ini membahas uji Chemical Oxygen Demand (COD) untuk menentukan kadar bahan organik dalam air. Metode COD melibatkan oksidasi bahan organik menggunakan larutan kalium dikromat dan asam sulfat, diikuti dengan titrasi menggunakan larutan fero aluminium sulfat untuk mengukur jumlah oksigen yang digunakan. Hasil uji COD pada sampel air sumur menunjukkan kadar bahan organik sebesar 0,6 mg

Diunggah oleh

Khair Anuar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGUKURAN KUALITAS AIR

Uji Chemical Oxygen Demand (COD)

LAPORAN PRAKTIKUM
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah
Praktikum Pemeriksaan Parameter Air
Yang dibina oleh Ibu Nurnaningsih Herya Ulfah, [Link]., [Link]

Disusun oleh:
Dewi Giusti Destianashari 140612606277
Mochamad Faizin 140612606278
Nindakuni Saadati 140612600933
Ranisa Wijayanti 140612605824
Sherly Shantika 140612600236

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
November 2016
LAPORAN KELOMPOK

Topik : Pengukuran Kualitas Air (COD)


Lokasi : Laboratorium FMIPA UM
Sumber sampel air : Air Sumur Gali jl. Batujajar gang buntu no.18, kecamatan klojen
Sistematika :
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahan organik yang terdapat pada air permukaan, berasal dari sumber-sumber alami
yaitu padatan organic yang telah membusuk, limbah buangan industri, dan berasal dari
kegiatan domestik. Terdapat 2 macam bahan organik secara umum, yaitu bahan organic
biodegradable dan non biodegradable (Wagiman, 2014). Banyak dari material yang
berada dalam wastewater merupakan bahan organik alam, sehingga dapat dikatakan
bahan tersebut bersifat biodegradable. Oleh karena itu, proses yang cocok untuk bahan
yang bersifat biodegradable adalah proses pengolahan secara biologis, aerobik atau
anaerobik (Woodard, 2001). Limbah degradable yaitu limbah yang dapat terdekomposisi
atau dapat dihilangkan dengan proses biologis alamiah., sedangkan limbah non
biodegradable adalah limbah yang tak dapat dihilangkan dari perairan dengan proses
biologis alamiah (Anonim, 2014).
Untuk mengetahui jumlah bahan organic di dalam air dapat dilakukan suatu uji yang
lebih cepat daripada uji BOD, yaitu berdasarkan reaksi kimia dari suatu bahan oksidan. Uji
tersebut disebut uji COD (chemical oxygen demand), yaitu suatu uji yang menentukan
jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bahan oksidan misalnya kalium dikhromat, untuk
mengoksidasi bahan-bahan organic yang terdapat di dalam air (Fardiaz, 2006).
Metoda standar penentuan kebutuhan oksigen kimiawi atau Chemical Oxygen
Demand (COD) yang digunakan saat ini adalah metoda yang melibatkan penggunaan
oksidator kuat kalium bikromat, asam sulfat pekat, dan perak sulfat sebagai katalis.
Kepedulian akan aspek kesehatan lingkungan mendorong perlunya peninjauan kritis
metoda standar penentuan COD tersebut, karena adanya keterlibatan bahan-bahan
berbahaya dan beracun dalam proses analisisnya (Nurdin, 2009).
Walaupun metode COD tidak mampu mengukur limbah yang dioksidasi secara
biologic, metode COD mempunyai nilai [Link] limbah spesifik dan pada fasilitas
penanganan limbah spesifik, adalah mungkin untuk memperoleh korelasi yang baik antara
nilai-nilai COD dan BOD. Metode COD cepat, lebih teliti (kurang lebih 8%) dan umumnya
memberikan perkiraan kebutuhan oksigen total dari suatu limbah yang berguna (Jenie,
2007).
1.2 Tujuan Praktikum
1. Mahasiswa dapat menjelaskan definisi dan aplikasi nilai COD.
2. Mahasiswa dapat menentukan nilai COD sampelnya.
1.3 Manfaat Praktikum
1. Mahasiswa dapat mengetahui kegunaan dari diketahuinya nilai COD dan
dapat mengaplikasikannya dalam pengolahan limbah secara nyata.
2. Nilai COD sampel diketahui sehingga dapat diketahui penanganan yang
tepat untuk jenis limbah seperti sampel.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


COD merupakan parameter yang umum dipakai untuk menentukan tingkat
pencemaran bahan organik pada air limbah. COD adalah banyaknya oksigen yang
dibutuhkan untuk mengoksidasi secara kimia bahan organik di dalam air. Uji COD dapat
dilakukan lebih cepat dari pada uji BOD, karena waktu yang diperlukan hanya sekitar 2
jam.
Chemical Oxygen Demand (COD) atau Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK) adalah
jumlah oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat zat organis yang ada
dalam 1 liter sampel air. Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat
zat organis yang secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mokrobiologis, dan
mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di dalam air (Abbas, 2013)
Oksigen terlarut adalah banyaknya oksigen yang terkandung didalam air dan diukur
dalam satuan ppm. Oksigen yang terlarut ini dipergunakan sebagai tanda derajat pengotor
air baku. Semakin besar oksigen yang terlarut, maka menunjukkan derajat pengotoran
yang relatif kecil. Rendahnya nilai oksigen terlarut berarti beban pencemaran meningkat
sehingga koagulan yang bekerja untuk mengendapkan koloida harus bereaksi dahulu
dengan polutan polutan dalam air menyebabkan konsusmsi bertambah.
Chemical Oxygen Demand (COD) yaitu jumlah oksigen (mg O 2) yang dibutuhkan
untuk mengoksidasi zat-zat organis yang ada dalam sampel air dimana peoksidasi
K2Cr2O7 digunakan sebagai sumber oksigen (oxidizing agent). Angka yang ditunjukkan
COD merupakan ukuran bagi pencemaran air dari zat-zat organik yang secara alamiah
dapat mengoksidasi melalui proses mikrobiologis dan dapat juga mengakibatkan
berkurangnya oksigen terlarut dalam air. Sebagian besar zat organis melalui tes COD ini
dioksidasi oleh larutan K2Cr2O7 dalam keadaan asam yang mendidih.
Kandungan COD dalam air bersih berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No 82 /
2001 mengenai baku mutu air minum golongan B maksimum yang dianjurkan adalah 12
mg/l. apabila nilai COD melebihi batas dianjurkan, maka kualitas air tersebut buruk. Air
Golongan B yaitu air yang dapat dipergunakan sebagai air baku untuk diolah menjadi air
minum dan keperluam rumah tangga lainnya.

BAB III METODE PRAKTIKUM


3.1 Karakteristik Sampel Air
1. Air Sumur Gali
Air sumur gali ini memiliki karakteristik tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak
berasa. Biasa digunakan sebagai air minum dan keperluan sehari-hari. Pada saat
musim penghujan terkadang air yang jernih berubah warna namun selain musim
hujan akan kembali jernih seperti semula.
2. Air Aquades
Aquades disebut juga Aqua Purificata (air murni) H 2O. Air murni adalah air yang
dimurnikan dari destilasi. Satu molekul air memiliki dua hidrogen atom kovalen
terikat untuk satu oksigen. Aquades merupakan cairan yang jernih, tidak berwarna
dan tidak berbau. Aquades juga memiliki berat molekul sebesar 18,0 g/mol dan
PH antara 5-7. Rumus kimia dari aquades yaitu H 2O. Aquades ini memiliki allotrop
berupa es dan uap. Senyawa ini tidak berwarna, tidak berbau dan tidak meiliki
rasa. Aquades merupakan elektrolit lemah. Air ini dihasilkan dari pengoksidasian
hidrogen dan banyak digunakan sebagai bahan pelarut bagi kebanyakan
senyawa.
3.2 Alat dan Bahan
a) Alat yang digunakan dalam kegiatan COD
1. Erlenmeyer 250 ml
2. Pipet volume 10 ml
3. Pipet volume 25 ml
4. Spatula
5. Gelas ukur
6. Pipet tetes
7. Gelas beker
8. Refluks
9. Krustang
10. Buret dan statif
11. Lap
b) Bahan yang digunakan dalam kegiatan COD
1. Sampel air sumur
2. Aquades
3. Kristal merkuri sulfat
4. Larutan kalium dikromat (K2Cr207) 0,25 N
5. Larutan asam sulfat (H2SO4) pekat
6. Pecahan kaca/batu didih
7. Indikator ferroin
8. Larutan fero aluminium sulfat (FAS) 0,25 N
3.1 Cara Kerja
1. Siapkan sampel air dan 2 buah erlenmeyer 250 ml.
2. Masukkan masing-masing 10 ml sampel air (aquades dan air sumur) dengan
menggunakan pipet volume ke dalam erlenmeyer.
3. Masukkan seujung spatula (0,2 gr) kristal merkuri sulfat ke dalam masing-
masing sampel.
4. Masukkan 25 ml larutan kalium dikromat (K 2Cr207) 0,25 N ke dalam masing-
masing sampel dengan menggunakan pipet volume.
5. Tambahkan 20 ml larutan asam sulfat (H 2SO4) pekat dengan menggunakan
pipet tetes dan diukur dengan gelas ukur kemudian dituangkan ke dalam
masing-masing sampel.
6. Tambahkan pecahan kaca/batu didih (untuk mensterilkan) ke dalam masing-
masing sampel.
7. Panaskan sampel dengan menggunakan refluks selama 2 jam.
8. Setelah 2 jam dinginkan sampel dengan merendamnya ke dalam air dingin
menggunakan gelas beker.
9. Setelah dingin tambahkan 50 ml aquades yang sudah diukur dengan
menggunakan gelas ukur kemudian tuangkan pada masing-masing sampel.
10. Tambahkan 3 tetes indikator ferroin dengan menggunakan pipet tetes ke
dalam masing-masing sampel.
11. Lakukan titrasi menggunakan buret pada masing-masing sampel dengan
larutan fero aluminium sulfat (FAS) 0,25 N.
12. Amati perubahan warna yang terjadi (dari hijau ke merah) dan catat volume
larutan fero aluminium sulfat (FAS) 0,25 N yang digunakan dalam proses titrasi.

BAB IV HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Praktikum
Perhitungan COD
Kadar COD (mg/L) =
1000
|A B| x N x 8
Volume sampel
Keterangan :
A = Volume ferro ammonium sulfat yang digunakan dalam titrasi blanko
B = Volume ferro ammonium sulfat yang digunakan dalam titrasi sampel air
N = Normalitas ferro ammonium sulfat
8 = Berat ekivalen oksigen
A blanko : 26,2 ml
B sampel : 26,8 ml
V sampel : 10 ml
1000
Kadar COD (mg/L) = [ 26,2 26,8 ] x 0,25 x 8
10
= 100 x 0,6 x 2
= 120 mg/L
4.2 Pembahasan
Menurut Panduan Praktikum Pemeriksaan Parameter Air IKM UM (2016)
menyebutkan bahwa kebutuhan oksigen kimiawi atau COD menggambarkan jumlah total
oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi, baik yang
dapat di degredasi secara biologis maupun yang sukar di degredasi secara biologis
menjadi CO2 dan H2O (Boyd, 1998). Keberadaan bahan organik dapat berasal dari alam
ataupun dari aktivitas rumah tangga dan industri. Nilai COD pada perairan yang tidak
tercemar biasanya kurang dari 29 mg/liter. Sedangkan pada perairan yang tercemar dapat
lebih dari 200 mg/liter, pada limbah industri dapat mencapai 60.000 mg/liter
(UNISCO/WHO/UNEP. 1992).
4.2.1 Pembahasan Hasil
COD mempunyai batasan nilai ambang agar suatu perairan atau sumber air
tersebut dalam keadaan baku mutu air. Berdasarkan hasil praktikum diperoleh hasil
uji COD pada sampel air sumur adalah sebesar 120 mg/liter. Sedangkan nilai COD
pada perairan yang tercemar dapat lebih dari 200 mg/liter. Jika ditinjau kembali
dengan merujuk pada batas nilai COD pada perairan yang tercemar, hal ini
menunjukkan bahwa sampel air sumur yang telah di uji tidak mengalami
pencemaran.
Dengan dapatnya mempelajari nilai COD maka kita dapat menentukan tingkat
tinggi rendahnya pencemaran air tersebut. Dengan mengetahui tingkat tinggi
rendahnya dapat langsung mengantisipasi bahayanya untuk kelangsungan hidup.
Nilai COD tinggi mengindikasikan bahwa air tersebut telah tercemar.
4.2.2 Analisa dan Evaluasi Permasalahan
Uji Chemical Oxygen Demand (COD) adalah uji yang dilakukan dengan
menenambahkan beberapa zat kimia atau bahan pereaksi tertentu dalam sampel
air yang akan diuji. Pada prinsipnya pengukuran COD dengan penambahan
sejumlah kalium dikromat (K2Cr2O7) sebagai oksidator pada sampel yang telah
ditambahkan asam pekat dan katalis perak sulfat (Wulandari, 2014).
Pada praktikum kali ini, dilakukan pengujian COD (Chemical Oxygen Demand)
dengan menggunakan metode titrimetri. Sampel yang digunakan adalah ari sumur
dari daerah Batujajar Kecamatan klojen. Prosedur analisis COD menggunakan
refluks terbuka yaitu sampel dioksidasi dalam larutan campuran yang mengandung
kalium dikromat (K2Cr2O7) sebagai oksidator dan asam sulfat (H 2SO4) pekat dalam
suhu yang tinggi.
Kalium dikromat lebih efektif mengoksidasi bahan organik dalam sampel pada
suhu yang tinggi dan keadaan asam. Prosesnya yaitu sebagian besar jenis bahan
organik akan teroksidasi oleh campuran mendidih dari kromat dan asam sulfat.
Sampel direfluks dengan menggunakan larutan asam kuat hingga diperoleh
kelebihan dari kalium dikromat (Situmorang. dkk, 2014).
Proses refluks yang dilakukan untuk uji COD menggunakan waktu reaksi
selama 2 jam. Setelah itu sampel dibiarkan hingga dingin lalu selanjutnya
melakukan proses titrasi. Setelah proses refluks tersebut sisa dari K 2Cr2O7 yang
tidak tereduksi akan dititrasi menggunakan FAS (Ferrous Ammonium Sulfate) 0,25
N untuk menghitung jumlah dari K2Cr2O7 yang dikonsumsi, yang setara dengan
jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan-bahan organik yang
terlarut dalam sampel (Situmorang. Dkk, 2014). Selain menambahkan FAS
(Ferrous Ammonium Sulfate) untuk proses titrasi juga ditambahkan 3 tetes Indikator
Ferroin dalam sampel dan blanko.
Indikator ferroin digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi yaitu disaat
warna hijau-biru larutan menjadi coklay-merah. Sisa K 2Cr2O7 dalam larutan blanko
adalah K2Cr2O7 awal, karena diharapkan blanko tidak mengandung zat organis yang
dapat dioksidasi oleh K2Cr2O7 (Situmorang. Dkk, 2014).
Kesulitan dalam melakukan uji COD adalah kurangnya pemahaman dari
fungsi atau tujuan tiap-tiap prosedur karena pemandu laboratorium hanya
mengarahkan prosedur langkah-langkah kerjanya tanpa memberikan penjelasan
secara rinci. Selain itu juga kurangnya pengalaman dalam pengambilan sampel
yang baik. Sehingga dalam praktikum uji COD yang telah dilakukan dirasa masih
kurang sempurna.
4.2.3 Rekomendasi
a. Sebelum melakukan uji di laboratorium, pelajari dan pahami dahulu
bagaimana cara pengambilan sampel yang baik dan benar.
b. Pelajari prosedur cara melakukan uji COD yang baik dan benar.
c. Semua alat dan bahan yang diperlukan harus selengkap mungkin, untuk
mempermudah jalannya praktikum.
d. Penggunaan APD sangat diperlukan karena bersinggungan dengan bahan
kimia.
e. Beberapa prosedur uji COD seperti pada waktu pemanasan dengan metode
sistem refluks terbuka harus sampai batas waktu yang ditentukan.

LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA
Wulandari, R. 2014. Percobaan v analisa COD Air. (online),
([Link] Diakses 17
November 2016
Situmorang, B., dkk. 2014. Penyehatan Air dan Pengelolaan Limbah Cair (Analisa COD
pada Air Limbah). (online),
([Link] Diakses 17
November 2016.
Kalimas, Putra. 2011. Analisa BOD (Biological Oxygen Demand). (online).
([Link] Diakses 17
november 2016
Abbas, Akbar. 2013. Kimia Lingkungan Penentuan Chemical Oxygen Demand (COD).
(online). ([Link] Diakses 17 november 2016
Lubis, Ardian. 2015. Laporan Praktikum Kimia Fisik Volum Molal Parsial. (Online),
([Link]
[Link]). Diakses 17 november 2016
Anonim. 2014. Tinjauan Pustaka Pencemaran Air. Dalam
[Link] Dalam
Hadiqah, Nurul. 2014. Laporan Praktikum Pengendalian Limbah Industri Acara IV
Chemical Oxygen Demand (COD). (Online)
[Link]
Fardiaz, Srikandi. 2006. Polusi Air & Udara. Yogyakarta: Kanisius. Dalam Hadiqah, Nurul.
2014. Laporan Praktikum Pengendalian Limbah Industri Acara IV Chemical Oxygen
Demand (COD). (Online) [Link]
[Link]
Jenie, Betty Sri Laksmi dan Winiati Pudji Rahayu. 2007. Penanganan Limbah Industri
Pangan. Yogyakarta: Kanisius. Dalam Hadiqah, Nurul. 2014. Laporan Praktikum
Pengendalian Limbah Industri Acara IV Chemical Oxygen Demand (COD). (Online)
[Link]
Nurdin, M dkk. 2009. Pengembangan Metode Baru Penentuan Chemical Oxygen Demand
(COD) Berbasis Sel Fotoelektrokimia: Karakterisasi Elektroda Kerja Lapis Tipis
TiO2/ITO. Dalam Makara, Sains, vol 13 no.1: 1-8. Dalam Hadiqah, Nurul. 2014.
Laporan Praktikum Pengendalian Limbah Industri Acara IV Chemical Oxygen
Demand (COD). (Online) [Link]
[Link]
Woodard, Frank. 2001. Industrial Waste Treatment. Butterworth-Heinemann.
Massachussets. Dalam Hadiqah, Nurul. 2014. Laporan Praktikum Pengendalian
Limbah Industri Acara IV Chemical Oxygen Demand (COD). (Online)
[Link]
Wagiman dan Desi Setioningrum. 2014. Modul Praktikum Pengendalian Limbah Industri.
Yogyakarta: TIP FTP UGM. Dalam Hadiqah, Nurul. 2014. Laporan Praktikum
Pengendalian Limbah Industri Acara IV Chemical Oxygen Demand (COD). (Online)
[Link]

Anda mungkin juga menyukai