Nama : Nur Wulan Fadhillah
NIM : 1501173
MK : Teknik Produksi I
Persamaan IPR Darcy
Persamaan aliran darcy merupakan pengembangan dari aliran fluida dari media berpori
dengan melakukan anggapan sebgai berikut:
Fluida formasi rerdiri dari satu fasa
Formasi homogeny
Fluida tidak bereaksi terhadap formasi
Aliran steady state
Fluida incrompressible
Perhitungan aliran fluida satu fasa dari formasi ke dasar sumur pertama kali
dikembangkan oleh Darcy untuk aliran non-turbulen dan dikembangkan oleh Jones, Blount dan
Glaze untuk aliran turbulen. Index Produktivitas untuk aliran steady state bila digunakan konsep
tekanan reservoar rata-rata dapat ditentukan dengan persamaan berikut :
dimana :
J = index produktivitas
Q = laju produksi, bbl
Pe = tekanan rata-rata reservoar, psi
Pwf = tekanan alir dasar sumur, psi
Sedangkan untuk menentukan besarnya laju produksi dapat digunakan persamaan Darcy
untuk aliran radial, yaitu:
Pada kondisi tekanan rata-rata ini PI dinyatakan sebagai:
Apabila sudut AOB adalah , maka:
Dengan demikian harga PI menyatakan kemiringan kurva dimana pada fluida satu fasa
IPR berupa garis lurus.
Kurva IPR Aliran Satu Fasa
Persamaan IPR Vogel
Vogel (1968) menggunakan model komputer untuk menghasilkan IPR untuk beberapa
hipotesis reservoir tersaturasi minyak yang diproduksi dibawah beberapa range kondisi . Vogel
menormalisasi perhitungan IPR dan menyajikan hubungan persamaan dalam bentuk yang lebih
sederhana. Vogel menormalisasikan IPR dengan memperkenalkan parameter yang lebih
sederhana dibawah ini:
Dimensi tekanan:
Dimensi tekanan:
()
Dimana (Qo)max adalah rate aliran pada tekanan lubang sumur nol.
Vogel memplotkan kurva IPR untuk semua kasus reservoir dan menghasilkan hubungan dibawah
ini berdasarkan parameter diatas:
Dimana :
Qo = Rate minyak pada Pwf
(Qo)max = Rate aliran minyak maksimal pada tekanan lubang sumur nol
Pr = Rata-rata tekanan reservoir sekaran, psig
Pwf = Tekanan lubang sumur , psig
Sebagai catatan dimana Pwf dan Pr harus dalam satuan psig.
Metode vogel dapat dikembangkan untuk menghitung produksi air dengan mengganti dimesi rate
dengan QL/(QL)max dimana QL = Qo + Qw. Ini telah terbukti benar untuk sumur produksi
dengan water cut sebesar 97% . Metode ini membutuhkan data sebagai berikut :
Tekanan rata rata reservoir saat ini (Pr)
Tekanan Bubble point (Pb)
Data tes aliran yang stabil yang meliputi Qo pad Pwf
Metodologi Vogel dana digunakan untuk memprediksi kurva IPR untuk dua tipe reservoir
dibawah ini:
Reservoir tersaturasi minyak Pr Pb
Reservoir dibawah saturasi minyak Pr > Pb
Kurva IPR Aliran Dua Fasa
Persamaan IPR Pudjo Sukarno
Metode ini telah dikembangkan dengan menggunakan simulator yang sama, yang juga
dikembangkan untuk mengembangkan kurva IPR gas-minyak. Anggapan yang dilakukan pada
waktu pengembangan metoda ini adalah :
1. Faktor Skin sama dengan nol
2. Gas, minyak dan air berada dalam satu lapisan dan mengalir bersama-sama, secara radial.
Untuk menyatakan kadar air dalam laju produksi total digunajan parameter water cut, yaitu
perbandingan laju produksi air dengan laju produksi cairan total. Parameter ini merupakan
parameter tambahan dalam persamaan kurva IPR yang dikembangkan. Selain itu, hasil simulasi
menunjukan bahwa pada suatu saat tertentu, yaitu pada hanya tekanan reservoir tertentu, harga
water-cut berubah sesuai dengan perubaha tekanan alir dasar sumur. Dengan demikian perubaha
water-cut sebagai fungsi dari tekanan alir dasar sumur, peril pula diyenyukan.
Dalam pengembangan kinerja aliran tiga fasa dari formasi kelubang sumur, telah
digunakan 7 kelompok data hipotetis reservoir, yang man untuk masing-masing kelompok
dilakukanperhitungan kurva IPR untuk 5 harga water-cut yang berbeda, yaitu 20%, 40%, 80%,
90%. Dari hasil perhitungan diperoleh 285 titik data, dan titik data ini dikelompokan sesuai
dengan harga water-cutnya. Untuk masing-masing kelompok water-cut dibuat kurva IPR tak
berdimensi, yaitu plot antara qo/qmax terhadap Pwf/Pr ()Qtmax adalah laju aliran cairan total
maksimal dan kemudian dilakukan analisa regresi. Hasil analisa regresi yang terbaik adalah
sebagai berikut :
2
qo Pwf Pwf
Ao A1 A2 (1-1)
q max Pr Pr
dimana :
An, (n=0, 1 dan 2) adalah konstanta persamaan, yang harganya berbeda untuk water-cut
yang berbeda. Hubungan antara konstanta dengan water-cut ditentukan pula secara analisa
regresi, dan diperoleh persamaan sbb :
An = Co + C1(water-cut) + C2 (water-cut)2 (1-2)
Dimana Cn (n = 0, 1 dan 2) untuk masing-masing harga A, ditunjukan dalam tabel 1-1 sebagai
berikut:
Tabel 1 1
Konstanta Cn untuk masing-masing An
An Co C1 C2
Ao 0.980321 -0.115661x10-1 0.17905 x10-2
A1 -0.414360 0.392799x10-2 0.237075 x10-5
A2 -0.564870 0.762080x10-2 -0.202070 x10-4
Telah diuraikan sebelumnya bahwa harga water-cut berubah sesuai dengan perubahan
tekanan alir dasar sumur pada suatu harga tekanan reservoir., maka perlu dibuat hubungan antara
tekanan alir dasar sumur dengan water cut. Hubungan ini dinyatakan sebagai Pwf/Pr terhadap
WC / (WC@PwfPr), dimana harga WC@PwfPr ditentukan dari simulator, untuk kelima harga
water cut. Analisa regresi terhadap titik-titik data menghasilkan persamaan sebagai berikut :
WC Pwf
P1 EXP( P2 ) (1-3)
WCPwf Pr Pr
dimana P1 dan P2 tergantung dari harga water cutnya,dari analisa regresi dapat diperoleh
hubungan sebagai berikut :
P1 = 1.606207 0.130447 ln (Water-cut) (1-4)
P2 = -0.517792 + 0.110604 ln (Water-cut) (1-5)
Dimana water-cut dinyatakan dalam persen (%)
Prosedur perhitungan kinerja aliran tiga fasa dari formasi kelubang sumur adalah sebagai berikut:
Langkah 1. Siapkan data penunjang yang meliputi :
- Tekanan reservoir / tekana stais sumur
- Tekanan alir dasar sumur
- Laju produksi minyak dan air
- Harga water cut berdasarkan uji produksi (%)
Langkah 2. Hitung WC@PwfPr dengan menggunakan persamaan (1-3) tersebut dapat
ditulis sebagai:
water cut
WCPwf
Pwf
P1 EXP ( P2 )
Pr
Dimana harga water cut adalah harga dari uji produksi sedangkan harga P1 dan
P2 dihitung dengan menggunakan persamaan (1-4) dan (1-5)
Langkah 3. Berdasarka harga WC@PwfPr, hitung konstanta Ao, A1 dan A2 dengan
menggunakan peramaan (1-2) dan tabel 1-1. harga konstanta ini tetap dan
digunakan dalam perhitungan kurva IPR.
Langkah 4. Berdasarkan data uji produksi, tentukan laju produksi cairan total maksimum,
dengan menggunakan persamaan (1-1) dan konstanta Ao, A1 dan A2 dari langkah
3, yaitu:
qo
qt max
Pwf Pwf 2
Ao A1 ( ) A2 ( )
Pr Pr
Langkah 5. Berdasarkan harga qtmax dari langkah 4, dapat dihitung laju produksi minyak
untuk berbagai harga tekanan alir dasar sumur .
Langkah 6. Laju produksi air untuk setiap water cut pada tekanan alir dasar sumur, dengan
qw = (WC/(100-WC)) qo
Persamaan IPR Wiggins
Metode Wiggins merupakan pengembangan dari metode Vogel yang dalam
pengembangannya Wiggins menyetarakan metode dua fasa dari Vogel dengan metode tiga fasa,
sehingga mendapatkan suatu metode tiga fasa yang lebih sederhana dari metode tiga fasa yang
sudah ada.
Dalam metode Wiggins (penyetaraan IPR tiga fasa) mengasumsikan bahwa setiap fase
dapat diperlakukan secara terpisah, sehingga antara rate minyak (Qo) dan rate air (Qw) dapat
dihitung sendiri-sendiri.
Bila dibandingkan penyetaraan IPR Wiggins dengan metode Brown dan Pudjo Sukarno
menghasilkan perkiraan rate produksi yang hampir sama (setara), hal ini menunjukan bahwa
hasil penyetaraan IPR tiga fasa Wiggins adalah benar.
Perbedaan maksimum dari perbandingan tersebut adalah sebesar 3.98 % untuk minyak
dan 7.08 % untuk fasa air.
Secara empiris Wiggins menyatakan bentuk dasar kurva IPR tiga fasa sebagai
berikut:
Untuk minyak:
Untuk air:
Dimana:
Qo = Laju Produksi, STB/D
Qmax = laju aliran maksimum pada saat Pwf = 0, STB/D
Pwf = tekanan alir dasar sumur, psi
Pr = tekanan statik dasar sumur, psi
Kurva IPR Aliran Tiga Fasa