UJIAN AKHIR PRAKTIKUM
FARMAKOTERAPI PENYAKIT RENAL, SARAF DAN KARDIOVASKULAR
2014/2015
TIPE A
1. Analisalah kasus dibawah ini dengan metode SOAP/FARM/PAM (bobot nilai 60):
Tn TS 46 tahun dengan berat badan 63 kg dan tinggi badan 168 cm. Masuk rumah sakit
dengan keluhan seluruh badan terasa lemah, pusing dan leher terasa kaku. Pasien juga
merasa sering kesemutan terutama saat bangun tidur di pagi hari. Pasien menderita
Hipertensi sejak 1 bulan yang lalu. Pasien telah mendapat terapi captopril 25 mg 3xsehari
dan spironolakton 100 mg/hari. Setelah dicek tekanan darahnya 190/115 mmHg. Hasil
pemeriksaan darah rutin: GDP 280 mg/dL, GD2JPP 352 mg/dL, kolesterol total 358
mg/dL, trigliserida 178 mg/dL. Renal Function Test (RFT) dan Liver Function Test
(LFT) dalam batas normal, asam urat baik.
2. JW, laki-laki berusia 65 tahun datang ke RS dengan keluhan dada terasa sesak dan
napasnya pendek. Dia mengatakan memiliki keluhan yang sama kemarin dan
berlangsung selama 20 menit. Pasien telah mendapat aspirin 325 mg, intranasal oksigen,
metroprolol tartrat IV, dan baru mulai mendapat infus NTG secara IV yang telah
dinaikkan menjadi 80 mcg/menit. Pada saat it tekanan darahnya 110/60 mmHg dan heart
rate 88. Hasil ECG terlihat ada segment depression in yhe anterior leads. Keluhan pasien
napas terasa pendek telah teratasi namun pasien masih mengeluh dada terasa sesak.
Riwayat pengobatan hipertensi dengan HCT 25 mg/hari. Pasien merokok 1 pak rokok
setiap harinya selama kurang lebih 30 tahun terakhir.
Hasil lab: Na 135 mEq/L
K 4 mEq/L
Cl 100 mEq/L
CO2 20 mEq/L
BUN 15 mg/dL
SCr 1,3 mg/dL
Glukosa 100 mg/Dl
CK-MB fraction 1% (normal 0%-5%)
Troponin I 0,5 ng/mL (normal <2)
Jawab pertanyaan di bawah ini (bobot nilai 40):
a. Berdasarkan dari gejala dan ECG, diduga diagnosanya unstable angina. Bagaimana
manajemen terapi untuk J.W., harus mendapatkan terapi invasive atau konservatif ?
b. Antikoagulan apa yang tepat untuk pasien?
c. Terapi oral antitrombotic apa yang tepat untuk pasien?
NB: SEMUA JAWABAN HARUS DISERTAI SUMBER/ DARIMANA INFORMASI
TERSEBUT DIPEROLEH. SERTA HALAMANNYA, JIKA TIDAK ADA MAKA NILAI
DIKURANGI SETENGAH.
UJIAN AKHIR PRAKTIKUM
FARMAKOTERAPI PENYAKIT RENAL, SARAF DAN KARDIOVASKULAR
2014/2015
TIPE B
1. L.M., pria 62 tahun, mengaku beberapa hari yang lalu mengalami gejala gagal jantung
yang melemahkan, progresif dan berat. Ayah dan kedua kakak laki-lakinya meninggal
akibat serangan jantung pada usia diatas 40 tahun. L.M. menderita HF sejak 5 tahun yang
lalu yang diterapi dengan Furosemide 40 mg/hari, Lisinopril 10/ hari, Carvediol 2x12,5
mg, Digoxin 1x0,125 mg, dan Spironolakton 25 mg tiap harinya. Hasil ECG terakhir
menunjukkan adanya EF 25%. Riwayat penyakit pasien ini adalah HTN, CAD, dan HF.
Selama beberapa minggu terakhir, pasien mengalami DOE (dyspnea on exertion) yang
bertambah parah dan hanya bisa di tempat tidur saja karena rasa lelah yang amat sangat.
Dia terbangun sekali sampai dua kali semalam dengan PND (paroxysmal nocturnal
dyspnea). Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan distensi vena jugular yang signifikan,
bilateral rales, hepatomegaly dan edema peripheral +3. Radiografi menunjukkan
kardiomegali dan kongesti pulmonary. TD pasien 154/100 mmHg dan nadi 105x/menit.
Hasil laboratorium: Serum Na 134 mg/dL
K 4,3 mg/dL
BUN 15 mg/dL
SCr 1,3 mg/dL
Glucose 90 mg/dL
BNP (B-type natriuretic peptide) 944 pg/mL(Normal <200 pg/mL)
Hemoglobin, hematocrit, troponin, dan enzim liver semua dalam keadaan normal. L.M
dirawat di RS dengan ADHF (acute decompensated heart failure).
Jawab pertanyaan di bawah ini (bobot nilai 40):
a. Bagaimana profil hemodinamik LM?
b. Apa goal terapetik untuk L.M?
c. Bagaimana tata laksana terapi untuk pasien ini?
2. Analisalah kasus dibawah ini dengan metode SOAP/FARM/PAM (bobot nilai 60):
Ny. RN 53 tahun dengan berat badan 55 kg dan tinggi badan 165 cm. Masuk rumah sakit
dengan keluhan seluruh badan terasa lemah, pusing dan leher terasa kaku. Pasien juga
merasa sering kesemutan terutama saat bangun tidur di pagi hari. Pasien menderita
Hipertensi sejak 1 bulan yang lalu. Pasien telah mendapat terapi captopril 25 mg 3xsehari
dan spironolakton 100 mg/hari. Setelah dicek tekanan darahnya 180/125 mmHg. Hasil
pemeriksaan darah rutin: GDP 215 mg/dL, GD2JPP 325 mg/dL, kolesterol total 338
mg/dL, trigliserida 188 mg/dL. Renal Function Test (RFT) dan Liver Function Test
(LFT) dalam batas normal, asam urat baik.
NB: SEMUA JAWABAN HARUS DISERTAI SUMBER/ DARIMANA INFORMASI
TERSEBUT DIPEROLEH. SERTA HALAMANNYA, JIKA TIDAK ADA MAKA NILAI
DIKURANGI SETENGAH.
UJIAN AKHIR PRAKTIKUM
FARMAKOTERAPI PENYAKIT RENAL, SARAF DAN KARDIOVASKULAR
2014/2015
TIPE C
1. Analisalah kasus dibawah ini dengan metode SOAP/FARM/PAM (bobot nilai 60):
R.R. laki-laki 52 tahun, 183 cm dan BB 85 kg. R.R. menderita HT selama 10 tahun.
Pasien ini belum mengalami kerusakan organ akibat hipertensi. Dia tidak memiliki
riwayat diabetes, dan tidak merokok. Pasien telah mendapat terapi HCTZ 25 mg/hari,
amlodipine 10 mg/hari, valsartan 320 mg/hari, dan carvedilol 12,5 mg 2x sehari selama 1
tahun. R.R mengatakan bahwa dia jarang lupa minum obat, mengukur TD di rumah
setiap hari, dan serajin mungkin mengikuti rekomendasi modifikasi lifestyle. Dia pernah
mencoba obat lain tapi mengalami intolerance (ramipril:angioedema;
doxazosin:dizziness, clonidine:dry mouth). TD pasien tidak pernah dibawah 140/90 mm
Hg, dimana it merupakan targetnya. Semua penyebab sekunder hipertensi telah
dikesampingkan. Pasien datang ke rumah sakit dengan TD 150/90 mm Hg (setelah
diulangi menjadi 152/92 mm Hg), denyut jantung 60x/menit, serum kalium 4,2 mEq/L,
dan serum kreatinin 1,0 mg/dL. Dokter menambahkan Spironolakton 25 mg/hari.
2. H.R. 29 tahun datang ke klinik dengan sejarah 5 bulan sakit kepala berdenyut sisi kiri
yang berulang setiap minggu. Sakit kepalanya diawali karena sensasi cahaya dan
berbentuk cahaya bilateral yang berkedip. Rasa nyeri tersebut selalu unilateral, dan
biasanya berhubungan dengan mual, muntah dan photophobia. Sakit kepala ini tidak
berkurang dengan 2 tablet aspirin 325 mg atau ibuprofen 200 mg, dan umumnya
berlangsung sepanjang hari kecuali ia mampu berbaring dan tidur di ruangan gelap. Sakit
kepala ini mengganggu pekerjaannya. H.R. tidak mampu mengidentifikasi faktor-faktor
eksternal yang memicu serangan migrain. Baik ibu dan nenek H.R. juga memiliki
masalah sakit kepala. Riwayat penyakit biasa-biasa saja, dan H.R menyangkal masalah
medis lainnya. Obat sekarang hanya analgesic OTC dan kontrasepsi oral, Ortho-Novum
7/7/7. Pemeriksaan fisik dan neurologis dalam batas normal.
Jawab pertanyaan di bawah ini (bobot nilai 40):
a. Menurut anda apa yang menyebabkan serangan sakit kepala H.R? bagaimana
pengatasannya?
b. Obat apa yang anda sarankan sebagai pilihan pertama?
c. Apa yang akan anda berikan jika H.R mengalami migraine hingga mual dan muntah?
NB: SEMUA JAWABAN HARUS DISERTAI SUMBER/ DARIMANA INFORMASI
TERSEBUT DIPEROLEH. SERTA HALAMANNYA, JIKA TIDAK ADA MAKA NILAI
DIKURANGI SETENGAH.
UJIAN AKHIR PRAKTIKUM
FARMAKOTERAPI PENYAKIT RENAL, SARAF DAN KARDIOVASKULAR
2014/2015
TIPE D
1. R.H. wanita muda 19 tahun dengan berat badan 64 kg, telah mengalami simple partial
seizure, complex partial seizure, dan secondarily generalized tonic-clonic seizure dalam
2 tahun terakhir. R.H. tidak bisa mentoleransi terapi dengan fenitoin atau valproat. Di
samping itu, baik fenitoin ataupun valproat juga tidak efektif menurunkan kejangnya.
R.H saat ini menerima Carbamazepine 600 mg 3xsehari. Selama 3 bulan terakhir, selama
diterapi dengan Carbamazepine, setidaknya R.H telah mengalami 5 simple partial
seizure, 3 complex partial seizure, dan 1 secondarily generalized tonic-clonic seizure. Ini
diperkirakan berkurang 30% frekuensi kejangnya. R.H dapat mentoleransi dosis
Carbamazepin tetapi telah mengalami rasa kantuk yang signifikan, inkoordinasi, dan
kebingungan pada dosis yang tinggi.
Jawab pertanyaan di bawah ini (bobot nilai 40):
a. Apa pilihan terapi yang tepat untuk R.H?
b. R.H. mendapatkan lamotrigin sebagai terapi adjunctive carbamazepine. Uraikan
rencana pengobatan dengan lamotrigin!
c. KIE apa yang akan anda sampaikan?
2. Analisalah kasus dibawah ini dengan metode SOAP/FARM/PAM (bobot nilai 60):
Ny. Et, 32 tahun dengan berat badan 62 kg dan tinggi 150 cm masuk rumah sakit dengan
keluhan mual, muntah, pusing, dan lemas. Pada pemeriksaan awal dijumpai edema
anasarka. Tekanan darahnya 210/120 mm Hg, temperatur normal. Dari pengakuan
keluarga sudah dua hari terakhir Ny. Et minum obat tidak teratur. Adapun obat yang
terakhir diminum adalah Captopril 3x12,5 mg. Hasil pemeriksaan lab adalah sebagai
berikut: Cr 14,5 mg/dL; BUN 153 mg/dL; Na 143 meq/L; K 4,1 meq/L; Ca 2,0 meq/L.
terapi yang diberikan adalah Captopril 3x 25 mg, Furosemide 3x40 mg, Primperan 3x1
ampul iv. Berikut hasil pemantauan tanda vital dan kondisi klinik selama 3 hari pertama:
Parameter 19/4 20/4 21/4
BP (mm Hg) 210/120 190/100 200/110
BB (kg) 62 63 62
Mual ++ + -
Muntah ++ + -
NB: SEMUA JAWABAN HARUS DISERTAI SUMBER/ DARIMANA INFORMASI
TERSEBUT DIPEROLEH. SERTA HALAMANNYA, JIKA TIDAK ADA MAKA NILAI
DIKURANGI SETENGAH.
UJIAN AKHIR PRAKTIKUM
FARMAKOTERAPI PENYAKIT RENAL, SARAF DAN KARDIOVASKULAR
2014/2015
TIPE E
1. Analisalah kasus dibawah ini dengan metode SOAP/FARM/PAM (bobot nilai 60):
Tn Ty, 35 tahun dengan berat badan 62 kg dan tinggi 150 cm masuk rumah sakit dengan
keluhan mual, muntah, pusing, dan lemas. Pada pemeriksaan awal dijumpai edema
anasarka. Tekanan darahnya 220/110 mm Hg, temperatur normal. Dari pengakuan
keluarga sudah dua hari terakhir Ny. Et minum obat tidak teratur. Adapun obat yang
terakhir diminum adalah Captopril 3x12,5 mg. Hasil pemeriksaan lab adalah sebagai
berikut: Cr 14,5 mg/dL; BUN 153 mg/dL; Na 143 meq/L; K 4,1 meq/L; Ca 2,0 meq/L.
terapi yang diberikan adalah Captopril 3x 25 mg, Furosemide 3x40 mg, Primperan 3x1
ampul iv. Berikut hasil pemantauan tanda vital dan kondisi klinik selama 3 hari pertama:
Parameter 22/4 23/4 24/4
TD (mm Hg) 220/110 190/100 200/110
BB (kg) 62 63 62
Mual ++ + -
Muntah ++ + -
2. G.B. wanita 44 tahun dengan riwayat menderita DM tipe 2 selama 20 tahun. G.B datang
ke klinik diabetes untuk checkup triwulanan (tiap 3 bulan). Kadar gula darahnya
umumnya diatas 200 mg/dL pada evaluasi sebelumnya, dengan nilai HBA1c 10,1%
(normal <7%) 2 bulan yang lalu. Belakangan ini, G.B mengeluh mual, lemas, dan nafsu
makan menurun. G.B. selama 6 bulan terakhir ini mendapat terapi peptic ulcer disease.
Hasil laboratorium: Serum Na 143 mEq/L Serum Phospat 6,6 mg/dL
Calcium 8,8 mg/dL Hematokrit 28%
Albumin 3,6 mg/dL Hemoglobin 9,3 g/dL
Magnesium 2,8 mEq/L WBC 9600/L
Uric acid 8,8 mg/dL Platelet 155000/L
Kalium 5,3 mEq/L BUN 63 mg/dL
GDA 289 mg/dL Klorida 106 mEq/L
CO2 18 mEq/L Scr 2,9 mg/dL
Hasil pemeriksaan fisik: TD 160/102 mmHg, pedal edema 2+, dan kongesti pulmonary
sedang, dan berat badan bertambah 10 pound. RBC pasien normal, urinalisanya
menunjukkan proteinuria +4, kemudian dihitung sebagai albumin urin 700 mg/24 jam.
Jawab pertanyaan di bawah ini (bobot nilai 40):
a. Data subyektif dan obyektif apa dari pasien G.B. yang sesuai dengan diagnosis
penyakit ginjal? (untuk data lab beri nilai normalnya)
b. Menurut anda apa yang menyebabkan penyakit ginjal pada pasien? Jelaskan!
c. Bagaimana seharusnya terapi untuk penyakit ginjal pasien?
NB: SEMUA JAWABAN HARUS DISERTAI SUMBER/ DARIMANA INFORMASI
TERSEBUT DIPEROLEH. SERTA HALAMANNYA, JIKA TIDAK ADA MAKA NILAI
DIKURANGI SETENGAH.
UJIAN AKHIR PRAKTIKUM
FARMAKOTERAPI PENYAKIT RENAL, SARAF DAN KARDIOVASKULAR
2014/2015
TIPE F
1. G.B. wanita 44 tahun dengan riwayat menderita DM tipe 2 selama 20 tahun. G.B datang
ke klinik diabetes untuk checkup triwulanan (tiap 3 bulan). Kadar gula darahnya
umumnya diatas 200 mg/dL pada evaluasi sebelumnya, dengan nilai HBA1c 10,1%
(normal <7%) 2 bulan yang lalu. Belakangan ini, G.B mengeluh mual, lemas, dan nafsu
makan menurun. G.B. selama 6 bulan terakhir ini mendapat terapi peptic ulcer disease.
Hasil laboratorium: Serum Na 143 mEq/L Serum Phospat 6,6 mg/dL
Calcium 8,8 mg/dL Hematokrit 28%
Albumin 3,6 mg/dL Hemoglobin 9,3 g/dL
Magnesium 2,8 mEq/L WBC 9600/L
Uric acid 8,8 mg/dL Platelet 155000/L
Kalium 5,3 mEq/L BUN 63 mg/dL
GDA 289 mg/dL Klorida 106 mEq/L
CO2 18 mEq/L Scr 2,9 mg/dL
Hasil pemeriksaan fisik: TD 160/102 mmHg, pedal edema 2+, dan kongesti pulmonary
sedang, dan berat badan bertambah 10 pound. RBC pasien normal, urinalisanya
menunjukkan proteinuria +4, kemudian dihitung sebagai albumin urin 700 mg/24 jam.
Jawab pertanyaan di bawah ini (bobot nilai 40):
a. Jelaskan mekanisme ketidakseimbangan kalium yang terjadi pada pasien dengan
progresif CKD?
b. Apakah pasien mengalami anemia? Tunjukkan data yang mendukung jawaban anda!
c. Bagaimana goal terapi anemia pada pasien CKD dan apa pilihan terapinya?
2. Analisalah kasus dibawah ini dengan metode SOAP/FARM/PAM (bobot nilai 60):
Ny. Tg 47 tahun, BB 60 kg, TB 155 cm, masuk rumah sakit dengan keluhan mual,
muntah, pusing. Mengaku memiliki riwayat DM dengan terapi Glibenklamide 1-1/2-0,
Metformin 2x850 mg. pasien juga mengaku tidak meminum obat secara rutin, karena diet
sudah ketat. Selanjutnya pasien didiagnosis dengan hipertensi maligna disertai DM. Pada
pemeriksaan awal dijumpai GDA 578 mg/dL, TD 170/110 mmHg. Bagaimana
penatalaksanaannya?
NB: SEMUA JAWABAN HARUS DISERTAI SUMBER/ DARIMANA INFORMASI
TERSEBUT DIPEROLEH. SERTA HALAMANNYA, JIKA TIDAK ADA MAKA NILAI
DIKURANGI SETENGAH.
UJIAN AKHIR PRAKTIKUM
FARMAKOTERAPI PENYAKIT RENAL, SARAF DAN KARDIOVASKULAR
2014/2015
TIPE G
1. Analisalah kasus dibawah ini dengan metode SOAP/FARM/PAM (bobot nilai 60):
Tn. S. 62 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan lemah tangan dan kaki kiri, tidak bisa
bicara sejak 7 jam yang lalu. Istri mengaku bahwa Tn. S memiliki riwayat sakit jantung
dan obat yang terakhir diminum adalah Digoxin 1x250 ug, Noperten 1x10 mg,
Amlodipin 1x5 mg, Q-ten 1x1 tab. Didukung hasil CT-scan Tn. S didiagnosa dengan
Ischemic Stroke Embolik. Selanjutnya pasien diterapi dengan Enoxaparin 2x0,4 U s.c.;
Brainact 3x500 mg; Plavix 1x75 mg; Neurobion injeksi 1x1 i.m. pada hari ketiga muncul
komplikasi berupa kejang dan sesak napas yang disertai panas tinggi hingga 38,2 0C. TD
yang semula 170/90 mmHg pada saat masuk kini turun menjadi 100/70 mmHg. Pasien
didiagnosa sebagai suspect pneumonia. Hasil lab sebagai berikut: Leukosit 17000/mm3;
Cr 2,3 mg/dL; BUN 20 mg/dL. Bagaimana pharm care pada kasus ini?
2. H.B laki-laki 65 tahun dengan CKD stage V yang baru memulai HD kronik. Dia datang
ke rumah sakit hari ini untuk HD sesi ke 3 (jadwal dialysis 3xseminggu, durasi 4 jam).
Pasien memiliki riwayat HT, yang tidak terkontrol selama 4 bulan terakhir (TD rata-rata
150-190/85-105 mmHg), dan memiliki riwayat sesak nafas dan peningkatan berat badan
yang signifikan bulan lalu. Riwayat pengobatannya meliputi HT 14 tahun terakhir. Obat
yang digunakan sekarang Metoprolol tartrat 2x50 mg, Furosemide 2x80 mg, Calcium
carbonate 3x500 mg bersama makanan, dan Nephrocaps 1 setiap harinya. TD sebelum
dialysis 175/98 mmHg dan TD setelah dialysis 158/90 mmHg. Hasil ECG menunjukkan
adanya LVH (left ventricular hypertrophy).
Hasil laboratorium sebelum dialisis:
Serum Na 140 mEq/L calcium 8,6 mg/dl
K 5,1 mEq/L albumin 3.0 g/dl
Cl 101 mEq/L kolesterol 345 mg/dl
CO2 23 mEq/L trigliserida 285 mg/dl
SCr 8,8 mg/dl ferritin 250 ng/ml
BUN 84 mg/dl Hct 27%
Phosphate 6,5 mg/dl HGB 9,0 g/dl
Urine pasien sebanyak 50 ml setiap harinya.
Jawab pertanyaan di bawah ini (bobot nilai 40):
a. Apa kondisi dari pasien yang dapat menempatkan H.B mengalami peningkatan resiko
komplikasi kardiovaskular dan kematian?
b. Terapi hipertensi apa yang paling tepat untuk pasien dan berapa target TD nya?
c. Terapi apa yang tepat untuk kadar lemak yang abnormal pada pasien?
NB: SEMUA JAWABAN HARUS DISERTAI SUMBER/ DARIMANA INFORMASI
TERSEBUT DIPEROLEH. SERTA HALAMANNYA, JIKA TIDAK ADA MAKA NILAI
DIKURANGI SETENGAH.
UJIAN AKHIR PRAKTIKUM
FARMAKOTERAPI PENYAKIT RENAL, SARAF DAN KARDIOVASKULAR
2014/2015
TIPE H
1. Analisalah kasus dibawah ini dengan metode SOAP/FARM/PAM (bobot nilai 60):
Tn Wn 49 tahun, BB 65 kg, TB 160 cm, masuk rumah sakit dengan keluhan mual,
muntah, pusing. Mengaku memiliki riwayat DM dengan terapi glibenklamide 1-1/2-0,
metformin 2x850 mg. pasien juga mengaku tidak meminum obat secara rutin, karena diet
sudah ketat. Selanjutnya pasien didiagnosis dengan hipertensi maligna disertai DM. Pada
pemeriksaan awal dijumpai GDA 578 mg/dL, TD 170/110 mmHg. Bagaimana
penatalaksanaannya?
2. J.S. laki-laki 68 tahun dengan STEMI (ST segmen elevation MI) dengan tanda-tanda dan
gejala gagal jantung. Riwayat pengobatan HT dengan HCT 25 mg/hari, dan DM dengan
glipizide 5 mg/hari. J.S. merokok 1 pak/ hari selama 40 tahun terakhir. Pada saat masuk,
TD 145/86 mmHg dan nadi 90x/menit.
Hasil laboratorium: Na 139 mEq/L SCr 1,3 mg/dL
K 4,2 mEq/L Glukosa 130 mg/dL
Cl 100 mEq/L HBA1c 6,9%
CO2 20 mEq/L Mg 2 mEq/L
BUN 15 mg/Dl CK-MB franction 35% (N=0-5%)
Troponin I 10 ng/mL (N=<2)
J.S. mendapatkan aspirin 325 mg, clopidogrel 300 mg. infus NTG IV, continuous
infusion UFH (unfractionated heparin), dan oksigen intranasal. Setelah menstabilisasi
gejala gagal jantungnya, J.S mendapat metoprolol tartrat oral 25 mg tiap 6 jam. ECG
dilakukan saat EF (ejection franction) 35% dan munculnya thrombus di ventrikel kiri.
Jawab pertanyaan di bawah ini (bobot nilai 40):
a. Apakah ACEI tepat untuk J.S? Jelaskan!
b. Kapan saat yang tepat pemakaian ARB?
c. Apakah J.S harus mendapat aldosterone antagonist? Jelaskan!
d. Berapa lama J.S harus melanjutkan penggunaan clopidogrel dan aspirin?
NB: SEMUA JAWABAN HARUS DISERTAI SUMBER/ DARIMANA INFORMASI
TERSEBUT DIPEROLEH. SERTA HALAMANNYA, JIKA TIDAK ADA MAKA NILAI
DIKURANGI SETENGAH.
UJIAN AKHIR PRAKTIKUM
FARMAKOTERAPI PENYAKIT RENAL, SARAF DAN KARDIOVASKULAR
2014/2015
TIPE I
1. T.A., wanita premenopause berusia 43 tahun, pada evaluasi kesehatan terlihat
ketidaknormalan kadar lipid. Dia tidak pernah mengambil obat penurun kolesterol dan
saat ini hanya mengkonsumsi multivitamin setiap hari. Dia tidak memiliki gejala koroner,
karotis, atau penyakit pembuluh darah perifer. Dia memiliki sejarah merokok dan
olahraga empat kali seminggu, tanpa keterbatasan fisik. T.A. menyatakan bahwa ia
mengikuti diet rendah lemak dan rendah kolesterol. Ayahnya masih hidup dan sehat pada
usia 71, dengan tingkat kolesterol normal. Ibunya memiliki MI pada usia 47 dan
meninggal diusia 57 pada serangan kedua. Kakeknya meninggal karena MI pada usia 52;
saudara perempuan memiliki hiperkolesterolemia dan mengkonsumsi simvastatin.
Pemeriksaan fisik BB 125 pound; TB 63 inci; TD 120/82 mmHg; Nadi 66 x / menit dan
teratur; nadi karotis simetris bilateral tanpa bising; tidak ada massa leher; dan tidak ada
bising pada rongga perut.
Hasil laboratorium:
Total cholesterol, 290 mg/dL TG, 55 mg/dL
HDL-C, 55 mg/dL LDL-C, 224 mg/dL
NonHDL-C, 235 mg/dL Plasma glucose, 96 mg/dL
Thyroid-stimulating hormone (TSH), 0.92 international units/mL
Alanine aminotransferase (ALT), 11 units/L Aspartate aminotransferase (AST), 8 units/L
Blood urea nitrogen, 12 mg/dL Creatinine, 1.0 mg/dL
Urinalysis, negative
Jawab pertanyaan di bawah ini (bobot nilai 40):
a. Perubahan gaya hidup apa yang anda sarankan pada pasien?
b. Apakah T.A memiliki resiko CHD (coronary heart disease)? Jelaskan!
c. Apa terapi yang tepat untuk pasien?
2. Analisalah kasus dibawah ini dengan metode SOAP/FARM/PAM (bobot nilai 60):
Ny. Pr 62 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan lemah tangan dan kaki kiri, tidak bisa
bicara sejak 7 jam yang lalu. Istri mengaku bahwa Ny. Pr memiliki riwayat sakit jantung
dan obat yang terakhir diminum adalah Digoxin 1x250 ug, Noperten 1x10 mg,
Amlodipin 1x5 mg, Q-ten 1x1 tab. Didukung hasil CT-scan Ny Pr didiagnosa dengan
Ischemic Stroke Embolik. Selanjutnya pasien diterapi dengan Enoxaparin 2x0,4 U s.c.;
Brainact 3x500 mg; Plavix 1x75 mg; Neurobion injeksi 1x1 i.m. pada hari ketiga muncul
komplikasi berupa kejang dan sesak napas yang disertai panas tinggi hingga 38,2 0C. TD
yang semula 170/90 mmHg pada saat masuk kini turun menjadi 100/70 mmHg. Pasien
didiagnosa sebagai suspect pneumonia. Hasil lab sebagai berikut: Leukosit 17000/mm3;
Cr 2,3 mg/dL; BUN 20 mg/dL. Bagaimana pharm care pada kasus ini?
NB: SEMUA JAWABAN HARUS DISERTAI SUMBER/ DARIMANA
INFORMASI TERSEBUT DIPEROLEH. SERTA HALAMANNYA, JIKA TIDAK
ADA MAKA NILAI DIKURANGI SETENGAH.
UJIAN AKHIR PRAKTIKUM
FARMAKOTERAPI PENYAKIT RENAL, SARAF DAN KARDIOVASKULAR
2014/2015
TIPE J
1. M.M laki-laki 60 tahun dengan sejarah panjang HF, hipertensi tidak terkontrol yang
disebabkan ketidakpatuhan dan riwayat MI. Dia dirujuk ke klinik pagi ini akibat
tingginya tekanan darah pasien. Pasien tidak mengkonsumsi captopril, carvedilol, atau
hydrochlorothiazide selama 7 hari terakhir. M.M. benar-benar tidak menampakkkan
gejala. Pemeriksaan fisik hasilnya TD 180/120 mm Hg dan nadi 92 kali / menit.
Pemeriksaan funduskopi ini relevan untuk penyempitan arteriolar ringan, tanpa
pendarahan atau eksudat. Paru-parunya yang jelas, dan pemeriksaan jantungnya biasa-
biasa saja. ECG menunjukkan irama sinus normal pada tingkat 90 denyut /menit dengan
tingkat pertama blok atrioventrikular. Dari pemeriksaan radiografi terlihat adanya
kardiomegali ringan. Serum elektrolit, BUN, dan serum kreatinin berada dalam batas
normal. Dari tes urine tampak adanya proteinuria 2 +.
Jawab pertanyaan di bawah ini (bobot nilai 40):
a. Apa tujuan terapi pengobatan M.M.?
b. Seberapa cepat TD harus diturunkan, dan apa pilihan terapi yang tersedia?
c. Berapa dosis awal dan dosis maintenance yang tepat untuk pasien?
2. Analisalah kasus dibawah ini dengan metode SOAP/FARM/PAM (bobot nilai 60):
Ny Kl. 65 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan lemah tangan dan kaki kiri, tidak
bisa bicara sejak 7 jam yang lalu. Suami mengaku bahwa [Link] memiliki riwayat sakit
jantung dan obat yang terakhir diminum adalah Digoxin 1x250 ug, Noperten 1x10 mg,
Amlodipin 1x5 mg, Q-ten 1x1 tab. Didukung hasil CT-scan [Link] didiagnosa dengan
Ischemic Stroke Embolik. Selanjutnya pasien diterapi dengan Enoxaparin 2x0,4 U s.c.;
Brainact 3x500 mg; Plavix 1x75 mg; Neurobion injeksi 1x1 i.m. pada hari ketiga muncul
komplikasi berupa kejang dan sesak napas yang disertai panas tinggi hingga 38,2 0C. TD
yang semula 170/90 mmHg pada saat masuk kini turun menjadi 100/70 mmHg. Pasien
didiagnosa sebagai suspect pneumonia. Hasil lab sebagai berikut: Leukosit 17000/mm3;
Cr 2,3 mg/dL; BUN 20 mg/dL. Bagaimana pharm care pada kasus ini?
NB: SEMUA JAWABAN HARUS DISERTAI SUMBER/ DARIMANA INFORMASI
TERSEBUT DIPEROLEH. SERTA HALAMANNYA, JIKA TIDAK ADA MAKA NILAI
DIKURANGI SETENGAH.
UNTUK MENYELESAIKAN SOAL KASUS DENGAN METODE SOAP/PAM/FARM
PELAYANAN KEFARMASIAN
-Data diri pasien
-Riwayat penyakit
-Riwayat obat
DENGAN SOAP
-SUBYEKTIF : data yang bersumber dari pasien, atau keluarganya, atau orang lain
-OBYEKTIF : data yang bersumber dari hasil observasi, pengukuran yang dilakukan oleh
profesi kesehatan lain seperti TD, hasil lab, hasil pemeriksaan USG, dll.
-ASSESSMENT/EVALUASI
SUBYEKTIF OBYEKTIF PROBLEM TERAPI (terapi untuk PROBLEM
(data subyektif (data obyektif MEDIK problem medic) TERKAIT
yang yang (problem yg OBAT
mendukung mendukung diderita (problem yang
problem problem pasien) terkait dengan
medic) medic) terapi dan
problem medic)
Mual,nyeri saat CrCl 18 ISK 1. Kotrimoksazol 1. AB
urinasi ml/min DM tidak adekuat
Suhu 380C GGK karena terapi
ISK pada DM
dan GGK harus
agresif
2. Primperan 3x1 2. ROTD
amp potensial:EPS
3. Antasida 3. Awasi
tanda
alumunium
toksisitas
-PLAN: berisi rekomendasi terapi, rencana monitoring dan rencana konseling