A.
Definisi
Sindrom gangguan pernapasan ialah kumpulan gejala yang terdiri dari: dispnea (sesak
napas), hiperpnea (pernapasan yang cepat dan dalam), dengan frekwensi pernapasan lebih
dari 60 x/menit, sianosis, rintihan pada ekspirasi dan kelainan otot-otot pernapasan pada
inspirasi. Dan syndrome distress pernapasan adalah perkembangan yang imatur pada sistem
pernapasan atau tidak adekuatnya jumlah surfaktan dalam paru. RDS dikatakan sebagai
Hyaline Membrane Disease.
B. Klasifikasi
Frekuensi Nafas Merintih saat ekspirasi klasifikasi
(pernafasan/menit) Retraksi dinding dada
60-90 - Ringan
60-90 + Sedang
>90 - Sedang
>90 + Berat
Setelah menajemen umum, segera dilakukan menajemen lanjut sesuai dengan
kemungkinan penyebab dan jenis atau derajat gangguan nafas. Menajemen spesifik atau
menajemen lanjut:
a. Gangguan nafas ringan
Beberapa bayi cukup bulan yang mengalami gangguan nafas ringan pada waktu
lahir tanpa gejala-gejala lain disebut Transient Tacypnea of the Newborn
(TTN). Terutama terjadi setelah bedah sesar. Biasanya kondisi tersebut akan
membaik dan sembuh sendiri tanpa pengobatan meskipun demikian, pada
beberapa kasus. Gangguan napas ringan merupakan tanda awal dari infeksi
sistemik.
b. Gangguan nafas sedang
Lakukan pemberian O2 2-3 liter menit dengan kateter nasal, bila masih sesak
dapat diberikan o2 4-5 litermenit dengan sungkup. Bayi jangan diberi minum.
Jika ada tanda berikut, berikan antibiotika (ampisilin dan gentamisin) untuk terapi
kemungkinan besar sepsis
o Suhu aksiler <>39C
o Air ketuban bercampur mekonium
o Riwayat infeksi intrauterine, demam curiga infeksi berat atau ketuban
pecah dini (> 18 jam)
Bila suhu aksiler 34-36,5 C atau 37,5-39C tangani untuk masalah suhu
abnormal dan nilai ulang setelah 2 jam.
Bila suhu masih belum stabil atau gangguan nafas belum ada perbaikan,
berikan antibiotika untuk terapi kemungkinan besar seposis. Jika suhu normal,
teruskan amati bayi. Apabila suhu kembali abnormal ulangi tahapan tersebut
diatas. Bila tidak ada tanda-tanda kearah sepsis, nilai kembali bayi setelah 2
jam.
Apabila bayi tidak menunjukkan perbaikan atau tanda-tanda perburukan
setelah jam, terapi untuk kemungkinan besar sepsis. Bila bayi mulai
menunjukkan tanda-tanda perbaikan kurangi terapi o2 secara bertahap. Pasang
pipa lambung, berikan ASI peras setiap 2 jam. Jika tidak dapat menyusu,
berikan ASI peras dengan memakai salah satu cara pemberian minum.
Amati bayi selama 24jam setelah pemberian antibiotic dihentikan. Bila
bayi kembali tampak kemerahan tanpa pemberian O2 selama 3 hari, minum
baik dan taka da alasan bayi tatap tinggal di Rumah sakit bayi dapat
dipulangkan.
c. Gangguan nafas berat
Amati pernafasan bayi setiap 2 jam selama 6 jam berikutnya. Bila dalam
pengamatan gangguan nafas memburuk atau timbul gejala sepsis lainnya. terapi
untuk kemungkinan kesar sepsis dan tangani gangguan nafas sedang dan segera
dirujuk dirumah sakit rujukan. Berikan ASI bila bayi mampu mengisap. Bila tidak
berikan ASI peras dengan menggunakan salah satu cara alternative pemberian
minuman. Kurangi pemberian O2 secara bertahap bila ada perbaikan gangguan
napas. Hentikan pemberian O2 jika frekuensi napas antara 30-60 kali/menit.
C. Tanda dan Gejala
Sering disertai riwayat asfiksia pada waktu lahir atau tanda gawat janin pada akhir
kehamilan, tanda dan gejalanya sebagai berikut pernapasan cepat sesak napas/pernapasan
cepat, frekuensi pernapasan lebih dari 60 x/menit, pernapasan cepat dan dangkal timbul
setelah 6-8 jam setelah lahir; retaksi intercostal, epigastrium, atau suprasternal pada inspirasi;
sianosis dan cuping hidung; gunting pada ekspirasi (terdengan seperti suara rintihan pada saat
ekspirasi); takikardia (170 x/menit).
Obstruksi saluran pernapasan bagian atas: atresia esophagus, atresia koana bilateral.
Kelainan parenkim paru, penyakit membran hialin, dan perdarahan paru.
Kelaian diluar paru pnemotorak, hernia diafragmatika.
Kelainan lain diluar paru, asidosis hipoglikemi, perdarahan.
D. Patofisiologi
Sindrom gawat napas akibat imaturitas anatomi paru-paru dan kekurangan surfaktan.
Sintesa surfaktan paru-paru pada pneumocytes tipe II, dimulai pada usia kehamilan 24-28
minggu dan secara berangsur-angsur meningkat sampai usia kehamilan aterm. Surfaktan
paru-paru menurunkan tegangan permukaan dalam alveolu selama ekspirasi, yang
memungkinkan alveolus sebagai tetap mengembang, yang dapat mempertahankan kapasitas
residual fungsional.
Pada bayi prematur, tidak adanya surfaktan menyebabkan compliance paru-paru buruk,
yang disebut atelectasis, penurunan pertukaran gas dan hipoksia berat. Bayi premature harus
berusaha dengan kuat untuk dapat mengembangkan paru-paru mereka setiap kali bernapas
dan pada akhirnya dapat terjadi gagal napas. Kurangnya surfaktan dan akibat compliance
(pengembangan paru-paru yang buruk menyebabkan debris atau sel-sel mati yang terdiri dari
sel yang rusak atau terkelupas, nekrosis eksudatif, dan bocornya protein yang melapisi
alveolar.
Penyakit membrane hialin ini dapat terlihat pada kondisi lain seperti Meconium
Aspiration Syndrome (MAS), Brochopulmonary Dyslasia (BPD) dan pneumonia neonatus.
Selain itu, membrane hialin seringkali tidak ada pada bayi dengan RDS yang meninggal pada
usia kurang dari 4 jam (sekitar 4 jam pernapasan biasanya diperlukan bagi membrane hialin
yang dapat diidentifikasi dengan patologis terbentuk). Perbedaan antara gambaran klinis dan
patologis telah menimbulkan penggunaan istilah respiratory distress syndrome (RDS), selain
istilah hyaline membrane disease (HMD). Membrane hialin bisa berbentuk dalam respon
dengan perdarahan paru-paru, edema paru-paru, dan berbagai macam zat iritan pada ujung
jalan napas, kantung alveolar dan alveoli.
Bayi premature lahir dengan kondisi paru yang belum siap sepenuhnya untuk berfungsi
sebagai organ pertukaran gas yang efektif. Hal ini merupakan faktor kritis dalam terjadinya
RDS. Ketidak siapan paru menjalankan fungsinya tersebut terutama disebabkan oleh
kekurangan atau tidak adanya surfaktan. Surfaktan adalah substansi yang merendahkan
tergangan permukaan alveolus sehingga tidak terjadi kolaps pada akhir ekspirasi dan mampu
menahan sisa udara fungsional (kapasitas residu fungsional).
Surfaktan menyebabkan ekspansi yang merata juga menjaga ekspansi paru pada tekanan
intraalveolar yang rendah. Kekurangan atau ketidak matangan fungsi surfaktan menimbulkan
ketidak seimbangan inflasi saat inspirasi dan kolaps alveoli saat ekspirasi atau daya
berkembang paru kurang. Tanpa surfaktan janin tidak dapat menjaga parunya pada setiap
hembusan napas (ekspirasi) sehingga untuk pernapasan berikutnya dibutuhkan tekanan
negatif intratoraks yang lebih besar dengan disertai usaha inspirasi yang lebih kuat.
Akibatnya, setiap bernapas menjadi sukar seperti saat pertama kali bernapas (saat kelahiran).
Sebagai akibatnya janin lebih banyak menghabiskan oksigen untuk menghasilkan energi dari
pada yang ia terima dan ini menyebabkan bayi kelelahan. Dengan meningkatnya kelelahan,
bayi akan semakin sedikit membuka alveolinya. Ketidak mampuan mempertahankan
pengembangan paru ini dapat menyebabkan atelectasis.
Tidak adanya stabilitas dan atelectasis akan meninggalkan pulmonary vascular resistance
(PVR) yang nilainya menurun pada ekspansi paru normal. Akibatnya terjadi hipoperfusi
jaringan paru dan selanjutnya menurunkan aliran darah ke pulmonal. Disamping itu,
peningkatan PVR juga menyebabkan pembalikan parsial sirkulasi darah janin dengan arah
aliran dari kanan kekiri melalui duktus arteriosus dan foramesn ovale. Kolaps paru
(atelectasis) akan menyebabkan gangguan ventilasi vulmonal yang menimbulkan hipoksia.
Akibat dari hipoksia adalah konstriksi vaskularisasi pulmonal yang menimbulkan penurunan
oksigenasi jantung dan selanjutnya menyebabkan metabolism anaerobic.
PATHWAY
Bayi lahir premature
RDS
Inadekuat surfaktan
Lapisan lemak belum terbentuk
Pada kulit
Alveolus kolaps Krisis situasi,
Pengobatan,
RESIKO GANGGUAN Perubahan status
TER- Kesehatan, takut mati,
MORE efek hipoksemia.
GULASI:HIPOTERMIA
Ventilasi berkurang
Kurang informasi,
Salah persepsi dan
Informasi
Peningkatan Usaha napas
DEFISIENSI
PENGETAHUAN
Takipnea
POLA NAPAS TIDAK EFEKTIF
Reflek hisap menurun
Penguapan meningkat
Intake tidak adekuat
RESIKO KEKU
RANGAN VOL
KEKURANGAN NUTRISI CAIRAN
E. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan AGD didapat adanya hipoksemia kemudian hiperkapni dengan asidosis
respiratorik.
2. Pemeriksaan radiologis, mula-mula tidak ada kelainan jelas pada foto dada, setelah
12-24 jam akan tampak infiltrate alveolar tanpa batas yang tegas diseluruh paru.
3. Biopsy paru, terdapat adanya pengumpulan granulosit secara abnormal dalam
parenkim paru.
F. Penatalksanaan Medis
1. Memberikan lingkungan yang optimal. Suhu tubuh bayi harus selalu diusahakan agar
tetap dalam batas normal (36,5o-37oC) dengan cara meletakkan bayi dalam
incubator. Kelembapan ruangan juga harus adekuat.
2. Pemberian oksigen. Pemberian oksigen harus dilakukan dengan hati-hati karena
berpengaruh kompleks pada bayi premature. Pemberian oksigen yang terlalu banyak
dapat menimbulkan komplikasi seperti fibrosis paru, dan kerusakan retrina. Untuk
mencegah timbulnya komplikasi pemberian oksigen sebaiknya diikuti dengan
pemeriksaan analisa gas darah arteri. Bila fasilitas untuk pemeriksaan analisis gas
darah arteri tidak ada, maka oksigen diberikan dengan konsentrasi tidak lebih dari
40% sampai gejala sianosis menghilang.
3. Pemberian cairan dan elektrolit sangat perlu untuk memperthankan homeostasis dan
menghindarkan dehidrasi. Pada permulaan diberikan glukosa 5-10% dengan jumlah
yang disesuaikan dengan umur dan berat badan ialah 60-125 ml/kgBB/hari. Asidosis
metabolic yang selalu dijumpai harus segera dikoreksi dengan memberikan NaHCO3
secara intravena yang berguna untuk mempertahankan agar pH darah 7,35-7,45. Bila
tidak ada fasilitas untuk pemeriksaan analisis gas darah, NaHCO3 dapat diberi
langsung melalui tetesan dengan menggunakan campuran larutan glukosa 5-10% dan
NaHCO3 1,5% dalam perbandingan 4:1
4. Pemberian antibiotic. Bayi dengan PMH perlu mendapat antibiotic untuk mencegah
infeksi sekunder. Dapat diberikan penisilin dengan dosis 50.000-100.000
U/kgBB/hari atau ampisilin 100 mg/kgBB/hari, dengan atau tanpa gentamisin 3-5
mg/kgBB/hari.
5. Kemajuan terakhir dalam pengobatan pasien PMH adalah pemberian surfaktan
eksogen (surfaktan dari luar).
G. PENGKAJIAN
a. Data Pasien
Distress pernapasan pada bayi baru lahir dapat disebabkan oleh defisiensi
surfaktan, tidak lancarnya absorpsi cairan paru (takipnea transien pada bayi baru
lahir), aspirasi mekonium, pneumonia bakteri atau virus, sepsis, obstruksi
mekanis, atau hipotermia. Bagian ini hanya terlihat sebagai jenis distress
pernapasan yang disebabkan oleh defisiensi surfaktan, atau sindrom distress
pernapasan (Respiratory Distress Syndrome [RDS]). RDS adalah penyakit paru
yang akut dan berat, terutama menyerang bayi-bayi preterm, hal ini dapat terlihat
pada 3% sampai 5% bayi-bayi cukup bulan.
b. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan Utama :
Pasien RDS didapatkan keluhan seperti sesak, pernapasan cuping hidung,
lemah, lesu, apneu, tidak responsive, penurunan bunyi napas.
2. Riwayat penyakit sekarang
Pada pasien RDS, biasanya akan diawali dengan tanda-tanda mudah letih,
dispnea, sianosis, bradikardi, hipotensi, hipotermi, tonus otot menurun, edema
terutama terutama didaerah dorsal tangan atau kaki, retraksi supersentral/
epigastrik/ intercostal, grunting expirasi. Perlu juga ditanyakan mulai kapan
keluhan itu muncul. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkan
atau menghilangkan keluhan-keluhan tersebut.
3. Riwayat penyakit dahulu
a. Riwayat alergi dalam keluarga, gangguan genetic.
b. Riwayat pasien tentang disfungsi pernapasan sebelumnya; bukti terbaru
penularan terhadap infeksi, allergen, atau iritan lain, trauma.
4. Pemeriksaan Fisik
Observasi pernapasan terhadap :
Frekuensi : cepat (takipnea), normal atau lambat untuk anak tertentu
Kedalaman : kedalaman normal, terlalu dangkal (hypopnea), terlalu
dalam (hiperpnea); biasanya diperkirakan dari amplitude torakal dan
pemngembangan abdomen.
Kemudahan : kurang upaya, sulit (dispnea), ortopnea, dihubungkan
dengan retraksi intercostal dan/atau substernal (inspirasi tenggelam dari
jaringan lunak dalam hubungannya dengan kartilaginosa dan tulang
toraks), pulsus paradoksus (tekanan darah turun dengan inspirasi dan
meningkat karena ekspirasi), pernapasan cuping hidung, bobbing head
(kepala anak yang tidur dengan area suboksipital disokong pada lengan
orangtua yang terangkat keatas sinkron dengan setiap inspirasi),
mengorok, atau mengi (wheezing)
Pernapasan Sulit: kontinu, intermiten, menjadi makin buruk dan menetap,
awitan tiba-tiba, pada saat istirahat atau kerja, dihubungkan dengan mengi,
mengorok, dihubungkan dengan nyeri.
Irama : variasi dalam frekuensi dan kedalaman pernapasan
Observasi Adanya:
Bukti infeksi : peningkatan suhu, pembesaran kelenjar limfe servikal,
membran mukosa terinflamasi, dan rabas purulent dari hidung, telinga,
atau paru-paru (sputum)
Batuk : karakteristik batuk (bila ada): dalam keadaan seperti apa
batuk terdengar (mis, hanya malam hari, atau pagi hari), sifat batuk
(paroksiksmal dengan atau tanpa mengi, crou atau brassy), frekuensi
batuk, berhubungan dengan pernapasan sulit
Sianosis : perhatikan distribusi (perifer, perioral, fasial, batang tubuh
serta wajah) derajat, durasi, berhubungan dengan aktivitas
Nyeri dada : mungkin merupakan keluhan anak yang lebih besar.
Perhatiakan lokasi dan situasi: terlokalisir atau menyebar, menyebar dari
dasar leher atau abdomen, dangkal atau tajam, dalam atau superfisial
berhubungan dengan pernapasan cepat, dangkal atau mengorok
Sputum : anak-anak yang lebih besar dapat memberikan sempel
sputum; perhatikan volume, warna, viskositas, dan bau
Pernapasan buruk: dapat berhubungan dengan beberapa infeksi
pernapasan
c. Diagnosa Keperawatan
1. Pola Napas tidak efektif berhubungan dengan imaturitas paru dan
neuromuscular, penurunan energi, dan keletihan
2. Termoregulasi tidak efektif berhubungan dengan kontrol suhu yang imatur
dan penurunan lemak tubuh subkutan
3. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh (risiko tinggi) berhubungan
dengan ketidak mampuan mencerna nutrisi karena imaturitas dan/atau
penyakit.
4. Risiko tinggi kekurangan atau kelebihan volume cairan berhubungan dengan
karakteristik fisiologis imatur dari bayi preterm dan / atau imaturitas atau
penyakit
5. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan krisis situasi/ maturasi,
kurang pengetahuan (kelahiran bayi preterm dan / atau sakit), gangguan
proses kedekatan orangtua.
d. Intervensi Keperawatan
Dx TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
1. Setelah diberikan 1. posisikan untuk pertukaran 1. karena posisi ini
asuhan udara yang optimal: menghasilkan
keperawatan tempatkan pada posisi perbaikan
pasien dapat telungkup bila mungkin. oksigenasi,
menunjukkan 2. tempatkan pada posisi pemberian makan
oksigenasi yang telentang dengan leher ditoleransi dengan
adekuat dengan sedikit ekstensi dan hidung lebih baik, dan lebih
hasil : menghadap kea tap dalam mengatur pola
1. jalan napas posisi mengendus tidur/istirahat.
tetap paten 3. hindari hiperekstensi 2. untuk mencegah
2. pernapasan leher. adanya penyempitan
memberikan 4. observasi adanya jalan napas.
oksigenasi dan penyimpangan dari fungsi 3. karena akan
pembuangan CO2 yang diinginkan; kenali mengurangi
yang adekuat. tanda-tanda distress mis. diameter trakea.
3. frekuensi dan Mengorok, sianosis, 4. untuk
pola napas dalam pernapasan cuping hidung, menghilangkan
batas yang sesuai apnea. Lakukan penghisapan. mukus yang
dengan usia dan 5. gunakan tehnik terakumulasi dari
berat badan penghisapan yang tepat. nasofaring, trakea,
4. gas darah arteri 6. lakukan perkusi, vibrasi, dan selang
dan dan drainase postural sesuai endotrakeal.
keseimbangan ketentuan. 5. karena
asam-basa dalam 7. gunakan posisi semi- penghisapan yang
batas normal telungkup atau miring. tidak tepat dapat
sesuai usia menyebabkan
pascakonsepsi infeksi, kerusakan
5. oksigenasi jalan nafas,
jaringan adekuat. pneumotoraks, dan
hemoragi
intraventrikel.
6. untuk
memudahkan
drainase secret.
7. untuk mencegah
aspirasi pada bayi
dengan mukus
berlebihan atau yang
sedang diberi
makan.
2. Setelah diberikan 1. tempatkan bayi didalam 1. untuk
asuhan incubator, penghangat radian mempertahankan
keperawatan atau pakaian hangat dalam suhu tubuh stabil.
pasien dapat keranjang terbuka. 2. gunakan probe
mempertahankan 2. pantau suhu aksila pada kulit atau kontrol
suhu tubuh stabil bayi yang tidak stabil. suhu udara; periksa
dengan hasil : 1. 3. atur unit servokontrol atau fungsi mekanisme
Suhu aksila bayi kontrol suhu udara sesuai servokontrol bila
tetap dalam kebutuhan. digunakan.
rentang normal 4. gunakan pelindung panas 3. untuk
untuk usia plastic bila tetap. mempertahankan
pascakonsepsi. 5. periksa suhu bayi dalam suhu kulit dalam
hubungannya dengan suhu rentang termal yang
ambien dan suhu unit dapat diterima.
pemanas. 4. untuk
6. pantau nilai glukosa darah menurunkan
kehilangan panas.
5. untuk penghilang
panas radian
langsung.
6. untuk memastikan
euglikemia.
3. Setelah diberikan 1. pertahankan cairan 4. karena makan
asuhan parenteral atau nutrisi dengan ASI dapat
keperawatan parenteral total sesuai mengakibatkan
pasien diharapkan intruksi. penurunan berat
mendapatkan 2. pantau adanya tanda-tanda badan.
nutrisi yang intoleransi terhadap terapi 5. untuk
adekuat, dengan parenteral total, terutama menciptakan dan
masukan kalori protein dan glukosa. mempertahankan
untuk 3. kaji kesiapan bayi untuk laktasi sampai bayi
mempertahankan menyusu pada payudara ibu, dapat menyusu ASI.
keseimbangan khususnya kemampuan
nitrogen positif, untuk mengkoordinasikan
dan menunjukkan menelan dan pernapasan.
penambahan berat 4. susukan bayi pada
badan yang tepat. payudara ibu bila
Dengan hasil : penghisapan kuat, serta
1. bayi mendapat menelan dan reflex muntah
kalori dan atau menelan yang lemah.
nutrient esensial 5. bantu ibu mengeluarkan
yang adekuat. ASI .
2. bayi 6. bantu ibu dengan
menunjukkan menyusui bila mungkin dan
penambahan berat diinginkan.
badan yang
mantap (kira-kira
20 sampai 30
gr/hari) pada saat
fase pasca akut
penyakit.
4. Setelah diberikan 1. pantau dengan ketat cairan 1. insensible water
asuhan dan elektrolit dengan terapi loss (IWL) (mis,
keperawatan yang mengingatkan fototerapi,
diharpakan pasien kehilangan air tak kasat penghangat radian).
menunjukkan mata. 5. untuk
status hidrasi 2. implementasikan strategi menghindari
adekuat. Dengan untuk meminimalkan IWL, dehidrasi, hidrasi
hasil: seperti penutup plastic, berlebihan, atau
1. bayi peningkatan ambien. ekstravasasi.
menunjukkan 3. pastikan masukan cairan 6. untuk mencegah
bukti homeostasis oral/parenteral yang adekuat. beban berlebihan
4. kaji status hidrasi (mis pada ginjal imatur
turgor kulit, tekanan darah, dan vena yang
edema berat badan, rapuh.
membrane mukosa, berat
jenis urin, elektrolit,
fontanel).
5. atur cairan parenteral
dengan ketat.
6. hindari pemberian cairan
hipertonik (mis, obat tidak
diencerkan, infus glukosa
terkonsetrasi).
5. Setelah dilakukan 1. prioritaskan informasi. 1. untuk membantu
tindakan 2. dorong orangtua untuk orangtua memahami
keperawatan mengajukan pertanyaan aspek paling penting
diharapkan pasien mengenai status bayi. dari perawatan,
(keluarga) 3. jawab pertanyaan, tanda perbaikan,
mendapat fasilitasi ekpresi atau penyimpangan
informasi tentang kekhawatiran mengenai pada kondisi bayi.
kemajuan bayi. perawatan dan prognosis. 4. untuk
Dengan hasil: 4. bersikap jujur; berespons menciptakan rasa
1. orangtua pada pertanyaan dengan percaya.
mengekspresikan jawaban yang benar. 5. sehingga mereka
perasaan dan 5. dorong ibu dan ayah untuk dapat informasi
kekawatiran berkunjung dan /atau tentang kemajuan
mengenai bayi menghubungi unit dengan bayi.
dan prognosis, sering. 6. untuk mendorong
serta 6. tekankan aspek positif dari rasa pengharapan.
menunjukkan status bayi.
pemahaman dan
keterlibatan
dalam perawatan.
DAFTAR PUSTAKA
Wong, Donna L. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta. EGC.
HAMILTON, Persis Mary. 2006. Dasar-dasar keperawatan maternitas. Jakarta.
EGC.
Suryanah. 2000. Keperawatan anak untuk siswa SPK. Jakarta. EGC.
Bobak, lowdermik, 2005. Buku ajar keperawatan maternitas. Jakarta. EGC.