PBB Sektor Perkebunan, Perhutanan, dan Pertambangan
Beberapa istilah yang perlu kita ketahui dalam PBB Sektor Perkebunan, Perhutanan,
dan Pertambangan diantaranya adalah beberapa pengertian sebagai berikut :
1. Nilai Jual Objek Pajak yang selanjutnya disingkat NJOP adalah harga rata-rata
yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar, dan bilamana
tidak terdapat transaksi jual beli, Nilai Jual Objek Pajak ditentukan melalui
perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis, atau nilai perolehan baru,
atau Nilai Jual Objek Pajak pengganti.
2. Standar Investasi Tanaman yang selanjutnya disingkat SIT adalah jumlah
biaya tenaga kerja, bahan dan alat yang diinvestasikan untuk pembukaan
lahan, penanaman, dan pemeliharaan tanaman.
3. Areal Emplasemen adalah areal yang digunakan untuk berdirinya bangunan
dan sarana pelengkap lainnya dalam perhutanan termasuk areal jalan yang
diperkeras.
a. Sektor Perkebunan
Dasar Hukum :
1. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-64/PJ/2010 tanggal 27
Desember 2010. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-36/PJ/2014
tanggal 13 Oktober 2014.
2. Berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-64/PJ/2010
tersebut di atas, yang dimaksud dengan objek pajak sektor perkebunan adalah
objek pajak bumi dan bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan/atau
dimanfaatkan oleh orang pribadi atau Badan, yang digunakan untuk kegiatan
usaha perkebunan yang diberikan hak guna usaha perkebunan.
3. Kegiatan usaha perkebunan meliputi : usaha budidaya tanaman perkebunan
yang diberikan Izin Usaha Perkebunan untuk Budidaya (IUP-B), dan usaha
budidaya tanaman perkebunan yang terintegrasi dengan usaha pengolahan
hasil perkebunan yang diberikan Izin Usaha Perkebunan.
4. Kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan, meliputi :
wilayah yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan yang mempunyai
hak guna usaha atau yang sedang dalam proses mendapatkan hak guna usaha;
dan wilayah di luar hak guna usaha atau yang sedang dalam proses
mendapatkan hak guna usaha yang merupakan sate kesatuan yang digunakan
untuk kegiatan usaha perkebunan.
Contoh Perhitungan PBB Perkebunan
[Link] Seberang, sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit didaerah Sumatera
Utara memiliki/menguasai/mendapat manfaat dari tanah dan bangunan dengan rincian
sebagai berikut :
A. Tanah
1. Areal kebun :
a. Usia tanaman 2 tahun : 100 Ha, Nilai Dasar Tanah (NDT) = Rp1.700,-/ M2.
SIT (TBM2) : Rp22.966.086,- per Ha
b. Tanaman sudah menghasilkan : 300 Ha, NDT = Rp1.700,-/M2 SIT (TM1) :
Rp 35.714.709,- per Ha
2. Areal emplasemen :
a. Kantor : 0,5 Ha , NDT = Rp14.000,- / M2
b. Gudang : 1 Ha , NDT = Rp10.000,- / M2
c. Pabrik : 2 Ha, NDT = Rp10.000,- / M2
B. Bangunan :
a. Kantor : 500 M2 , Nilai Bangunan = Rp700.000,- / M2
b. Gudang : 1.000 M2, Nilai Bangunan = Rp505.000,- / M2
c. Pabrik : 4.000 M2 , Nilai Bangunan = Rp365.000,- / M2
Hitung PBB atas perkebunan tersebut bila NJOPTKP : Rp10 juta!
Jawaban:
A. Nilai Tanah:
1. Areal Kebun :
a. Usia tanaman 2 tahun : 100 x 10.000 x Rp1.700 = Rp [Link],- SIT
(TBM2): 100 x Rp22.966.086,- = Rp [Link]
b. Tanaman sudah menghasilkan : 300 x 10.000 x Rp1.700 =Rp [Link],-
SIT (TM1) :300 x Rp35.714.709,- = Rp10.714.412.700,-
2. Areal Emplasemen :
a. Kantor : 0,5 x 10.000 x Rp14.000,- = Rp 70.000.000,-
b. Gudang : 1 x 10.000 x Rp10.000,- = Rp 100.000.000,-
c. Pabrik : 2 x 10.000 x Rp10.000,- = Rp 200.000.000,-
Nilai Tanah ( 1 + 2 ) = Rp20.181.021.300,-
Nilai Tanah/M2 = Rp20.181.021.300/4.035.000 = Rp5.001,49/M2
Hasil konversi : Kelas 161 = Rp5.000,- /M2
NJOP Tanah seluruhnya = 4.035.000 x Rp5.000 = Rp20.175.000.000,-
B. Nilai Bangunan :
a. Kantor : 500 x Rp700.000,- = Rp 350.000.000,-
b. Gudang : 1.000 x Rp505.000,- = Rp 505.000.000,-
c. Pabrik : 4.000 x Rp365.000,- = Rp [Link],-
Nilai Bangunan seluruhnya = Rp [Link],-
Nilai Bangunan/M2 = Rp2.315.000.000 / 5.500 = Rp420.909,09
Hasil konversi : Kelas 068 = Rp427.000,- /M2
NJOP Bangunan seluruhnya = 5.500 x Rp427.000,- = Rp2.348.500.000,-
NJOP Tanah dan Bangunan seluruhnya = Rp22.523.500.000,-
NJOPTKP = Rp 10.000.000,-
NJOP untuk perhitungan PBB = Rp22.513.500.000,-
PBB = 0,5% x 40% x Rp22.513.500.000,- = Rp45.027.000,-
b. Sektor Perhutanan
Dasar Hukum:
1. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-36/PJ/2011 tanggal 18
November 2011 tentang Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor
Perhutanan. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-89/PJ/2011
tanggal 18 November 2011.
Berdasarkan peraturan dan surat edaran tersebut di atas, objek pajak PBB Perhutanan
adalah bumi dan/atau bangunan yang digunakan untuk kegiatan usaha perhutanan
yang diberikan hak pengusahaan hutan. Objek pajak bumi di dalam sektor perhutanan
terdiri dari areal produktif, areal belum produktif, areal emplasemen, dan areal lain.
Beberapa pengertian yang perlu dipahami dalam menghitung PBB Perhutanan sesuai
PER-36/PJ/2011 diantaranya :
1. Areal Produktif adalah areal hutan yang telah ditanami pada Hutan Tanaman,
atau areal blok tebangan pada Hutan Alam.
2. Areal Belum Produktif adalah areal yang sudah diolah tetapi belum ditanami
pada Hutan Tanaman, atau areal hutan yang dapat ditebang selain blok
tebangan pada Hutan Alam.
3. Areal Emplasemen adalah areal yang digunakan untuk berdirinya bangunan
dan sarana pelengkap lainnya dalam perhutanan termasuk areal jalan yang
diperkeras.
4. Areal Lainnya adalah areal selain Areal Produktif, Areal Belum Produktif, dan
Areal Emplasemen.
5. Standar lnvestasi Tanaman yang selanjutnya disingkat SIT adalah jumlah
biaya tenaga kerja, bahan dan alat yang diinvestasikan untuk pembukaan
lahan, penanaman, dan pemeliharaan tanaman.
6. Angka Kapitalisasi adalah angka yang digunakan untuk mengonversi
pendapatan bersih setahun menjadi nilai tanah Areal Produktif pada Hutan
Alam.
7. Log Ponds yaitu areal perairan didalam hutan yang digunakan untuk tempat
penimbunan kayu.
8. Log Yards yaitu areal daratan didalam hutan yang digunakan untuk
penimbunan kayu.
Untuk menentukan NJOP sektor kehutanan dapat dibagi atas 2(dua) kategori
tergantung kepada jenis hak untuk mengelola/mengusahakan hutan tersebut yaitu :
Sektor Kehutanan yang dikelola berdasarkan Hak Pengusahaan Hutan (HPH), Hak
Pemungutan Hasil Hutan (HPHH), Izin Pemanfaatan Kayu (IPK) dan Izin Sah lainnya
selain Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HPHTI).
Sektor Kehutanan yang dikelola berdasarkan Hak Pengusahaan Hutan Tanaman
Industri (HPH).
Contoh Perhitungan PBB Perhutanan (Hutan Tanaman)
PT. Wanasetra, sebuah perusahaan pengelola hutan tanaman industri
memiliki/menguasai/mendapat manfaat dari bumi dan bangunan dengan rincian
sebagai berikut :
A. Bumi/Tanah
1. Areal produktif
a. Tanah yang ditanami komoditas hutan industri dan telah menghasilkan :
Tanaman sonokeling : 500 Ha, Nilai Dasar Tanah: Rp5.000,- / M2 ) Standar Investasi
Tanaman (SIT) = Rp29.308.000,- / Ha.
b. Tanah yang belum menghasilkan :
Sonokeling tahun ke-4 : 100 Ha, NDT = Rp5.000,-/M2 SIT = Rp24.278.000,- / Ha
Sonokeling tahun ke-5 : 200 Ha, NDT = Rp5.000,-/M2 SIT = Rp27.698.000,- / Ha
2. Log Ponds (perairan) : 20 Ha, NDT = Rp140,- /M2
3. Areal lainnya (rawa, payau) : 50 Ha, NDT = Rp140,- / M2
4. Areal Emplasemen :
a. Pabrik : 10.000 M2 , NDT = Rp1.200,- / M2
b. Gudang : 5.000 M2 , NDT = Rp1.200,-/M2
c. Kantor : 1.000 M2 , NDT = Rp1.200,-/M2
d. Perumahan : 10.000 M2 , NDT = Rp1.200,-/M2
B. Bangunan :
1. Pabrik : 3.000 M2 ; Nilai = Rp225.000,- / M2
2. Gudang : 500 M2 ; Nilai = Rp225.000,-/M2
3. Kantor : 200M2 ; Nilai = Rp310.000,- / M2
4. Perumahan : 1.000 M2 ; Nilai = Rp225.000,-/M2
Hitung PBB yang menjadi kewajiban PT. Wanasetra tersebut apabila NJOPTKP
ditentukan sebesar Rp10.000.000,-
Jawaban
A. NJOP Bumi/Tanah
1. Areal Produktif
a. Tanah sudah menghasilkan tanaman sonokeling :
500 x 10.000 x Rp5.000,- = Rp25.000.000.000,-
SIT = 500 x Rp29.308.000,- = Rp14.654.000.000,-
b. Tanaman belum menghasilkan :
Sonokeling tahun ke-4 : 100x10.000xRp5.000,- = Rp [Link],-
SIT = 100 x Rp24.278.000,- = Rp [Link],-
Sonokeling tahun ke-5 : 200x10.000xRp5.000,- = Rp10.000.000.000,-
SIT = 200 x Rp27.698.000,- = Rp [Link],-
2. Log Ponds = 20 x 10.000 x Rp140,- =Rp 28.000.000,-
3. Areal lainnya = 50 x 10.000 x Rp140,- =Rp 70.000.000,-
4. Areal Emplasemen :
a. Pabrik = 10.000 x Rp1.200,- = Rp 12.000.000,-
b. Gudang = 5.000 x Rp1.200,- = Rp 6.000.000,-
c. Kantor = 1.000 x Rp1.200,- = Rp 1.200.000,-
d. Perumahan = 10.000 x Rp1.200,- = Rp 12.000.000,-
Nilai Tanah ( 1 + 2 + 3 + 4 ) = Rp62.750.600.000,-
Nilai tanah/M2 = [Link]/8.726.000 = Rp7.191,22
Hasil konversi: Klas 154 = Rp7.150,-/M2
NJOP Bumi/Tanah seluruhnya = 8.726.000 x Rp7.150,- = Rp62.390.900.000,-
B. NJOP Bangunan :
1. Pabrik = 3.000 x Rp225.000,-= Rp 675.000.000,-
2. Gudang = 500 x Rp225.000,- = Rp 112.500.000,-
3. Kantor = 200 x Rp310.000,- = Rp 62.000.000,-
4. Perumahan = 1.000 x Rp225.000,- = Rp 225.000.000,-
Nilai Bangunan = Rp [Link],-
Nilai Bangunan/M2 = [Link]/4.700 = Rp228.617,02 Hasil konversi: Klas 090
= Rp225.000,-/M2
NJOP Bangunan seluruhnya = 4.700 x Rp225.000,- = Rp1.057.500.000,-
NJOP Bumi dan Bangunan = Rp63.448.400.000,-
NJOPTKP = Rp 10.000.000,-
NJOP sebagai dasar perhitungan PBB = Rp63.438.400.000,-
PBB = 0,5% x 40% x Rp63.438.400.000,- = Rp126.876.800,-
c. Sektor Pertambangan
Dasar Hukum:
1. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Pertambangan.
2. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-32/PJ/2012 tanggal 28
Desember 2012 tentang Tata Cara Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan
Sektor Pertambangan untuk Pertambangan Mineral dan Batubara
3. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-64/PJ/2012 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-32/PJ/2012.
PBB Mineral dan Batubara adalah PBB atas bumi dan/atau bangunan yang berada di
kawasan yang digunakan untuk kegiatan pertambangan mineral dan batubara.
Kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan Minerba meliputi
wilayah izin pertambangan atau wilayah pertambangan sejenis dan wilayah di luar
wilayah izin pertambangan atau wilayah pertambangan sejenis yang merupakan satu
kesatuan yang digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan Minerba.
Beberapa Pengertian :
1. Mineral adalah senyawa anorganik yang terbentuk di alam, yang memiliki
sifat fisik dan kimia tertentu serta susunan kristal teratur atau gabungannya
yang membentuk batuan, baik dalam bentuk lepas atau padu, meliputi mineral
logam, mineral bukan logam, dan batuan.
2. Batubara adalah endapan senyawa organik karbonan yang terbentuk secara
alamiah dari sisa tumbuh-tumbuhan.
3. Eksplorasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh
informasi secara terperinci dan teliti tentang lokasi, bentuk, dimensi, sebaran,
kualitas, dan sumber daya terukur dari bahan galian, serta informasi mengenai
lingkungan sosial dan lingkungan hidup.
4. Areal Produktif adalah areal yang dimanfaatkan untuk kegiatan penambangan
yang sedang dilakukan pengambilan galian tambang.
5. Areal Cadangan Produksi adalah areal yang dimanfaatkan untuk kegiatan
penambangan, tetapi belum dilakukan pengambilan galian tambang.
6. Areal Belum Dimanfaatkan adalah areal yang belum dimanfaatkan untuk
kegiatan penambangan atau areal yang sedang dilakukan kegiatan
penyelidikan umum, eksplorasi dan/atau studi kelayakan.
7. Areal Tidak Produktif adalah areal yang sama sekali tidak dapat diusahakan
untuk kegiatan penambangan, atau areal yang telah selesai diusahakan.
8. Areal Emplasemen adalah areal yang di atasnya dimanfaatkan untuk bangunan
dan/atau pekarangan serta fasilitas penunjangnya.
9. Areal Pengaman adalah areal yang dimanfaatkan sebagai pendukung dan
pengaman kegiatan usaha pertambangan.
10. Tubuh Bumi Eksplorasi adalah tubuh bumi yang memiliki potensi hasil
produksi galian tambang berupa sumber daya mineral atau batubara.
11. Tubuh Bumi Operasi Produksi adalah tubuh bumi yang telah menghasilkan
hasil produksi galian tambang berupa mineral atau batubara.
12. Angka Kapitalisasi adalah angka pengali yang digunakan untuk mengonversi
hasil bersih produksi galian tambang dalam satu tahun sebelum tahun pajak
menjadi nilai Tubuh Bumi Operasi Produksi.
Dasar pengenaan dari PBB sektor pertambangan Minerba adalah NJOP yang
merupakan penjumlahan dari NJOP bumi dan NJOP bangunan. NJOP bumi areal
onshore atau areal offshore merupakan hasil perkalian antara total luas areal yang
dikenakan dengan NJOP bumi per meter persegi, sedangkan NJOP tubuh bumi baik
yang eksplorasi atau yang kegiatan operasi produksi merupakan hasil perkalian antara
luas Wilayah Kerja dengan NJOP bumi per meter persegi. NJOP bumi per meter
persegi tersebut merupakan hasil konversi nilai bumi per meter persegi ke dalam
klasifikasi NJOP bumi yang tercantum di dalam Peraturan Menteri Keuangan tentang
klasifikasi NJOP Bumi. NJOP bangunan merupakan hasil perkalian antara total luas
bangunan dengan NJOP bangunan per meter persegi, dimana NJOP bangunan per
meter persegi merupakan hasil konversi nilai bangunan per meter persegi ke dalam
klasifikasi NJOP bangunan yang tercantum di dalam Peraturan Menteri Keuangan
tentang klasifikasi NJOP Bangunan.
Nilai bumi per meter persegi masing-masing areal ditentukan sebagai berikut:
1. Areal onshore merupakan hasil pembagian antara total nilai bumi dengan total
luas areal onshore. Total nilai bumi merupakan jumlah dari perkalian luas
masing-masing areal dengan nilai bumi per meter persegi masing-masing
areal, dimana nilai bumi per meter persegi untuk areal belum dimanfaatkan
dan areal emplasemen ditentukan melalui perbandingan harga tanah sejenis,
dan areal cadangan produksi, areal tidak produktif, dan areal pengaman
ditentukan melalui penyesuaian terhadap nilai bumi per meter persegi untuk
areal belum dimanfaatkan.
2. Tubuh bumi operasi produksi merupakan hasil pembagian antara nilai bumi
untuk tubuh bumi operasi produksi dengan luas Wilayah Kerja. Nilai bumi
untuk tubuh bumi operasi produksi merupakan perkalian Angka Kapitalisasi
dengan hasil bersih galian tambang dalam satu tahun sebelum Tahun Pajak.
Hasil bersih ditentukan melalui pengurangan pendapatan kotor dengan biaya
produksi galian tambang sedangkan besarnya Angka Kapitalisasi ditetapkan
dengan Keputusan Direktur Jenderal Pajak.
Areal offshore dan tubuh bumi eksplorasi ditetapkan dengan Keputusan Direktur
Jenderal Pajak. Nilai bumi per meter persegi untuk areal offshore ditentukan dengan
mempertimbangkan rata-rata nilai bumi untuk areal daratan terdekat dengan areal
offshore di wilayah Indonesia.
Contoh perhitungan PBB sektor Pertambangan Migas
PT. Mutiara Hitam, sebuah usaha tambang minyak bumi yang beroperasi di
pedalaman Kalimantan menguasai/memperoleh manfaat dari bumi dan bangunan
dengan rincian sbb:
A. Bumi (Tanah )
1. Areal Produktif : 200 Ha; Nilai = Rp300,-/M2
2. Areal Belum Produktif : 300 Ha; Nilai = Rp200,-/M2
3. Areal tidak produktif : 100 Ha; Nilai = Rp150,-/M2
4. Areal Pengaman: 1 Ha; Nilai = Rp150,-/M2
5. Areal Emplasemen :
a. Pabrik : 20 Ha; Nilai = Rp900,-/M2
b. Gudang : 2 Ha; Nilai = Rp900,-/M2
c. Kantor : 1 Ha; Nilai = Rp1.000,-/M2
d. Perumahan : 5 Ha; Nilai = Rp1.100,-/M2
B. Bangunan :
1. Pabrik : 50.000 M2; Nilai = Rp365.000,-/M2
2. Gudang : 5.000 M2; Nilai = Rp429.000,-/M2
3. Kantor : 2.000 M2; Nilai = Rp505.000,-/M2
4. Perumahan : 10.000 M2; Nilai = Rp595.000,-/M2
C. Hasil penjualan minyak bumi setahun sbb:
1. Triwulan pertama produksi sebesar: 25.000 barrel dengan harga US $45 per barrel
2. Triwulan kedua produksi sebesar: 30.000 barrel dengan harga US $46 per barrel
3. Triwulan ketiga produksi sebesar 33.000 barrel dengan harga US $45,5 per barrel
4. Triwulan keempat produksi sebesar 34.000 barrel dengan harga US $46 per barrel.
Angka Kapitalisasi = 9,5
Kurs yang berlaku: 1 US $ = Rp9.150,00
Hitung PBB yang menjadi kewajiban [Link] Hitam tersebut apabila NJOPTKP
ditentukan sebesar Rp12.000.000,00
Jawaban:
Hasil Penjualan minyak bumi setahun sebagai berikut:
Triwulan pertama: 25.000 x 45 x 9.150 = Rp10.293.750.000,-
Triwulan kedua: 30.000 x 46 x 9.150 = Rp12.627.000.000,-
Triwulan ketiga: 33.000 x 45,5 x 9.150 = Rp13.738.725.000,-
Triwulan keempat: 34.000 x 46 x 9.150 = Rp14.310.600.000,- +
Total hasil penjualan setahun = Rp50.970.075.000,-
A. NJOP Bumi:
a. Tubuh bumi eksploitasi = 9,5 x [Link] = Rp484.215.713.000,-
b. Areal Produktif = 200 x 10.000 x 300,- = Rp 600.000.000,-
c. Areal Belum Produktif = 300 x 10.000 x 200 = Rp 600.000.000,-
d. Areal Tidak Produktif: 100 x 10.000 x 150 = Rp 150.000.000,-
e. Areal Pengaman = 1 x 10.000 x 150 = Rp 1.500.000,-
f. Areal Emplasemen:
1. Pabrik: 20 x 10.000 x 900 = Rp 180.000.000,-
2. Gudang: 2 x 10.000 x 900 = Rp 18.000.000,-
3. Kantor: 10.000 x 1.000 = Rp 10.000.000,-
4. Perumahan: 5 x 10.000 x 1.100 = Rp 55.000.000,- +
Jumlah Nilai Bumi: = Rp485.830.213.000,-
Nilai Bumi/M2 = [Link]/6.290.000 = Rp77.238,51
Hasil konversi: Klas 105 = Rp78.000,-/M2
NJOP Bumi seluruhnya = 6.290.000 x Rp78.000 = Rp490.620.000.000,-
B. NJOP Bangunan:
1. Pabrik: 50.000 x 365.000 = Rp [Link],-
2. Gudang: 5.000 x 429.000 = Rp [Link],-
3. Kantor: 2.000 x 505.000 = Rp [Link],-
4. Perumahan: 10.000 x 595.000 = Rp [Link],- +
Jumlah Nilai Bangunan: = Rp [Link],-
Nilai Bangunan/M2 = [Link]/67.000 = Rp408.283,58
Hasil konversi: Klas 082 = Rp408.000,-/M2
NJOP Bangunan seluruhnya = 67.000 x Rp408.000,- = Rp27.336.000.000,-
Jumlah total NJOP Bumi dan Bangunan: = Rp517.956.000.000,-
NJOPTKP: = Rp 12.000.000,- -
NJOP untuk perhitungan PBB: = Rp517.944.000.000,-
PBB= 0,5% x 40% x [Link] = Rp1.035.888.000,-