BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Batik merupakan hal yang tidak asing bagi masyarakat Indonesia saat ini. Batik
merupakan salah satu warisan nusantara yang unik. Keunikannya ditunjukkan
dengan barbagai macam motif yang memiliki makna tersendiri. Perkembangan
batik dari masa ke masa dengan rentang waktu yang sangat panjang menenmpatkan
seni kerajinan ini mencerminkan identitas budaya masyarakat indonesia.
Banyak hal yang dapat terungkap dari seni batik, seperti latar belakang
kebudayyan, kepercayaan, adat istiadat, sifat dan tata kehidupan, alam lingkungan,
cita rasa, tingkat keterampilan, dan lain-lain. Batik di Indonesia sangat
beranekaragam, hampir disemua daerah mempunyai batik dengan ciri khas
daerahnya masing-masing (Djoema, 1990).
Batik sebagai sebuah karya seni, tak sekedar senilai kain kain lainya yang
mempunyai keragaman motif, hiasan dengan pewarnaan dan teknik yang khas.
Lebih jauh dari pada itu, ragam hias dan juga pewarnaan yang di tuangkan pada
batik merupakan refleksi estetis dan berkesenian masyarakat pendukungnya. Batik
sebagai salah satu seni tradisional Indonesia menyimpan konsep artistik yang tidak
dibuat semata - mata untuk keindahan. Batik juga fungsional sebagai pilihan busana
sehari - hari, untuk keperluan upacara, adat, tradisi, kepercayaan, agama, bahkan
status sosial. Batik bukan satu indah, tetapi juga bermakna. Indahnya bukan hanya
sebagai pemuas mata, melainkan melebur dengan nilai nilai moral, adat, tabu,
agama, dan lain sebagainya. (Hamidin, 2010).
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari kesenian batik?
2. Apa saja jenis-jenis batik yang ada di Indonesia?
3. Bagaimana alat, bahan, dan proses pembuatan batik secara umum?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari kesenian batik
2. Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis batik yang ada di Indonesia
3. Untuk mengetahui alat, bahan, dan proses pembuatan batik secara umum
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Batik
Menurut Asti M. & Ambar B. Arini (2011) berdasarkan etimologi dan
terminologinya, batik merupakan rangkaian kata mbat dan tik. Mbat dalam bahasa
Jawa dapat diartikan sebagai ngembat atau melempar berkali-kali, sedangkan tik
berasal dari kata titik. Jadi, membatik artinya melempar titik berkali-kali pada kain.
Adapula yang mengatakan bahwa kata batik berasal dari kata amba yang berarti
kain yang lebar dan kata titik. Artinya batik merupakan titik-titik yang digambar
pada media kain yang lebar sedemikian sehingga menghasilkan pola-pola yang
indah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, batik memiliki arti kain bergambar
yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada
kain itu, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu.
2.2 Jenis-jenis batik
Herry Lisbijanto (2013) memaparkan bahwa ada 3 jenis batik menurut
teknik pembuatannya, yaitu sebagai berikut.
a. Batik Tulis
Gambar 1. Menerakan Malam pada
Batik Tuli
Batik tulis dibuat secara manual menggunakan tangan dengan alat bantu
canting untuk menerakan malam pada corak batik (Gambar 1). Pembuatan batik
tulis membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang tinggi karena setiap titik
dalam motif berpengaruh pada hasil akhirnya. Motif yang dihasilkan dengan
cara ini tidak akan sama persis. Kerumitan ini yang menyebabkan harga batik
tulis sangat mahal. Jenis batik ini dipakai raja, pembesar keraton, dan bangsawan
sebagai simbol kemewahan.
b. Batik Cap
Gambar 2. Membuat Pola Batik
Menggunakan Cap
Batik cap dibuat dengan menggunakan cap atau semacam stempel motif
batik yang terbuat dari tembaga seperti ditunjukkan pada Gambar 2. Cap
digunakan untuk menggantikan fungsi canting sehingga dapat mempersingkat
waktu pembuatan. Motif batik cap dianggap kurang memiliki nilai seni karena
semua motifnya sama persis. Harga batik cap cukup murah karena dapat dibuat
secara masal.
c. Batik Lukis
Gambar 3. Membuat batik lukis
Batik lukis dibuat dengan melukiskan motif menggunakan malam pada kain
putih. Pembuatan motif batik lukis tidak terpaku pada pakem motif batik yang
ada. Motifnya dibuat sesuai dengan keinginan pelukis tersebut seperti
ditunjukkan pada Gambar 3. Batik lukis ini mempunyai harga yang mahal
karena tergolong batik yang eksklusif dan jumlahnya terbatas.
2.3 Alat, Bahan dan Proses Membatik
Alat dan bahan yang digunakan untuk membuat batik tulis menurut Asti
M. dan Ambar B. Arini (2011) ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Gambar Alat dan Bahan Membatik
Gambar Keterangan
Alat
Bandul dapat terbuat dari kayu, logam,
atau batu. Fungsinya untuk menahan kain
mori yang baru dibatik agar tidak mudah
terbang tertiup angin atau tertarik
pembatik secara tidak sengaja.
Bandul
Dingklik adalah tempat duduk pendek
yang digunakan oleh pembatik.
Dingklik
Gawangan digunakan sebagai tempat
untuk menggantung kain mori yang akan
dibatik. Biasanya gawangan terbuat dari
kayu atau bambu sehingga ringan dan
mudah dipindah.
Gawangan
Taplak yang digunakan terbuat dari kain
yang berfungsi untuk menutup dan
melindungi paha pembatik dari tetesan
lilin dari canting.
Taplak
Kemplongan merupakan meja kayu yang
digunakan untuk meratakan kain mori
yang kusut sebelum diberi pola batik dan
dibatik.
Kemplongan
Canting merupakan alat untuk melukis
atau menerakan lilin pada kain mori.
Canting digunakan untuk membuat motif
kecil, sedangkan kuas digunakan untuk
membuat motif besar.
Canting
Kain mori adalah kain yang digunakan
untuk membuat batik.
Kain mori
Wajan adalah alat yang dipakai untuk
menampung lilin yang dipanaskan. Wajan
yang digunakan untuk membatik
berukuran kecil.
Wajan
Kompor berfungsi untuk memanaskan
lilin. Dahulu kompor yang digunakan
berupa anglo atau kompor minyak.
Namun, sekarang banyak dijumpai
kompor listrik yang lebih praktis.
Kompor
Bahan
Lilin atau malam digunakan untuk
menutup kain dari proses pewarnaan
sehingga kain yang tertutupi alam tidak
terkena warna tersebut.
Lilin
Pewarna berfungsi untuk memberi warna
pada kain. Pewarna yang digunakan
berasal dari bahan alami (indigo, soga,
mengkudu, daun mangga, kunyit) dan
sintetis.
Pewarna
Tahapan awal dalam membuat batik tulis dilakukan dengan membuat pola
motif batik. Desain dibuat dengan menggunakan pensil. Langkah selanjutnya
adalah menerakan lilin menggunakan canting mengikuti pola yang ada. Tutup
dengan lilin bagian-bagian yang akan tetap berwarna putih (tidak berwarna).
Gunakan canting untuk pola kecil dan kuas untuk pola berukuran besar. Tujuannya,
supaya saat pencelupan bahan ke dalam larutan pewarna, bagian yang diberi lilin
tidak terkena. Api kompor harus manyala dengan api kecil.
Berikutnya proses pewarnaan pertama pada bagian yang tidak tertutup oleh
lilin dengan mencelupkan kain tersebut pada warna tertentu. Setelah dicelup, kain
tersebut dijemur sampai kering. Kemudian dilanjutkan dengan proses pencelupan
warna yang kedua. Proses berikutnya, menghilangkan lilin dari kain dengan
mencelupkan kain tersebut dengan air panas di atas tungku. Setelah kain bersih dari
lilin dan kering, dapat dilakukan kembali proses pembatikan dengan penutupan lilin
untuk menahan warna pertama dan kedua. Proses menghilangkan dan menorehkan
lilin dapat dilakukan berulang kali sesuai dengan banyaknya warna dan
kompleksitas motif yang diinginkan.
Proses selanjutnya adalah nglorot, kain yang telah berubah warna direbus
air panas. Tujuannya adalah untuk menghilangkan lapisan lilin, sehingga motif
yang telah digambar sebelumnya terlihat jelas. Pencelupan ini tidak akan membuat
motif yang telah digambar terkena warna lain, karena bagian atas kain tersebut
masih diselumuti lapisan tipis yang tidak sepenuhnya luntur. Setelah selesai, kain
dicuci dan dikeringkan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Batik merupakan rangkaian kata mbat dan tik. Mbat dalam bahasa Jawa
dapat diartikan sebagai ngembat atau melempar berkali-kali, sedangkan tik
berasal dari kata titik. Jadi, membatik artinya melempar titik berkali-kali
pada kain.
2. Jenis-jenis batik yang ada di Indonesia antara lain yaitu batik tulis, cap, dan
lukis.
3. Alat yang digunakan dalam proses membantik antara lain yaitu bandul,
dingklik, gawangan, taplak, kemplongan, canting, kain mori, wajan
kompor. Sedangkan bahan yang digunakan dalam proses membatik antara
lain yaitu lilin dan pewarna.
Daftar Rujukan