PENGENDALIAN VEKTOR DAN BINATANG PENGGANGGU
RAYAP
Disusun oleh:
Kelompok 1
1. Achmad Fadli Saputra
2. Dhiya Nabilah
3. Diana Arum Sari
4. Fathul Fitriyah Rosdyani
5. Nopi Ekayanti
6. Siti Mutmainah
7. Ulfa Amelia
D4 TINGKAT 2
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
POLTEKKES KEMENKES JAKARTA II
2013
Pendahuluan
Rayap merupakan serangga yang hidup dalam kelompok sosial dengan sistem
kasta yang berkembang sempurna. Serangga ini termasuk dalam Ordo Isoptera
(Bhs Yunani, "iso" berarti sama dan "ptera" berarti sayap). Nama ini mengacu pada
kasta reproduksi dimana mereka memiliki sepasang sayap dengan bentuk dan
ukuran antara sayap depan dan sayap belakang yang sama. Di alam bebas rayap
berperan penting sebagai penjaga keseimbangan alam dengan cara
menghancurkan kayu dan mengembalikannya sebagai "hara" ke dalam tanah.
Namun di pemukiman rayap menjadi hama yang sangat merugikan karena dapat
merusak bahan-bahan yang mengandung selulosa yang merupakan sumber
makanan bagi rayap, seperti: kayu, kertas, kain, dll sehingga rayap sering ditemukan
menyerang kusen-kusen, furniture, gypsum, parquet, wallpaper, dll.
TAKSONOMI RAYAP
Kingdom: Animalia
Filum: Arthropoda
Kelas: Insecta
Ordo: Isoptera
Family: Rhinotermitidae, Kalotermitidae, dan Termitidae
Genus: Coptotermes, Neotermes, Cryptotermes,Schedorhinotermes,
Prorhinotermes, Microcerotermes,Caprototermes, Macrotermes, Odontotermes,
Microtermes, Bulbitermes, Nasutitermes, Hospitalitermes dan Lacessitermes
Spesies: 200 jenis rayaptersebut baru sekitar 179 jenis yang telah berhasil
diidentifikasi (ditentukan jenisnya secara ilmiah), yaitu 4 jenis rayap kayu kering, 166
jenis rayap kayu basah, dan 9 jenis rayap tanah (subterannean). Contoh:
Coptotermes curvignathus merupakan rayap tanah yang paling luas serangganya di
Indonesia.
Ciri-ciri Ordo Isoptera
Isoptera berasal dari bahasa Latin adalah iso= sama, pteron= sayap yang berarti
Insekta bersayap sama. Ciri-ciri lain yang dimiliki oleh ordo Isoptera adalah sebagai
berikut: (Ismantono, 2005).
1. Tubuh lunak.
2. Memiliki dua sayap yaitu sayap depan berupa sayap yang agak menebal
seperti kulit.
3. Bersifat hemitabola.
4. Memiliki dua pasang sayap tipis yang tipe dan ukurannya sama. Toraks
berhubungan langsung dengan abdomen yang ukuran lebih besar merupakan
serangga sosial.
5. Mengalami metamorfosis tidak sempurna.
6. Tipe mulut pengunyah.
7. Cara hidupnya membentuk koloni dengan sistem pembagian tugas tertentu
yang disebut polimorfisme. Pembagian tugas itu adalah raja, ratu dan prajurit
atau tentara.
8. Contoh spesies: Helanithermis sp. (rayap). Rayap mengalami 4 kasta
meliputi:
a) Kasta reproduksi pertama, bersayap dan akan ditinggalkan setelah
perkawinan.
b) Kasta reproduksi kedua, dewasa secara seksual tapi dalam bentuk
nympha.
c) Kasta pekerja, tidak bersayap, buta, dan memiliki banyak tugas yang
berguna untuk memelihara koloni.
d) Kasta tentara, bersifat steril tidak bersayap, memiliki kepala dan
mandibula yang besar serta bertugas menjaga koloni.
Berdasarkan lokasi sarang utama atau tempat tinggalnya, rayap perusak kayu
dapat digolongkan dalam tipe-tipe berikut :
1. Rayap pohon, yaitu jenis-jenis rayap yang menyerang pohon yang
masihhidup, bersarang dalam pohon dan tak berhubungan dengan
tanah. Contoh Neotermes tectonae (famili Kalotermitidae), hama
pohon jati.
2. Rayap kayu lembab, menyerang kayu mati dan lembab, bersarang
dalam kayu,tak berhubungan dengan tanah. Contoh: Jenis-jenis rayap
dari genus Glyptotermes, Glyptotermes spp., famili Kalotermitidae).
3. Rayap kayu kering, seperti Cryptotermes spp. (famili Kalotermitidae),
hidup dalam kayu mati yang telah kering. Hama ini umum terdapat di
rumah-rumahdan perabot-perabot seperti meja, kursi dsb. Rayap ini
juga tidak berhubungandengan tanah, karena habitatnya kering.
4. Rayap subteran, yang umumnya hidup di dalam tanah yang
mengandung banyak bahan kayu yang telah mati atau membusuk,
tunggak pohon baik yangtelah mati maupun masih hidup. Di Indonesia
rayap subteran yang paling banyak merusak adalah jenis-jenis dari
famili Rhinotermitidae. Terutama dari genus Coptotermes (Coptotermes
spp.) dan Schedorhinotermes.
5. Rayap tanah. Jenis-jenis rayap tanah di Indonesia adalah dari
familiTermitidae. Mereka bersarang dalam tanah terutama dekat pada
bahan organik yang mengandung selulosa seperti kayu, serasah dan
humus.
Dalam setiap koloni rayap terdapat tiga kasta yang mempunyai
bentuk dan fungsi yang berbeda. Ketiga kasta tersebut adalah kasta
prajurit, kasta reproduktif dan kasta pekerja. Sekitar 80 90% populasi
koloni rayap merupakan kasta pekerja. Kasta pekerja inilah yang
melakukan kerusakan pada aset-aset milik manusia dan bahan
berlignoselulosa lainnya. Terdapat beberapa kasta individuyang
wujudnya berbeda (Triplehorn dan Norman, 2005; Nandika et al.,
2003), yaitu:
1. Kasta reproduktif
Terdiri atas individu-individu seksual yaitu betina (yang
abdomennya biasanya sangat membesar) yang tugasnya bertelur dan
jantan (raja) yangtugasnya membuahi betina. Jika koloni rayap masih
relatif muda biasanya kastareproduktif berukuran besar sehingga
disebut ratu. Biasanya ratu dan raja adalah individu pertama pendiri
koloni, yaitu sepasang laron yang mulai menjalinkehidupan bersama
sejak penerbangan alata. Pasangan ini disebut reprodukif primer. Jika
mereka mati bukan berarti koloni rayap akan berhenti
[Link] akan membentuk "ratu" atau "raja" baru dari individu
lain (biasanya darikasta pekerja) tetapi ukuran abdomen ratu baru tak
akan sangat membesar sepertiratu asli. Ratu dan raja baru ini disebut
reproduktif suplementer atau neoten.
2. Kasta prajurit
Kasta ini ditandai dengan bentuk tubuh yang kekar karena
penebalan(sklerotisasi) kulitnya agar mampu melawan musuh dalam
rangka tugasnyamempertahankan kelangsungan hidup koloninya.
Pada beberapa jenis rayap darifamili Termitidae seperti Macrotermes,
Odontotermes, Microtermes dan Hospitalitermes terdapat prajurit
dimorf (dua bentuk) yaitu prajurit besar ([Link]) dan prajurit kecil (p.
mikro).
3. Kasta pekerja
Kasta ini membentuk sebagian besar koloni rayap. Tidak kurang dari
80 persen populasi dalam koloni merupakan individu-individu pekerja.
Tugasnyamencari makanan dan mengangkutnya ke sarang, membuat
terowongan-terowongan, menyuapi dan membersihkan reproduktif dan
prajurit,membersihkan telur-telur, dan membunuh serta memakan
rayap-rayap yang tidak produktif lagi. Berdasarkan simbiosisnya
dengan mikroorganisme rayap terbagi atas dua kelompok yaitu, rayap
tingkat tinggi yang bersimbiosis dengan bakteri dan rayap tingkat
rendah yang bersimbiosis dengan bakteri dan protozoa. Rayap
tingkattinggi mempunyai sistem pencernaan yang lebih berkembang
dibandingkan rayap tingkat rendah karena menghasilkan enzim
selulase selama proses pencernaan selulosa dalam usus belakangnya.
Ada beberapa hipotesis tentang peranan bakteriyang terdapat pada
usus belakang rayap tingkat tinggi yaitu melindungi rayap dari bakteri
asing, asetogenesis, fiksasi nitrogen, methanogenesis dan
metabolisme pyruvat. Meskipun bakteri tidak melibatkan diri secara
langsung dalam proses pencernaan rayap namun bakteri ini akan
disebarkan oleh rayap pekerja kepada nimfa-nimfa baru. Perilaku
rayap yang sekali-kali mengadakan hubungan dalam bentuk menjilat,
mencium dan menggosokkan anggota tubuhnya dengan lainnya
(perilaku trofalaksis) merupakan cara rayap menyampaikan bakteri dan
protozoa berflagellata bagi individu yang baru saja ganti kulit (ekdisis)
untuk menginjeksi kembali invidu rayap tersebut. Di samping itu, juga
merupakan cara menyalurkanmakanan ke anggota koloni lainnya.
Sama seperti pada rayap tingkat tinggi, bakteri yang terdapat dalam
usus belakang rayap tingkat rendah juga mempunyai peranan dalam
proses pencernaan makanan, meskipun bakteri ini tidak berperan
utama dalam proses dekomposisisi selulosa. Protozoa yang terdapat
pada usus belakang rayap tingkat rendah merupakan protoza
flagellata. Lebih dari 400 spesies protozoa flagellata telah diidentifikasi
dalam usus belakang rayap tingkat rendah. Biomassa mikroba ini
meliputi sekitar sepertujuh sampai dengan sepertiga berat rayap.
Protozoa ini mempunyai peranan penting dalam metabolisme selulosa
dan berfungsi menguraikan selulosa dalam proses percernaan
makanannya menghasilkan asetat sebagai sumber energi bagi rayap.
Hasil penelitian Belitz and Waller (1998) menunjukkan bahwa
defaunasi protozoa dalam usus belakang rayap dengan menggunakan
oksigen murni menyebabkan kematian rayap sekitar dua sampai tiga
minggu walaupun diberi kertas saring yang mengandung
selulosa. Namun rayap ini akan hidup lebih lama dengan makanan
yang sama denganadanya kehadiran protozoa dalam usus
belakangnya. Hal ini menunjukkan bahwakehidupan rayap sangat
tergantung pada mikroba simbiosisnya. Hal ini juga menunjukkan
bahwa proses penguraian selulosa dalam usus belakang
rayap berlangsung dalam keadaan anaerobik.
MORFOLOGI DAN ANATOMI
Kepala berwarna kuning, antena, labrum, dan protonum kuning pucat.
Bentuk kepala bulat ukuran panjang sedikit lebih besar daripada lebarnya.
Antena terdiri dari 15 segmen. Mandibel berbentuk seperti arit dan
melengkung di ujungnya, batas antara sebelah dalam dari mandibel kanan
sama sekali rata. Panjang kepala dengan mandibel 2,46-2,66 mm, panjang
mandibel tanpa kepala 1,40-1,44 mm dengan lebar pronotum 1,00-1,03 mm
dan panjangnya 0,56 mm, panjang badan 5,5-6 mm. Bagian abdomen ditutupi
dengan rambut yang menyerupai duri. Abdomen berwarna putih kekuning-
kuningan (Nandika dkk, 2003).
Tubuh Isoptera tersusun oleh:
1. Caput
Prognathous. Mempunyai mata majemuk, kadang-kadang mengecil,
mempunyai dua ocellus atau tidak mempunyai. Antena panjang tersusun atas
sejumlah segmen, sampai tiga puluh segmen. Tipe mulut penggigit dan
pengunyah (Rizali, 1995).
2. Thorax
Mempunyai dua pasangan sayap yang bersifat membran, kedua pasang
sayap ini mempunyai bentuk dan ukuran yang sama, pada keadaan istirahat
pasangan sayap melipat di bagian dorsal abdomen. Kebanyakan pekerja dan
tentara tidak bersayap. Pasangan-pasangan kaki pendek, coxae sangat
berkembang, tarsus terdiri atas empat sampai lima segmen, dan sepasang
ungues (Rizali, 1995).
3. Abdomen
Tersusun atas sebelas segmen. Sternum segmen abdomen pertama
mengecil. Sternum segmen abdomen kesebelas menjadi paraproct. Cercus
pendek tersusun atas enam sampai delapan segmen (Rizali, 1995).
SIKLUS HIDUP
Telur yang menetas yang menjadi nimfa akan mengalami 5-8 instar. Jumlah
telur rayap bervariasi, tergantung kepada jenis dan umur. Saat pertama
bertelur betina mengaluarkan 4-15 butir telur. Telur rayap berbentuk silindris,
dengan bagian ujung yang membulat yang berwarna putih. Panjang telur
bervariasi antara 1-1,5 mm. Telur akan menetas setelah berumur 8-11 hari.
Dalam perkembangan hidupnya berada pada lingkungan yang sebagian
besar diatur dalam koloni dan terisolir dari pengaruh nimfa sesuai dengan
kebutuhan koloni. Nimfa-nimfa yang sedang tumbuh dapat diatur menjadi
anggota kasta, yang diperlakukan bahwa nasib rayap dewasa yang siap
tebang dapat diatur (Borror, 1996).
Nimfa muda akan mengalami pergantian kulit sebanyak 8 kali, sampai
kemudian berkembang menjadi kasta pekerja, prajurit, dan calon laron
(Nandika, 2003).
Kasta pekerja jumlahnya lebih banyak daripada seluruh kasta yang ada di
koloni rayap. Nimfa yang menetas dari telur pertama dari seluruh koloni yang
baru akan berkembang menjadi kasta pekerja. Waktu keseluruhan yang
dibutuhkan dari keadaan telur sampai dapat bekerja secara efektifsebagai
kasta pekerja pada umumnya adalah 6-7 bulan. Unur kasta pekerja dapat
mencapai 19-24 bulan. Kasta pekerja berikutnya tebantuk dari nimfa-nimfa
yang cukup besar dan mempunyai warna yang lebih gelap dibandingakan
dengan anggota pembentukan pertama. Kepala dilapisi dengan polisacharida
yang disebut chitin dan menebal pada bagian rahangya. Pada segmen
terakhir pada pangkal sterink terdapat alat kelamin yang tidak berkembang
dengan sempurna sehingga membuat kasta pekerja ini menjadi mandul
(Hasan 1986).
HABITAT
Dasar pembangunan sarang ini adalah adanya rangsangan yang mungkin
berupa pergerakan udara, bau, cahaya, temperatur dan sebagainya yang
berbeda/ mengganggu keadaan normal dari lingkungan koloni. Pada
Zootermopsis dan Reticilitermes, rangsangan direspon dengan menumpuk
kotoran dan memberikan alarm rayap lain, ini diikuti dengan pembangunan
sarang. Adanya rangsangan-rangsangan ini disebut stigmergie hyphotesis
yaitu mekanisme perilaku membangun (Susanta, 2007).
Pembuatan sarang rayap tanah dimulai dari bawah membentuk
queenchamber yang berbentuk dome, kemudian sarang dikembangkan ke
atas secara berlapis-lapis mengikuti bentuk queen chamber (Prayogo, 2007).
Sistem struktur pada sarang rayap tanah pada dasarnya sarang tersusun dari
bulatan-bulatan yang memiliki dimensi dan bentuk yang tidak beraturan
(maksudnya bulatan itu tidak sempurna bulatannya) lebih menyerupai crispy
pada coklat (Putra, 1994).
Peranan dan Pengendalian Ordo Isoptera (Rayap)
Diseluruh dunia jenis rayap yang telah dikenal ada sekitar 2000 species
(sekitar 120 spesies merupakan ham) sedangkan lebih kurang dari 20
spesies yang diketahui sebagai hama perusak kayu dan sebagai vektor
penyakit bagi manusia. Namun, tidak semua serangga sebagai hama dan
perusak bangunan. Kebanyakan serangga seperti jenis rayap juga sangat
diperlukan dan berguna bagi manusia. Rayap biasa berperan dalam menjaga
daur hidup rantai dan jaring-jaring makanan di suatu ekosistem. Sebagai
contoh apabila benthos (larva serangga yang hidup di perairan) jumlahnya
sedikit, secara langsung akan mempengaruhi kehidupan ikan dan komunitas
hidup organisme lainya di suatu ekosistem sungai atau danau. Di bidang
pertanian, apabila serangga penyerbuk tidak ditemukan maka keberhasilan
proses penyerbukan akan terhambat (Tobing, 2007).
Pengendalian rayap hingga saat ini masih mengandalkan penggunanan
insektisida kimia (termisida), yang dapat diaplikasikan ke dalam beberapa
cara yaitu melalui penyemprotan, atau pencampuran termisida dalam bentuk
serbuk atau grannula dengan tanah. Teknik penyuntikan pada bagian pohon
atau sistem perakaran pada bagian tanaman yang terserang atau dengan
cara penyiraman disekitar tanaman (Wulandari, 2009).
Racun kuat yang kebanyakan dari kelompok fosfat-organik atau organofosfat
dan karbamat kurang dapat mengendalikan populasi rakyat karean sifatnya
yang tidak tahan lama (non peristent) di lingkungan, walaupun kekuatannya
luar biasa. Salah satu contoh fosfat organik yang sering digunakan untuk soil
treatment terhadap rayap penyerang bangunan adalah chlorpytifos
(Wulandari, 2009).
Nematoda Steinernema carcocapsae memiliki efektifitas cukup
mengendalikan rayap. Umumnya Nematoda Steinernema carpocapsae
banyak ditemukan di dalm tanah, sehingga diharapakan rayap C.
Curvignathus yang selalu berhubungan dengan tanah akan dapat
dimanfaatkan sebagai agen hayati. Pemberian nematoda dengan jumlah
terkecil menimbulkan 38,16% den dengan jumlah tertinggi menimbulkan
mortalitas 60,80%. Pengendalian hama terpadu (PHT) termasuk
pengendalian rayap pada kelapa sawit berpedoman pada UU No. 12 tahun
1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman dan dalam sistem tersebut
pengendalian hayati dengan memanfaatkan musuh alami hama seperti
parasitoid, predator, dan pathogen menjadi komponen utama, sedangkan
secara kimiawi merupakan alternatif terakhir (Wulandari 2009).
Pengumpanan adalah adalah alah satu teknik pengendalian yang ramah
lingkungan. Dilakukan denga cara menginduksikan racun slow action
kadalam katu umpan, dengan air trofalaksinya kayu tersebut dimana rayap
pekerja dan disebarkan di dalam koloninya. Teknik pengumpanan selain
untuk mengendalikan juga dapat digunakan untuk mempelajari keragaman
rayap tanah (Wulandari 2009).
Strategi Pengendalian
Untuk menghindar atau meminimumkan kemungkinan terjadinya
serangan rayap pada bangunan perlu diperhatikan hal-hal berikut.
1) Hindari adanya bahan-bahan kayu seperti sisa-sisa tunggak
pohon di sekitar halaman bangunan, yang potensial untuk
menjadi sumber infeksi rayap. Demikian pula adanya pohon-
pohon tua yang sebagian jaringan pohon maupun akarnya
telah mati merupakan sumber makanan rayap dan dapat
menjadi lokasi sarang perkembangan koloni rayap.
2) Hindari kontak antara tanah dengan bagian-bagian kayu dari
bangunan. Walaupun cara ini tidak mutlak mampu
mencegah serangan rayap karena rayap mampu membuat
terowongan kembara di atas tembok, lantai dan dinding
untuk mencapai obyek kayu makanannya tetapi bagi
bangunan sederhana cara ini dapat memperlambat
serangan rayap, dan adanya terowongan-terowongan dapat
dideteksi.
3) Pergunakan kayu yang awet (seperti bagian teras kayu jati),
atau kayu yang telah diawetkan dengan bahan-bahan
pengawet anti rayap. Untuk kayu-kayu yang digunakan di
bawah atap jenis-jenis garam pengawet seperti garam
Wolman dengan retensi yang cukup telah memadai,
sedangkan bagi kayu di luar bangunan diperlukan bahan
pengawet larut minyak seperti kreosot .
4) Cara yang paling efektif adalah melindungi bangunan
dengan cara membuat "benteng yang kuat terhadap rayap"
di bagian fondasi dengan cara menyampur bahan fondasi
dengan termitisida atau memperlakukan tanah di bawah dan
di sekitar fondasi dengan termitisida yang tahan pencucian
(persisten) serta memiliki afinitas dengan tanah.
5) Jika bangunan telah terserang, gunakanlah cara-cara
pengendalian yang ramah lingkungan, seperti dengan
pengumpanan dan pengendalian koloni dengan
menggunakan insektisida penekan pertumbuhan kutikel
seperti heksaflumuron dsb.
DAFTAR PUSTAKA
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]