Perilaku Ibu dan Pencegahan Diare Balita
Perilaku Ibu dan Pencegahan Diare Balita
BAB 1
PENDAHULUAN
sebagai penyakit sepele atau bahkan dianggap tidak penting. Di tingkat nasional
diare masuk dalam daftar sepuluh penyakit yang sering dilaporkan oleh
masyarakat, dan ternyata tetap ada setiap tahunnya. Bahkan kematian anak balita
yang disebabkan karena diare angkanya cukup besar dan belum beranjak turun
(Rochimah, 2008).
Penyakit diare sering menyerang bayi dan balita, bila tidak diatasi lebih
pembunuh kedua bayi di bawah lima tahun (balita) di Indonesai setelah radang
Di dunia setiap tahunnya diperkirakan sekitar 2,5 milyar kasus diare terjadi
pada anak-anak di bawah usia lima tahun. Lebih dari setengah kasus diare terjadi
di Negara Afrika dan Asia Selatan, dengan jumlah sebanyak 783 juta kasus di Asia
Selatan, 696 juta kasus di Afrika. Lebih dari 80% kematian pada anak balita akibat
diare terjadi di Negara Afrika dan Asia Selatan dengan persentase sebesar 46%
penurunan angka kematian anak menjadi 2/3 bagian menjadi sebanyak 32 per
kelahiran hidup dari sebelumnya pada tahun 1990 sebanyak 97 per kelahiran
hidup. Hal ini tidak mudah dilakukan mengingat masih tingginya angka kematian
balita. Penyebab utama kematian balita di Indonesia adalah diare. Pada tahun
2000 Incident Rate (IR) diare adalah 301/1000 dan data terakhir yaitu pada tahun
angka kematian akibat diare persisten lebih tinggi yaitu 45%. Sementara itu, pada
survey morbiditas yang dilakukan oleh Depkes tahun 2001, menentukan angka
kejadian diare di Indonesia berkisar 200-374 per 1000 penduduk, dimana 60-70%
angka kenatian akibat diare 23 per 100.000 penduduk dan angka kematian akibat
diare berdasarkan kelompok umur pada balita (14) tahun terlihat tinggi pada
Riskesdas 2007 yaitu 16,7%. Demikian pada bayi (<1 tahun) yaitu 16,5% (Depkes
RI, 2011).
jumlah kasus diare di tahun 2011 dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun
2011, kasus diare yang ditemukan dan ditangani adalah 45,74% sehingga angka
kesakitan atau Incidence Rate (IR) akibat diare per 1.000 penduduk mmencapai
2
19,35%. Hasil tersebut menunjukkan terjadi peningkatan dibandingkan tahun
2010 yaitu 18,73%, dan tahun 2009 yaitu 12,98%. Dari 33 kabupaten/kota yang
ada di Provinsi Sumatera Utara, penemuan dan penanganan kasus diare tertinggi
di Kabupaten Samosir dan Padang Lawas Utara. Penemuan dan penanganan kasus
2015 bulan Januari sampai bulan September, angka kejadian diare pada anak
balita 1-5 tahun sebanyak 412 penderita diare. Data dari Puskesmas Batunadua
memberikan ASI pada bayi karena berfungsi sebagai antibody untuk melawan
agen infeksi bertanggung jwab terhadap penyakit diare. Penyakit diare juga dapat
Batunadua Jae Kota Padangsidimpuan pada awal tahun 2015 sebanyak 25 orang
yang menderita penyakit Diare yang terdiri dari 15 orang perempuan dan 10 orang
laki-laki.
perilaku ibu balita tentang pencegahan penyakit diare dengan kejadian diare pada
3
balita di Lingkungan II Kelurahan Batunadua Jae Kota Padangsidimpuan Tahun
2016.
penelitian ini adalah bagaimana hubungan perilaku ibu balita tentang pencegahan
hubungan perilaku ibu balita tentang pencegahan penyakit diare dengan kejadian
4
d. Untuk mengetahui kejadian diare pada balita di Lingkungan II
perilaku ibu balita tentang pencegahan penyakit diare dengan kejadian diare
menghindari penularan virus, bakteri, dan parasit yang masuk dalam tubuh.
perilaku ibu balita dengan penyakit diare pada balita khususnya dalam bidang
keperawatan.
5
Hasil penelitian ini dapat menjadi data dasar untuk penelitian
balita tentang pencegahan penyakit diare dengan kejadian diare pada balita.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
6
2.1 Perilaku
dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan
7
petugas kesehatan melakukan tugasnya dengan baik adalah sebagai
menjadi 2, yaitu :
belum dapat diamati orang lain (dari luar) secara jelas. Respons seseorang
yang dapat diukur adalah pengetahuan dan sikap. Contoh ibu hamil tahu
sudah berupa tindakan atau praktek ini dapat diamati orang lain dari luar
8
minum obat anti TB secara teratur, seorang anak menggosok gigi setelah
lain dari orang yang bersangkutan. Hal ini berarti meskipun stimulusnya sama
(Mubarak, 2012).
kesehatan, yaitu :
1. Pengetahuan
9
intensitas dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan
a. Tingkat Pengetahuan
1. Tahu (Know)
2. Memahami (Comprehension)
tersebut.
3. Aplikasi (Application)
4. Analisis (Analysis)
10
pada tingkat analisis adalah apabila orang tersebut telah dapat
5. Sintesis (Synthesis)
6. Evaluasi (Evaluation)
b. Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan cara wawancara
atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari
pengetahuan melipti :
1) Baik : Bila pertanyaan di jawab dengan benar (76-100%)
2) Cukup : Bila pertanyaan di jawab dengan benar (56-75%)
3) Kurang : Bila pertanyaan di jawab dengan benar (<56%)
2. Sikap
11
Sikap adalah kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan
merupakan pelaksanaan motif tertentu. Dalam kata lain fungsi sikap belum
yaitu :
a. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang atau subjek mau menerima stimulus
b. Menanggapi (responding)
Menanggapi adalah memberikan jawaban atau tanggapan terhadap
terhadap objek atau stimulus, dalam arti membahasnya dengan orang lain,
merespons.
3. Tindakan
Sikap adalah kecenderungan untuk bertindak (praktik). Sikap belum tentu
terwujud dalam tindakan, sebab untuk terwujudnya tindakan perlu faktor lain
12
Praktik atau tindakan dapat dibedakan menjadi 3 tingkatan menurut
kualitasnya, yaitu :
a. Praktik terpimpin (guide response)
Apabila subjek atau seseorang telah melakukan sesuatu tetapi masih
sesuatu hal secara otomatis maka disebut praktik atau tindakan medis.
c. Ad2opsi (adoption)
Adopso adalah suatu tindakan atau praktik yang sudah berkembang.
Artinya, apa yang dilakukan tidak sekedar rutinitas atau mekanisme saja,
(Notoatmodjo, 2010).
2.2 Ibu
biologis maupun sosial. Umumnya, ibu memiliki peranan yang sangat penting
perempuan yang bukan orang tua kandung (biologis) dari seseorang yang
Ibu adalah perempuan yang telah melahirkan kita sebutan untuk wanita
yang telah bersuami, rentang usia ibu balita 18- 35 tahun (Reality, 2008).
2.3 Balita
Balita adalah bayi yang berada pada rentang usia 0-5 tahun. Pada usia
ini otak anak mengalami pertumbuhan yang sangat besar yang dikenal dengan
13
istilah masa keemasan (the golden ege), dan pada masa ini harus
Balita adalah anak yang berusia antara 1-5 tahun, sedangkan usia
diatasnya (6-12 tahun) disebut anak usia awal sekolah (Sudarmoko, 2011).
2.4.1 Definisi
Penyakit diare dapat menyerang siapa saja, baik itu anak-anak maupun
rangsangan buang air besar yang terus-menerus dan tinja atau feses memiliki
terjadi karena frekuensi satu kali lebih buang air besar dengan bentuk tinja
Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada
bayi dan lebih dari 3 kali pada anak konsisten feses encer, dapat berwarna
Diare adalah buang air besar disertai cairan atau berak cair, dengan
frekuensi berak lebih dari 3 kali dalam 24 jam. Secara opeasional definisi
(Purnaningrum, 2010).
14
Diare adalah benda cair yang keluar dari dubur tanpa dapat
berbagai gangguan perut dapat akut dan dapat juga kronis (Sitorus, 2008).
2.4.2 Klasifikasi
2) Diare akut yaitu diare yang berlangsung kurang dari empat belas hari
4) Diare persisten yaitu diare yang berlangsung lebih dari empat belas hari
5) Diare dengan masalah lain yaitu anak yang menderita diare (diare akut dan
2.4.3 Etiologi
1) Faktor Infeksi
berikut :
lain-lain.
15
(3) Infeksi parasit : Enterovirus, Adeno-virus, Rotavirus, Astrovirus,
dan lain-lain.
ensefalitis, dan sebaginya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan
2) Faktor Molbsorbsi
b. Malabsorbsi lemak.
c. Malabsorbsi protein.
4) Faktor psikologis yaitu rasa takut dan cemas (jarang tetapi dapat terjadi
5) Faktor gizi, dimana makin buruk gizi seorang balita ternyata makin
diare berasal dari keluarga besar dengan daya beli yang rendah, kondisi
rumah yang buruk, tidak punya penyediaan air bersih yang mempunyai
persyaratan kesehatan, pendidikan orang tua yang rtendah dan sikap serta
16
7) Faktor lingkungan. Sanitasi lingkungan yang buruk juga akan berpengaruh
2.4.4 Patogenesis
1) Gangguan Osmotik
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan
terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus
diare.
2) Gangguan Sekresi
terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan
17
2.4.5 Tanda dan Gejala
sirkulasi darah.
a. Cengeng
b. Gelisah
c. Suhu meningkat
f. Anus lecet
berkurang nadi cepat dan kecil, denyut jantung cepat, tekanan darah turun,
k. Selaput lender dan mulut serta kulit menjadi kering (Sudarti, 2010).
18
1. Keadaan Sadar, gelisah, Gelisah rewel, Mengantuk,lemas,
umum haus mengantuk anggota gerak
dingin, berkeringat
kebiruan, mungkin
koma/tidak sadar
2. Denyut nadi Normal kurang Cepat dan Cepat, haus, kadang-
dari 120/menit lemah 120- kadang tidak teraba,
140/menit kurang dari
140/menit
3. Pernapasan Normal Dalam, Dalam dan cepat
mungkin cepat
4. Ubun-ubun Normal Cekung Sangat cekung
besar
5. Kelopak mata Normal Cekung Sangat cekung
6. Air mata Ada Tidak ada Sangat kering
7. Selaput Lembab Kering Sangat kering
lender
8. Elastisitas Pada pencubitan Lambat Sangat lambat (lebih
kulit kulit secara dari 2 detik)
elastic kembali
secara normal
9. Air seni Normal Berkurang Tidak kencing
warnanya tua
Cara pencegahan yang benar dan efektif yang dapat dilakukan untuk
1) Pernberian ASI
ASI adalah makanan paling baik untuk bayi. Komponen zat makanan
tersedia dalam bentuk yang ideal dan seimbang untuk dicerna dan diserap
secara optimal oleh bayi. ASI saja sudah cukup untuk menjaga pertumbuhan
19
sampai umur 4-6 bulan. Tidak ada makanan lain yang dibutuhkan selama
masa ini. ASI adalah makanan bayi yang paling alamiah, sesuai dengan
kebutuhan gizi bayi dan mempunyai nilai proteksi yang tidak bias ditiru oleh
Pemberian ASI saja, tanpa cairan atau makanan lain dan tanpa
lain yang akan menyebabkan diare. Keadaan seperti ini disebut disusui secara
penuh. Bayi - bayi harus disusui secara penuh sampai mereka berumur 4-6
perlindungan terhadap diare. Pada bayi yang baru lahir, pemberian ASI secara
penuh mempunyai daya lindung 4 kali lebih besar terhadap diare daripada
pemberian ASI yang disertai dengan susu botol. Flora usus pada bayi -bayi
yang disusui mencegah tumbuhnya bakteri penyebab diare. Pada bayi yang
tidak diberi ASI secara penuh, pada 6 bulan pertama kehidupan, risiko
20
Pemberian makanan pendamping ASI adalah saat bayi secara bertahap
syarat kesehatan.
2.4.7 Penatalaksanaan
21
Prinsip perawatan diare adalah :
pemberian.
(Notoatmodjo, 2010).
Adapun kerangka konsep di bawah ini yang akan diteliti adalah hubungan
perilaku ibu balita tentang pencegahan penyakit diare dengan kejadian diare pada
2.6 Hipotesis
sementara, yakni pemecahan masalah yang mungkin benar dan mungkin pula
22
salah. Untuk menguji hipotesis data atau fakta-fakta yang diperoleh dari hasil
jenis hipotesis alternatif, hipotesis nol adalah hipotesis yang mengatakan tidak
yang mengatakan adanya hubungan antar variabel. Dan pendapat tersebut dapat
diartikan bahwa hipotesis itu masih perlu dibuktikan kebenarannya, karena itu
hipotesis merupakan jawaban yang masih belum final atau jawaban sementara.
Hipotesis pada penelitian ini adalah hubungan perilaku ibu balita tentang
diare terhadap kejadian diare pada balita. Sebaliknya jika > 0,05 maka
23
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Sarwono (2006) Korelasi adalah desain penelitian yang digunakan untuk melihat
kuat lemahnya antara variabel bebas dengan variabel terikat. Korelasi juga
dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan. Penelitian ini akan diolah dengan
24
memadai sesuai dengan kriteria penelitian, dan penelitian ini juga belum
Waktu
N Bulan
Kegiatan
o Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Pengajuan
1
Judul
2 ACC Judul
Permohonan
3
Izin
Pembuatan
4
Bab I, II, III
Bab I, II, III
5
ACC
Seminar
6
Proposal
Perbaikan
7
Proposal
Pelaksanaan
8
Penelitian
Pengolahan
9
Data
Seminar
10
Akhir
3.3.1 Populasi
elemen yang ada dalam wilayah penelitian (Arikunto, 2006). Populasi dalam
25
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai balita yang
3.3.2 Sampel
populasi yang ditentukan untuk diteliti. Menurut Arikunto jika populasi >100,
maka jumlah sampel yang diambil dalam 10-15% dari populasi. Jika populasi
Defenisi Skala
Variabel Alat Ukur Hasil Ukur
Operasional Ukur
Pengetahuan Segala sesuatu yang Kuesioner Ordinal Baik(76%-100%)
diketahui ibu balita Cukup(56%-
mengenai 75%)
pencegahan penyakit Kurang (<55%)
diare
Sikap Suatu kesiapan ibu Kuesioner Nominal Positif = 75%
balita atau kesediaan Negatif = 25%
untuk bertindak
dalam pncegahan
penyakit diare
Tindakan Kecenderungan ibu Kuesioner Nominal Dilakukan = 75%
balita untuk Tidak Dilakukan
bertindak (praktik) = 25%
dalam menangani
26
pencegahan penyakit
diare
Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dalam bentuk
kuesioner yang disusun sendiri oleh peneliti dengan berpedoman pada konsep
teori perilaku ibu balita tentang pencegahan penyakit diare pada balita dengan
kejadian diare pada balita. Kuesioner penelitian ini terdiri dari dua bagian.
pekerjaan dan status sosial ekonomi. Kedua, kuesioner tentang pengetahuan ibu
27
balita tentang pencegahan penyakit diare terdiri dari sepuluh pertanyaan (nomor
1-10) dengan pilihan jawaban ya, tidak, kemudian sikap ibu balita tentang
pencegahan penyakit diare yang terdiri dari 10 pernyataan (nomor 1-10) dengan
jawaban setuju, tidak setuju, kemudian tindakan ibu balita tentang pencegahan
penyakit diare yang terdiri dari 10 pertanyaan (nomor 1-19) dengan jawaban
dilakukan, tidak dilakukan, kemudian kejadian diare pada balita yang terdiri dari
diare dengan kejadian diare diukur dengan skala Likert pengukuran dengan
soal, setiap jawaban yang benar diberi nilai 1 dan yang salah diberi nilai 0.
Kota Padangsidimpuan.
reliabilitas. Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-
benar mengukur apa yang diukur. Suatu kuisioner dikatakan valid jika pertanyaan
pada kuisioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh
kuisioner tersebut. Dalam hal ini beberapa item pertanyaan dapat digunakan untuk
28
Reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejah mana suatu alat
pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan
sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten bila dilakukan pengukuran dua
kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat ukur yang
rumus Alpha Cronbach. Suatu variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai
Alpha Cronbach > 0,5 (Azwar, 2012). Uji reliabilitas instrumen ini bertujuan
untuk mengetahui seberapa besar derajat atau kemampuan alat ukur untuk
Dalam penelitian ini digunakan uji reliabilitas yang diperoleh dengan cara
menganalisis data yang dilakukan pada 10 orang responden untuk uji reliabilitas
Jae Kota Padangsidimpuan. Uji reliabilitas mengenai perilaku ibu balita dengan
pencegahan penyakit diare pada balita terhadap angka kejadian diare pada balita
Untuk instrumen baru dikatakan reliabel jika memiliki reliabilitas lebih dari 0,70
29
1. Mengajukan permohonan izin pelaksanaan kepada institusi pendidikan
Padangsidimpuan)
Jae
pelaksanaan penelitian
persetujuan
lembar kuesioner yang diberikan oleh peneliti sesuai dengan petunjuk yang
kelengkapanya, apabila ada yang tidak lengkap diselesaikan di saat itu juga
dengan keperluan.
editing untuk mengecek dan memastikan bahwa kuesioner telah diisi oleh
30
responden sesuai dengan petunjuk. Kemudian dilanjutkan dengan koding dan
memberi kode atau angka tertentu pada kuesioner untuk mempermudah dalam
data hubungan perilaku ibu balita tentang pencegahan penyakit diare pada balita
terhadap angka kejadian diare pada balita akan disajikan dalam bentuk tabel
a. Analisa Univariat
b. Analisa Bivariat
variabel katagori dimana asumsinya nilai harapan untuk setiap sel minimal 5
atau lebih, dengan kata lain data yang terlibat dalam uji Pearson Chi-square
Uji chi Square (X2) dengan nilai alpha 0,05. Dengan tingkat signifikansi
= 0,05. Jika 0,05 maka H 0 ditolak berarti Ha diterima (ada hubungan antara
perilaku ibu balita tentang pencegahan penyakit diare pada balita dengan
kejadian diare pada balita. Sebaliknya jika > 0,05 maka H0 diterima dan Ha
ditolak (tidak ada hubungan antara perilaku ibu balita tentang pencegahan
31
BAB IV
HASIL PENELITIAN
Pencegahan Penyakit Diare Dengan Kejadian Diare Pada Balita, yang diperoleh
dengan data demografi atau karakteristik berupa umur, pendidikan, pekerjaan dan
status ekonomi. Maka hasil penelitian yang diperoleh dapat dilihat dalam tabel
32
1 Umur
a. 20-25 Tahun 8 23,5%
b. 26-30 Tahun 15 44,1%
c. 31-35 Tahun 11 32,4%
Jumlah 34 100%
2 Pendidikan terakhir
a. SD 11 32,4%
b. SMP 8 23,5%
c. SMU 9 26,5%
d. Perguruan tinggi 6 17,6%
Jumlah 34 100%
3 Pekerjaan
a. Ibu Rumah Tangga 11 32,4%
b. Petani 9 26,5%
c. Wiraswasta 10 29,4%
d. PNS 4 11,8%
Jumlah 34 100%
4 Penghasilan
a. <Rp 1.000.000 22 64,7%
b. Rp 1.000.00 7 20,6%
2.000.000 5 14,7%
c. >Rp 2.000.000
Jumlah 34 100%
dengan kejadian diare pada balita yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah
sebanyak 34 orang dan dibagi menjadi 3 kelompok umur yaitu 20-25 tahun, 26-30
tahun, 31-35 tahun. Dari tabel diatas dapat diketahui mayoritas berumur 26-30
tahun sebanyak 15 orang (44,1%) dan minoritas berumur 20-25 tahun sebanyak 8
orang (23,55).
33
berpendidikan SD sebanyak 11 orang (32,4%), dan minoritas berpendidikan
ibu rumah tangga, petani, wiraswasta, dan PNS. Dari 34 responden mayoritas
bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga sebanyak 11 orang (32,4%), dan minoritas
Hasil penelitian yang diperoleh dari pengetahuan ibu balita berupa baik,
cukup dan kurang dapat dilihat dalam tabel distribusi frekuensi dan persentase
Berdasarkan tabel 4.2 di atas dapat diketahui bahwa pengetahuan ibu balita
tentang pencegahan penyakit diare dengan kejadian diare pada balita mayoritas
34
4.1.3 Sikap Responden
Hasil penelitian yang diperoleh dari sikap ibu balita berupa positif dan
negatif dapat dilihat dalam tabel distribusi frekuensi dan persentase pernyataan
Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Sikap Ibu Balita tentang Pencegahan Penyakit
Diare Dengan Kejadian Diare Pada Balita di Lingkungan II Kota
Padangsidimpuan
pencegahan penyakit diare dengan kejadian diare pada balita mayoritas bersikap
negatif sebanyak 27 orang (79,4%), dan minoritas sikap positif sebanyak 7 orang
(20,6%).
Hasil penelitian yang diperoleh dari tindakan ibu balita berupa dilakukan
dan tidak dilakukan dapat dilihat dalam tabel distribusi frekuensi dan persentase
Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Tindakan Ibu Balita tentang Pencegahan Penyakit
Diare Dengan Kejadian Diare Pada Balita di Lingkungan II Kota
Padangsidimpuan
Berdasarkan tabel 4.4 di atas dapat diketahui bahwa tindakan ibu balita
tentang pencegahan penyakit diare dengan kejadian diare pada balita mayoritas
35
melakukan tindakan sebanyak 4 orang (11,8%), dan minoritas tidak melakukan
Hasil penelitian yang diperoleh dari kejadian diare dapat dilihat dalam tabel
diteliti tentang kejadian diare mayoritas responden menyatakan ada kejadian diare
sebanyak 30 orang (88,2%), dan minoritas tidak ada kejadian diare sebanyak 4
orang (11,8%).
Kejadian
Pengetahu Total
Ada Tidak Ada Pvalue
an
f % F % F %
Baik 0 0 3 8,8% 3 8,8%
Cukup 13 38,2% 1 2,9% 14 41,2% 0,05 0,00
Kurang 17 50% 0 0 17 50%
Total 30 88,2% 4 11,8% 30 100%
responden berpengetahuan baik dengan kejadian diare pada balita tidak terjadi
36
yaitu 3 orang (8,8%). Kategori pengetahuan Cukup dengan kejadian diare pada
anak yang terjadi ada 13 orang (38,2%) dan yang tidak terjadi 1 orang (2,9%).
Sedangkan pada kategori pengetahuan kurang dengan kejadian diare pada anak
= 0.00 (< 0,005) artinya bahwa ada hubungan antara pengetahuan responden
dengan kejadian diare pada balita di Lingkungan II Kelurahan Batunadua Jae Kota
Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Hubungan Sikap Ibu Balita dengan Kejadian
Diare Di Lingkungan II Kelurahan Batunadua Jae Kota
Padangsidimpuan
Kejadian
Total
Sikap Ada Tidak Ada Pvalue
f % F % F %
Positif 3 8,8% 4 11,2% 7 20,6%
Negatif 27 79,4% 0 - 27 79,4% 0,05 0,01
Total 30 88,2% 4 11,2% 34 100 %
responden bersikap positif dengan kejadian diare pada balita yang terjadi yaitu 3
orang (8,8%), tidak terjadi yaitu 4 orang (11,2%). Kategori besikap negatif dengan
kejadian diare pada balita yang terjadi ada 27 orang (79,4%) dan yang tidak
= 0.01 (< 0,05) artinya bahwa ada hubungan antara sikap responden dengan
37
kejadian diare pada balita di Lingkungan II Kelurahan Batunadua Jae Kota
Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Hubungan Tindakan Ibu Balita dengan Kejadian
Diare Di Lingkungan II Kelurahan Batunadua Jae Kota
Padangsidimpuan
Kejadian
Total Pvalu
Tindakan Ada Tidak Ada
e
f % F % F %
Dilakukan 0 4 11,8% 4 11,8%
Tidak 0,05 0,00
30 88,2% 0 - 30 88,2%
Dilakukan
Total 30 88,2% 4 11,8% 34 100 %
Berdasarkan tabel 4.8 dapat dilihat bahwa dari 34 responden, menunjukkan
responden melakukan tindakan dengan kejadian diare pada balita yang tidak
terjadi yaitu 4 orang (11,8%). Kategori yang tidak melakukan tindakan dengan
= 0.00 ( artinya bahwa ada hubungan tindakan ibu balita dengan kejadian
38
diare pada balita di Lingkungan II Kelurahan Batunadua Jae Kota
BAB V
PEMBAHASAN
yang berusia 26-30 tahun sebanyak 15 orang (44,1%), dan responden yang berusia
berusia 26-30 tahun (44,1%), dan minoritas berusia 20-25 tahun (23,5%).
Responden dalam penelitian ini termasuk kedalam kategori dewasa. Menurut teori
Genis (2007) menjelaskan bahwa umur merupakan salah satu predisposing faktor
39
perbedaan usia seseorang mungkin bisa mempengaruhi seseorang dalam
sebanyak 8 orang (23,5%), SMA sebanyak 9 orang (26,5%), dan Perguruan Tinggi
Dari hasil penelitian yang bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga sebanyak 11
responden bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga sebanyak 11 orang (32,4%), dan
minoritas bekerja sebagai PNS sebanyak 4 orang (11,8%). Dari uraian tersebut
yang diperoleh.
40
2.000.000 sebanyak 5 orang (14,7%). Dengan demikian mayoritas berpenghasilan
ekonomi berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang. individu yang berasal dari
keluarga yang berstatus sosial ekonomi baik, dimungkinkan lebih memiliki sikap
positif memandang diri dan masa depannya dibandingkan mereka yang berasal dari
dimiliki oleh responden mengenai suatu objek atau kejadian tertentu yang menjadi
mengenai penyebab terjadinya penyakit diare, cara pencegahan diare dan sumber
kurang sebanyak 17 orang (50%). Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini
terhadap suatu objek. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat
41
Hasil penelitian yang diperoleh tersebut, sejalan dengan pendapat
pengetahuan akan lebih langgeng atau baik daripada perilaku yang tidak didasari
oleh pengetahuan. Seseorang yang mempunyai pengetahuan baik akan sesuatu hal
pencegahan penyakit diare dengan kejadian diare. Sikap biasa disebut sebagai
mencegah terjadinya diare, dan sumber informasi yang didapat tentang penyakit
diare.
memiliki sikap positif tentang pencegahan penyakit diare dengan kejadian diare
Menurut Azwar (2007), bahwa banyak faktor yang memengaruhi orang untuk
42
penting, media massa, institusi pendidikan, lembaga agama serta fakor emosi
tentang pencegahan penyakit diare dengan kejadian diare pada balita mayoritas
orang (11,8%).
bentuk tindakan namun tidak dapat dikatakan bahwa sikap dan tindakan
yang baik belum tentu terwujud dalam tindakan yang baik pula. Untuk
terwujudnya sikap menjadi suatu tindakan diperlukan suatu faktor atau kondisi
Notoamodjo (2007) suatu penyakit diare dapat timbul akibat pengaruh dari 3
faktor, yaitu agent (penyebab infeksi), host (imunitas dan infeksi), dan
inveronment (lingkungan).
Asumsi peneliti bahwa kejadian diare pada balita penelitian ini mayoritas
tidak ada kejadian diare, berarti sebagian besar responden sudah banyak
43
mengetahui dan mengerti bahaya tentang diare, terbukti dari tingkah laku
terjadinya diare. Hal ini dapat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan pekerjaan
seseorang. Karena tingkat pendidikan dapat mempengaruhi pola pikir dan daya
pendidikan seseorang, semakin tinggi pula informasi yang dapat diserap, sehingga
nilai signifikan p-value 0,01 < (0,05) maka H0 ditolak berarti Ha diterima yang
berarti ada hubungan antara perilaku ibu balita tentang pencegahan diare dengan
Dilihat dari segi pengetahuan, sikap, dan tindakan sebagian besar ibu balita
berpengetahuan kurang, sikap yang negatif, dan tidak melakukan tindakan terhada
pencegahan diare.. Hal ini dikaitkan tidak banyaknya waktu untuk ibu balita
mendapatkan atau menerima informasi dari petugas kesehatan maupun dari media
44
pemelihharaan kesehatan yaitu cara pencegahan dan cara mengatasinya. Perilaku
seseorang yang didasarkan pengetahuan akan lebih langgeng atau baik daripada
pengetahuan yang baik akan sesuatu hal diharapkan mempunyai sikap dan
pengetahuan kurang, akan mempunyai sikap yang negatif dan tindakan yang tidak
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
kurang sebanyak 17 orang (50%), cukup 14 orang (41,2%), dan baik 3 orang
(8,8%).
(20,6%).
ada kejadian diare sebanyak 30 orang (88,2%), dan minoritas tidak ada
45
5. Terdapat hubungan perilaku ibu balita tentang pencegahan penyakit diare
6.2 Saran
1. Bagi Responden
tentang hubungan perilaku ibu balita tentang pencegahan penyakit diare dengan
kejadian diare pada balita dapat mengetahui dan memberikan pencegahan untuk
2. Bagi Peneliti
perilaku ibu balita dengan kejadian diare pada balita khususnya dalam bidang
keperawatan
Hasil penelitian ini dapat menjadi data dasar untuk penelitian selanjutnya dan
46
47