100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
276 tayangan47 halaman

Perilaku Ibu dan Pencegahan Diare Balita

Teks tersebut membahas tentang latar belakang diare yang masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia. Diare merupakan penyebab kematian nomor dua pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku ibu dalam pencegahan diare dengan kejadian diare pada balita di Kota Padangsidimpuan.

Diunggah oleh

Reynida Hutagalung
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
276 tayangan47 halaman

Perilaku Ibu dan Pencegahan Diare Balita

Teks tersebut membahas tentang latar belakang diare yang masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia. Diare merupakan penyebab kematian nomor dua pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku ibu dalam pencegahan diare dengan kejadian diare pada balita di Kota Padangsidimpuan.

Diunggah oleh

Reynida Hutagalung
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Selama ini masyarakat umum menganggap bahwa penyakit diare dianggap

sebagai penyakit sepele atau bahkan dianggap tidak penting. Di tingkat nasional

diare masuk dalam daftar sepuluh penyakit yang sering dilaporkan oleh

masyarakat, dan ternyata tetap ada setiap tahunnya. Bahkan kematian anak balita

yang disebabkan karena diare angkanya cukup besar dan belum beranjak turun

(Rochimah, 2008).

Penyakit diare sering menyerang bayi dan balita, bila tidak diatasi lebih

lanjut akan menyebabkan dehidrasi yang mengakibatkan kematian. Data terakhir

dari Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa diare, menjadi penyakit

pembunuh kedua bayi di bawah lima tahun (balita) di Indonesai setelah radang

paru atau pneumonia (Adisasmito, 2007).

Di dunia setiap tahunnya diperkirakan sekitar 2,5 milyar kasus diare terjadi

pada anak-anak di bawah usia lima tahun. Lebih dari setengah kasus diare terjadi

di Negara Afrika dan Asia Selatan, dengan jumlah sebanyak 783 juta kasus di Asia

Selatan, 696 juta kasus di Afrika. Lebih dari 80% kematian pada anak balita akibat

diare terjadi di Negara Afrika dan Asia Selatan dengan persentase sebesar 46%

dan 38% (WHO, 2009).

Salah satu tujuan MDGs (Millenium Development Goals) adalah

penurunan angka kematian anak menjadi 2/3 bagian menjadi sebanyak 32 per

kelahiran hidup dari sebelumnya pada tahun 1990 sebanyak 97 per kelahiran

hidup. Hal ini tidak mudah dilakukan mengingat masih tingginya angka kematian
balita. Penyebab utama kematian balita di Indonesia adalah diare. Pada tahun

2000 Incident Rate (IR) diare adalah 301/1000 dan data terakhir yaitu pada tahun

2010 menunjukkan IR diare 411/1000. Terjadi peningkatan sekitar 36,5% dalam

sepuluh tahun ini (Divisi, 2012).

Angka kematian akibat diare di Indonesia masih sekitar 7,4%. Sedangkan

angka kematian akibat diare persisten lebih tinggi yaitu 45%. Sementara itu, pada

survey morbiditas yang dilakukan oleh Depkes tahun 2001, menentukan angka

kejadian diare di Indonesia berkisar 200-374 per 1000 penduduk, dimana 60-70%

diantaranya anak-anak usia dibawah 5 tahun. Sedangkan menurut SKRT 2004,

angka kenatian akibat diare 23 per 100.000 penduduk dan angka kematian akibat

diare pada balita adalah 75 per 100.000 balita (Maryunani, 2010).

Dalam penelitian yang berbasis masyarakat, Riset Kesehatan Dasar

(Riskesdas) yang dilaksanakan di 33 provinsi pada tahun 2007, melaporkan

bahwa angka nasional prevalensi diare 9,0%. Beberapa provinsi mempunyai

prevalensi diatas angka nasional (9%) di 14 provinsi, prevalensi tertingi di

Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan terendah di DI Yogyakarta. Prevalensi

diare berdasarkan kelompok umur pada balita (14) tahun terlihat tinggi pada

Riskesdas 2007 yaitu 16,7%. Demikian pada bayi (<1 tahun) yaitu 16,5% (Depkes

RI, 2011).

Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, terjadi peningkatan

jumlah kasus diare di tahun 2011 dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun

2011, kasus diare yang ditemukan dan ditangani adalah 45,74% sehingga angka

kesakitan atau Incidence Rate (IR) akibat diare per 1.000 penduduk mmencapai

2
19,35%. Hasil tersebut menunjukkan terjadi peningkatan dibandingkan tahun

2010 yaitu 18,73%, dan tahun 2009 yaitu 12,98%. Dari 33 kabupaten/kota yang

ada di Provinsi Sumatera Utara, penemuan dan penanganan kasus diare tertinggi

di Kabupaten Samosir dan Padang Lawas Utara. Penemuan dan penanganan kasus

diare terendah di Kabupaten Nias dan Kota Padangsidimpuan (Dinkes, 2011).

Menurut data dari Dinas Kesehatan Kota Padangsidimpuan pada tahun

2015 bulan Januari sampai bulan September, angka kejadian diare pada anak

balita 1-5 tahun sebanyak 412 penderita diare. Data dari Puskesmas Batunadua

Kota Padangsidimpuan bulan Januari sampai September terdapat 72 penderita

diare pada balita (Dinkes, 2015).

Oleh karena itu pencegahan penyakit diare dapat dilakukan dengan

memberikan ASI pada bayi karena berfungsi sebagai antibody untuk melawan

agen infeksi bertanggung jwab terhadap penyakit diare. Penyakit diare juga dapat

dicegah dengan mebersihkan bahan-bahan makanan yang akan dimasak dan di

konsumsi dengan menggunakan air bersih (Okolo, 2012).

Berdasarkan survey pendahuluan yang telah dilakukan, 10 ibu yang saya

wawancara masih banyak yang tidak mengetahui tentang pencegahan diare.

Penulis memperoleh data kasus jumlah kejadian diare di Lingkungan II Kelurahan

Batunadua Jae Kota Padangsidimpuan pada awal tahun 2015 sebanyak 25 orang

yang menderita penyakit Diare yang terdiri dari 15 orang perempuan dan 10 orang

laki-laki.

Berdasarkan uraian tersebut peneliti tertarik untuk meneliti hubungan

perilaku ibu balita tentang pencegahan penyakit diare dengan kejadian diare pada

3
balita di Lingkungan II Kelurahan Batunadua Jae Kota Padangsidimpuan Tahun

2016.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang maka yang menjadi rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah bagaimana hubungan perilaku ibu balita tentang pencegahan

penyakit diare dengan kejadian diare pada balita di Lingkungan II Kelurahan

Batunadua Jae Kota Padangsidimpuan Tahun 2016?

1.3 Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana

hubungan perilaku ibu balita tentang pencegahan penyakit diare dengan kejadian

diare pada balita di Lingkungan II Kelurahan Batunadua Jae Kota

Padangsidimpuan Tahun 2016.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui pengetahuan ibu balita tentang pencegahan penyakit

diare dengan kejadian diare pada balita di Lingkungan II Kelurahan

Batunadua Jae Kota Padangsidimpuan Tahun 2016.

b. Untuk mengetahui sikap ibu balita tentang pencegahan penyakit diare

dengan kejadian diare pada balita di Lingkungan II Kelurahan

Batunadua Jae Kota Padangsidimpuan Tahun 2016.

c. Untuk mengetahui tindakan ibu balita tentang pencegahan penyakit

diare dengan kejadian diare pada balita di Lingkungan II Kelurahan

Batunadua Jae Kota Padangsidimpuan Tahun 2016.

4
d. Untuk mengetahui kejadian diare pada balita di Lingkungan II

Kelurahan Batunadua Jae Kota Padangsidimpuan Tahun 2016.

e. Untuk mengetahui hubungan perilaku ibu balita tentang pencegahan

penyakit diare dengan kejadian diare pada balita di Lingkungan II

Kelurahan Batunadua Jae Kota Padangsidimpuan Tahun 2016.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Bagi Responden

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas

perilaku ibu balita tentang pencegahan penyakit diare dengan kejadian diare

pada balita, dapat mengetahui dan memberikan pencegahan untuk

menghindari penularan virus, bakteri, dan parasit yang masuk dalam tubuh.

1.4.2 Bagi Peneliti

Sebagai prasyarat dalam menyelesaikan pendidikan Sarjana

Keperawatan di Stikes Aufa Royhan Padangsidimpuan.

1.4.3 Bagi Pendidikan Keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi dan tambahan

perilaku ibu balita dengan penyakit diare pada balita khususnya dalam bidang

keperawatan.

1.4.4 Bagi Penelitian Selanjutnya

5
Hasil penelitian ini dapat menjadi data dasar untuk penelitian

selanjutnya dan untuk menambah referensi tentang hubungan perilaku ibu

balita tentang pencegahan penyakit diare dengan kejadian diare pada balita.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

6
2.1 Perilaku

2.1.1 Definisi Perilaku

Perilaku merupakan hasil pengalaman dan proses interaksi dengan

lingkungan, yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan tindakan

sehingga diperoleh keadaan seimbang kekuatan pendorong dan kekuatan

penahan ( Notoatmodjo, 2003).

Perilaku adalah sekumpulan perilaku yang dimiliki oleh manusia dan

dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan

genetika (Dewi, 2013).

Skiner (1938) seorang ahli psikologi merumuskan bahwa perilaku

merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari

luar). Skiner membedakan adanya dua jenis rangsangan, yaitu :

1) Respondent respons atau reflexive, yaitu respon yang ditimbulkan oleh

rangsangan-rangsangan (stimulus) tertentu yang disebut eliciting stimulus,

karena menimbulkan respons-respons yang relatif tetap. Misalnya

makanan lezat, akan menimbulkkan nafsu makan, cahaya terang akan

selalu menimbulkan reaksi mata tertuup, dan sebagainya. Respondent

respons juga mencakup perilaku emosional, misalnya mendengar berita

musibah akan menimbulkan rasa sedih, mendengar berita suka atau

gembira, akan menimbulkan rasa suka cita.


2) Operant respons atau instrumental respons, yaitu respons yang timbul dan

berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau rangsangan yang lain.

Perangsang yang terakhir ini disebut reinforcing stimli atau reinforcer,

karena berfungsi untuk memperkuat respons. Misalnya apabila seseorang

7
petugas kesehatan melakukan tugasnya dengan baik adalah sebagai

respons terhadap gaji yang cukup misalnya (stimulus). Kemudian karena

kerja baik tersebut menjadi stimulus untuk memperoleh promosi

pekerjaaan. Jadi kerja baik tersebut sebagai reiforcer untuk memperoleh

promosi pekerjaan (Notoatmodjo, 2010).


2.1.2 Bentuk Perilaku

Berdsasarkan teori Skiner tersebut, maka perilaku dapat dikelompokkan

menjadi 2, yaitu :

1) Perilaku tertutup (covert behavior)


Perilaku tertutup terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut masih

belum dapat diamati orang lain (dari luar) secara jelas. Respons seseorang

masih terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan

dan sikap terhadap stimulus yang bersangkutan. Bentuk covert behavior

yang dapat diukur adalah pengetahuan dan sikap. Contoh ibu hamil tahu

pentingnya periksa kehamilan untuk kesehatan bayi dan dirinya sendiri

adalah merupakan pengetahuan (knowledge). Kemudian ibu tersebut

bertanya kepada tetangganya di mana periksa kehamilan yang dekat, ibu

bertanya tentang tempat di mana periksa kehamilan itu dilakukan adalah

sebuah kecenderungan untuk melakukan periksa kehamilan, yang

selanjutnya disebut sikap (attitude).


2) Perilaku terbuka (overt behavior)
Perilaku terbuka ini terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut

sudah berupa tindakan atau praktek ini dapat diamati orang lain dari luar

atau observabel behavior. Contoh seorang ibu hamil memeriksakan

kehamilannya ke puskesmas atau ke bidan praktek, seorang penderita TB

8
minum obat anti TB secara teratur, seorang anak menggosok gigi setelah

makan, dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010).


2.1.3 Domain Perilaku

Meskipun perilaku adalah bentuk responden atau reaksi terhadap

stimulus atau rangsangan dari luar organisme (orang), namun dalam

memberikan respon sangat tergantung pada karakteristik atau faktor-faktor

lain dari orang yang bersangkutan. Hal ini berarti meskipun stimulusnya sama

bagi beberapa orang namun respon tiap-tiap orang berbeda. Faktor-faktor

yang membedakan respons terhadap stimulus yang berbeda disebut

determinan perilaku. Determinan perilaku ini dibedakan menjadi 2, yaitu :

1) Determinan atau faktor internal, yaitu karakteristik orang yang

bersangkutan yang bersifat given atau bawaan. Misalnya, tingkat

kecerdasan, tingkat emosional, dan sebagainya.


2) Determinan atau faktor eksternal, yaitu lingkungan, baik lingkungan fisik,

sosial, budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya. Faktor lingkungan ini

sering merupakan faktor yang dominan yang mewarnai perilaku seseorang

(Mubarak, 2012).

Teori Bloom dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan

kesehatan, yaitu :

1. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu

seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung,

telinga, dan sebagainya). Dengan sendirinya pada waktu penginderaan

sehingga menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh

9
intensitas dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan

seseorang diperoleh melalui indra penginderaan (telinga), dan indra

penglihatan (mata) (Notoatmodjo, 2010).

a. Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan yang tercakup di dalam dominan kognitif

mempunyai 6 tingkat yaitu (Notoatmodjo, 2010) :

1. Tahu (Know)

Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah

ada sebelumnya setelah mengamati sesuatu.

2. Memahami (Comprehension)

Memahami suatu objek bukan sekedar tahu terhadap objek tersebut,

tidak sekedar menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat

menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui

tersebut.

3. Aplikasi (Application)

Aplikasi diartikan apabila orang telah memahami objek yang

dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang

diketahui tersebut pada situasi yang lain.

4. Analisis (Analysis)

Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan atau

memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-

komponen yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang

diketahui. Indikasi bahwa pengetahuan seseorang itu sudah sampai

10
pada tingkat analisis adalah apabila orang tersebut telah dapat

membedakan, atau memisahkan, mengelompokkan, membuat

diagram (bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut.

5. Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk

merangkum atau meletakkan dalam suatu hubungan yang logis dari

komponen-komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain

sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru

dari formulasi-formulasi yang telah ada.

6. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-

penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang di tentukan sendiri,

atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

b. Pengukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan cara wawancara

atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari

subyek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita

ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan di

atas (Nursalam, 2008).


Menurut Arkunto (2006) untuk mengetahui secara kualitas tingkat

pengetahuan melipti :
1) Baik : Bila pertanyaan di jawab dengan benar (76-100%)
2) Cukup : Bila pertanyaan di jawab dengan benar (56-75%)
3) Kurang : Bila pertanyaan di jawab dengan benar (<56%)
2. Sikap

11
Sikap adalah kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan

merupakan pelaksanaan motif tertentu. Dalam kata lain fungsi sikap belum

merupakan tindakan (reaksi terbuka) atau aktivis lain tetapi merupakan

predisposisi perilaku (tindakan), atau reaksi tertutup.

Sikap juga mempunyai tingkatan-tingkatan berdasarkan intensitasnya,

yaitu :

a. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang atau subjek mau menerima stimulus

yang diberikan (objek).

b. Menanggapi (responding)
Menanggapi adalah memberikan jawaban atau tanggapan terhadap

pertanyaan atau objek yang dihadapai.


c. Menghargai (valuing)

Menghargai adalah subjek atau seseorang memberikan nilai yang positif

terhadap objek atau stimulus, dalam arti membahasnya dengan orang lain,

bahkan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain

merespons.

f. Bertanggung jawab (responsible)

Bertanggung jawab diartikan sebagai sesuatu yang telah dipilihnya dengan

segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi (Notoatmodjo, 2010).

3. Tindakan
Sikap adalah kecenderungan untuk bertindak (praktik). Sikap belum tentu

terwujud dalam tindakan, sebab untuk terwujudnya tindakan perlu faktor lain

adanya fasilitas atau sarana dan prasarana.

12
Praktik atau tindakan dapat dibedakan menjadi 3 tingkatan menurut

kualitasnya, yaitu :
a. Praktik terpimpin (guide response)
Apabila subjek atau seseorang telah melakukan sesuatu tetapi masih

tergantung pada tuntunan atau menggunakan panduan.


b. Praktik secara mekanis (mechanism)
Apabila subjek atau seseorang telah melakukan atau mempraktikkan

sesuatu hal secara otomatis maka disebut praktik atau tindakan medis.
c. Ad2opsi (adoption)
Adopso adalah suatu tindakan atau praktik yang sudah berkembang.

Artinya, apa yang dilakukan tidak sekedar rutinitas atau mekanisme saja,

tetapi sudah dilakukan modifikasi, atau tindakan perilaku yang berkualitas

(Notoatmodjo, 2010).

2.2 Ibu

2.2.1 Definisi Ibu

Ibu adalah orangtua perempuan seorang anak, baik melalui hubungan

biologis maupun sosial. Umumnya, ibu memiliki peranan yang sangat penting

dalam membesarkan anak, dan panggilan ibu dapat diberikan untuk

perempuan yang bukan orang tua kandung (biologis) dari seseorang yang

mengisi peranan ini (Tika, 2012).

Ibu adalah perempuan yang telah melahirkan kita sebutan untuk wanita

yang telah bersuami, rentang usia ibu balita 18- 35 tahun (Reality, 2008).

2.3 Balita

2.3.1 Definisi Balita

Balita adalah bayi yang berada pada rentang usia 0-5 tahun. Pada usia

ini otak anak mengalami pertumbuhan yang sangat besar yang dikenal dengan

13
istilah masa keemasan (the golden ege), dan pada masa ini harus

mendapatkan stimulasi secara menyeluruh baik kesehatan, gizi, pengasuhan,

dan pendidikan (Depkes, 2013).

Balita adalah anak yang berusia antara 1-5 tahun, sedangkan usia

diatasnya (6-12 tahun) disebut anak usia awal sekolah (Sudarmoko, 2011).

2.4 Penyakit Diare

2.4.1 Definisi

Penyakit diare dapat menyerang siapa saja, baik itu anak-anak maupun

orang dewasa. Diare adalah sebuah penyakit di mana penderita mengalami

rangsangan buang air besar yang terus-menerus dan tinja atau feses memiliki

kandungan air yang berlebihan (Hanifatunnisa, 2013).

Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang

terjadi karena frekuensi satu kali lebih buang air besar dengan bentuk tinja

yang encer atau cair (Suriadi, 2010).

Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada

bayi dan lebih dari 3 kali pada anak konsisten feses encer, dapat berwarna

hijau dapat pula bercampur lendir dan darah (Maryunani, 2010).

Diare adalah buang air besar disertai cairan atau berak cair, dengan

frekuensi berak lebih dari 3 kali dalam 24 jam. Secara opeasional definisi

diare adalah terjadinya perubahan bentuk dan konsistensi tinja, melembek

sampai mencair serta bertambahnya frekuensi berak lebih dari biasanya

(Purnaningrum, 2010).

14
Diare adalah benda cair yang keluar dari dubur tanpa dapat

dikendalikan. Ia bisa digolongkan penyakit infeksi atau non-infeksi dari

berbagai gangguan perut dapat akut dan dapat juga kronis (Sitorus, 2008).

2.4.2 Klasifikasi

Departemen Kesehatan RI (2000), mengklasifikasikan jenis diare

menjadi empat kelompok yaitu:

2) Diare akut yaitu diare yang berlangsung kurang dari empat belas hari

(umumnya kurang dari tujuh hari).

3) Disentri yaitu diare yang disertai darah dalam tinjanya.

4) Diare persisten yaitu diare yang berlangsung lebih dari empat belas hari

secara terus menerus.

5) Diare dengan masalah lain yaitu anak yang menderita diare (diare akut dan

persisten) mungkin juga disertai penyakit lain seperti demam, gangguan

gizi atau penyakit lainnya.

2.4.3 Etiologi

1) Faktor Infeksi

a. Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan makanan yang

merupakan penyebab utama diare pada naka. Meliputi enternal sebagai

berikut :

(1) Infeksi bakteri : Vibrio, [Link], Salmonella, Shigella,

Campylobacter, Yersinia, Aeromonas, dan sebagainya.

(2) Infeksi virus : Enterovirus, Adeno-virus, Rotavirus, Astrovirus, dan

lain-lain.

15
(3) Infeksi parasit : Enterovirus, Adeno-virus, Rotavirus, Astrovirus,

dan lain-lain.

b. Infeksi parental yaitu infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti :

otitis media akut, tonsillitis/tonsilofaringitis, bronkopnemonia,

ensefalitis, dan sebaginya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan

anak berumur di bawah 2 tahun.

2) Faktor Molbsorbsi

a. Malabsorbsi karbohidrat : disakarida (maltosa dan sukrosa),

monosakarida (fruktosa dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang

terpenting dan tersering (intorelansi laktosa).

b. Malabsorbsi lemak.

c. Malabsorbsi protein.

3) Faktor makanan, makanan basi, beracun, alergi terhadao makanan.

4) Faktor psikologis yaitu rasa takut dan cemas (jarang tetapi dapat terjadi

pada anak yang lebih besar) (Ngastiyah, 2005).

5) Faktor gizi, dimana makin buruk gizi seorang balita ternyata makin

banyak episode diare yang dialami.

6) Faktor social ekonomi. Hal ini mempunyai pengaruh langsung terhadap

faktor-faktor penyebab diare. Kebanyakan balita yang mudah menderita

diare berasal dari keluarga besar dengan daya beli yang rendah, kondisi

rumah yang buruk, tidak punya penyediaan air bersih yang mempunyai

persyaratan kesehatan, pendidikan orang tua yang rtendah dan sikap serta

kebiasaan yang tidak menguntungkan.

16
7) Faktor lingkungan. Sanitasi lingkungan yang buruk juga akan berpengaruh

terhadap terjadinya diare (Suharyono, 2008).

2.4.4 Patogenesis

Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah :

1) Gangguan Osmotik

Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan

menyebabkan tekanan osmotic dalamrongga usus meninggi sehingga

terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus

yang berlebihan akan merangsang untuk mengeluarkan sehingga timbul

diare.

2) Gangguan Sekresi

Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan

terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan

selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus.

3) Gangguan Motilitas Usus

Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk

menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltic

menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya

timbul diare pula (Ngastiyah, 2005).

17
2.4.5 Tanda dan Gejala

Sebagai akibat diare akan terjadi dehidrasi atau kekurangan cairan

tubuh, kekurangan glukosa, kekurangan gizi akibat masuknya makanan atau

minuman yang kurang dan pengeluaran yang berlebihan, serta gangguan

sirkulasi darah.

Tanda dan gejala diare pada balita yaitu :

a. Cengeng

b. Gelisah

c. Suhu meningkat

d. Nafsu makan menurun

e. Tinja cair, lender kadang-kadang ada darahnya. Lama-lama tinja berwarna

hijau atau asam.

f. Anus lecet

g. Dehidrasi, bila menjadi dehidrasi berat akan terjadi volume darah

berkurang nadi cepat dan kecil, denyut jantung cepat, tekanan darah turun,

kesadaran mnurun dan diakhiri dengan syok.

h. Berat badan turun

i. Turgor kulit menurun

j. Mata dan ubun-ubun cekung

k. Selaput lender dan mulut serta kulit menjadi kering (Sudarti, 2010).

Penentuan Derajat Dehidrasi WHO

No. Tanda dan Dehidrasi Dehidrasi Dehidrasi Berat


Gejala Ringan Sedang

18
1. Keadaan Sadar, gelisah, Gelisah rewel, Mengantuk,lemas,
umum haus mengantuk anggota gerak
dingin, berkeringat
kebiruan, mungkin
koma/tidak sadar
2. Denyut nadi Normal kurang Cepat dan Cepat, haus, kadang-
dari 120/menit lemah 120- kadang tidak teraba,
140/menit kurang dari
140/menit
3. Pernapasan Normal Dalam, Dalam dan cepat
mungkin cepat
4. Ubun-ubun Normal Cekung Sangat cekung
besar
5. Kelopak mata Normal Cekung Sangat cekung
6. Air mata Ada Tidak ada Sangat kering
7. Selaput Lembab Kering Sangat kering
lender
8. Elastisitas Pada pencubitan Lambat Sangat lambat (lebih
kulit kulit secara dari 2 detik)
elastic kembali
secara normal
9. Air seni Normal Berkurang Tidak kencing
warnanya tua

2.4.6 Pencegahan Diare

Cara pencegahan yang benar dan efektif yang dapat dilakukan untuk

penyakit diare adalah antara lain:

1) Pernberian ASI

ASI adalah makanan paling baik untuk bayi. Komponen zat makanan

tersedia dalam bentuk yang ideal dan seimbang untuk dicerna dan diserap

secara optimal oleh bayi. ASI saja sudah cukup untuk menjaga pertumbuhan

19
sampai umur 4-6 bulan. Tidak ada makanan lain yang dibutuhkan selama

masa ini. ASI adalah makanan bayi yang paling alamiah, sesuai dengan

kebutuhan gizi bayi dan mempunyai nilai proteksi yang tidak bias ditiru oleh

pabrik susu manapun juga.

Pemberian ASI saja, tanpa cairan atau makanan lain dan tanpa

menggunakan botol, menghindarkan anak dari bahaya bakteri dan organisme

lain yang akan menyebabkan diare. Keadaan seperti ini disebut disusui secara

penuh. Bayi - bayi harus disusui secara penuh sampai mereka berumur 4-6

bulan. Setelah 6 bulan dari kehidupannya, pemberian ASI harus diteruskan

sambil ditambahkan dengan makanan lain (proses menyapih).

ASI mempunyai khasiat preventif secara imunologik dengan adanya

antibodi dan zat-zat lain yang dikandungnya. ASI turut memberikan

perlindungan terhadap diare. Pada bayi yang baru lahir, pemberian ASI secara

penuh mempunyai daya lindung 4 kali lebih besar terhadap diare daripada

pemberian ASI yang disertai dengan susu botol. Flora usus pada bayi -bayi

yang disusui mencegah tumbuhnya bakteri penyebab diare. Pada bayi yang

tidak diberi ASI secara penuh, pada 6 bulan pertama kehidupan, risiko

mendapat diare adalah 30 kali lebih besar.

Pemberian susu formula merupakan cara lain dari menyusui.

Penggunaan botol untuk susu formula, biasanya menyebabkan risiko tinggi

terkena diare sehingga mengakibatkan terjadinya gizi buruk.

2) Makanan Pendamping ASI

20
Pemberian makanan pendamping ASI adalah saat bayi secara bertahap

mulai dibiasakan dengan makanan orang dewasa. Pada masa tersebut

merupakan masa yang berbahaya bagi bayi sebab perilaku pemberian

makanan pendamping ASI dapat menyebabkan meningkatnya risiko

terjadinya diare ataupun penyakit lain yang menyebabkan kematian . Perilaku

pemberian makanan pendamping ASI yang baik meliputi perhatian terhadap

kapan, apa dan bagaimana makanan pendamping ASI diberikan.

3) Perilaku hidup bersih dan sehat

Untuk melakukan pola prilaku hidup bersih dan sehat dilakukan

beberapa penilaian antara lain adalah :

a. Penimbangan balita . Apabila ada balita pertanyaanya adalah apakah sudah

ditimbang secara teratur ke posyandu minimal 8 kali setahun.

b. Gizi , anggota keluarga makan dengan gizi seimbang.

c. Air bersih, keluarga menggunakan air bersih (PAM, sumur, perpipaan)

untuk keperluan sehari-hari.

d. Jamban keluarga, keluarga. buang air besar di jamban/WC yang memenuhi

syarat kesehatan.

e. Air yang di minum dimasak terlebih dulu.

f. Mandi menggunakan sabun mandi.

g. Selalu cuci tangan sebelum makan dengan menggunakan sabun. Pencucian

peralatan menggunakan sabun.

h. Limbah, apakah SPAL sering di bersihkan (Haroen, dkk, 2010).

2.4.7 Penatalaksanaan

21
Prinsip perawatan diare adalah :

1) Penanganan fokus pada penyebab.

2) Pemberian cairan dan elektrolit oralit atau terapi parenteral.

3) Pemberian cairan : jenis cairan, cara pemberian cairan, dan jumlah

pemberian.

4) Cara pemberian makanan.

5) Obat-obatan (Suriadi, 2010).

2.5 Kerangka Konsep

Kerangka konsep adalah suatu hubungan antara konsep-konsep yang ingin

diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan

(Notoatmodjo, 2010).

Adapun kerangka konsep di bawah ini yang akan diteliti adalah hubungan

perilaku ibu balita tentang pencegahan penyakit diare dengan kejadian diare pada

balita di Lingkungan II Kelurahan Batunadua Jae Kota Padangsidimpuan.

Variabel Independen Variabel Dependen

Perilaku Ibu Balita Tentang


Pencegahan Penyakit Diare Kejadian Diare
1. Pengetahuan 1. Ada
2. Sikap 2. Tidak Ada
3. Tindakan

Skema 1: Kerangka konsep penelitian tentang kejadian diare pada balita.

2.6 Hipotesis

Hipotesis dapat diartikan sebagai dugaan pemecahan masalah yang bersifat

sementara, yakni pemecahan masalah yang mungkin benar dan mungkin pula

22
salah. Untuk menguji hipotesis data atau fakta-fakta yang diperoleh dari hasil

pengumpulan data. Selanjutnya Arikunto (2007) mengatakan bahwa Ada dua

jenis hipotesis alternatif, hipotesis nol adalah hipotesis yang mengatakan tidak

adanya hubungan antara variabel, sedangkan hipotesis alternatif adalah hipotesis

yang mengatakan adanya hubungan antar variabel. Dan pendapat tersebut dapat

diartikan bahwa hipotesis itu masih perlu dibuktikan kebenarannya, karena itu

hipotesis merupakan jawaban yang masih belum final atau jawaban sementara.

Hipotesis pada penelitian ini adalah hubungan perilaku ibu balita tentang

pencegahan penyakit diare denagn kejadian diare pada balita di Lingkungan II

Kelurahan Batunadua Jae Kota Padangsidimpuan Tahun 2015.

1. Ha : Diterima ada hubungan perilaku ibu balita tentang pencegahan penyakit

diare terhadap kejadian diare pada balita. Dengan tingkat signifikansi =

0,05. Jika 0,05 maka H0 ditolak berarti Ha diterima.

2. Ho : Tidak ada hubungan perilaku ibu balita tentang pencegahan penyakit

diare terhadap kejadian diare pada balita. Sebaliknya jika > 0,05 maka

H0 diterima dan Ha ditolak.

23
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasi. Menurut

Sarwono (2006) Korelasi adalah desain penelitian yang digunakan untuk melihat

kuat lemahnya antara variabel bebas dengan variabel terikat. Korelasi juga

digunakan untuk mengetahui derajat korelasi antara kedua variabel.

Korelasi bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perilaku ibu balita

tentang pencegahan penyakit diare dengan kejadian diare pada balita di

Lingkungan II Kelurahan Batunadua Jae Kota Padangsidimpuan dengan

pendekatan Cross Sectional Study yaitu penelitian yang dilakukan dan

dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan. Penelitian ini akan diolah dengan

menggunakan uji statistik yaitu chi square.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini mengambil lokasi di Lingkungan II Kelurahan Batunadua

Jae Kota Padangsidimpuan. Adapun alasan pemilihan lokasi adalah dengan

pertimbangan bahwa di Lingkungan II Kelurahan Batunadua Jae Kota

Padangsidimpuan ini memungkinkan untuk mendapatkan sampel yang

24
memadai sesuai dengan kriteria penelitian, dan penelitian ini juga belum

pernah dilakukan di daerah tersebut.

3.2.2 Waktu Penelitian

Waktu penelitian akan dilakukan pada bulan September 2015 sampai

dengan Maret 2016.

Tabel 3.1 Skedul Penelitian

Waktu
N Bulan
Kegiatan
o Sept Okt Nov Des Jan Feb Mar
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Pengajuan
1
Judul
2 ACC Judul
Permohonan
3
Izin
Pembuatan
4
Bab I, II, III
Bab I, II, III
5
ACC
Seminar
6
Proposal
Perbaikan
7
Proposal
Pelaksanaan
8
Penelitian
Pengolahan
9
Data
Seminar
10
Akhir

3.3 Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang meliputi seluruh

elemen yang ada dalam wilayah penelitian (Arikunto, 2006). Populasi dalam

penelitian adalah subjek yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.

25
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai balita yang

bertempat tinggal di Lingkungan II Kelurahan Batunadua Jae Kota

Padangsidimpuan berjumlah 34 orang.

3.3.2 Sampel

Arikunto (2007) mengatakan bahwa sampel adalah sebagian atau wakil

populasi yang ditentukan untuk diteliti. Menurut Arikunto jika populasi >100,

maka jumlah sampel yang diambil dalam 10-15% dari populasi. Jika populasi

<100, maka jumlah sampel diambil dari semua populasi.

Peneliti mengambil keseluruhan dari populasi untuk dijadikan sampel

yaitu sebanyak 34 ibu yang mempunyai balita. Total sampling adalah

pengambilan dari keseluruhan populasi.

3.4 Defenisi Operasional

Defenisi Skala
Variabel Alat Ukur Hasil Ukur
Operasional Ukur
Pengetahuan Segala sesuatu yang Kuesioner Ordinal Baik(76%-100%)
diketahui ibu balita Cukup(56%-
mengenai 75%)
pencegahan penyakit Kurang (<55%)
diare
Sikap Suatu kesiapan ibu Kuesioner Nominal Positif = 75%
balita atau kesediaan Negatif = 25%
untuk bertindak
dalam pncegahan
penyakit diare
Tindakan Kecenderungan ibu Kuesioner Nominal Dilakukan = 75%
balita untuk Tidak Dilakukan
bertindak (praktik) = 25%
dalam menangani

26
pencegahan penyakit
diare

Kejadia Diare Suatu keadaan Observasi Nominal Ada (1)


Pada Balita dimana terjadi buang Tidak Ada (0)
air besar cair atau
mencret dengan
frekuensi lebih dari 3
kali sehari dalam
kurun waktu 3 bulan
terakhir yang dialami
oleh balita yang
terpilih sebagai
sampel.

3.5 Etika Penelitian

Dalam buku Hidayat (2011) menjelaskan masalah etika pendidikan

keperawatan merupakan masalah yang sangat penting dalam penelitian,

mengingat penelitian keperawatan berhubugan langsung dengan manusia, maka

segi etika penelitian harus diperhatikan.

3.6 Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini dalam bentuk

kuesioner yang disusun sendiri oleh peneliti dengan berpedoman pada konsep

teori perilaku ibu balita tentang pencegahan penyakit diare pada balita dengan

kejadian diare pada balita. Kuesioner penelitian ini terdiri dari dua bagian.

Pertama, kuesioner data demografi mencakup data mengenai umur, pendidikan,

pekerjaan dan status sosial ekonomi. Kedua, kuesioner tentang pengetahuan ibu

27
balita tentang pencegahan penyakit diare terdiri dari sepuluh pertanyaan (nomor

1-10) dengan pilihan jawaban ya, tidak, kemudian sikap ibu balita tentang

pencegahan penyakit diare yang terdiri dari 10 pernyataan (nomor 1-10) dengan

jawaban setuju, tidak setuju, kemudian tindakan ibu balita tentang pencegahan

penyakit diare yang terdiri dari 10 pertanyaan (nomor 1-19) dengan jawaban

dilakukan, tidak dilakukan, kemudian kejadian diare pada balita yang terdiri dari

10 pertanyaan (nomor 1-10) dengan jawaban ada dan tidak ada.

Penilaian hubungan antara perilaku ibu balita tentang pencegahan penyakit

diare dengan kejadian diare diukur dengan skala Likert pengukuran dengan

jawaban ya atau tidak, Kuesioner yang dibagikan kepada responden sebanyak 20

soal, setiap jawaban yang benar diberi nilai 1 dan yang salah diberi nilai 0.

Kuesioner ini akan dilakukan validitas di Lingkungan II Kelurahan Batunadua Jae

Kota Padangsidimpuan.

3.7 Uji Validitas dan Reabilitas Intrumen

Sebelum melakukan penelitian, terlebih dahulu dilakukan uji validitas dan

reliabilitas. Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-

benar mengukur apa yang diukur. Suatu kuisioner dikatakan valid jika pertanyaan

pada kuisioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh

kuisioner tersebut. Dalam hal ini beberapa item pertanyaan dapat digunakan untuk

mengungkapkan variabel yang diukur tersebut. Uji ini dilakukan dengan

menghitung korelasi antara masing-masing skor item pertanyaan dari setiap

variabel dengan total skor variabel tersebut (Hidayat, 2007).

28
Reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejah mana suatu alat

pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Hal ini berarti menunjukkan

sejauh mana hasil pengukuran itu tetap konsisten bila dilakukan pengukuran dua

kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat ukur yang

sama. Pengukuran reliabilitas menggunakan bantuan software computer dengan

rumus Alpha Cronbach. Suatu variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai

Alpha Cronbach > 0,5 (Azwar, 2012). Uji reliabilitas instrumen ini bertujuan

untuk mengetahui seberapa besar derajat atau kemampuan alat ukur untuk

mengukur secara konsistensi sasaran yang diukur.

Dalam penelitian ini digunakan uji reliabilitas yang diperoleh dengan cara

menganalisis data yang dilakukan pada 10 orang responden untuk uji reliabilitas

adalah ibu balita yang bertempat tinggal di Lingkungan II Kelurahan Batunadua

Jae Kota Padangsidimpuan. Uji reliabilitas mengenai perilaku ibu balita dengan

pencegahan penyakit diare pada balita terhadap angka kejadian diare pada balita

dilakukan dengan menggunakan komputerisasi untuk analisis Cronchbach Alpha.

Untuk instrumen baru dikatakan reliabel jika memiliki reliabilitas lebih dari 0,70

(Arikunto, 2007). Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa instrumen yang

digunakan dalam penelitian adalah reliabel.

3.8 Prosedur Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan setelah mengikuti langkah-langkah

pengumpulan data yaitu:

29
1. Mengajukan permohonan izin pelaksanaan kepada institusi pendidikan

(Program Studi Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu kesehatan Aufa Royhan

Padangsidimpuan)

2. Mengirimkan permohonan izin yang diperoleh kepada Lurah Batunadua

Jae

3. Setelah mendapat izin dari Lurah Batunadua Jae, peneliti melakukan

pengumpulan data penelitian

4. Menjelaskan kepada calon responden tentang tujuan dan prosedur

pelaksanaan penelitian

5. Calon responden yang bersedia, diminta untuk menandatangani lembar

persetujuan

6. Menjelaskan kepada responden tentang prosedur pengisian kuesioner

7. Responden diminta untuk menjawab pernyataan yang terdapat pada

lembar kuesioner yang diberikan oleh peneliti sesuai dengan petunjuk yang

ada. Selama pengisian kuesioner responden diberi kesempatan untuk bertanya

pada peneliti bila ada pernyataan yang tidak dipahami

8. Setelah diisi, kuesioner dikumpulkan kembali oleh peneliti dan diperiksa

kelengkapanya, apabila ada yang tidak lengkap diselesaikan di saat itu juga

9. Pengolahan dan analisa data dilakukan setelah data terkumpul sesuai

dengan keperluan.

3.9 Analisa Data

Setelah data terkumpul kemudian analisa data dilakukan melalui tahapan

editing untuk mengecek dan memastikan bahwa kuesioner telah diisi oleh

30
responden sesuai dengan petunjuk. Kemudian dilanjutkan dengan koding dan

memberi kode atau angka tertentu pada kuesioner untuk mempermudah dalam

menganalisa data. Selanjutnya peneliti memasukkan data ke dalam komputer dan

dilakukan pengolahan data dengan menggunakan teknik komputerisasi. Dimana

data hubungan perilaku ibu balita tentang pencegahan penyakit diare pada balita

terhadap angka kejadian diare pada balita akan disajikan dalam bentuk tabel

distribusi frekuensi dan persentase.

a. Analisa Univariat

Melihat gambaran karakteristik keluarga berupa distribusi frekuensi

meliputi umur, pendidikan, pekerjaan, dan status sosial ekonomi.

b. Analisa Bivariat

Uji pearson Chi-square digunakan untuk menguji keterkaitan antara dua

variabel katagori dimana asumsinya nilai harapan untuk setiap sel minimal 5

atau lebih, dengan kata lain data yang terlibat dalam uji Pearson Chi-square

harus lah banyak.

Uji chi Square (X2) dengan nilai alpha 0,05. Dengan tingkat signifikansi

= 0,05. Jika 0,05 maka H 0 ditolak berarti Ha diterima (ada hubungan antara

perilaku ibu balita tentang pencegahan penyakit diare pada balita dengan

kejadian diare pada balita. Sebaliknya jika > 0,05 maka H0 diterima dan Ha

ditolak (tidak ada hubungan antara perilaku ibu balita tentang pencegahan

penyakit diare pada balita dengan kejadian diare pada balita).

31
BAB IV
HASIL PENELITIAN

Bagian ini menguraikan tentang Hubungan Perilaku Ibu Balita Tentang

Pencegahan Penyakit Diare Dengan Kejadian Diare Pada Balita, yang diperoleh

melalui pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner dan observasi

terhadap 34 orang responden di Lingkungan II Kelurahan Batunadua Jae Kota

Padangsidimpuan Tahun 2016.

4.1 Analisa Univariat

4.1.1 Karakteristik Responden

Dari penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti mengenai Hubungan

Perilaku Ibu Balita Tentang Pencegahan Penyakit Diare Pada Balita Di

Lingkungan II Kelurahan Batunadua Jae Kota Padangsidimpuan Tahun 2016,

dengan data demografi atau karakteristik berupa umur, pendidikan, pekerjaan dan

status ekonomi. Maka hasil penelitian yang diperoleh dapat dilihat dalam tabel

distribusi frekuensi berikut:

Tabel 4.1. Distribusi frekuensi dan persentase berdasarkan karakteristik responden


di Lingkungan II Kelurahan Batunadua Jae Kota Padangsidimpuan

Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (n)

32
1 Umur
a. 20-25 Tahun 8 23,5%
b. 26-30 Tahun 15 44,1%
c. 31-35 Tahun 11 32,4%
Jumlah 34 100%
2 Pendidikan terakhir
a. SD 11 32,4%
b. SMP 8 23,5%
c. SMU 9 26,5%
d. Perguruan tinggi 6 17,6%
Jumlah 34 100%

3 Pekerjaan
a. Ibu Rumah Tangga 11 32,4%
b. Petani 9 26,5%
c. Wiraswasta 10 29,4%
d. PNS 4 11,8%
Jumlah 34 100%
4 Penghasilan
a. <Rp 1.000.000 22 64,7%
b. Rp 1.000.00 7 20,6%
2.000.000 5 14,7%
c. >Rp 2.000.000
Jumlah 34 100%

Berdasarkan tabel 4.1 di atas diperoleh hasil tentang karakteristik responden

dengan kejadian diare pada balita yang dilibatkan dalam penelitian ini adalah

sebanyak 34 orang dan dibagi menjadi 3 kelompok umur yaitu 20-25 tahun, 26-30

tahun, 31-35 tahun. Dari tabel diatas dapat diketahui mayoritas berumur 26-30

tahun sebanyak 15 orang (44,1%) dan minoritas berumur 20-25 tahun sebanyak 8

orang (23,55).

Berdasarkan tingkat pendidikan dikelompokkan dalam empat kategori yaitu

lulusan SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi. Dari 34 responden mayoritas

33
berpendidikan SD sebanyak 11 orang (32,4%), dan minoritas berpendidikan

Perguruan Tinggi sebanyak 6 orang (17,6%).

Berdasarkan jenis pekerjaan ibu dikelompokkan atas empat kategori yaiti

ibu rumah tangga, petani, wiraswasta, dan PNS. Dari 34 responden mayoritas

bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga sebanyak 11 orang (32,4%), dan minoritas

bekerja sebagai PNS sebanyak 4 orang (11,8%).

Berdasarkan status ekonomi dikelompokkan menjadi 2 kategori yaitu < Rp

1.000.000/bln, Rp 1.000.000 2.000.000/bln, > Rp 2.000.000/bln. Dari 34

responden mayoritas berstatus ekonomi < Rp 1.000.000/bln sebanyak 22 orang

(64,7%), dan minorit > Rp 2.000.000/bln sebanyak 5 orang (14,7%).

4.1.2 Pengetahuan Ibu Balita

Hasil penelitian yang diperoleh dari pengetahuan ibu balita berupa baik,

cukup dan kurang dapat dilihat dalam tabel distribusi frekuensi dan persentase

pernyataan untuk responden sebagai berikut:

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu Balita tentang Pencegahan


Penyakit Diare Dengan Kejadian Diare Pada Balita di Lingkungan II
Kota Padangsidimpuan

Pengetahuan Ibu Balita Frekuensi (n) Persentase (n)


1. Baik 3 8,8%
2. Cukup 14 41,2%
3. Kurang 17 50%
Total 34 100%

Berdasarkan tabel 4.2 di atas dapat diketahui bahwa pengetahuan ibu balita

tentang pencegahan penyakit diare dengan kejadian diare pada balita mayoritas

berpengetahuan kurang sebanyak 17 orang (50%) dan minoritas berpengetahuan

baik sebanyak 3 orang (8,8%).

34
4.1.3 Sikap Responden

Hasil penelitian yang diperoleh dari sikap ibu balita berupa positif dan

negatif dapat dilihat dalam tabel distribusi frekuensi dan persentase pernyataan

untuk responden sebagai berikut:

Tabel 4.3. Distribusi Frekuensi Sikap Ibu Balita tentang Pencegahan Penyakit
Diare Dengan Kejadian Diare Pada Balita di Lingkungan II Kota
Padangsidimpuan

Sikap Ibu Balita Frekuensi (n) Persentase (n)


1. Positif 7 20,6%
3.9.2 Negatif 27 79,4%
Total 34 100%
Berdasarkan tabel 4.3 di atas dapat diketahui bahwa sikap ibu balita tentang

pencegahan penyakit diare dengan kejadian diare pada balita mayoritas bersikap

negatif sebanyak 27 orang (79,4%), dan minoritas sikap positif sebanyak 7 orang

(20,6%).

4.1.4 Tindakan Responden

Hasil penelitian yang diperoleh dari tindakan ibu balita berupa dilakukan

dan tidak dilakukan dapat dilihat dalam tabel distribusi frekuensi dan persentase

pernyataan untuk responden sebagai berikut:

Tabel 4.4. Distribusi Frekuensi Tindakan Ibu Balita tentang Pencegahan Penyakit
Diare Dengan Kejadian Diare Pada Balita di Lingkungan II Kota
Padangsidimpuan

Tindakan Ibu Balita Frekuensi (n) Persentase (n)


1. Dilakukan 4 11,8%
3.9.3 Tidak Dilakukan 30 88,2%
Total 34 100%

Berdasarkan tabel 4.4 di atas dapat diketahui bahwa tindakan ibu balita

tentang pencegahan penyakit diare dengan kejadian diare pada balita mayoritas

35
melakukan tindakan sebanyak 4 orang (11,8%), dan minoritas tidak melakukan

tindakan sebanyak 30 orang (88,2%).

4.1.5 Kejadian Diare

Hasil penelitian yang diperoleh dari kejadian diare dapat dilihat dalam tabel

distribusi frekuensi berikut:

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Kejadian Diare di Lingkungan II Kelurahan


Batunadua Jae Kota Padangsidimpuan

Kejadian Diare Frekuensi (n) Persentase (n)


1. Ada 30 88,2%
2. Tidak Ada 4 11,8%
Total 34 100%
Berdasarkan tabel 4.5 di atas dapat diketahui bahwa dari 34 responden yang

diteliti tentang kejadian diare mayoritas responden menyatakan ada kejadian diare

sebanyak 30 orang (88,2%), dan minoritas tidak ada kejadian diare sebanyak 4

orang (11,8%).

4.2 Analisa Bivariat

4.2.1 Hubungan Pengetahuan Ibu Balita Dengan Kejadian Diare

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Hubungan Pengetahuan Ibu Balita dengan


Kejadian Diare Di Lingkungan II Kelurahan Batunadua Jae Kota
Padangsidimpuan

Kejadian
Pengetahu Total
Ada Tidak Ada Pvalue
an
f % F % F %
Baik 0 0 3 8,8% 3 8,8%
Cukup 13 38,2% 1 2,9% 14 41,2% 0,05 0,00
Kurang 17 50% 0 0 17 50%
Total 30 88,2% 4 11,8% 30 100%

Berdasarkan tabel 4.6 dapat dilihat bahwa dari 34 responden menunjukkan

responden berpengetahuan baik dengan kejadian diare pada balita tidak terjadi

36
yaitu 3 orang (8,8%). Kategori pengetahuan Cukup dengan kejadian diare pada

anak yang terjadi ada 13 orang (38,2%) dan yang tidak terjadi 1 orang (2,9%).

Sedangkan pada kategori pengetahuan kurang dengan kejadian diare pada anak

yang terjadi ada 17 orang (50%).

Dari hasil analisa statistik dengan menggunakan Uji Chi-Square diperoleh P

= 0.00 (< 0,005) artinya bahwa ada hubungan antara pengetahuan responden

dengan kejadian diare pada balita di Lingkungan II Kelurahan Batunadua Jae Kota

Padangsidimpuan Tahun 2016.

4.2.2 Hubungan Sikap Ibu Balita Dengan Kejadian Diare

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Hubungan Sikap Ibu Balita dengan Kejadian
Diare Di Lingkungan II Kelurahan Batunadua Jae Kota
Padangsidimpuan

Kejadian
Total
Sikap Ada Tidak Ada Pvalue
f % F % F %
Positif 3 8,8% 4 11,2% 7 20,6%
Negatif 27 79,4% 0 - 27 79,4% 0,05 0,01
Total 30 88,2% 4 11,2% 34 100 %

Berdasarkan tabel 4.7 dapat dilihat bahwa dari 34 responden, menunjukkan

responden bersikap positif dengan kejadian diare pada balita yang terjadi yaitu 3

orang (8,8%), tidak terjadi yaitu 4 orang (11,2%). Kategori besikap negatif dengan

kejadian diare pada balita yang terjadi ada 27 orang (79,4%) dan yang tidak

terjadi 4 orang (11,2%).

Dari hasil analisa statistik dengan menggunakan Uji Chi-Square diperoleh P

= 0.01 (< 0,05) artinya bahwa ada hubungan antara sikap responden dengan

37
kejadian diare pada balita di Lingkungan II Kelurahan Batunadua Jae Kota

Padangsidimpuan Tahun 2016.

4.2.3 Hubungan Tindakan Ibu Balita Dengan Kejadian Diare

Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Hubungan Tindakan Ibu Balita dengan Kejadian
Diare Di Lingkungan II Kelurahan Batunadua Jae Kota
Padangsidimpuan

Kejadian
Total Pvalu
Tindakan Ada Tidak Ada
e
f % F % F %
Dilakukan 0 4 11,8% 4 11,8%
Tidak 0,05 0,00
30 88,2% 0 - 30 88,2%
Dilakukan
Total 30 88,2% 4 11,8% 34 100 %
Berdasarkan tabel 4.8 dapat dilihat bahwa dari 34 responden, menunjukkan

responden melakukan tindakan dengan kejadian diare pada balita yang tidak

terjadi yaitu 4 orang (11,8%). Kategori yang tidak melakukan tindakan dengan

kejadian yang ada yaitu sebanyak 30 orang (88,2%).

Dari hasil analisa statistik dengan menggunakan Uji Chi-Square diperoleh P

= 0.00 ( artinya bahwa ada hubungan tindakan ibu balita dengan kejadian

38
diare pada balita di Lingkungan II Kelurahan Batunadua Jae Kota

Padangsidimpuan Tahun 2016.

BAB V
PEMBAHASAN

Dalam pembahasan ini peneliti mencoba untuk menjawab pertanyaan

penelitian yaitu bagaimana Hubungan Perilaku Ibu Balita Tentang Pencegahan

Penyakit Diare Dengan Kejadian Diare Pada Balita Di Lingkungan II Kelurahan

Batunadua Jae Kota Padangsidimpuan Tahun 2016.

5.1 Karakteristik Responden

Responden yang berusia 20-25 tahun berjumlah 8 orang (23,5%), responden

yang berusia 26-30 tahun sebanyak 15 orang (44,1%), dan responden yang berusia

31-35 tahun sebanyak 11 orang (32,4%). Dengan demikian mayoritas responden

berusia 26-30 tahun (44,1%), dan minoritas berusia 20-25 tahun (23,5%).

Responden dalam penelitian ini termasuk kedalam kategori dewasa. Menurut teori

Genis (2007) menjelaskan bahwa umur merupakan salah satu predisposing faktor

terjadinya perubahan perilaku seseorang. Hal ini dapat disimpulkan bahwa

39
perbedaan usia seseorang mungkin bisa mempengaruhi seseorang dalam

melakukan perilaku kesehatan.

Responden dengan tingkat pendidikan SD sebanyak 11 orang (32,4%), SMP

sebanyak 8 orang (23,5%), SMA sebanyak 9 orang (26,5%), dan Perguruan Tinggi

sebanyak 6 orang (17,6%). Dengan demikian mayoritas responden berpendidikan

SD sebanyak 11 orang (32,4%), dan minoritas berpendidikan Perguruan Tinggi

sebanyak 6 orang (17,6%). Dari hasil pendidikan dapat menentukan tingkat

pengetahuan seseorang. Semakin tinggi pendidikan seseorang makin mudah

menerima informasi sehingga banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya

pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang

terhadap nilai-nilai ynag baru diperkenalkan.

Dari hasil penelitian yang bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga sebanyak 11

orang (32,4%), Petani sebanyak 9 orang (26,5%), wiraswasta sebanyak 10 orang

(29,4%), dan PNS sebanyak 4 orang (11,8%). Dengan demikian mayoritas

responden bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga sebanyak 11 orang (32,4%), dan

minoritas bekerja sebagai PNS sebanyak 4 orang (11,8%). Dari uraian tersebut

dapat disimpulkan bahwa pekerjaan seseorang dapat mempengaruhi tingkat

pengetahuan seseorang. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih

banyak merupakan cara mencari nafkah yang membosankan, berulang, dan

banyak tantangan. Semakin lama seseorang bekerja semakin banyak pengetahuan

yang diperoleh.

Kemudian berdasarkan penghasilan < Rp 1.000.000 sebanyak 22 orang

(64,7%), Rp 1.000.000 2.000.000 sebanyak 7 orang (20,6%), dan > Rp

40
2.000.000 sebanyak 5 orang (14,7%). Dengan demikian mayoritas berpenghasilan

< Rp 1.000.000 sebanyak 22 orang (64,7%), dan minoritas > Rp 2.000.000

sebanyak 5 orang (14,7%). Menurut Notoatmodjo (2003) bahwa status sosial

ekonomi berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang. individu yang berasal dari

keluarga yang berstatus sosial ekonomi baik, dimungkinkan lebih memiliki sikap

positif memandang diri dan masa depannya dibandingkan mereka yang berasal dari

keluarga dengan status ekonomi rendah.

5.2 Pengetahuan Responden

Pengetahuan responden adalah menyangkut semua ilmu pengetahuan yang

dimiliki oleh responden mengenai suatu objek atau kejadian tertentu yang menjadi

perhatian dan memfokuskan kepada pencegahan penyakit diare dengan kejadian

diare pada balita. Variable pengetahuan yang diteliti berdasarkan pertanyaan

mengenai penyebab terjadinya penyakit diare, cara pencegahan diare dan sumber

informasi yang didapat tentang penyakit diare.

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pengetahuan ibu balita tentang

pencegahan penyakit diare dengan kejadian diare mayoritas berpengetahuan

kurang sebanyak 17 orang (50%). Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini

terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan melalui panca indera manusia

terhadap suatu objek. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat

penting dalam membentuk tindakan seseorang, sehingga dengan adanya

pengetahuan yang baik maka akan menimbulkan kesadaran yang dimiliki.

41
Hasil penelitian yang diperoleh tersebut, sejalan dengan pendapat

Notoatmodjo (2005) yang menjelaskan bahwa terbentuknya pengetahuan

dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu tingkat pendidikan, tersedianya media

informasi, budaya, pengalaman dan sosial ekonomi.

Menurut Notoatmodjo (2010), menyatakan pengetahuan tentang kesehatan

mencakup apa yang diketahui seseorang terhadap cara pemeliharaan kesehatan

yaitu cara pencegahan dan mengatasinya. Perilaku seseorang yang didasarkan

pengetahuan akan lebih langgeng atau baik daripada perilaku yang tidak didasari

oleh pengetahuan. Seseorang yang mempunyai pengetahuan baik akan sesuatu hal

diharapkan akan mempunyai sikap, tindakan yang baik juga.

5.3 Sikap Responden

Sikap responden adalah suatu pandangan atau persepsi responden tentang

pencegahan penyakit diare dengan kejadian diare. Sikap biasa disebut sebagai

pendapat atau penilaian responden mengenai penyebab terjadinya diare, cara

mencegah terjadinya diare, dan sumber informasi yang didapat tentang penyakit

diare.

Hasil penelitian dapat menunjukkan bahwa paling banyak responden

memiliki sikap negatif sebanyak 27 responden (79,4%), dan responden yang

memiliki sikap positif tentang pencegahan penyakit diare dengan kejadian diare

sebanyak 7 orang (20,6%).

Menurut Azwar (2007), bahwa banyak faktor yang memengaruhi orang untuk

bersikap yaitu pengalaman pribadi, kebudayaan, orang lain yang dianggap

42
penting, media massa, institusi pendidikan, lembaga agama serta fakor emosi

dalam diri individu tersebut.

5.4 Tindakan Responden

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa tindakan responden

tentang pencegahan penyakit diare dengan kejadian diare pada balita mayoritas

dalam kategori tidak dilakukan pencegahan penyakit diare sebanyak 30 orang

(88,2%), dan minoritas kategori dilakukan pencegahan penyakit diare sebanyak 4

orang (11,8%).

Menurut Notoatmodjo (2010), secara logis, sikap akan ditunjukkan dalam

bentuk tindakan namun tidak dapat dikatakan bahwa sikap dan tindakan

mempunyai hubungan yang sistematis. Artinya status pengetahuan atau sikap

yang baik belum tentu terwujud dalam tindakan yang baik pula. Untuk

terwujudnya sikap menjadi suatu tindakan diperlukan suatu faktor atau kondisi

yang memungkinkan seseorang ini dapat menerangkan apa yang diketahui.

5.5 Kejadian Diare Pada Balita

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kejadian diare pada balita mayoritas

responden menyatakan ada kejadian diare sebanyak 30 orang (88,3%), dan

minoritas tidak ada kejadian diare sebanyak 4 orang (11,8%). Menurut

Notoamodjo (2007) suatu penyakit diare dapat timbul akibat pengaruh dari 3

faktor, yaitu agent (penyebab infeksi), host (imunitas dan infeksi), dan

inveronment (lingkungan).

Asumsi peneliti bahwa kejadian diare pada balita penelitian ini mayoritas

tidak ada kejadian diare, berarti sebagian besar responden sudah banyak

43
mengetahui dan mengerti bahaya tentang diare, terbukti dari tingkah laku

responden sehari-hari yang perduli tentang faktor-faktor yang dapat menyebabkan

terjadinya diare. Hal ini dapat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan pekerjaan

seseorang. Karena tingkat pendidikan dapat mempengaruhi pola pikir dan daya

cerna seseorang terhadap informasi yang diterima. Semakin tinggi tingkat

pendidikan seseorang, semakin tinggi pula informasi yang dapat diserap, sehingga

hal tersebut dapat berpengaruh terhadap pengetahuan seseorang.

Menurut Notoatmodjo (2003), pendidikan merupakan suatu usaha untuk

mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam maupun di luar sekolah

dan berlangsung seumur hidup.

5.6 Hubungan Perilaku Ibu Balita Tentang Pencegahan Penyakit Diare


Dengan Kejadian Diare Pada Balita

Berdasarkan uji statistic, di dapatkan p-value sebesar 0,01 dengan demikian

nilai signifikan p-value 0,01 < (0,05) maka H0 ditolak berarti Ha diterima yang

berarti ada hubungan antara perilaku ibu balita tentang pencegahan diare dengan

kejadian diare pada balita di Lingkungan II Kelurahan Batunadua Jae Kota

Padangsidimpuan Tahun 2016.

Dilihat dari segi pengetahuan, sikap, dan tindakan sebagian besar ibu balita

berpengetahuan kurang, sikap yang negatif, dan tidak melakukan tindakan terhada

pencegahan diare.. Hal ini dikaitkan tidak banyaknya waktu untuk ibu balita

mendapatkan atau menerima informasi dari petugas kesehatan maupun dari media

massa tentang kejadian diare.

Asumsi peneliti sesuai dengan pendapat Notoatmodjo bahwa pengetahuan

tentang kesehatan mencakup apa yang diketahui seseorang tentang cara

44
pemelihharaan kesehatan yaitu cara pencegahan dan cara mengatasinya. Perilaku

seseorang yang didasarkan pengetahuan akan lebih langgeng atau baik daripada

perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Seseorang yang mempunyai

pengetahuan yang baik akan sesuatu hal diharapkan mempunyai sikap dan

tindakan baik juga. Begitu juga sebaliknya, seseorang yang mempunyai

pengetahuan kurang, akan mempunyai sikap yang negatif dan tindakan yang tidak

yang tidak baik.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu balita mayoritas

kurang sebanyak 17 orang (50%), cukup 14 orang (41,2%), dan baik 3 orang

(8,8%).

2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap ibu balita mayoritas negatif

sebanyak 27 orang (79,4%), dan minoritas sikap positif sebanyak 7 orang

(20,6%).

3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan ibu balita mayoritas tidak

dilakukan sebanyak 30 orang (88,3%), dan minoritas melakukan tindakan

sebanyak 4 orang (11,8%).

4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian diare pada balita mayoritas

ada kejadian diare sebanyak 30 orang (88,2%), dan minoritas tidak ada

kejadian diare sebanyak 4 orang (11,8%).

45
5. Terdapat hubungan perilaku ibu balita tentang pencegahan penyakit diare

dengan kejadian diare pada balita di Lingkungan II Kelurahan Batunadua Jae

Kota Padangsidimpuan Tahun 2016.

6.2 Saran

1. Bagi Responden

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas

tentang hubungan perilaku ibu balita tentang pencegahan penyakit diare dengan

kejadian diare pada balita dapat mengetahui dan memberikan pencegahan untuk

menghindari penyakit diare.

2. Bagi Peneliti

Sebagai prasyarat dalam menyelesaikan pendidikan Sarjana Keperawatan di

Stikes Aufa Royhan Padangsidimpuan

3. Bagi Pendidikan Keperawatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi dan tambahan

perilaku ibu balita dengan kejadian diare pada balita khususnya dalam bidang

keperawatan

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian ini dapat menjadi data dasar untuk penelitian selanjutnya dan

untuk menambah referensi terhadap hubungan perilaku ibu balita tentang

pencegahan penyakit diare dengan kejadian diare pada balita.

46
47

Anda mungkin juga menyukai